0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
5 tayangan10 halaman

PBL Tingkatkan Kreativitas dan Prestasi Fisika

Diunggah oleh

Sapeni Ayu
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
5 tayangan10 halaman

PBL Tingkatkan Kreativitas dan Prestasi Fisika

Diunggah oleh

Sapeni Ayu
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

Model Pembelajaran Problem Based Learning (PBL)

untuk Meningkatkan Kemampuan Berpikir Kreatif


Dan Prestasi Belajar Fisika Siswa Kelas X IPA
SMA Negeri 2 Bantul Tahun Ajaran 2018/2019
Herwinda Rahmawati
Sunarto
Handoyo Saputro

Program Studi Pendidikan Fisika, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan,


Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa
Jalan Batikan [Link]/1043, Yogyakarta 55167, Indonesia

e-mail: herwindarahmawati@[Link]

Abstract
This study is comparatively aimed at (1) to determine the effect of PBL learning models on Newton's
law material on Gravity on students 'creative thinking skills (2) to determine the effect of PBL learning
models on Newton's law of gravity on students' physics learning achievements and (3) to know
differences in the influence of the use of PBL learning models and expository learning on Physics learning
achievement and students' creative thinking skills. The method used in this study is Quasi Experiment.
Comparative research results show that (1) the use of PBL learning models in Newton's Law of gravity
material can improve students 'creative thinking abilities marked by an increase in the percentage of
students' creative thinking in the initial test and final test, (2) significant influence (value sig (2-tailed)
0.000 <0.05) in the use of PBL learning model on Newton's law material on Gravity on student learning
achievement, and (3) there are differences in influence (sig (2-tailed) 0.000 <0.05) use of PBL learning
model and expository learning of student achievement and creative thinking skills.
Keywords: PBL Model, Expository, Learning Achievement, Creative Thinking

Abstrak
Penelitian ini secara komparatif bertujuan (1) untuk mengetahui pengaruh model pembelajaran PBL
pada materi hukum Newton tentang Gravitasi terhadap keterampilan berpikir kreatif siswa (2) untuk
mengetahui pengaruh model pembelajaran PBL pada hukum Newton tentang gravitasi terhadap
prestasi belajar Fisika siswa dan (3) untuk mengetahui perbedaan pengaruh penggunaan model
pembelajaran PBL dan pembelajaran ekspositori terhadap prestasi belajar Fisika dan keterampilan
berpikir kreatif siswa. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah Quasi Experiment. Hasil
penelitian secara komparatif menunjukkan bahwa (1) penggunaan model pembelajaran PBL pada
materi Hukum Newton tentang gravitasi mampu meningkatkan kemampuan berpikir kreatif siswa
ditandai dengan adanya peningkatan persentase kempauan beripikir kreatif siswa pada tes awal dan
tes akhir, (2) terdapat pengaruh yang signifikan (nilai sig (2-tailed) 0.000 < 0.05) dalam penggunaan
model pembelajaran PBL pada materi hukum Newton tentang Gravitasi terhadap prestasi belajar
siswa, dan (3) terdapat perbedaan pengaruh (nilai sig (2-tailed) 0.000 < 0.05) penggunaan model
pembelajaran PBL dan pembelajaran ekspositori terhadap prestasi belajar dan keterampilan berpikir
kreatif siswa.
Kata Kunci: Model PBL, Ekspositori, Prestasi Belajar, Berpikir Kreatif

