KATEKESE: SAKRAMEN KRISMA
1. Pengertian Sakramen Krisma
Krisma dari kata Chrism, bahasa Yunani, artinya minyak pengurapan. Dalam Gereja
Katolik, minyak ini bersama dengan minyak katekumen dan minyak suci atau minyak
orang sakit diberkati oleh uskup dalam misa Krisma pada hari Kamis Putih pagi. Di
keuskupan Manado, umumnya minyak ini diberkati pada hari Rabu sore menjelang
Kamis Putih karena alasan pastoral, yaitu agar para pastor paroki bisa kembali ke
parokinya sebelum Tri Hari Suci.
2. Sakramen Krisma sebagai Sakramen Penguatan
Pada umumnya minyak ini digunakan dalam sakramen baptis dan sakramen krisma,
juga dalam penahbisan imam dan uskup dan dalam upacara pemberkatan gereja dan
altar. Sakramen Krisma sering juga disebut sakramen penguatan. Dua kata “Krisma
dan Penguatan” berkaitan erat dengan peranan Roh Kudus. Gereja menghayati
bahwa Roh Kudus hadir untuk menguduskan, menguatkan dan membaharaui
semangat kaum beriman untuk tetap percaya kepada Allah Bapa dan PutraNya Yesus
Kristus, serta setia pula menjakankan seluruh pengajaranNya demi keselamatan.
3. Hubungan Sakramen Krisma dan Sakramen Baptis
Roh Kudus hadir saat kita menerima sakramen pembaptisan yang disebut juga
sakramen permandian. Roh yang sama ini yang berperan sejak penerimaan sakramen
permandian, kini lebih ditonjolkan lagi gerakannya dalam sakramen krisma itu. Melalui
Sakramen Pembaptisan, kita menjadi anggota Gereja dan diantar masuk oleh Roh
Kudus ke dalam komunitas Allah Tritunggal, komunitas Bapa-Putra-Roh Kudus.
Peranan Roh Kudus diungkapkan secara simbolik dalam upacara pembaptisan dan
krisma/penguatan itu. Daya gerak Roh yang hadir untuk menyucikan dan
menguduskan dilambangkan oleh penuangan air ke atas kepala (dalam skr.
pembaptisan); kehadiranNya untuk mencurahkan dan mengurapi kita agar kita
menerima karunia-karunia Roh, ditampilkan melalui symbol penumpangan tangan dan
pengurapan minyak krisma (dalam skr. pembaptisan dan skr. krisma).
4. Syarat menerima Sakramen Krisma
Syarat seseorang boleh menerima [Link] ialah pertama, ia sudah menerima skr.
pembaptisan; kedua, mampu menggunakan akal budi dan kehendak dengan baik.
1 Riam kota 2024
Artinya dia sudah tahu apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan sebab melawan
kehendak Tuhan; ketiga, cara hidup yang baik (ada dalam keadaan berahmat). Itulah
sebabnya penting katekese bagi para calon sebagai persiapan sebelum menerima skr.
penguatan. Sakramen Krisma adalah satu dari antara 7 sakramen dalam gereja yang
diberikan oleh Bapa Uskup.
5. Dua Hal Penting bagi Mereka yang menerima Sakramen Krisma
Ada dua hal penting yang ditekankan bagi mereka yang menerima sakramen Krisma:
Pertama, kita ingat peristiwa pembaptisan. Saat pengurapan krisma dalam sakramen
permandian, imam mengatakan “sekarang saudara akan diurapi dengan minyak
krisma, seperti Kristus diurapi oleh Roh Kudus menjadi imam, nabi dan raja”. Ini berarti
melalui dan dalam pembaptisan, Roh Kudus melibatkan kita untuk ambil bagian dalam
Tri-Tugas Yesus, yaitu sebagai “imam, nabi, dan raja”. Roh yang sama ini, yang telah
mencurahkan karunia-karuniaNya ke atas para rasul saat Pentekosta, kini hadir juga
saat menerima sakramen Krisma. Kita diterangi dan diingatkan oleh Roh akan tri-tugas
mulia itu untuk dihayati, dihidupi dan dipraktekkan sampai Tuhan memanggil kita
menghadap hadiratNya. Tugas itu sungguh mulia namun menantang karena kita
sering kurang mampu mengontrol diri entah karena kelemahan pribadi atau pengaruh
yang datang dari lingkungan sekitar kita. Di sini penting kepekaan akan suara Roh
Kudus. Ia membimbing, menasehati dan menuntun kita melalui nasehat orang lain,
melalui doa-doa pribadi, doa-doa bersama anggota gereja di wilayah rohani atau
kelompok kategorial atau melalui perayaan-perayaan sakramen khususnya sakramen
Ekaristi agar hidup kudus dihadirat Allah.
Kedua, uraian ini menunjukkan bahwa sakramen penguatan berkaitan erat dengan
tugas panggilan dan perutusan sebagai seorang murid Kristus. Sakramen penguatan
mengungkapkan bahwa orang, yang telah masuk ke dalam persekutuan kristiani
melalui sakramen permandian, digerakkan oleh Roh Kudus untuk melibatkan diri
dalam karya gereja sekaligus terlibat secara aktif dalam perutusan gereja di tengah
masyarakat demi keselamatan manusia. Dengan sakramen ini, setiap anggota
disadarkan dan didorong oleh Roh Kudus untuk menghidupi tri-tugas Yesus dan
dengan demikian menyerupai Kristus yang hadir sebagai imam untuk “menyucikan”
diri sendiri dan orang lain melalui doa yang dibuat secara pribadi atau doa dalam
perayaan sakramen; hadir sebagai nabi yang siap untuk mewartakan kebenaran iman
melalui kata-kata, nasehat, petunjuk praktis, ajakan positif, dan perbuatan konkrit
sebagai bentuk kesaksian hidup yang bisa diteladani dan memberi perubahan bagi
sesama; hadir sebagai raja yang siap sedia menjadi pemersatu dimana ada
2 Riam kota 2024
perpecahan, menjadi motivator dan penggerak saat orang hilang harapan, menjadi
pelayan saat orang butuh bantuan.
