0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
41 tayangan18 halaman

Pendidikan Islam di Masa Khulafaur Rasyidin

Diunggah oleh

dwi.cahyani1245
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
41 tayangan18 halaman

Pendidikan Islam di Masa Khulafaur Rasyidin

Diunggah oleh

dwi.cahyani1245
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah


Pendidikan merupakan suatu hal yang paling utama bagi warga suatu
Negara, karena maju atau mundurnya suatu Negara ditentukan melalui
tinggi dan rendahnya tingkat pendidikan warga negaranya. Salah satu
bentuk pendidikan yang mengacu kepada perkembangan tersebut adalah
pendidikan agama yang menjadi modal dasar tenaga penggerak yang tak
ternilai harganya untuk mengisi aspirasi bangsa, karena dengan
terselenggaranya pendidikan agama yang baik maka akan membawa
dampak yang baik terhadap pemahaman dan pengamalan ajaran agama.
Pendidikan Islam yang bersumber dari Al-Qur’an dan Hadits adalah
untuk membentuk manusia menjadi manusia seutuhnya. Sebagaimana yang
telah ditentukan oleh Allah bahwa manusia fitrahnya diciptakan semata-
mata hanya untuk menyembah Nya, beribada kepada Nya, taat dan tunduk
kepada Nya dan beriman serta bertakwa kepada Nya yang merupakan
khalifah dibumi ini.
Manusia adalah makhluk yang selalu menginginkan kesempurnaan
oleh karena itu dengan segala potensi yang dimilikinya manusia selalu
berusaha untuk maju dan berkembang dalam mencapai kesempurnaannya.
Cara yang ditempuh oleh manusia sendiri pun dilalui dengan belajar dari
lingkungan alam sekitar yang juga dipengaruhi dengan faktor eksternal, hal
ini disebut dengan istilah pendidikan oleh Slamet Imam Santoso.
Oleh karena itu, jelas bahwa proses pendidikan menjadi sebuah
rangkaian usaha untuk membimbing, mengarahkan potensi hidup manusia
dan kemampuan belajar manusia yang seharusnya dilandasi oleh nilai-nilai
Islami.
Sejarah pendidikan Islam menjadi sebuah pelajaran untuk dapat
mengetahui perkembangan pendidikan Islam sejak zaman Rasulullah hingga
saat ini. Yang mana telah kita ketahui langkah awal pendidikan pada zaman
Rasulullah dilakukan dengan menyeru keluarga, sahabat-sahabat, tetangga

1
lalu masyarakat luas. Dan ketika Rasulullah wafat, kekuasaan Islam mulai
dipegang oleh Khulafaur Rasyidin. Para khalifah ini memusatkan
perhatiannya pada pendidikan, syiar agama serta kokohnya Negara Islam.
Yang dari itu, pada makalah ini akan dibahas mengenai “Pendidikan Islam
Pada Masa Khulafaur Rasyidin” sehingga dapat kita jadikan pengetahuan
sejarah untuk dapat dijadikan perbandingan terhadap proses perkembangan
pendidikan pada masa sekarang.

B. Rumusan Masalah

Dari pada latar belakang diatas, kami merumuskan beberapa masalah


yang akan dibahas pada makalah ini sebagai berikut:
1. Bagaimana masa kepemimpinan pada masa Khulafaur Rasyidin?
2. Bagaimana pola pendidikan Islam pada masa Khulafaur Rasyidin?
3. Bagaimana materi pendidikan Islam pada masa Khulafaur Rasyidin?
4. Bagaimana pusat-pusat pendidikan pada masa Khulafaur Rasyidin?

C. Tujuan
Berdasarkan rumusan masalah diatas, maka tujuan disusunnya
makalah iniadalah:
1. Untuk mengetahui masa kepemimpinan pada masa Khulafaur
Rasyidin.
2. Untuk mengetahui pola pendidikan Islam pada masa Khulafaur
Rasyidin.
3. Untuk mengetahui materi pendidikan Islam pada masa Khulafaur
Rasyidin.
4. Untuk mengetahui pusat-pusat pendidikan Islam pada masa Khulafaur
Rasyidin.

