0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
3 tayangan10 halaman

Pembaruan Pendidikan Islam 1250-1500 H

Diunggah oleh

nadhiralubis
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
3 tayangan10 halaman

Pembaruan Pendidikan Islam 1250-1500 H

Diunggah oleh

nadhiralubis
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

SEJARAH PENDIDIKAN ISLAM

MASA KEMUNDURAN

(1250-1500 H)

Diajukan untuk memenuhi tugas kelompok pada mata kuliah

Sejarah Pendidikan Islam

Dosen Pengampu : Ibu Fauziah Nasution, M. Ag.

Disusun oleh :

Silvi Nasution ( 2220100266 )

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN AGAMA ISLAM

FAKULTAS TARBIYAH DAN ILMU KEGURUAN

UNIVERSITAS ISLAM NEGERI

SYEKH ALI HASAN AHMAD ADDARY

PADANGSIDIMPUAN

T.A 2023/2024
1. LATAR BELAKANG PEMBARUAN DALAM ISLAM
Latar belakang munculnya pembaruan dalam bidang pendidikan Islam antara lain
adanya situasi sosial keagamaan masyarakat mesir saat itu yang penuh dengan taqlid,
bid’ah dan khurafat serta pemikiran yang statis. Seperti halnya Al-Afghani, Abduh
melihat bahwa salah satu penyebab keterbelakangan umat Islam yang amat
memperihatinkan adalah hilangnya tradisi intelektual yang pada intinya ialah kebebasan
berpikir1.

Setelah bangsa Eropa mempelajari filsafat dan ilmu pengetahuan dari ilmuan Islam,
dan mereka mengembangkan ilmu-ilmu tersebut. Semenjak itu pula umat Islam tidak lagi
memperhatikan ilmu-ilmu tersebut dan sebagai umat Islam mengalami kemunduran
dalam segala aspek kehidupan.

Dengan semangat I’adatul Islam dan memerhatikan beberapa faktor yang menjadi
sebab lahirnya pembaruan pendidikan Islam, maka pada garis besarnya telah terjadi dua
pemikiran pembaruan pendidikan Islam, kedua pola tersebut adalah (1) pola pembaruan
pendidikan Islam yang berorientasi pada pola pendidikan modern di Barat, yang
kemudian dikenal dengan gerakan modernis dan (2) pembaruan pendidikan Islam yang
berorientasi pada tujuan pemurnian kembali ajaran Islam.

Golongan pertama, adalah golongan yang berorientasi pada pola pendidikan modern
di Barat berpandangan bahwa sumber kekuatan dan kesejahteraan hidup yang diakui oleh
Bart adalah dengan jalan mendirikan sekolah-sekolah ala Barat, baik sistem maupun isi
pendidikanya. Dalam rangka memajukan sistem pendidikan Islam, banyak juga pelajar
yang dikirim ke Eropa terutama Perancis, untuk mengausasi ilmu-ilmu sains dan
teknologi modern. Kelompok ini telah menyadari bahwa kondisi pendidikan Islam telah
mengalami kemunduran yang sangat laur biasa.2

Kedua, golongan yang berorientasi pada pembaruan pendidikan Islam yang


berdasarkan sumber Islam yang murni. Bagi mereka, terjadinya kemunduran umat Islam
lebih disebabkan oleh ketidaktaatan kaum muslimin dalam menjalankan ajaran Islam
sebagaimana mestinya. Pola ini berpandangan bahwa sesungguhnya Islam sendiri
1
Fauzi, Jurnal Studi Islam dan Budaya, Pembaruan Islam (Memahami Makna, Landasan, dan Substansi
Metode), Ibda, Vol 2 No. 1 Jan-Jun 2004, h. 3
2
Andik Wahyun Muqoyyidin, Jurnal, Pembaruan Pendidikan Islam Menurut Muhammad Abduh, Vol. 38 No. 2.
2013, h. 298
merupakan sumber bagi kemajuan dan perkambangan peradaban serta ilmu pengetahuan
modern, dalam hal ini Islam telah membuktikanya pada masa kejayaan di masa silam. 3

