0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
4 tayangan23 halaman

Panduan Lengkap tentang Gadai dalam Hukum

Diunggah oleh

Dina Rahmadani
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
4 tayangan23 halaman

Panduan Lengkap tentang Gadai dalam Hukum

Diunggah oleh

Dina Rahmadani
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

MAKALAH

Hukum Perbankan

Dosen Pembimbing : [Link], [Link]., M.H.

Gadai

Disusun Oleh : Kelompok 7

Abdel Hikmah 2112848

INSTITUT TEKNOLOGI DAN ILMU SOSIAL KHATULISTIWA

YAYASAN PENDIDIKAN PASAMAN

TA.2023/202

KATA PENGANTAR

Puji syukur pemakalah panjatkan kehadirat Allah SWT, karena dengan

rahmat dan hidayah-Nya pemakalah dapat menyelesaikan makalah yang


2

berjudul Gadai.

Makalah ini telah disusun dengan maksimal dan mendapatkan bantuan dari

berbagai pihak sehingga dapat memperlancar pembuatan makalah ini,

untuk itu pemakalah mengucapkan terimakasih kepada Bapak DR.

HABIBULLAH, [Link].,

M.H. selaku dosen pengampu mata kuliah Hukum Perbankan, serta kepada

pustakawan/ pustakawati dan semua teman-teman yang telah memberikan

masukan dan sarannya dalam membantu menyempurnakan makalah ini.

Terlepas dari semua itu pemakalah menyadari sepenuhnya bahwa masih

ada kekurangan baik dari segi susunan kalimat maupun tata bahasanya.

Oleh karena itu pemakalah menerima segala saran dan kritik dari pembaca

agar pemakalah dapat memperbaiki makalah dimasa yang akan datang.

Semoga makalah ini bermanfaat bagi kita semua yang membacanya.

Lubuk Sikaping, 1 April


2024

PEMAKALAH

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR.........................................................................................ii
3

DAFTAR ISI........................................................................................................iii

BAB I PENDAHULUAN

[Link] Belakang Masalah....................................................................................1

[Link] Masalah..............................................................................................2

[Link] Penulisan................................................................................................2

BAB II PEMBAHASAN

a) Pengertian Gadai ...........................................................................................3


b) Apa Sifat-Sifat Gadai ....................................................................................6

c) Siapa Subjek dan Objek Gadai ......................................................................8

d) Apa Syarat Sah dan Terjadinya Gadai ..........................................................9

e) Bagaimana Cara Mengadakan Gadai ............................................................10

f) Apa Hak dan Kewajiban Penerima/Pemegang Gadai (Pandnemer)

Serta Hak dan Kewajiban Pemberi/Pemilik Gadai(Pandgever) ....................12

g) Bagaimana Berakhirnya Gadai ......................................................................16

BAB III PENUTUP

[Link].......................................................................................................17

[Link].................................................................................................................17

DAFTAR PUSTAKA

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Dalam kegiatan sehari- hari, uang selalu saja dibutuhkan untuk membeliatau
membayar berbagai keperluan. Dan yang menjadi masalah terkadangkebutuhan
yang ingin dibeli tidak dapat dicukupi dengan uang yang [Link] sudah
4

demikian, mau tidak mau kita mengurangi untuk membeli berbagaikeperluan yang
dianggap tidak penting, namun untuk keperluan yang sangat penting terpaksa
harus dipenuhi dengan berbagai cara seperti meminjam dari berbagai sumber dana
yang ada seperti gadai.
Gadai merupakan suatu yang diperoleh seseorang piutang atas suatu barang
bergerak yang diserahkan kepadanya oleh seorang berhutang, atau olehseorang
lain atas namanya. Dan yang memberikan kekuasaan kepada yang berpiutang itu
untuk mengambil pelunasan dari barang tersebut secara didahuluk an dan pada
orang-orang berpiutang lainnya, dengan kekecualian biayauntuk melelang barang
tersebut dan biaya yang telah dikeluarkan untuk menyelamatkannya setelah
barang itu digadaikan, biaya-biaya mana yang harus [Link]
merupakan salah satu hak yang memberikan kepada kreditur pelunasan yang
mendahului dari kreditur-kreditur lainnya.

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang diatas, maka penyusun membuat rumusan masalah


sebagai berikut:Apa Pengertian Gadai ?

A. Apa Sifat-Sifat Gadai ?

B. Siapa Subjek dan Objek Gadai ?

C. Apa Syarat Sah dan TerjadinyaGadai ?

D. Bagaimana Cara Mengadakan Gadai ?

E. Apa Hak dan Kewajiban Penerima/Pemegang Gadai (Pandnemer) Serta Hak


dan Kewajiban Pemberi/Pemilik Gadai(Pandgever) ?