I. PENDAHULUAN

11
Permendikbud RI No. 22 tahun mudah untuk berkembang jika tidak
2016 menyebutkan bahwa proses ada stimulus. Stimulus yang dimak-
pembelajaran pada satuan pendidikan sudkan adalah motivasi kuat atau
diselenggarakan secara interaktif, keinginan yang besar untuk
inspiratif, menyenangkan, menanta- memecahkan masalah serta adanya
ng, memotivasi peserta didik untuk perhatian dari guru dalam meme-
berpartisipasi aktif, serta memberi- cahkan masalah. Hasil penelitian
kan ruang yang cukup bagi prakarsa, Hasanah juga membuktikan bahwa
kreativitas, dan kemandirian sesuai kemampuan berpikir kreatif siswa di
dengan bakat, minat, dan perkem- Indonesia masih kurang.
bangan fisik serta psikologis peserta Pembelajaran merupakan pro-
didik. Pandangan konstruktivisme ses membantu siswa untuk mem-
tentang peranan siswa dalam proses peroleh informasi, ide, keterampilan,
pembelajaran yaitu siswa sendirilah nilai, cara berpikir, dan cara-cara
yang bertanggung jawab atas hasil belajar bagaimana belajar. Proses
belajarnya. Pada dasarnya keber- pembelajaran harus benar-benar
hasilan proses belajar tidak hanya memperhatikan keterlibatan siswa.
murni ditentukan oleh nilai tetapi yang Selama ini, aktivitas pembelajaran di
terpenting adalah adanya perubahan sekolah menengah masih menekan-
sikap dan perilaku yang dapat kan pada perubahan kemampuan
dimplementasikan dalam kehi-dupan berpikir pada tingkat dasar, belum
jangka panjang di masyarakat [1]. memaksimalkan kemampuan berpikir
Siswa Indonesia telah mengikuti tingkat tinggi siswa [4].
Trends In International Mathematics Namun demikian hasil observasi
and Science Study (TIMSS) pada tahun di SMA Negeri 2 Bantul beberapa siswa
2015 dengan hasil tidak menunjukkan mengatakan bahwa kegiatan
banyak perubahan pada setiap pembelajaran di kelas cukup mem-
keikutsertaannya. Indonesia hanya bosankan karena guru cenderung
menduduki rangking 45 dari 50 neg- berceramah saat kegiatan belajar
ara dengan rata-rata skor 397 yang mengajar berlangsung, salah satunya
menempatkan Indonesia pada posisi 6 adalah pelajaran fisika. Beberapa siswa
besar dari bawah bersama Jordan, menunjukkan perilaku tidak
Saudi Arabia, Marocco, South Africa, menyenangkan saat proses pembe-
dan Kuwait [2]. Hasil studi lajaran berlangsung, diantaranya ialah
Internasional TIMSS tersebut meru- mengantuk, tidak memperhatikan
pakan hasil studi penelitian yang gurunya bahkan mengerjakan tugas
didalamnya memberikan dan menguji mata pelajaran lain. Banyak di antara
kemampuan berpikir tingkat tinggi siswa mengikuti pelajaran tidak lebih
siswa, salah satu diantaranya adalah dari rutinitas untuk mengisi daftar
berpikir kreatif. Hasil studi TIMSS absensi, mencari nilai tanpa diiringi
tersebut tentu menggambarkan per- kesadaran untuk menambah wawasan
lunya pembelajaran dengan mening- maupun keterampilan.
katkan beripikir kreatif. Peristiwa yang sangat menonjol
Selain hasil studi TIMSS, ada pula adalah siswa kurang kreatif, kurang
hasil penelitian oleh [3] terlibat dalam proses pembelajaran,
mengungkapkan bahwa kemampuan kurang memiliki inisiatif dan kons-
berpikir kreatif siswa tidak akan tribusi baik secara intelektual mau-

