0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
4 tayangan21 halaman

Definisi dan Teori Belajar Manusia

Diunggah oleh

Lely Gultom
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOC, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
4 tayangan21 halaman

Definisi dan Teori Belajar Manusia

Diunggah oleh

Lely Gultom
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOC, PDF, TXT atau baca online di Scribd

BAB II

KAJIAN PUSTAKA

A. Pengertian belajar
Dalam kamus besar Bahasa Indonesia disebut, ”belajar adalah berusaha
memahami sesuatu, berusaha untuk memperoleh ilmu pengetahuan, atau berusaha
agar dapat terampil mengerjakan sesuatu” Dari definisi tersebut belajar merupakan
usaha yang dilakukan seseorang untuk memahami sesuatu, memperoleh ilmu dan
mendapatkan keterampilan. Artinya belajar adalah berusaha mencapai apa yang tidak
tahu menjadi tahu dan apa yang tidak bisa menjadi bisa. Dalam kehidupan sehari-
hari, mustahillah apa yang kita lakukan tidak diperoleh dari belajar terlebih dahulu.
Artinya segala yang kita tahu, segala yang kita bisa merupakan hasil dari proses
belajar.
Banyak definisi menurut para ahli tentang belajar, diantaranya adalah sebagai
berikut:
1) Skinner (dalam Barlow, 1985) seperti yang dikutip Pupuh Fathurrohman dan M.
Sobry Sutikno, mengartikan belajar sebagai suatu proses adaptasi atau
penyesuaian tingkah laku yang berlangsung secara progresif.
2) Gagne yang dikutip Dimyati dan Mudjiono, belajar merupakan kegiatan yang
kompleks. Setelah belajar, orang memiliki ketrampilan, pengetahuan, sikap dan
nilai.
3) Belajar adalah suatu aktivitas mental/ psikis yang berlangsung dalam
interaksi aktif dengan lingkungan, yang menghasilkan perubahan - perubahan
dalam pengetahuan - pemahaman, ketrampilan dan nilai sikap.
4) Learning is any relatively permanent change in behavior that is the result of
past experience. (Belajar adalah perubahan tingkah laku yang relatif tetap yang
diakibatkan pengalaman masa lalu).
Sedangkan WS. Winkel dalam buku Psikologi Pengajaran mengatakan:
”Belajar merupakan suatu aktivitas ment al/psikis, yang berlangsung dalam interaksi
aktif dengan lingkungan, yang menghasilkan perubahan-perubahan dalam
pengetahuan-pemahaman, keterampilan dan nilai sikap. Perubahan itu bersifat secara
relatif konstan dan berbekas.”
7
Dari definisi tersebut, yang penting untuk digarisbawahi adalah bahwa belajar
merupakan aktivitas yang dilakukan manusia secara sadar, dan aktivitas tersebut
merupakan perwujudan usaha untuk mengubah tingkah laku. Dengan demikian
maka, apabila setelah belajar seseorang tidak berubah tingkah lakunya dapat
dikatakan orang tersebut tidaklah belajar. Dari sini dapat dipahami bahwa perubahan
akibat belajar itu akan tahan lama, bahkan sampai taraf tertentu tidak menghilang
lagi. Winkel menambahkan kemampuan yang telah diperoleh, menjadi milik pribadi
yang tidak akan terhapus begitu saja.
Sementara itu, Slameto menyatakan bahwa:”Belajar ia lah suatu proses usaha
yang dilakukan seseorang untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang
baru secara keseluruhan, sebagai hasil pengalamannya sendiri dalam interaksi
dengan lingkungannya”. Sama dengan apa yang diungkapkan Winkel, dalam
mendefinisikan belajar, Slameto menitikberatkan pada usaha untuk merubah tingkah
laku. Belajar merupakan sebuah hasil pengalaman yang telah dilewati oleh individu
dan pengalaman itu sendiri merupakan hasil dari orang yang belajar dalam
interaksinya dengan lingkungan.
Pendefinisian belajar antara satu ahli dengan yang lainnya pada dasarnya
hampir sama, yaitu suatu usaha atau aktivitas dalam rangka mengubah tingkahlaku
seseorang secara menetap dan diperoleh melalui pengalaman orang tersebut.
Darwyan Syah dkk menambahkan, ”belajar merupakan ke giatan yang
dilakukan secara sadar dan rutin pada seseorang sehingga akan mengalami
perubahan tingkah laku secara keseluruhan”. Darwyansayah menambahkan, maksud
perubahan tingkah laku tersebut adalah individu yang belajar akan berubah atau
bertambah baik keterampilan, kemampuan maupun sikap sebagai hasil pengalaman
dalam berinteraksi dengan lingkungan.
Perubahan yang terjadi pada diri seseorang sangat banyak sekali baik sifat
maupun jenisnya. Oleh karena itu, tidak semua hal yang berubah dapat dikatakan
sebagai hasil belajar. Misalnya saja perubahan sikap seseorang karena mabuk. Hal ini
tidak termasuk dalam kategori belajar. Perubahan-perubahan yang terjadi akibat
belajar adalah perubahan yang terjadi secara sadar pada diri seseorang. Artinya
perubahan dalam arti belajar adalah perubahan yang disadari oleh orang tersebut.
Kemudian perubahan dalam belajar bersifat kontinu dan fungsional. Artinya,
8
perubahan tersebut akan menyebabkan perubahan berikutnya dan akan berguna bagi
proses belajar berikutnya.
Selanjutnya perubahan yang terjadi dalam arti belajar adalah perubahan yang
terjadi bersifat positif dan aktif. Perubahan tersebut senantiasa bertambah dan akan
menjadi lebih baik dari yang sebelumnya. Kemudian perubahan yang terjadi dalam
arti belajar bersifat menetap, bertujuan dan mencakup seluruh aspek tingkah laku.
Belajar merupakan suatu peristiwa sehari-hari yang kompleks di sekolah.
Aktivitas belajar melibatkan guru, siswa dan sarana prasarana yang menunjang
proses belajar. Belajar bagi siswa merupakan kegiatan peningkatan kemampuan
kognitif, afektif dan psikomotorik. Siswa yang belajar berarti menggunakan
kemampuan kognitif, afektif dan psikomotoriknya terhadap lingkungannya. Proses
belajar yang mengaktualisasikan ranah-ranah tersebut tertuju pada bahan belajar
tertentu. Fatah Syukur menyatakan bahwa: ”Proses pe mbelajaran pada dasarnya
mengantar para pelajar memulai belajar, jadi tidak menjadikan para pelajar pandai
karena mereka harus menjadikan diri pandai sesuai dengan kemampuan intelektual
yang ada pada mereka”.
Demikian pula dengan proses kegiatan belajar yang dilakukan peserta didik.
Pendidikan yang membebaskan adalah situasi dimana guru dan siswa sama-sama
harus belajar, sama-sama memiliki subyek kognitif, selain juga sama-sama memiliki
perbedaan. Dalam proses pembelajaran, guru yang membebaskan bukan berarti tidak
melakukan perlakuan terhadap siswa, akan tetapi melakukan sesuatu bersama siswa.
Melalui berbagai proses belajar diharapkan baik secara langsung maupun tidak
langsung akan terjadi perubahan tingkah laku bagi si pembelajar. Proses belajar
terjadi pada setiap manusia. Belajar secara keseluruhan dapat dikatakan akan
terwujudnya suatu perubahan tingkah laku ke arah yang positif dan dilakukan secara
sadar, kontinu, menetap dan bertujuan.
Berdasarkan beberapa pendapat di atas jelaslah kiranya bahwa belajar adalah
suatu proses yang menghasilkan perubahan. Perubahan tersebut berupa perubahan
tingkah laku, pengetahuan, pemahaman, keterampilan seseorang yang dapat diamati
dan bersifat relatif maupun konstan dan berbekas.
Dengan demikian, belajar merupakan suatu usaha dari seseorang yang dapat
mengubah tingkah laku. Perubahan tingkah laku tersebut tentunya perubahan ke arah
9
yang lebih baik bukan sebaliknya. Dengan belajar manusia akan cakap dari segi
kognitif, afektif maupun psikomotoriknya sehingga dapat mempertahankan diri, dan
menyesuaikan diri dengan lingkungannya. Terjadinya perubahan tingkah laku
tersebut sebagai pengaruh dari pengetahuan dan keterampilan yang diperolehnya
selama proses belajar berlangsung. Seperti telah dijelaskan sebelumnya, perubahan
tersebut dapat berupa perubahan tidak tahu menjadi tahu dan perubahan tidak bisa
menjadi bisa. Belajar merupakan suatu proses yang akhirnya mendapatkan suatu
hasil yang mengandung makna bahwa belajar merupakan proses mendapatkan
sesuatu yang dimiliki.
Dengan belajar manusia berbeda dengan mahluk lain dari kehidupannya.
Dengan belajar manusia dapat menciptakan teknologi yang dapat memudahkan kerja
untuk mempertahankan hidup. Belajar merupakan suatu proses yang hasil akhirnya
dapat menjadikan manusia mengalami perubahan ke arah yang lebih baik dari segi
kuantitas dan kualitas kehidupannya.
Dari teori-teori dan uraian di atas maka dapat disimpulkan bahwa belajar
merupakan suatu proses aktivitas yang dilakukan secara sadar dan kontinu oleh
manusia dengan menggunakan indera-inderanya untuk mendapatkan perubahan
tingkah laku. Perubahan tingkah laku tersebut adalah berupa kemampuan kognitif,
afektif dan psikomotorik yang lebih baik, yang ada dalam dirinya sebagai hasil
pengalaman dan interaksi dengan lingkungan.

