0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
53 tayangan27 halaman

Asuhan Keperawatan Batu Ginjal

Diunggah oleh

jeon79jk
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
53 tayangan27 halaman

Asuhan Keperawatan Batu Ginjal

Diunggah oleh

jeon79jk
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN

DENGAN GANGGUAN PADA PASIEN DENGAN


GANGGUAN KEBUTUHAN ELIMINASI AKIBAT
PATOLOGIS SYSTEM PENCERNAAN DAN
PERKEMIHAN

BATU GINJAL

Dosen Pengampu:
Sumitro Adi, [Link], Ns, [Link]
Disusun Oleh:

Fina Anggraini PO7120123091 Satrio Putra Giandah PO7120123075


Tiara Ramadhani PO7120123092 Deni Pranata PO7120123062
Winda Suryaningtyas PO7120123071 Msy Miftahul Jannah PO7120123074
Salma Khadijah PO7120123081 Julia PO7120123051
Putri Retno Wulan PO7120123065

D3 KEPERAWATAN
FAKULTAS KEPERAWATAN
UNIVERSITAS JEMBER KAMPUS PASURUAN
2020

i
KATA PENGANTAR

Puji dan syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa atas
berkat dan rahmat-Nya kami dapat menyelesaikan pembuatan makalah dengan
judul “KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN DENGAN
GANGGUAN PADA PASIEN DENGAN GANGGUAN KEBUTUHAN
ELIMINASI AKIBAT PATOLOGIS SYSTEM PENCERNAAN DAN
PERKEMIHAN BATU GINJAL” dengan baik dan tepat waktu. Adapun
pembuatan makalah ini dilakukan sebagai pemenuhan proses pembelajaran
Keperawatan Medikal Bedah I. Pembuatan makalah ini juga bertujuan
memberikan manfaat yang berguna bagi ilmu pengetahuan.

Kami mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah terlibat
dan membantu dalam pembuatan makalah sehingga semua dapat terselesaikan
dengan baik dan lancar. Selain itu, kami juga mengharapkan saran dan kritik yang
bersifat membangun terhadap kekurangan dalam makalah agar selanjutnya kami
dapat memberikan karya yang lebih baik dan sempurna. Semoga makalah ini
dapat berguna dan bermanfaat bagi pengetahuan para pembaca.

Palembang, 26 oktober 2024

Kelompok

ii
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Ginjal memiliki peranan yang sangat vital sebagai organ tubuh
manusia terutama dalam sistem urinaria. Pada manusia, ginjal berfungsi
untuk mengatur keseimbangan cairan dalam tubuh, mengatur konsentrasi
garam dalam darah dan keseimbangan asam-basa darah, serta sekresi
bahan buangan dan kelebihan garam (Pearce, 1999).
Penyakit Ginjal Kronik (PGK) adalah keadaan dimana fungsi
ginjal mengalami penurunan yang progresif secara perlahan tapi pasti,
yang dapat mencapai 60% dari kondisi normal menuju ketidakmampuan
ginjal ditandai tubuh gagal untuk mempertahankan metabolisme dan
keseimbangan cairan dan elektrolit, menyebabkan uremia (retensi urea
dan sampah nitrogen lain dalam darah). (Pearce, 1999 : 989). Kondisi
pasien dengan penyakit ginjal kronik masih dapat melakukan aktifitas
hidup jika memperhatikan kualitas hidup yang cukup baik.
Penyebab terjadinya penyakit ginjal kronik adalah disebabkan
olehbeberapa penyakit serius yang diderita oleh tubuh yang mana
berlahan–lahan berdampak pada kerusakan organ ginjal, dan apabila
penyakit ginjal kronik tidak segera mendapatkan perawatan yang intensif
dapat menyebabkankematia.
Penyebab utama penyakit ginjal kronik adalah karena diabetes
sebesar 50%, hipertensi 27%, dan glomerulonephritis 13% . WHO
memperkirakan setiap 1 juta jiwa terdapat 23–30 orang yang mengalami
ginjal kronik per tahun. Kasus penyakit ginjal di dunia per tahun
meningkat lebih 50%. Di negara yang sangat maju tingkat gizinya seperti
Amerika Serikat, setiap tahunnya sekitar 20 juta orang dewasa menderita
penyakit ginjal kronik, ( Santoso, 2007). Berdasarkan Profil Kesehatan
Indonesia Tahun 2008, bila dibandingkan hasil Survei Kesehatan Rumah

