Brisk Walking untuk Stabilkan Glukosa Diabetes
Brisk Walking untuk Stabilkan Glukosa Diabetes
1. Pendahuluan
Ketidak tetapan politik dan ekonomi yang mengakibatkan perubahan hidup pada tingkat kesejahteraan
masyarakat. Pada salah satu masalah kesehatan yang mengalami pergeseran dari penyakit infeksi ke
penyakit degeneratif. Salah satu penyakit degeneratif adalah Penyakit diabetes melitus tipe 2.
Peningkatan penyakit diabetes melitus ada hubungannya dengan perubahan pola hidup masyarakat
terutama orang-orang yang tinggal di daerah perkotaan (Tasman, 2017). Perubahan gaya hidup seperti
diet yaitu pola makan tinggi kalori tanpa diimbangi dengan aktifitas olahraga yang cukup merupakan
predisposisi terjadinya resistensi insulin di dalam tubuh yang akhirnya akan mengakibatkan diabetes
melitus tipe 2 (Fatia, 2012). Diabetes melitus terjadi karena hormon insulin yang dihasilkan oleh
tubuh tidak dapat bekerja dengan baik (Fitriana & Rachmawati, 2016). Diabetes melitus merupakan
penyakit gangguan metabolik menahun akibat pankreas tidak dapat memproduksi cukup insulin atau
insulin tidak dapat bekerja secara efektif (Kemenkes RI, 2014). Diabetes melitus juga sering di juluki
sebagai “pembunuh diam diam yang jahat” (the silent killer) dimana penyakit ini sering membuka
jalan bagi penyakit-penyakit yang lain untuk menghuni tubuh manusia (Nabyl, 2009).
Menurut International Diabetes Federation (IDF) (2013), menyebutkan bahwa saat ini ada 10 juta
orang menderita diabetes dan diperkirakan meningkat menjadi 16,2 juta kasus pada tahun 2040
dengan data tersebut Indonesia menempatkan penyakit diabetes melitus pada urutan ke-6 sebagai
penyakit kematian terbanyak. Prevalensi diabetes melitus menurut Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas)
tahun 2018 secara nasional adalah sebesar 8,5% meningkat dari tahun 2013 yang hanya sebesar 6,9%
sedangkan untuk Provinsi Lampung prevalensi kejadian diabetes melitus adalah 0,8% dengan
prevalensi 6,9% pada penduduk diatas 15 tahun, dan jumlah kasus baru penyakit diabetes melitus
pada tahun 2018 dengan nilai rata-rata sebesar 79,9 kasus telah menjadi urutan ke-2 sebagai penyakit
terbanyak yang dialami oleh pasien di Wilayah Kerja Puskesmas Gedong Air Bandar Lampung.
Penyakit diabetes melitus ini merupakan keadaan hiperglikemik kronik disertai berbagai kelainan
metabolik akibat gangguan hormonal yang menimbulkan berbagai komplikasi kronik baik pada mata,
ginjal, saraf dan pembuluh darah (Tholib, 2016). Untuk mencegah komplikasi penyakit diabetes
melitus dapat dilakukan penatalaksanaan dalam pengelolaan 4 pilar utama, seperti pengobatan secara
benar dan teratur, rendah kalori dan tinggi protein, pemantauan kadar gula darah secara rutin serta
latihan fisik atau jasmani secara teratur (Smeltzer & Bare, 2013).
Menurut Listyarini and Fadila h (2017), dalam penelitiannya di desa Klumpit Kabupaten Kudus di
dapatkan penurunan kadar glukosa darah sewaktu pada pasien Diabetes Melitus tipe II dengan jumlah
20 responden yang memiliki kadar glukosa rata-rata 204,05 mg/dl setelah dilakukan teknik Brisk
Walking terjadi penurunan kadar glukosa sewaktu rata-rata sebesar 184,79 mg/dl. Serta penelitian
juga dilakukan oleh Astuti, Sianturi, dan Astuti (2017) di Persadia RS Panti Wilasa Citarum
Semarang dengan sempel sebanyak 30 responden yang secara bermakna mengalami penurunan kadar
glukosa darah sebelum dan sesudah dilakukan Brisk Walking yaitu dari 217.40 mg/dl menjadi 197,87
mg/dl. Perawat sebagai lini terdepan pemberi pelayanan kesehatan dan tentunya paling memahami
keadaan pasien, penting memberikan penerapan seperti penelitian-penelitian sebelumnya mengenai
teknik Brisk Walking yang memiliki keunggulan dalam menurunkan kadar glukosa darah khususnya
pada pasien diabetes melitus tipe 2. Atas dasar inilah penulis tertarik untuk melakukan asuhan
keperawatan pada pasien diabetes melitus tipe 2 dengan menggunakan teknik Brisk Walking sebagai
terapi latihan aerobik untuk menurunkan kadar glukosa darah di Wilayah Kerja Puskesmas Gedong
Air Bandar Lampung.
