Laporan PKL K3 di PT Pipit Mutiara Indah
Laporan PKL K3 di PT Pipit Mutiara Indah
KELOMPOK 4
1. Rudi Imansyah
2. Rusmana Adi Kusumah
3. Saepudin Juhri
4. Setyo Adi Purwanto
5. Siti Bunga Sari Maulina
6. Vallerian Gusti Putra
7. Yurike Riestia
PENYELENGGARA
PT. INTRANUSA INDONESIA
10 September – 24 September 2024
1
DAFTAR ISI
GAMBARAN PERUSAHAAN.....................................................................................................
FASILITAS K3 PERUSAHAAN................................................................................................
TEMUAN POFITIF................................................................................................................
TEMUAN NEGATIF...............................................................................................................
BAB IV PENUTUP...............................................................................................................
KESIMPULAN......................................................................................................................
SARAN...............................................................................................................................
REFERENSI.........................................................................................................................
LAMPIRAN .........................................................................................................................
2
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Di era industrialisasi ini proses produksi dalam perusahaan menggunakan
teknologi modern, sehingga membutuhkan tenaga kerja ahli dan terampil, namun
tidak selamanya penerapan teknologi modern (tinggi) yang beraneka ragam bisa
menjamin keberlangsungan proses produksi perusahaan sesuai yang diinginkan
oleh perusahaan.
Di dalam sebuah perusahaan, tenaga kerja merupakan salah satu aset yang
sangat penting. Tenaga kerja merupakan setiap orang yang mampu melakukan
pekerjaan guna menghasilkan barang dan jasa baik untuk memenuhi kebutuhan
sendiri maupun untuk masyarakat, dengan begitu tenaga kerja merupakan
penggerak utama dalam kelangsungan bisnis perusahaan dan ekonomi bangsa.
Tenaga kerja merupakan satu-satunya aset yang tidak dapat digandakan, oleh
karena itu tenaga kerja harus dijaga keselamatannya, kesehatannya, dibimbing dan
dikembangkan potensi mengenai kesadaran akan pentingnya keselamatan kerja
dan kesehatan kerja, sehingga memberikan output yang optimal bagi perusahaan.
Kemungkinan bahaya besar mengintai setiap tenaga kerja baik itu kecelakaan
ringan, kecelakaan besar, kebakaran, ledakan, pencemaran lingkungan, dan
penyakit akibat kerja yang mengakibatkan tenaga kerja mengalami kecacatan dan
bahkan potensi meninggal dunia. Potensi bahaya besar itu diakibatkan karena
ketidakmampuan, ketidakcakapan, kurangnya kompetensi dan kurangnya
pemahaman terhadap alat-alat produksi.
3
Dikarenakan keterbatasan tenaga pengawas, pemerintah menggandeng
Pembina Jasa Keselamatan dan Kesehatan kerja (PJK3), dibantu oleh Panitia
Pembina Keselamatan dan Kesehatan Kerja (P2K3) di tempatnya usahanya masing-
masing agar pemenuhan dan pelayanan K3 dapat dilaksanakan dengan baik.
Kesehatan Kerja Merupakan suatu hal yang telah diwajibkan dan dibebankan
kepada Perusahaan agar Kesehatan Kerja Tenaga Kerja terjamin. Potensi
Kesehatan Kerja yang terjamin akan meningkatkan produktivitas kerja dan
kesejahteraan pekerja baik di masa kerja maupun sesudah tidak bekerja di
perusahaan. Penerapan Kesehatan Kerja dapat mencegah dan mengurangi
penyakit akibat Kerja.
4
semua pengetahuan teoritis dan juga pengetahuan lapangan serta implementasi
teori tersebut secara langsung. Selain itu, PKL ini juga dimaksudkan untuk
membekali pengetahuan bagi para calon Ahli Keselamatan dan Kesehatan Kerja
Umum (AK3U) mengenai K3 dengan praktik nyata dalam penerapan persyaratan
dan pembinaan keselamatan dan kesehatan kerja di tempat kerja yang
meliputi penerapan K3 Lingkungan Kerja & Bahan Berbahaya dan Beracun serta K3
Kesehatan Kerja.
Kegiatan Praktik Kerja Lapangan (PKL) ini merupakan salah satu bagian dari
kegiatan pembinaan calon Ahli Keselamatan dan Kesehatan Kerja Umum (AK3U)
dalam mengidentifikasi bahaya dan risiko di tempat kerja. Melalui PKL, calon Ahli K3
Umum dapat mengetahui tugas dan tanggungjawabnya sesuai dengan bidang yang
ditentukan dalam surat keputusan penunjukannya (SKP), seperti yang dijelaskan di
dalam Peraturan Menteri Tenaga Kerja No. Per-02/MEN/1992 tentang Tata Cara
Penunjukan, Kewajiban dan Wewenang Ahli Keselamatan dan Kesehatan Kerja
pasal 9 dan pasal 10.
Tujuan dari calon Ahli Keselamatan dan Kesehatan Kerja Umum (AK3U) ini
mengikuti PKL di PT. Pipit Mutiara Indah, pada tanggal 18 Juli 2024 adalah, supaya
wawasan yang diperoleh selama PKL dapat menambah khasanah keilmuan terkait
penerapan peraturan dan norma K3 di tempat kerja nantinya. Serta melakukan
pengawasan serta perbaikan yang berkesinambungan dalam rangka mengurangi
risiko kecelakaan kerja di perusahaan yang disebabkan oleh faktor kelalaian
manusia maupun kegagalan fungsi mesin.
Adapun tujuan penulisan laporan PKL ini adalah untuk mengetahui penerapan
peraturan dan normal K3 di perusahaan yang dikunjungi. Dan laporan ini juga bisa
digunakan untuk sebagai masukan bagi pihak perusahaan untuk menghindari risiko
kecelakaan kerja dan penyakit akibat kerja.
C. Ruang Lingkup
5
Ruang lingkup perusahaan selama kegiatan Praktik Kerja Lapangan (PKL) untuk
calon Ahli Keselamatan dan Kesehatan Kerja Umum (AK3U) adalah dengan data-
data sebagai berikut:
Nama : PT. Pipit Mutiara Indah
Alamat : Desa Sekatak Buji, Kec. Sekatak, Kab. Balungan,
[Link] Utara
Tanggal : 20 September 2024
Waktu : 08.00 – 11.00 WIB
Tempat : via Zoom Meeting
D. Dasar Hukum
Dasar hukum bidang Bidang K3 Lingkungan Kerja dan Bahan Berbahaya
Beracun berdasarkan Peraturan Undang-Undang adalah sebagai berikut :
a. Peraturan dan undang-undang Terkait Keselamatan Kerja secara umum :
- Undang – Undang No. 1 tahun 1970 tentang Keselamatan Kerja
- Undang-undang No. 13 tahun 2003 Pasal 86 tentang Keselamatan dan
Kesehatan Kerja
b. Peraturan dan Undang-undang Terkait Lingkungan Kerja
- Permenaker No. 5 tahun 2018 tentang Keselamatan dan Kesehatan Kerja
Lingkungan Kerja
- Permenakertrans No.08/Men/2010 tentang Alat pelindung diri
c. Peraturan dan Undang-undang terkait Bahan Berbahaya Beracun
- Kepmenaker No. 187 tahun 1999 tentang Pengandalian Bahan Kimia
Berbahaya di Tempat Kerja
- Permen No. 11/Men/2003 tentang K3 di ruang terbatas
- SE. Menakertrans [Link].01/MEN/PPK/IV/2012 Tentang Kewajiban
Syarat-Syarat Keselamatan dan Kesehatan Kerja di Ruang Terbatas
6
- Kepdirjen Binwasnaker No. Kep.113/DJPPK/2006 Tentang Pedoman dan
Pembinaan Teknis Petugas K3 di Ruang Terbatas (Confined Spaces)
- SE. Dirjen Binwasnaker [Link].01/DJPPK/I/2011 tentang Petunjuk Teknis
Pelaksanaan Pembinaan Terhadap Ahli, Teknisi dan Petugas Lingkungan
Kerja dan Bahan Berbahaya
d. Peraturan dan Undang-undang terkait Dokter dan Paramedis di Tempat Kerja
- Permenakertrans No. Per. 01/Men/1976 tentang Kewajiban Latihan
Hiperkes bagi Dokter Perusahaan
- Permenakertrans No. Per. 01/Men/1979 tentang Kewajiban Latihan
Hiperkes bagi Paramedis Perusahaan
- Peraturan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi No. Per. 01/Men/1979
Tentang Kewajiban Latihan Hygiene Perusahaan K3 Bagi Tenaga Medis
Perusahaan
e. Peraturan dan Undang-undang Penyakit Akibat Kerja dan Kecelakan Kerja
- Permenakertrans No. Per. 01/Men/1981 tentang Kewajiban Melapor
Penyakit Akibat Kerja
- Permennakertrans No. Per. 15/Men/VIII/2008 tentang Pertolongan
Pertama Pada Kecelakaan di Tempat Kerja
- Kepmenakertrans No. Kep. 68/Men/IV/2004 tentang Pencegahan dan
Penanggulangan HIV/AIDS di Tempat Kerja
- Permennakertrnas No. Per. 11/Men/2005 tentang Pencegahan dan
Penanggulangan Penyalahgunaan dan Peredaran Gelap Narkoba di
Tempat Kerja
- Permenakertrans No. Per. 25/Men/XII/2008 tentang Pedoman Diagnosis
Dan Penilaian Cacat Karena Kecelakaan Dan Penyakit Akibat Kerja
- Kepdirjen Binwasnaker No. Kep. 20/DJPPK/VI/2005 tentang Petunjuk
Pelaksanaan Program HIV/AIDS di Tempat Kerja
f. Peraturan dan Undang-undang terkait Pelayanan Kesehatan Kerja
- Permenakertrans No. Per. 03/Men/1982 tentang Pelayanan Kesehatan
Kerja
7
- Kepdirjen Binwasnaker No. Kep. 22/DJPPK/V/2008 tentang Petunjuk
Teknis Penyelenggaraan Pelayanan Kesehatan kerja
- Permenakertrans No. Per. 02/Men/1980 tentang Pemeriksaan Kesehatan
Tenaga Kerja Dalam Penyelenggaraan Keselamatan Kerja
- Kepdirjen Binwasnaker No. Kep. 53/DJPPK/VIII/2009 tentang Pedoman
Pelatihan dan Pemberian Lisensi Petugas P3K di Tempat Kerja
g. Peraturan terkait Kantin dan Pengelolaan Makanan Bagi Tenaga Kerja
- SE. Menakertrans No. SE. 01/Men/1979 tentang Pengadaan Kantin dan
Ruang Makan
- SE. Dirjen Binawas No. SE. 86/BW/1989 tentang Perusahaan Catering
Yang Mengelola Makanan Bagi Tenaga Kerja
8
BAB II
KONDISI PERUSAHAAN
A. Gambaran Perusahaan
1. Sejarah Singkat
PT Pipit Mutiara Indah merupakan bagian dari PT Pipit Mutiara Jaya yang
bergerak dibidang industri kelapa sawit dan memiliki karyawan 1500 orang.
Sekitar 16.000 hektar lahan di tiga lokasi di Kalimantan Utara dikelola untuk
menanam kelapa sawit, dengan sekitar 50% di antaranya masih dalam proses
penanaman.
Baik minyak sawit mentah (CPO) maupun biji sawit diproduksi dan dikirim
ke pelanggan di Indonesia. CPO diproduksi dengan memeras daging buah sawit
di pabrik. Hingga 35.000 hingga 40.000 ton CPO diproduksi per bulan. Ampas
kelapa sawit yang tersisa, setelah minyak dihasilkan, sering kali dibakar untuk
menghasilkan listrik di distrik-distrik sekitarnya. Sekitar 3.000 hingga 4.000 ton
inti sawit diproduksi.
Sumber daya alam berupa tanah dan air merupakan bagian utama dari
bisnis kami. Karenanya dalam melakukan kegiatan dan operasi, kami
menggunakan serta menerapkan teknologi dan ilmu pengetahuan untuk
meminimalkan dampak terhadap sumber daya dan alam sekitar.
Seiring dengan pertumbuhan bisnis kami, kami memastikan bahwa
masyarakat setempat telah dan akan terus mendapatkan manfaat melalui
penyediaan lapangan kerja, dengan memastikan bahwa sebagian keuntungan
digunakan untuk mengembangkan dan memberikan pelatihan kepada
masyarakat setempat. Sebagai anggota aktif dari komunitas-komunitas ini, kami
mendorong adanya pertumbuhan ekonomi dengan penuh tanggung jawab
terhadap alam dan manusia.
