PEMERINTAH KABUPATEN PENAJAM PASER UTARA
DINAS PEKERJAAN UMUM DAN TATA RUANG
Alamat : Jl. Provinsi Km. 09 Penajam 76141Kalimantan Timur Telp. (0542)
7211451
.
RENCANA KERJA DAN SYARAT – SYARAT
( RKS )
PERENCANAAN
JEMBATAN SESULU – MATA AIR
KONTRAK NOMOR : 625/638/DPU-PR-BM/IV/2023
TANGGAL : 26 APRIL 2023
NILAI KONTRAK : RP. 247.086.000,00
SUMBER DANA : APBD KABUPATEN PENAJAM PASER UTARA
TAHUN ANGGARAN : 2023
MASA PELAKSANAAN : 60 (ENAM PULUH) HARI KALENDER
CV. BUANA ENGINEERING CONSULTANT
JL. JAKARTA BLOK A 1 NO. 30 LOA BAKUNG
TELP. 0541 – 272856 SAMARINDA KALTIM
PERENCANAAN JEMBATAN SESULU - MATA AIR
SYARAT-SYARAT TEKNIS DAN
SPESIFIKASI TEKNIS PEKERJAAN (RKS)
PEKERJAAN : PERENCANAAN JEMBATAN SESULU – MATA AIR
LOKASI : KECAMATAN WARU
ANGGARAN : APBD [Link] PASER UTARA
TA HU N : 2023
SPESIFIKASI UMUM
1. PET U NJU K DA N U RA IA N U MU M
1 .1 Dalam S pesifik asi Tek nis pek er jaan ini diur aik an t ent ang
ling k up pek er jaan, bahan, per alat an, per at ur an dan t ata
car a k er ja ser t a lain - lain y ang diang g ap per lu.
1 .2 Pembo r o ng di wajibk an mempelajar i selur uh isi be st e k
dan g ambar r encana.
1 .3 Pembo r o ng di wajibk an meny esua ik an ant ar a best ek ,
g ambar r encana deng an k o ndisi lapang an pek er j aan.
1 .4 Bila per bedaan ant ar a g ambar r encana dan best ek ser t a
ant ar a g ambar r encana, best ek den g an lapang an, ma k a
k o nt r ak to r diwajibk an unt uk melapo r dan
meng k o nsult asi deng an peng awas at au Dir ek si.
1 .5 Best ek dan g amba r r encana mer upak an suat u k esat ua n
deng an k o nt r ak y ang mer upak an lampir an.
2. LINGKUP PEKERJAAN
Meliputi pekerjaan:
2.1. Pekerjaan Persiapan
2.2. Pekerjaan Tanah dan Pondasi
2.3. Pekerjaan Beton Bertulang
2.4. Pekerjaan Badan Jembatan & Pengaman
RENCANA KERJA DAN SYARAT-SYARAT (RKS) HAL. 1
PERENCANAAN JEMBATAN SESULU - MATA AIR
3. PERATURAN TEKNIS JEMBATAN YANG DIGUNAKAN
Kecuali ditentukan lain dalam syarat teknis ini, berlaku dan mengikat
ketentuanketentuan tersebut di bawah ini termasuk segala perubahan dan
tambahannya:
Perencanaan Struktur Jembatan :
➢ Peraturan Perencanaan Jembatan (Bridge Design Code) BMS 92
➢ Manual Perencanaan Jembatan (Bridge Design Manual) BMS 92
➢ Tata Cara Perencanaan Pembebanan Jembatan Jalan Raya SNI 03-1725-
1989
➢ Perencanaan Beban Gempa untuk Jembatan Pd-T-04-2004-B
Perencanaan Jalan Pendekat (Oprit) :
➢ Perencanaan Timbunan Jalan Pendekat Jembatan Pd-T-11-2003
➢ Tata Cara Perencanaan Geometrik Jalan Antar Kota No. 038/T/BM/1997
➢ Pedoman Perencanaan Tebal Perkerasan Lentur Pt-T-01-2002-B
Rencana Anggaran Biaya :
➢ Pedoman Analisa Harga Satuan No. 028/T/BM/1995
Apabila penjelasan dalam Syaratsyarat Teknis tidak sempuma atau belum
lengkap sebagaimana ketentuan dan syarat dalam peraturan diatas, maka
Kontraktor wajib mengikuti ketentuan peraturanperaturan yang disebutkan di
atas
4. SYARAT- SYARAT BAHAN
4.1. Air
4.1.1 Syarat syarat air untuk adukan/campuran
a) Air yang digunakan untuk bahan adukan beton, adukan pasangan
dan grouting, bahan pencuci agregat, dan untuk curing beton, harus
air tawar yang bersih dari bahanbahan yang berbahaya bagi
penggunaannya seperti minyak, alkali, sulfat, bahan organis, garam,
silt (lanau). Kadar Silt (lanau) yang terkandung dalam air tidak boleh
lebih dari 2 % dalam perbandingan beratnya. Kadar sulfat maximum
yang diperkenankan adalah 0.5 % atau 5 gr/lt, sedangkan kadar
chloor maximum 1.5 % atau 15 gr/lt, dan memenuhi syaratsyarat
pelaksanaan yang ditentukan dalam SNI 0368172002.