12 Jurnal Ilmiah Pendidikan Fisika-COMPTON


pun secara emosional. Pertanyaan, dipelajari. Selain itu, model pem-
gagasan dan pendapat dari siswa belajaran berbasis masalah ini mem-
jarang muncul, kalaupun ada pen- bagi peserta didik kedalam kelompok -
dapat yang muncul jarang diikuti oleh kelompok dengan permasalahan yang
pendapat lain sebagai respon. Kenya- berbeda-beda pada masing-masing
taan di lapangan siswa hanya meng- kelompok. Pembagian kelompok juga
hafal konsep dan kurang mampu dilakukan secara heterogen sehingga
menggunakan konsep tersebut jika diharapkan dapat memotivasi siswa
mengerjakan soal yang berbentuk untuk berinteraksi dengan siswa lain
masalah dalam kehidupan nyata yang walaupun bukan peer groupnya,
berhubungan dengan konsep yang meningkatkan partisipasi, saling
dimiliki. Gejala-gejala seperti ini me- membantu, dan saling bekerjasama
rupakan bukti bahwa kemampuan dalam berdiskusi memecahkan per-
memahami konsep-konsep fisika yang masalahan yang mereka dapatkan
disampaikan guru belum tumbuh serta berperan aktif di dalam pelajaran
sehingga berpengaruh juga terhadap Fisika [5].
prestasi belajar dan kemampuan Pembelajaran Berbasis Masalah
berpikir kreatif siswa. sangat tepat dalam merealisasikan
Seorang guru diharuskan tahu tujuan pendidikan fisika. Fakta bahwa
bagaimana cara mengatasi agar siswa pendidikan Fisika didasarkan pada
tidak merasa bosan selama kegiatan praktek dan interpretasi, yaitu ber-
belajar mengajar berlangsung dan hubungannya dengan kehidupan
seberapa kreatif siswa dalam meme- nyata, serta pembelajaran berbasis
cahkan suatu masalah [5]. Salah satu masalah memfasilitasi keduanya.
caranya ialah dalam proses pembe- Fokus pembelajaran pada PBL
lajaran guru harus menggunakan merupakan masalah yang dipilih
strategi atau model pembelajaran yang sehingga pembelajar tidak hanya
sesuai, salah satunya model mempelajari konsep-konsep yang
pembelajaran Problem Based Learning berhubungan dengan masalah tetapi
(PBL). juga metode untuk memecahkan
Model pembelajaran Problem masalah. Siswa tidak hanya harus
Based Learning atau pembelajaran memahami konsep yang relevan
berbasis masalah merupakan model dengan masalah yang menjadi pusat
pembelajaran yang berfokus kepada perhatian namun juga harus mem-
peserta didik atau student centered peroleh pengalaman yang berhubu-
learning. Model pembelajaran ber- ngan dengan keterampilan menerap-
basis masalah tersebut bercirikhas- kan metode ilmiah pada pemecahan
kan mengenai masalah-masalah pada masalah serta menumbuhkan pola
kehidupan nyata dan merupakan dalam berpikir kreatif [5].
pembelajaran yang menekankan Model PBL memberikan dampak
kepada aktivitas penyelidikan dalam positif pada prestasi akademik siswa
memecahkan masalah tersebut. Hal ini dan sikap siswa terhadap sains [6].
diharapkan, peserta didik dapat Penelitian yang dilaksanakan oleh [7],
mengembangkan kemampuan ber- menunjukkan bahwa penerapan PBL
pikirnya karena ia akan memperoleh di SMK dalam pembelajaran praktek
informasi dari berbagai sumber belajar dapat meningkatkan minat dan
mengenai materi yang sedang kemampuan praktek siswa dalam

Volume X, Nomor XX Bulan 20… 13


praktek menggulung trafo. Penelitian Desain yang digunakan dalam
[8], menyatakan bahwa dalam pene- penelitian ini yaitu desain kelompok
rapan PBL terdapat peningkatan hasil kontrol pretest-posttest. Adapun gam-
belajar siswa. baran mengenai rancangan None-
Berdasarkan uraian di atas quivalent Control Group Design [9]
peneliti merasa bahwa penelitian ini sebagai berikut:
penting dilakukan untuk mengetahui
apakah dengan penerapan model Q1 X Q2
pembelajaran Problem Based Learning -------------------------------------

