0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
32 tayangan68 halaman

Praktik Kerja Industri di PT Socfin Indonesia

Diunggah oleh

gresyachristin24
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
32 tayangan68 halaman

Praktik Kerja Industri di PT Socfin Indonesia

Diunggah oleh

gresyachristin24
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Indonesia adalah negara berkembang yang memiliki potensi sumber
daya manusia dan sumber daya alam yang melimpah di negara tersebut.
Dengan sejalan nya era baru di dunia industri yang semakin maju dengan
pesat atau sering juga disebut sebagai 4.0. Maka pemerintah, terutama
kementrian Perindustrian menetapkan suatu program yang dapat melatih
pola pikir pembelajar terutama mahasiswa dan siwa yang disebut program
dual system atau dapat juga disebut dengan prakerind.
Praktik Kerja Industri (Prakerind) adalah bentuk kegiatan
pembelajaran akademik pada mahasiswa untuk meningkatkan dan
mengembangkan kemampuan tenaga kerja yang berkualitas. Dengan
kegiatan prakerin tersebut diharapkan dapat meningatkan keterampilan,
pengetahuan dan pengalaman mahasiswa dalam memasuki dunia kerja
yang sebenarnya. Maka dari itu mahasiswa dapat mempersiapkan dirinya
dengan baik sebelum masuk ke dalam dunia industri atau dunia usaha.
Dengan dilakukannya Praktik kerja industri di PTKI Medan, kepada
Mahasiwa diharapkan dapat menguasai sepenuhnya aspek aspek
kompetensi pembelajaran dengan kompetensi kurikulum yang berupa
“teori dan praktik” dan mengenal lebih dalam dunia kerja terumata di
dunia industri yang akan menjadi dunia nya setelah menetapkan
pendidikan.
Pelaksanaan Prakerind dilakukan di Desa Kebun Sei Liput Kecamatan
Kejuruan Muda ,Kabupaten Aceh Tamiang [Link] INDONESIA

1
1.2 Tujuan

Adapun tujuan Praktik Kerja Industri adalah sebagai berikut :

1. Dapat mengenal secara langsung pengaplikasian dari teori dan praktik


yang diperoleh selama di bangku perkuliahan.
2. Melengkapi salah satu syarat akademis di PTKI Medan.
3. Menambah pengalaman, wawasan dan ilmu pengetahuan yang dapat
diterapkan dalam lapangan kerja
4. Melihat dan mengenal secara langsung metode tentang suatu proses
penelitian yang akan dilakukan di lokasi pabrik.
5. Untuk menngetahui dan memahami proses pengolahan kelapa sawit
pada pabrik.
1.3 Manfaat
Manfaat Kerja Praktik Kerja Industri adalah agar mahasiswa memiliki
wawasan luas untuk mengetaui proses pengolahan kelapa sawit dari
bahan baku menjadi produk (CPO dan Kernel) dan memberikan
pengalaman di dalam dunia kerja secara langsung
1.4 Waktu dan Tempat Pelaksanaan
1.4.1 Waktu
Waktu melaksanakan prakerin ini adalah selama 7 bulan terhitung
mulai tanggal 12 Mei 2022 sampai 31 Desember 2022. Dengan jam kerja
efektif pukul 07.00 WIB sampai dengan pukul 18.00 WIB.

1.4.2 Tempat Pelaksaan

Tempat pelaksanaan prakerin yaitu di PT SOCFIN INDONESIA


Kebun Sei Liput yang terletak di Desa Kebun Sei Liput , Kecamatan
Kejuruan Muda, Kabupaten Aceh Tamiang, Provinsi Nanggroe Aceh
Darusalam

2
1.5. Ruang Lingkup

Prakerind (Praktik Kerja Industri) adalah kegiatan pendidikan,


pelatihan, dan pembelajaran yang dilaksanakan di dunia usaha atau di dunia
industri yang relevan dengan kompetensi (kemampuan) mahasiswa sesuai
bidangnya. Tujuan dari Prakerind tersebut yaitu meningkatkan kualitas,
kemampuan, dan wawasan dasar mahasiswa dalam menghadapi dunia
perindustrian.

Prakerind pada semester ini, mahasiswa diharapkan dapat memahami


mengenai keselamatan kerja, pengendalian kualitas, parameter mutu CPO,
sistem budaya kerja industri dan Amdal

3
BAB II
GAMBARAN UMUM

2.1 Sejarah Perusahaan

Sejarah PT Socfin Indonesia (Socfindo)


• Tahun 1909, Berawal dari pembentukan Badan Usaha Socfin SA
(Societe Financiare Des Caoutchoucs Societe Anonyme) di Belgia,
yang didirikan pada 1909 oleh Adrien Hallet dan M. Bunge. Pada
tahun yang sama, Hallet mulai membangun perkebunan karet di
Sumatera. Dan tahun 1911, Hallet mendirikan perkebunan kelapa
sawit pertama di Sei Liput, Pulau Raja dan Deli Muda, Indonesia.
• Tahun 1930, Badan Usaha Socfin Medan SA (Societe Financiare
Des Caoutchoucs Medan Societe Anonyme) dibentuk berdasarkan
akta notaris William Leo No.45 pada tanggal 7 Desember 1930.
• Tahun 1965, Socfin Medan SA dinasionalisasi oleh Pemerintah
Indonesia berdasarkan Penetapan Presiden RI No. 6 Tahun 1965.
• Tahun 1968, menjadi Perusahaan Patungan (Joint Venture) antara
Plantation Nord Sumatra SA (Grup Socfin SA) dengan Pemerintah
Republik Indonesia dengan nama PT Socfin Indonesia dengan
perbandingan kepemilikan saham sebagai berikut :

60 % Saham Plantation Nord Sumatra (PNS)

40 % Saham Pemerintah Republik Indonesia

4
• Tahun 2001, tepatnya tgl. 13 Desember 2001, sejalan dengan
Privatisasi beberapa BUMN oleh Pemerintah RI telah terjadi
Perubahan Kepemilikan Saham PT Socfindo sebagai berikut :

90 % Saham Plantation Nord Sumatera (PNS)

10 % Saham Pemerintah Republik Indonesia

Anggaran Dasar Perusahaan telah mengalami perubahan berdasarkan


Akte No. 10 tanggal13 September 2001 oleh Notaris Ny. R. Arie Soetarjo.
Mengenai perubahan pemegang saham dengan komposisi modal menjadi
90% pengusaha Belgia dan 10% Pemerintah Indonesia.

Sesuai dengan pasal 3 Anggaran Dasar Perusahaan, ruang lingkup


kegiatan perusahaanmeliputi hal sebagai berikut:

1. Mengusahakan perkebunan kelapa sawit, karet dan lain-


lain, tanaman sertapengolahannya.

2. Mengadakan rehabilitasi, perkebunan serta modernisasi


perkebunan dan pembibitan,instalasi dan alat-alatnya sampai taraf
yang mutahir.

3. Mendirikan dan mengusahakan perusahaan atau kehutanan.

4. Melakukan ekspor dan penjualan lokal hasil perkebunan dan


hasil hutan tersebutdiatas. Perkebunan

PT. Socfin Indonesia (Socfindo) yang berkedudukan di Medan memiliki


dua wilayah yangcukup luas yaitu berada di dua provinsi Sumatera Utara dan
Naggroe Aceh Darussalam.

1) Wilayah Sumatera Utara terdiri dari:

a. Kebun Mata Pao


b. Kebun Bangun Bandar

5
c. Kebun Tanjung Maria
d. Kebun Tanah Bersih
e. Kebun Lima Puluh

f. Kebun Tanah Gambus


g. Kebun Aek Loba
h. Kebun Aek Paminke
i. Kebun Halimbe
j. Kebun Negeri Lama
k. Kebun PSBB (Pusat Seleksi Bangun Bandar)

2. Wilayah Nanggroe Aceh Darussalam terdiri dari:

a. Kebun Seunagan
b. Kebun Seumanyam
c. Kebun Lae Butar
d. Kebun Sei Liput

Tanaman yang diusahakan oleh perusahaan ini ada dua jenis yaitu tanaman
karet dan tanaman kelapa sawit. Produk yang dihasilkan PT. Socfin
Indonesia (Socfindo) Medan terdiri dari:

a. Minyak Kelapa Sawit(MKS)


b. Inti Kelapa Sawit(IKS)
c. Serbuk Karet(SK)

6
2.2. Profil Perusahaan

PT. Socfin Indonesia (Socfindo) adalah bagian dari Socfin Group


dan merupakanperusahaan perkebunan kelapa sawit dan karet terkemuka
yang beroperasi di Provinsi Sumatera Utara dan Provinsi Aceh serta
berkantor pusat di Medan, Sumatera Utara, Indonesia. Selain produk
kelapa sawit dan karet, perusahaan menjual bahan tanam yang unggul serta
menyediakan layanan agronomi dan laboratorium analitik.

