BAB II
LANDASAN TEORI
A. Kajian Teori
1. Kompetensi Profesional
a. Pengertian Kompetensi
Kompetensi secara etimologi berasal dari kata bahasa
Inggris “competency” yang berarti kecakapan atau
kemampuan. Kompetensi merupakan kemampuan dan
kewenangan guru dalam melaksanakan profesi keguruannya.1
Sementara kompetensi secara terminologi berarti pengetahuan,
keterampilan, dan nilai-nilai dasar yang direfleksikan dalam
kebiasaan berpikir dan bertindak.2 Adapun dalam Kamus Besar
Bahasa Indonesia, kompetensi berarti kewenangan (kekuasaan)
untuk menentukan (memutuskan) sesuatu.3
Berdasarkan pengertian diatas, bahwa kompetensi guru
adalah adanya kecakapan, kemampuan, pengetahuan,
keterampilan, dan kewenangan dalam memutuskan sesuatu
yang dimiliki oleh guru atau pendidik dalam melaksanakan
profesi keguruannya.
1
Moh. Uzer, Menjadi Guru Profesional, (Bandung: Remaja Rosdakarya, 1996), hal. 14
2
Abdul Majid dan Dian Andayani, Pendidikan Agama Islam Berbasis Kompetensi
(Konsep dan Implementasi kurikulum 2004), (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2005), hal. 9
3
Pusat Bahasa Depertemen Pendidikan Nasional, Kamus Besar Bahasa Indonesia Edisi
Ketiga Cet. III, (Jakarta: Balai Pustaka, 2005), hal. 795
11
12
Guru sebagai pekerjaan professional juga memerlukan
kemampuan dan keahlian khusus dalam menjalankan tugasnya
yang biasa disebut kompetensi guru. Kompetensi guru berupa
seperangkat pengetahuan, keterampilan, dan perilaku yang
harus dimiliki, dihayati, dan dikuasai oleh seorang guru agar ia
dapat melaksanakan tugas-tugas keprofesionalannya. Dengan
penguasaan kompetensi-kompetensi itu diharapakan
pencapaian pendidikan nasional dapat [Link]
bukan hanya sekadar pengetahuan teknologi dan manajemen,
akan tetapi lebih merupakan sikap professional yang
menekankan kepada penguasaan ilmu pengetahuan atau
kemampuan manajemen beserta strategi penerapannya.
Pengembangan keprofesionalan guru lebih dari seorang teknisi,
bukan hanya memiliki keterampilan yang tinggi tetapi memiliki
tingkah laku yang dipersyaratkan dan dapat menjadi teladan.
Secara umum, sikap professional seorang guru dapat
dilihat dari faktor luar. Namun hal tersebut belum
mencerminkan seberapa baik potensi yang dimiliki oleh guru
sebagai tenaga pendidik. Guru yang professional akan selalu
tampil maksimal dalam setiap pelaksanaan profesinya.
Kompetensi guru sangat diperlukan karena kompetensi
berguna untuk kemajuan dan peningkatan-peningkatan kinerja
guru agar tercapai tujuan yang diinginkan. Hal yang menjadi
13
aspek penentu bagi keberhasilan sebuah profesi yaitu sikap
professional kualitas kerja seorang pendidik.
b. Guru atau Pendidik
Guru dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia berarti
orang yang pekerjaannya (mata pencahariannya, profesinya)
mengajar.4 Pendidik atau guru menurut Undang-undang nomor
14 tahun 2005 pasal (1) disebutkan bahwa guru adalah seorang
pendidik professional dengan tugas utama mendidik, mengajar,
membimbing, melatih, menilai, dan mengevaluasi peserta didik
pada pendidikan anak usia dini jalur formal, pendidikan dasar,
dan pendidikan menengah. Oleh karena itu, guru yang
professional adalah guru yang mempunyai kompetensi.
Dalam Undang-undang Republik Indonesia nomor 14
tahun 2005 Tentang Guru dan Dosen juga disebutkan bahwa
kompetensi yang harus dimiliki oleh guru meliputi kompetensi
pedagogik, kompetensi kepribadian, kompetensi sosial, dan
kompetensi professional. Selanjutnya, di dalam penjelasan
undang-undang tersebut dijelaskan bahwa kompetensi
pedagogic adalah kemampuan mengelola pembelajaran peserta
didik; kompetensi kepribadian adalah kemampuan kepribadian
yang mantap, berakhlak mulia, arif, dan berwibawa serta
menjadi teladan bagi peserta didik. Adapun kompetensi sosial
4
Ibid., hal. 509
14
berarti kemampuan guru untuk berkomunikasi dan berinteraksi
secara efektif dan efisien dengan peserta didik, sesama guru,
orang tua/ wali peserta didik, dan masyarakat sekitar.
Kemudian kompetensi professional seperti yang telah
diungkapkan sebelumnya yaitu kemampuan mendidik,
mengajar, membimbing, melatih, menilai, dan mengevaluasi
peserta didik.
Keempat kompetensi tersebut secara teoritis dapat
dipisah-pisahkan satu sama lain. Namun, secara praktis
keempat kompetensi tersebut tidak mungkin dipisah-pisahkan.
Keempatnya saling menjalin secara terpadu dalam diri seorang
guru.
1) Kompetensi Pedagogik
Kompetensi pedagogic adalah seperangkat kemampuan
dan keterampilan (skill) yang berkaitan dengan interaksi
pembelajaran antara guru dengan peserta didik di dalam
kelas. Guru dituntut memahami tentang ilmu mendidik atau
teknik-teknik mendidik. Diantaranya adalah memahami
karakter peserta didik atau psikologis peserta didik,
mengetahui metodologi pembelajaran, dan teknik
penyampaian. Hal ini merupakan aktivitas pokok tugas
15
seorang guru. Salah satu tugas pokok pedagogik guru
adalah kegiatan proses belajar mengajar yang meliputi:5
a) Kegiatan evaluative, yaitu upaya guru untuk secara
kontinu melalui proses dan keberhasilan pembelajaran
yang dikembangkan oleh guru. Dari kegiatan evaluative
ini, guru menganalisis kelebihan dan kekurangan dari
proses pembelajaran.
b) Kegiatan reaktif/proaktif, yaitu upaya guru dalam
mencari bahan atau materi, pendekatan metode, teknik,
dan strategi yang lebih baik sebagai reaksi terhadap
hasil evaluasi sebelumnya.
c) Kegiatan implementatif, yakni dalam kegiatan ini guru
menerapkan apa yang telah dikembangkan yang
berbentuk materi, metode, strategi, dan media guna
mendapatkan keberhasilanyang maksimal dalam proses
pembelajaran.
2) Kompetensi Kepribadian
Kompetensi kepribadian adalah seperangkat
kemampuan dan karakteristik personal yang mencerminkan
realitas dan sikap perilaku guru dalam melaksanakan tugas-
tugasnya. Kompetensi kepribadian ini melahirkan ciri-ciri
guru, yakni tenang, sabar, bertanggungjawab, demokratis,
5
Ibrahim Bafadal, Manajemen Peningkatan Mutu Sekolah Dasar dari Sentralisasi
Menuju Desentralisasi, (Jakarta: Bumi Aksara, 2003), hal. 32
16
ikhlas, cerdas, menghormati orang lain, stabil, ramah, tegas,
berani, kreatif, inisiatif, dan lain-lain.
