Praktik Kerja Industri di PT Socfin Indonesia
Praktik Kerja Industri di PT Socfin Indonesia
PENDAHULUAN
1
1.2 Tujuan
2
1.5. Ruang Lingkup
3
BAB II
GAMBARAN UMUM
4
• Tahun 2001, tepatnya tgl. 13 Desember 2001, sejalan dengan
Privatisasi beberapa BUMN oleh Pemerintah RI telah terjadi
Perubahan Kepemilikan Saham PT Socfindo sebagai berikut :
5
c. Kebun Tanjung Maria
d. Kebun Tanah Bersih
e. Kebun Lima Puluh
a. Kebun Seunagan
b. Kebun Seumanyam
c. Kebun Lae Butar
d. Kebun Sei Liput
Tanaman yang diusahakan oleh perusahaan ini ada dua jenis yaitu tanaman
karet dan tanaman kelapa sawit. Produk yang dihasilkan PT. Socfin
Indonesia (Socfindo) Medan terdiri dari:
6
2.2. Profil Perusahaan
7
Tabel [Link] Umum Perusahaan
Nama Perusahaan PT Socfin Indonesia
Alamat Kantor Jl. Kol. Yos Sudarso No.106 Glugur, Kota, Kec. Medan Barat,
Pusat Medan Sumatra Utara
Alamat Tempat PT Socfindo Kebun Sei Liput Desa Kebun Sei Liput, Kec. Kejuruan Muda
PKL Kab. Aceh Tamiang
Bentuk Usaha Perseroan Terbatas (PT)
8
2.2.1. Logo Perusahaan
[Link] Visi
Menjadi perusahaan industri perkebunan kelapa sawit dan karet kelas dunia
yang menghasilkan produk yang berkelanjutan dan efisien serta memberikan
keuntungan dan manfaat kepada pemegangsaham dan para pekerja serta dapat
diterima oleh masyarakat sekitar.
[Link] Misi
9
-
10
perumahan karyawanPT. Socfin Indonesia (Socfindo) Kebun Sei
Liput.
• Sebelah timur berbatasan dengan Desa Tualang.
➢ Batas Wilayah Administratif
Batas Administratif wilayah di tetapkan terdasarkan pertimbangan
tata administrative lokasi kegiatan sosial, ekonomi, budaya
masyarakat sekitar perkebunan desa desa yang diperkirakan akan
menerima dampak secara langsung maupun tidak langsung terletak
pada Kecamatan Kejuruan Muda dan Karang Baru.
11
2.2.4 Izin dan Sertifikasi
• Izin sebagai produsen benih dari pemerintah : SK Menteri
Pertanian RI No. KB.320/261/KPTS/1984, tanggal 07 Mei 1984
• Izin tersebut diperkuat dengan izin dari Pemerintah R.I cq.
Kementrian Pertanian tentang pelepasan varietas tanaman kelapa
sawit DxP Unggul Socfindo:
➢ DxP Socfindo (L) : SK MENTAN NO.
440/KPTS/LB.320/7
/2004 Tanggal 22 Juli 2004.
➢ DxP Socfindo (Y) : SK MENTAN NO.
441/KPTS/LB.320/7
/2004 Tanggal 22 Juli 2004
➢ DxP Socfindo MT Gano : SK MENTAN NO.
4569/Kpts/SP.120/8
/2013 tanggal 12 Agustus 2013.
12
2.3 Kegiatan Perusahaan
13
2.3.2 Socfindo Seed Production and Laboratories (SSPL)
14
▪ Produksi benih DxP Socfindo bersumber dari 2 kebun induk yang
terletak di Kebun Aek Loba dan Kebun Bangun Bandar, dimana
Proses produksi dilakukan di Pusat Seleksi Bangun Bandar
Kecamatan Dolok Masihul Kabupaten Serdang Bedagai dengan
total kapasitas produksi 50 juta kecambah per tahun.
▪ Laboratorium Analitik memberikan layanan :
➢ Jasa Konsultasi :
1. Rekomendasi pemupukan
2. Rekomendasi stimulasi dan Penentuan Panel management
➢ Jasa Analisa :
1. Analisa daun
2. Analisa tanah dan kompos
3. Analisa pupuk
4. Latex diagnosis
15
dibawa menuju Empty Bunch Hooper menggunakan Empty
Bunch Conveyor, sedangkan berondolan akan dibawa menuju
Digester menggunakan Fruitless Elevator dan Conveyor To
Digester.