siswa dapat aktif dalam mengikuti Q3 Q4


kegiatan belajar mengajar sehingga Gambar 1. Rancangan Nonequivalent
merangsang siswa untuk berpikir Control Group Design
kreatif. Penelitian ini secara dengan:
komparatif bertujuan (1) untuk men- Q1: pretest group eksperimen
getahui pengaruh model pembela- Q2: posttest group eksperimen
jaran problem based learning (PBL) Q3: pretest group kontrol
pada materi hukum Newton tentang Q4: posttest group kontrol
gravitasi terhadap keterampilan ber- X : pemberian perlakuan
pikir kreatif siswa, (2) untuk menge- Penelitian ini menggunakan
tahui pengaruh model pembelajaran pendekatan kuantitatif. Pendekatan
problem based learning (PBL) pada kuantitatif biasanya dipakai untuk
hukum Newton tentang gravitasi menguji satu teori, untuk menyajikan
terhadap prestasi belajar siswa dan (3) suatu fakta atau mendeskripsikan
untuk mengetahui perbedaan statistik, untuk menunjukan hubu-
pengaruh penggunaan model pembe-
ngan antar variabel, dan ada pula yang
lajaran problem based learning (PBL) bersifat mengembangkan konsep [9].
dan pembelajaran ekspositori ter-
hadap prestasi belajar dan ketera- Prosedur Penelitian
mpilan berpikir kreatif siswa. Penelitian ini diawali dengan
tahap perencanaan. Pada tahap ini
II. METODE PENELITIAN disusun rencana tindakan yang akan
Metode yang digunakan dalam dilakukan untuk meningkatkan kete-
penelitian ini adalah Quasi Experiment rampilan berpikir kretif dan hasil
atau eksperimen semu. Penelitian belajar siswa melalui penerapan model
quasi experiment merupakan metode PBL. Perencanaan tindakan terdiri dari
penelitian yang digunakan untuk mempersiapkan jadwal pembelajaran
mencari pengaruh perlakuan tertentu PBL, RPP, perangkat pembelajaran
terhadap yang lain dalam kondisi yang PBL, media pembelaja-ran yang
terkendali [9]. Berdasarkan pendapat digunakan, dan mempersiap-kan
tersebut dapat disimpulkan bahwa instrumen penelitian.
penelitian eksperimen adalah peneli- Tahap ke dua yang dilakukan
tian dengan melakukan percobaan ialah tahap pelaksanaan. Pada tahap ini
terhadap kelompok eksperimen, peneliti melaksanakan pembelaja-ran
kepada tiap kelompok eksperimen sesuai yang telah direncanakan. Tahap
dikenakan perlakuan-perlakuan ter- ke tiga ialah tahap pengamatan. Hal
tentu dengan kondisi yang dapat yang diamati dalam penelitian ini ialah
dikontrol. prestasi belajar dan kemampuan

14 Jurnal Ilmiah Pendidikan Fisika-COMPTON


berpikir kreatif siswa. Untuk me- kreatif siswa yang digunakan dalam
ngamati prestasi belajar siswa penelitian mengacu pada tabel ber-
dilakukan tes awal dan tes akhir. Tes pikir kreatif siswa [10], dapat
awal dilakukan saat sebelum pelajaran disesuaikan sebagai berikut:
di mulai yang hasilnya digunakan Tabel 1. Jenjang Berpikir Kreatif Siswa [10].
sebagai data awal penelitian, Kriteria Kategori
sedangkan untuk mendapatkan data 15-16 Sangat Kreatif
akhir maka peneliti melakukan 12-14 Kreatif
kegiatan tes akhir setelah pem- 9-11 Cukup Kreatif
6-8 Kurang Kreatif
belajaran hampir selesai (sebelum 3-5 Tidak Kreatif
menutup pelajaran). Mengamati 0-2 Sangat tidak Kreatif
kemampuan berpikir kreatif siswa
Tabel 2. Kriteria Penilaian Prestasi Belajar
dilakukan secara terintegrasi dengan [11].
soal dan jawaban tes prestasi belajar Angka Angka Angka
Huruf Predikat
siswa. 0-4 0-100 0-10
Sangat
A 4 85-100 8,5-10
Baik
Intrumen, Teknik Pengumpulan B 3 70-84 7,0-8,4 Baik
Data dan Teknik Analisis Data C 2 55-69 5,5-6,9 Cukup
Instrumen yang digunakan D 1 40-54 4,0-5,4 Kurang
Sangat
berupa test soal materi hukum Newton E 0 0-39 0,0-3,9
Kurang
tentang gravitasi yang terintegrasi
dengan kemampuan berpikir kreatif III. HASIL DAN PEMBAHASAN
siswa dalam menjawab soal yang
berhubungan dengan materi hukum Kemampuan Berpikir Kreatif Siswa
Newton tentang gravitasi. Data yang Berpikir kreatif merupakan
diperoleh dalam penelitian ini berupa proses berpikir yang mampu mem-
data kuantitatif yakni data berikan ide-ide atau gagasan-gagasan
keterampilan berpikir kreatif siswa yang berbeda yang kemudian dapat
dan hasil belajar siswa pada materi menjadi pengetahuan baru dan
hukum Newton tentang gravitasi. jawaban yang dibutuhkan.
Masing-masing variabel pene- Berikut merupakan tabel ber-
litian dianalisis dengan mengacu pada pikir kreatif kelas ekperimen (PBL)
kriteria yang ditetapkan. Teknik pada tes awal dan tes akhi
analisis dan interpretasi data berpikir

Tabel 3. Hasil Analisis Kemampuan Berpikir Kreatif Kelas Eksperimen.