1
Tangga (SKRT) 1995, SKRT 2001, dan Riset Kesehatan Dasar
(Riskesdas) 2007, terlihat proporsi kematian akibat penyakit tidak menular
emakin meningkat, sedangkan penyakit proporsi penyakit menular telah
menurun.
Proporsional Mortality Ratio (PMR) akibat penyakit tidak menular
telah meningkat dari 42% menjadi 60%. Sedangkan menurut Wijaya
(2000), jumlah pasien penderita penyakit ginjal kronik di Indonesia
diperkirakan 60.000 orang dengan pertambahan 4.400 pasien baru setiap
tahunnya. Hampir semua kasus penyakit ginjal kronik stadium V di bawa
keruang hemodialisa untuk mendapatkan tindakan pengobatan. Bagi
penderita ginjal kronik diadakan hemodialisa untuk mempertahankan
kelangsungan hidupnya. Namun demikian hemodialisa tidak
menyembuhkan atau memulihkan penyakit ginjal kronik dan tidak mampu
mengimbangi hilangnya aktifitas metabolik atau endokrin yang
dilaksanakan ginjal.
Untuk wilayah Asia, telah tercatat resiko untuk terkena batu ginjal
dan batu saluran kemih lainnya sebesar 2-5%, 8-15% untuk wilayah Asia
barat, dan 20% untuk Arab Saudi. Di negara berkembang, batu kandung
kemih lebih umum terjadi daripada batu saluran kemih bagian atas,
sedangkan di Negara maju, malah sebaliknya, batu saluran kemih bagian
atas lebih sering terjadi. Perbedaan ini diyakini berhubungan diet, pola
hidup dan konsumsi di masing-masing negara.

Setiap tahunnya, terjadi peningkatan jumlah kejadian nefrolithiasis


baik di dunia, di Indonesia maupun di RSUD Raden Mattaher Jambi.
Berdasarkan data yang telah diambil peneliti pada Rekam Medis RSUD
Raden Mattaher Jambi, Terjadinya peningkatan insidensi atau kasus
kejadian nefrolithiasis dari tahun 2011 berjumlah 58 kasus dan pada tahun
2012 meningkat menjadi 95 kasus, serta belum pernah dan belum adanya
data dasar mengenai angka kejadian batu opak ginjal yang disertai nyeri
ketok CVA pada pasien suspect nefrolithiasis di Instalasi Radiologi RSUD
Raden Mattaher Jambi, sehingga peneliti ingin melakukan penelitian
mengenai hal tersebut.

2
1.2 Rumusan Masalalah
Berdasarkan latar belakang diatas maka penulis dapat membuat
rumusan masalah sebagai berikut:
1. Bagaimana konsep dasar teori Batu Ginjal?
2. Bagaimana asuhan keperawatan Batu Ginjal secara teoritis ?
3. Bagaimana asuhan keperawatan berdasarkan scenario kasus Batu
Ginjal?

Tujuan
a. Tujuan Umum:
Mengetahui dan memahami konsep darsar BatuGinjal dan Asuhan
Keperawatan gangguan Batu Ginjal
b. Tujuan khusus :
1. Untuk mengetahui definisi Batu Ginjal
2. Untuk mengetahui epidemiologi Batu Ginjal
3. Untuk mengetahui etiologi penyakit Batu Ginjal
4. Untuk mengetahui patofisiologi dan woc Batu Ginjal
5. Untuk mengetahui manifestasi klinis Batu Ginjal
6. Untuk mengetahui klasifikasi Batu Ginjal
7. Untuk mengetahui pemeriksaan penunjang Batu Ginjal
8. Untuk mengetahui penata laksanaan Batu Ginjal
9. Untuk mengetahui komplikasi Batu Ginjal
10. Untuk mengetahui pengkajian teori Batu Ginjal
11. Untuk mengetahui diagnosa teori Batu Ginjal
12. Untuk mengetahui asuhan keperawatan teori Batu Ginjal
13. Untuk mengetahui pengkajian berdasarkan kasus Batu Ginjal
14. Untuk mengetahui diagnosa berdasarkan kasus Batu Ginjal
15. Untuk mengetahui asuhan keperawatan berdasarkan kasus Batu
Ginjal

1.4 Manfaat
1. Masyarakat
Untuk mengetahui bagaimana mengetahui penyebab penyakit
Batu Ginjal dan bagaimana mencegah penyakit Batu Ginjal

