0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
8 tayangan67 halaman

Teori dan Pengertian Hasil Belajar

Diunggah oleh

Amry Hartanto
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
8 tayangan67 halaman

Teori dan Pengertian Hasil Belajar

Diunggah oleh

Amry Hartanto
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

BAB II

KAJIAN PUSTAKA

A. Kajian Teori

1. Hakikat Hasil Belajar

a. Pengertian Belajar

Teori belajar merupakan upaya untuk mendeskripsikan

bagaimana manusia belajar, sehingga membantu individu semua

memahami proses inhern yang kompleks dari belajar. Ada tiga

perspektif utama dalam teori belajar, yaitu Behaviorisme,

Kognitivisme, dan Konstruktivisme. Pada dasarnya teori pertama

dilengkapi oleh teori kedua dan seterusnya, sehingga varian, gagasan

utama, ataupun tokoh yang tidak dapat dimasukkan dengan jelas

termasuk yang mana, atau bahkan menjadi teori tersendiri. Namun hal

ini tidak perlu diperdebatkan, yang lebih penting untuk dipahami

adalah teori mana yang baik untuk diterapkan pada kawasan tertentu,

dan teori mana yang sesuai untuk kawasan lainnya. Pemahaman

semacam ini penting untuk dapat meningkatkan kualitas pembelajaran

(Bunyamin, 2021, p. 3).

Belajar merupakan kegiatan dalam suatu proses pendidikan

merupakan kegiatan yang pokok, ada beberapa pendapat mengenai

pengertian belajar. Belajar adalah perubahan yang relatif permanen

dalam perilaku atau potensi perilaku sebagai hasil dari pengalaman

atau latihan yang diperkuat. Belajar merupakan akibat adanya interaksi

antara stimulus dan respons. Belajar merupakan suatu aktivitas atau


suatu proses untuk memperoleh pengetahuan, meningkatkan

keterampilan, memperbaiki perilaku, sikap, dan mengokohkan

kepribadian. Dalam konteks menjadi tahu atau proses memperoleh

pengetahuan, menurut pemahaman sains konvensional, kontak

manusia dengan alam diistilahkan dengan pengalaman (experience).

Dalam aktivitas kehidupan manusia sehari-hari hampir tidak pernah

dapat terlepas dari kegiatan belajar, baik ketika seseorang

melaksanakan aktivitas sendiri, maupun didalam suatu kelompok

tertentu. Dipahami ataupun tidak dipahami, sesungguhnya sebagian

besar aktivitas di dalam kehidupan sehari-hari merupakan kegiatan

belajar. Pengalaman yang terjadi berulang kali melahirkan

pengetahuan (knowledge) atau a body of knowledge (Ariani, dkk.,

2022, p. 2).

Belajar merupakan perubahan dalam kepribadian, yang

dimanifestasikan sebagai pola-pola respon yang baru yang berbentuk

keterampilan, sikap, kebiasaan, pengetahuan dan kecakapan. Belajar

merupakan diperolehnya kebiasaan-kebiasaan, pengetahuan dan sikap

baru. Belajar dikatakan berhasil jika seseorang mampu mengulangi

kembali materi yang telah dipelajarinya, sehingga belajar semacam ini

disebut dengan rote learning, belajar hafalan, belajar melalui ingatan,

by heart, diluar kepala tanpa mempedulikan makna. rote learning

merupakan lawan dari meaningful learning, pembelajaran bermakna

(Sukmadinata, 2018, p. 156).


Akhiruddin dkk., (2020, p. 7) menyatakan bahwa kata kunci

dari belajar adalah perubahan perilaku. Belajar adalah sebuah proses

yang dilakukan oleh individu untuk memperoleh sebuah perubahan

tingkah laku yang menetap, baik yang dapat diamati maupun yang

tidak dapat diamati secara langsung, yang terjadi sebagai suatu hasil

latihan atau pengalaman dalam interaksinya dengan lingkungan.

Haryati (2017, p. 2) menyatakan bahwa belajar (learning) adalah

proses perubahan yang relatif tetap dalam perilaku individu sebagai

hasil dari pengalaman. Dalam pengertian ini memusatkan perhatian

pada tiga hal yaitu: (1) bahwa belajar harus memungkinkan terjadinya

perubahan perilaku individu; (2) bahwa perubahan itu harus

merupakan buah dari pengalaman; (3) bahwa perubahan itu terjadi

pada perilaku individu yang mungkin.

Pendapat Setiawan (2017, p. 3) bahwa belajar adalah suatu

proses aktivitas mental yang dilakukan seseorang untuk memperoleh

suatu perubahan tingkah laku yang bersifat positif dan menetap relatif

lama melalui latihan atau pengalaman yang menyangkut aspek

kepribadian baik scara fisik ataupun psikis. Belajar menghasilkan

perubahan dalam diri setiap individu, dan perubahan tersebut

mempunyai nilai positif bagi dirinya. Tetapi tidak semua perubahan

bisa dikatakan sebagai belajar, sebagai contoh seseorang anak yang

terjatuh dari pohon dan tangannya patah. Kondisi tersebut tidak bisa

dikatakan sebagai proses belajar meskipun ada perubahan, karena


perubahan tersebut bukan sebagai perilaku aktif dan menuju kepada

perbuahan yang lebih baik.

Belajar adalah aktivitas kehidupan yang normal dan itu, sejak

manusia pada dasarnya adalah makhluk sosial, belajar adalah kegiatan

sosial sebagai sosial partisipasi. Dari perspektif ini, disimpulkan

bahwa sekarang sudah dilembagakan pengajaran dan pelatihan,

berdasarkan gagasan proses individu dan terpisah dari sisa kegiatan

sosial kita terancam menjadi sama sekali tidak relevan. Jika sebuah

pandangan konstruktivis tentang pengetahuan kemudian

dipertimbangkan dalam kombinasi dengan pentingnya bahasa, budaya

dan komunikasi interpersonal dalam pengembangan proses psikologis

yang lebih tinggi dan konsep kolaborasi dan kecerdasan kolektif,

menjadi agak jelas bahwa arus praktik dominan pendidikan jarak jauh

online tidak konsisten dengan pandangan ini karena dibangun di

sekitar gagasan pengiriman konten yang objektif dan studi individu

dan perolehan pengetahuan (Parnawi, 2021, p. 18).

Djamaludin & Wardana (2019, p. 3) mengemukakan definisi

belajar dapat juga diartikan sebagai segala aktivitas psikis yang

dilakukan oleh setiap individu sehingga tingkah lakunya berbeda

antara sebelum dan sesudah belajar. Perubahan tingkah laku atau

tanggapan, karena adanya pengalaman baru, memiliki kepandaian/

ilmu setelah belajar, dan aktivitas berlatih. Arti belajar adalah suatu

proses perubahan kepribadian seseorang dimana perubahaan tersebut


dalam bentuk peningkatan kualitas perilaku, seperti peningkatan

pengetahuan, keterampilan, daya pikir, pemahaman, sikap, dan

berbagai kemampuan lainnya.

Suardi (2018, p. 21) menyatakan bahwa belajar dimulai dengan

adanya semangat, dorongan, dan upaya yang timbul dalam diri

seseorang, sehingga orang itu melakukan kegiatan belajar, belajar yang

dimaksud adalah perilaku mengembangkan atau meningkatkan diri

melalui proses penyesuaian tingkah laku. Dari pernyataan tersebut

belajar merupakan hal yang sangat dekat dengan proses perkembangan

sesorang. Suatu hal yang menjadi alat kontrol dalam mempercepat

perkembangan tersebut yaitu sebuah motivasi ataupun stimulus.

Motivasi ataupun stimulus yang dimaksud yaitu dapat berasal dari

dalam ataupun luar individu. Dalam proses perkembangannya juga

terdapat penyesuaian tingkah laku yang menjadi ciri utama

perkembangan. Penyesuaian tingkah laku dapat terwujud karena

kegiatan belajar, bukan sebuah akibat langsung dari pertumbuhan

seseorang.

Belajar merupakan kegiatan yang dilakukan dengan sengaja

atau tidak sengaja oleh setiap individu, sehingga terjadi perubahan dari

yang tidak tahu menjadi tahu, dari yang tidak dapat berjalan menjadi

dapat berjalan, tidak dapat membaca menjadi dapat membaca dan

sebagainya. Belajar adalah suatu proses perubahan individu yang

berinteraksi dengan lingkungan sekitarnya ke arah yang baik maupun


tidak baik. Belajar setiap orang dapat dilakukan dengan cara berbeda.

Ada belajar dengan cara melihat, menemukan dan juga meniru, karena

melalui belajar seseorang akan mengalami pertumbuhan,

perkembangan dan perubahan dalam dirinya baik secara fisik maupun

psikis. Secara fisik jika yang dipelajari berkaitan dengan dimensi

motorik. Sementara secara psikis jika yang dipelajari berupa dimensi

afeksi (Wahab & Rosnawati, 2021, p. 2).

Gagne (dalam Bunyamin, 2021, pp. 25-26) menyatakan bahwa

belajar dapat didefinisikan sebagai suatu proses di mana suatu

organisasi berubah perilakunya sebagai akibat pengalaman, yaitu:

1) Perubahan Perilaku

Belajar menyangkut perubahan dalam suatu organisme. Hal ini

berarti bahwa belajar membutuhkan waktu. Untuk mengukur

belajar, kita membandingkan cara organisme itu berperilaku pada

waktu 1 dengan cara organisme itu berperilaku pada waktu 2

dalam suasana yang serupa. Bila perilaku dalam suasana serupa itu

berbeda untuk waktu itu, kita dapat berkesimpulan bahwa telah

terjadi belajar.

2) Perilaku Terbuka

Belajar yang kita simpulkan terjadi bila perilaku hewan-hewan,

termasuk manusia, berubah. Perilaku menyangkut aksi atau

tindakan, aksi-aksi otot atau aksi-aksi kelenjar, dan gabungan

kedua macam aksi itu. Hal yang menjadi perhatian utama ialah
perilaku verbal manusia sebab dari tindakan-tindakan menulis dan

berbicara manusia, dapat kita tentukan apakah perubahan-

perubahan dalam perilaku telah terjadi.

3) Belajar dan Pengalaman

Komponen terakhir dalam definisi belajar ialah sebagai suatu hasil

pengalaman. Istilah pengalaman membatasi macam-macam

perubahan perilaku yang dapat dianggap mewakili belajar. Batasan

ini penting dan sulit untuk didefinisikan. Biasanya batasan ini

dilakukan dengan memperhatikan penyebab-penyebab perubahan

dalam perilaku yang tidak dapat dianggap sebagai hasil

pengalaman.

4) Belajar dan Kematangan

Proses lain yang menghasilkan perilaku, yang tidak termasuk

belajar ialah kematangan. Perubahan perilaku yang disebabkan oleh

kematangan terjadi bila perilaku itu disebabkan oleh perubahan-

perubahan yang berlangsung dalam proses pertumbuhan dan

pengembangan organisme-organisme secara fisiologis. Berjalan dan

berbicara berkembang dalam manusia pada umumnya lebih banyak

disebabkan oleh kematangan ini daripada oleh belajar.

Arinia, dkk., (2022, p. 5) menyatakan bahwa sejumlah

pandangan dan definisi tentang belajar ditemukan beberapa ciri umum

kegiatan belajar sebagai berikut.


Pertama, belajar menunjukkan suatu aktivitas pada diri

seseorang yang disadari atau disengaja. Oleh sebab itu pemahaman

kita pertama yang sangat penting adalah bahwa kegiatan belajar

merupakan kegiatan yang disengaja atau direncanakan oleh pembelajar

sendiri dalam bentuk suatu aktivitas tertentu. Aktivitas ini menunjuk

pada keaktifan seseorang dalam melakukan sesuatu kegiatan tertentu,

baik pada aspek-aspek jasmania maupun aspek mental yang

memungkinkan terjadinya perubahan pada dirinya. Dengan demikian

dapat dipahami bahwa suatu kegiatan belajar dikatakan semakin baik,

bila mana intensitas keaktifan jasmania maupun mental seseorang

semakin tinggi. Sebaliknya meskipun seseorang dikatakan belajar,

namun bila mana keaktifan jasmania dan mental rendah berarti

kegiatan belajar tersebut tidak dilakukan secara intensif.

Kedua, belajar merupakan interaksi individu dengan

lingkungannya. Lingkungan dalam hal ini dapat berupa manusia atau

objek-objek lain yang memungkinkan individu memperoleh

pengalaman-pengalaman atau pengetahuan, baik pengalaman atau

pengetahuan baru maupun sesuatu yang pernah diperoleh atau

ditemukan sebelumnya akan tetapi menimbulkan perhatian kembali

bagi individu tersebut sehingga memungkinkan terjadinya interaksi.

Adanya interaksi individu dengan lingkungan ini mendorong

seseorang untuk lebih intensif meningkatkan keaktifan jasmania


maupun mentalnya guna lebih mendalami sesuatu yang menjadi

perhatian.

Ketiga, hasil belajar ditandai dengan perubahan tingkah laku.

Walaupun tidak semua perubahan tingkah laku merupakan hasil

belajar, akan tetapi aktivitas belajar umumnya disertai perubahan

tingkah laku. Perubahan tingkah laku kebanyakan hal merupakan

sesuatu perubahan yang dapat diamati (observable). Akan tetapi juga

tidak selalu perubahan tingkah laku yang dimaksudkan sebagai hasil

belajar tersebut dapat diamati. Perubahanperubahan yang dapat

diamati kebanyakan berkenaan dengan perubahan aspek-aspek

motorik. Perubahan tingkah laku sebagai hasil belajar juga dapat

menyentuh perubahan pada aspek afektif, termasuk perubahan aspek

emosional. Perubahan-perubahan pada aspek ini umumnya tidak

mudah dilihat dalam waktu yang singkat, akan tetapi seringkali dalam

rentang waktu yang relatif lama.