2. FAKTOR-FAKTOR PEMBAHARUAN PENDIDIKAN ISLAM

Menurut Fauzan, Pembaharuan Pendidikan Islam terjadi karena dua faktor, yaitu
faktor inter nal dan eksternal.4

a. Faktor Internal
1. Kebutuhan pragmatis umat Islam yang sangat memerlukan satu sistem pendidikan
Islam yang betul-betul bisa dijadikan rujukan dalam rangka mencetak manusia-
manusia muslim yang berkualitas, bertakwa dan beriman kepada Allah.
2. Agama Islam melalui ayat suci Alquran banyak menyuruh atau menganjurkan
umat Islam untuk selalu berfikir dan bermetaform, membaca dan menganalisis
sesuatu untuk kemudian bisa diterapkan atau bahkan bisa menciptakan hal yang
baru dari apa yang kita lihat.
3. Adanya kesadaran sebagian para ulam/tokoh umat Islam akan ketertinggalannya
dari orang Barat, dan mereka ingin memperbaiki kembali nasibnya.5

b. Faktor Eksternal

Adanya kontak Islam dengan Barat, terutama setelah penaklukan Napoleon


terhadap Mesir, telah menyadarkan dan mengugah umat Islam untuk melakukan
perubahan perubahan pragmatis umat Islam untuk belajar secara terus kepada Barat,
sehingga ketertinggalan-ketertinggalan yang selama ini dirasakan akan bisa
terminimalisir.

3. POLA PEMBAHARUAN PENDIDIKAN ISLAM

Pada masa ini, Umat Islam benar-benar mengalami keunduran yang signifikan dan
bertolak belakang dengan kemajuan yang dialami bangsa-bangsa Eropa. Oleh karena

3
Muhaimin, Arah Baru Pengembangan Pendidikan Islam, Pemberdayaan, Pengembangan Kurikulum Hingga
Islamisasi Pengetahuan, (Bandung: Nuansa Cendikia, 2003),h. 197
4
Ibid, h. 198
5
Ramayulis, Sejarah Pendidikan Islam, (Jakarta: Radarjaya Ofset: 2011), h. 163
itu, secara garis besar terdapat tiga pola pemikiran pembaharuan Pendidikan Islam,
yaitu6 :

a. Pola Pendidikan Modern di Barat

Pandangan mereka adalah bahwa kekuatan dan kemakmuran Barat berasal dari
kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi modern. Mereka berpendapat bahwa
pencapaian negara-negara Barat saat ini dibangun di atas landasan kemajuan ilmu
pengetahuan dan budaya yang berasal dari dunia Islam.

Perolehan ilmu pengetahuan dapat dicapai melalui proses pendidikan. Oleh karena
itu, sangat penting untuk mengikuti model pendidikan yang dikembangkan di dunia
Barat, mengingat sistem pendidikan dunia Islam telah banyak ditiru dan
dikembangkan oleh Barat. Inisiatif untuk menghidupkan kembali pendidikan Islam
berpusat pada penciptaan sekolah yang mengikuti kurikulum dan pedagogi gaya
Barat. Bersamaan dengan ini, banyak negara Islam yang mengirimkan siswanya untuk
belajar di Barat, khususnya di Perancis, untuk mendapatkan keahlian dalam ilmu
pengetahuan dan teknologi kontemporer.

