0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
4 tayangan42 halaman

Pemanfaatan Media Pembelajaran Kapuak

biologi umum

Diunggah oleh

monicaediesca4
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
4 tayangan42 halaman

Pemanfaatan Media Pembelajaran Kapuak

biologi umum

Diunggah oleh

monicaediesca4
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

BAB II

KAJIAN TEORI

A. Media Pembelajaran

Pengertian media pembelajaran adalah segala sesuatu yang dapat

digunakan untuk menyalurkan pesan dari guru kepada siswa sehingga dapat

merangsang pikiran, perasaan dan perhatian siswa yang menjurus kearah

terjadinya proses pembelajaran yang optimal. Media pembelajaran dapat

memperjelas penyajian pesan dan informasi sehingga dapa memperlancar dan

mengarahkan perhatian anak sehingga dapat menimbulkan motivasi belajar,

interaksi yang lebih langsung antara siswa dan lingkungannya, dan

kemungkinan siswa untuk belajar sendiri-sendiri sesuai dengan kemampuan

dan minatnya (Arsyad, 2017: 29).

Menurut Gagne’ dan Briggs (dalam Arsyad, 2017: 4), media

pembelajaran adalah komponen sumber belajar atau wahana fisik yang

mengandung materi instruksional di lingkungan siswa yang dapat

merangsang siswa untuk belajar. Sedangkan menurut Gerlach & Ely dalam

Arsyad (2017: 3) menyatakan bahwa secara lebih khusus pengertian media

dalam proses belajar mengajar diartikan sebagai alat-alat grafis, photografis,

atau elektronis untuk menangkap, memproses, dan menyusun kembali

informasi visual atau verbal.

Penggunaan media dalam pembelajaran saat ini sangat penting, karena

tanpa adanya media penyampain informasi dalam proses pembelajaran tidak

akan terjadi dan tidak berlangsung secara optimal. Dalam proses


pembelajaran, media berada diantara peserta didik dalam menyampaikan

suatu informasi sehingga media sangat erat kaitannya dalam proses

pembelajaran.

Berdasarkan perkembangan teknologi tersebut media pembelajaran

dapat dikelompokkan ke dalam beberapa kelompok seperti media berbasis

komputer. Menurut Daryanto (2016: 163), AECT (Association for

Educational Communication and Technology) membedekan enam jenis

sumber belajar yang dapat digunakan dalam prses belajar, yaitu :

1. Pesan : didalamnya mencakup kurikulum (GBPP) dan mata pelajaran.

2. Orang : didalamnya mencakup guru, orang tua, tenaga ahli, dan

sebagainya.

3. Bahan : merupakan suatu format yang digunakan untuk menyimpan

pesan pembelajaran, seperti buku paket, buku teks, modul, program

video, film, OHT (Over Head Transparency), program slide, alat

peraga dan sebagainya (biasa disebut software).

4. Alat: yang dimaksud di sini adalah sarana (piranti, hardware) untuk

menyajikan bahan pada butir 3 di atas. Di dalamnya mencakup

proyektor OHP, slide, film tape recorder, dan sebagainya.

5. Teknik : yang dimaksud adalah cara (prosedur) yang digunakan guru

dalam memberikan pelajaran guna tercapai tujuan pembelajaran. Di

dalamnya mencakup ceramah, permainan/ simulasi, Tanya jawab,

sosiodrama (roleplay), dan sebagainya.


6. Latar (setting) atau lingkungan termasuk didalamnya adalah

pengaturan ruang, pencahayaan, dan sebagainya.

Menurut Daryanto (2016: 5), kegunaan media dalam pembelajaran

adalah sebagai berikut:

1) Memperjelas pesan agar tidak terlalu verbalistis.

2) Mengatasi keterbatasan ruang waktu, tenaga, dan daya indera.

3) Menimbulkan gairah belajar, interaksi secara langsung antara nurid

dengan sumber belajar.

4) Memungkinkan anak belajar mandiri sesuai dengan bakat dan

kemampuan visual, auditori, dan kinestetiknya.

5) Memberikan rangsangan yang sama, mempersamakan pengalaman,

dan menimbulkan persepsi yang sama.

6) Membantu menyalurkan pesan (bahan pelajaran), sehingga dapat

merangsang perhatian, minat, pikiran, dan perasaan siswa dalam

kegiatan belajar mengajar untuk mencapai tujuan belajar.

Kemudian Arsyad (2017: 29), juga menyimpulkan beberapa manfaat

praktis dari penggunaan media pembelajaran di dalam proses belajar

mengajar sebagai berikut:

1. Media pembelajaran dapat memperjelas penyajian pesan dan

informasi sehingga dapat memperlancar dan meningkatkan proses dan

hasil belajar.
2. Media pembelajaran dapat meningkatkan dan mengarahkan perhatian

anak sehingga dapat menimbulkan motivasi belajar, interaksi yang

lebih langsung antara siswa dan lingkungannya, dan kemungkinan

siswa untuk belajar sendiri-sendiri sesuai dengan kemampuan dan

minatnya.

3. Media pembelajaran dapat mengatasi keterbatasan indera, ruang, dan

waktu :

a) Objek atau benda yang terlalu besar untuk ditampilkan langsung di

ruang kelas dapat diganti dengan gambar, foto, slide, realita, film,

radio, atau model.

b) Objek atau benda yang terlalu kecil yang tidak tampak oleh indera

dapat disajikan dengan bantuan mikroskop, film, slide, atau

gambar.

c) Kejadian langka yang terjadi di masa lalu atau terjadi sekali dalam

puluhan tahun dapat ditampilkan melalui rekaman video, film, foto,

slide di samping secara verbal.

d) Objek atau proses yang amat rumit seperti peredaran darah dapat

ditampilkan secara konkret melalui film, gambar, slide, atau

simulasi komputer.

e) Kejadian atau percobaan yang dapat membahayakan sehingga

disimulasilian dengan media seperti komputer film, dan video.

f) Peristiwa alam seperti terjadinya letusan gunung berapi atau proses

yang dalam kenyataan memakan waktu lama seperti proses


kepompong menjadi kupu-kupu dapat disajikan dengan teknik-

teknik rekaman seperti film, video, slide, atau simulasi komputer.