6. Makna Sakramen Krisma Dalam Kehidupan Sebagai Murid Yesus
Roh Kudus memberdayakan orang agar tidak hidup egois dan mencari untung untuk
diri sendiri, tetapi senantiasa terbuka menjadi saudara bagi yang lain. Kita ingat kata-
kata Yesus “ketika Aku lapar, kamu memberi Aku makan; ketika Aku haus, kamu
memberi Aku minum; ketika Aku seorang asing, kamu memberi Aku tumpangan;
ketika Aku telanjang, kamu memberi Aku pakaian; ketika Aku sakit, kamu melawat
Aku; ketika Aku dalam penjara, kamu mengunjungi Aku” (Mat 25:35-36). Ini adalah
buah-buah Roh yang menunjukkan bahwa orang bersangkutan hidup dalam Roh.
Orang demikian dibenarkan oleh Allah (Mat 25:37). Tuntunan Roh bisa juga dilihat
pada Mat 25:1-13, tentang gadis-gadis yang bijaksana dan yang bodoh. Gadis-gadis
yang bijaksana lengkap dalam persiapan karena hidup dalam Roh. Dalam hidup ini,
Roh Kudus juga membimbing kita agar bijaksana dalam bertutur kata, bijaksana dalam
berpikir dan bijaksana dalam bertindak saat membangun relasi dengan Tuhan, dengan
sesama dan dengan seluruh alam semesta. Hidup kita menjadi baru karena Roh
Kudus senantiasa membaharui hidup kita. Setiap anggota gereja bisa berbuat baik
dan dibenarkan Allah bila ia terbuka dan mau dituntun oleh Roh. Bersama pemazmur
marilah kita berseru “ajarlah aku melakukan kehendakMu, sebab Engkaulah Allahku.
Kiranya RohMu yang baik itu menuntun aku” (Mzm 143:10).
APAKAH SAKRAMEN PENGUATAN ITU?
PENGUATAN (Latin “Confirmatio” = Penguatan). Seperti Baptis dan Ekaristi, adalah
satu dari tiga Sakramen Inisiasi Gereja Katolik. Seperti Roh Kudus juga turun atas
para rasul yang berkumpul pada hari Pentakosta, Roh Kudus juga turun ke setiap
orang yang dibaptis. Gereja memohonkan rahmat Roh Kudus bagi umat-Nya. Rahmat
ini mengamankan dan menguatkan orang tersebut untuk menjadi saksi Kristus yang
hidup.
PENGUATAN adalah Sakramen yang melengkapi Baptis. Didalamnya, karunia Roh
Kudus dilimpahkan atas kita. Setiap orang yang dengan bebas memutuskan untuk
menjalani hidup sebagai anak Allah dan memohon Roh Allah turun dengan tanda
penumpangan tangan dan diurapi minyak => Penguatan menerima kekuatan penuh
untuk menjadi saksi Allah dalam kata dan perbuatan. Dia sekarang bertanggungjawab
dan menjadi anggota penuh => GEREJA KATOLIK (1258-1315)
3 Riam kota 2024
Ketika seorang pelatih memasukkan seorang pemain bola ke lapangan pertandingan,
dia menaruh tangannya ke pundak pemain dan memberi perintah terakhir. Kita dapat
memahami Sakramen Penguatan dengan cara yang sama, Uskup atau wakilnya,
menaruh tangannya atas kita. Kita melangkah ke dalam lapangan kehidupan. Melalui
Roh Kudus, kita mengetahui apa yang harus kita lakukan dan kita telah diberi
kekuatan untuk melakukannya. Roh Kudus menyemangati kita. Perutusannya
diperdengarkan di telinga kita. Kita merasakan pertolonganNya. Kita tidak akan
mengkhianati kepercayaan-Nya dan tidak pula mau mengecewakannya. Kita akan
memenangkan pertandingan untuk-Nya. Kita hanya ingin melakukan perutusan dari-
Nya dan mendengarkan Dia. => 119,120
* Sumber: YOUCAT No.203
MENGAPA SAKRAMEN PENGUATAN ITU PERLU?
Sakramen Penguatan merupakan langkah kedua menjadi seorang Katolik. Penguatan
merupakan sakramen. Artinya, “bahasa isyarat” dari Tuhan. Bahasa isyarat seringkali
berbicara lebih kuat dari bahasa-bahasa lain, karena bahasa isyarat sifatnya universal.
Dalam sakramen, Tuhan mempergunakan benda-benda biasa seperti air, roti, minyak
dan juga tindakan-tindakan tertentu untuk berbicara secara langsung kepada jiwa kita.
Tidak seperti bahasa isyarat lainnya, bahasa isyarat Tuhan mempunyai kuasa untuk
mengubah orang yang menerimanya.
Sakramen Penguatan merupakan yang pertama dari serangkaian sakramen yang
disebut sebagai sakramen “pengurapan”. Sakramen-sakramen tersebut
mempergunakan bahasa isyarat yang sama, yaitu pengurapan dengan minyak. Yang
termasuk dalam sakramen “pengurapan” adalah: Sakramen Penguatan atau Krisma,
Sakramen Pengurapan Orang Sakit dan Sakramen Imamat. Ketiga sakramen tersebut
mempergunakan bahasa isyarat yang sama untuk mengatakan sesuatu yang berbeda.
Dalam Sakramen Baptis, kita disambut dalam persekutuan dengan Kristus. Dalam
Sakramen Penguatan, kita disambut dalam persekutuan dengan suatu komunitas,
yaitu Gereja Katolik. Di kebanyakan Gereja Katolik, seorang Uskup-lah yang
memberikan isyarat penyambutan itu. Perkecualian terjadi apabila calon penerima
sakramen adalah orang dewasa yang baru masuk Katolik. Maka, imam pembimbing
yang menerimakan Sakramen Penguatan. Bapa Uskup atau imam menyatakan
sambutannya dengan isyarat tangan yang artinya “kami menghormatimu, kami
menyambutmu dalam keluarga Katolik.”
4 Riam kota 2024
Sentuhan Ibu Bahasa isyarat “pengurapan minyak” dapat diumpamakan dengan
memijat dengan balsem. Pijatan itu membersihkan, menenangkan serta
menyembuhkan. Ketika kamu masih kanak-kanak, pernahkah ibumu menggosok
dadamu dengan Vicks Vaporub ketika kamu pilek? Atau mungkin menggosok kakimu
yang keseleo? Kamu akan segera merasa nyaman karena dua hal. Pertama, obat
gosok itu meresap ke dalam kulitmu serta menghangatkan tubuhmu sehingga kamu
merasa nyaman. Kedua, karena kamu menikmati sentuhan dari orang yang
mengasihimu. Sama halnya dalam Sakramen Penguatan. Tuhan menyentuhmu dan
menawarkan kesembuhan bagimu dari segala macam beban yang kamu pikul selama
kamu tumbuh dewasa. Tuhan berkata kepadamu, “Aku tidak akan tinggal jauh darimu,
Aku sungguh memperhatikan kamu karena kamu adalah pribadi yang berharga bagi-
Ku.”