Program-program kemasyarakatan kami mencakup sembilan komunitas,
yang berdampak pada ribuan orang, dan mencakup elektrifikasi pedesaan,
9
pembangunan jalan, rumah, dan sekolah, hingga jaminan pembelian panen dan
hasil bumi, serta penyediaan fasilitas kesehatan.
Dengan sejarah kami yang terkait dengan tanah dan manusia, kami
sangat sadar bahwa kami bertanggung jawab untuk memastikan bahwa apa
yang kami tinggalkan untuk anak cucu dan generasi mendatang haruslah lebih
baik dari apa yang ada saat ini.
10
2. Visi dan Misi Perusahaan
PT. Pipit Mutiara Indah memiliki visi yaitu:
”Pengelolaan Sumber Daya Alam yang lestari menuju Perusahaan yang unggul
dan berdaya saing”.
Adapun misi dari PT. Pipit Mutiara Indah adalah:
”Menggali Sumber Daya Alam yang Ramah Lingkungan dan Meningkatkan
Sumber Daya Manusia yang Mandiri, produktif dan Bekualitas”.
B. Fasilitas K3 Perusahaan
1. Toilet
2. APD
3. Klinik, Petugas P3K, Kotak P3K
4. Tempat khusus untuk pengolahan limbah B3
11
BAB III
TEMUAN & ANALISA
Hasil dari pengawasan, kami kelompokan menjadi dua bagian, yaitu temuan
positif dan temuan negatif. Temuan positif adalah pelaksanaan atau penerapan K3
yang sudah baik dan sesuai dengan perundang-undangan yang berlaku. Sedangkan
temuan negatif adalah pelaksanaan K3 yang perlu ada perbaikan karena belum
sesuai dengan aturan yang ada.
12
A. Temuan & Analisa Positif
A.1 K3 Lingkungan Kerja dan Bahan Berbahaya Beracun
Analisa dan PIC
No Foto Dampak Manfaat Saran Peraturan Dasar Hukum
Temuan Reviewer
1 Toilet Karyawan: Kebutuhan Pemenuhan Permenaker No. 05/MEN/2018 Rudi
Tersedia Sanitasi dan fasilitas toilet Tentang Keselamatan Dan Imansyah
fasilitas toilet privasi dan Kesehatan Kerja Lingkungan
untuk karyawan karyawan equipmentnya Kerja Pasal 34 Ayat 1
yang sudah dalam secara Pasal 34
dipisah secara Perusahaan berkelanjutan (1) Toilet sebagaimana
gender. terjamin di lakukan. dimaksud dalam Pasal 33
kesehatannya ayat (2) huruf
. a harus bersih dan tidak
menimbulkan bau
b. tidak ada lalat, nyamuk,
atau serangga yang
lainnya;
c. tersedia saluran
pembuangan air yang
mengalir dengan baik;
d. tersedia air bersih;
e. dilengkapi dengan pintu;
f. memiliki penerangan
yang cukup;
g. memiliki sirkulasi udara
yang baik;
h. dibersihkan setiap hari
secara periodik; dan
i. dapat digunakan selama
jam kerja.
13
3 Tempat Memastikan Secara Permen No.187/Men/1999 Saepudin
Penyimpanan semua orang berkala tentang Pengendalian Bahan Juhri
Peptisida: yang memasuki melakukan Kimia Berbahaya Di Tempat
area kerja pengecekan Kerja
Di depan tempat terjamin dan Pasal 5.
penyimpanan keselamatannya. mengupdate ” Label sebagaimana
terdapat label dan dimaksud pasal 3 huruf a
prosedur kerja simbol untuk meliputi keterangan mengenai
memastikan a. Nama produk
kondisi sign b. Identifikasi bahaya
kondisi layak c. Tanda bahaya dan artinya
dan berfungsi d. Uraian risiko dan
dengan baik penanggulangannya
dan benar. e. Tindakan pencegahan
f. Instruksi dalam hal terkena
atau terpapar
g. Instruksi kebakaran
h. Instruksi tumpahan atau
bocoran
i. Instruksi pengisian dan
penyimpanan
j. Referensi
k. Nama, alamat dan nomor
telepon pabrik pembuat atau
distributor
14
kondisi sign a. Nama produk
kondisi layak b. Identifikasi bahaya
dan berfungsi c. Tanda bahaya dan artinya
dengan baik d. Uraian risiko dan
dan benar. penanggulangannya
e. Tindakan pencegahan
f. Instruksi dalam hal terkena
atau terpapar
g. Instruksi kebakaran
h. Instruksi tumpahan atau
bocoran
i. Instruksi pengisian dan
penyimpanan
j. Referensi
k. Nama, alamat dan nomor
telepon pabrik pembuat
atau distributor
15
7. NAB Kimia: Dapat mem- Secara Permenaker No. 5 Tahun 2018 Yurike
bandingkan berkelanjutan Tentang Keselamatan dan Riestia
Terdapat hasil uji tersebut melakukan Kesehatan Kerja Lingkungan
laporan hasil uji dengan NAB pemenuhan Kerja, Pasal 20 ayat 1 yang
terbaru terkait sehingga dapat kondisi berbunyi:
komposisi dilakukan tersebut di Pasal 20
parameter- pengendalian dalam (1) Pengukuran dan
parameter kimia pajanannya dan Perusahaan. pengendalian Faktor
pada air limbah terhadap Kimia sebagaimana
pekerja yang dimaksud dalam Pasal 5
terpapar. ayat (2) huruf b harus
dilakukan pada Tempat
Kerja yang memiliki
potensi bahaya bahan
kimia.
8 NAB Fisika: Dapat mem- Secara Permenaker No. 5 Tahun Rudi
kebisingan bandingkan berkelanjutan 2018 Tentang Keselamatan Imansy
hasil uji melakukan dan Kesehatan Kerja ah
Terdapat kebisingan pemenuhan Lingkungan Kerja, Pasal 10
laporan hasil uji tersebut dengan kondisi ayat 1 yang berbunyi:
terbaru terkait NAB sehingga tersebut di Pasal 10
kebisingan pada dapat dilakukan dalam (1) Pengukuran dan
boiler di tempat pengendalian Perusahaan. pengendalian Kebisingan
kerja terhadap sebagaimana dimaksud
kebisingan dalam Pasal 8 ayat (1)
tersebut huruf b harus dilakukan
pada Tempat Kerja yang
memiliki sumber bahaya
Kebisingan dari operasi
peralatan kerja”.
9. APD pada area Alat pelindung [Link] Peraturan Menteri Tenaga Rusmana
produksi telah diri tersebut berkelanjuta Kerja Dan Transmigrasi Adi
tersedia berupa dapat n melakukan Republik Indonesia Nomor Kusumah
sejumlah ear dipergunakan pemenuhan Per.08/Men/Vii/2010 Pasal 3
muff, helmet, sebagai bentuk kondisi
serta sepatu pengendalian tersebut di
Pasal 3
safety yang bahaya di dalam
APD sebagaimana dimaksud
digunakan oleh tempat kerja Perusahaan.
dalam Pasal 2 meliputi:
pekerja berupa [Link]
[Link] kepala;
kebisingan SOP
[Link] mata dan muka;
dengan penggunaan
c. pelindung telinga;
intensitas dan APD secara
[Link] pernapasan
waktu tertentu. rutin
beserta perlengkapannya;
dilakukan
[Link] tangan; dan/atau
pengecekan
f. pelindung kaki.
dan
pengawasan
terhadap
kondisi dan
kelengkapan
APD
16
10 APD pada area [Link] Sosialisai Peraturan Menteri Tenaga Saepudin
produksi telah helmet juga SOP Kerja Dan Transmigrasi Juhri
tersedia berupa dapat penggunaan Republik Indonesia Nomor
helmet, serta mencegah dari APD secara Per.08/Men/Vii/2010 Pasal 3
sepatu safety bahaya rutin dilakukan
yang digunakan benturan di pengecekan
Pasal 3
oleh pekerja kepala. dan
APD sebagaimana dimaksud
[Link] pengawasan
dalam Pasal 2 meliputi:
sepatu safety terhadap
a. pelindung kepala;
juga dapat kondisi dan
[Link] mata dan muka;
melindungi kelengkapan
c. pelindung telinga;
kaki dari APD
[Link] pernapasan
bahaya
beserta perlengkapannya;
tertimpa
[Link] tangan; dan/atau
barang barang
f. pelindung kaki.
17
11 Rambu-rambu Memudahkan 1. Dipastikan Keputusan Menteri Tenaga Setyo Adi
Ruang terbatas Petugas untuk sesuai Kerja No. Kep.187/Men/1999 Purwanto
dan bahan melakukan dengan Tentang Pengendalian Bahan
berbahaya pengawasan actual Berbahaya di Tempat Kerja
sudah tersedia pada tempat dilapangan pasal 3, 5 & 6
di lokasi. yang memiliki 2. Melakukan
resiko bahaya pembaharua Pasal 3 berbunyi:
besar. n tanda Pengendalian bahan kimia
bahaya bila berbahaya sebagaimana
sudah dimaksud pasal 2 meliputi:
usang. a. Penyediaan Lembar Data
Keselamatan Bahan
(LDKB) dan label
b. Penunjukan Petugas K3
Kimia dan Ahli K3 Kimia
Pasal 5 berbunyi:
Label sebagaimana dimaksud
dalam pasal 3 huruf a meliputi
keterangan mengenai:
a. nama produk.
b. identifikasi bahaya.
c. tanda bahaya dan artinya.
d. uraian resiko dan
penanggulangannya.
e. tindakan pencegahan.
f. instruksi dalam hal
terkena atau terpapar.
g. instruksi kebakaran.
h. instruksi tumpahan atau
bocoran
i. instruksi pengisian dan
penyimpanan.
j. referensi.
k. nama, alamat dan no.
telepon pabrik pembuat
dan atau distributor.
Pasal 6 berbunyi:
Lembar Data Keselamatan
Bahan sebagaimana dimaksud
dalam pasal 4 dan Label
sebagaimana dimaksud dalam
pasal 5 diletakkan ditempat
yang mudah diketahui oleh
tenaga kerja dan Pegawai
Pengawas Ketenagakerjaan.
18
12 Memiliki 1 Memastikan Melakukan Keputusan Menteri Tenaga Siti
Orang Ahli AK3 proses produksi perpanjanga Kerja No. Kep.187/Men/1999 Bunga
Kimia yang n kompetensi Tentang Pengendalian Bahan Sari
menggunakan Ahli Berbahaya di Tempat Kerja Maulina
bahan kimia pasal 3 dan 16.
memiliki
kopetensi yang Pasal 3 berbunyi:
sesuai. Pengendalian bahan kimia
berbahaya sebagaimana
dimaksud pasal 2 meliputi:
a. penyediaan lembar data
keselamatan bahan (LDKB)
dan label
b. penunjukan petugas K3
Kimia dan Ahli K3 Kimia.
Pasal 16 berbunyi:
Perusahaan yang
dikategorikan mempunyai
potensi bahaya besar sebagai
mana dimaksud pada pasal 15
ayat (1) wajib :
a. mempekerjakan petugas
K3 Kimia dengan ketentuan
apabila dipekerjakan
dengan sistem kerja non
shift sekurang kurangnya 2
(dua) orang dan apabila
dipekerjakan dengan
sistem kerja shift sekurang-
kurangnya 5 (lima) orang.
b. mempekerjakan ahli K3
Kimia sekurang-kurangnya
1 (satu) orang.
c. membuat dokumen
pengendalian potensi
bahaya besar.
d. melaporkan setiap
perubahan nama bahan
kimia dan kuantitas bahan
kimia, proses dan
modifikasi instalasi yang
digunakan.
e. melakukan pemeriksaan
dan pengujian faktor kimia
yang ada di tempat kerja
sekurang-kurangnya 6
(enam) bulan sekali.
f. melakukan pemeriksaan
dan pengujian instalasi
yang ada di tempat kerja
sekurang-kurangnya 2
(dua) tahun sekali.
g. melakukan pemeriksaan
kesehatan tenaga kerja
sekurang kurangnya 1
(satu) tahan sekali.
19
A.2 K3 Kesehatan Kerja
Analisa Dampak PIC
No Foto Saran Peraturan Dasar Hukum Reviewer
danTemuan Manfaat
20
1. Poliklinik sudah poliklinik bisa Secara 1. Permenakertrans no. Vallerian
tersedia dan dipergunakan berkelanjutan 3/Men/1982 tentang Gusti
bisa setiap saat oleh melakukan pelayanan kesehatan Putra
dipergunakan karyawan untuk pemenuhan tenaga kerja pasal 1b
setiap saat oleh memeriksakan kondisi tersebut Pasal 1
karyawan kondisi di dalam
Pelayanan Kesehatan adalah
kesehatan Perusahaan
usaha kesehatan yang
maupun untuk
dilaksanakan dengan tujuan:
pertolongan
1. Memberikan bantuan
pertama
kepada tenaga kerja
dalam penyesuaian diri
baik fisik maupun mental,
terutama dalam
penyesuaian pekerjaan
dengan tenaga kerja.