2. Metode
Desain penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah jenis metode penelitian terapan atau
disebut dengan applied research. Penelitian terapan atau applied research bertujuan untuk menerapkan,
menguji dan mengevaluasi kemampuan suatu teori, yang diterapkan dalam memecahkan masalah-
masalah praktis (Sugiyono, 2013). Di penelitian ini peneliti menganalisa apakah treatment (perlakuan)
Brisk Walking dapat menurunkan kadar glukosa darah pada pasien diabetes mellitus tipe 2. Applied
research atau penelitian terapan juga bertujuan untuk menemukan pengetahuan yang secara praktis
dapat diaplikasikan, walaupun kadang penelitian terapan ini juga mengembangkan dan menvalidasi
suatu produk dalam penerapannya, untuk melihat pengaruh dari treatment perlakuan penelitian
menggunakan desain eksperimen pre eksperimen designs, pada desain ini terdapat pretest dan posttest,
sebelum diberi perlakuan dan setelahnya. Dengan demikian hasil perlakuan dapat diketahui lebih
akurat, karena dapat membandingkan dengan keadaan sebelum diberi perlakuan.
Subyek pada penelitian ini yaitu pasien diabetes melitus tipe 2 yang mengalami masalah keperawatan
ketidakstabilan kadar glukosa darah di keluarga, di wilayah kerja Puskesmas Gedong Air Bandar
Lampung. Responden memiliki syarat, pasien yang memiliki kadar glukosa darah diatas normal (>200
Penelitian ini menggunakan instrument fisiologis yaitu alat ukur berupa pedometer untuk menghitung
langkah pada saat melakukan olahraga berjalan cepat pada pasien diabetes melitus tipe 2 selama 30
menit dengan menggunakan stopwatch dan dilakukan pemeriksaan tanda-tanda vital sebelum
melakukan olah raga jalan cepat. Kemudian menggunakan instrument observasi berupa panduan
Standar Operasional Prosedur (SOP) Brisk Walking yang dievaluasi dengan menggunakan lembar
observasi checklist sebelum dan setelah dilakukan Brisk Walking. Selain itu juga menggunakan alat
ukur kadar glukosa darah yaitu berupa glukometer. Glukometer digunakan untuk mengukur kadar
glukosa darah berisikan pre-test dan post-test dan prinsip etik yang diterapkan dalam penelitian ini
meliputi beneficence, respect for human dignity dan Justice.
3. Tinjauan pustaka
Tabel 1. Hasil Pengukuran Kadar Glukosa Darah pada Responden Sebelum dilakukan Penerapan
Teknik Brisk Walking di Wilayah Kerja Puskesmas Gedong Air Bandar Lampung, 24 Mei
2019
No Resp- Kadar Glukosa Darah Rata
onden Hari Hari Hari rata
ke-1 ke-2 ke-3
1. Ny. H 481 427 421 443
2. Ny. S 351 309 304 321,
33
Tabel 2. Hasil Pengukuran Kadar Glukosa Darah pada Responden Sesudah dilakukan Penerapan
Teknik Brisk Walking di Wilayah Kerja Puskesmas Gedung Air Bandar Lampung, 24 Mei
2019
No Resp- Kadar Glukosa Darah Rata
onden Hari Hari Hari rata
ke-1 ke-2 ke-3
1. Ny. H 447 396 388 410,3
3
2. Ny.S 313 298 281 297,3
3
Berdasarkan hasil tabel diatas bahwa nilai rata-rata kadar glukosa darah selama 3 hari sebelum
diberikan intervensi teknik Brisk Walking pada pasien diabetes melitus tipe 2 pada Ny. H sebesar 443
mg/dl Ny. S sebesar 321,33 mg/dl. Kadar glukosa darah setelah diberikan intervensi teknik Brisk
Walking sesuai dengan prosedur yaitu pada Ny. H sebesar 410,33 mg/dl dan Ny.S sebesar 297,33
mg/dl.
