CASE REPORT STUDY
INSTALASI FARMASI RUMAH SAKIT
“MANAJEMEN SUMBER DAYA MANUSIA DI APOTEK RAWAT INAP
DAN RAWAT JALAN”
PRAKTEK KERJA PROFESI APOTEKER (PKPA)
DI RUMAH SAKIT OTAK DR. Drs. M. Hatta Bukittinggi
Preseptor :
apt. Khairil Armal, [Link], SpFRS
DISUSUN OLEH :
Aini Salmi Erdi 2330122002
Ayu Tri Novia 2330122006
Erika Tasya 2330122010
PROGRAM STUDI PROFESI APOTEKER
FAKULTAS FARMASI
UNIVERSITAS PERINTIS INDONESIA
PADANG
2023
KATA PENGANTAR
Assalamu’alaikum warrahmatullahi wabarakatuh
Alhamdulillahirobbil’alamin, segala puji dan syukur penulis ucapkan
kepada Allah SWT yang telah memberikan limpahan Rahmat dan karunia-Nya,
salawat serta salam penulis sampaikan kepada Nabi Muhammad SAW. Berkat
karunia dan izin Allah SWT, penulis dapat menyelesaikan Case Study di Rumah
Sakit Otak DR. Drs. M. Hatta Bukittinngi. Kegiatan PKPA ini dilaksanakan
dari tanggal 09 Oktober – 02 Desember 2023. Case Study ini ditujukan sebagai
salah satu syarat untuk menyelesaikan program studi profesi Apoteker pada
Fakultas Farmasi Universitas Perintis Indonesia, Padang.
Case Study ini dapat selesai dengan baik tidak terlepas dari do’a, dorongan
dan semangat yang diberikan oleh orang tua dan keluarga, serta seluruh teman
dan orang-orang terdekat. Oleh karena itu, pada kesempatan ini dengan segala
kerendahan hati penulis mengucapkan terima kasih kepada:
1. Ibu Dr. apt. Eka Fitrianda, [Link]., selaku Dekan Fakultas Farmasi
Universitas Perintis Indonesia;
2. Ibu apt. Okta Fera, [Link], M. Farm, selaku Ketua Program Studi Pendidikan
Profesi Apoteker Fakultas Farmasi Univeristas Perintis Indonesia;
3. Bapak apt. Khairil Armal, [Link], Sp. FRS selaku pembimbing PKPA di
Rumah Sakit Otak DR. Drs. M. Hatta Bukittinggi yang telah memberikan
bimbingan, pengarahan dalam penyusunan case report;
4. Ibu Dr. apt. Suhatri, M.S., dan Ibu apt. Mimi Aria, [Link]., selaku
pembimbing dari Fakultas Farmasi Universitas Perintis Indonesia yang
telah meluangkan waktu untuk membimbing kami dalam proses PKPA
i
Bidang Rumah Sakit;
5. Bapak dan Ibu dosen Program Studi Pendidikan Profesi Apoteker Fakultas
Farmasi Universitas Perintis Indonesia yang telah membimbing dan
memberi arahan kepada kami selama kegiatan PKPA di Rumah Sakit;
6. Seluruh karyawan dan staff di Rumah Sakit Otak DR. Drs. M. Hatta
Bukittinggi atas segala bantuan, ilmu, dan bimbingannya selama kegiatan
PKPA di Rumah Sakit;
7. Semua Pihak yang telah membantu sehingga Praktek Kerja Profesi
Apoteker (PKPA) dan penulisan Case Report ini dapat diselesaikan
dengan baik.
Penulis sangat bersyukur dan berterima kasih atas segala kebaikan,
bantuan, doa dan motivasi yang diberikan dari semua pihak yang telah
membantu selama PKPA Rumah Sakit Otak DR. Drs. M. Hatta Bukittinngi.
Semoga Allah SWT selalu menyertai rahmat dan ridho-Nya setiap semua pihak
yang telah membantu. Penulis menyadari bahwa dalam penyusunan Case
Report ini masih jauh dari kata sempurna dan masih banyak terdapat
kekurangan, oleh karena itu penulis mengharapkan kritik dan saran yang
membangun untuk perbaikan dimasa yang akan datang. Semoga Case Report ini
dapat memberikan banyak manfaat untuk kemajuan ilmu pengetahuan.
Bukittinggi, 03 November 2023
Penulis
ii
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR ............................................................................................. i
DAFTAR ISI .......................................................................................................... iii
BAB I PENDAHULUAN ...................................................................................... 1
1.1 Latar Belakang ...................................................................................... 1
BAB II TINJAUAN PUSTAKA ............................................................................ 3
2.1 Rumah Sakit .......................................................................................... 3
2.1.1 Definisi Rumah Sakit ................................................................... 3
2.1.2 Bentuk Rumah Sakit ..................................................................... 3
2.2 Instalasi Farmasi Rumah Sakit .............................................................. 6
2.2.1 Definisi Instalasi Farmasi ............................................................. 6
2.2.2 Tugas Instalasi Farmasi Rumah Sakit .......................................... 6
2.2.3 Fungsi Instalasi Farmasi, ,meliputi: ............................................. 7
2.2.4 Pengelolaan Sediaan Farmasi, Alat Kesehatan, dan Bahan Medis
Habis Pakai ................................................................................ 10
2.2.5 Kegiatan pengelolaan Sediaan Farmasi, Alat Kesehatan, dan
Bahan Medis Habis Pakai .......................................................... 11
2.3 Sumber Daya Kefarmasian ................................................................. 25
2.3.1 Sumber Daya Manusia ............................................................... 25
2.3.2 Sarana dan Peralatan .................................................................. 29
2.4 Beban Kerja ......................................................................................... 40
2.5 Workload Indicators of Staffing Need (WISN) .................................. 41
BAB III TINJAUAN KASUS............................................................................... 48
3.1 Perhitungan Sumber Daya Manusia Apotek Rawat Inap Neurologi
(Limpapeh) .................................................................................... 48
3.1.1 Apoteker Rawat Inap Neurologi................................................. 48
3.1.2 Asisten Apoteker Rawat Inap Neurologi ................................... 50
3.2 Perhitungan Sumber Daya Manusia Apotek Rawat Jalan ................... 58
3.2.1 Apoteker Rawat Jalan ................................................................ 58
3.2.2 Asisten Apoteker Rawat Jalan ................................................... 60
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN .............................................................. 67
4.1 Hasil .................................................................................................... 67
4.2 Pembahasan ........................................................................................ 68
iii
BAB V KESIMPULAN DAN SARAN ................................................................ 69
5.1 Kesimpulan......................................................................................... 69
5.2 Saran ................................................................................................... 69
DAFTAR PUSTAKA ........................................................................................... 70
iv
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Menurut WHO definisi rumah sakit adalah integral dari satu organisasi
sosial dan kesehatan dengan fungsi menyediakan pelayanan paripurna
(Komprehensif), penyembuhan penyakit (kuratif) dan pencegahan penyakit
(Preventif) kepada masyarakat.
Rumah Sakit merupakan institusi pelayanan kesehatan yang
menyelenggarakan pelayanan kesehatan perorangan secara paripurna yang
menyediakan pelayanan rawat inap, rawat jalan, dan gawat darurat (Permenkes,
2020). Standar pelayanan kefarmasian adalah tolok ukur yang dipergunakan
sebagai pedoman bagi tenaga kefarmasian dalam menyelenggarakan pelayanan
kefarmasian. Pelayanan kefarmasian adalah suatu pelayanan langsung dan
bertanggung jawab kepada pasien yang berkaitan dengan sediaan farmasi dengan
maksud mencapai hasil yang pasti untuk meningkatkan mutu kehidupan pasien
(Permenkes RI, 2016).
Pelayanan Kefarmasian adalah suatu pelayanan langsung dan bertanggung
jawab kepada pasien yang berkaitan dengan sediaan farmasi dengan maksud
mencapai hasil yang pasti untuk meningkatkan mutu kehidupan pasien
(Kemenkes,2014).
Instalasi Farmasi Rumah Sakit (IFRS) adalah suatu unit di rumah sakit
tempat penyelenggaraan semua kegiatan pekerjaan kefarmasian yang ditujukan
untuk keperluan rumah sakit dan pasien. Pekerjaan kefarmasian yang dimaksud
adalah kegiatan yang menyangkut pembuatan, pengendalian mutu sediaan
1
farmasi, pengelolaan perbekalan farmasi (perencanaan, pengadaan, penerimaan,
penyimpanan, distribusi, pencatatan, pelaporan, permusnahan/penghapusan),
pelayanan resep, pelayanan informasi obat, konseling, farmasi klinik di ruangan.
IFRS merupakan suatu organisasi pelayanan di rumah sakit yang habis pakai serta
pelayanan jasa yaitu farmasi klinik (PIO, Konseling, Meso, Monitoring Terapi
Obat, Reaksi Merugikan Obat) bagi pasien atau keluarga pasien (Rusli, 2016).
Sedangkan Perencanaan sumber daya manusia memiliki pengerrtian yaitu
suatu proses sistematis yang digunakan untuk memprediksi permintaan dan
penyediaan SDM di masa datang. Melalui program perencanaan SDM yang
sistematis dapat diperkirakan jumlah dan jenis tenaga kerja yang dibutuhkan pada
setiap periode tertentu sehingga dapat membantu bagian SDM dalam perencanaan
rekrutmen, seleksi, serta pendidikan dan pelatihan (Rachmawati, 2008).
Kemudian Salah satu metode perencanaan kebutuhan SDM adalah
Workload Indicator Of Staffing Need (WISN), yaitu metode perhitungan
kebutuhan SDM kesehatan berdasarkan pada beban pekerjaan nyata yang
dilaksanakan oleh tiap kategori SDM kesehatan pada tiap unit kerja di fasilitas
pelayanan kesehatan. Kelebihan metode ini mudah dioperasikan, mudah
digunakan, secara teknis mudah diterapkan, komprehensif dan realistis (Depkes
RI, 2004).
2
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Rumah Sakit
2.1.1 Definisi Rumah Sakit
Rumah Sakit adalah institusi pelayanan kesehatan yang menyelenggarakan
pelayanan kesehatan perorangan secara paripurna yang menyediakan pelayanan
rawatinap, rawat jalan, dan gawat darurat.(Permenkes,2016)
2.1.2 Bentuk Rumah Sakit
Rumah Sakit dapat berbentuk Rumah Sakit statis, Rumah Sakit bergerak,
atauRumah Sakit lapangan.
a. Rumah Sakit Statis
Rumah sakit statis merupakan Rumah Sakit yang didirikan di suatu
lokasi dan bersifat permanen untuk jangka waktu lama dalam
menyelenggarakan pelayanan kesehatan perorangan secara paripurna yang
menyediakan pelayanan rawat inap, rawat jalan, dan kegawatdaruratan
b. Rumah Sakit Bergerak
Rumah sakit bergerak merupakan Rumah Sakit yang siap guna dan
bersifat sementara dalam jangka waktu tertentu dan dapat dipindahkan dari
satu lokasike lokasi lain.
c. Rumah Sakit lapangan
Rumah sakit lapangan merupakan Rumah Sakit yang didirikan di lokasi
tertentu dan bersifat sementara selama kondisi darurat dan masa tanggap
darurat bencana, atau selama pelaksanaan kegiatan tertentu.
3
Berdasarkan jenis pelayanan yang diberikan, Rumah Skait dikategorikan:
1. Rumah Sakit Umum
Rumah sakit umum memberikan pelayanan kesehatan pada semua
bidang dan jenis penyakit
2. Rumah Sakit Khusus
Pengelolaan Sediaan Farmasi, Alat Kesehatan, dan Bahan Medis Habis
Pakai harus dilaksanakan secara multidisiplin, terkoordinir dan menggunakan
proses yang efektif untuk menjamin kendali mutu dan kendali biaya. Dalam
ketentuan Pasal 15 ayat (3) Undang-Undang Nomor 44 Tahun 2009 tentang
Rumah Sakit menyatakan bahwa Pengelolaan Alat Kesehatan, Sediaan
Farmasi, dan Bahan Medis Habis Pakai di Rumah Sakit harus dilakukan oleh
Instalasi Farmasi sistem satu pintu. Alat Kesehatan yang dikelola oleh
Instalasi Farmasi sistem satu pintu berupa alat medis habis pakai/peralatan non
elektromedik, antara lain alat kontrasepsi (IUD), alat pacu jantung, implan,
dan stent.
Sistem satu pintu adalah satu kebijakan kefarmasian termasuk
pembuatan formularium, pengadaan, dan pendistribusian Sediaan Farmasi,
Alat Kesehatan, dan Bahan Medis Habis Pakai yang bertujuan untuk
mengutamakan kepentingan pasien melalui Instalasi Farmasi. Dengan
demikian semua Sediaan Farmasi, Alat Kesehatan, dan Bahan Medis Habis
Pakai yang beredar di Rumah Sakit merupakan tanggung jawab Instalasi
Farmasi, sehingga tidak ada pengelolaan Sediaan Farmasi, Alat Kesehatan,
dan Bahan Medis Habis Pakai di Rumah Sakit yang dilaksanakan selain oleh
Instalasi Farmasi.
