0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
16 tayangan13 halaman

Ketika Bumi Tidak Beredar: Teater Malam

Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOC, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
16 tayangan13 halaman

Ketika Bumi Tidak Beredar: Teater Malam

Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOC, PDF, TXT atau baca online di Scribd

Ketika bumi tidak beredar

Karya [Link].

Peran :
SENIMAN
MAHASISWI
PAK DE
PAIMIN
SOPIR
YANG GAIB
PENOLONG (1-5)

Dokumentasi teater keliling


Taman Modern GV/26 Jakarta Timur [Link]@fax 02146824050 email:tkeliling_jkt@[Link]
2

PEMBAWA CERITA :

(MASUK KE PANGGUNG . BAWA ALAT BUNYI BUNYIAN. KELILING PANGGUNG. GERAK


ANEH DAN UNIK)

Hadirin. Rekan sejawat. Teman sesama pelajar. Siapapun yang hadir disini. Salam jumpa.
Sangat bahagia berdiri didepan, dipanggung ini , disaksikan, didengarkan dengan seriuuuuuuuus …. Bah.
Terima kasih atas perhatiannya dan kedatangannya di ruangan yang sangat akrab ini.

Singkat kata, ada sebuah cerita akan dipanggungkan disini. Judulnya menarik dan sering membuat kita
berkerut bertanya tanya apa artinya. “KTIKA BUMI TIDAK BEREDAR” Wah seperti apa kejadian bumi
tidak beredar? Diam ditempatnya saja. Ya tentu saja kita tak akan mampu membayangkan. Namun kita akan
ambil saja arti kiasannya.
Jadi dalam hidup ini perlu juga belajar bukan hanya yang kelihatan secara lahir saja, fisik saja yang sering
justru menjebak, menipu kita. Enak didepan tapi belakangannya menyakitkan. Bisa saja kan ?

Singkat kata. Disebuah hutan, diperjalanan. Tengah malam. Jauh dari kota, jauh dari perkampungan. Sunyi.
Sepi. Dingin. Gelap. Pokoknya membuat merinding, begitu.

Sebuah kendaraan omprengan sedang mogok…. Gok. Disana itu mobil. Tidak kelihatan dari sini sebab
gelap sekali malam ini. Percaya saja saat ini gelap. Ya kan ?
Mogok karena ban nya kempes dan sopir tidak membawa ban serep. Wah wah wah cilaka bin hancur
hancuran. Tentu para penumpang kesal, marah, gelisah karena masing masing punya kepentingan dan minta
diperhatikan. Ya semua orang memang selalu hanya ingin diperhatikan saja kepentingannya. Kepentingan
orang lain….. no way.
Sopir pada mulanya mengalah tapi lama lama ya emosinya berhamburan juga. Tambah runyam lah
suasananya. Nah lihat saja mereka sedang gelisah. Bingung. Kelihatan kalau bingung kan mereka? Bisa
lihat kan? Kalau tidak percaya ya coba saja merem tutup mata pasti akan terasa gelisah mereka. Tapi nonton
pertunjukan sambil merem apa enaknya? Mendingan dengarkan radio………..

Wah wah wah gelisahnya semakin meningkat, semakin menakutkan… serem serem…hiiiii…….. ayo cepat
cepat aku minggir saja….ayo nonton bareng bareng…… apa yang akan terjadi selanjutnya………
Cilubbbbbb ….baaaaaaaaa………..
3
KETIKA BUMI TIDAK BEREDAR
Karya [Link].

SUASANA MALAM YANG SUNYI. MENCEKAM. PAK DE MONDAR MANDIR GELISAH.

