0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
4 tayangan59 halaman

Pengaman Motor Listrik: Sekring dan MCB

Diunggah oleh

great khaled
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
4 tayangan59 halaman

Pengaman Motor Listrik: Sekring dan MCB

Diunggah oleh

great khaled
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

1

BAB II
SISTEM PENGONTROLAN MOTOR LISTRIK SECARA MANUAL

A. Pengaman Motor Listrik


Pengaman Motor Listrik pada pengontrolan motor listrik terdiri atas 3
macam, yaitu sebagai berikut;

1. Pengaman Hubung Singkat


Arus hubung singkat ( short circuit )dalam suatu rangkaian motor terjadi
karena adanya hubungan singkat. Baik hubungan singkat dalam lilitan
motor maupun hubungan dari komponen-komponen pada rangkaian
motornya. Arus hubungan singkat pada rangkaian tersebut menimbulkan
panas yang berlebihan pada motor dan komponen-komponen lain, yang
dapat menimbulkan kerusakan. Maka, untuk melindungi motor listrik
digunakan alat pengaman (proteksi). Macam alat pengaman yang
digunakan, yaitu sebagai berikut;

a. Sekring
Sekring (fuse) berguna untuk memutuskan atau membuka rangkaian
pengontrolan motor listrik apabila terjadi hubungan singkat. Sekring
mempunyai kelebihan dan kekurangan dibanding alat pengaman lain.

Kelebihan Sekring adalah:


Mempunyai kesanggupan untuk membatasi arus, sehingga apabila
rangkaian mengalami gangguan, dapat diputuskan sebelum arus melebihi
harga maksimum.
Mempunyai konstruksi yang lebih sederhana
Kekurangan sekring adalah tidak dapat diganti dengan yang baru untuk
pengaman transformer kecil, transformer tegangan motor 1 fasa, motor 3 fasa
yang berdaya kecil, dan pengaman saluran cabang.
Berdasarkan konstruksinya, sekring dapat dibagi dalam 3 macam, yaitu
sebagai berikut:
2

1) Sekring Tipe Ulir


Sekring mempunyai satu kawat tunggal yang kecil, pendek dan mudah
mencair atau meleleh’
Kawat tunggal merupakan elemen lebur yang biasanya terbuat dari
bahan logam perak, tembaga, aluminium, seng dan timah putih.
Logam perak adalah bahan yang paling baik dan banyak dipergunakan
sebagai elemem lebur sekring. Sebab logam perak mempunyai
kemampuan menghantarkan arus yang cukup besar, titik lebur atau cair
yang rendah dan tidak mudah teroksidasi udara sehingga proses
pemutusannya konstan dan dalam waktu yang cukup lama.
Konstruksi dari sekring diperlihatkan seperti pada Gambar 2.1 dan bentuk serta
simbol sekring terlihat pada Gambar 2.1a dan Gambar 2.1b

Gambar 2.1 Konstruksi Sekring


Mata sekring
Ujung kontak
Kawat sekring
Ujung kontak
Porselin
Pasir
Pada Gambar 2.1 terlihat bahwa kawat sekring atau elemen lebur ditempatkan
dalam patrun yang terbuat dari bahan porselin. Jika kuat arus melampaui batas
tertentu, kawat meleleh atau melebur, maka rangkaian akan terbuka ( open /
Off ). Pasir yang ada didalamnya digunakan untuk memadamkan bunga api listrik
yang terjadi pada saat pemutusan arus tersebut. Selain itu serbuk pasir berfungsi
3

juga sebagai pendingin, karena dapat menyerap panas. Bentuk bagian-bagian


utaa dari sekringditunjukkan pada Gambar 2.1a

Gambar 2.1a Bentuk bagian-bagian Utama dari Sekring tipe Ulir


Rumah sekring
Sekrup kontak
Patrun sekring
Kepala sekring

Gambar 2.1b Simbol sekring


Agar dapat diketahui besarnya ampere patrun sekring dan sekrup kontak,
maka pada mata patrun diberi tanda berwarna sebagai berikut:
6 A hijau 25 A kuning

25 A
kuning
10 A merah 35 A hitam

35 A
hitam
4

15 A abu-abu 50 A putih

50 A
putih
20 A biru 60 A kuning emas

60 A
kuning emas
Besar sekring dalam suatu rangkaian harus disesuaikan dengan besarnya alat
pemakai listrikyang ada dalam rangkaian itu. Arus sekring harus lebih besar atau
sama dengan arus nominal alat pemakai listrik. Apabila ditulis dengan rumus;
I sekring > I nominal

I sekring ( I sek ) ≥ I nominal ( In )


Atau
I sekring = 20 % sampai 30 % > I nominal
Misalnya arus nominal motor listrik besar 4 A, maka besarnya kapasitas arus
sekring yang digunakan adalah;
I sek = In + ( 20 % --- 30 % ) In
= 4 A + ( 20 % ----30 % ) 4 A
= 4 A + (0,8 A ---- 1,2 A )
= 4,8 A ------5,2 A
Kapasitas arus sekring untuk instalasi tenaga atau instalasi listrik yang ada
dipasaran minimum besarnya 6 A, oleh karena ituuntuk mengamankan motor
listrik diambil sekring yang besarnya 6 A dengan jenis sekring lambat.
2). Sekring Tabung
5

Sekring ini mempunyai elemen lebur yang ditempatkan dan dilindungi oleh
tabung kertas fiber dan kedua ujungnyaditutup dengan kontak cincin perunggu.
Kedua ujung elemen leburnya disambungkan kepada kontak cincin perunggu
tersebut, sehingga apabila diantara kedua ujung cincin perunggu diukur dengan
Ohmmeter akan menunjukkan adanya hubungan. Bagian-bagian sekring tabung
adalah;
Tempat sekring, terbuat dari fiber yang diberi kontak-kontak pegas, sebagai
tempat untuk menjepit kedua ujung cincin perunggu dari tabung pengaman
leburnya
Bagian-bagian dari tabung pengaman lebur, meliputi elemen lebur, pasir kuarsa,
dan cincinperunggu.
Untuk lebih jelasnya perhatikan Gambar 2.2

Gambar 2.2 Bagian – bagian dari sekring Tabung


Tempat sekring tabung
Kontak pegas
Terminal penghubung
Cincin perunggu
Tabung kertas fiber
Pasir kuarsa

3). Sekring Pisau


6

Konstruksi yang tertutup sehingga dapat memutuskan arus hubu singkat


yang sangat besar tanpa menimbulkan ledakan. Oleh karena itu, sekring ini
dipergunakan untuk pengaman instalasi listrik diatas 63 A.
Patrun atau tabung terbuat dari bahan porselin yaitu jenis paduan bahan yang
sangat kuat. Kedua ujung patrunnya ditutup dengan pelat logam, sehingga
tercipta suatu ruangan pemadam yang aman.
Dalam ruang pemadam tersebut diletakkan elemen lebur yang berbentuk pita
tipis dari bahan perak. Ujung-ujung dari elemen lebur dihubungkan ke pelat-pelat
penutup tabung yang mempunyai hubungan pula dengan kontak pisaunya. Pasir
kuarsa digunakan sebagai bahan pemadam bunga api listrik apabila terjadi
hubungan singkat.
Sekring pisau juga dilengkapi dengan alat pemegang yang didalamnya terdapat
pegas penahan, demikian pula pada patrun pisaunya terdapat pinggulan yang
menyerupai anak kunci dan dapat masuk kedalam alat pemegangnya. Apabila
patrun pisau ditarik oleh alat pemegang, maka pegas penahan akan mengunci
pinggulan tersebut sehingga patrun pisaunya tidak lepas.
Oleh karena itu, dengan menggunakan alat pemegang ini, operator dapat
memasang dan melepas patrun pisau dengan aman tanpa memutuskan tegangan
listriknya.
Bagian lain dari sekring pisau adalah tempat patrun yang terbuat dari porselen.
Pada tempat porselen terdapat kontak-kontak pegas yang terbuat dari logam baja
dilapisi perak. Kontak pegas berfungsi untuk menjepit kontak pisau dimana
patrun pisaunya ditempatkan.

Gambar 2.3 Bagian – bagian dari Sekring Pisau


7

Tempat patrun
Kontak pegas
Terminal penghubung
Tabung porselen
Pinggulan / anak kunci
Kontak pisau
Alat pemegang
Sekring pisau
Perlu diketahui bahwa jenis sekring yang dipergunakan untuk pengaman
hubungan singkat pada motor listrik adalah jenis sekring lambat, sedangkan
sebagai pengaman instalasi penerangan dipergunakan jenis sekring cepat. Jika
motor diamankan dengan sekring cepat maka sekringnya akan putus setiap motor
dijalanka, sebab pada saat start, motor akan mengambil arus yang besarnya
mencapai 4 sampai 6 kali arus nominalnya.
Kawat atau elemen lebur sekring lambat, terbuat dari bahan tembaga yang
dilapisi perak untuk mencegah oksidasi. Pada elemen lebur diberi beberapa
lubang udara dengan maksud untuk memperbesar tahanan elemen leburnya dan
menambah pendinginan. Dengan diberinya lubang-lubang udara , maka panas
yang terjadi pada elemen lebur akan berkurang, karena adanya sebagian panas
yang diradiasikan melalui lubang udara tadi. Akibatnya temperatur menjadi
berkurang sehingga untuk memutuskan elemen lebur memerlukan waktuyang
cukup lama. Perlu diingat bahwa pada porselen sekring lambat terdapat tanda T.
Cara pemakaian sekring pada rangkaian motor listrik adalah dengan
memasang sekring atau pengaman tersebut pada kawat fasa ( ~ ) perhatikan
Gambar 2.4

Gambar 2.4 Pemasangan Sekring pada Motor Listrik


8

Sekring akan segera memutuskan arus ke motor, apabila tejadi hubungan singkat
antara kawat fasa dengan kawat netral, hubunga n singkat antara lilitan dengan
badan motor ata hubungan singkat antara lilitan motor itu sendiri.

b. Pengaman Otomatis
Pengaman otomatis merupakan salah satu jenis pemutus rangkaian yang
banyak dipakai , untuk mengatasi gangguan arus hubungan singkat dan beban
lebih yang sifatnya sesaat dalam suatu rangkaian pengontrolan motor listrik.
Ada dua tipe pengaman otomatis yang sangat dikenal yait;
Miniatre Circuit Breaker
Miniature Circuit Breaker ( MCB ) dapatberfungsi sebagai pengaman
tunggal dan pengaman ganda’
MCB yang berfungsi sebagai pengaman tunggal, didalamnya hanya
terdapat Relay Hubung Singkat ( Short Circuit Relay )yangbertindak sebagai
pemutus rangkaian apabila terjadi hubung singkat, lihat konstruksi MCB
tunggal satu kutub (satu fasa) pada gambar 2.5

Gambar 2.5 Konstruksi MCB Tunggal 1 fasa

Dalam keadaan arus beban normal, palang a ditahan oleh palang b.