Tabel 3. Hasil Selisih Penurunan Kadar Glukosa Darah pada Responden yang diberikan penerapan
teknik Brisk Walking di Wilayah Kerja Puskesmas Gedung Air Bandar Lampung, 24 Mei
2019
No Resp- Kadar Glukosa Darah Rata
onden Hari Hari Hari rata
ke-1 ke-2 ke-3
1. Ny. H 447 396 388 410,3
3
2. Ny. S 313 298 281 297,3
3
Dari tabel diatas dilihat bahwa nilai rata-rata penurunanan kadar glukosa darah selama 3 hari sebelum
dan sesudah diberikan intervensi teknik Brisk Walking sesuai dengan prosedur pada Ny.H sebesar
32,67 mg/dl dan pada Ny. S sebesar 24 mg/dl.
Berdasarkan identitas pasien kedua responden berada pada rata-rata usia 60 tahun. Hal ini sesuai
dengan penelitian oleh Astuti, Sianturi, dan Astuti (2017) bahwa semakin bertambahnya usia semakin
rentan seseorang menderita diabetes melitus. Penderita diabetes melitus terbanyak pada usia lebih dari
40 tahun keatas, karena pada usia tersebut seseorang mengalami penurunan fungsi metabolisme tubuh
yang berhubungan dengan metabolisme glukosa yang disebabkan karena resisten insulin (Aini &
Agustriyani, 2022). Disamping itu seseorang yang sudah tua akan mengalami kecenderungan organ-
organ tubuhnya mulai melemah, begitu pula dengan kepekaanya terhadap insulin akan lebih
berpotensi terserang diabetes melitus (Fitriana & Rachmawati, 2016).
Berdasarkan jenis kelamin dari kedua responden berjenis kelamin perempuan, dalam penelitian yang
sama oleh Astuti, Sianturi, dan Astuti (2017) dijelaskan bahwa perempuan lebih berisiko mengalami
peningkatan kadar glukosa darah. Hal ini dikarenakan, perempuan di masyarakat mempunyai angka
harapan hidup lebih tinggi dibandingkan dengan laki-laki sehingga semakin banyak perempuan lanjut
usia menyebabkan jumlah perempuan yang mengidap diabetes melitus tipe 2 semakin tinggi.
Perempuan yang berusia lanjut terjadi gangguan toleransi glukosa akibat menurunnya sekresi insulin
oleh sel beta pankreas (Yusefa, Wijayanto, Sutrisno, & Suswantoro, 2023). Pada dasarnya wanita
yang sudah mengalami menopause, kecenderungan untuk lebih tidak peka terhadap hormon insulin
sehingga ia lebih berpotensi terserang diabetes (Fitriana & Rachmawati, 2016).
Hal ini didukung oleh pernyataan Taylor (2010) dalam Meidikayanti and Wahyuni (2017) yang
menyatakan bahwa penyebab utama banyaknya perempuan terkena diabetes melitus tipe 2 karena
terjadinya penurunan hormon estrogen terutama saat masa menopause. Dimana hormon estrogen dan
progesteron memiliki kemampuan untuk meningkatkan respon insulin di dalam darah. Karena pada
saat menopause terjadi, maka respon akan insulin menurun akibat hormone estrogen dan progesterone
yang rendah, hal inilah yang membuat perempuan sering terkena diabetes melitus dari pada laki-laki
(Yunitasari, Verina, & Sugiyanto, 2022).
Dari segi pendidikan kedua responden sama-sama berpendidikan SD. Tingkat pengetahuan akan
mempengaruhi sikap dan perilaku seseorang. Tingkat pendidikan kedua responden dapat
mempengaruhi cara responden dalam bersikap dan menangani masalah sehubungan dengan
penyakitnya. Kurangnya pengetahuan menyebabkan klien tidak tanggap terhadap resiko penyakit
diabetes melitus seperti pola makan yang tidak benar serta peningkatan kadar glukosa yang tidak
terkontrol. Di lihat dari penelitian Retnowati and Satyabakti (2015), yang menyatakan ada hubungan
antara tingkat pendidikan dengan kualitas hidup penderita diabetes melitus tipe 2, bahwa pendidikan
diyakini sebagai faktor penting untuk memahami manajemen, kepatuhan kontrol gula darah,
mengatasi gejala yang muncul dengan penanganan yang tepat serta mencegah terjadinya komplikasi.
Pendidikan umumnya terkait dengan pengetahuan, pederita dengan pendidikan tinggi memiliki
pengetahuan lebih baik mengenai penyakit diabetes dan efeknya terhadap kesehatan sehingga
penderita akan menyikapi dengan positif serta akan berusaha.