3. Berondolan akan masuk pada stasiun pengempaan.
Berondolan yang sudah dipisahkan dari janjangannya akan
dilumatkan di Digester dengan bantuan mata pisau serta Steam
yang diinputkan ke dalam Digester. Berondolan yang sudah
dilumatkan selanjutnya akan dipress menggunakan Screw
Press hingga akan terpisah antara minyak dengan ampas
(Fibre + biji).
4. Minyak akan disaring terlebih dahulu pada Oil Vibrating
Screen untuk menyaring ampas yang masih terbawa pada
minyak, selanjutnya akan dimasukkan ke dalam Crude Oil
Tank. Dari Crude Oil Tank, minyak akan masuk ke stasiun
Klarifikasi, dimulai dari Continious Tank minyak akan
diendapkan terlebih dahulu dengan bantuan Steam, sehingga
akan terpisah antara Sludge dengan minyak. Sludge akan
masuk ke Sludge Tank,
5. Pada Sludge Tank, Sludge akan diinputkan kedalam Balance
Tank sebagai tanki umpan Decanter, selanjutnya dari Balance
Tank Sludge akan dimasukkan menuju Decanter. Pada
Decanter Sludge akan dipisahkan dari 3 fasa, yaitu minyak, air
dan solid, dimana minyak akan dimasukkan kedalam Oil
Collecting Tank, air akan dimasukkan ke dalam bak
Decantasi, dan solid akan dimasukkan ke Solid Hopper
6. Minyak dari Oil Tank akan masuk ke Oil Vacum Dryer untuk
di hilangkan kandungan air yang masih terkandung dalam
minyak. Selanjutnya minyak akan dimasukkan ke Daily Tank
dan Stock Tank.
16
• Aliran Proses Produksi Palm Kernel (LAMPIRAN 2)
1. Pada produksi Palm Kernel, biji dimulai dari Output Screw
Press dan akan dipisahkan dari ampas (fibre+biji). Biji akan
dibawa ke Fibre Blower menggunakan Cake Breaker
Conveyor. Selanjutnya Fibre akan terhisap menuju ke Boiler,
sedangkan biji akan diteruskan menuju Deprericarper agar
terpisah dari Fibre, dan dengan menggunakan Wet Nut
Elevator biji akan dimasukkan ke dalam Nut Silo. Dari Nut
Silo, biji akan dibawa dengan Dry Nut Conveyor menuju
Ripple Mill, pada Ripple Mill biji akan dipecahkan dan akan
keluar berupa cangkang, biji bulat, biji pecah, inti bulat, dan
inti pecah.
2. Output Ripple Mill selanjutnya akan dimasukkan ke Moder
bak (Clay Bath) dengan menggunakan Mixture Conveyor.
Sebelum masuk ke Moder Bak, kernel akan melalui Winowing
Separator yang dibantu dengan hisapan Blower. Cangkang
yang lebih ringan akan terhisap ke atas menuju Shell Bin,
sedangkan kernel akan masuk ke Moder bak.
3. Kernel yang sudah keluar dari Moder Bak (kernel basah) akan
masuk menujuVibrating Kernel untuk diayak agar cangkang
yang terbawa akan jatuh kebawah dan kernel akan tertahan di
Vibrating kernel. Kernel basah akan dibawa ke kernel Dryer
menggunakan Pneumatic Wet Kernel untuk dikeringkan.
Kernel kering akan dibawa dengan Pneumatic Transport
Kernel menuju ke Kernel Bin.
17
2.4.1 Uraian Pekerjaan
18
1. Mengatur, menangani, dan mensupervisi bawahan dalam
pelaksanaan administrasi atau pembuatan laporan terkait
keuangan kebun.
19
1. Merekapitulasi, mereview, dan melengkapi anggaran/
Budget dan pekerjaan Compte Capital dalam lingkungan
pabrik.
20
8. Membimbing, mengawasi, dan mengevaluasi kinerja serta
pekerjaan tekniker 2 dan pekerja di pabrik.
21
5. Memonitor keamanan di pabrik dengan bekerja sama
dengan pihak ketiga (jika perlu).
22
1. Menginput dan memproses hasil Sounding MKS dan IKS
setiap hari di sistem Harvest.