D. Manfaat
Sejarah adalah kaca spion perkembangan dan pertumbuhan di zaman
sekarang. Menjadi sebuah ilmu yang penting untuk diketahui masyarakat
termasuk para akademisi sebagai bahan pengetahuan dalam tindakan

2
perubahan yang ditargetkan. Maka dari itu, makalah ini dibuat sebagai
bentuk rekapan rinci dan singkat mengenai sejarah pendidikan Islam di masa
Khulafaur Rasyidin untuk dapat dipelajari dan diambil garis besarnya oleh
pembaca.

3
BAB II
PEMBAHASAN

A. Masa Kepemimpinan Kulafaur Rasyidin


Nabi Muhammad SAW. tidak meninggalkan wasiat tentang siapa yang
akan menggantikan beliau sebagai pemimpin politik umat Islam sebelum
beliau wafat. Beliau tampaknya menyerahkan persoalan tersebut kepada
kaum muslimin sendiri untuk menentukannya. Karena itulah, tidak lama
setelah beliau wafat; belum lagi jenazahnya dimakamkan, sejumlah tokoh
Muhajirin dan Anshar berkumpul dibalai kota Bani Sa’idah, Madinah untuk
memusyawarahkan siapa yang akan dipilih menjadi pemimpin. Musyawarah
itu berjalan cukup sulit karena dari pihak Muhajirin maupun Anshar sama-
sama berhak menjadi pemimpin. Namun, dengan semangat Ukhuwah
Islamiah yang tinggi akhirnya Abu Bakar terpilih. Ternyata semangat
keagamaan Abu Bakar mendapat penghargaan tinggi dari umat Islam
sehingga masing-masing pihak menerima dan membaiatnya.
Abu Bakar hanya menjadi khalifah selama 2 tahun, pada tahun 634
beliau wafat. Masa sesingkat itu habis untuk menyelesaikan persoalan dalam
negeri terutama tantangan yang ditimbulkan oleh suku-suku bangsa arab
yang tidak mau tunduk lagi kepada pemerintah Madinah. Mereka
menganggap bahwa perjanjian yang dibuat oleh Nabi Muhammad dengan
sendiri nya telah batal setelah Nabi wafat. Karena itu mereka menentang
Abu Bakar, lalu Abu Bakar menyelesaikan persoalan ini dengan Perang
Riddah (perang melawan kemurtadan). Khalid ibn Walid menjadi jenderal
pada perang ini. Setelah menyelesaikan urusan perang dalam negeri, Abu
Bakar mulai mengirim kekuatan keluar Arabia dan pada tahun 634M Khalid
ibn Walid berhasil menguasai Al-Hirah. Lalu Abu Bakar juga mengirim
ekspedisi ke Syria yang dipimpin oleh Abu Ubaidah, Amr ibn Ash, Yazid
ibn Abi Sufyan dan Syurahbil. Kala itu juga Abu Bakar memerintah Khalid
ibn Walid meninggalkan Iraq dan bergabung ke Syria. Ketika Abu Bakar
mulai sakit-sakitan, beliau mengutus Umar bin Khatab untuk menjadi
penggantinya.

4
Umar bin Khatab memimpin selama sepuluh tahun (13-23H/634M-644M).
Dizaman Umar bin Khatab perluasan daerah kekuasaan Islam pertama
terjadi. tahun 635M hingga 641M wilayah kekuasaan Islam sudah meliputi
Jazirah Arabia, Syria, Palestina, serta sebagian dari wilayah Persia dan
Mesir. Dengan adanya perluasan daerah ini, Umar bin Khatab mulai
mengatur administrasi Negara, mengambil contoh dari administrasi yang
sudah berkembang terutama di Persia. Administrasi pemerintahan dibagi
menjadi 8 wilayah Provinsi yaitu Makkah, Madinah, Syria, Jazirah, Basrah,
Kufah, Palestina dan Mesir. Dimasa ini juga mulai menertibkan pembayaran
gaji dan pajak tanah, pengadilan dan Bait Mal didirikan untuk membedakan
lembaga yudikatif dan eksekutif, jawatan kepolisian dan pekerjaan umum
dibentuk, menempa mata uang serta menciptakan tahun hijriah. Masa
jabatan Umar bin Khatab berakhir karena pembunuhan, beliau dibunuh oleh
budak Persia bernama Abu Lu’lu’ah. Umar menunjuk 6 orang sahabat dan
meminta mereka memilih salah satunya yaitu Usman bin Affan, Ali bin Abi
Thalib, Thalhah, Zubair, Sa’ad ibn Abi Waqqas dan Abdurrahman ibn ‘Auf.
Lalu terpilihlah Usman bin Affan sebagai penggantinya.
Dimasa pemerintahan Usman bin Affan (644M-655M) bagian yang
tersisa di Persia berhasil direbut oleh Islam lalu ekspansi Islam yang pertama
berhenti disini. Dimasa separuh terakhir kekuasaannya muncul rasa tidak
puas dan kecewa dengan pemerintahannya. Salah satu factor yang
menyebabkan rasa kekecewaan umat Islam terhadapnya karena
kebijakansanaan Usman bin Affan terhadapa keluarga yang tinggi. Beliau
menganggap Marwah ibn Hakam lah yang menjalankan pemerintahan
sedangkan beliau hanya menyandang status sebagai Khalifah.
Kepemimpinan beliau yang lemah lembut berbeda dengan Umar bin Khatab
tersebut mengakibatkan Usman bin Affan terbunuh oleh para pemberontak
pada tahun 655M/35H. meskipun demikian, tidak berarti bahwa pada
kepemimpinan Usman bin Affan tidak ada kegiatan yang penting terjadi,
Usman bin Affan berjasa dalam membangun bendungan untuk menjaga arus
banjir yang besar dan mengatur pembagian air diberbagai kota. Beliau juga
membangun banyak infrastruktur seperti jalan-jalan, jembatan, masjid,dan