RENCANA KERJA DAN SYARAT-SYARAT (RKS) HAL. 2
PERENCANAAN JEMBATAN SESULU - MATA AIR
b) Kontraktor tidak diperkenankan menggunakan air dari rawa, sumber
air yang berlumpur, ataupun air laut. Tempat pengambilan harus dapat
menjaga. kemungkinan terbawanya materialmaterial yang tidak
diinginkan tadi. Sedikitnya harus ada jarak vertikal 0.5 meter dari
dari permukaan atas air kesisi tempat pengambilan tadi.
c) Penggunaan air kerja harus mendapat persetujuan pengawas.
d) Bila akan dipakai air bukan berasal dari air minum dan mutunya
meragukan, maka Direksi/Konsultan Pengawas dapat minta kepada
Pemborong untuk mengadakan penyelidikan air secara laboratoris
dan biaya penyelidikan tersebut atas tanggungan Pemborong.
e) Apabila diadakan perbandingan test beton antara beton yang
diaduk dengan aquadest dibandingkan dengan beton yang diaduk
menggunakan air dari suatu sumber, dan hasilnya menunjukkan
indikasi ketidak pastian dalam mutu beton walaupun telah
digunakan semen yang sama, maka air dari sumber tadi tidak dapat
dipakai bila hasil perbandingan test tadi menunjukkan hargaharga
yang berbeda lebih kecil dari 10 persen. Test tadi dapat
dibandingkan dari mutu kekuatan, dan juga dari waktu
pengerasannya. Dalam keadaan ditolak ini, Pemborong diwajibkan
mencari sumber lain yang lebih baik dan dapat diterima dan disetujui
Direksi/Konsultan Pengawas.
4.2. Pasir
[Link]syarat pasir yang digunakan yaitu:
a. Pasir harus bersih, bila diuji memakai larutan pencuci khusus, tinggi
endapan pasir yang kelihatan dibandingkan dengan tinggi seluruh
endapan tidak kurang dari 70%.
b. Kandungan bagian yang lewat ayakan 0,063 mml tidak lebih dari
5% dari berat (kadar lumpur).
c. Angka kehalusan fineness modulus terletak antara 2,2 3,2 bila diuji
memakai rangkaian ayakan dengan mata ayakan berukuran berturut
turut O, 160 ,315, 0,631,252,5510 mm dengan fraksi yang lewat
ayakan 0,3mml minimal 15 % dari berat.
d. Pasir tidak boleh mengandung zatzat organik yang dapat
mengurangi mutu beton. Untuk itu bila direndam dalam larutan 3%
NaOH, cairan di atas endapan tidak boleh lebih gelap dari wama
larutan pembanding.
e. Kekelan terhadap larutan Na2SO4 atau MgSO4 : \
RENCANA KERJA DAN SYARAT-SYARAT (RKS) HAL. 3
PERENCANAAN JEMBATAN SESULU - MATA AIR
• Terhadap larutan Na2SO4.
• Fraksi yang hancur tidak lebih dari 12% dari berat.
• Terhadap larutan MgSO4.
• Fraksi yang hancur tidak lebih dari 10% dari berat.
f. Pasir untuk keperluan urugan dan pasir pasang penempatannya
harus terpisah.
[Link] beberapa jenis pasir antara lain :
1. Pasir Urug
Pasir untuk pengurukan, peninggian, dan lainlain tujuan, halus dan
keras atau memenuhi syaratsyarat pelaksanaan yang ditentukan
dalam SNI 0341411996.
▪ Butiranbutiran halus tajam dan keras, tidak dapat dihancurkan
dengan jari. Kadar lumpur tidak boleh melebihi 5%.
▪ Butiranbutirannya harus dapat melalui ayakan berlubang 3 mm
persegi. Pasir laut tidak boleh digunakan.
▪ Pasir untuk pengurugan, peninggian dan lainlain tujuan, harus
bersih dan keras. Pasir laut untuk maksudmaksud tersebut dapat
digunakan asal dicuci terlebih dahulu dan mendapat izin dari
Direksi Pekerjaan.
2. Pasir Pasang
Pasir untuk adukan pasangan, adukan plesteran dan beton bitumen,
hams memenuhi syaratsyarat pelaksanaan yang ditentukan dalam
SNI 0341411996.
▪ Butiranbutiran harus tajam dan keras, tidak dapat dihancurkan
dengan jari. Kadar lumpur tidak boleh melebihi 5%.
▪ Butiranbutirannya harus dapat melalui ayakan berlubang 3 mm
persegi. Pasir laut tidak boleh digunakan.
▪ Pasir untuk adukan pasangan, adukan plesteran dan beton
bitumen harus memenuhi syaratsyarat sebagai berikut :
a. Butiranbutiran harus tajam dan keras, tidak dapat dihancurkan
dengan jari.
b. Kadar lumpur tidak boleh lebih dari 5%.
c. Butiranbutirannya harus dapat melalui ayakan berlubang
persegi 3 mm.
d. Pasir laut tidak boleh dipergunakan.
RENCANA KERJA DAN SYARAT-SYARAT (RKS) HAL. 4
PERENCANAAN JEMBATAN SESULU - MATA AIR
3. Pasir Beton
Pasir untuk pekerjaan beton harus memenuhi syaratsyarat yang
ditentukan dalam PBI (1 971 ) diantaranya :
▪ Pasir harus terdiri dari butirbutir yang bersih dan terbebas dari
bahanbahan organik, lumpur dan sebagainya
▪ Butirbutir harus tajam, keras, tidak dapat dihancurkan dengan
jari dan pengaruh cuaca.
▪ Kadar lumpur tidak boleh lebih dari 5 %.
▪ Pasir harus terdiri dari butiranbutiran yang beraneka ragam
besarnya,
▪ apabila diayak dengan ayakan ISO maka sisasisa butiran di atas
ayakan 4mml, minimal 2% dari berat sisa, butiranbutiran diatas
ayakan 1 mm minimal 10% dari berat sisa, butiranbutiran diatas
0,25mml berkisar antara 80% sampai dengan 90% dari berat sisa.