4.2 Pembahasan Sebelum Dilakukan Penerapan Teknik Brisk Walking terhadap Ketidakstabilan
Kadar Glukosa Darah
Berdasarkan hasil penelitian pemberian intervensi teknik Brisk Walking yang dilakukan 3 kali dalam
satu minggu yang dilakukan pada Ny. H dan Ny. S sejak tanggal 24 Mei 2019 sampai 26 Mei 2019.
Didapatkan kadar glukosa darah sebelum dilakukan teknik Brisk Walking pada pasien diabetes
melitus yang mengalami ketidakstabilan kadar glukosa darah lebih dari 200 mg/dl. Memiliki
perbedaan pada kedua responden. Pada kedua responden dilakukan pengukuran sebelum diberikan
intervensi dihari pertama dan langsung mendapatkan intervensi setelah hari pertama yang berlangsung
selama 3 hari dalam waktu 30 menit sesuai dengan prosedur tindakan disetiap harinya. Hasil
penelitian diketahui bahwa rata-rata pengukuran kadar glukosa darah pada responden Ny. H selama 3
hari sebelum melakukan intervensi Brisk Walking sebesar 443 mg/dl. Selanjutnya pada Ny. S
diketahui hasil rata-rata kadar glukosa darah selama 3 hari sebelum diberikan intervensi teknik Brisk
Walking sebesar 321, 33 mg/dl. Kadar glukosa darah yang tinggi pada responden dengan penyakit
diabetes melitus sebagian besar bisa diakibatkan oleh beberapa faktor seperti kurang latihan fisik dan
tidak memperhatikan diet.
Latihan fisik yang kurang dari responden merupakan akibat dari responden yang kurang peduli
tentang kondisi penyakitnya dan hanya mengesampingkan untuk sekedar melakukan latihan fisik
seperti jalan kaki dipagi hari. Selain itu penderita responden juga tidak memperhatikan diet salah
satunya adalah dengan mengkonsumsi nasi yang cukup banyak. Pengetahuan mengenai informasi
tentang diabetes melitus sangatlah membantu untuk responden agar dapat menjaga dalam mengontrol
kadar glukosa darah dengan baik, responden juga dapat memahami dengan baik informasi yang
diberikan. Dari hasil pengukuran kadar glukosa darah sebelum diberikan intervensi pada kedua
responden memiliki perbedaan antara Ny. H yang memiliki kadar glukosa darah lebih tinggi dari pada
Ny. S. Dilihat dari faktor usia Ny. H lebih tua yaitu berumur 62 tahun di bandingkan dengan Ny. S
berumur 59 tahun, karena faktor usia juga mempengaruhi hasil pemeriksaan kadar glukosa darah
antara kedua responden. Pada usia tersebut seseorang akan mengalami penurunan fungsi metabolisme
tubuh yang berhubungan dengan metabolism glukosa yang disebabkan karena resisten insulin. Dapat
dilihat bahwa seseorang yang sudah tua akan mengalami kecenderungan organ-organ tubuhnya mulai
melemah begitu pula dengan kepekaan terhadap insulin (Fitriana & Rachmawati, 2016).
Selain itu pada Ny. H memiliki penyakit hipertensi sedangkan pada Ny. S tidak memiliki riwayat
Hipertensi. Dilihat dari faktor resiko hipertensi merupakan salah satu resiko terjadi penyakit diabetes
melitus. Dimana dengan tingginya kadar lemak dalam darah, sensitifitas darah terhadap insulin
menjadi sangat tendah. Oleh karena itu, mereka yang menderita tekanan darah tinggi diharapkan
mengkonsumsi makanan tinggi serat dan rendah lemak seperti buah dan sayuran, sehingga mampu
meningkatkan sensitivitas insulin (Susilo & Wulandari, 2011).
4.3 Pembahasan Sesudah Dilakukan Penerapan Teknik Brisk Walking Terhadap Ketidakstabilan
Kadar Glukosa Darah
Berdasarkan hasil penelitian pemberian intervensi teknik Brisk Walking yang dilakukan 3 kali dalam
satu minggu yang dilakukan pada Ny. H dan Ny. S sejak tanggal 24 Mei 2019 sampai 26 Mei 2019.