Perkebunan Sei Liput terletak di 2 kecamatan yaitu kecamatan


Kejuruan Muda dan Kecamatan Karang Baru, Kabupten Aceh Tamiang.
Kegiatan kebun adalah perkebunan kelapa sawit dan pengolah kelapa
sawit, salah satu unit perusahaan PT. Socfin Indonesia (Socfindo).
Kegiatan-kegiatan perkebunan tersebut di perkirakan menimbulkan
dampak terhadap lingkungan fisik kimia terutama linkungan perairan dan
sosial ekonomi masyarakat sekitar.

PT. Socfin Indonesia (Socfindo) yang berkantor pusat di kota Medan


memiliki pekebunan kelapa sawit dan karet di dua provinsi yaitu Provinsi
Sumatra Utara dan Aceh, luas areal kebun kelapa sawit untuk provinsi
Aceh = 17597 Ha.

Perkebunan Sei Liput terletak di Kecamatan Kejuruan Muda dan


Karang Baru ± 500km dari kota Banda Aceh. Pabrik pengolahan kelapa
sawit terdapat pada kebun Sei Liput. Kebun Sei Liput didirikan pada tahun
1922 dengan kapasitas pabrik olah 21 ton/jam. Pabrik tersebut beserta
sarana pendukung lainnya seperti kantor, perumahan staf, emplasment,
saranaolahraga, sarana peribadahan dan klinik berada pada satu areal dan
beralokasi di kebun

7
Tabel [Link] Umum Perusahaan
Nama Perusahaan PT Socfin Indonesia
Alamat Kantor Jl. Kol. Yos Sudarso No.106 Glugur, Kota, Kec. Medan Barat,
Pusat Medan Sumatra Utara
Alamat Tempat PT Socfindo Kebun Sei Liput Desa Kebun Sei Liput, Kec. Kejuruan Muda
PKL Kab. Aceh Tamiang
Bentuk Usaha Perseroan Terbatas (PT)

Pemilik Plantation Nord Sumatra (PNS) ,Belgia


Anak Perusahaan Kebun Sei Liput
Jumlah SDM 630 Orang
Peta Wilayah
Operasional Desa Kebun Sei Liput, Kec. Kejuruan Muda,Kab. Aceh Tamiang,Aceh

8
2.2.1. Logo Perusahaan

Gambar 2.2 Logo PT Socfindo 1

2.2.2. Visi dan Misi Perusahaan

[Link] Visi

Menjadi perusahaan industri perkebunan kelapa sawit dan karet kelas dunia
yang menghasilkan produk yang berkelanjutan dan efisien serta memberikan
keuntungan dan manfaat kepada pemegangsaham dan para pekerja serta dapat
diterima oleh masyarakat sekitar.

[Link] Misi

- Mengembangkan bisnis dan memberikan keuntungan bagipemegang


saham.
- Memberlakukan sistem manajemen yang mengacu pada standar
internasional dan acuan yang berlaku di bisnisnya.
- Menjalankan operasi dengan efisien dan hasil yang tertinggi (mutu
dan produktivitas) serta harga yang kompetitif.
- Menjadi tempat kerja pilihan bagi karyawannya, aman dansehat.
- Penggunaan sumber daya yang efisien dan minimalisasi limbah.
- Kehadiran perusahaan dirasakan manfaatnya bagi masyarakat di
sekitar wilayah operasional perusahaan

9
-

2.2.3. Luas dan Lokasi

Luas area pemanfaatan lahan pada perkebunan PT Socfindo Kebun


Sei Liput adalah:

➢ Areal Kebun Kelapa Sawit = 3.681,49 Ha,


➢ terbagi dalam empat divisi yaitu : divisi I, divisiII, divisi III,
divisi IV.
➢ Emplasmen = 34,42 Ha
➢ Pembibitan = 1,00 Ha
➢ Kolam Limbah = 2,15 Ha
➢ Dan Lain – lain = 10,45 Ha

Perkiraan umur kegiatan perkebunan yang telah dan sedang di laksanakan


secarakeseluruhan ± 25 tahun (1 siklus tanaman)
➢ Batas Wilayah

Batas wilayah rencana pengolahan lingkungan perkebunan Sei


Liput serta pabrik pengolahan adalah kebun – kebun dan daerah
sekitarnya yang diperkirakan terkena dampak karena adanya
kegiatan perkebunan kelapa sawit dan pengolahan. Batas wilayah
ditentukan dengan memperhatikan batas daerah kegitan, batas
wilayah administrative, batas ekologi dan rencana umum tata ruang
wilayah yang bersangkutan.

➢ Batas Daerah Kegiatan

Batas Perkebunan PT Socfindo Kebun Sei Liput adalah sebagi


berikut:

• Sebelah utara berbatasan dengan Sungai Tamiang dan Desa Selawi.


• Sebelah selatan berbatasan dengan Desa Pekan Sei Liput dan

10
perumahan karyawanPT. Socfin Indonesia (Socfindo) Kebun Sei
Liput.
• Sebelah timur berbatasan dengan Desa Tualang.
➢ Batas Wilayah Administratif
Batas Administratif wilayah di tetapkan terdasarkan pertimbangan
tata administrative lokasi kegiatan sosial, ekonomi, budaya
masyarakat sekitar perkebunan desa desa yang diperkirakan akan
menerima dampak secara langsung maupun tidak langsung terletak
pada Kecamatan Kejuruan Muda dan Karang Baru.

Gambar 2.1 Peta PT Socfindo 1

11
2.2.4 Izin dan Sertifikasi
• Izin sebagai produsen benih dari pemerintah : SK Menteri
Pertanian RI No. KB.320/261/KPTS/1984, tanggal 07 Mei 1984
• Izin tersebut diperkuat dengan izin dari Pemerintah R.I cq.
Kementrian Pertanian tentang pelepasan varietas tanaman kelapa
sawit DxP Unggul Socfindo:
➢ DxP Socfindo (L) : SK MENTAN NO.
440/KPTS/LB.320/7
/2004 Tanggal 22 Juli 2004.
➢ DxP Socfindo (Y) : SK MENTAN NO.
441/KPTS/LB.320/7
/2004 Tanggal 22 Juli 2004
➢ DxP Socfindo MT Gano : SK MENTAN NO.
4569/Kpts/SP.120/8
/2013 tanggal 12 Agustus 2013.

• Sertifikasi Laboratorium Penguji untuk Lab. Analitik dari Komite


Akreditasi Nasional (KAN) dengan Nomor LP-905-IDN.

12
2.3 Kegiatan Perusahaan

2.3.1. Bisnis Perusahaan

• Perkebunan dan Pabrik


Minyak Kelapa Sawit (POM)
dengan total kapasitas 220
Ton/Jam
• Pabrik Minyak Inti Sawit
(PKOF)
• Pabrik pemurnian minyak
sawit dengan kapasitas 320
Ton / hari
• Perkebunan karet dengan 2
pabrik Crumb Rubber dengan
Total kapasitas 4 Ton / Jam
• Produksi kecambah DxP
Unggul Socfindo dengan total
kapasitas 50 juta kecambah
per tahun.
• Laboratorium Analitik dan
Kultur Jaringan Pembibitan
Sawit Pre Nursery

13
2.3.2 Socfindo Seed Production and Laboratories (SSPL)

▪ Socfindo Seed Production and Laboratories (SSPL) merupakan


Pusat Penelitian, pengembangan, produksi kecambah dan penyedia
jasa Laboratorium Analitik. Laboratorium ini dibangun dengan
tujuan untuk melayani kebutuhan internal perusahaan dan juga
pihak eksternal.
▪ Dalam menghasilkan benih unggul kelapa sawit, Socfindo telah
mulai melakukan penelitian pemuliaan tanaman untuk
menghasilkan benih kelapa sawit sejak tahun 1913. Pada tahun
1984, PT Socfindo ditunjuk sebagai produsen benih kelapa sawit
untuk mensuplai kebutuhan benih nasional. Sejak 2004 telah
mendapat izin melepaskan 2 varietas benih Unggul kelapa sawit
(DxP Socfindo Lame dan DxP Socfindo Yangambi), selanjutnya
pada tahun 2013, mendapat izin untuk melepaskan varietas DxP
Socfindo MT Gano.