23
5. Membuat daftar penerima premi dan jumlah premi sesuai
ketentuan, menyerahkan ke Asisten untuk diverifikasi dan
memasukkan data premi pekerja ke sistem Harvest.
24
atau perawatan
25
1. Mengatur tenaga kerja dan bahan baku serta alat bantu
untuk proses pengolahan IKS dalam keadaan cukup dan
baik
26
pemeriksaan/ analisa kualitas produksi sesuai dengan IK.
27
2.5. Tujuan dan Fungsi Perusahaan
28
BAB III
PROSES PRODUKSI
3.1 Bahan Baku
Bahan baku yang digunakan oleh Pabrik Kelapa Sawit (PKS) yang di
Desa Sei Liput PT Socfin Indonesia Kebun Sei Liput merupakan hasil dari
kebun milik sendiri. Bahan baku yang digunakan berupa Tandan Buah Segar
(TBS) yang diperoleh dari pohon kelapa sawit yang telah berusia lebih dari 3
tahun.
29
Varietas tanaman kelapa sawit yang dibudidayakan di perkebunan
Desa Sei Liput PT Socfin Indonesia Kebun Sei Liput adalah varietas Tenera.
Mutu dan rendemen hasil pengolahan sangat dipengaruhi oleh fraksi panen
(derajat kematangan), pengutipan brondolan dan perlakuan terhadap TBS.
3.2 Proses Produksi Crude Palm Oil (CPO) dan Palm Kernel (PK)
Proses pengolahan kelapa sawit merupakan faktor utama dalam
menentukan kualitas produk yang nantinya akan dihasilkan di suatu Pabrik
Kelapa Sawit (PKS). Produk utama yang dihasilkan di PT Socfin Indonesia
Kebun Sei Liput adalah CrudePalm Oil (CPO) dan Palm Kernel (PK). Bahan
baku yang digunakan berupa Tandan Buah Segar (TBS) diperoleh dari kebun
milik sendiri. PT Socfin Indonesia Kebun Sei Liput menggunakan TBS jenis
Tenera. Tenera memiliki komposisi cangkang yang tipis, daging buah yang
tebal dan inti yang besar. Bagian daging buah (Mesocarp) akan menjadi
Crude Palm Oil (CPO) dan inti sawit akan menjadi Palm Kernel (PK) untuk
diproses lebih lanjut. Proses pengolahan TBS sampai menjadi Crude Palm
Oil (CPO) dan Palm Kernel (PK) di PT Socfin Indonesia Kebun Sei Liput
terdiri atas beberapa tahapan proses.
Berikut ini adalah alat-alat yang digunakan pada proses pengolahan
TBS di PT Socfin Indonesia (SOCFINDO) Kebun Sungai Liput, yaitu :
3.2.1. STASIUN PENERIMAAN TANDAN BUAH SEGAR (TBS)
1. Timbangan TBS (Weight Bridge)
Proses pengolahan dimulai dari penimbangan buah, bertujuan untuk
mengetahui jumlah TBS yang akan diolah, dan berat TBS rata-rata. Dari
penimbangan juga dapat diketahui berapa besar jumlah produksi TBS yang
dicapai dari setiap afdeling. Pada PT Socfin Indonesia Kebun Sungai Liput
terdapat 2 unit Timbangan dengan masingmasingberkapasitas 30 ton dan 40
ton. Timbangan yang berkapasitas 40 ton menggunakan sistem Indicator
Display (dengan pengendalian di dalam operator).
30
Gambar 3.2. Jembatan Timbangan
2. Loading Ramp
Buah yang telah ditimbang dikirim ke Loading Ramp (tuangan buah).
Fungsi dari Loading Ramp adalah sebagai tempat penampungan TBS, tempat
mensortasi TBS,memudahkan masuknya TBS kedalam Conveyor dan untuk
memisahkan kotoran yangmenempel pada buah kelapa sawit seperti pasir,
tanah, dan sampah yang terbawa darikebun sehingga dapat mengurangi kadar
kotoran yang terdapat pada buah sawittersebut. Oleh karena itu pada stasiun
ini, lantai dipasang kisi-kisi besi (Ramp) yangberfungsi untuk memudahkan
terpisahnya kotoran (seperti pasir, tanah, dan sampah)dari TBS. Lantai atas
Loading Ramp memiliki kemiringan berkisar 28° dengan jarakantar kisi
sebesar 1 cm. Pada PT Socfin Indonesia Kebun Sungai Liput memiliki pintu
Loading Ramp untuk menampung TBS sebelum disalurkan ke FFB Incline
Conveyor.