Djamaludin & Wardana (2019, p. 8-10) menjelaskan bahwa

secara umum ada tiga tujuan belajar, yaitu:

1) Memperoleh pengetahuan
Hasil dari kegiatan belajar dapat ditandai dengan
meningkatnya kemampuan berpikir seseorang. Jadi, selain
memiliki pengetahuan baru, proses belajar juga akan
membuat kemampuan berpikir seseorang menjadi lebih baik.
Dalam hal ini, pengetahuan akan meningkatkan kemampuan
berpikir seseorang, dan begitu juga sebaliknya kemampuan
berpikir akan berkembang melalui ilmu pengetahuan yang
dipelajari. Dengan kata lain, pengetahuan dan kemampuan
berpikir merupakan hal yang tidak dapat dipisahkan.
2) Menanamkan Konsep dan Keterampilan
Keterampilan yang dimiliki setiap individu adalah melalui
proses belajar. Penanaman konsep membutuhkan
keterampilan, baik itu keterampilan jasmani maupun rohani.
Dalam hal ini, keterampilan jasmani adalah kemampuan
individu dalam penampilan dan gerakan yang dapat diamati.
Keterampilan ini berhubungan dengan hal teknis atau
pengulangan. Sedangkan keterampilan rohani cenderung
lebih kompleks, karena bersifat abstrak. Keterampilan ini
berhubungan dengan penghayatan, cara berpikir, dan
kreativitas dalam menyelesaikan masalah atau membuat
suatu konsep.
3) Membentuk Sikap
Kegiatan belajar juga dapat membentuk sikap seseorang.
Dalam hal ini, pembentukan sikap mental peserta didik akan
sangat berhubungan dengan penanaman nilai-nilai, sehingga
menumbuhkan kesadaran di dalam dirinya. Dalam proses
menumbuhkan sikap mental, perilaku, dan pribadi anak didik,
seorang guru harus melakukan pendekatan yang bijak dan
hati-hati. Guru harus bisa menjadi contoh bagi anak didik dan
memiliki kecakapan dalam memberikan motivasi dan
mengarahkan berpikir.

Berdasarkan beberapa pendapat mengenai pengertian belajar,

dapat disimpulkan bahwa pengertian belajar adalah suatu proses yang

ditandai dengan adanya perubahan pada diri seseorang, perubahan

sebagai hasil proses belajar dapat ditunjukkan dalam berbagai bentuk

seperti perubahan pengetahuan, pemahaman, sikap, tingkah laku,

kecakapan dan kebiasaan.

b. Hasil Belajar

Interaksi antara pendidik dengan peserta didik yang dilakukan

secara sadar, terencana baik didalam maupun di luar ruangan untuk

meningkatkan kemampuan peserta didik ditentukan oleh hasil belajar.

Evaluasi hasil belajar merupakan proses untuk menentukan nilai

belajar peserta didik melalui kegiatan penilaian dan/atau pengukuran


hasil belajar. Tujuan utamanya adalah untuk mengetahui tingkat

keberhasilan yang dicapai oleh peserta didik setelah mengikuti suatu

kegiatan pembelajaran, dimana tingkat keberhasilan tersebut kemudian

ditandai dengan skala nilai berupa huruf atau kata atau simbol

(Akhiruddin, dkk., 2020, p. 185).

Penilaian hasil belajar adalah serangkaian kegiatan yang

dirancang untuk mengukur keefektifan sistem mengajar-belajar

sebagai suatu keseluruhan (Hamalik, 2018, p. 146). Hal ini senada

dengan penjelasan Sanjaya (2018, p. 240) bahwa penilaian hasil

belajar adalah menentukan efektivitas program dan keberhasilan

peserta didik melaksanakan kegiatan pembelajaran, sehingga melalui

informasi tersebut dapat diambil keputusan apakah program

pembelajaran yang dirancang perlu diperbaiki atau tidak, bagian-

bagian mana yang dianggap memiliki kelemahan, sehingga perlu

diperbaiki.

Pendapat Sumartiningsih & Putra (2024, p. 2) bahwa hasil

belajar merupakan dasar untuk mengukur dan melaporkan prestasi

akademik peserta didik, serta merupakan kunci dalam

mengembangkan desain pembelajaran selanjutnya yang lebih efektif

yang memiliki keselarasan antara apa yang akan dipelajari peserta

didik dan bagaimana mereka akan dinilai. Sebagai sebuah produk

akhir dari proses pembelajaran, hasil belajar dinilai dapat

menunjukkan apa yang telah peserta didik ketahui dan kembangkan.


Hasil belajar adalah hasil dari penyelesaian proses pembelajaran,

dimana lewat pembelajaran peserta didik dapat mengetahui, mengerti,

dan dapat menerapkan apa yang dipelajarinya (Beddu, 2019, p. 71).

Hasil belajar juga merupakan laporan mengenai apa yang didapat

pembelajar setelah selesai dari proses pembelajaran. Terdapat beberapa

indikator yang digunakan dalam mengukur hasil belajar peserta didik.

Pendapat yang paling terkemuka adalah yang disampaikan oleh Bloom

yang membagi klasifikasi hasil belajar dalam tiga ranah, yaitu kognitif,

afektif, dan psikomotorik (Sakti & Kisworo, 2023, p. 2).

Sardiman (2018, p. 47) mendefinisikan “hasil belajar atau

achievement merupakan realisasi atau pemekaran dari

kemampuankemampuan atau kecakapan-kecakapan potensial

(kapasitas) yang dimiliki seseorang”. Penguasaan hasil belajar oleh

seseorang dapat dilihat dari perilakunya, baik perilaku dalam bentuk

penguasaan pengetahuan, keterampilan berpikir maupun keterampilan

motorik. Lebih lanjut Sardiman (2018, p. 49) menyatakan

pembelajaran dikatakan berhasil dengan baik didasarkan pada

pengakuan bahwa belajar secara esensial merupakan proses yang

bermakna, bukan sesuatu yang berlangsung secara mekanik belaka,

tidak sekedar rutinisme.

Penilaian hasil belajar adalah penerapan berbagai cara dan

penggunaan beragam alat penilaian untuk memperoleh informasi

tentang sejauhmana proses penilaian peserta didik atau ketercapaian


kompetensi peserta didik. Penilaian disini diharapkan menjawab

pertanyaan tentang sebaik apa hasil berupa nilai kualitatif dan nilai

kuantitatif. Penilaian hasil belajar adalah pengukuran apakah peserta

didik sudah menguasai ilmu yang dipelajari oleh peserta didik atau

bimbingan guru sesuai dengan tujuan yang dirumuskan. Penilaian hasil

belajar adalah segala macam prosedur yang digunakan untuk

mendapatkan informasi mengenai unjuk kerja (performance) peserta

didik atau seberapa jauh peserta didik dapat mencapai tujuan

pembelajaran yang telah ditetapkan (Ananda, 2019, p. 245).

Secara umum penilaian hasil belajar bertujuan untuk melihat

sejauhmana suatu program pembelajaran dapat mencapai tujuan yang

telah ditentukan. Ananda (2019, p. 246) menjelaskan secara spesifik

tujuan penilaian hasil belajar sebagai berikut:

1) Memperkuat kegiatan belajar.


2) Menguji pemahaman dan kemampuan peserta didik.
3) Memastikan pengetahuan prasyarat yang sesuai.
4) Mendukung terlaksananya kegiatan pembelajaran.
5) Memotivasi peserta didik.
6) Memberi umpan balik bagi peserta didik.
7) Memberi umpan balik bagi guru.
8) Memelihara standar mutu.
9) Mencapai kemajuan proses dan hasil belajar.
10) Memprediksi kinerja pembelajaran selanjutnya.
11) Menilai kualitas belajar

Fungsi penilaian hasil belajar dijelaskan Sanjaya (2018, p. 244)

sebagai berikut:

1) Evaluasi merupakan alat yang penting sebagai umpan balik


bagi peserta didik . Melalui evaluasi peserta didik akan
mendapatkan informasi tentang efektivitas pembelajaran
yang dilakukannya. Dari hasil evaluasi peserta didik akan
dapat menentukan harus bagaimana proses pembelajaran
yang perlu dilakukannya.
2) Evaluasi merupakan alat yang penting untuk mengetahui
bagaimana ketercapaian peserta didik dalam menguasai
tujuan yang telah ditentukan. Peserta didik akan tahu
menjadi tahu bagian mana yang perlu dipelajari lagi dan
bagaimana yang tidak perlu.
3) Evaluasi dapat memberikan informasi untuk
mengembangkan program kurikulum. Informasi ini sangat
dibutuhkan baik untuk guru maupun untuk para
pengembang kurikulum khususnya untuk perbaikan
program selanjutnya.
4) Informasi dari hasil evaluasi dapat digunakan oleh peserta
didik secara individual dalam mengambil keputusan,
khususnya untuk menentukan masa depan sehubungan
dengan pemilihan bidang pekerjaan serta pengembangan
karir.
5) Evaluasi berguna untuk para pengembang kurikulum
khususnya dalam menentukan kejelasan tujuan khusus yang
ingin dicapai. Misalnya akankah tujuan itu perlu diubah
atau ditambah.
6) Evaluasi berfungsi sebagai umpan balik untuk semua pihak
yang berkepentingan dengan pendidikan di sekolah,
misalnya untuk orang tua, untuk guru dan pengembang
kurikulum, untuk perguruan tinggi, pemakai lulusan, untuk
orang yang mengambil kebijakan pendidikan termasuk juga
untuk masyarakat. Melalui evaluasi dapat dijadikan bahan
informasi tentang efektivitas program sekolah.

Akhiruddin, dkk., (2020, p. 186) menjelaskan bahwa evaluasi

hasil belajar memiliki sasasaran berupa ranah-ranah yang terkandung

dalam tujuan. Ranah tujuan pendidikan berdasarkan hasil beajar

peserta didik secara umum diklasifikasikan menjadi tiga yakni: ranah

kognitif, ranah afektif, dan ranah psikomotorik. Hasil belajar akan

tampak pada beberapa aspek antara lain: pengetahuan, pengertian,

kebiasaan, keterampilan, apresiasi, emosional, hubungan sosial,

jasmani, etis atau budi pekerti, dan sikap. Seseorang yang telah

melakukan perbuatan belajar maka akan terlihat terjadinya perubahan


dalam salah satu atau bebarapa aspek tingkah laku sebagai akibat dari

hasil belajar.

Ariani, dkk., (2022, pp. 8-9) menyatakan bahwa beberapa para

ahli menggolongkan beberapa jenis perilaku belajar yang terdiri dari

tiga ranah atau kawasan yaitu; (a) Ranah kognitif (Bloom, dkk), yang

mencakup 6 jenis atau tingkatan perilaku, (b) Ranah afektif

(Krathewohl, Bloom dkk.,), yang mencakup lima jenis perilaku, (c)

Ranah Psikomotor (Simpson) yang terdiri dari tujuh perilaku atau

kemampuan psikomotorik. Masing-masing ranah dijelaskan sebagai

berikut:

1) Ranah Kognitif (Bloom, dkk.,), terdiri dari enam jenis


perilaku:
a) Pengetahuan, mencakup kemampuan ingatan tentang
hal-hal yang telah dipelajari dan tersimpan didalam
ingatan.
b) Pemahaman, mencakup kemampuan menangkap sari
dan makna hal-hal yang dipelajari.
c) Penerapan, mencakup kemampuan menerapkan metode,
kaidah untuk menghadapi masalah yang nyata dan baru.
d) Analisis, mencakup kemampuan merinci suatu kesatuan
ke dalam bagian-bagian, sehingga struktur keseluruhan
dapat dipahami dengan baik.
e) Sintesis, mencakup kemampuan membentuk suatu pola
baru.
f) Evaluasi, mencakup kemampuan membentuk pendapat
tentang beberapa hal berdasarkan kriteria tertentu.
2) Ranah Afektif menurut (Krathwohl & Bloom, dkk.,), terdiri
lima jenis perilaku yaitu:
a) Penerimaan, yang mencakup kepekaan tentang hal
tertentu dan kesediaan memperhatikan hal tersebut.
b) Partisipasi, yang mencakup kerelaan, kesediaan,
memperhatikan dan berpartisipasi dalam suatu kegiatan.
c) Penilaian dan penentuan sikap, yang mencakup
penerimaan terhadap suatu nilai, menghargai,
mengakui, dan menentukan sikap.
d) Organisasi, yang mencakup kemampuan membentuk
suatu system nilai sebagai pedoman dan pegangan
hidup.
e) Pembentukan pola hidup, yang mencakup kemampuan
menghayati nilai, dan membentuknya menjadi pola nilai
kehidupan pribadi.
3) Ranah Psikomotor (Simpson), terdiri dari tujuh perilaku
atau kemampuan motorik, yaitu:
a) Persepsi, yang mencakup kemampuan memilah-
milahkan (mendeskripsikan sesuatu secara khusus dan
menyadari adanya perbedaan antara sesuatu tersebut.
b) Kesiapan, yang mencakup kemampuan menempatkan
diri dalam suatu keadaan dimana akan terjadi suatu
gerakan atau rangkaian gerakan, kemampuan ini
mencakup aktivitas jasmani dan rohani (mental).
c) Gerakan terbimbing, mencakup kemampuan melakukan
gerakan sesuai contoh, atau gerakan peniruan.
d) Gerakan terbiasa, mencakup kemampuan melakukan
gerakangerakan tanpa contoh.
e) Gerakan kompleks, yang mencakup kemampuan
melakukan gerakan atau keterampilan yang terdiri dari
banyak tahap secara lancar, efisien dan tepat.
f) Penyesuaian pola gerakan, yang mencakup kemampuan
mengadakan perubahan dan penyesuaian pola gerak-
gerik dengan persyaratan khusus yang berlaku.
g) Kreativitas, mencakup kemampuan melahirkan pola-
pola, gerak-gerik yang baru atas dasar prakarya sendiri.

