Panduan Lengkap tentang Gadai dalam Hukum
Panduan Lengkap tentang Gadai dalam Hukum
Hukum Perbankan
Gadai
TA.2023/202
KATA PENGANTAR
berjudul Gadai.
Makalah ini telah disusun dengan maksimal dan mendapatkan bantuan dari
HABIBULLAH, [Link].,
M.H. selaku dosen pengampu mata kuliah Hukum Perbankan, serta kepada
ada kekurangan baik dari segi susunan kalimat maupun tata bahasanya.
Oleh karena itu pemakalah menerima segala saran dan kritik dari pembaca
PEMAKALAH
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR.........................................................................................ii
3
DAFTAR ISI........................................................................................................iii
BAB I PENDAHULUAN
[Link] Masalah..............................................................................................2
[Link] Penulisan................................................................................................2
BAB II PEMBAHASAN
[Link].......................................................................................................17
[Link].................................................................................................................17
DAFTAR PUSTAKA
BAB I
PENDAHULUAN
Dalam kegiatan sehari- hari, uang selalu saja dibutuhkan untuk membeliatau
membayar berbagai keperluan. Dan yang menjadi masalah terkadangkebutuhan
yang ingin dibeli tidak dapat dicukupi dengan uang yang [Link] sudah
4
demikian, mau tidak mau kita mengurangi untuk membeli berbagaikeperluan yang
dianggap tidak penting, namun untuk keperluan yang sangat penting terpaksa
harus dipenuhi dengan berbagai cara seperti meminjam dari berbagai sumber dana
yang ada seperti gadai.
Gadai merupakan suatu yang diperoleh seseorang piutang atas suatu barang
bergerak yang diserahkan kepadanya oleh seorang berhutang, atau olehseorang
lain atas namanya. Dan yang memberikan kekuasaan kepada yang berpiutang itu
untuk mengambil pelunasan dari barang tersebut secara didahuluk an dan pada
orang-orang berpiutang lainnya, dengan kekecualian biayauntuk melelang barang
tersebut dan biaya yang telah dikeluarkan untuk menyelamatkannya setelah
barang itu digadaikan, biaya-biaya mana yang harus [Link]
merupakan salah satu hak yang memberikan kepada kreditur pelunasan yang
mendahului dari kreditur-kreditur lainnya.
B. Rumusan Masalah
G. Tujuan Penulisan
PEMBAHASAN
A. Pengertian Gadai
Istilah gadai berasal dari terjemahan dari kata pand (bahasa Belanda) atau pledge
atau pawn (bahasa Inggris).Ketentuan-ketentuan mengenai gadai diatur dalam
KUHPerdata Bab XX Buku II KUHPerdata Pasal 1150 sampai dengan Pas1160.
Menurut Pasal 1150 KUHPerdata, gadai merupakan suatu hak yang diperoleh
berpiutang atas suatu benda bergerak, yang diserahkan kepadanya oleh seorang
berutang atau orang lain atas namanya, dan yang memberikan kekuasaan kepada
si berpiutang itu untuk mengambil pelunasan dari barang tersebut secara
didahulukan dari orang-orang berpiutang lainnya, kecuali haruslah didahulukan
biaya untuk melelang barang serta biaya yang telah dikeluarkan untuk
menyelamatkan barang yang digadaikan tersebut.
Dari rumusan Pasal 1150 KUHPerdata dapat diketahui bahwa untuk dapat
disebut gadai, maka unsur-unsur berikut di bawah ini harus dipenuhi :
Pengertian gadai yang tercantum dalam Pasal 1150 KUHPerdata ini sangat luas,
tidak hanya mengatur tentang pembebanan jaminan atas barang bergerak, tetapi
juga mengatur tentang kewenangan kreditur untuk mengambil pelunasannya
dan mengatur eksekusi barang gadai, apabila debitur lalai dalam melaksanakan
kewajibannya.
b. Susilo merumuskan gadai adalah suatu hak yang diperoleh oleh seorang
yang mempunyai piutang atas suatu barang bergerak. Barang bergerak
tersebut diserahkan kepada orang yang berpiutang oleh seorang yang
mempunyai utang atau oleh orang lain atas nama orang yang
mempunyai utang. Seorang yang berutang tersebut memberikan
kekuasaan kepada orang yang berpiutang untuk menggunakan barang
bergerak yang telah diserahkan untuk melunasi utang apabila pihak yang
berutang tidak dapat melunasi kewajibannya pada saat jatuhtempo.
