Asuhan Keperawatan Batu Ginjal
Asuhan Keperawatan Batu Ginjal
BATU GINJAL
Dosen Pengampu:
Sumitro Adi, [Link], Ns, [Link]
Disusun Oleh:
D3 KEPERAWATAN
FAKULTAS KEPERAWATAN
UNIVERSITAS JEMBER KAMPUS PASURUAN
2020
i
KATA PENGANTAR
Puji dan syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa atas
berkat dan rahmat-Nya kami dapat menyelesaikan pembuatan makalah dengan
judul “KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN DENGAN
GANGGUAN PADA PASIEN DENGAN GANGGUAN KEBUTUHAN
ELIMINASI AKIBAT PATOLOGIS SYSTEM PENCERNAAN DAN
PERKEMIHAN BATU GINJAL” dengan baik dan tepat waktu. Adapun
pembuatan makalah ini dilakukan sebagai pemenuhan proses pembelajaran
Keperawatan Medikal Bedah I. Pembuatan makalah ini juga bertujuan
memberikan manfaat yang berguna bagi ilmu pengetahuan.
Kami mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah terlibat
dan membantu dalam pembuatan makalah sehingga semua dapat terselesaikan
dengan baik dan lancar. Selain itu, kami juga mengharapkan saran dan kritik yang
bersifat membangun terhadap kekurangan dalam makalah agar selanjutnya kami
dapat memberikan karya yang lebih baik dan sempurna. Semoga makalah ini
dapat berguna dan bermanfaat bagi pengetahuan para pembaca.
Kelompok
ii
BAB I
PENDAHULUAN
1
Tangga (SKRT) 1995, SKRT 2001, dan Riset Kesehatan Dasar
(Riskesdas) 2007, terlihat proporsi kematian akibat penyakit tidak menular
emakin meningkat, sedangkan penyakit proporsi penyakit menular telah
menurun.
Proporsional Mortality Ratio (PMR) akibat penyakit tidak menular
telah meningkat dari 42% menjadi 60%. Sedangkan menurut Wijaya
(2000), jumlah pasien penderita penyakit ginjal kronik di Indonesia
diperkirakan 60.000 orang dengan pertambahan 4.400 pasien baru setiap
tahunnya. Hampir semua kasus penyakit ginjal kronik stadium V di bawa
keruang hemodialisa untuk mendapatkan tindakan pengobatan. Bagi
penderita ginjal kronik diadakan hemodialisa untuk mempertahankan
kelangsungan hidupnya. Namun demikian hemodialisa tidak
menyembuhkan atau memulihkan penyakit ginjal kronik dan tidak mampu
mengimbangi hilangnya aktifitas metabolik atau endokrin yang
dilaksanakan ginjal.
Untuk wilayah Asia, telah tercatat resiko untuk terkena batu ginjal
dan batu saluran kemih lainnya sebesar 2-5%, 8-15% untuk wilayah Asia
barat, dan 20% untuk Arab Saudi. Di negara berkembang, batu kandung
kemih lebih umum terjadi daripada batu saluran kemih bagian atas,
sedangkan di Negara maju, malah sebaliknya, batu saluran kemih bagian
atas lebih sering terjadi. Perbedaan ini diyakini berhubungan diet, pola
hidup dan konsumsi di masing-masing negara.
2
1.2 Rumusan Masalalah
Berdasarkan latar belakang diatas maka penulis dapat membuat
rumusan masalah sebagai berikut:
1. Bagaimana konsep dasar teori Batu Ginjal?
2. Bagaimana asuhan keperawatan Batu Ginjal secara teoritis ?
3. Bagaimana asuhan keperawatan berdasarkan scenario kasus Batu
Ginjal?