Kriteria Kategori Pre-Test Post-Test
Jumlah Persentase Jumlah Persentase
Siswa (%) Siswa (%)
15-16 Sangat Kreatif 0 0 7 22%
12-14 Kreatif 7 22% 20 63%
9-11 Cukup Kreatif 6 19% 5 16%
6-8 Kurang Kreatif 17 53% 0 0
3-5 Tidak Kreatif 2 6% 0 0
0-2 Sangat Tidak Kreatif 0 0 0 0
Jumlah 32 100% 32 100%

Volume X, Nomor XX Bulan 20… 15


Tabel 3 menunjukkan peruba- siswa. Dengan demikian ter-jawab
han tindak belajar yang berkaitan rumusan masalah nomor 1 yakni
dengan kemampuan berpikir kreatif bagaimana pengaruh model pembe-
dalam pembelajaran setelah mene- lajaran problem based learning (PBL)
rapkan model pembelajaran PBL. pada materi hukum Newton tentang
Hasil analisis tersebut mengacu pada gravitasi terhadap keteram-pilan
tabel 2.1 tentang kriteria jenjang berpikir kreatif siswa.
berikir kreatif siswa. Pada tes awal Strategi pembelajaran eksposi-
hanya terdapat 22% siswa kreatif, tori adalah pembelajaran yang mene-
kategori cukup kreatif 19%, kurang kankan kepada proses penyampaian
kreatif 53%, dan siswa kategori tidak materi secara verbal dari seseorang
kreatif 6%. Namun setelah mene- guru kepada sekelompok siswa
rapkan model PBL persentase dengan maksud agar siswa dapat
kemampuan berpikir kreatif siswa menguasai materi secara optimal.
meningkat, kategori siswa sangat Fokus utama strategi pembelajaran ini
kreatif 22%, siswa kreatif 63%, dan adalah kemampuan akademis (aca-
cukup kreatif 16%. Hal ini demic achievement) siswa. Metode
menunjukkan bahwa kemampuan pembelajaran yang sering digunakan
berpikir kreatif siswa pada tes awal untuk mengaplikasikan-nya adalah
sampai dengan tes akhir mengalami metode ceramah [12]. Berikut
peningkatan sangat baik, sehingga merupakan tabel berpikir kreatif kelas
dapat disimpulkan bahwa model kontrol pada tes awal dan tes akhir
pembelajaran PBL mampu mening- yang mengacu pada tabel 1 tentang
katkan kemampuan berpikir kreatif kriteria jenjang berpikir kreatif siswa.

Tabel 4. Hasil Analisis Kemampuan Berpikir Kreatif Kelas Kontrol.


Pre-Test Post-Test
Kriteria Kategori Jumlah Persentase Jumlah Persentase
Siswa (%) Siswa (%)
15-16 Sangat Kreatif 0 0 0 0%
12-14 Kreatif 2 6% 8 25%
9-11 Cukup Kreatif 12 38% 15 47%
6-8 Kurang Kreatif 17 53% 8 25%
3-5 Tidak Kreatif 1 3% 1 3%
0-2 Sangat Tidak Kreatif 0 0 0 0
Jumlah 32 100% 32 100%

Hasil analisis pada tabel 4 kurang kreatif 25%, dan kategori tidak
menunjukkan bahwa pada tes awal kreati 3%. Hal ini menunjukkan
siswa dalam kategori kreatif hanya bahwa penerapan pembelajaran
2%, kategori cukup kreatif 38%, ekspositori kurang efektif pada materi
kategori kurang kreatif 53%, dan Hukum Newton tentang Gravitasi.
kategori tidak kreatif 3%. Pada tes Berdasarkan tabel 3 dan tabel 4,
akhir kemampuan berpikir kreatif dapat disimpulkan bahwa kemam-
siswa tidak banyak mengalami puan berpikir kreatif siswa yang
perubahan yakni siswa kategori mengikuti pembelajaran dengan
kreatif 25%, cukup kreatif 47%, menggunakan model pembelajaran