a. Teori belajar
Para ahli sependapat bahwa belajar ilmu dikatakan baik kalau memenuhi
kriteria, yaitu sesuai dengan hakikat ilmu itu dan sesuai dengan pengetahuan tentang
bagaimana cara belajar. IPA sebagai ilmu juga harus dipelajari sesuai hakikat IPA
dan teori belajar yang mendasarkan materi IPA tersebut.
Para ilmuwan IPA mempelajaari gejala alam yang merupakan kajian biologi
melalui proses dan sikap ilmiah tertentu. Proses ini misalnya pengamatan dan
eksperimen, sedangkan sikap ilmiah misalnya obyektif dan jujur pada saat sedang
mengumpulkan dan menganalisis data. Dengan menggunakan proses dan sikap
ilmiah itu ilmuwan memperoleh penemuan-penemuan yang berupa fakta atau teori,
dan penemuan-penemuan itulah yang disebut produk ilmiah. Fakta biasanya hasil
10
pengamatan, konsep merupakan generalisasi dari beberapa stimulus yang berciri
sama, sementara teori merupakan hubungan antar konsep yang satu dengan konsep
lainnya.
Dengan demikian secara garis besar IPA dapat didefinisasikan terdiri atas tiga
komponen yaitu (1) sikap ilmiah, (2) proses ilmiah, (3) produk ilmiah. Berdasarkan
pada definisi itu proses atau ketrampiloan proses atau metode ilmiah itu merupakan
bagian bidang studi IPA, begitu pula dengan sikap ilmiah. Dengan kata lain termasuk
materi yang baru dipelajari siswa. Mengajarkan IPA terbatas pada produk atau fakta
, konsep dan teori saja belum lengkap, karena baru mengajarkan satu
komponen saja. Komponen sikap ilmiah yang perlu perlu ditumbuhkan antara lain
adalah tanggung jawab, keingintahuan, jujur, terbuka obyektif, toleransi, kerja
keras, kecermatan, disiplin, peraya diri sendiri, konsep diri positif, terbuka
menafsirkan gejala alam dari sudut prinsip-prinsip ilmiah. Dengan kata lain
pendidikan IPA, dalam arti yang luas bertujuan mengembangkan kepribadian siswa.
Merujuk pada pengertian IPA maka dapat disimpulkan bahwa hakikat IPA meliputi
empat unsur utama yaitu:
1) Sikap: rasa ingin tahu tentang benda, fenomena alam, makhluk hidup, serta
hubungan sebab akibat yang menimbulkan masalah baru yang dapat dipecahkan
melalui prosedur yang benar; IPA bersifat open ended;
2) Proses: prosedur pemecahan masalah melalui metode ilmiah; metode ilmiah
meliputi penyusunan hipotesis, perancangan eksperimen atau percobaan,
evaluasi, pengukuran, dan penarikan kesimpulan;
3) Produk: berupa fakta, prinsip, teori, dan hukum;
4) Aplikasi: penerapan metode ilmiah dan konsep IPA dalam kehidupan sehari-
hari.
Keempat unsur itu merupakan ciri IPA yang utuh yang sebenarnya tidak
dapat dipisahkan satu sama lain. Dalam proses pembelajaran IPA keempat unsur itu
diharapkan dapat muncul, sehingga peserta didik dapat mengalami proses
pembelajaran secara utuh, memahami fenomena alam melalui kegiatan pemecahan
masalah, metode ilmiah, dan meniru cara ilmuwan bekerja dalam menemukan fakta
baru. Kecenderungan pembelajaran IPA pada masa kini adalah peserta didik
hanya mempelajari IPA sebagai produk, menghafalkan konsep, teori dan hukum.
11
Keadaan ini diperparah oleh pembelajaran yang beriorientasi pada tes/ujian.
Akibatnya IPA sebagai proses, sikap, dan aplikasi tidak tersentuh dalam
pembelajaran. Pengalaman belajar yang diperoleh di kelas tidak utuh dan tidak
berorientasi tercapainya standar kompetensi dan kompetensi dasar. Pembelajaran
lebih bersifat teacher-centered, guru hanya menyampaikan IPA sebagai produk dan
peserta didik menghafal informasi faktual. Peserta didik hanya mempelajari IPA
pada domain kognitif yang terendah. Peserta didik tidak dibiasakan untuk
mengembangkan potensi berpikirnya. Fakta di lapangan menunjukkan bahwa banyak
peserta didik yang cenderung menjadi malas berpikir secara mandiri. Cara berpikir
yang dikembangkan dalam kegiatan belajar belum menyentuh domain afektif dan
psikomotor. Alasan yang sering dikemukakan oleh para guru adalah keterbatasan
waktu, sarana, lingkungan belajar, dan jumlah peserta didik per kelas yang terlalu
banyak.
Sains juga bisa berarti suatu metode khusus untuk memecahkan masalah, atau
bisa disebut sains sebagai proses. Metode ilmiah merupakan hal yang sangat
menentukan, sains sebagai proses ini sudah terbukti ampuh memecahkan masalah
ilmiah yang juga membuat sains terus berkembang dan merevisi berbagai
pengetahuan yang sudah ada. Seperti yang dikemukakan Maskoeri Jasin bahwa; ”unt
uk mencapai kebenaran, tidaklah terjadi secara kebetulan, tetapi harus menggunakan
prosedur atau metode yang tepat yaitu metode ilmiah”.
Dari uraian di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa ilmu pengetahuan alam
merupakan pengetahuan yang sistematis dan tersusun secara teratur, berlaku umum
(universal), dan berupa kumpulan data hasil observasi dan eksperimen. Dalam hal ini
ada empat hal yang menjadi hakikat dari IPA itu sendiri yaitu berupa sikap, proses,
produk dan aplikasi.