3
2. Mahasiswa Keperawatan
Untuk mengetahui dan memahami penyakit Batu Ginjal serta
asuhan keperawatan stroke sehingga dapat menjadi bekal dalam
persiapan praktik di rumah sakit.
3. Perawat
Sebagai bahan kajian dan informasi bagi mahasiswa serta
menambah wawasan tentang Batu Ginjal

4
2.10 Asuhan Keperawatan.
Asuhan keperawatan pada klien dengan Urolitiasis dilaksanakan
melalui pendekatan proses perawatan terdiri dari : pengkajian, diagnosa,
perencanaan, tindakan, dan evaluasi (Doengoes, 2000. Hal 686-694).
1. Pengkajian
Dasar data pengkajian pasien
a. Aktivitas/istirahat
Gejala: pekerjaan monoton, pekerjaan dimana pasien terpajan pada
lingkungan bersuhu tinggi. Keterbatasan aktivitas/mobilisasi
sehubungan dengan kondisi sebelumnya.
b. Sirkulasi
Tanda: peningkatan TD/nadi (nyeri, ansietas, gagal ginjal). Kulit
hangat dan kemerahan; pucat.
c. Eliminasi
Gejala: riwayat adanya/ISK kronis; obstruksi sebelumnya
(kalkulus). Penurunan haluaran urine, kandung kemih penuh. Rasa
terbakar, dorongan berkemih. Diare,
Tanda: oliguria, hematuria, piuria. Perubahan pola berkemih.
d. Makanan/cairan
Gejala: mual/muntah, nyeri tekan abdomen. Diet tinggi purin,
kalsium oksalat, dan /atau fosfat. Ketidakcukupan pemasukan
cairan, tidak minum air dengan cukup.
Tanda: distensi abdominal ; penurunan/tak adanya bising usus.
Muntah.
e. Nyeri/kenyamanan
Gejala: episode akut nyeri berat, nyeri kolik. Lokasi tergantung
pada lokasi batu. Contoh pada panggul di region sudut
kostovertebral ; dapat menyebar ke punggung, abdomen, dan turun
kelipat paha/genetalia. Nyeri dangkal kostan menunjukkan ada
pelvis atau kalkulus ginjal. Nyeri dapat digambarkan sebagai akut,
hebat tidak hilang dengan posisi atau tindakan lain.
Tanda: melindungi ;perilaku distraksi. Nyeri tekan pada area pada
palpasi.

5
f. Keamanan
Gejala: penggunaan alcohol, demam, menggigil.
g. Penyuluhan/pembelajaran
Gejala: riwayat kalkulus dalam keluarga, penyakit ginjal,
hipertensi, gout, ISK kronis riwayat penyakit usus halus, bedah
abdomen sebelumnya, hiperparatiroidisme. Penggunaan antibiotic,
antihipertensi, natrium bikarbonat, alupurinol, fosfat, tiazid,
pemasukan berlebihan kalsium atau vitamin.
Pertimbangan Rencana Pemulangan : DRG menunjukkan rerata
lama dirawat: 3,4 hari.
h. Pemeriksaan diagnostic
Urinalisa: warna kuning, coklat gelap, berdarah secara umum
menunjukkan SDM, SDP, Kristal,
Urine: (24 jam) kreatinin, asam urat, kalsium, fosfat, oksalat, atau
sistin mungkin meningkat.
Hitung darah lengkap: SDP mungkin meningkat menunjukan
infeksi/septicemia.
2. Diagnosa Keperawatan
a. Nyeri akut berhubungan dengan iritasi pada saluran kemih
b. Gangguan eliminasi urin

6
Standar Diagnosa Keperawatan Standar Luaran Keperawatan
N Standar Intervensi Keperawatan Indonesia
Indonesia Indonesia
O (SIKI)
(SDKI) (SLKI)