F. Bagaimana Berakhirnya Gadai ?

G. Tujuan Penulisan

Adapun tujuan dari penulisan makalah adalah sebagai berikut:


1. Untuk Mengetahui Pengertian Gadai
5

2. Untuk Mengetahui Sifat-SifatGadai

3. Untuk Mengetahui Subjek dan Objek Gadai

4. Untuk Mengetahui Syarat Sah dan TerjadinyaGadai

5. Untuk Mengetahui Cara Mengadakan Gadai

6. Untuk Mengetahui Hak dan Kewajiban Penerima/Pemegang Gadai


(Pandnemer) Serta Hak dan Kewajiban Pemberi/Pemilik Gadai(Pandgever)

7. Untuk Mengetahui Berakhirnya Gadai


BAB II

PEMBAHASAN

A. Pengertian Gadai

Istilah gadai berasal dari terjemahan dari kata pand (bahasa Belanda) atau pledge
atau pawn (bahasa Inggris).Ketentuan-ketentuan mengenai gadai diatur dalam
KUHPerdata Bab XX Buku II KUHPerdata Pasal 1150 sampai dengan Pas1160.
Menurut Pasal 1150 KUHPerdata, gadai merupakan suatu hak yang diperoleh
berpiutang atas suatu benda bergerak, yang diserahkan kepadanya oleh seorang
berutang atau orang lain atas namanya, dan yang memberikan kekuasaan kepada
si berpiutang itu untuk mengambil pelunasan dari barang tersebut secara
didahulukan dari orang-orang berpiutang lainnya, kecuali haruslah didahulukan
biaya untuk melelang barang serta biaya yang telah dikeluarkan untuk
menyelamatkan barang yang digadaikan tersebut.

Dari rumusan Pasal 1150 KUHPerdata dapat diketahui bahwa untuk dapat
disebut gadai, maka unsur-unsur berikut di bawah ini harus dipenuhi :

a) Gadai diberikan hanya atas bendabergerak;

b) Gadai harus dikeluarkan dari penguasaan pemberigadai;

c) Gadai memberikan hak kepada kreditor untuk memperoleh pelunasan


terlebih dahulu atas piutang kreditor (droit depreference);

d) Gadai memberikan kewenangan kepada kreditor untuk mengambil sendiri


pelunasan secara mendahulu tersebut.

Pengertian gadai yang tercantum dalam Pasal 1150 KUHPerdata ini sangat luas,
tidak hanya mengatur tentang pembebanan jaminan atas barang bergerak, tetapi
juga mengatur tentang kewenangan kreditur untuk mengambil pelunasannya
dan mengatur eksekusi barang gadai, apabila debitur lalai dalam melaksanakan
kewajibannya.

Selain itu beberapa perumusan tentang gadai juga dikemukakan oleh


beberapa ahli hukum sebagai berikut:

a. Frieda Husni Hasbullah merumuskan bahwa gadai pada dasarnya adalah


suatu hak kebendaan atas benda bergerak milik orang lain dan bertujuan
tidak untuk memberi kenikmatan atas benda tersebut melainkan untuk
memberi jaminan bagi pelunasan hutang orang yang memberikan
jaminantersebut.

b. Susilo merumuskan gadai adalah suatu hak yang diperoleh oleh seorang
yang mempunyai piutang atas suatu barang bergerak. Barang bergerak
tersebut diserahkan kepada orang yang berpiutang oleh seorang yang
mempunyai utang atau oleh orang lain atas nama orang yang
mempunyai utang. Seorang yang berutang tersebut memberikan
kekuasaan kepada orang yang berpiutang untuk menggunakan barang
bergerak yang telah diserahkan untuk melunasi utang apabila pihak yang
berutang tidak dapat melunasi kewajibannya pada saat jatuhtempo.

c. Wirjono Prodjodikoro mengartikan gadai sebagai suatu hak yang


didapat oleh seorang berpiutang atas suatu benda bergerak, yang
kepadanya diserahkan oleh si berhutang atau seorang lain atas namanya,
untuk menjamin pembayaran hutang, dan yang memberi hak kepada si
berpiutang untuk dibayar lebih dulu daripada berpiutang lain, diambil
dari uang pendapatan-pendapatan barang itu.

d. Salim HS menyatakan bahwa yang dimaksud dengan gadai adalah suatu


perjanjian yang dibuat antara kreditur dengan debitur di mana debitur
menyerahkan benda bergerak kepada kreditur untuk menjamin
pelunasan suatu hutang gadai, ketika debitur lalai melaksanakan
prestasinya. Dalam definisi ini,
e. gadai dikonstruksikan sebagai perjanjian accesoir (tambahansedangkan
perjanjian pokoknya adalah perjanjian pinjam meminjam uang dengan jaminan
benda bergerak. Apabila debitur lalai dalam melaksanakan kewajibannya, barang
yang telah dijaminkan oleh debitur kepadakrediturdapat dilakukan pelelangan
untuk melunasi hutangdebitur.