4
Dengan kebijakan pengelolaan sistem satu pintu, Instalasi Farmasi
sebagai satu-satunya penyelenggara Pelayanan Kefarmasian, sehingga Rumah
Sakit akan mendapatkan manfaat dalam hal:
1. Pelaksanaan pengawasan dan pengendalian penggunaan Sediaan Farmasi,
Alat Kesehatan, dan Bahan Medis Habis Pakai
2. Standarisasi Sediaan Farmasi, Alat Kesehatan, dan Bahan Medis Habis
Pakai
3. Penjaminan mutu Sediaan Farmasi, Alat Kesehatan, dan Bahan Medis
Habis Pakai; Pengendalian harga Sediaan Farmasi, Alat Kesehatan, dan
Bahan Medis HabisPakai
4. Pemantauan terapi Obat
5. Penurunan risiko kesalahan terkait penggunaan Sediaan Farmasi, Alat
Kesehatan, dan Bahan Medis Habis Pakai (keselamatan pasien)
6. Kemudahan akses data Sediaan Farmasi, Alat Kesehatan, dan Bahan
MedisHabis Pakai yang akurat
7. Peningkatan mutu pelayanan Rumah Sakit dan citra Rumah Sakit; dan
8. Peningkatan pendapatan Rumah Sakit dan peningkatan kesejahteraan
pegawai
Rumah Sakit harus menyusun kebijakan terkait manajemen pengunaan
Obat yang efektif. Kebijakan tersebut harus ditinjau ulang sekurang- kurangnya
sekali setahun. Peninjauan ulang sangat membantu Rumah Sakit memahami
kebutuhan dan prioritas dari perbaikan sistem mutu dan keselamatan penggunaan
Obat yang berkelanjutan.
5
Rumah Sakit perlu mengembangkan kebijakan pengelolaan Obat untuk
meningkatkan keamanan, khususnya Obat yang perlu diwaspadai (high- alert
medication). High-alert medication adalah Obat yang harus diwaspadai karena
sering menyebabkan terjadi kesalahan/kesalahan serius (sentinel event) dan Obat
yang berisiko tinggi menyebabkan Reaksi Obat yang Tidak Diinginkan (ROTD).
Kelompok Obat high-alert diantaranya:
1) Obat yang terlihat mirip dan kedengarannya mirip (Nama Obat Rupa dan
Ucapan Mirip/NORUM, atau Look Alike Sound Alike/LASA).
2) Elektrolit konsentrasi tinggi (misalnya kalium klorida 2meq/ml atau yang
lebih pekat, kalium fosfat, natrium klorida lebih pekat dari 0,9%, dan
magnesium sulfat =50% atau lebih pekat).
3) Obat-Obat sitostatika.
2.2 Instalasi Farmasi Rumah Sakit
2.2.1 Definisi Instalasi Farmasi
Instalasi Farmasi adalah unit pelaksana fungsional yang menyelenggarakan
seluruh kegiatan pelayanan kefarmasian di Rumah Sakit. Instalasi Farmasi
dipimpin oleh seorang Apoteker sebagai penanggung jawab. Dalam
penyelenggaraan Pelayanan Kefarmasian di Rumah Sakit dapat dibentuk satelit
farmasi sesuai dengan kebutuhan yang merupakan bagian dari Instalasi Farmasi
Rumah Sakit. (Permenkes, 2016).
2.2.2 Tugas Instalasi Farmasi Rumah Sakit
Tugas Instalasi farmasi meliputi :
1. Menyelenggarakan, mengkoordinasikan, mengatur dan mengawasi
seluruh kegiatan Pelayanan Kefarmasian yang optimal dan profesional
6
serta sesuai prosedur dan etik profesi.
2. Melaksanakan pengelolaan Sediaan Farmasi, Alat Kesehatan, dan
Bahan Medis Habis Pakai yang efektif, aman, bermutu dan efisien
3. Melaksanakan pengkajian dan pemantauan penggunaan Sediaan
Farmasi, Alat Kesehatan, dan Bahan Medis Habis Pakai guna
memaksimalkan efek terapi dan keamanan serta meminimalkan risiko
4. Melaksanakan Komunikasi, Edukasi dan Informasi (KIE) serta
memberikan rekomendasi kepada dokter, perawat dan pasien
5. Berperan aktif dalam Komite/Tim Farmasi dan Terapi
6. Melaksanakan pendidikan dan pelatihan serta pengembangan
Pelayanan Kefarmasian
7. Memfasilitasi dan mendorong tersusunnya standar pengobatan dan
formularium Rumah Sakit.
2.2.3 Fungsi Instalasi Farmasi, ,meliputi:
1. Pengelolaan Sediaan Farmasi, Alat Kesehatan dan Bahan Medis Habis
Pakai
a. Memilih Sediaan Farmasi, Alat Kesehatan, dan Bahan Medis Habis
Pakai sesuai kebutuhan pelayanan Rumah Sakit
b. Merencanakan kebutuhan Sediaan Farmasi, Alat Kesehatan, dan
Bahan Medis Habis Pakai secara efektif, efisien dan optimal
c. Mengadakan Sediaan Farmasi, Alat Kesehatan, dan Bahan Medis
Habis Pakai berpedoman pada perencanaan yang telah dibuat
sesuai ketentuan yang berlaku
d. Memproduksi Sediaan Farmasi, Alat Kesehatan, dan Bahan Medis
7
Habis Pakai untuk memenuhi kebutuhan pelayanan kesehatan di
Rumah Sakit
e. Menerima Sediaan Farmasi, Alat Kesehatan, dan Bahan Medis
Habis Pakai sesuai dengan spesifikasi dan ketentuan yang berlaku
f. Menyimpan Sediaan Farmasi, Alat Kesehatan, dan Bahan Medis
HabisPakai sesuai dengan spesifikasi dan persyaratan kefarmasian
g. Mendistribusikan Sediaan Farmasi, Alat Kesehatan, dan Bahan
Medis Habis Pakai ke unit-unit pelayanan di Rumah Sakit
h. Melaksanakan pelayanan farmasi satu pintu
i. Melaksanakan pelayanan Obat “unit dose”/dosis sehari
j. Melaksanakan komputerisasi pengelolaan Sediaan Farmasi, Alat
Kesehatan, dan Bahan Medis Habis Pakai (apabila sudah
memungkinkan)
k. Mengidentifikasi, mencegah dan mengatasi masalah yang terkait
dengan Sediaan Farmasi, Alat Kesehatan, dan Bahan Medis Habis
Pakai
l. Melakukan pemusnahan dan penarikan Sediaan Farmasi, Alat
Kesehatan, dan Bahan Medis Habis Pakai yang sudah tidak dapat
digunakan
m. Mengendalikan persediaan Sediaan Farmasi, Alat Kesehatan, dan
Bahan Medis Habis Pakai
n. Melakukan administrasi pengelolaan Sediaan Farmasi, Alat
Kesehatan,dan Bahan Medis Habis Pakai
8
2. Pelayanan Farmasi Klinik
• Mengkaji dan melaksanakan pelayanan Resep atau permintaan
Obat
• Melaksanakan penelusuran riwayat penggunaan Obat
• Melaksanakan rekonsiliasi Obat
• Memberikan informasi dan edukasi penggunaan Obat baik
berdasarkan Resep maupun Obat non Resep kepada
pasien/keluarga pasien
• Mengidentifikasi, mencegah dan mengatasi masalah yang terkait
dengan Sediaan Farmasi, Alat Kesehatan, dan Bahan Medis Habis
Pakai
• Melaksanakan visite mandiri maupun bersama tenaga kesehatan
lain
• Memberikan konseling pada pasien dan/atau keluarganya
• Melaksanakan Pemantauan Terapi Obat (PTO)
• Pemantauan efek terapi Obat
• Pemantauan efek samping Obat
• Pemantauan Kadar Obat dalam Darah (PKOD)
• melaksanakan Evaluasi Penggunaan Obat (EPO)
• melaksanakan dispensing sediaan steril
• Melakukan pencampuran Obat suntik
• Menyiapkan nutrisi parenteral
• Melaksanakan penanganan sediaan sitotoksik
• Melaksanakan pengemasan ulang sediaan steril yang tidak stabil
9
• Melaksanakan Pelayanan Informasi Obat (PIO) kepada tenaga
kesehatan lain, pasien/keluarga, masyarakat dan institusi di luar
Rumah Sakit
• Melaksanakan Penyuluhan Kesehatan Rumah Sakit (PKRS).
2.2.4 Pengelolaan Sediaan Farmasi, Alat Kesehatan, dan Bahan Medis Habis
Pakai
Pengelolaan Sediaan Farmasi, Alat Kesehatan, dan Bahan Medis Habis
Pakai harus dilaksanakan secara multidisiplin, terkoordinir dan menggunakan
proses yang efektif untuk menjamin kendali mutu dan kendali biaya. Dalam
ketentuan Pasal 15 ayat (3) Undang-Undang Nomor 44 Tahun 2009 tentang
Rumah Sakit menyatakan bahwa Pengelolaan Alat Kesehatan, Sediaan Farmasi,
dan Bahan Medis Habis Pakai di Rumah Sakit harus dilakukan oleh Instalasi
Farmasi sistem satu pintu. Alat Kesehatan yang dikelola oleh Instalasi Farmasi
sistem satu pintu berupa alat medis habis pakai/peralatan non elektromedik, antara
lain alat kontrasepsi (IUD), alat pacu jantung, implan, dan stent.
Sistem satu pintu adalah satu kebijakan kefarmasian termasuk pembuatan
formularium, pengadaan, dan pendistribusian Sediaan Farmasi, Alat Kesehatan,
dan Bahan Medis Habis Pakai yang bertujuan untuk mengutamakan kepentingan
pasien melalui Instalasi Farmasi. Dengan demikian semua Sediaan Farmasi, Alat
Kesehatan, dan Bahan Medis Habis Pakai yang beredar di Rumah Sakit
merupakan tanggung jawab Instalasi Farmasi, sehingga tidak ada pengelolaan
Sediaan Farmasi, Alat Kesehatan, dan Bahan Medis Habis Pakai di Rumah Sakit
yang dilaksanakan selain oleh Instalasi Farmasi.
Dengan kebijakan pengelolaan sistem satu pintu, Instalasi Farmasi sebagai
10
satu-satunya penyelenggara Pelayanan Kefarmasian, sehingga Rumah Sakit akan
mendapatkan manfaat dalam hal:
1. Pelaksanaan pengawasan dan pengendalian penggunaan Sediaan
Farmasi, Alat Kesehatan, dan Bahan Medis Habis Pakai
2. Standarisasi Sediaan Farmasi, Alat Kesehatan, dan Bahan Medis Habis
Pakai
3. Penjaminan mutu Sediaan Farmasi, Alat Kesehatan, dan Bahan Medis
Habis Pakai
4. Pengendalian harga Sediaan Farmasi, Alat Kesehatan, dan Bahan Medis
Habis Pakai
5. Pemantauan terapi Obat
6. Penurunan risiko kesalahan terkait penggunaan Sediaan Farmasi, Alat
Kesehatan, dan Bahan Medis Habis Pakai (keselamatan pasien)
7. Kemudahan akses data Sediaan Farmasi, Alat Kesehatan, dan Bahan
Medis Habis Pakai yang akurat
8. Peningkatan mutu pelayanan Rumah Sakit dan citra Rumah Sakit; dan
9. Peningkatan pendapatan Rumah Sakit dan peningkatan kesejahteraan
pegawai.
2.2.5 Kegiatan pengelolaan Sediaan Farmasi, Alat Kesehatan, dan Bahan
Medis Habis Pakai
[Link] Pemilihan
Pemilihan adalah kegiatan untuk menetapkan jenis Sediaan Farmasi, Alat
Kesehatan, dan Bahan Medis Habis Pakai sesuai dengan kebutuhan. Pemilihan
Sediaan Farmasi, Alat Kesehatan, dan Bahan Medis Habis Pakai ini berdasarkan:
11
a. Formularium dan standar pengobatan/pedoman diagnosa dan terapi
b. Standar Sediaan Farmasi, Alat Kesehatan, dan Bahan Medis Habis
Pakai yang telah ditetapkan
c. Pola penyakit
d. Efektifitas dan keamanan
e. Pengobatan berbasis bukti
f. Mutu
g. Harga
h. Ketersediaan di pasaran.
Formularium Rumah Sakit disusun mengacu kepada Formularium
Nasional. Formularium Rumah Sakit merupakan daftar Obat yang disepakati staf
medis, disusun oleh Komite/Tim Farmasi dan Terapi yang ditetapkan oleh
Pimpinan Rumah Sakit. Formularium Rumah Sakit harus tersedia untuk semua
penulis Resep, pemberi Obat, dan penyedia Obat di Rumah Sakit. Evaluasi
terhadap Formularium Rumah Sakit harus secara rutin dan dilakukan revisi sesuai
kebijakan dan kebutuhan Rumah Sakit.
Penyusunan dan revisi Formularium Rumah Sakit dikembangkan
berdasarkan pertimbangan terapetik dan ekonomi dari penggunaan Obat agar
dihasilkan Formularium Rumah Sakit yang selalu mutakhir dan dapat memenuhi
kebutuhan pengobatan yang rasional.