Minyak Krisma Sakramen Penguatan mengundang Roh Kudus agar melindungi kita.
Roh Kudus memberi kita kekuatan serta membimbing kita dalam menyempurnakan
persatuan kita dengan Yesus melalui tubuh-Nya di dunia, yaitu Gereja. Roh Kudus
membimbing kita bagaimana menjadi serupa dengan Kristus.
Sumber:
[Link]
APA INTI UPACARA SAKRAMEN PENGUATAN?
Inti sakramen Penguatan ialah pengurapan dengan minyak krisma pada dahi, yang
dilakukan dengan penumpangan (satu) tangan disertai kata-kata: “Terimalah tanda
pemberian Roh Kudus.” Dalam upacara kecil itu ditandakan penadaan dengan minyak
krisma, pengurapan dan penumpangan tangan. Hal ini ditetapkan oleh Paus Paulus VI
dalam Konstitusi Apostolis Divinae Consortes Naturae.
.
APA YANG TERJADI DALAM SAKRAMEN PENGUATAN?
Dalam Sakramen Penguatan, jiwa seseorang yang dibaptis secara Kristen telah
tercetak dengan meterai abadi dan diterima sebagai pribadi Kristen selamanya.
Karunia Roh Kudus adalah kekuatan dari atas saat pribadi melaksanakan rahmat
pembaptisan ke dalam praktik hidup dan bertindak sebagai “saksi” Kristus [1302-
1305,1317]
Menerima Sakramen Penguatan berarti melakukan “perjanjian” dengan Allah.
Penerima sakramen berkata: “Ya, aku percaya akan Engkau, ya Allahku; curahkanlah
Roh Kudus-Mu sehingga aku seutuhnya menjadi milikMu dan tidak akan pernah
terpisah dari pada-Mu dan akan menjadi saksi-Mu sepanjang hidupku, dengan seluruh
jiwa dan raga, perkataan dan perbuatan, dalam untung dan malang,” Dan Allah
5 Riam kota 2024
menjawab: “Ya, Aku pun percaya kepadamu, anak-Ku dan Aku akan mencurahkan
Roh Kudus, Diri-Ku sendiri, Aku akan menjadi milikmu seutuhnya. Aku tidak akan
memisahkan diri darimu, baik dalam hidup sekarang maupun dalam kehidupan kekal
yang akan datang. Aku akan ada di dalam jiwa dan ragamu, dalam kata dan
perbuatanmu. Bahkan ketika kamu melupakan-Ku, Aku akan tetap setia dalam untung
dan malang.
* Sumber: YOUCAT No.205
SIAPA YANG BERHAK MENERIMA SAKRAMEN PENGUATAN DAN APA
PERSYARATANNYA?
Setiap orang Kristen Katolik yang sudah menerima Sakramen Baptis dan “dalam
keadaan rahmat” dapat menerima Sakramen Penguatan. [1306-1311,1319]
Dalam keadaan “rahmat” berarti tidak sedang dalam dosa berat. Dengan dosa berat
seseorang memisahkan dirinya dari Allah dan dapat didamaikan kembali dengan Allah
melalui Sakramen Pengampunan. Seorang Kristen yang sedang mempersiapkan diri
untuk Sakramen Penguatan mendapat dirinya akan masuk tahap yang sangat penting
dalam hidupnya. Ia akan melakukan segala yang mungkin untuk memahami iman
Katolik dengan segenap hati dan pikirannya. Ia akan berdoa sendirian dan bersama
orang lain dalam Roh Kudus. Ia akan berdamai dengan dirinya sendiri, dengan orang-
orang sekitarmya dan dengan Allah. Pengampunan dosa adalah bagian dari persiapan
Penguatan ini karena membawa seseorang lebih dekat kepada Allah, bahkan jika ia
tidak melakukan dosa berat.
* Sumber : YOUCAT No.206
MENGAPA SAKRAMEN KRISMA DISEBUT SAKRAMEN PENGUATAN? APAKAH
KEKHASAN KARUNIA YANG DIBERIKAN SAKRAMEN PENGUATAN?
PERTAMA, memang Sakramen Krisma mempunyai beberapa nama. Sakramen ini
disebut Krisma (Lat:chrismatio = pengurapan), atau Penguatan (Lat:confirmatio =
peneguhan) atau pemeteraian (Lat:consignatio). Sakramen ini disebut pengurapan
karena memang sakramen ini memperkuat anugerah Roh Kudus yang telah diterima
dalam sakramen Baptis. “Pertumbuhan dan Pendalaman” rahmat Baptis itu kemudian
diungkapkan berulang-ulang sebagai “lebih sungguh,” “lebih teguh,” “menambah
karunia,” “lebih sempurna.” Di samping itu Krisma juga “menganugerahkan kekuatan
khusus Roh Kudus.” (KGK 1303; bdk LG 11). Kenyataan ini yang melahirkan nama
sakramen Penguatan.
Teologi Sakramen Krisma yang tercermin dalam Katekismus memang memberi kesan
seolah Krisma hanyalah intensifikasi dari rahmat Baptis. Hal ini seolah merendahkan
nilai Sakramen Krisma. Untuk menunjukkan kekhasan karunia Roh Kudus dari
6 Riam kota 2024
Sakramen Krisma, ada teolog-teolog yang berusaha membedakan dan menonjolkan
karunia Sakramen Krisma. Berikut ini saya sajikan satu contoh usaha tersebut.
KEDUA, Sakramen Baptis melahirkan seseorang dalam hidup kristiani dan
memberikan rahmat pertumbuhannya. Hidup kristiani dan prinsip pertumbuhannya
sudah lengkap, tetapi prinsip pertumbuhan itu membutuhkan “kerangka” untuk menjadi
dewasa. “Kerangka” inilah yang diberikan oleh sakramen Krisma. Kerangka itu
digambarkan sebagai anugerah “struktur-hidup-rohani-dewasa” yang berfungsi seperti
kerangka fisik manusia.