b. Pembelajaran IPA.
Menurut wikipedia, ilmu pengetahuan alam atau sains merupakan sebuah
proses yang mencakup langkah-langkah yang harus ditempuh ilmuwan untuk
melakukan penyelidikan dalam rangka mencari penjelasan tentang gejala-gejala
alam. Ilmu Pengetahuan Alam adalah ilmu yang mempelajari tentang gejala dan
penyebab yang diakibatkan oleh tiga unsur yaitu unsur manusia, flora dan fauna.
12
Menurut Fisher IPA atau sains adalah kumpulan pengetahuan yang diperoleh
menggunakan metode – metode berdasarkan observasi. Sedangkan menurut Carine
sains adalah suatu kumpulan pengetahuan yang tersusun secara sistematik
yang didalam penggunannya secara umum terbatas pada gejala-gejala alam.
Perkembangan sains tidak hanya ditunjukkan oleh kumpulan fakta saja, tetapi juga
oleh timbulnya metode ilmiah dan sikap ilmiah. Sedangkan Ilmu Pengetahuan Alam
adalah ilmu yang digunakan untuk mempelajari objek dan fenomena alam, dalam
pendidikan IPA peningkatan kreativitas dan kecerdasan siswa dilakukan dengan cara
membelajarkan siswa untuk berpikir dan bekerja dengan objek dan fenomena. Sama
halnya dengan Kamala yang mendefinisikan Ilmu Pengetahuan Alam sebagai
pengetahuan dari hasil kegiatan manusia yang diperoleh dengan menggunakan
langkah-langkah ilmiah yang berupa metode ilmiah dan dididapatkan dari hasil
eksperimen atau observasi yang bersifat umum sehingga akan terus di sempurnakan.
Dari beberapa pengertian di atas maka dapat disimpulkan bahwa Ilmu
Pengetahuan Alam adalah ilmu yang digunakan manusia untuk mempelajari
fenomena alam dan sekitarnya dengan menggunakan langkah-langkah metode
ilmiah. Adanya metode ilmiah dapat menghasilkan suatu eksperimen dan observasi
yang berguna untuk manusia.

c. Ciri-ciri Pembelajaran IPA


Pembelajaran Ilmu Pengetahuan Alam merupakan upaya guru dalam
membelajarkan siswa melalui penerapan berbagai model pembelajaran yang
dipandang sesuai dengan karakteristik anak SD.
Ilmu Pengetahuan Alam merupakan ilmu yang berhubungan dengan gejala-
gejala alam dan kebendaan yang sistimatis, tersusun secara teratur, berlaku secara
umum berupa kumpulan hasil obserfasi dan experiment. Dengan demikian sains
tidak hanya sebagai kumpulan tentang benda atau mahluk hidup tetapi tentang cara
kerja, cara berfikir, dan cara memecahkan masalah.
Pembelajaran IPA merupakan upaya guru dalam membelajarkan siswa melalui
penerapan berbagai model pembelajaran yang dipandang sesuai dengan karakteristik
anak SD. selanjutnya model pembelajaran IPA yang dipandang sesuai untuk anak SD
adalah belajar melalui pengalaman langsung (Learning By Doing).model belajar ini
13
memperkuat daya ingat anak dan menggunakan alat dan media belajar yang ada di
lingkungan anak sendiri.