31
Gambar 3.3 Loading Ramp
3. Fresh Fruit Bunch (FFB) Incline Conveyor
FFB Incline Conveyor adalah alat yang berfungsi untuk memuat dan
mendistribusikan TBS dari Loading Ramp ke FFB Scrapper Conveyor. Pada
PT Socfin Indonesia Kebun Sungai Liput memiliki 2 unit FFB Incline
Conveyor.
32
mendistribusikan TBS ke dalam Sterilizer setelah dari FFB Incline Conveyor.
PadaPT Socfin Indonesia Kebun Sungai Liput memiliki 2 unit FFB Incline
Conveyor dengan jenis horizontal.
33
Untuk mengurangi aktivitas enzim diusahakan agar kememaran buah
dalam persentase yang relatif kecil. Enzim pada umumnya tidak aktif
lagi pada suhu 50°C, oleh sebab itu perebusan pada suhu 140°C akan
menghentikan kinerja enzim.
b. Melepaskan buah dari spiklet
Minyak dan inti sawit yang terdapat dalam buah berfungsi untuk
mempermudah, buah agar dapat dilepaskan dari spiklet. Buah dapat
terlepas dari spiklet melalui cara Hidrolisis Hemiselulosa dan pektin
yang terdapat pada pangkal buah. Hidrolisis dengan reaksi biokimia
telah terjadi sebagian di lapangan yaitu pada proses pemasakan buah
yang ditandai dengan buah yang brondol. Reaksi Hidrolisis
Hemiselulosa dan Pektin yang terdapat dalam sterilizer dipercepat
oleh pemanasan. Panas uap tersebut dapat meresap ke dalam buah
karena adanya tekanan.
c. Menurunkan kadar air
Sterilisasi buah dapat menyebabkan penurunan kadar air buah dan
inti yaitu dengan cara penguapan pada saat perebusan. Penurunan
kandungan air buah menyebabkan penyusutan buah sehingga
terbentuk rongga-rongga kosong yang mempermudah proses
pengempaan. Interaksi penurunan kadar air dan panas dalam buah
akan menyebabkan minyak sawit antara sel dapat bersatu dan
mempunyai viskositas yang rendah sehingga mudah keluar dari dalam
sel sewaktu proses pengempaan berlangsung.
34
d. Pemecahan emulsi
Minyak dalam pericarp berbentuk emulsi dapat lebih mudah keluar
dari sel jika berubah dari fase emulsi menjadi minyak. Perubahan ini
terjadi dengan bantuan pemanasan, yang mengakibatkan
penggabungan fraksi yang memiliki polaritas yang sama dan
berdekatan, sehingga minyak dan air masing-masing terpisah.
Peristiwa ini akan mempermudah minyak keluar dari pericarp.
Penetrasi uap yang sempurna pada pericarp, terutama pada buah yang
paling dalam, akan mempertinggi efisiensi ekstraksi minyak.
e. Membantu proses pelepasan inti dari cangkang
Perebusan yang sempurna akan menurunkan kadar air biji hingga
15%. Kadar air biji yang turun hingga 15% akan menyebabkan inti
susut sedangkan tempurung biji tetap, maka inti terjadi inti yang
lekang dari cangkang. Hal ini akan membantu fermentasi di dalam nut
silo, sehingga pemecahan biji dapat berlangsung dengan baik,
demikian juga pemisahan inti dan cangkang dalam proses pemisahan
kering atau basah dapat menghasilkan inti yang mengandung kotoran
lebih kecil. Uap (steam) yang digunakan untuk perebusan ini disuplai
dari boiler yang kemudian disalurkan kedalam sterilizer
menggunakan pipa. Pola perebusan yang umum digunakan ada dua
yaitu double peak (dua puncak) dan triple peak (tiga puncak). Jumlah
puncak dalam pola perebusan ditunjukkan dari jumlah pembukaan
atau penutupan dari uap masuk atau uap keluar. Adapun sistem
perebusan yang digunakan pada PT. Socfin Indonesia Kebun Sungai
Liput menggunakan sistem perebusan Tiga Puncak (Triple Peak)
dapat dilihat pada Gambar berikut ini:
35
Gambar 3.6 Sistem perebusan tiga puncak
Prinsip dari Triple Peak adalah tiga kali pemasukan uap kedalam
Sterilizer dan tiga kali pembuangan uap (Blow Down). Dengan memerlukan
waktu pada puncak pertama dan kedua masing-masing 2 menit dan pada
puncak ketiga memerlukan waktu 45 menit. PT. Socfin Indonesia Kebun
Sungai Liput memiliki 15 unit Sterilizer jenis vertikal.