5
juga memperluas masjib Nabi di Madinah.

Setelah Usman bin Affan wafat, umat beramai-ramai memilih Ali bin Abi
Thalib sebagai penggantinya. Dimasa pemerintahannya terdapat berbagai
macam pergolakan dan tidak ada sedikitpun pada masanya pemerintahannya
yang stabil. Setelah Ali bin Abi Thalib diangkat menjadi Khalifah, beliau
langsung memecat para gubernur yang diangkat oleh Usman bin Affan bin
Affan, karena yakin bahwa pemberontakan yang ada terjadi karena
keteledoran mereka. Beliau juga menarik kembali tanah yang dihadiahkan
Usman bin Affan kepada penduduk dan menyerahkan hasilnya kepada
Negara lalu memakai kembali sistem distribusi pajak tahunan yang pernah
diterapkan oleh Umar bin Khatab. Tidak lama setelah itu Ali bin Abi Thalib
mengahadapi pemberontakan Zubair, Thalhah dan Aisyah. Alasannya
karena Ali tidak mau menghukum para pembunuh Usman bin Affan dan
mereka menuntut bela terhadap darah Usman bin Affan yang telah
ditumpahkan secara zalim. Awalnya Ali hendak menghindari perang, beliau
mengirim surat kepada Zubair dan Thalhah untuk dapat dirundingkan
terlebih dahulu namun ditolak. Akhirnya perang Jamal pun berkobar, Ali
berhasil melawan dalam perang ini dengan hasil Zubair dan Thalhah
terbunuh ketika akan melarikan diri lalu Aisyah ditawan dan dikembalikan
ke Madinah. Usai perang ini selesai, Perang Sifin pun terjadi yang
diakibatkan dari perlawanan Gubernur Damaskus, Mu’awiyah karena tidak
setuju dengan kebijakan- kebijakan Ali. Perang ini diakhiri dengan Tahkim
(Abitrase) yang malah menimbulkan
3 golongan yaitu Khawarij, Syi’ah dan Mu’awiyah. Keadaan yang seperti ini
menyulitkan Ali bin Abi Thalib, karena ada nya golongan Khawarij tentara
Ali semakin lemah dan Mu’awiyah semakin kuat. Ali bin Abi Thalib pun
terbunuh oleh kaum Khawarij pada tanggal 20 Ramadhan 660M/40H.
Kedudukan Ali sebagai Khalifah pun akhirnya diduduki oleh anaknya
Hasan selama beberapa bulan. Namun, Mu’awiyah semakin kuat akhirnya
Hasan membuat perjanjian damai. Perjanjian ini lah yang mendamaikan
umat Islam kembali dalam satu kepemimpinan politik dibawah Mu’awiyah
ibn Abi Sufyan.

6
Oleh karena itu, masa kepemimpinan Abu Bakar hingga Ali bin Abi
Thalib dinamakan dengan masa kepemimpinan Khulafaur Rasyidin. Mereka
dipilih melalui proses musyawarah yang dalam istilahnya adalah demokratis
dan pada masa ini seorang Khalifah tidak pernah bertindak sendiri ketika
Negara menghadapi kesulitan karena mereka selalu bermusyawarah dengan
pembesar-pembesar yang lain.