Pasir laut tidak boleh dipergunakan Pasir harus bersih, bila diuji
memakai larutan pencuci khusus, tinggi endapan pasir yang
kelihatan dibandingkan dengan tinggi seluruh endapan tidak
kurang dari 70%. Kadar lulmpur tidak boleh melebihi 5%.
4.3. Koral Beton/Split
a. Digunakan koral yang bersih, bermutu baik, tidak berpori serta
mempunyai gradasi kekerasan sesuai dengan syaratsyarat
pelaksanaan PBI (1971 ).
b. Butiranbutiran split dapat melalui ayakan berlubang persegi 76
mm dan tertinggal di atas ayakan berlubang 20 mm.
c. Koral/Split hitam mengkilap keabuabuan.
4.4. Portland Cement (PC)
4.4.1 Istilah dan Definisi
Portland Cement (PC) bahan pengikat hidrolis basil penggilingan bersama
sama terak semen portland dan gips dengan satu atau lebih bahan
anorganik, atau basil pencampuran antara bubuk semen portland dengan
bubuk bahan anorganik lain. Bahan anorganik tersebut antara lain terak
tanur tinggi (blast furnace slag), pozolan, senyawa silikat, batu kapur,
dengan kadar total bahan anorganik 6% 35 % dari massa semen Portland.
Standar ini menetapkan spesifikasi teknis untuk Portland Cement (PC)
yang digunakan konstruksi umum harus PC sejenis (NI8) dan masih
RENCANA KERJA DAN SYARAT-SYARAT (RKS) HAL. 5
PERENCANAAN JEMBATAN SESULU - MATA AIR
dalam kantong utuh atau baru serta memenuhi persyaratan yang
ditentukan dalam SNI 1520492004.
a. Bila digunakan Portland Cement (PC) yang telah disimpan lama harus
diadakan pengujian terlebih dahulu oleh laboratorium yang
berkompeten.
b. Dalam pengangkutan Portland Cement (PC) yang telah disimpan lama
harus dijaga agar tidak menjadi lembab, dan penempatannya harus
ditempat yang kering.
c. Portland Cement (PC) yang sudah membatu (menjadi keras) tidak
boleh dipakai.
4.4.2 Syarat Mutu Semen (PC)
a. Syarat kimia :
untuk semen Portland, SO3 maksimum 4,0 %.
b. Syarat Fisika :
Kehalusan dengan alat blaine min. 280 m2/kg
Kekekalan bentuk dengan autoclave:
▪ pemuaian maks. 0,80 %
▪ penyusutan maks. 0,20 %
Waktu pengikatan dengan alat vicat:
▪ pengikatan awal
▪ pengikatan akhir
4.5. Besi Tulangan
4.5.1 Berdasarkan bentuknya, baja tulangan beton dibedakan menjadi 2
(dua) jenis yaitu baja tulangan beton polos dan baja tulangan beton
sirip (ulir). Baja tulangan polos adalah baja tulangan beton
berpenampang bundar dengan permukaan rata tidak bersirip,
disingkat (BjTP). Baja tulangan beton sirip adalah baja tulangan beton
dengan bentuk khusus yang permukaannya memiliki sirip melintang
dan rusuk memanjang yang dimaksudkan untuk meningkatkan daya
lekat dan guna menahan gerakan membujur dari batang secara
relatif terhadap beton, disingkat (BjTS).
4.5.2 Syaratsyarat Besi Tulangan sebagai berikut:
▪ Baja tulangan beton tidak boleh mengandung serpihan, lipatan,
retakan, gelombang, dan hanya diperkenankan berkarat ringan
RENCANA KERJA DAN SYARAT-SYARAT (RKS) HAL. 6
PERENCANAAN JEMBATAN SESULU - MATA AIR
pada permukaan. Untuk baja tulangan beton polos, permukaan
batang baja tulangan harus rata tidak bersirip. Untuk baja tulangan
beton sirip, permukaan batang baja tulangan beton sirip harus
bersirip teratur. Setiap batang diperkenankan mempunyai rusuk
memanjang yang searah dan sejajar dengan sumbu batang, serta
siripsirip lain dengan arah melintang sumbu batang. Khusus
untuk tebal selimut beton, dudukan harus cukup kuat dan
jaraknya sedemikian sehingga tulangan tidak melengkung dan
beton penutup tidak kurang dari yang diisyaratkan. Toleransi
yang diperkenankan untuk penyimpangan terhadap bidang
horizontalnya adalah 4 mm. Uji tarik dilakukan sesuai SNI 07
04081989, Cara uji tarik untuk logam, dengan batang uji sesuai
SNI 0703 711998, Batang uji tarik untuk bahan logam (batang
uji tarik no. 2 untuk diameter < 25 mm dan batang uji tarik no.
3 untuk diameter> 25 mm). untuk menghitung batas ulur dan
kuat tarik baja tulangan beton polos dan sirip digunakan nilai
luas penampang yang dihitung dari diameter nominal.
Sedangkan ujji lengkung dilakukan sesuai SNI 0704101989.
Adapun table sifatsifat mekanis sebagai berikut :
RENCANA KERJA DAN SYARAT-SYARAT (RKS) HAL. 7
PERENCANAAN JEMBATAN SESULU - MATA AIR
RENCANA KERJA DAN SYARAT-SYARAT (RKS) HAL. 8
PERENCANAAN JEMBATAN SESULU - MATA AIR
SPESIFIKASI TEKNIS
A. PEKERJAAN PERSIAPAN
1.1. Lingkup Pekerjaan
• Pembersihan lapangan sekeliling pekerjaan jembatan box culvert
• Pengukuran dan Pemasangan Bowplank
• Direksi Keet/ Barak Kerja
• Administrasi & Dokumentasi
• Papan Nama Proyek
• Pembersihan Akhir
1.2. Persyaratan Bahan
1) Untu kPengukuran bahanbahan dan peralatan : Meteran, water pass serta
peralatan dan patokpatok yang kuat yang diperlukan untuk pengukuran.