1. PAK DE : (MENGUMPAT SENDIRI) Ini namanya bepergian sial.


2. SENIMAN : Sudahlah pak, tenang. Kita semua juga tidak mengharapkan halangan serupa ini.
3. PAK DE : Ya memang, tapi dia sebagai sopir kan wajib mengetahui dengan baik, bagaimana keadaan
ban mobilnya ?
4. MAHASISWI : Mengapa pula kita dibiarkan terlantar begini ?
5. SENIMAN : Aku kira tidak , tadi kan sopir bilang bahwa dia akan mencari kendaraan lain atau
mengganti ban mobilnya yang meletus itu.
6. PAK DE : Apa? Dia mau mengganti ban mobil darimana? Dalam keadaan malam buta begini?
Darimana akan diperoleh ban mobil itu? Jauh dari perkampungan, jauh dari kota.
7. SENIMAN : Itu kan urusan sopir pak.
8. PAK DE : Coba kalian pikirkan. Seandainya aku tau akan sampai larut malam begini, tadi pasti aku
sudah nekat ikut mobil yang satu tadi.
9. SENIMAN : Mobil yang ngebut mendahului kita tadi?
10. PAK DE : Ya !
11. MAHASISWI : Aku juga berminat naik mobil yang satu itu, tapi kan sudah penuh mutannya, pak ?
12. PAK DE : Daripada seperti orang linglung begini.
13. PAIMIN : ( MUNCUL) Jangan linglung pak De.
14. PAK DE : Kau lagi! Panggil aku pak De! Kapan aku mengawini mbok de mu, bedes ?
15. PAIMIN : Maaf, pak.
16. PAK DE : Kau darimana?
17. PAIMIN : Dari mobil pak.
18. PAK DE : Ada kau lihat sopir?
19. PAIMIN : Tidak. Mengapa ?
20. PAK DE : Kira kira kemana?
21. SENIMAN : Siapa tau pak dalam keadaan malam begini.
22. PAIMIN : Barangkali buang air.
23. PAK DE : Harapanku mudah mudahan ada mobil yang lewat disini.
24. MAHASISWI : Mudah mudahan pak.
25. PAK DE : Coba kalian pikirkan. Siapa orangnya yang tidak jengkel. Besok pagi pagi benar aku
harus sudah berada di kota.
26. SENIMAN : Rupa rupanya ada urusan yang sangat penting pak ?
27. PAK DE : Inilah urusanku yang terpenting didunia.
28. PAIMIN : Ya bagaimanapun pentingnya ; tapi janganlah menjadi orang linglung. Sedang orang
linglung saja pengin waras, kok pak De yang waras ingin linglung?
29. PAK DE : Diam kau !
30. MAHASISWI : Bapak katakan itu urusan terpenting didunia. Urusan apa yang terpenting didunia itu pak
De ?
31. PAK DE : Aku harus mengawinkan ke dua anakku.
32. SENIMAN : Anak pertama bapak atau anak kedua bapak?
33. PAK DE : Kedua anakku. Anak pertama wanita, anak kedua wanita, kedua duanya ingin kawin.
34. SENIMAN : Astaga……….
35. PAIMIN : Tidak perlu heran. Ini zaman komputerisasi. Sekali pencet dua sekaligus muncul.
36. PAK DE : Kadal! Ini bukan zaman komputer atau zaman batu. Persoalannya adalah bagaimana aku
bisa secepatnya meninggalkan tempat ini agar pagi pagi sekali aku sudah berada di kota.
Dasar sopir sial. Ban serep tidak punya. Barangkali juga dongkrak atau kunci juga tidak
punya.
37. SENIMAN : Biar punya kunci dan dongkrak, kalau tidak punya ban serep ya percuma saja pak De.
Aku anjurkan sebaiknya bapak tenang tenang saja. Kita harus ada pengertian. Dalam
keadaan malam buta begini, jauh dari desa, dari kota; jauh dari keramaian begini memang
sopir tidak bisa berbuat banyak.
38. PAIMIN : Jangankan berbuat banyak. Berbuat sedikit saja tidak bisa.
4
[Link] :Tapi bagaimana dia berani mengomprengkan mobil tidak diperlengkapi dengan ban
serep?
40. SENIMAN : Ya memang. Segala sesuatu usaha memang harus diperlengkapi dengan perlengkapan
yang lengkap. Tapi maklumlah zaman sekarang, segalanya asal jadi; yang penting
jalan……
41. SOPIR : ( DARI KEJAUHAN TERDENGAR SUARA IA BERNYANYI; TERDENGAR
SEDANG KESAL. SUARA NYANYI SEMAKIN JELAS DAN SEMAKIN DEKAT.
IA MUNCUL)
42. PAK DE : Pir, sudah kau dapatkan ban serep itu?
43. SOPIR : Ban serep? Bapak pikir aku darimana?
44. PAK DE : Kau darimana?
45. SOPIR : Buang air.
46. PAIMIN : CoCok.
47. PAK DE : Barangkali You sudah sinting? Jadi kamu biarkan saya semalaman disini sampai pagi?
48. SOPIR : Sabar pak, [Link] yang mesti aku lakukan? Kiri hutan. Kanan hutan. Belakang hutan.
Muka ba…….pak, hutan.
49. PAK DE : Sopir tidak bertanggung jawab.
50. SOPIR : Bagaimana bapak bisa mengatakan begitu?
51. PAK DE : Kamu berani mengomprengkan itu mobil dengan menempuh jarak begini jauh dengan
tidak diperlengkapi dengan ban serep?
52. SOPIR : Kenapa bapak mau ikut mobil omprengan yang tidak diperlengkapi dengan ban serep?
53. PAK DE : Bukan kewajiban penumpang untuk memeriksa mobil omprengan pakai ban serep atau
tidak!
54. SOPIR : Ya sudah !
55. PAK DE : Itu kewajiban sopir memperlengkapi ban serep !
56. SOPIR : Bapak kan melek. Itu lihat ! Ban depan sebelah kanan itu baru. Itu aku ambil dari ban