Jika ada pihak ketiga dan yang bersangkutan memegang benda gadai
tersebut atas persetujuan pihak pertama dan pihak kedua maka orang itu
dinamakan pihak ketiga pemegang gadai. Sedangkan objeknya atau benda
yang digadaikan itu adalah benda bergerak yang menurut ketentuan Pasal
1150, 1152 ayat 1 dan 1153 KUHPerdata dan berupa benda bergerak berwujud
kecuali kapal-kapal yang terdaftar pada register kapal, maupun benda
bergerak tidak berwujud yang berupa hak-hak. Menurut Pasal 1152 ayat (1)
KUHPerdata, hak gadai atas benda-benda bergerak dan atas piutang -
piutang kepada pembawa diletakkan dengan membawa gadainya di bawah
kekuasaan si berpiutang atau seorang pihak ketiga, yang telah disetujui oleh
kedua belah pihak.
Kemudian Pasal 1153 KUHPerdata menyatakan bahwa hak gadai atas benda-
benda bergerak yang tak bertubuh, kecuali surat-surat tunjuk atau surat- surat
bawa, diletakkan dengan pemberitahuan perihal penggadaiannya kepada orang
terhadap siapa hak yang digadaikan itu harus dilaksanakan. Tentang
pemberitahuan dan izin si pemberi gadai, orang yang bersangkutan dapat
meminta suatu bukti [Link] penting dalam perjanjian gadai ialah bahwa
benda yang dijadikan jaminan haruslah dilepaskan dari kekuasaan sipemberi
gadai dan diserahkan kepada penerima gadai,hal ini disebut inbezitstelling.
Gadai adalah suatu hak yang diperoleh seorang berpiutang atas suatu barang
bergerak, yang diserahkan kepadanya oleh seorang berhutang atau oleh seorang
lain atas namanya dan yang memberikan kekuasaan kepada si piutang itu untuk
mengambil pelunasan dari barang tersebut secara didahulukan dari pada orang-
orang berpiutang lainnya dengan kekecualian biaya untuk melelang barang
tersebut dan biaya yang telah dikeluarkan untuk menyelamatkannya setelah
barang itu digadaikan, biaya-biaya mana yang harus didahulukan1
B. Sifat-Sifat Gadai
Hak gadai memiliki sifat kebendaan pada umumnya yaitu hak absolut, droit de
suite, droit de preference, hak menggugat, dan lain-lain. Menurut
ketentuan Pasal 528 KUHPerdata, atas sesuatu kebendaan seseorang dapat
mempunyai suatu kedudukan berkuasa (bezit), hak milik (eigendom), hak waris,
hak pakai hasil, hak pengabdian tanah, hak gadai ataupun hipotik. Kemudian
dalam Pasal 1152 ayat (3)KUHPerdata dinyatakan antara lain bahwa apabila
barang gadai hilang dari tangan penerima gadai atau kecurian, maka ia berhak
menuntutnya kembali sebagaimana yang dimaksud dalam Pasal 1977 ayat
(2)KUHPerdata.
Pasal ini mencerminkan adanya sifat droit de suite karena hak gadai terus
mengikuti bendanya di tangan siapapun. Demikian juga di dalamnya terkandung
suatu hak menggugat karena si penerima gadai berhak menuntut kembali barang
yang hilang tesebut. Selanjutnya menurut Pasal 1133 jo. Pasal 1150
KUHPerdata, gadai mempunyai sifat yang didahulukan (droit de preference)
artinya memberikan kekuasaan kepada seorang kreditur untuk mengambil
pelunasan dari hasil penjualanbarang secara didahulukan daripada
1
[Link] di akses
tanggal 1 Mei 2024
krediturlainnya.