Tahapan proses penyusunan Formularium Rumah Sakit:
a) Membuat rekapitulasi usulan Obat dari masing-masing Staf Medik
Fungsional (SMF) berdasarkan standar terapi atau standar pelayanan
medik
12
b) Mengelompokkan usulan Obat berdasarkan kelas terapi
c) Membahas usulan tersebut dalam rapat Komite/Tim Farmasi dan Terapi,
jika diperlukan dapat meminta masukan dari pakar
d) Mengembalikan rancangan hasil pembahasan Komite/Tim Farmasi dan
Terapi, dikembalikan ke masing-masing SMF untuk mendapatkan umpan
balik
e) Membahas hasil umpan balik dari masing-masing SMF
f) Menetapkan daftar Obat yang masuk ke dalam Formularium Rumah Sakit
g) Menyusun kebijakan dan pedoman untuk implementasi
h) Melakukan edukasi mengenai Formularium Rumah Sakit kepada staf dan
melakukan monitoring
Kriteria pemilihan Obat untuk masuk Formularium Rumah Sakit:
1) Mengutamakan penggunaan Obat generik
2) Memiliki rasio manfaat-risiko (benefit-risk ratio) yang paling
menguntungkan penderita
3) Mutu terjamin, termasuk stabilitas dan bioavailabilitas
4) Praktis dalam penyimpanan dan pengangkutan
5) Praktis dalam penggunaan dan penyerahan
6) Menguntungkan dalam hal kepatuhan dan penerimaan oleh pasien
7) Memiliki rasio manfaat-biaya (benefit-cost ratio) yang tertinggi
berdasarkan biaya langsung dan tidak lansung.
8) Obat lain yang terbukti paling efektif secara ilmiah dan aman (evidence
based medicines) yang paling dibutuhkan untuk pelayanan dengan harga
yang terjangkau.
13
Dalam rangka meningkatkan kepatuhan terhadap formularium Rumah
Sakit, maka Rumah Sakit harus mempunyai kebijakan terkait dengan penambahan
atau pengurangan Obat dalam Formularium Rumah Sakit dengan
mempertimbangkan indikasi penggunaaan, efektivitas, risiko, dan biaya.
[Link] Perencanaan Kebutuhan
Perencanaan kebutuhan merupakan kegiatan untuk menentukan jumlah
dan periode pengadaan Sediaan Farmasi, Alat Kesehatan, dan Bahan Medis Habis
Pakai sesuai dengan -17- hasil kegiatan pemilihan untuk menjamin terpenuhinya
kriteria tepat jenis, tepat jumlah, tepat waktu dan efisien.
Perencanaan dilakukan untuk menghindari kekosongan Obat dengan
menggunakan metode yang dapat dipertanggungjawabkan dan dasar-dasar
perencanaan yang telah ditentukan antara lain konsumsi, epidemiologi, kombinasi
metode konsumsi dan epidemiologi dan disesuaikan dengan anggaran yang
tersedia.
Pedoman perencanaan harus mempertimbangkan:
a. Anggaran yang tersedia
b. Penetapan prioritas
c. Sisa persediaan
d. Data pemakaian periode yang lalu
e. Waktu tunggu pemesanan
f. Rencana pengembangan.
[Link] Pengadaan
Pengadaan merupakan kegiatan yang dimaksudkan untuk merealisasikan
perencanaan kebutuhan. Pengadaan yang efektif harus menjamin ketersediaan,
14
jumlah, dan waktu yang tepat dengan harga yang terjangkau dan sesuai standar
mutu. Pengadaan merupakan kegiatan yang berkesinambungan dimulai dari
pemilihan, penentuan jumlah yang dibutuhkan, penyesuaian antara kebutuhan dan
dana, pemilihan metode pengadaan, pemilihan pemasok, penentuan spesifikasi
kontrak, pemantauan proses pengadaan, dan pembayaran.
Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam pengadaan Sediaan Farmasi, Alat
Kesehatan, dan Bahan Medis Habis Pakai antara lain:
a. Bahan baku Obat harus disertai Sertifikat Analisa.
b. Bahan berbahaya harus menyertakan Material Safety Data Sheet (MSDS).
c. Sediaan Farmasi, Alat Kesehatan, dan Bahan Medis Habis Pakai harus
mempunyai Nomor Izin Edar.
d. Masa kadaluarsa (expired date) minimal 2 (dua) tahun kecuali untuk
Sediaan Farmasi, Alat Kesehatan, dan Bahan Medis Habis Pakai tertentu
(vaksin, reagensia, dan lain-lain), atau pada kondisi tertentu yang dapat
dipertanggung jawabkan
Pengadaan dapat dilakukan melalui:
- Pembelian
- Produksi Sediaan Farmasi
- Sumbangan/ Dropping/ Hibah
[Link] Penerimaan
Penerimaan merupakan kegiatan untuk menjamin kesesuaian jenis,
spesifikasi, jumlah, mutu, waktu penyerahan dan harga yang tertera dalam
kontrak atau surat pesanan dengan kondisi fisik yang diterima. Semua dokumen
terkait penerimaan barang harus tersimpan dengan baik.
15
[Link] Penyimpanan
Setelah barang diterima di Instalasi Farmasi perlu dilakukan penyimpanan
sebelum dilakukan pendistribusian. Penyimpanan harus dapat menjamin kualitas
dan keamanan Sediaan Farmasi, Alat Kesehatan, dan Bahan Medis Habis Pakai
sesuai dengan persyaratan kefarmasian. Persyaratan kefarmasian yang dimaksud
meliputi persyaratan stabilitas dan keamanan, sanitasi, cahaya, kelembaban,
ventilasi, dan penggolongan jenis Sediaan Farmasi, Alat Kesehatan, dan Bahan
Medis Habis Pakai.
Komponen yang harus diperhatikan antara lain:
a. Obat dan bahan kimia yang digunakan untuk mempersiapkan Obat diberi
label yang secara jelas terbaca memuat nama, tanggal pertama kemasan
dibuka, tanggal kadaluwarsa dan peringatan khusus.
b. Elektrolit konsentrasi tinggi tidak disimpan di unit perawatan kecuali untuk
kebutuhan klinis yang penting.
c. Elektrolit konsentrasi tinggi yang disimpan pada unit perawatan pasien
dilengkapi dengan pengaman, harus diberi label yang jelas dan disimpan
pada area yang dibatasi ketat (restricted) untuk mencegah penatalaksanaan
yang kurang hati-hati.
d. Sediaan Farmasi, Alat Kesehatan, dan Bahan Medis Habis Pakai yang
dibawa oleh pasien harus disimpan secara khusus dan dapat diidentifikasi.
e. Tempat penyimpanan obat tidak dipergunakan untuk penyimpanan barang
lainnya yang menyebabkan kontaminasi
Instalasi Farmasi harus dapat memastikan bahwa Obat disimpan secara
benar dan diinspeksi secara periodik. Sediaan Farmasi, Alat Kesehatan, dan Bahan
16
Medis Habis Pakai yang harus disimpan terpisah yaitu:
a) Bahan yang mudah terbakar, disimpan dalam ruang tahan api dan diberi tanda
khusus bahan berbahaya
b) Gas medis disimpan dengan posisi berdiri, terikat, dan diberi penandaaan
untuk menghindari kesalahan pengambilan jenis gas medis. Penyimpanan
tabung gas medis kosong terpisah dari tabung gas medis yang ada isinya.
Penyimpanan tabung gas medis di ruangan harus menggunakan tutup demi
keselamatan.
Metode penyimpanan dapat dilakukan berdasarkan kelas terapi, bentuk
sediaan, dan jenis Sediaan Farmasi, Alat Kesehatan, dan Bahan Medis Habis Pakai
dan disusun secara alfabetis dengan menerapkan prinsip First Expired First Out
(FEFO) dan First In First Out (FIFO) disertai sistem informasi manajemen.
Penyimpanan Sediaan Farmasi, Alat Kesehatan, dan Bahan Medis Habis Pakai
yang penampilan dan penamaan yang mirip (LASA, Look Alike Sound Alike)
tidak ditempatkan berdekatan dan harus diberi penandaan khusus untuk mencegah
terjadinya kesalahan pengambilan Obat.
[Link] Pendistribusian
Distribusi merupakan suatu rangkaian kegiatan dalam rangka
menyalurkan/menyerahkan Sediaan Farmasi, Alat Kesehatan, dan Bahan Medis
Habis Pakai dari tempat penyimpanan sampai kepada unit pelayanan/pasien
dengan tetap menjamin mutu, stabilitas, jenis, jumlah, dan ketepatan waktu.
Rumah Sakit harus menentukan sistem distribusi yang dapat menjamin
terlaksananya pengawasan dan pengendalian Sediaan Farmasi, Alat Kesehatan,
dan Bahan Medis Habis Pakai di unit pelayanan.
17
Sistem distribusi di unit pelayanan dapat dilakukan dengan cara:
a. Sistem Persediaan Lengkap di Ruangan (floor stock)
- Pendistribusian Sediaan Farmasi, Alat Kesehatan, dan Bahan Medis
Habis Pakai untuk persediaan di ruang rawat disiapkan dan dikelola
oleh Instalasi Farmasi.
- Sediaan Farmasi, Alat Kesehatan, dan Bahan Medis Habis Pakai yang
disimpan di ruang rawat harus dalam jenis dan jumlah yang sangat
dibutuhkan.
- Dalam kondisi sementara dimana tidak ada petugas farmasi yang
mengelola (di atas jam kerja) maka pendistribusiannya didelegasikan
kepada penanggung jawab ruangan
- Setiap hari dilakukan serah terima kembali pengelolaan obat floor stock
kepada petugas farmasi dari penanggung jawab ruangan.
- Apoteker harus menyediakan informasi, peringatan dan kemungkinan
interaksi Obat pada setiap jenis Obat yang disediakan di floor stock.
b. Sistem Resep Perorangan Pendistribusian Sediaan Farmasi, Alat
Kesehatan, dan Bahan Medis Habis Pakai berdasarkan Resep
perorangan/pasien rawat jalan dan rawat inap melalui Instalasi Farmasi.
c. Sistem Unit Dosis Pendistribusian Sediaan Farmasi, Alat Kesehatan, dan
Bahan Medis Habis Pakai berdasarkan Resep perorangan yang disiapkan
dalam unit dosis tunggal atau ganda, untuk penggunaan satu kali
dosis/pasien. Sistem unit dosis ini digunakan untuk pasien rawat inap.
d. Sistem Kombinasi Sistem pendistribusian Sediaan Farmasi, Alat
Kesehatan, dan Bahan Medis Habis Pakai bagi pasien rawat inap dengan
18
menggunakan kombinasi a + b atau b + c atau a + c
Sistem distribusi Unit Dose Dispensing (UDD) sangat dianjurkan untuk
pasien rawat inap mengingat dengan sistem ini tingkat kesalahan pemberian Obat
dapat diminimalkan sampai kurang dari 5% dibandingkan dengan sistem floor
stock atau Resep individu yang mencapai 18%.
[Link] Pemusnahan dan Penarikan Sediaan Farmasi, Alat Kesehatan, dan
Bahan Medis Habis Pakai
Pemusnahan dan penarikan Sediaan Farmasi, Alat Kesehatan, dan Bahan
Medis Habis Pakai yang tidak dapat digunakan harus dilaksanakan dengan cara
yang sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku.
Penarikan sediaan farmasi yang tidak memenuhi standar/ketentuan
peraturan perundang-undangan dilakukan oleh pemilik izin edar berdasarkan
perintah penarikan oleh BPOM (mandatory recall) atau berdasarkan inisiasi
sukarela oleh pemilik izin edar (voluntary recall) dengan tetap memberikan
laporan kepada Kepala BPOM.
Penarikan Alat Kesehatan dan Bahan Medis Habis Pakai dilakukan
terhadap produk yang izin edarnya dicabut oleh Menteri.
Pemusnahan dilakukan untuk Sediaan Farmasi, Alat Kesehatan, dan
Bahan Medis Habis Pakai bila:
a. produk tidak memenuhi persyaratan mutu
b. telah kadaluwarsa
c. tidak memenuhi syarat untuk dipergunakan dalam pelayanan kesehatan
atau kepentingan ilmu pengetahuan; dan/atau
d. dicabut izin edarnya.
19
Tahapan pemusnahan terdiri dari:
a. Membuat daftar Sediaan Farmasi, Alat Kesehatan, dan Bahan Medis Habis
Pakai yang akan dimusnahkan
b. Menyiapkan Berita Acara Pemusnahan
c. Mengoordinasikan jadwal, metode dan tempat pemusnahan kepada pihak
terkait
d. Menyiapkan tempat pemusnahan; dan
e. Melakukan pemusnahan disesuaikan dengan jenis dan bentuk sediaan serta
peraturan yang berlaku.
[Link] Pengendalian
Pengendalian dilakukan terhadap jenis dan jumlah persediaan dan
penggunaan Sediaan Farmasi, Alat Kesehatan, dan Bahan Medis Habis Pakai.
Pengendalian penggunaan Sediaan Farmasi, Alat Kesehatan, dan Bahan Medis
Habis Pakai dapat dilakukan oleh Instalasi Farmasi harus bersama dengan
Komite/Tim Farmasi dan Terapi di Rumah Sakit.