Timbulnya hak gadai pertama-tama adalah karena diperjanjikan. Perjanjian


tersebut memang dimungkinkan berdasarkan ketentuan Pasal 1132 KUHPerdata
dan dipertegas dalam Pasal 1133 KUHPerdata yang menyatakan bahwa hak
untuk didahulukan di antara orang-orang berpiutang terbit dari hak-hak
istimewa, hak gadai, dan hak hipotik. Perjanjian itu melibatkan dua pihak yaitu
pihak yang menggadaikan barangnya dan disebut pemberi gadai atau debitur dan
pihak yang menerima jaminan gadai dan disebut juga penerima/pemegang gadai
atau kreditur.

Jika ada pihak ketiga dan yang bersangkutan memegang benda gadai
tersebut atas persetujuan pihak pertama dan pihak kedua maka orang itu
dinamakan pihak ketiga pemegang gadai. Sedangkan objeknya atau benda
yang digadaikan itu adalah benda bergerak yang menurut ketentuan Pasal
1150, 1152 ayat 1 dan 1153 KUHPerdata dan berupa benda bergerak berwujud
kecuali kapal-kapal yang terdaftar pada register kapal, maupun benda
bergerak tidak berwujud yang berupa hak-hak. Menurut Pasal 1152 ayat (1)
KUHPerdata, hak gadai atas benda-benda bergerak dan atas piutang -
piutang kepada pembawa diletakkan dengan membawa gadainya di bawah
kekuasaan si berpiutang atau seorang pihak ketiga, yang telah disetujui oleh
kedua belah pihak.
Kemudian Pasal 1153 KUHPerdata menyatakan bahwa hak gadai atas benda-
benda bergerak yang tak bertubuh, kecuali surat-surat tunjuk atau surat- surat
bawa, diletakkan dengan pemberitahuan perihal penggadaiannya kepada orang
terhadap siapa hak yang digadaikan itu harus dilaksanakan. Tentang
pemberitahuan dan izin si pemberi gadai, orang yang bersangkutan dapat
meminta suatu bukti [Link] penting dalam perjanjian gadai ialah bahwa
benda yang dijadikan jaminan haruslah dilepaskan dari kekuasaan sipemberi
gadai dan diserahkan kepada penerima gadai,hal ini disebut inbezitstelling.

Gadai adalah suatu hak yang diperoleh seorang berpiutang atas suatu barang
bergerak, yang diserahkan kepadanya oleh seorang berhutang atau oleh seorang
lain atas namanya dan yang memberikan kekuasaan kepada si piutang itu untuk
mengambil pelunasan dari barang tersebut secara didahulukan dari pada orang-
orang berpiutang lainnya dengan kekecualian biaya untuk melelang barang
tersebut dan biaya yang telah dikeluarkan untuk menyelamatkannya setelah
barang itu digadaikan, biaya-biaya mana yang harus didahulukan1

B. Sifat-Sifat Gadai

Hak gadai memiliki sifat kebendaan pada umumnya yaitu hak absolut, droit de
suite, droit de preference, hak menggugat, dan lain-lain. Menurut
ketentuan Pasal 528 KUHPerdata, atas sesuatu kebendaan seseorang dapat
mempunyai suatu kedudukan berkuasa (bezit), hak milik (eigendom), hak waris,
hak pakai hasil, hak pengabdian tanah, hak gadai ataupun hipotik. Kemudian
dalam Pasal 1152 ayat (3)KUHPerdata dinyatakan antara lain bahwa apabila
barang gadai hilang dari tangan penerima gadai atau kecurian, maka ia berhak
menuntutnya kembali sebagaimana yang dimaksud dalam Pasal 1977 ayat
(2)KUHPerdata.

Pasal ini mencerminkan adanya sifat droit de suite karena hak gadai terus
mengikuti bendanya di tangan siapapun. Demikian juga di dalamnya terkandung
suatu hak menggugat karena si penerima gadai berhak menuntut kembali barang
yang hilang tesebut. Selanjutnya menurut Pasal 1133 jo. Pasal 1150
KUHPerdata, gadai mempunyai sifat yang didahulukan (droit de preference)
artinya memberikan kekuasaan kepada seorang kreditur untuk mengambil
pelunasan dari hasil penjualanbarang secara didahulukan daripada
1
[Link] di akses
tanggal 1 Mei 2024
krediturlainnya.