B. Pola Pendidikan Pada Masa Kulafaur Rasyidin

1. Pola Pendidikan Islam Pada Masa Abu Bakar Ash-Shiddiq (632M –


634M)
Masa awal kekhalifahan Abu Bakar diguncang oleh pemberontakan
orang- orang yang murtad, orang-orang yang mengaku sebagai nabi dan
orang-orang yang enggan membayar zakat. Berdasarkan hal ini Abu Bakar
memusatkan perhatiannya untuk memerangi para pemberontak yang dapat
mempengaruhi keimanan umat Islam yang lemah sehingga beliau mengirim
pasukan untuk menumpas para pemberontak di Yamamah. Dalam
penumpasan ini banyak umat Islam yang gugur, yang terdiri dari para
sahabat Rasulullah dan para Hafidz Al-Qur’an. Melihat hal itu, Umar bin
Khatab menyarankan untuk mengumpulkan ayat-ayat Al-Qur’an yang
kemudian Abu Bakar merealisasikannya dengan mengutus Zaid bin Tsabit
untuk mengumpulkan semua tulisan Al-Qur’an.

Pola pendidikan pada masa Abu Bakar masih sama seperti pada masa
Rasulullah, baik dari segi materi maupun lembaga pendidikannya. Dari segi
materi pendidikan Islam terdiri dari pendidikan Tauhid atau keimanan,
akhlaq, ibadah, kesehatan dan lain sebagainya.
Asma Hasan Fahmi mengatakan bahwa Kuttab didirikan oleh orang-
orang Arab pada masa Abu Bakar dan pusat pembelajaran pada masa ini
adalah Madinah sedangkan yang bertindak sebagai tenaga pendidik adalah
para sahabat Rasul terdekat. Menurut Ahmad Syalabi, lembaga untuk
belajar membaca dan menulis disebut Kuttab yang mana kuttab ini
merupakan lembaga pendidikan yang dibentuksetelah masjid.

7
Dapat kita ketahui dari penjelasan singkat diatas, pola pendidikan
Islam pada masa Abu Bakar masih belum jauh dari pola pendidikan Islam
dizaman Nabi, baik dari segi materi maupun lembaganya dan ada sedikit
perkembangan dan pertumbuhan dengan adanya pengumpulan tulisan-
tulisan ayat Al-Qur’an gunamenghindari hilangnya Al-Qur’an tersebut.

2. Pola Pendidikan Islam Pada Masa Umar bin Khatab (634M – 644M)

Abu Bakar memilih Umar bin Khatab sebagai gantinya dengan tujuan
mencegah agar tidak terjadi perselisihan dan perpecahan di kalangan umat
Islam dan pilihan tersebut sangat diterima oleh masyarakatnya. Pada masa
Umar bin Khatab kondisi politik dalam keadaan stabil,usaha perluasan
wilayah Islam memperoleh hasil yang gemilang (sebagaimana yang telah
diuraikan pada sub bab A).
Dengan meluasnya wilayah Islam ini diperlukan pula kehidupan
dalam segala bidang. Untuk memenuhi kebutuhan ini diperlukan manusia
yang memiliki keterampilan dan keahlian sehingga diperlukannya sebuah
pendidikan.
Pada masa ini juga, para sahabat yang sangat berpengaruh tidak
diperkenankan keluar daerah kecuali mendapat izin dengan waktu yang
terbatas. Yang mana jika umat Islam hendak belajar Hadits ia perlu pergi ke
Madinah. Sehingga dapat diketahui bahwa pusat penyebaran ilmu
pengetahuan dan pendidikan adalah di kota Madinah.
Kebijakan dalam peluasan wilayah disenalari dengan peluasan
pendidikan, yang mana Umar bin Khatab juga memerintahkan untuk
membangun masjid pada setiap wilayah yang telah dikuasai sebagai tempat
ibadah dan pendidikan.