Didapatkan kadar glukosa darah sesudah dilakukan teknik Brisk Walking pada pasien diabetes
2023 | Ners Akademika/ Vol 1 No 2, 41-48
45
melitus yang mengalami ketidakstabilan kadar glukosa darah lebih dari 200 mg/dl. Memiliki
perbedaan pada kedua responden. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rata-rata kadar glukosa darah
sewaktu pada kedua responden selama 3 hari sesudah diberikan intervensi teknik Brisk Walking pada
Ny. H memiliki kadar glukosa rata-rata sebesar 410,33 mg/dl, sehingga dapat dilihat selisih
penurunan kadar glukosa darah sewaktu rata-rata sebesar 32, 67 mg/dl. Selanjutnya pada Ny. S
diketahui hasil rata-rata kadar glukosa darah sesudah diberikan intervensi teknik Brisk Walking
sebesar 297,33 mg/dl, sehingga dapat dilihat selisih penurunan kadar glukosa darah sewaktu rata-rata
sebesar 24 mg/dl.
Hasil penelitian pada Ny. H bahwa nilai rata-rata kadar glukosa setelah diberikan intervensi lebih
besar dibanding dengan nilai Ny. S. Dapat dilihat bahwa dalam keseharian Ny. H lebih sering
mengukuti latihan fisik seperti senam bersama yang rutin diadakan oleh Puskesmas Gedong Air
sedangkan pada Ny. S tidak mengikuti kegiatan rutin tersebut dan lebih sering menghabiskan
waktunya hanya dirumahnya. Sehingga latihan fisik yang sangat kurang dilakukan oleh Ny. S dalam
mengatasi ketidakstabilan kadar glukosa darah. Namun pada kedua responden menunjukan adanya
terjadikan penurunan kadar glukosa darah sewaktu dilihat dari hasil rata-rata selama tiga hari
intervensi dilakukan, dikarenakan kedua responden mau melakukan tahap-tahap intervensi teknik
Brisk Walking dengan benar sesuai dengan prosedur yang terdapat pada SOP tindakan yang terlampir
dalam booklet penerapan. Selain itu responden mendapat dukungan yang positif dari keluarga dan
responden berusaha memanfaatkan teknik Brisk Walking dengan baik sebagai salah satu cara untuk
menjaga ketidakstabilan kadar glukosa darah.
Hal ini didukung oleh penelitian yang dilakukan oleh Listyarini and Fadilah (2017) dalam
penelitiannya di desa Klumpit Kabupaten Kudus selama 4 minggu, dimana dalam seminggu latihan
Brisk Walking dilakukan 3 kali selama kurang lebih 30 menit, di dapatkan penurunan kadar glukosa
darah sewaktu pada pasien Diabetes Mellitus tipe II dengan jumlah 20 responden yang memiliki kadar
glukosa rata-rata 204,05 mg/dl setelah dilakukan teknik Brisk Walking terjadi penurunan kadar
glukosa sewaktu rata-rata sebesar 184,79 mg/dl. Dijelaskan dalam penelitian Astuti, Sianturi, dan
Astuti (2017) berdasarkan penelitian yang dilakukan di Persadia RS Panti Wilasa Citarum Semarang
dengan sempel sebanyak 30 responden yang secara bermakna mengalami penurunan kadar glukosa
darah sebelum dan sesudah dilakukan Brisk Walking secara rutin 3 kali seminggu dengan frekuensi
waktu 30 menit yaitu dari 217.40 mg/dl menjadi 197,87 mg/dl. Sehingga dapat disimpulkan bahwa
ada perbedaan yang signifikan penurunan kadar glukosa darah sebelum dan sesudah diberikan Brisk
Walking pada pasien diabetes melitus tipe 2 di Persadia Rumah Sakit Panti Wilasa Citarum.
Selanjutnya pada penelitian yang dilakukan Rosa Indah and Isnaini Herawati (2013) di gedung IPHI
Tangaran Kabupaten Semarang, pada pasien diabetes mellitus tipe 2 dengan jumlah responden 12
orang. Hasil penelitian menunjukan bahwa olahraga jalan cepat 30 menit secara teratur selama 6
minggu, sebelum melakukan olahraga jalan cepat rata-rata kadar glukosa darah kelompok 205 mg/dl
dan mengalami penurunaan kadar glukosa darah lebih besar 47, 83 mg/dl, di simpulkan bahwa
penelitian penerapan intervensi Brisk Walking memberikan pengaruh terhadap penurunan kadar
glukosa darah pada penderita diabetes mellitus tipe 2. Pada penderita diabetes melitus tipe 2 ini,
kebanyakan diakibatkan karena terjadinya resistensi insulin akibat kurang gerak badan atau olahraga.