Disamping sifat umum kebendaan seperti yang diuraikan di atas, hak gadai
memiliki sifat khusus antara lain sebagai berikut:
a) Accesoir, yaitu berlakunya hak gadai tergantung pada ada atau tidaknya
perjanjian pokok atau hutang-piutang artinya jika perjanjian hutang-piutang
sah, maka perjanjian gadai sebagai perjanjian tambahan juga sah, dan
sebaliknya jika perjanjian
b) hutang-piutang tidak sah, maka perjanjian gadai juga tidak sah. Dengan
demikian jika perjanjian hutang piutang beralih, maka hak gadai otomatis
juga beralih. Tetapi sebaliknya, hak gadai tak dapat dipindahkan tanpa
berpindahnya perjanjian hutang piutang. Dan jika karena satu alasan tertentu
perjanjian gadai batal, maka perjanjian hutang-piutang masih tetap berlaku
asal dibuat secara sah.
c) Berdasarkan ketentuan Pasal 1160 KUHPerdata, barang gadai tidak dapat
dibagi- bagi (ondelbuaar), sekalipun utangnya di antara para waris si
berhutang atau di antara waris si berpiutang dapat dibagi- bagi. Dengan
demikian gadai meliputi seluruh benda sebagai satu kesatuan, artinya
sebagian hak gadai tidak menjadi hapus dengan dibayarnya sebagian hutang.
d) Barang yang digadaikan merupakan jaminan bagi pembayaran kembali
hutang debitur kepada kreditur. Jadi barang jaminanan tidak boleh dipakai,
dinikmati, kreditur hanya berkedudukan sebagai houder bukan
burgrlijkebezitter.
e) Barang gadai berada dalam kekuasaan kreditur atau penerima gadai sebagai
akibat adanya [Link] inbezitstelling yang dimaksud di
atas dapat kita simpulkan dari ketentuan Pasal 1150 dan 1152 KUHPerdata
dan merupakan syarat utama untuk sahnya suatu perjanjian diserahkan oleh
debitur kepada kreditur, perjanjian gadai akan selalu didahulukan dengan
suatu perjanjian pokok atau perjanjian hutang- piutang karena tanpa
perjanjian pokok, maka perjanjian gadai sebagai perjanjianaccessoir tidak
akan [Link] benda yang diserahkan haruslah berupa benda
bergerak apakah itu berwujud ataupun tidak berwujud. Sedangkan orang
yang menggadaikan atau debitur adalah orang yang cakap atau berhak
melakukan tindakan hukum.
e) Dengan demikian orang yang masih di bawah umur (anak-anak), atau
yang berada di bawah perwalian dan di bawah pengampuan,
tidak dibenarkan menggadaikan sendiri barang-barangnya. Jika
hal itu dilakukan juga, maka berakibat dapat dimintakan pembatalan.2

C. Subjek dan Objek Gadai

Seperti yang telah disinggung di atas objek gadai adalah benda bergerak
berwujud, bertubuh (lichamelijk), dan benda bergerak tidak berwujud/tak
bertubuh (onlichamelijk). Sedangkan subjeknya tidak ditetapkan, artinya
siapapun, jadi setiap manusia selaku pribadi (natuurlijke persoon) dan setiap
badan hukum (rechtspersoon) berhak menggadaikan bendanya yang penting
merupakan orang atau pembawa hak yang cakap bertindak, atau orang yang

berhak berbuat bebas terhadap suatu benda(beschikkingsbevoegd).17Menurut


Salim, subjek gadai terdiri atas dua pihak, yaitu pemberi gadai (pandgever) dan
penerima gadai (pandnemer), pandgever, yaitu orang atau badan hukum yang
memberikan jaminan dalam bentuk benda bergerak selaku gadai kepada
penerima gadai untuk pinjaman uang yang diberikan kepadanya atau pihak
ketiga. Sedangkan penerima gadai (pandnemer) adalah orang atau badan hukum
yang menerima gadai sebagai jaminan untuk pinjaman uang yang diberikannya
kepadapemberi gadai(pandgever).
Transaksi pegadaian benda-benda bergerak dapat dilakukan antara orang
perorangan, dapat juga melalui perusahaan umum (Perum) Pegadaian yang
sifatnya lebih formal dan mudah [Link] lembaga
pegadaian sebenarnya adalah untuk membantu rakyat kecil yang memerlukanya
melalui kredit atau pinjaman-pinjaman dengan syarat yang ringan dan
[Link] sendirinya barang-barang yang digadaikan juga tergolong
barang- barang dari yang relatif murah hingga yang relatif sedang harganya

2
[Link]
seperti radio, sepeda, main-mainan, emas, dan lain-lain. Namun sebagai akibat
krisis moneter yang berkepanjangan yang dimulai pada pertengahan 1997,
pegadaian khususnya di Jakarta saat ini tidaklagi bisa diidentikkan dengan
perusahaan yang hanya membantu rakyat kecil atau [Link] karena itu
barang yang digadaikan harganyapun relatif mahal seperti perhiasan yang
nilainya bisa mencapai jutaan [Link] benda-benda bergerak tidak
berwujud yang berupa macam- macam hak tagihan, agar mendapatkan
pembayaran sejumlah uang, dapat digunakan surat-surat piutang. Surat-surat
yang dimaksud adalah sebagai berikut :
a. Surat piutang atas nama (vordering op naam), yaitu surat/akta yang di
dalamnya nama kreditur disebut dengan jelas tanpa tambahan apa-apa (lihat
Pasal 1153KUHPerdata)

b. Surat piutang atas bawa /kepada pembawa (vordering aan toonder/to


bearer),yaitu surat/akta yang didalamnya nama kreditur tidak disebut
dengan jelas dalam akta namun dengan tambahan kata-kata “atau pembawa”
(lihat Pasal 1152 ayat (1) KUHPerdata). Contoh: cek (Pasal 182 KUH
Dagang & UUKepailitan).
c. Surat piutang kepada pengganti atau atas tunjuk (vordering aan order), yaitu
surat/akta yang didalamnya nama kreditur disebut dengan jelas dengan
tambahan kata-kata “atau pengganti”. Contoh : wesel (lihat Pasal 1152 bis
KUHPerdata)3