2. Melindungi tenaga kerja
terhadap setiap gangguan
kesehatan yang timbul
dari pekerjaan atau
lingkungan kerja.
3. Meningkatkan kesehatan
badan, kondisi mental
(rohani) dan kemampuan
fisik tenaga kerja.
4. Memberikan pengobatan
dan perawatan serta
rehabilitasi bagi tenaga
kerja yang menderita
sakit.
Pasal 9 bagian b
Fasilitas Pelayanan
Kesehatan
Pasal 12
(1) Fasilitas Pelayanan
Kesehatan sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 9
huruf b dapat berbentuk
Fasilitas Pelayanan
Kesehatan tingkat pertama
21
2 Dokter Dokter yang Dengan adanya Secara Permenakertrans no. Yurike
pemeriksa tersertifikasi dokter yang berkelanjutan 3/Men/1982 tentang Riestia
kesehatan: sebagai telah ditunjuk melakukan pelayanan kesehatan tenaga
penanggung akan pemenuhan kerja pasal 1a, 2
jawab bermanfaat pelayanan
pelayanan dalam kesehatan Pasal 1a
kesehatan kerja pelayanan kerja di dalam Pelayanan Kesehatan adalah
telah ditunjuk kesehatan Perusahaan usaha kesehatan yang
oleh dalam rangka dilaksanakan dengan tujuan
pengusaha pembinaan,penc
egahan,
Pasal 2
diagnosa,
Tugas pokok pelayanan
pengobatan,
Kesehatan Kerja meliputi:
perawatan dan
a. Pemeriksaan kesehatan
rehabilitasi
sebelum kerja,
terhadap
pemeriksaan berkala dan
kecelakaan
pemeriksaan khusus.
kerja dan atau
b. Pembinaan dan
PAK pada
pengawasan atas
karyawan
penyesuaian pekerjaan
terhadap tenaga kerja.
c. Pembinaan dan
pengawasan terhadap
lingkungan kerja.
d. Pembinaan dan
pengawasan
perlengkapan sanitair.
e. Pembinaan dan
pengawasan
perlengkapan untuk
kesehatan tenaga kerja.
f. Pencegahan dan
pengobatan terhadap
penyakit umum dan
penyakit akibat kerja.
g. Pertolongan Pertama
Pada Kecelakaan.
h. Pendidikan Kesehatan
untuk tenaga kerja dan
latihan untuk petugas
Pertolongan Pertama
Pada Kecelakaan.
i. Memberikan nasehat
mengenai perencanaan
dan pembuatan tempat
kerja, pemilihan alat
pelindung diri yang
diperlukan dan gizi serta
penyelenggaraan
makanan di tempat kerja.
j. Membantu usaha
rehabilitasi akibat
kecelakaan atau penyakit
akibat kerja.
k. Pembinaan dan
22
pengawasan terhadap
tenaga kerja yang
mempunyai kelainan
tertentu dalam
kesehatannya.
l. Memberikan laporan
berkala tentang Pelayanan
Kesehatan Kerja kepada
pengurus.
23
kesehatan yang untuk
jenis tertentu memerlukan
kewenangan untuk
melakukan upaya
kesehatan.
Pasal 4
(1) Setiap tenaga Para Medis
yang telah dapat
menyelenggarakan latihan
akan
mendapatkan sertifikat.
(2) Dengan sertifikat tersebut
tenaga kerja medis yang
bersangkutan telah
memenuhi
24
syarat-syarat untuk
menyelenggarakan
pelayanan hygiene
perusahaan dan kesehatan
kerja sesuai dengan
fungsinya.
Pasal 1 ayat 3
Fasilitas Pelayanan
Kesehatan adalah suatu alat
dan/atau tempat yang
digunakan untuk
menyelenggarakan upaya
pelayanan kesehatan, baik
promotif, preventif, kuratif
maupun rehabilitatif yang
dilakukan oleh pemerintah
pusat, pemerintah daerah,
dan/atau masyarakat.
25
6 Petugas telah [Link] [Link] 2. Per. 15/Men/VIII/2008 Setyo Adi
tersertifikasi tindakan P3K pelatihan Tentang Pertolongan Purwanto
oleh Kemnaker di tempat kerja P3K rutin Pertama Pada Kecelakaan
RI. dengan kepada Kerja
optimal seluruh
[Link] pekerja BAB I Pasal 3
fasilitas P3K di [Link] (1) Petugas P3K di tempat
tempat kerja sosialisasi kerja sebagaimana
[Link] P3K kepada dimaksud dalam Pasal
kegiatan P3K departemen 2 ayat (1) harus
kepada terkait seperti memiliki lisensi dan
pimpinan HSSE dan buku kegiatan P3K dari
[Link] Security Kepala Instansi yang
setiap bertanggungjawab di
kegiatan P3K bidang ketenagakerjaan
dalam buku setempat.
kegiatan
26
B. Temuan & Analisa negatif
B.1 K3 Lingkungan Kerja dan Bahan Berbahaya Beracun
Analisa dan Dampak PIC
No Foto Saran Peraturan Dasar Hukum Reviewer
Temuan Manfaat
1. Belum ada Mengetahui dan Segera Permen No.187/Men/1999 Vallerian
Lembar Data mengen-dalikan dibuatkan tentang Pengendalian Bahan Gusti
Keselamatan bahan kimia Lembar Data Kimia Berbahaya Pasal 3 Putra
Bahan Kimia berbahaya untuk Keselamatan (Lampiran 1)
mencegah Bahan dan Pasal 3 huruf a :
terjadinya disosialisasikan ”penyediaan lembar data
kecelakaan kerja kepada keselamatan bahan (LDKB)
dan penyakit pekerja. dan label”
akibat kerja.
27
2. NAB Kimia: Hasil uji yang perlu dilakukan Permenaker No. 5 Tahun Yurike
tidak lengkap uji / 2018 Tentang Keselamatan Riestia
Hasil uji kimia terhadap bahan pengukuran dan Kesehatan Kerja
yang ada kimia lain dapat secara lebih Lingkungan Kerja, Pasal 20.
hanya terdapat menimbulkan komplit dengan Pasal 20
pada air resiko bahaya mempertimban [Link] dan
limbah, namun karena gk-an bahan - pengendalian Faktor Kimia
bahan-bahan perusahaan tidak bahan kimia sebagaimana dimaksud
kimia lainnya dapat lainnya. dalam Pasal 5 ayat (2)
tidak terdapat mengetahui huruf b harus dilakukan
hasil uji. apakah bahan - pada Tempat Kerja yang
bahan kimia memiliki potensi bahaya
tersebut sesuai bahan kimia.
dengan NAB. [Link] Faktor Kimia
sebagaimana dimaksud
pada ayat (1) dilakukan
terhadap pajanannya dan
terhadap pekerja yang
terpajan.
[Link] terhadap
pajanan sebagaimana
dimaksud pada ayat (1)
yang hasilnya untuk
dibandingkan dengan NAB
harus dilakukan paling
singkat selama 6 (enam)
jam.
[Link] sebagaimana
dimaksud pada ayat (1)
yang hasilnya untuk
dibandingkan dengan PSD,
harus dilakukan paling
singkat selama 15 (lima
belas) menit sebanyak 4
(empat) kali dalam durasi 8
(delapan) jam kerja.
[Link] sebagaimana
dimaksud pada ayat (1)
yang hasilnya untuk
dibandingkan dengan KTD
harus dilakukan
menggunakan alat
pembacaan langsung untuk
memastikan tidak
terlampaui.
[Link] Faktor Kimia
terhadap pekerja yang
mengalami pajanan
sebagaimana dimaksud
pada ayat (2) dilakukan
melalui Pemeriksaan
kesehatan khusus pada
spesimen tubuh Tenaga
Kerja dan dibandingkan
dengan IPB.
[Link] sebagaimana
dimaksud pada ayat (2),
28
3. NAB Fisika: pengukuran dan perlu dilakukan Permenaker No. 5 Tahun Rudi
Getaran pengendalian uji / 2018 Tentang Keselamatan Imansyah
getaran dilakukan pengukuran dan Kesehatan Kerja
Tidak ada hasil sebagai upaya getaran oleh Lingkungan Kerja, Pasal 11.
uji terkait pengendalian tim ahli pada Pasal 11
pengukuran sumber bahaya lokasi -lokasi
1. Pengukuran dan
getaran di getaran dari kerja yang
pengendalian Getaran
ruang boiler operasi peralatan memiliki
sebagaimana dimaksud
dan ruang kerja sehingga potensi bahaya
dalam Pasal 8 ayat (1)
turbin. jika nilai uji getaran.
huruf c harus dilakukan
getaran melebihi
pada Tempat Kerja yang
NAB maka dapat
memiliki sumber bahaya
dilakukan
Getaran dari operasi
pengendalian
peralatan kerja.
terhadap getaran
2. Tempat Kerja yang
tersebut
memiliki sumber bahaya
sehingga tidak
Getaran sebagaimana
berdampak buruk
dimaksud pada ayat (1)
terhadap
merupakan Tempat Kerja
operator.
yang terdapat sumber
Getaran pada lengan dan
tangan dan Getaran
seluruh tubuh. Jika hasil
pengukuran Tempat Kerja
sebagaimana dimaksud
pada ayat (2) melebihi dari
NAB harus dilakukan
pengendalian.
3. Pengendalian
sebagaimana dimaksud
pada ayat (3) dilakukan
dengan:
[Link] sumber
Getaran dari Tempat
Kerja;
[Link] alat, bahan,
dan proses kerja yang
menimbulkan sumber
Getaran;
[Link] pajanan
Getaran dengan
menambah/menyisipkan
damping/bantalan/
peredam di antara alat
dan bagian tubuh yang
kontak dengan alat
kerja;
d. membatasi pajanan
Getaran melalui
pengaturan waktu kerja;
[Link] alat
pelindung diri yang
sesuai; dan/atau
[Link] pengendalian
lainnya sesuai dengan
perkembangan ilmu
29
4. NAB Fisika: pengukuran dan perlu dilakukan Permenaker No. 5 Tahun Rusmana
Pencahayaan pengendalian uji / pengukuran 2018 Tentang Keselamatan Adi
pencahayaan intensitas dan Kesehatan Kerja Kusumah
Tidak ada hasil dilakukan cahaya oleh tim Lingkungan Kerja, Pasal 16 -
uji terkait sebagai upaya ahli terhadap 18.
intensitas pemenuhan lokasi - lokasi Pasal 16
pencahayaan standar ruang kerja. [Link] dan
di ruang kerja kerja yang pengendalian
mempertimba- Pencahayaan
ngkan faktor sebagaimana dimaksud
kesehatan dan dalam Pasal 8 ayat (1)
keselamatan huruf g harus dilakukan di
kerja, jika nilai uji Tempat Kerja.
intensitas [Link]
pencahayaan sebagaimana dimaksud
tidak sesuai pada ayat (1) meliputi:
dengan standar [Link] Alami;
maka dapat dan/atau
dilakukan [Link] Buatan.
pengendalian [Link] hasil pengukuran
terhadap Pencahayaan
pencahayaan sebagaimana dimaksud
tersebut pada ayat (1) tidak sesuai
sehingga tidak dengan standar dilakukan
berdampak buruk pengendalian agar
bagi pekerja. intensitas Pencahayaan
sesuai dengan jenis
pekerjaannya.
4. Standar Pencahayaan
sebagaimana dimaksud
pada ayat (3) tercantum
dalam Lampiran yang
merupakan bagian tidak
terpisahkan dari Peraturan
Menteri ini.
Pasal 17
1. Pencahayaan Alami
sebagaimana dimaksud
dalam Pasal 16 ayat (2)
huruf a merupakan
Pencahayaan yang
dihasilkan oleh sinar
matahari.
Pasal 18
1. Pencahayaan Buatan
sebagaimana dimaksud
dalam Pasal 16 ayat (2)
huruf b dapat digunakan
apabila Pencahayaan alami
tidak memenuhi standar
Intensitas Cahaya
sebagaimana dimaksud
dalam Pasal 16 ayat (4).
2. Pencahayaan Buatan
30
sebagaimana dimaksud
pada ayat (1) tidak boleh
menyebabkan panas yang
berlebihan atau
mengganggu KUDR.