Apabila tiba-tiba arus melampaui harga batasnya atau terjadi hubungan
singkat pada alat pemakai listrik, maka penguatan magnet menjadi lebih
besar . Akibatnya pegas yng menahan palang b tidak kuat melawan
tarikan magnet M, sehingga palang a lepas dari palang b dan tertarik
oleh pegas yang ada disebelah kiri dan akhirnya kontak lepas.
Simbol dari bentuk MCB pengaman tunggal 1 fasa diperlihatkan pada
gambar 2.5a dan Gambar 2.5b.
9

MCB yang berfungsi sebagai pengaman ganda dapat memutus rangkaian


apabila terjadi hubungan singkat dan juga sekaligus dapat memutuskan ragkaian,
apabila terjadi beban lebih.
Jadi, apabila terjadi hubungan singkat, maka relay magnetnya bekerja dan
apabila terjadi beban lebih, maka relay thermislah yang akan bekerja.
Konstruksi MCB yang berfungsi sebagai pengaman ganda ( double protection )
ditunjukkan pada Gambar 2.6
Cara kerja MCB pengaman ganda 1 fasa adalah sebagai berikut:
Jika terjadi hubungan singkat, maka penguatan magnet S menjadi kuat sekali,
sehingga intina akan menekan kontak NC2 keatas, kumparan magnet M
kehilangan penguatan, palang b tertarik ole pegas keatas, palang a lepas dari
kaitannya dan tertarik oleh pegas ke sebelah kiri, akibatnya kontak lepas.

Gambar 2.6 MCB Pengaman Ganda 1 fasa


10

Sebaliknya apabila arus yang mengalir pada logam bimetal (B) melebihi arus
nominalnya, maka logam bimetal akan mengalami pembengkokan sehingga
kontak NC1 yang tadinya menutup menjadi membuka. Akibatnya palang b lepas
dari kaitan palang a dan ditarik kekiri oleh pegas sebelah kiri, sehingga hubungan
kontak lepas atau terputus.
Dari uraian diatas dapat ditarik kesimpulan bahwa perbedaan antara relay
magnet arus lebih ( Magnetic Overcurrent Relays ) dengan relay thermis ( Thermal
Overload Relays ) adalah;
Relay Magnet Arus lebih dapat memutuskan arus hubung an singkat secara
langsung dan cepat
Relay Thermis Beban lebih dapat memutuskan rangkaian apabila dialiri arus
beban lebih tetapi memerlukan waktu tertentu, yang cepat atau lambatnya
tergantung kepada besar kecilnya arus diatas harga nominalnya.
Adapun simbol dan bentuk MCB pengaman ganda 1 fasa, masing-masing dapat
dilihat pada Gambar 2.6a dan Gambar 2.6b.

Gambar 2.6a Simbol MCB Pengaman Ganda 1 fasa.


Gambar 2.6b Bentuk MCB Pengaman ganda 1 fasa

MCB pengaman ganda selain berbentuk seperti pada Gambar 2.6b, masih ada
bentuk lain yang dibuat seperti sekring ulir biasa, yang ini termasuk bentuk lama.
Untuk sekring seperti Gambar 2.6c orang lebih mengenal dengan sebutan sekring
otomatis.
11

Gambar 2.6c Sekring Otomatis


MCB pengaman tunggal maupun MCB pengman ganda hanya dipergunakan
untuk instalasi penerangan rumah, kecuali sekring otomatis tipe G dapat
digunakan sebagai pengamanan motor listrik yang berdaya kecil.
Yang perlu diperhatikan adalah cara pemasangan kedua macam MCB
tersebut. MCB pengaman ganda adalah MCB yang kumparan relay magnetnya
dihubungkan seri dengan logam bimetal yang mempunyai tahanan, karena itu
proses pemutusan kontaknya mengalami sedikit keterlambatan.
MCB pengaman tunggal adalah MCB yang bekerja lebih cepat, karena arus
hubungan singkat yang terjadi hanya ditahan oleh tahanan kumparan magnetnya
saja.
Gambar 2.6d memperlihaatkan cara pemasangan MCB dalam instalasi
penerangan.

Gambar 2.6d Cara pemasangan MCB instalasi Penerangan


Dengan susunan MCB seperti Gambar 2.6d maka akan diperoleh suatu
pengaman yang selektif. Artinya apabila pada salah satu kelompokterjadi
hubungan singka, maka hanya MCB pengaman tunggal dari kelompok itu yang
akan lebih dahulu putus, sedangkan MCB pengaman ganda yang dipasang sebagai
MCB utama akan tidak akan mendapa gangguan.

2) No Fuse Breaker
No Fuse Breaker (NFB) merupakan alat pengaman hubungan singkat untuk
motor listrik yang paling banyak digunakan di industri. Dalam Gambar 2.7
diperlihatkan NFB 3 fasa.
12

Gambar 2.7 Konstruksi NFB 3 fasa


Prinsip kerjanya adalah sebagai berikut; apabila ketiga kumparan magnet
dialiri harga arus tertentu ( arus nominal ), maka kumparan magnet masih dapat
mengatasi gaya rentang pegas hingga palang a dan palang tetap berhubungan.
Jika arus listrik yang mengalir pada kumparan magnet melampaui batas
penguatan, maka palang a akan tertarik kebawah dan lepas dari kaitan palang b.
Selanjutnya palang b akan ditarik kekiri oleh pegas sebelah kiri ingga kontak
lepas dan rangkaian terputus. Tarikan palang a kebawah akan mendapat
perlawanan tekanan udaran yang ada didalam tabung ( T ), sehingga bekerjanya
NFB ini mengalami sedikit perlambatan.
Seperti diketahui bahwa arus mula jalan atau arus start motor itu dapat
mencapai 4 sampai 6 kali arus nominalnya. Apabila motor mempunyai arus
nominal 5 ampere maka pada saat motor itu jalan, dia akan mengambil arus 20
ampere sampai 30 ampere. Fungsi tabung udara yang terdapat pada NFB
tersebut adalah untuk menjaga agar NFB tidak putus / lepas sebagai akibat dari
adanya arus start waktu motor mulai dijalankan.
Pemilihan sebuah NFB tentu harus disesuaikan dengan arus nominal
motornya. Besarnya arus NFB dapat ditentukan dengan rumus pendekatan yang
besarnya sama dengan 1,25 kali arus nominal motor. Sehingga pengaman NFB
yang digunakan untuk melindungi motor dengan arus nominal 5 ampere adalah
1,25 x 5 A = 6,26 A atau disesuaikan dengan arus nominal NFB yang terdapat
dipasaran.
Adapun bentuk dan simbol NFB dapat dilihat pada Gambar 2.7a dan Gambar
27.b

Gambar 2.7a Bentuk NFB 3 fasa


13

Gambar 2.7b Simbol NFB 3 fasa


Pemutusan hubungan singkat NFB maupun dengan sekring ditinjau dari fungsinya
adalah sama., tetapi NFB mempunyai kelebihan dalam sistem koordinasinya
apabila dibandingkan dengan sekring. Setiap kali trip ( lepas )cukup mereset
kembali tombolnya.
Pengaman Beban Lebih
Berbicara masalah beban dalam rangkaian listrik, akan teringat pada beban
fisik yang berupa lampu-lampu, tahnan, eban mekanik dari motor listrik dan
sebagainya. Apabila motor mengangkat beban yang lebih berat, maka arus yang
mengalir pada motor itu akan bertambah besar.
Suatu motor listrik dikatakan mempunyai beban lebih, apabila arus yang
mengalir melebihi arus nominalnya.

Seperti telah dijelaskan diatas bahwa motor yang berbeban lebih akan
menyerap arus yang berlebihan, seingga timbul panas yang tinggi. Panas yang
tinggi dan terus-menerus akan menyebabkan kerusakan pada lilitan motor.
Besar panas yng dihasilkan oleh arus listrik dinyatakan dengan persamaan:

P = e. I².R.T
Dimana:
e : Konstanta joule
Dari sini ternyata panas itu merupakan kuadrat dari arus. Apabila arus itu
naik menjadi 2 kali, maka panasnya naik menjad i 4 kali . Oleh karena itu, untuk
melindungi atau mengamankan motor dari panas yang berlebihan , maka
dipasanglah relay suhu beban lebih. Dalam perdagangan, dikenal dengan nama
Thermal Over Relays ( TOR ).
14

Dari uraian diatas, diketahui bahwa, TOR berfungsi untuk memberikan


perlindungan terhadap kondisi beban lebih yang bertingkat dari motor listrikhwa,
Dengan singkat dapat dikatakan bahwa, TO berfungsi untuk melindungi motor
terhadap beban lebih.
Seperti halnya sekring, pengaman beban lebih ada yang bekerjanya cepat, ada
yang lambat, sebab waktu motor start, arus dapat mencapai 6 kali arus
nominalnya, sehingga apabila digunakan pengaman yang bekerjanya cepat, maka
pengamannya akan putus setiap motor itu dijalankan.
Disini akan diperkenalkan dua macam pengaman beban lebih untuk motor
yang banyak digunakan.
a. TOR berdasarkan Bimetal
Pemutus Bimetal akan bekerja sesuai dengan arus yang mengalir, semakin
tinggi kenaikan temperatur yang menyebabkan terjadinya pembengkokan, maka
pada suatu saat tertentu akan mengakibatkan terjadinya pemutusan arus,
sehingga motor akan berhenti.
Jenis pemutus Bimetal yang dapat ditemui ialah yang 1 fasa dan yang 3 fasa.
Tiap-tiap fasa terdiri atas bimetal-bimetal yang terpisah, tetapi saling
berhubungan, yang berguna untuk memutuskan semua fasa apabila terjadi
kelebihan beban atau salah satu fasa kelebihan beban. Pemutus bimetal 1 fasa
yang dihubungkan langsung, digunakan untuk pengamanng beban lebih pada
motor yang berdaya kecil. Sedangkan untuk motor dengan daya besar, arus tidak
dialirkan melalui bimetal langsung tetapi melalui kumparan panas ( resistance
wire ).
Konstruksi, bentuk, dan simbol Thermal overload relays 3 fasa dapat dilihat
pada Gambar 2.8, 2.8a, 2.8b, 2,8c
15

Gambar 2.8 Konstruksi Thermal Overload Relays 3 Fasa


Bimetal
Kumparan pemanas
Kontak geser
Pengembalian ( reset button )
Kontak
Tombol pengatur ( setting knop )
Prinsip kerja dari TOR 3 fasa pada Gambar 2.8 adalah sebagai berikut:
Apabila resistance wire dilewati arus lebih besar dari nominalnya, maka
bimetal trip, bagian bawah akan melengkung kekiri dan membawa slide kekiri,
gerakan ini akan membawa lengan kontak pada bagian bawah tertarik kekiri dan
kontaknya akan lepas.