D. Syarat Sah dan TerjadinyaGadai


Secara umum syarat sah gadai adalah sebagai berikut:

a. Harus ada perjanjiangadai

Hak gadai didasarkan atas suatu persetujuan antara si berpiutang dengan si


pemberi gadai yang biasanya adalah perjanjian pinjam uang denganjanji
sanggup memberikan benda bergerak sebagai jaminan.22 Bentukperjanjian
itu tidak disyaratkan apa-apa dalam KUHPerdata. Persetujuan atau perjajian
3
[Link]
digunakan-di-indonesia/ di akses 1 Mei 2024
gadai (pand-overeenkomst), berdasarkan ketentuan Pasal 1151 KUHPerdata
menyatakan bahwa persetujuan gadai dibuktikan dengan segala alat yang
diperbolehkan bagi pembuktian persetujuan pokoknya. Bila dilakukan
secara tertulis, dapat dilakukan baik dengan akta notaris maupun dengan
akta bawahtangan.
b. Benda gadai harus diserahkan pemberi gadai kepada pemeganggadai.
Walaupun perjanjian atau persetujuan gadai (pand-overeenkomst) telah
dilakukan, hak gadai belum terbentuk secara [Link] gadai bisa terjadi
kalau barang gadai sudah diserahkan ke tangan si pemegang
gadai. Hal ini sesuai dengan ketentuan Pasal 1152 ayat (1) dan ayat (2)
KUHPerdata yang menyatakan bahwa hak gadai atas benda-benda bergerak dan
atas piutang- piutang bawa diletakkan dengan membawa barang gadainya di
bawah kekuasaan si berpiutang atau seorang pihak ketiga tentang siapa telah
disetujui oleh kedua belah pihak. Tak sah adalah hak gadai atas segala benda
yang dibiarkan tetap dalam kekuasaan si berutang atau si pemberi gadai, atau
pun yang kembali atas kemauan [Link] berat terjadinya gadai adalah
barang harus dilepaskan dari kekuasaan si pemberi gadai. 24Cara penyerahan
benda gadai adalah berbeda, tergantung kepada jenis benda [Link]
benda gadai berwujud atau bertubuh maka dapat dilakukan penyerahan secara
fisikatau secara nyata sesuai dengan ketentuan Pasal 1152 ayat (2) KUHPerdata.
Sedangkan terhadap benda gadai bergerak tidak berwujud atau bertubuh, yang
berupa macam- macam haktagihan, maka penyerahannya dilakukan dengan
surat-surat piutang sebagaimana diatur dalam Pasal 1152 dan Pasal
1153KUHPerdata.

E. Cara Mengadakan Gadai


Terjadinya hak gadai tergantung pada benda yang digadaikan apakah tergolong
benda bergerak yang berwujud ataukah benda bergerak yang tidak berwujud.
Menurut Pasal 1151 KUHPerdata, persetujuan gadai dibuktikan dengan segala
alat yang diperbolehkan bagi pembuktian persetujuan pokoknya.

a) Benda Bergerak Berwujud


Dalam hal benda yang akan digadaikan merupakan benda bergerak
berwujud, maka hak gadai dapat terjadi melalui dua tahap,yaitu: Pada
tahap pertama dilakukan perjanjian antara para pihak yang berisi
kesanggupan kreditur untuk meminjamkan sejumlah uang kepada

debitur dan kesanggupan debitur untuk menyerahkan sebuah/sejumlah


benda bergerak sebagai jaminan pelunasan hutang (pand overeenkomst).
Disini perjanjian masih bersifat obligatoir konsensusoleh karena baru
meletakan hak-hak dan kewajiban- kewajiban kepada para pihak.
Karena undang-undang tidak mensyaratkan bentuk tertentu maka
perjanjian dapat dilakukan secara tertulis artinya dalam bentuk otentik
melalui notaris atau dibawah tangan (onderhands) dan dapat juga
secaralisan.26Tahap kedua diadakan perjanjian kebendaan (zakelijk
overeenkomst) yaitu kreditur menyerahkan sejumlah uang kepada
debitur, sedangkan debitur sebagai pemberi gadai menyerahkan benda
bergerak yang digadaikan kepada kreditur penerima gadai
(inbezitstelling). Persyaratan secara nyata ini mengisyaratkan bahwa
secara juridis gadai telah [Link] debitur tidak menyerahkan
bendanyakepada kreditur maka berdasarkan ketentuan Pasal 1152 ayat
(2) KUHPerdata, gadai tersebut tidak sah.