Tujuan
a. Tujuan Umum:
Mengetahui dan memahami konsep darsar BatuGinjal dan Asuhan
Keperawatan gangguan Batu Ginjal
b. Tujuan khusus :
1. Untuk mengetahui definisi Batu Ginjal
2. Untuk mengetahui epidemiologi Batu Ginjal
3. Untuk mengetahui etiologi penyakit Batu Ginjal
4. Untuk mengetahui patofisiologi dan woc Batu Ginjal
5. Untuk mengetahui manifestasi klinis Batu Ginjal
6. Untuk mengetahui klasifikasi Batu Ginjal
7. Untuk mengetahui pemeriksaan penunjang Batu Ginjal
8. Untuk mengetahui penata laksanaan Batu Ginjal
9. Untuk mengetahui komplikasi Batu Ginjal
10. Untuk mengetahui pengkajian teori Batu Ginjal
11. Untuk mengetahui diagnosa teori Batu Ginjal
12. Untuk mengetahui asuhan keperawatan teori Batu Ginjal
13. Untuk mengetahui pengkajian berdasarkan kasus Batu Ginjal
14. Untuk mengetahui diagnosa berdasarkan kasus Batu Ginjal
15. Untuk mengetahui asuhan keperawatan berdasarkan kasus Batu
Ginjal
1.4 Manfaat
1. Masyarakat
Untuk mengetahui bagaimana mengetahui penyebab penyakit
Batu Ginjal dan bagaimana mencegah penyakit Batu Ginjal
3
2. Mahasiswa Keperawatan
Untuk mengetahui dan memahami penyakit Batu Ginjal serta
asuhan keperawatan stroke sehingga dapat menjadi bekal dalam
persiapan praktik di rumah sakit.
3. Perawat
Sebagai bahan kajian dan informasi bagi mahasiswa serta
menambah wawasan tentang Batu Ginjal
4
2.10 Asuhan Keperawatan.
Asuhan keperawatan pada klien dengan Urolitiasis dilaksanakan
melalui pendekatan proses perawatan terdiri dari : pengkajian, diagnosa,
perencanaan, tindakan, dan evaluasi (Doengoes, 2000. Hal 686-694).
1. Pengkajian
Dasar data pengkajian pasien
a. Aktivitas/istirahat
Gejala: pekerjaan monoton, pekerjaan dimana pasien terpajan pada
lingkungan bersuhu tinggi. Keterbatasan aktivitas/mobilisasi
sehubungan dengan kondisi sebelumnya.
b. Sirkulasi
Tanda: peningkatan TD/nadi (nyeri, ansietas, gagal ginjal). Kulit
hangat dan kemerahan; pucat.
c. Eliminasi
Gejala: riwayat adanya/ISK kronis; obstruksi sebelumnya
(kalkulus). Penurunan haluaran urine, kandung kemih penuh. Rasa
terbakar, dorongan berkemih. Diare,
Tanda: oliguria, hematuria, piuria. Perubahan pola berkemih.
d. Makanan/cairan
Gejala: mual/muntah, nyeri tekan abdomen. Diet tinggi purin,
kalsium oksalat, dan /atau fosfat. Ketidakcukupan pemasukan
cairan, tidak minum air dengan cukup.
Tanda: distensi abdominal ; penurunan/tak adanya bising usus.
Muntah.
e. Nyeri/kenyamanan
Gejala: episode akut nyeri berat, nyeri kolik. Lokasi tergantung
pada lokasi batu. Contoh pada panggul di region sudut
kostovertebral ; dapat menyebar ke punggung, abdomen, dan turun
kelipat paha/genetalia. Nyeri dangkal kostan menunjukkan ada
pelvis atau kalkulus ginjal. Nyeri dapat digambarkan sebagai akut,
hebat tidak hilang dengan posisi atau tindakan lain.
Tanda: melindungi ;perilaku distraksi. Nyeri tekan pada area pada
palpasi.
5
f. Keamanan
Gejala: penggunaan alcohol, demam, menggigil.
g. Penyuluhan/pembelajaran
Gejala: riwayat kalkulus dalam keluarga, penyakit ginjal,
hipertensi, gout, ISK kronis riwayat penyakit usus halus, bedah
abdomen sebelumnya, hiperparatiroidisme. Penggunaan antibiotic,
antihipertensi, natrium bikarbonat, alupurinol, fosfat, tiazid,
pemasukan berlebihan kalsium atau vitamin.
Pertimbangan Rencana Pemulangan : DRG menunjukkan rerata
lama dirawat: 3,4 hari.
h. Pemeriksaan diagnostic
Urinalisa: warna kuning, coklat gelap, berdarah secara umum
menunjukkan SDM, SDP, Kristal,
Urine: (24 jam) kreatinin, asam urat, kalsium, fosfat, oksalat, atau
sistin mungkin meningkat.
Hitung darah lengkap: SDP mungkin meningkat menunjukan
infeksi/septicemia.