Gambar 2.8a Bentuk Overload Relays 3 fasa

Gambar 2.8b Simbol Pengawatan banyak

Gambar 2,8c Simbol Pengawatan Tunggal


Selama bimetal trip itu masih panas, maka bagian bawah tetap terbawa kekiri,
sehingga kontaknya belum dapat dikembalikan walaupun reset buttonnya
ditekan.
Apabila bimetal sudah dingin dia kembali lurus dan kontaknya baru dapat
dihubungkan kembali dengan menekan reset button.
Setting knop digunakan untuk mengatur batas arus nominal yang akan
mengalir melewati resistance wire. Dengan mengatur setting knop ini,
16

kedudukan lengan kontak dapat diatur sehingga untuk melepaskan kontaknya


diperlukan daya yang berbeda-beda. Daya yang ini didapat dari panas yang
ditimbulkan oleh resistance wire yang membengkokkan bimetal. Apabila
kontaknya hendak dilepaskan, maka manual trip ditekan.
b. TOR berdasarkan mencairnya Timah
Gambar 2.9 dan 2.9a menunjukkan konstruksi dan bentuk dari TOR relay yang
bekerja berdasarkan mencairnya timah.

Gambar 2.9 Konstruksi Thermal Overload Relay ( TOR )


Berdasrkan mencairnya timah
Kontak
Reset
Timah
Pegas
Ujung kumparan
Timah
Kumparan pemanas

Gambar 2.9a Bentuk Thermal Overload Relay ( TOR ) Berdasarkan mencairnya


timah
Kumparan panas dialiri arus beban, maka akan menimbulkan panas dan
mencairkan timah. Akibatnya roda gigi berputar karena terdorong keatas oleh
17

pegas B dan melepaskan kontak. Untuk menyambungkan kembali kontaknya


setelah timahnya membeku ( cukup dingin ) tekan kembali tombol reset.
Pada saat tombol reset ditekan, roda gigi tidak ikut berputar desebakan timah
yang ada pada poros roda gigi sudah membeku. Tetapi karena bentuk gigi-gigi
pada batang dibuat miring, maka batang tersebut dapat turun dimana pegas A
mendorong batang bergigi yang menekan pegas B. Setelah ditekan kebawah
maka batang akan ditahan oleh roda gigi sehingga rangkaian tetap terhubung.
Cara pemasangan TOR pada motor listrik 3 fasa perhatikan Gambar 2.9b.

Gambar 2.9b Pemasangan Thermal Overload Relay ( TOR )


Kontak beban lebih
Arus kontrol
Kontaktor magnet
Relay bimetal
Pada gambar terlihat bahwa masing-masing ujung akhir kontak utama dari
kontaktor magnet dihubungkan seri dengan ujung-ujung awal relay bimetal,
begitu pula kontak beban lebih atau sebagai kontak pemutusnya dihubungkn seri
dengan kumparan dari kontaktor magnet.
Karena arus nominal relay bimetal sudah disesuaikan dengan arus nominal
motor, maka proses pemutusan kontak beban lebih adalah sebagai berikut;
Apabila motor memikul beban yang melebihi kemampuannya, maka arus
yang mengalir dari jala-jala ke motor akan naik melebihi harga arus nominalnya.
Semakin tinggi kenaikan arus yang mengalirnsemakin tinggi pula kenaikan
temperatur. Akibatnya terjadi pembngkokan pada relay bimetal. Pembengkokan
ini akan mengakibatkan terjadinya pemutusan kontak beban lebih dan arus yang
18

mengalir ke kumparan magnetik kontaktor terputus juga. Hal ini menyebabkan


hilangnya penguatan magnet.
Hilangny penguatan pada kumparan magnet mengakibatkan kontak-kontak
utama dari kontaktor, lepas ( dari menutup menjadi terbuka ). Selanjutnya
hubungan jala-jala listrik ke motor terputus.
Apabila relay imetal sudah putus ( trip ), maka jangan langsung dijalankan lagi,
tetapi harus menunggu sampai relay bimetal tersebut kembali dingin. Kalau relay
bimetal masih panas dijalankan, relay beimetal tidak akan menutup.

[Link] Hubungan Singkat dan Beban Lebih


Alat yang dapat melindungi motor listrik terhadap adanya hubungan singkat
dan beban lebih dalam perdagangan dikenal dengan nama “ Pengaman Pemutus
Rangkaian Motor atau Motor Protection ircuit Breaker ( MPCB )”.
Didalam MPCB terdapat dua buah relay yaitu Relay Magnet dan Relay
Thermis. Relay magnet akan memutuskan rangkaian apabila terjadi hubunga
singkat, sedangkan relaythermis akan memutuskan rangkaian apabila terjadi
beban lebih pada motor. Konstruksi MPCB ada yang dilengkapi dengan
pengaman terhadap tegangan rendah, ada yang tidak. Apabila motor listrik
dikontrol langsung dengan menggunakan MPCB , maka gunakanlah MPCB yang
dilengkapi dengan relay pelindung terhadap tegangan rendah.
Sebaliknya apabila motor dikontrol dengan menggunakan kontaktr magnet,
maka gunakanlah MPCB yang tidak dilengkapi dengan relay pelindung terhadap
tegangan rendah, sebab kontakto magnet itu sendiri sudah dapat melindungi
sendiri terhadap adanya penurunan tegangan.
Konstruksi MPCB dengan relay tegangan rendah ditunjukkan pada Gambar
2.10.
MPCB dengan relay tegangan rendah dan MPCB tanpa relay tegangan rendah.
19

Gambar 2.10 Konstruksi MPCB dengan Relay Tegangan Rendah

Gambar 2.11 Simbol MCB dengan Relay Tegangan Rendah

Gamba 2.12 Simbol MPCB tanpa Relay Tegangan Rendah


Perhatikan Gambar 2.10 apabila terjadi hubungan singkat pada motor, maka
arus yang mengalir pada kumparan relay magnet C cukup besar, berarti
penguatan magnet yang terjadi juga besar, akibatnya inti dari relay magnet C
menekan kontak Normal Closed ( NC ) sehingga kumparan dari relay tegangan
M terputus dan kehilangan penguatannya. Hilangnya penguatan pada magnet
M menyebabkan pegas e tidak mendapat tarikan lagi dari magnet M. Pegas e
akan menarik palang d ke atas dan berikutnya palang a akan tertarik oleh
pegas f kesebelah kiri sambil memutuskan kontak-kontak NC, akibatnya
hubungan jala-jala ke motor terputus.
Begitu pula jika motor memikul beban lebih besar dari arus nominalnya, maka
pada bimetal ( B ) akan timbul panas yang berlebihan dan melengkung kesebelah
kanan menyebabkan kontak NC1 dari relay thermis membuka ( open ), sehingga
kumparan magnet M kehilangan penguatan. Selanjutnya palang d tertarik oleh
pegas e ke atas dan palang a tertarik oleh pegas f ke sebelah kiri, akibatnya
kontak-kontak NC yang menghubungkan motor ke jala-jala diputuskan.
20

Gambar 2.13 Bentuk MPCB

Demikian pula apabila terjadi penurunan tegangan jala-jala yang besarnya


± 20 % dari tegangan nominal motor, maka arus yang mengalir melalui kumparan
relay magnet tegangan rendah M menjadi berkurang, sehingga penguatan
magnet yang timbul juga kecil. Hal ini menyebabkan inti dari magnet M tidak
kuat menahan gaya tarik pegas e ke atas.
aAkibatnya plang a lepas kembali kaitannya dari palang d. Palang a
tertarik oleh pegas f kesebelah kiri yang selanjutnya memutuskan kontak-kontak
NC, sehingga terputuslah hubungan jala-jala listrik ke motor.
Apabila motor listrik dikontrol dengan menggunakan Motor Protection Circuit
Breaker ( MPCB ), maka untuk melindunginya terhadap adanya hubungan singkat
dan beban lebih tidak perlu lagi dipasang sekring atau NFB dan TOR secara
sendiri-sendiri, sebab MPCB sudah dirancang untuk dapat melindungi motor
listrik., baik terhadap adanya hubungan singkat maupun timbulnya beban lebih,
bahkan terhadap terjadinya tegangan rendah.
MPCB dilengkapi dengan dua buah tombol tekan yaitu tombol start ( on ) dan
tombol stop ( off ) yang dipasang satu poros serta dikopel langsung dengan ketiga
buah kontak yang menghubungkan motor dengan jala-jala. Warna dari tombol
start biasanya hitam dan diberi tanda dengan angka 1 ( S1 ), sedangkan tombol
stop berwarna merah dan diberi tanda angka 0 ( So ).
Didalam sistem pengontrolan motor listrik ada dua macam gambar yang
disajikan yaitu gambar pengawatan tunggal ( Single line Diagram ). Nama istilah
lain untuk gambar pengawatan tunggal adalah diagram rangkaian kontrol,
sedangkan untuk gambar pengawatan banyak adalah diagram pengawatan.
Pembahasan cara kerja suatu sistem pengontrolan motor listrik akan lebih
mudah dimengerti apabila diterangkan dengan menggunakan diagram rangkaian
kontrol, lebih-lebih jika sistem pengontrolannya sudah banyak dan rumit.
21

Demikian pula didalam pelaksanaan praktek. Mula-mula diagram rangkaian


kontrolnya dahulu dirakit. Apabilarankaian kontrol tersebutdicoba sudah bekerja
dengan baik, maka diagram rangkaian motor yag dirakit.
Peralatan diagram kontrol terdri atas;
Tombol Start ( On )
Tombol Stop ( Off )
Kumparan magnet ( penarik kontak )
Kontak pengaman beban lebih
Kontak bantu
Diagram rangkaian kontrol dibuat berupa garis tipis, ini menunjukkan bahwa
rangkaian kontrol dialiri arus yang kecil. Sebaliknya pada diagram rangkaian
motor garisnya dibuat tebal, ini menandakan bahwa kabel yang dipergunakan
untuk menghubungkan motor ke jala-jala mempunyai diameter yang lebih besar
daripada diameter kabel untuk rangkaian kontrolnya, selain itu pula menunjukkan
bahwa arus yang mengalir pada rangkaian motor adalah besar, karena arus
tersebut merupakan arus beban penuh dari motor.
Peralatan dari ragkaian motor mencakup;
Sekring atau NFB
Kontak utama sebagai penghubung motor ke jala-jala
Relay bimetal atau MPCB
Berdasarkan uraian diatas, yang dimaksud dengan diagram pengawatan
motor adalah gabungan antara diagram rangkaian kontrol dan diagram rangkaian
motor.

Gambar 2.14a Diagram Rangkaian kontrol Motor 3 fasa dengan Kontaktor


dilengkapi Pengaman MPCB
22

Gambar 2.14b Diagram rangkaian Motor 3 fasa dengan Kontaktor dilengkapi


pengaman MPCB
Dengan adanya diagram rangkaian kontrol dan diagram pengawatan, maka
akan sangat membantu sekali terhadap kelancaran perakitan pengontrolan motor
listrik di industri. Disamping itu akan memudahkan juga didalam mencari dan
melokalisir setiap gangguan yang terjadi pada peralatan kontrolnya.

