SATUAN ACARA PENYULUHAN
DIABETES MELITUS
Oleh:
RUANG KENANGA
RSUD KABUPATEN KARANGASEM
SATUAN ACARA PENYULUHAN KESEHATAN
DIABETES MELLITUS
Topik : Diabetes Melitus
Pokok Bahasan : Gizi Diabetes Melitus
Sasaran : Penunggu Pasien Ruang Kenanga
Tempat : Lorong Ruang Kenanga
Hari/tanggal : Sabtu, 11 Maret 2023
Waktu : Pukul 09.00 Wita
I. Tujuan Instruksional Umum
Setelah dilakukan pendidikan kesehatan tentang diabetes melitus, diharapkan pasien
dan penunggu pasien mampu memahami dan mengaplikasikan materi penyuluhan dalam
kehidupan sehari-hari.
II. Tujuan Instruksional Khusus
Setelah diberikan pendidikan kesehatan ini diharapkan pasien dan penunggu pasien mampu:
1. Memahami pengertian Diabetes Melitus.
2. Memahami faktor penyebab Diabetes Mellitus.
3. Mengetahui komplikasi dari Diabetes Mellitus.
4. Mengetahui pencegahan dari komplikasi Diabetes Mellitus.
5. Mengetahui Gaya Hidup Sehat dan Nutrisi yang tepat pada penderita Diabetes Mel-
litus
III. Materi Penyuluhan
1. Pengertian Diabetes melitus.
2. Faktor penyebab Diabetes Mellitus.
3. Komplikasi dari Diabetes Mellitus.
4. Pencegahan dari komplikasi Diabetes Mellitus.
5. Gaya Hidup Sehat dan Nutrisi yang tepat pada penderita Diabetes Mellitus
IV. Metode
1. Ceramah
2. Diskusi tanya jawab
V. Media
1. Leaflet
VI. Evaluasi
1. Penunggu pasien dapat menjelaskan Pengertian Diabetes melitus .
2. Penunggu pasien dapat menyebutkan faktor penyebab Diabetes Mellitus.
3. Penunggu pasien dapat menyebutkan komplikasi dari Diabetes Mellitus..
4. Penunggu dapat mengerti pencegahan dari komplikasi Diabetes Mellitus.
5. Penunggu pasien dapat mengetahui dan menjalankan Gaya Hidup Sehat dan
Nutrisi yang tepat pada penderita Diabetes Mellitus.
VIII. Kegiatan penyuluhan
No Waktu Kegiatan Penyuluhan Kegiatan Masyarakat
1 5 menit Pembukaan:
- Mengucapkan salam Menjawab salam
-. Memperkenalkan diri Mendengarkan
- Menjelaskan topik dan tujuan pendidikan Mendengarkan
kesehatan
- Menanyakan kesiapan Warga Menjawab
2 20 Pelaksanaan:
menit Penyampaian materi
- Pengertian Diabetes Mellitus. Mendengarkan
- Penyebab Diabetes Mellitus.
- Komplikasi dari Diabetes Mellitus.
-Pencegahan komplikasi dari Diabetes Mellitus.
-Menjelaskan tentang Gaya Hidup Sehat dan Nutrisi
yang tepat.
Memberikan kesempatan keluarga untuk bertanya
mengenai materi yang disampaikan Bertanya
3 5 menit Evaluasi:
-Menanyakan kembali hal-hal yang sudah Menjawab
dijelaskan mengenai Diabetes Mellitus
-
4 5 menit Penutup:
- Menutup pertemuan dengan Mendengarkan
menyimpulkan materi yang telah dibahas
- Memberikan salam penutup
Menjawab salam
- Pemeriksaan GDS
MATERI
PENYULUHAN KESEHATAN DIABETES MELLITUS
A. Definisi
Diabetes mellitus adalah keadaan hiperglikemia kronik disertai berbagai
kelainan metabolic akibat gangguan hormonal, yang menimbulkan berbagai komp-
likasi kronik pada mata, ginjal, saraf, dan pembuluh darah, disertai lesi pada mem-
bran basalis dalam pemeriksaan dengan mikroskop elektron.
B. Tipe diabetes
1. Tipe I : diabetes melitus tergantung insulin (insulin-dependentdiabetes
melitus [IDDM]).
2. Tipe II : diabetes melitus tidak tergantung insulin (non-insulin-depend-
ent diabetes melitus [NIDDM]).