Dalam bukunya Zakiah Daradjat dkk disebutkan bahwa
guru memiliki kepribadian baik diantaranya adalah:6
a) Guru harus mencintau jabatanya sebagai guru. Dengan
mencintai jabatannya sebagai guru, ia sadar bahwa
dirinya ialah seorang pendidik yang mempunyai
tanggung jawab secara moral dan kewajiban sebagai
seorang guru. Jadi, menjadi seorang guru tidak sekadar
hanya sebuah pekerjaan yang mendapatkan gaji belaka,
dan kedudukan atau jabatan pangkat. Menjadi guru
adalah sebuah panggilan jiwa yang menuntut
bertanggung jawab pekerjaan yang mempunyai
implikasi moral yang tinggi.
b) Bersikap adil kepada semua peserta didik. Guru tidak
boleh pilih kasih terhadap peserta didik yang memiliki
kelebihan tertentu, tetapi guru dituntut untuk memiliki
tanggung jawab yang mengembangkan potensi semua
peserta didiknya degan tanpa melihat latar belakangnya.
c) Berlaku sabar dan tenang. Guru harus tetap tabah, sabar,
dan berusaha mengkaji masalah yang terjadi dengan
tenang. Sebab, mungkin juga kesalahan terletak pada
6
Zakiah Daradjat dkk, Ilmu Pendidikan Islam, (Jakarta: Bumi Aksara, 2000), hal. 42-43
17
dirinya sendiri yang kurang simpatik atau cara
mengajarnya yang kurang terampil.
d) Guru harus berwibawa. Guru yang berwibawa
harusdapat menguasai semua peserta didik di dalam
kelasnya. Misalnya, kondisi kelas yang awalnya ramai,
ketia ia datang dengan segera kelas dan seisinya
menjadi tenang dan tidak ada keributan lagi.
e) Guru harus bergembira. Guru yang bergembira
maksudnya yaitu guru yang memiliki rasa humor, suka
tertawa dan memberi kesempatan tertawa kepada
peserta didiknya. Kegiatan pembelajaran apabila
diselingi humor, maka peserta didik akan merasa
nyaman dalam belajarnya. Pembelajaran disini tetap
serius, namun dibuat santai, dan materi pelajaran
disampaikan guru hingga peserta didik memahaminya.
3) Kompetensi Sosial
Kompetensi sosial adalah seperangkat kemampuan dan
keterampilan yang terkait dengan hubungan atau interaksi
dengan orang lain. Artinya, guru dituntut memiliki
keterampilan berinteraksi dengan masyarakat, khususnya
dalam mengidentifikasi, menganalisis, dan menyelesaikan
masalah dari masyarakat. Dalam realitas masyarakat, guru
tetap menjadi sosok elit masyarakat yang dianggap
18
memiliki otoritas moral cukup besar. Salah satu
konsekuensi agar peran itu tetap melekat dalam diri guru,
maka guru harus memiliki kemampuan berhubungan
berkomunikasi dengan orang lain. Kompetensi sosial bagi
guru merupakan hal yang harus dimiliki oleh guru dalam
interaksinya.7
Dalam melakukan pendekatan dengan peserta didik
guru harus memperhatikan bagaimana berkomunikasi dan
berinteraksi dengan peserta didik. Dengan demikian, guru
akan diteladani oleh peserta didiknya.
4) Kompetensi Profesional
Kompetensi professional merupakan seperangkat
kemampuan dan keterampilan terhadap penguasaan materi
pelajaran secara mendalam, utuh, dan komprehensif.8
Guru yang memiliki kompetensi professional tidak
cukup hanya memiliki penguasaan materi secara formal,
namun juga harus memiliki kemampuan terhadap materi
ilmu lain yang memiliki keterkaitan dengan pokok bahasan
dengan mata pelajaran tertentu. Misalnya, guru pendidikan
agama Islam yang mengajarkan tentang materi beriman
7
George R. Knight, Filsafat Pendidikan: Isu-isu Kontemporer dan Solusi Alternatif,
(Yogyakarta: Idea Pers, 2004), hal. 55
8
Saekhan Muchith, Pembelajaran Kontekstual cet. I, (Semarang: Rasail Media Group,
2008), hal. 149
19
kepada Allah tidak cukup hanya dengan materi
pengertiannya saja, namun juga secara keseluruhan.
Charles E. Johnson mengemukakan bahwa kompetensi
merupakan perilaku rasional untuk mencapai tujuan yang
dipersyaratkan sesuai dengan kondisi yang diharapkan.9
Kompetensi guru dapat dimaknai sebagai kebulatan
pengetahuan, keterampilan, dan sikap yang berwujud
tindakan cerdas dan penuh tanggung jawab dalam
melaksanakan tugas sebagai agen pembelajaran.
Kompetensi utama yang perlu dimiliki dalam mengajar,
minimal adalah kompetensi penguasaan materi
pembelajaran, kompetensi pemanfaatan media
pembelajaran, dan kompetensi penggunaan strategi
pembelajaran. Apabila ketiga hal tersebut telah dikuasai
oleh guru, maka kemungkinan besar pembelajaran akan
berlangsung dan peningkatan belajar peserta didik akan
sesuai dengan yang diharapkan oleh guru.
a) Kompetensi Penguasaan Materi
Menurut Undang-undang Republik Indonesia nomor
14 tahun 2005 seorang guru harus memiliki kompetensi
yang berkaitan dengan tugasnya, antara lain: pertama,
kompetensi pedagogic, yaitu kemampuan mengelola
9
Kunandar, Guru Profesional Implementasi Kurikulum KTSP dan Sukses Dalam
Sertifikasi Guru,(Jakarta: Rajawali Pers, 2007), hal. 51
20
pembelajaran peserta didik. Kedua, kompetensi
kepribadian, yaitu kemampuan kepribadian yang
mantap, berakhlak mulia, arif, dan berwibawa serta
menjadi teladan bagi peserta didik. Ketiga, kompetensi
sosial, yang kemampuan berkomunikasi dan
berinteraksi secara efektif dan efisien dengan peserta
didik, sesama guru, orang tua/wali peserta didik, dan
masyarakat sekitar. Keempat, kompetensi professional,
yaitu kemampuan dan keterampilan terhadap
penguasaan materi pelajaran secara mendalam, utuh,
dan komprehensif.
Penguasaan guru terhadap materi pembelajaran
penting dimiliki oleh guru agar proses pembelajaran
yang dilaksanakan berjalan dengan baik dan lancar.
Penguasaan materi bagi guru merupakan hal yang
sangat menetukan berjalannya sebuah proses belajar
mengajar. Apabila peserta didik harus menguasai
minimal seperti yang terdapat pada silabus, maka guru
tentunya harus menguasai lebih dari apa yang terdapat
pada silabus tersebut. Setiap mata pelajaran harus
dilengkapi dengan adanya buku sumber untuk peserta
didik yang membahas materi seperti yang terdapat pada
silabus dan buku sumber pegangan guru yang
21
membahas perluasan materi dari silabus. Buku sumber
pegangan guru ini antara lain mencakup latar belakang
dari materi pelajaran, konsep-konsep dasar materi
pelajaran, serta perkembangan baru dalam ilmu
pengetahuan dan teknologi dari materi pelajaran
tersebut.