Semua peralatan ini hams dimiliki Pemborong dan hams selalu ada apabila
sewaktuwaktu memerlukan pemeriksaan.
2) Bahan bouwplank dipakai tiang kayu 5/7 cm dan papan ukuran 2/20 cm.
3) Papan Nama Proyek dipasang hams mengikuti peraturanperaturan
pemerintah setempat, sepenuhnya menjadi beban Pelaksana.
4) Untuk menampung air kerja disiapkan drum penampung, air harus
memenuhi kualitas yang ditentukan dalam SNI 0368172002.
1.3. Tata Cata Kerja Pelaksanaan
1) Pembersihan Lapangan, Pembersihan sekeliling bangunan dan
pembongkaran gedung lama meliputi pembersihan semua tanaman yang
tumbuh termasuk pembongkaran akarakar pohon yang diseluruh luas site
(lokasi pekerjaan), peralatan tanah /pembuatan terasering jika diperlukan.
Untuk pembongkaran gedung ditujukan khusus ruangan yang terkena
bongkaran sesuai dengan gambar bestek, Hasil bongkaran termasuk diatas
dibuang keluar lokasi pekerjaan.
2) Pengukuran, Penentuan lokasi bangunan atau penentuan duga/patok,
bangunan, j alan, land scaping dan lainlain
3) Pemasangan Bouwplank, Tiang Bouwplank harus terpasang kuat, Papan
ditekan lurus dan pada sisi atasnya dipasang waterpass (timbang air) dengan
sudutsudutnya harus siku.
4) PondokKerja, Untuk gudang dan bangsal kerja disewa sekitar lokasi
pekerjaan. Pengadaan air untuk melaksanakan pekerjaan.
RENCANA KERJA DAN SYARAT-SYARAT (RKS) HAL. 9
PERENCANAAN JEMBATAN SESULU - MATA AIR
5) Pengadaan air, untuk melaksanakan pekerjaan diambil dari sumber air
terdekat, kemudian ditampung dalam drumdrum yang telah disediakan.
6) Kebutuhan air ini harus disediakan dalam jumlah cukup selama
melaksanakan pekerjaan. Air harus memenuhi syarat yang tercantum dalam
PBI 1971 NI.2.
1. PEKERJAAN TANAH GALIAN / URUGAN
1.1 Lingkup Pekerjaan
Pekerjaan ini meliputi penyediaan dan pendayagunaan semua tenaga kerja,
bahan bahan, dan perlengkapan perlengkapan untuk semua pekerjaan
penggalian dan penimbunan kembali, untuk pekerjaan struktur jembatan sesuai
dengan peil/elevasi yang telah ditentukan.
1.2 Persyaratan Bahan
a) Dasar galian tanah sesuai dengan gambar atau sampai mencapai tanah
keras.
b) Untuk timbunan bekas galian pondasi, digunakan tanah bekas galian
pondasi.
c) Untuk timbunan bawah lantai digunakan tanah dan pasir pasang kualitas
baik.
d) Tanah timbunan dan pasir urugan harus bersih dari kotorankotoran dan
akarakar kayu, serta sampah lainnya.
e) Pengurugan dengan tanah timbun dilaksanakan lapis demi lapis supaya
padat.
1.3 Tata Cara Kerja Pelaksanaan
a) Sebelum digali pondasi buat tanda sesuai dengan petunjuk gambar.
b) Kemudian gali tanah dengan menggunakan alat atau sekop dan cangkul
hingga mencapai kedalaman yang telah ditentukan.
c) Bila keluar air pada lobang galian pondasi harus dipompa keluar
dengan menggunakan mesin pompa air.
d) Tanah urug ditimbun lapis demi lapis serta dipadatkan dengan Vibrator
Stempler.
e) Bila tanah urug sudah mencapai peil ketinggian yang diinginkan maka
tanah tersebut harus diratakan.
RENCANA KERJA DAN SYARAT-SYARAT (RKS) HAL. 10
PERENCANAAN JEMBATAN SESULU - MATA AIR
2. PEKERJAAN URUGAN PASIR
2.1 Lingkup Pekerjaan
Sebagai alas pengecoran rabat beton diberi urugan pasir seperti yang tertata
dalam gambar bestek. Pengurugan pasir dilaksanakan dengan cara
menebarkan, meratakan, dan memadatkan secara mekanik sampai diperoleh
ketebalan yang ketinggian yang sesuai dengan gambar.
Drugan pasir tidak boleh ditutup oleh konstruksi/ pekerjaan lain sebelum
disetujii oleh konsultan pengawas. Konsultan pengawas berhak membongkar
pekerjaan di atasnya bilamana urugan pasir tersebut belum disetujui olehnya.
Drugan pasir hams sesuai dengan gambar.
2.2 Persyaratan Bahan
a) Butiranbutiran hams tajam dan keras, tidak dapat dihancurkan dengan jari.
Kadar lumpur tidak boleh melebihi 5%.
b) Butiranbutirannya hams dapat melalui ayakan berlubang 3 mm persegi.
c) Pasir laut tidak boleh digunakan.
d) Pasir untuk adukan pasangan, adukan plesteran dan beton bitumen
harus memenuhi syaratsyarat sebagai berikut:
• Butiranbutiran harus tajam dan keras, tidak dapat dihancurkan dengan
jari.