Gambar 2.14c Diagram Pengawatan Motor 3 fasa denga Kontaktor dilengkapi


Pengaman MPCB
Pada Gambar 2.14a ,Gambar 2,14b, dan Gambar 2.14c berturut-turut
diperlihatkan diagram rangkaian kontrol, diagram rangkaian motor dan
diagram pengawatan motor 3 fasa dengan kontaktor magnet dilengkapi
Pengaman MPCB.
Motor Protection Circuit Breaker ( MPCB ) yang dilengkapi dengan relay
tegangan rendah selain dapat melindungi motor listrik terhadap gangguan
hubungan singkat, beban lebih dan tegangan rendah, juga dapat dioperasikan
secara manual ( dengan ).
Pada Gambar 2.15 menunjukkan pengontrolan motor 3 fasa dengan
pengaman MPCB yang dilengkapi dengan relay tegangan rendah.

Gambar 2.15 Pengontrolan Motor 3 fasa dengan Pengaman MPCB yang dilengkapi
Relay Tegangan Rendah.
23

Cara kerja pengontrolan motor 3 fasa dengan pengaman MPCB yang


dilengkapi relay tegangan rendah adalah sebagai berikut;
Jika tombol Start ( S1 ) ditekan, maka motor akan berputar dan jika motor
diinginkan untuk berhenti, maka tombol Stop ( So ) yang ditekan.
Apabila selama motor bekerja terjadi hubungan singkat atau beban lebih atau
tegangan turun (drop), maka pengaman MPCB akan segera memutuskan rangkian
motor denga jala-jala secara otomatis.
Bentuk pengontrolan seperti ini tampaknya lebih sederhana apabila
dibandingkan dengan bentuk pengontrlan dalam Gambar 12.4c karena tidak perlu
lagi memasang kontaktor magnet, tombol Start, dan Stop.
Meskipun demikian, mungkin harga MPCB tipe ini akan sebanding denga
harga seperangkat alat kontrol seperti kontaktor magnet, tombol Start, Stop dan
Saklar. Akan tetapi, tipe MPCB semacam ini tidak dapat diterapkan pada
pengontrolan motor listrik yang sifatnya kompleks.

B. Saklar sebagai Alat Kontrol Motor Listrik


Sakelar merupakan alat kontrol yang berfungsi untuk mengalirkan dan
menghentikan aliran arus listrik dalam suatu rangkaian. Di dalam sistem
pengontrolan motor listrik, sakelar digunakan untuk menjalankan dan
menghetikan motor secara aman. Sakelar dibuat dari logam yangmempunyai
daya hantar listrik yang tinggi da tahanan jenis yang rendah.
Dalam penggunaan sakelar perlu diperhatikan kesesuaian antara arus beban
yang akan melaluinya dengan kemampuan arus dari sakelar itu sendiri.
Sakelar aman digunakan dalam waktu yang panjang selama ketentuan ini
diikuti. Untuk menentukan arus yang akan mengalir melalui sakelar 1 fasa dan 3
fasa dapat dipakai rumus sebagai berikut;
Arus yang akan mengalir pada sakelar 1 fasa

P
I = --------------
24

U Cos Φ

Arus yang akan mengalir pada sakelar 3 fasa

P
I = ------------------------
V 3 x U Cos Φ

V 3 x U Cos Φ

Dimana;
I: arus yang mengalir ( A )
P: Daya beban ( watt )
U: tegangan terminal beban ( volt )
Cos Φ : faktor kerja
Jenis sakelar sentuh ( toggle switch ) yang digunakan untuk mengontrol motor
1 fasa adalah sebagai berikut;
Sakelar Single Pole Single Throw (SPST ) dan
Sakelar Single Pole Double Throw ( SPDT )
Sakelar Double Pole Single Throw (DPST )
Sakelar double Pole Double Throw (DPDT )
Sakelar Three Pole Single Throw ( TPST ) dan
Sakelar Three Pole Double Throw (TPDT )
25

Sakelar teangan arus bolak-balik

[Link] SPST dan SPDT


Pada Gambar 2.16 dan Gambar 2.17 diperlihatkan konstruksi sakelar SPST
dan konstruksi SPDT.

Gambar 2.16

Gambar 2.17
Konstruksi sakelar SPST

Konstruksi sakelar SPDT

Gambar 2.18a Diagram rangkaian kontrol Motor 1 fasa dengan sakelar SPST
26

Gambar 2.18b Diagram Pengwatan Motor 1 fasa dengan sakelar SPST

Perhatikan Gambar 2.18b Jika sakelar belum ditekan atau dalam keadaan
terbuka, maka arus dari jala-jala tidak mengalir ke motor dan motor tidak
berputar.
Ketika sakelar ditekan arus mengalir dari jala-jala ke motor, dan motor
langsung berputar. Jadi penggunaan sakelar SPST terbatas hanya untuk
menjalankan dan menghentikan motor saja. Satu-satunya pengaman motor yang
dipergunakan hanya berupa sekring.

Pengontrolan motor 1 fasa dengan dua kecepatan menggunakan sakelar SPDT.,


diperlihatkan pada Gambar 2.19a dan Gambar 2.19b.

Gambar 2.19a. Diagram Rangkaian Kontrol Motor 1 fasa Dua kecepatan dengan
sakelar SPDT

Gambar 2.19b Diagram Pengawatan Motor 1 fasa Dua Kecepatan dengan sakelar
SPDT
Pada Gambar 2.19a dapat dilihat diagram rangkaian kontrol motor 1 fasa dua
kecepatan dengan sakelar SPDT dan Gambar 2.19b adalah diagram
pengawatannya.
Cara kerjanya adalah sebagai berikut;
27

Sakelar pada posisi H ( high ) antara lilitan auxiliary dan lilitan start
dihubungkan seri serta paralel dengan lilitan run.
Dalam keadaan demikian arah arus pada lilitan run dan lilitan auxiliary
saling berlawanan arah, sehingga kutub yang ditimbulkan lebih sedikit,
menyebabkan motor akan b erputar cepat.
Ingat rumus putaran fase belah splate phase yaitu;

120 f

120 f
n = -------------------
2P

2P
Dimana;
n: putaran dalam satuan rpm
f: frequency dalam Hz
2 P: jumlah kutub
Sakelar SPDT pada posisi Low ( L ), maka lilitan run dan lilitan auxiliary
dihubungkan seri dan paralel dengan lilitan start. Sekarang arus pada lilitan run
dan lilitan auxiliary arahnya sama, sehingga kutub yang ditimbulkan menjadi
banyak berarti p utaran motor lambat.
28

2. Sakelar DPST dan DPDT


Konstruksi sakelar dua kutub satu arah ( DPST ) dan sakelar dua kutub dua
arah ( DPDT ) diperlihatkan pada Gambar 2.20 dan Gambar 2.21

Gambar 2.20

Gambar 2.21
Konstruksi Sakelar DPST

Konstruksi Sakelar DPDT

Gambar 2.22 Diagram Rangkaian Kontrol dan Diagram Pengawatan Motor 1 fasa
dengn sakelar DPST
Gambar 2.22 meperlihatkan diagram rangkaian dan diagram pengawatan
motor 1 fasa dengan sakelar DPST.
29

Disini sakelar berfungsi sebagai pengontrol / pengemudi jalan atau tidaknya


motor 1 fasa. Apabila sakelar dibuka atau Off maka motor tidak akan berputar
dan apabila sakelar ditutup atau On, maka motor akan berputar.
Penggunaan sakelar DPST akan lebih aman, karena kabel yang masuk ( fasa
dan netral ) ke motor dapat langsung diputuskan dengan jala-jala.
Penggunaan sakelar DPST banyak dijumpai pada pengontolan mesin-mesin;
mesin kipas angin, mesin pompa air, dan mesin gerinda.
Gambr 2.23 memperlihtkan pembalikan arah putaran motor shunt drngan
menggunakan sakelar DPDT.
Seperti diketahui bahwa untuk mengubah arah putaran motor arus searah
dapat dilakukan dengan dua cara yaitu, dengan mengubah arus medan dan
dengan mengubah arah arus jangkar.

Gambar 2.23 Diagram Pengawatan Pembalikan Arah Putaran Motor Shunt dengan
Sakelar DPDT
Jika arus jangkar arus jangkar yang diubah dan arah arus medan yang tetap,
maka putaran motor akan berubah.
Begitu pula bila dikehendaki arah arus medannya yang diubah, sedangkan
arah arus jangkar tetap, maka aarah putaran motor akan berubah.
Didalam praktek sebaiknya arah arus jangkar yang diubah, bukan arah arus
medannya. Apabila arah arus medan yang dibalikkan, maka arah kemagnetan
tidak langsung berubah atau berbalik, karena adanya magnet sisa atau remanen
magnet yang sukup kuat.
Jika hal ini terus dipaksakan pada motor d.c yang besar, maka akan timbul
panas dan berbahaya bagi motor itu sendiri.
30

Pada Gambar 2.23 dapat dilihat bahwa pembalikan arah putaran motor shunt
Dilakukan dengan jalanmengubah arah arus jangkar, sedangkan arah arus medan
tetap.
Apabila lidah sakelar DPDT berada pada posisi B, maka arus jangkar dan arus
medan arahnya sama yaitu dari kanan menuju keseelah kiri. Jika demikian, motor
shunt akan berputar searah dengan putaran jarum jam. Sebaliknya apabila lidah
sakelar DPDT berada pada posisi A, maka arus jangkar akan berubah dari kiri
menuju ke sebelah kanan, sedangkan arah arus medannya tetap. Hal ini
menyebabkan motor shunt berputar berlawanan arah jarum jam ( kekiri ).
Selain digunakan untuk membalikkan arah putaran motor shunt, sakelar DPDT
juga dapat digunaka untuk membalikkan arah putaran motor 1 fasa a.c,
perhatikan Gambar 2.24

Gambar 2.24 Diagram Pengawatan Pemblikan ara putaran Motor 1 fasa dengan
Sakelar DPDT
Pada Gambar 2.24 terlihat bahwa lidah dari sakelar DPDT berada pada
posisi A, apabila sekarang sakelar DPDT dijalankan atau di On kan, maka arah
arus pada lilitan run ( lilitan jalan ) dan arah arus pada lilitan start ( lilitan bantu )
arahnya sama yaitu dari kiri menuju kesebelah kanan.
Akibatnya motor akan berputar dengan arah putaran maju ( searah dengan
jarum jam )
Kalau lidah dari sakelar DPDT dipindahkan ke posisi B, maka arah arus pada
lilitan run tetap, sedangkan arah pada lilitan start akan terbalik dari arah arus
semula ( arah arus pada posisi A ).
31

Oleh karena itu, putaran motor akan berputar dengan arah putaran mundur
( berlawanan arah jarum jam )
Selanjutnya motor akan berhenti apabila sakelar DPDT diputuskan ( di Off ).
Sakelar DPDT dapat digunakan pula untuk mengatur tegangan kerja motor 1 fasa
dengan dua tegangan, lihat Gambar 2.25