Akhiruddin, dkk., (2020, p. 186) menjelaskan tujuan ranah

kognitif berhubungan dengan ingatan atau pengenalan terhadap

pengetahuan dan informasi serta pengembangan keterampilan

intelektual. Taksonomi tujuan ranah kognitif oleh Bloom

mengemukakan adanya 6 kelas yaitu:

1) Pengetahuan, merupakan tingkat terendah tujuan ranah


kognitif berupa pengenalan dan pengingatan kembali
terhadap pengetahuan tentang fakta, istilah, dan prinsip-
prinsip dalam bentuk seperti mempelajari. Dalam pengenalan
peserta didik diminta untuk memilih salah satu dari dua atau
lebih pilihan jawaban;
2) Pemahaman, berupa kemampuan memahami/mengerti
tentang isi pelajaran yang dipelajari tanpa perlu
menghubungkannya dengan isi pelajaran lainnya. Dalam
pemahaman peserta didik diminta untuk memmbuktikan
bahwa ia memahami hubungan yang sederhana diantara
fakta-fakta atau konsep;
3) Penggunaan/Penerapan, merupakan kemampuan
menggunakan generalisasi atau abstraksi lainnya yang sesuai
dalam situasi konkret dan atau situasi baru. Peserta didik
dituntut memiliki kemampuan untuk menyeleksi atau
memilih generalisasi/abstraksi tertentu secara tepat untuk
diterapkan dalam suatu situasi baru dan menerapkannya
secara benar;
4) Analisis, merupakan kemampuan menjabarkan isi pelajaran
ke bagian-bagian yang menjadi unsur pokok. Peserta didik
diminta untuk menganalisis hubungan atau situasi yang
kompleks atau konsep-konsep dasar;
5) Sintesis, merupakan kemampuan menggabungkan unsur-
unsur pokok ke dalam struktur yang baru. Dalam sintesis
peserta didik diminta untuk melakukan generalisasi;
6) Evaluasi, merupakan kemampuan untuk menerapkan
pengetahuan dan kemampuan yang telah dimiliki untuk
menilai suatu kasus.

Akhiruddin, dkk., (2020, p. 187) menjelaskan tujuan ranah

afektif berhubungan dengan hierarki perhatian, sikap, penghargaan,

nilai, perasaan, dan emosi. Taksonomi tujuan ranah afektif sebagai

berikut.

1) Menerima, berupa perhatian terhadap simuasi secara pasif


yang meningkat secara lebih aktif. Peserta didik diminta
menunjukkan kesadaran, kesediaan untuk menerima dan
perhatian terkontrol/terpilih;
2) Merespons, merupakan kesempatan untuk menanggapi
stimulan dan merasa terukat serta secara aktif
memperhatikan. Peserta didik diminta untuk menunjukkan
persetujuan, kesediaan dan kepuasan dalam merespons;
3) Menilai, merupakan kemampuan menilai gejala atau
kegiatan, sehingga dengan sengaja merespon lebih lanjut
untuk mencari jalan bagaimana dapat mengambil bagian atas
apa yang terjadi. Peserta didik dituntut menunjukkan
penerimaan terhadap nilai, kesuakaran terhadap nilai, dan
ketertarikan terhadap nilai;
4) Mengorganisasi, merupakan kemampuan untuk membentuk
suatu sistem nilai bagi dirinya berdasarkan nilai-nilai yang
dipercaya. Peserta didik diminta untuk mengorganisasi nilai-
nilai ke suatu organisasi ynag ebih besar.
5) Karakterisasi, merupakan kemampuan untuk
mengkonseptualisasikan masing-masing nilai pada waktu
merespons, dengan jalan mengidentifikasi karakteristik nilai
atau membuat pertimbangan-pertimbangan. Peserta didik
diminta untuk menunjukkan kemampuannya dalam
menjelaskan, memberi batasan dan mempertimbangkan
nilai-nilai yang direspons.

Akhiruddin, dkk., (2020, p. 188) menjelaskan tujuan ranah

psikomotorik berhubungan dengan keterampilan motorik, manipulasi

benda atau kegiatan yang memerlukan koordinasi saraf dan koordinasi

badan. Taksonomi ranah tujuan psikomotorik sebagai berikut.

1) Gerakan tubuh yang mencolok, merupakan kemampuan


gerakan tubuh yang menekankan kepada kekuatan, kecepatan
dan ketepatan tubuh yang mencolok. Peserta didik harus
mampu menunjukkan gerakan yang menggunakan kekuatan
tubuh, kecepatan tubuh, ketepatan posisi tubuh atau gerakan
yang memerlukan kekuatan, kecepatan dan ketepatan gerak
tubuh;
2) Ketepatan gerakan yang dikoordinasikan, merupakan
keterampilan yang berhubungan dengan urutan atau pola dari
gerakan yang dikoordinasikan biasanya berhubungan dengan
gerakan mata, telinga dan badan. Peserta didik harus mampu
menunjukkan gerakan-gerakan berdasarkan gerakan yang
dicontohkan dan/atau gerakan yang diperintahkan secara
lisan;
3) Perangkat komunikais nonverbal, merupakan kemampuan
mengadakan komunikasi tanpa kata. Peserta didik diminta
untuk menunjukkan kemampuan berkomunikasi
menggunakan bantuan gerakan tubuh dengan atau tanpa
menggunakan alat bantu. Komunikasi dilakukan dengan
benar-benar tidak menggunakan bantuan kemampuan verbal;
4) Kemampuan berbicara, merupakan kemampuan yang
berhubungan dengan komunikasi secara lisan. Peserta didik
harus mempu menunjukkan kemahirannya memilih dan
menggunakan kata atau kalimat, sehingga informasi, ide atau
yang dikominikasikannya dapat diterima secara mudah oleh
pendengarnya.
Berdasarkan pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa hasil

belajar adalah perubahan tingkah laku ke arah yang lebih baik, setelah

belajar orang akan memiliki keterampilan, sikap, dan nilai. Penilaian

dalam pembelajaran yang dimaksudkan untuk mencapai tujuan

pembelajaran dalam aspek afektif, kognitif, dan psikomotorik memiliki

indikator pengukuran capaian pembelajaran yang berbeda-beda.

Penilaian yang dilakukan akan menjadi acuan untuk mengukur capaian

kompetensi, laporan kemajuan hasil belajar, dan memperbaiki proses

pembelajaran. Hal ini akan menjadi tolok ukur kesuksesan strategi

pembelajaran yang diterapkan dinilai sesuai dan mencapai tujuan

pembelajaran.

2. Hakikat Pembelajaran PJOK

a. Pengertian Pembelajaran

Pembelajaran merupakan aktivitas yang paling utama dalam

kegiatan belajar mengajar. Djamaludin & Wardana (2019, p. 14)

menjelaskan bahwa pembelajaran adalah proses interaksi peserta didik

dengan pendidik dan sumber belajar pada suatu lingkungan belajar.

Pembelajaran merupakan bantuan yang diberikan pendidik agar dapat

terjadi proses pemerolehan ilmu dan pengetahuan, penguasaan

kemahiran dan tabiat, serta pembentukan sikap dan kepercayaan pada

peserta didik. Dengan kata lain, pembelajaran adalah proses untuk

membantu peserta didik agar dapat belajar dengan baik.


Pembelajaran pada hakikatnya adalah proses interaksi antara

peserta didik dengan lingkungan, sehingga terjadi perubahan perilaku

ke arah yang lebih baik. Tugas guru adalah mengkoordinasikan

lingkungan agar menunjang terjadinya perubahan perilaku bagi peserta

didik. Pembelajaran juga dapat diartikan sebagai usaha sadar pendidik

untuk membantu peserta didik agar mereka dapat belajar sesuai dengan

kebutuhan dan minatnya. Di sini pendidik berperan sebagai fasilitator

yang menyediakan fasilitas dan menciptakan situasi yang mendukung

peningkatan kemampuan belajar peserta didik. Arinia, dkk., (2022, p.

7) menyatakan bahwa fungsi-fungsi pembelajaran yaitu:

1) Pembelajaran sebagai sistem

Pembelajaran sebagai sistem terdiri dari sejumlah komponen yang

terorganisir antara lain tujuan pembelajaran, materi pembelajaran,

strategi dan metode pembelajaran, media pembelajaran/alat peraga,

pengorganisasian kelas, evaluasi pembelajaran, dan tindak lanjut

pembelajaran (remedial dan pengayaan).

2) Pembelajaran sebagai proses

Pembelajaran sebagai proses merupakan rangkaian upaya atau

kegiatan guru dalam rangka membuat peserta didik belajar,

meliputi: (1) Persiapan, merencanakan program pengajaran

tahunan, semester, dan penyusunan persiapan mengajar (lesson

plan) dan penyiapan perangkat kelengkapannya antara lain alat

peraga, alat evaluasi, buku atau media cetak lainnya. (2)


Melaksanakan kegiatan pembelajaran dengan mengacu pada

persiapan pembelajaran yang telah dibuatnya. Belajarnya peserta

didik banyak dipengaruhi oleh pendekatan atau strategi dan

metode-metode pembelajaran yang telah dipilih dan dirancang

penerapannya, serta filosofi kerja dan komitmen guru, persepsi dan

sikapnya terhadap peserta didik. (3) Menindaklanjuti pembelajaran

yang telah dikelolanya. Kegiatan pasca pembelajaran ini dapat

berbentuk enrichment (pengayaan), dapat pula berupa pemberian

layanan remedial teaching bagi peserta didik yang berkesulitan

belajar.

Pendapat Setiawan (2017, p. 20) bahwa pembelajaran

merupakan perpaduan dari dua aktivitas belajar dan mengajar.

Aktivitas belajar secara metodologis cenderung lebih dominan pada

peserta didik, sementara mengajar secara instruksional dilakukan oleh

guru, jadi istilah pembelajaran adalah ringkasan dari kata belajar dan

mengajar. Pembelajaran adalah penyederhanaan dari kata belajar dan

mengajar, proses belajar mengajar atau kegiatan belajar mengajar.

Secara psikologis pengertian pembelajaran ialah suatu proses yang

dilakukan oleh individu untuk memperoleh suatu perubahan perilaku

secara menyeluruh, sebagai hasil dari interaksi individu itu dengan

lingkungannya.

Senada dengan pendapat di atas, Samsinar (2020, p. 194)

menjelaskan pembelajaran adalah proses interaksi peserta didik dengan


pendidik dan sumber belajar pada suatu lingkungan belajar.

Pembelajaran merupakan bantuan yang diberikan pendidik agar dapat

terjadi proses perolehan ilmu dan pengetahuan, penguasaan kemahiran

dan tabiat, serta pembentukan sikap dan kepercayaan pada peserta

didik. Dengan kata lain, pembelajaran adalah proses untuk membantu

peserta didik agar dapat belajar dengan baik.

Akhiruddin, dkk., (2020, p. 12) menjelaskan bahwa

pembelajaran adalah suatu usaha yang sengaja melibatkan dan

menggunakan pengetahuan profesional yang dimiliki guru untuk

mencapai tujuan kurikulum. Pembelajaran ini adalah suatu sistem yang

bertujuan untuk membantu proses belajar peserta didik, yang berisi

serangkaian peristiwa yang dirancang, disusun sedemikian rupa untuk

mempengaruhi dan mendukung terjadinya proses belajar peserta didik

yang bersifat internal. Pembelajaran dari sudut pandang teori

interaksional didefinisikan sebagai proses interaksi peserta didik

dengan pendidik dan sumber belajar pada suatu lingkungan belajar.

Berdasarkan konsep ini, pembelajaran dipandang memiliki kualitas

baik jika interaksi yang terjadi bersifat multi arah, yakni guru-peserta

didik, peserta didik-guru, peserta didik-peserta didik, peserta didik-

sumber belajar, dan peserta didik-lingkungan belajar.

Pembelajaran merupakan suatu sistem, yang terdiri dari

berbagai komponen yang saling berhubungan satu dengan yang lain.

Komponen tersebut, meliputi: tujuan, materi, metode, dan evaluasi.


Keempat komponen pembelajaran tersebut harus diperhatikan oleh

guru dalam memilih dan menentukan media, metode, strategi, dan

pendekatan apa yang akan digunakan dalam kegiatan pembelajaran.

Pembelajaran pada hakikatnya merupakan proses interaksi antara guru

dan peserta didik , baik interaksi secara langsung, seperti kegiatan

tatap muka maupun secara tidak langsung, yaitu dengan menggunakan

berbagai media pembelajaran. Didasari oleh adanya perbedaan

interaksi tersebut, maka kegiatan pembelajaran dapat dilakukan dengan

menggunakan berbagai pola pembelajaran (Bunyamin, 2021, p. 78).

Pembelajaran merupakan kegiatan belajar mengajar sehingga

proses pembelajaran sangat saling membutuhkan, guru membutuhkan

peserta didik dan peserta didik sangat membutuhkan peran guru,

namun seharusnya bantuan guru harus semakin dikurangi karena

tujuanya adalah meningkatkan ke aktifan peserta didik bukan guru

yang menjadi semakin aktif, dengan hal ini seharusnya pembelajaran

yang tadinya satu arah (guru-peserta didik) menjadi dua arah (guru-

peserta didik dan peserta didik-guru) (Festiawan & Arovah, 2020, p.

188).

Berdasarkan pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa

pembelajaran adalah memiliki hakikat perencanaan atau perancangan

sebagai upaya untuk membelajarkan peserta didik, sehingga peserta

didik akan mengalami perubahan dan hasil akhir dari proses suatu

kegiatan pembelajaran akan tampak dalam penguasaan pengetahuan


atau keterampilan yang ditunjukkan dengan nilai tes serta untuk

memperoleh nilai tersebut perlu dilakukan evaluasi.

b. Tujuan Pembelajaran

Tujuan dalam pembelajaran merupakan komponen yang paling

penting yang harus ditetapkan dalam proses pembelajaran yang

mempunyai fungsi sebagai tolak ukur keberhasilan pembelajaran.

Tujuan pembelajaran (tujuan instruksional) yaitu tujuan yang

menggambarkan pengetahuan, kemampuan, keterampilan dan sikap

yang harus dimiliki peserta didik sebagai akibat dari hasil

pembelajaran (Suardi, 2018, p. 23). Kemampuan yang harus dimiliki

peserta didik merupakan suatu tujuan yang ditargetkan oleh guru

setelah berakhirnya proses pembelajaran. Dengan kata lain tujuan

merupakan suatu komponen yang dapat mempengaruhi komponen

pembelajaran lainnya seperti pemilihan metode, alat, sumber, dan alat

evaluasi, yang harus disesuaikan dan digunakan untuk mencapai tujuan

seefektif dan seefisien mungkin. Bila salah satu komponen tidak sesuai

dengan tujuan, maka pelaksanaan kegiatan belajar mengajar tidak akan

dapat mencapai tujuan yang telah ditetapkan (Asrul, dkk., 2022, p. 12).