2. Diagnosa Keperawatan
a. Nyeri akut berhubungan dengan iritasi pada saluran kemih
b. Gangguan eliminasi urin
6
Standar Diagnosa Keperawatan Standar Luaran Keperawatan
N Standar Intervensi Keperawatan Indonesia
Indonesia Indonesia
O (SIKI)
(SDKI) (SLKI)
7
Gejala dan tanda minor Status Kenyamanan nyeri ( missal: suhu ruangan,
pencahayaan dan kebisingan).
Subjektif : - 1. Menyatakan rasa nyaman setelah 3. Beri teknik non farmakologis untuk
nyeri berkurang meredakan nyeri (aromaterapi, terapi
Objektif
pijat, hypnosis, biofeedback, teknik
1. Tekanan darah meningkat imajinasi terbimbimbing, teknik tarik
2. Pola nafas berubah napas dalam dan kompres hangat/
3. Nafsu makan berubah dingin)
4. Proses berpikir terganggu Edukasi
5. Menarik diri
1. Jelaskan penyebab, periode dan pemicu
6. Berfokus pada diri sendiri
nyeri
7. diaforesisi
2. Jelaskan strategi meredakan nyeri
3. Anjurkan menggunakan analgetik secara
tepat
4. Anjurkan monitor nyeri secara mandiri
Kolaborasi
1. Kolaborasi pemberian analgetik, jika
perlu
8
Eliminasi urin dingin pada abdomen)
1. Sensasi berkemih meningkat 3. Jelaskan penyebab retensi urine
2. Distensi kandung kemih meningkat 4. Ajarkan cara melakukan rangsangan
3. Berkemih tidak tuntas menurun berkemih
Kontinensia urin
1. Kemampuan berkemih
meningkat
Residu volume setelah berkemih
menurun
Table 1 Diagnosa Keperawatan
9
BAB III
TINJAUAN KASUS
10
3.2 Asuhan Keperawatan
A. PENGKAJIAN
1. Identitas Klien
Nama : Ny. F
Umur : 55 Tahun
Jenis Kelamin : Perempuan
Pekerjaan : Karyawan Swasta MRS
Diagnosa medis : Batu Ginjal
2. Riwayat Kesehatan
a. Keluhan Utama
Nyeri pinggang kanan. Nyeri hilang timbul dan menjalar ke perut dan tidak dipengaruhi mobilitas fisik.
b. Riwayat Penyakit Sekarang
Nyeri dirasakan bertambah berat dalam 2 hari ini dan tidak menghilang dengan obat yang biasa dimakan, selanjutnya Ny. F juga
mengeluh mual dan muntah sekitar 4-5 kali sejak 1 hari yang lalu dan demam dan air kencing keruh dan 0liguri (+) dg jumlah sekitar
400ml/24 jam.
c. Riwayat Penyakit Dahulu
Ny. F mengaku 4 bulan yang lalu sering mengalami nyeri yang sama, dan nyeri hialang setelah diberikan obat penghilang rasa nyeri
dari dokter
d. Riwayat Penyakit Keluarga
11
Tidak Ada
e. Riwayat Obat – Obatan
Obat penghilang rasa nyeri dari dokter
12
Gejala : Episode akut nyeri berat (+), nyeri kolik (-),. Lokasi tergantung pada lokasi batu, contoh pada panggul regio sudut
konstovetebral; dapat menyebar ke punggung (-), abdomen (+), dan turun kelipatan paha/genitalia (-). Nyeri dangkal konstan
menunjukkan kalkulus ada di pelvis atau kalkulus ginjal (+). Nyeri dapat digambarkan sebagai akut (-), hebat tidak hilang dengan
posisi atau tindakan lain (-)
Tanda : Melindungi ; perilaku distraksi (-). Nyeri tekan pada area ginjal pada palpasi (+)
f. Keamanan
Gejala : Penggunaan alkohol (-), Demam (+). Menggigil (-)
Tanda-Tanda Vital
No
Pemeriksaan Hasil Normal Keterangan
.