4. Media pembelajaran dapat memberikan kesamaan pengalaman kepada

peserta didik tentang peristiwa di lingkungan mereka serta

memungkinkan terjadinya interaksi langsung dengan guru,

masyarakat, dan lingkungannya misalnya melalui karyawisata,

kunjungan ke museum atau kebun binatang.

B. Multimedia Interaktif

Multimedia dalam konteks komputer menurut Hofstetter (dalam Munir,

2013: 3) adalah penggunaan komputer untuk menyajikan dan menggabungkan

teks, suara, gambar, animasi dan video dengan alat bantu (tool) dan koneksi

(link) sehingga pengguna dapat melakukan navigasi, berinteraksi, berkarya dan

berkomunikasi. Kaddarudin (2015: 82) menyatakan, multimedia adalah

pemanfaatan komputer untuk membuat dan menggabungkan teks, grafik, audio

dan gambar begerak (video dan animasi) dengan mengabungkan link yang

memungkinkan pemakaian melakukan navigasi, berinterkasi, berkreasi, dan

komunikasi. Menurut Munir (2013: 110) menyatakan bahwa interaktif terakit

dengan komunikasi dua arah atau lebih dari komponen-komponen komunikasi.

Menurut Green & Browm (dalam Munir, 2013: 112), terdapat metode

yang digunakan dalam penyajian multimedia yaitu:

1. Berbasis kertas (Paper-based), contoh: buku, majalah, brosur.

2. Berbasis cahaya (Light-based), contoh: slide shows, transparansi.


3. Berbasis suara (Audio-based), contoh: CD Players, tape recorder,

radio.

4. Berbasis gambar bergerak (Moving-image-based), contoh: televise,

VCR (Video cassette recorder), film.

5. Berbasis digital (Digitally-based), contoh: komputer.

Media pembelajaran adalah salah satu alat bantu dalam proses

pembelajaran. Salah satu media yang saat ini paling efektif untuk

meningkatkan hasil belajar adalah multimedia interaktif. Menurut Kadaruddin

(2015: 85), multimedia interaktif adalah suatu multimedia yang dilengkapi

dengan alat pengontrol yang dapat dioperasikan oleh pengguna, sehingga

pengguna dapat memilih apa yang dikehendaki untuk proses selanjutnya.

Sedangkan menurut Munir (2013: 110), multimedia interaktif adalah suatu

tampilan multimedia yang dirancang oleh desainer agar tampilannya memenuhi

fungsi menginformasikan pesan dan memiliki interaktifitas kepada

penggunanya. Munir (2013: 111) menyatakan, ada lima elemen atau teknologi

utama dalam multimedia interaktif yaitu, Teks, Grafik, Audio, Video, dan

Animasi.

Menurut Munir (2013: 115), menjelaskan terdapat beberapa karakteristik

multimedia interaktif dalam pembelajaran yaitu:

1. Memiliki lebih dari satu media yang konvergen, misalnya

menggabungkan unsur audio dan visual.


2. Bersifat interaktif, memiliki kemampuan untuk mengakomodasi

respon pengguna.

3. Bersifat mandiri, memberi kemudahan dan kelengkapan isi

sehinggapengguna bisa menggunakan tanpa bimbingan orang lain.

Secara umum manfaat yang dapat diperoleh dari penggunaan multimedia

pembelajaran adalah proses pembelajaran yang lebih menarik, lebih interaktif,

jumlah waktu mengajar dapat dikurangi, kualitas belajar siswa dapat

ditingkatkan dan proses belajar mengajar dapat dilakukan dimana saja

(Kadaruddin,2015: 87).

Menurut Daryanto (2016: 70) menjelaskan bahwa terdapat beberapa

manfaat penggunaan multimedia dalam proses pembelajaran seperti:

1. Memperbesar benda yang sangat kecil dan tidak tampak oleh mata,

seperti kuman, bakteri, dan muatan elektron.

2. Memperkecil benda yang sangat besar sehingga tidak mungkin

dihadirkan kedalam kelas, seperti gajah, rumah, dan gunung.

3. Menjadikan benda atau pristiwa yang kompleks, rumit, dan

belangsung cepat atau lambat, seperti sistem tubuh manusia,

bekerjanya suatu mesin, peredaran planet, dan berkembangnya

bunga.

4. Menjadikan benda atau peristiwa yang jauh, seperti bulan, bintang,

dan salju.
5. Menyajikan benda atau peristiwa yang berbahaya, seperti letusan

gunung merapi, harimau, dan racun.

6. Meningkatkan daya tarik dan perhatian siswa.

Menurut Kadaruddin (2015: 102), adapun karakteristik dari multimedia

pembelajaran yaitu sebagai berikut:

1. Memiliki lebih dari satu media yang konvergen, misalnya

menggabungkan unsur audio dan visual.

2. Bersifat interaktif, dalam pengertian memiliki kemampuan untuk

mengakomodasi respons pengguna.

3. Bersifat mandiri, dalam pengertian memberi kemudahan dan

kelengkapan isi sedemikian rupa sehingga pengguna bisa

menggunakan tanpa bimbingan orang lain.

Menurut Munir (2013: 113), adapun kelebihan menggunakan

multimedia interaktif dalam pembelajaran diantaranya:

1. Sistem pembelajaran lebih inovatif dan interaktif.

2. Pendidik akan selalu dituntut untuk kreatif inovatif dalam mencari

terobosan pembelajaran.