serep, karena ban depan kanan itu pecah. Itu seminggu yang lalu. Dan aku belum sempat
mengganti dengan ban serep yang baru. Kan biasa semua benda bisa rusak. Semua
mobil juga bisa rusak. Apa radiatornya yang bocor. Silinder kop nya yang pecah, plat
kopling yang macet, karburator mampet……
57. PAK DE : Jangan banyak alasan.
58. SOPIR : Bapak juga jangan banyak ribut.
59. SENIMAN : Sudah sudah. Sudah !
60. MAHASISWI : Mudah mudahan kita semua akan sampai di kota sepagi mungkin.
61. PAIMIN : Sehingga pernikahan dua anak wanita bapak bisa berlangsung dengan aman dan damai,
tak kurang apapun dan kado melimpah ruah pak de. Nah bagaimana kalau aku usulkan
agar sopir kita mengisi ban yang pecah dengan rumput.
62. PAK DE : Ya maaf saja, aku memang agak gelisah malam ini.
63. SENIMAN : Malam begini dingin, malam penuh kayal dan syahdu.
64. PAIMIN : Tapi bagi perampok tak ada malam penuh kayal dan syahdu. Oleh karenanya jangan
sampai kita tertidur. Kalau bekalku tak seberapa. Barangkali pakde barangnya besar
karena bawa baju pengantin.
65. PAK DE : Aku tidak bawa apa apa. Barangkali anak muda ini yang bekalnya banyak. Tadi
barangnya aku lihat sangat besar di mobil.
66. MAHASISWI : Isinya cuma buku buku saja.
67. SENIMAN : Oh barangkali anda mahasiswi ?
68. MAHASISWI : Ya, tepat.
69. SENIMAN : Nah, kalau begitu kamu yang tidak boleh tidur.
70. PAIMIN : Kenapa saya? Biar aku tidur sampai mendengkur aku tidak perlu takut. Aku tidak punya
apa apa dan memang tidak pernah punya apa apa walaupun selalu pengin punya apa apa.
71. SENIMAN : Saudara kerja apa ?
72. PAIMIN : Penjual bakso.
73. PAK DE : Siapas namamu so?
74. PAIMIN : Tidak semua penjual baso namanya so pak de. Namaku Raden mas Paimin. Panggil aku
dengan sebutan mince.
75. SOPIR : Rupa rupanya mas Paimin mau membuka usaha perbaksoan di kota ?
76. PAIMIN : Ya begitulah rencanaku. Aku perlu kekota untuk mengadakan “checking on the spot”.
77. PAK DE : Hebat! Penjual bakso tahu kata kata asing.
5
78. PAIMIN : E e e e, buruk buruk begini aku ini jebolan fakultas pak de.
79. MAHASISWI : Mas Paimin dari fakultas apa ?
80. PAIMIN : Perminyakan.
81. MAHASISWI : o, kita satu jurusan mas.
82. PAIMIN : Itu dulu. Sepuluh tahun lalu.
83. MAHASISWI : Jadi sekarang sudah tidak kuliah lagi ?
84. PAIMIN : Aku sudah gagal. Sebab dulu aku hanya masuk pada jam pelajaran yang aku senangi.
85. MAHASISWI : Mata pelajaran apa yang mas Paimin senangi?
86. PAIMIN : Sepak bola. Ah,sayang aku meninggalkan kuliah dengan pengalaman yang tragis. Suatu
hari aku harus ujian lesan dengan seorang guru yang terkenal angker sehingga sering
disebut the killer. Karena tukang cabut nyawa mahasiswa.
87. MAHASISWI : Termausk mas Paimin.
88. PAIMIN : Kira kira begitulah. Ketika dipanggil masuk aku dag dig dug. Kulihat marmar lantai
yang berkilat memantulkan wajahku yang pucat pasi. Aku duduk didepan profesor itu.
Tiba tiba sang profesor membentak bentak mengatakan aku orang tak tahu adat, kasar,
tak tau sopan. Kembali saja kehutan sana.
89. MAHASISWI : Kenapa Mas ?
90. PAIMIN : Rupa rupanya salahku adalah tidak mengetuk pintu sebelum masuk.
91. MAHASISWI : Dan ujian lesan berjalan terus?
92. PAIMIN : Tentu saja.
93. MAHASISWI : Hasilnya ?
94. PAIMIN : Gros dan neto Nol. Tak sepenggal pertanyaanpun mampu aku jawab. Profesor itu tidak
bertanya tentang pelajaran yang aku senangi. Lalu kutinggalkan ruang beliau. Kulihat
ada batu dan kuambil lalu kulempar saja pintu profesor itu. Daaaar !
95. PAK DE : Tentu gempar Min ?
96. PAIMIN : Aku tak ambil pusing.
97. SENIMAN : Tak ada yang berani menangkap?
98. PAIMIN : Mana ada yang berani. Cuma orang berbisik bisik: Orang gila! Orang gila!
99. MAHASISWI : Siapa nama guru besar itu mas ?
100. PAIMIN : Namanya tak perlu kusebutkan. Malamnya beliau mendadak wafat tanpa diketahui
penyebabnya. Tapi diberitakan serangan jantung. Aku kalau ingat beliau selalu
mendoakan bagi arwah almarhum.
101. PAK DE : Kemudian kau jual bakso.?
102. PAIMIN : Daripada lontang lantung tanpa arah tujuan lebih baik jual bakso.
103. PAK DE : Banyak untungnya Min ?
104. PAIMIN : Ya begitulah pak de. Menjual bakso itu merupakan seni tersendiri. Langgananku banyak.
Dari ibu ibu penggede sampai nona nona cantik, sopir,pedagang kaki lima, penjualan
daging,ayam,sayuran….. eh ngomong ngomong daerah ini aman nggak pir ?
105. SOPIR : Aku jamin aman mas Paimin.