Olahraga secara teratur 3 kali dalam seminggu Selama kurang lebih 30 menit, merupakan salah satu
pilar upaya pengelolaan diabetes melitus tipe 2. Olahraga selain untuk menjaga kebugaran juga dapat
menurunkan berat badan dan memperbaiki sensitivitas insulin, sehingga akan memperbaiki kendali
glukosa darah. Olahraga yang dianjurkan berupa olahraga yang bersifat aerobic seperti Brisk Walking.
Mekanisme jalan cepat dalam menurunkan kadar glukosa darah sama halnya dengan mekanisme
olahraga aerobik lainnya dimana dengan berolahraga teratur dapat memfasilitasi control glikemi
dengan merangsang aktifitas insulin dan jumlah transporter glukosa dalam membran plasma sehingga
terjadi peningkatan sensitifitas insulin, meningkatkan sintesis dan penyimpanan glikogen otot. Brisk
Walking atau jalan cepat, berjalan cepat akan memicu timbulnya hormon endorfin yang akan
memberikan efek senang dan bahagia. Hal ini akan mampu melepaskan stress dan ketegangan mental
(depresi), selain itu dapat mengontrol gula darah pada penderita diabetes. Kadar gula akan bekerja
5. Kesimpulan
1. Kadar glukosa kedua responden yang menderita penyakit diabetes melitus tipe 2 sebelum
dilakukan penerapan teknik Brisk Walking bahwa nilai rata-rata GDS Ny. H sebesar 443 mg/dl
dan Ny. S sebesar 321,33 mg/dl.
2. Kadar glukosa kedua responden yang menderita penyakit diabetes melitus tipe 2 sesudah
dilakukan penerapan teknik Brisk Walking terjadi penurunan hasil bahwa nilai rata-rata GDS Ny.
H sebesar 410,33 mg/dl dan Ny. S sebesar 297,33 mg/dl.
3. Setelah diberikan intervensi teknik Brisk Walking bahwa terdapat pengaruh dan memberikan
dampak positif dalam mengatasi ketidakstabilan kadar glukosa darah pada pasien diabetes melitus
tipe 2 dengan selisih penurunan rata-rata pada Ny. H sebesar 32,67 mg/dl dan selisih penurunan
pada Ny. S sebesar 24 mg/dl.
Limitasi
Peneliti menyadari bahwa penelitian ini memiliki kekurangan dan keterbatasan, beberapa hal yang
menyebabkan adanya keterbatasan dalam penulisan dan pelaksanaan penelitian yaitu:
1. Peneliti kesulitan dalam mencari responden dan ada beberapa pasien menolak diberikan teknik
Brisk Walking.
2. Peneliti kesulitan untuk menyesuaikan waktu penelitian dengan responden, dalam melakukan
penelitian
Referensi
Aini, N. I., & Agustriyani, F. (2022). Pengaruh Senam Prolanis terhadap Kadar Glukosa Darah pada
Penderita DM Tipe 2 di Puskesmas Pakuan Aji Lampung Timur 2021. Ners Akademika, 1(1),
29-32.
Astuti, R. D., Sianturi, M., & Astuti, R. (2017). Efektivitas Active Lower Range Of Motion Dan Brisk
Walking Terhadap Kadar Glukosa Darah Pasien Diabetes Melitus Di Persadia Rs Panti
Wilasa Citarum Semarang. Karya Ilmiah, 6(1).
Fatia, N. (2012). Perbedaan Pengaruh Senam Aerobik dan Yoga terhadap Penurunan Kadar Gula
Darah pada pasien Diabetes mellitus Tipe II di Poliklinik Khusus penyakit dalam. Skripsi.
Diakses tanggal 03 Maret 2019.
Fitriana, R., & Rachmawati, S. (2016). Cara Ampuh Tumpas Diabetes. Yogyakarta: Medika.
International Diabetes Federation (IDF), I. D. F. I. (2013). IDF Diabetes Atlas Sixth edition.
Kemenkes RI, K. R. (2014). Waspada Diabetes. Pusat Data dan Informasi Kemenkes RI. Jakarta
Selatan.
Listyarini, A. D., & Fadilah, A. (2017). Brisk Walking dapat menurunkan Kadar Glukosa Darah Pada
Penderita Diabetes Mellitus di Desa Klumpit Kecamatan Gebog Kabupaten Kudus. Jurnal
Keperawatan dan Kesehatan Masyarakat Cendekia Utama, 6(2).