0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
39 tayangan5 halaman

Atribut dan Karakteristik Auditor Fraud

Diunggah oleh

anandapurnama21
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
39 tayangan5 halaman

Atribut dan Karakteristik Auditor Fraud

Diunggah oleh

anandapurnama21
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

1.

1 Atribut Seorang Akuntan Forensik dan Karakteristik Pemeriksaan Fraud


A. Atribut Seorang Akuntan Forensik
Atribut seorang Akuntan Forensik adalah bagaimana seorag auditor
memahami suatu entitas dengan kaitannya entitas lain, menurut penjelasan
(Tuanakotta,2010:285) mengememukakan ada lima hal yang harus dimiliki oleh
seorang auditor, yaitu:
a. Pertama menghindari pengumpulan fakta dan data yang berlebihan secara
prematur. Identifikasi lebih dahulu siapa pelakunya.
b. Kedua fraud auditor harus mampu membuktikan “niat pelaku melakukan
kecurangan”.
c. Ketiga, seorang auditor harus kreatif,berpikir seperti pelaku fraud, jangan
dapat ditebak.
d. Keempat, auditor harus tahu bahwa banyak kecurangan dilakukan dengan
persekongkolan.
e. Kelima, dalam memilih strategi untuk menemukan kecurangan dalam
investigasi proaktif.
Dari penjelasan tersebut dapat dirumuskan sebagai berikut:
a. Dari awal upayakan menduga siapa pelaku.
b. Fokus pada pengambilan bukti dan barang bukti untuk pengadilan.
c. Kreatif, jangan dapat ditebak.
d. Investigator harus memiliki intuisi yang tajam untuk merumuskan teori
mengenai persengkongkolan.
e. Kenali pola fraud.
B. Karakteristik Pemeriksaan Fraud
Association of Certified Fraud Exeminers (ACFE) menjelaskan karakteristik
pemeriksa fraud yang harus memiliki kemampuan yang unik. Disamping keahlian
teknis, pemeriksa fraud yang sukses mempunyai kemampuan mengumpulkan
fakta-fakta dari berbagai saksi secara adil (fair), tidak memihak, sahih (mengikuti
perundang-undangan) dan akurat, serta mampu melaporkan fakta-fakta yang
dikumpukan dan kemudian melaporkannya dengan akurat dan lengkap. Sehingga
dapat dikatakan pemeriksa fraud adalah orang yang memiliki gabungan keahlian
dari pengacara, akuntan, kriminolog dan detektif atau investigator.
Menurut Allan Pinkerton menyebutkan kualitas yang harus dimiliki oleh
seorang detektif, yaitu seorang detektif harus memiliki beberapa kualifikasi
tertentu, yaitu hati-hati (tidak gegabah), menjaga kerahasiaan pekerjaannya,
kreatif dalam menemukan hal-hal baru, pantang menyerah, berani, dan di atas
segala-galanya adalah jujur. Disamping itu, detektif harus juga memiliki
kemampuan dalam pendekatan dengan manusia dan ketangguhan mencari
informasi seluas-luasnya yang memungkinkannya menerapkan kemahirannya
sebagai detektif dengan segera dan secara efektif.
Kemampuan berinteraksi dengan manusia amat menentukan. Sikap pemeriksa
terhadap orang lain memengaruhi sikap orang lain tersebut keapadanya. Sikap
yang bermusuhan akan menimbulkan rasa was-was dalam diri responden, yang
kemudian menyebabkan mereka bersikap menarik diri dan menjaga jarak.
Selanjutnya Art Buckwalter mengatakan, rahasia menjadi private investigator
adalah menjadi sosok yang disukai orang lain. Pemeriksa yang menyesatkan
orang lain seringkali menyesatkan diri sendiri.
Pemeriksa fraud harus mempunyai kemampuan teknis untuk mengerti
konsep-konsep keuangan dan kemampuan untuk menarik kesimpulan
terhadapnya. Ciri yang unik dari kasus – kasus fraud, yakni berbeda dengan
kejahatan tradisional atas harta benda, adalah identitas pelakunya biasanya
diketahui. Dalam kasus – kasus fraud, issue-nya bukanlah penentuan identitas
pelakunya, namun apakah perbuatannya dapat dianggap merupakan fraud.
Adapun karakteristik sebagai pemeriksa fraud dalam pelaksanaan audit
investigatif berdasarkan (BPKP,2007), yakni:
a) Pemeriksa fraud harus memiliki kemampuan yang unik. Kemampuan untuk memastikan
kebenaran dari fakta yang dikumpulkan dan kemudian melaporkan fakta-fakta itu secara
akurat dan tepat.
b) Memiliki kepribadian yang menarik dan mampu memotivasi orang lain untuk
membantunya.
c) Memiliki kemampuan teknis untuk mengerti konsep-konsep keuangan dan mampu untuk
menarik kesimpulan.
1.2 Kaitan Independen, Skeptic, dan Objektif dengan Akuntan Forensik