31
5. NAB Fisika: Pengukuran perlu dilakukan Permenaker No. 5 Tahun Saepudin
Kebisingan kurang uji / pengukuran 2018 Tentang Keselamatan Juhri
menyeluruh, kebisingan dan Kesehatan Kerja
sampling sehingga secara lebih Lingkungan Kerja, Pasal 10.
kebisingan pengendalian komplit dengan Pasal 10
yang dilakukan kebisingan mempertimban
1. Pengukuran dan
hanya pada berdasarkan gk-an ruang
pengendalian Kebisingan
satu boiler intensitas produksi
sebagaimana dimaksud
room padahal kebisingan lainnya.
dalam Pasal 8 ayat (1)
terdapat kurang akurat
huruf b harus dilakukan
equipment - dan efektif seperti
pada Tempat Kerja yang
equipment lain pemberian ear
memiliki sumber bahaya
yang plug atau ear
Kebisingan dari operasi
berpotensi muff yang tepat.
peralatan kerja.
memiliki
2. Tempat Kerja yang memiliki
kebisingan
sumber bahaya Kebisingan
lebih tinggi
sebagaimana dimaksud
seperti turbine
pada ayat (1) merupakan
room.
Tempat Kerja yang
terdapat sumber
Kebisingan terus menerus,
terputus-putus, impulsif,
dan impulsif berulang.
3. Jika hasil pengukuran
Tempat Kerja sebagaimana
dimaksud pada ayat (2)
melebihi dari NAB harus
dilakukan pengendalian.
4. Pengendalian
sebagaimana dimaksud
pada ayat (3) dilakukan
dengan melaksanakan
program pencegahan
penurunan pendengaran
dengan:
a. menghilangkan sumber
Kebisingan dari Tempat
Kerja;
b. mengganti alat, bahan,
dan proses kerja yang
menimbulkan sumber
Kebisingan;
c. memasang pembatas,
peredam suara,
penutupan sebagian
atau seluruh alat;
d. mengatur atau
membatasi pajanan
Kebisingan atau
pengaturan waktu kerja;
e. menggunakan alat
pelindung diri yang
sesuai; dan/atau
f. melakukan
pengendalian lainnya
sesuai dengan
32
6. Tidak adanya Nilai ambang Syarat-syarat 1. Peraturan Menteri Setyo Adi
kesadaran batas kebisingan penggunaan Ketenagakerjaan Republik Purwanto
pekerja untuk dalam dba APD harus Indonesia Nomor 5 Tahun
selalu adalah 88 dba dipenuhi 2018 Tentang Keselamatan
menggunakan untuk 4 jam dengan Dan Kesehatan Lingkungan
ear muff yang sesuai dengan mengacu pada Kerja Pasal 10
telah permen 5 tahun Permenakertra Pasal 10
disediakan 2018, dan ns Nomor 08 1. Pengukuran dan
perusahaan merujuk pada Tahun 2010 pengendalian Kebisingan
padahal lama kerja sebagaimana dimaksud
pekerja operator tersebut dalam Pasal 8 ayat (1)
tersebut berada yang rata-rata huruf b harus dilakukan
pada ruang adalah 8 jam per pada Tempat Kerja yang
produksi yang hari maka memiliki sumber bahaya
telah dilakukan dengan tidak Kebisingan dari operasi
uji kebisingan menggunakan peralatan kerja.
dengan ear muff maka 2. Tempat Kerja yang
intensitas kebisingan yang memiliki sumber bahaya
kebisingan 86 diterima operator Kebisingan sebagaimana
db. tersebut sudah dimaksud pada ayat (1)
melebihi NAB merupakan Tempat Kerja
kebisingan yang yang terdapat sumber
dapat Kebisingan terus
menimbulkan menerus, terputus-putus,
penyakit akibat impulsif, dan impulsif
kerja bagi berulang.
operator tersebut 3. Jika hasil pengukuran
berupa Tempat Kerja
kerusakan sebagaimana dimaksud
telinga. pada ayat (2) melebihi
dari NAB harus dilakukan
pengendalian.
4. Pengendalian
sebagaimana dimaksud
pada ayat (3) dilakukan
dengan melaksanakan
program pencegahan
penurunan pendengaran
dengan:
a. menghilangkan
sumber Kebisingan
dari Tempat Kerja;
b. mengganti alat,
bahan, dan proses
kerja yang
menimbulkan sumber
Kebisingan;
c. memasang pembatas,
peredam suara,
penutupan sebagian
atau seluruh alat;
d. mengatur atau
membatasi pajanan
Kebisingan atau
pengaturan waktu
kerja;
e. menggunakan alat
33
7. Dari hasil APD yang tidak Syarat-syarat Peraturan Menteri Tenaga Siti
temuan di lengkap dapat kelengkapan Kerja Dan Transmigrasi Bunga
video maupun membahayakan APD harus Republik Indonesia Nomor Sari
dari hasil bagi pekerja di dipenuhi Per.08/Men/Vii/2010 Tentang Maulina
wawancara, perusahaan dengan Alat Pelindung Diri Pasal 1 -
tidak terdapat tersebut karena mengacu pada Pasal 6
dokumentasi tidak ada Permenakertra Pasal 6
atau dokumen perlindungan diri ns Nomor 08 1. Pekerja/buruh dan orang
list terkait dari bahaya Tahun 2010 lain yang memasuki tempat
kelengkapan bahaya yang ada kerja wajib memakai atau
APD yang ada pada proses menggunakan APD sesuai
di perusahaan kerja. dengan potensi bahaya dan
tersebut. risiko.
Mengacu pada 2. Pekerja/buruh berhak
Berdasarkan Permenakertrans menyatakan keberatan
tangkapan Nomor untuk melakukan pekerjaan
layar dari video Per.08/Men/Vii/2 apabila APD yang
seperti gambar 010, disediakan tidak memenuhi
di samping, Pekerja/buruh ketentuan dan persyaratan.
petugas PT berhak
Pipit Mutiara menyatakan
Indah hanya keberatan untuk
menunjukan melakukan
bahwa terdapat pekerjaan
gudang apabila
penyimpanan APD yang
APD tanpa disediakan tidak
memberitahu memenuhi
isi ketentuan dan
penyimpanan persyaratan.
gudang APD
tersebut.
Sehingga tidak
dapat diketahui
kondisi dan
kelengkapan
APD yang ada.
34
8. Penunjukan 1. Apabila terjadi 1. Disaranka 1. Permaker No.11/Men/2023 Vallerian
Petugas kerusakan n untuk tentang Keselamatan dan Gusti
Ruang pada tanki melakukan kesehatan kerja di Ruang Putra
Terbatas belum (Rang Terbatas pemenuha Pasal 4 (1) Pelaksanaan
tersedia ), akan n training syarat K3 di Ruang
dengan tidak menyebabkan kompetens Terbatas sebagaimana
adanya terhambatnya i petugas dimaksud dalam Pasal 2
sertifikat penanganan utama meliputi: a. penetapan
pelatihan dalam proses ruang klasifikasi; b. pembatasan
personil Ruang produksi terbatas. akses Memasuki Ruang
Terbatas, Memastikan 2. Secara Terbatas; c. Izin Masuk; d.
sehingga saat orang yang berkelanjut prosedur kerja aman; e.
melakukan bekerja di area an peralatan dan
pekerjaan di tersebut terjamin melakukan perlengkapan; dan f.
Ruang terbatas keamanannya pengechek personel K3.
berbelum dan tidak boleh an
paham resiko sembarang orang Pekerjaan [Link] Binwasnaker No.
kecelakaan. masuk selain ruang Kep.113/DJPPK/2006
yang telah terbatas Tentang Pedoman dan
mendapatkan izin dengan Pembinaan Teknis Petugas
kerja. prosedur K3 di Ruang Terbatas
yang telah (Confined Spaces).
ditetapkan 3. Kepdirjen Binwasnaker No.
berikut Kep.113/DJPPK/2006
petugas Tentang Pedoman dan
yang Pembinaan Teknis Petugas
mempunya K3 di Ruang Terbatas
i (Confined Spaces):
kompetens Petugas Keselamatan dan
i sesuai Kesehatan Kerja Ruang
peruntuka Terbatas adalah tenaga
nnya. tehnis keselamatan dan
kesehatan kerja
sebagaimana dimaksud
Surat Edaran Menteri
Tenaga Kerja dan
Transmigrasi No.
SE.117/MEN/2005 tentang
Pemeriksaan Menyeluruh
Pelaksanaan Keselamatan
dan Kesehatan Kerja di
Pusat Perbelanjaan,
Gedung Bertingkat, dan
TempatTempat Publik
Lainnya yang memiliki
kompetensi khusus di
bidang keselamatan dan
kesehatan kerja di ruang
terbatas/tertutup dibuktikan
dengan sertifikat
pembinaan
35
9. Terdapat 1 Pemenuhan Syarat-syarat Peraturan Menteri Yurike
tanki timbun terhadap bekerja di Ketenagakerjaan Republik Riestia
yang dimiliki PT Dokumen dan ruang terbatas Indonesia Nomor 11 Tahun
Pipit Mutiara Prosedur sesuai harus dipenuhi 2023 Tentang Keselamatan
Indah. dengan dengan Dan Kesehatan Kerja Di
Permenaker mengacu pada Ruang Terbatas Pasal 3,
Menurut Nomor 11 Tahun Permenakertra Pasal 4, Pasal 8, Dan Pasal
keterangan dari 2023 bersifat ns Nomor 11 11
hasil wajib guna Tahun 2023 Pasal 3
wawancara melindungi
1. Ruang Terbatas
dengan pekerja ketika
sebagaimana dimaksud
penang- sedang
dalam Pasal 2 meliputi:
gungjawab K3 melakukan
a. tangki dan/atau bejana,
Bapak Melky, pekerjaan di
pesawat uap,
Tanki Timbun ruang terbatas,
dapur/tanur, silo,
tersebut sangat dalam hal ini
cerobong;
jarang pembersihan sisi
b. jaringan perpipaan,
dilakukan dalam dari tangki
terowongan, dan
kegiatan timbun dari
konstruksi bawah tanah
pemeliharaan potensi bahaya
lainnya yang serupa;
berupa dan untuk
c. sumur atau lubang
pembersihan menciptakan
yang memiliki bukaan
bagian dalam tempat kerja
di bagian atasnya, baik
tanki. yang selamat,
alamiah ataupun
aman, dan
buatan yang melebihi
Dokumen nyaman
kedalaman 1,5 (satu
syarat koma lima) meter;
kesesuaian dan/atau
syarat K3 oleh d. ruangan lainnya yang
ahli K3 sesuai ditentukan sebagai
dengan Ruang Terbatas oleh
Permenaker Pengurus dan/atau
Nomor 11 Pengusaha.
Tahun 2023 2. Pengawas
Ketenagakerjaan dapat
melakukan pemeriksaan
dan/atau pengujian untuk
menentukan Ruang
Terbatas selain
sebagaimana dimaksud
pada ayat (1) huruf d.
3. Berdasarkan hasil
pemeriksaan dan/atau
pengujian Pengawas
Ketenagakerjaan
sebagaimana dimaksud
pada ayat (2), Pengurus
dan/atau Pengusaha
wajib menetapkan Ruang
Terbatas.
36
tangki tersebut dengan dengan
dilakukan oleh Permenaker mengacu pada
tim khusus Nomor 11 Tahun Permenakertra
yang telah 2023 bersifat ns Nomor 11
tersertifikasi wajib guna Tahun 2023
dan terdapat melindungi
prosedur dalam pekerja ketika
pengerjaannya. sedang
melakukan
Namun setelah pekerjaan di
dilakukan ruang terbatas,
pengecekan dalam hal ini
kelengkapan pembersihan sisi
dokumen, tidak dalam dari tangki
ditemukan: timbun dari
potensi bahaya
1. Prosedur dan untuk
Kerja Aman menciptakan
yang dibukti- tempat kerja
kan dengan yang selamat,
Dokemen JSA aman, dan
pekerjaan nyaman
pembersihan
tangki tersebut
2. Dokumen
syarat
kesesuaian
syarat K3 oleh
ahli K3 sesuai
dengan
Permenaker
Nomor 11
Tahun 2023
37
11. Tidak ada Menyulitkan Disarankan 1. Undang-Undang No 1 Rusmana
prosedur kerja penanganan memasang Tahun 1970 Tentang Adi
jika terjadi cepat bila terjadi prosedur/ Keselamatan Kerja Pasal 3 Kusumah
kebocoran kebocoran gas/ tindakan jika Syarat-syarat Keselamatan
gas / bahan bahan kimia ada kebocoran/ Kerja.
kimia berbahaya. tumpahan gas/ Pasal 3
berbahaya bahan kimia Pengurus diwajibkan
yang terpasang berbahaya di menyelenggarakan
di lokasi tempat lingkungan pembinaan bagi semua
gas berbahaya kerja . tenaga kerja yang berada
di taruh. Hanya di bawah pimpinannya,
adanya tanda dalam pencegahan
bahaya saja kecelakaan dan
pemberantasan kebakaran
serta peningkatan
keselamatan dan
kesehatan kerja, pula
dalam pemberian
pertolongan pertama pada
kecelakaan
2. Kemenaker Nomor :
Kep.187/MEN/1999
Tentang Pengendalian
Bahan kimia berbahaya
di tempat kerja, Pasal 2
Pasal 2
Pengusaha atau
pengurus yang
menggunakan,
menyimpan, memakai,
memproduksi dan
mengangkut bahan kimia
berbahaya di tempat
kerja wajib
mengendalikan bahan
kimia berbahaya untuk
mencegah terjadinya
kecelakaan kerja dan
penyakit akibat kerja
38
Bahwasannya selama 1 bulan stand by di kerja yang
klinik PT PMI penuh tempat kerja dan telah
sudah menjadi tenaga kerja ditentukan
klinik pratama perlu pelayanan perusahaan
kesehatan yg
sifatnya segera
akan
berpengaruh
pada kecepatan
proses penanga-
nannya.