B. Prestasi Hasil Belajar


Belajar merupakan perubahan tingkah laku atau penampilan dengan
serangkaian kegiatan, misalnya dengan membaca, menulis, mengamati,
mendengarkan dan lain-lain. Dari kegiatan belajar tersebut seseorang akan
memperoleh suatu hasil dari apa yang telah mereka kerjakan, yang disebut hasil
belajar. Untuk lebih jelas apa yang dimaksud hasil belajar perlu mengkaji beberapa
pendapat di bawah ini.
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, hasil belajar adalah penguasaan
pengetahuan atau ketrampilan yang dikembangkan oleh mata pelajaran, lazimnya
ditunjukkan dengan nilai tes atau angka yang telah diberikan oleh guru.
Menurut Oemar Hamalik hasil belajar adalah bila seseorang telah belajar akan
terjadi perubahan tingkah laku pada orang tersebut, misalnya dari tidak tahu menjadi
tahu, dan dari tidak mengerti menjadi mengerti. Sedangkan menurut Syaiful Bahri
mengatakan dalam bukunya “Psikologi Belajar” bahwa hasil belajar merupakan
perubahan ya ng terjadi sebagai akibat dari kegiatan belajar yang telah dicapai oleh
individu dari proses belajar. Berbeda lagi menurut Nana Sudjana, hasil belajar adalah
kemampuan-kemampuan yang dimiliki siswa setelah ia menerima pengalaman
belajarnya.
Menurut Dimyati dan Mudjiono, hasil belajar merupakan hal yang dapat
dipandang dari dua sisi yaitu sisi siswa dan dari sisi guru. Dari sisi siswa, hasil
belajar merupakan tingkat perkembangan mental yang lebih baik bila dibandingkan
pada saat sebelum belajar. Tingkat perkembangan mental tersebut terwujud pada
jenis-jenis ranah kognitif, afektif, dan psikomotor. Sedangkan dari sisi guru, hasil
belajar merupakan saat terselesikannya bahan pelajaran.
Berdasarkan berbagai pendapat di atas, dapat penulis simpulkan bahwa hasil
belajar merupakan hasil yang dicapai peserta didik dalam menuntut suatu pelajaran
yang menunjukkan taraf kemampuan peserta didik dalam mengikuti program belajar
dalam waktu tertentu sesuai dengan kurikulum yang telah ditentukan. Prestasi belajar

14
ini sering dicerminkan sebagai nilai yang menentukan berhasil tidaknya peserta didik
telah belajar.

a. Aspek-aspek Hasil Belajar


Secara umum belajar diartikan sebagai perubahan tingkah laku. Belajar tidak
ada warnanya apabila tidak menghasilkan pengetahuan, pembentukan sikap serta
ketrampilan. Oleh karena itu, proses belajar mengajar harus mendapat perhatian yang
serius yang melibatkan berbagai aspek yang menunjang keberhasilan belajar
mengajar. Aspek- aspek/ranah tersebut adalah aspek kognitif, afektif dan
psikomotorik.
1) Aspek Kognitif
Yaitu proses pengetahuan yang lebih banyak didasarkan
perkembangannya dari persepsi, introspeksi, atau memori siswa. Dalam
bukunya Sukardi tujuan pembelajaran kognitif dikembangkan oleh Bloom, dkk,
dalam taxonomy Bloom tahun
1956. Tujuan kognitif ini dibedakan menjadi 6 tingkatan yaitu :
a) Knowledge (pengetahuan), ialah tingkat kemampuan yang hanya meminta
responden untuk mengenal atau mengetahui adanya konsep, fakta, atau istilah-
istilah tanpa harus mengerti, atau dapat menilai, atau dapat menggunakannya.
b) Comprehension (pemahaman), ialah tingkat kemampuan yang mengharapkan
responden mampu memahami arti/konsep, situasi, serta fakta yang diketahuinya.
c) Application (penerapan), ialah responden dituntut kemampuannya untuk
menerapkan atau menggunakan apa yang telah diketahuinya dalam suatu situasi
yang baru baginya.
d) Analysis (analisis), ialah tingkat kemampuan responden untuk menganalisis atau
menguraikan suatu integritas atau suatu situasi tertentu ke dalam komponen-
komponen/ unsur-unsur pembentuknya.
e) Syntesis (sintesis), ialah penyatuan bagian-bagian ke dalam suatu bentuk yang
menyeluruh.
f) Evaluation (evaluasi), ialah responden diminta untuk membuat suatu penilaian
tentang suatu pernyataan, konsep, situasi, dsb. Berdasarkan suatu kriteria tertentu.
2) Aspek Afektif
15
Yaitu proses pengetahuan yang lebih banyak didasarkan pada pengembangan
aspek-aspek perasaan dan emosi. Dalam pengembangannya pendidikan afektif
yang semula hanya mencakup perasaan dan emosi, telah berkembang lebih luas
yakni menyangkut moral, nilai-nilai, budaya, dan keagamaan. Tujuan pembelajaran
afektif dibedakan menjadi 5 tingkatan, yaitu:
a) Receiving, yakni semacam kepekaan dalam menerima rangsangan dari luar yang
datang kepada siswa dalam bentuk masalah, situasi, gejala,dll.
b) Responding, yakni reaksi yang diberikan oleh seseorang terhadap stimulasi
yang datang dari luar.
c) Valuing, yakni berkenaan dengan nilai dan kepercayaan terhadap gejala atau
stimulasi tadi.
d) Organizing, yakni pengembangan dari nilai ke dalam satu sistem organisasi,
termasuk hubungan satu nilai dengan nilai lain, pemantapan, dan prioritas nilai
yang telah dimilikinya.
e) Characterization by value or value complex, yakni keterpaduan semua sistem
nilai yang telah dimiliki seseorang, yang mempengaruhi pola kepribadian dan
tingkah lakunya.

3) Aspek Psikomotorik
Yaitu proses pengetahuan yang lebih banyak didasarkan dari pengembangan
proses mental melalui aspek-aspek otot dan membentuk ketrampilan siswa. Di
samping mencakup proses yang menggerakkan otot, pendidikan psikomotor juga
telah berkembang dengan pengetahuan yang berkaitan dengan ketrampilan hidup.
Aspek psikomotorik ini secara garis besar dibedakan menjadi 6 tingkatan, yaitu:
a) Gerakan refleks (ketrampilan pada gerakan yang tidak sadar)
b) Ketrampilan pada gerakan-gerakan dasar
c) Kemampuan perceptual, termasuk di dalamnya membedakan visual,
membedakan auditif, motoris, dll.
d) Kemampuan di bidang fisik, misalnya kekuatan, keharmonisan, dan ketepatan.
e) Gerakan-gerakan skill, mulai dari ketrampilan sederhana sampai pada
ketrampilan yang kompleks.