Menurut Sudirman, materi adalah satu sumber
belajar bagi peserta didik. Materi yang disebut sebagai
sumber belajar ini adalah sesuatu yang membawa pesan
untuk tujuan pengajaran.10 Syaiful Bahri Djamarah dan
Azwan Zain mengemukakan materi pelajaran adalah
substansi yang akan disampaikan dalam proses
pembelajaran, karena tanpa materi pelajaran proses
pembelajaran tidak akan berjalan.11
Berdasarkan penjelasan diatas, dapat dipahami
bahwa materi pelajaran adalah sesuatu yang membawa
pesan, isi pengajaran atau substansi yang akan
disampaikan dalam proses belajar mengajar.
Dalam proses belajar mengajar, guru dapat memilih
dan menetapkan materi pelajaran sesuai dengan
kebutuhan dalam rangka mencapai tujuan yang telah
ditetapkan. Pemilihan materi pelajaran dapat efektif
10
Sudirma, Ilmu Pendidikan Cet. III, (Jakarta: Remaja Rosdakarya. 1991), hal. 203
11
Syaiful Bahri Djamarah dan Aazwan Zein, Strategi Belajar Mengajar Cet. II, (Jakarta:
Rineka Cipta, 1997), hal. 50
22
apabila pelajaran yang dipilih oleh guru harus
menunjang tercapainya tujuan pengajaran yang sudah
ditetapkan.
Maka, hal-hal yang perlu diperhatikan guru dalam
menetapkan materi pelajaran adalah sebagai berikut:12
1.) Materi pelajaran hendaknya sesuai dengan
tercapainya tujuan instruksional.
2.) Materi pelajaran hendaknya sesuai dengan
tingkat pendidikan atau perkembangan siswa
pada umumnya.
3.) Materi pelajaran hendaknya terorganisasi secara
sistematik dan berkesinambungan.
4.) Materi pelajaran hendaknya mencakup hal-hal
yang bersifat factual maupun konseptual.
Menurut Nana Sudjana, kemampuan menguasai
materi pelajaran sebagai bagian integral dari proses
belajar mengajar. Guru yang professional harus
menguasai materi yang akan diajarkannya. Adanya
buku pelajaran bukan merupakan satu-satunya buku
yang harus dikuasai guru, namun harus menguasai
buku-buku lainnya yang ada kaitannya dengan materi
pelajaran tersebut. Memang guru bukan maha tahu,
12
R. Ibrahim dan Nana Syaodih, Perencanaan Pengajaran Cet. III, (Jakarta: Rineka
Cipta, 2010), hal. 102
23
namun guru dituntut memiliki pengetahuan umum yang
luas dan mendalami keahliannya atau mata pelajaran
yang menjadi tanggung jawabnya.13
Kemampuan penguasaan materi sangat penting
dimiliki seorang guru dalam melaksanakan proses
belajar mengajar. Guru yang tidak menguasai materi
pelajaran, maka dalam dirinya akan muncul keraguan
terhadap apa yang harus dilakukan,14 serta keraguan
dari peserta didik. Dengan demikian, untuk
mewujudkan pengajaran yang efektif, guru harus
menguasai materi.
Dalam upaya meningkatkan penguasaan materi bagi
guru, ada beberapa alternatif yang dapat ditempuh,
antara lain:15
1) Dengan cara musyawarah guru mata pelajaran
(MGMP).
2) Melalui buku sumber atau kegiatan mandiri.
3) Dengan cara kursus pendalaman materi (KPM).
4) Ceramah ilmiah dari ahlinya.
5) Melalui pendidikan khusus.
13
Sudjana, Dasar-Dasar Proses Belajar Mengajar, (Bandung: Sinar Baru Algesindo,
2000), hal. 23
14
Abdul Kodir Munsyi dkk, Pedoman Mengajar Cet.V, (Surabaya: Al-Ikhlas, 1981), hal.
41
15
Wina Sanjaya, Perencanaan dan Desain Sistem Pembelajaran, (Jakarta: Kencana,
2008), hal.141
24
Kompetensi penguasaan materi memang sangatlah
penting dimiliki oleh seorang guru. Dengan kompetensi
penguasaan materi, kepercayaan diri seorang guru dapat
meningkat sehingga tidak ragu lagi dalam mengelola
kegiatan belajar mengajar, serta tujuan dari kegiatan
belajar mengajar akan tercapai secara optimal.
b) Kompetensi Pemanfaatan Media Pembelajaran
Dalam proses belajar mengajar, dua unsur yang
sangat penting adalah metode belajar dan media belajar.
Pemilihan metode belajar akan mempengaruhi jenis
media belajar yang sesuai. Kedua unsur ini saling
berkaitan. Di samping itu, tentu ada aspek lain yang
harus diperhatikan dalam memilih media pembelajaran,
seperti tujuan pembelajaran, jenis tugas, materi
pelajaran, dan respon yang ditunjukkan oleh peserta
didik setelah digunakannya media tersebut.
Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa salah satu
fungsi media belajar adalah sebagai alat bantu dalam
proses belajar mengajar yang dapat mempengaruhi
respon peserta didik dalam rangka mencapai tujuan
pembelajaran.
25
Media pembelajaran yakni sebagai sarana untuk
menyalurkan pesan dari guru kepada peserta didik,
memiliki makna penting antara lain:16
1.) Media dapat mengatasi berbagai keterbatasan
pengalaman yang dimiliki peserta didik. Dengan
adanya media belajar, peserta menjadi lebih
mudah dalam memahami dan menerima materi
pelajaran. Misalnya, peserta didik yang awalnya
tidak mengetahui apa itu beriman kepada Allah
dengan membaca materi dari LKS akan menjadi
memahami bahkan menguasai materi tersebut.
2.) Media dapat mengatasi ruang kelas. Media
mengatasi kesulitan-kesulitan secara langsung
yang dialami oleh peserta didik di dalam kelas,
misalnya objek yang terlalu besar atau kecil,
gerakan yang lambat atau terlalu cepat untuk
diamati.
3.) Media memungkinkan adanya interaksi
langsung antara peserta didik dengan
lingkungan. Misalnya, guru memberikan tugas
kepada peserta didik mengenai hikmah dari
beriman kepada Allah dalam kehidupan sehari-
16
Gilar Gandana, Literasi ICT dan Media Pendidikan dalam Perspektif Pendidikan Anak
Usia Dini, (Tasikmalaya: Ksatria Siliwangi, 2019), hal. 63
26
hari, maka peserta didik akan berusaha mencari
tahu dan menggali informasi dari lingkungan
sekitarnya, seperti dari orang tua,
tetangga/masyarakat, dan temannya.
4.) Media menghasilkan keseragaman pengamatan.
Pengamatan yang dilakukan peserta didik dapat
secara bersama-sama diarahkan kepada hal-hal
yang dianggap penting sesuai dengan tujuan
yang ingin dicapai. Keseragaman pengamatan
disini maksudnya ialah hasil pengamatan
nantinya akan dibahas secara bersama-sama oleh
guru dan peserta didik lalu. Guru dalam diskusi
tersebut kemudian akan menyimpulkan hasil
dari pengamatan peserta didik sehingga akan
satu hasil yang kemudian dapat dipahami oleh
peserta didik.