Gambar 2.25 Diagram Pengawatan Motor 1 fasa Dua tegangan dengan sakelar
DPDT
Perhatikan Gambar 2.25, umpamanya moto 1 fasa mempunyai dua tgangan
kerja yang dapat dioperasikan pada tegangan 110 V dan 220 V. Pengaturan
posisi dari sakelar DPDT tentu tergantung pada tegangan jala-jala listrik yang ada.
Apabila tegangan jala-jala yang ada besarnya 220 V, maka sakelar DPDT harus
berada pada posisi A ( 220 V ). Pada posisi A, kedua lilitan run dihubungkan seri,
sehingga masing-masing lilitan run memperoleh tegangan kerja sebesar 110 V
dan tegangan kerja ini sesuai dengan kemampuan lilitan run yang memang
dirancang hanya untuk tegangan kerja 110 V.
Dengan kata lain motor dapat dioperasikan pada tegangan 220 V, tetapi
lilitan run-nya tetap bekerja pada tegangan 110 V. Apabila tegangan jala-jala
yang ada, besarnya 110 V, maka posisi sakelar DPDT harus dipindahkan ke posisi
B ( 110 V ). Pada posisi ini kedua lilitan run dihubungkan paralel, sehingga
masing-masing lilitan run tetap mendapat tegangan kerja sebesar 110 V dengan
putaran dan daya yang sama seperti halnya pengoperasian tegangan 220 V.
Sakelar DPST dipergunakan untuk menjalankan dan menghentikan motor,
sedangkan sakelar DPDT untuk menentukan posisi tegangan kerja motor yang
diinginkan.
Centrifugal Switch ( CS ) digunakan untuk membuka ( Off ) lilitan start pada
saat motor sudah berputar normal.
32

[Link] TPST dan TPDT


Sakelar Three Pole Single Throw (TPST ) dan Sakelar Three Pole Double
Throw ( TPDT ) merupakan Sakelar Tiga kutub Satu arah dan Sakelar Tiga kutub
Dua arah yang digunakan sebagai alat kontrol manual untuk menjalankan dan
menghentikan motor 3 fasa.

Gambar 2.26

Gambar 2.27
Konstruksi Sakelar TPST

Konstruksi Sakelar TPDT

Gambar 2.28 Bentuk Sake;lar TPST

Gambar 2.29 Bentuk Motor 3 fasa


Pada bagian badan setiap Motor listrik selain terdapat pelat nama ( name
plate ), juga akan terdapat jepitan motor ( klem motor ) seperti halnya pada
motor 3 fasa , perhatikan Gambar 2.29.
33

Tanda huruf-huruf u, v, w, yang terdapat pada klem motor menyatakan


ujung permulaan dari lilitan stator dan huruf-huruf x, y, z menyatakan ujung
akhir daripada lilitan stator.
Ketiga buah lilitan stator tersebut dapat dilihat pada Gambar 2.30

Gambar 2.30 Lilitan Stator Motor 3 fasa


Karena motor dihubungkan langsung dengan sakelar TPST atau sakelar tuas,
maka hubungan Bintang ( Y ) atau hubungan Segitiga ( ) terjadi pada klem
motornya.
Apakah motor akan dihubungkan bintang atau segitiga, itu tergantung dari
tgangan jala-jala listrik yang ada.
Apabila tegangan jala-jala besarnya 380 Volt dan tegangan nominal motor
220 V / 380 V, maka motor harus dihubungkan dalam hubungan Bintang ( Y ).
Kalau dihubungkan segitiga lilitan stator akan terbakar, karena lilitan stator motor
hanya dirancang untuk kemampuan menerima tegangan sebesar 220 Volt.
Hubungan bintang dilakukan dengan jalan menyatukan ( mengkopel )
terminal x, y, z dengan jalur tembaga, atau mengkopel u, v, w. Lihat Gambar
2.31

Gambar 2.31 Hbungan Bintang pada Klem Motor


Dengan demikian , maka hubungan bintangketiga lilitan stator menjadi seperti
Gambar 2.32
34

Gambar 2.32 Hubungan bintang lilitan Stator


Lilitan stator memperoleh tegangan fasa ( Uf ) sebesar 220 Volt, sedangkan
tegangan line ( UL ) sebesar 380 Volt didistribusikan pada dua buah lilitan stator
yang disambung seri.
Tegangan fasa adalah tegangan antara kawat fasa dengan kawat netral ( titik
bintang ) N dan tegangan line adalah tegangan antara kawat fasa ( R ) dengan
kawat fasa ( T ).
Hubungan antara tegangan fasa dengan tgangan line dapat dihitung dengan
rumus;

UL = Uf V 3 dan

UL
Uf = -----------------
V3
Arus line ( Il ) dan arus fasa ( If ) mempunyai harga yang sama yaitu
I L = If
Apabila tegangan jala-jala yang ada 220 Volt, sedangkan tegangannominal
pada pelat nama motor besarnya tetap 220 V / 380 V, maka motor harus
dihubungkan dalam hubungan segitiga.
Jika motor dihubungkan dalam hubungan bintang , maka daya motor tidak
akan normal, karena setiap lilitan stator dari motor hanya memperoleh tegangan
sebesar;

220
Uf = ----------------
35

V3
Uf = 127 V
Hubungan segitia dilakukan dengan menyatuka terminal u – z , v – x, w – y
atau u – y, v – z, w – x, pada klem motor dengan jalur tembaga, perhatikan
Gambar 2.33

Gambr 2.33 Hubungan Segitiga pada Klem Motor

Gambar 2.34 Hubungan Segitiga Lilitan Stator


Pada Gambar 2.34 terlihat bahwa tiap lilitan stator mendapat tegangan fasa
atau tegangan line sebesar 220 Volt.
Didalam hubungan segitiga

U L = Uf . T L

= If V3
Dan
IL
36

If = ----------------
V3
Pada Gambar 2.35 diperlihatkan diagram rangkaian kontrol dan diagram
pengawatan motor 3 fasa dengan sakelar TPST.
Sistem pengontrolan motor 3 fasa dengan menggunakan sakelar TPST
merupakan sistem yang sederhana, baik dari segi pengoperasian maupun dari segi
pengawatannya. Perhatikan Gambar 2.35, hanya dengan menekan atau
memutarkan tuas sakelarnya, motor sudah dapat bekerja maupun berhenti.
Pengawatapun mudah dilakukan dengan hanya meyambungkan tiap fasa dari
sakelar langsung ke motor.

Gambar 2.35 Diagram Rangkaian Kontrolda Diagram Pengawatan Motor 3 fasa


dengan sakelar TPST
Kelemaan dari sistem ini, tidak dapat mengantsipasi ( tanggap ) terhadap
adanya gangguan-gangguan yng terjadi selama motor tersebut bekerja. Misalnya
apabila terjadi beban lebih ata tegangan turun, maka kontak-kontak dari sakelar
TPST tetap tersambung, sehingga motor akan terus bekerja dalam keadaan tidak
normal ( semestinya ).
Pada sistem pengontrolan ini, motor hanya dilindungi terhadap adanya
hubungan singkat, yaitu dengan menggunakan sekring ( fuse ). Dalam Gambar
2.36 ditunjukkan diagram rangkaian kontrol dan diagram pengawatan motor 3
fasa dalam sambungan Bintang - Segitiga dengan sakelar TPDT. Cara kerjanya
adalah sebagai berikut.

Gambar 2.36 Diagram Rangkaian Kontrol dan Diagram Pengawatan Motor 3 fasa
dalam sambungan Bintang – Segitiga dengan sakelar TPDT
37

Apabila sakelar TPDT berada pada kedudukan A, maka arus akan mengalir
dalam dua arah yang satu melalui ujung awal kumparan dan yang lainnya melalui
akhir dari kumparan, sehingga motor dihubungkan segitiga dengan hubungan
fasa R kepada terminal u – z, fasa S kepada terminal v – x dan fasa T kepada
terminal w – y.
Apabila sakelar TPDT berada paada kedudukan B, maka arus akan mengalir
hanya kesatu arah, yaitu melalui ujung-ujung akhir kumparan dimana ujung-ujung
awal dari kumpran itu dikopel pada sakelar, sehingga motor dihubungkan bintang
( Y ) dengan fasa R menuju ke terminal z, fasa S ke terminal Y, sedangkan fasa
T ke terminal W.
Maksud hubungan bintang - segitiga tidak dijelaskan disini, karena masalah
tersebut akan lebih tepat apabila diuraikan pada pengasutan motor 3 fasa yang
akan dibahas pada Bab III.
Selain sakelar TPDT berfungsi sebagai sakelar bintang – segitiga, juga dapat
digunakan untuk membalikkan arah putaran motor 3 fasa.
Pada Gambar 2.37 diperlihatkan diagram pengawatan pembalikan arah
putaran motor3 fasa dengan menggnakan “ drum switch “.

Gambar 2.37 Diagram Pengawatan Pembalikan Putaran Motor 3 fasa dengan


Drum Switch
Membalikan arah putaran motor 3 fasa dapat dilakukan dengan cara
menukarkan hubungan dua kawat fasa diantara tiga kawat fasa yang masuk ke
terminal motor, lihat Gambar 2.37
Pada waktu tuas dari drum switch diputar pada posisi 1, maka ujung atas dari
semua lidah drum switch yang berbentuk huruf L akan menempel pada terminal
1. Ujung bawah dari semua lidah akan berhubungan dengan terminal 2,
menyebabkan motor akan berputar ke kanan karena fasa R, fasa S, dan fasa T
terhubung dengan terminal u – v – w motor tidak ditukarkan.
38

Apabila tuas dari drum switch diputar pada posisi 2, maka semua lidah yang
berbentuk empat persegi panjang akan menempel pada terminal-terminal yang
terdapat pada posisi 2, mengakibatkan motor akan berputar kekiri karena kedua
fasa S dan fasa T ditukarkan.
Fasa S tidak lagi menuju terminal v, melainkan masuk ke terminal w dan
fasa T yang semula masuk ke terminal w , sekarang masuk ke terminal v.
Dengan menukarkan fasa R dan fasa T atau fasa R dan fasa S, maka motor akan
berputar kekiri.
4. Stater Tangan arus Bolak balik
Stater tangan adalah suatu alat kontrol yang digunakan untuk menjalankan
dan menghentikan motor listrik secara manual.
Karena pengoperasian stater dilakukan dengan tangan dan stater ini
dihubungkan langsung dengan jala-jala arus bolak balik, maka dia disebut stater
tangan arus bolak balik tegangan penuh.
Kemampuan stater tangan 3 fasa umumnya dari tegangan dan daya nominal
220 Volt / 380 volt / 2 PK sampai 380 Volt / 660 Volt / 5 PK.
Konstruksi stater tangan 3 fasa ini menggunakan sistem penguncian mekanik
yang mempertahankan kontaknya. Apabila tombol start dan stop ditekan maka
dia tidak akan kemblai pada posisi semula sebelum tombol lainnya ditekan.
Stater tangan juga ada yang dilengkapi dengan pengaman beban lebih, tetapi
bimetalnya merupakan jenis pemutus hubungan langsung tanpa melalui
kumparan pemanas.
Oleh karena itu, pemutus bimetal ini tidak dilengkapi dengan kontak beban
lebih, sehingga proses pemutusan jala-jala ke motor pada saat terjadi beban lebih
dilakukan oleh ketiga buah imetal yang saling berhubungan, perhatikan Gambar
2.38.

