0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
38 tayangan6 halaman

Pencegahan dan Jenis Penyakit Menular

44

Diunggah oleh

nurulintansafina
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
38 tayangan6 halaman

Pencegahan dan Jenis Penyakit Menular

44

Diunggah oleh

nurulintansafina
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

TUGAS RESUME

NAMA : NURUL INTAN SAFINA

KELAS : B/1V KEPERAWATAN

NIM : 4050301440122080

MATKUL : KESEHATAN PEMBANGUNAN

A. Pengertian PM

Penyakit menular ialah penyakit yang dapat berpindah dari seseorang ke orang lain.
Penyakit dapat ditularkan baik melalui kontak langsung dengan penderita, melalui
binatang perantara, udara, makanan dan minuman, atau benda-benda yang sudah
tercemar oleh bakteri, virus, cendawan, atau jamur. Masalah dominannya penyakit
menular dalam komposisi penyakit yang abadi di Indonesia tentu tidak menggembirakan.
Berkembangnya penyakit menular di Indonesia merupakan akibat dari rendahnya tingkat
pendidikan masyarakat, ditambah lagi dengan keadaan lingkungan yang kurang terawat
menyebabkan munculnya berbagai wabah penyakit. Untuk mencegah dan mengatasi
wabah penyakit itu, pemerintah membekali setiap petugas kesehatan dengan pengetahuan
dan keterampilan untuk pence-gahan serta penanganan masalah wabah penyakit menular
tersebut.

B. Jenis-Jenis PM

a. Penyakit Tifus
1) Penyebab : bakteri Salmonella typhi

2) Masa inkubasi : 10-14 hari

3) Cara penularan : melalui makanan dan minuman yang mengandung

Salmonella twhi

b. Penyakit Kolera.

1) Penyebab : Vibrio Cholerae untuk kolera asiatica dan Vibrio Cholerae

Eltor untuk kolera eltor

2) Masa inkubasi : beberapa jam sampai 5 hari

3) Cara penularan : melalui makanan dan minuman yang terkontaminasi

(tercemar) oleh bibit penyakit kolera.

c. Penyakit Tuberculosis (TB)

1) Penyebab : bakteri Mycobacterium Tuberculosa

2) Masa inkubasi : antara 4-6 minggu

3) Cara penularan :

a) melalui pernapasan, bakteri masuk ke dalam paru-paru bersama udara mis.


bersin, batuk, dsb

b) melalui susu sapi yang diminum tanpa dipasteurisasi terlebih dahulu

c) melalui penggunaan pakaian/alat makan yang sama dengan penderita

d. Penyakit Hepatitis

1) Penyebab : virus corona atau severa acute respiratory syndrome

coronavirus 2 (SARS-CoV-2)
2) Masa inkubasi : 10-14 hari

3) Cara Penularan :

a) Penularan hepatitis B, C dan D melalui kontak darah

b) Hepatitis A dan E diekskresikan melalui feses orang yang

terinfeksi. Jika menelan makanan atau air yang terkontaminasi maka akan
terinfeksi hepatitis A atau E

e. Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA)

1) Penyebab : penyebab penyakit ISPA ialah virus, bakteri, bahkan jamur pada saluran
pernapasan mis. rhinovirus (dpt menyebabkan flu)

f. Diare

1) Penyebab : penyebab diare diantaranya infeksi bakteri, virus, dan parasit,


malabsorpsi, alergi, keracunan, imunodefisiensi, dll.

2) Masa inkubasi : 1-3 hari

3) Cara Penularan :

a) Melalui makanan/minuman yang tercemar

b) Kontak langsung dengan tinja penderita

g. Demam dengue

1) Penyebab : virus dengue

2) Masa inkubasi : 3-15 hari

3) Cara Penularan : melalui gigitan nyamuk Aedes Aegypti

h. Malaria

1) Penyebab : parasit Plasomodium vivax.


2) Masa inkubasi : 9-14 hari

3) Cara Penularan : melalui gigitan nyamuk Anopheles betina

i. Cacingan

1) Penyebab : infeksi usus akibat cacing tambang, cacing pita, dan cacing kremi.

2) Cara Penularan :

a) Melalui makanan/minuman yang tidak higenis

b) BAB sembarangan

c) Kontak dengan tanah yang terdapat telur cacing

j. Penyakit kulit

1) Penyebab : infeksi kuman, bakteri mis. kusta, jamur mis. kurap, dan virus mis virus herpes.

2) Masa inkubasi : tergantung penyakitnya, mis. scabies : 2-6 minggu

3) Cara Penularan :

a) Melalui pakaian atau pemakaian alat tenun bersama penderita

b) Kontak langsung dengan penderita

c) Jarang berganti pakaian

d) Tinggal di daerah kumuh atau kebersihan lingkungan yang buruk

k. Penyakit Difteri

1) Penyebab : infeksi bakteri Corynebacterium Diphteriae.