1 Nyeri akut SLKI: SIKI :


Penyebab :  Setelah dilakukan asuhan keperawatan Manajemen nyeri
selama 3 x 24 jam diharapkan nyeri
1. Agen pencedra fisiologis (mis. pada pasien berkurang dengan kriteria Observasi
Inflamasi iskemia, neoplasma) hasil :
2. Agenpencedera kimiawi (mis. 1. Identifikasi lokasi, karakteristik, durasi,
Terbakar, bahan kimia iritan) Tingkat Nyeri frekuensi, kualitas, intensitas nyeri
3. Agen pencedera fisik (mis. Abses, 1. Nyeri berkurang dengan skala 2 2. Identifikasi skala nyeri
amputasi, prosedur operasi, taruma, 2. Pasien tidak mengeluh nyeri 3. Identifikasi respon nyeri nonverbal
dll) 3. Pasien tampak tenang 4. Identifikasi factor yang memperingan dan
4. Pasien dapat tidur dengan tenang memperberat nyeri
5. Frekuensi nadi dalam batas normal 5. Identifikasi pengetahuan dan keyakinan
Gejala dan tanda mayor (60-100 x/menit) tentang nyeri
6. Tekanan darah dalam batas normal 6. Identifikasi budaya terhadap respon nyeri
Subjektif : mengeluh nyeri 7. Identifikasi pengaruh nyeri terhadap
(90/60 mmHg – 120/80 mmHg)
7. RR dalam batas normal (16-20 kualitas hidup pasien
Objektif
x/menit) 8. Monitor efek samping penggunaan
1. Tampak meringis Kontrol Nyeri analgetik
2. Bersikap proaktif (mis. waspada, 1. Melaporkan bahwa nyeri berkurang 9. Monitor keberhasilan terapi komplementer
posisi menghindari nyeri) dengan menggunakan manajemen yang sudah diberikan
3. Gelisah nyeri Terapeutik
4. Frekuensi nadi meningkat 2. Mampu mengenali nyeri (skala,
1. Fasilitasi istirahat tidur
5. Sulit tidur intensitas, frekuensi dan tanda nyeri)
2. Kontrol lingkungan yang memperberat

7
Gejala dan tanda minor Status Kenyamanan nyeri ( missal: suhu ruangan,
pencahayaan dan kebisingan).
Subjektif : - 1. Menyatakan rasa nyaman setelah 3. Beri teknik non farmakologis untuk
nyeri berkurang meredakan nyeri (aromaterapi, terapi
Objektif
pijat, hypnosis, biofeedback, teknik
1. Tekanan darah meningkat imajinasi terbimbimbing, teknik tarik
2. Pola nafas berubah napas dalam dan kompres hangat/
3. Nafsu makan berubah dingin)
4. Proses berpikir terganggu Edukasi
5. Menarik diri
1. Jelaskan penyebab, periode dan pemicu
6. Berfokus pada diri sendiri
nyeri
7. diaforesisi
2. Jelaskan strategi meredakan nyeri
3. Anjurkan menggunakan analgetik secara
tepat
4. Anjurkan monitor nyeri secara mandiri
Kolaborasi
1. Kolaborasi pemberian analgetik, jika
perlu

2 Gangguan eliminasi urin Setelah dilakukan asuhan keperawatan SIKI :


selama ….x… jam, diharapkan Perawatan Retensi Urine
gangguan eliminasi urin yang dirasakan 1. Monitor tingkat distensi kandung kemih
pasien berkurang dengan kriteria hasil : dengan palpasi dan perkusi
SLKI : 2. Berikan rangsangan berkemih (kompres

8
Eliminasi urin dingin pada abdomen)
1. Sensasi berkemih meningkat 3. Jelaskan penyebab retensi urine
2. Distensi kandung kemih meningkat 4. Ajarkan cara melakukan rangsangan
3. Berkemih tidak tuntas menurun berkemih
Kontinensia urin
1. Kemampuan berkemih
meningkat
Residu volume setelah berkemih
menurun
Table 1 Diagnosa Keperawatan

