PBL Tingkatkan Kreativitas dan Prestasi Fisika
PBL Tingkatkan Kreativitas dan Prestasi Fisika
e-mail: herwindarahmawati@[Link]
Abstract
This study is comparatively aimed at (1) to determine the effect of PBL learning models on Newton's
law material on Gravity on students 'creative thinking skills (2) to determine the effect of PBL learning
models on Newton's law of gravity on students' physics learning achievements and (3) to know
differences in the influence of the use of PBL learning models and expository learning on Physics learning
achievement and students' creative thinking skills. The method used in this study is Quasi Experiment.
Comparative research results show that (1) the use of PBL learning models in Newton's Law of gravity
material can improve students 'creative thinking abilities marked by an increase in the percentage of
students' creative thinking in the initial test and final test, (2) significant influence (value sig (2-tailed)
0.000 <0.05) in the use of PBL learning model on Newton's law material on Gravity on student learning
achievement, and (3) there are differences in influence (sig (2-tailed) 0.000 <0.05) use of PBL learning
model and expository learning of student achievement and creative thinking skills.
Keywords: PBL Model, Expository, Learning Achievement, Creative Thinking
Abstrak
Penelitian ini secara komparatif bertujuan (1) untuk mengetahui pengaruh model pembelajaran PBL
pada materi hukum Newton tentang Gravitasi terhadap keterampilan berpikir kreatif siswa (2) untuk
mengetahui pengaruh model pembelajaran PBL pada hukum Newton tentang gravitasi terhadap
prestasi belajar Fisika siswa dan (3) untuk mengetahui perbedaan pengaruh penggunaan model
pembelajaran PBL dan pembelajaran ekspositori terhadap prestasi belajar Fisika dan keterampilan
berpikir kreatif siswa. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah Quasi Experiment. Hasil
penelitian secara komparatif menunjukkan bahwa (1) penggunaan model pembelajaran PBL pada
materi Hukum Newton tentang gravitasi mampu meningkatkan kemampuan berpikir kreatif siswa
ditandai dengan adanya peningkatan persentase kempauan beripikir kreatif siswa pada tes awal dan
tes akhir, (2) terdapat pengaruh yang signifikan (nilai sig (2-tailed) 0.000 < 0.05) dalam penggunaan
model pembelajaran PBL pada materi hukum Newton tentang Gravitasi terhadap prestasi belajar
siswa, dan (3) terdapat perbedaan pengaruh (nilai sig (2-tailed) 0.000 < 0.05) penggunaan model
pembelajaran PBL dan pembelajaran ekspositori terhadap prestasi belajar dan keterampilan berpikir
kreatif siswa.
Kata Kunci: Model PBL, Ekspositori, Prestasi Belajar, Berpikir Kreatif
I. PENDAHULUAN
11
Permendikbud RI No. 22 tahun mudah untuk berkembang jika tidak
2016 menyebutkan bahwa proses ada stimulus. Stimulus yang dimak-
pembelajaran pada satuan pendidikan sudkan adalah motivasi kuat atau
diselenggarakan secara interaktif, keinginan yang besar untuk
inspiratif, menyenangkan, menanta- memecahkan masalah serta adanya
ng, memotivasi peserta didik untuk perhatian dari guru dalam meme-
berpartisipasi aktif, serta memberi- cahkan masalah. Hasil penelitian
kan ruang yang cukup bagi prakarsa, Hasanah juga membuktikan bahwa
kreativitas, dan kemandirian sesuai kemampuan berpikir kreatif siswa di
dengan bakat, minat, dan perkem- Indonesia masih kurang.
bangan fisik serta psikologis peserta Pembelajaran merupakan pro-
didik. Pandangan konstruktivisme ses membantu siswa untuk mem-
tentang peranan siswa dalam proses peroleh informasi, ide, keterampilan,
pembelajaran yaitu siswa sendirilah nilai, cara berpikir, dan cara-cara
yang bertanggung jawab atas hasil belajar bagaimana belajar. Proses
belajarnya. Pada dasarnya keber- pembelajaran harus benar-benar
hasilan proses belajar tidak hanya memperhatikan keterlibatan siswa.