Tujuan pengendalian persediaan Sediaan Farmasi, Alat Kesehatan, dan
Bahan Medis Habis Pakai adalah untuk:
a. Penggunaan Obat sesuai dengan Formularium Rumah Sakit;
b. Penggunaan Obat sesuai dengan diagnosis dan terapi; dan
c. Memastikan persediaan efektif dan efisien atau tidak terjadi kelebihan dan
kekurangan/kekosongan, kerusakan, kadaluwarsa, dan kehilangan serta
pengembalian pesanan Sediaan Farmasi, Alat Kesehatan, dan Bahan Medis
Habis Pakai.
Cara untuk mengendalikan persediaan Sediaan Farmasi, Alat Kesehatan,
20
dan Bahan Medis Habis Pakai adalah:
a) Melakukan evaluasi persediaan yang jarang digunakan (slow moving)
b) Melakukan evaluasi persediaan yang tidak digunakan dalam waktu tiga bulan
berturut-turut (death stock); c. Stok opname yang dilakukan secara periodik
dan berkala
[Link] Administrasi
Administrasi harus dilakukan secara tertib dan berkesinambungan untuk
memudahkan penelusuran kegiatan yang sudah berlalu. Kegiatan administrasi
terdiri dari:
a. Pencatatan dan Pelaporan
Pencatatan dan pelaporan terhadap kegiatan pengelolaan Sediaan
Farmasi, Alat Kesehatan, dan Bahan Medis Habis Pakai yang meliputi
perencanaan kebutuhan, pengadaan, penerimaan, pendistribusian,
pengendalian persediaan, pengembalian, pemusnahan dan penarikan
Sediaan Farmasi, Alat Kesehatan, dan Bahan Medis Habis Pakai.
Pelaporan dibuat secara periodik yang dilakukan Instalasi Farmasi dalam
periode waktu tertentu (bulanan, triwulanan, semester atau pertahun).
Jenis-jenis pelaporan yang dibuat menyesuaikan dengan peraturan
yang berlaku. Pencatatan dilakukan untuk:
1) Persyaratan Kementerian Kesehatan/BPOM;
2) Dasar akreditasi Rumah Sakit;
3) Dasar audit Rumah Sakit; dan
4) Dokumentasi farmasi.
21
Pelaporan dilakukan sebagai:
1) Komunikasi antara level manajemen;
2) Penyiapan laporan tahunan yang komprehensif mengenai kegiatan
di Instalasi Farmasi; dan
3) Laporan tahunan
b. Administrasi Keuangan
Apabila Instalasi Farmasi harus mengelola keuangan maka perlu
menyelenggarakan administrasi keuangan. Administrasi keuangan
merupakan pengaturan anggaran, pengendalian dan analisa biaya,
pengumpulan informasi keuangan, penyiapan laporan, penggunaan
laporan yang berkaitan dengan semua kegiatan Pelayanan Kefarmasian
secara rutin atau tidak rutin dalam periode bulanan, triwulanan,
semesteran atau tahunan.
c. Administrasi Penghapusan
Administrasi penghapusan merupakan kegiatan penyelesaian
terhadap Sediaan Farmasi, Alat Kesehatan, dan Bahan Medis Habis Pakai
yang tidak terpakai karena kadaluwarsa, rusak, mutu tidak memenuhi
standar dengan cara membuat usulan penghapusan Sediaan Farmasi, Alat
Kesehatan, dan Bahan Medis Habis Pakai kepada pihak terkait sesuai
dengan prosedur yang berlaku.
[Link] Manajemen Risiko Pengelolaan Sediaan Farmasi, Alat Kesehatan,
dan Bahan Medis Habis Pakai
Manajemen risiko merupakan aktivitas Pelayanan Kefarmasian yang
dilakukan untuk identifikasi, evaluasi, dan menurunkan risiko terjadinya
22
kecelakaan pada pasien, tenaga kesehatan dan keluarga pasien, serta risiko
kehilangan dalam suatu organisasi.
Manajemen risiko pengelolaan Sediaan Farmasi, Alat Kesehatan, dan
Bahan Medis Habis Pakai dilakukan melalui beberapa langkah yaitu:
1. Menentukan konteks manajemen risiko pada proses pengelolaan Sediaan
Farmasi, Alat Kesehatan, dan Bahan Medis Habis Pakai.
2. Mengidentifikasi Risiko Beberapa risiko yang berpotensi terjadi dalam
pengelolaan Sediaan Farmasi, Alat Kesehatan, dan Bahan Medis Habis Pakai
antara lain:
- Ketidaktepatan perencanaan kebutuhan Sediaan Farmasi, Alat Kesehatan,
dan Bahan Medis Habis Pakai selama periode tertentu
- Pengadaan Sediaan Farmasi, Alat Kesehatan, dan Bahan Medis Habis
Pakai tidak melalui jalur resmi Pengadaan Sediaan Farmasi, Alat
Kesehatan, dan Bahan Medis Habis Pakai yang belum/tidak teregistrasi
- Keterlambatan pemenuhan kebutuhan Sediaan Farmasi, Alat Kesehatan,
dan Bahan Medis Habis Pakai
- Kesalahan pemesanan Sediaan Farmasi, Alat Kesehatan, dan Bahan
Medis Habis Pakai seperti spesifikasi (merek, dosis, bentuk sediaan) dan
kuantitas
- Ketidaktepatan pengalokasian dana yang berdampak terhadap
pemenuhan/ketersediaan Sediaan Farmasi, Alat Kesehatan, dan Bahan
Medis Habis Pakai
- Ketidaktepatan penyimpanan yang berpotensi terjadinya kerusakan dan
kesalahan dalam pemberian
23
- Kehilangan fisik yang tidak mampu telusur
- Pemberian label yang tidak jelas atau tidak lengkap; dan
- Kesalahan dalam pendistribusian
3. Menganalisa Risiko
Analisa risiko dapat dilakukan kualitatif, semi kuantitatif, dan kuantitatif.
Pendekatan kualitatif dilakukan dengan memberikan deskripsi dari risiko yang
terjadi. Pendekatan kuantitatif memberikan paparan secara statistik
berdasarkan data sesungguhnya
• Mengevaluasi Risiko
Membandingkan risiko yang telah dianalisis dengan kebijakan
pimpinan Rumah Sakit (contoh peraturan perundangundangan, Standar
Operasional Prosedur, Surat Keputusan Direktur) serta menentukan
prioritas masalah yang harus segera diatasi. Evaluasi dapat dilakukan
dengan pengukuran berdasarkan target yang telah disepakati.
• Mengatasi Risiko
Mengatasi risiko dilakukan dengan cara:
a) Melakukan sosialisasi terhadap kebijakan pimpinan Rumah Sakit
b) Mengidentifikasi pilihan tindakan untuk mengatasi risiko
c) Menetapkan kemungkinan pilihan (cost benefit analysis)
d) Menganalisa risiko yang mungkin masih ada; dan
e) Mengimplementasikan rencana tindakan, meliputi menghindari risiko,
mengurangi risiko, memindahkan risiko, menahan risiko, dan
mengendalikan risiko.
24
2.3 Sumber Daya Kefarmasian
Penyelenggaraan Standar Pelayanan Kefarmasian di Rumah Sakit harus
didukung oleh ketersediaan sumber daya kefarmasian, pengorganisasian yang
berorientasi kepada keselamatan pasien, dan standar prosedur operasional.
Sumber daya kefarmasian meliputi:
a) Sumber daya manusia
b) Sarana dan peralatan
2.3.1 Sumber Daya Manusia
Instalasi Farmasi harus memiliki Apoteker dan tenaga teknis kefarmasian
yang sesuai dengan beban kerja dan petugas penunjang lain agar tercapai sasaran
dan tujuan Instalasi Farmasi. Ketersediaan jumlah tenaga Apoteker dan Tenaga
Teknis Kefarmasian di Rumah Sakit dipenuhi sesuai dengan ketentuan klasifikasi
dan perizinan Rumah Sakit yang ditetapkan oleh Menteri.
Uraian tugas tertulis dari masing-masing staf Instalasi Farmasi harus ada dan
sebaiknya dilakukan peninjauan kembali paling sedikit setiap tiga tahun sesuai
kebijakan dan prosedur di Instalasi Farmasi.
1) Kualifikasi Sumber Daya Manusia (SDM)
Berdasarkan pekerjaan yang dilakukan, kualifikasi SDM Instalasi Farmasi
diklasifikasikan sebagai berikut:
a. Untuk pekerjaan kefarmasian terdiri dari:
1. Apoteker
2. Tenaga Teknis Kefarmasian
b. Untuk pekerjaan penunjang terdiri dari:
1. Operator Komputer/Teknisi yang memahami kefarmasian
25
2. Tenaga Administrasi
3. Pekarya/Pembantu pelaksana
Untuk menghasilkan mutu pelayanan yang baik dan aman, maka dalam
penentuan kebutuhan tenaga harus mempertimbangkan kompetensi yang
disesuaikan dengan jenis pelayanan, tugas, fungsi, wewenang dan tanggung
jawabnya.
2) Persyaratan SDM
Pelayanan Kefarmasian harus dilakukan oleh Apoteker dan Tenaga
Teknis Kefarmasian. Tenaga Teknis Kefarmasian yang melakukan Pelayanan
Kefarmasian harus di bawah supervisi Apoteker.
Apoteker dan Tenaga Teknis Kefarmasian harus memenuhi persyaratan
administrasi seperti yang telah ditetapkan dalam peraturan perundang-
undangan yang [Link] terkait jabatan fungsional di Instalasi
Farmasi diatur menurut kebutuhan organisasi dan sesuai dengan ketentuan
yang berlaku.
Instalasi Farmasi harus dikepalai oleh seorang Apoteker yang merupakan
Apoteker penanggung jawab seluruh Pelayanan Kefarmasian di Rumah Sakit.
Kepala Instalasi Farmasi diutamakan telah memiliki pengalaman bekerja di
Instalasi Farmasi minimal 3 (tiga) tahun.
3) Beban Kerja dan Kebutuhan
A. Beban Kerja
Dalam perhitungan beban kerja perlu diperhatikan faktor-faktor yang
berpengaruh pada kegiatan yang dilakukan, yaitu:
1. Kapasitas tempat tidur dan Bed Occupancy Rate (BOR)
26
2. Jumlah dan jenis kegiatan farmasi yang dilakukan (manajemen, klinik
dan produksi)
3. Jumlah Resep atau formulir permintaan Obat (floor stock) per hari;
4. Volume Sediaan Farmasi, Alat Kesehatan, dan Bahan Medis Habis
Pakai
B. Penghitungan Beban Kerja
Penghitungan kebutuhan Apoteker berdasarkan beban kerja pada
Pelayanan Kefarmasian di rawat inap yang meliputi pelayanan farmasi
manajerial dan pelayanan farmasi klinik dengan aktivitas pengkajian resep,
penelusuran riwayat penggunaan Obat, rekonsiliasi Obat, pemantauan
terapi Obat, pemberian informasi Obat, konseling, edukasi dan visite,
idealnya dibutuhkan tenaga Apoteker dengan rasio 1 Apoteker untuk 30
pasien.
Penghitungan kebutuhan Apoteker berdasarkan beban kerja pada
Pelayanan Kefarmasian di rawat jalan yang meliputi pelayanan farmasi
menajerial dan pelayanan farmasi klinik dengan aktivitas pengkajian
Resep, penyerahan Obat, Pencatatan Penggunaan Obat (PPP) dan
konseling, idealnya dibutuhkan tenaga Apoteker dengan rasio 1 Apoteker
untuk 50 pasien.
Selain kebutuhan Apoteker untuk Pelayanan Kefarmasian rawat inap
dan rawat jalan, maka kebutuhan tenaga Apoteker juga diperlukan untuk
pelayanan farmasi yang lain seperti di unit logistik medik/distribusi, unit
produksi steril/aseptic dispensing, unit pelayanan informasi Obat dan lain-
lain tergantung pada jenis aktivitas dan tingkat cakupan pelayanan yang
27
dilakukan oleh Instalasi Farmasi.
Selain kebutuhan Apoteker untuk Pelayanan Kefarmasian di rawat
inap dan rawat jalan, diperlukan juga masing-masing 1 (satu) orang
Apoteker untuk kegiatan Pelayanan Kefarmasian di ruang tertentu, yaitu:
- Unit Gawat Darurat
- Intensive Care Unit (ICU)/Intensive Cardiac Care Unit
(ICCU)/Neonatus Intensive Care Unit (NICU)/Pediatric Intensive Care
Unit (PICU)
- Pelayanan Informasi Obat; Mengingat kekhususan Pelayanan
Kefarmasian pada unit rawat intensif dan unit gawat darurat, maka
diperlukan pedoman teknis mengenai Pelayanan Kefarmasian pada
unit rawat intensif dan unit rawat darurat yang akan diatur lebih lanjut
oleh Direktur Jenderal.
C. Pengembangan Staf dan Program Pendidikan
Setiap staf di Rumah Sakit harus diberi kesempatan untuk
meningkatkan pengetahuan dan keterampilannya. Peran Kepala Instalasi
Farmasi dalam pengembangan staf dan program pendidikan meliputi:
- Menyusun program orientasi staf baru, pendidikan dan pelatihan
berdasarkan kebutuhan pengembangan kompetensi SDM.