3. Mampu menggabungkan antara teks, gambar, audio, music, animasi

gambar atau video dalam satu kesatuan yang saling mendukung guna

tercapainya tujuan pembelajaran.


4. Menambah motivasi peserta didik selama proses belajar mengajar

hingga didapatkan tujuan pembelajaran yang diinginkan.

5. Mampu menvisualisasikan materi yang selama ini sulit untuk

diterangkan hanya sekedar dengan penjelas atau alat peraga yang

konvensional.

6. Melatih peserta didik lebih mandiri dalam mendapatkan ilmu

pengetahuan.

Selain itu, Munir (2013: 39) menyatakan bahwa multimedia akan

membantu peserta didik menjadi lebih aktif dan kreatif dalam pembelajaran,

dan menjadikan pendidik sebagai fasilitator yang memberikan kemudahan

kepada peserta didik untuk belajar bukan sebagai pemberi perintah/intruksi

kepada peserta didik.

C. Lectora Inspire

Lectora adalah Authoring Tool untuk pengembangan konten e-learning

yang dikembangkan oleh Trivantis Corporation. Lectora inspire mampu

membuat kursus online, penilaian, persentasi serta dapat mengkonversi

presentasi dari Microsoft power point ke dalam konten e-learning (Mas’ud,

2014: 1). Lectora sangat mudah untuk digunakan dalam mengembangkan

konten Multimedia Pembelajaran Interaktif.

Menurut Mas’ud (2014:96), konten yang dikembangan dengan perangkat

lunak Lectora dapat dipublikasikan. Publikasi adalah proses penyajian file

lectora ke dalam beberapa format file, yaitu: EXE, CD. HTML, SCORM .
Adapun keunggulan Lectora Inspire menurut Shalikhah, dkk. (2017: 13)

yakni:

1. Guru dapat membuat dan menyajikan materi ajar dengan tanpa harus

melakukan programming.

2. Guru dapat melakukan pengujian terhadap materi ajar yang diberikan,

dalam berbagai macam bentuk teks seperti pilihan ganda, benar/salah,

mencocokan (matching), tarik dan tempatkan (drag and drop), isian

singkat (fill in the blank), dan hot spot.

3. Guru/ peserta didik dapat mengakses materi ajar/uji yang dibutuhkan

baik secara online maupun offline.

4. Mampu menggunakan teks, suara, video, animasi dalam satu kesatuan.

5. Mampu memvisualisasikan materi yang abstrak.

6. Membawa objek yang sangat besar atau berbahaya dalam lingkungan

kelas.

7. Menampilkan objek yang tidak bisa dilihat oleh mata telanjang.

Dengan melihat keunggulan keunggulan multimedia lectora inspire, sangat

mendukung jika multimedia tersebut diterapkan dalam pembelajaran disekolah.

D. Multimedia Interaktif Berbasis Lectora Inspire

Multimedia dalam konteks komputer menurut Hofstetter dalam Munir

(2013:3) adalah penggunaan komputer untuk menyajikan dan menggabungkan

teks, suara, gambar, animasi dan video dengan alat bantu (tool) dan koneksi

(link) sehingga pengguna dapat melakukan navigasi, berinteraksi, berkarya dan

berkomunikasi. Multimedia yang dipersiapkan dengan baik membantu siswa


menerima pengetahuan dan keterampilan dengan mudah selain itu multimedia

yang di persiapkan dengan baik akan mampu mengubah tingkah laku siswa

(Kadaruddin, 2016: 155).

Menurut Munir (2013: 110) menyatakan bahwa interaktif terakit dengan

komunikasi dua arah atau lebih dari komponen-komponen komunikasi.

Multimedia interaktif adalah suatu tampilan multimedia yang dirancang oleh

desainer agar tampilannya memenuhi fungsi menginformasikan pesan dan

memiliki interaktifitas kepada penggunanya.

Lectora adalah Authoring Tool untuk pengembangan konten e-learning

yang dikembangkan oleh Trivantis Corporation. Lectora inspire mampu

membuat kursus online, penilaian, persentasi serta dapat mengkonversi

presentasi dari Microsoft power point ke dalam konten e-learning (Mas’ud,

2014: 1). Lectora inspire sangat mudah untuk digunakan dalam

mengembangkan konten Multimedia Pembelajaran Interaktif.

Adapun keunggulan lectora inspire menurut Prasetyo (2015: 327) yakni:

1. Sistem pembelajaran lebih inovatif dan interaktif

2. Mampu menggabungkan antara teks, gambar, audio, musik, animasi

gambar atau video dalam satu kesatuan yang saling mendukung guna

tercapainya tujuan pembelajaran.

3. Mampu memvisualisasikan materi yang selama ini sulit diterangkan

hanya sekedar dengan penjelasan atau alat peraga yang konvensional.


Adapun cara pembuatan multimedia interaktif menggunakan lectora

inspire yaitu:

a) Membuka tampilan awal dari Lectora inspire

Gambar 2.1 Menu tampilan awal dari Lectora inspire


(Sumber: [Link])

b) Membuka menu tampilan my template untuk memulai project

baru.

Gambar 2.2 Menu tampilan my template untuk memulai


project baru
(Sumber : [Link])

c) Membuka menu sisi sebelah kanan type dan design


Gambar 2.3 Menu sisi sebelah kanan type dan design
(Sumber : [Link]).

d) Membuka menu tampilan fixed page size

Gambar 2.4 Menu tampilan fixed page size


(Sumber : [Link])

e) Membuka menu tampilan menambahkan teks dalam chapter maupun

page
Gambar 2.5 Menu tampilan menambahkan teks dalam
Chapter maupun page.
(Sumber : [Link])

f) Membuka menu tampilan menambahkan gambar dalam chapter maupun

page.