5.) Media dapat menanamkan konsep dasar yang
benar, konkret, dan realistis. Penggunaan media
seperti gambar, film, model, dan grafik dapat
memberikan konsep dasar yang benar.
6.) Media dapat membangkitkan motivasi dan
merangsang peserta didik untuk belajar.
Misalnya pemutaran film pendek menggunakan
27
LCD Proyektor tentu dapat menimbulkan
perasaan suka dari peserta didik sehingga
mereka akan lebih termotivasi untuk belajar.
Media pembelajaran sangatlah banyak macam dan
jenisnya, mulai dari yang kecil dan murah hingga yang
paling canggih dan mahal. Media pembelajaran ada
yang dapat dibuat oleh guru sendiri sesuai dengan
kreatifitas, ada pula yang buatan pabrik. Walaupun
media pembelajaran banyak macamnya, namun
kenyataannya tidak banyak jenis media yang biasa
digunakan oleh guru di sekolah. Beberapa media yang
paling sering digunakan hampir di semua sekolah
adalah media cetak (buku), selain itu banyak juga
sekolah yang sudah memanfaatkan media pembelajaran
seperti LCD Proyektor, gambar, peta, globe, papan
tulis, dan lainnya.
c) Kompetensi Penggunaan Strategi Pembelajaran
Dalam kegiatan belajar mengajar, unsur yang tidak
kalah penting lainnya yakni strategi pembelajaran yang
tepat. Apabila guru menggunakan strategi pembelajaran
yang salah atau kurang tepat, maka kegiatan
pembelajaran akan kurang menyenangkan dan dapat
mengurangi motivasi belajar peserta didik yang
28
menimbulkan tidak berjalannya tujuan pembelajaran
yang hendak dicapai.
Ada beberapa strategi yang dapat digunakan dalam
kegiatan belajar mengajar, antara lain:
1.) Strategi pembelajaran ekspositori, adalah
strategi pembelajaran yang menekankan kepada
penyampaian materi secara verbal dari guru
kepada sekelompok peserta didik dengan
maksud agar peserta didik dapat menguasai
materi pembelajaran secara optimal. Dengan
strategi ini, materi pelajaran disampaikan secara
langsung, dan peserta didik dituntut untuk
menemukan materi tersebut.17 Tujuan utama
dari strategi ini adalah penguasaan materi
pelajaran itu sendiri. Artinya, setelah proses
pembelajaran selesai peserta didik diharapkan
menguasai materi yang telah diuraikan oleh
guru.
2.) Strategi pembelajaran inkuiri, merupakan
strategi pembelajaran yang melibatkan seluruh
kemampuan peserta didik untuk mencari dan
menyelidiki sesuatu secara sistematis, kritis,
17
Wina Sanjaya, Strategi Pembelajaran, (Jakarta: Kencana, 2010), hal. 179
29
logis, analitis, sehingga mereka dapat
merumuskan sendiri penemuannya dengan
penuh percaya diri. Proses berpikir itu sendiri
biasanya dilakukan melalui tanya jawab antara
guru dengan peserta didik. Strategi
pembelajaran inkuiri sering juga disebut strategi
heuristic, yang berasal dari bahasa Yunani, yang
berarti saya menemukan.18 Strategi
pembelajaran inkuiri mampu mendorong peserta
didik untuk berpikir atas inisiatif sendiri,
membantu peserta didik mengembangkan
konsep diri yang positif, mengembangkan baka
individu secara optimal dan menciptakan
suasana akademik yang mendukung
berlangsungnya pembelajaran yang berpusat
pada peserta didik. Strategi inkuiri memberikan
ruang kepada peserta didik belajar sesuai dengan
gaya belajar masing-masing peserta didik.
3.) Strategi pembelajaran berbasis masalah,
merupakan salah satu model pembelajaran
inovatif yang dapat memberikan kondisi belajar
aktif kepada peserta didik. Strategi pembelajaran
18
Wina Sanjaya, Strategi Pembelajaran Berorientasi Pada Standart Proses Pendidikan,
(Jakarta: Kencana Perdana Media Grup, 2000), hal. 194
30
berbasis masalah melibatkan peran peserta didik
secara langsung untuk memecahkan suatu
masalah melalui tahap-tahap metode ilmiah
sehingga peserta didik dapat mempelajari
pengetahuan yang berhubungan dengan masalah
tersebut dan sekaligus memiliki keterampilan
untuk memecahkan masalah.19
4.) Strategi Pembelajaran Peningkatan Kemampuan
Berpikir (SPPKB), merupakan strategi belajar
yang bertumpu kepada pengembangan
kemampuan berpikir peserta didik melalui
telaah fakta-fakta atau pengalaman anak sebagai
bahan untuk memecahkan masalah yang
diajukan.20 Strategi pembelajaran peningkatan
kemampuan berpikir membimbing peserta didik
untuk menemukan sendiri konsep yang harus
dikuasai melalui proses dialogis secara terus-
menerus dengan memanfaatkan pengalaman dari
peserta didik.
5.) Strategi pembelajaran kontekstual, yaitu strategi
pembelajaran yang menekankan pada
19
I Wayan Dasna, Penggunaan Model Pembelajaran Problem Based Learning dan
Kooperatif Learning Untuk Meningkatkan Kualitas Proses dan Hasil Belajar Kuliah Metodologi
Penelitian, (Malang: Lembaga Penelitian UM, 2004), hal. 57
20
Sanjaya, Strategi Pembelajaran..., hal. 230
31
keterkaitan antara materi pelajaran dengan
kehidupan nyata, sehingga peserta didik mampu
menghubungkan dan menerapkan kompetensi
hasil belajar dalam kehidupan sehari-hari.21
Dalam pembelajaran ini tugas guru adalah
memberikan kemudahan belajar kepada peserta
didik dengan menyediakan berbagai sarana dan
sumber belajar yang memadai.
Strategi pembelajaran bertujuan untuk memberikan
isi pembelajaran kepada peserta didik. Strategi belajar
berguna untuk menyajikan informasi atau bahan-bahan
yang dibutuhkan dalam belajar untuk menunjukkan
unjuk kerja. Pemilihan strategi belajar yang tepat
sangatlah penting, yaitu untuk menentukan semua
langkah-langkah dan kegiatan yang perlu dilakukan,
sehingga dapat memberikan pengalaman belajar kepada
peserta didik. Hal ini dapat membantu peserta didik
untuk mencapai tujuan pembelajaran yang telah
ditetapkan pada awal kegiatan pembelajaran.