14
▪ Produksi benih DxP Socfindo bersumber dari 2 kebun induk yang
terletak di Kebun Aek Loba dan Kebun Bangun Bandar, dimana
Proses produksi dilakukan di Pusat Seleksi Bangun Bandar
Kecamatan Dolok Masihul Kabupaten Serdang Bedagai dengan
total kapasitas produksi 50 juta kecambah per tahun.
▪ Laboratorium Analitik memberikan layanan :
➢ Jasa Konsultasi :
1. Rekomendasi pemupukan
2. Rekomendasi stimulasi dan Penentuan Panel management
➢ Jasa Analisa :
1. Analisa daun
2. Analisa tanah dan kompos
3. Analisa pupuk
4. Latex diagnosis

2.3.3 Aliran Proses Produksi

Aliran proses produksi dibagi menjadi 2 yaitu :


• Aliran proses produksi Ctude Palm Oil (LAMPIRAN 1)
1. Proses produksi CPO dimulai dari penimbangan TBS (Tandan
Buah Segar) pada stasiun penimbangan (Weigh Bridge). TBS
yang sudah ditimbang akan dimasukkan ke Loading Ramp dan
disortasi. Dari Loading Ramp, TBS akan dibawa
menggunakan FFB (Fresh Fruit Bunch) Scrapper Conveyor
Inclined dan FFB Scrapper Conveyor Horizontal, menuju ke
Vertical Sterilizer untuk melakukan perebusan selama 75
menit.
2. TBS yang sudah direbus akan memasuki stasiun penebahan
dengan bantuan alat transportasi Scrapper Bunch Conveyor,
TBS akan dipisahkan antara berondolan dengan janjangan
menggunakan Thresser. Janjangan yang sudah terpisah akan

15
dibawa menuju Empty Bunch Hooper menggunakan Empty
Bunch Conveyor, sedangkan berondolan akan dibawa menuju
Digester menggunakan Fruitless Elevator dan Conveyor To
Digester.
3. Berondolan akan masuk pada stasiun pengempaan.
Berondolan yang sudah dipisahkan dari janjangannya akan
dilumatkan di Digester dengan bantuan mata pisau serta Steam
yang diinputkan ke dalam Digester. Berondolan yang sudah
dilumatkan selanjutnya akan dipress menggunakan Screw
Press hingga akan terpisah antara minyak dengan ampas
(Fibre + biji).
4. Minyak akan disaring terlebih dahulu pada Oil Vibrating
Screen untuk menyaring ampas yang masih terbawa pada
minyak, selanjutnya akan dimasukkan ke dalam Crude Oil
Tank. Dari Crude Oil Tank, minyak akan masuk ke stasiun
Klarifikasi, dimulai dari Continious Tank minyak akan
diendapkan terlebih dahulu dengan bantuan Steam, sehingga
akan terpisah antara Sludge dengan minyak. Sludge akan
masuk ke Sludge Tank,
5. Pada Sludge Tank, Sludge akan diinputkan kedalam Balance
Tank sebagai tanki umpan Decanter, selanjutnya dari Balance
Tank Sludge akan dimasukkan menuju Decanter. Pada
Decanter Sludge akan dipisahkan dari 3 fasa, yaitu minyak, air
dan solid, dimana minyak akan dimasukkan kedalam Oil
Collecting Tank, air akan dimasukkan ke dalam bak
Decantasi, dan solid akan dimasukkan ke Solid Hopper
6. Minyak dari Oil Tank akan masuk ke Oil Vacum Dryer untuk
di hilangkan kandungan air yang masih terkandung dalam
minyak. Selanjutnya minyak akan dimasukkan ke Daily Tank
dan Stock Tank.

16
• Aliran Proses Produksi Palm Kernel (LAMPIRAN 2)
1. Pada produksi Palm Kernel, biji dimulai dari Output Screw
Press dan akan dipisahkan dari ampas (fibre+biji). Biji akan
dibawa ke Fibre Blower menggunakan Cake Breaker
Conveyor. Selanjutnya Fibre akan terhisap menuju ke Boiler,
sedangkan biji akan diteruskan menuju Deprericarper agar
terpisah dari Fibre, dan dengan menggunakan Wet Nut
Elevator biji akan dimasukkan ke dalam Nut Silo. Dari Nut
Silo, biji akan dibawa dengan Dry Nut Conveyor menuju
Ripple Mill, pada Ripple Mill biji akan dipecahkan dan akan
keluar berupa cangkang, biji bulat, biji pecah, inti bulat, dan
inti pecah.
2. Output Ripple Mill selanjutnya akan dimasukkan ke Moder
bak (Clay Bath) dengan menggunakan Mixture Conveyor.
Sebelum masuk ke Moder Bak, kernel akan melalui Winowing
Separator yang dibantu dengan hisapan Blower. Cangkang
yang lebih ringan akan terhisap ke atas menuju Shell Bin,
sedangkan kernel akan masuk ke Moder bak.
3. Kernel yang sudah keluar dari Moder Bak (kernel basah) akan
masuk menujuVibrating Kernel untuk diayak agar cangkang
yang terbawa akan jatuh kebawah dan kernel akan tertahan di
Vibrating kernel. Kernel basah akan dibawa ke kernel Dryer
menggunakan Pneumatic Wet Kernel untuk dikeringkan.
Kernel kering akan dibawa dengan Pneumatic Transport
Kernel menuju ke Kernel Bin.

2.4. Struktur perusahaan

Struktur Organisasi Perusahaan PT Socfindo Kebun Sei Liput


merupakan unit usaha dari PT Socfindo (Lampiran 3)

17
2.4.1 Uraian Pekerjaan

Adapun uraian tugas dan tanggung jawab pada PT Socfindo Kebun


SeiLiput yaitu sebagai berikut :

Tabel 2.1 Uraian Pekerjaan pada PT Socfindo Kebun Sei Liput

1. Mereview dan memastikan penyusunan anggaran tahunan


telah sesuai dengan instruksi.

2. Memutuskan rencana kerja tahunan kebun berdasarkan


anggaran tahunan.

3. Memonitor dan memastikan Briefing/ antrian pagi telah


dilaksanakan setiap pagi oleh Asisten Divisi.

4. Bertanggung jawab atas kelancaran seluruh kegiatan teknis


pada setiap divisi dan aspek di kebun sesuai rencana dan
instruksi kerja serta mengambil keputusan untuk tujuan
1 Pengurus Kebun kemajuan kuantitas dan kualitas produksi, efisiensi dan
efektifitas pekerjaan di lapangan.

5. Bertanggung jawab dalam kebenaran data dan kelengkapan


administrasi di kebun serta terlaksana sesuai ketentuan,
segera menelusuri/ verifikasi jikaditemukan kejanggalan.

6. Memastikan kelengkapan persyaratan dan perizinan


perusahaan terkait kegiatan di kebun.

7. Memastikan kegiatan penjagaan keamanan di kebun telah


maksimal dilakukan, mencakup bekerja sama dengan pihak
ketiga.

18
1. Mengatur, menangani, dan mensupervisi bawahan dalam
pelaksanaan administrasi atau pembuatan laporan terkait
keuangan kebun.

2. Bertanggungjawab terhadap kebenaran/ kesesuaian laporan


neraca, tata buku, perkiraan transitoris, Compte Capital,
Cost Analysis, dan Cost Center.

2 KTU 3. Membuat laporan permintaan uang bulanan dan laporan


Cash Flow (penerimaan dan pengeluaran uang) kebun.

4. Mereview laporan persentase lembur, laporan Stock


gudang, laporan penerimaan pupuk, debet nota/ kredit nota,
baki kebun sepupu, laporan pajak, daftar hutang pegawai/
karyawan jamsostek.

5. Bertanggung jawab terhadap buku kas kebun beserta bukti


– bukti pendukung kas.
Melayani/ menerima tamu/ pihak ketiga sesuai instruks
pengurus kebun.

7. Mewakili pengurus kebun koordinasi/ komunikasi


dengan pemerintah daerah maupun swasta.

8. Mengumpulkan data – data untuk penyusunan anggaran


biaya kebun.

9. Menerapkan Sistem Manajemen Socfindo dilingkup


kerjanya.

10. Melakukan pekerjaan lain sesuai instruksi atasani

19
1. Merekapitulasi, mereview, dan melengkapi anggaran/
Budget dan pekerjaan Compte Capital dalam lingkungan
pabrik.

2. Membuat rencana kerja per triwulan dan mereview rencana


kerja harian tekniker 2.

3. Memonitor, memastikan dan mengevaluasi seluruh


kegiatan dan aspek di pabrik, termasuk: Biaya,
Kedisiplinan (termasuk pekerja pihak ketiga), Mutu bahan
baku, Proses pengolahan MKS/ IKS, Penggunaan dan
perawatan alat kerja, alat berat, dan mesin mesin di pabrik,
Pelaksanaan, kemajuan dan hasil kerja (kualitas dan
kuantitas), Transportasi dan perawatannya, Pengiriman
produksi (pengapalan MKS, transport IKS dan MKS), Dan
3 Tekniker 1 kegiatan/ aspek lainnya berjalan dengan baik sesuai dengan
rencama dan IK(Intruksi Kerja)/PSM(Prosedur Sistem
Manajemen).

4. Memonitor, memeriksa dan memastikan kegiatan –


kegiatan dibawah ini, di Factory terlaksana dengan baik
dan sesuai dengan ketentuan: Administrasi Afdelling.

5. Memastikan keamanan di pabrik dengan bekerja sama


dengan pihak ketiga.

6. Membina dan menjaga hubungan sosial yang baik dengan


masyarakat dan instansi pihak ketiga.

7. Memeriksa stok barang – barang terkait pabrik di gudang


material setiap bulan. Memonitor dan melakukan
penyelesaian setiap masalah yang terjadi di pabrik (dalam
batas wewenang/ otorisasi tekniker 1).