Gambar 2.6 Menu tampilan menambahkan gambar


dalam chapter maupun page.
(Sumber : [Link])

g) Membuka menu tampilan menambahkan audio dalam chapter maupun

page
Gambar 2.7 Menu tampilan menambahkan audio
dalam chapter maupun page.
(Sumber : [Link])
E. Etnobotani

Purwanto (dalam Atmojo, 1999). Menykan tumbuhan berperan penting

karena memiliki banyak manfaat bagi kehidupan. Penggunaan tumbuhan dalam

kehidupan manusia menunjukkan adanya interaksi antara tumbuhan dan

manusia yang dikenal dengan istilah etnobotani. Etnobotani dapat didefinisikan

sebagai suatu bidang ilmu yang mempelajari hubungan timbal balik secara

menyeluruh antara masyarakat lokal dengan alam lingkungannya meliputi

sistem pengetahuan tentang sumber daya alam tumbuhan. Etnobotani dapat

digunakan sebagai salah satu alat untuk mendokumentasikan pengetahuan

masyarakat tradisional, masyarakat awam yang telah menggunakan berbagai

macam jasa tumbuhan untuk menunjang kehidupannya dan menggambarkan

dan menjelaskan kaitan antara budaya dan kegunaan tumbuhan, bagaimana

tumbuhan digunakan, dirawat dan dinilai memberikan manfaat untuk manusia,

contohnya sebagai makanan, obat, kosmetik, pewarna, pakaian, dalam upacara

dan dalam kehidupan masyarakat (Efremila, Wardenaar, E., Sisillia, E., 2015).

Menurut Purwanto ruang lingkup etnobotani masa kini adalah

sebagai berikut:

a. Etnoekologi: menitik beratkan pada pengetahuan tradisional tentang

adaptasi dan interaksi diantara organisme dan pengaruh pengelolaan

tradisional lingkungan alam terhadap kualitas lingkungan.

b. Pertanian tradisional: pengetahuan tradisional tentang varietas

tumbuhan dan sistem pertanian, pengaruh alam dan lingkungan pada

seleksi tumbuhan dan pengelolaan sumber daya tumbuhan.


c. Etnobotani kognitif: persepsi tradisional terhadap sumber daya alam

tumbuhan, melalui analisis simbolik dalam ritual dan mitos dan

konsekuensi ekologisnya. Organisasi dari sistem pengetahuan melalui

studi etnotaksonomi.

d. Budaya materi: pengetahuan tradisional dan pemanfaatan tumbuhan

dan produk tumbuhan dalam seni dan teknologi.

e. Fitokimia tradisional: pengetahuan tradisional penggunaan tumbuhan

dan kandungan bahan kimianya, contohnya sebagai bahan insektisida

lokal dan tumbuhan obat-obatan.

f. Paleoetnobotani: interaksi masa lalu antara populasi manusia dengan

tumbuhan yang mendasarkan pada interpretasi peninggalan

arkeologi.

F. Kerajinan Tangan (Seni Kriya)

1. Pengertian Seni Kriya

Kerajinan sebagai kreativitas alternatif yang bernilai dan

dihasilkan melalui keterampilan tangan para pengrajin. Umumnya,

produk kerajinan dikaitkan dengan unsur seni sehingga disebut seni

kerajinan yang merupakan implementasi dari karya seni kriya yang

telah diproduksi secara massal oleh pengrajin (Raharjo, 2011).

Seni kriya adalah karya seni yang dibuat dengan keterampilan

tangan (hand skill) dengan memperhatikan aspek fungsional dan nilai

seni. Penciptaan karya seni kriya tidak hanya didasarkan pada aspek
fungsionalnya (kebutuhan fisik) saja, tetapi juga untuk pemenuhan

kebutuhan terhadap keindahan/ emosianal (Handika, 2013). Dalam

perkembangannya karya seni kriya selalu identik dengan seni kerajinan.

Hal ini disebabkan pembuatan karya seni kriya yang tidak lepas dari

pengerjaan tangan (hand made) dan memiliki aspek fungsional.

Benda-benda hasil pekerjaan tangan atau seni kriya biasanya

dibuat untuk keperluan sehari-hari sekaligus melestarikan tradisi

kesenirupaan suatu daerah. Karena itu, karya seni kriya biasanya

memiliki karakter dan ciri khas daerah dengan aturan, warna dan motif

yang mengandung makna-makna tertentu dari daerah tersebut. Seni

kriya diminati dengan tujuan yang berbeda-beda sesuai fungsi dari

benda tersebut. Hal tersebut disebabkan karena seni kriya diciptakan

sebagai sarana untuk menunjang kebutuhan manusia yang beraneka

ragam. Pembuatan karya seni kriya setiap daerah berbeda-beda,

tergantung kondisi alam, letak georgafis dan budaya daerah tersebut.

2. Fungsi Seni Kriya

Fungsi merupakan aspek pertama dalam pemilihan produk

kerajinan sehingga seni kriya harus mempunyai unsur kenyaman dalam

pemakaian, nilai estetis, simbolik, filosofis, dan fungsional (Gustami

dalam Raharjo, 2011).Fungsi seni kriya secara garis besar terbagi atas

tiga golongan, yaitu sebagai berikut.

a. Hiasan (dekorasi)
Banyak produk seni kriya yang berfungsi sebagai benda

pajangan. Seni kriya jenis ini lebih menonjolkan segi rupa daripada

segi fungsinya sehingga bentuk-bentuknya mengalami

pengembangan. Misalnya, karya seni ukir, hiasan dinding,

cinderamata, patung,dan lain-lain.

b. Benda terapan (siap pakai)

Seni kriya yang tetap mengutamakan fungsinya. Seni kriya

jenis inimempunyai fungsi sebagai benda yang siap pakai, bersifat

nyaman, namun tidak kehilangan unsure keindahannya. Misalnya,

senjata, keramik, furnitur, alat rumah tangga dan lain-lain.

c. Benda mainan

Seni kriya yang tetap mengutamakan fungsinya. Seni kriya

jenis inimempunyai fungsi sebagai benda yang siap pakai, bersifat

nyaman, namun tidak kehilangan unsure keindahannya. Misalnya,

senjata, keramik, furnitur, alat rumah tangga dan lain-lain.