b) Benda Bergerak Tidak Berwujud

Jika benda yang digadaikan adalah benda bergerak tidak berwujud maka
tergantung pada bentuk surat piutang yang bersangkutan apakah
tergolong pada surat piutang aan toonder, aan order, ataukah op naam.
Namun terjadinya hak gadai atas surat piutang yang digadaikan itu pada
dasarnya juga dilakukan melalui dua tahap. Bagaimana caranya
mengadakan gadai terhadap benda bergerak tidak berwujud dapat
dilakukan seperti berikut ini:

a). Gadai piutang kepadapembawa

Hak gadai dilakukan dengan menyerahkan surat piutang atas bawa


kepada pemegang gadai atau pihak ketiga yang disetujui oleh kedua
belah pihak.

b). Gadai piutang atasunjuk

Hak gadai dilakukan dengan endosemen atas nama pemegang gadai


sekaligus penyerahan [Link] adalah suatu catatan
punggung di balik surat wesel atau cek yang mengandung penyerahan
atau pemindahan suatu tagihan wesel atau cek kepada orang yang
dibubuhi tanda tangan oleh orang yang memindahkannya.

c). Gadai piutang atasnama

Perjanjian gadai pada gadai piutang atas nama harus dilakukan secara
tertulis (akta) kemudian perjanjian kebendaannya dilakukan dengan
pemberitahuan kepada pihak ketiga oleh pemberi gadai. Dalam Pasal
1153 KUHPerdata, gadai piutang atas nama dilakukan dengan cara
pemberitahuan oleh pemberi gadai kepada seorang yang berhutang
kepadanya atau debitur bahwa tagihannya terhadap debitur tersebut telah
digadaikan kepada pihak ketiga.

Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa gadai piutang atas nama dilakukan
dengan cara pemberitahuan oleh pemberi gadai kepada seseorang yang
berhutang kepadanya atau debitur bahwa tagihannya terhadap debitur tersebut
telah digadaikan kepada pihak ketiga. Oleh karena undang-undang tidak dengan
tegas menetapkan suatu bentuk tertentu maka disamping dalam bentuk tertulis,
pemberitahuan dapat juga dilakukan secara lisan.4

F. Hak dan Kewajiban Penerima/Pemegang Gadai (Pandnemer) Serta Hak dan


Kewajiban Pemberi/Pemilik Gadai(Pandgever)

a) Hak penerima/pemegang gadai(kreditur)


oleh penerima gadai, diantaranya adalah seorang kreditur dapat melakukan
parate executie (eigenmachtige verkoop) yaitu menjual atas kekuasaan sendiri
4
[Link] diakses pda tanggal 1 Mei 2024
benda-benda debitur dalam hal debitur lalai atau wanprestasi. Hal ini
tertuang dalam Pasal 1155 ayat (1) KUHPerdata yang berbunyi:“ Apabila
oleh para pihak tidak telah diperjanjikan lain, maka
si berpiutang adalah
berhakjikasiberutangatausipemberigadaiciderajanji,setelahtenggang waktu
yang ditentukan lampau atau jika tidak telah ditentukan suatu tenggang
waktu, setelah dilakukannya suatu peringatan untuk membayar,menyuruh
menjual barang gadainya di muka umum menurut kebiasaan- kebiasaan
setempat serta atas syarat-syarat yang lazim berlaku, dengan maksud untuk
mengambil pelunasan piutangnya beserta bunga dan biaya dari pendapatan
penjualan tersebut.”32

Penjualan oleh kreditur atas benda gadai debitur apabila debitur wanprestasi
adalah sebagai jaminan pelunasan suatu hutang dan dapat dilakukan tanpa
perantara hakim atau pengadilan atau tanpa suatu titel [Link]
gadai hak ini diberikan oleh undang-undang, jadi tidak
[Link] demikian pasal tersebut di atas membuka
kemungkinan bagi para pihak untuk mengadakan perjanjian. Lain halnya
dengan hipotik, karena berdasarkan ketentuan KUHPerdata pada hipotik
kreditur juga diberikan hak untuk melakukan parate eksekusi tetapi wajib
terlebih dahulu diperjanjikan antara debitur dan kreditur melalui suatu
perjanjian yang disebut “beding van eigenmachtige verkoop” yaitu bahwa
kreditur pemegang hipotik diberikan hak untuk menjual benda tidak
bergerak milik debitur atas kekuasaan sendiri jika ternyata debitur
melakukan wanprestasi.