20
8. Membimbing, mengawasi, dan mengevaluasi kinerja serta
pekerjaan tekniker 2 dan pekerja di pabrik.

9. Mereview rencana pelatihan dan mengevaluasi hasil


pelatihan.

10. Melakukan evaluasi pemenuhan peraturan dan


persyaratan pemerintah lainnya.

11. Memastikan/ memonitor pelaksanaan pekerjaan oleh


pihak ketiga sudah sesuai kontrak/ kesepakatan.

12. Mengevaluasi dan menganalisa aktivitas di pabrik serta

1. Menyusun anggaran/ Budget dan pekerjaan Compte Capital


dalam lingkup pabrik sesuai instruksi.

2. Membuat rencana kerja harian, mingguan, dan bulanan.

3. Mengontrol, mengawasi, dan mengevaluasi seluruh


kegiatan dan aspek di pabrik termasuk: Biaya, Kedisiplinan
(termasuk pekerja pihak ketiga), Mutu bahan baku, Proses
pengolahan MKS/ IKS, Penggunaan dan perawatan alat

4 Tekniker II kerja, alat berat, dan mesin mesin di pabrik, Pelaksanaan,


kemajuan dan hasil kerja (kualitas dan kuantitas),
Transportasi dan perawatannya, Pengiriman produksi
(pengapalan MKS, transport IKS dan MKS), Dan kegiatan/
aspek lainnya berjalan dengan baik sesuai dengan rencama
dan IK/PSM.

4. Mengatur, memonitor, dan memeriksa administrasi di


pabrik terlaksana sesuai ketentuan serta menelusuri/
verifikasi jika ditemukan kejanggalan.

21
5. Memonitor keamanan di pabrik dengan bekerja sama
dengan pihak ketiga (jika perlu).

6. Membina dan menjaga hubungan sosial yang baik dengan


masyarakat dan instansi pihak ketiga.

7. Mendistribusikan gaji pekerja di pabrik.

8. Melakukan investigasi kecelakaan kerja.

9. Membuat pesanan barang dan alat – alat kebutuhan pabrik.

10. Memeriksa stok barang – barang terkait pabrik di gudang


material seminggu sekali.

11. Melaporkan ke Tekniker 1 segala sesuatu/ kondisi yang


terjadi di pabrik dan pekerjaan Compte Capital setiap saat.

12. Menyelesaikan setiap masalah yang terjadi di pabrik


(dalam batas wewenang/ otorisasi Tekniker 2).

13. Membimbing, mengawasi dan mengevaluasi kinerja


pekerja di pabrik.

14. Membuat rencana pelatihan dan mengevaluasi hasil


pelatihan.

15. Melaksanakan hal – hal terkait pemenuhan peraturan


dan persyaratan pemerintah lainnya.

16. Mengawasi pelaksanaan pekerjaan oleh pihak ketigasudah


sesuai kontrak/ kesepakatan.

17. Menerapkan, mengontrol, dan memonitor pelaksanaan


Sistem Manajemen Socfindo di pabrik.

Melakukan pekerjaan lain terkait kepentingan


perusahaan sesuai dengan instruksi atasan.

22
1. Menginput dan memproses hasil Sounding MKS dan IKS
setiap hari di sistem Harvest.

2. melaporkan data-data produksi ke bahagian teknologi dan


bahagian terkait lainnya.

3. Membuat berita acara pemeriksaan persedian MKS dan


IKS akhir bulan.

4. Membuat laporan produksi bulanan dan tahunan


kemudian meneruskan ke bahagian terkait.

5 Krani I Pabrik 5. Memonitor biaya pengolahan dan melaporkan jika ada


kejanggalan.

6. Mengetik dan menyimpan surat-surat pabrik.

7. Memeriksa dan memonitor hasil input data Workshop.

8. Membantu Tekniker membuat Budget.

9. menerapkan sistem Manajemen Socfindo dilingkup


kerjanya.

10. Melakukan pekerjaan lain untuk kepentingan


peusahaan sesuai dengan instruksi atasan.

1. Menghadiri antrian pagi dan mendengarkan instruksi kerja


harian.

2. Mencatat kehadiran semua pekerja, jenis pekerjaan, dan

Krani Payroll output kerja harian di Afdeling kemudian memasukkan data


6
Afdelling – data tersebut kedalam sistem Harvest.

3. Mencatat pemakaian bahan untuk lapangan.

4. Melengkapi laporan kegiatan bulanan OP/ OPR.

23
5. Membuat daftar penerima premi dan jumlah premi sesuai
ketentuan, menyerahkan ke Asisten untuk diverifikasi dan
memasukkan data premi pekerja ke sistem Harvest.

6. Melayani pekerja yang akan mengambil hak – hak normatif


sesuai PKB.

7. Memeriksa kebenaran perhitungan THR dan bonus pekerja

8. Membuat daftar hutang pekerjMencetak slip gaji


dan membantu Asistenmendistribusikan gaji ke pekerja.

9. Mengambil dan mendistribusikan catu beras ke pekerja

10. Membuat laporan Mensuel Afdeling.

11. Membuat laporan prestasi kerja dan kartu stok harian

1. Mengatur kerja dan mengawasi aktivitas kerja pekerja


bengkel transpor sesuai dengan Work Order

2. Mengisi laporan pekerjaan di Work Order dan

Mandor melaporkan ke Tekniker


7 Bengkel 3. Meminta Spare Part ke gudang sesuai keperluan perbaikan
Transpor atau perawatan

4. Mencatat kehadiran dan lembur pekerja bengkel transpo

5. Berkonsultasi dengan Tekniker jika dalam menyelesaikan


permasalahan saat perawatan dan perbaikan

1. Mengatur kerja dan mengawasi aktivitas kerja pekerja


bengkel umum sesuai dengan Work Order
Mandor
8 2. Mengisi laporan pekerjaan di Work Order dan
Bengkel Umum
melaporkan ke Tekniker

3. Meminta Spare Part ke gudang sesuai keperluan perbaikan

24
atau perawatan

4. Mencatat kehadiran dan lembur pekerja bengkel umum

5. Berkonsultasi dengan Tekniker jika dalam

Menyelesaikan permasalahan saat perawatan dan perbaikan

1. Mengatur tenaga kerja dan bahan baku serta alat bantu


untuk proses pengolahan TBS dalam keadaan cukup dan
baik

2. Mengawasi dan mengontrol jalannya proses pengolahan


disetiap Station di Pabrik berjalan dengan lancar sesuai
IK/PSM

3. Melakukan tindakan yang diperlukan bila terjadi ketidak


sesuaian dalam proses pengolahan dan melaporkan kepada
Mandor
Tekniker jaga atas tindakan yang telah dilakukan untuk
9 Pengolahan
mengatasi ketidak sesuaian yang terjadi
MKS
4. Mengawasi pembersihan alat-alat, mesin dan lingkungan
kerja

5. Mengabsen kehadiran pekerja MKS dan mencatat lembur


harian pekerja MKS

6. Menerapkan Sistem Manajemen Socfindo dilingkup


Kerjanya

7. Melakukan pekerjaan lain untuk kepentingan perusahaan


sesuai dengan instruksi atasan.

25
1. Mengatur tenaga kerja dan bahan baku serta alat bantu
untuk proses pengolahan IKS dalam keadaan cukup dan
baik

2. Mengawasi dan mengontrol jalannya proses pengolahan


disetiap Station di Pabrik berjalan dengan lancar sesuai
IK/PSM

3. Melakukan tindakan yang diperlukan bila terjadi ketidak


sesuaian dalam proses pengolahan dan melaporkan kepada
Tekniker jaga atas tindakan yang telah dilakukan untuk
mengatasi ketidak sesuaian yang terjadi
Mandor
10
Pengolahan IKS 4. Mengawasi pembersihan alat-alat, mesin dan lingkungan
kerja

5. Mengatur dan memonitor proses pada Nut Silo, kernel


Dryer dan kernel Bin

6. Mengabsen kehadiran pekerja IKS dan mencatat lembur


harian pekerja IKS

7. Menerapkan Sistem Manajemen Socfindo dilingkup


kerjanya

Melakukan pekerjaan lain untuk kepentingan perusahaan


sesuai dengan instruksi atasan.

1. Bersama – sama dengan Analis Laboratorium dan divisi


Ekspedisi melakukan proses pengukuran volume/Sounding
Kepala CPO setiap pagi.
11
Laboratorium 2. Memastikan metode analisa produksi telah dipahami dan
mampu dilaksanakan oleh Analis Laboratorium.

3. Mengarahkan, mengontrol, dan memonitor aktivitas

26
pemeriksaan/ analisa kualitas produksi sesuai dengan IK.

4. Mengontrol dan memastikan bahwa alat ukur yang


digunakan telah dikalibrasi/ verifikasi.

5. Memastikan areal laboratorium dan lingkungannya dalam


keadaan bersih, rapi, dan aman untuk bekerja serta limbah
dikelola sesuai dengan IK/ PSM.