Independen berarti sikap mental yang bebas dari pengaruh, tidak dikendalikan
oleh orang lain, tidak tergantung pada orang lain. Independen dapat juga diartikan
adanya kejujuran dalam diri auditor dalam mempertimbangkan fakta dan adanya
pertimbangan yang obyektif tidak memihak dalam diri auditor dalam merumuskan
dan menyatakan pendapatnya.
Skeptic atau skeptisme profesional adalah sebagai sikap auditor yang
mencakup pikiran yang selalu mempertanyakan dan melakukan evaluasi secara
kritis terhadap bukti audit. Seorang auditor yang skeptis, tidak akan menerima
begitu saja penjelasan dari klien, tetapi akan mengajukan pertanyaan untuk
memperoleh alasan, bukti dan konfirmasi mengenai obyek yang dipermasalahkan.
Objektivitas adalah sikap mental yang tidak bias yang memungkinkan auditor internal
untuk melakukan penugasan dengan sedemikian rupa sehingga mereka
meyakini hasil pekerjaan mereka dan meyakini tidak ada kompromi.
Menurut (BPKP,2007) Sikap tersebut merupakan sikap yang harus melekat pada
diri seorang auditor. Ketiganya juga tidak dapat dipisahkan dari pekerjaan akuntan
forensik. Ketiga standar tersebut merupakan pedoman bagi para auditor dalam
melaksanakan tugas pemeriksaannya. Laporan audit dikatakan sebagai laporan audit
yang berkualitas jika telah dapat memenuhi standar-standar yang telah ditetapkan
(Suryasiswantoro, 2009). Standar audit secara parsial berpengaruh terhadap kualitas
audit, karena standar audit merupakan kriteria atau ukuran mutu yang wajib
dipedomani.
1.3 Kode Etik Akuntan Forensik, Standar Audit Investigatif, dan Standar
Akuntansi Forensik
A. Kode Etik Akuntan Forensik
Kode etik mengatur hubungan antara anggota profesi dengan sesamanya, dengan
pemakai jasanya dan stakeholder lainnya, dan dengan masyarakat luas. Kode etik
adalah sistem norma, nilai dan aturan profesional tertulis yang secara tegas
menyatakan apa yang benar dan baik dan apa yang tidak benar dan tidak baik bagi
profesional.
Di Amerika Serikat, (ACFE) telah menetapkan kode etik bagi para fraud auditor
yang bersertifikat, yang terdiri atas delapan butir yaitu :
a. Seorang fraud auditor yang bersertifikat, dalam segala keadaan, harus
menunjukkan komitmen terhadap profesionalisme dan ketekunan dalam
pelaksanaan tugasnya.
b. Seorang fraud auditor yang bersertifikat tidak diperkenankan untuk melakukan
tindakan yang bersifat ilegal atau melanggar etika, atau segenap tindakan yang
dapat menimbulkan adanya konflik kepentingan.
c. Seorang fraud auditor yang bersertifikat, dalam semua keadaan, harus
menunjukkan integritas setinggitingginya dalam semua penugasan
profesionalnya, dan hanya akan menerima penugasan yang memiliki kepastian
yang rasional bahwa penugasan tersebut akan dapat diselesaikan dengan
sebaik-baiknya.
d. Seorang fraud auditor yang bersertifikat harus mematuhi peraturan/perintah