murni ditentukan oleh nilai tetapi yang Selama ini, aktivitas pembelajaran di
terpenting adalah adanya perubahan sekolah menengah masih menekan-
sikap dan perilaku yang dapat kan pada perubahan kemampuan
dimplementasikan dalam kehi-dupan berpikir pada tingkat dasar, belum
jangka panjang di masyarakat [1]. memaksimalkan kemampuan berpikir
Siswa Indonesia telah mengikuti tingkat tinggi siswa [4].
Trends In International Mathematics Namun demikian hasil observasi
and Science Study (TIMSS) pada tahun di SMA Negeri 2 Bantul beberapa siswa
2015 dengan hasil tidak menunjukkan mengatakan bahwa kegiatan
banyak perubahan pada setiap pembelajaran di kelas cukup mem-
keikutsertaannya. Indonesia hanya bosankan karena guru cenderung
menduduki rangking 45 dari 50 neg- berceramah saat kegiatan belajar
ara dengan rata-rata skor 397 yang mengajar berlangsung, salah satunya
menempatkan Indonesia pada posisi 6 adalah pelajaran fisika. Beberapa siswa
besar dari bawah bersama Jordan, menunjukkan perilaku tidak
Saudi Arabia, Marocco, South Africa, menyenangkan saat proses pembe-
dan Kuwait [2]. Hasil studi lajaran berlangsung, diantaranya ialah
Internasional TIMSS tersebut meru- mengantuk, tidak memperhatikan
pakan hasil studi penelitian yang gurunya bahkan mengerjakan tugas
didalamnya memberikan dan menguji mata pelajaran lain. Banyak di antara
kemampuan berpikir tingkat tinggi siswa mengikuti pelajaran tidak lebih
siswa, salah satu diantaranya adalah dari rutinitas untuk mengisi daftar
berpikir kreatif. Hasil studi TIMSS absensi, mencari nilai tanpa diiringi
tersebut tentu menggambarkan per- kesadaran untuk menambah wawasan
lunya pembelajaran dengan mening- maupun keterampilan.
katkan beripikir kreatif. Peristiwa yang sangat menonjol
Selain hasil studi TIMSS, ada pula adalah siswa kurang kreatif, kurang
hasil penelitian oleh [3] terlibat dalam proses pembelajaran,
mengungkapkan bahwa kemampuan kurang memiliki inisiatif dan kons-
berpikir kreatif siswa tidak akan tribusi baik secara intelektual mau-
Hasil analisis pada tabel 4 kurang kreatif 25%, dan kategori tidak
menunjukkan bahwa pada tes awal kreati 3%. Hal ini menunjukkan
siswa dalam kategori kreatif hanya bahwa penerapan pembelajaran
2%, kategori cukup kreatif 38%, ekspositori kurang efektif pada materi
kategori kurang kreatif 53%, dan Hukum Newton tentang Gravitasi.
kategori tidak kreatif 3%. Pada tes Berdasarkan tabel 3 dan tabel 4,
akhir kemampuan berpikir kreatif dapat disimpulkan bahwa kemam-
siswa tidak banyak mengalami puan berpikir kreatif siswa yang
perubahan yakni siswa kategori mengikuti pembelajaran dengan
kreatif 25%, cukup kreatif 47%, menggunakan model pembelajaran
Data pada tabel 5 menunjukkan maksimum 82, dan rerata 69,97. Hal
perubahan hasil belajar tes awal dan ini menunjukkan hanya terdapat
tes akhir pada kelas eksperimen dan sedikit perubahan dari tes awal dan
kelas kontrol. Berdasarkan hasil tes akhir pada kelas kontrol sehingga
analisis tersebut terlihat pada tes awal dapat disimpulkan penerapan model
kelas eksperimen dengan jumlah ekspositori kurang efektif.