Kreditur berhak menjual benda bergerak melalui perantaraan Hakim dan


disebut rieel [Link] hal ini Pasal 1156 KUHPerdata
merumuskannya sebagai berikut:“ Bagaimanapun, apabila si berhutang
atau si pemberi gadai cidera janji, si berpiutang dapat menuntut dia di
muka hakim supaya barang
gadai dijual menurut cara yang ditentukan oleh Hakim untuk melunasi
utang beserta bunga dan biaya, ataupun Hakim atas tuntutan si berpiutang,
dapat mengabulkan bahwa barang gadai akan tetap pada si berpiutang
untuk suatu jumlah yang akan ditetapkan dalam pelunasan hingga sebesar
utangnya beserta bunga dan biaya.”33

Jadi dalam rieel executie ini, kreditur dapat melakukan tuntutan kepada
Hakim melalui dua cara yaitu:

(1) Atas izin Hakim, kreditur menjual benda-benda debitur untuk


mendapatkan pelunasan hutangnya ditambah bunga dan biaya-biaya lain.
(2) Atas izin Hakim kreditur tetap memegang benda gadai sampai
ditetapkan suatu jumlah sebesar hutang debitur kepada kreditur ditambah
bunga dan biayalain.

Sesuai dengan bunyi Pasal 1157 ayat (2) KUHPerdata kreditur berhak
mendapatkan penggantian dari debitur semua biaya yang bermanfaat yang
telah dikeluarkan kreditur untuk keselamatan [Link] Pasal
1158 KUHPerdata menyatakan, jika suatu piutang digadaikan dan piutang
itu menghasilkan bunga maka kreditur berhak memperhitungkan bunga
piutang tersebut untuk dibayarkankepadanya.

Kreditur mempunyai hak retentie yaitu hak kreditur untuk menahan benda
debitur sampai debitur membayar sepenuhnya utang pokok ditambah bunga
dan biaya- biaya lainnya yang telah dikeluarkan oleh kreditur untuk menjaga
keselamatan benda gadai. Hal ini sesuai ketentuan Pasal 1159KUHPerdata.5
b) Kewajiban penerima gadai

Dalam pelaksanaan gadai akan menimbulkan beberapa kewajiban yang


akandilakukan oleh penerima gadai, diantaranya adalah:
a. Hanya menguasai benda selaku houder bukan sebagai bezitter serta menjaga
keselamatannya. Dengan demikian kreditur tidak boleh menikmati dan

5
[Link] diakses pada tanggal 1 Mei 2024
memindahtangankan benda-benda debitur yang dijaminkanitu.
b. Kreditur wajib memberi tahu debitur bila benda gadai akan dijual

selambat- lambatnya pada hari yang berikutnya apabila ada suatu


perhubungan pos harian atau suatu perhubungan telegrap, atau jika tidak
dapat dilakukan, diperbolehkan melalui pos yang berangkat pertama (Pasal
1156 ayat 2 KUHPerdata).
c. Kreditur bertanggung jawab atas hilangnya atau merosotnya nilai gadai jika
terjadi karena kelalaiannya (Pasal 1157KUHPerdata).
d. Kreditur wajib mengembalikan benda gadai setelah hutang pokok, bunga,
biaya atau ongkos untuk penyelamatan benda yang bersangkutan telah
dibayar lunas (Pasal 1159 ayat 1KUHPerdata)
c) Hak pemberi/pemilik gadai(debitur)

Dalam pelaksanaan gadai akan menimbulkan beberapa hak yang akan


diterima oleh pemberi/pemilik gadai, diantaranya adalah:
a. Jika hasil penjualan barang gadai setelah diperhitungkan untuk pelunasan
pembiayaan hutang debitur termasuk beban bunga dan biaya-biaya lain
masih berlebihan, maka debitur berhak menerima kelebihan dari hasil
penjualan barang gadaitersebut.
b. Apabila barang gadai yang diserahkan debitur kepada kreditur menghasilkan
pendapatan sehingga dapat dipergunakan untuk mengurangi hutang debitur,
maka dimungkinkan debitur yang bersangkutan meminta diperhitungkan ke
dalam pembayaran hutangnya.

d) Kewajiban pemberigadai

Dalam pelaksanaan gadai akan menimbulkan beberapa kewajiban yang


akan dilakukan oleh pemberi gadai, diantaranya adalah:

a. Pemberi gadai wajib menyerahkan fisik benda yang digadaikan kepada


penerima gadai (syaratinbezitstelling).

b. Debitur pemberi gadai menyerahkan kelengkapan dokumen (jika ada)


sebagai bukti kepemilikan barang gadai yangbersangkutan.

c. Pemberi gadai wajib mengganti segala biaya yang berguna dan


diperlukan yang telah dikeluarkan oleh kreditur penerima gadai guna
keselamatan barang gadai (Pasal 1157 ayat (2)KUHPerdata)

G. Berakhirnya Gadai

Menurut Frieda Husni Hasbullah, berakhirnya gadai dikarenakan:

a. Hak gadai hapus dengan hapusnya perikatan pokok yaitu perjanjian hutang-
piutang sehubungan telah dibayarnya hutang pokok ditambah bunga dan
biaya lainnya seperti biaya pemeliharaan bendagadai.
b. Jika benda gadai lepas atau tidak lagi berada dalam kekuasaan
[Link] menurut Hadi Suprapto, hak gadai berakhir atau
hapusadalah ketika terjadinya hal-hal berikut:
c. Apabila barang jaminan keluar dari kekuasaan pemegang jaminan.
d. Apabila perjanjian pokok hapus, yakni ketika hutang piutang itu
sudahdibayar.
e. apabila barang jaminan hilang atau musnah ataupun dilepaskan
secarasukarela oleh pemeganggadai.
f. Pemegang gadai oleh karena sesuatu sebab menjadi pemilik atas barang
jaminan tersebut.