Berkaitan dengan masalah pendidikan ini, Khalifah Umar bin Khatab


merupakan seorang pendidik yang melakukan penyuluhan pendidikan di
Madinah, beliau juga menerapkan pendidikan di masjid dan pasar serta
mengangkat dan menunjuk guru untuk tiap-tiap daerah yang ditaklukan itu.
Mereka bertugas untuk mengajarkan semua pendidikan mengenai Islam ke
penduduk yang baru masuk Islam. Adapun metode yang mereka gunakan

8
adalah murid yang duduk melingkari gurunya dihalaman masjid.
Mata pelajaran yang diberikan pada masa ini berupa cara membaca,
menulis dan menghafal Al-Qur’an serta mempelajari pokok-pokok agama
Islam. Dapat dilihat bahwa pendidikan dimasa ini lebih maju dari pada
masa sebelumnya, dari itu masa ini juga disebut dengan masa pertumbuhan
dan perkembangan. Bahkan dimasa ini tuntunan dalam mempelajari bahasa
arab juga sudah mulai tampak karena orang-orang yang baru masuk agama
Islam pada wilayah yang ditaklukkan itu diharuskan untuk mempelajari
bahasa arab jika ingin memahami pengetahuan Islam.
Meluasnya kekuasaan Islam mendorong kegiatan pendidikan Islam
bertambah besar karena mereka yang baru menganut agama Islam ingin
menimba ilmu keagamaan dari sahabat-sahabat yang menerima langsung
dari Nabi. Pada masa ini telah terjadi mobilitas penuntut ilmu dari daerah-
daerah yang jauh dari Madinah, sebagai pusat dari agama Islam. Gairah
menuntut ilmu agama Islam ini yang kemudian mendorong lahirnya
sejumlah pembidangan disiplin keagamaan.
Sehingga dapat kita ketahui, pendidikan Islam pada masa Umar bin
Khatab ini sudah mulai mengalami kemajuan. Efek dari stabil nya
kepemimpinan pemerintahan Umar bin Khatab mempengaruhi
perkembangan yang ada. Mulai dari pembangunan masjid disetiap wilayah
yang telah ditaklukan dan memberikan tenaga pengajar sebagai pendidik
bagi orang-orang baru yang masuk Islam ataupun umat Islam itu sendiri
untuk mendalami pendidikan Islam.

3. Pola Pendidikan Islam Pada Masa Usman bin Affan (644M – 656M)
Usman bin Affan merupakan saudagar kaya yang selalu memberikan
kekayaannya untuk kepentingan umat Islam. Usman bin Affan ibn Abil Ash
ibn Umaiyah atau yang sering dipanggil Usman bin Affan bin Affan
diangkat menjadi khalifah hasil dari pemilihan panitia enam yang ditunjuk
oleh khalifah Umar bin Khatab sebelum beliau meninggal.

Pada masa khalifah Usman bin Affan, pelaksanaan pendidikan tidak


jauh dari masa sebelumnya. Pendidikan dimasa ini hanya melanjutkan apa

9
yang telah ada, hanya ada sedikit perubahan yang mewarnai pendidikan
Islam. Para sahabat yang berpengaruh dan dekat dengan Rasulullah yang
tidak diperbolehkan meninggalkan Madinah di masa Khalifah Umar,
diberikan kelonggaran untuk keluar dan menetap didaerah-daerah yang
mereka sukai. Kebijakan ini sangat berpengaruh besar bagi pelaksanaan
pendidikan didaerah-daerah.
Pola pendidikan pada masa Usman bin Affan lebih mudah dijangkau
oleh peserta didik yang ingin menuntut dan belajar Islam dari segi pusat
pendidikan juga lebih banyak, sebab pada masa ini para sahabat bisa
memilih tempat yang mereka inginkan untuk memberikan pendidikan
kepada masyarakat.
Khalifah Usman bin Affan sudah merasa cukup dengan pendidikan
yang sudah berjalan, namun begitu ada satu usaha cemerlang yang terjadi
pada masa ini yang berpengaruh kepada pendidikan Islam di masa ini yaitu
mengumpulkan tulisan ayat-ayat Al-Qur’an. Penyalinan ini terjadi karena
adanya perselisihan dalam bacaan Al-Qur’an. Berdasarkan hal ini Khalifah
Usman bin Affan memerintahkan kepada Zaid ibn Tsabit, Abdullah ibn
Zubair, Zaid ibn Ash,dan Abdurrahman ibn Harits untuk penyalinan
tersebut. Al-Qur’an diturunkan dengan lisan Quraisy sehingga jika terjadi
perselisihan dalam bacaannya, maka mereka berpedoman kepada dialek
suku Quraisy.
Tugas mendidik dan mengajar umat muslim pada masa ini iserahkan
kepada umat itu sendiri, artinya pemerintah tidak mengangkat guru-guru
yang demikian para pendidik sendiri lah yang melaksanakan tugasnya
dengan hanyamengharapkan ridho Allah SWT.