Pada penghujung abad ke-17, kebangkitan pendidikan Islam berstruktur Barat


muncul di Turki Usmani. Pergerakan menuju modernisasi ini akhirnya mengarah pada
sekularisasi negara. Sultan Mahmud II yang memerintah pada tahun 1807 hingga
1839 merupakan cikal bakal reformasi. Menurut Harun Nasution, Sultan Mahmud II
memprakarsai perubahan penting di bidang pendidikan. Pada masa ini, madrasah
merupakan satu-satunya lembaga pendidikan yang ada, namun hanya mengajarkan
agama dan bukan ilmu umum. Sultan Mahmud II menyadari bahwa pendidikan
tradisional yang ditawarkan di madrasah tidak lagi memenuhi kebutuhan abad ke-19.

Pada masa pemerintahannya, Sultan Mahmuud II melaksanakan berbagai


reformasi pendidikan dengan mendirikan berbagai sekolah, termasuk sekolah yang
berfokus pada taktik militer, teknik, kedokteran, dan bedah. Lulusan madrasah
tradisional seringkali melanjutkan studinya di lembaga-lembaga yang baru dibentuk
tersebut. Pada tahun 1838 M, sekolah kedokteran dan bedah bergabung menjadi Dar-
ul Ulum u-Hikemiye ve mekteb-i Tibiyye-i Sahane, dengan bahasa pengantar Prancis
dan Turki. Selain reformasi pendidikan tersebut, Sultan juga mengirimkan pelajarnya

6
Admin_pai, ”Pola Pembaharuan Pendidikan Islam”, Jurusan Pendidikan Agama Islam, September 3, 2018,
[Link]
ke luar negeri untuk mempelajari sains dan teknologi, yang berkontribusi pada
munculnya sekularisme di Türkiye.

Tren reformasi yang berorientasi barat terlihat pada pemerintahan Muhammad Ali
Pasha di Mesir, seperti halnya di wilayah lain. Meski mengusir tentara Prancis dari
negaranya, ia menegaskan otonominya sebagai pengusaha. Meski buta huruf, ia
menyadari pentingnya pendidikan dan ilmu pengetahuan dalam mendorong kemajuan
dan kesejahteraan suatu bangsa. Dia terpengaruh oleh kemajuan yang dibawa oleh
Napoleon Bonaparte dalam hal ilmu pengetahuan dan teknologi.

b. Pola Pendidikan Sumber Ajaran Islam Murni

Pola ini berpandangan bahwa yang menjadi sumber kemajuan dan perkembangan
peradaban dan ilmu pengetahuan modern adalah Islam itu sendiri. Menurut mereka,
sebab kemunduran Islam pada saat itu justru karena Umat Islam tidak lagi
mengamalkan Islam sebagai mana semestinya. Sumber utama ajaran Islam diabaikan
dan menerima ajaran Islam yang tidak murni lagi. Hal tersebut terjadi setelah
mandeknya perkembangan filsafat Islam, pola pemikiran rasional ditinggalkan, dan
menganut pola hidup. Selain itu, umat islam juga meras akesulitan untuk mengatasi
problematika yang terjadi akbat perubahan dan perkembangan zaman.

Pola perubahan dasar ajara Islam murni ini, dirintis oleh Muhammad bin Abdul
Wahab kemudian digerakkan lanjut oleh Jamaluudin Al-Afgani dan Muhammad
Abduh ( Akhir abad ke 19).

Menurut Jamaluddin Al-Afgani, pemurnian ajaran Islam dengan kembali al-


Qur’an dan Hadist dalam arti yang sebenarnya, tidaklah kaku. Ia berkeyakinan bahwa
Islam adalah sesuai untuk semua bangsa, semua zaman dan semua keadaan. Menurut
Muhammad Abduh, al-Qur’an bukan semata-mata ditunjukkan kepada hati manusia,
tetapi juga pada akalnya. Menurutnya, Islam agama rasional. Abduh melihat bahwa
yang timbull dari sistem dualisme dalam pendidikan Islam. Sistem madrasah lama
akan menghasilkan ulama yang tidak ada pengetahuannya tentang ilmu-ilmu modern,
sedang sekolah-sekolah pemerintah akan menghasilkan ahli yang sedikit pengetahuan
agamanya.
Dengan memasukkan ilmu pengetahuan modern kedalam Al-Azhar dan dengan
memperkuat didikan agama di sekolh-sekolah pemerintah, jurang pemisah golonga
ulama dari golongan ahli ilmu modern akan diperkecil.