120-140 / 80-90
1. TD 120/90 mmHg Normal
mmHg
2. HR 102 x/mnt 60-100 x/mnt Tidak Normal
3. RR 28x/mnt 16 – 24 x/mnt Tidak Normal
4. Suhu 38,7O C 36,5 – 37,5 O C Tidak Normal
Table 2 Tanda-Tanda Vital
13
Inspeksi=flatuensi (+),
Palpasi: nyeri tekan kuadaran kanan atas (+),
Perkusi: timpani pada abdomen dan nyeri ketok cva dexter (+),
Auskultasi : bising usus menurun
Pemeriksaan Laboratorium
No. Pemeriksaan Hasil Normal Keterangan
1. Hb 14 gr/dl Pr : 12 – 15 g/dl Normal
Lk : 14 – 18 g/dl
2. Leukosit 15.000/mm3 Pr & Lk : 5.000 – Tidak Normal
10.000/mm3
3. Ureum 24mg/dl Pr & Lk : 15 – 40 Normal
mg/dl
4. Kreatinin 2,5 mg/dl Pr & Lk : 0,5 – 1,5 Tidak Normal
mg/dl
Table 3 Pemeriksaan Laboratorium
14
ANALISA DATA
No MASALAH
DATA ETIOLOGI
. KEPERAWATAN
1. DS : Iskemi seluler Nyeri Akut
Ny. F mengeluhan nyeri
pinggang kanan. Nyeri
hilang timbul dan menjalar
ke perut.
Ny. F mengaku 4 bulan
yang lalu sering mengalami
nyeri yang sama, dan nyeri
hialang setelah diberikan
obat penghilang rasa nyeri
dari dokter.
Nyeri dirasakan bertambah
berat dalam 2 hari ini dan
tidak menghilang dengan
15
obat yang biasa dimakan
DO :
Kondisi umum= gelisah dan
tampak meringis namun
nyeri nonkolik
Palpasi abdomen: nyeri
tekan kuadaran kanan atas
(+),
Perkusi abdomen: timpani
pada abdomen dan nyeri
ketok CVA dexter (+)
DS :
Ny. F mengeluh air kencing
keruh dan 0liguri (+) dg
jumlah sekitar 400ml/24
jam.
Ny. F mengeluh mual dan
muntah sekitar 4-5 kali
sejak 1 hari yang lalu
16
DO :
USG menunjukkan
hidronefrosis dextra.
BNO-PIV : tampak
bayangan radio opak
Lumbal III dektra,
Terdapat hidronefrosis ren
dektra grade II
Suhu : 38,7 C
HR= 102x/mnt
RR= 28x/mnt
Abdomen:
inspeksi=flatuensi (+)
Auskultasi : bising usus
menurun.
3. DS : Infeksi Hipertermi
Ny. F mengeluh demam
DO :
Suhu= 38,70C
17
Leukosit = 15.000/mm3
MASALAH
No. DATA ETIOLOGI
KEPERAWATAN
1. DS : Iskemi seluler Nyeri Akut
Ny. F mengeluhan nyeri pinggang kanan. Nyeri hilang
timbul dan menjalar ke perut.
Ny. F mengaku 4 bulan yang lalu sering mengalami
nyeri yang sama, dan nyeri hialang setelah diberikan
obat penghilang rasa nyeri dari dokter.
Nyeri dirasakan bertambah berat dalam 2 hari ini dan
tidak menghilang dengan obat yang biasa dimakan
DO :
Kondisi umum= gelisah dan tampak meringis namun
nyeri nonkolik
Skala nyeri 7
18
Palpasi abdomen: nyeri tekan kuadaran kanan atas (+),
Perkusi abdomen: timpani pada abdomen dan nyeri
ketok CVA dexter (+)
2. DS : Obstruksi Risiko ketidakseimbangan cairan
Ny. F mengeluh air kencing keruh dan 0liguri (+) dg
jumlah sekitar 400ml/24 jam.
Ny. F mengeluh mual dan muntah sekitar 4-5 kali sejak
1 hari yang lalu
DO :
USG menunjukkan hidronefrosis dextra.
BNO-PIV : tampak bayangan radio opak Lumbal III
dektra,
Terdapat hidronefrosis ren dektra grade II
Creatinin =2,5 mg/dl
Suhu : 38,7 C
HR= 102x/mnt
RR= 28x/mnt
Kulit klien terlihat kering, turgor kulit dan idah jelek
Pasien tampak lemah
19
Abdomen: inspeksi=flatuensi (+)
Auskultasi : bising usus menurun.