Disamping sifat umum kebendaan seperti yang diuraikan di atas, hak gadai
memiliki sifat khusus antara lain sebagai berikut:
a) Accesoir, yaitu berlakunya hak gadai tergantung pada ada atau tidaknya
perjanjian pokok atau hutang-piutang artinya jika perjanjian hutang-piutang
sah, maka perjanjian gadai sebagai perjanjian tambahan juga sah, dan
sebaliknya jika perjanjian
b) hutang-piutang tidak sah, maka perjanjian gadai juga tidak sah. Dengan
demikian jika perjanjian hutang piutang beralih, maka hak gadai otomatis
juga beralih. Tetapi sebaliknya, hak gadai tak dapat dipindahkan tanpa
berpindahnya perjanjian hutang piutang. Dan jika karena satu alasan tertentu
perjanjian gadai batal, maka perjanjian hutang-piutang masih tetap berlaku
asal dibuat secara sah.
c) Berdasarkan ketentuan Pasal 1160 KUHPerdata, barang gadai tidak dapat
dibagi- bagi (ondelbuaar), sekalipun utangnya di antara para waris si
berhutang atau di antara waris si berpiutang dapat dibagi- bagi. Dengan
demikian gadai meliputi seluruh benda sebagai satu kesatuan, artinya
sebagian hak gadai tidak menjadi hapus dengan dibayarnya sebagian hutang.
d) Barang yang digadaikan merupakan jaminan bagi pembayaran kembali
hutang debitur kepada kreditur. Jadi barang jaminanan tidak boleh dipakai,
dinikmati, kreditur hanya berkedudukan sebagai houder bukan
burgrlijkebezitter.
e) Barang gadai berada dalam kekuasaan kreditur atau penerima gadai sebagai
akibat adanya [Link] inbezitstelling yang dimaksud di
atas dapat kita simpulkan dari ketentuan Pasal 1150 dan 1152 KUHPerdata
dan merupakan syarat utama untuk sahnya suatu perjanjian diserahkan oleh
debitur kepada kreditur, perjanjian gadai akan selalu didahulukan dengan
suatu perjanjian pokok atau perjanjian hutang- piutang karena tanpa
perjanjian pokok, maka perjanjian gadai sebagai perjanjianaccessoir tidak
akan [Link] benda yang diserahkan haruslah berupa benda
bergerak apakah itu berwujud ataupun tidak berwujud. Sedangkan orang
yang menggadaikan atau debitur adalah orang yang cakap atau berhak
melakukan tindakan hukum.
e) Dengan demikian orang yang masih di bawah umur (anak-anak), atau
yang berada di bawah perwalian dan di bawah pengampuan,
tidak dibenarkan menggadaikan sendiri barang-barangnya. Jika
hal itu dilakukan juga, maka berakibat dapat dimintakan pembatalan.2
Seperti yang telah disinggung di atas objek gadai adalah benda bergerak
berwujud, bertubuh (lichamelijk), dan benda bergerak tidak berwujud/tak
bertubuh (onlichamelijk). Sedangkan subjeknya tidak ditetapkan, artinya
siapapun, jadi setiap manusia selaku pribadi (natuurlijke persoon) dan setiap
badan hukum (rechtspersoon) berhak menggadaikan bendanya yang penting
merupakan orang atau pembawa hak yang cakap bertindak, atau orang yang
2
[Link]
seperti radio, sepeda, main-mainan, emas, dan lain-lain. Namun sebagai akibat
krisis moneter yang berkepanjangan yang dimulai pada pertengahan 1997,
pegadaian khususnya di Jakarta saat ini tidaklagi bisa diidentikkan dengan
perusahaan yang hanya membantu rakyat kecil atau [Link] karena itu
barang yang digadaikan harganyapun relatif mahal seperti perhiasan yang
nilainya bisa mencapai jutaan [Link] benda-benda bergerak tidak
berwujud yang berupa macam- macam hak tagihan, agar mendapatkan
pembayaran sejumlah uang, dapat digunakan surat-surat piutang. Surat-surat
yang dimaksud adalah sebagai berikut :
a. Surat piutang atas nama (vordering op naam), yaitu surat/akta yang di
dalamnya nama kreditur disebut dengan jelas tanpa tambahan apa-apa (lihat
Pasal 1153KUHPerdata)
Jika benda yang digadaikan adalah benda bergerak tidak berwujud maka
tergantung pada bentuk surat piutang yang bersangkutan apakah
tergolong pada surat piutang aan toonder, aan order, ataukah op naam.