36
2. Scraper Bunch Conveyor No.1 dan No.2
Setelah buah kelapa sawit direbus pada sterilizer lalu buah kelapa
sawit tersebut dikeluarkan secara manual oleh operator dan kemudian
didistribusikan melalui Scrapper Bunch Conveyor. Adapun fungsi dari
scrapper bunch conveyor adalah untuk mendistribusikan TBS masak ke
Stripper. Buah kelapa sawit pertama akan melewati Scraper Bunch Conveyor
No.1 yang berbentuk horizontal dan akan melewati Scraper Bunch Conveyor
No.2 yang bergerak secara miring.
37
Stripper untuk dibawa ke Stasiun Pengepressan. Berikut dapat dilihat gambar
Thresser (Stripper) pada PT Socfin Indonesia Kebun Sungai Liput .
38
[Link] Stripper
berfungsi untuk mengangkut berondolan menuju Conveyor Under
Stripper
4. Empty Bunch Hopper
Empty Bunch Hopper berfungsi menerima Tandan Kosong (tankos)
sebagai tempat penyimpanan kemudian mendistribusikan ke truk angkutan
tankos untuk kemudian diaplikasikan dilapangan.
39
Gambar 3.12 Conveyor Under Stripper
6. Fruitles Elevator
Brondolan yang berasal Conveyor Under Stripper didistribusikan ke
Stasiun Press dan dimasukkan kedalam Digester. Berikut dapat dilihat
gambar Fruitles Elevator No.1 dan No.2 pada PT Socfin Indonesia Kebun
Sungai Liput.
40
7. Distributing Fruitless Conveyor To Digester
Distributing Fruitless Coveyor adalah alat angkut bahan yang
berbentuk screw yang berputar berfungsi membawa brondolan dari Fruitless
Elevator untuk didistribusikan ke masing – masing Digester. Pengisian
Digester dilakukan dengan membuka tutup slinding door yang ada di Digester
Feed Conveyor.
41
Gambar 3.15 Digester
2. Screw Press
Screw Press terletak pada stasiun press yang berfungsi untuk
memeras berondolan yang telah dicincang dan dilumat dari Digester untuk
mendapatkan minyak kasar. Pada PT Socfin Indonesia Kebun Sungai Liput
terdapat 3 unit Screw Press. Dimana pada saat pengolahan Screw Press yang
digunakan 2 unit, sedangkan 1 unit untuk cadangan. Dengan kapasitas
masing – masing sebesar 10 - 15 ton. Berikut dapat dilihat gambar Screw
Press pada PT Socfin Indonesia Kebun Sungai Liput.
42
Gambar 3.16 Screw Press
3.2.5. STASIUN PEMURNIAN MINYAK (CLARIFICATION
STATION)
1. Oil Vibrating Screen
Fungsi dari Vibrating Screen adalah memisahkan Non Oil Solid
(NOS) yang terdiri dari sampah, serat fiber yang berukuran besar serta pasir
yang terikut Bersama
Crude Oil karena tidak terendapkan di Sand Trap Tank. Vibrating Screen
berbentuk seperti silinder yang di permukaannya terus berputar untuk
memisahkan Crude Palm Oil dari kotorannya. Berikut dapat dilihat gambar
Vibrating Screen pada PT Socfin Indonesia Kebun Sungai Liput.
43
Gambar 3.17 Oil Vibrating Screen
2. Crude Oil Tank
Crude Oil Tank (COT) merupakan tangki pengendap Crude Oil yang
berasal dari Vibrating Screen dan pemisah pasir atau Non Oil Solid. Crude
oil tank (COT) berfungsi untuk mengendapkan partikel-partikel yang tidak
larut dan masih lolos dari Oil Vibrating Screen. Pada PT Socfin Indonesia
Kebun Sungai Liput terdapat 1 unit Crude Oil Tank dengan kapasitas yaitu
sebesar 5 m³.