Gambar 2.38 Konstruksi Stater Tangan dengan Pemutus Bimetal


39

Gambar 2.39 Bentuk Stater Tangan


Diagram pengawatan motor 3 fasa dengan stater tangan yang dilengkapi
dengan pemutus bimetal dapat dilihat pada Gambar 2.40

Gambar 2.40 Diagram Pengawatan Stater Tangan dengan beban Motor 3 fasa
Cara pengoperasian atater tangan, adlah sebagai berikut:
Apabila tombol Start ( S1 ) ditekan, maka arus segera mengair dari jala-jala ke
stater terus ke motor, menyebabkan motor berputar dan apabila tombol Stop
( So ) ditekan, motor berhenti.
Ditinjau dari cara pengoperasiannya penggunaan stater tangan untuk
mengontrol motor listrik, memang sangat mudah dan sederhana sekali, tetapi
dibalik kelebihan tersebut ada beberapa kekurangan yaitu;
- Apabila mesin sedang bekerja kemudian daya listrik hilan dan tomol Stop
belum senpat ditekan ( diputuskan ), tiba-tiba daya listrik kembali ada,
maka mesin akan langsung bekerja lagi. Hal ini akan membahyakan bagi
operator.
- Tidak dapat melindungi motor terhadap adanya tegangan rendah.
- Diperlukan tenaga yang cukup besar untuk menekan tombol tekan. Apabila
dibandingkan dengan tombol tekan magnetik
Di dalam percobaan praktek biasanya motor tidak diberi beban, sehingga
proses kerja pemutus bimetal tidak dapat dibuktikan. Agar kerja dari pemutus
bimetal dapat diperlihatkan maka motor menggunakan 2 buah kumparan
pemanas yang dihubungkan sejajar. Lihat Gambar 2.41.
40

Gambar 2.41 Diagram Pengawatan StateTangan dengan Beban Kumparan


Pemanas
Penentuan besarnya tahanan ( R ) kumparan pemanas tentunya harus
memperhitungkan arus dan tegangan nominal dari pemutus bimetalnya.
Misalnya pemutus bimetal yang terdapat pada stater tangan mempunyai
kemampuan arus nominal 6 A.
Seperti diketahui bahwa pemutus bimetal akan putus apabila dialiri arus
melebihi harga nominalnya. Cepat atau lambatnya proses pemutusan bimetal
tergantung pada besar kelebihan arus nominalnya.
Sekiranya besar kelebihan arus itu 6 A, maka arus total yang akan mengalir
kedua buah tahanan ( R ) yang dihubungkan sejajar besarnya 6 + 6 = 12 A. Jika
kedua tahanan itu harganya sama besar dan dipasang pada tegangan 220 V,
maka besarnya arus cabang adalah:

It 12
Ic = -------- = ---------- = 6 A ( lihat Gbr. 2.42 )
n 2

Gambar 2.42 Hubungan sejajar dua buah Tahanan


Besarnya masing-masing tahanan dapat dihitung sebgai berikut:

U
R tot = ---------
I tot
41

220

= ---------- = 18 Ohm

12
42

R = Rtot . n
= 18 . 2 = 36
Dimana:
Rtot : tahanan total sejajar
R : tahanan cabang sejajar
Itot : arus cabang sejajar
U : tegangan jala-jala
n : banyaknya cabang sejajar
Dengan memasang dua buah tahanan masing-masing besarnya 36 Ohm,
maka pemutus bimetal akan dialiri arus 2 kali harga arus nominalnya ( 2 x 6A =
12 A ), berarti panas yang terjadi menjadi 4 kali lipat dari pada waktu bimetal itu
dialiri arus nominalnya. Jika ingin mengetahui waktu pemutusan bimetal
tersebut, silahkan melakukan percobaan seperti pada Gambar 2.41.
5. Sakelar Pelampung da Sakelar Tekanan
a. Sakelar Pelampung ( Float Switch
Sakelar pelampung banyak digunakan sebagai sensor pada pengontrolan
motor pompa air atau pompa minyak. Penutupan ( On ) dan pembukaan ( Off )
sakelar pelampung terjadi akibat adanya tekanan air.
Sakelar pelampung ini dipergunakan pada pengontrolan otomatis, dan disini
akan dibahas tentang konstruksinya.
Konstruksi dari sakelar pelampung dapat dilihat pada Gambar 2.43

Gambar 2.43 Konstruksi dan Bentuk Sakelar Pelampung


43

Sakelar pelampung ( float awitch ) berfungsi sebagai sensor dan merupakan


salah satu komponen kontrol untuk mendeteksi tinggi rendahnya permukaan air
( zat cair ). Penggunaannya akan dibahas pada bab berikutnya.
[Link] dengan Tekanan Udara ( Pressure Switch )
Sakelar ini bekerja membuka ( Off ) atau menutup ( On )akibat adanya
tekanan udara yang mendorong kontak tersebut. Konstruksinya dapat dilihat
pada Gambar 2.44.

Gambar 2.44 Sakelar Tekanan Udara

BAB III
SISTEM PENGONTROLAN MOTOR LISTRIK
SECARA ELEKTROMAGNETIKA

A. Prinsip Kerja Sakelar Magnet


Sakelar magnet dalam perdagangan lebih dikenal dengan nama kontaktor
magnet yang mempunyai aksi menutup dan membuka akibat adanya tarikan
magnet. Dari pengertian diatas dapat disimpulkan bahwa yang dimaksud dengan
sakelar magnet atau kontaktor adalah sakelar yang bekerja secara
elektromagnetik didalam pengontrolan motor listrik atau instalasi listrik lainnya.
1. Konstruksi Kontaktor Magnet
Konstruksi dari kontaktor magnet dapat dilihat pada Gambar 3.1
44

Gambar 3.1 Konstrusi Kontaktor Magnet


Fungsi bagian-bagian konstruksi konaktor magnet adalah:
- Kumparan : berfungsi sebagai penghasil medan magnet apabila dialiri
arus
- Besi : dari bahan ferromagnetik, akanbergerak atau tertarik
pada saat kumparan termagnetisasi
- Pegas : berfungsi untuk mengembalika besi ke posisi semula
apabila kumparan tidak termagnetisasi
- Kontak-kontak : berfungsi untuk menghubungkan dan membukakan
terminal-terminal
- ---------------------- : hubungan mekanik antara besi dan kontak-kontak,
tetapi secara elektrik tidak berhubungan ( terisolasi ).

2. Cara Kerja Kontaktor Magnet


Perhatikan Gamabar 3.1 . Apabila kumparan diberi aliran listrik, maka akan
timbul medan magnet yang menyebabkan kedua belah besi saling tarik-menarik.
Kontak-kontak 1 - 2, 3 - 4, 5 - 6 ; akan ikut tertarik dan menghubungkan
( closed ) terminal-terminalnya, sedangkan kontak 7 – 8 akan membuka ( open )
hubungan terminal.
Dan apabila kumparan tidak dialiri listrik lagi, maka pegas mendorong /
menekan sakelar kembali ke posisi semula.
Pada setiap kontaktor dapat dipasang kontak yang jumlahnya disesuaikan
dengan kebutuhan.
Oleh karena itu, kontaktor banyak sekali variasinya. Ada yang dilengkapi
dengan 4 kontak yang kesemuanya membuka ( 4 NO ) apabila kumparan magnet
tidak dialiri arus listrik.
Kontak-kontak yang ada pada Gambar 3.1 terdiri atas 3 kontak utama (NO)
yang mengalirkan arus beban dan 1 kontak bantu ( NC ) untuk rangkaian
kontrolnya.
Pada Gambar 3.2 diperlihatkan simbol kontaktor magnet dengan 7 kontak
yang perinciannya terdiri dari 3 buah kontak utama dan 2 buah kontak bantu
45

terbuka ( Normally Open ) disingkat NO, dan 2 buah kontak tertutup ( Normally
Closed ) disingkat NC.
Untuk membedakan kontak utama dan kontak bantu, maka pembuat
kontaktor selalu memberi nomor untuk tiap-tiap kontak.

Gambar 3.2 Simbol Kontaktor Magnet


K = Kumparan magnet
Selain variasi kontaknya yang bermacam-macam dari segi bentuk dan
penggunaannyapun kontaktor itu banyak jenisnya antara lain :
- Kontaktor yang sudah langsung dilengkapi dengan Thermal Overload Relay
( TOR ) .
- Kontaktor pembalik putaran ( Reversing Contactors )
- Kontaktor Star Delta yang dilengkapi dengan OL dan TR.
Apabila satu set kontaktor terdiri atas beberapa komponen, maka kontaktor
tersebut disebut Kontaktor Kombinasi ( Combinations Contactor . Salah satu
bentuk kontaktor magnet yang ditunjukan pada Gambar 3.3

Gambar 3.3 Bentuk Kontaktor Magnet


Bagian-bagian utama kontaktor magnet terdiri atas:
- Kumparanmagnet berfungsi untuk menarik lidah atau kontak-kontak dari
kontaktor pada saat kumparan megnet tersebut dialiri arus listrik
- Kontak utama ( main contacto ) adalah kontak yang langsung
menyambungkan ( menghubungkan ) sumber dengan beban sehingga pada
kontak ini mengalir arus beban
46

- Kontak pembantu ( auxiliary contactor ) mempunyai kemampuan


menghantarkan arus yang kecil dan berfungsi untuk mengalirkan arus
kontrol ( arus kumparan magnet, setelah tombol start dilepaskan.