9
BAB III

TINJAUAN KASUS

3.1 Skenario Kasus


Ny. F (55 tahun) seorang karyawan swasta MRS dengan keluhan nyeri pinggang kanan. Nyeri hilang timbul dan menjalar ke
perut dan tidak dipengaruhi mobilitas fisik. Ny. F mengaku 4 bulan yang lalu sering mengalami nyeri yang sama, dan nyeri hialang
setelah diberikan obat penghilang rasa nyeri dari dokter. Nyeri dirasakan bertambah berat dalam 2 hari ini dan tidak menghilang
dengan obat yang biasa dimakan, selanjutnya Ny. F dibawa oleh suami ke RS. Ny. F juga mengeluh mual dan muntah sekitar 4-5
kali sejak 1 hari yang lalu dan demam dan air kencing keruh dan 0liguri (+) dg jumlah sekitar 400ml/24 jam. Ny. F mengaku BAB
dan Bak selama ini tidak ada masalah. Dari hasil pemeriksaan fisik didapatkan Kondisi umum= gelisah dan tampak meringis namun
nyeri nonkolik; TD= 120/90 mmHg; HR= 102x/mnt RR= 28x/mnt ; Suhu= 38,7 0C ; abdomen: inspeksi=flatuensi (+), palpasi: nyeri
tekan kuadaran kanan atas (+), perkusi: timpani pada abdomen dan nyeri ketok CVA dexter (+), auskultasi : bising usus menurun.
Pada pemeriksaan lab didaptkan : Hb=14gr/dl, leukosit = 15.000/mm3, ureum= 24mg/dl, creatinin =2,5 mg/dl. Pada pemeriksaan
penunjang USG menunjukkan hidronefrosis dextra. Pada pemeriksaan BNO-PIV : tampak bayangan radio opak Lumbal III dektra,
fungsi ginjal masih baik namun terdapat hidronefrosis ren dektra grade II

10
3.2 Asuhan Keperawatan
A. PENGKAJIAN
1. Identitas Klien
Nama : Ny. F
Umur : 55 Tahun
Jenis Kelamin : Perempuan
Pekerjaan : Karyawan Swasta MRS
Diagnosa medis : Batu Ginjal
2. Riwayat Kesehatan
a. Keluhan Utama
Nyeri pinggang kanan. Nyeri hilang timbul dan menjalar ke perut dan tidak dipengaruhi mobilitas fisik.
b. Riwayat Penyakit Sekarang
Nyeri dirasakan bertambah berat dalam 2 hari ini dan tidak menghilang dengan obat yang biasa dimakan, selanjutnya Ny. F juga
mengeluh mual dan muntah sekitar 4-5 kali sejak 1 hari yang lalu dan demam dan air kencing keruh dan 0liguri (+) dg jumlah sekitar
400ml/24 jam.
c. Riwayat Penyakit Dahulu
Ny. F mengaku 4 bulan yang lalu sering mengalami nyeri yang sama, dan nyeri hialang setelah diberikan obat penghilang rasa nyeri
dari dokter
d. Riwayat Penyakit Keluarga

11
Tidak Ada
e. Riwayat Obat – Obatan
Obat penghilang rasa nyeri dari dokter

3.3 Data Dasar Pengkajian Pasien


a. Aktivitas/Istirahat
Gejala : Pekerjaan monoton (-), pekerjaan dimana pasien terpajan pada lingkungan bersuhu tinggi (-), keterbatasan
aktivitas/mobilisasi sehubung dengan kondisi sebelumnya (contoh penyakit tak sembuh, cedera medula spinalis) (-)
b. Sirkulasi
Tanda : Peningkatan TD (-), peningkatan nadi (+), (nyeri (+), ansietas (-), gagal ginjal (-))
c. Eliminasi
Gejala : Riwayat adanya ISK kronis (-), obstruksi sebelumnya (kalkulus) (-). Penurunan haluaran urin (+), kandung kemih penuh
(-). Rasa terbakar (-), dorongan berkemih (-), diare (-)
Tanda : Oliguria (+), hematuria (-), piuria (-). Perubahan pola berkemih (+)
d. Makanan/Cairan
Gejala : Mual/muntah (+), nyeri tekan abdomen (+). Diet tinggi purin (-), kalsium oksalat (-), dan/atau fosfat. Ketidakcukupan
pemasukan cairan ; tidak minum air dengan cukup (-)
Tanda : distensi abdomen (+), penurunan/tak adanya bising usus (+). Muntah (+)
e. Nyeri/Kenyamanan

12
Gejala : Episode akut nyeri berat (+), nyeri kolik (-),. Lokasi tergantung pada lokasi batu, contoh pada panggul regio sudut
konstovetebral; dapat menyebar ke punggung (-), abdomen (+), dan turun kelipatan paha/genitalia (-). Nyeri dangkal konstan
menunjukkan kalkulus ada di pelvis atau kalkulus ginjal (+). Nyeri dapat digambarkan sebagai akut (-), hebat tidak hilang dengan
posisi atau tindakan lain (-)
Tanda : Melindungi ; perilaku distraksi (-). Nyeri tekan pada area ginjal pada palpasi (+)
f. Keamanan
Gejala : Penggunaan alkohol (-), Demam (+). Menggigil (-)