Dengan struktur-hidup-rohani-dewasa penerima Krisma dimampukan memikul
tanggung-jawab kristiani, baik di dalam maupun di luar lingkup Gereja. Artinya dia
dimampukan untuk terbuka dan bekerjasama secara penuh dengan Roh Kudus.
Tanpa Krisma seorang terbaptis akan seperti orang kerdil dalam hidup rohani. Tanpa
Krisma, si terbaptis tetap bisa tumbuh dalam hidup iman (melanjutkan rahmat
kelahiran baru yang diterima dalam baptis), tetapi belum memiliki kekuatan atau
“kerangka” untuk sungguh menjadi dewasa secara rohani. Kerangka rohani tersebut
memampukan si terkrisma Demikian menjadi jelas, bahwa Krisma adalah inisiasi ke
kedewasaan rohani.
Struktur-hidup-rohani-dewasa ini tidak membuat si terkrisma otomatis dewasa secara
rohani, karena dibutuhkan kerjasama bebasnya dalam menanggapi anugerah Roh
Kudus agar anugerah itu efektif terwujud dalam diri orang tersebut. Persiapan
sakramen Krisma membantu secara kodrati mempersiapkan kedewasaan rohani.
KETIGA, Sakramen Krisma juga memberikan anugerah Roh perutusan, yang
mengikut-sertakan si terkrisma dalam tugas publik Gereja untuk memberikan
kesaksian iman kepada dunia. Pemberian Krisma membuat eksplisit, publik dan
kelihatan apa yang sudah diterima dalam Sakramen Baptis, yaitu partisipasi pada tri-
tugas Kristus. Sakramen Krisma memberikan karunia untuk mampu melaksanakan
tugas tersebut. Tugas ini menyangkut tugas membangun jemaah Kristus di dunia ini
dan tugas pewartaan keluar.
TENTANG SAKRAMEN PENGUATAN & MINYAK KRISMA
Perlu diketahui, seringkali terjadi kita menyebut Sakramen Penguatandengan
Sakramen Krisma. Hal ini menjadi rancu dan salah kaprah, karena yang benar
namanya adalah Sakramen Penguatan (Bahasa Inggris: “The Sacrament of
Confirmation”).
Sedangkan Krisma adalah nama minyak yang digunakan untuk mengurapi peserta
yang menerima Sakramen Penguatan. Bahkan tidak hanya itu, minyak krisma juga
7 Riam kota 2024
digunakan untuk Sakramen pembaptisan dan Sakramen Pengurapan/Minyak Suci)
dan juga digunakan untuk Sakramen Tahbisan Imam dan Uskup, konsekrasi altar dan
lonceng gereja. (Bahasa Yunani: “Chrisma” = minyak pengurapan, Christos= yang
diurapi); Minyak Krisma terbuat dari campuran minyak zaitun dan balsam. Biasanya
Minyak Krisma ini diberkati oleh Uskup sebelum perayaan Kamis Putih setiap tahun
bersamaan dengan pembaharuan janji imamat para imam, dimana semua
imam/pastor berkumpul bersama di Gereja Katedral dalam perayaan ekaristi
pemberkatan minyak Krisma dan pembaharuan janji imamat para imam tersebut.
Minyak merupakan simbol kegembiraan, kekuatan, dan kesehatan. Orang yang diurapi
diharapkan memancarkan “aroma harum Kristus.
.
BERAPA KALI SAKRAMEN PENGUATAN DITERIMA?
Semula saya adalah anggota Gereja Kristen Indonesia (GKI). Karena perkawinan,
saya menjadi Katolik. Ketika diterima dalam Gereja Katolik, Romo memberi Sakramen
Penguatan dan komuni pertama.
Apakah saya tidak perlu dibaptis ulang secara Katolik?
Apakah Sakramen Penguatan (Krisma) boleh diberikan Romo?
Bolehkah saya menerima Sakramen Penguatan lagi dari Uskup?
PERTAMA, Sakramen Baptis dari Gereja manapun yang menggunakan materia air
alami dan forma trinitaris; “Aku membaptis engkau dalam nama Bapa, dan Putra dan
Roh Kudus,” diakui sah oleh Gereja Katolik. Karena itu, anggota yang pindah dari
Gereja itu tidak perlu dibaptis lagi, karenaSakramen Baptis-nya diakui sah. Biasanya
hanya perlu dilakukan penerimaan ke dalam Gereja Katolik dengan mengucapkan
Syahadat Gereja Katolik (sebelumnya mengikuti pelajaran). Bisa juga upacara ini
dilengkapi dengan upacara lain, seperti yang dilakukan pada pembaptisan orang
dewasa dalam Gereja Katolik, misal, pemberian pakaian putih, lilin bernyala,
pengurapan dengan minyak Krisma.
KEDUA, sangat mungkin penerimaan Anda ke dalam Gereja Katolik dilakukan dalam
perayaan Ekaristi yang diadakan untuk pembaptisan orang dewasa, sehingga Anda
juga langsung diberi Sakramen Penguatan dan komuni pertama. Memang adalah
peraturan Gereja bahwa para imam juga boleh memberikan Sakramen Penguatan
ketika membaptis orang dewasa atau menerima orang yang telah dibaptis ke dalam
persekutuan penuh dengan Gereja Katolik (KHK kan 883, No. 2). Bahkan, setiap imam
boleh memberikan sakramen penguatan JIKA ORANG ITU BERADA DALAM
BAHAYA MAUT (Kan 883, No. 3). Nilai Sakramen Penguatan yang diberikan imam
adalah sama dengan yang diberikan Uskup.
8 Riam kota 2024
KETIGA, Sakramen Penguatan (Krisma) hanya diterima satu kali saja seumur hidup,
karena Sakramen Penguatan memberikan meterai rohani abadi -karakter sakramental-
pada jiwa orang yang menerimanya. Maka, tidak perlu dan tak boleh menerima
Sakramen Krisma lagi, juga jika diberikan Uskup. Sakramen Krisma yang diberikan
imam sama dengan Krisma yang diberikan Uskup, sehingga tak perlu dan tidak boleh
diulang. Ada tiga sakramen yang memberikan meterai rohani abadi, yaitu Baptis,
Krisma, dan Tahbisan. Ketiga sakramen itu hanya diterima satu kali seumur hidup,
tidak bisa dan tidak perlu diulangi, siapapun yang memberikan.