- Menentukan dan mengirim staf sesuai dengan spesifikasi pekerjaan
(tugas dan tanggung jawabnya) untuk meningkatkan kompetensi yang
diperlukan.
- Menentukan staf sebagai narasumber/pelat
28
D. Penelitian dan Pengembangan
Apoteker harus didorong untuk melakukan penelitian mandiri atau
berkontribusi dalam tim penelitian mengembangkan praktik Pelayanan
Kefarmasian di Rumah Sakit. Apoteker yang terlibat dalam penelitian
harus mentaati prinsip dan prosedur yang ditetapkan dan sesuai dengan
kaidah-kaidah penelitian yang berlaku.
Instalasi Farmasi harus melakukan pengembangan Pelayanan
Kefarmasian sesuai dengan situasi perkembangan kefarmasian terkini.
Apoteker juga dapat berperan dalam Uji Klinik Obat yang dilakukan di
Rumah Sakit dengan mengelola ObatObat yang diteliti sampai
dipergunakan oleh subyek penelitian dan mencatat Reaksi Obat yang Tidak
Dikehendaki (ROTD) yang terjadi selama penelitian.
2.3.2 Sarana dan Peralatan
Penyelenggaraan Pelayanan Kefarmasian di Rumah Sakit harus didukung
oleh sarana dan peralatan yang memenuhi ketentuan dan perundang-undangan
kefarmasian yang berlaku. Lokasi harus menyatu dengan sistem pelayanan Rumah
Sakit, dipisahkan antara fasilitas untuk penyelenggaraan manajemen, pelayanan
langsung kepada pasien, peracikan, produksi dan laboratorium mutu yang
dilengkapi penanganan limbah.
Peralatan yang memerlukan ketepatan pengukuran harus dilakukan kalibrasi
alat dan peneraan secara berkala oleh balai pengujian kesehatan dan/atau institusi
yang berwenang. Peralatan harus dilakukan pemeliharaan, didokumentasi, serta
dievaluasi secara berkala dan berkesinambungan.
29
[Link] Sarana
Fasilitas ruang harus memadai dalam hal kualitas dan kuantitas agar dapat
menunjang fungsi dan proses Pelayanan Kefarmasian, menjamin lingkungan kerja
yang aman untuk petugas, dan memudahkan sistem komunikasi Rumah Sakit
• Fasilitas utama dalam kegiatan pelayanan di Instalasi Farmasi, terdiri dari:
(a) Ruang Kantor/ Administrasi
Ruang Kantor/Administrasi terdiri dari :
- Ruang pimpinan
- Ruang staf
- Ruang kerja/administrasi tata usaha
- Ruang pertemuan
(b) Ruang penyimpanan Sediaan Farmasi, Alat Kesehatan, dan Bahan
Medis Habis Pakai
Rumah Sakit harus mempunyai ruang penyimpanan Sediaan
Farmasi, Alat Kesehatan, dan Bahan Medis Habis Pakai yang
disesuaikan dengan kondisi dan kebutuhan, serta harus memperhatikan
kondisi sanitasi, temperatur, sinar/cahaya, kelembaban, ventilasi,
pemisahan untuk menjamin mutu produk dan keamanan petugas, terdiri
dari:
a. Kondisi umum untuk ruang penyimpanan:
- Obat jadi
- Obat produksi
- Bahan baku obat
- Alat kesehatan
30
b. Kondisi khusus untuk ruang penyimpanan
- Obat termolabil
- Bahan laboratorium dan reagensia
- Sediaan farmasi yang mudah terbakar
(c) Ruang distribusi Sediaan Farmasi, Alat Kesehatan, dan Bahan Medis
Habis Pakai
Ruang distribusi Sediaan Farmasi, Alat Kesehatan, dan Bahan
Medis Habis Pakai terdiri dari distribusi Sediaan Farmasi, Alat
Kesehatan, dan Bahan Medis Habis Pakai rawat jalan (apotek rawat
jalan) dan rawat inap (satelit farmasi).
Ruang distribusi harus cukup untuk melayani seluruh kebutuhan
Sediaan Farmasi, Alat Kesehatan, dan Bahan Medis Habis Pakai
Rumah Sakit. Ruang distribusi terdiri dari:
o Ruang distribusi untuk pelayanan rawat jalan, di mana ada
ruang khusus/terpisah untuk penerimaan resep dan peracikan.
o Ruang distribusi untuk pelayanan rawat inap, dapat secara
sentralisasi maupun desentralisasi di masing-masing ruang
rawat inap.
(d) Ruang Konsultasi/konseling obat
Ruang konsultasi/konseling Obat harus ada sebagai sarana untuk
Apoteker memberikan konsultasi/konseling pada pasien dalam rangka
meningkatkan pengetahuan dan kepatuhan pasien. Ruang
konsultasi/konseling harus jauh dari hiruk pikuk kebisingan lingkungan
Rumah Sakit dan nyaman sehingga pasien maupun konselor dapat
31
berinteraksi dengan baik. Ruang konsultasi/konseling dapat berada di
Instalasi Farmasi rawat jalan maupun rawat inap
(e) Ruang Pelayanan Informasi Obat
Pelayanan Informasi Obat dilakukan di ruang tersendiri dengan
dilengkapi sumber informasi dan teknologi komunikasi, berupa bahan
pustaka dan telepon.
(f) Ruang Produksi
Persyaratan bangunan untuk ruangan produksi harus memenuhi
kriteria:
- Lokasi
Lokasi jauh dari pencemaran lingkungan (udara, tanah dan air
tanah).
- Konstruksi
Terdapat sarana perlindungan terhadap:
1. Cuaca
2. Banjir
3. Rembesan air
4. Binatang/serangga
- Rancang bangun dan peralatan gedung di ruang produksi harus
memenuhi kriteria:
o Disesuaikan dengan alur barang, alur kerja/proses, alur
orang/pekerja.
o Pengendalian lingkungan terhadap:
(a) Udara
32
(b) Permukaan langit-langit, dinding, lantai dan
peralatan/sarana lain
(c) Barang masuk
(d) Petugas yang di dalam.
o Luas ruangan minimal 2 (dua) kali daerah kerja + peralatan,
dengan jarak setiap peralatan minimal 2,5 m.
o Di luar ruang produksi ada fasilitas untuk lalu lintas petugas dan
barang
- Pembagian ruangan
o Ruang terpisah antara Obat jadi dan bahan baku
o Ruang terpisah untuk setiap proses produksi
o Ruang terpisah untuk produksi Obat luar dan Obatdalam;
o Gudang terpisah untuk produksi antibiotik (bila ada)
o Tersedia saringan udara, efisiensi minimal 98%;
o Permukaan lantai, dinding, langit-langit dan pintuharus:
(a) Kedap air
(b) Tidak terdapat sambungan;
(c) Tidak merupakan media pertumbuhan untuk mikroba;
(d) Mudah dibersihkan dan tahan terhadap bahan
pembersih/desinfektan.
- Daerah pengolahan dan pengemasan
o Hindari bahan dari kayu, kecuali dilapisi catepoxy/enamel;
o Persyaratan ruang produksi dan ruang peracikan harus
memenuhi kriteria sesuai dengan ketentuan cara produksi atau
33
peracikan obat di Rumah Sakit. Rumah Sakit yang
memproduksi sediaan parenteral steril dan/atau sediaan
radiofarmaka harus memenuhi Cara Pembuatan Obat yang
Baik (CPOB)
(g) Ruang Aseptic Dispensing
Ruang aseptic dispensing harus memenuhi persyaratan:
a) Ruang bersih: kelas 10.000 (dalam Laminar Air Flow = kelas
100)
b) Ruang/tempat penyiapan :kelas 100.000
c) Ruang antara :kelas 100.000
d) Ruang ganti pakaian :kelas 100.000
e) Ruang/tempat penyimpanan untuk sediaan yang telah disiapkan.
Tata ruang harus menciptakan alur kerja yang baik sedangkan
luas ruangan disesuaikan dengan macam dan volume kegiatan
ruang aseptic dispensing harus memenuhi spesifikasi:
a) Lantai Permukaan datar dan halus, tanpa sambungan, keras,
resisten terhadap zat kimia dan fungi, serta tidak mudah rusak.
b) Dinding
(1) Permukaan rata dan halus, terbuat dari bahan yang keras,
tanpa sambungan, resisten terhadap zat kimia dan fungi,
serta tidak mudah rusak.
(2) Sudut-sudut pertemuan lantai dengan dinding dan langit-
langit dengan dinding dibuat melengkung dengan radius
20 – 30 mm.
34
(3) Colokan listrik datar dengan permukaan dan kedap air dan
dapat dibersihkan.
c) Plafon Penerangan, saluran dan kabel dibuat di atas plafon, dan
lampu rata dengan langit-langit/plafon dan diberi lapisan untuk
mencegah kebocoran udara.
d) Pintu Rangka terbuat dari stainles steel. Pintu membuka ke arah
ruangan yang bertekanan lebih tinggi.
e) Aliran udara Aliran udara menuju ruang bersih, ruang
penyiapan, ruang ganti pakaian dan ruang antara harus melalui
HEPA filter dan memenuhi persyaratan kelas 10.000.
Pertukaran udara minimal 120 kali per jam.
f) Tekanan udara Tekanan udara di dalam ruang bersih adalah 15
Pascal lebih rendah dari ruang lainnya sedangkan tekanan
udara dalam ruang penyiapan, ganti pakaian dan antara harus
45 Pascal lebih tinggi dari tekanan udara luar.
g) Temperatur Suhu udara diruang bersih dan ruang steril,
dipelihara pada suhu 16 – 25° C
h) Kelembaban
1) Kelembaban relatif 45 – 55%.
2) Ruang bersih, ruang penyangga, ruang ganti pakaian steril
dan ruang ganti pakaian kerja hendaknya mempunyai
perbedaan tekanan udara 10-15 pascal. Tekanan udara
dalam ruangan yang mengandung risiko lebih tinggi
terhadap produk hendaknya selalu lebih tinggi
35
dibandingkan ruang sekitarnya. Sedangkan ruang bersih
penanganan sitostatika harus bertekanan lebih rendah
dibandingkan ruang sekitarnya.
(h) Laboratorium Farmasi
Dalam hal Instalasi Farmasi melakukan kegiatan penelitian dan
pengembangan yang membutuhkan ruang laboratorium farmasi, maka
harus memenuhi syarat sebagai berikut:
a) Lokasi
1. Lokasi terpisah dari ruang produksi.
2. Konstruksi bangunan dan peralatan tahan asam, alkali, zat kimia
dan pereaksi lain (harus inert); aliran udara, suhu dan
kelembaban sesuai persyaratan.
b) Tata ruang disesuaikan dengan kegiatan dan alur kerja
c) Perlengkapan instalasi (air, listrik) sesuai persyaratan
(i) Ruang Produksi Non Steril
(j) Ruang Penanganan Sediaan Sitostatik
(k) Ruang Pencampuran/Pelarutan/Pengemasan Sediaan Yang Tidak Stabil
(l) Ruang Penyimpanan Nutrisi Parenteral
• Fasilitas penunjang dalam kegiatan pelayanan di Instalasi Farmasi,
terdiri dari:
1) Ruang tunggu pasien
2) Ruang penyimpanan dokumen/arsip Resep dan Sediaan Farmasi,
Alat Kesehatan, dan Bahan Medis Habis Pakai yang rusak
3) Tempat penyimpanan Obat di ruang perawatan
36
4) Fasilitas toilet, kamar mandi untuk staf.
[Link] Peralatan
Fasilitas peralatan harus memenuhi syarat terutama untuk perlengkapan
peracikan dan penyiapan baik untuk sediaan steril, non steril, maupun cair untuk
Obat luar atau dalam. Fasilitas peralatan harus dijamin sensitif pada pengukuran
dan memenuhi persyaratan, peneraan dan kalibrasi untuk peralatan tertentu setiap
tahun. Peralatan yang paling sedikit harus tersedia:
a) Peralatan untuk penyimpanan, peracikan dan pembuatan Obat baik steril
dannonsteril maupun aseptik/steril
b) Peralatan kantor untuk administrasi dan arsip
c) Kepustakaan yang memadai untuk melaksanakan Pelayanan Informasi Obat
d) Lemari penyimpanan khusus untuk narkotika
e) Lemari pendingin dan pendingin ruangan untuk Obat yang termolabil
f) Penerangan, sarana air, ventilasi dan sistem pembuangan limbah yang baik
g) Alarm
Macam-macam Peralatan
a. Peralatan Kantor:
1) Mebeulair (meja, kursi, lemari buku/rak, filing cabinet dan lain-lain);
2) Komputer/mesin tik;
3) Alat tulis kantor;
4) Telepon dan faksimili.
b. Peralatan sistem komputerisasi Sistem komputerisasi harus diadakan dan
difungsikan secara optimal untuk kegiatan sekretariat, pengelolaan Sediaan
Farmasi, Alat Kesehatan, dan Bahan Medis Habis Pakai dan pelayanan
37
farmasi klinik. Sistem informasi farmasi ini harus terintegrasi dengan sistem
informasi Rumah Sakit untuk meningkatkan efisiensi fungsi manajerial
dan agar data klinik pasien mudah diperoleh untuk monitoring terapi
pengobatan dan fungsi klinik lainnya. Sistem komputerisasi meliputi:
1) Jaringan
2) Perangkat keras
3) Perangkat lunak (program aplikasi)
c. Peralatan Produksi
1. Peralatan farmasi untuk persediaan, peracikan dan pembuatan Obat, baik
nonsteril maupun steril/aseptik.