2. Permenakertrans no.
1/Men/1976 tentang
kewajiban latihan hygiene
perusahaan K3 bagi dokter
perusahaan Pasal 1,2
Pasal 1
Setiap perusahaan
diwajibkan untuk
mngirimkan setiap dokter
perusahaannya untuk
mendapatkan latihan dalam
bidang Hygiene
Perusahaan. Kesehatan
dan Keselamatan Kerja.
Pasal 2
Yang dimaksud dengan
dokter perusahaan adalah
setiap dokter yang ditunjuk
39
atau
bekerja di perusahaan
yang bertugas dan atau
bertanggung jawab atas
Hygiene
Perusahaan Keselamatan
dan Kesehatan Kerja.
40
fungsinya. 2. Permenakertrans no.
1/Men/1979 tentang
kewajiban latihan hygiene
perusahaan K3 bagi
paramedis perusahaan
Pasal 1,2,4
Pasal 1
Setiap perusahaan yang
mempekerjakan tenaga
Para Medis diwajibkan
untuk
mengirimkan setiap
tenaga tersebut untuk
mendapatkan latihan
dalambidang Hygiene
Perusahaan,Kesehatan
dan Keselamatan Kerja.
Pasal 2
Yang dimaksud tenaga
Para Medis ialah tenaga
Para Medis yang ditunjuk
atau ditugaskan untuk
melaksanakan atau
membantu
penyelenggaraan tugas-
tugas Hygiene
Perusahaan, Kesehatan
dan Keselarnatan Kerja
diperusahaan atas
petunjuk dan bimbingan
dokter perusahaan.
Pasal 4
(1) Setiap tenaga Para
Medis yang telah dapat
menyelenggarakan latihan
akan
mendapatkan sertifikat.
(2) Dengan sertifikat
tersebut tenaga kerja
medis yang bersangkutan
telah memenuhi
syarat-syarat untuk
menyelenggarakan
pelayanan hygiene
perusahaan dan
kesehatan
kerja sesuai dengan
fungsinya.
41
serta memlliki
pengetahuan dan/atau
keterampilan melalui
pendidikan di bidang
kesehatan yang untuk
jenis tertentu memerlukan
kewenangan untuk
melakukan upaya
kesehatan.
42
4. Jumlah 1. Apabila terjadi [Link] 1. Per. 15/Men/VIII/2008 Vallerian
petugas P3K kecelakaan penambahan Tentang Pertolongan Gusti
masih kurang kerja dengan petugas P3K Pertama Pada Kecelakaan Putra
dari ketentuan korban lebih sesuai Kerja, Pasal 5
kemnaker dari 1 pekerja ketentuan Pasal 5
maka akan yang berlaku (1) Petugas P3K di tempat
mempersulit kerja sebagaimana
penanganan [Link] dimaksud dalam Pasal
secara optimal sosialisasi 3 ayat (1), ditentukan
P3K oleh berdasarkan jumlah
2. Bertambahnya Petugas P3K pekerja/buruh dan
petugas P3K kepada potensi bahaya di
yang telah seluruh tempat kerja, dengan
tersertifikasi pekerja rasio sebagaimana
oleh kemnaker tercantum dalam
dapat Lampiran I Peraturan
mempermudah Menteri ini.
proses (2) Pengurus wajib
sosialisasi P3K mengatur tersedianya
Petugas P3K pada :
a. tempat kerja dengan
unit kerja berjarak
500 meter atau lebih
sesuai jumlah
pekerja/buruh dan
potensi bahaya di
tempat kerja;
b. tempat kerja di
setiap lantai yang
berbeda di gedung
bertingkat sesuai
jumlah
pekerja/buruh dan
potensi bahaya di
tempat kerja;
c. tempat kerja dengan
jadwal kerja shift
sesuai jumlah
pekerja/buruh dan
potensi bahaya di
tempat kerja.
43
5. Kotak P3K 1. Kotak P3K [Link] 1. Per. 15/Men/VIII/2008 Yurike
tidak sulit kotak P3K Tentang Pertolongan Riestia
transparan dan ditemukan apabila Pertama Pada Kecelakaan
lokasi kotak dengan belum Kerja, Pasal 8
berada mudah apabila terdapat Pasal 8
disamping ada pekerja kotak P3K (1) Fasilitas P3K
ruangan (tidak yang dilokasi kerja sebagaimana dimaksud
mudah terlihat) membutuhkan [Link] dalam Pasal 2 ayat (1)
kotak P3K meliputi:
2. Pekerja sesuai a. ruang P3K;
kesulitan standar b. kotak P3K dan isi;
mengenali Kemnaker c. alat evakuasi dan
kotak P3K yaitu alat transportasi;
dengan baik transparan dan
dan mudah d. fasilitas tambahan
dikenali berupa alat
[Link] pelindung diri
penambahan dan/atau peralatan
dan khusus di tempat
pengecekan kerja yang memiliki
isi kotak P3K potensi bahaya yang
yang telah bersifat khusus
berkurang
6. Perusahaan Perusahaan [Link] [Link] Edaran Menteri Rudi
belum memperhatikan makanan Tenaga Kerja dan Imansyah
menyediakan setiap gizi dan dengan Transmigrasi No. SE.
petugas ahli kualitas makanan kualitas dan 01/Men/1979 tentang
gizi yang dikonsumsi gizi yang Pengadaan Kantin dan
oleh setiap sehat kepada Ruang Makan, menyatakan:
pekerja seluruh 1. Semua perusahaan yang
pekerja mempekerjakan buruh
[Link] antara 50 sampai 200
rambu-rambu orang supaya
makanan menyediakan ruang
bergizi dan tempat makan di
makanan perusahaan yang
yang kurang bersangkutan
baik bagi 2. Semua perusahaan yang
kesehatan mempekerjakan buruh
pekerja lebih dari 200 orang
[Link] supaya menyediakan
menambah kantin di perusahaan yang
petugas ahli bersangkutan
gizi untuk
meningkatka
n gizi pekerja
BAB IV
PENUTUP
A. Kesimpulan
44
Dari hasil observasi lapangan yang kami lakukan di lingkungan PT. Pipit Mutiara
Indah, diperoleh kesimpulan sebagai berikut:
Penerapan K3 Lingkungan Kerja dan Bahan Berbahaya beserta K3 Kesehatan
Kerja di lingkungan PT. Pipit Mutiara Indah yang sudah berjalan adalah terkait:
1. Tersedianya toilet untuk karyawan PT. Pipit Mutiara Indah berdasarkan
gender, dilengkapi dengan tempat sampah, cermin, wastafel, sabun cuci
tangan
2. Tersedianya simbol dan label Bahan Berbahaya Beracun di tempat
penyimpanan dan sudah ada SOP kerja dan safety sign di lokasi kerja dan
Bahan berbahaya Beracun
3. Sudah dilakukan pengukuran terhadap NAB Kimia pada limbah cair dan NAB
fisika kebisingan
4. Tersedianya APD untuk tenaga kerja dan visitor
5. Terdapat Ahli K3 Kimia dan beberapa petugas K3 Kimia
6. Tersedia klinik yang bisa digunakan pekerja dalam kondisi darurat yang
sudah dilengkapi dengan Dokter dan paramedis bersertifikat Hiperkes
7. Tersedia kantin yang bersih
B. Saran
Saran yang dapat diberikan dari hasil observasi di lapangan adalah berdasarkan
temuan negatif, sebagai berikut:
1. Sebaiknya dilakukan pengujian terhadap NAB faktor fisika lainnya seperti :
NAB getaran, NAB pencahayaan dan NAB bahan kimia lainnya
2. Sebaiknya segera melengkapi fasilitas APD sesuai undang-undang yang
berlaku dan meningkatkan kesadaran penggunaanya
3. Sebaiknya segera dibuatkan SOP dan training petugas confined space.
4. Disarankan dipasang alat gas deteksi alarm otomatis ditempat lokasi gas
atau cairan berbahaya
5. Segera melengkapi seluruh paramedis dengan sertifikat hyperkes
6. Melakukan penambahan petugas P3K sesuai dengan ketetuan yang berlaku
dan rutin sosialisasi P3K keseluruh pekerja
45
7. Sebaiknya segera melengkapi fasilitas P3K sesuai undang-undang yang
berlaku seperti tersedianya buku panduan dan buku catatan isi kotak P3K,
obat-obatan dan alat P3K
8. Sosialisasi makanan dengan kualitas dan gizi yang sehat kepada seluruh
pekerja dan Pemasangan rambu-rambu makanan bergizi dan makanan yang
kurang baik bagi kesehatan pekerja
REFERENSI
46
3. Permenaker No. 5 tahun 2018 tentang Keselamatan dan Kesehatan Kerja
Lingkungan Kerja
4. Permen No.07/Men/1964 tentang Syarat Kesehatan, Kebersihan serta
Penerangan Tempat Kerja
5. Permenakertrans No.08/Men/2010 tentang Alat pelindung diri
6. Kepmenaker No. 187 tahun 1999 tentang Pengandalian Bahan Kimia
Berbahaya di Tempat Kerja
7. Permenaker No. 13 tahun 2011 tentang NAB Fisika dan Kimia di Tempat Kerja
8. Permenakertrans No. Per. 01/Men/1976 tentang Kewajiban Latihan Hiperkes
bagi Dokter Perusahaan
9. Permenakertrans No. Per. 01/Men/1979 tentang Kewajiban Latihan Hiperkes
bagi Paramedis Perusahaan
10. Permenakertrans No. Per. 02/Men/1980 tentang Pemeriksaan Kesehatan
Tenaga Kerja Dalam Penyelenggaraan Keselamatan Kerja
11. Permenakertrans No. Per. 01/Men/1981 tentang Kewajiban Melapor Penyakit
Akibat Kerja
12. Permenakertrans No. Per. 03/Men/1982 tentang Pelayanan Kesehatan Kerja
13. Kepmenakertrans No. Kep. 68/Men/IV/2004 tentang Pencegahan dan
Penanggulangan HIV/AIDS di Tempat Kerja
14. Permennakertrnas No. Per. 11/Men/2005 tentang Pencegahan dan
Penanggulangan Penyalahgunaan dan Peredaran Gelap Narkoba di Tempat
Kerja
15. Permenakertrans No. Per. 25/Men/XII/2008 tentang Pedoman Diagnosis Dan
Penilaian Cacat Karena Kecelakaan Dan Penyakit Akibat Kerja
16. Permennakertrans No. Per. 15/Men/VIII/2008 tentang Pertolongan Pertama
Pada Kecelakaan di Tempat Kerja
17. SE. Menakertrans No. SE. 01/Men/1979 tentang Pengadaan Kantin dan Ruang
Makan
18. SE. Dirjen Binawas No. SE. 86/BW/1989 tentang Perusahaan Catering Yang
Mengelola Makanan Bagi Tenaga Kerja
47
19. Kepdirjen Binwasnaker No. Kep. 20/DJPPK/VI/2005 tentang Petunjuk
Pelaksanaan Program HIV/AIDS di Tempat Kerja
20. Kepdirjen Binwasnaker No. Kep. 22/DJPPK/V/2008 tentang Petunjuk Teknis
Penyelenggaraan Pelayanan Kesehatan kerja
21. Kepdirjen Binwasnaker No. Kep. 53/DJPPK/VIII/2009 tentang Pedoman
Pelatihan dan Pemberian Lisensi Petugas P3K di Tempat Kerja
22. Peraturan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi No. Per. 01/Men/1979
Tentang Kewajiban Latihan Hygiene Perusahaan K3 Bagi Tenaga Medis
Perusahaan
23. SE. Menakertrans [Link].01/MEN/PPK/IV/2012 Tentang Kewajiban Syarat-
Syarat Keselamatan dan Kesehatan Kerja di Ruang Terbatas
24. Kepdirjen Binwasnaker No. Kep.113/DJPPK/2006 Tentang Pedoman dan
Pembinaan Teknis Petugas K3 di Ruang Terbatas (Confined Spaces)
25. SE. Dirjen Binwasnaker [Link].01/DJPPK/I/2011 tentang Petunjuk Teknis
Pelaksanaan Pembinaan Terhadap Ahli, Teknisi dan Petugas Lingkungan Kerja
dan Bahan Berbahaya
LAMPIRAN
No
K3 Lingkungan Kerja & Bahan Berbahaya dan Beracun
.