BAB III

PENUTUP

a. Kesimpulan
 Pengertian Gadai

Istilah gadai berasal dari terjemahan dari kata pand (bahasa Belanda) atau pledge
atau pawn (bahasa Inggris).1Ketentuan-ketentuan mengenai gadai diatur dalam
KUHPerdata Bab XX Buku II KUHPerdata Pasal 1150 sampai dengan Pas1160.
Menurut Pasal 1150 KUHPerdata, gadai merupakan suatu hak yang diperoleh
berpiutang atas suatu benda bergerak, yang diserahkan kepadanya oleh seorang
berutang atau orang lain atas namanya, dan yang memberikan kekuasaan kepada
si berpiutang itu untuk mengambil pelunasan dari barang tersebut secara
didahulukan dari orang-orang berpiutang lainnya, kecuali haruslah didahulukan
biaya untuk melelang barang serta biaya yang telah dikeluarkan untuk
menyelamatkan barang yang digadaikan tersebut.

 Sifat-Sifat Gadai

Hak gadai memiliki sifat kebendaan pada umumnya yaitu hak absolut, droit de
suite, droit de preference, hak menggugat, dan lain-lain. Menurut
ketentuan Pasal 528 KUHPerdata, atas sesuatu kebendaan seseorang dapat
mempunyai suatu kedudukan berkuasa (bezit), hak milik (eigendom), hak waris,
hak pakai hasil, hak pengabdian tanah, hak gadai ataupun hipotik. Kemudian
dalam Pasal 1152 ayat (3)KUHPerdata dinyatakan antara lain bahwa apabila
barang gadai hilang dari tangan penerima gadai atau kecurian, maka ia berhak
menuntutnya kembali sebagaimana yang dimaksud dalam Pasal 1977 ayat
(2)KUHPerdata.

 Subjek dan Objek Gadai

Seperti yang telah disinggung di atas objek gadai adalah benda bergerak
berwujud, bertubuh (lichamelijk), dan benda bergerak tidak berwujud/tak
bertubuh (onlichamelijk).
 Syarat Sah dan TerjadinyaGadai
Secara umum syarat sah gadai adalah sebagai berikut:

a. Harus ada perjanjiangadai


b. Benda gadai harus diserahkan pemberi gadai kepada pemeganggadai.

 Cara Mengadakan Gadai

Terjadinya hak gadai tergantung pada benda yang digadaikan apakah tergolong
benda bergerak yang berwujud ataukah benda bergerak yang tidak berwujud.
Menurut Pasal 1151 KUHPerdata, persetujuan gadai dibuktikan dengan segala
alat yang diperbolehkan bagi pembuktian persetujuan pokoknya.25

a. Benda Bergerak Berwujud

b. Benda Bergerak Tidak Berwujud

 Hak dan Kewajiban Penerima/Pemegang Gadai (Pandnemer) Serta


Hak dan Kewajiban Pemberi/Pemilik Gadai(Pandgever)

a. Hak penerima/pemegang gadai(kreditur)


b. Kewajiban penerima gadai
c. Hak pemberi/pemilik gadai(debitur)

d. Kewajiban pemberigadai

 Berakhirnya Gadai

Menurut Frieda Husni Hasbullah, berakhirnya gadai dikarenakan:

a. Hak gadai hapus dengan hapusnya perikatan pokok yaitu


perjanjian hutang- piutang sehubungan telah dibayarnya hutang
pokok ditambah bunga dan biaya lainnya seperti biaya
pemeliharaan bendagadai.
b. Jika benda gadai lepas atau tidak lagi berada dalam kekuasaan
pemeganggadai.
b. Saran

Pada saat pembuatan makalah Penulis menyadari bahwa banyak sekali


kesalahan dan jauh dari kesempurnaan. Dengan sebuah pedoman yang bisa
dipertanggungjawabkan dari banyaknya sumber Penulis akan memperbaiki
makalah tersebut. Oleh sebab itu penulis harapkan kritik serta sarannya
mengenai pembahasan makalah dalam kesimpulan di atas.

DAFTAR PUSTAKA

[Link] di akses tanggal


1 Mei 2024

[Link] di akses pada tanggal

1 Mei 2024

[Link]

indonesia/ di akses pada tanggal 1 Mei 2024

[Link] diakses pada tanggal 1 Mei 2024

[Link] diakses pada tanggal 1 Mei 2024

Anda mungkin juga menyukai