Tujuan pembelajaran pada dasarnya merupakan harapan, yaitu

apa yang diharapkan dari peserta didik sebagai hasil belajar. Tujuan

pembelajaran, yaitu maksud yang dikomunikasikan melalui

peenyataan yang menggambarkan tentang perubahan yang diharapkan

dari peserta didik. Ananda & Amirudin (2019, p. 58) menyatakan


tujuan pembelajaran adalah tujuan yang menggambarkan pengetahuan,

kemampuan, keterampilan, dan sikap yang harus dimiliki peserta didik

sebagai akibat dari hasil pembelajaran yang dinyatakan dalam bentuk

tingkah laku yang dapat diamati dan diukur.

Tujuan pembelajaran adalah rumusan secara terperinci apa saja

yang harus dikuasai oleh peserta didik sesudah melewati kegiatan

pembelajaran yang bersangkutan dengan berhasil (Darman, 2020, p.

14). Tujuan pembelajaran memang perlu dirumuskan dengan jelas,

karena perumusan tujuan yang jelas dapat digunakan sebagai tolak

ukur keberhasilan dari proses pembelajaran itu sendiri. Tujuan

pembelajaran merupakan upaya perubahan tingkah laku peserta didik

yang berlangsung sebagai akibat dari keterlibatannya dalam sebuah

pengalaman pendidikan (Gatti, et al., 2019, p. 668).

Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulakan bahwa tujuan

pembelajaran adalah rumusan secara terperinci apa saja yang harus

dikuasai oleh peserta didik sebagai akibat dari hasil pembelajaran

yang dinyatakan dalam bentuk tingkah laku yang dapat diamati dan

diukur. Rumusan tujuan pembelajaran ini harus disesuaikan dengan

standar kompetensi, kompetensi dasar, dan indikator pencapaian

peserta didik . Selain itu tujuan pembelajaran yang dirumuskan juga

harus spesifik dan operasional agar dapat digunakan sebagai tolak ukur

keberhasilan dari proses pembelajaran.


c. Hakikat Pembelajaran PJOK

Salah satu mata pelajaran yang diajarkan di sekolah adalah

Pendidikan Jasmani Olahraga dan Kesehatan (PJOK). Mata pelajaran

Pendidikan Jasmani Olahraga dan Kesehatan (PJOK) merupakan salah

satu pelajaran yang diajarkan di sekolah. Pada tingkat SD, SMP, dan

SMA/sederajat. Mata pelajaran PJOK pada dasarnya merupakan

bagian integral dari sistem pendidikan secara keseluruhan yang

bertujuan untuk mengembangkan aspek kesehatan, kebugaran jasmani,

keterampilan berfikir kritis, stabilitas emosional, keterampilan sosial,

penalaran dan tindakan moral melalui aktivitas jasmani dan olahraga.

Pelajaran PJOK khususnya di tingkat SMP, diharapkan mampu

mengenalkan peserta didik dengan konsep-konsep penjas yang

mengarahkan peserta didik agar memahami konsep tentang olahraga,

kesehatan, dan prestasinya (Iswanto, 2017, p. 46).

PJOK dianggap sebagai sarana untuk meningkatkan aktivitas

fisik peserta didik untuk mencapai kebugaran jasmani yang memadai.

Pengalaman belajar melalui PJOK diarahkan untuk membina

pertumbuhan fisik dan perkembangan psikis yang lebih baik, serta

membentuk gaya hidup sehat dan bugar sepanjang hayat. Oleh karena

itu, terobosan-terobosan baru perlu dilakukan terutama terkait masalah

peningkatan kualitas pembelajaran PJOK di sekolah. Salah satu

contohnya adalah memotivasi anak untuk belajar melalui cara yang


membuat peserta didik tertarik untuk belajar PJOK (Astutik, et al.,

2024, p. 52).

PJOK telah disajikan sebagai mata pelajaran di mana peserta

didik dan guru dapat mengembangkan kesejahteraan emosional dan

membangun pengalaman sosio-emosional yang positif (Gagnon, 2016,

p. 22). PJOK merupakan mata pelajaran yang penting, karena

membantu mengembangkan peserta didik sebagai individu dan

mahkluk sosial agar tumbuh dan berkembang secara wajar. Hal Ini

dikarenakan pelaksanaannya mengutamakan aktivitas jasmani

khususnya olahraga dan kebiasaan hidup sehat. Dengan adanya

pendidikan jasmani olahraga dan kesehatan, maka potensi diri dari

seseorang akan dapat berkembang (Utami & Purnomo, 2019, p. 11).

PJOK merupakan proses pendidikan seseorang sebagai

perorangan atau anggota masyarakat yang dilakukan secara sadar dan

sistematik melalui berbagai kegiatan jasmani untuk memperoleh

pertumbuhan jasmani, kesehatan jasmani dan kesegaran jasmani,

kemampuan dan keterampilan, kecerdasaan serta perkembangan watak

dan kepribadian dalam rangka pembentukan individu Indonesia yang

berkualitas. PJOK adalah proses pendidikan yang memanfaatkan

aktivitas isik untuk menghasilkan perubahan holistic dalam kualitas

individu, baik dalam hal fisik, mental, serta emosional (Wicaksono,

dkk, 2020, p. 11).


PJOK mewujudkan tujuan pendidikan melalui aktivitas jasmani

atau fisik, sehingga bukan hanya mengembangkan aspek jasmani saja

melainkan juga mengembangkan aspek kognitif yang meliputi

kemampuan berpikir kritis dan penalaran serta aspek afektif yang

meliputi keterampilan sosial, karakter diri seperti kepedulian dan

kemampuan kerjasama. Ini berarti bahwa PJOK tidak hanya

membentuk insan Indonesia sehat namun juga cerdas dan

berkepribadian atau berkarakter dengan harapan akan lahir generasi

bangsa yang tumbuh dan berkembang dengan karakter yang memiliki

moral berdasarkan nilai-nilai luhur bangsa dan agama (Triansyah,

dkk., 2020, p. 146).

PJOK adalah proses pendidikan yang memanfaatkan aktifitas

jasmani yang direncanakan secara sistematik bertujuan untuk

mengembangkan dan meningkatkan individu secara organik,

neuromuskular, perseptual, kognitif, dan emosional, dalam kerangka

pendidikan nasional (Walton-Fisette & Wuest, 2018, p. 12). PJOK

menekankan pada keterampilan motorik dan aktivitas fisik sebagai

ekspresi diri, dengan aktivitas fisik atau aktivitas gerak sejauh ini

untuk tujuan, pengambilan keputusan dan sebagainya serta dapat

dimodifikasi dalam pembelajaran (Knudson & Brusseau, 2021, p. 5).

PJOK bukan hanya bagian penting dari kehidupan manusia.

Pendidikan jasmani juga merupakan bagian penting dari proses

pendidikan. Artinya, melalui PJOK yang diarahkan dengan baik,


peserta didik akan mengembangkan keterampilan yang berguna untuk

mengisi waktu luang, terlibat dalam kegiatan yang kondusif untuk

mengembangkan kehidupan yang sehat, berkembang secara sosial, dan

berkontribusi pada kesehatan fisik dan mental (Lubis et al., 2023, p. 3).

PJOK adalah mata pelajaran yang proses pembelajarannya lebih

dominan dilaksanakan di luar kelas, sehingga anak akan lebih mudah

untuk mempelajari banyak hal di lingkungannya, karena pada dasarnya

tujuan PJOK tidak hanya mengembangkan kemampuan motorik anak

saja melainkan juga mengembangkan aspek kognitif dan afektif

(Kusriyanti & Sukoco, 2020, p. 35).

PJOK bukan hanya merupakan bagian penting bagi kehidupan

manusia saja. PJOK juga merupakan bagian penting dari proses

pendidikan. Artinya, melalui PJOK yang diarahkan dengan baik, anak

akan mengembangkan keterampilan yang berguna bagi pengisian

waktu senggang, terlibat dalam aktivitas yang kondusif untuk

mengembangkan hidup sehat, berkembang secara sosial, dan

menyumbang pada kesehatan fisik dan mentalnya. Program PJOK

yang efektif membantu peserta didik untuk memahami dan

menghargai nilai yang baik sebagai sarana untuk mencapai

produktivitas terbesar, efektivitas, dan kebahagiaan. PJOK terkait

langsung dengan persepsi positif peserta didik dan kebiasaan olahraga.

PJOK memperlakukan anak sebagai sebuah kesatuan utuh, makhluk


total, dan sebagai seseorang yang terpisah kualitas fisik dan mentalnya

(Lestari, 2020, p. 8).

PJOK, selain sebagai disiplin ilmu yang berhubungan dengan

tubuh, juga bekerja pada pendidikan kewarganegaraan peserta didik.

Oleh karena itu, PJOK harus diberi nilai yang sama dengan mata

pelajaran lainnya. Pembelajaran PJOK harus memberikan kesempatan

kepada peserta didik untuk melampaui kecerdasan praktis (Ruiz-Ariza,

et al., 2021, p. 15). PJOK merupakan satu-satunya mata pelajaran

dalam kurikulum yang memiliki tujuan untuk meningkatkan

kompetensi peserta didik dalam aspek kognitif, psikomotorik maupun

afektif melalui aktivitas jasmani yang terkonsep dalam rencana

pembelajaran (Nugroho, dkk., 2024, p. 33).

PJOK merupakan media untuk mendorong perkembangan

keterampilan motorik, kemampuan fisik, dan pengetahuan. Peserta

didik melalui PJOK akan memperoleh berbagai ungkapan yang erat

kaitanya dengan pesan pribadi yang menyenangkan (Francesco, et al.,

2019, p. 2; García-Hermoso, et al., 2020, p. 2). PJOK adalah disiplin

ilmu yang secara tradisional dianggap sebagai disiplin ilmu praktis,

yang berorientasi pada pengajaran keterampilan dan kemampuan

motorik. Namun, terlepas dari pentingnya gerakan dan latihan fisik

untuk pembentukan individu yang integral (Echeverría, et al., 2023, p.

583). Pembelajaran PJOK dari perspektif perilaku motorik, aspek-

aspek seperti kognisi, emosi, komunikasi, dan budaya dapat diatasi,


yang merupakan hal mendasar bagi pembentukan individu secara

integral (Rodríguez-Rodríguez et. al., 2021).

Pada hakikatnya PJOK adalah proses pendidikan yang

memanfaatkan aktivitas fisik untuk menghasilkan perubahan holistik

dalam kualitas individu, baik dalam hal fisik, mental dan emosional

(Wright & Richards, 2021, p. 21). Berdasarkan beberapa definisi di

atas, maka dapat disimpulkan bahwa PJOK adalah suatu bagian dari

pendidikan keseluruhan yang mengutamakan aktivitas jasmani dan

pembinaan hidup sehat untuk pertumbuhan dan pengembangan

jasmani, mental, sosial, dan emosional yang serasi selaras dan

seimbang.

d. Tujuan Pembelajaran PJOK

Pada dasarnya konsep PJOK merupakan bagian penting dari

proses pendidikan, artinya PJOK bukan hanya dekorasi atau ornamen

pelengkap yang ditempel pada program sekolah sebagai alat untuk

menambah kegiatan pada anak didik saja. Lebih dari itu, PJOK adalah

bagian penting dari pendidikan itu sendiri dan semestinya dapat

terlaksana dengan acuan dan standar yang jelas sehingga dapat

memacu keterampilan pada anak didik sebagaimana materi

pembelajaran yang lainnya pada kurikulum di sekolah. PJOK yang

diatur dan dilaksanakan dengan baik, maka anak-anak dapat

mengembangkan keterampilan yang bermanfaat pada kegiatan di

waktu senggangnya, dengan keterlibatan dalam aktivitas yang


kondusif dan produktif untuk mengembangkan gaya hidup sehat,

berkembang secara sosial, serta menyumbang pada kesehatan fisik dan

mentalnya (Ridwan & Astuti, 2021, p. 2).

Pembelajaran PJOK tidak hanya berkontribusi pada

perkembangan fisik peserta didik, tetapi juga membantu untuk

meningkatkan kepercayaan diri sekaligus mengurangi stres dan

kecemasan. PJOK berkontribusi pada sosialisasi individu dengan

kepercayaan diri kelompok. Karena strukturnya, PJOK tentu saja

mencakup banyak kegiatan di mana peserta didik berinteraksi satu

sama lain. Kegiatan-kegiatan ini membuka jalan bagi peserta didik

untuk bersenang-senang satu sama lain dan berkumpul. Telah

diketahui bahwa kegiatan aktivitas fisik memiliki efek positif positif

terhadap perkembangan hubungan teman sebaya (Uğraş & Özen,

2020, p. 48).

Tujuan PJOK hampir sama halnya dengan, pengertian

pendidikan jasmani, tujuan PJOK pun ering dituturkan dalam redaksi

yang beragam. Namun, keragaman tujuan penuturan tujuan PJOK

tersebut pada dasarnya bermuara pada pengertian PJOK itu sendiri.

Oleh karena itu, tujuan yang ingin dicapai melalui PJOK pun

mencakup pengembangan individu secara menyeluruh. Artinya,

cakupan PJOK tidak hanya terfokus pada aspek fisik saja, melainkan

juga aspek mental, emosional, sosial dan spiritual. Pratiwi & Oktaviani
(2018, p. 5) menyatakan bahwa secara umum tujuan PJOK dapat

diklasifikasikan ke dalam empat kategori, yaitu:

1) Perkembangan fisik. Tujuan ini berhubungan dengan


kemampuan melakukan aktivitas-aktivitas yang melibatkan
kekuatan fisik dari berbagai organ tubuh seseorang (physical
fitness).
2) Perkembangan gerak. Tujuan ini berhubungan dengan
kemampuan untuk melakukan gerak secara efektif, efisien,
halus, indah, dan sempurna (skillfull).
3) Perkembangan mental. Tujuan ini berhubungan dengan
kemampuan berpikir dan menginterpretasikan keseluruhan
pengetahuan tentang PJOK ke dalam lingkungannya,
sehingga memungkinkan tumbuh dan berkembangnya
pengetahuan, sikap, dan tanggung jawab peserta didik.
4) Perkembangan sosial. Tujuan ini berhubungan dengan
kemampuan peserta didik dalam menyesuaikan diri pada
suatu kelompok atau masyarakat.