dari pengadilan, dan akan bersumpah/bersaksi terhadap suatu perkara secara
benar dan tanpa praduga.
e. Seorang fraud auditor yang bersertifikat, dalam melaksanakan tugas
pemeriksaan, harus memperoleh bukti atau dokumentasi lain yang dapat
mendukung pendapat yang diberikan. Tidak boleh menyatakan pendapat
bahwa seseorang atau pihak-pihak tertentu “bersalah” atau “tidak bersalah”.
f. Seorang fraud auditor yang bersertifikat tidak boleh mengungkapkan informasi
yang bersifat rahasia yang diperoleh dari hasil audit tanpa melalui otorisasi
dari pihak-pihak yang berwenang.
g. Seorang fraud auditor yang bersertifikat harus mengungkapkan seluruh hal
yang material yang diperoleh dari hasil audit yakni, apabila informasi tersebut
tidak diungkapkan akan menimbulkan distorsi terhadap fakta yang ada.
h. Seorang fraud auditor yang bersertifikat secara sungguh-sungguh harus
senantiasa meningkatkan kompetensi dan efektivitas hasil kerjanya yang
dilakukan secara profesional.
B. Standar Audit Infestigatif
Adapun kaitannya mengenai standar maupun perihal yang menjadi acuan dalam
pelaksanaan audit investigatif , yakni:
a) Standar 1
Seluruh investigasi harus di landasi praktek - praktek terbaik yang diakui (accepted
best practise). Istilah best practise sering dipakai dalam penetapan standart dalam
istilah ini tersirat 2 hal yaitu:
Adanya upaya membandingkan antara praktek-praktek yang ada dengan merujuk
kepada yang terbaik pada saat itu.
Upaya benchmarking dilakukan terus menerus untuk mencari solusi terbaik.
b) Standar 2
Mengumpulkan bukti - bukti dengan prinsip - prinsip kehati - hatian (due care)
sehingga bukti-bukti tadi dapat diterima di pengadilan.
c) Standar 3
Memastikan bahwa seluruh dokmentasi dalam keadaan aman, terlindungi, dan di
index, dan jejak audit tersedia. Dokumentasi ini diperlukan sebagai referensi apabila
ada penyelidikan dikemudian hari untuk memastikan bahwa investigasi sudah
dilakukan dengan benar. Referensi ini juga membantu perusahaan dalam upaya
perbaikan cara-cara investigasi sehingga acccepted best practices yang dijelaskan
diatas dapat dilaksanakan.
d) Standar 4
Memperhatikan bahwa para investigator mengerti akan hak asasi pegawai dan
senantiasa menghormatinya. Kalau investigasi dilakukan dengan cara yang melanggar
hak asasi pegawai, yang bersangkutan dapat menuntut perusahaan dan
investigatornya. Bukti-bukti yang sudah dikumpulkan dengan waktu dan biaya yang
banyak, menjadi sia-sia.
e) Standar 5
Mengingat bahwa beban pembuktian ada pada perusahaan yang “menduga“
pegawainya melakukan kecurangan, dan pada penuntut umum yang mendakwa
pegawai tersebut, baik dalam kasus hukum administratif dan pidana.
f) Standar 6
Mencakup seluruh substansi investigasi dan “kuasai” seluruh target yang sangat kritis
ditinjau dari segi waktu.

Anda mungkin juga menyukai