2.
4 Assembly Chart (AC)
Assembly Chart didefinisikan sebagai diagram yang menjelaskan bagian-bagian yang
membentuk suatu produk. Assembly chart berfungsi sebagai indikator bagian-bagian yang
menyusun suatu produk dan dapat memperbaiki metode kerja seperti postur kerja (Siswiyanti
& Rusnoto, 2018). Assembly Chart (AC) juga merupakan suatu peta kerja yang
menggambarkan langkah-langkah proses perakitan yang akan dialami oleh komponen
(produk), termasuk pemeriksaan (inspeksi) dari awal sampai produk jadi selesai dan juga
memuat informasi- informasi yang diperlukan untuk analisa lebih lanjut, seperti waktu yang
dihabiskan, komponen yang digunakan, dan alat- alat yang dipakai.
Assembly chart merupakan diagram yang menggambarkan hubungan antara komponen
komponen yang akan dirakit menjadi sebuah produk. Assembly cahart bermanfaat untuk
menunjukkan komponen penyususn suatu produk dan menjelaskan urutan perakitan
komponen. Assembly chart adalah peta kerja keseluruhan yang menggambarkan perakitan
bahanbahan baku dan komponen yang menggambrkan perakitan bahan bahan baku dan
komponen secara bertahap, sampai menjadi suatu output produk jadi, Assembly chart juga
menggambarkan hubungan antara komponen komponen yang akan dirakit menjadi sebuah
produk jadi.
Tujuan dari Assembly Chart adalah untuk menunjukkan keterkaitan antara komponen, yang
dapat juga digambarkan oleh sebuah “ gambar terurai “ dan digunakan dalam mengajar
pekerja yang tidak ahli untuk mengetahui urutan suatu rakitan yang rumit. Dengan adanya
informasi-informasi yang bisa dicatat melalui peta assembly chart. Manfaat dari diagram alur
perakitan adalah mengidentifikasi kebutuhan operator, memahami kebutuhan setiap
komponen, alat untuk tata letak fasilitas, alat untuk menentukan cara meningkatkan
pekerjaan, dan alat untuk pelatihan kerja.
Berikut merupakan prinsip dalam penyusun Assembly Chart:
a. Tentukan operasi terakhir sesuai aliran proses perakitan, kemudian digambarkan dengan
lingkaran pada pojok kanan bawah, dan operasinya dituliskan di sebelah kanan lingkaran.
b. Dari lingkaran tersebut dibuat garis horisontal ke arah kiri. Kemudian dibuat lingkaran
untuk menyatukan tiap komponen yang dirakit pada operasi yang baru ditulis. Komponen
sebaiknya disusun menurut urutan pemasangannya, yang terakhir dirakit diletakkan di bawah.
c. Pada akhir garis ditulis nomor komponen, nama, dan jumlah yang dirakit.
d. Diameter lingkaran pada Assembly Chart:
- Komponen-komponen yang akan dirakit : 10 mm
- Sub-Assembly dan Assembly : 18 mm
e. Nomor komponen yang akan dirakit ditulis di dalam lingkaran, sedangkan nama komponen
dituliskan sebelum lingkaran tersebut.
Gambar format assembly chart
Keterangan ;
xx : nomor part
yyy : nama part
zzz : nama dan jumlah fastener (bila ada)
A : Final product
Untuk lingkaran liangkaran SiAj, nilai I bertambah dari kanan ke kiri, nilai j bertambah dari
atas ke bawah.
Assembly Chart
1. Merakit roller ke chasis
2. gear depan ke chasis 01
3. saklar on/off ke chasis 01 Assembly to Chasis 01
4. Merakit as ke chasis 01
5. Merakit ban ke as depan
6. rape 4wd
7. Lempengan saklar on/pff Assembly to chasis 02
9. Penutup saklar
10. Merakit aske chasis 03
dan diperiksa
11. Merakit ban ke as
belakang
12. Merakit gear dynamo ke
dynamo
13 Merakit dynamo ke
chasis 04 dan di periksa
14. Merakit penutup dynamo
ke chasis 04 dan
diperiksa
15. Merakit baterai ke chasis
05 dan diperiksa
16. Merakit pengaman
baterai ke chasis 05
17. Merakit body atas ke
chasis 06
18 Merakit pengunci ke
chasis 06 dan diperiksa