44
Gambar 3.18 Crude Oil Tank
3. Continuous Tank
Continuous Tank atau sering disebut dengan Continuous Settling Tank
(CST) yang berfungsi memisahkan lumpur (sludge) dan oil dengan cara
pengendapan. Agar pengendapan dapat berlangsungsempurna maka diberi
pengaduk dengan kecepatan 2,5 rpm, dan Retention Time/ masa tinggal yaitu
yang digunakan 7-8 jam setelah dari COT (Crude Oil Tank), suhu harus
dijaga 90-95°C, ketebalan pengutipan minyak melalui Skimmer pada
Continuous Tanksebaiknya dilakukan pada ketebalan minyak 30-50 cm agar
minyak yang dikutip bersih di Oil Tank. Pemisahan dapat berlangsung
dengan baik apabila kecepatan aliran lebih lambat dari kecepatan mengendap
(Retention Time) dari zat yang memiliki Spesifik Gravity (SG) ≥ 1,0. Berikut
dapat dilihat gambar Continuous Tank pada PT Socfin Indonesia Kebun
Sungai Liput dengan kapasitas volume 90 m³.
45
Gambar 3.19 Continous Tank
4. Oil Tank
Oil Tank merupakan tempat penampungan minyak dari Continuous
Tank, Selanjutnya minyak yang berada di Oil Tank akan diteruskan ke Oil
Vacuum Dryer. Pada PT Socfin Indonesia Kebun Sungai Liput terdapat 2 unit
Oil Tank dengan masing-masing berkapasitas volume sebesar 10 m³.
46
Gambar 3.20 Oil Tank
5. Oil Vacum Drayer
Oil Vacum Dryer ini memiliki fungsi untuk mengurangi yang berada
di dalam Crude Palm Oil (CPO), dimana minyak tersebut berasal dari Oil
Tank. Prinsip Oil Vacuum Dryer ini adalah dengan menyemprotkan minyak,
kemudian kandungan airnya akan dihisap dalam kondisi Vacum. Di dalam
mesin Vacum Dryer ini terdiri dari tabung hampa udara yang di dalamnya
terdapat sejumlah Nozzle Injector. Di dalam Vacum Dryer ini memiliki
tekanan yang sangat rendah yaitu -70 hingga -65 cmHg atau sampai di bawah
tekanan atmosfer.
47
Gambar 3.21 Oil Vacum Drayer
6. Daily Tank
Minyak yang telah diproses dari Oil Vacum Dryer, kemudian
dipompakan ke Daily Tank (tangka harian). Oil pada Daily Tank selanjutnya
diteruskan ke Stock Tank. Pada PT Socfin Indonesia Kebun Sungai Liput
terdapat 1 unit Daily Tank dengan kapasitas yaitu sebesar 50 ton.
48
Gambar 3.22 Daily Tank
7. Stock Tank
Stock Tank (Tangki Timbun) berfungsi untuk menampung Crude
Palm Oil (CPO) yang berasal dari Daily Tank. Stock tank memiliki kapasitas
sebesar 500 ton. Berikut dapat dilihat gambar Stock Tank pada PT Socfin
Indonesia Kebun Sungai Liput.
49
Gambar 3.23 Stock Tank
8. Sludge Tank
Sludge Tank berfungsi sebagai tempat untuk penampungan sementara
Sludge agar dapat digunakan untuk melanjutkan proses pengolahan
selanjutnya ke Balance Tank. Konstruksi untuk Sludge Tank berbentuk
silinder vertikal dengan ujung bagian bawah nya berbentuk kerucut (Cone
Bottom) yang dilengkapi dengan Steam Injector dan Thermometer. Pada PT
Socfin Indonesia Kebun Sungai Liput memiliki Sludge Tank dengan
kapasitas sebesar 20 m³.
50
Gambar 3.24 Sludge Tank
9. Balance Tank
Tangki ini berfungsi untuk menampung sementara sludge dari Sludge
Tank sebelum masuk ke Decanter. Selain tempat penampungan sementara
Balance Tank juga berfungsi untuk menstabilkan pemasukan umpan kedalam
decanter agar tidak terjadi over flow.