C. Etiologi
Insulin Dependen Diabetik Melitus (IDDM) atau Diabetes Mellitus Tergan-
tung Insulin (DMTI) disebabkan oleh destruksi sel beta, Sedangkan Non insulin De-
pendent Diabetes Melitus (NIDDM) Disebabkan kegagalan relative sel beta dan res-
istensi insulin. Resistensi insulin adalah turunnya kemampuan insulin untuk merang-
sang pengambilan glukosa oleh jaringan perifer dan untuk menghambat produksi
glukosa oleh hati. Sel beta tidak mampu mengimbangi resistensi insulin ini sepen-
uhnya, artinya terjadi defisiensi relatif insulin. Ketidakmampuan ini terlihat dari
berkurangnya sekresi insulin pada rangsangan glukosa, maupun pada rangsangan
glukosa bersama bahan perangsang sekresi insulin lain. Berarti sel beta pancreas
mengalami desensititas terhadap glukosa. Adapun menurut tipenya :
Diabetes tipe 1
Diabetes tipe 1 ditandai oleh penghancuran sel-sel beta pangkreas. Kom-
binasi faktor genetik, imunologi dan mungkun pula lingkungan
Dibetes tipe II
Faktor-faktor resiko yang berhubungan dengan proses terjadinya diabetes
tipe II. Faktor-faktor ini adalah : usia, obesitas, riwayat keluarga dan kelompok et-
nik.
D. Faktor Resiko
1. Usia di atas 40 tahun
2. Kegemukan ( Obesitas )
3. Hipertensi ( TD : >140/90 mmhg )
4. Adanya riwayat keluarga dengan diabetes mellitus
5. Riwayat kadar gula abnormal
6. Riwayat penyakit jantung koroner
E. Manifestasi klinis
Diagnosa DM awalnya dipikirkan dengan adanya gejala khas berupa polifa-
gia, poliuria, polidipsi, lemas, dan berat badan turun. Gejala lain yang mungkin
dikeluhkan pasien adalah kesemutan, gatal, mata kabur, dan impotensi pada pria,
serta pruritus vulva pada wanita.
F. Gizi Diabetes Mellitus
METABOLISME ZAT-ZAT GIZI PADA DIABETES MELLITUS.
Metabolisme basal pada Diabetes Mellitus biasanya tidak banyak berbeda dari
orang normal, kecuali pada keadaan yang parah dan tak terkendali. Pada keadaan
puasa kadar glucose darah yang normal adalah 70 – 90/100 ml. Pada diabetes yang
berat angka tersebut dapat mencapai 400 mg/100 ml atau lebih. Sintesa asam lemak
pada penderita DM akan menurun, sebaliknya oksidasi akan meningkat. Hasil meta-
bolisme asam lemak yang berlebihan akan meningkatkan kadar acetone heta hy-
droxylic acid dan acetoacetic acid yang selanjutnya menimbulkan keadaan yang
dikenal sebagai acidosis. Sebagai akibat ketidak normalan metabolisme hidrat arang,
protein akan dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan zat gizi tubuh melalui proses
deaminasi asam amino. Pemecahan protein tersebut akan menyebabkan peningkatan
glucosa darah dan pembakaran asam lemak yang tidak lengkap.
KEBUTUHAN ZAT GIZI PADA PENDERITA DIABETES MELITUS
1. Protein.
ADA pada saat ini menganjurkan mengkonsumsi 10% sampai 20% en-
ergi dari protein total. Menurut konsensus pengelolaan diabetes di Indonesia
kebutuhan protein untuk orang dengan diabetes adalah 10–15% energi. Perlu
penurunan asupan protein menjadi 0,8 g/kg perhari atau 10% dari kebutuhan
energi dengan timbulnya nefropati pada orang dewasa dan 65% hendaknya
bernilai biologi tinggi.