KEEMPAT, meski sudah menerima Sakramen Krisma, baik juga Anda mengikuti
pelajaran-pelajaran yang diberikan pada persiapan penerimaan Krisma. Melalui
pelajaran itu, Anda akan dibantu untuk mengerti artiSakramen Krisma, apa yang
dituntut untuk menjadi murid Kristus yang dewasa dan apa tugas-tugas yang diberikan
Kristus sebagai anggota dewasa. Pembekalan yang demikian itu akan sangat Anda
rasakan kegunaan dalam penghayatan iman dan pelaksanaan tugas-tugas sebagai
orang Katolik.
Sumber :[Link]
MENGAPA SAKRAMEN PENGUATAN HANYA BOLEH DITERIMA SATU KALI?
Karena Sakramen Krisma memberikan meterai sakramental (disebut juga karakter)
yaitu tanda rohani yang tidak terhapuskan dan karena itu tidak perlu diulang. (KHK kan
845 #1; KGK 1304). Meterai ini menandakan relasi khusus dengan Yesus Kristus
sebagai Penyelamat, yaitu sebagai milik Kristus dan utusan Kristus.
Sumber:hidupkatolik,com
SIAPA YANG BOLEH MENERIMAKAN SAKRAMEN PENGUATAN?
Sakramen Penguatan biasanya diterimakan oleh Uskup. Untuk alasan yang kuat,
Uskup dapat mendelegasikan kewenangannya kepada seorang imam untuk
menerimakannya. Dalam kondisi bahaya maut, setiap imam diperkenankan
memberikan Sakaramen Penguatan [1312-1314]
Sumber : YOUCAT No.207
BELUM MENERIMA SAKRAMEN PENGUATAN, HARUSKAH MENERIMA
SAKRAMEN PENGUATAN (KRISMA) SEBELUM MENIKAH?
Para calon mempelai diharapkan sudah menerima Sakramen Penguatan(Krisma)
sebelum melangsungkan pernikahan di depan altar. Dalam “Tata Perayaan
Perkawinan” yang diterbitkan Juli 2011 (No. 18, hlm. 6; Ordo Celebrandi Matrimonium,
1991) Gereja mengajarkan, “Orang-orang Katolik yang belum menerima Sakramen
Penguatan hendaklah menerimanya untuk melengkapi Sakramen Inisiasi Kristiani
9 Riam kota 2024
sebelum diizinkan menikah, bila hal itu dapat dilaksanakan tanpa kesulitan besar.” Bila
jadwal penerimaanSakramen Krisma oleh uskup di paroki yang bersangkutan itu
masih jauh dan calon mempelai tidak mungkin mendapatkan Krisma sebelum tanggal
perkawinan mereka, maka pastor paroki bisa memberikan kepada calon mempelai itu
Sakramen Krisma yang dibutuhkan. Tentu dibutuhkan persiapan dan pelaksanaannya
dilakukan dalam perayaan Ekaristi..
Oleh: RP Petrus Maria Handoko CM
Sumber: [Link]
.
JIKA SEORANG BELUM MENERIMA SAKRAMEN PENGUATAN, BOLEHKAH DIA
MENJADI LEKTOR?
Karena belum mendapat perutusan resmi secara publik, sebaiknya mereka yang
belum menerima Sakramen Penguatan tidak dilantik secara resmi menjadi akolit,
lektor, pembagi komuni dan tugas-tugas lain dalam Gereja. Tugas misdinar kiranya
bisa diperlakukan secara berbeda. Tetapi, prinsip ini tidak menutup kemungkinan
untuk penugasan sesaat, misalnya untuk membaca sebagai lektor atau melayani di
altar.
.
SAKRAMEN PENGUATAN TIDAK SAMA DENGAN SIDI DI KALANGAN KRISTEN
PROTESTAN
TANYA:
Sakramen Penguatan (Krisma) bagi umat katolik pada dasarnya sama dengan sidi
bagi umat kristen protestan (non katolik). APAKAH PERNYATAAN TERSEBUT
BENAR?
Efektivitas pengaruh Roh Kudus pada saat pemberian krisma kepada umat yang
menerima, kelihatannya tidak terasa. Hanya berupa upacara liturgis yang tidak
menimbulkan efek nyata, bahkan terkesan ritual belaka. Mengapa demikian?
JAWAB:
Dari segi makna dan sejarahnya, tentu saja sidi tidak sama dengan Sakramen
Penguatan. Sidi tidak diberikan oleh uskup yang mempunyai suksesi apostolik sejak
para rasul. SIDI BUKAN SAKRAMEN. Pendek kata, sejak kaum protestan
memisahkan diri dari Gereja yang satu, kudus, katolik, apostolik, (abad 16) maka
mereka sudah berbeda sama sekali secara hakikat dan martabat Gerejawi. Namun
demikian, saling mengetahui tetap bisa ada bagusnya, untuk upaya dialog dan
pemahaman yang sehat, serta untuk mewartakan iman Katolik yang jernih.
10 Riam kota 2024
Sakramen Penguatan dan ketujuh sakramen memiliki substansi ex opere operato dan
ex opere operantis. Ex opere operato artinya, daya guna sakramen itu sendiri ada
ketika sakramen itu diterimakan secara sah sesuai maksud Gereja. Ex opere operantis
artinya, si pelayan sakramen dan penerima sendiri akan mengalami daya guna
sakramen jika layak menyambutnya, yaitu mempersiapkan diri, berdisposisi baik, tidak
dalam dosa berat, dan setelah menerima sakramen membuka hati terhadap rahmat
Allah yang dianugerahkan melalui dan dalam sakramen tersebut. Dalam hal ini, bukan
soal perasaan. Mengapa? Karena perasaan selalu tak bisa dipercaya konsistensinya,
subjektif dan sesaat.