Tanda-Tanda Vital
No
Pemeriksaan Hasil Normal Keterangan
.
120-140 / 80-90
1. TD 120/90 mmHg Normal
mmHg
2. HR 102 x/mnt 60-100 x/mnt Tidak Normal
3. RR 28x/mnt 16 – 24 x/mnt Tidak Normal
4. Suhu 38,7O C 36,5 – 37,5 O C Tidak Normal
Table 2 Tanda-Tanda Vital

Kondisi umum = gelisah dan tampak meringis namun nyeri nonkolik


ABDOMEN :

13
Inspeksi=flatuensi (+),
Palpasi: nyeri tekan kuadaran kanan atas (+),
Perkusi: timpani pada abdomen dan nyeri ketok cva dexter (+),
Auskultasi : bising usus menurun
Pemeriksaan Laboratorium
No. Pemeriksaan Hasil Normal Keterangan
1. Hb 14 gr/dl Pr : 12 – 15 g/dl Normal
Lk : 14 – 18 g/dl
2. Leukosit 15.000/mm3 Pr & Lk : 5.000 – Tidak Normal
10.000/mm3
3. Ureum 24mg/dl Pr & Lk : 15 – 40 Normal
mg/dl
4. Kreatinin 2,5 mg/dl Pr & Lk : 0,5 – 1,5 Tidak Normal
mg/dl
Table 3 Pemeriksaan Laboratorium

a. Pada pemeriksaan penunjang :


USG menunjukkan hidronefrosis dextra.
b. Pada pemeriksaan BNO-PIV :
Tampak bayangan radio opak Lumbal III dektra, fungsi ginjal masih baik namun terdapat hidronefrosis ren dektra grade II

14
ANALISA DATA

No MASALAH
DATA ETIOLOGI
. KEPERAWATAN
1. DS : Iskemi seluler Nyeri Akut
 Ny. F mengeluhan nyeri
pinggang kanan. Nyeri
hilang timbul dan menjalar
ke perut.
 Ny. F mengaku 4 bulan
yang lalu sering mengalami
nyeri yang sama, dan nyeri
hialang setelah diberikan
obat penghilang rasa nyeri
dari dokter.
 Nyeri dirasakan bertambah
berat dalam 2 hari ini dan
tidak menghilang dengan

15
obat yang biasa dimakan
DO :
 Kondisi umum= gelisah dan
tampak meringis namun
nyeri nonkolik
 Palpasi abdomen: nyeri
tekan kuadaran kanan atas
(+),
 Perkusi abdomen: timpani
pada abdomen dan nyeri
ketok CVA dexter (+)
DS :
 Ny. F mengeluh air kencing
keruh dan 0liguri (+) dg
jumlah sekitar 400ml/24
jam.
 Ny. F mengeluh mual dan
muntah sekitar 4-5 kali
sejak 1 hari yang lalu

16
DO :
 USG menunjukkan
hidronefrosis dextra.
 BNO-PIV : tampak
bayangan radio opak
Lumbal III dektra,
 Terdapat hidronefrosis ren
dektra grade II
 Suhu : 38,7 C
 HR= 102x/mnt
 RR= 28x/mnt
 Abdomen:
inspeksi=flatuensi (+)
 Auskultasi : bising usus
menurun.
3. DS : Infeksi Hipertermi
 Ny. F mengeluh demam
DO :
 Suhu= 38,70C

17
 Leukosit = 15.000/mm3

Table 4 Analisis Data

ANALISA DATA TAMBAHAN

MASALAH
No. DATA ETIOLOGI
KEPERAWATAN
1. DS : Iskemi seluler Nyeri Akut
 Ny. F mengeluhan nyeri pinggang kanan. Nyeri hilang
timbul dan menjalar ke perut.
 Ny. F mengaku 4 bulan yang lalu sering mengalami
nyeri yang sama, dan nyeri hialang setelah diberikan
obat penghilang rasa nyeri dari dokter.
 Nyeri dirasakan bertambah berat dalam 2 hari ini dan
tidak menghilang dengan obat yang biasa dimakan
DO :
 Kondisi umum= gelisah dan tampak meringis namun
nyeri nonkolik
 Skala nyeri 7