6. Memeriksa dan memaraf semua hasil analisa di


laboratorium, apabila ditemukan ketidaksesuaian pada
hasil, menginstruksikan analisa ulang dan melaporkan
hasilnya ke Tekniker.

7. Mengisi daftar lembur pekerja serta memeriksa dan


memarafkan lembur harian.
Membuat jadwal Shift dan memonitor absensi analis
laboratorium serta melaporkan ketidakhadiran.

9. Memonitor dan mengontrol pemakaian bahan dan alat


laboratorium agar siap pakai serta membuat permintaan
akan kebutuhan bahan dan alat kerja di laboratorium.

10. Menginput data laporan hasil kerja laboratorium per-


Shift ke bagian terkait.

11. Menerapkan Sistem Manajemen Socfindo di lingkup


kerjanya.

12. Melakukan pekerjaan lain sesuai dengan instruksi atasan.

27
2.5. Tujuan dan Fungsi Perusahaan

Pembangunan perkebunan PT. Socfin Indonesia (Socfindo)


bertujuan untuk memanfaatkan potensi sumber daya alam, mendukung
pembangunan perekonomian nasional melalui peningkatan ekspor di sektor
non migas, membuka kesempatan kerja bagi masyarakat sekitar dan
mendorong pembangunan wilayah serta memberikan keuntungan bagi
pemerintah daerah melalui pemasukan pajak. Pemanfaatan potensi sumber
daya alam secara bijak di intregasikan dengan upaya melestarikan
kemampuan lingkungan hidup yang sesuai dengan seimbang guna
menunjang pembangunan yang berlanjut dan berkesinambungan,
dilaksanakan dengan kebijaksanaan terpadu dan menyeluruh serta
mempertimbangkan kebutuhan generasi sekarang dan mendatang.
Perkebunan kelapa sawit merupakan milik PT. Socfin Indonesia (Socfindo)
Kebun Sei Liput yang tersebar pada beberapa lokasi perkebunan di
kecamatan Kejuruan Muda dan Kecamatan Karang Baru, jenis tanaman yang
dikelola adalah kelapa sawit. Bentuk pemeliharaan adalah Perkebunan
Swasta Asing (PMA) dengan sistem dan pola perkebunan besar murni, dan
dikelola sejak tahun 1922.

28
BAB III
PROSES PRODUKSI
3.1 Bahan Baku
Bahan baku yang digunakan oleh Pabrik Kelapa Sawit (PKS) yang di
Desa Sei Liput PT Socfin Indonesia Kebun Sei Liput merupakan hasil dari
kebun milik sendiri. Bahan baku yang digunakan berupa Tandan Buah Segar
(TBS) yang diperoleh dari pohon kelapa sawit yang telah berusia lebih dari 3
tahun.

Gambar 3.1 Jenis Tanaman Kelapa Sawit


Terdapat beberapa varietas tanaman kelapa sawit yang umumnya
dikenal di Indonesia, diantaranya Dura, Tenera dan Pesifera. Dura memiliki
cangkang yang tebalantara 2-8 mm dan daging buah yang tipis serta inti yang
besar dengan nilai ekstraksi minyak yang rendah berkisar 17-18%. Pisifera
dapat dikatakan tidak memilikicangkang (karena terlalu tipis) namun
memiliki daging buah yang sangat tebal yaknimencapai 27-30%. Tenera
merupakan varietas hasil persilangan antara dura dan pisifera. Cangkangnya
memiliki tebal 0-5,4 mm dan daging buah 60-90% dan nilai ekstraksi minyak
yang tinggi antara 23-26%. Varietas ini merupakan varietas yang paling
banyak dibudidayakan saat ini.

29
Varietas tanaman kelapa sawit yang dibudidayakan di perkebunan
Desa Sei Liput PT Socfin Indonesia Kebun Sei Liput adalah varietas Tenera.
Mutu dan rendemen hasil pengolahan sangat dipengaruhi oleh fraksi panen
(derajat kematangan), pengutipan brondolan dan perlakuan terhadap TBS.
3.2 Proses Produksi Crude Palm Oil (CPO) dan Palm Kernel (PK)
Proses pengolahan kelapa sawit merupakan faktor utama dalam
menentukan kualitas produk yang nantinya akan dihasilkan di suatu Pabrik
Kelapa Sawit (PKS). Produk utama yang dihasilkan di PT Socfin Indonesia
Kebun Sei Liput adalah CrudePalm Oil (CPO) dan Palm Kernel (PK). Bahan
baku yang digunakan berupa Tandan Buah Segar (TBS) diperoleh dari kebun
milik sendiri. PT Socfin Indonesia Kebun Sei Liput menggunakan TBS jenis
Tenera. Tenera memiliki komposisi cangkang yang tipis, daging buah yang
tebal dan inti yang besar. Bagian daging buah (Mesocarp) akan menjadi
Crude Palm Oil (CPO) dan inti sawit akan menjadi Palm Kernel (PK) untuk
diproses lebih lanjut. Proses pengolahan TBS sampai menjadi Crude Palm
Oil (CPO) dan Palm Kernel (PK) di PT Socfin Indonesia Kebun Sei Liput
terdiri atas beberapa tahapan proses.
Berikut ini adalah alat-alat yang digunakan pada proses pengolahan
TBS di PT Socfin Indonesia (SOCFINDO) Kebun Sungai Liput, yaitu :
3.2.1. STASIUN PENERIMAAN TANDAN BUAH SEGAR (TBS)
1. Timbangan TBS (Weight Bridge)
Proses pengolahan dimulai dari penimbangan buah, bertujuan untuk
mengetahui jumlah TBS yang akan diolah, dan berat TBS rata-rata. Dari
penimbangan juga dapat diketahui berapa besar jumlah produksi TBS yang
dicapai dari setiap afdeling. Pada PT Socfin Indonesia Kebun Sungai Liput
terdapat 2 unit Timbangan dengan masingmasingberkapasitas 30 ton dan 40
ton. Timbangan yang berkapasitas 40 ton menggunakan sistem Indicator
Display (dengan pengendalian di dalam operator).

30
Gambar 3.2. Jembatan Timbangan
2. Loading Ramp
Buah yang telah ditimbang dikirim ke Loading Ramp (tuangan buah).
Fungsi dari Loading Ramp adalah sebagai tempat penampungan TBS, tempat
mensortasi TBS,memudahkan masuknya TBS kedalam Conveyor dan untuk
memisahkan kotoran yangmenempel pada buah kelapa sawit seperti pasir,
tanah, dan sampah yang terbawa darikebun sehingga dapat mengurangi kadar
kotoran yang terdapat pada buah sawittersebut. Oleh karena itu pada stasiun
ini, lantai dipasang kisi-kisi besi (Ramp) yangberfungsi untuk memudahkan
terpisahnya kotoran (seperti pasir, tanah, dan sampah)dari TBS. Lantai atas
Loading Ramp memiliki kemiringan berkisar 28° dengan jarakantar kisi
sebesar 1 cm. Pada PT Socfin Indonesia Kebun Sungai Liput memiliki pintu
Loading Ramp untuk menampung TBS sebelum disalurkan ke FFB Incline
Conveyor.

31
Gambar 3.3 Loading Ramp
3. Fresh Fruit Bunch (FFB) Incline Conveyor
FFB Incline Conveyor adalah alat yang berfungsi untuk memuat dan
mendistribusikan TBS dari Loading Ramp ke FFB Scrapper Conveyor. Pada
PT Socfin Indonesia Kebun Sungai Liput memiliki 2 unit FFB Incline
Conveyor.

Gambar 3.4 FFB Incline Conveyor yang berisi TBS


4. Fresh Fruit Bunch (FFB) Scrapper Conveyor
FFB Scrapper Conveyor merupakan alat yang digunakan untuk

32
mendistribusikan TBS ke dalam Sterilizer setelah dari FFB Incline Conveyor.
PadaPT Socfin Indonesia Kebun Sungai Liput memiliki 2 unit FFB Incline
Conveyor dengan jenis horizontal.

Gambar 3.5 FFB Scrapper Conveyor


3.2.2. STASIUN PEREBUSAN (STERILIZER STATION)
1. Sterilizer
Sterilizer atau perebusan adalah tahapan pertama dari tingkat
pengolahan kelapa sawit. Tujuan dilakukannya tahap perebusan yaitu :
a. Menghentikan aktivitas enzim
Tandan buah segar yang dipanen terdapat enzim Oksidase dan Lipase
yang bersifat merugikan dan akan tetap bekerja dalam buah sebelum
enzim itu dihentikan, enzim tersebut dapat dihentikan dengan cara
fisika dan kimia. Cara fisika yaitu dengan cara pemanasan pada suhu
yang dapat mendegradasi protein. Enzim Lipase bertindak sebagai
katalisator dalam pembentukan trigliserida dan kemudian
memecahkan kembali menjadi Asam Lemak Bebas (ALB). Aktivitas
enzim semakin tinggi apabila buah mengalami kememaran (luka).