48
1. NAB Kimia
Permenaker Nomor 5 Tahun 2018 tentang Keselamatan dan Kesehatan Kerja
Lingkungan Kerja Bagian Ketiga Faktor Kimia Pasal 20 dan Pasal 21, yaitu:
Pasal 20
8. Pengukuran dan pengendalian Faktor Kimia sebagaimana dimaksud dalam
Pasal 5 ayat (2) huruf b harus dilakukan pada Tempat Kerja yang memiliki
potensi bahaya bahan kimia.
9. Pengukuran Faktor Kimia sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan
terhadap pajanannya dan terhadap pekerja yang terpajan.
10. Pengukuran terhadap pajanan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) yang
hasilnya untuk dibandingkan dengan NAB harus dilakukan paling singkat selama
6 (enam) jam.
11. Pengukuran sebagaimana dimaksud pada ayat (1) yang hasilnya untuk
dibandingkan dengan PSD, harus dilakukan paling singkat selama 15 (lima
belas) menit sebanyak 4 (empat) kali dalam durasi 8 (delapan) jam kerja.
12. Pengukuran sebagaimana dimaksud pada ayat (1) yang hasilnya untuk
dibandingkan dengan KTD harus dilakukan menggunakan alat pembacaan
langsung untuk memastikan tidak terlampaui.
13. Pengukuran Faktor Kimia terhadap pekerja yang mengalami pajanan
sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dilakukan melalui Pemeriksaan kesehatan
khusus pada spesimen tubuh Tenaga Kerja dan dibandingkan dengan IPB.
14. NAB sebagaimana dimaksud pada ayat (2), ayat (3), ayat (4) dan IPB
sebagaimana dimaksud pada ayat (6) tercantum dalam Lampiran yang
merupakan bagian tidak terpisahkan dari Peraturan Menteri ini.
Pasal 21
1. Jika hasil pengukuran terhadap pajanan melebihi NAB dan hasil pengukuran
49
Faktor Kimia terhadap Tenaga Kerja yang mengalami pajanan melebihi IPB
harus dilakukan pengendalian.
2. Pengendalian sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan dengan:
a. menghilangkan sumber potensi bahaya kimia dari Tempat Kerja;
b. mengganti bahan kimia dengan bahan kimia lain yang tidak mempunyai
potensi bahaya atau potensi bahaya yang lebih rendah;
c. memodifikasi proses kerja yang menimbulkan sumber potensi bahaya kimia;
d. mengisolasi atau membatasi pajanan sumber potensi bahaya kimia;
e. menyediakan sistem ventilasi;
f. membatasi pajanan sumber potensi bahaya kimia melalui pengaturan waktu
kerja;
g. merotasi Tenaga Kerja;
h. ke dalam proses pekerjaan yang tidak terdapat potensi bahaya bahan kimia;
i. penyediaan lembar data keselamatan bahan dan label bahan kimia;
j. penggunaan alat pelindung diri yang sesuai; dan/atau
k. pengendalian lainnya sesuai dengan tingkat risiko
2. NAB Fisika
Permenaker Nomor 5 Tahun 2018 tentang Keselamatan dan Kesehatan Kerja
Lingkungan Kerja Bagian Kedua Faktor Fisika Pasal 8, Pasal 10, Pasal 11, Pasal 16,
Pasal 17, Pasal 18, dan Pasal 19, yaitu:
Pasal 8
1. Pengukuran dan pengendalian Faktor Fisika sebagaimana dimaksud dalam
Pasal 5 ayat (2) huruf a meliputi:
a. Iklim Kerja;
b. Kebisingan;
c. Getaran;
d. gelombang radio atau gelombang mikro;
e. sinar Ultra Ungu (Ultra Violet);
f. Medan Magnet Statis;
g. tekanan udara; dan
50
h. Pencahayaan.
2. NAB Faktor Fisika sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a sampai dengan
huruf f tercantum dalam lampiran yang merupakan bagian tidak terpisahkan dari
Peraturan Menteri ini.
Pasal 10
5. Pengukuran dan pengendalian Kebisingan sebagaimana dimaksud dalam Pasal
8 ayat (1) huruf b harus dilakukan pada Tempat Kerja yang memiliki sumber
bahaya Kebisingan dari operasi peralatan kerja.
6. Tempat Kerja yang memiliki sumber bahaya Kebisingan sebagaimana dimaksud
pada ayat (1) merupakan Tempat Kerja yang terdapat sumber Kebisingan terus
menerus, terputus-putus, impulsif, dan impulsif berulang.
7. Jika hasil pengukuran Tempat Kerja sebagaimana dimaksud pada ayat (2)
melebihi dari NAB harus dilakukan pengendalian.
8. Pengendalian sebagaimana dimaksud pada ayat (3) dilakukan dengan
melaksanakan program pencegahan penurunan pendengaran dengan:
g. menghilangkan sumber Kebisingan dari Tempat Kerja;
h. mengganti alat, bahan, dan proses kerja yang menimbulkan sumber
Kebisingan;
i. memasang pembatas, peredam suara, penutupan sebagian atau seluruh
alat;
j. mengatur atau membatasi pajanan Kebisingan atau pengaturan waktu kerja;
k. menggunakan alat pelindung diri yang sesuai; dan/atau
l. melakukan pengendalian lainnya sesuai dengan perkembangan ilmu
pengetahuan dan teknologi.
Pasal 11
1. Pengukuran dan pengendalian Getaran sebagaimana dimaksud dalam Pasal 8
ayat (1) huruf c harus dilakukan pada Tempat Kerja yang memiliki sumber
bahaya Getaran dari operasi peralatan kerja.
2. Tempat Kerja yang memiliki sumber bahaya Getaran sebagaimana dimaksud
51
pada ayat (1) merupakan Tempat Kerja yang terdapat sumber Getaran pada
lengan dan tangan dan Getaran seluruh tubuh. Jika hasil pengukuran Tempat
Kerja sebagaimana dimaksud pada ayat (2) melebihi dari NAB harus dilakukan
pengendalian.
3. Pengendalian sebagaimana dimaksud pada ayat (3) dilakukan dengan:
a. menghilangkan sumber Getaran dari Tempat Kerja;
b. mengganti alat, bahan, dan proses kerja yang menimbulkan sumber Getaran;
c. mengurangi pajanan Getaran dengan menambah/menyisipkan
damping/bantalan/ peredam di antara alat dan bagian tubuh yang kontak
dengan alat kerja;
d. membatasi pajanan Getaran melalui pengaturan waktu kerja;
e. penggunaan alat pelindung diri yang sesuai; dan/atau
f. melakukan pengendalian lainnya sesuai dengan perkembangan ilmu
pengetahuan dan teknologi.
Pasal 16
5. Pengukuran dan pengendalian Pencahayaan sebagaimana dimaksud dalam
Pasal 8 ayat (1) huruf g harus dilakukan di Tempat Kerja.
6. Pencahayaan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi:
c. Pencahayaan Alami; dan/atau
d. Pencahayaan Buatan.
7. Jika hasil pengukuran Pencahayaan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) tidak
sesuai dengan standar dilakukan pengendalian agar intensitas Pencahayaan
sesuai dengan jenis pekerjaannya.
8. Standar Pencahayaan sebagaimana dimaksud pada ayat (3) tercantum dalam
Lampiran yang merupakan bagian tidak terpisahkan dari Peraturan Menteri ini.
Pasal 17
2. Pencahayaan Alami sebagaimana dimaksud dalam Pasal 16 ayat (2) huruf a
merupakan Pencahayaan yang dihasilkan oleh sinar matahari.
3. Tempat Kerja yang menggunakan Pencahayaan alami, disain gedung harus
52
menjamin Intensitas Cahaya sesuai standar sebagaimana dimaksud dalam Pasal
16 ayat (4).
Pasal 18
3. Pencahayaan Buatan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 16 ayat (2) huruf b
dapat digunakan apabila Pencahayaan alami tidak memenuhi standar Intensitas
Cahaya sebagaimana dimaksud dalam Pasal 16 ayat (4).
4. Pencahayaan Buatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) tidak boleh
menyebabkan panas yang berlebihan atau mengganggu KUDR.
Pasal 19
1. Sarana Pencahayaan darurat harus disediakan untuk penyelamatan dan
evakuasi dalam keadaan darurat.
2. Sarana Pencahayaan darurat sebagaimana dimaksud pada ayat (1) harus
memenuhi persyaratan:
a. bekerja secara otomatis;
b. mempunyai intensitas Pencahayaan yang cukup untuk melakukan evakuasi
dan/atau penyelamatan yang aman; dan
c. dipasang pada jalur evakuasi atau akses jalan keluar.
3. Akses jalan keluar sebagaimana dimaksud pada ayat (2) huruf c harus dilengkapi
garis penunjuk jalan keluar yang terbuat dari bahan reflektif dan/atau
memancarkan cahaya.
Pasal 3:
a. penyediaan lembar data keselamatan bahan (LDKB) dan label
b. penunjukan petugas K3 Kimia dan Ahli K3 Kimia.
Pasal 5:
53
Label sebagaimana dimaksud dalam pasal 3 huruf a meliputi keterangan mengenai:
l. nama produk.
m. identifikasi bahaya.
n. tanda bahaya dan artinya.
o. uraian resiko dan penanggulangannya.
p. tindakan pencegahan.
q. instruksi dalam hal terkena atau terpapar.
r. instruksi kebakaran.
s. instruksi tumpahan atau bocoran
t. instruksi pengisian dan penyimpanan.
u. referensi.
v. nama, alamat dan no. telepon pabrik pembuat dan atau distributor.
Pasal 6:
Lembar Data Keselamatan Bahan sebagaimana dimaksud dalam pasal 4 dan Label
sebagaimana dimaksud dalam pasal 5 diletakkan ditempat yang mudah diketahui
oleh tenaga kerja dan Pegawai Pengawas Ketenagakerjaan.
Lembar LDKB:
54
Pasal 16
(1) Perusahaan yang dikategorikan mempunyai potensi bahaya besar sebagai mana
dimaksud pada pasal 15 ayat (1) wajib :
a. mempekerjakan petugas K3 Kimia dengan ketentuan apabila dipekerjakan
dengan sistem kerja non shift sekurang kurangnya 2 (dua) orang dan apabila
dipekerjakan dengan sistem kerja shift sekurang-kurangnya 5 (lima) orang.
b. mempekerjakan ahli K3 Kimia sekurang-kurangnya 1 (satu) orang.
c. membuat dokumen pengendalian potensi bahaya besar.
d. melaporkan setiap perubahan nama bahan kimia dan kuantitas bahan kimia,
proses dan modifikasi instalasi yang digunakan.
e. melakukan pemeriksaan dan pengujian faktor kimia yang ada di tempat kerja
55
sekurang-kurangnya 6 (enam) bulan sekali.
f. melakukan pemeriksaan dan pengujian instalasi yang ada di tempat kerja
sekurang-kurangnya 2 (dua) tahun sekali.
g. melakukan pemeriksaan kesehatan tenaga kerja sekurang kurangnya 1 (satu)
tahun sekali.
4. K3 Kimia : Penanganan Bahan B3
Keputusan Menteri Tenaga Kerja No. Kep.03/Men/1986 Tentang
Syarat-syarat keselamatan kesehatan ditempat kerja yang mengelola peptisida Pasal
3:
Pasal 3
(1) Pada tempat kerja harus dipasang tanda-tanda peringatan tentang bahaya-
bahaya yang dapat ditimbulkan dengan cara yang sederhana dan mudah dimengerti
serta jelas dan mudah dibaca.
(2) Pada tempat kerja tertentu harus dipasang gambar alat pelindung diri yang wajib
dipakai
Pasal 34
(1) Toilet sebagaimana dimaksud dalam Pasal 33 ayat (2) huruf a harus:
a. bersih dan tidak menimbulkan bau
b. tidak ada lalat, nyamuk, atau serangga yang lainnya;
c. tersedia saluran pembuangan air yang mengalir dengan baik;
d. tersedia air bersih;
e. dilengkapi dengan pintu;
f. memiliki penerangan yang cukup;
g. memiliki sirkulasi udara yang baik;
h. dibersihkan setiap hari secara periodik; dan
i. dapat digunakan selama jam kerja.