51
Gambar 3.25 Balance Tank
10. Decanter
Kegunaan Decanter adalah untuk memisahkan serat-serat halus (Non-
Oil Solid) yang terkandung dalam lumpur (Sludge) dari Sludge Tank. Jadi
tujuan utama pengoperasian decanter adalah untuk memisahkan Sludge
menjadi Light Phase, Heavy Phase Dan Solid. Lalu untuk Light Phase akan
dimasukkan kembali ke Collecting Tank, sedangkan Solid akan dimasukkan
ke Solid Hopper, dan Heavy Phase akan dimasukkan ke Bak Dekantasi.
Decanter di PT. Socfin Indonesia Kebun Sungai Liput memiliki 3 unit
Decanter dengan kapasitas masing – masing sebesar 7 ton. Dimana pada saat
pengolahan Decanter yang digunakan 2 unit, sedangkan 1 unit untuk
cadangan.
52
Gambar 3.26 Decanter
11. Oil Collecting Tank
Oil Collecting Tank merupakan bak tempat penampungan minyak
yang berasal dari Bak Dekantasi, Vertikal Fat-pit, Oil Phase Decanter, dan
Fat – pit. Dari Oil Colletting Tank ini minyak akan di pompakan ke
Continuous Tank untuk di proses ulang. Berikut adalah gambar unit Oil
Collecting Tank pada PT Socfin Indonesia Kebun Sungai Liput :
53
12. Solid Hopper
Solid Hopper merupakan suatu tempat untuk mengumpulkan Solid
hasil pemisahan dari Decanter sebelum dikirim ke kebun untuk menjadi
pupuk. Desa Sei Liput PT Socfin Indonesia Kebun Sei Liput memiliki 1 unit
Solid Hopper yang berkapasitas 7 ton. Berikut adalah gambar unit Solid
Hopper pada PT Socfin Indonesia Kebun Sungai Liput :
54
Gambar 3.29 Bak Dekantasi
14. Fat-pit
Fat – Pit merupakan bak penampung Sludge yang terdiri dari
tumpahan minyak, dan air cucian PKS pada proses pemurnian minyak
sebelumnya. Pada Fat-Pit akan diukur persentase minyak yang masih
terkandung dalam Sludge, jika melebihi anggaran yaitu sebesar 0,60 % maka
akan diambil kembali minyak tersebut dan dimasukkan ke Collecting Tank
untuk diolah kembali. Pada Desa Sei Liput PT Socfin Indonesia Kebun
Sungai Liput memiliki 6 kolam yang masing – masing memiliki kapasitas
yaitu sebesar 216 m³.
55
Gambar 3.30 Fat-Pit
3.2.6. STASIUN PENGOLAHAN BIJI (KERNEL PLANT STATION)
Tujuan dari pengolahan ini adalah untuk memisahkan inti (kernel)
dari cangkang nya dan fibre. Campuran ampas (fiber) dan biji (nut) yang
keluar dari screw press diproses kembali di stasiun kernel untuk
menghasilkan:
1). Cangkang (shell) dan fiber yang digunakan sebagai bahan bakar boiler.
2). Kernel (inti sawit) sebagai hasil produksi yang siap dipasarkan.
1. Cake Breaker Conveyor (CBC)
Cake Breaker Conveyor berfungsi untuk membawa serabut dan biji
(Cake) serta untuk mencacah gumpalan cake (sekaligus mengeringkannya)
dari pressan menuju ke Depericarper dan lebih mudah di blower untuk
memisahkan fraksi ringan dan fraksi yang berat.
Fraksi berat ialah biji utuh, biji pecah, inti utuh dan inti pecah.
Conveyor ini dilengkapi dengan ulir pembawa yang di desain berbentuk pedal
– pedal yang berfungsi sebagai pencacah gumpalan cake. Berikut gambar unit
56
Cake Breaker Conveyor Pada PT Socfin Indonesia (Socfindo) Kebun Sei
Liput.
57
Gambar 3.32 Sparating Coulomb and Fiber Cyclone
3. Depericarper
Depericarper berfungsi untuk memisahkan biji dari batu dan spiklet
Depericarper berbentuk seperti drum yang diberi lubang di sepanjang
sisinya. Pada PT. Socfin Indonesia Kebun Sungai Liput terdapat 1 unit
Depricarper dengan kapasitas sebesar 30 ton/jam.