106. PAK DE : Mudah mudahan jaminan sopir kita ini kali ini tidak akan mengecewakan kita lagi.
107. SOPIR : Alamak, bapak kita ini. Aku jamin ! Dan aku tidak akan menarik ongkos bapak.
108. PAIMIN : Kalau perlu bahkan akan diberi uang ganti rugi.
109. PAKDE : Maksudku jika senadainya kamu tadi megikutkan aku ke mobil yang satu tadi pasti aku
sudah sampai.
110. SOPIR : Pak, tadi bapak kan lihat sendiri aku bicara dengan sopirnya. Tapi kalau muatan dan
penumpang sudah penuh, lantas bapak mau ditaruh dimana? Masukkan bagasi?
111. MAHASISWI : Sudah tak perlu diulang, nanti ribut lagi.
112. SENIMAN : Malam begini dingin. Malam penuh kayal dan syahdu.
113. PAIMIN : Kalau sudah penuh kayal dan syahdu mau apa ?
114. SENIMAN : Cari aselimut. (EXIT)
115. PAK DE : Masih jauh perjalanan kita ini pir.
116. SOPIR : Cukup jauh. Kita belum melewati jembatan besar.
117. PAK DE : Apa tidak ada kendaraan lagi yang lewat ?
118. SOPIR : Biasanya ada. Tapi kalau sudah jauh malam begini jalanan ini memang seolah olah
mati.
119. PAIMIN : (MELIHAT ARAH DATANGNYA SENIMAN)
Aduh duh duh duh dduuuuh.
6
120. SENIMAN : (MASUK SUDAH DENGAN JAS ATAU JAKET SERAGAM JENDRAL ZAMAN
PERANG DULU)
121. PAIMIN : Pak de, kalau menilik seragamnya aku lantas ingat kepada letnan jenderal Ter Pooorten.
Itu lho bintang bintang didadanya berkilauan. Menyilaukan mata.
122. SENIMAN : O,ya ?
123. PAIMIN : Boleh numpang tanya? Apakah anda adalah perwira yang tercecer dari staf letnan
jenderal Ter Poorten?
124. SENIMAN : Panglima dari gubernur jenderal Carda Van Starkenborgh Stachouwer ?
125. PAIMIN : Ya.
126. SENIMAN : Yang berkumis melintang itu ?
127. PAIMIN : Hiya.
128. SENIMAN : Yang bermata sayu dan beralis tebal ? Dadanya berbulu ?
129. PAIMIN : Hiya hiya ya !! Betul ?
130. SENIMAN : Ya benar.
131. PAIMIN : Pangkat ?
132. SENIMAN : Kolonel?
133. PAIMIN : Kolonel punya keluarga ?
134. SENIMAN : Tidak.
135. PAIMIN : Punya mobil ?
136. SENIMAN : Tidak. Kalau punya mobil buat apa ikut omprengan?
137. PAIMIN : Punya CV ?
138. SENIMAN : Mas Paimin dari team apa kok pertanyaannya nrocos? Jika seandainya aku punya CV,
mas Paimin mau apa ?
139. PAIMIN : Biasa, numpang kerja.
140. SENIMAN : Tidak. Tidak punya.
141. PAIMIN : Apa apa tidak punya, kolonel apa ?
142. SENIMAN : Kolonel ketoprak.
143. MAHASISWI : O, maksudnya anda adalah seniman panggung ?
144. SENIMAN : Kalau yang mengatakan adalah orang lain, ya bolehlah.
145. PAIMIN : Aku pernah jadi pemain sandiwara ketika masih duduk di bangku sekolah dulu?
146. MAHASISWI : Peran apa saja yang pernah mas mainkan ?
147. PAIMIN : Selalu sama. Pelayan. Pernah saya bawa baki penuh gelasm kaki tersandung karpet dan
jatuh pecah berantakan.
148. MAHASISWI : Lucu sekali.
149. PAIMIN : Buat anak anak. Eh ngomong ngomong…….. mau merokok ?
150. MAHASISWI : Tidak. Terima kasih.
151. PAIMIN : Di fakultas perminyakan kan tidak ada larangan merokok ?
152. MAHASISWI : Tapi aku tidak merokok. Jelas?
153. PAIMIN : Seniman panggung biasanya banyak merokok?
154. SENIMAN : Aku tidak.
155. PAIMIN : Pir, malam dingin dingin begini merokok ?
156. SOPIR : Lagi tidak mas.
157. PAIMIN : Pak de…… pak de merokok ?
158. PAK DE : Terima kasih Min. Sejak pensiun aku sudah tidak merokok lagi.
159. SENIMAN : Pensiunan apa pak ?
160. PAK DE : Guru.
161. MAHASISWI : Mengajar apa pak ?
162. PAK DE : Budi pekerti.
163. PAIMIN : Berapa puluh tahun jadi guru budi pekerti ?
164. PAK DE : Sejak umur delapan belas tahun aku sudah berdiri didepan kelas.
165. PAIMIN : Berapa murid yang sudah ditamatkan ?
166. PAK DE : 3674 murid.
167. PAIMIN : Bagus bagus nilai budi pekertinya? Sudah bekerja semua pak?
168. PAK DE : Sudah. Ada yang jadi pemimpin, manager, inspektur polisi, perusahaan asing diluar
negeri.
169. PAIMIN : Tidak ada yang merakyat jelata pak ?
170. PAK DE : Barangkali ada. Cuma sepanjang pengamatan saya tidak ada yang yang jadi penjual
bakso.
7
171. PAIMIN : Bagus jawabannya Walau kedengarannya agak sumbang. Tapi tidak apa apa selama tidak
melanggar hak azasi ku sebagai penjual bakso.
172. MAHASISWI : hebat betul mas Paimin.
173. SENIMAN : Walau penjual bakso tau akan hak azasainya.
174. PAIMIN : Itu untungnya tinggal di negara yang menghargai demokrasi.
175. SENIMAN : Kenapa ?
176. PAIMIN : Karena kita memiliki undang undang yang melindungi kebebasan berpendapat, berpikir
dan berserikat. Sehingga kita akan memiliki budi pekerti yang sehat . Betul begitu
meneeer budi pekerti ?