c. Pola Pendidikan Nasionalisme

Bermula di Barat, kesadaran nasionalis muncul seiring berkembangnya gaya


hidup modern. Negara-negara Barat mengalami perkembangan kesadaran nasionalis
dan kemudian kekuatan politik dan kemerdekaan. Situasi ini mendorong dunia Timur
untuk mengembangkan nasionalismenya sendiri. Hal ini dianggap sangat mendasar
karena umat Islam terdiri dari berbagai bangsa dengan latar belakang dan sejarah
perkembangan budaya yang berbeda-beda. Mereka hidup pada waktu yang sama
dengan agama-agama lain di negara tersebut. Hal ini pula yang mendorong
berkembangnya kesadaran nasionalis di dunia Islam.

Kelompok nasionalis ini berupaya memperbaiki kehidupan di dunia Islam dengan


memusatkan perhatian pada situasi dan kondisi obyektif bangsa. Dalam upaya
pembaharuannya, kelompok ini tidak hanya menyerap unsur-unsur kebudayaan Barat
yang sudah maju, namun juga unsur-unsur warisan budaya bangsa yang bersangkutan.

4. ASPEK PEMBAHARUAN PENDIDIKAN ISLAM


a. Muhammad Abduh

Kalau diikuti jalan pikiran Muhammad Abduh yang demikian agaknya bisa
dikatakan, bahwa dalam mencari kebenaran ia bertolak dari pendapat akalnya.
Artinya, ia lebih dulu mencari kebenaran dengan akalnya, kemudian baru kembali
kepada wahyu. Sulaiman Dunya menilai cara berpikir Muhammad Abduh yang
demikian bukan cara berpikir kaum teolog, bahkan para teolog Muktazilah sendiri,
tetapi ia telah memasuki cara berpikir kaum filosof yang kembali kepada ayat setelah
ia berusaha mencari argumen-argumen dengan akalnya. Menurut Muhammad Abduh,
akal dapat mengetahui hal-hal berikut ini7:

1) Tuhan dan sifat-sifat-Nya;


2) Adanya hidup di akhirat;

7
Iskandar Usman, Muhammad Abduh dan Pemikiran Pembaharuan, Jurnal Pemikiran Islam, Vol. 2 No.
1, 2022
3) Kebahagiaan jiwa di akhirat bergantung pada mengenal Tuhan dengan baik,
sedang kesengsaraannya bergantung pada tidak mengenal Tuhan dan perbuatan
jahat;
4) Wajibnya manusia mengenal Tuhan;
5) Wajibnya manusia berbuat baik dan wajibnya ia menjauhi perbuatan jahat untuk
kebahagiaan hidup di akhirat; dan
6) Hukum-hukum mengenai kewajiban-kewajiban itu.

Pemikiran Teologi yang dicetuskan oleh Muhammad Abduh ini memang


berbeda dari teolog-teolog lain pada masanya. Dalam pendapat Muhammad Abduh,
fungsi wahyu adalah sebagai berikut:

1) Wahyu memberi keyakinan kepada manusia bahwa jiwanya akan terus ada setelah
tubuh mati. Wahyu menolong akal untuk mengetahui akhirat dan keadaan hidup
manusia di sana;
2) Wahyu menolong akal dalam mengatur masyarakat atas dasar prinsip-prinsip
umum yang dibawanya sebagai sumber ketenteraman hidup dalam masyarakat;
3) Wahyu menolong akal agar dapat mengetahui cara beribadah, dan berterimakasih
pada Allah; dan
4) Wahyu mempunyai fungsi konfirmasi untuk menggunakan pendapat akal melalui
sifat kesucian dan kemutlakan yang terdapat dalam wahyu yang bisa membuat
orang manfaat.