2. Peralatan harus dapat menunjang persyaratan keamanan cara pembuatan
Obat yang baik.
d. Peralatan Aseptic Dispensing:
1) Biological Safety Cabinet/Vertical Laminar Air Flow Cabinet (untuk
pelayanan sitostatik)
2) Horizontal Laminar Air Flow Cabinet (untuk pelayanan pencampuran
Obat suntik dan nutrisi parenteral)
3) Pass-box dengan pintu berganda (air-lock)
4) Barometer
5) Termometer
6) Wireless intercom.
e. Peralatan Penyimpanan
1) Peralatan Penyimpanan Kondisi Umum
a) lemari/rak yang rapi dan terlindung dari debu, kelembaban dan cahaya
38
yang berlebihan;
b) lantai dilengkapi dengan palet.
2) Peralatan Penyimpanan Kondisi Khusus:
a) Lemari pendingin dan AC untuk Obat yang termolabil;
b) Fasilitas peralatan penyimpanan dingin harus divalidasi secara
berkala;
c) Lemari penyimpanan khusus untuk narkotika dan Obat psikotropika;
d) Peralatan untuk penyimpanan Obat, penanganan dan pembuangan
limbah sitotoksik dan Obat berbahaya harus dibuat secara khusus
untuk menjamin keamanan petugas, pasien dan pengunjung
3) Peralatan Pendistribusian/Pelayanan
a) Pelayanan rawat jalan (Apotik);
b) Pelayanan rawat inap (satelit farmasi);
c) Kebutuhan ruang perawatan/unit lain.
4) Peralatan Konsultasi
a) Buku kepustakaan bahan-bahan leaflet,dan brosur dan lain-lain;
b) Meja, kursi untuk Apoteker dan 2 orang pelanggan, lemari untuk
menyimpan profil pengobatan pasien;
c) Komputer;
d) Telpon;
e) Lemari arsip;
f) Kartu arsip.
5) Peralatan Ruang Informasi Obat
a) Kepustakaan yang memadai untuk melaksanakan Pelayanan Informasi
39
Obat;
b) Peralatan meja, kursi, rak buku, kotak;
c) Komputer;
d) Telpon – Faxcimile;
e) Lemari arsip;
f) Kartu arsip;
g) TV dan VCD player.
6) Peralatan Ruang Arsip
a) Kartu Arsip;
b) Lemari/Rak Arsip
2.4 Beban Kerja
Beban kerja adalah kemampuan tubuh dalam menerima pekerjaan. Dari
sudut pandang ergonomic, setiap beban kerja yang diterima seseorang harus
sesuai dan seimbang terhadapa kemampuan fisik maupun psikologi yang
menerima beban kerja tersebut (Vanchapo, 2020).
Dalam proses pengembangan sumberdaya manusia, ada berbagai hal yang
akan menjadi pertimbangan suatu organisasi dalam melakukan penambahan,
pengurangan, pelatihan, ataupun audit sumberdaya manusia. Untuk mengetahui
jumlah ideal sumberdaya manusia inilah, dilakukan Analisis Beban Kerja.
Analisis yang tidak hanya akan melihat dan menghitung jumlash tenaga kerja
yang dibutuhkan dalam suatu divisi atau kelompok, tetapi juga akan
memperhitungkan bagaimana kondisi psikis sumberdaya manusia dalam
menyelesaikan [Link] ini menjelaskan dengan gamblang bagimana
40
pengertian, metode, manfaat, dan cara penghitungan dalam melakukan analisis
beban kerja karyawannya. Dengan demikian, pengembangan sumber daya
manusia mampu mendongkrak kinerja perusahaan dalam mencapai target yang
telah ditetapkan (Koesomowidjojo,2017)
Analisa beban kerja (workload analysis) adalah proses untuk menetapkan
jumlah jam kerja orang yang digunakan atau dibutuhkan untuk menyelesaikan
suatu pekerjaan dalam waktu tertentu, atau dengan kata lain analisis beban kerja
bertujuan untuk menentukan berapa jumlah personalia dan berapa jumlah
tanggung jawab atau beban kerja yang tepat dilimpahkan kepada seorang
petugas. Analisis beban kerja adalah suatu teknik manajemen yang dilakukan
secara sistematis untuk memperoleh informasi mengenai tingkat efektifitas dan
efisiensi kerja oraganisasi (Adawiyah, 2013).
2.5 Workload Indicators of Staffing Need (WISN)
Workload Indicators of Staffing Need merupakan metode perhitungan
kebutuhan sumber daya manusia berdasarkan beban pekerjaan nyata yang
dilaksanakan oleh tiap kategori SDM kesehatan pada tiap unit kerja di fasilitas
pelayanan kesehatan. Metode ini seringkali digunakan di rumah sakit, puskesmas,
dan dinas kesehatan. Kelebihan daripada metode WISN adalah mudah
dioperasikan, digunakan, diterapkan, komprehensif dan realistis. Menurut WHO,
WISN dapat membantu dalam meningkatkan keadilan dalam pembagian tugas
kepada staf, memberikan cara terbaik dalam mengalokasikan tugas baru kepada
kategori tenaga kesehatan yang berbeda, mengetahui jumlah staf yang dibutuhkan
dalam melakukan suatu pekerjaan, dan merencanakan kebutuhan staf di masa
mendatang.
41
Tahapan dalam melakukan perhitungan dengan metode WISN:
1. Menentukan Prioritas Jenis Tenaga Kesehatan dan Unit Kerja di Fasilitas
Kesehatan
Langkah pertama adalah identifikasi terhadap seluruh jenis fasilitas
kesehatan, unit kerja yang ada, dan kategori SDM yang bekerja pada
fasilitas kesehatan tersebut. Kemudian tentukan kategori SDM yang
memiliki masalah pada saat ini dan masa mendatang. Dari hasil identifikasi
permasalahan kategori SDM yang telah dilakukan, dapat ditentukan suatu
prioritas permasalahan yang nantinya akan diselesaikan dengan
menggunakan metode WISN.
2. Memperkirakan Waktu Kerja yang Tersedia/Available Working Time
(AWT)
Waktu Kerja yang Tersedia/Available Working Time (AWT) adalah
waktu yang tersedia untuk tenaga kesehatan dalam satu tahun untuk
melakukan pekerjaan dengan memperhitungkan absensi resmi dan tidak
resmi. Available Working Time (AWT) dapat dinyatakan dalam hari/tahun
atau jam/tahun. Langkah- langkah yang dilakukan dalam perhitungan
AWT yaitu :
a. Hitung jumlah hari kerja dalam setahun dengan mengalikan jumlah hari
kerja dalam satu minggu dengan jumlah minggu dalam satu tahun (52).
b. Hitung jumlah hari tidak bekerja seorang tenaga kesehatan dalam
setahun. Jumlah hari tidak bekerja yang dimiliki dapat terdiri dari cuti
sakit, cuti tahunan, pendidikan dan pelatihan, hari libur nasional, dan
cuti bekerja tanpa alasan pemberitahuan.
42
Apabila mengalami kesulitan dalam melakukan perhitungan karena sulit
memperoleh data yang akurat terkait absensi, yang dapat dilakukan adalah :
a. Mengumpulkan laporan administrasi dari kategori staf pada fasilitas
kesehatan atau unit kerja.
b. Menghitung jumlah absensi dari kategori staf yang telah ditentukan.
c. Membagi total jumlah absensi dari suatu kategori staf dengan jumlah
staf pada kategori tersebut sehingga akan diperoleh rata-rata jumlah
absensi karena suatu alasan.
Untuk menghitung waktu yang tersedia untuk bekerja (AWT) dapat
digunakan rumus sebagai berikut :
AWT = {A – (B+C+D+E) X F}
Keterangan :
A: jumlah hari kerja dalam setahun
B: jumlah absensi karena hari libur nasional dalam setahun
C: jumlah absensi karena cuti tahunan dalam setahun
D: jumlah absensi karena cuti sakit dalam setahun
E: jumlah absensi karena cuti dengan berbagai alasan lainnya dalam
setahun seperti cuti mengikuti pelatihan.
F: jumlah waktu kerja dalam satu hari.
Komponen beban kerja merupakan aktivitas terpenting yang dilakukan
tenaga kesehatan dalam jadwal harian bekerja. Komponen beban kerja terdiri
dari:
1. Aktivitas utama pelayanan kesehatan Aktivitas yang dilakukan oleh seluruh
43
staf dalam suatu kategori staf dan pada aktivitas ini terdapat pencatatan yang
rutin.
2. Aktivitas penunjang Aktivitas yang dilakukan oleh seluruh staf dalam suatu
kategori staf namun tidak dilakukan pencatatan rutin.
3. Aktivitas tambahan Aktivitas yang tidak dilakukan oleh seluruh staf dan
pada aktivitas ini tidak diperlukan suatu pencatatan yang rutin.
4. Menentukan Standar Aktivitas
Standar aktivitas adalah waktu yang diperlukan oleh seorang pekerja
terlatih, terampil, dan mempunyai motivasi untuk melakukan aktivitas sesuai
dengan standar profesional pada lingkungan kerja setempat. Standar aktivitas
terdiri dari standar pelayanan dan standar kelonggaran. Standar pelayanan
adalah standar aktivitas pada aktivitas utama pelayanan kesehatan yang dapat
dinyatakan dalam dua indikator yaitu sebagai unit time atau rata-rata waktu
yang diperlukan seorang tenaga kesehatan untuk memberikan pelayanan
kesehatan kepada pasien dan rate of working atau rata- rata jumlah aktivitas
yang dapat diselesaikan dalam kurun waktu tertentu.
3. Menghitung Beban Kerja Standar/ Standard Workhood
Beban kerja standar adalah jumlah aktivitas dalam suatu komponen
beban kerja pelayanan kesehatan yang dapat dilakukan oleh seorang tenaga
kesehatan dalam satu tahun. Perhitungan beban kerja standar suatu
pelayanan kesehatan tergantung dari waktu standar pelayanan tersebut
dinyatakan dalam bentuk unit time atau rate of working
4. Menghitung Faktor Kelonggaran
Faktor kelonggaran terdiri dari Category Allowance Factor (CAF)
44
dan Individual Allowance Factor (IAF). Kedua faktor ini dihitung secara
terpisah. CAF merupakan faktor pengali yang diperlukan untuk
menghitung jumlah tenaga kerja yang diperlukan untuk melaksanakan
aktivitas pelayanan kesehatan dan penunjang sedangkan IAF merupakan
jumlah tenaga kerja yang dibutuhkan untuk melakukan aktivitas tambahan.
Dalam perhitungan CAF menggunakan hasil dari Category
Allowance Standard yang telah dihitung pada langkah sebelumnya dengan
rumus :
CAF = 1/{1-(Total CAS/100)}
Namun dalam perhitungan IAF menggunakan hasil dari Individual
Allowance Standard dan Available Working Time yaitu dengan rumus :
IAF = IAS/AWT
5. Menentukan Jumlah Tenaga Kerja yang Dibutuhkan Berdasarkan WISN
Dalam langkah terakhir perhitungan menggunakan WISN dilakukan
tiga kegiatan perhitungan yang berbeda, yaitu :
- Aktivitas utama pelayanan kesehatan (A)
Jumlah beban kerja dalam satu tahun yang diperoleh melalui
perhitungan statistik dibagi dengan standar beban kerja yang
bersangkutan sehingga akan diperoleh jumlah tenaga kesehatan yang
diperlukan untuk melakukan aktivitas tersebut. Dengan menjumlahkan
seluruh kebutuhan pada setiap kegiatan maka akan diperoleh jumlah
total tenaga kerja yang dibutuhkan untuk melakukan aktivitas utama
pelayanan kesehatan.
45
- Aktivitas Penunjang (B)
Jumlah tenaga kerja yang dibutuhkan pada aktivitas utama
pelayanan kesehatan dikalikan dengan Category Allowance Factor
sehingga akan diperoleh jumlah tenaga kerja yang diperlukan untuk
melakukan aktivitas utama pelayanan kesehatan dan penunjang.
- Aktivitas tambahan (C)
Jumlah kebutuhan staf yang telah diperoleh melalui perhitungan
dengan dua langkah diatas kemudian dikalikan dengan Individual
Allowance Factor sehingga akan diperoleh jumlah total tenaga
kesehatan yang dibutuhkan untuk melakukan ketiga jenis aktivitas.
Berdasarkan langkah-langkah diatas maka dapat digunakan rumus
Total Kebutuhan Tenaga Kerja yang dibutuhkan = A X B
terakhir yaitu :
Seringkali hasil yang diperoleh melalui perhitungan bukan
merupakan bilangan bulat sehingga perlu dilakukan pembulatan.