Oleh dari itu, perkembangan pendidikan dimasa kepemimpinan Usman


bin Affan telah berkembang dari sebelumnya. Urusan pembagian proses
pendidikan sepenuhnya diserahkan oleh masyarakat tanpa adanya aturan
dari pemerintah sebagaimana di masa Umar bin Khatab.

10
4. Pola Pendidikan Islam Pada Masa Ali bin Abi Thalib (656M – 661M)

Ali bin Abi Thalib adalah Khalifah ke-4 setelah Usman bin Affan. Pada
pemerintahannya sudah diguncang peperangan dengan Aisyah beserta
Thalah dan Abdullah ibn Zubair karena kesalahpahaman dalam menyikapi
pembunuhan Usman bin Affan. Setelah mengatasi pemberontakan
dengan Aisyah, muncul pemberontakan lain sehingga dimasa ini
mengalami gejolak pemerintahan politik yang sangat tidak stabil.
Berdasarkan uraian singkat diatas, dapat diketahui bahwa pada masa
ini pendidikan Islam tidak terlalu mendapatkan focus penuh oleh
pemerintahnya karena keamanan dan kedamaian politik yang tidak stabil
tersebut. Sehingga pola pendidikan pada masa ini tidak jauh berbeda dari
pendidikan sebelumnya yang terfokus pada pengajaran pendidikan agama
Islam yang bersumber dari Al-Qur’an dan hadits serta pengajaran baca
tulis Al-Qur’an.

Dapat diambil kesimpulan bahwa pola pendidikan dimasa Khulafaur


Rasyidin ini terus bertumbuh dan berkembang, melahirkan pusat dan
lembaga pendidikan yang tidak hanya di Madinah namun diluar Madinah
karena adanya peluasan wilayah Islam yang dimulai pada zaman
Khulafaur Rasyidin ini.

C. Materi Pendidikan Islam Pada Masa Khulafaur Rasyidin


Masa pendidikan Khulafaur Rasyidin disebut juga dengan masa
pertumbuhan dan perkembangan yang terus berlanjut hingga ke masa akhir
kekuasaan Bani Umayyah. Pada masa Khulafaur Rasyidin sendiri, seperti
yang telah di bahas pada sub bab sebelumnya telah terjadi sebuah pergerakan
dan perluasan yang besar terhadap wilayah Islam dan pendidikan Islam.
Masa ini memiliki dua sasaran yaitu generasi muda sebagai generasi
penerus dan masyarakat bangsa lain yang belum menerima ajaran Islam.
Untuk sasaran kedua, penyampaian ajaran Islam sebagai salah satu usaha
internalisasinya dalam masyarakat bangsa yang baru menerimanya lazim
disebut sebagai dakwah Islami sedangkan sasaran pertama sebagai pewarisan

11
ajaran Islam disebut sebagai pendidikan Islam. Baik itu proses dakwah
ataupun mendidik merupakan upaya dari perluasan ajaran agama Islam yang
tercakup dalam Pendidikan Islam itu sendiri. Setiap pasukan kaum muslimin
yang menguasai suatu daerah selalu ditugasi oleh para sahabat untuk
menyampaikan ajaran Islam kepada penduduknya, sehingga mereka juga
berperan sebagai pendidik.

Adapun materi-materi yang diajarkan pada masa Khulafaur Rasyidin ini


tidak jauh berbeda dengan materi pendidikan yang ada pada masa
Rasulullah, yakni pendidikan Tauhid, Fiqih dan pengajaran Al-Qur’an.
Namun terdapat perkembangan dalam aspek penulisan Al-Qur’an dan
perawiyan Hadits setelah Rasul wafat, yang mana fokusnya tetap pada
pengajaran terhadap Al-Qur’an disegi baca, tulis dan menghafal. Hal ini
dilakukan karena Al-Qur’an merupakan sumber pokok dari ajaran Islam
yang langsung diwahyukan oleh Allah kepada Rasulullah, sehingga para
sahabat diamanahkan untuk menjaganya dengan cara mengumpulkan dan
menghafalkan Al- Qur’an.