18
 Palpasi abdomen: nyeri tekan kuadaran kanan atas (+),
 Perkusi abdomen: timpani pada abdomen dan nyeri
ketok CVA dexter (+)
2. DS : Obstruksi Risiko ketidakseimbangan cairan
 Ny. F mengeluh air kencing keruh dan 0liguri (+) dg
jumlah sekitar 400ml/24 jam.
 Ny. F mengeluh mual dan muntah sekitar 4-5 kali sejak
1 hari yang lalu
DO :
 USG menunjukkan hidronefrosis dextra.
 BNO-PIV : tampak bayangan radio opak Lumbal III
dektra,
 Terdapat hidronefrosis ren dektra grade II
 Creatinin =2,5 mg/dl
 Suhu : 38,7 C
 HR= 102x/mnt
 RR= 28x/mnt
 Kulit klien terlihat kering, turgor kulit dan idah jelek
 Pasien tampak lemah

19
 Abdomen: inspeksi=flatuensi (+)
 Auskultasi : bising usus menurun.
3. DS : Infeksi Hipertermi
 Ny. F mengeluh demam
DO :
 Suhu= 38,70C
 Leukosit = 15.000/mm3
 HR= 102x/mnt
 RR= 28x/mnt
 Kulit terba hangat
 Kulit pasien terlihat memerah
Table 5 Analisis Data Tambahan

DIAGNOSA KEPERAWATAN
1. Nyeri berhubungan dengan iskemi ditandai dengan Ny. F mengeluhan nyeri pinggang kanan. Nyeri hilang timbul dan menjalar ke
perut. Ny. F mengaku 4 bulan yang lalu sering mengalami nyeri yang sama, dan nyeri hialang setelah diberikan obat penghilang rasa
nyeri dari dokter. Nyeri dirasakan bertambah berat dalam 2 hari ini dan tidak menghilang dengan obat yang biasa dimakan. Kondisi
umum= gelisah dan tampak meringis namun nyeri nonkolik.. Palpasi abdomen: nyeri tekan kuadaran kanan atas (+), Perkusi abdomen:
timpani pada abdomen dan nyeri ketok CVA dexter (+)
RENCANA ASUHAN KEPERAWATAN

20
N Standar Diagnosa Keperawatan Standar Luaran Keperawatan Indonesia Standar Intervensi Keperawatan
O Indonesia Indonesia
(SLKI)
(SDKI) (SIKI)

1 Nyeri akut SLKI: SIKI :


Penyebab :  Setelah dilakukan asuhan keperawatan Manajemen nyeri
selama 3 x 24 jam diharapkan nyeri pada
1. Agen pencedra fisiologis (mis. pasien berkurang dengan kriteria hasil : Observasi
Inflamasi iskemia, neoplasma)
2. Agenpencedera kimiawi (mis. Tingkat Nyeri 1. Identifikasi lokasi, karakteristik,
Terbakar, bahan kimia iritan) 1. Nyeri berkurang dengan skala 2 durasi, frekuensi, kualitas, intensitas
3. Agen pencedera fisik (mis. Abses, 2. Pasien tidak mengeluh nyeri nyeri
amputasi, prosedur operasi, taruma, 3. Pasien tampak tenang 2. Identifikasi skala nyeri
dll) 4. Pasien dapat tidur dengan tenang 3. Identifikasi respon nyeri nonverbal
5. Frekuensi nadi dalam batas normal (60- 4. Identifikasi factor yang memperingan
100 x/menit) dan memperberat nyeri
Gejala dan tanda mayor 6. Tekanan darah dalam batas normal 5. Identifikasi pengetahuan dan
(90/60 mmHg – 120/80 mmHg) keyakinan tentang nyeri
Subjektif : mengeluh nyeri 6. Identifikasi budaya terhadap respon
7. RR dalam batas normal (16-20 x/menit)
Kontrol Nyeri nyeri
Objektif
1. Melaporkan bahwa nyeri berkurang 7. Identifikasi pengaruh nyeri terhadap
1. Tampak meringis dengan menggunakan manajemen nyeri kualitas hidup pasien
2. Bersikap proaktif (mis. waspada, 2. Mampu mengenali nyeri (skala, 8. Monitor efek samping penggunaan
posisi menghindari nyeri) intensitas, frekuensi dan tanda nyeri) analgetik
3. Gelisah 9. Monitor keberhasilan terapi