177. PAK DE : Kadal kau Min. He, bagaimana sopir? Apakah kira kira tidak ada kendaraan yang lewat
disini ?
178. PAIMIN : Tenang pak de, kita tidak sendirian disini. Kita semua senasib sepenanggungan.
179. PAK DE : Jam berapa besok sampai di kota?
180. SOPIR : Ya sekitar tengah hari lewat sedikit.
182. PAK DE : Dan itu sebagian besar urusanku akan terbengkalai.
183. PAIMIN : Sekali lagi saya peringatkan jangan sampai tertidur. Kalau mau tidur ya tidur tidur ayam
saja. (TIDUR) Oh ya, anda kan seniman. Tolong kalau saya tidak punya pekerjaan lagi,
boleh numpang ikut rombongan sandiwaramu ?
184. SENIMAN : Boleh.
185. MAHASISWI: Rupa rupanya mas Paimin dilahirkan serba bisa. Ya penjual bakso, ya pelajar, ya pemain
sandiwara….
186. PAK DE : Ya penjual obat.
187. PAIMIN : E, betul pak. Malahan aku menggunakan kepandaianku membaca suratan tangan.
188. PAK DE : Kalau begitu tolong bacakan suratan tanganku.
189. PAIMIN : Bapak waktu kecil tidak pernah mengalami gangguan moril maupun materiil.
190. SENIMAN : Ya karena dilahirkan di zaman normal.
191. PAIMIN : Tapi menjelang usia sepertiga abad bapak mengalami pukulan mental yang berat.
192. SENIMAN : Ya karena waktu itu masuk zaman abnormal.
193. PAK DE : Ini bukan soal zaman normal atau abnormal. Tapi memang sangat berat cobaan hidup
waktu itu. Oh ya teruskan Min.
194. PAMIN : Aku akan menukik ke hal hal pribadi, boleh?
195. PAK DE : Sebatas tidak melangkahi batas batas kesopanan.
196. PAIMIN : Pak de orang yang taat beribadah dan ber amal saleh.
197. SENIMAN : Maka diangkatlah jadi guru budi pekerti.
198. PAK DE : Tapi bagaimana mungkin aku bukan orangnya yang kau katakan itu Min. Aku dibesarkan
dilingkungan yang taat beragama.
199. PAIMIN : Cuma kenapa pak de selalu terkena penyakit yang dewasa ini sedang berkecamuk.
200. PAK DE : Penyakit apa Min ?
201. PAIMIN : Penyakit ketakutan. Pak de selalu merasa dimana mana diintai, dihantui dikejar kejar
maut sehingga pak de lupa bahwa pak de masih mempunyai kekuatan yang bernama
hidup.
202. SOPIR : Aneh juga orang lupa bahwa dirinya masih hidup.
203. PAIMIN : Zaman sekarang banyak orang hidup tapi lupa dirinya hidup dan disekitarnya juga ada
orang hidup, sehingga tak punya kepedulian apalagi rasa berbagi. Egois, mikirkan
dirinya sendiri.
204. PAK DE : Jadi kau anggap aku ini sudah mati ?
205. PAIMIN : Tidak pak.
206. PAK DE : Memang benar apa yang kau katakan Min, walau caramu menujum seperti orang
sinting.
207. SENIMAN : Kalau cara menujum hanya mengatakan hal hal umum tentang manusia ya semua orang
bisa.
208. PAIMIN : Apa maksud anda?
209. MAHASISWI: Itu yang disebut spekulasi dalam ilmu pernujuman.
210. PAIMIN : Wah ini suatu tantangan. Ini bukan spekulasi, spesialisasi, spesifikasi……atau….
211. SENIMAN : Soalnya harus jelas, kenapa pak de umur sepertiga abad mendapat pukulan yang berat?
212. PAIMIN : Wah itu rahasia jabatan. Tidak baik dibuka didepan umum.
213. PAK DE : Aku tidak keberatan,. Katakan apa yang ingin kau katakan,.
214. PAIMIN : Kenyataan bahwa bapak sudah dua kali kawin?
8
215. PAK DE : Bagaimana kau bisa tau Min ?
216. PAIMIN : Karena aku tukang ramal.
217. SENIMAN : Jadi bapak poligami >?
218. PAIMIN : Tidak. Istri pertamanya sudah wafat.
219. PAK DE : Dan sejak kematian istriku yang pertama itu kehidupanku jadi berubah. Kematian itu
sangat tidak wajar……… Darimana kau belajar menujum Min ?
220. PAIMIN : Dari orang Arab yang sama sama naik kapal. Tengah malam ia menunjukkan
kemampuannya jalan jalan diatas laut.
221. SENIMAN : Orang arab itu jalan diatas kapal dan kapalnya jalan diatas laut?
222. PAIMIN : Orang arab itu nyemplung kelaut.
223. SENIMAN : Dan tidak kembali ?
224. PAK DE : Sudahlah. Sekarang lihat masa depanku Min.
225. PAIMIN : Wah ada syarat syarat nya.
226. PAK DE : Apa itu Min ?
227. PAIMIN : Pertama, ayam putih tiga ekor. Kedua, kain putih tiga meter. Ketiga, daun sirih berwarna
putih tiga lembar.
228. MAHASISWI : Mana ada daun sirih berwarna putih.
229. PAIMIN : Pir, pernah lihat ?
230. SOPIR : Belum pernah.
231. PAIMIN : kalau begitu tunggu sebentar.
232. PAK DE : Mau ambil daun sirih berwarna putih ?
233. PAIMIN : Mau ambil rokok putih. 9EXIT)
234. SENIMAN : Bapak percaya bahwa dia seorang ahli nujum ?
235. PAK DE : Percaya seratus persen sih tidak.
236. SENIMAN : Mungkin bekas tetangga atau kenalan bapak ?
237. PAK DE : Tidak, aku belum pernah jumpa.
238. MAHASISWI : Kan biasa pak, guru lupa muridnya tapi murid pasti ingat terus.