3. Jenis-jenis Seni Kriya

Bentuk karya seni kriya sangat beragam dan juga bahan alam

yang digunakan. Jenis-jenis seni kriya banyak sekali dan sangat

mudah ditemukan di berbagai daerah. Dari berbagai karya tersebut

ada yang masih mempertahankan keanekaragaman hiasan tradisional

dan ada juga yang telah mengembangkannya karena tuntutan pasar.

Jenis seni kriya dibagi berdasarkan bahan yang digunakan dan

teknik pembuatannya.
a. Jenis-jenis seni kriya berdasarkan bahan yang digunakan

1) Seni kriya kayu

Kriya kayu merupakan suatu jenis seni kriya dalam

pekerjaannya membuat benda selalu menggabungkan antara

nilai fungsi sekaligus hias dengan menggunakan bahan kayu.

Dalam seni kriya kayu, terdapat pekerjaan dengan tingkat

dasar atau tingkat permulaan. Kayu sangat banyak

dimanfaatkan dalam pembuatan berbagai benda kerajinan

seperti patung, wayang golek, topeng, furnitur, dan hiasan

ukir-ukiran.

Gambar 2.8 Seni kriya kayu


([Link])

2) Seni Kriya Tekstil

Seni kriya tekstil adalah kriya dengan bahan dasar kain.

Istilah tekstil memiliki lingkup yang luas dan mencakup

dengan macam aneka jenis kain yang cara pembuatannya baik

dengan cara diikat, ditenun dipres dan masih banyak cara


teknik pembuatan kain. Umumnya kain terbuat dari serat yang

dipintal atau dipin untuk menghasilkan benang yang panjang

dan selanjutnya ditenun atau dirajut agar menghasilkan kain

berupa barang jadi. Jenis seni kriya tekstil dikelompokkan

menjadi dua macam yaitu karya batik dan karya tenun.

Gambar 2.9 Seni kriya batik


([Link])

3) Seni Kriya Keramik

Seni kriya keramik adalah benda yang terbuat dari

tanah liat yang dibakar. Pembuatan seni kriya keramik adalah

dengan teknik slab/lempeng, putar (Throwing), pilin

(Pinching), dan cetak tuang.

Gambar 2.10 Tempayan


([Link])
4) Seni Kriya Logam

Seni kriya logam adalah seni kriya yang mengolah

logam menjadi berbagai macam benda kerajinan. Teknik

pembuatan seni kriya logam terdiri dari dua macam teknik

yaitu a cire perdue/cetak lilin, dan teknik bivalve.

Gambar 2.11 Gong (Takulel)


([Link])

5) Seni Kriya Kulit

Seni kriya kulit adalah karya seni yang menggunakan

kulit sebagai bahan bakunya. Kulit yang umumnya digunakan

dalam seni kriya kulit adalah kulit kambing, sapi, buaya,

kerbau, dan ular. Kulit tersebut menjalani serangkaian proses

pengolahan yang panjang, dimana dimulai dari pemisahan dari

daging hewan, pencucian menggunakan cairan tertentu,

pembersihan, perendaman dengan menggunakan zat kimia

tertentu (penyamakan), perwarnaan, perentangan kulit agar

tidak mengkerut, pengeringan dan penghalusan. Setelah itu


barulah dipotong-potong agar sesuai dengan ukuran dari benda

yang akan dibuat. Contoh hasil dari seni kriya kulit adalah tas,

sepatu, ikat pinggang, wayang kulit, dompet, pakaian (jaket),

alat musik rebana, dan tempat handphone. Daerah-daerah

penghasil seni kriya kulit adalah yogyakarta, garut, dan bali.

Selain itu, bagi suku dayak kulit tumbuhan (kapuak)

juga dapat digunakan untuk membuat tas dan pakaian adat.

Gambar 2.13 Seni kriya kulit kapuak


([Link])

6) Seni Kriya Batu


Seni kriya batu merupakan seni kriya dengan bahan

dasar batu yang dibentuk sedemikian rupa agar terlihat indah.

Batu dengan tekstur keras dan kaku ternyata dapat diolah.

Contoh di daerah sukami dan sukaraja yang sering ditemukan

hiasan-hiasan dan dekorasi rumah dari batu. Contohnya batu

akik, fosil, jesper, dan batu permata seta masih banyak lagi.
Gambar 2.14 Seni kriya batu
([Link])

b. Jenis-jenis seni kriya berdasarkan Teknik pembuatannya

1) Seni kriya pahat/ukir

Jenis, bahan, bentuk dan teknik dalam seni pahat

sangatlah beragam, mulai dari jenis patung, ukiran dan

aneka kerajinan lainnya. Selain menggunakan kayu,

seni pahat juga menggunakan aneka logam, batu, serta

tulang dan kulit hewan sebagai bahan dasarnya. Salah

satu seni kriya pahat/ukir yang dapat ditemui di Desa

Ensaid Panjang yaitu patung dan sarung parang

(Mandau).