D. Lembaga dan Pusat Pendidikan Pada Masa Khulafaur Rasyidin

Sebagaimana yang telah dijelaskan, bahwa peluasan daerah


kekuasaan dibarengi dengan usaha penyampaian ajaran Islam kepada
penduduknya oleh para sahabat, baik yang ikut sebagai anggota pasukan
maupun yang kemudian dikirim oleh khalifah dengan tugas khusus
mengajar dan mendidik. Maka di luar Madinah, pusat-pusat wilayah yang
baru dikuasai berdirilah pusat-pusat pendidikan dibawah pengurusan para
sahabat yang kemudian dikembangkan oleh para penggantinya (tabi’in) dan
seterusnya.
Adapun lembaga-lembaga yang terkenal pada masa Khulafaur
Rasyidin adalah:
1. Madrasah Mekkah
Guru pertama yang mengajar di Mekkah adalah Mu’adz ibn Jabal.
Beliaulah yang mengajarkan Al-Qur’an, hukum halal dan haram dalam
Islam / hukum Fiqih.

12
2. Madrasah Madinah
Madrasah Madinah ini lebih termasyhur karena disanalah tempat
para sahabat Nabi tinggal. Diantaranya nama sahabat yang mengajar di
madrasah ini ialah Umar bin Khatab, Ali bin Abi Thalib, Zaid ibn Tsabit,
Abdullah ibn Umar, Zaid ibn Tsabit merupakan ahli Qira’at dan Fiqh dan
beliaulah yang mendapat tugas untuk memimpin penulisan kembali Al-
Qur’an baik dizaman Abu Bakar maupun Usman bin Affan. Sedangkan
Abdullah ibn Umar adalah seorang ahli Hadits, beliau dianggap pelopor
madzhab ahli hadits yang berkembang pada masa-masaberikutnya.
3. Madrasah Basrah
Ulama sahabat yang terkenal di Basrah ialah Abu Musa Al-Asy’ari
dan Anas bin Malik. Abu Musa Al-Asy’ari terkenal sebagai ahli Fiqih,
Hadits dan Ilmu Al- Qur’an sedangkan Anas bin Malik termasyhur dalam
ilmu Hadits.
4. Madrasah Kuffah
Sahabat yang tinggal di Kuffah ini ialah Ali bin Abi Thalib dan
Abdullah ibn Mas’ud. Ali bin Abi Thalib mengurus masalah politik dan
urusan pemerintahan sedangkan Abdullah ibn Mas’ud sebagai guru
agama. Abdullah diutus resmi oleh Khalifah Umar untuk menjadi guru
agama di Kuffah. Beliau adalah seorang ahli Tafsir, Fiqih dan banyak
meriwayatkan Hadits-Hadits Nabi.

5. Madrasah Damsyiq
Setelah negeri Syam (Syria) menjadi bagian Negara Islam
penduduknya banyak memeluk agama Islam, maka khalifah Umar bin
Khatab mengirimkan 3 orang guru agama ke negeri tersebut yaitu Mu’adz
ibn Jabal, Ubadah dan Abu Darda’. Ketiga sahabat ini mengajar di Syam
pada tempat-tempat yang berbeda, Mu’adz ibn Jabal di Palestina, Ubadah
di Hims dan Abu Darda’ di Damsyiq.
6. Madrasah Mesir (Fistat)
Sahabat yang mula-mula mendirikan madrasah dan menjadi guru di
Mesir adalah Abdullah bin Amr bin al-Ash. Ia adalah seorang ahli
Hadits. tidak hanya menghafal hadits yang didengarnya dari Nabi

13
Muhammad SAW melainkan juga menulisnya dalm catatan sehingga ia
tidak lupa atau khilaf dalam meriwayatkan hadits kepada murid-
muridnya.