3. DS : Infeksi Hipertermi
Ny. F mengeluh demam
DO :
Suhu= 38,70C
Leukosit = 15.000/mm3
HR= 102x/mnt
RR= 28x/mnt
Kulit terba hangat
Kulit pasien terlihat memerah
Table 5 Analisis Data Tambahan
DIAGNOSA KEPERAWATAN
1. Nyeri berhubungan dengan iskemi ditandai dengan Ny. F mengeluhan nyeri pinggang kanan. Nyeri hilang timbul dan menjalar ke
perut. Ny. F mengaku 4 bulan yang lalu sering mengalami nyeri yang sama, dan nyeri hialang setelah diberikan obat penghilang rasa
nyeri dari dokter. Nyeri dirasakan bertambah berat dalam 2 hari ini dan tidak menghilang dengan obat yang biasa dimakan. Kondisi
umum= gelisah dan tampak meringis namun nyeri nonkolik.. Palpasi abdomen: nyeri tekan kuadaran kanan atas (+), Perkusi abdomen:
timpani pada abdomen dan nyeri ketok CVA dexter (+)
RENCANA ASUHAN KEPERAWATAN
20
N Standar Diagnosa Keperawatan Standar Luaran Keperawatan Indonesia Standar Intervensi Keperawatan
O Indonesia Indonesia
(SLKI)
(SDKI) (SIKI)
21
4. Frekuensi nadi meningkat Status Kenyamanan komplementer yang sudah diberikan
5. Sulit tidur Terapeutik
Gejala dan tanda minor 1. Menyatakan rasa nyaman setelah nyeri
berkurang 1. Fasilitasi istirahat tidur
Subjektif : - 2. Kontrol lingkungan yang
memperberat nyeri ( missal: suhu
Objektif ruangan, pencahayaan dan
kebisingan).
1. Tekanan darah meningkat
3. Beri teknik non farmakologis untuk
2. Pola nafas berubah
meredakan nyeri (aromaterapi, terapi
3. Nafsu makan berubah
pijat, hypnosis, biofeedback, teknik
4. Proses berpikir terganggu
imajinasi terbimbimbing, teknik tarik
5. Menarik diri
napas dalam dan kompres hangat/
6. Berfokus pada diri sendiri
dingin)
7. diaforesisi
Edukasi
1. Jelaskan penyebab, periode dan
pemicu nyeri
2. Jelaskan strategi meredakan nyeri
3. Anjurkan menggunakan analgetik
secara tepat
4. Anjurkan monitor nyeri secara
mandiri
Kolaborasi
2. Kolaborasi pemberian analgetik, jika
perlu
Table 6 Rencana Asuhan Keperawatan
22
23
Implementasi
Selama tahap implementasi perawat melaksanakan rencana asuhan
[Link] keperawatan diimplementasikan untuk membantu klien
memenuhi kriteria hasil. Dalam implementasi terdapat tiga komponen tahap
implementasi, yaitu: tindakan keperawatan mandiri, tindakan keperawatan
kolaboratif, dan dokumentasi tindakan keperawatan dan respons klien terhadap
asuhan keperawatan (Allen, 1998)
Evaluasi Keperawatan
Tahap evaluasi adalah tahap akhir dari proses keperawatan yang
merupakan perbandingan hasil-hasil yang diamati dengan kriteria hasil yang
dibuat pada tahap perencanaan. Evaluasi dilakukan secara berkesinambungan
dengan melibatkan klien dan tenaga kesehatan lainnyasecara umum, evaluasi
ditujukan untuk melihat dan menilai kemampuan klien dalam mencapai tujuan,
menentukan apakah tujuan keperawatan telah tercapai atau belum, mengkaji
penyebab jika tujuan asuhan keperawatan belum [Link] terbagi menjadi
dua jenis yaitu evaluasi formatif dan evaluasi sumatif. Evaluasi formatif berfokus
pada aktivitas proses keperawatan dan hasil tindakan keperawatan, dirumuskan
dengan empat komponen yang dikenal dengan istilah SOAP, subyektif(data
berupa keluhan klien), objektif (data hasil pemeriksaan), analisis data
(pembandingan data dengan teori), perencanaan. Sedangkan evaluasi sumatif
adalah evaluasi yang dilakukan setelah semua aktivitas proses keperawatan selesai
dilakukan (Asmadi, 2008
24
DAFTAR PUSTAKA
25