sampel 32 siswa bahwa terdapat nilai Variabel independen kualitatif
minimum 49, nilai maksimum 73, dan dalam penelitian ini memiliki dua
nilai rerata 59.72. Namun setelah kategori. Oleh sebab itu, dilakukan
diterapkan model pembelajaran PBL pengujian dengan metode uji beda
terdapat peru-bahan yang meningkat, rata-rata untuk dua sampel ber-
nilai minimum 73, nilai maksimum 88, pasangan (paired sample t-test). Model
dan nilai rerata 79.88. Hal ini menun- uji beda ini digunakan untuk
jukkan bahwa penerapan model PBL menganalisis model penelitian pre-
pada materi Hukum Newton tentang post atau sebelum dan sesudah. Uji
Gravitasi memiliki pengaruh positif paired sample t-test digunakan untuk
terhadap prestasi belajar siswa. Hasil untuk mengkaji keefektifan perla-
belajar pada kelas kontrol menun- kuan, ditandai adanya perbedaan
jukkan nilai minimum pada tes awal rata-rata sebelum dan rata-rata
47, nilai maksimum 73, dan nilai sesudah diberikan perlakuan [13].
rerata 58,72, sedangkan pada tes Berdasarkan hasil analisis uji
akhir nilai minimum siswa 60, nilai paired sample t-test diperoleh nilai sig.
79,875
80 Gambar 3. Diagram Perbedaan Rerata Nilai
59,718 Pretest dan Posttest Kelas Kontrol
60
Berdasarkan gambar 3 terlihat
40 perbedaan rerata nilai tes awal dan
akhir kelas kontrol yang tidak begitu
20
meningkat dibandingkan kelas eks-
0 perimen. Bahkan terlihat bahwa
Pretest Posttest rerata nilai posttest hanya mencapai
70. Hal yang sangat menonjol pada
Gambar 2. Diagram Perbedaan Rerata Nilai kelas kontrol adalah siswa kurang
Pretest dan Posttest Kelas
kreatif, kurang memiliki inisiatif dan
Eksperimen
konstribusi baik secara intelektual
Gambar 2 menunjukkan per- maupun secara emosional. Pertanya-
bedaan rerata hasil tes awal dan tes an, gagasan dan pendapat dari siswa
akhir pada kelas eksperimen. Hal jarang muncul, kalaupun ada pen-
tersebut memberikan gambaran dapat yang muncul jarang diikuti oleh
bahwa penggunaan metode pembe- pendapat lain sebagai respon.
lajaran yang merangsang siswa untuk Uji hipotesis untuk membukti-
berpikir dan lebih aktif saat kegiatan kan ada tidaknya perbedaan prestasi
belajar dan mengajar berlangsung belajar (nilai post-test) siswa antara
sangatlah penting dalam mening- kelas eksperimen yang menggunakan
katkan hasil belajar siswa. Salah model pembelajaran PBL dan kelas
satunya ialah penggunaan model kontrol yang menggunakan pembela-
pembelajaran PBL yang dilakukan jaran ekspositori, maka digunakan uji
pada penelitian ini. hipotesis uji t.
78
76 berpikir kreatif siswa.
74
Kontrol
72 69.968
70 UCAPAN TERIMA KASIH
68
66 Dr. Sunarto, [Link]., dan Handoyo
64 Saputro, [Link]., [Link]., Dosen pembi-
Posttest Kelas Posttest Kelas
Eksperimen Kontrol
mbing yang telah memberikan bimbi-
ngan, arahan, dan motivasi kepada
Gambar 4. Diagram Perbedaan Rerata Nilai penulis dalam menyelesaikan karya
Posttest Kelas Eksperimen dan tulis ini.
Kelas Kontrol.
Gambar 4 menunjukkan per- REFERENSI
bedaan yang sangat signifikan antara [1] Permendikbud Nomor 22 tahun
rerata nilai posttest kelas eksperimen 2016 Tentang Standar Proses
dengan rerata nilai posttest kelas Pendidikan Dasar dan Mene-
kontrol. Perbedaan nilai tersebut ngah. Di unduh dari