16 Jurnal Ilmiah Pendidikan Fisika-COMPTON


Problem Based Learning lebih baik dapat dikatakan berjalan dengan
dari pada siswa yang mengikuti lancar. Tindakan mengajar yang
pembelajaran secara ekspositori. Hal dilakukan peneliti dengan mene-
ini disebabkan karena siswa mela- rapkan model pembelajaran Problem
kukan aktivitas yang berorientasi Based Learning sebagai kelas eks-
pada murid, bukan pada guru. perimen dan pembelajaran eksposi-
Peningkatan kemampuan berpikir tori sebagai kelas kontrol.
kreatif siswa didasarkan pada Berdasarkan hasil penelitian dan
kemampuan guru dalam mengelola analisis data yang diperoleh
kelas. Ditambah dengan keyakinan menunjukkan bahwa penerapan
siswa akan pekerjaan yang dilakukan model pembelajaran PBL sangat baik
saat pembelajaran. dalam meningkatkan prestasi belajar
dan berpikir kreatif siswa. Hal ini
Prestasi Belajar Fisika Siswa
terbukti adanya peningkatan hasil
Penerapan model pembelajaran
belajar siswa pada tes awal dan tes
Problem Based Learning dalam materi
akhir. Berikut merupakan tabel hasil
Hukum Newton tengtang Gravitasi
uji deskriptif:

Tabel 5. Hasil Uji Deskriptif Kela Eksperimen dan Kelas Kontrol


N Minimum Maximum Mean Std. Deviation
Pre-Test Eksperimen 32 49 73 59.72 6.377
Post-Test Eksperimen 32 73 88 79.88 3.348
Pre-Test Kontrol 32 47 73 58.72 5.508
Post-Test Kontrol 32 60 82 69.97 4.896
Valid N (listwise) 32

Data pada tabel 5 menunjukkan maksimum 82, dan rerata 69,97. Hal
perubahan hasil belajar tes awal dan ini menunjukkan hanya terdapat
tes akhir pada kelas eksperimen dan sedikit perubahan dari tes awal dan
kelas kontrol. Berdasarkan hasil tes akhir pada kelas kontrol sehingga
analisis tersebut terlihat pada tes awal dapat disimpulkan penerapan model
kelas eksperimen dengan jumlah ekspositori kurang efektif.
sampel 32 siswa bahwa terdapat nilai Variabel independen kualitatif
minimum 49, nilai maksimum 73, dan dalam penelitian ini memiliki dua
nilai rerata 59.72. Namun setelah kategori. Oleh sebab itu, dilakukan
diterapkan model pembelajaran PBL pengujian dengan metode uji beda
terdapat peru-bahan yang meningkat, rata-rata untuk dua sampel ber-
nilai minimum 73, nilai maksimum 88, pasangan (paired sample t-test). Model
dan nilai rerata 79.88. Hal ini menun- uji beda ini digunakan untuk
jukkan bahwa penerapan model PBL menganalisis model penelitian pre-
pada materi Hukum Newton tentang post atau sebelum dan sesudah. Uji
Gravitasi memiliki pengaruh positif paired sample t-test digunakan untuk
terhadap prestasi belajar siswa. Hasil untuk mengkaji keefektifan perla-
belajar pada kelas kontrol menun- kuan, ditandai adanya perbedaan
jukkan nilai minimum pada tes awal rata-rata sebelum dan rata-rata
47, nilai maksimum 73, dan nilai sesudah diberikan perlakuan [13].
rerata 58,72, sedangkan pada tes Berdasarkan hasil analisis uji
akhir nilai minimum siswa 60, nilai paired sample t-test diperoleh nilai sig.

Volume X, Nomor XX Bulan 20… 17


(2-tailed) sebesar 0.000 < 0.05, Penggunaan model pembela-
dengan demikian dapat disimpulkan jaran yang berpusat pada guru sudah
ada perbedaan rata-rata hasil belajar digunakan sejak dulu dan seharusnya
siswa untuk pre-test kelas eks- tidak digunakan lagi dimasa sekarang.
perimen dengan post-test kelas Namun pada kenyataanya sampai saat
eksperimen, sekaligus menjawab ini penggunaan metode ataupun
rumusan masalah nomor 2 yakni model pembelajaran yang berpusat
bagaimana pengaruh model pembe- pada guru masih dilakukan. Berikut
lajaran PBL pada hukum Newton merupakan diagram per-bedaan
tentang gravitasi terhadap prestasi rerata nilai pretest dan posttest kelas
belajar siswa. Sedangkan hasil uji kontrol.
paired sample t-test pada kelas kontrol
75
diperoleh nilai sig. (2-tailed) sebesar 70,290