Gambar 2.15 Patung


(dokumentasi pribadi)
2) Seni Kriya Batik

Proses pembuatan kain batik bisa dilakukan

dengan berbagai macam teknik diantaranya adalah

teknik cap, tulis dan teknik lukis. Teknik batik tulis


adalah salah satu teknik membantik yang paling banyak

digunakan di Indonesia. Selain di pulau jawa, batik

juga terdapat di pulau Kalimantan, Sulawesi, Sumatra

dan Bali. Corak kain batik dari setiap daerah juga

beraneka ragam.

Gambar 2.16 Batik


([Link])
3) Seni Kriya Tenun

Indonesia merupakan salah satu negara penghasil

kain tenun terbesar di dunia terutama dalam hal

keragaman corak hiasannya. Tenun terdiri dari dua

jenis yaitu tenun songket, dan tenun ikat. Perbedaannya

ada pada teknik pembuatan dan bahan yang digunakan.

Tenun songket berupa benang perak, emas atau benang

sutra. Daerah-daerah di Indonesia terkenal dengan

penghasil tenun ikat adalah Aceh, Sulawesi Tengah,

Bali, Sumatra Utara, Toraja (Sulawesi Selatan), NTT,

Kalimantan Timur, Flores, dan Kalimantan Barat.

Sedangkan daerah penghasil tenun songket adalah

Sumatra Barat, Aceh, Riau, Sumatra Utara, Lombok,


Palembang, Sumatra Barat, Nusa Tenggara dan

Maluku.

Gambar 2.17 Seni Kriya Tenun


(dokumentasi pribadi)

4) Seni Kriya Anyaman

Seni kriya anyaman adalah tekhnik membuat dengan

mengatur bahan-bahan dasarnya dalam bentuk yang

tindih-menindih, silang-menyilang, dan lipat-melipat

pakat dan lungsen dengan pola tertentu. Bahan-bahan

yang digunakan dalam seni kriya anyaman adalah

rotan, bambu, pandan, lontar, mendong, enceng

gondok, kertas, plastik, dan tali. Pusat kerajinan

anyaman yaitu di Bali, Sulawesi, Tasikmala,

Kalimantan dan Papua. Di Kalimantan Barat khusunya

di Desa Ensaid Panjanh terdapat beberapa seni kriya

anyaman seperti takin dan bakul terbuat dari rotan,

penampi terbuat dari bambu dan bagian tepinya

menggunakan rotan, bidai terbuat dari rotan dan kulit

kayu (kapuak), serta tikar terbuat dari daun pandan.


Gambar 2.18 Capan
(dokumentasi pribadi)
5) Seni Kriya Bordir

Seni kriya bordir/sulam adalah kriya yang

menempatkan hiasan dari benang yang dijahitkan pada

kain yang berfungsi untuk menghias dan mempercantik

tampilan kain. Aplikasi kriya bordir digunakan pada

baju, tas, kerudung, taplak, dan mukena. Daerah

penghasil bordir/sulam adalah di Jawab Barat tepatnya

di Tasikmalaya.

Gambar 2.19 Taplak meja


([Link])
G. Submateri Pemanfaatan Keanekaragaman Hayati Indonesia

Keanekaragaman hayati Indonesia merupakan anugerah terbesar dari

Tuhan Yang Maha Kuasa. Keanekaragaman hayati memiliki berbagai

manfaat bagi kehidupan manusia. Manusia membutuhkan tumbuhan dan

hewan untuk menjaga keberlangsungan hidupnya. Jenis-jenis tumbuhan dan

hewan dimanfaatkan oleh manusia sebagai bahan pangan, sandang, dan

papan. Selain itu, jenis tumbuhan dan hewan lainnya dimanfaatkan manusia

sebagai untuk dibudidayakan, bahan obat-obatan, bahkan dimanfaatkan juga

sebagai keindahan.

Beberapa manfaat tumbuhan dan hewan bagi manusia sebagai berikut.

1. Bahan Pangan

Setiap hari kita membutuhkan makanan dan minuman agar

memperoleh energi untuk beraktivitas. Manusia memperoleh makanan

dari makhluk hidup lain, yaitu tumbuhan dan hewan. Sumber bahan

makanan dari berbagai jenis tumbuhan dan hewan yang dimanfaatkan

manusia diantaranya sebagai berikut.

a. Bahan makanan pokok, misalnya padi (Oryza sativa), jagung

(Zea mays), gandum (Triticum L.), sagu (Metroxylon sagu), ubi

jalar (Ipomoea batatas), singkong (Manihot esculenta), dan

talas (Colocasia esculenta).

b. Bahan makanan sebagai sayuran di Indonesia terdapat sekitar

370 jenis, antara lain bayam (Amaranthus), kangkung


(Ipomoea aquatica), tomat (Solanum lycopersicum), dan wortel

(Daucus carota).

c. Bahan makanan sebagai buah-buahan diperkirakan terdapat

sekitar 400 jenis, antara lain mangga (Mangifera indica L),

anggur (Vitis vinifera), rambutan (Nephelium lappaceum),

durian (Zurio zibethinus), sirsak (Annona muricata) dan

manggis (Garcinia mangostana).

d. Bahan makanan sebagai rempah-rempah terdapat sekitar 55

jenis, antara lain merica (Piper nigrum), cengkih (Eugenia

aromatica), dan ketumbar (Cariandrum sativum).

e. Sumber makanan juga berasal dari aneka ragam hewan darat,

air tawar dan air laut. Contohnya, ikan, ayam, sapi, kambing,

kepiting, kerang, dan udang (Nunung & Wijayanti, 2016).