Bolehlah saya berbagi pengalaman. Saya menerima sakramen Penguatan tahun 1985
di gereja Salib Suci stasi gunung Sempu, Paroki Pugeran, Yogyakarta dari tangan Mgr
Julius Darmaatmadja, uskup Keuskupan Agung Semarang waktu itu. Jujur saja,
perasaan saya waktu itu, gembira karena bertemu teman-teman dan karena mau
dipestakan. Apalagi ketika itu juga ada perayaan peresmina gereja tersebut yang
dihadiri bupati Bantul. Kami pun siap dengan aneka kesenian dan penampilan. Yang
kami pikirkan itu saja, bukan pertama-tama hakikat sakramen krisma. Ketika menerima
minyak krisma di dahi dan di tepuk pipi saya oleh uskup, saya tidak merasakan
“resting in the spirit” atau ledakan suka cita luar biasa dalam hati saya. Tidak sama
sekali. Yang saya perhatikan waktu itu ialah bahwa saya senang bisa berjumpa uskup
sedekat ini dan beliau memandang saya dengan penuh kasih sambil mengucapkan
forma sakramen Penguatan, “Terimalah tanda karunia Roh Kudus”. Lalu saya
menjawab “Amin”. Bapa uskup tersenyum dan menepuk pundak kiri saya, saya pun
tersenyum kepada beliau. (Pas waktu itu lampu blitz menyala, dan foto itu tersimpan
sampai kini sebagai kenangan). Begitu saja. Selesai. Kembali ke tempat duduk,
berdoa dalam hati, mengenangkan betapa baiknya Tuhan, diiringi lagu-lagu liturgi dari
koor yang memang isinya pujian – permohonan pada Roh Kudus dan nadanya sangat
membantu doa.
Dalam beberapa kali latihan sebelum hari-H, katekis selalu menekankan bahwa dalam
liturgi Sakramen Penguatan, Roh Kudus benar-benar melantik saya menjadi Saksi
Kristus, bahwa saya sudah menjadi Katolik mandiri yang harus belajar iman Katolik
dan mewartakan Kristus dengan penuh kasih tanpa disuruh-suruh lagi oleh orangtua
atau guru agama. Itu saja. Tidak ada deru angin taufan ataupun perasaan “wow”.
Biasa saja kok. Dalam perjalanan waktu, karena kebiasaan berdoa, menerima ekaristi,
menerima sakramen tobat, aktif di lingkungan dan OMK, aktif di organisasi pemuda,
maka kesadaran akan “kedewasaan iman” itu berkembang. Maka saya bisa
mengalami tuntunan Roh Kudus itu bukan hanya sesaat, namun sepanjang waktu
dalam proses hidup sehari-hari. Sampai kini, buah sakramen Penguatan itu selalu
11 Riam kota 2024
saya alami: semangat, damai, suka cita, kemurahan hati, dst berselang-seling tanpa
perasaan euforia. Perasan euforia karena daya Roh Kudus yang memancar dari
dalam diri saya alami sekali saja ketika tahun 1990 mengalami resting in the Spirit
dalam suatu retret ketika SMA itupun hanya 15 menit.
Selebihnya Roh Kudus membimbing dengan halus dalam hidup rutin yang manusiawi
dan bermartabat. Sampai akhirnya saya berjumpa beberapa kali dalam wawancara
pribadi dengan Mgr Julius Kardinal Darmaatmadja di Seminari. Saya ingat bahwa
Sakramen Penguatan telah saya terima melalui beliau. Beliau tentu saja lupa, karena
begitu banyak yang menerima Sakramen Penguatan melalui beliau. Ketika saya
pindah ke Jakarta tahun 2008, saya menjumpai beliau sebagai uskup Keuskupan
Agung Jakarta, dan saya sudah menjadi imam 8 tahun. Dan ketika beliau memberi
saya “celebret” (surat kewenangan memberikan pelayanan sakramen di wilayah
keuskupan), saya mengingat proses mengagumkan bagaimana Roh Kudus menuntun
saya, bahwa saya menerima sakramen Penguatan melalui beliau ini. Semua bukan
oleh perasaan euforia, melainkan lebih-lebih melalui ketekunan dan ketaatan. Damai
dan suka cita terjadi di dalam proses hidup itu.
Salam: Rm. Yohanes Dwi Harsanto Pr
BUKANKAH KALAU MAU MENERIMA SAKRAMEN PENGUATAN HARUS
BELAJAR DULU? TAPI SAYA LIHAT KALAU ADA MISA PEMBAPTISAN,
SAKRAMEN PENGUATAN LANGSUNG DIBERIKAN JUGA. APAKAH ITU
BERARTI PARA BAPTISAN BARU TERSEBUT SUDAH MENERIMA SAKRAMEN
PENGUATAN?
JAWAB:
Ya, benar, bahwa untuk menerima sakramen Penguatan, seseorang harus
dipersiapkan dengan menerima pengajaran terlebih dahulu. Kalau seseorang dibaptis
saat bayi, maka sebelum ia menerima sakramen Penguatan di usia remaja, ia akan
menjalani masa persiapan ini terlebih dahulu, umumnya selama beberapa minggu.
Namun pada penerimaan Baptis dewasa, masa persiapan ini digabungkan dengan
masa Katekumenat, sehingga pada saat menerima Baptisan, dapat juga diterimakan
sakramen Penguatan dan sakramen Ekaristi.
Demikian ketentuannya dalam Katekismus: KGK 1298 Apabila upacara Penguatan
dirayakan terpisah dari Pembaptisan, seperti yang berlaku dalam ritus Roma, maka
ritus Sakramen mulai dengan pembaharuan janji Pembaptisan dan pengakuan iman
dari mereka yang menerima Penguatan. Dengan demikian jelaslah bahwa Penguatan
berhubungan dengan Pembaptisan (Bdk. SC 71). Kalau seorang dewasa dibaptis,
12 Riam kota 2024
maka ia langsung menerima Penguatan dan ikut serta dalam Ekaristi (Bdk. KHK, Kan.
866).
.
APAKAH ROH KUDUS TIDAK BEKERJA DALAM DIRI KITA SEBELUM
MENERIMA SAKRAMEN PENGUATAN? ATAU APAKAH DENGAN ATAU TANPA
KRISMA ROH KUDUS TETAP BEKERJA? MENGAPA PROSES PENERIMAAN
SAKRAMEN PENGUATAN HARUS DITAMPAR OLEH USKUP? ALKITABIAHKAH?