16
f) Kemampuan yang berkenaan dengan komunikasi non-decursive seperti gerakan
ekspresif dan interpretative.
Untuk mencapai keberhasilan belajar ketiga aspek tersebut tidak harus
dipisahkan, namussn jauh lebih baik jika dihubungkan. Dengan penggabungan tiga
aspek tersebut akan dapat diketahui kualitas keberhasilan proses belajar mengajar itu.
Jadi, hasil belajar secara luas tentu mencakup ketiga aspek tujuan pendidikan
tersebut yaitu kognitif, afektif, dan psikomotorik.
b. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Hasil Belajar
Secara umum faktor-faktor yang mempengaruhi hasil belajar dibedakan atas
dua kategori, yaitu faktor internal dan eksternal. Kedua faktor tersebut saling
mempengaruhi dalam proses belajar individu sehingga menentukan kualitas hasil
belajar.
Faktor internal adalah faktor-faktor yang berasal dari dalam diri individu dan
dapat mempengaruhi hasil belajar individu. Faktor-faktor internal ini meliputi faktor
fisiologis dan psikologis.
a) Faktor Fisiologis
Faktor-faktor fisiologis adalah faktor-faktor yang berhubungan dengan
kondisi fisik individu. Faktor-faktor ini dibedakan menjadi 2 macam. Pertama,
keadaan tonus jasmani. Keadaan tonus jasmani pada umumnya sangat
mempengaruhi aktivitas belajar peserta didik. Kondisi fisik yang sehat dan bugar
akan memberikan pengaruh positif terhadap kegiatan belajar individu. Sebaliknya,
kondisi fisik yang lemah, lelah atau sakit akan menghambat tercapainya hasil belajar
yang maksimal.
Menurut Baharuddin dalam bukunya tentang Psikologi Pendidikan bahwa
kelelahan tersebut dapat dibedakan menjadi 2 macam, yaitu kelelahan jasmani dan
ruhani. Kelelahan jasmani adalah kelelahan yang diakibatkan oleh kegiatan badan
kita dan
sekaligus memberikan isyarat bahwa badan kita tidak mampu lagi untuk melakukan
sesuatu pekerjaan. Sedangkan kelelahan ruhani adalah kelelahan yang diakibatkan
oleh kerjanya otak dan sekaligus memberi isyarat bahwa otak kita tidak mampu lagi
untuk melakukan kegiatan seperti berpikir, mengingat, konsentrasi untuk belajar dan
sebagainya.
17
Kedua, kondisi panca indra. Panca indra yang berfungsi dengan baik akan
mempermudah aktivitas belajar dengan baik pula. Dalam proses belajar, panca indra
merupakan pintu masuk bagi segala informasi yang diterima dan ditangkap oleh
manusia, sehingga manusia dapat mengenal dunia luar. Jadi, keduanya memberikan
pengaruh positif terhadap hasil belajar peserta didik.
b) Faktor Psikologis
Faktor Psikologis, yang termasuk dalam kategori faktor psikologis yang dapat
mempengaruhi proses dan hasil belajar adalah kecerdasan siswa, motivasi, minat,
sikap, dan bakat.
(1) Kecerdasan/intelegensi siswa
Kecerdasan/intelegensi siswa diakui ikut menentukan keberhasilan belajar seseorang.
Seseorang yang memiliki intelegensi baik (IQ-nya tinggi) umumnya mudah belajar
dan hasilnya pun cenderung baik. Sebaliknya, orang yang intelegensinya rendah,
cenderung akan mengalami kesulitan belajar, lambat berpikir, sehingga prestasi
belajarnya pun rendah.

(2) Motivasi
Motivasi adalah kondisi psikologis yang mendorong seseorang untuk melakukan
sesuatu. Jadi motivasi untuk belajar adalah kondisi psikologis yang mendorong
seseorang untuk belajar. Hasil belajar akan meningkat jika motivasi untuk belajar
bertambah.
Kondisi kelas yang kondusif, sikap guru terhadap peserta didik, dan memberikan
reward peserta didik merupakan sebagian cara untuk memotivasi peserta didik
belajar.

(3) Minat
Minat adalah suatu rasa lebih suka dan rasa keterikatan pada suatu hal atau aktivitas,
tanpa ada yang menyuruh. Minat mempengaruhi proses dan hasil belajar peserta
didik. Tidak banyak yang diharapkan untuk menghasilkan prestasi belajar yang baik
dari seorang anak yang tidak berminat untuk mempelajari sesuatu. Menimbulkan
minat peserta didik akan berhasil jika pelajaran dapat dikaitkan langsung dengan
tematik kehidupan peserta didik pada saat itu.
18
(4) Sikap
Dalam proses belajar, sikap individu dapat mempengaruhi keberhasilan proses
belajarnya. Sikap adalah gejala internal yang berdimensi afektif berupa
kecenderungan untuk mereaksi atau merespon dengan cara yang relatif tetap
terhadap objek, peristiwa dan sebagainya, baik secara positif maupun negatif.

(5) Bakat
Bakat didefinisikan sebagai kemampuan umum yang dimiliki seorang siswa untuk
belajar. Dengan demikian bakat adalah kemampuan seseorang yang menjadi salah
satu komponen yang diperlukan dalam proses belajar seseorang.
Bakat sebagai kemampuan bawaan yang merupakan potensi (potential ability) yang
masih perlu dikembangkan dan dilatih, hal ini sangat berpengaruh bagi tercapainya
prestasi Seseorang.
Faktor yang datang dari diri pelajar terutama kemampuan yang dimilikinya.
Faktor kemampuan pelajar besar sekali pengaruhnya terhadap hasil belajar yang
dicapai. Adanya pengaruh dari dalam diri pelajar merupakan hal yang logis jika
dilihat bahwa perbuatan belajar adalah perubahan tingkah laku individu yang
disadarinya. Jadi, sejauh mana usaha pelajar untuk mengkondisikan dirinya bagi
perbuatan belajar, sejauh itu pula hasil belajar akan dicapai.

C. Model Pembelajaran Kooperatif Tipe JIG SAW


← a. Pengertian dan tujuan pembelajaran Kooperatif.
Pembelajaran kooperatif tipe jigsaw memberikan kesempatan siswa untuk berbagi
pengetahuan dengan siswa yang lain, kegiatan belajar mengajar serta proses belajar
dan sosialisasi yang berkesinambungan, mula-mula siswa dibagi dalam kelompok
yang terdiri dari empat atau lima siswa, masing-masing anggota membaca atau
mengerjakan salah satu bagian yang berbeda dengan yang dikerjakan oleh anggota
kelompok lain. Kemudian mereka berpencar ke kelompok-kelompok lain, tiap
anggota yang tugasnya sama membentuk kelompok baru dan saling berdiskusi dalam

19
kelompok itu. Cara ini membuat masing-masing anggota menjadi pemilik unik dan
ahli sebelum mengerjakan tugas utama.

b. Jenis pembelajaran kooperatif.


Pembelajaran kooperatif bukanlah hal yang baru, para guru selama bertahun-
tahun sudah menggunakannya dalam bentuk kelompok laboratorium, kelompok
tugas, kelompok diskusi, dan sebagainya.
Penelitian ini penulis menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe Jig
Saw dalam peningkatan hasil belajar IPA dikarenakan model pembelajaran tipe Jig
Saw ini berbeda dengan pembelajaran kooperatif lainnya, dalam Jig Saw

c. Langkah-langkah pembelajaran Jig Saw.