56
(2) Kelengkapan fasilitas Toilet sebagaimana dimaksud pada ayat (1) paling sedikit
meliputi:
a. jamban;
b. air bersih yang cukup;
c. alat pembilas;
d. tempat sampah;
e. tempat cuci tangan; dan
f. sabun.
6. UU no. 1 tahun 1970 tentang keselamatan kerja
(1) Tempat Kerja" ialah tiap ruangan atau lapangan, tertutup atau terbuka, bergerak
atau tetap, dimana tenaga kerja bekerja, atau sering dimasuki kerja untuk keperluan
suatu usaha dan dimana terdapat sumber atau sumber-sumber bahaya
sebagaimana diperinci dalam pasal 2; Termasuk Tempat kerja ialah semua ruangan,
lapangan, halaman dan sekelilingnya yang merupakan bagian-bagian atau yang
berhubungan dengan tempat
kerja tersebut
7. Permenakertrans no. PER.03/MEN/1982 tentang pelayanan kesehatan tenaga kerja
b. Tempat kerja adalah sebagaimana yang dimaksud dalam pasal 1 ayat (1) Undang
- undang Nomor 1 Tahun 1970
Pasal 9 bagian b
57
Fasilitas Pelayanan Kesehatan
Pasal 12
(1) Fasilitas Pelayanan Kesehatan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 9 huruf b
dapat berbentuk Fasilitas Pelayanan Kesehatan tingkat pertama atau Fasilitas
Pelayanan Kesehatan tingkat lanjutan sesuai dengan ketentuan peraturan
perundang-undangan.
(2) Penyediaan Fasilitas Pelayanan Kesehatan dapat dilaksanakan melalui kerja
sama dengan pihak lain.
(3) Jika penyelenggaraan Kesehatan Kerja di Tempat Kerja melakukan upaya
penanganan penyakit dan pemulihan kesehatan maka di Tempat Kerja harus
tersedia Fasilitas Pelayanan Kesehatan sesuai dengan ketentuan peraturan
perundang-undangan.
Pasal 13
Peralatan kesehatan kerja sebagaimana dimaksud dalam Pasal 9 huruf c
merupakan peralatan untuk pengukuran, pemeriksaan, darr peralatan lainnya
termasuk alat pelindung diri sesuai dengan faktor risiko/bahaya keselamatan dan
Kesehatan Kerja di Tempat Kerja.
9. UU no. 1 tahun 1970 tentang keselamatan kerja
(2) Pengurus diwajibkan memeriksa semua tenaga kerja yang berada dibawah
pimpinannya, secara berkala pada Dokter yang ditunjuk oleh Pengusaha dan
dibenarkan oleh Direktur.
10. Permenakertrans no. PER.03/MEN/1982 tentang pelayanan kesehatan tenaga kerja
Pasal 1
a. Pelayanan Kesehatan adalah usaha kesehatan yang dilaksanakan dengan tujuan:
1. Memberikan bantuan kepada tenaga kerja dalam penyesuaian diri baik fisik
maupun mental, terutama dalam penyesuaian pekerjaan dengan tenaga kerja.
2. Melindungi tenaga kerja terhadap setiap gangguan kesehatan yang timbul dari
pekerjaan atau lingkungan kerja.
58
3. Meningkatkan kesehatan badan, kondisi mental (rohani) dan kemampuan fisik
tenaga kerja.
4. Memberikan pengobatan dan perawatan serta rehabilitasi bagi tenaga kerja
yang menderita sakit.
Pasal 2
Tugas pokok pelayanan Kesehatan Kerja meliputi:
m. Pemeriksaan kesehatan sebelum kerja, pemeriksaan berkala dan pemeriksaan
khusus.
n. Pembinaan dan pengawasan atas penyesuaian pekerjaan terhadap tenaga kerja.
o. Pembinaan dan pengawasan terhadap lingkungan kerja.
p. Pembinaan dan pengawasan perlengkapan sanitair.
q. Pembinaan dan pengawasan perlengkapan untuk kesehatan tenaga kerja.
r. Pencegahan dan pengobatan terhadap penyakit umum dan penyakit akibat kerja.
s. Pertolongan Pertama Pada Kecelakaan.
t. Pendidikan Kesehatan untuk tenaga kerja dan latihan untuk petugas Pertolongan
Pertama Pada Kecelakaan.
u. Memberikan nasehat mengenai perencanaan dan pembuatan tempat kerja,
pemilihan alat pelindung diri yang diperlukan dan gizi serta penyelenggaraan
makanan di tempat kerja.
v. Membantu usaha rehabilitasi akibat kecelakaan atau penyakit akibat kerja.
w. Pembinaan dan pengawasan terhadap tenaga kerja yang mempunyai kelainan
tertentu dalam kesehatannya.
x. Memberikan laporan berkala tentang Pelayanan Kesehatan Kerja kepada
pengurus.
Pasal 5
Penyelenggaraan Pelayanan Kesehatan Kerja dipimpin dan dijalankan oleh seorang
dokter yang disetujui oleh Direktur.
Pasal 6
(1) Pengurus wajib memberikan kebebasan profesional kepada dokter yang
59
menjalankan Pelayanan Kesehatan Kerja.
(2) Dokter dan tenaga kesehatan dalam melaksanakan Pelayanan Kesehatan Kerja,
bebas memasuki tempat-tempat kerja untuk melakukan pemeriksaan-pemeriksaan
dan mendapatkan keterangan-keterangan yang diperlukan.
Pasal 8
Dokter maupun tenaga kerja kesehatan wajib memberikan keterangan-keterangan
tentang Pelaksanaan Kesehatan Kerja kepada Pegawai Pengawas Keselarnatan
dan Kesehatan Kerja jika diperlukan.
11. Permenakertrans no. PER.01/MEN/1976 tentang kewajiban latihan hiperkes bagi
dokter perusahaan
Pasal 1
Setiap perusahaan diwajibkan untuk mngirimkan setiap dokter perusahaannya untuk
mendapatkan latihan dalam bidang Hygiene Perusahaan. Kesehatan dan
Keselamatan Kerja.
Pasal 2
Yang dimaksud dengan dokter perusahaan adalah setiap dokter yang ditunjuk atau
bekerja di perusahaan yang bertugas dan atau bertanggung jawab atas Hygiene
Perusahaan Keselamatan dan Kesehatan Kerja.
12. PP nomor 88 tahun 2019 tentang kesehatan kerja
Pasal 1 ayat 7
Tenaga Kesehatan adalah setiap orang yang mengabdikan dirinya dalam bidang
kesehatan serta memlliki pengetahuan dan/atau keterampilan melalui pendidikan di
bidang kesehatan yang untuk jenis tertentu memerlukan kewenangan untuk
melakukan upaya kesehatan.
Pasal 9
Penyelenggaraan Kesehatan Kerja harus didukung oleh:
a. sumber daya manusia;
b. Fasilitas Pelayanan Kesehatan;
c. peralatan Kesehatan Kerja; dan
60
d. pencatatan dan pelaporan.
Pasal 10
(1) Sumber daya manusia sebagaimana dimaksud dalam Pasal 9 huruf a terdiri
atas Tenaga Kesehatan dan tenaga nonkesehatan.
(2) Tenaga Kesehatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) wajib memiliki
kompetensi di bidang kedokteran kerja atau Kesehatan Kerja yang diperoleh
melalui pendidikan dan/ atau pelatihan.
(3) Pendidikan di bidang kedokteran kerja atau Kesehatan Kerja sebagaimana
dimaksud pada ayat (2) dilaksanakan sesuai dengan ketentuan peraturan
perundang-undangan.
(4) Pelatihan di bidang kedokteran kerja atau Kesehatan Kerja sebagaimana
dimaksud pada ayat (2) diselenggarakan oleh Pemerintah Pusat, Pemerintah
Daerah, dan/atau masyarakat sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-
undangan.
(5) Pelatihan di bidang kedokteran kerja sebagaimana dimaksud pada ayat (4)
ditujukan khusus bagi dokter yang harus memuat materi mengenai diagnosis
Penyakit Akibat Kerja dan penetapan kelaikan kerja dan program kembali kerja.
(6) Pelatihan di bidang Kesehatan Kerja sebagaimana dimaksud pada ayat (4)
paling sedikit meliputi pelatihan Kesehatan Kerja atau higiene perusahaan
keselamatan dan Kesehatan Kerja.
(7) Peiatihan Kesehatan Kerja atau higiene perusahaan keselamatan dan
Kesehatan Kerja sebagaimana dimaksud pada ayat (6) dapat dikembangkan sesuai
dengan kebutuhan pelayanan Pekerja dan perkembangan ilmu pengetahuan dan
teknologi.
Pasal 11
Pelatihan kedokteran kerja, Kesehatan Kerja atau higiene perusahaan keselamatan
dan Kesehatan Kerja dikecualikan bagi Tenaga Kesehatan yang telah memiliki
kompetensi yang diperoleh melalui pendidikan formal di bidang kedokteran kerja
atau Kesehatan Kerja.
13. Keputusan Dirjen Binwasnaker No. Kep 22/DJPPK/V/2008 tentang petunjuk teknis
61
penyelenggaraan pelayanan kesehatan kerja
Lampiran 1
Petunjuk Teknis Penyelenggaraan Pelayanan Kesehatan Kerja
14. Permenakertrans no. PER.01/MEN/1979 tentang kewajiban latihan hygiene
perusahaan kesehatan dan keselamatan kerja bagi tenaga para medis perusahaan
Pasal 1
Setiap perusahaan yang mempekerjakan tenaga Para Medis diwajibkan untuk
mengirimkan setiap tenaga tersebut untuk mendapatkan latihan dalam
bidang Hygiene
Perusahaan, Kesehatan dan Keselamatan Kerja.
Pasal 2
Yang dimaksud tenaga Para Medis ialah tenaga Para Medis yang ditunjuk atau
ditugaskan untuk melaksanakan atau membantu penyelenggaraan tugas-tugas
Hygiene Perusahaan, Kesehatan dan Keselarnatan Kerja diperusahaan atas
petunjuk dan bimbingan dokter perusahaan.
Pasal 4
(1) Setiap tenaga Para Medis yang telah dapat menyelenggarakan latihan akan
mendapatkan sertifikat.
(2) Dengan sertifikat tersebut tenaga kerja medis yang bersangkutan telah
memenuhi
syarat-syarat untuk menyelenggarakan pelayanan hygiene perusahaan dan
kesehatan
kerja sesuai dengan fungsinya.
15. APD
Permenakertrans Nomor PER.08/MEN/VII/2010 tentang Alat Pelindung Diri Pasal 1-
6 yaitu:
Pasal 1
Dalam Peraturan Menteri ini yang dimaksud dengan:
1. Alat Pelindung Diri selanjutnya disingkat APD adalah suatu alat yang mempunyai
62
kemampuan untuk melindungi seseorang yang fungsinya mengisolasi sebagian
atau seluruh tubuh dari potensi bahaya di tempat kerja.
2. Pekerja/buruh adalah setiap orang yang bekerja dengan menerima upah atau
imbalan dalam bentuk lain.
3. Pengusaha adalah:
a. orang perseorangan, persekutuan, atau badan hukum yang menjalankan
suatu perusahaan milik sendiri;
b. orang perseorangan, persekutuan, atau badan hukum yang secara berdiri
sendiri menjalankan perusahaan bukan miliknya;
c. orang perseorangan, persekutuan, atau badan hukum yang berada di
Indonesia mewakili perusahaan sebagaimana dimaksud dalam huruf a dan
huruf b yang berkedudukan di luar wilayah Indonesia.
4. Pengurus adalah orang yang mempunyai tugas memimpin langsung sesuatu
tempat kerja atau bagiannya yang berdiri sendiri.
5. Tempat kerja adalah tiap ruangan atau lapangan tertutup atau terbuka, bergerak
atau tetap, di mana tenaga kerja bekerja atau yang sering dimasuki tenaga kerja
untuk keperluan suatu usaha dan di mana terdapat sumber atau sumber-sumber
bahaya, termasuk semua ruangan, lapangan, halaman dan sekelilingnya yang
merupakan bagian atau berhubungan dengan tempat kerja.
6. Pegawai Pengawas Ketenagakerjaan yang selanjutnya disebut Pengawas
Ketenagakerjaan adalah Pegawai Negeri Sipil yang diangkat dan ditugaskan
dalam Jabatan Fungsional Pengawas Ketenagakerjaan sesuai dengan ketentuan
peraturan perundang-undangan.