2. Total Lemak.
Asupan lemak dianjurkan < 10% energi dari lemak jenuh dan tidak le-
bih 10% energi dari lemak tidak jenuh ganda, sedangkan selebihnya yaitu 60 –
70% total energi dari lemak tidak jenuh tunggak dan karbohidrat. Anjuran
persentase energi dari lemak tergantung dari hasil pemeriksaan glukosa, lipid,
dan berat badan yang diinginkan. Untuk individu yang mempunyai kadar lipid
normal dan dapat mempertahankan berat badan yang memadai (dan untuk per-
tumbuhan dan perkembangan normal pada anak dan remaja) dapat dianjurkan
tidak lebih dari 30% asupan energi dari lemak total dan < 10% energy dari le-
mak jenuh. Dalam hal ini anjuran asupan lemak di Indonesia adalah 20 – 25%
energi. Apabila peningkatan LDL merupakan masalah utama, dapat diikuti an-
juran diet dislipidemia tahap II yaitu < 7% energi total dari lemaj jenuh, tidak
lebih dari 30% energi dari lemak total dan kandungan kolesterol 200 mg/hari.
Apabila peningkatan trigliserida dan VLDL merupakan masalah utama, pen-
dekatan yang mungkin menguntungkan selain menurunkan berat badan dan
peningkatan aktivitas adalah peningkatan sedang asupan lemak tidak jenuh
tunggal 20% energi dengan < 10% masing energi masing-masing dari lemak
jenuh dan tidak jenuh ganda sedangkan asupan karbohidrat lebih rendah.
3. Lemak Jenuh dan Kolesterol.
Tujuan utama pengurangan konsumsi lemak jenuh dan kolestrol adalah
untuk menurunkan resiko penyakit kardiovaskuler. Oleh karena itu < 10%
asupan energi sehari seharusnya dari lemak jenuh dan asupan makanan koles-
terol makanan hendaknya dibatasi tidak lebih dari 300 mg perhari.
4. Karbohidrat dan Pemanis.
Rekomendasi tahun 1994 lebih menfokuskan pada jumlah total karbo-
hidrat dari pada jenisnya. Buah dan susu sudah terbukti mempunyai respon
glikemik menyerupai roti, nasi dan kentang. Walaupun berbagai tepung-tepun-
gan mempunyai respon glikemik yang berbeda, prioritas hendaknya lebih pada
jumlah total karbohidrat yang dikonsumsi dari pada sumber karbohidrat. An-
juran konsumsi karbohidrat untuk orang dengan diabetes di Indonesia adalah
60 – 70% energi.
5. Sukrosa.
Bukti ilmiah menunjukkan bahwa penggunaan sukrosa sebagai bagian
dari perencanaan makan tidak memperburuk kontrol glukosa darah pada indi-
vidu dengan diabetes tipe 1 dan 2. Sukrosa dan makanan yang mengandung
sukrosa harus diperhitungkan sebagai pengganti karbohidrat makanan lain dan
tidak hanya dengan menambahkannya pada perencanaan makan.
6. Pemanis.
a. Fruktosa menaikkan glukosa plasma lebih kecil dari pada sukrosa
dan kebanyakannya karbohidrat jenis tepung-tepungan. Dalam hal ini fruktosa
dapat memberikan keuntungan sebagai bahan pemanis pada diet diabetes.
Namun demikian, karena pengaruh penggunaan dalam jumlah besar (20% en-
ergi) yang potensial merugikan pada kolesterol dan LDL, fruktosa tidak selur-
uhnya menguntungkan sebagai bahan pemanis untuk orang dengan diabetes.
b. Sorbitol, mannitol dan xylitol adalah gula alkohol biasa (polyols)
yang menghasilkan respon glikemik lebih rendah dari pada sukrosa dan karbo-
hidrat lain. Penggunaan pemanis tersebut secra berlebihan dapat mempunyai
pengaruh laxatif.
c. Sakarin, aspartam, acesulfame adalah pemanis tak bergizi yang
dapat diterima sebagai pemanis pada semua penderita DM.
7. Serat.
Rekomendasi asupan serat untuk orang dengan diabetes sama dengan
untuk orang yang tidak diabetes. Dianjurkan mengkonsumsi 20 – 35 gr serat
makanan dari berbagai sumber bahan makanan. Di Indonesia anjurannya ada-
lah kira-kira 25 g/hari dengan mengutamakan serat larut.
8. Natrium.
Anjuran asupan untuk orang dengan diabetes sama dengan penduduk
biasa yaitu tidak lebih dari 3000 mg, sedangkan bagi yang menderita hiper-
tensi ringan sampai sedang, dianjurkan 2400 mg natrium perhari.