33
Untuk mengurangi aktivitas enzim diusahakan agar kememaran buah
dalam persentase yang relatif kecil. Enzim pada umumnya tidak aktif
lagi pada suhu 50°C, oleh sebab itu perebusan pada suhu 140°C akan
menghentikan kinerja enzim.
b. Melepaskan buah dari spiklet
Minyak dan inti sawit yang terdapat dalam buah berfungsi untuk
mempermudah, buah agar dapat dilepaskan dari spiklet. Buah dapat
terlepas dari spiklet melalui cara Hidrolisis Hemiselulosa dan pektin
yang terdapat pada pangkal buah. Hidrolisis dengan reaksi biokimia
telah terjadi sebagian di lapangan yaitu pada proses pemasakan buah
yang ditandai dengan buah yang brondol. Reaksi Hidrolisis
Hemiselulosa dan Pektin yang terdapat dalam sterilizer dipercepat
oleh pemanasan. Panas uap tersebut dapat meresap ke dalam buah
karena adanya tekanan.
c. Menurunkan kadar air
Sterilisasi buah dapat menyebabkan penurunan kadar air buah dan
inti yaitu dengan cara penguapan pada saat perebusan. Penurunan
kandungan air buah menyebabkan penyusutan buah sehingga
terbentuk rongga-rongga kosong yang mempermudah proses
pengempaan. Interaksi penurunan kadar air dan panas dalam buah
akan menyebabkan minyak sawit antara sel dapat bersatu dan
mempunyai viskositas yang rendah sehingga mudah keluar dari dalam
sel sewaktu proses pengempaan berlangsung.

34
d. Pemecahan emulsi
Minyak dalam pericarp berbentuk emulsi dapat lebih mudah keluar
dari sel jika berubah dari fase emulsi menjadi minyak. Perubahan ini
terjadi dengan bantuan pemanasan, yang mengakibatkan
penggabungan fraksi yang memiliki polaritas yang sama dan
berdekatan, sehingga minyak dan air masing-masing terpisah.
Peristiwa ini akan mempermudah minyak keluar dari pericarp.
Penetrasi uap yang sempurna pada pericarp, terutama pada buah yang
paling dalam, akan mempertinggi efisiensi ekstraksi minyak.
e. Membantu proses pelepasan inti dari cangkang
Perebusan yang sempurna akan menurunkan kadar air biji hingga
15%. Kadar air biji yang turun hingga 15% akan menyebabkan inti
susut sedangkan tempurung biji tetap, maka inti terjadi inti yang
lekang dari cangkang. Hal ini akan membantu fermentasi di dalam nut
silo, sehingga pemecahan biji dapat berlangsung dengan baik,
demikian juga pemisahan inti dan cangkang dalam proses pemisahan
kering atau basah dapat menghasilkan inti yang mengandung kotoran
lebih kecil. Uap (steam) yang digunakan untuk perebusan ini disuplai
dari boiler yang kemudian disalurkan kedalam sterilizer
menggunakan pipa. Pola perebusan yang umum digunakan ada dua
yaitu double peak (dua puncak) dan triple peak (tiga puncak). Jumlah
puncak dalam pola perebusan ditunjukkan dari jumlah pembukaan
atau penutupan dari uap masuk atau uap keluar. Adapun sistem
perebusan yang digunakan pada PT. Socfin Indonesia Kebun Sungai
Liput menggunakan sistem perebusan Tiga Puncak (Triple Peak)
dapat dilihat pada Gambar berikut ini:

35
Gambar 3.6 Sistem perebusan tiga puncak
Prinsip dari Triple Peak adalah tiga kali pemasukan uap kedalam
Sterilizer dan tiga kali pembuangan uap (Blow Down). Dengan memerlukan
waktu pada puncak pertama dan kedua masing-masing 2 menit dan pada
puncak ketiga memerlukan waktu 45 menit. PT. Socfin Indonesia Kebun
Sungai Liput memiliki 15 unit Sterilizer jenis vertikal.

Gambar 3.7 Sterilizer

36
2. Scraper Bunch Conveyor No.1 dan No.2
Setelah buah kelapa sawit direbus pada sterilizer lalu buah kelapa
sawit tersebut dikeluarkan secara manual oleh operator dan kemudian
didistribusikan melalui Scrapper Bunch Conveyor. Adapun fungsi dari
scrapper bunch conveyor adalah untuk mendistribusikan TBS masak ke
Stripper. Buah kelapa sawit pertama akan melewati Scraper Bunch Conveyor
No.1 yang berbentuk horizontal dan akan melewati Scraper Bunch Conveyor
No.2 yang bergerak secara miring.

Gambar 3.8 Scrapper Bunch Conveyor


3.2.3. STASIUN PENEBAHAN (THRESHING STATION)
1. Stripper
Stripper atau sering disebut juga Thresser terletak pada Stasiun
Pemipilan
dimana tandan yang masih berisi brondol akan terpisah dari tandannya. Lalu
tandan tersebut akan didistribusikan melalui Conveyor Empty Bunch menuju
Empty Bunch Hopper, sedangkan brondolan akan jatuh di Conveyor Under

37
Stripper untuk dibawa ke Stasiun Pengepressan. Berikut dapat dilihat gambar
Thresser (Stripper) pada PT Socfin Indonesia Kebun Sungai Liput .

Gambar 3.9 Stripper (Thresser)


2. Empty Bunch Conveyor No.1 dan No.2
Empty Bunch Conveyor berfungsi untuk menyalurkan tandan kosong
ke Empty Bunch Hopper lalu untuk selanjutnya Tandan Kosong akan di bawa
ke perkebunan sebagai aplikasi pemupukan lapangan. Pada PT Socfin
Indonesia Kebun Sungai Liput memiliki 2 unit Empty Bunch Conveyor.
Berikut dapat dilihat gambar Empty Bunch Conveyor pada PT Socfin
Indonesia Kebun Sungai Liput .

Gambar 3.10 Empty Bunch Conveyor

38
[Link] Stripper
berfungsi untuk mengangkut berondolan menuju Conveyor Under
Stripper
4. Empty Bunch Hopper
Empty Bunch Hopper berfungsi menerima Tandan Kosong (tankos)
sebagai tempat penyimpanan kemudian mendistribusikan ke truk angkutan
tankos untuk kemudian diaplikasikan dilapangan.

Gambar 3.11 Empty Bunch Hopper

5. Conveyor Under Stripper


Brondolan yang berasal dari telah melalui tahap Stripper akan keluar
dari bagian bawah Stripper dan didistribusikan melalui Conveyor Under
Stripper. Berikut dapat dilihat gambar Conveyor Under Stripper pada PT
Socfin Indonesia Kebun Sungai Liput.

39
Gambar 3.12 Conveyor Under Stripper
6. Fruitles Elevator
Brondolan yang berasal Conveyor Under Stripper didistribusikan ke
Stasiun Press dan dimasukkan kedalam Digester. Berikut dapat dilihat
gambar Fruitles Elevator No.1 dan No.2 pada PT Socfin Indonesia Kebun
Sungai Liput.

Gambar 3.13 Fruitles Elevator

40
7. Distributing Fruitless Conveyor To Digester
Distributing Fruitless Coveyor adalah alat angkut bahan yang
berbentuk screw yang berputar berfungsi membawa brondolan dari Fruitless
Elevator untuk didistribusikan ke masing – masing Digester. Pengisian
Digester dilakukan dengan membuka tutup slinding door yang ada di Digester
Feed Conveyor.

Gambar 3.14 Distributing Fruitless Conveyor

3.2.4. STASIUN PENGEMPAAN (PRESSING STATION)


1. Digester
Brondolan yang berasal dari Fruitles Elevator Digester akan
dimasukkan kedalam Digester melalui Conveyor To Digester. Digester
berfungsi untuk melumatkan brondol kelapa sawit dengan sistem pengadukan
menggunakan Stirring Arm (pisau digester) dengan kecepatan pengadukan
25-26 rpm didalam bejana silender. Pada PT. Socfin Indonesia Kebun Sungai
Liput terdapat 3 unit Digester. Dimana pada saat pengolahan Digester yang
digunakan 2 unit, sedangkan 1 unit untuk cadangan kapasitas olah Digester
3,2 ton/jam.. Berikut dapat dilihat gambar Digester pada PT. Socfin Indonesia
Kebun Sungai Liput.

41
Gambar 3.15 Digester

2. Screw Press
Screw Press terletak pada stasiun press yang berfungsi untuk
memeras berondolan yang telah dicincang dan dilumat dari Digester untuk
mendapatkan minyak kasar. Pada PT Socfin Indonesia Kebun Sungai Liput
terdapat 3 unit Screw Press. Dimana pada saat pengolahan Screw Press yang
digunakan 2 unit, sedangkan 1 unit untuk cadangan. Dengan kapasitas
masing – masing sebesar 10 - 15 ton. Berikut dapat dilihat gambar Screw
Press pada PT Socfin Indonesia Kebun Sungai Liput.