2. Guru Pendidikan Agama Islam
Dalam Undang-undang nomor 20 tahun 2003 tentang
Sistem Pendidikan Nasional, dikemukakan bahwa yang dimaksud
21
Nunuk Suryani dan Leo Agung S., Strategi Belajar Mengajar, (Yogyakarta: Ombak,
2012), hal. 116
32
dengan guru atau pendidik merupakan tenaga prfesional yang
bertugas merencanakan dan melaksanakan proses pembelajaran,
menilai hasil pembelajaran, melakukan pembimbingan dan
pelatihan, serta melakukan penelitian dan pengabdian kepada
masyarakat.22
Guru adalah tenaga pendidik yang memberikan sejumlah
ilmu pengetahuan kepada anak didik di sekolah. Guru merupakan
orang yang berpengalaman dalam bidang profesinya, dengan
keilmuan yang dimilikinya ia dapat menjadikan anak didik menjadi
orang yang cerdas.23
Adapun pengertian dari pendidikan agama Islam yaitu
usaha yang diarahkan kepada pembentukan kepribadian anak
sesuai dengan ajaran Islam atau suatu upaya dengan ajaran Islam,
serta bertanggung jawab sesuai dengan nilai-nilai Islam.24
Pendidikan Islam yakni proses bimbingan kepada peserta didik
secara sadar dan terncana dalam rangka mengembangkan potensi
fitrahnya untuk mencapai kepribadian Islam berdasarkan nilai-nilai
ajaran Islam.25
Berdasarkan uraian diatas, maka dapat disimpulkan bahwa
guru pendidikan agama Islam yaitu guru atau tenaga pendidik yang
mentransformasikan atau menyalurkan ilmu pengetahuannya
22
Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional Nomor 20 Tahun 2003, hal. 21
23
Djamarah dan Zain, Strategi Belajar Mengajar, (Jakarta: Rineka Cipta, 2002), hal. 126
24
Zuhairini dkk, Filsafat Pendidikan Islam, (Jakarta: Bumi Aksara, 2009), hal. 152
25
Ahmad Taufik dkk, Pendidikan Agama Islam, (Surakarta: Yuma Pustaka, 2011), hal.
219-220
33
kepada peserta didik di sekolah, dengan tujuan agar peserta didik
menjadi pribadi yang berjiwa Islami dan memilik sifat, karakter,
serta perilaku yang berlandaskan pada nilai-nilai ajaran Islam.
Guru pendidikan agama Islam tidak hanya bertugas
mengajarkan apa yang menjadi materi bahan ajar di sekolah, tetapi
juga berkewajiban untuk mendidik, mengarahkan, dan
menanamkan ajaran-ajaran serta nilai-nilai religiusitas kepada para
peserta didiknya.
Guru pendidikan agama Islam sebagai seorang pendidik
berkewajiban menanamkan nilai-nilai moral kepada peserta
didiknya agar dapat mengembangkan ilmu pengetahuan yang
disesuaikan dengan kaidah-kaidah Islam. Guru pendidikan agama
Islam menghadapi tanggung jawab yang berat, untuk itu ia harus
memiliki persiapan dan potensi yang memadai guna tercapainya
suatu hasil pendidikan yang maksimal.
Jadi, guru pendidikan agama Islam memiliki peran yang
sangat vital dalam membentuk moral atau akhlak yang mulia
terhadap peserta didik pada masing-masing sekolah.
3. Motivasi Belajar
a. Pengertian Motivasi
Motivasi berasal dari kata motif, yang dapat diartikan
sebagai daya penggerak yang ada di dalam diri seseorang untuk
melakukan aktivitas-aktivitas tertentu demi tercapainya suatu
34
tujuan.26 Dorongan ini bersumber dari diri sendiri maupun dari
luar, sehingga dapat menggerakkan dan mengarahkan
perhatian, perasaan, dan perilaku atau kegiatan seseorang.
Dapat disimpulkan bahwa motivasi adalah dorongan yang
dapat menimbulkan perilaku tertentu yang terarah kepada
pencapaian suatu tujuan tertentu.
Terdapat ciri-ciri pokok dalam motivasi, yakni motivasi
mengawali terjadinya perubahan energy, ditandai dengan
adanya perasaan, dan dirangsang karena adanya tujuan.
Berdasarkan ciri-ciri diatas, dapat dikatakan bahwa
motivasi itu sebagai sesuatu yang kompleks. Motivasi akan
menyebabkan terjadinya suatu perubahan energy yang ada pada
diri manusia, sehingga akan bergayut dengan persoalan gejala
kejiwaan, perasaan dan juga emosi, untuk kemudian bertindak
atau melakukan sesuatu. Semua ini didorong karena adanya
tujuan, kebutuhan, dan keinginan.
Dalam kegiatan pembelajaran, motivasi dapat dikatakan
sebagai keseluruhan daya penggerak di dalam diri peserta
didik, yang menjamin kelangsungan dan memberikan arah
kegiatan belajar mengajar, sehingga diharapkan tujuan yang
ada dapat tercapai.
26
Pupuh Faturrohman dan Sobry Sutikno, Strategi Belajar…, hal. 19
35
b. Pengertian Belajar
Belajar merupakan suatu proses pertumbuhan yang
dihasilkan oleh hubungan stimulus dan respon. Belajar adalah
proses usaha peserta didik pada tempat tertentu dan untuk
mencapai perubahan yang berupa pengetahuan, keterampilan,
dan sikap, serta perbuatan yang dinyatakan dalam bentuk angka
atau nilai.
Arsyad mengemukakan bahwa belajar adalah
perubahan perilaku, sedangkan perilaku itu adalah tindakan
yang dapat diamati.27 Menurut Aunurrahman mengatakan
bahwa belajar yaitu suatu usaha sadar yang dilakukan oleh
individudalam perubahan tingkah laku baik melalui latihan dan
pengalaman yang menyangkut aspek kognitif, afektif, dan
psikomotorik untuk mencapai tujuan tertentu28. Adapun
Nasution menyebutkan bahwa kegiatan belajar membawa
perubahan pada individu yang belajar, perubahan itu tidak
hanya mengenai jumlah pengetahuan, melainkan juga dalam
bentuk kecakapan, kebiasaan, sikap, keterampilan, wawasan,
dan pola pikir mengenai segala aspek organisme atau secara
pribadi bagi peserta didik.29
Berdasarkan beberapa pendapat diatas, dapat dikatakan
bahwa belajar merupakan suatu proses aktif yang melibatkan
27
A. Arsyad, Media Pembelajaran, (Jakarta: Rajawali Press, 2011), hal. 3
28
Aunurrahman, Belajar dan Pembelajaran, (Bandung: Alfabeta Slameto, 2010), hal. 35
29
Nasution, Metode Belajar Untuk Guru, (Bandung: Tarsito, 1995), hal. 35
36
perubahan perilaku melalui tindakan dari adanya stimulus dan
respon yang menghasilkan perubahan kognitif, afektif, dan
psikomotorik secara tetap atau permanen.
c. Macam-macam Motivasi Belajar
Motivasi belajar adalah dorongan yang timbul dari
dalam diri peserta didik (intrinsik) dan dari luar diri peserta
didik (ekstrinsik) untuk melakukan sesuatu.
1) Motivasi Intrinsik
Motivasi intrinsik adalah motif-motif yang menjadi
aktif, yang muncul dari dalam diri seseorang.30 Motivasi
intrinsik juga dikatakan sebagai bentuk motivasi yang di
dalamnya aktivitas belajar dimulai, dan diteruskan
berdasarkan suatu dorongan dari dalam diri dan secara
mutlak berkaitan dengan aktifitas belajarnya.
Peserta didik yang memiliki motivasi intrinsik akan
memiliki tujuan menjadi orang-orang terdidik, yang
berpengetahuan, yang ahli dalam bidang studi tertentu.