2) Masa inkubasi : 2-5 hari

3) Cara Penularan :

a) Percikan ludah penderita ketika batuk/bersin


b) Pemakaian barang yang terkontaminasi

c) Sentuhan langsung pada luka borok (ulkus) akibat difteri di kulit penderita

l. HIV/AIDS

1) Penyebab : human imonudeficency virus (HIV).

2) Masa inkubasi : bervariasi, umumnya 2-4 minggu

3) Cara Penularan :

a) Penggunaan jarum suntik yang tidak steril dan berulang antar individu dengan
pengidap

b) Bergonta-ganti pasangan dalam bersenggama atau berhubungan seksual dengan


penderita

c) Transfusi darah dari pendonor yang mengidap HIV?AIDS kepada penerima donor

d) Ibu hamil yang mengidap AIDS berisiko tertular kepada janinnya melalui plasenta atau
saat melahirkan ketika bayi menelan cairan di jalan lahir.

C. Pencegahan penyakit menular (P2PM)


a. Kebijakan
1. Meningkatkan advokasi kebijakan yang berpihak terhadap program kesehatan dan
sosialisasi P2PM.
2. Melaksanakan upaya promotif, preventif, kuratif, rehabilitatif dan paliatif secara
komprehensif.
3. Meningkatkan kapasitas sumber daya manusia.
4. Mengembangkan dan memperkuat sistem surveilans.
5. Penguatan jejaring dan kemitraan melalui pemberdayaan masyarakat

b. Strategi
1. Mengutamakan pemberdayaan masyarakat
2. Mengembangkan jejaring kerja, koordinasi, dan kemitraan serta kerja
sama lintas program, lintas sektor, dan internasional
3. Meningkatkan penyediaan sumber daya dan pemanfaatan teknologi
4. Mengembangkan sistem informasi
5. Meningkatkan dukungan penelitian dan pengembangan
6. Meningkatkan penguatan health security terutama peningkatan kapasitas
untuk pencegahan, deteksi dan respon cepat terhadap ancaman penyakit
termasuk penguatan alert system kejadian luar biasa dan karantina
kesehatan
7. Meningkatkan cakupan penemuan kasus dan pengobatan serta penguatan
tata laksana penanganan penyakit dan cedera.

Common questions

Didukung oleh AI

Preventive strategies include community empowerment, establishment of surveillance networks, cross-program and cross-sector collaboration, enhanced resource provision and technology use, information system development, and research support. These strategies collectively contribute to reducing disease incidence by facilitating early detection, efficient resource utilization, and building resilience against health threats .

Public education and awareness play a critical role in preventing disease outbreaks. By educating the population about how diseases spread and how they can be prevented, communities can adopt healthier practices, leading to reduced disease transmission. The document underscores the importance of low education levels as a factor exacerbating disease spread, suggesting that improving education can lead to more effective individual and collective health practices .

The measures to prevent and control infectious diseases include promoting policy advocacy, comprehensive promotive, preventive, curative, and rehabilitative efforts, strengthening human resources, and developing surveillance systems. Additionally, community empowerment and cross-sector collaborations are emphasized. These align with global health standards as they focus on holistic health interventions, capacity building, and integrated efforts across different sectors to enhance health security and response capabilities .

The incubation periods of infectious diseases vary significantly: for typhoid it's 10-14 days, cholera's is a few hours to 5 days, tuberculosis ranges 4-6 weeks, and malaria's is 9-14 days, among others. These periods affect control measures as they determine the timeframe in which symptoms appear, and during which asymptomatic individuals can unknowingly transmit the disease. Thus, prompt quarantine and early treatment strategies need to be adapted based on the specific incubation timeline of each disease .

Low education levels impede disease control efforts by limiting community understanding of transmission mechanisms and prevention strategies. This gap often results in poor health practices and insufficient utilization of available healthcare resources, thereby facilitating the persistence and spread of infectious diseases .

The spread of infectious diseases in Indonesia is significantly impacted by low education levels and poor environmental conditions. These factors contribute to the proliferation of diseases because an uneducated populace may lack awareness of disease prevention methods, and poorly maintained environments can become breeding grounds for pathogens .

Infectious diseases can be transmitted through direct contact with an infected person, intermediaries such as animals, air, contaminated food and drinks, or objects that have been tainted by bacteria, viruses, fungi, or molds .

Diverse incubation periods and transmission methods necessitate a tailored public health approach for each disease. For instance, diseases with longer incubation periods may require extended quarantine measures, while those spread through air might need stringent public space controls. Understanding specific transmission methods allows for targeted interventions, such as sanitation for water-borne diseases or protective equipment against airborne infections .

Community and inter-sectoral collaboration are pivotal for effective disease management and prevention. By involving various community stakeholders and sectors, resources can be pooled, and efforts streamlined for better surveillance, information dissemination, and response actions. These collaborations enhance comprehensive health interventions and bolster societal resilience against widespread outbreaks .

Human behaviors such as poor hygiene practices, coupled with adverse environmental factors like inadequate sanitation, significantly propagate infectious diseases. The sources highlight that low education and poorly maintained environments exacerbate health issues, indicating that behavioral changes, supported by environmental improvements, are crucial to disease control .

Anda mungkin juga menyukai