21
4. Frekuensi nadi meningkat Status Kenyamanan komplementer yang sudah diberikan
5. Sulit tidur Terapeutik
Gejala dan tanda minor 1. Menyatakan rasa nyaman setelah nyeri
berkurang 1. Fasilitasi istirahat tidur
Subjektif : - 2. Kontrol lingkungan yang
memperberat nyeri ( missal: suhu
Objektif ruangan, pencahayaan dan
kebisingan).
1. Tekanan darah meningkat
3. Beri teknik non farmakologis untuk
2. Pola nafas berubah
meredakan nyeri (aromaterapi, terapi
3. Nafsu makan berubah
pijat, hypnosis, biofeedback, teknik
4. Proses berpikir terganggu
imajinasi terbimbimbing, teknik tarik
5. Menarik diri
napas dalam dan kompres hangat/
6. Berfokus pada diri sendiri
dingin)
7. diaforesisi
Edukasi
1. Jelaskan penyebab, periode dan
pemicu nyeri
2. Jelaskan strategi meredakan nyeri
3. Anjurkan menggunakan analgetik
secara tepat
4. Anjurkan monitor nyeri secara
mandiri
Kolaborasi
2. Kolaborasi pemberian analgetik, jika
perlu
Table 6 Rencana Asuhan Keperawatan

22
23
Implementasi
Selama tahap implementasi perawat melaksanakan rencana asuhan
[Link] keperawatan diimplementasikan untuk membantu klien
memenuhi kriteria hasil. Dalam implementasi terdapat tiga komponen tahap
implementasi, yaitu: tindakan keperawatan mandiri, tindakan keperawatan
kolaboratif, dan dokumentasi tindakan keperawatan dan respons klien terhadap
asuhan keperawatan (Allen, 1998)

Evaluasi Keperawatan
Tahap evaluasi adalah tahap akhir dari proses keperawatan yang
merupakan perbandingan hasil-hasil yang diamati dengan kriteria hasil yang
dibuat pada tahap perencanaan. Evaluasi dilakukan secara berkesinambungan
dengan melibatkan klien dan tenaga kesehatan lainnyasecara umum, evaluasi
ditujukan untuk melihat dan menilai kemampuan klien dalam mencapai tujuan,
menentukan apakah tujuan keperawatan telah tercapai atau belum, mengkaji
penyebab jika tujuan asuhan keperawatan belum [Link] terbagi menjadi
dua jenis yaitu evaluasi formatif dan evaluasi sumatif. Evaluasi formatif berfokus
pada aktivitas proses keperawatan dan hasil tindakan keperawatan, dirumuskan
dengan empat komponen yang dikenal dengan istilah SOAP, subyektif(data
berupa keluhan klien), objektif (data hasil pemeriksaan), analisis data
(pembandingan data dengan teori), perencanaan. Sedangkan evaluasi sumatif
adalah evaluasi yang dilakukan setelah semua aktivitas proses keperawatan selesai
dilakukan (Asmadi, 2008

24
DAFTAR PUSTAKA

Corwin, Elisabeth. J. 2000. Buku Saku Patofisiologi/Elisabeth. J. Cowin. EGC:


Jakarta.
Carpenito, L.J. (2009). Diagnosis Keperawatan:aplikasi pada praktik klinis. Edisi
ke Sembilan. Jakarta :EGC.
Corwin, E.J. (2009). Buku Saku Patofisiologi. Alih bahasa: Nike, B. Editor edisi
bahasa indonesia: Yuda, E.K, et [Link] 3 Jakarta. EGC: Jakarta.
Doengoes, E. M. (2000). Rencana Asuhan Keperawatan. Edisi Kedua. Jakarta:
EGC.
Doenges, Marilynn. E. 1999. Rencana Asuhan Keperawatan : pedoman untuk
perencanaan dan pendokumentasian perawatan pasien. EGC: Jakarta.
Mansjoer, Arif. 1999. Kapita Selekta Kedokteran. Media Aesculapius: Jakarta.
Mary Baradero. (2008). Klien Gangguan Ginjal. Jakarta: EGC
Nursalam. 2006. Asuhan Keperawatan pada Pasien dengan Gangguan Sistem
perkemihan. Salemba Medika: Jakarta.
Smeltzer, Suzanne. C. 2001. Buku Ajar Keperawatan Medikal-Bedah Brunner &
Suddarth. EGC: Jakarta.
Soeparman. (2000). Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam. Jilid II. Edisi ketiga.
Jakarta: Salemba Medika.

25

Anda mungkin juga menyukai