Gambar 2.20 Padi (Oryza sativa)


([Link])
2. Bahan Sandang

Manusia hidup selalu membutuhkan pakaian, walaupun pakaian

yang dikenakan penduduk di dunia memiliki bentuk, model, dan

bahan yang berbeda-beda. Bahan pakaian yang dimanfaatkan manusia

antara lain berasal dari berbagai jenis tumbuhan atau hewan, misalnya
kapas (Gossypium arboretum), pisang abaka (Musa textilis), ulat sutra

(Bombyx mori), dan rambut dari biri-biri (Ovis aries). Namun, ada

juga yang memanfaatkan kulit kayu seperti suku dayak yang

menggunakan kulit kayu untuk membuat pakaian adat dayak

((Nunung & Wijayanti, 2016).

Gambar 2.21 Baju adat dayak


([Link])

3. Bahan Bangunan dan Alat-alat Rumah Tangga

Sebagian besar bahan bangunan dan alat-alat rumah tangga

terbuat dari kayu terutama rumah adat. Kayu dimanfaatkan untuk

membuat pintu, jendela, tiang, atap dan alat-alat rumah tangga.

Beberapa jenis tumbuhan yang dapat digunakan sebagai sumber bahan

bangunan dan alat-alat rumah tangga antara lain jati (Tertona

grandis), mahoni (Swietenia mahagoni), sonokeling (Dalbergia

latifolia), keruing (Dipterocarpus borneensis), ulin (Eusideroxylon

zwageri), kelapa (Cocos nucifera), rotan (Calameae), enau (Arenga

pinnata), meranti (Shorea acuminata) dan bambu (Dendrocalamus

asper).Di pulau Timor, alang-alang (Imperata cylindrical)

dimanfaatkan untuk membuat atap [Link] itu, beberapa jenis

tumbuhan palem (Nypa fruticans, Oncosperma tigillarium, dan


Oncosperma horridum) juga dimanfaatkan untuk membuat rumah di

Sumatra dan Kalimantan (Nunung & Wijayanti, 2016).

Gambar 2.22 Pohon Jati (Tertona grandis)


([Link])
4. Budidaya

Saat ini banyak orang berwirausaha dengan mengembangkan

usaha di bidang keanekaragaman hayati, baik hewan maupun

tumbuhan. Berbagai hewan dikembangkan manusia sebagai sumber

pendapatan, misalnya dengan memelihara ayam, bebek, itik, sapi,

ikan, dan sebagainya. Selain hewan, banyak juga orang yang

menggantungkan sumber pendapatnya dari usaha pembudidayaan

tanaman, seperti tanaman buah-buahan, sayuran, tanaman hias,

perkebunan, dan lain-lain (Nunung & Wijayanti, 2016).

Gambar 2.23 Budidaya sawi


([Link])
5. Sumber Plasma Nutfah

Plasma nutfah atau sering disebut gen merupakan substansi atau

sumber sifat keturunan makhluk hidup yang dapat dimanfaatkan untuk

menciptakan jenis unggul baru. Di Indonesia terdapat

keanekaragaman hayati yang tinggi, diantaranya banyak jenis

tumbuhan maupun hewan yang memiliki sifat unggul seperti

perakarannya kuat, tahan terhadap hama dan penyakit, tahan terhadap

kekeringan, maupun tahan terhadap air asin (Nunung & Wijayanti,

2016).

Gambar 2.24 Anggrek


([Link])

6. Keilmuan

Tumbuhan dikembangkan manusia melalui usaha pertanian,

sedangkan hewan dikembangkan melalui kegiatan peternakan. Salah

satu cara yang dilakukan manusia untuk meningkatkan hasil pertanian

adalah dengan mengupayakan perkembangbiakan secara vegetatif

buatan, seperti mencangkok, menempel, menyambung, merunduk, dan

stek (Nunung & Wijayanti, 2016).


Gambar 2.25 Mencangkok
([Link])

7. Bahan Obat-obatan

Banyak jenis tumbuhan dan hewan yang dijadikan bahan obat-

obatan, seperti jahe (Zingiber officinale), kencur (Kaempferia

galanga), temulawak (Curcuma zanthorrhiza), sirih (Piper betle),

mengkudu (Morinda citrifolia), mahkota dewa (Phaleria

macrocarpa), dan sebagainya. Contoh pemanfaatan tumbuhan sebagai

bahan obat-obatan adalah sebagai berikut.

a. Buah mengkudu (Morinda citrifolia) diketahui berkhasiat

untuk mencegah dan mengobati penyakit tekanan darah tinggi,

diabetes, dan penyakit lainnya.

b. Buah merah (Pandanus conoideus) dimanfaatkan sebagai obat

untuk mengobati kanker (tumor), kolesterol tinggi, dan

diabetes.

c. Remujung (Orthosiphon aristatus) dan tempuyung (Sonchus

arvensis) diketahui berkhasiat menghancurkan batu ginjal.

d. Kina (Cinchona calisaya, Cinchona officinalis), kulitnya

mengandung alkaloid kina untuk obat malaria.


Selain tumbuhan-tumbuhan, beberapa jenis hewan juga dapat

dimanfaatkan sebagai obat-obatan, antara lain sebagai berikut.

1) Cacing tanah berkhasiat untuk mengobati penyakit tifus.

2) Madu dari lebah dimanfaatkan untuk meningkatkan daya tahan

tubuh.

3) Ular, bagian daging dan lemaknya dipercaya dapat mengobati

penyakit kulit (gatal-gatal) (Irnaningtyas, 2016).

Gambar 2.26 Mengkudu


([Link])

8. Kosmetik

Beberapa tumbuhan digunakan untuk kosmetik, antara lain

sebagai berikut.

a. Bunga mawar (Rosa hybrida), melati (Jasminum grandiflorum),

cendana (Santalum album), kenanga (Cananga odorata), dan

kemuning (Murraya exotica) dimanfaatkan untuk wewangian

(parfum).

b. Kemuning (Murraya paniculata), bengkuang (Pachyrhizus

erosus), alpukat (Persea americana), dan beras digunakan

sebagai lulur tradisional untuk menghaluskan kulit.

c. Urang aring (Eclipta alba), mangkokan (Polyscias scutellaria),

pandan (Pandanus), minyak kelapa (Cocos nucifera), dan lidah


buaya (Aloe vera) digunakan untuk pelumas dan penghitam

rambut (Irnaningtyas, (2016).