JAWAB:
Rahmat Allah, yang merupakan karya Roh Kudus, tetap dapat bekerja dalam diri
semua manusia, entah seseorang itu menerima Baptisan atau tidak, atau apakah ia
telah menerima Sakramen Penguatan atau tidak. Rahmat yang bekerja pada waktu-
waktu tertentu dalam diri setiap manusia, untuk mendorong mereka melakukan
kebaikan, adalah actual grace (rahmat pembantu). Namun demikian, mereka yang
telah menerima sakramen, yang dimulai dari sakramen Baptis, menerima rahmat yang
istimewa, yang membuat Roh Allah tinggal/ berdiam di dalam dirinya (lih. 1Kor 6:19),
dan ini disebut sanctifying grace (rahmat pengudusan). Rahmat pengudusan ini akan
tetap ada dalam diri seseorang yang dibaptis, asalkan ia tidak melakukan dosa berat.
Dosa berat mengakibatkan ia kehilangan rahmat pengudusan itu, dan untuk
memperolehnya kembali, ia perlu mengaku dosa dalam sakramen Pengakuan Dosa.
Sakramen Penguatan (Krisma), maksudnya adalah untuk meningkatkan/ menguatkan
rahmat pengudusan yang telah diterima dalam sakramen Baptis, dan dengan demikian
menguatkan juga ikatan kasih kita dengan Kristus. Juga melalui sakramen Penguatan,
kita menerima rahmat sakramental untuk menjadi seseorang yang dewasa di dalam
Kristus, serta kita menerima meterai rohani menjadi milik Kristus dan saksi Kristus.
Hal tepukan di pipi atau di bahu oleh Uskup pada saat ia menerimakan Sakramen
Penguatan, itu maksudnya adalah untuk mengingatkan orang yang menerimanya
bahwa sebagai saksi Kristus ia harus siap untuk mengikuti teladan Kristus, yaitu berani
berkorban/menderita, bahkan sampai rela wafat demi Dia, dan demi melakukan
kebaikan untuk melaksanakan perintah-perintah Allah.
“Tetapi jika kamu berbuat baik dan karena itu kamu harus menderita, maka itu adalah
kasih karunia pada Allah. Sebab untuk itulah kamu dipanggil, karena Kristuspun telah
menderita untuk kamu dan telah meninggalkan teladan bagimu, supaya kamu
mengikuti jejak-Nya.” (1 Ptr 2:20-21) “Tetapi sekalipun kamu harus menderita juga
karena kebenaran, kamu akan berbahagia.” (1 Ptr 3:14)
13 Riam kota 2024
“Tetapi, jika ia menderita sebagai orang Kristen, maka janganlah ia malu, melainkan
hendaklah ia memuliakan Allah dalam nama Kristus itu.” (1 Ptr 4:16) “Karena itu
baiklah juga mereka yang harus menderita karena kehendak Allah, menyerahkan
jiwanya, dengan selalu berbuat baik, kepada Pencipta yang setia.” (1 Ptr 4:19)
“Demikianlah kita ketahui kasih Kristus, yaitu bahwa Ia telah menyerahkan nyawa-Nya
untuk kita; jadi kitapun wajib menyerahkan nyawa kita untuk saudara-saudara kita.” (1
Yoh 3:16)
Sumber: [Link]
.
APA YANG DIKATAKAN KITAB SUCI MENGENAI SAKRAMEN PENGUATAN?
Dalam => PERJANJIAN LAMA, Umat Allah mengharapkan turunnya Roh Kudus atas
seorang Mesias (Juru Selamat). Yesus menjalaninya dalam Roh kasih dan kesatuan
yang sempurna dengan Bapa-Nya di surga. Roh Yesus adalah “Roh Kudus” yang
telah lama dirindukan bangsa Israel sejak Perjanjian Lama; Roh yang sama yang
dijanjikan Yesus kepada para murid-Nya; Roh yang sama turun atas para murid lima
puluh hari setelah Paskah pada Pentakosta. Roh Kudus yang sama dari Yesus inilah
yang turun atas setiap orang yang menerima SAKRAMEN PENGUATAN. (1285-
1288,1315)
“Ketika rasul-rasul di Yerusalem mendengar bahwa tanah Samaria telah menerima
firman Tuhan Allah, mereka mengutus Petrus dan Yohanes ke situ. Setibanya disitu
kedua rasul itu berdoa, supaya orang-orang Samaria itu beroleh Roh Kudus. Sebab
Roh Kudus belum turun di atas seorang pun di antara mereka, karena mereka hanya
dibaptis dalam nama Tuhan Yesus.” (Kis 8:14-16). Dalam Kisah Para Rasul, yang
ditulis beberapa dasawarsa sesudah kematian Yesus, kita membaca bahwa Petrus
dan Yohanes mengadakan perjalanan untuk meneguhkan Orang Kristen yang baru
dengan menumpangkan tangan pada mereka yang sebelumnya “telah dibaptis dalam
nama Yesus”, dan karenanya hati mereka dipenuhi dengan Roh Kudus => 113-120,
310-311
* Sumber: YOUCAT No.204
EKARISTI DAN PENGUATAN
Pada suatu ketika, Rama Paroki mengadakan penyelidikan kanonik kepada calon
pengantin. Satu persatu dari calon itu diminta omong-omong dengan pastor. Ternyata
didapati bahwa salah satu calon pengantin tersebut belum menerima sakramen
penguatan. “Sudah mau jadi manten, kok belum penguatan ta mas?” tanya Rama
Paroki. “Lha tidak ngerti kapan harus menerima je, Rama” jawabnya. “Sudah
14 Riam kota 2024
menerima komuni belum?”, tanya Rama itu lagi. Jawabnya, “Sudah Rama, saya baptis
dewasa, tapi penguatan kok ndak mudheng (tidak paham) kapan diterimakannya.
Tahu-tahu saya lulus sekolah, kerja dan dapat calon bojo (jodoh)”. Inilah kejadian yang
sering terjadi. Ada orang Katolik yang tahunya sudah menerima baptis dan sudah
boleh komuni.
Sementara sakramen laIN, termasuk penguatan tidak masuk dalam hitungannya.
Sakramen Penguatan termasuk sakramen inisiasi, selain baptis dan Ekaristi pertama.