• Kadar lumpur tidak boleh lebih dari 5%.
• Butiranbutirannya hams dapat melalui ayakan berlubang persegi 3 mml.
d. Pasir laut tidak boleh dipergunakan.
2.3 Tata Cara Kerja Pelaksanaan
a) Tebal Pasir urug
Jika tidak tercantum dalam gambar kerja, maka di bawah lantai kerja hams
diberi lapisan pasir urug tebal 5 cm padat. Pemadatan hams dilaksanakan
sehingga dapat menerima beban yang bekerja.
b) Cara Pemadatan
Pemadatan dilakukan dengan disiram air dan selanjutnya dipadat dengan
alat pemadat yang disetujui Konsultan MK. Pemadatan dilakukan hingga
mencapai tidak kurang dari 98% dari kepadatan optimum Laboratorium.
Pemadatan harus dilakukan pada kondisi galian yang memadai agar dapat
hasil kepadatan yang baik. Kondisi galian tersebut harus dipertahankan
RENCANA KERJA DAN SYARAT-SYARAT (RKS) HAL. 11
PERENCANAAN JEMBATAN SESULU - MATA AIR
sampai pekerjaan pemadatan selesai dilakukan. Pemadatan harus diulang
kembali jika keadaan tersebut di atas tidak memenuhi.
c) Air Pada Lokasi Pemadatan
Jika air tanah temyata menggenangi lokasi pemadatan, maka Kontraktor
wajib menyediakan Pompa dan dasar galian hams kering sebelum pasir urug
diletakkan. Kontraktor harus membuat rencana yang benar, agar air tanah
dapat dialirkan kelokasi yang lebih rendah dari dasar galian, misalnya
dengan membuat sumpit pada tempat tertentu.
d) Tanah di sekitar pasir urug
Kontraktor harus menjaga agar tanah disekitar lokasi tedak tercampur
dengan Pasir Urug. Jika pasir urug tersebut tercampur dengan tanah
lainnya, maka Kontraktor wajib mengganti pasir urug tesebut dengan bahan
lainnya yang bersih.
e) Persetujuan
Pekerjaan selanjutnya dapat dikerjakan, bilamana pekerjaan urugan tersebut
sudah mendapat persetujuan tertulis dari Konsultan MK.
3. PEKERJAAN COR BETON & BETON BERTULANG
3.1 Lingkup Pekerjaan
a) Lingkup Pekerjaan beton antara lain:
• Beton Cor Struktur Jembatan
• Beton Cor Struktur Lantai Jembatan
• Beton Cor Struktur Jalan
3.2 Persyaratan Bahan
a) Semen
• Digunakan Portland Cement Type I dan II menurut NI8 dan memenuhi S
400 menurut standar Cement Portland yang digariskan oleh SNI 152049
2004 dan ASTM C.15084.
• Semen yang sudah mengeras sebagian dan seluruhnya dalam satu zak
semen, tidak diperkenankan pemakaiannya sebagai bahan campuran.
• Penyimpanan harus sedemikian rupa sehingga terhindar dari tempat
semen yang lembab agar semen tidak cepat mengeras. Tempat
penyimpanan semen harus ditinggikan 30 cm dan tumpukan yang paling
tinggi 2 m. Setiap semen yang barn masuk harus dipisahkan dengan
RENCANA KERJA DAN SYARAT-SYARAT (RKS) HAL. 12
PERENCANAAN JEMBATAN SESULU - MATA AIR
semen yang telah ada (dengan menerapkan sistim FIFO) agar
pemakaian semen dapat dilakukan menurut urutan pengirim.
• Syaratsyarat lain seperti yang telah dijelaskan pada poin 4.4 di atas.
b) Pasir Beton
• Pasir beton harus berupa butir butir tajam dan keras, bebas dari bahan
bahan organik, lumpur dan sejenisnya serta memenuhi komposisi
butir serta kekerasan sesuai dengan syaratsyarat yang tercantum dalam
PBI (1971 ).
• Syaratsyarat lain seperti yang telah dijelaskan pada poin 4.2.2 di atas.
c) Kerikil
• Kerikil yang digunakan harus bersih dan bermutu baik, serta
mempunyai gradasi dan kekerasan sesuai yang disyaratkan oleh PBI (1971
).
• Timbunan kerikil dan pasir harus dipisahkan agar kedua jens material
tersebut tidak tercampur untuk menjamin adukan beton dengan
komposisi material yang akurat.
d) Air
• Air yang digunakan harus air tawar, tidak mengandung minyak, asam
alkali, garam, bahan bahan organik atau bahan bahan lain yang dapat
merusak beton atau baja tulangan. Dalam hal ini sebaiknya dipakai air
bersih yang dapat diminum yang disyaratkan dalam SNI 1520492004.
• Syaratsyarat lain seperti yang telah dijelaskan pada poin 4.1.1 di atas.
e) Mutu Beton
• Pemakaian jenis adukan beton, Jenis beton dengan mutu K225
digunakan untuk lantai terbuat dari beton
• Mutu beton dibuat dengan adukan 1 Pc : 2 Ps : 4 Kr
• Mutu beton untuk pekerjaan yang digunakan adalah berdasar pada Mix
Design dari laboratorium yang disepakati antara Kontraktor dan
Pemimpin Proyek.
• Hal tersebut diatas harus dibuktikan dengan contohcontoh kubus
beton sesuai menurut PBI 1971 Bab 4.7 dan SKSNI T 15 1991 03.
• Pengujian dilaksanakan setiap 5 m3 dan semua biaya pemeriksaan
tersebut ditanggung oleh Kontraktor.