3. Spesifikasi Konaktor Magnet


Di dalam pemakaian kontaktor magnet yang harus diperhatikan adalah
spesifikasi ukuran dari kontaktor,
- Kemampuan daya kontaktor ditulis dalam ukuran PK ( HP ).
Penentuan besarnya HP yang akan dipergunakan tentu teah disesuaikan
dengan beban yang dipikulnya.
- Kemampuan menghantarkan arus dari kontak-kontaknya, ditulis dalam
satuan ampere. Apabila kemampuan menghantarkan arus dari kontak-
kontaknya lebih kecil dari arus yang mengalir , maka kontak-kontak
tersebut menjadi panas sehingga kontaktor cepat rusak .
- Kemampuan tegangan dari kumparan magnet, apakah untuk tegangan 127
Volt atau 220 Volt, begitu pula frekuensinya. Kemampuan tegangan dari
kumparan magnet kontaktor DC ( arus searah ) umumnya kecil yaitu mulai
dari 6 Volt, 12 Volt, dan 24 Volt.
- Kemampuan melindungi terhadap tegangan rendah, misalnya ditulis
± 20 % dari tegangan kerja. Hal ini perlu diperhatikan , karena kalau
tegangan itu turun sekitar 20 % dari tegangan kerja , maka daya
magnetnya tidak kuat melawan daya pegas. Sebaliknya apabila tegangan
jala-jala terlalu besar misalnya sekitar 15 % di atas tegangan nominal, maka
kumparan magnetnya akan menjadi panas.
Dengan demikian, dari segi keamanan dan kepraktisan, penggunaan kontaktor
jauh lebih baik dari pada sakelar biasa. Oleh karena itu , apabila tegangan jala-
jala turun ataupun terputus, maka kontak-kontak akan membuka dan tidak akan
menutup kembali walaupun tegangan sudah normal, sebelum sakelar utama
ditekan. Sedangkan pada sakelar biasa keadaan seperti diatas tidak akan
mempengaruhi kerja sakelar, sehingga apabila tiba-tiba arus terputus dan normal
kembali saat mesin sedang kerja akan dapat membahayakan pekerja maupun
mesin itu sendiri.
47

Perbedaan antara kontaktor arus searah dengan kontaktor arus bolak-balik


terletak pada inti kumparannya. Untuk kontaktor arus bolak-balik dipasang cincin
hubung singkat, sedangkan kontaktor arus searah tdak dipasang. Kegunaan
hubungan singkat adalah agar kontaktor tidak bergetar pada saat bekerja. Seperti
diketahui bahwa arus bolak-balik di Indonesia mempunyai frekuensi 50 Hz,
sedangkan di negara-negara Eropa umumnya meggunakan frekuensi 60 Hz. Oleh
karena itu , arus listriknya akan menglami 50 kali minimum dan 50 kali
maksimum dalam setiap detik.
mengalami perubahan yang sama sebanak 50 kali. Setiap detiknya keadaan ini
akan menyebabkan kontak-kontakdari kontaktor magne trjadi getaran. Dengan
adanya kumparan hubungan singkat tersebut, maka akan dibangkitkan tegangan
induksi yang arusnya ketinggalan terhadap arus pada kumparan utama.
ditimbulkan oleh kumparan utama ( Φ utama ) dan fluksi yang ditimbulkan
oleh kumparan hubungan singkat ( Φ hubungan singkat )akan berbeda fasa
sebesar 900, lihat Gambar 3.4.

Gambar 3.4 Pergeseran fasa Φ Utama dengan Φ Hubungan singkat


Pada Gambar 3.4 terlihat bahwa pada saat fluksi utama nol, maka fluksi
magnet pada cincin hubungan singkat maksimum, sehingga kelangsungan daya
magnet itu tetap ada, selama kumparan utamanya diberi daya listrik
( berpenguatan ).
B. Pemakian Sakelar Magnet pada Pengontrolan Daya
1. Blok Diagram danRangkaian Daya

a. Panel Bagi
Agar sumber daya listrik dapat dimanfaatkan dengan baik disertai keamanan
yang tinggi, maka cara pemasangan dan pemakaian peralatan kontrolnya
harus berpedoman pada Peraturan Umum Instalasi Listrik ( PUIL ).
48

Listrik dari PLN atau Diesel Generator sebelum masuk alat pemakai listrik
( mesin-mesin ) terlebih dahulu harus melewati peralatan pembagi daya. Salah
satu contoh susunan panel bagi, mulai dari Panel Bagi Utama sampai dengan
Panel Cabang untuk setiap mesin. Lihat Gambar 3.5

Gambar 3.5 Blok Diagram Panel Daya


PBU = Panel Bagi Utama
PBK = Panel Bagi Kelompok
PBC = Panel Bagi Cabang
PHS = Pengaman Hubung Singkat
Untuk peraalatan listrik yang pemasangannya tidak permanen ( peralatan
listrik yang dapat dipindah-pindah ), terutama peralatan listrik yang dipergunakan
untuk tujuan-tujuan percoban misalnya, praktek laboratorium di sekolah dan
sebagainya. Peralatan listrik tersebut tidak dihubungkan langsung ke Stop kontak
3 fasa dari Panel Bagi Cabang ( PBC ).
Hal ini dilakukan agar orang yang melaksanakan percobaan atau
melaksanakkan pengetesan peralatan kontrol, tidak perlu memperbaiki /
menjalankan kembali Pengaman Hubung Singkat ( PHS ) pada Panel Bagi Cabang
( PBC ) setiap terjadi hubungan singkat karena peralatan tersebut letaknya jauh
dari tempat percobaan.
Untuk mengatasi masalah diatas, maka perlu dibuat lagi suatu rangkaian
sumber daya listrik yang berfungsi untuk menghubungkan daya jala-jala ( stop
kontak )ke peralatan listrik melalui kontrolnya.
Sebelum berbicara lebih jauh tentang rangkaian sumber daya, ada beberapa
komponen yang dipergunakan di dalam rangkaian tersebut, dan yang belum
dibahas yaitumengenai Tombol Tekan ( Push Button ).
49

Sistem pengontrolan motor dengan menggunakan kontaktor magnet


diperluka tombol-tombol tekan untuk mengendalikan sistem rangkaian
kontrolnya.
Menurut kedudukan kontak-kontaknya, tombol tekan dibagi menjadi 2, yaitu;
- Tombol Tekan Normally Open
Tombol tekan normally open ( NO ) adalah tombol tekan yang dalam keadaan
normal kontaknya terbuka, sebelum ditekan atau dioperasikan.

Gambar 3.6 Tombol Tekan Normally Open


Apabila tombol tekan ini ditekan, maka lidahnya akan menutup ( dari NO
menjadi NC ), tetapi apabila tombol tekannya dilepaskan kembali, maka lidah
kontak akan kembali ke posisi semula ( menjadi NO lagi )
- Tombol Tekan Normally Closed
Tombol tekan Normally Closed ( NC ) kebalikan dari tombol tekan normal
terbuka, dalam keadaan normal kontaknya menutup. Tekanan yang diberikan
bukan untuk mengadakan penutupan, melainkan pembukaan.
Simbol dari tombol tekan tersebut diperlihatkan pada Gambar 3.7

Gambar 3.7 Gambar 3.8


Tombol Tekan Tombol tekan NO dengan Kontak
Normally Closed (NC) Terus-menerus
50

Tombol tekan NC seperti Gambar 3.7 merupakan tombol tekan dengan


kontak sesaat, sedangkan Gambar 3.8 memperlihatkan tombol tekan NO dengan
kontak terus-menerus. Apabila tombol tekan tersebut ditekan dia akan terus
kontak karena didalamnya sudah ada sistem pengincian mekanik, jika tombol
ditekan sekali lagi, maka dia akan kembali ke posisi semula ( open ).
Jadi, tomboltekan ini merupakan tombol tekan type ON OFF ( double function )

Gambar 3.9 Bentuk Kotak Tombol Start Stop.


Selanjutnya, tombol tekan NO disebut tombol Start atau jalan ( ON ) dan
tombol NC disebut tombol Stop atau berhenti ( Off ).
Menurut banyaknya kontak, tombol tekan diatas merupakan tombol tekan
dengan kontak tunggal ( single contact ), sedangkan tombol tekan ganda ( double
contact ) diperlihatkan pada Gambar 3,10.

a. Tombol Start dengan b. Tombol Stopdengan


Kontak ganda Kontak ganda
Gambar 3.10 Tombol Tekan dengan Kontak Ganda
Apabila tombol startpada Gambar 3.10a ditekan, maka kedua kontaknya akan
menutup dan membuka secara bersamaan dimana kontak NO menjadi NC dan
kontak NC menjadi NO. Setelah tombol start dilepas kedua kontaknya akan
kembali ke posisi semula.
Begitu pula apabila tombol stop pada Gambar 3.10b ditekan,maka akan
mengalami kejadian yang sama seperti halnya ketika tombol start ditekan,
artinya kontak NC menjadi NO dan kontak NO menjadi NC.
51

Tombol tekan dengan kontak ganda banyak sekali penggunaannya dalam


sistem pengontrolan listrik antara lain pada:
- Pembalika arah putaran motor
- Hubungan bintang segitiga
- Kerja motor secara berurutan atau motor bergantian
- Pengerman motor
- Dan sebagainya,.
[Link] Sumber Daya
Rangkaian sumber daya yang sederhana terdiri atas sekring, magnet, tombol
start, tombol stop dan lampu tanda.
Komponen yang dipergunakan untuk rangkaian sumber tidaklah mutlak
seperti yang diuraikan diatas. Apabila diperlukan dapat pula ditambahkan kunci
dan pengaman beban lebih. Diagram blok dan rangkaian kontrol sumber daya
dapat dilihat pada Gambar 3.11a, sedangkan Gambar 3.11b memperlihatkan
diagram pengawatannya.

Gambar 3.11a Blok Diagram dan Rangkaian Kontrol Sumber Daya

Gambar 3.33b Diagram Pengawatan Sumber Daya


Perhatikan Gambar 3.11b apabila tombol startditekan maka magnet K
berpenguatandan menghubungkan kontak pembantu K dengan ketiga kontak
utamanya. Akibatnya lampu indikator L menyala dan pada fuse blok sudah
terdapat tegangan.
52

Pada saat tombol start dilepas, magnet K tetap berpenguatan karena arus
mengalir dari R ke tombol stop, kontak pembantu K, terus ke magnet K dan
kembali ke N, selanjutnya tekan tombol stop, maka lampu indikator L padam
dan dan pada fuse blok tidak mempunyai tegangan lagi.
Perhatikan Gambar 3.12, mula-mula tombol start pada rangkaian sumber
daya ditekan agar pada fuse blok tersedia tegangan dan motor berputar.

Gambar 3.12 Diagram Rangkaian Kontrol dan Pengawatan Motor 3 fasa dengan
kontaktor sebagai Pelindung terhadap Tegangan Rendah.
Untuk menyatakan turun tegangan atau hilangnya daya, tekanlah tombol stop
pada rangkaian daya, maka motor akan berhenti. Apabila tombol start sudah
ditekan dan ada daya kembali tetapi tidak berputar, maka tekan kembali tombol
start, agar motor berputar dan apabila tombol stop ditek moto erhenti.
Dari cara kerja rangkaian tersebut dapat ditarik kesimpulan bahwa:
- Kontaktor ( sakelar magnet ) dapat menghindarkan motor bekerja pada
tegangan rendah
- Kontaktor dapat menghindarkan motor langsung bekerja apabila daya
listrik kembali ada.