Tahapan pelaksanaan pembelajaran kooperatif dengan menggunakan teknik
jigsaw adalah sebagai berikut:
1). Tahap Kooperative
Andaikan saja siswa A, yang ditempatkan dalam kelompok kecil (beranggota 4
siswa), disebut kelompok kooperative, dan menerima sebagian informasi (bacaan)
dari satu paket informasi yang harus dibahas/dipecahkan dalam kelompok
kooperative tersebut.

2). Tahap Ahli


Sebagai anggota yang mendapat tugas tertentu, Anda harus menguasai (ahli)
dalam bidang yang menjadi tugas Anda. Untuk itu Anda perlu mencari orang-orang
yang tugasnya sama dengan tugas Anda dari kelompok lain untuk melakukan hal-hal
berikut ini:
a). Belajar bersama dan menjadi “ahli” dalam bidang informasi (bacaan) yang
menjadi tugas anda.
b). Merencanakan cara “mengajarkan” informasi (isi bacaan) yang telah Anda
kuasai kepada anggota kelompok kooperative.

3). Tahap Empat Serangkai


20
Pada tahap ini, kembalilah Anda pada kelompok kooperative menjadi “ empat
serangkai” yang masing-masing telah menjadi ahli. Berbagilah (ajarkanlah)
informasi (bacaan) yang telah Anda kuasai kepada anggota yang lain, dan pada saat
yang sama Anda akan menerima pelajaran dari anggota lain. Pada akhir tahap
“Empat serangkai” ini, kelompok Anda menghasi lkan pemecahan masalah yang
merupakan hasil kelompok kooperative. Dengan sendirinya kualitas pemecahan
masalah itu akan lebih baik karena diajarkan bersama oleh para “ahli” dibidangn ya.
Dalam kegiatan ini guru memantau kerja kelompok- kelompok kecil untuk
mengetahui bahwa kegiatan berlangsung dengan lancar. Selanjutnya guru
mengevaluasi hasil belajar siswa. Evaluasi dapat dilakukan dengan cara tes
tertulis atau tes lisan (secara random). Teknik jigsaw mempertimbangkan
peranan siswa dalam kegiatan belajar-mengajar menggunakan kooperatif tipe
jigsaw, serta melihat kebutuhan mengintegrasikan keempat ketrampilan
mengenali tentang identifikasi ciri-ciri makhluk hidup, menelaah dan menilai
masalah identifikasi ciri-ciri makhluk hidup, baik bersifat perorangan atau bagian
dari masyarakat, maupun bersifat nasional dalam pembelajara Ilmu Pengetahuan
alam. Penerapan teknik jigsaw dalam kegiatan belajar-mengajar akan menambah
keaktifan siswa dalam belajar. Teknik jigsaw adalah suatu teknik belajar kelompok
yang digambarkan sebagai berikut:
a) Pilih materi pembelajaran yang dapat dibagi beberapa bagian.
b) Bagilah peserta menjadi beberapa kelompok sesuai dengan jumlah sgmen yang
ada.
c) Setiap kelompok mendapat tugas membaca, memahami dan mendiskusikan serta
membuat ringkasan materi pembelajaran yang berbeda.
d) Setiap kelompok mengirimkan anggotanya ke kelompok lain untuk
menyampaikan apa yang telah mereka pelajari di kelompoknya.
e) Kembalikan suasana kelas menjadi semula kemudian tanyakan seandainya ada
persoalan-persoalan yang tidak terpecahkan dalam kelompok.
f) Berilah peserta didik pertanyaan untuk mengecek pemahaman mereka terhadap
materi yang dipelajari.
g) Guru melakukan kesimpulan, klarifikasi dan tindak lanjut.

21
Teknik jigsaw dalam kegiatan pembelajaran IPA harus Difokuskan
pada kemampuan memahami identifikasi ciri-ciri Makhluk hidup yang terjadi
dilingkungannya. Selain itu juga Mengembangkan cara berfikir kritis dan
menerapkan beberapa pengertian identifikasi ciri-ciri makhluk hidup dalam
kaitannya dengan kehidupan sehari-hari. Peranan guru dalam pembelajaran yang
menggunakan metode jigsaw antara lain sebagai berikut:
1. Menyampaikan tujuan pembelajaran dengan jelas.
2. Menempatkan siswa secara heterogen dalam kelompok-kelompok kecil.
(Setiap kelompok kecil terdiri dari 4 siswa).
3. Menyampaikan tugas-tugas yang harus dikerjakan siswa, baik tugas individu
maupun kelompok. (Tujuan final pembelajaran ini adalah siswa dapat
menjelaskan tentang identifikasi ciri-ciri makhluk hidup melalui kerja
kelompok dengan ke empat ketrampilan)
4. Memantau kerja kelompok. (Guru memberikan kesempatan seluas-luasnya
kepada siswa untuk memperoleh pengalaman belajar, sehingga tujuan
pemahaman terhadap peristiwa yang terjadi di lingkungan dapat dicapai).
5. Mengevaluasi hasil belajar.
Teknik ini selain menyenangkan dan tidak membosankan juga Dapat
meningkatkan hasil belajar siswa. Tahapan pelaksanaan pembelajaran kooperatif
dengan menggunakan tipe jigsaw adalah sebagai berikut :

a. Tahap Kooperative
Semua siswa dibagi kedalam kelompok-kelompok secara heterogen/ campuran
sehingga disebut kelompok kooperative, tiap kelompok terdiri dari kelompok kecil
beranggota 4 siswa, kelompok tersebut menerima informasi (bacaan) dan satu paket
informasi / tugas yang harus dibahas / dipecahkan oleh kelompok kooperative
tersebut.
b. Tahap Kerjasama.
Anggota kelompok yang sudah mengerti menjelaskan pada anggota lainnya
sampai semua anggota kelompok itu mengerti dan jelas terhadap informasi / tugas
dari guru . Oleh karena itu pada tahap ini diharapkan ada kerjasama antar anggota
kelompok dan ada tukar informasi antara anggota kelompok.
22
c. Tahap Empat Serangkai
Pada tahap ini, kelompok kooperative menjadi “ empat serangkai” yang masing-
masing anggotanya telah men jadi ahli/sudah jelas mengenai informasi/tugas yang
iberikan dari guru. Akibatnya semua anggota empat serangkai jika diberikan
pertanyaan/evaluasi dari guru sudah tidak saling memberitahu.