42
Gambar 3.16 Screw Press
3.2.5. STASIUN PEMURNIAN MINYAK (CLARIFICATION
STATION)
1. Oil Vibrating Screen
Fungsi dari Vibrating Screen adalah memisahkan Non Oil Solid
(NOS) yang terdiri dari sampah, serat fiber yang berukuran besar serta pasir
yang terikut Bersama
Crude Oil karena tidak terendapkan di Sand Trap Tank. Vibrating Screen
berbentuk seperti silinder yang di permukaannya terus berputar untuk
memisahkan Crude Palm Oil dari kotorannya. Berikut dapat dilihat gambar
Vibrating Screen pada PT Socfin Indonesia Kebun Sungai Liput.

43
Gambar 3.17 Oil Vibrating Screen
2. Crude Oil Tank
Crude Oil Tank (COT) merupakan tangki pengendap Crude Oil yang
berasal dari Vibrating Screen dan pemisah pasir atau Non Oil Solid. Crude
oil tank (COT) berfungsi untuk mengendapkan partikel-partikel yang tidak
larut dan masih lolos dari Oil Vibrating Screen. Pada PT Socfin Indonesia
Kebun Sungai Liput terdapat 1 unit Crude Oil Tank dengan kapasitas yaitu
sebesar 5 m³.

44
Gambar 3.18 Crude Oil Tank
3. Continuous Tank
Continuous Tank atau sering disebut dengan Continuous Settling Tank
(CST) yang berfungsi memisahkan lumpur (sludge) dan oil dengan cara
pengendapan. Agar pengendapan dapat berlangsungsempurna maka diberi
pengaduk dengan kecepatan 2,5 rpm, dan Retention Time/ masa tinggal yaitu
yang digunakan 7-8 jam setelah dari COT (Crude Oil Tank), suhu harus
dijaga 90-95°C, ketebalan pengutipan minyak melalui Skimmer pada
Continuous Tanksebaiknya dilakukan pada ketebalan minyak 30-50 cm agar
minyak yang dikutip bersih di Oil Tank. Pemisahan dapat berlangsung
dengan baik apabila kecepatan aliran lebih lambat dari kecepatan mengendap
(Retention Time) dari zat yang memiliki Spesifik Gravity (SG) ≥ 1,0. Berikut
dapat dilihat gambar Continuous Tank pada PT Socfin Indonesia Kebun
Sungai Liput dengan kapasitas volume 90 m³.

45
Gambar 3.19 Continous Tank
4. Oil Tank
Oil Tank merupakan tempat penampungan minyak dari Continuous
Tank, Selanjutnya minyak yang berada di Oil Tank akan diteruskan ke Oil
Vacuum Dryer. Pada PT Socfin Indonesia Kebun Sungai Liput terdapat 2 unit
Oil Tank dengan masing-masing berkapasitas volume sebesar 10 m³.

46
Gambar 3.20 Oil Tank
5. Oil Vacum Drayer
Oil Vacum Dryer ini memiliki fungsi untuk mengurangi yang berada
di dalam Crude Palm Oil (CPO), dimana minyak tersebut berasal dari Oil
Tank. Prinsip Oil Vacuum Dryer ini adalah dengan menyemprotkan minyak,
kemudian kandungan airnya akan dihisap dalam kondisi Vacum. Di dalam
mesin Vacum Dryer ini terdiri dari tabung hampa udara yang di dalamnya
terdapat sejumlah Nozzle Injector. Di dalam Vacum Dryer ini memiliki
tekanan yang sangat rendah yaitu -70 hingga -65 cmHg atau sampai di bawah
tekanan atmosfer.

47
Gambar 3.21 Oil Vacum Drayer
6. Daily Tank
Minyak yang telah diproses dari Oil Vacum Dryer, kemudian
dipompakan ke Daily Tank (tangka harian). Oil pada Daily Tank selanjutnya
diteruskan ke Stock Tank. Pada PT Socfin Indonesia Kebun Sungai Liput
terdapat 1 unit Daily Tank dengan kapasitas yaitu sebesar 50 ton.

48
Gambar 3.22 Daily Tank
7. Stock Tank
Stock Tank (Tangki Timbun) berfungsi untuk menampung Crude
Palm Oil (CPO) yang berasal dari Daily Tank. Stock tank memiliki kapasitas
sebesar 500 ton. Berikut dapat dilihat gambar Stock Tank pada PT Socfin
Indonesia Kebun Sungai Liput.

49
Gambar 3.23 Stock Tank
8. Sludge Tank
Sludge Tank berfungsi sebagai tempat untuk penampungan sementara
Sludge agar dapat digunakan untuk melanjutkan proses pengolahan
selanjutnya ke Balance Tank. Konstruksi untuk Sludge Tank berbentuk
silinder vertikal dengan ujung bagian bawah nya berbentuk kerucut (Cone
Bottom) yang dilengkapi dengan Steam Injector dan Thermometer. Pada PT
Socfin Indonesia Kebun Sungai Liput memiliki Sludge Tank dengan
kapasitas sebesar 20 m³.

50
Gambar 3.24 Sludge Tank
9. Balance Tank
Tangki ini berfungsi untuk menampung sementara sludge dari Sludge
Tank sebelum masuk ke Decanter. Selain tempat penampungan sementara
Balance Tank juga berfungsi untuk menstabilkan pemasukan umpan kedalam
decanter agar tidak terjadi over flow.

51
Gambar 3.25 Balance Tank
10. Decanter
Kegunaan Decanter adalah untuk memisahkan serat-serat halus (Non-
Oil Solid) yang terkandung dalam lumpur (Sludge) dari Sludge Tank. Jadi
tujuan utama pengoperasian decanter adalah untuk memisahkan Sludge
menjadi Light Phase, Heavy Phase Dan Solid. Lalu untuk Light Phase akan
dimasukkan kembali ke Collecting Tank, sedangkan Solid akan dimasukkan
ke Solid Hopper, dan Heavy Phase akan dimasukkan ke Bak Dekantasi.
Decanter di PT. Socfin Indonesia Kebun Sungai Liput memiliki 3 unit
Decanter dengan kapasitas masing – masing sebesar 7 ton. Dimana pada saat
pengolahan Decanter yang digunakan 2 unit, sedangkan 1 unit untuk
cadangan.

52
Gambar 3.26 Decanter
11. Oil Collecting Tank
Oil Collecting Tank merupakan bak tempat penampungan minyak
yang berasal dari Bak Dekantasi, Vertikal Fat-pit, Oil Phase Decanter, dan
Fat – pit. Dari Oil Colletting Tank ini minyak akan di pompakan ke
Continuous Tank untuk di proses ulang. Berikut adalah gambar unit Oil
Collecting Tank pada PT Socfin Indonesia Kebun Sungai Liput :

Gambar 3.27 Oil Collecting Tank

53
12. Solid Hopper
Solid Hopper merupakan suatu tempat untuk mengumpulkan Solid
hasil pemisahan dari Decanter sebelum dikirim ke kebun untuk menjadi
pupuk. Desa Sei Liput PT Socfin Indonesia Kebun Sei Liput memiliki 1 unit
Solid Hopper yang berkapasitas 7 ton. Berikut adalah gambar unit Solid
Hopper pada PT Socfin Indonesia Kebun Sungai Liput :

Gambar 3.28 Solid Hopper


13. Bak Dekantasi
Bak Dekantasi merupakan bak penampungan Heavy Phase yang
berasal dari Overflow dari Vertical fat-pit dan Overflow dari air Decanter.
Didalam bak ini minyak tersebut di pisahkanan di diamkan sampai keadaan
air dan minyak terpisah.

54
Gambar 3.29 Bak Dekantasi
14. Fat-pit
Fat – Pit merupakan bak penampung Sludge yang terdiri dari
tumpahan minyak, dan air cucian PKS pada proses pemurnian minyak
sebelumnya. Pada Fat-Pit akan diukur persentase minyak yang masih
terkandung dalam Sludge, jika melebihi anggaran yaitu sebesar 0,60 % maka
akan diambil kembali minyak tersebut dan dimasukkan ke Collecting Tank
untuk diolah kembali. Pada Desa Sei Liput PT Socfin Indonesia Kebun
Sungai Liput memiliki 6 kolam yang masing – masing memiliki kapasitas
yaitu sebesar 216 m³.