Retata Nilai Pretest dan


0.000 < 0.05, maka dapat disimpulkan

Posttest Kelas Kontrol


70
terdapat perbedaan rata-rata hasil
belajar siswa untuk pre-test dan post- 65
test. 60 58,718
Berikut merupakan diagram
perbedaan rerata tes awal dan tes 55
akhir kelas eksperimen.
50
100 Pretest Posttest
Posttest Kelas Eksperimen
Rerata Nilai Pretest dan

79,875
80 Gambar 3. Diagram Perbedaan Rerata Nilai
59,718 Pretest dan Posttest Kelas Kontrol
60
Berdasarkan gambar 3 terlihat
40 perbedaan rerata nilai tes awal dan
akhir kelas kontrol yang tidak begitu
20
meningkat dibandingkan kelas eks-
0 perimen. Bahkan terlihat bahwa
Pretest Posttest rerata nilai posttest hanya mencapai
70. Hal yang sangat menonjol pada
Gambar 2. Diagram Perbedaan Rerata Nilai kelas kontrol adalah siswa kurang
Pretest dan Posttest Kelas
kreatif, kurang memiliki inisiatif dan
Eksperimen
konstribusi baik secara intelektual
Gambar 2 menunjukkan per- maupun secara emosional. Pertanya-
bedaan rerata hasil tes awal dan tes an, gagasan dan pendapat dari siswa
akhir pada kelas eksperimen. Hal jarang muncul, kalaupun ada pen-
tersebut memberikan gambaran dapat yang muncul jarang diikuti oleh
bahwa penggunaan metode pembe- pendapat lain sebagai respon.
lajaran yang merangsang siswa untuk Uji hipotesis untuk membukti-
berpikir dan lebih aktif saat kegiatan kan ada tidaknya perbedaan prestasi
belajar dan mengajar berlangsung belajar (nilai post-test) siswa antara
sangatlah penting dalam mening- kelas eksperimen yang menggunakan
katkan hasil belajar siswa. Salah model pembelajaran PBL dan kelas
satunya ialah penggunaan model kontrol yang menggunakan pembela-
pembelajaran PBL yang dilakukan jaran ekspositori, maka digunakan uji
pada penelitian ini. hipotesis uji t.

18 Jurnal Ilmiah Pendidikan Fisika-COMPTON


Bedasarkan hasil uji Independent menandakan adanya pengaruh positif
Sample t-test (uji t) diperoleh nilai sig. penggunaan model pembelajaran PBL
(2-tailed) sebesar 0.000 < 0.05, maka terhadap prestasi belajar siswa.
dapat disimpulkan bahwa terdapat
perbedaan yang signifikan antara
hasil belajar kelas eksperimen dengan
IV. CONCLUSION
kelas kontrol, sehingga pernyataan Hasil penelitian secara kom-
tersebut seka-ligus menjawab paratif (1) diperoleh kategori siswa
rumusan masalah yang ke 3 yakni sangat kreatif 22% dan siswa kreatif
apakah terdapat perbedaan pengaruh 63% hal ini menunjukkan adanya
peng-gunaan model pembelajaran peningkatan kemampuan berpikir
PBL dan pembelajaran ekspositori kreatif siswa pada tes awal sampai
terhadap prestasi belajar siswa. dengan tes akhir, sehingga dapat
Model pembelajaran berbasis disimpulkan bahwa penggunaan
masalah tersebut bercirikhaskan me- model pembelajaran PBL pada materi
ngenai masalah-masalah pada kehi- Hukum Newton tentang gravitasi
dupan nyata dan merupakan pembe- mampu meningkatkan kemampuan
lajaran yang menekankan kepada berpikir kreatif siswa (2) hasil Hasil
aktivitas penyelidikan dalam meme- analisis uji paired sample t-test
cahkan masalah tersebut. Hal ini diperoleh nilai sig. (2-tailed) sebesar
diharapkan, peserta didik dapat me- 0.000 < 0.05, dengan demikian ter-
ngembangkan kemampuan berpikir- dapat pengaruh yang signifikan dalam
nya karena siswa akan memperoleh penggunaan model pembe-lajaran
informasi dari berbagai sumber PBL pada materi hukum Newton
belajar mengenai materi yang sedang tentang Gravitasi terhadap prestasi
dipelajari. belajar siswa dan (3) Hasil uji t
Berikut merupakan grafik per- diperoleh nilai sig. (2-tailed) sebesar
bedaan rerata nilai posttest kelas 0.000 < 0.05, maka terdapat
eksperimen dan kelas kontrol. perbedaan pengaruh penggunaan
model pembelajaran PBL dan
82 79,875 pembelajaran ekspositori terhadap
Rerata Nilai Posttest Kelas