Tujuan PJOK mempertimbangkan adanya tujuan pembelajaran,

kemampuan peserta didik, metode pembelajaran, materi, sarana dan

prasarana, serta aktivitas pembelajaran. Salah satu tujuan utama dari

PJOK adalah untuk mendorong motivasi terhadap subjek untuk

meningkatkan prestasi akademik atau latihan latihan fisik (Quintas-

Hijós, 2019, p. 20). Tujuan dari PJOK adalah untuk meningkatkan

taraf kesehatan anak yang baik dan tidak bisa disangkal pula ada yang

mengatakan bahwa tujuan pendidikan jasmani adalah untuk

meningkatkan kebugaran jasmani. Dengan demikian proses

pembelajaran PJOK dapat membentuk karakter yang kuat untuk

peserta didik, baik fisik, mental maupun sosial, sehingga di kemudian

hari diharapkan peserta didik memiliki budi pekerti yang baik,


bermoral, serta mandiri dan bertanggung jawab (Mahardhika, dkk.,

2018, p. 12).

Pendapat Muzakki (2022, p. 8) bahwa PJOK penting untuk

perkembangan mental, fisik, sosial, emosional dan moral individu.

Dalam pembelajaran yang dibentuk sesuai dengan kebutuhan peserta

didik, aktivitas individu berdasarkan tujuan dan hasil individu

ditekankan. Dengan aktivitas yang ditawarkan oleh ruang terbuka dan

di mana permainan itu penting, peserta didik diharapkan untuk

melampaui dirinya sendiri daripada perlombaan kinerja antar individu.

Kegiatan dengan kata lain adalah untuk pengembangan individu.

Mendefinisikan konsep PJOK menurut pandangan eksistensial; peserta

didik memiliki kebebasan untuk memilih berbagai kegiatan dalam

program. Kegiatan individu harus memastikan bahwa peserta didik

menjadi sadar akan realitas mereka dan mengambil tanggung jawab.

Aktivitas fisik pada anak-anak dan remaja meningkatkan

pertumbuhan yang sehat, meningkatkan tingkat kinerja sekolah dan

memperkuat tubuh. Dalam integrasi sosial, sangat penting untuk

memastikan bahwa anak memiliki kesempatan untuk berpartisipasi

dalam pengambilan keputusan yang melibatkan pengorganisasian

kegiatan olahraga di komunitas sekolah dan di lingkungan luar

sekolah. Salah satu tujuan PJOK adalah untuk meningkatkan

kemungkinan anak muda mengadopsi gaya hidup aktif dan

mempertahankannya sebagai orang dewasa, maka PJOK harus


mengasumsikan semakin penting dalam kesehatan individu dan dapat

dianggap sebagai kebutuhan biologis manusia. PJOKjuga

memungkinkan peserta didik untuk berkembang melalui rangsangan

dari olahraga dan aktivitas fisik, memungkinkan peningkatan prosedur

perilaku motorik dasar (berlari, melompat, melempar, menggenggam,

dan lain-lain) dan pengembangan keterampilan olahraga yang terkait

dengan olahraga praktik hidup sehat (Martins, et al., 2023, p. 43).

PJOK bertujuan agar peserta didik memiliki kemampuan

mengembangkan keterampilan pengelolaan diri dalam upaya

pengembangan dan pemeliharaan kebugaran jasmani, pertumbuhan

fisik dan pengembangan psikis yang lebih baik, meningkatkan

kemampuan dan keterampilan gerak dasar, dan banyak lagi tujuan

lainnya. Muzakki (2022, p. 12) menyatakan bahwa secara sederhana,

PJOK memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk:

1) Mengembangkan pengetahuan dan keterampilan yang


berkaitan dengan aktivitas jasmani, perkembangan estetika,
dan perkembangan sosial.
2) Mengembangkan kepercayaan diri dan kemampuan untuk
menguasai keterampilan gerak dasar yang akan mendorong
partisipasinya dalam aneka aktivitas jasmani.
3) Memperoleh dan mempertahankan derajat kebugaran jasmani
yang optimal untuk melaksanakan tugas sehari-hari secara
efisien dan terkendali.
4) Mengembangkan nilai-nilai pribadi melalui partisipasi dalam
aktivitas jasmani baik secara kelompok maupun perorangan.
5) Berpartisipasi dalam aktivitas jasmani yang dapat
mengembangkan keterampilan sosial yang memungkinkan
peserta didik berfungsi secara efektif dalam hubungan antar
orang.
6) Menikmati kesenangan dan keriangan melalui aktivitas
jasmani, termasuk permainan olahraga.
Secara umum tujuan PJOK dapat diklasifikasikan ke dalam

empat kategori, yaitu: (1) Perkembangan fisik, (2) Perkembangan

gerak, (3) Perkembangan mental, dan (4) perkembangan social.

Perkembangan fisik, tujuan ini berhubungan dengan kemampuan

melakukan aktivitas-aktivitas yang melibatkan kekuatan fisik dari

berbagai organ tubuh seseorang (physical fitness). Perkembangan

gerak, tujuan ini berhubungan dengan kemampuan untuk melakukan

gerak secara efektif, efisien, halus, indah dan sempurna (skillfull).

Perkembangan mental, tujuan ini berhubungan dengan kemampuan

berpikir dan menginterpretasikan keseluruhan pengetahuan tentang

PJOK ke dalam lingkungannya, sehingga memungkinkan tumbuh dan

berkembangnya pengetahuan, sikap dan tanggung jawab peserta didik.

Perkembangan sosial, tujuan ini berhubungan dengan kemampuan

peserta didik dalam menyesuaikan diri pada suatu kelompok atau

masyarakat (Pratiwi & Asri, 2020, p. 4).

Purwanto & Susanto (2019, p. 7) menyatakan PJOK

dilaksanakan melalui media fisikal, yaitu: beberapa aktivitas fisikal

atau beberapa tipe gerakan tubuh. Meskipun para peserta didik

mendapat keuntungan dari proses aktivitas fisikal ini, tetapi

keuntungan bagi peserta didik tidak selalu harus berupa fisikal, non-

fisikal pun bisa diraih seperti: perkembangan intelektual, sosial, dan

estetika, seperti juga perkembangan kognitif dan afektif. Secara utuh,

pemahaman yang harus ditangkap adalah: PJOK menggunakan media


fisikal untuk mengembangkan kesejahteraan total setiap orang.

Karakteristik PJOK seperti ini tidak terdapat pada mata pelajaran lain,

karena hasil kependidikan dari pengalaman belajar fisikal tidak

terbatas hanya pada perkembangan tubuh saja. Konteks melalui

aktivitas jasmani yang dimaksud adalah konteks yang utuh

menyangkut semua dimensi tentang manusia, seperti halnya hubungan

tubuh dan pikiran. Tentu, PJOK tidak hanya menyebabkan seseorang

terdidik fisiknya, tetapi juga semua aspek yang terkait dengan

kesejahteraan total manusia, seperti yang dimaksud dengan konsep

“kebugaran jasmani sepanjang hayat”. Seperti diketahui, dimensi

hubungan tubuh dan pikiran menekankan pada tiga domain

pendidikan, yaitu: psikomotor, afektif, dan kognitif.

Salah satu tujuan utama dari PJOK adalah untuk mendorong

motivasi terhadap subjek untuk meningkatkan prestasi akademik atau

latihan latihan fisik (Quintas-Hijós, et al., 2019, p. 20). Tujuan PJOK

di sekolah dasar juga mempertimbangkan adanya tujuan pembelajaran,

kemampuan peserta didik, metode pembelajaran, materi, sarana dan

prasarana, serta aktivitas pembelajaran. Materi dalam PJOK

mempunyai beberapa aspek di antaranya aspek permainan dan

olahraga, aspek pengembangan, aspek uji diri/senam, aspek ritmik,

aspek akuatik, aspek pendidikan luar kelas, dan aspek kesehatan

(Kurniawan & Suharjana, 2018, p. 31).


Berdasarkan berbagai pendapat di atas dapat disimpulkan

bahwa tujuan PJOK adalah mengembangkan peserta didik secara

keseluruhan melalui kegiatan jasmani, bukan hanya mengembangkan

fisik saja, melainkan juga mengembangkan mental, sosial, emosional,

intelektual, dan kesehatan secara keseluruhan. Sebagaimana telah

dibahas sebelumnya, bahwa tujuan dilaksanakannya PJOK adalah

untuk meningkatkan kualitas peserta didik dalam aspek kognitif,

afektif, dan pisikomotornya. Lebih khusus lagi, PJOK berkaitan

dengan hubungan antara gerak manusia dan wilayah pendidikan

lainnya: hubungan dari perkembangan tubuh-fisik dengan pikiran dan

jiwanya. Fokusnya pada pengaruh perkembangan fisik terhadap

wilayah pertumbuhan dan perkembangan aspek lain dari manusia

itulah yang menjadikannya unik. Tidak ada bidang tunggal lainnya

seperti PJOK yang berkepentingan dengan perkembangan total

manusia.

3. Keterampilan Berpikir Kritis

a. Pengertian Keterampilan Berpikir Kritis

Keterampilan yang diharapkan dalam proses pembelajaran

adalah keterampilan berpikir kritis. Keterampilan berpikir kritis

merupakan berpikir dengan pertimbangan aktif dan terus menerus

(Roviati & Widodo, 2019, p. 56). Hal ini diperkuat oleh pendapat

Wechsler, et al., (2018, p. 114) bahwa berpikir kritis merupakan

keterampilan berpikir yang berhubungan dengan kegiatan aktif sebab


melibatkan proses tanya jawab. Kegiatan tersebut termasuk

keterampilan berpikir tingkat tinggi, karena meliputi level

perkembangan kognitif evaluasi serta mencipta. Cáceres, et a., (2020,

p. 10) menyatakan bahwa berpikir kritis penting diajarkan di sekolah

dasar. Peserta didik dapat dilatih untuk berpikir kritis dengan

bermacam-macam model pembelajaran.

Siswa harus memiliki kemampuan berpikir kritis sebagai bekal

utama dalam mempersipkan perubahan jaman yang smakin modern

dan berkembang. Berpikir merupakan proses pikiran dalam

mengadakan tanya jawab dalam menghubungkan pengetahuan dengan

tepat. Proses mengolah, memanipulasi dan tranformasi informasi akan

terjadi saat berpikir. Berpikir kritis merupakan kemampuan kognitif

dalam menentapkan suatu keputusan atau kesimpulan berdasarkan

alasan logis dan disertai bukti yang empiris. Kesimpulan yang di

lakukan sesuai dengan penilaian berdasarkan bukti empiris (Agnafia,

2019, p. 45).

Pendapat Changwong, et al., (2018, p. 2) bahwa keterampilan

berpikir kritis adalah suatu hal penting untuk memecahkan masalah

dengan efektif. Keterampilan berpikir kritis dibutuhkan peserta didik

dalam menghadapi masalah di kehidupan sehari-hari. Pendapat

Widana, et al., (2018, p. 24) berpikir kritis adalah kemampuan pikiran

yang masuk akal serta fokus pada putusan yang dipercaya. Tentunya,
untuk memecahkan suatu masalah dibutuhkan kemampuan berpikir

yang masuk akal.

Persky, et al., (2019, p. 3) mengemukakan berpikir kritis adalah

keterampilan dan kesediaan untuk membuat penilaian terhadap

sejumlah pernyataan dan membuat keputusan objektif. Keputusan

tersebut berdasarkan pada pertimbangan-pertimbangan yang sehat dan

fakta yang mendukung. Berpikir kritis mencakup keterampilan untuk

bersikap kreatif dan konstruktif. Keterampilan melontarkan berbagai

penjelasan alternatif terhadap kejadian-kejadian yang ada. Memikirkan

dampak dari hasil penelitian yang diperoleh, dan mengaplikasikan

pengetahuan baru ke berbagai masalah sosial maupun pribadi.

Keterampilan berpikir kritis yaitu kemampuan berpikir secara

rasional (masuk akal). Terdapat berbagai pengertian berpikir kritis

menurut ahli. Beyer dalam Magdalena, et al., (2020, p. 153)

berpendapat bahwa “Berpikir kritis berarti membuat penilaian-

penilaian yang masuk akal.” Keterampilan berpikir kritis dipandang

sebagai criteria untuk menilai kualitas sesuatu, dari kegiatan yang

paling sederhana seperti kegiatan normal sehari-hari sampai menyusun

kesimpulan dari sebuah tulisan yang digunakan seseorang untuk

mengevaluasi validitas sesuatu (pernyataan-pernyataan, ide-ide,

argumen-argumen, penelitian dan lain-lain).

Berpikir kritis merupakan salah satu proses berpikir tingkat

tinggi yang dapat digunakan dalam pembentukan sistem konseptual


peserta didik. Ennis (2018, p. 165) mengemukakan bahwa “Berpikir

kritis adalah pemikiran yang masuk akal dan reflektif yang berfokus

untuk memutuskan apa yang mesti dipercaya atau dilakukan”. Dalam

penalaran dibutuhkan kemampuan berpikir kritis atau dengan kata lain

kemampuan berpikir kritis merupakan bagian dari penalaran.

Keterampilan penting dalam pemikiran kritis adalah mengenal

masalah, menemukan cara-cara yang dapat dipakai untuk menangani

masalah. Selanjutnya, mengumpulkan dan menyusun informasi yang

diperlukan, mengenal asumsi dan nilai yang tidak dinyatakan.

Mengenal adanya hubungan yang logis antara masalah, menarik

kesimpulan dan kesamaan yang diperlukan. Menguji kesamaan dan

kesimpulan yang diambil. Membuat penilaian yang tepat tentang hal-

hal dan kualitas tertentu dalam kehidupan sehari-hari (Zubaidah, 2018,

p. 2).

Berpikir kritis adalah berpikir dengan baik dan merenungkan

atau mengkaji tentang proses berpikir orang lain. Sujana, et al., (2019)

mengatakan, bahwa sekolah harus mengajarkan cara berpikir yang

benar pada anak-anak. Berpikir kritis (critical thinking), yaitu: “Aktif,

gigih, dan pertimbangan yang cermat mengenai sebuah keyakinan atau

bentuk pengetahuan apapun yang diterima dipandang dari berbagai

sudut alasan yang mendukung dan menyimpulkannya. Berbagai studi

menegaskan bahwa era modern membutuhkan lebih dari sekadar

pemahaman konsep. Kecakapan dalam menerapkan pengetahuan


konseptual, kecakapan berpikir tingkat tinggi, dan kecakapan dalam

berkomunikasi merupakan aspek kunci dalam menghadapi kebutuhan

modern yang semakin kompleks (Janah, et al., 2019, p. 905).