55
Gambar 3.30 Fat-Pit
3.2.6. STASIUN PENGOLAHAN BIJI (KERNEL PLANT STATION)
Tujuan dari pengolahan ini adalah untuk memisahkan inti (kernel)
dari cangkang nya dan fibre. Campuran ampas (fiber) dan biji (nut) yang
keluar dari screw press diproses kembali di stasiun kernel untuk
menghasilkan:
1). Cangkang (shell) dan fiber yang digunakan sebagai bahan bakar boiler.
2). Kernel (inti sawit) sebagai hasil produksi yang siap dipasarkan.
1. Cake Breaker Conveyor (CBC)
Cake Breaker Conveyor berfungsi untuk membawa serabut dan biji
(Cake) serta untuk mencacah gumpalan cake (sekaligus mengeringkannya)
dari pressan menuju ke Depericarper dan lebih mudah di blower untuk
memisahkan fraksi ringan dan fraksi yang berat.
Fraksi berat ialah biji utuh, biji pecah, inti utuh dan inti pecah.
Conveyor ini dilengkapi dengan ulir pembawa yang di desain berbentuk pedal
– pedal yang berfungsi sebagai pencacah gumpalan cake. Berikut gambar unit

56
Cake Breaker Conveyor Pada PT Socfin Indonesia (Socfindo) Kebun Sei
Liput.

Gambar 3.31 Cake Breaker Conveyor (CBC)


2. Sparating Colouomb and Fiber Cyclone
Pada alat ini dilakukan pemisahan antara biji dan serat yang berasal
dari mesin Screw Press melalui Cake Breaker Conveyor (CBC), serat buah
kelapa sawit akan naik ke atas karena massanya lebih ringan dibandingkan
kernel buah sawit. Dan fiber (serat) buah sawit akan menjadi bahan baku
Boiler. Sedangkan biji akan diteruskan menuju Depericarper. Berikut dapat
dilihat gambar Separating Coulomb And Fiber Cyclone pada PT Socfin
Indonesia Kebun Sungai Liput .

57
Gambar 3.32 Sparating Coulomb and Fiber Cyclone

3. Depericarper
Depericarper berfungsi untuk memisahkan biji dari batu dan spiklet
Depericarper berbentuk seperti drum yang diberi lubang di sepanjang
sisinya. Pada PT. Socfin Indonesia Kebun Sungai Liput terdapat 1 unit
Depricarper dengan kapasitas sebesar 30 ton/jam.

58
Gambar 3.33 Depericarper
4. Nut Silo
Sebelum memasuki Nut Silo maka terdapat Wet Nut Elevator yang
berfungsi untuk mengangkat biji atau nut dari Depericarper. Nut Silo
berfungsi untuk mengurangi kadar air di dalam biji atau Nut dan sebagai
tempat penyimpanan nut sementara (Hopper) sebelum dipecah oleh Ripple
Mill. Pada PT Socfin Indonesia Kebun Sungai Liput terdapat 2 unit Nut Silo
dengan kapasitas masing – masing yaitu sebesar 40 m³.

59
Gambar 3.34 Nut Silo
5. Ripple Mill
Sebelum memasuki Ripple Mill terdapat Dry Nut Conveyor yang
berfungsi sebagai alat angkut bahan berbentuk Screw yang berputar berfungsi
untuk menampung biji dari bawah Nut Silo untuk dibawa ke Ripple Mill.
Didalam Ripple Mill terjadi proses pemecahan Nut, dimana nut yang
dipecahkan ini sudah bersih dari serabut setelah keluar dari Nut Silo. Tujuan
dari pemecahan Nut di dalam Ripple Mill ini adalah agar mudah memisahkan
antara kernel dan cangkangnya.

60
Gambar 3.35 Ripple mill
6. Mixture Conveyor
Mixture Conveyor adalah alat angkut bahan berbentuk Screw yang
berputar berfungsi untuk membawa inti dan cangkang dari bawah Ripple Mill
untuk dibawa ke Moder Bak.

Gambar 3.36 Mixture Conveyor


7. Winowing Separating
Winowing Separating berfungsi untuk pemisahan cangkang dari inti
dengan cara dihisap. Proses hisapan merupakan suatu proses untuk

61
menghilangkan debu dan partikel halus seperti pecahan cangkang, inti, dan
serat. Sebaliknya inti dan cangkang yang besar pada umumnya berbentuk
bulat dan tebal akan jatuh ke Moder Bak. Debu dan partikel tersebut akan
ditampung ke dalam Shell Fiber Bin yang nantinya akan digunakan sebagai
bahan bakar Boiler. Winowing Separating pada PT Socfin Indonesia Kebun
Sungai Liput memiliki Losses maksimal 0,50%.

Gambar 3.37 Winowing Separating


8. Moder Bak
Moder Bak berfungsi untuk memisahkan inti dari cangkang dengan
cara memanfaatkan perbedaan berat jenis dengan menggunakan lumpur.
LumpSur tersebut terbuat dari air dan tanah liat yang diaduk didalam
Agitator. Inti sawit basah memiliki berat jenis 1,07 gram/cm3, sedangkan
cangkang 1,15 – 1,30 gram/cm3. Maka untuk memisahkan inti dan cangkang
dibuat berat jenis campuran lumpur 1,13 gram/cm3. Dan dilakukan
pengadukan sehingga inti mengapung dan cangkang akan tenggelam. Inti
yang mengapung tersebut akan diteruskan ke Vibrating Kernel melalui

62
Conveyor, sedangkan cangkang, biji bulat, biji pecah akan diteruskan ke Shell
Grading.

Gambar 3.38 Moder Bak


9. Vibrating Kernel
Vibrating Kernel berfungsi untuk mengurangi kadar air dan lumpur
yang terdapat pada kernel dengan memanfaatkan suatu getaran dan
selanjutnya akan diteruskan ke Kernel Dryer melalui Pneumatic Wet Kernel.

63
Gambar 3.39 Vibrating Kernel
10. Shell Grading
Shell Grading adalah sebuah drum yang berputar dan memiliki
lubang-lubang disepanjang sisi-sisinya, yang berfungsi sebagai pemisahan
cangkang berdasarkan ukuran. Cangkang yang masuk kedalam Shell Grading
hasil dari pemisahan kernel dan cangkang melalui timba-timba pada Moder
Bak. Sehingga untuk memisahkannya, cangkang tersebut diputar dengan
kecapatan 33 rpm, untuk Losses pada Shell Grading maksimal 1,00 %.

Gambar 3.40 Shell Grading

64
11. Peneumatic Wet Kernel
Peneumatic Wet Kernel sebagai media transport kernel menuju
Kernel Dryer dengan cara hembusan Blower.

Gambar 3.41 Pneumatic Wet Kernel


12. Kernel Dryer
Kernel Dryer yang berfungsi untuk sebagai tempat mengeringkan
kernel, dan menurunkan kadar air dengan proses pemanasan menggunkan
steam yang diblower. Kadar Air kernel yang diizinkan setelah melalui proses
pada Kernel Dryer yaitu sebesar 8,00%, dan kadar kotoran maksimal 8,00%.
Kernel tersebut akan diteruskan ke Kernel Bin melalui Pneumatic Transport
Kernel Produksi. Pada PT Socfin Indonesia Kebun Sungai Liput terdapat 2
unit Kernel Dryer dengan masing – masing memiliki kapasitas sebesar 10
ton.

65
Gambar 3.42 Kernel Dryer
13. Kernel Bin
Kernel Bin adalah tempat penampungan terakhir pada proses
pengolahan kernel yang berfungsi sebagai penyimpanan kernel untuk
sementara waktu sebelum didistribusikan ke pembeli. Pada PT Socfin
Indonesia Kebun Sungai Liput terdapat 2 unit Kernel Bin dengan masing –
masing memiliki kapasitas yaitu sebesar 40 ton.

66
Gambar 3.43 Kernel Bin

3.4 Kadar Air pada Kernel Produksi


Kadar Air (Moisture) Kadar air merupakan banyaknya air yang
tekandung dalam bahan yang dinyatakan dalam persen. Kadar air juga salah
satu karakteristik yang sangat penting pada bahan pangan karena air dapat
mempengaruhi penampakan, tekstur, dan cita rasa pada bahan pangan. Kadar
air dalam bahan pangan ikut menentukan kesegaran dan daya awet bahan
pangan tersebut. Kadar air yang tinggi mengakibatkan mudahnya bakteri,
kapang, khamir untuk berkembang biak sehingga akan terjadi perubahan pada
bahan pangan.
Secara alami IKS mengandung air yang tidak dapat dipisahkan. Zat
yang menguap pada IKS adalah zat yang menguap pada suhu 130ᵒC termasuk
di dalamnya air serta dinyatakan sebagai berkurangnya berat. Air dalam
kernel hanya ada dalam jumlah kecil. Hal ini terjadi karena proses alami
sewaktu pembuatan dan akibat perlakuan pengolahan di pabrik serta
penimbunan. Adanya air di dalam IKS dapat mempengaruhi menurunnya

67
mutu IKS . Penentuan kadar air pada IKS dilakukan dengan menggunakan
oven untuk menghilangkan sebagian air dari sampel minyak sawit dengan
cara menguapkan air tersebut dengan panas. Dengan pemanasan
menggunakan oven diharapkan air yang ada di minyak akan menguap pada
saat dipanaskan dalam waktu tertentu pada suhu 130ᵒC. Sehingga terdapat
perbedaan berat antara sebelum dan sesudah itulah kadar air pada IKS
Standar mutu SNI (Standar Nasional Indonesia) kadar air pada IKS
adalah <8,00% sesuai dengan PT. Socfindo Indonesia Kebun Sei Liput di
Desa Sei Liput yang memiliki Standar mutu IKS ialah <8,00%.

68

Anda mungkin juga menyukai