7. Ahli Keselamatan dan Kesehatan Kerja adalah tenaga teknis berkeahlian khusus
dari luar Kementerian Tenaga Kerja dan Transmigrasi yang ditunjuk oleh
Menteri.
Pasal 2
1. Pengusaha wajib menyediakan APD bagi pekerja/buruh di tempat kerja.
2. APD sebagaimana dimaksud pada ayat (1) harus sesuai dengan Standar
Nasional Indonesia (SNI) atau standar yang berlaku.
63
3. APD sebagaimana dimaksud pada ayat (1) wajib diberikan oleh pengusaha
secara cuma-cuma.
Pasal 3
1. APD sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 meliputi:
g. pelindung kepala;
h. pelindung mata dan muka;
i. pelindung telinga;
j. pelindung pernapasan beserta perlengkapannya;
k. pelindung tangan; dan/atau
l. pelindung kaki.
2. Selain APD sebagaimana dimaksud pada ayat (1), termasuk APD:
a. pakaian pelindung;
b. alat pelindung jatuh perorangan; dan/atau
c. pelampung.
3. Jenis dan fungsi APD sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2)
tercantum dalam Lampiran Peraturan Menteri ini.
Pasal 4
1. APD wajib digunakan di tempat kerja di mana:
a. dibuat, dicoba, dipakai atau dipergunakan mesin, pesawat, alat perkakas,
peralatan atau instalasi yang berbahaya yang dapat menimbulkan kecelakaan,
kebakaran atau peledakan;
b. dibuat, diolah, dipakai, dipergunakan, diperdagangkan, diangkut atau disimpan
bahan atau barang yang dapat meledak, mudah terbakar, korosif, beracun,
menimbulkan infeksi, bersuhu tinggi atau bersuhu rendah;
c. dikerjakan pembangunan, perbaikan, perawatan, pembersihan atau
pembongkaran rumah, gedung atau bangunan lainnya termasuk bangunan
perairan, saluran atau terowongan di bawah tanah dan sebagainya atau di
mana dilakukan pekerjaan persiapan;
d. dilakukan usaha pertanian, perkebunan, pembukaan hutan, pengerjaan hutan,
pengolahan kayu atau hasil hutan lainnya, peternakan, perikanan dan
64
lapangan kesehatan;
e. dilakukan usaha pertambangan dan pengolahan batu-batuan, gas, minyak,
panas bumi, atau mineral lainnya, baik di permukaan, di dalam bumi maupun
di dasar perairan;
f. dilakukan pengangkutan barang, binatang atau manusia, baik di daratan,
melalui terowongan, di permukaan air, dalam air maupun di udara;
g. dikerjakan bongkar muat barang muatan di kapal, perahu, dermaga, dok,
stasiun, bandar udara dan gudang;
h. dilakukan penyelaman, pengambilan benda dan pekerjaan lain di dalam air;
i. dilakukan pekerjaan pada ketinggian di atas permukaan tanah atau perairan;
j. dilakukan pekerjaan di bawah tekanan udara atau suhu yang tinggi atau
rendah;
k. dilakukan pekerjaan yang mengandung bahaya tertimbun tanah, kejatuhan,
terkena pelantingan benda, terjatuh atau terperosok, hanyut atau terpelanting;
l. dilakukan pekerjaan dalam ruang terbatas tangki, sumur atau lubang; m.
terdapat atau menyebar suhu, kelembaban, debu, kotoran, api, asap, gas,
hembusan angin, cuaca, sinar atau radiasi, suara atau getaran;
m. dilakukan pembuangan atau pemusnahan sampah atau limbah;
n. dilakukan pemancaran, penyiaran atau penerimaan telekomunikasi radio,
radar, televisi, atau telepon;
o. dilakukan pendidikan, pembinaan, percobaan, penyelidikan atau riset yang
menggunakan alat teknis;
p. dibangkitkan, dirubah, dikumpulkan, disimpan, dibagi-bagikan atau disalurkan
listrik, gas, minyak atau air; dan
q. diselenggarakan rekreasi yang memakai peralatan, instalasi listrik atau
mekanik.
2. Pegawai Pengawas Ketenagakerjaan atau Ahli Keselamatan dan Kesehatan
Kerja dapat mewajibkan penggunaan APD di tempat kerja selain sebagaimana
dimaksud pada ayat (1).
Pasal 5
65
Pengusaha atau Pengurus wajib mengumumkan secara tertulis dan memasang
ramburambu mengenai kewajiban penggunaan APD di tempat kerja.
Pasal 6
3. Pekerja/buruh dan orang lain yang memasuki tempat kerja wajib memakai atau
menggunakan APD sesuai dengan potensi bahaya dan risiko.
4. Pekerja/buruh berhak menyatakan keberatan untuk melakukan pekerjaan apabila
APD yang disediakan tidak memenuhi ketentuan dan persyaratan.
17. Confined Space (Ruang Terbatas)
Pasal 3
4. Ruang Terbatas sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 meliputi:
e. tangki dan/atau bejana, pesawat uap, dapur/tanur, silo, cerobong;
f. jaringan perpipaan, terowongan, dan konstruksi bawah tanah lainnya yang
serupa;
g. sumur atau lubang yang memiliki bukaan di bagian atasnya, baik alamiah
ataupun buatan yang melebihi kedalaman 1,5 (satu koma lima) meter;
dan/atau
h. ruangan lainnya yang ditentukan sebagai Ruang Terbatas oleh Pengurus
dan/atau Pengusaha.
5. Pengawas Ketenagakerjaan dapat melakukan pemeriksaan dan/atau pengujian
untuk menentukan Ruang Terbatas selain sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
huruf d.
6. Berdasarkan hasil pemeriksaan dan/atau pengujian Pengawas Ketenagakerjaan
sebagaimana dimaksud pada ayat (2), Pengurus dan/atau Pengusaha wajib
menetapkan Ruang Terbatas.
7. Pengurus dan/atau Pengusaha yang tidak menetapkan Ruang Terbatas
sebagaimana dimaksud pada ayat (3) dikenai sanksi sesuai dengan ketentuan
66
peraturan perundang-undangan.
Pasal 4
1. Pelaksanaan syarat K3 di Ruang Terbatas sebagaimana dimaksud dalam Pasal
2 meliputi:
a. penetapan klasifikasi;
b. pembatasan akses Memasuki Ruang Terbatas;
c. Izin Masuk;
d. prosedur kerja aman;
e. peralatan dan perlengkapan; dan
f. personel K3.
2. Syarat K3 sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diterapkan pada pekerjaan
pemeriksaan dan pengujian, pemeliharaan/perawatan, perbaikan, dan
penyelamatan.
Pasal 8
1. Pemeriksaan kesesuaian syarat K3 oleh Ahli K3 sebagaimana dimaksud dalam
Pasal 7 ayat (4), meliputi:
a. pengujian dan pemantauan Gas Atmosfer Berbahaya;
b. pengaliran udara secara terus-menerus;
c. penguncian dan penandaan sumber energi;
d. komunikasi;
e. sumber daya dengan tegangan tidak lebih dari 50 (lima puluh) volt untuk
kondisi kering dan tidak lebih dari 25 (dua puluh lima) volt untuk kondisi
lembab;
g. alat pelindung diri;
h. penyelamatan dalam keadaan darurat; dan
i. peralatan lain yang diperlukan.
2. Dalam hal syarat K3 sebagaimana dimaksud pada ayat (1) telah terpenuhi,
Penanggung Jawab Area menerbitkan Izin Masuk.
3. Izin Masuk sebagaimana dimaksud pada ayat (2) harus dipasang pada lokasi
pekerjaan.
67
Pasal 11
1. Prosedur kerja aman sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 ayat (1) huruf d
diterapkan melalui analisis pekerjaan berdasarkan K3 (job safety analysis).
2. Prosedur kerja aman sebagaimana dimaksud pada ayat (1) paling sedikit
meliputi:
a. pengujian Gas Atmosfer Berbahaya;
b. pembersihan dan/atau pembilasan bahan berbahaya;
c. penguncian dan/atau isolasi sumber energi;
d. penyediaan sirkulasi udara;
e. penyediaan sistem komunikasi; dan
f. penyediaan rencana tanggap darurat.
3. Prosedur kerja aman sebagaimana dimaksud pada ayat (2) menjadi dasar
pelaksanaan pekerjaan untuk Memasuki Ruang Terbatas
B. Kegiatan pertolongan pertama yang diberikan oleh petugas P3K tentu ada
tujuannya. Berikut adalah beberapa tujuan tersebut:
1. Menyelamatkan nyawa korban
2. Mencegah kondisi korban menjadi lebih parah
3. Menunjang penyembuhan
4. Mempertahankan imunitas korban
5. Mencarikan pertolongan lebih lanjut
C. Menurut Peraturan Menteri Tenaga Kerja & Transmigrasi RI No.
PER15/MEN/VIII/2008 tentang Pertolongan Pertama Pada Kecelakaan (P3K) di
68
tempat kerja, berikut beberapa syarat menjadi petugas P3K:
1. Bekerja pada perusahaan yang bersangkutan;
2. Sehat jasmani dan rohani;
3. Bersedia ditunjuk menjadi petugas P3K; dan
4. Memiliki pengetahuan dan keterampilan dasar di bidang P3K di tempat kerja
yang dibuktikan dengan sertifikat pelatihan.
Tempat kerja dengan tenaga kerja 100 orang atau lebih, atau tenaga kerja kurang
dari 100 tetapi dengan potensi bahaya tinggi wajib mempunyai ruang P3K di tempat
69
kerja. Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam penyediaan Ruang P3K:
Kotak P3K
70
Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam pengadaan kotak P3K adalah sebagai berikut:
1. Rancangan kotak P3K terbuat dari bahan yang kuat, mudah dipindah dan
diberi label P3K.
2. Berwarna dasar putih dengan label P3K berwarna merah
3. Ditempatkan pada tempat yang mudah dilihat dan dijangkau, diberi tanda arah
yang jelas, cukup cahaya serta mudah diangkat apabila akan digunakan.
1. Kotak P3K tidak boleh diisi bahan atau alat selain yang dibutuhkan untuk
pelaksanaan P3K di tempat kerja.
2. Penempatan kotak P3K harus memenuhi ketentuan: jumlah dan tipe kotak
P3K disesuaikan dengan jumlah pekerja, jumlah unit dan tata letak/lay out.
71
3. Surat Edaran Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi No. SE. 01/Men/1979
tentang Pengadaan Kantin dan Ruang Makan, menyatakan:
1. Dapur, kamar makan dan alat keperluan makan harus selalu bersih dan rapih
2. Dapur dan kamar makan tidak boleh berhubungan langsung dengan tempat
kerja
3. Menu makanan yang disediakan harus memenuhi syarat-syarat kesehatan
4. Pegawai penjamah makanan dan minuman harus bebas penyakit menular
dan harus menjaga kebersihan badannya
5. Majikan harus menyediakan pakaian/schort dan tutup kepala yang bersih bagi
pegawai penjamah makanan untuk dipakai waktu melayani makanan.
6. Pegawai penjamah makanan harus mendapat didikan kebersihan dan
kesehatan
7. Pegawai penjamah makanan sebelum bekerja harus diperiksa kesehatan
badannya disertai pemeriksaan rontgen paru-paru
8. Pemeriksaan kesehatan berkala sekali/tahun
9. Pegawai penjamah makanan tidak boleh melayani makanan selama
menderita suatu penyakit sampai dinyatakan sehat kembali oleh dokter.
72
pengelola makanan bagi tenaga kerja. Untuk menyelenggarakan makan tenaga
kerja secara umum diperlukan persyaratan minimal yang meliputi:
1. Mempunyai dapur
2. Mempunyai tenaga gizi
3. Mempunyai tenaga pelaksana
4. Mematuhi peraturan perundangan yang berlaku
6. Pemberian makan bagi tenaga kerja memberikan keuntungan baik bagi tenaga
kerja maupun perusahaan, antara lain:
73
21. Surat Edaran Menteri Tenaga dan Transmigrasi [Link].01/MEN/PPK/IV/2012
Tentang Kewajiban Syarat-Syarat Keselamatan dan Kesehatan Kerja di Ruang
Terbatas:
74
Pasal 3
Pengurus diwajibkan menyelenggarakan pembinaan bagi semua tenaga kerja yang
berada di bawah pimpinannya, dalam pencegahan kecelakaan dan pemberantasan
kebakaran serta peningkatan keselamatan dan kesehatan kerja, pula dalam
pemberian pertolongan pertama pada kecelakaan
23. Kepdirjen Binwasnaker No. Kep.113/DJPPK/2006 Tentang Pedoman dan
Pembinaan Teknis Petugas K3 di Ruang Terbatas (Confined Spaces):
75