Namun terjadinya hak gadai atas surat piutang yang digadaikan itu pada
dasarnya juga dilakukan melalui dua tahap. Bagaimana caranya
mengadakan gadai terhadap benda bergerak tidak berwujud dapat
dilakukan seperti berikut ini:
Perjanjian gadai pada gadai piutang atas nama harus dilakukan secara
tertulis (akta) kemudian perjanjian kebendaannya dilakukan dengan
pemberitahuan kepada pihak ketiga oleh pemberi gadai. Dalam Pasal
1153 KUHPerdata, gadai piutang atas nama dilakukan dengan cara
pemberitahuan oleh pemberi gadai kepada seorang yang berhutang
kepadanya atau debitur bahwa tagihannya terhadap debitur tersebut telah
digadaikan kepada pihak ketiga.
Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa gadai piutang atas nama dilakukan
dengan cara pemberitahuan oleh pemberi gadai kepada seseorang yang
berhutang kepadanya atau debitur bahwa tagihannya terhadap debitur tersebut
telah digadaikan kepada pihak ketiga. Oleh karena undang-undang tidak dengan
tegas menetapkan suatu bentuk tertentu maka disamping dalam bentuk tertulis,
pemberitahuan dapat juga dilakukan secara lisan.4
Penjualan oleh kreditur atas benda gadai debitur apabila debitur wanprestasi
adalah sebagai jaminan pelunasan suatu hutang dan dapat dilakukan tanpa
perantara hakim atau pengadilan atau tanpa suatu titel [Link]
gadai hak ini diberikan oleh undang-undang, jadi tidak
[Link] demikian pasal tersebut di atas membuka
kemungkinan bagi para pihak untuk mengadakan perjanjian. Lain halnya
dengan hipotik, karena berdasarkan ketentuan KUHPerdata pada hipotik
kreditur juga diberikan hak untuk melakukan parate eksekusi tetapi wajib
terlebih dahulu diperjanjikan antara debitur dan kreditur melalui suatu
perjanjian yang disebut “beding van eigenmachtige verkoop” yaitu bahwa
kreditur pemegang hipotik diberikan hak untuk menjual benda tidak
bergerak milik debitur atas kekuasaan sendiri jika ternyata debitur
melakukan wanprestasi.
Jadi dalam rieel executie ini, kreditur dapat melakukan tuntutan kepada
Hakim melalui dua cara yaitu:
Sesuai dengan bunyi Pasal 1157 ayat (2) KUHPerdata kreditur berhak
mendapatkan penggantian dari debitur semua biaya yang bermanfaat yang
telah dikeluarkan kreditur untuk keselamatan [Link] Pasal
1158 KUHPerdata menyatakan, jika suatu piutang digadaikan dan piutang
itu menghasilkan bunga maka kreditur berhak memperhitungkan bunga
piutang tersebut untuk dibayarkankepadanya.