[Link] DE : Tapi aku ingin menunjukkan kelebihan Paimin yaitu tentang keberaniannya mengatakan
atau mengritik kekurangan orang lain.
240. SENIMAN : O, kalau soal keberanian itu zaman sekarang jelas terjamin. Bahkan sering kebablasan.
Main amuk, main bakar. Berani bicara tapi tidak mampu berbeda pendapat.
241. MAHASISWI : Itu yang sedang terjadi. Tapi sebenarnya…………
242. PAIMIN : (MUNCUL MENGEJUTKAN) Jabang bayi jabang bayi. Kita ini terdampar dikuburan.
243. SEMUA : (KETAKUTAN) Kuburan ? Angker ?
244. PAIMIN : Entahlah, tapi beeeeeer………
245. SENIMAN : Kenapa takut? Mas ahli nujum takut kuburan?
246. PAIMIN : Aku ? Aku pernah dikubur hidup hidup dan tidak mati mati…..
247. MAHASISWI : Kenapa berkata jabang bayi jabang bayi segala?
248. PAIMIN : Maklumlah, istri ku masih muda dan sedang hamil muda.
249. SENIMAN : Sopir takut juga ?
250. SOPIR : Siapa bilang. Bapak saya penjaga kuburan. Saya dilahirkan ditengah kuburan. Hiiiii…..
251. SENIMAN : Mahasiswa kok penakut ?
253. MAHASISWI : Penakut? Huuuuuu hiiii heeee…….haaaa….
254. SENIMAN : Pak de takut juga ?
255. PAK DE : (TANPA KATA BINGUNG SAJA KESAL)
256. PAIMIN : Anda sendiri bagaimana?
257. SENIMAN : Inilah saat saat yang kutunggu tunggu. Aku ingin berkunjung kepada setan setan, jin,
dan peri serta kuntilanak yang cantik cantik penghuni kuburan.
258. PAK DE : (MARAH) Hentikan pembicaraan kalian ! Tidak bisakah kalian menghormati makam
dan menghargai roh roh dari orang orang yang sudah meninggal? Ingatlah suatu saat
kalian juga akan menjadi penghuni kuburan.
259. PAIMIN : Kenapa suatu saat? Sekarang pun sedang jadi penghuni kuburan.
260. PAK DE : Gila ! Kau gila?!
261. PAIMIN : Tidak pak de. Kita ini adalah roh roh yang berkeliaran diatas bumi, mengerikan. Sudah
lama kita mati !!!
262. WANITA : (DARI JAUH MENANGIS SAYUP SAYUP)
263. PAK DE : Apa kalian dengar suara itu ?
264. SEMUA : (PASANG TELINGA)
9
265. WANITA : (MENANGIS DARI JAUH)
266. SOPIR : Suara tangis seorang wanita.
267. PAK DE : Darimana suara itu datangnya ?
268. PAIMIN : Kuburan.
269. SEMUA : (KETAKUTAN)
270. SENIMAN : Mengapa kalian ketakutan ?
271. SOPIR : Soalnya benarkah suara itu tangis wanita?
272. WANITA : (KERAS MENANGISNYA MENGEJUTKAN)
273. SEMUA : (KETAKUTAN LAGI)
274. SOPIR : Perlukah kita lihat ?
275. PAIMIN : Tapi sopir sadar kan kalau ini kuburan?
276. PAK DE : Sudahlah pir, duduk saja tenang tenang.
277. SOPIR : Kalau tangis itu kayalan semata memang tak perlu diperhatikan, tapi kalau nyata
nyata…… hiii merinding bulu kudukku….
278. SENIMAN : Nah disinilah aku ingin melihat sikap kalian terhadap hal yang kayal dan yang nyata.
279. WANITA : (MENANGIS KERAS SEKALI DAN SUARANYA ANEH)
280. SOPIR : Suara itu makin keras….. (EXIT KEARAH SUARA)
281. MAHASISWI : Kembali! Kembali ! Huh sok berani. Baru sopir. Sok sopir !!!!
282. PAIMIN : Bukan sok tapi cari muka…….karena yang menangis sesamanya.
283. SOPIR : Tolong tolong tolong tolong tolong toloooooong !!!(MASUK KEMBALI) Tolong
tolong punggungku punggung punggung. Tolong punggung.
284. SENIMAN : Ayo mas paimin tolong sopir kita.
285. PAIMIN : Kenapa mesti saya ?
286. SOPIR : Tolong tolong punggung, punggung, punggung…pungguuuuuung………
287. PAIMIN : Sabar, sabar… mana yang namanya punggung. (MEMERIKSA DENGAN TAKUT
TAKUT)
288. SOPIR : terus terus terus…. Masuk terus…… (SELAMA DIPERIKSA DIALOGNYA ITU
TERUS )
289. PAIMIN : Uuu, sama belalang rumput takutnya bukan main.
290. SENIMAN : Lagipula kenapa mesti kesana?
291. SOPIR : Dan kenapa kalian tidak berbuat sesuatu untuk menolong wanita itu ?
292. PAK DE : Ya kalau manusia wanita? Kalau bukan ?
293. SENIMAN : Ya kalau bukan. Kalau wanita ?
294. PAIMIN : Ya kalau bukan wanita. Kalau bukan bukan ?
295. WANITA : (MENANGIS KERAS ANEH SEMAKIN ANEH)
296. SOPIR : Dengar! Suara tangsinya semakin keras dan aneh. Kita harus berbuat sesuatu cepat.
297. PAIMIN : Ya sopir saja kesana lagi.
298. SENIMAN : Jangan. Dengan belalang rumput saja setengah mati takutnya. Bisa bisa mati berdiri
disana nanti.
299. PAIMIN : Atau pak de saja.
300. PAK DE : Kadal kau Min.
301. PAIMIN : Bagaimana pendapat seniman ?
302. SENIMAN : Kalaan perhatikan cahaya remang remang disana itu ?
303. MAHASISWI : Cahaya apakah itu ?
304. SOPIR : Cahayanya semakin pudar.
305. SENIMAN : He siapakah engkau? Manusia atau hantu kuburan ? (MENUNGGU JAWABAN) He
siapakah engkau? Hantu kuburan atau manusia ?