80 prestasi belajar dan keterampilan


Eksperimen dan Kelas

78
76 berpikir kreatif siswa.
74
Kontrol

72 69.968
70 UCAPAN TERIMA KASIH
68
66 Dr. Sunarto, [Link]., dan Handoyo
64 Saputro, [Link]., [Link]., Dosen pembi-
Posttest Kelas Posttest Kelas
Eksperimen Kontrol
mbing yang telah memberikan bimbi-
ngan, arahan, dan motivasi kepada
Gambar 4. Diagram Perbedaan Rerata Nilai penulis dalam menyelesaikan karya
Posttest Kelas Eksperimen dan tulis ini.
Kelas Kontrol.
Gambar 4 menunjukkan per- REFERENSI
bedaan yang sangat signifikan antara [1] Permendikbud Nomor 22 tahun
rerata nilai posttest kelas eksperimen 2016 Tentang Standar Proses
dengan rerata nilai posttest kelas Pendidikan Dasar dan Mene-
kontrol. Perbedaan nilai tersebut ngah. Di unduh dari

Volume X, Nomor XX Bulan 20… 19


[Link] pada Meningkatkan Hasil Belajar dan
tanggal 05 September 2018. Berpikir Kreatif Siswa Materi
[2] Rahmawati. 2016. Diagnosa Pengelolaan Lingkungan Kelas
Hasil untuk Perbaikan Mutu dan VII SMP Negeri 19 Semarang.
Peningkatan Capaian. Seminar [Skripsi dipublikasi]. Universitas
Hasil TIMSS 2015. Di unduh dari IKIP PGRI Semarang. Semarang.
[Link] [11] Hamalik, O. 2001. Teknik Peng-
[Link]/seminar/upload/Hasil%20 ukuran dan Evaluasi Pendi-
Seminar%20Puspendik%20201 dikan. Bandung: Mandar Maju.
6/RahmawatiSeminar%20Hasil [12] Chalish, M. 2011. Strategi
%20TIMSS%[Link] pada Pembelajaran Berbasis Kompete-
tanggal 05 September 2018. nsi. Jakarta: PT Bumi Aksara.
[3] Hasanah. 2010. Peranan [13] Widiyanto, M.A. 2013. Statistika
Motivasi dan Kemampuan Awal Terapan. Jakarta: PT Elex Media
dalam Kegiatan Pembelajaran. Komputindo.
Jakarta: Delia Press.
[4] Hamalik, O. 2011. Proses Belajar
Mengajar. Jakarta: Bumi Aksara.
[5] Sugiyanto. 2010. Model-model
Pembelajaran Inovatif. Jakarta:
Yuma Pustaka.
[6] Orhan dan Ruhan 2007. Proses
Belajar Mengajar. Jakarta: Bumi
Aksara.
[7] Bakri, H. 2009. Peningkatan
Minat Belajar Praktek Menggu-
lung Trafo Melalui Pendekatan
Pembelajaran Berbasis Masalah
(Pbl) Pada Siswa SMK Negeri 3
Makassar. Jurnal Medtek. Vol 1
Nomor 1 April, 2-8.
[8] Abdullah, A. G dan Ridwan, T.
2008. Identifikasi Tingkat
Berpikir Kreatif Siswa dalam
Memecahkan Masalah Materi
Persamaan Garis Lurus ditinjau
dari Kemampuan Matematika
Siswa dan Perbedaan Jenis
Kelamin. (Skripsi dipublikasi-
kan). Universitas Negeri
Surabaya. Surabaya.
[9] Sugiyono. 2013. Metode Peneli-
tian Kuantitatif, Kualitatif, dan
R&D. Bandung: Alfabeta.
[10] Suryaningsih. 2013. Pengguna-
an Tabloid Berbasis PjBL
(Project Based Learning) untuk

20 Jurnal Ilmiah Pendidikan Fisika-COMPTON

Anda mungkin juga menyukai