Kreditur mempunyai hak retentie yaitu hak kreditur untuk menahan benda
debitur sampai debitur membayar sepenuhnya utang pokok ditambah bunga
dan biaya- biaya lainnya yang telah dikeluarkan oleh kreditur untuk menjaga
keselamatan benda gadai. Hal ini sesuai ketentuan Pasal 1159KUHPerdata.5
b) Kewajiban penerima gadai
5
[Link] diakses pada tanggal 1 Mei 2024
memindahtangankan benda-benda debitur yang dijaminkanitu.
b. Kreditur wajib memberi tahu debitur bila benda gadai akan dijual
d) Kewajiban pemberigadai
G. Berakhirnya Gadai
a. Hak gadai hapus dengan hapusnya perikatan pokok yaitu perjanjian hutang-
piutang sehubungan telah dibayarnya hutang pokok ditambah bunga dan
biaya lainnya seperti biaya pemeliharaan bendagadai.
b. Jika benda gadai lepas atau tidak lagi berada dalam kekuasaan
[Link] menurut Hadi Suprapto, hak gadai berakhir atau
hapusadalah ketika terjadinya hal-hal berikut:
c. Apabila barang jaminan keluar dari kekuasaan pemegang jaminan.
d. Apabila perjanjian pokok hapus, yakni ketika hutang piutang itu
sudahdibayar.
e. apabila barang jaminan hilang atau musnah ataupun dilepaskan
secarasukarela oleh pemeganggadai.
f. Pemegang gadai oleh karena sesuatu sebab menjadi pemilik atas barang
jaminan tersebut.
BAB III
PENUTUP
a. Kesimpulan
Pengertian Gadai
Istilah gadai berasal dari terjemahan dari kata pand (bahasa Belanda) atau pledge
atau pawn (bahasa Inggris).1Ketentuan-ketentuan mengenai gadai diatur dalam
KUHPerdata Bab XX Buku II KUHPerdata Pasal 1150 sampai dengan Pas1160.
Menurut Pasal 1150 KUHPerdata, gadai merupakan suatu hak yang diperoleh
berpiutang atas suatu benda bergerak, yang diserahkan kepadanya oleh seorang
berutang atau orang lain atas namanya, dan yang memberikan kekuasaan kepada
si berpiutang itu untuk mengambil pelunasan dari barang tersebut secara
didahulukan dari orang-orang berpiutang lainnya, kecuali haruslah didahulukan
biaya untuk melelang barang serta biaya yang telah dikeluarkan untuk
menyelamatkan barang yang digadaikan tersebut.
Sifat-Sifat Gadai
Hak gadai memiliki sifat kebendaan pada umumnya yaitu hak absolut, droit de
suite, droit de preference, hak menggugat, dan lain-lain. Menurut
ketentuan Pasal 528 KUHPerdata, atas sesuatu kebendaan seseorang dapat
mempunyai suatu kedudukan berkuasa (bezit), hak milik (eigendom), hak waris,
hak pakai hasil, hak pengabdian tanah, hak gadai ataupun hipotik. Kemudian
dalam Pasal 1152 ayat (3)KUHPerdata dinyatakan antara lain bahwa apabila
barang gadai hilang dari tangan penerima gadai atau kecurian, maka ia berhak
menuntutnya kembali sebagaimana yang dimaksud dalam Pasal 1977 ayat
(2)KUHPerdata.
Seperti yang telah disinggung di atas objek gadai adalah benda bergerak
berwujud, bertubuh (lichamelijk), dan benda bergerak tidak berwujud/tak
bertubuh (onlichamelijk).
Syarat Sah dan TerjadinyaGadai
Secara umum syarat sah gadai adalah sebagai berikut:
Terjadinya hak gadai tergantung pada benda yang digadaikan apakah tergolong
benda bergerak yang berwujud ataukah benda bergerak yang tidak berwujud.
Menurut Pasal 1151 KUHPerdata, persetujuan gadai dibuktikan dengan segala
alat yang diperbolehkan bagi pembuktian persetujuan pokoknya.25
d. Kewajiban pemberigadai
Berakhirnya Gadai
DAFTAR PUSTAKA
1 Mei 2024
[Link]