[Link] : (BERHENTI MENANGISNYA DAN GANTI TERTAWA TERKEKEH
MENGERIKAN)
307. SEMUA : (SEMAKIN NGERI SAJA)
308. SENIMAN : Heeeeee……
309. PAIMIN : Percuma, tak ada jawaban. Itu pasti hantu betina.
310. PAK DE : Sejak semula aku sudah mengira begitu Min.
311. SENIMAN : Mas Paimin diperlukan untuk saat saat seperti ini.
312. PAIMIN : Orang arab itu tidak mengajarkan aku dalam hal menghadapi per hantuan. Justru saya
ingin tau bagaimana pendapat seniman terhadap hal yang penuh misterius ini?
313. SENIMAN : Pertama tama carilah suara itu bukan dimana mana tapi didalam pikiran kita masing
masing.
10
314. PAK DE : Apa yang anda maksudkan?
[Link] :Kemarikan tanganmu mas [Link] ini kepada suara wanita yang menangis dan
tertawa itu.
316. PAIMIN : He siapakah engkau? Manusia atau hantu? Aku akan lemparkan uang logam ini
kepadamu. Kalau kau betul betul manusia pasti tidak bisa mengembalikan uang ini
kepadaku karena tempat ini gelap. Tapi kalau kau hantu pasti bisa. (MELEMPARKAN
UANG) Tidak kembali… ( SUARA TIIING UANG KEMBALI KENA PAIMIN)
Aduh. Uang logam kembali.
316. SOPIR : Jangan jangan mas Paimin kita ini tukang nujum yang ahli sulap. (DILEMPAR UANG
LOGAM KESAKITAN) Aduh. Wah benar juga.
317. PAK DE : Kalau Setiap orang berteriak lantas dilempar uang logam, bisa inflasi uang logam kita.
Aduh…..
318. PAIMIN : Ada apa pak?
319. PAK DE : Punggungku Min. Seperti ada yang melempar dengan benda keras.
320. PAIMIN : Sakit pak de?
321. PAK DE : Lumayan sakitnya.
322. SOPIR : Wah itu apa kelihatan menonjol ?
323. PAIMIN : Hiii.
324. SOPIR : Ambil mas Paimin.
325. PAIMIN : ( PELAN PELAN AMBILNYA) Tampaknya seperti benda keras yang dibungkus
dengan kain merah.
326. PAK DE : Kain merah ?
327. PAIMIN : (MELEMPAR KE YANG LAIN DAN BEGITULAH SALING MELEMPAR DAN
NANTINYA AKHIRNYA PAIMIN MEMBUANG JAUH)
328. SENIMAN : Nah terbukti bahwa ini bukan sandiwara.
329. PAK DE : Siapa yang bilang ini sandiwara ?
330. SENIMAN : Ternyata memang ada saatnya orang boleh bercanda dengan hidup seperti halnya diatas
panggung sandiwara, tapi ada saatnya orang harus menangkap hidup ini sebagai
kenyataan yang lain.
331. PAK DE : Apa maksudmu ?
332. YANG GAIB : (MUNCUL DIBELAKANG PAK DE SANGAT MENAKUTKAN. MENARI NARI)
333. PAK DE : Coba terangkan wahai seniman.
334. YANG LAIN : (BERUSAHA MEMBERITAHU PAK DE TAPI SERBA SALAH SAMBUNG)
335. PAK DE : ( MELIHAT DAN TAKUT LALU DIBANTU YANG LAIN MELEPASKAN DIRI)
336. YG GAIB : (TERTAWA ANEH)
Wahai anak anak bumi.
Apa yang tengah kalian kerjakan disini ?
Apa yang tengah kalian lakukan disini ?
(MENAKUTI DENGAN SUARA DAN GERAK)
Wahai anak anak bumi.
Sadarkah apa yang telah kalian kerjakan selama ini?
Sadarkah apa yang telah kalian lakukan selama ini disini ?
(MENGHENTAK DAN MENGEJAR DENGAN NGERI)
Wahai anak anak bumi.
Kalian telah tumpahkan dupa dupa keramatku.
Kalian telah remas remas asap dupa pelega nafasku.
Kalian telah goncang goncangkan pohon kembojaku
Kalian telah gunduli semua pohon pohon [enjaga persediaan air dalam tanah
Kalian telah terbangkan burung burung hantu penjaga kubur
Kalian telah bungkam kicau burung pelipur kegelisahan hati
Kalian………
(TERTAWA NGERI DAN SEMUA KETAKUTAN)
Wahai anak anak bumi.
Kalian telah bakar hutan penyangga air kehidupan
Kalian bakar rumah, harta benda, manusia hanya karena perbedaan pendapat
Kalian bangunkan kubur kubur tua yang rengkah
Kalian bangunkan roh roh yang tengah berada dalam alam peristirahatannya
Huaaaaaa …hiiiii…..
11
(MENGERIKAN SEKALI MENAKUTI MEREKA)
Mengapa kalian tinggal diam disitu?
Mengapa terpaku berwajah pucat pasi
Dimana keberanian hidupmu merubah kebodohan kalian
Dimana tanggung jawabmu untuk menciptakan kedamaian
Mengapa oh mengapa
Bagaimana oh bagaimana
Daripada bengong ketakutan tak mampu berbuat apapun
Tak punya kemampuan menolong diri sendiri dan orang lain
Maka……
(TERIAK MENGERIKAN LALU BERUBAH RAMAH)
Kemarilah nak,
Mari kemari wahai anak anak bumi.
Singgahlah ke pondokku
Istirahat dengan tenang selamanya disini
Kita pesta ria disini dengan tenteram
Sambil menanti akhir zaman
Kubukakan pintu gerbang istana hitam sunyi dan dingin
Masuklah ke rongga rongga kubur yang sudah lama tersedia
Rongga rongga kubur terbuka ternganga………..
(TERTAWA GEMBIRA ANEH NGERI)
Rongga ternganga….ternganga…ternganga…. (SAMBIL MENGHILANG)
337. PAIMIN : Kita harus cepat keluar dari sini.
338. SENIMAN : Ya cepat, mana pintu pintu.
339. PAIMIN : Kuburan , mana pintumu ?