Rekomendasi pembulatan yang diberikan yaitu dengan membulatkan
bilangan ke atas apabila bilangan di belakang koma lebih dari bilangan di
depan koma dan sebaliknya membulatkan ke bawah apabila bilangan di
belakang koma adalah bilangan kurang dari atau sama dengan bilangan di
depan koma.
6. Menganalisis dan Menginterpretasi Hasil dari Perhitungan WISN
Dalam menganalisis dan menginterpretasi hasil dilakukan dengan
menggunakan dua indikator yaitu difference dan ratio. Difference
merupakan indikator dengan membandingkan perbedaan antara jumlah staf
46
yang tersedia saat ini dengan jumlah staf yang dibutuhkan sehingga dapat
diketahui apakah terjadi kondisi kelebihan atau kekurangan staf pada suatu
fasilitas kesehatan. Ratio merupakan indikator dengan menilai beban kerja
yang dialami oleh tenaga kesehatan dalam melakukan pekerjaan sehari-hari
pada suatu fasilitas kesehatan. Ratio diperoleh dengan membagi jumlah
staf yang tersedia saat ini dengan jumlah staf yang dibutuhkan. Apabila
rasionya adalah satu maka tidak terjadi kelebihan atau kekurangan staf
pada fasilitas kesehatan tersebut. Namun apabila rasio yang diperoleh
adalah lebih dari satu maka terjadi kelebihan staf pada fasilitas kesehatan
tersebut, begitu pula sebaliknya bila rasio yang diperoleh kurang dari satu
maka kondisi yang terjadi adalah kekurangan staf pada fasilitas kesehatan
tersebut. Semakin kecil rasio yang diperoleh maka semakin besar beban
kerja yang dialami oleh tenaga kesehatan.
47
BAB III
TINJAUAN KASUS
3.1 Perhitungan Sumber Daya Manusia Apotek Rawat Inap Neurologi
(Limpapeh)
3.1.1 Apoteker Rawat Inap Neurologi
Hari kerja : 260 hari (365 hari- 52 hari sabtu - 53 hari
minggu )
Cuti bersama : 8 hari
Pendidikan/pelatihan/izin :10 hari
Hari libur nasional :16 hari
Hari kerja efektif : 226 hari (260 hari - 8 hari - 10 hari - 16 hari)
Waktu kerja perhari : 480 menit (8 jam)
Waktu istirahat : 60 menit
Waktu kerja efektif perhari : 480 menit – 60 menit = 420 menit
Waktu kerja pertahun : 420 menit x 226 hari = 94.920 menit
BOR (Bed Occupancy Rate) : 65 %
Beban kerja = BOR x jumlah tempat tidur (bed)
= 65% x 34 bed = 22 bed
Tabel. Kebutuhan SDM Apoteker Apotek Rawat Inap Neurologi
No. Uraian Beban SKR WPT Hari Kerja WPT/Tahun
Tugas Tugas /Hari /Tahun
1. Mengisi 22 5 110 226 hari 24.860 menit
CPPT pasien Menit /pasien menit
Pasien
48
2. Rekonsiliasi 22 5 110 226 hari 24.860 menit
Obat Pasien pasien Menit/ pasien menit
3. Konseling 22 10 220 226 hari 49.720 menit
Obat pasien pasien Menit/ pasien menit
4. Laporan - 2 jam/ bulan 4 menit 12 bulan 1.440 menit
Indikator
Kinerja
444 100.880
Jumlah
menit menit
Ket :
• Beban kerja/beban tugas : banyaknya jenis pekerjaan yang haru diselesaikan
oleh tenaga kesehatan professional dalam satu tahun/hari dalam satu sarana
pelayanan kesehatan
• Standar kemampuan rata-rata (skt) : kemampuan rata-rata yang dibutuhkan
tiap petugas untuk menyelesaikan satu jenis tugasnya
• Waktu penyelesaian tuas (wpt) : total waktu yang dibutuhkan untuk
menyelesaikan satu jenis tugas sesuai dengan total jumlah pasien.
❖ Jumlah kebutuhan apoteker untuk apotek rawat inap neurologi (limpapeh) :
waktu penyelesaian tugas/ hari
Kebutuhan SDM = × 1 orang
waktu kerja efektif/ hari
444 menit / hari
= × 1 orang
420 menit/ hari
= 1,057 orang
(dibulatkan menjadi 2 orang )
❖ Jumlah kebutuhan apoteker untuk apotek rawat inap neurologi (limpapeh) :
49
waktu penyelesaian tugas/ tahun
Kebutuhan SDM = × 1 orang
waktu kerja efektif/ tahun
100.880 menit / tahun
= × 1 orang
94.920 menit/ hari
= 1,062 orang
(dibulatkan menjadi 2 orang )
3.1.2 Asisten Apoteker Rawat Inap Neurologi
Hari kerja : 312 hari (365 hari- 53 hari minggu )
Cuti bersama : 8 hari
Pendidikan/pelatihan/izin : 10 hari
Hari libur nasional : 16 hari
Hari kerja efektif : 217 hari (312 hari - 8 hari - 10 hari - 16
hari)
Waktu kerja perhari : 360 menit (6 jam)
Waktu istirahat : 60 menit
Waktu kerja efektif perhari : 360 menit – 60 menit = 300 menit
Waktu kerja pertahun : 300 menit x 217 hari = 65.100 menit
Tabel. Kebutuhan SDM Asisten Apoteker Apotek Rawat Inap Neurologi
1. Shift pagi (08.00- 14.00)
No. Uraian Beban SKR WPT Hari Kerja WPT/Tahun
Tugas Tugas /Hari /Tahun
Pelayanan Resep Pasien Non Racikan
1. Visite 22 5 110 217 hari 23.870 menit
pasien Menit/ menit
pasien
50
2. Etiket 22 3 Menit/ 66 menit 217 hari 14.322 menit
pasien pasien
3. Penyiap dan 22 10 220 217 hari 47.740 menit
cek ulang pasien Menit/ menit
pasien
4. Penyerahandan 22 5 menit/ 110 217 hari 23.870 menit
PIO pasien pasien menit
Pelayanan Resep Pasien Racikan
1. Visite 22 5 110 217 hari 23.870 menit
pasien menit/ menit
pasien
2. Etiket 22 3 66 menit 217 hari 14.322 menit
pasien menit/
pasien
3. Penyiapan dan 22 10 220 217 hari 47.740 menit
cek ulang pasien menit/ menit
pasien
4. Penyerahan 22 5 110 217 hari 23.870 menit
dan PIO pasien menit/ menit
pasien
5. Penyiapan 22 10 220 217 hari 47.740 menit
injeksi pasien menit/ menit
pasien
51
6. Mengecek 22 6 132 217 hari 28.644 menit
dan pasien menit/ menit
mengisi pasien
status
pasien
7. Menyusun 22 10 220 217 hari 47.740 menit
laporan pasien menit/ menit
jumlah pasien
pasien
8. Menyusun - 3 6 menit 12 bulan 2.160 menit
laporan jam/bu
obat lan
bulanan
9. Melaksanakan - 2 jam/ 17 menit 48 minggu 5.760 menit
kegiatan minggu
distribusi obat
dari gudang ke
depo
10 Menyusun obat - 1 jam/ 8,5 menit 48 minggu 2.880 menit
pada rak-rak minggu
obat
11. Mengisi kartu - 3 6 menit 12 bulan 2.160 menit
stok jam/bul
an
52
12. Melaksanaka n - 48 96 menit 12 bulan 34.560 menit
stock opname jam/bu
lan
13. Melakukan 22 10 220 217 hari 47.740 menit
entry KIO pasien menit/ menit
setiap pasien pasien
pulang
14. Menyiapkan 22 10 220 217 hari 47.740 menit
obat pulang pasien menit/ menit
pasien pasien
15. Waktu tidak - 3 jam/ 25,5 48 minggu 8.640 menit
terduga minggu menit
1.677 385.566
Jumlah menit menit
❖ Jumlah kebutuhan asisten apoteker untuk apotek rawat inap neurologi
(limpapeh) :
waktu penyelesaian tugas/ hari
Kebutuhan SDM = × 1 orang
waktu kerja efektif/ hari
1.677 menit / hari
= × 1 orang
300 menit/ hari
= 5,59 orang
(dibulatkan menjadi 6 orang )
53
❖ Jumlah kebutuhan asisten apoteker untuk apotek rawat inap neurologi
(limpapeh) :
waktu penyelesaian tugas/ tahun
Kebutuhan SDM = × 1 orang
waktu kerja efektif/ tahun
385.566 menit / tahun
= × 1 orang
65.100 menit/ tahun
= 5,922 orang
(dibulatkan menjadi 6 orang )
2. Shift sore (14.00-20.00)
No. Uraian Beban SKR WPT Hari Kerja WPT/Tahun
Tugas Tugas /Hari /Tahun
Pelayanan Resep Pasien Non Racikan
1. Visite 22 5 110 217 hari 23.870 menit
pasien Menit/ menit
pasien
2. Etiket 22 3 Menit/ 66 menit 217 hari 14.322 menit
pasien pasien
3. Penyiap dan 22 10 220 217 hari 47.740 menit
cek ulang pasien Menit/ menit
pasien
4. Penyerahandan 22 5 menit/ 110 217 hari 23.870 menit
PIO pasien pasien menit
Pelayanan Resep Pasien Racikan
1. Visite 22 5 110 217 hari 23.870 menit
54
pasien menit/ menit
pasien
2. Etiket 22 3 66 menit 217 hari 14.322 menit
pasien menit/
pasien
3. Penyiapan dan 22 10 220 217 hari 47.740 menit
cek ulang pasien menit/ menit
pasien
4. Penyerahan 22 5 110 217 hari 23.870 menit
dan PIO pasien menit/ menit
pasien
5. Penyiapan 22 10 220 217 hari 47.740 menit
injeksi pasien menit/ menit
pasien
6. Mengecek 22 6 132 217 hari 28.644 menit
dan pasien menit/ menit
mengisi pasien
status
pasien
7. Menyusun 22 10 220 217 hari 47.740 menit
laporan pasien menit/ menit
jumlah pasien
pasien
55
8. Menyusun - 3 6 menit 12 bulan 2.160 menit
laporan jam/bu
obat lan
bulanan
9. Melaksanakan - 2 jam/ 17 menit 48 minggu 5.760 menit
kegiatan minggu
distribusi obat
dari gudang ke
depo
10 Menyusun obat - 1 jam/ 8,5 menit 48 minggu 2.880 menit
pada rak-rak minggu
obat
11. Mengisi kartu - 3 6 menit 12 bulan 2.160 menit
stok jam/bul
an
12. Melaksanaka n - 48 96 menit 12 bulan 34.560 menit
stock opname jam/bu
lan
13. Melakukan 22 10 220 217 hari 47.740 menit
entry KIO pasien menit/ menit
setiap pasien pasien
pulang
14. Menyiapkan 22 10 220 217 hari 47.740 menit
obat pulang pasien menit/ menit
56
pasien pasien
15. Waktu tidak - 3 jam/ 25,5 48 minggu 8.640 menit
terduga minggu menit
1.677 385.566
Jumlah menit menit
❖ Jumlah kebutuhan asisten apoteker untuk apotek rawat inap neurologi
(limpapeh) :
waktu penyelesaian tugas/ hari
Kebutuhan SDM = × 1 orang
waktu kerja efektif/ hari
1.677 menit / hari
= × 1 orang
300 menit/ hari
= 5,59 orang
(dibulatkan menjadi 6 orang )
❖ Jumlah kebutuhan asisten apoteker untuk apotek rawat inap neurologi
(limpapeh) :
waktu penyelesaian tugas/ tahun
Kebutuhan SDM = × 1 orang
waktu kerja efektif/ tahun
385.566 menit / tahun
= × 1 orang
65.100 menit/ tahun
= 5,922 orang
(dibulatkan menjadi 6 orang )
57
3.2 Perhitungan Sumber Daya Manusia Apotek Rawat Jalan
3.2.1 Apoteker Rawat Jalan
Hari kerja : 260 hari (365 hari- 52 hari sabtu - 53 hari
minggu )
Cuti Bersama : 8 hari
Pendidikan/pelatihan/izin : 10 hari
Hari libur nasiona : 16 hari
Hari kerja efektif : 226 hari (260 hari - 8 hari - 10 hari - 16 hari)
Waktu kerja perhari : 480 menit (8 jam)
Waktu istirahat : 60 menit
Waktu kerja efektif perhari : 480 menit – 60 menit = 420 menit
Waktu kerja pertahun : 420 menit x 226 hari = 94.920 menit
Tabel. Kebutuhan SDM Apoteker Apotek Rawat Jalan
No. Uraian Beban SKR WPT Hari Kerja WPT/Tahun
Tugas Tugas /Hari /Tahun
1. Membuat - 30 menit/ 1 menit 12 bulan 360 menit
pelaporan obat bulan
narkotika dan
psikotropika
2. Penyerahanobat 150 5 Menit/ 750 226 hari 169.500
dan pengecekan pasien pasien menit menit
ulang serta PIO
3. Melaksanakan - 12 Jam/ 24 menit 12 bulan 8.640 menit
58
stock opname bulan
4. Membuat - 30 menit/ 1 menit 12 bulan 360 menit
rekaputasi dan bulan
laporan
persediaan obat
dan BMHP
instalasifarmasi