Secara garis besar, sistem pemikiran teologi Abduh, wahyu mempunyai “dwi
fungsi”, yaitu memberi konfirmasi dan informasi, sehingga baginya wahyu itu sangat
diperlukan untuk menyempurnakan pengetahuan yang diperoleh melalui akal.

b. Hasan al-Banna

Pembaharuan yang dilakukan oleh al-Banna memiliki karakter tersendiri yang


membedakannya dengan para pembaharu sebelumnya 8. Setidaknya terdapat tiga
karakter pembaharuan al-Banna: pertama; dakwah Islam secara komprehensif, dalam
artian Islam harus masuk ke dalam kehidupan manusia secara sempurna, tanpa adanya
pemisahan antara negara dan agama atau pemisahan dunia dan akhirat. Kedua;
dakwah secara universal, artinya dakwah tidak terbatas pada daerah atau person

8
Muhammad Misbah, Kontribusi Imam Asy-Syahid Hadan Al-Banna Terhadap Pemikiran Islam Modern, Jurnal
Ilmu Aqidah dan Studi Keagamaan, Vol.3 No.2, Desember 2015, h. 398
tertentu, akan tetepi dakwah Islam harus disebarkan di seluruh dunia. Ketiga; ajakan
mendirikan khilafah Islamiyyah, yaitu bagaimana agama Allah – Islam - bisa
menguasai bumi dan mendirikan negara Islam. Sehingga dengan demikian, tajdid
(pembaharuan) yang dilakukan oleh Hasan al-Banna telah merambah ke berbagai
aspek, baik pembaharuan di bidang akidah, fikih, pendidikan Islam, maupun politik.

1) Metode tajdid Hasan al-Banna dalam menghidupkan akidah

Secara ringkas, metode Hasan al-Banna dalam pemaparannya tentang akidah


dapat disimpulkan sebagai berikut:

a) Memperhatikan pengaruh akidah terhadap jiwa

b) Membandingkan syubhat akidah modern

c) Memperkuat hubungan manusia dengan sang Pencipta

d) Menghindari sikap takfir (mengafirkan orang lain) dan tadhil (menyesatkan


orang lain).

2) Tajdid dalam Fiqih

Hasan al-Banna menggunakan gaya Rasulullah dalam fikih, yaitu gaya


pengamalan (al-uslub al-amaly) dalam rangka pembaharuan fikih. Gaya ini memiliki
pengaruh yang signifikan, yang membuat kaum muslimin melihat kembali sikap
sebagian mereka dalam masalah perbedaan-perbedaan dalam fikih.

Pembaharuan fikih yang dilakukan Hasan al-Banna adalah dengan menjauhkan


umat Islam dari pembahasan njlimet terkait cabang-cabang fikih, pembuatan istilah-
istilah asing, dan asumsiasumsi fikih atas hukum peristiwa yang belum terjadi.
Sebagai gantinya, Hasan al-Banna selalu mengkaitkan fikih manusia dengan al-Quran
dan as-Sunnah dengan gaya bahasa yang mudah dan sederhana. Gaya Hasan al-Banna
dan pembaharuan fikihnya ini telah menyebar luas. Sehingga, banyak sekali
bermunculan kitab-kitab fikih yang mengikuti gaya al-Banna ini. Di antara kitab fikih
yang paling terkenal adalah Fiqh as-Sunnah karya Syaikh Sayyid Sabiq yang di
dalamnya banyak menerjemahkan gagasan-gagasan al-Banna dan pandangan
fikihnya.