Keinginan ini diwujudkan dalam upaya kesungguhan
seseorang untuk mendapatkannya dengan usaha kegiatan
belajar, melengkapi catatan, melengakpi literature,
melengkapi informasi, pembagian waktu belajar, dan
keseriusannya dalm belajar. Kegiatan belajar ini memang
30
Dimyati dan Mujiono, Belajar dan Pembelajaran, (Jakarta: Depdikbud, 2008), hal. 45
37
diminati dan dibarengi dengan perasaan senang, dorongan
tersebut mengalir dalam diri seseorang akan kebutuhan
belajar, ia percaya tanpa belajar yang keras hasilnya tidak
akan maksimal.31
2) Motivasi Ekstrinsik
Motivasi ekstrinsik adalah motif-motif yang aktif dan
berfungsi karena adanya perangsang dari luar atau dari
orang lain. Motivasi ini muncul karena sesorang yang ingin
mendapatkan sesuatu karena perintah orang lain. Misalnya,
peserta didik harus lebih giat belajar untuk mendapatkan
nilai bagus karena akan mengikuti ujian. Mereka terdorong
bukan karena keinginan mendapatkan ilmu, akan tetapi
karena keinginan mendapatkan nilai yang bagus.
Namun, bukan berarti motivasi ekstrinsik itu tidak baik.
Motivasi ekstrinsik dalam kegiatan belajar mengajar tetap
penting, sebab kemungkinan besar keadaan peserta didik itu
dinamis, berubah-ubah, dan juga bisa jadi komponen-
komponen dalam proses belajar mengajar kurang menarik,
sehingga diperlukan motivasi ekstrinsik.32
31
Martinis Yamin, Strategi Pembelajaran Berbasis Kompetensi, (Jakarta: Gaung Persada
Press, 2009), hal. 86
32
Sardiman A.M, Interaksi dan Motivasi Belajar Mengajar, (Jakarta: CV. Rajawali,
1998), hal. 91
38
d. Fungsi Motivasi dalam Belajar
Dalam proses belajar mengajar motivasi sangat
diperlukan. Hasil belajar menjadi optimal dengan adanya
motivasi. Motivasi dapat menentukan intensitas usaha belajar
peserta didik.
Motivasi dapat berfungsi sebagai pendorong usaha dan
pencapaian prestasi. Seseorang melakukan usaha karena adanya
motivasi. Adanya motivasi yang baik dalam belajar akan
menunjukkan hasil yang baik pula. Dengan adanya usaha yang
tekun, terutama didasari adanya motivasi maka seseorang yang
belajar itu akan dapat melahirkan prestasi yang baik. Tingkat
motivasi seorang peserta didik akan sangat menentukan tingkat
pencapaian prestasi belajarnya.33
Dapat disimpulkan bahwa motivasi tidak hanya
berfungsi sebagai penentu terjadinya suatu perbuatan tetapi
juga merupakan penentu hasil perbuatan. Motivasi
mempengaruhi tingkah laku seseorang agar tergerak hatinya
untuk bertindak melakukan sesuatu sehingga mencapai hasil
atau tujuan tertentu.
e. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Motivasi Belajar
Motivasi dalam kegiatan belajar dapat dikatakan
sebagai keseluruhan dorongan atau penggerak dalam diri
33
Ibid., hal. 84-85
39
seseorang yang menimbulkan proses belajar dan mengarahkan
kepada kegiatan belajar, sehingga tujuan belajar dapat tercapai.
Faktor-faktor yang mempengaruhi motivasi belajar
yaitu faktor intern dan faktor ekstern.
1) Faktor Intern
Faktor intern yaitu faktor yang berasal dari dalam
diri individu, meliputi kesehatan, perhatian, dan bakat-
minat. 34
a) Kesehatan
Kesehatan seseorang berpengaruh terhadap
keinginan belajarnya. Proses belajar seseorang
akan terganggu apabila kondisi kesehatannya
sedang tidak baik. Seseorang akan dapat belajar
dengan optimal apabila ia mengusahakan
kesehatan badannya tetap baik dengan cara
selalu menjaga kesehatannya misalnya dengan
cara berolahraga, istirahat teratur, dan menjaga
pola makan.
b) Perhatian
Perhatian merupakan keaktifan jiwa yang
dipertinggi terhadap objek tertentu, dan disini
objek yang dimaksud yakni objek belajar. Untuk
34
Slameto, Belajar dan Faktor-faktor yang Mempengaruhinya, (Bandung: Alfabeta,
2020), hal. 128
40
mendapatkan hasil belajar yang baik, maka
peserta didik harus mempunyai perhatian
terhadap apa yang sedang dipelajarinya. Apabila
bahan pelajaran tidak menjadi perhatian dari
peserta didik atau peserta didik tidak menyukai
bahan pelajaran tersebut, maka akan timbul
kebosanan dalam belajar. Agar peserta didik
dapat belajar dengan baik, usahakan bahan
pelajaran tersebut sesuai dengan hobi dan
bakatnya.
c) Bakat-minat
Bakat atau minatadalah kemampuan untuk
belajar. Kemampuan dapat terealisasi menjadi
kecakapan yang nyata sesudah belajar. Bakat
dan minat tentu mempengaruhi motivasi belajar,
jika bahan pelajaran yang dipelajari sesuai
dengan bakat dan minatnya, maka hasil
belajarnya akan lebih optimal, dan kemudian
pasti ia akan belajar lebih giat lagi.
41
2) Faktor Ekstern
Adapun fator ekstern yaitu faktor yang berasal dari
luar diri individu, yang meliputi metode mengajar,
media belajar, dan dan waktu sekolah.35
a) Metode mengajar
Metode mengajar merupakan suatu cara
yang harus dilalui dalam mengajar. Metode
mengajar guru yang kurang tepat akan
mempengaruhi belajar peserta didik yang akan
berdampak pada hasil belajar yang kurang
maksimal juga. Agar kegiatan belajar mengajar
mencapai tujuan secara optimal, maka guru
harus metode mengajar yang tepat, efektif, dan
efisien.
b) Media belajar
Media pembelajaran erat hubungannya,
karena media belajar yang dipakai oleh guru
ketika mengajar akan dipakai juga oleh peserta
didik dalam menerima pelajaran. Media belajar
yang tepat dapat memperlancar berjalannya
kegiatan belajar mengajar. Jika peserta didik
35
Ibid., hal. 128
42
mudah menerima pelajaran maka ia akan lebih
giat lagi dalam belajarnya.
c) Waktu sekolah
Waktu sekolah ialah waktu berlangsungnya
proses belajar mengajar ketika di sekolah. Hal
ini juga akan berpengaruh terhadap motivasi
belajar peserta didik. Misalnya, ketika masih
pagi peserta didik masih fresh karena baru saja
datang ke sekolah, otomatis peserta didik
tersebut masih sangat bersemangat dalam
menerima pelajaran sehingga hasil yang di
dapatkan pun akan optimal. Akan berbeda
keadaannya ketika sudah mulai sore, peserta
didik sudah mulai letih ketika mengikuti
pelajaran, mereka sudah tidak bersemangat lagi
sehingga hasil belajarnya pun tidak akan sebaik
ketika pelajaran waktu pagi hari.
Faktor-faktor yang mempengaruhi motivasi belajar
peserta didik di atas harus diperhatikan, sehingga peserta didik
akan lebih termotivasi dalam belajarnya dan dapat memelihara
ketekunan dalam kegiatan belajarnya.