Krisma (dari bahasa Yunani: chrisma = pengurapan) atau penguatan (terjemahan kata
Latin: confirmatio) diterimakan oleh Bapa Uskup sebagai pemimpin Gereja yang resmi
di keuskupan kita. Sakramen ini diterimakan dengan urapan minyak krisma oleh Bapa
Uskup pada dahi penerima Krisma dengan kata-kata: “NN, terimalah tanda karunia
Roh Kudus”. Dengan penerimaan Sakramen Penguatan ini, seorang Katolik dilantik
melalui pencurahan Roh Kudus menjadi warga Gereja yang penuh dan harus siap ikut
bertanggungjawab dengan segala tugas dan kewajiban Gereja sebagai saksi Kristus di
tengah masyarakat!
Penerimaan Sakramen Penguatan tentu saja selalu diupayakan dalam perayaan
Ekaristi, apalagi biasanya Misa tersebut dipimpin oleh Bapa Uskup. Bagaimana pun
juga Ekaristi menjadi pusat dan puncak hidup kita, sehingga penerimaan Sakramen
Penguatan pun secara paling ideal dirayakan dalam Misa Kudus. Dengan perayaan
Ekaristi, seorang yang telah menerima Sakramen Penguatan ditopang dengan
kekuatan rohani tiada tara sehingga menjadi seorang yang tangguh dan handal dalam
mewartakan Injil di tengah dunia ini.
SAYA DULU MENERIMA SAKRAMEN PENGUATAN KETIKA KELAS III SD. SAAT
INI, DI PAROKI SAYA, SAKRAMEN PENGUATAN DIBERIKAN PADA USIA 15
TAHUN ATAU KELAS III SMP. MENGAPA ADA PERUBAHAN INI? APAKAH
DASARNYA?
JAWAB:
Pertama, perubahan usia penerimaan Sakramen Penguatan menunjukkan proses
pematangan pemahaman Gereja atas kekayaan makna Sakramen Penguatan, baik
sebagai sakramen mandiri yang berbeda dengan Sakramen Baptis, maupun sebagai
sakramen pendewasaan dan perutusan yang terkait sangat erat dengan kedewasaan
alami dari penerima. Sakramen Penguatan menandai kedewasaan rohani yang
berbeda dari, tetapi tetap terkait erat dan mengandaikan kedewasaan jasmani.
15 Riam kota 2024
Kedua, pada abad-abad pertama Gereja, Sakramen Penguatan belum secara tegas
dibedakan dari Sakramen Baptis, sehingga Sakramen Penguatan diberikan sekaligus
saat pembaptisan bayi. Pelayannya seorang uskup. Dengan semakin banyaknya
pembaptisan bayi, maka diadakan pembedaan, yaitu Sakramen Baptis diberikan imam
dan diakon, sedangkan Sakramen Penguatan dikhususkan bagi uskup (KGK 1290).
Sakramen Penguatan semakin menjadi sakramen mandiri yang dibedakan dari
Sakramen Baptis.
Ketiga, selama berabad-abad, patokan usia penerima Sakramen Penguatan menurut
Gereja Latin ialah “Dapat menggunakan akal” (KHK Kan 890 #2 dan 891). KHK Kan
97 #2, dikatakan bahwa seorang anak, “Setelah berumur genap tujuh tahun
diandaikan dapat menggunakan akal-budinya”. Patokan usia tujuh tahun ini adalah
patokan yang sama untuk dapat mengaku dosa dan menerima komuni pertama. Inilah
alasan dahulu Sakramen Penguatan bisa diberikan kepada anak-anak yang berusia
tujuh tahun ke atas.
Ada uskup-uskup yang ingin mempertahankan urutan Sakramen Inisiasi yang tepat
(Baptis, Penguatan, Ekaristi), sehingga Sakramen Penguatan diberikan sebelum
mereka menerima komuni pertama. Menurut para uskup ini, pada usia tujuh tahun,
anak-anak sudah mampu memahami dan menerima tiga sakramen, yaitu Penguatan,
Tobat, dan Ekaristi. Meskipun ada patokan usia tujuh tahun, Sakramen Penguatan
juga boleh diberikan kepada anak-anak yang berada dalam bahaya, meskipun belum
mencapai usia itu (KGK 1307).
Keempat, membandingkan Sakramen Penguatan dengan Sakramen Baptis, semakin
disadari bahwa Baptis itu bagaikan kelahiran, sedangkan Sakramen Penguatan itu
bagaikan kedewasaan. Kedewasaan inilah kekhasan anugerah Sakramen Penguatan.
Sakramen Penguatan bukanlah sekadar penguat anugerah-anugerah yang sudah
diterima dalam Baptis, tetapi memiliki anugerah khas yang berbeda dengan Baptis,
yaitu anugerah pendewasaan rohani.
Kedewasaan rohani (dalam iman) tidak sama dengan kedewasaan alami. Bisa saja
seseorang yang masih dalam usia kanak-kanak, tapi karena kekuatan Roh Kudus
berani berjuang untuk Kristus sampai titik darah terakhir (KGK 1308). Namun demikian
secara normal, kedewasaan rohani tetap terkait erat dan mengandaikan kedewasaan
alami seperti dikatakan St Thomas Aquinas, “Rahmat mengandaikan dan
menyempurnakan yang kodrati” (gratia supponit perficitque naturam). Dengan
berpedoman pada hal ini, maka Konferensi Para Uskup bisa “menentukan usia lain”
(KHK Kan 891) untuk penerima Sakramen Penguatan. Banyak Konferensi Para Uskup
16 Riam kota 2024
yang menetapkan usia 15-16 tahun sebagai syarat penerima Sakramen Penguatan.
Inilah praktik yang kita lakukan sekarang.
APAKAH SAKRAMEN PENGUATAN YANG DIBERIKAN IMAM MEMPUNYAI NILAI
YANG SAMA DENGAN YANG DIBERIKAN USKUP?
JAWAB:
Pemberi Sakramen Penguatan ialah Bapa Uskup. Dialah pengganti para Rasul,
pemimpin Gereja Lokal. Sebagai pemimpin, uskuplah yang mengutus para
anggotanya dengan tugas-tugas merasul (apostolik). Dalam status sebagai pengganti
para Rasul, uskup telah menerima Imamat penuh. Para imam adalah pembantu
uskup, yang mengambil bagian pada imamat dan tugas perutusan uskup. Maka
Sakramen Penguatan yang diberikan imam mempunyai nilai yang sama. Minyak
Krisma yang diberkati uskup menjadi simbol kesatuan dengan uskup (KGK 1312-
1313).
17 Riam kota 2024