3) Tajdid dalam Pendidikan Islam9


9
Ibid, h. 401
Melalui gerakan Ikhwanul Muslimin Syaikh Hasan al-Banna telah berhasil
membentuk generasi muslim yang memahami Islam secara benar, memiliki keyakinan
yang mendalam terhadap Islam, mempraktekkannya dan mengajak manusia padanya
serta berjihad di jalannya. Adapun faktor keberhasilan Hasan al-Banna dalam
mendirikan madrasah ini adalah keyakinannya yang begitu kuat bahwa pendidikan
merupakan satu-satunya cara mengubah masyarakat. Meskipun berat dan memerlukan
waktu yang lama, namun inilah jalan yang ditempuh Rasulullah. Hasan al-Banna
membuat metode pendidikan yang sumbernya al-Quran dan Sunnah Rasulullah, dan
menciptakan nuansa jamaah penuh kekeluargaan. Dalam dakwahnya ini, Hasan al-
Banna menggunakan berbagai macam sarana, seperti: ceramah dan khutbah, seminar,
kajian, sloganslogan, nasyid, liqa’ (pertemuan rutin), buku-buku, kelompok
perkemahan dan olahraga, serta cara-cara lainnya.

Gagasan tentang pembaruan pendidikan al-Banna banyak dituangkanya dalam


kitab Majmuah ar-Rasail (Himpunan Risalah) karyanya. Dalam risalahnya itu, Hasan
al-Banna membuat metode pendidikan yang dirumuskan dalam 10 prinsip, yang
merupakan ringkasan dakwah Ikhwanul Muslimin. Kesepuluh prinsip tersebut adalah
pemahaman, ikhlas, amal, jihad, pengorbanan, ketaatan, sabat, tajarrud, persaudaraan,
dan percaya diri.

4) Tajdid dalam Politik

Politik dalam pandangan Hasan al-Banna adalah bagian dari agama. Sebab, Islam
menurutnya adalah agama dan negara. Sehingga, tidak mengherankan bila Ikhwan al-
Muslimin terjun ke dalam dunia politik. Selain politik dipandang sebagai bagian dari
agama, ia merupakan cara dakwah Ikhwanul Muslimin.

Hasan alBanna juga melakukan pembaharuan terkait pemahaman jihad. Dalam hal
ini, ia membuat risalah khusus tentang jihad. Isinya pertama-tama mengupas tentang
hukum jihad, anjuran berjihad, serta menjelaskan pahala mujahidin dan syuhada’.
Selanjutnya ia menjelaskan hukum jihad dalam perpektif ulama fikih. Ia
menyimpulkan, bahwa jihad sekarang hukumnya fardhu ain atas umat Islam, guna
menahan serangan-serangan orang kafir, membebaskan Al-Aqsha, dan
mengembalikan negara yang dirampas. Di akhir risalahnya tersebut, Hasan al-Banna
membicarakan tentang betapa mulianya mati di jalan Allah.
DAFTAR PUSTAKA

Admin_Pai. (2018, September 3). Pola Pembaharuan Pendidikan Islam. Retrieved from
Jurusan Pendidikan Agama Islam:
[Link]
Fauzi. (2004). Pembaharuan Islam (Memahami Makna, Landasan, dan Substansi Metode).
Jurnal Studi Islam dan Budaya, 3.
Misbah, M. (2015). Kontribusi Imam Asy-Syahid Hasan Al-Banna Terhadap Pemikiran Islam
Modern . Jurnal Ilmu Aqidah dan Studi Keagamaan, 398.
Mugoidin, A. W. (2013). Pembaruan pendidikan Islam Menurut Muhammad Abduh. Jurnal,
298.
Muhaimin. (2003). Arah Baru Pengembangan Pendidikan Islam, Pemberdayaan,
Pengembangan kurikulum Hingga Islamisasi Pengetahuan. Bandung: Nuansa
Cendikia.
Ramayulis. (2011). Sejarah pendidikan Islam. Jakarta: radarjaya Ofset.
Usman, I. (2022). Muhammad Abduh dan Pemikiran Pembaharuan . Jurnal Pemikiran Islam,
2(1).

Anda mungkin juga menyukai