• Uk:uran Kubus Beton sesuai dengan PBI (NI2) 1971 ditetapkan
memakai ukuran 15x15x 15 cm dan slinder 15 x 30 cm.
• Jika dianggap perlu Direksi bisa meminta pemeriksaan kubus untuk
suatu pekerjaan.
RENCANA KERJA DAN SYARAT-SYARAT (RKS) HAL. 13
PERENCANAAN JEMBATAN SESULU - MATA AIR
3.3 Tata Cara Kerja Pelaksanaan
a) Kecuali ditentukan lain dalam Rencana Kerja dan syaratsyarat ini, maka
sebagai pedoman tetap dipakai SK SNI T15.1991.03.
b) Sebelum melakukan pekerjaan ini pengawas lapangan diwajibkan
memeriksa gambar kerja, kondisi lapangan dan diadakan pengukuran.
c) Pemborong wajib melaporkan secara tertulis pada Direksi apabila ada
perbedaan yang didapat didalam gambar konstruksi dan gambar arsitektur.
d) Adukan Beton Pengakuan adukan beton dari tempat pengadukan dan
pengecoran harus dilakukan dengan cara yang disetujui oleh Direksi, yaitu :
• Tidak berakibat pemisahan dan kehilangan bahanbahan.
• Tidak terjadi perbedaan waktu yang menyolok antara pengikatan
beton yang sudah dicor dan yang akan dicor, dan nilai slump untuk
berbagai pekerjaan beton harus memenuhi SK SNI T1 5 .1991. 03.
e) Persiapan Pengecoran, Pengecoran beton hanya dapat dilaksanakan atas
persetujuan tertulis Direksi. Selama pengecoran berlangsung pekerja dilarang
berdiri dan berjalanjalan di atas penulangan atau bekisting. Untuk dapat
sampai ketempattempat yang sulit dicapai, harus digunakan papanpapan
berkaki yang tidak membebani tulangan dan dapat mempengaruhinya.
f) Pengecoran Beton
• Memberitahu Direksi Lapangan selambatlambatnya 24 jam sebelum
suatu pengecoran beton dilaksanakan. Persetujuan Direksi Lapangan
untuk mengecor beton berkaitan dengan pelaksanaan pekerjaan cetakan
dan pemasangan besi serta bukti bahwa Kontraktor dapat melaksanakan
pengecoran tanpa gangguan.
• Adukan beton tidak boleh dituang bila waktu sejak dicampumya air
pada semen dan agregat telah mencapai 1 jam dan waktu ini dapat
berkurang lagi jika Direksi Lapangan menganggap perlu berdasarkan
kondisi tertentu.
• Beton harus dicor sedemikian rupa sehingga menghindari terjadinya
pemisahan material (segregagation) dan perubahan letak tulangan.
• Semua pengecoran bagian dasar kontruksi beton menyentuh tanah harus
diberi lantai kerja setebal 5 cm agar menjadi duduknya tulangan dengan
baik dan untuk menghindari penyerapan air semen oleh tanah.
g) PemadatanAdukan Beton
Adukan beton harus dipadatkan hingga mencapai kepadatan yang maximum
sehingga didapat beton yang terhindar dari ronggarongga yang timbul
antara celahcelah koral, gelembung udara, dan adukan tadi harus
benarbenar memenuhi ruang yang dicor dan menyeliputi seluruh benda
RENCANA KERJA DAN SYARAT-SYARAT (RKS) HAL. 14
PERENCANAAN JEMBATAN SESULU - MATA AIR
yang seharusnya tertanam dalam beton. Selama proses pengecoran, adukan
beton harus dipadatkan dengan menggunakan vibrator yang mencukupi
keperluan pekerjaan pengecoran yang dilakukan. Kekentalan adukan beton
dan lama proses pemadatan harus diatur sedemikian rupa agar dicapai
beton yang bebas dari rongga, pemisahan unsurunsur pembentuk beton.
Beton yang sedang mengeras harus selalu dibasahi mulai dari selesai penge
coran dengan sedikitnya selama 10 (sepuluh) hari. Pembasahan harus dilaku
kan dengan menutup permukaan beton dengan kain atau material lain yang
basah agar tetap lembab. Air yang digunakan untuk keperluan ini harus sama
mutunya dengan air untuk bahan adukan beton.
h) Pemeliharaan Mutu Beton
Beton yang sudah dicor harus dijaga agar tidak kehilangan kelembaban
untuk paling sedikit 14 (empat belas) hari. Untuk keperluan tersebut harus
ditempatkan cara sebagai berikut :
i. Dipergunakan karungkarung goni yang senantiasa basah sebagai
penutup beton pada saat proses curing.
ii. Hasil pekerjaan beton yang tidak baik seperti terjadi keropos, permukaan
tidak mengikuti bentuk yang diinginkan, munculnya besi tulangan pada
permukaan beton, yang lainlain tidak memenuhi syarat, harus
dibongkar lagi sebagian atau seluruhnya menurut perintah Direksi.
Untuk selanjutnya diganti atau diperbaiki segera atas resiko pemborong.
i) Bendabenda yang Tertanam dalam Beton
• Semua anker, bautbaut, pipa, dan sebagainya yang diperlukan tertanam
dalam beton harus terikat dengan baik pada cetakan sebelum beton di cor.
• Bendabenda tersebut di atas harus dalam keadaan bersih dari karat
dan kotoran lain pada waktu beton di cor.