2. Sakelar Magnet Arus Bolak-balik Tegangan Penuh menggunakan Pengaturan


Dua Kawat
Sakelar Batas atau Limit Switch ( LS ) merupakan sakelar yang
dapatdioperasikan baik secaraa otomatis maupun non-otomatis.
Limit switch yang bekerja secara otomatis adalah jenis limit switch yang tidak
mempertahankan kontak, sedangkan limit switch yang bekerja non-otomatis
adalah jenis limit switch yang mempertahankan kontak.
53

Kontak-kontak didalam limit switch sama seperti kontak-kontak yang terdapat


pada tombol tekan, yaitu mempunyai kontak Normally Open ( NO ) dan kontak
Normally Closed ( NC ).
Kedudukan kontak dan bentuk dari limit switch dapat diperlihatkan pada
Gambar 3.13.

Gambar 3.13 Kedudukan Kontak dan Bentuk Limit Switch


Limit Switch yang tidak mempetahankan kontak akan bekerja apabila
mendapat tekanan dari benda-benda produksi yang menyentuh rollernya,
sehingga kedudukan kontak NO menjadi NC dan kontak NC menjadi NO.
Jika benda produksi sudah diangkat, roller dari limit switch kembali ke posisi
semula, demikian pula kedudukan kontak-kontaknya. Jenis limit switch semacam
ini dapat digunakan untuk meng-operasikan mesin-mesin secara otomatis dan
contoh pemakaiaannya akan dibahas pada Bab IV.

Gambar 3.14 Diagram Rangkaian Kontrol dan Pengawatan Sakelar Magnet


Sistem Dua kawat
Kemampuan maksimal dari kontaktor magnet untuk mengontrol sumber daya
listrik yang diberikan kepada beban ( motor listi ), ternyta sangat ditentukan oleh
komponen-komponen kontrol lainnya dan hubungan antara komponen yang satu
dengan komponen yang lainnya.
Pada Gambar 3.13 telihat bahwa dengan pemasangan limit switch yang
mempertahankan kontak sebagai alat kontrol mengakiatkan kemampuan Trdapat
memutuskan hubungan motor dengan jala-jala pada saat daya listrik kembali ada,
sehingga motor langsung berputar.
54

Apabila kontak beban lebih dari relay bimetal, maka tidak dihubungkan seri
demgan kumparan magnet dari kontaktor K, sehingga kontaktor maupun relay
bimetal tidak akan berfungsi sebagaimana yang diharapkan. Ini jelas bahwa
hubungan dan keterkaitan antara komponen perlu diperhatikan. Untuk lebih
jelasnya, perhatikan Gambar 3.14.
Diagram rangkaian kontrol sakelar magnet pada Gambar 3.14 lebih dikenal
dengan nama rangkaian kontrol sistem dua kawat, karena kawat yang terdapat
pada alat kontrolnya berjumlah dua buah. Cara kerjanya adalah sebagai berikut:
Apabila tombol start power On ditekankan dan sakelar batasnya dioperasikan,
maka motor akan berputar. Selanjutnya tekan tombol emergency stop untuk
meniru hilanganya daya, maka motor akan berhenti. Apabila tombol power on
ditekan lagi, maka motor akan berputar kembali dan apabila sakelar batas
dioperasikan pada posisi off, maka motor akan berhenti.
Memahami cara kerjanya yang demikian, maka pengontrolan siste dua kawat
dengan menggunakan limit switch hendaknya dipakai pada mesin-mesin yang
tidak perlu diawasi serta tidak membahayakan.
3. Sakelar Magnet Arus Bolak-Balik Tegangan Penuh dengan mengunakan
Transformator untk pengatur Tegangan Rendah
Transformator adalah alat yang dapat menaikkan atau menurunkan tegangan
sesuai dengan yang dikehendaki oleh pemakai.
Konstruksi, bentuk, dan simbol dari transformator ditunjukkan pada Gambar
3.15, 3.15a, dan Gambar 3.15b.

Gambar 3.15 Konstruksi transformator

Gambar 3.15a Bentuk Transformator


55

Gambar 3.15b Simbol Transformator


Transformator terbuat dari suatu teras baja lunak tertutup yang berlapis-lapis
delengkapi dengan kumparan primer P dan kumparan sekunder S, lihat Gambar
3.15.
Apabila kumparan primer P dihubungkan pada arus boak-balik, maka akan
timbul arus gaya magnet yang akan menginduksi kumparan primer P dan juga
kumparan S. Besar tegangan kumparan sekunder S teinduksi tergantung pada
jumlah lilitan kumparan primer P dan kumparan sekunder S.
Semakin besar perbedaan jumlah lilitan kedua kumparan tersebut semakin
besarlah perbedaan tegangan yang masuk dan tegangan yang keluar. Dengan
perkataan lain tegangan yang keluar akan lebih tinggi harganya daripada
tegangan yang masuk, apabila jumlah lilitan pada kumparan sekunder lebih
banyak dari jumlah lilitan primernya.
Hubungan tersebut dapat dinyatakan dengan persamaan:
U 1 : U2 = N 1 : N2
Dimana:
U1 : tegangan masuk
U2 : tegangan keluar
N1 : jumlah lilitan kumparan primer
N2 : jumlah lilitan kumparan sekunder
Didalam penyambungan hubungan paralel atau seri, polaritas perlu sekali
diperhatikan. Hal ini penting agar dapat ditentukan tegangan yang diinginkan.
Pada plat nama ( name plate ) transformator selain terdapat data mengenai
kemampuan transformator, juga dijumpai diagram rangkaian penyambungan
lengkap dengan tanda polaritasnya.
56

Polaritas transformator diberi tanda titik penuh ( o )dan prinsip


penyambungannya sama seperti penyambungan pada beberapa baterai kering
yang dihubungkan seri atau paralel.
Pada Gambar 3.16 ditunjukkan hubungan dua buah transformator satuint
masing-masing 220 Volt / 110 Volt untuk tegangan primer dan sekunder. Agar
supaya transformator tersebut dapat dihubungkan dengan tegangan 440 Volt,
maka dari kedua lilitan primer tranformator itu dihubungkan seri dan tegangan
yang diperoleh pada lilitan sekunder adalah 110 Volt.

Gambar 3.16 Hubungan Seri Lilitan Primer dari Dua Transformator Satu Inti
Jika tegangan primer dari transformator yang diinginkan sebesar 220 Volt,
maka kedua lilitan primer dari transformator harus dihubungkan paralel,
sedangkan pada bagian sekundernya tetap menghasilkan tegangan 110 Volt.
Lihat Gambar 3.17

Gambar 3.17 Hubungan Paralel Lilitan Primer dari Dua Transformator Satu inti
Di industri transformator pengatur digunakan untuk menutunkan tegangan
jala-jala agar sesuai dengan nilai nominal rangkaian kontrol.
Keuntungan dari sistem pengontrolan tegang
57
58
59

Common questions

Didukung oleh AI

Penggunaan saklar seperti TPST untuk sistem pengendalian motor 3 fasa dapat meningkatkan kontrol dengan mempermudah proses on/off, memungkinkan putaran motor dalam dua arah saat menggunakan TPDT, dan melindungi terhadap hubung singkat. Dengan demikian, meski tidak bisa menangani beban lebih atau penurunan tegangan, sakelar tersebut memberikan kendali manual yang aman dan mudah .

Relay bimetal melindungi motor dari beban berlebih dengan memanfaatkan pembengkakan akibat panas. Saat arus yang mengalir melebihi nominal, suhu meningkat dan bimetal membengkok, menyebabkan kontak beban lebih terbuka. Pada saat ini, arus ke kumparan magnetik kontaktor terputus, menghilangkan penguatan magnet dan memutuskan kontak utama dari kontaktor, sehingga hubungan listrik ke motor terputus .

Perbedaan utama antara sekring lambat dan sekring cepat terletak pada durasi pemutusan arus. Sekring lambat digunakan pada motor listrik karena dapat menahan arus berlebih saat start, yang bisa mencapai 4-6 kali arus nominal. Sekering lambat memerlukan waktu yang lebih lama untuk putus karena dilengkapi lubang udara untuk pendinginan, sedangkan sekring cepat langsung memutus arus dalam waktu singkat .

Sakelar centrifugal switch berfungsi untuk memutuskan lilitan start pada motor saat rotor sudah mencapai kecepatan tertentu. Hal ini mencegah lilitan start terpaksa menggunakan arus tinggi terus-menerus setelah motor mencapai kecepatan yang diperlukan untuk operasi normal, menjaga performa motor dan menghindari pemborosan energi serta potensi kerusakan akibat panas lebih .

Sistem pengontrolan motor listrik yang baik dapat mencegah kerusakan dan meminimalkan downtime, sehingga meningkatkan efisiensi operasional mesin dalam industri. Dengan perlindungan dari overload dan short circuit menggunakan perangkat seperti MCB dan MPCB, kerusakan yang disebabkan oleh kondisi non-ideal seperti arus berlebih atau tegangan rendah dapat dihindari. Selain itu, penggunaan sakelar seperti DPDT dapat mengubah parameter operasi, seperti arah putaran, sehingga meningkatkan fleksibilitas penggunaan motor .

MCB ganda dalam melindungi rangkaian motor listrik memiliki dua mekanisme kerja: pertama, relay magnet bekerja saat terjadi hubungan singkat dengan menarik palang melalui tarikan magnet sehingga melepaskan kontak. Kedua, saat terjadi beban lebih, relay thermis menyebabkan pemutusan kontak karena peningkatan suhu menyebabkan bimetal membengkok .

MPCB sudah dirancang untuk melindungi motor dari hubungan singkat dan beban lebih, sehingga tercakup perlindungan terintegrasi. Selain itu, MPCB dengan relay tegangan rendah juga melindungi terhadap kondisi tegangan rendah. Dengan adanya MPCB yang sudah menjamin perlindungan lengkap, penggunaan sekring (fuse) dan Thermal Overload Relay (TOR) secara terpisah menjadi redundant .

Sakelar DPDT digunakan untuk membalikkan arah putaran motor dengan cara mengubah arah arus pada lilitan start, sementara arah arus lilitan run tetap konstan. Saat sakelar dipindahkan, arus yang masuk berubah orientasi, menyebabkan perubahan arah putaran motor, baik pada motor AC 1 fasa maupun motor shunt arus searah .

Pengaman otomatis dalam sistem kontrol motor listrik berfungsi untuk memutuskan rangkaian apabila terjadi hubungan singkat atau beban lebih yang sifatnya sesaat. Miniature Circuit Breaker (MCB) dapat berfungsi sebagai pengaman tunggal, yang hanya memutuskan rangkaian saat terjadi hubungan singkat, atau sebagai pengaman ganda, yang akan memutus rangkaian saat terjadi hubungan singkat dan juga beban lebih melalui relay thermis .

Sistem yang hanya menggunakan sakelar TPST memiliki kerugian dalam ketidakmampuannya mendeteksi dan bereaksi terhadap gangguan seperti beban lebih atau penurunan tegangan, sehingga motor dapat terus beroperasi dalam kondisi tersebut dan berpotensi menyebabkan kerusakan. Sebaliknya, sistem yang lebih kompleks menggunakan MPCB atau MCB yang dapat menyediakan perlindungan menyeluruh melawan berbagai gangguan operasional .

Anda mungkin juga menyukai