D. Metode Pembelajaran
Metode atau prosedur atau rancangan instruksional yang dibuat guru untuk
mengajar suatu bahan pelajaran . Jadi metode mengajar berarti pengorganisasian
materi pelajaran dan pengaturan lingkungan belajar yang memungkinkan
pembimbingan siswa kearah yang ditentukan, dengan memberi ke arah yang benar
kepada siswa pada waktu yang tepat dan dalam kelas yang tepat dan memberi
kesempatan untuk pelaksanaan umpan balik dan perbaikan.
Alasan pentingnya di gunakan berbagai metode dalam mengajar karena para
pendidik mempunyai pandangan yang berbeda-beda tentang metode mengajar yang
baik. Namun ada pula yang mengemukakan bahwa tidak ada yang dikatakan yang
terbaik, karena setiap strategi mengajar yang digunakan secara efektif dan efisien
adalah metode yang berhasil. Metode ini berarti prosedur atau rancangan
instruksional yang dibuat guru untuk mengajar suatu bahan pelajaran. Jadi metode
mengajar berarti pengorganisasian materi pelajaran dan pengaturan lingkungan
belajar yang memungkinkan pembimbingan siswa kearah yang ditentukan , dengan
memberi pengarahan yang benar kepada siswa pada waktu yang tepat dan dalam
kadar yang tepat dan memberi kesempatan untuk pelaksanaan umpan balik dan
perhatian.
Pembelajaran kooperatif tipe jigsaw memberikan kesempatan siswa untuk
berbagi pengetahuan dengan siswa yang lain, kegiatan belajar mengajar serta proses
belajar dilakukan secara berkelompok, mula-mula siswa dibagi dalam kelompok
yang terdiri dari empat atau lima siswa ( disebut kelompok asal ) . Tiap orang dalam
tim diberi materi yang berbeda/ tiap orang dalam tim diberi bagian materi yang
ditugaskan, anggota dari tim yang berbeda yang telah mempelajari bagian / sub bab
yang sama bertemu dalam kelompok baru selesai diskusi sebagai tim ahli tiap

23
anggota kembali pada kelompok asal dan secara bergantian mengajar temannya
(dalam satu tim ) tentang sub bab yang mereka kuasai dan tiap anggota lainnya

mendengarkan secara sungguh-sungguh, tiap tim ahli mempresentasikan hasil


diskusi, dan terakhir guru memberi evaluasi seta membimbing siswa membuat
kesimpulan.

E. Teori Penggolongan Hewan


Berdasarkan makanannya, hewan digolongkan menjadi 3 jenis, yaitu hewan
omnivora, hewan herbivore dan hewan karnivora.
1. Hewan Herbivora
Hewan yang makanannya hanya berupa tumbuhan saja (rumput, daun-daunan, biji-
bijian, dan buah-buahan) digolongkan sebagai hewan pemakan tumbuhan. Hewan
pemakan tumbuhan juga disebut herbivora.
Hewan herbivora banyak terdapat di sekitar kita. Herbivora memiliki gigi geraham
dengan permukaan lebar dan bergerigi. Gigi gerahamnya juga memiliki banyak
hubungan (bagian puncak gigi). Mengapa demikian? Agar dapat digunakan untuk
menggiling rumput dan daun-daun yang keras. Dengan begitu, rumput dan daun yang
telah dimakan dapat masuk ke dalam lambung secara mudah. Ada juga herbivora
yang tidak memiliki gigi melainkan memiliki tembolok. Fungsi tembolok hampir
sama dengan fungsi gigi geraham. Herbivora juga mempunyai gigi seri. Gigi seri
berguna untuk memotong-motong makanan sebelum di [Link] geraham dengan
pemukaan yang luas di gunakan untuk mengunyah makanan hingga lumat.
Paruh burung pemakan biji mempunyai ujung yang runcing tetapi tidak terlalu
panjang. Sedangkan burung pemakan madu mempunyai paruh yang sangat panjang
untuk menembus bunga dan menghisap madu.
Contoh hewan Herbivora yang makan dedaunan, yaitu kambing, kuda, gajah, dan
sapi. Herbivora pemakan biji-bijian, antara lain, burung pipit,kenari, tupai, dan
merpati. Herbivor pemakan buah adalah burung beo, ulat buah, dan jalak
dibawah ini adalah contoh hewan Herbivora :

24
2. Hewan Karnivora
Hewan karnivora adalah hewan-hewan pemakan daging. Hewan dalam
golongan ini menjadikan hewan lainnya sebagai makanannya. Dalam rantai
makanan, hewan karnivora umumnya bertindak sebagai predator atau pemangsa.
Hewan karnivora mudah dikenali karena memiliki bagian tubuh yang berbeda
dengan hewan herbivora. Ciri hewan karnivora mempunyai indra
penglihat,pencium,dan pendengar yang baik.
Hewan karnivora mempunyai racun (bisa) dan gigi taring seperti ular.
Burung pemangsa memiliki paruh kuat,runcing,serta cakar yang kuat untuk
mencengkram [Link] burung bangau memiliki paruh dengan bagian
bawah berongga untuk menjaring makanannya berupa ikan. Karnivor berkaki empat
memiliki gigi geraham khusus yang digunakan untuk mengunyah daging. Gigi
geraham ini dapat mengerat dan menghancurkan makanan. Gigi serinya kecil-kecil
dan tajam. Gigi seri berfungsi untuk menggigit dan memotong makanan. Gigi
taringnya panjang, besar, dan runcing. Gigi taring berfungsi untuk mengoyak
mangsanya.
Hewan yang termasuk karnivora adalah:
· Bangsa burung, misalnya

: Burung elang, burung rajawali,burung hantu,dsb.


· Bangsa serangga misalnya : Nyamuk laba-laba
· Bangsa mamalia misalnya : Harimau,singa,serigala,dsb
· Bangsa reptile misalnya : Ular,komodo,bunglon,cicak,dan tokek.
· Bangsa ikan misalnya : Hiu,arwana dan loha

25
3. Hewan Omnivora
Hewan pemakan tumbuhan maupun daging disebut omnivora. Musang adalah salah
satu contoh omnivor. Contoh lainnya adalah beruang, ayam, bebek, dan tikus.
Beruang selain makan ikan juga memakan buah-buahan dan madu. Ayam dan bebek
sangat suka terhadap biji-bijian. Namun, keduanya juga sering makan cacing atau
serangga kecil lainnya. Tikus seperti musang, ikan dan buah-buahan merupakan
makanan kesukaannya. Pernahkah kamu kehilangan lauk karena dimakan tikus?
Bentuk gigi omnivor merupakan gabungan dari bentuk gigi herbivora dan karnivora.
Gigi geraham omnivora berguna untuk melumat, gigi serinya untuk memotong, dan
gigi taringnya untuk mengerat makanan.
Bangsa burung juga ada yang termasuk hewan karnivora. Misalnya, burung kutilang,
burung jalak, dan burung cucakrawa. Pernahkah kamu melihatnya? Bagaimana
bentuk paruh burung-burung tersebut? Bentuk paruhnya panjang, kecil, dan runcing.
Bentuk paruh seperti itu sangat sesuai untuk mengambil makanan berupa tumbuhan
serta hewan-hewan kecil yang berada di daun ataupun di dalam batang pohon. Selain
pengelompokkan di atas ada juga hewan yang memakan bangkai,misalnya biawak
dan burung [Link] anggota karnivora yang makan serangga yang seruing di sebut
insektivora dan ada anggota herbivora yang makan buah-buahan yang di sebut
frutifora. dibawah ini adalah contoh hewan omnivora :