Zuhria, et al., (2022, p. 764) mendefinisikan lima aspek dan

empat komponen berpikir kritis. Menurutnya, berpikir kritis terdiri dari

aspek-aspek, yaitu berpikir kritis adalah aktivitas yang produktif dan

positif, berpikir kritis adalah proses bukan hasil, perwujudan berpikir

kritis sangat beragam tergantung dari konteksnya, berpikir kritis dapat

berupa kejadian yang positif maupun negatif, dan berpikir kritis dapat

bersifat emosional dan rasional. Sedangkan komponen berpikir kritis,

yaitu: (1) Identifikasi dan menarik asumsi adalah pusat berpikir kritis,

(2) Menarik pentingnya konteks adalah penting dalam berpikir kritis,

(2) Pemikir kritis mencoba mengimajinasikan dan menggali alternatif,

dan (3) Mengimajinasikan dan menggali alternatif akan membawa

pada skeptisisme reflektif.

Orang yang mampu berpikir kritis adalah orang yang mampu

menyimpulkan apa yang diketahuinya, mengetahui cara menggunakan

informasi untuk memecahkan permasalahan, dan mampu mencari

sumber-sumber informasi yang relevan sebagai pendukung pemecahan

masalah. Orang yang mampu berpikir kritis adalah orang yang mampu

menyimpulkan apa yang diketahuinya, mengetahui cara menggunakan

informasi untuk memecahkan suatu permasalahan, dan mampu

mencari sumber-sumber informasi yang relevan sebagai pendukung


pemecahan masalah. Dengan demikian, dalam berpikir seseorang

menghubungkan pengertian satu dengan pengertian lainya dalam

rangka mendapatkan pemecahan masalah yang dihadapi (Fauziah &

Kuntoro, 2022, p. 51).

Berpikir kritis merupakan kemampuan akal manusia dalam

berpikir secara mendalam dengan mempertimbangkan segala sudut

pandang yang luas guna mendapatkan solusi dari suatu masalah. Paul

& Elder (2019) menjelaskan berpikir kritis adalah seni berpikir dalam

menganalisis dan mengevaluasi suatu hal untuk membuktikan

kebenarannya. Berpikir kritis adalah kemampuan berpikir untuk

membuat, mengevaluasi, dan mengambil keputusan tentang apa yang

telah dilakukan. Secara sederhana dapat dikatakan bahwa berpikir

kritis adalah kegiatan berpikir yang didukung oleh beberapa alasan dan

bertujuan untuk memutuskan sesuatu (Ahmadi & Rochmad, 2020, p.

233).

Berdasarkan beberapa pendapat para ahli tentang definisi

berpikir kritis di atas dapat disintesiskan bahwa berpikir kritis (critical

thinking) adalah proses mental untuk menganalisis atau mengevaluasi

informasi. Untuk memahami informasi secara mendalam dapat

membentuk sebuah keyakinan kebenaran informasi yang didapat atau

pendapat yang disampaikan. Proses aktif menunjukkan keinginan atau

motivasi untuk menemukan jawaban dan pencapaian pemahaman. Era

modern membutuhkan lebih dari sekadar pemahaman konsep.


Kecakapan dalam menerapkan pengetahuan konseptual, kecakapan

berpikir tingkat tinggi, dan kecakapan dalam berkomunikasi. Dalam

penelitian ini menjelaskan suatu proses kognitif yang mengarahkan

pada menemukan informasi, menafsirkan dan mengintegrasikan

informasi, serta mengevaluasi dan merefleksikan informasi.

b. Karakteristik Keterampilan Berpikir Kritis

Keterampilan berpikir kritis merupakan salah satu kemampuan

yang sangat diperlukan dalam pemecahan suatu masalah. Terdapat

ciri-ciri tertentu yang dapat diamati untuk mengetahui bagaimana

tingkat kemampuan berpikir kritis seseorang. Hadi, et al., (2020, p. 59)

menjelaskan ciri-ciri berpikir kritis sebagai berikut.

1) Mengenal secara rinci bagian-bagian dari keseluruhan.


2) Pandai mendeteksi permasalahan.
3) Mampu membedakan ide yang relevan dengan yang tidak
relevan.
4) Mampu membedakan fakta dengan diksi atau pendapat.
5) Mampu mengidentifikasi perbedaan-perbedaan atau
kesenjangan-kesenjangan informasi.
6) Dapat membedakan argumentasi logis dan tidak logis.
7) Mampu mengembangkan kriteria atau standar penilaian
data.
8) Suka mengumpulkan data untuk pembuktian faktual.
9) Dapat membedakan diantara kritik membangun dan
merusak.
10) Mampu mengidentifikasi pandangan perspektif yang
bersifat ganda yang berkaitan dengan data.
11) Mampu mengetes asumsi dengan cermat.
12) Mampu mengkaji ide yang bertentangan dengan peristiwa
dalam lingkungan.
13) Mampu mengidentifikasi atribut-atribut manusia, tempat
dan benda, seperti dalam sifat, bentuk, wujud, dan lain-lain.
14) Mampu mendaftar segala akibat yang mungkin terjadi atau
alternatif pemecahan terhadap masalah, ide, dan situasi.
15) Mampu membuat hubungan yang berurutan antara satu
masalah dengan masalah lainnya.
16) Mampu menarik kesimpulan generalisasi dari data yang
telah tersedia dengan data yang diperoleh dari lapangan.
17) Mampu membuat prediksi dari informasi yang tersedia.
18) Dapat membedakan konklusi yang salah dan tepat terhadap
informasi yang diterimanya.
19) Mampu menarik kesimpulan dari data yang telah ada dan
terseleksi.
20) Terampil menggunakan sumber-sumber pengetahuan yang
dapat dipercaya.
21) Mampu mengklasifikasikan informasi dan ide.

Berpikir kritis mencakup seluruh proses mendapatkan,

membandingkan, menganalisis, mengevaluasi, internalisasi dan

bertindak melampaui ilmu pengetahuan dan nilai-nilai. Berpikir kritis

bukan sekedar berpikir logis sebab berpikir kritis harus memiliki

keyakinan dalam nilai-nilai, dasar pemikiran dan percaya sebelum

didapatkan alasan yang logis dari padanya. Karakteristik yang

berhubungan dengan berpikir kritis, dijelaskan Satria & Sopandi

(2019, p. 12), yaitu:

1) Watak (Dispositions)

Seseorang yang mempunyai keterampilan berpikir kritis

mempunyai sikap skeptis, sangat terbuka, menghargai sebuah

kejujuran, respek terhadap berbagai data dan pendapat, respek

terhadap kejelasan dan ketelitian, mencari pandangan-pandangan

lain yang berbeda, dan akan berubah sikap ketika terdapat sebuah

pendapat yang dianggapnya baik.

2) Kriteria (Criteria)

Dalam berpikir kritis harus mempunyai sebuah kriteria atau

patokan. Untuk sampai ke arah sana maka harus menemukan


sesuatu untuk diputuskan atau dipercayai. Meskipun sebuah

argumen dapat disusun dari beberapa sumber pelajaran, namun

akan mempunyai kriteria yang berbeda. Apabila kita akan

menerapkan standarisasi maka haruslah berdasarkan kepada

relevansi, keakuratan fakta-fakta, berlandaskan sumber yang

kredibel, teliti, tidak bias, bebas dari logika yang keliru, logika

yang konsisten, dan pertimbangan yang matang.

3) Argumen (Argument)

Argumen adalah pernyataan atau proposisi yang dilandasi oleh

data-data. Keterampilan berpikir kritis akan meliputi kegiatan

pengenalan, penilaian, dan menyusun argumen.

4) Pertimbangan atau pemikiran (Reasoning)

Pemikiran kemampuan untuk merangkum kesimpulan dari satu

atau beberapa premis. Prosesnya akan meliputi kegiatan menguji

hubungan antara beberapa pernyataan atau data.

5) Sudut pandang (Point of view)

Sudut pandang adalah cara memandang atau menafsirkan dunia ini,

yang akan menentukan konstruksi makna. Seseorang yang berpikir

dengan kritis akan memandang sebuah fenomena dari berbagai

sudut pandang yang berbeda.

6) Prosedur penerapan kriteria (Procedures for applying criteria)

Prosedur penerapan berpikir kritis sangat kompleks dan prosedural.

Prosedur tersebut akan meliputi merumuskan permasalahan,


menentukan keputusan yang akan diambil, dan mengidentifikasi

perkiraan-perkiraan.

Keterampilan berpikir kritis memiliki beberapa indikator yang

dapat diukur dan menjadi parameter guru dan peserta didik. Cottrel

(2023, p. 34) menjelaskan peserta didik dengan keterampilan berpikir

kritis menunjukkan beberapa tindakan yaitu bertanya dan menjawab

pertanyaan tentang klarifikasi atau tantangan, mengidentifikasi fokus

masalah, pertanyaan dan simpulan, menganalisis argumen, mengamati,

menyimpulkan, dan menilai keputusan.

Keterampilan berpikir kritis merupakan salah satu kemampuan

yang sangat diperlukan dalam pemecahan suatu masalah. Terdapat

ciri-ciri tertentu yang dapat diamati untuk mengetahui bagaimana

tingkat keterampilan berpikir kritis seseorang. Mencakup seluruh

proses mendapatkan, membandingkan, menganalisis, mengevaluasi,

internalisasi dan bertindak melampaui ilmu pengetahuan dan nilai-

nilai. Adapun karakteristik yang berhubungan dengan berpikir kritis

mencakup watak, kriteria, argumen, pertimbangan atau pemikiran,

sudut pandang, dan prosedur penerapan kriteria.

c. Indikator Berpikir Kritis

Keterampilan berpikir kritis memiliki beberapa indikator yang

dapat diukur dan menjadi parameter guru dan siswa. Cottrel (2017, p.

34) menjelaskan siswa dengan keterampilan berpikir kritis

menunjukkan beberapa tindakan yaitu bertanya dan menjawab


pertanyaan tentang klarifikasi atau tantangan, mengidentifikasi fokus

masalah, pertanyaan dan simpulan, menganalisis argumen, mengamati,

menyimpulkan, dan menilai keputusan. Selanjutnya, Ennis (2018, p.

167) mengidentifikasi beberapa aspek dan sub aspek pada kemampuan

berpikir kritis, sebagai berikut.

1) Klarifikasi sederhana (elementary clarification), sub aspeknya

meliputi memfokuskan pertanyaan, menganalisis argumen,

bertanya atau menjawab pertanyaan yang membutuhkan

penjelasan.

2) Membangun keterampilan dasar (basic support) meliputi

mempertimbangkan akurasi sumber dan melakukan pertimbangan

observasi.

3) Penarikan kesimpulan (inference) sub aspeknya adalah menyusun

dan mempertimbangkan deduksi, menyusun keputusan dan

mempertimbangkan hasil.

4) Memberikan penjelasan lebih lanjut (advanced clarification)

meliputi mengidentifikasi istilah dan mempertimbangkan definisi,

mengidentifikasi asumsi.

5) Mengatur strategi dan taktik (strategies and tacties) meliputi

menentukan tindakan dan berinteraksi dengan orang lain.

Indikator berpikir krtis yaitu (1) Interpretasi: Memahami

masalah yang ditunjukkan dengan menulis diketahui maupun yang

ditanyakan soal dengan tepat. (2) Analisis: Mengidentifikasi


hubungan-hubungan antara pernyataan-pernyataan, pertanyaan-

pertanyaan, dan konsep-konsep yang diberikan dalam soal yang

ditunjukkan dengan membuat model matematika dengan tepat dan

memberi penjelasan dengan tepat. (3) Evaluasi: Menggunakan strategi

yang tepat dalam menyelesaikan soal, lengkap dan benar dalam

melakukan perhitungan. (4) Inferensi: Membuat kesimpulan dengan

tepat (Rahayu & Alyani, 2020, p. 121).

Menurut Perkins & Murphy (dalam Noor, 2019), terdapat

empat indikator untuk mengukur kemampuan berpikir kritis, yaitu

klarifikasi, asesmen, penyimpulan, dan strategi. Menurut Ennis (2019)

terdapat 6 kriteria untuk mengukur kemampuan berpikir kritis yaitu F

(Focus): Peserta didik memahami permasalahan yang diberikan. R

(Reason): Peserta didik memberikan alasan berdasarkan fakta/bukti

yang sesuai pada setiap langkah dalam membuat keputusan ataupun

kesimpulan. I (Inference): Peserta didik membuat kesimpulan dengan

tepat. Peserta didik memilih reason (R) yang tepat untuk mendukung

kesimpulan yang dibuat. S (Situation): Peserta didik memakai semua

informasi yang tepat dengan permasalahan. C (Clarity): Peserta didik

menggunakan penjelasan yang lebih lanjut mengenai apa yang

dimaksudkan dalam kesimpulan yang dibuat. Peserta didik dapat

menjelaskan istilah dalam soal. Peserta didik memberikan contoh

kasus yang mirip dengan soal tersebut.


Indikator berpikir kritis yaitu merumuskan masalah,

menganalisis, melakukan evaluasi, terbuka terhadap kemungkinan, dan

mengungkapkan sesuatu berdasarkan fakta (Maulida & Ridwan, 2021,

207). Instrumen pengumpulan data untuk kemampuan berpikir kritis

menggunakan rubrik yang dikembangkan oleh Greenstein (Fatmawati

et al., 2019), yang terdiri dari mengaplikasikan, mengevaluasi,

menggunakan data untuk mengembangkan wawasan kritis,

menganalisis, mensintesis.

4. Kemandirian Belajar

a. Pengertian Kemandirian Belajar

Kata “mandiri” diambil dari dua istilah yang pengertiannya

sering disejajarkan silih berganti yaitu autonomy dan independence,

karena perbedaan sangat tipis dari kedua istilah tersebut. Independence

dalam arti kebebasan secara umum menunjuk kepada kemampuan

individu melakukan sendiri aktivitas hidup, tanpa menggantungkan

bantuan orang lain (Sutama, dkk., 2019, p. 7). Kemandirian belajar

berhubungan dengan istilah lain, diantaranya self regulated learning,

self regulated thinking, self directed learning, self efficacy, dan self

esteem. Kemandirian memiliki definisi lain berupa perilaku yang

membuat seseorang merasa bebas, independen, berbuat sesuatu

menurut dorongan dan kebutuhan masing-masing (Jannah &

Kurniawati, 2022, p. 276).