58
Gambar 3.33 Depericarper
4. Nut Silo
Sebelum memasuki Nut Silo maka terdapat Wet Nut Elevator yang
berfungsi untuk mengangkat biji atau nut dari Depericarper. Nut Silo
berfungsi untuk mengurangi kadar air di dalam biji atau Nut dan sebagai
tempat penyimpanan nut sementara (Hopper) sebelum dipecah oleh Ripple
Mill. Pada PT Socfin Indonesia Kebun Sungai Liput terdapat 2 unit Nut Silo
dengan kapasitas masing – masing yaitu sebesar 40 m³.
59
Gambar 3.34 Nut Silo
5. Ripple Mill
Sebelum memasuki Ripple Mill terdapat Dry Nut Conveyor yang
berfungsi sebagai alat angkut bahan berbentuk Screw yang berputar berfungsi
untuk menampung biji dari bawah Nut Silo untuk dibawa ke Ripple Mill.
Didalam Ripple Mill terjadi proses pemecahan Nut, dimana nut yang
dipecahkan ini sudah bersih dari serabut setelah keluar dari Nut Silo. Tujuan
dari pemecahan Nut di dalam Ripple Mill ini adalah agar mudah memisahkan
antara kernel dan cangkangnya.
60
Gambar 3.35 Ripple mill
6. Mixture Conveyor
Mixture Conveyor adalah alat angkut bahan berbentuk Screw yang
berputar berfungsi untuk membawa inti dan cangkang dari bawah Ripple Mill
untuk dibawa ke Moder Bak.
61
menghilangkan debu dan partikel halus seperti pecahan cangkang, inti, dan
serat. Sebaliknya inti dan cangkang yang besar pada umumnya berbentuk
bulat dan tebal akan jatuh ke Moder Bak. Debu dan partikel tersebut akan
ditampung ke dalam Shell Fiber Bin yang nantinya akan digunakan sebagai
bahan bakar Boiler. Winowing Separating pada PT Socfin Indonesia Kebun
Sungai Liput memiliki Losses maksimal 0,50%.
62
Conveyor, sedangkan cangkang, biji bulat, biji pecah akan diteruskan ke Shell
Grading.
63
Gambar 3.39 Vibrating Kernel
10. Shell Grading
Shell Grading adalah sebuah drum yang berputar dan memiliki
lubang-lubang disepanjang sisi-sisinya, yang berfungsi sebagai pemisahan
cangkang berdasarkan ukuran. Cangkang yang masuk kedalam Shell Grading
hasil dari pemisahan kernel dan cangkang melalui timba-timba pada Moder
Bak. Sehingga untuk memisahkannya, cangkang tersebut diputar dengan
kecapatan 33 rpm, untuk Losses pada Shell Grading maksimal 1,00 %.
64
11. Peneumatic Wet Kernel
Peneumatic Wet Kernel sebagai media transport kernel menuju
Kernel Dryer dengan cara hembusan Blower.
65
Gambar 3.42 Kernel Dryer
13. Kernel Bin
Kernel Bin adalah tempat penampungan terakhir pada proses
pengolahan kernel yang berfungsi sebagai penyimpanan kernel untuk
sementara waktu sebelum didistribusikan ke pembeli. Pada PT Socfin
Indonesia Kebun Sungai Liput terdapat 2 unit Kernel Bin dengan masing –
masing memiliki kapasitas yaitu sebesar 40 ton.
66
Gambar 3.43 Kernel Bin
67
mutu IKS . Penentuan kadar air pada IKS dilakukan dengan menggunakan
oven untuk menghilangkan sebagian air dari sampel minyak sawit dengan
cara menguapkan air tersebut dengan panas. Dengan pemanasan
menggunakan oven diharapkan air yang ada di minyak akan menguap pada
saat dipanaskan dalam waktu tertentu pada suhu 130ᵒC. Sehingga terdapat
perbedaan berat antara sebelum dan sesudah itulah kadar air pada IKS
Standar mutu SNI (Standar Nasional Indonesia) kadar air pada IKS
adalah <8,00% sesuai dengan PT. Socfindo Indonesia Kebun Sei Liput di
Desa Sei Liput yang memiliki Standar mutu IKS ialah <8,00%.
68