5. Mengatasi 15 pasien/ 5 Menit/ 5 menit 12 bulan 900 menit
keluhan pasien bulan pasien
terkaitobat
781 179.760
Jumlah menit menit
❖ Jumlah kebutuhan apoteker untuk apotek rawat jalan :
waktu penyelesaian tugas/ hari
Kebutuhan SDM = × 1 orang
waktu kerja efektif/ hari
781 menit / hari
= × 1 orang
420 menit/ hari
= 1,859 orang
(dibulatkan menjadi 2 orang )
❖ Jumlah kebutuhan apoteker untuk apotek rawat jalan :
waktu penyelesaian tugas/ tahun
Kebutuhan SDM = × 1 orang
waktu kerja efektif/ tahun
179. 760 menit / tahun
= × 1 orang
94.920 menit/ tahun
= 1,893 orang
(dibulatkan menjadi 2 orang )
59
3.2.2 Asisten Apoteker Rawat Jalan
Hari kerja : 312 hari (365 hari- 53 hari minggu )
Cuti bersama : 8 hari
Pendidikan/pelatihan/izin : 10 hari
Hari libur nasional : 16 hari
Hari kerja efektif : 217 hari (312 hari - 8 hari - 10 hari - 16
hari)
Waktu kerja perhari : 360 menit (6 jam)
Waktu istirahat : 60 menit
Waktu kerja efektif perhari : 360 menit – 60 menit = 300 menit
Waktu kerja pertahun : 300 menit x 217 hari = 65.100 menit
Tabel. Kebutuhan SDM Asisten Apoteker Apotek Rawat Jalan
1. Shift pagi
No. Uraian Beban SKR WPT Hari Kerja WPT/Tahun
Tugas Tugas /Hari /Tahun
1. Penerimaan 100 5 menit 500 226 hari 113.000
resep + skrining pasien /pasien menit menit
resep + resep
+ input + etiket
2. Penyiapan obat 85 5 Menit 425 226 hari 96.050 menit
non racikan pasien /pasien menit
3. Penyiapan obat 15 15 menit 225 226 hari 50.850 menit
60
racikan pasien /pasien menit
4. Mengisi kartu - 1 jam/ hari 60 menit 226 bulan 13.560 menit
persediaan obat
5. Melakukan 15 pasien 5 Menit 5 menit 12 bulan 900 menit
stock opname /bulan /pasien
6. Melaksanakan - 3 jam 25 menit 48 minggu 8.640 menit
kegiatan /minggu
distribusi obat
dari gudang ke
depo
7. Penyusunan - 2 jam 17 menit 48 minggu 5.760 menit
obat setelah /minggu
distribusi obat
8. Dinas sore dan - 18 jam 1.080 226 hari 244.080
malamIGD /hari menit menit
9. Membuat 4 jam 240 226 hari 54.240 menit
rekapitulasi dan /hari menit
menyusun
laporan
pengeluaran
obat di apotek
rawatjalan
10. Penyusunan 1 jam 60 menit 226 hari 13.560 menit
obat harian /hari
61
2.637 600.640
Jumlah menit menit
❖ Jumlah kebutuhan asisten apoteker untuk apotek rawat jalan :
waktu penyelesaian tugas/ hari
Kebutuhan SDM = × 1 orang
waktu kerja efektif/ hari
2.637 menit / hari
= × 1 orang
300 menit/ hari
= 8,79 orang
(dibulatkan menjadi 9 orang )
❖ Jumlah kebutuhan asisten apoteker untuk apotek rawat jalan :
waktu penyelesaian tugas/ tahun
Kebutuhan SDM = × 1 orang
waktu kerja efektif/ tahun
600.640 menit / tahun
= × 1 orang
65.100 menit/ tahun
= 9,226 orang
(dibulatkan menjadi 10 orang)
2. Shift sore
No. Uraian Beban SKR WPT Hari Kerja WPT/Tahun
Tugas Tugas /Hari /Tahun
1. Penerimaan 25 5 menit 125 226 hari 28.250 menit
resep + skrining pasien /pasien menit
resep + resep
+ input + etiket
2. Penyiapan obat 20 5 Menit 100 226 hari 22.600 menit
62
non racikan pasien /pasien menit
3. Penyiapan obat 5 pasien 15 menit 75 menit 226 hari 16.950 menit
racikan /pasien
4. Mengisi kartu - 1 jam/ hari 60 menit 226 bulan 13.560 menit
persediaan obat
5. Melakukan 15 pasien 5 Menit 5 menit 12 bulan 900 menit
stock opname /bulan /pasien
6. Melaksanakan - 3 jam 25 menit 48 minggu 8.640 menit
kegiatan /minggu
distribusi obat
dari gudang ke
depo
7. Penyusunan - 2 jam 17 menit 48 minggu 5.760 menit
obat setelah /minggu
distribusi obat
8. Dinas sore dan - 18 jam 1.080 226 hari 244.080
malamIGD /hari menit menit
9. Membuat 4 jam 240 226 hari 54.240 menit
rekapitulasi dan /hari menit
menyusun
laporan
pengeluaran
obat di apotek
rawatjalan
63
10. Penyusunan 1 jam 60 menit 226 hari 13.560 menit
obat harian /hari
1.787 408.540
Jumlah menit menit
❖ Jumlah kebutuhan asisten apoteker untuk apotek rawat jalan :
waktu penyelesaian tugas/ hari
Kebutuhan SDM = × 1 orang
waktu kerja efektif/ hari
1.787 menit / hari
= × 1 orang
300 menit/ hari
= 5,956 orang
(dibulatkan menjadi 6 orang )
❖ Jumlah kebutuhan asisten apoteker untuk apotek rawat jalan :
waktu penyelesaian tugas/ tahun
Kebutuhan SDM = × 1 orang
waktu kerja efektif/ tahun
408.540 menit / tahun
= × 1 orang
65.100 menit/ tahun
= 6,275 orang
(dibulatkan menjadi 7 orang )
3. Shift malam
No. Uraian Beban SKR WPT Hari Kerja WPT/Tahun
Tugas Tugas /Hari /Tahun
1. Penerimaan 25 5 menit 125 226 hari 28.250 menit
resep + skrining pasien /pasien menit
resep + resep
+ input + etiket
64
2. Penyiapan obat 20 5 Menit 100 226 hari 22.600 menit
non racikan pasien /pasien menit
3. Penyiapan obat 5 pasien 15 menit 75 menit 226 hari 16.950 menit
racikan /pasien
4. Mengisi kartu - 1 jam/ hari 60 menit 226 bulan 13.560 menit
persediaan obat
5. Melakukan 15 pasien 5 Menit 5 menit 12 bulan 900 menit
stock opname /bulan /pasien
6. Melaksanakan - 3 jam 25 menit 48 minggu 8.640 menit
kegiatan /minggu
distribusi obat
dari gudang ke
depo
7. Penyusunan - 2 jam 17 menit 48 minggu 5.760 menit
obat setelah /minggu
distribusi obat
8. Dinas sore dan - 18 jam 1.080 226 hari 244.080
malamIGD /hari menit menit
9. Membuat 4 jam 240 226 hari 54.240 menit
rekapitulasi dan /hari menit
menyusun
laporan
pengeluaran
obat di apotek
65
rawatjalan
10. Penyusunan 1 jam 60 menit 226 hari 13.560 menit
obat harian /hari
1.787 408.540
Jumlah menit menit
❖ Jumlah kebutuhan asisten apoteker untuk apotek rawat jalan :
waktu penyelesaian tugas/ hari
Kebutuhan SDM = × 1 orang
waktu kerja efektif/ hari
1.787 menit / hari
= × 1 orang
300 menit/ hari
= 5,956 orang
(dibulatkan menjadi 6 orang )
❖ Jumlah kebutuhan asisten apoteker untuk apotek rawat jalan :
waktu penyelesaian tugas/ tahun
Kebutuhan SDM = × 1 orang
waktu kerja efektif/ tahun
408.540 menit / tahun
= × 1 orang
65.100 menit/ tahun
= 6,275 orang
(dibulatkan menjadi 7 orang )
66
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 Hasil
Berdasarkan hasil analisis kebutuhan tenaga kefarmasian dengan metode
WISN di Instalasi Farmasi Rumah Sakit Otak Dr. Drs. M. Hatta Bukittinggi
diketahui data sebagai berikut :
No Standar SDM SDM yang ada
Jabatan (Metode WISN) di RS Otak
Bukittinggi
Perhari Pertahun
1. Apoteker Rawat 2 2 3
Inap neurologi
(Limpapeh)
2. Tenaga Teknis 6 6 6
Kefarmasian
Rawat Inap
neurologi
(Limpapeh) shift
pagi
4. Tenaga Teknis 6 6 6
Kefarmasian
Rawat Inap
neurologi
(Limpapeh) shift
sore
5. Apoteker Rawat 2 2 1
Jalan
6. Tenaga Teknis 9 10 2
Kefarmasian
Rawat Jalan shift
pagi
7. Tenaga Teknis 6 7 2
Kefarmasian
Rawat Jalan shift
sore
8. Tenaga Teknis 6 7 2
Kefarmasian
Rawat Jalan shift
malam
67
4.2 Pembahasan
Apotek rawat inap merupakan sub unit instalasi farmasi yang melaksanakan
pelayanan penunjang. Apotek rawat inap khusus menangani pendistribusian obat
pada pasien rawat inap, baik pasien umum atau BPJS. Sedangkan di apotek rawat
jalan merupakan sub unit instalasi farmasi yang menangani pendistribusian obat
pada pasien yang mengontrol pada masa tertentu.
Untuk menghitung tenaga kerja yang dibutuhkan dalam instalasi farmasi di
apotek dapat digunakan metode WISN. Metode WISN adalah alat manajemen
sumber daya manusia yang digunakan untuk menentukan berapa banyak tenaga
kesehatan jenis tertentu yang diperlukan untuk mengatasi bebas kerja yang
diberikan dan menilai tekanan beban kerja tenaga kesehatan difasilitas tersebut
(WHO,2010)
Dari data yang didapatkan dengan metode WISN diketahui semua
kebutuhan SDM DI RSOMH sebagian besar telah sesuai. Dan terdapat
kekurangan Apoteker dan Tenaga Teknis Kefarmasian di apotek rawat jalan,
sehingga perlu penambahan SDM untuk mencukupi kekurangan tersebut.
Berdasarkan perhitungan BOR yang bertujuan untuk mengetahui persentase
pemakaian tempat tidur di rumah sakit dalam satu waktu didapat data 65 %, hasil
tersebut menunjukkan bahwa RSOMH memenuhi nilai ideal untuk indikator ini
dengan rentang 60-85%.
68
BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN
5.1 Kesimpulan
Dari data pada tabel tersebut dapat disimpulkan bahwa kebutuhan SDM di
Rumah Sakit Otak [Link]. M. Hatta Bukittinggi sebagian besar telah sesuai
dengan analisis WISN, dan terdapat kekurangan Apoteker dan Tenaga Teknis
Kefarmasian di apotek rawat jalan, sehingga perlu penambahan SDM untuk
mencukupi kekurangan tersebut.
5.2 Saran
Dari metode perhitungan WISN Rumah Sakit Otak Dr. Drs. M. Hatta
Bukittinggi terdapat kekurangan apoteker dan tenaga teknis kefarmasian di
Apotek Rawat Jalan, maka diharapkan kepada pimpinann di Rumah Sakit Otak
Dr. Drs. M. Hatta Bukittinggi untuk menambah apoteker dan tenaga teknis
kefarmasian pada posisi tersebut. Hal ini sesuai dengan Permenkes No. 3 Tahun
2020 mengenai kebutuhan apoteker dan tenaga teknis kefarmasian di Rumah
Sakit.
69
DAFTAR PUSTAKA
Adawiyah & Sukmawati, 2013. Analisis Beban Kerja Sumber Daya Manusia
dalam Aktivitas Produksi Komoditi Sayuran Selada. Bogor: Jurnal
Manajemen dan Organisasi, IV(2).
GTZ, 2009. Perlengkapan Kerja WISN: Perlengkapan Untuk Pengembangan
Indikator Beban Kerja Petugas (WISN) Untuk Memperbaiki Perencanaan
dan Manajemen Tenaga Kerja Kesehatan dalam Sistem Kesehatan yang
di Desentralisasi. Jakarta: Gedung Kementerian Kesehatan
Kemenkes RI. 2014. Profil Kesehatan Indonesia Tahun 2014. Jakarta:
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia (RI)
Koesomowidjojo, Suci ,2017. Panduan Praktis Menyusun Analisis Beban
Kerja. Jakarta: Raih Asa Sukses.
Permenkes, 2016. Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 72
Tahun 2016 tentang Standar Pelayanan Kefarmasian di Rumah Sakit.
Jakarta : Kementeria Kesehatan Republik Indonesia
Rahcmawati, Ike Kusdyah. 2008. Manajemen Sumber Daya Manusia.
Yogyakarta
Rusli. 2016. Farmasi Rumah Sakit dan Klinik. Jakarta : Kementerian
Kesehatan Republik Indonesia.
Vanchapo, A. R. (2020). Beban Kerja dan Stres Kerja. Pasuruan: CV. Penerbit
Qiara media.
70