Nutrisi Pada Pasien DM Tipe 1 (IDDM) dan DM Tipe 2 (NIDDM)
1. DM tipe 1 (IDDM)
Diet pada DM tipe 1 dilakukan untuk mengendalikan kadar glukosa darah, yang men-
cakup hal-hal sebagai berikut:
a) Makan 5 – 6 kali setiap hari pada waktu yang kurang lebih sama dengan interval sekitar
3 jam dan terdiri atas 3 kali makanan pokok serta 3 kali camilan. Saat makan harus dise-
suaikan dengan saat penyuntikan insulin hingga kadar puncak insulin dengan plasma
sama dengan kadar gula darah tertinggi sesudah makan.
b) Usahakan minum minuman yang bebas gula dan kaya serat, seperti agar-agar, rumput
laut, gelatin, kolang-kaling.
c) Pilihlah camilan yang rendah lemak dan rendah indeks glikemknya tetapi dengan indeks
kekenyangan yang cukup tinggi seperti sayuran rebus serta buah segar yang berserat dan
tidak begitu manis, pisang rebus, roti bekatul, kacang hijau serta kacang kacangan
lainnya, cracker dan makanan camilan tanpa kalori seperti agar-agar, kolang-kaling, rum-
put laut dll.
d) Biasakan memakan sereal tinggi serat seperti havermut sebagai sarapan (> 6 gram) setiap
pagi: hindari makan sereal yanaag banyak mengandung gula.
e) Biasakan makan buah-buahan segar, khususnya buah yang biasa dimakan bersama kulit-
nya seperti apel, peach, belimbing, jambu, tomat.
f) Hindari kebiasan makan buah-buahan kaleng atau manisan yang direndam dalam sirup.
g) Minum susu rendah lemak (<1%) seperti susu krim, susu kedelai sebagai pengganti susu
fullcream untuk mengurangi asupaan lemak.
h) Lakukan olahraga sebagai bagian dari kegiatan sehari-hari. Olahraga tidak boleh dilak-
ukan bila kadar gula darah tidak terkontrol (>250 mg%) atau bila terdapat keton bodies
dalam urine ( karena bahaya ketoasidosis).
i) Lakukan pemantauan kadar gula darah paling tidak satu kali perhari. Riset membuktikan
bahwa pengendalian gula darah dengan melakukan diet, olahraga yang teratur dan terafi
insulin serta pemantauan gula darah di rumah akan mengurangi perawatan di rumah sakit
bagi penyandang DM tipe 1.
2. DM Tipe 2 (NIDDM)
Tujuan utama diet pada DM tipe 2 adalah menurunkan dan/atau mengendalikan berat
badan di samping mengendalikan kadar gula dan kolesterol yang mencakup:
a) Makan 3 kali makanan utama dan 2-3 kali camilan per hari dengan interval waktu sekitar
3 jam.
b) Makan camilan yang rendah kalori dengan indeks glikemik yang rendah dan indeks kek-
enyangan yang tinggi, seperti kolang-kaling, cincau, agar-agar, rumput laut, pisang re-
bus, kacang hijau serta kacang-kacangan lainnya, sayuran rendah kalori dan buah-buahan
yang tidak manis (apel, belimbing, jambu) serta alpukat.
c) Hindari kebiasaan minum sari buah secara berlebihan, khususnya pada pagi hari dan
gantikan dengan minuman yang berserat dari kelompok sayuran yang rendah kalori sep-
erti blender tomat, ketimun, dan labu siam yang sudah direbus.
d) Sertakan rebusan buncis dan sayuran lain yang dapat membantu mengendalikan glukosa
darah dlam menu sayuran sedikitnya dua kali sehari. Buncis, bawang dan beberapa say-
uran lunak lain (pare, terong, gambas, labu siam) dianggap dapat membantu mengenda-
likan kadar glukosa darah karena kandungan seratnya.
e) Biasakan sarapan dengan sereal tinggi serat, seperti havermout kacang hijau, jagung re-
bus, atau roti bekatul (whole wheat bread) setiap hari.
f) Makanan pokok bisa bervariasi antara nasi (sebaiknya nasi beras merah/beras tumbuk),
kentang, roti (sebaiknya roti bekatul/whole wheat bread) dan jagung. Jangan meng-
gabungkan dua atau lebih makanan pokok seperti nasi dengan lauk mi goring dan perk-
edel kentang ( karena ketiganya memiliki indeks glisemik yang tinggi).