43
f. Peranan Motivasi dalam Belajar
Motivasi pada dasarnya dapat membantu dalam
memahami dan menjelaskan perilaku individu, termasuk
perilaku individu yang sedang belajar. Peranan-peranan dari
motivasi dalam belajar tersebut diungkapkan oleh Uno yakni
sebagai berikut:36
1) Peran motivasi dalam menentukan penguatan belajar
Motivasi dapat berperan dalam penguatan belajar
apabila seseorang yang belajar dihadapkan pada suatu
masalah yang memerlukan pemecahan, dan hanya dapat
dipecahkan dengan bantuan hal-hal yang pernah
dilaluinya seperti halnya dengan belajar.
2) Peran motivasi dalam memperjelas tujuan belajar
Peran motivasi dalam memperjelas tujuan belajar
erat kaitannya dengan makna belajar. Peserta didik akan
tertarik untuk belajar jika yang ia pelajari, minimal
sudah mengetahui dan menikmati manfaatnya.
Seseorang akan termotivasi untuk belajar apabila ia
telah mengetahui hasil yang akan ia dapat setelah dari ia
belajar. Misalnya, peserta didik yang rajin belajar pasti
ia akan mendapat nilai yang bagus. Peserta didik yang
36
Uno, Teori Motivasi dan Pengukuran, (Jakarta: Bumi Aksara, 2007), hal. 86
44
mengetahui tujuan belajar adalah hasil belajar yang
optimal maka ia akan termotivasi untuk selalu belajar.
3) Motivasi menentukan ketekunan belajar
Seorang anak yang termotivasi untuk mempelajari
sesuatu, akan berusaha untuk mendalaminya dengan
baik dan tekun, dengan harapan mendapatkan hasil
yang terbaik. Dalam hal ini, motivasi belajar
menyebabkan seseorang tekun belajar. Sebaliknya,
apabila seseorang kurang atau tidak emmiliki motivasi
belajar, maka ia tidak akan tahan berlama-lama untuk
belajar.
g. Bentuk-bentuk Motivasi dalam Belajar
Motivasi belajar peserta didik dapat berasal dari dirinya
sendiri ataupun dari luar dirinya atau orang lain. Menurut
Bahri, terdapat beberapa bentuk untuk meningkatkan motivasi
belajar siswa antara lain seperti memberi angka/nilai, hadiah,
kompetisi, ego-involvemnt, memberikan ulangan, mengetahui
hasil belajar, pujian, hukuman, hasrat untuk belajar, minat dan
tujuan yang diakui.
45
Dari beberapa bentuk yang dapat digunakan untuk
meningkatkan motivasi belajar, maka dapat diambil beberapa
bentuk seperti sebagai berikut:37
1) Kompetisi atau persaingan
Kompetisi atau persaingan dapat meningkatkan
motivasi belajar peserta didik, baik secara individu
maupun kelompok. Kompetisi ini dapat meningkatkan
prestasi belajar para peserta didik, karena mereka akan
merasa tertantang untuk menjadi yang terbaik diantara
teman-temannya.
2) Ego-involvemnt
Ego-involvemnt merupakan suatu hal yang dapat
menumbuhkan kesadaran kepada diri peserta didik agar
merasakan akan pentingnya suatu tugas dan
menerimanya sebagai suatu tantangan sehingga peserta
didik akan berusaha keras untuk menyelesaikannya
dengan mempertaruhkannya dengan harga dirinya.
Seperti halnya menyelesaikan tugas dengan tepat waktu
merupakan simbol kebanggaan dan harga diri. Maka
peserta didik dalam hal ini akan termotivasi untuk
belajar dengan giat agar tugasnya dapat diselesaikan
dengan baik dan tepat waktu.
37
Bahri, Psikologi Belajar, (Jakarta: PT Gramedia, 2002), hal. 26
46
3) Pujian
Dengan adanya pujian yang diberikan dari guru
diharapkan peserta didik dapat lebih termotivasi untuk
belajar. Pujian yang diberikan harus secara tepat,
misalnya kepada peserta didik yang mendapat hasil
belajar yang baik, maka ketika ia diberi pujian ia akan
merasa ingin mendapatkannya lagi sehingga ia akan
termotivasi untuk belajar lagi.
4) Hasrat untuk belajar
Hasrat untuk belajar merupakan sesuatu yang
disengaja oleh peserta didik dalam hal belajar. Dalam
hal ini berarti peserta didik memang benar-benar
termotivasi dalam hal belajar.
5) Minat
Minat belajar dapat dibangkitkan dengan cara
membangkitkan suatu kebutuhan dan memberi
kesempatan peserta didik untuk mendapatkan hasil yang
lebih baik daripada sebelumnya.
6) Tujuan yang diakui
Tujuan yang diakui dan diterima dengan baik oleh
peserta didik merupakan alat motivasi yang sangat
penting. Sebab, dengan memahami tujuan yang harus
dicapai, dirasakan peserta didik sangat berguna dan
47
menguntungkan, sehingga menimbulkan gairah untuk
terus belajar.
4. Kompetensi Profesional Guru Pendidikan Agama Islam dalam
Meningkatkan Motivasi Belajar Peserta Didik
Kompetensi guru sangat diperlukan karena kompetensi
berguna untuk kemajuan dan peningkatan-peningkatan kinerja guru
agar tercapai tujuan yang diinginkan. Hal yang menjadi aspek
penentu bagi keberhasilan sebuah profesi yaitu sikap professional
kualitas kerja seorang pendidik.
Kompetensi professional guru pendidikan agama Islam
adalah kemampuan penguasaan materi, kemampuan pemanfaatan
media belajar, serta kemampuan memilih strategi pembelajaran
yang tepat dalam penyampaian tujuan pembelajaran sesuai dengan
ajaran-ajaran agama Islam untuk memenuhi standard kompetensi
yang ditetapkan standard nasional pendidikan.
Guru pendidikan agama Islam selain bertugas mengajarkan
apa yang menjadi materi bahan ajar di sekolah sebagai tugas
keprofesionalannya juga berkewajiban untuk mendidik,
mengarahkan, dan menanamkan ajaran-ajaran serta nilai-nilai
religiusitas kepada para peserta didiknya.
Dalam meningkatkan motivasi belajar peserta didik, guru
pendidikan agama Islam dapat dilakukan dengan menggunakan dan
memilih media pembelajaran yang tepat dalam penyampaian
48
materi pelajaran. Misalnya, guru dalam menyampaikan materi
beriman kepada Allah menggunakan media LCD Proyektor dengan
menampilkan video pendek mengenai hikmah beriman kepada
Allah dalam kehidupan sehari-hari dan juga menggunakan media
replika (pohon, gunung, manusia) sebagai penggambaran dari
makhluk ciptaan Allah. Dengan demikian peserta didik akan lebih
senang dalam kegiatan belajar mengajar dan mendapatkan motivasi
untuk belajar.