Kemandirian juga menyebabkan seseorang dapat berpikir dan

bertindak dengan tepat, inisiatif yang tinggi, kreatif dan inovatif serta

puas dan percaya diri dengan hasil pekerjaannya (Farolia & Dewi,

2022, p. 181). Kemandirian belajar sebagai proses belajar yang terjadi

karena pengaruh dari pemikiran, perasaan, strategi, dan perilaku

sendiri yang berorientasi pada pencapaian tujuan. Terdapat tiga fase

utama dalam siklus kemandirian belajar, yaitu: merancang belajar,

memntau kemajuan belajar selama menerapkan rancangan, dan

mengevaluasi hasil belajar secara lengkap (Kurnia & Warni, 2020, p.

2).

Kemandirian merupakan salah satu ciri kematangan yang

memungkinkan anak berfungsi otonom dan berusaha ke arah prestasi

pribadi dan tercapainya suatu tujuan. Kemandirian belajar diartikan

sebagai suatu proses pembelajaran dalam diri seseorang dalam

mencapai tujuan tertentu yang dituntut aktif secara individu atau tidak

bergantung kepada orang lain termasuk guru (Nurfadilah & Hakim,

2019, p. 1214). Kemandirian yang dimiliki peserta didik yaitu untuk

menumbuhkan rasa percaya diri yang sangat penting bagi peserta

didik, serta lebih cepat dalam menerima materi pembelajaran, sehingga

membentuk karakter peserta didik menjadi lebih baik (Murzanita,

2019, p. 65).

Kemandirian belajar merupakan kegiatan belajar yang

dilakukan peserta didik tanpa bantuan dari pihak luar. Kemandirian


belajar adalah suatu aktivitas belajar yang dilakukan peserta didik

tanpa bergantung kepada orang lain baik teman maupun gurunya

dalam mencapai tujuan belajar yaitu menguasai materi dengan baik,

sehingga dapat mengaplikasikan pengetahuannya dalam kehidupan

sehari-hari (Sobri, dkk., 2020, p. 65) Pendapat lain dikemukakan oleh

Karmila & Raudhoh (2021, p. 36), menurutnya kemandirian belajar

merupakan sikap dan kemampuan peserta didik dengan penuh percaya

diri dalam merancang dan melaksanakan kegiatan belajar berdasarkan

inisiatif, kesadaran, motivasi, usaha, dan tanggung jawab sendiri, baik

dalam hal merencanakan belajar, mengikuti proses belajar, maupun

saat mengevaluasi hasil belajarnya.

Pada pembelajaran yang sukses selain faktor motivasi,

kemandirian belajar menjadi salah satu faktor penting perlu

dipertimbangkan. Kemandirian belajar sendiri diartikan sebagai sifat,

kemauan, dan kemampuan peserta didik untuk melakukan kegiatan

belajar aktif yang didorong oleh motivasi untuk menguasai sesuatu

kompetensi yang tetah ditetapkan. Kemandirian belajar mengacu pada

perilaku dan kemauan dari pembelajar individu untuk berhasil dalam

pembelajaran yang diikuti (Robiana & Handoko, 2020, p. 521).

Kemandirian belajar adalah kemampuan seseorang untuk

mengatur, mengelola, dan mengendalikan proses pembelajaran mereka

sendiri tanpa bergantung sepenuhnya pada bimbingan atau supervisi

dari orang lain. Hal ini mencakup kemampuan untuk mengidentifikasi


tujuan pembelajaran, merencanakan strategi belajar, mengelola sumber

daya, menilai kemajuan, dan mengevaluasi hasil pembelajaran.

Individu yang mandiri dalam belajar memiliki motivasi intrinsik yang

tinggi, kemauan untuk belajar secara terus-menerus, dan keyakinan

diri untuk mengatasi tantangan belajar (Juhrodin, dkk., 2023, p. 54).

Kemandirian belajar adalah kesiapan dari individu yang mau

dan mampu untuk belajar dengan inisiatif sendiri, dengan atau tanpa

bantuan pihak lain dalam hal penentuan tujuan belajar, metode belajar,

dan evaluasi hasil belajar (Delyana, 2021, p. 286). Kemandirian belajar

sangat perlu dimiliki oleh setiap peserta didik karena menurut teori

konstruksivisme, dalam proses pembelajaran di sekolah, guru tidak

bisa memberikan pengetahuan peserta didik begitu saja. Peserta

didiklah yang harus membangun sendiri pengetahuannya. Misalnya

dengan memberikan kesempatan seluas-luasnya kepada peserta didik

untuk menemukan sendiri informasi dan mengaplikasikannya atau

dengan pembelajaran yang mengupayakan pembelajaran peserta didik

memiliki kesadaran untuk menggunakan strateginya sendiri dalam

belajar.

Selain itu, kemandirian belajar juga melibatkan keterampilan

berpikir kritis dan analitis. Individu yang mandiri dalam belajar

mampu mengevaluasi ide dan argumen, mengidentifikasi kelemahan

dalam pemikiran, serta merumuskan pertanyaan yang relevan dan

menarik. Keterampilan ini memungkinkan peserta didik untuk


mengembangkan sudut pandang yang kritis terhadap informasi yang

diterima, serta menghasilkan pemahaman yang mendalam dan nuansa

terhadap topik pembelajaran.

Kemandirian belajar melibatkan beberapa aspek kunci.

Pertama-tama, individu yang mandiri dalam belajar memiliki

kemampuan untuk mengatur waktu dan menetapkan prioritas. Individu

mampu membuat jadwal belajar yang efektif, membagi waktu antara

berbagai tugas atau proyek, dan mengalokasikan waktu untuk refleksi

dan evaluasi diri. Kemampuan ini memungkinkan untuk tetap fokus

pada tujuan pembelajaran mereka tanpa terjebak dalam prokrastinasi

atau kebingungan (Mulyadi & Syahid, 2020).

Pendapat Suciono (2021, p. 29) bahwa kemandirian belajar

melibatkan kemampuan untuk mencari, menilai, dan menggunakan

sumber daya pembelajaran secara efektif. Individu yang mandiri dalam

belajar mampu mengidentifikasi sumber informasi yang dapat

dipercaya, memanfaatkan teknologi dan perpustakaan dengan bijak,

serta mengembangkan keterampilan literasi informasi untuk

mengevaluasi keaslian dan relevansi informasi yang didapatkan.

Peserta didik dengan kemampuan ini, dapat memperoleh pengetahuan

yang mendalam dan akurat

Pentingnya kemandirian belajar tidak hanya terbatas pada

lingkungan pendidikan formal, tetapi juga sangat relevan dalam

konteks kehidupan sehari-hari. Era informasi saat ini, di mana


pengetahuan terus berkembang dan teknologi terus maju, kemampuan

untuk belajar secara mandiri merupakan keterampilan yang sangat

berharga. Individu yang memiliki kemandirian belajar dapat

menghadapi tantangan baru, memecahkan masalah kompleks, dan

terus berkembang secara pribadi dan professional. Kemandirian belajar

pada peserta didik diperlukan agar peserta didik mempunyai tanggung

jawab dalam mengatur dan mendisiplinkan dirinya. Selain itu, dalam

mengembangkan kemampuan belajar dan kemauan sendiri, sikap-sikap

tersebut perlu dimiliki oleh peserta didik sebagai peserta didik karena

hal tersebut merupakan ciri dari kedewasaan orang terpelajar

(Dwiukap, 2021, pp. 21-22).

Berdasarkan beberapa pendapat yang telah dipaparkan di atas,

dapat disimpulkan bahwa kemandirian belajar adalah kemampuan

peserta didik dalam belajar yang didasarkan pada rasa tanggung jawab,

percaya diri, inisiatif dan motivasi sendiri dengan atau tanpa bantuan

orang lain yang relevan untuk menguasai kompetensi tertentu, baik

dalam aspek pengetahuan, keterampilan, maupun sikap yang dapat

digunakan untuk memecahkan masalah belajar dan memperoleh

prestasi akademik yang memuaskan.

b. Ciri-Ciri Kemandirian

Keadaan yang terdapat pada kemandirian belajar dapat

diperjelas dengan mengetahui ciri-ciri belajar mandiri. Seorang peserta

didik yang memiliki sikap kemandirian belajar tentu berbeda dengan


peserta didik yang tidak memiliki kemandirian belajar. Karakteristik

kemandirian belajar peserta didik menggambarkan keadaan personal

individu yang tinggi dan memuat proses metakognitif di mana individu

secara sadar merancang, melaksanakan, dan mengevaluasi belajarnya

sendiri secara cermat. Kebiasaan kegiatan belajar seperti di atas secara

kumulatif akan menumbuhkan disposisi belajar atau keinginan yang

kuat dalam belajar pada individu yang bersangkutan. Pada

perkembangan selanjutnya, pemilihan disposisi belajar yang tinggi

pada individu, akan membentuk individu yang tangguh, ulet,

bertanggung jawab, memiliki motif berprestasi yang tinggi, serta

membantu individu mencapai hasil terbaiknya (Nasution, 2018, p. 2).

Pendapat Pratiwi, dkk., (2019, p. 2) bahwa ciri-ciri

kemandirian belajar meliputi,

1) Peserta didik berinisiatif dan memacu diri untuk belajar


terus menerus.
2) Peserta didik dituntut tanggung jawab dalam belajar.
3) Peserta didik belajar secara kritis, logis, dan penuh
keterbukaan.
4) Peserta didik belajar dengan penuh percaya diri.

Dewanti & Putra (2022, p. 178) menyatakan bahwa

kemandirian belajar memiliki ciri-ciri, yaitu

1) Adanya motivasi belajar;


2) Kebiasaan menentukan kebutuhan belajar sendiri;
3) Menetapkan tujuan belajar;
4) Mengatur dan mengontrol belajar;
5) Kesulitan adalah tantangan;
6) Mencari sumber belajar yang sesuai;
7) Menerapkan strategi belajar;
8) Evaluasi proses dan hasil belajar;
9) Percaya terhadap kemampuan sendiri.
Hidayat, dkk., (2020, p. 147) mengemukakan bahwa terdapat

delapan ciri kemandirian belajar, yaitu:

1) Mampu berpikir secara kritis, kreatif, dan inovatif.


2) Tidak mudah dipengaruhi oleh pendapat orang lain.
3) Tidak lari atau menghindari masalah.
4) Memecahkan masalah dengan berpikir mendalam.
5) Apabila menjumpai masalah dipecahkan sendiri tanpa
meminta bantuan orang lain.
6) Tidak merasa rendah diri apabila harus berbeda dengan orang
lain.
7) Berusaha bekerja dengan penuh ketekunan dan kedisiplinan.
8) Bertanggung jawab atas tindakannya sendiri.

Ciri-ciri kemandirian yaitu, (1) tidak bergantung pada orang

lain, (2) memiliki sifat tanggung jawab, (3) percaya diri, (4) disiplin,

(5) berperilaku berdasarkan inisiatif sendiri, dan (6) melakukan kontrol

diri (Fitriani & Yusri, 2022, p. 10). Nobriawan (2023, p. 2)

mengungkapkan bahwa ciri-ciri kemandirian belajar peserta didik

seperti 1) memiliki tanggung jawab, 2) mempunyai keyakinan dengan

kemampuan yang dimilikinya, 3) tidak cepat terpengaruh oleh orang

lain 3) memanfaatkan waktu dengan baik dalam belajarnya dan 4)

mampu memecahkan masalah sendiri.

Berdasarkan pendapat di atas, dapat disimpulkan bahwa ciri-

ciri kemandirian belajar yaitu (1) tidak bergantung pada orang lain, (2)

memiliki sifat tanggung jawab, (3) percaya diri, (4) disiplin, (5)

berperilaku berdasarkan inisiatif sendiri, dan (6) melakukan kontrol

diri. Kemandirian belajar peserta didik dapat dilihat dan dinilai dari

ciri-ciri dengan adanya perubahan sikap dan tingkah laku.


c. Indikator Kemandirian Belajar

Indikator kemandirian belajar, diantaranya (1) tidak tergantung

terhadap orang lain, (2) kepercayaan diri, (3) berperilaku disiplin, (4)

memiliki inisiatif sendiri, (5) memiliki rasa tanggung jawab, dan (6)

kontrol diri (Ansori & Herdiman, 2019, p. 11). Beberapa indikator

untuk mengukur kemandirian belajar peserta didik yang diuraikan

Wahyuni & Nurhayati (2019, p. 77) yaitu: (1) inisiatif belajar; (2)

mendiagnosa kebutuhan belajar; (3) menetapkan target atau tujuan

belajar; (4) memonitor, mengatur dan mengontrol; (5) memandang

kesulitan sebagai tantangan; (6) memanfaatkan dan mencari sumber

yang relevan; (7) memilih dan menerapkan strategi belajar; (8)

mengevaluasi proses dan hasil belajar; (9) self efficacy (konsep diri).

Kurnia, dkk., (2018, p. 60) menyatakan bahwa kemandirian

belajar peserta didik adalah kebebasan untuk belajar dengan

kemampuan peserta didik untuk mengatur sendiri kegiatan belajarnya,

atas inisiatifnya sendiri serta secara bertanggung jawab, tanpa selalu

tergantung pada orang lain. Adapun indikator kemandirian belajar

yaitu: (1) menetapkan tujuan belajar; (2) menganalisis kebutuhan

belajar; (3) merencanakan dan mengatur belajar; (4) memandang

kesulitan sebagai tantangan; dan (5) self Efficacy / kemampuan diri.

Indikator kemandirian belajar menurut Mayasari & Rosyana

(2019, p. 83) adalah suatu sikap yang dimiliki peserta didik yang

berkarakteristik berinisiatif dalam belajar, mendiagnosis kebutuhan


belajar, menetapkan tujuan belajar, memonitor, mengatur dan

mengontrol kinerja atau belajar, memandang kesulitan sebagai

tantangan, mencari dan memanfaatkan sumber belajar yang relevan,

memilih dan menetapkan strategi dalam belajar, mengevaluasi proses

dan hasil belajar, serta self-concept (konsep diri).

Alliyyah, et al., (2020, p. 91) menyatakan bahwa indikator dari

kemandirian belajar peserta didik, yaitu: (1) kemampuan

merencanakan yang ditandai dengan menetapkan tujuan pembelajaran

dan cara belajar; (2) tanggung jawab yang ditandai dengan memiliki

ketekunan dan berani memecahkan masalah; (3) mengelola diri yang

ditandai dengan dapat menilai sendiri dengan apa yang dicapai dan

dalam belajar tidak bergantung dengan orang lain; (4) inisiatif yang

ditandai dengan memilih sumber belajar sendiri dan membuat jadwal

belajar sendiri.