g) Hindari penambahan gula pasir pada minuman (kopi, teh) dan makanan sereal.
h) Makanan camilan dan minuman bebas gula yang tersedia di pasaran. Penyandang dia-
betes yang gemar memasak dapat membuat kue-kue basah seperti wafel yang terdiri atas
tepung gandum utuh, havermout, putih telur, susu skim dan sedikit buah-buahan dengan
aroma yang mengundang selera misalnya pisang, stroberi, nanas.
i) Biasakan membuang lemak/gaji dari daging sebelum memasaknya. Kurangi konsumsi
daging merah yang dapat diganti dengan daging putih seperti daging ayam atau ikan.
j) Gunakan minyak goreng dalam jumloah terbatas (kurang lebih setengah sendok makan
untuk sekali makan). Biasakan memasak dengan cara menumis, merebus, memepes,
memanggang serta menanak, dan hindari kebiasaan menggoreng makanan dengan ban-
yak minyak.
k) Biasakan makan makanan vegetarian pada waktu santap malam.
l) Dalam membuat menu yang menggunakan telur, setiap merah telur dapat diganti dengan
dua buah putih telur, santan dapat diganti dengan susu skim, dan minyak diganti dengan
saus apel. Untuk menu yang memmerlukan kecap, gunakan kecap diet dalam jumlah ter-
batas.
m) Nasihat diet lainnya dapt dimintakan dari ahli gizi/diet.
n) Biasakan berjalan sedikitnya 3 kali seminggu selama >30 menit.
G. Manajemen Diabetes Mellitus Dengan Gaya Hidup Sehat
1. Rencana diet, Dimaksudkan untuk mengatur jumlah kalori dan karbohidrat
yang dikonsumsi setiap hari. Rencana diet harus didapakan dengan berkonsultasi
dahulu dengan ahli gizi yang terdaftar dan berdasarkan pada riwayat diet pasien,
makanan yang disukai, gaya hidup, latar belakang budaya, dan aktivitas fisik. Pada
konsensus PERKENI telah ditetapkan bahwa standar yang dianjurkan adalah santapan
dengan komposisi seimbang berupa KH 60-70%, protein 10-15%, dan lemak 20-25%.
Jumlah kalori disesuaikan dengan pertumbuhan, status gizi, umur, stres akut, dan kegi-
atan jasmani untuk mencapai berat badan ideal. Jumlah kandungan kolesterol <300
mg/hari, jumlah kandungan serat ± 25 gr/hari diutamakan jenis serat larut konsumsi
garam dibatasi bila terdapat hipertensi. Pemanis dapat digunakan secukupnya.
2. Latihan fisik dan pengaturan aktivitas fisik. Dianjurkan latihan jasmani teratur
3-4x tiap minggu selama ±0.5 jam yang sifatnya sesuai CRIPE (Continous, Rhytmical,
Interval, Progressive, Endurance training). Latihan yang dapat dijadikan pilihan adalah
jalan kala, jogging, lari, renang, bersepeda, dan mendayung
3. Batasi gula dalam setiap makanan
4. Utamakan yang tinggi lemak tak jenuh tunggal (kacang-kacangan, alpukat), ce-
gah dislipidemia
5. Batasi makanan tingi purin (asam urat)
6. Stop merokok
7. Cegah kegemukan: IMT <25
8. Tidur min 6 jam sehari
9. Stop minum alkohol
10. Check up teratur terutama untuk usia >40 tahun
11. Pakai alas kaki untuk menghindari luka karena akan beresiko menimbulkan
luka ulkus
12. Berpuasa
13. Pengawasan glukosa di rumah
14. Pengetahuan tentang diabetes dan perawatan diri. Diabetes adalah penyakit
kronik dan pasien perlu menguasai pengobatan dan belajar bagaimana menyesuaikan
agar tercapai kontrol metabolik yang optimal.
DAFTAR PUSTAKA
Brunner &Suddart, 2001. Buku Ajar KeperawatanMedikalBedah, Edisi 8 Volume 2 .EGC:
Jakarta.
Nurarif, Amin Huda, dkk.2015. Aplikasi Asuhan Keperawatan Berdasarkan Diagnosa Medis
dan NANDA [Link]:Mediaction
Sidarwan, S, 2002, PetunjukPraktisPengelolaan DM Perkeni 2002, FKUI-RSU pnCipto Jakarta.