• Bautbaut anker harus dipasang dalam posisi yang akurat dan diikat
pada tempat dengan menggunakan template.
j) Pembukaan Bekesting
• Cetakan beton dapat dibongkar dengan persetujuan tertulis dari Direksi
Lapangan atau jika umur beton melampaui waktu sebagai berikut :
1) Bagian abutment 14 hari
2) Beton tanpa beban konstruksi 7 hari
3) Beton dengan beban konstruksi 21 hari
4) Pelat lantai 21 hari
benda uji yang kondisi perawatannya sama dengan beton sebenamya telah
mencapai kekuatan 75 % dari kekuatan pada umur 28 hari. Segala izin yang
RENCANA KERJA DAN SYARAT-SYARAT (RKS) HAL. 15
PERENCANAAN JEMBATAN SESULU - MATA AIR
diberikan oleh Direksi Lapangan sekalikali tidak boleh menjadi bahan untuk
mengurangi/membebaskan tanggung jawab kontraktor dari adanya
kerusakan kerusakan yang timbul akibat pembongkaran cetakan tersebut.
Pembongkaran cetakan beton harus dilaksanakan dengan hatihati
sedemikian rupa sehingga tidak menyebabkan cacat pada permukaan beton,
tetap dihasilkan sudutsudut yang tajam dan tidak pecah.
• Berkas cetakan beton untuk bagianbagian konstruksi yang terpendam
dalam tanah harus dicabut dan dibersihkan sebelum dilaksanakan
pengurugan tanah kembali.
• Bekesting bagian konstruksi yang memik:ul beban pelaksanaan lantai
diatasnya tidak boleh dibongkar sebelum beton lantai diatasnya
tersebut mencapai 75 % dari kekuatan umur 28 hari dan lantai itu sendiri
sudah mencapai kekuatan 75 % dari kekuatan umur 28 hari.
• Semua beton yang tampak dalam pandangan, pertemuan dua bidang
harus tajam dan harus di bidangbidangnya. Segera setelah cetakan
dibuka dan beton masih relatif segar semua bidangbidangnya harus
dipahat sedangkan lekukan serta lubanglubang harus diisi dengan
adukan satu semen dan satu pasir. Sebelum pelaksanaan pekerjaan
tersebut di atas harus dibasahi secara menyeluruh. Semua bagian
bagian atau permukaan yang kasar harus digosok dengan batu
karburandum dengan air dan ditinggalkan dalam warna yang merata.
Penggosokan hanya diperlukan pada permukaan yang kasar akibat
cetakan atau tetesan air semen.
• Permukaan lantai beton harus mempunyai permukaan bentuk fisik
yang rata dan halus. Menaburkan semen kering pada permukaan beton
dengan maksud menyerap kelebihan air tidak dibenarkan sama sekali.
• Seluruh pekerjaan dan pembuatan dan pembongkaran bekisting harus
sesuai dengan PBI 1971.
4. PEKERJAAN PEMBESIAN
4.1 Lingkup Pekerjaan
a) Lingkup Pekerjaan beton antara lain:
• Pembesian Struktur Jembatan
4.2 Persyaratan Bahan
a) Besi Tulangan
• Berdasarkan bentuknya, baja tulangan beton dibedakan menjadi 2
(dua) jenis yaitu baja tulangan beton polos dan baja tulangan beton sirip
RENCANA KERJA DAN SYARAT-SYARAT (RKS) HAL. 16
PERENCANAAN JEMBATAN SESULU - MATA AIR
(ulir). Baja tulangan polos adalah baja tulangan beton berpenampang
bundar dengan permukaan rata tidak bersirip, disingkat (BjTP). Baja
tulangan beton sirip adalah baja tulangan beton dengan bentuk
khusus yang permukaannya memiliki sirip melintang dan rusuk
memanjang yang dimaksudkan untuk meningkatkan daya lekat dan
guna menahan gerakan membujur dari batang secara relatif terhadap
beton, disingkat (BjTS).
• Baja tulangan beton tidak boleh mengandung serpihan, lipatan,
retakan, gelombang, cema yang dalam dan hanya diperkenankan
berkarat ringan pada permukaan.
• Untuk baja tulangan beton polos, permukaan batang baja tulangan harus
rata tidak bersirip.
• Khusus untuk tebal selimut beton, dudukan harus cukup kuat dan
jaraknya sedemikian sehingga tulangan tidak melengkung dan beton
penutup tidak kurang dari yang diisyaratkan. Toleransi yang
diperkenankan untuk penyimpangan terhadap bidang horizontalnya
adalah 4 mm.
b) Kawat Ikat
• Kawat ikat harus dibuat dari baja lunak diameter 1 mm. Kawat ikatan
yang digunakan harus bermutu baik dan tidak bersepuh seng.
• Syaratsyaratlain seperti yang telah dijelaskan pada poin 3.2.1 di atas.
c) Mutu Besi/ Baja Tulangan
• Baja tulangan harus memenuhi persyaratan PBINI 2 1971, dengan
tegangan leleh (0 = 2400 Kg/em2) atau Baja U 24.
• Ukuran baja tulangan yang digunakan adalah besi polos 012 dengan
jarak pembesian sebesar 15 cm.
• Mutu beton untuk pekerjaan yang digunakan adalah berdasar pada Mix
Design dari laboratorium yang disepakati antara Kontraktor dan
Pemimpin Proyek.
5. PEKERJAAN CETAKAN/ BEKISTING
5.1 Lingkup Pekerjaan
a) Lingkup Pekerjaan beton antara lain:
• Pasangan Bekisting Box Culvert
5.2 Persyaratan Bahan
b) Bekisting
RENCANA KERJA DAN SYARAT-SYARAT (RKS) HAL. 17
PERENCANAAN JEMBATAN SESULU - MATA AIR
• Pimpinan Pekerjaan harus terlebih dahulu mengajukan gambargambar
rencana cetakan dan acuan untuk mendapatkan persetujuan pengawas.