14
BAB III
PENUTUP

A. Simpulan
Pendidikan Islam pada masa Abu Bakar masih belum jauh dari pola
pendidikan Islam dizaman Nabi, baik dari segi materi maupun lembaganya
dan ada sedikit perkembangan dan pertumbuhan dengan adanya pengumpulan
tulisan-tulisan ayat Al- Qur’an guna menghindari hilangnya Al-Qur’an
tersebut. Lalu sebelum Abu Bakar wafat beliau menunjuk Umar bin Khatab
sebagai penggantinya dengan tujuan agar tidak terjadi perselisihan dan
perpecahan dikalang umat muslim.
Pada masa Khalifah Umar bin Khatab, pendidikan sudah lebih maju
sebabselama Umar memerintah Negara berada dalam keadaan yang stabil dan
aman, disamping itu ditetapkannya masjid sebagi pusat pendidikan dan
dibentuknya pusat- pusat pendidikan di berbagai kota dengan materi yang
dikembangkan baik dari segi ilmu bahasa, menulis dan pokok-pokok ilmu
lainnya. Pendidikan juga dikelola dibawah pengaturan gubernur yang
berkuasa saat itu. Lalu untuk menemukan penggantinya, Umar menunjuk 6
orang sahabat yang mana terpilihlah Usman bin Affan sebagai Khalifah
setelah Umar bin Khatab wafat.
Pendidikan Islam dimasa Usman bin Affan tidak terlalu banyak terjadi
perkembangan. Usman bin Affan hanya meneruskan apa yang telah
dijalankan pada masa Umar bin Khatab namun mengubah urusan pendidikan
yang awalnya diatur oleh gubernur menjadi urusan yang diserahkan
sepenuhnya kepada rakyatnya. Ditahun 655M Usman terbunuh oleh
pemberontak yang kemudian di ganti oleh Ali bin Abi Thalib.
Masa kepemimpinan Ali bin Abi Thali merupakan masa pergolakan
politik yang tidak stabil. Karena hal ini, Ali bin Abi Thalib tidak sempat lagi
memikirkan masalah pendidikan sebab keseluruhan perhatiannya hanya
kepada masalah keamanan dan kedamaian masyarakat nya. Yang demikian
pendidikan Islam dizaman Khulafaur Rasyidin ini tidak terlalu jauh berbeda
dengan masa Nabi Muhammad SAW, hanya saja terdapat kemajuan yang

15
sangat baik disegi pengajaran Al-Qur’an dan peluasan pusat-pusat pendidikan
Islam karena adanya peluasan wilayah kekuasaan Islam.

Adapun materi-materi yang diajarkan pada masa Khulafaur Rasyidin ini tidak
jauh berbeda dengan materi pendidikan yang ada pada masa Rasulullah,
yakni pendidikan Tauhid, Fiqih dan pengajaran Al-Qur’an. Namun terdapat
perkembangan dalam aspek penulisan Al-Qur’an dan perawiyan Hadits
setelah Rasul wafat, yang mana fokusnya tetap pada pengajaran terhadap Al-
Qur’an disegi baca, tulis dan menghafal. Hal ini dilakukan karena Al-Qur’an
merupakan sumber pokok dari ajaran Islam yang langsung diwahyukan oleh
Allah kepada Rasulullah, sehingga para sahabat diamanahkan untuk
menjaganya dengan cara mengumpulkan dan menghafalkan Al- Qur’an.
Dalam metode pendidikannya, di masa Khulafaur Rasyidin ini
menggunakan sistem mengajar dengan murid melingkari guru yang duduk
dihalaman masjid sebagai lembaga pendidikan dimasa itu. Pusat-pusat
pendidikan pada masa Khulafaur Rasyidin meliputi: 1) Mekkah, Madinah ,
Basrah, Kuffah, Damsyiq dan Mesir.

B. Saran

Penulis menyarankan agar beberapa hal terkait penerapan ilmu dan


informasi yang dibahas dalam makalah serta dalam penyusunannya, yaitu:
1. Kepada pembaca agar dapat mengambil pandangan lebih luas mengenai
pentingnya sebuah sejarah pendidikan Islam dalam kemajuan pendidikan
Islam dimasa sekarang.
2. Kepada para institusi pemerintahan terutama dalam kepada Kementrian
Pendidikan, untuk dapat lebih jeli lagi mengawasi serta memajukan system
pendidikan di Indonesia terutama pendidikan agama Islam.

16
DAFTAR PUSTAKA

Yatim, Badri. 2018. Sejarah Peradaban Islam Dirasah Islamiyah II.


Jakarta: RajawaliPres.
Supriyadi, Dedi. 2008. Sejarah Peradaban Islam. Bandung: Pustaka Setia.
Shafwan, Muhammad Hambal. 2014. Intisari Sejarah Pendidikan Islam.
Solo: PustakaArafah.
Nizar, Samsul. 2007. Sejarah Pendidikan Islam. Jakarta:
Prenadamedia Group. Syalabi, Ahmad. 2000. Sejarah Kebudayaan
Islam. Jakarta: Al-Husna Zikra.

17
1
8

Anda mungkin juga menyukai