Hal lain yang dapat meningkatkan motivasi belajar peserta
didik, guru pendidikan agama Islam dapat memilih strategi
pembelajaran yang tepat. Strategi pembelajaran yang tepat haruslah
disesuaikan dengan materi ajar yang disampaikan ketika kegiatan
belajar mengajar. Dapat diambil contoh pada materi yang sama
yaitu beriman kepada Allah guru menggunakan strategi berbasis
masalah. Strategi pembelajaran berbasis masalah merupakan model
pembelajaran inovatif yang dapat memberikan kondisi belajar aktif
kepada peserta didik. Strategi pembelajaran berbasis masalah
melibatkan peran peserta didik secara langsung untuk memecahkan
suatu masalah sehingga peserta didik dapat aktif dan termotivasi
untuk belajar dan mendapatkan hasil yang paling baik diantara
peserta didik lain.
49
B. Penelitian Terdahulu
Untuk mengecek keaslian penelitian ini, maka peneliti menuiskan
beberapa hasil penelitian terdahulu yang relevan sebagai berikut:
1. Penelitian yang dilakukan oleh Elvina Seli Rusiani, tahun 2014,
dengan judul “Peran Kompetensi Profesional Guru Pendidikan
Agama Islam dalam Meningkatkan Motivasi Belajar Siswa di
MAN 4 Jakarta”. Focus dan hasil penelitiannya yaitu peran
kompetensi profesional guru pendidikan agama Islam dalam
meningkatkan motivasi belajar siswa dengan kemampuan
penguasaan materi pelajaran, kemampuan mengelola kegiatan
pembelajaran, kemampuan dalam meneglola kelas, kemampuan
menggunakan media/sumber, kemampuan mengelola interaksi
belajar, kemampuan menggunakan metode pembelajaran,
kemampuan menilai prestasi siswa, pemberian pujian,
pemberian hadiah, pemberian hasil ulangan, dan kemampuan
melakukan penilaian.
2. Penelitian yang dilakukan oleh Masyuni Weka Hery Setiawan,
tahun 2017, dengan judul “Peran Guru PAI dalam
Meningkatkan Motivasi Belajar Siswa SD Negeri 134
Kalumpang Kecamatan Bontotiro Kabupaten Bulukumba”.
Fokus dan hasil penelitian (1) Motivasi belajar siswa
dibangkitkan dengan menggunakan metode mengajar yang
bervariasi, penggunaan media, pemberian nilai, pemberian
50
tugas, pemberian ulangan, pemberian pujuan, dan pemberian
hukuman. (2) Hambatan motivasi belajar siswa dapat berasal
dari lingkungan keluarga, adapun pendukung motivasi belajar
siswa bisa berasal dari bakatnya, dukungan sekolah dan
keluarga. (3) Peran guru PAI dalam meningkatkan motivasi
belajar siswa dengan mengoptimalkan perannya sebagai
fasilitator pelaksana proses pembelajara yang diukur dengan
sejumlah indicator, yaitu pemahaman guru dalam merancang
suatu media, kemampuan guru dalam mengorganisasikan
berbagai jenis media, serta kemampuan guru dalam
berkomunikasi dan berinteraksis dengan siswa.
3. Penelitian yang dilakukan oleh Sri Wihartanti, tahun 2017,
dengan judul “Pengaruh Kompetensi Profesional Guru
Pendidikan Agama Islam dan Pendidikan Agama dalam
Keluarga terhadap Prestasi Belajar Siswa di SMP Ma’arif 8
Sendang Agung Kecamatan Sendang Agung Kabupaten
Lampung Tengah Tahun 2017”. Fokus dan hasil penelitian
kompetensi professional guru PAI dan pendidikan agama
dalam keluarga berpengaruh terhadap prestasi bealajar siswa.
Kompetensi professional guru PAI dan pendidikan agama
Islam dalam keluarga merupakan dua hal yang tidak dapat
dipisahkan, keduanya mempunyai nilai dan saling
mempengaruhi dalam meningkatkan prestasi belajar siswa.
51
Berdasarkan penjelasan dari beberapa penelitian di atas, dapat
diketahui perbedaan dengan penelitian yang dilakukan sendiri oleh
peneliti yaitu pada fokus penelitian. Penelitian ini peneliti lakukan
untuk mengembangkan penelitian yang terdahulu.
C. Paradigma Penelitian
Paradigma dalam disiplin intelektual adalah cara pandang orang
terhadap diri dan lingkungannya yang akan mempengaruhinya dalam
berpikir (kognitif), bersikap (afektif), dan bertingkah laku (konatif).38
Paradigma penelitian merupakan serangkaian pandangan yang
saling berkaitan mengenai fenomena-fenomena di dunia dan
berorientasi sebagai kerangka filosofis dan konseptual.
Dalam penelitian kualitatif memerlukan adanya paradigma
penelitian. Paradigma penelitian digunakan sebagai dasar peneliti
untuk mengadakan penelitian kualitatif baik dalam segi sosial,
keagamaan, dan budaya. Hal ini memudahkan peneliti dalam
melakukan penelitian, sehingga peneliti dapat membedakan antara data
kualitatif dan kuantitatif.
Jadi, dalam meneliti kompetensi professional guru pendidikan
agama Islam dalam meningkatkan motivasi belajar peserta didik di
SMP Negeri 3 Srengat Blitar, peneliti tidak hanya meneliti gejala yang
tampak, tetapi peneliti mendalami penelitiannya terhadap gejala yang
tampak tersebut secara lebih mendalam. Hal ini bertujuan untuk
38
Dani Vardiansyah, Filsafat Ilmu Komunikasi: Suatu Pengantar, (Jakarta: Indeks,
2008), hal. 27
52
mendapatkan data hasil penelitian yang benar-benar valid. Setelah data
benar-benar teruji, maka peneliti akan mendapatkan temuan baru dari
hasil penelitiannya tersebut, yaitu tentang kompetensi professional
guru pendidikan agama Islam dalam meningkatkan motivasi belajar di
SMP Negeri 3 Srengat Blitar.
53
Gambar 2.1
Paradigma Penelitian
Kompetensi Profesional Guru Pendidikan Agama Islam dalam Meningkatkan
Motivasi Belajar Peserta Didik di SMP Negeri 3 Srengat Blitar
FOKUS PENELITIAN TOKOH TEORI PENELITIAN
1. Kompetensi Profesional 1. Kompetensi guru
Guru dalam penguasaan dalam penguasaan
materi Pendidikan Agama materi PAI, melalui:
Islam untuk 1. Robert A. pendidikan dan
Meningkatkan Motivasi Roe pelatihan MGMP,
Belajar Peserta Didik di diskusi dan sharing
SMP Negeri 3 Srengat antar guru PAI, serta
Blitar. usaha secara mandiri.
2. Kompetensi Profesional 2. Kompetensi guru
Guru dalam pemanfaatan dalam pemanfaatan
media pembelajaran media pembelajaran
Pendidikan Agama Islam 2. Robert A. PAI, yaitu dengan
untuk Meningkatkan Roe media audio, visual,
Motivasi Belajar Peserta dan audio-visual.
Didik di SMP Negeri 3
Srengat Blitar.
3. Kompetensi guru
3. Kompetensi Profesional
dalam penggunaan
Guru dalam penggunaan
media pembelajaran
strategi pembelajaran
PAI, yaitu dengan
Pendidikan Agama Islam 3. Robert A.
kolaborasi strategi
untuk Meningkatkan Roe
pembelajaran dengan
Motivasi Belajar Peserta
ceramah, diskusi,
Didik di SMP Negeri 3
tanya jawab, dan
Srengat Blitar
praktek.
TEMUAN PENELITIAN