Dalam gambargambar tersebut harus secara jelas terlihat konstruksi
cetakan atau acuan, sambungansambungan dan kedudukan serta sistem
rangkanya.
• Pembongkaran cetakan dan acuan harus dilaksanakan sedemikian agar
keamanan konstruksi tetap terjamin dan disesuaikan dengan persyaratan
PBI 1971, NI2.
• Pembongkaran cetakan harus dilaksanakan dengan hatihati sehingga
tidak menyebabkan cacat pada permukaan beton. Dalam hal terjadi
bentuk beton yang tidak sesuai dengan gambar rencana, Pimpinan
Pekerjaan wajib mengadakan perbaikan atau pembetulan kembali.
c) Mutu Cetakan
• Cetakan untuk pekerjaan ini harus mengunakan papan tebal minimal
2,5 cm atau multiplek 18 mm, balok 5/7, 6/10, 8/10 dan dolken diameter
812 cm, dapat digunakan dari mutu kelas IL
• Cetakan acuan untuk pekerjaan beton harus memenuhi persyaratan
dalam PBI1971, NI2.
B. GAMBAR KERJA (SHOP DRAWING)
1) Jika terdapat kekurangankekurangan penjelasan dalan gambar kerja, atau
diperlukan gambar tambahan/gambar detail atau untuk memungkinkan
Pimpinan Pekerjaan melaksanakan dan menyelesaikan pekerjaan sesuai
dengan ketentuan, maka Pimpinan Pekerjaan harus membuat gambar
tersebut dalam rangkap 3 (tiga) dan biaya atas pembuatan gambar tersebut
menjadi tanggungjawab Pimpinan Pekerjaan. Pekerjaan berdasarkan
gambar tersebut baru dapat dilaksanakan setelah mendapat persetujuan
pengawas.
2) Gambar kerja hanya berubah apabila diperintahkan secara tertulis oleh
pemberi tugas, dengan mengikuti penjelasan dan pertimbangan dari
perencana.
3) Perubahan kerja hanya berubah apabila diperintahkan oleh pemberi tugas,
yang jelas memperlihatkan perbedaan antara gambar kerj a dan gambar
perubahan rencana.
4) Garnbar tersebut harus diserahkan kepada pengawas untuk disetujui sebelum
dilaksanakan.
RENCANA KERJA DAN SYARAT-SYARAT (RKS) HAL. 18
PERENCANAAN JEMBATAN SESULU - MATA AIR
C. GAMBAR SESUAI PELAKSANAAN PEKERJAAN (AS BUILT DRAWING)
1) Semua yang belum terdapat dalam gambar kerja baik karena penyimpangan,
perubahan atas perintah tugas/pengawas, maka Pimpinan Pekerjaan
harus membuat gambar gambar yang sesuai dengan apa yang telah
dilaksanakan, yang jelas memperlihatkan perbedaan antara gambar kerj a dan
pekerj aan yang dilaksanakan.
2) Gambar tersebut harus diserahkan dalam rangkap 3 (tiga) berikut kalkimya
(gambar asli) yang biaya pembuatan ditanggung oleh Pimpinan Pekerjaan.
D. PERBEDAAN DALAM DOKUMEN LAMPIRAN KONTRAK
1) Jika terdapat perbedaanperbedaan antara gambar kerja dan RKS ini, maka
Pimpinan Pekerjaan harus menanyakannya secara tertulis kepada
pengawas/perencana dan Pimpinan Pekerjaan harus mentaati keputusan
tersebut.
2) Ukuranukuran yang terdapat dalam gambar yang terbesar dan terakhirlah
yang berlaku dan ukuran dengan angka adalah yang harus diikuti daripada
ukuran dengan skala gambargambar, tetapi jika mungkin ukuran ini harus
diambil dari pekerjaan yang telah selesai.
3) Apabila ada halhal yang tersebut pada gambar kerja RKS atau dokumen,
yang berlainan atau bertentangan, maka ini harus diartikan bukan untuk
menghilangkan satu terhadap lainnya tetapi untuk menegaskan
masalahnya kalau terjadi hal ini maka diambil sebagai patokan adalah yang
mempunyai bobot teknis atu mempunyai bobot biaya tinggi.
E. SPESIFIKASI PERALATAN KONSTRUKSI :
No. Jenis Jumlah Kapasitas Status
1. Dump Truck 5 Unit 68 M3 Sewa/Milik Sendiri
2. Excavator 1 Unit 80140 Hp Sewa/Milik Sendiri
3. Motor Grader 1 Unit 100 Hp Sewa/Milik Sendiri
4. Vibratory Roller 1 Unit 58 ton Sewa/Milik Sendiri
5. Concrete Vibrator 4 Unit Sewa/Milik Sendiri
6. Pile Driver + Hammer 1 Unit Sewa/Milik Sendiri
RENCANA KERJA DAN SYARAT-SYARAT (RKS) HAL. 19
PERENCANAAN JEMBATAN SESULU - MATA AIR
F. SPESIFIKASI TENAGA KERJA KONSTRUKSI :
Jabatan Dalam Pengalaman Sertifikat Kompetensi Jumlah
No. Pekerjaan Yang Akan Kerja Kerja Orang
Dilaksanakan Profesional (Minimal)
1. Pelaksana 5 Tahun SKT Pelaksana
Lapangan 1
Pekerjaan Jembatan
TS029
2. Petugas K3 3 Tahun Sertifikat K3 Konstruksi
Konstruksi / 1
SKK Keselamatan
Konstruksi Jenjang 3
RENCANA KERJA DAN SYARAT-SYARAT (RKS) HAL. 20