Handayani & Ariyanti (2021, p. 7) menjelaskan indikator

kemandirian belajar, terdiri dari (1) percaya diri, (2) aktif dalam

belajar, (3) disiplin dalam belajar, (4) tanggungjawab dalam belajar.

Indikator kemandirian menurut Aulia, dkk., (2019, p. 74) terdiri atas,

(1) tujuan belajar, (2) sumber belajar, (3) strategi belajar, (4) monitor

belajar, (5) pemantauan hasil, (6) refleksi diri, (7) evaluasi hasil, (8)

kesimpulan. Berdasarkan pendapat di atas, dapat disimpulkan bahwa

indikator kemandirian belajar yaitu 1) Memiliki tanggung jawab, 2)

Mengambil inisiatif, 3) Memiliki rasa percaya diri, 4) Mampu


mengatasi masalah. Indikator tersebut akan digunakan untuk

menyusun instrumen kemandirian dalam penelitian ini.

B. Hasil Penelitian yang Relevan

Manfaat dari penelitian yang relevan yaitu sebagai acuan agar

penelitian yang sedang dilakukan menjadi lebih jelas. Beberapa penelitian

yang relevan dengan penelitian ini yaitu sebagai berikut.

Penelitian yang dilakukan Suroto, dkk., (2021) berjudul “Berpikir

kritis dan hubungannya dengan prestasi akademik calon guru Pendidikan

Jasmani Olahraga dan Kesehatan”. Kemampuan berfikir kritis wajib dimiliki

oleh lulusan program sarjana di Indonesia sehingga perlu terus dikaji dan

dimonitor pencapaiannya sebagai hasil belajar selain Indeks Prestasi

Kumulatif (IPK). Penelitian korelasi ini bertujuan untuk mengetahui hubungan

keterampilan berpikir kritis dengan IPK. Pengumpulan data berpikir kritis

menggunakan metode wawancara tertutup, IPK diambil dari akun akademik

pimpinan Fakultas. Sebanyak 47 orang (laki-laki= 29 dan perempuan= 18)

bertindak sebagai sampel yang diambil menggunakan teknik cluster random

sampling. Metode confirmatory factor analysis (CFA) digunakan untuk

menganalisis validitas dan reliabilitas konstruk hasil coding wawancara

menggunakan LISREL 8.80 Trial. Sedangkan analisis statistik menggunakan

deskriptif, Mann-Whitney Test, dan korelasi product moment menggunakan

SPSS 25. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengukuran dinyatakan valid

(λ= 0,77-0,88) dan reliabel (CR= 0,86). Rata-rata tingkat berpikir kritis calon

guru Pendidikan Jasmani Olahraga dan Kesehatan (PJOK) berada pada tingkat
rendah (M= 83,9; SD= 6,89; min= 74,6; max= 97,7). Tidak ada perbedaan

kemampuan berpikir kritis calon guru PJOK laki-laki dan perempuan (U=

0,241, p= 0,81). Terdapat hubungan linear berpikir kritis dengan IPK (r (47)=

0,542, p= 0,000) dengan besar kontribusi sebesar 28%. Kondisi rendahnya

berpikir kritis sangat dikhawatirkan memengaruhi tingkat inovatif para calon

guru sehingga pengukuran, monitoring, dan treatment perlu dilakukan untuk

meningkatkan kemampuan berpikir kritis mahasiswa.

Penelitian yang dilakukan Novandri, dkk., (2021) berjudul “Pengaruh

Berpikir Kritis dan Kebiasan Belajar terhadap Hasil Belajar”. Penelitian ini

bertujuan untuk mengetahui pengaruh berpikir kritis dan kebiasaan belajar

secara simultan terhadap hasil belajar matematika. Metode penelitian yang

digunakan dalam penelitian ini adalah metode kuantitatif dengan sampel

responden siswa Kelas XII MIPA di SMA Negeri Sub Rayon 05 Kabupaten

OKU Timur yang terdiri dari 3 sekolah. Teknik pengumpulan data yang

digunakan adalah tes dan angket. Teknik analisis data yang digunakan yaitu

uji prasyarat analis, meliputi uji normalitas, uji linieritas, uji autokorelasi, dan

uji multikolinieritas. Hasil penelitian ini menununjukan bahwa terdapat

pengaruh positif kemampuan berpikir kritis terhadap hasil belajar, terdapat

pengaruh positif kebiasaan belajar terhadap hasil belajar, terdapat pengaruh

positif antara kemampuan berpikiri kritis dan kebiasaan belajar terhadap hasil

belajar, serta diperoleh data koefisien determinasi (R square) sebesar 0,617,

dalam hal ini bermakna bahwa variabel hasil belajar matematika (Y) di

pengaruhi oleh kedua variabel bebasnya yaitu berpikir kritis (X1) dan
Variabel Kebiasaan Belajar (X2) secara simultan (bersama-sama) sebesar

61,7% pada kelas XII MIPA di SMA Negeri Sub Rayon 05 OKU Timur

Penelitian yang dilakukan Anggrianti, dkk., (2022) berjudul “Pengaruh

Kemampuan Berpikir Kreatif dan Kemandirian Belajar terhadap Hasil Belajar

Matematika Siswa”. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui pengaruh

kemampuan berpikir kreatif dan kemandirian belajar terhadap hasil belajar

matematika siswa kelas VIII SMP N 8 Bukittinggi. Jenis penelitian ini adalah

korelasional dengan sifat ex post facto. Populasi dalam penelitian adalah

seluruh siswa kelas VIII SMP N 8 Bukittinggi yang terdiri dari 5 kelas

berjumlah 142 orang. Sampel diambil sebanyak 29 siswa. Pengambilan

sampel dilakukan dengan teknik cluster random sampling. Instrumen dalam

penelitian berupa tes kemampuan berpikir kreatif dan angket kemandirian

belajar matematika. Data dianalisis menggunakan statisik deskriptif dan

statistik differensial. Berdasarkan hasil analisis data diketahui skor rata-rata

kemampuan berpikir kreatif siswa adalah 79,51 dengan memenuhi kategori

kreatif. Sedangkan skor rata-rata kemandirian belajar siswa yaitu 70,27

memenuhi kategori kemandirian sedang. Untuk hasil persamaan regresi

diperoleh Y = 56,78 + 0,114X1 0,160 X2 dengan nilai korelasi 0,504 dengan

kontribusi sebesar 25%. Hal tersebut diartikan dengan adanya pengaruh positif

kemampuan berpikir kreatif dan kemandirian belajar terhadap hasil belajar

matematika siswa. Jadi, hasil penelitian menunjukkan kemampuan berpikir

kreatif dan kemandirian belajar secara simultan berpengaruh positif terhadap

hasil belajar matematika siswa kelas VIII SMP N 8 Bukittinggi.


Penelitian yang dilakukan Gaol, dkk., (2022) berjudul “Pengaruh

Kemampuan Berpikir Kritis terhadap Hasil Belajar Siswa pada Tema

Lingkungan Sahabat Kita di Kelas V SD”. Artikel ini berisikan penjelasan

dari sebuah jenis penelitian eksperimen bertujuan untuk mengetahui pengaruh

kemampuan berpikir kritis terhadap hasil belajar siswa. Populasi dalam

penelitian tersebut melibatkan 30 siswa dari keseluruhan kelas V SD Negeri

11 Lubuk Cuik kecamatan Lima Puluh Tahun Pembelajaran 2020/2021.

Instrumen yang digunakan untuk mengumpulkan data adalah soal pilihan

berganda dan angket. Pengujian hipotesis dilakukan dengan menggunakan uji

“t”. Untuk mengetahui kemampuan awal siswa, peneliti melakukan pre-test

dengan nilai rata-rata 58,2 yang dapat dikatakan kurang. Hasil dari post-test

tersebut memiliki peningkatan dari hasil pre-test yang diberikan sebelumnya.

Hasil post-test yang sudah diujikan sebesar 84,1 yang dapat dikatakan tingkat

keberhasilan hasil belajar siswa meningkat. Hasil koefisien korelasi

membuktikan bahwa adanya pengaruh Kemampuan Berpikir Kritis (X)

terhadap hasil belajar siswa (Y) dengan hasil rhitung > rtabel dengan hasil

0,837 > 0,361. Pada uji hipotesis dengan menggunakan uji-t dari perhitungan

data yang dilakukan, hasil pengujian yaitu thitung > ttabel hasilnya 8,095 >

1,701 dengan taraf signifikan (α = 0,05). Berdasarkan hasil data yang

diperoleh dari penelitian di SD Negeri 11 Lubuk Cuik dapat dikatakan bahwa

kemampuan berpikir kritis sangat efektif dalam pembelajaran untuk

meningkatkan hasil belajar siswa.


Penelitian yang dilakukan Selimayati, dkk., (2021) berjudul

“Hubungan Kepercayaan Diri, Motivasi Belajar, dan Kemandirian Belajar

dengan Hasil Belajar Tematik”. Penelitian ini bertujuan untuk

mendeskripsikan hubungan antara rasa percaya diri, motivasi belajar, dan

kemandirian belajar dengan hasil belajar tematik di Sekolah Dasar Negeri

Pontianak Barat. Metode penelitian yang digunakan adalah deskriptif dengan

pendekatan kuantitatif dan jenis penelitian korelasional. Sampel penelitian ini

berjumlah 150 siswa. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan

angket dan studi dokumentasi. Penentuan hubungan antara variabel rasa

percaya diri, motivasi belajar, dan kemandirian belajar dengan hasil belajar

tematik menggunakan analisis korelasi antar variabel dan korelasi ganda.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat hubungan antara (1) rasa

percaya diri dengan hasil belajar tematik sebesar 0,471 dikategorikan

“sedang”, (2) motivasi belajar dengan hasil belajar tematik sebesar 0,381

dikategorikan “rendah”, (3) kemandirian belajar dengan hasil belajar tematik

sebesar 0,615 dikategorikan “kuat”, (4) rasa percaya diri dan motivasi belajar

secara bersama-sama dengan hasil belajar tematik sebesar 0,493 dikategorikan

“sedang”, (5) motivasi belajar dan kemandirian belajar secara bersama-sama

dengan hasil belajar tematik sebesar 0,615 dikategorikan “kuat”, (6) rasa

percaya diri dan kemandirian belajar secara bersama-sama dengan hasil

belajar tematik sebesar 0,641 dikategorikan “kuat”, (7) rasa percaya diri,

motivasi belajar, dan kemandirian belajar secara bersama-sama dengan hasil

belajar tematik sebesar 0,644 dikategorikan “kuat”.


C. Kerangka Pikir

Belajar mengandung dua pokok pengertian, yaitu proses dan hasil

belajar. Hasil belajar adalah hasil yang dicapai dalam bentuk angka-angka

atau skor setelah diberikan tes hasil belajar pada setiap akhir pembelajaran.

Nilai yang diperoleh peserta didik menjadi acuan untuk melihat penguasaan

peserta didik dalam menerima materi pelajaran. Hasil belajar adalah

kemampuan-kemampuan yang dimiliki peserta didik setelah menerima

pengalaman belajarnya. Keberhasilan belajar setiap peserta didik tidaklah

sama dengan yang lainnya tetapi setiap peserta didik memiliki kemampuan

yang berbeda-beda. Ada sebagian peserta didik yang mengalami kesulitan

dalam belajar, akibatnya perolehan hasil belajar yang dicapai kurang optimal.

Prioritas utama dari sebuah sistem pendidikan adalah mendidik peserta

didik tentang bagaimana cara belajar dan berpikir kritis. Mengajar peserta

didik untuk memiliki sikap berpikir kritis menjadi sebuah tantangan yang

paling utama dan cukup besar saat ini. Berpikir kritis merupakan keterampilan

berpikir yang berhubungan dengan kegiatan aktif sebab melibatkan proses

tanya jawab. Berpikir kritis dalam pembelajaran mendorong peserta didik

untuk terlibat aktif dalam diskusi, bertanya serta menjawab pertanyaan,

berpikir secara kritis, menjelaskan setiap jawaban yang diajukan. Seorang

anak yang berpikir kritis mampu menganalisis dan mengevaluasi setiap

informasi yang diterimanya.

Selain kemampuan berpikir ktitis, kemandirian sangat dibutuhkan oleh

peserta didik. Kemandirian belajar merupakan hal terpenting dalam suatu


proses pembelajaran. Kemandirian belajar merupakan aktivitas belajar yang

berlangsung dan lebih didorong kemampuan sendiri, pilihan sendiri dan

membandingkan diri dengan kegiatan belajarnya. Peserta didik yang memiliki

kemandirian belajar akan lebih aktif dalam kegiatan pembelajaran. Oleh

karena itu, mereka memiliki inisiatif untuk mencari pengalaman baru melalui

kegiatan belajar mandiri tanpa bantuan teman atau guru.

Kerangka berpikir hubungan antara kemampuan berpikir kritis dan

kemandirian belajar terhadap hasil belajar PJOK peserta didik kelas XI di

SMA Negeri 1 Pleret, digambarkan sebagai berikut:

Gambar 1. Bagan Kerangka Pikir

Hasil belajar PJOK

Faktor yang Mempengaruhi

Kemampuan Berpikir Kritis Kemandirian Belajar

Diketahui nilai dan arah hubungan antara kemampuan berpikir


kritis dan kemandirian belajar terhadap hasil belajar PJOK
D. Hipotesis Penelitian

Berdasarkan kajian teori dan kerangka berpikir di atas, dapat

dirumuskan hipotesis yaitu:

1. Ada hubungan yang signifikan antara kemampuan berpikir kritis dengan

hasil belajar PJOK peserta didik kelas XI di SMA Negeri 1 Pleret.

2. Ada hubungan yang signifikan antara kemandirian belajar dengan hasil

belajar PJOK peserta didik kelas XI di SMA Negeri 1 Pleret.

3. Ada hubungan yang signifikan antara kemampuan berpikir kritis dan

kemandirian belajar terhadap hasil belajar PJOK peserta didik kelas XI di

SMA Negeri 1 Pleret.

Anda mungkin juga menyukai