26
27

Common questions

Didukung oleh AI

Metode pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw berfungsi dengan membagi siswa ke dalam kelompok-kelompok kooperatif kecil yang heterogen. Setiap anggota kelompok mempelajari bagian yang berbeda dari materi, dan kemudian bergabung dengan anggota kelompok lain yang mempelajari bagian yang sama untuk berdiskusi dan menjadi ahli dalam materi itu. Setelah diskusi kelompok ahli, siswa kembali ke kelompok asal mereka untuk saling mengajar. Metode ini meningkatkan interaksi sosial, tanggung jawab individu, dan pemahaman mendalam terhadap materi, serta dapat meningkatkan hasil belajar siswa di bidang IPA .

Evaluasi hasil belajar dalam pembelajaran IPA berperan mengukur tingkat penguasaan siswa terhadap materi baik di ranah kognitif, afektif, maupun psikomotor. Evaluasi yang efektif dapat dilakukan melalui tes tertulis, observasi praktik lapangan, diskusi kelompok, dan proyek ilmiah yang memberikan umpan balik yang konstruktif. Guru perlu membuat evaluasi yang mencerminkan seluruh aspek pembelajaran, termasuk sikap dan proses ilmiah, agar dapat memberikan gambaran komprehensif tentang hasil belajar .

Pendidikan tentang klasifikasi hewan berdasarkan makanannya, seperti herbivora, karnivora, dan omnivora, dapat meningkatkan kesadaran siswa terhadap ekosistem dengan mengajarkan interaksi antar spesies dalam rantai makanan yang memelihara keseimbangan ekosistem. Memahami keanekaragaman hayati membantu siswa menyadari peran unik setiap spesies dalam ekosistem, mendorong mereka untuk menghargai dan melindungi lingkungan serta biodiversitas yang ada .

Produk ilmiah penting dalam pembelajaran IPA karena mencakup fakta, konsep, dan teori yang merupakan hasil penemuan ilmuwan setelah menggunakan proses ilmiah yang sah. Jika pengajaran hanya berfokus pada aspek produk ilmiah (seperti fakta, konsep, dan teori) tanpa memasukkan sikap dan proses ilmiah, siswa mungkin tidak mengembangkan keterampilan kritis dan analitis yang dibutuhkan untuk memahami dan mengaplikasikan prinsip-prinsip IPA dalam kehidupan sehari-hari. Mengajarkan ketiga komponen: sikap, proses, dan produk ilmiah, secara utuh akan lebih baik dalam membentuk pemahaman lengkap dan aplikatif dalam IPA .

Pembelajaran Ilmu Pengetahuan Alam meningkatkan kreativitas dan kecerdasan siswa dengan mendorong mereka untuk berpikir dan bekerja menggunakan langkah-langkah ilmiah, seperti eksperimen dan observasi terhadap objek serta fenomena alam . Metode pembelajaran Learning By Doing, yang melibatkan pengalaman langsung, juga memperkuat daya ingat dan memungkinkan penggunaan alat serta media belajar dari lingkungan sekitar siswa, yang semuanya berkontribusi pada pengembangan kecerdasan dan kreativitas .

Faktor-faktor internal yang mempengaruhi hasil belajar siswa meliputi motivasi, minat, sikap, dan bakat. Motivasi adalah dorongan psikologis yang mendorong belajar dan dapat ditingkatkan melalui kondisi kelas yang kondusif. Minat mempengaruhi bagaimana siswa terlibat secara aktif dengan bahan ajar. Sikap positif atau negatif dapat menentukan keberhasilan pembelajaran. Bakat mencerminkan potensi bawaan yang perlu dikembangkan untuk mencapai prestasi. Semua faktor ini bersama mempengaruhi perubahan tingkah laku dan hasil belajar siswa .

Bakat dan motivasi saling berkaitan dalam mendukung prestasi akademik siswa, dimana bakat mencerminkan potensi bawaan yang dapat dioptimalkan melalui motivasi belajar yang kuat. Bakat memungkinkan siswa menyerap dan memproses informasi lebih efisien, sedangkan motivasi mendorong siswa untuk terus belajar dan berprestasi. Identifikasi bakat dapat dilakukan melalui tes kemampuan bawaan, sedangkan motivasi dapat dinilai melalui observasi perilaku belajar dan ketertarikan pada materi pembelajaran .

Metode ilmiah terdiri atas penyusunan hipotesis, perancangan eksperimen, evaluasi, pengukuran, dan penarikan kesimpulan yang dapat diterapkan untuk memecahkan masalah sehari-hari, seperti menentukan penyebab kerusakan perangkat elektronik atau memilih pola makan sehat. Proses ini mendorong penerapan konsep IPA dengan cara mengarahkan siswa untuk berpikir sistematis dan menggunakan data empiris untuk membuat keputusan tepat, memungkinkan penerapan ilmu dalam segala aspek kehidupan, termasuk teknologi dan kesehatan .

Sikap ilmiah penting dalam pembelajaran IPA karena berfungsi sebagai fondasi untuk mengembangkan kepribadian yang objektif, jujur, dan berorientasi pada fakta dalam analisis data. Sikap ini termasuk keingintahuan, objektivitas, kerjasama, dan keterbukaan dalam memecahkan masalah . Sikap ilmiah dapat dikembangkan dengan mengajak siswa melalui berbagai kegiatan eksperimen dan observasi yang memungkinkan mereka secara langsung terlibat dalam proses ilmiah, menciptakan lingkungan belajar yang menumbuhkan sifat-sifat tersebut .

Model pembelajaran Learning By Doing efektif menumbuhkan minat belajar siswa Sekolah Dasar karena melibatkan pengalaman langsung yang membuat pembelajaran terasa relevan dan menyenangkan, sehingga meningkatkan keterlibatan aktif siswa. Dengan menggunakan alat dan media belajar dari lingkungan sekitar, siswa lebih mudah mengaitkan materi dengan kehidupan sehari-hari mereka, yang pada akhirnya membangun minat dan motivasi untuk belajar .

Anda mungkin juga menyukai