340. SEMUA : (BINGUNG CARI PINTU, KARENA GELAP SALING TABRAKAN JADINYA)
341. PAIMIN : Pak de, bisa melihat ?
342. PAK DE : Melek sih melek tapi tidak kelihatan. Gelap sekali.
343. SENIMAN : Itu dia ada kelihatan pintu.
344. SEMUA : Ayo cepat keluar. (SEMUA BERDESAKAN MAU KELUAR. SALING DORONG
AKHIRNYA PINTU TERBUKA DAN BERJATUHAN MEREKA. AIR BAH
DATANG ) Air bah. Air bah. Awas awas.
345. PAIMIN : Aman, air bahnya sudah lewat.
346. SEMUA : (BERNAFAS LEGA)
347. PAIMIN : Awas kelelawar raksasa. Tiarap. (SEMUA TIARAP) Sudah aman lagi.
348. PAK DE : lalu sekarang apa yang harus kita lakukan tukang nujum ?
349. PAIMIN : ya terus jalan.
350. PAK DE : kemana ?
351. PAIMIN : Kedepan.
352. SENIMAN : jangan ribut, jalan saja.
353. PAK DE : Pir, jalan seperti ini berapa kilometer per jam?
354. SOPIR : Nggak jelas. Jalan sambil ketakutan tidak bisa diukur.
355. PAIMIN : Masuk hutan . Wah pohonnya besar besar. Awas selokan. Wah sungai. Ayo mulai
berenang. (SATU PERSATU BERENANG. )
356. ORANG2 : (SETELAH PAIMIN SELESAI MENYEBERANG MAKA TERDENGAR SALING
BICARA TAPI TAK JELAS)
357. PAK DE : Min suara apa itu ?
358. PAIMIN : Sepertinya manusia banyak.
359. PAK DE : Yakin ?
360. PAIMIN : Antara ya dan tidak.
361. PAK DE : Ada yang bergerak gerak disana? Wah makin mendekat.
362. PAIMIN : (MENCOBA MENDEKAT DAN KAGET LALU KEMBALI CEPAT) He, siapa kalian
dan datang kemari mau apa?
363. ORANG2 : (MUNCUL )
364. ORANG : Stop. Sepertinya ada bangkai.
365. ORANG : Bangkai kok berdiri ? Menakutkan juga ya?
366. ORANG : Ayo masukkan karung cepat. Kita seret keatas.
367. ORANG2 : (MENDEKATI MEREKA YANG DIAM KETAKUTAN)
12
368. ORANG : Awas jangan sampai rusak. Eh, masih ada yang gemeter.
369. ORANG : Jangan jangan baru sekarat.
370. PAIMIN : (KETIKA AKAN DITARIK, TIBA TIBA IA TERIAK) Siapa kalian ?
371. PAK DE : Hantu ya ?
373. PAIMIN : Hantu atau manusia ?
374. ORANG : Manusia pak ? Kalian manusia atau hantu ?
375. ORANG : Lihat kakinya menginjak tanah atau tidak ?
376. ORANG : Punggungnya bolong atau tidak ?
377. PAIMIN : (MENAKUT NAKUTI) Aku hantu yang lepas dari kerangkeng mau cari darah segar
wanita.
378. ORANG2 : Gebug saja habis perkara.
379. ORANG : Kalau salah gebug.
380. ORANG : Urusan belakang. Kita kan mempertahankan diri.
381. PAIMIN : Sabar sabar. Aku manusia. Situ manusia juga ?
382. ORANG : Yakin bahwa kalian manusia?
383. PAIMIN : Lho manusia tidak yakin dirinya manusia itu manusia apa?
384. ORANG : Kenapa ada disini tengah malam buta begini?
385. ORANG : Camping ?
386. PAIMIN : Camping ? Enak saja. Kami ini penumpang mobil yang bannya meletus dan sopir tidak
bawa ban serep. Situ ada kendaraan yang bisa kami tumpangi ?
387. ORANG : kami ini penduduk yang sedang mencari korban meninggal.
388. PAIMIN : Dimana. Kenapa?
389. ORANG : Ada mobil bawa penumpang penuh ngebut dan di tikungan sana selip dan masuk jurang.
390. PAIMIN : Penumpangnya ?
391. ORANG : Mati semua.
392. PAIMIN : Sopirnya ?
393. ORANG : Mati semua.
394. PAIMIN : Mobilnya ?
395. ORANG : Mati semua.
396. PAIMIN : Kalau begitu apa yang harus kita lakukan ?
397. ORANG : ya menolong mencari korban.
398. SENIMAN : Jadi semua harus turun tangan gotong royong memberi pertolongan. Jauh ?
399. ORANG : Ya begitulah kira kira.
400. SENIMAN : Saya dengan sopir ikut kawan kawan ini. Lalu sopir ikut yang lain kearah sana.
Mas Paimin dengan kawan yang lainnya lagi kearah sana. Pak De jaga barang disini.
(SEMUA MULAI BERGERAK )
401. PAK DE : (MENARIK PAIMIN) Min, aku jaga barang. Lalu kau jaga aku Min. Ini kan bentuk
kerjasama juga ?
402. PAIMIN : Ya pak de.
403. PAK DE : Memang segala sesuatu kalau diselesaikan dengan bersama sama tentu akan beres. Kita
perlu menyadari bahwa kita harus hidup bersama. Kalau hanya saling menyalahkan.
Saling menuding, saling merasa benar sendiri ya akhirnya hanya cekcok saja. Persoalan
tak selesai selesai. Hati hati,, nanti setan setan senang kalau kita saling cerai berai.
Mereka dengan mudah menguasai kita Ya kan Min…. Min…Min…..Miiiiiiiiiiin……

PENUTUP :

Nah hadirin jelas kan begitulah keadaannya ketika bumi tidak beredar. Marilah kita selalu beredar dan yang
terpenting melihat dengan seksama apa yang sedang hidup dan kita pun masuk hidup bersama dan
bekerjasama memecahkan apapun persoalan yang muncul dihadapan, sekeliling dan didalam diri kita.

Inilah mereka……………(Curtain call )

SELESAI.
Disusun kembali oleh teater keliling 11 Nopember 2000.
13

Anda mungkin juga menyukai