Gambar 2.27 Bunga mawar (Rosa hybrida)


([Link])

9. Aspek Budaya

Penduduk Indonesia yang menghuni kepulauan nusantara

memiliki keanekaragaman suku dan budaya yang tinggi. Terdapat

sekitar 350 etnis (suku) dengan agama dan kepercayaan, budaya, serta

adat istiadat yang berbeda. Dalam menjalankan ritual adat keagamaan

dan kepercayaannya, penyelenggaraan upacara adat dan pesta

tradisional seringkali memanfaatkan beragam jenis tumbuhan dan

hewan. Beberapa upacara ritual keagamaan dan kepercayaan, upacara

adat, serta pesta tradisional tersebut, antara lain sebagai berikut.

a. Budaya nyekar (ziarah kubur) pada masyarakat Jawa

menggunakan bunga mawar (Rosa), kenanga (Cananga odorata),

kantil (Magnolia alba) dan melati (Jasminum).

b. Umat Islam menggunakan hewan ternak (kambing, sapi dan

kerbau) pada hari raya Qurban.


c. Umat Nasrani menggunakan pohon cemara (Araucaria sp. dan

Casuarina equisetifolia) saat perayaan Natal (Irnaningtyas.

(2016).

Gambar 2.28 Pohon cemara (Araucaria sp.)


([Link])

10. Keindahan

Tanaman seperti anggrek, mawar, aneka jenis bonsai, dan

tanaman gelombang cinta (Anthurium) dimanfaatkan sebagai hiasan

karena dapat menjadikan pemandangan sekitar terlihat indah dan asri.

Selain itu, hewan juga dapat dimanfaatkan keindahannya, misalnya

burung beo dapat dinikmati suara indahnya dan burung merak serta

burung cendrawasih dapat dinikmati keindahan bulunya (Nunung &

Wijayanti, 2016).

Gambar 2.29 Bunga gelombang cinta (Anthurium)


([Link])
H. Desa Ensaid Panjang

1. Lokasi dan Batas Wilayah

Desa Ensaid Panjang merupakan salah satu desa dari 16 desa di

Kecamatan Kelam Permai, Kabupaten Sintang, Kalimantan Barat yang

memiliki kawasan hutan. Desa Ensaid Panjang merupakan Desa yang

berada di sebelah timur ibukota Kecamatan Kelam Permai. Jarak Desa

Ensaid Panjang dengan ibukota Kecamatan adalah 27 km, sementara

jarak dengan ibukota Kabupaten adalah 58 km, dan jarak desa ini ke

ibukota Provinsi mencapai 478 km. Desa Ensaid Panjang berbatasan

langsung dengan beberapa Desa di Kabupaten Sintang. Adapun batas-

batas wilayah Desa Ensaid Panjang adalah sebagai berikut :

a. Sebelah Utara dengan Desa Sungai Maram.

b. Sebelah Selatan dengan Desa Empaci.

c. Sebelah Barat dengan Desa Merpak.

d. Sebelah Timur dengan Desa Baning Panjang.

2. Administrasi

Desa Ensaid Panjang merupakan salah satu desa dari 16 desa di

wilayah administrasi Kecamatan Kelam Permai, Kabupaten Sintang,

Provinsi Kalimantan Barat. Desa yang memiliki luas wilayah 22 km² ini

terdiri dari tiga wilayah Dusun, yakni, Dusun Rentap Selatan, Dusun

Ensaid Baru, dan Dusun Ensaid Pendek. Memiliki 3 Rukun Warga (RW)

dan 6 Rukun Tetangga (RT).


Gambar 2.30 Peta Batas Desa Ensaid Panjang
Sumber : Monografi Desa Ensaid Panjang, 2018

3. Kependudukan

Jumlah penduduk Desa Ensaid Panjang adalah sebanyak 560

jiwa dari 258 Kepala Keluarga (KK), yang terdiri dari 301 orang laki-

laki dan 159 orang perempuan (Monografi Desa Ensaid Panjang,

2018).

4. Mata Pencaharian

Sebagian besar mata pencaharian masyarakat Desa Ensaid

Panjang adalah sebagai petani ladang dan penoreh karet. Warga Ensaid

Panjang ada juga yang berdagang, menganyam, dan menenun kain

tenun ikat dayak, terutama bagi kalangan perempuan. Desa Ensaid

Panjang merupakan salah satu sentra produksi kain tenun ikat dayak

Sintang (Monografi Desa Ensaid Panjang, 2018).

5. Agama

Sebagian besar masyarakat Desa Ensaid Panjang adalah

penganut agama Katholik dan sebagian lainnya adalah Protestan dan


penganut agama Islam. Kerukunan umat beragama tampak jelas dalam

kehidupan bermasyarakat di Desa Ensaid Panjang (Monografi Desa

Ensaid Panjang, 2018).

I. Suku Dayak di Kalimantan Barat

1. Penyebaran suku Dayak di Kalimantan Barat

Menurut Bamba (2010) Dayak atau daya (ejaan lama: Dayak atau

dyak) adalah sebutan dari penduduk pesisiran pulau Borneo yang

diberikan pada penghuni pedalaman yang mendiami pulau kalimantan.

Hampir semua nama sebutan orang Dayak mempunyai arti sebagai

sesuatu yang berhubungan dengan “perhuluan” atau sungai, terutama

pada nama-nama rumpun dan nama kekeluargaannya. Secara umum suku

Dayak di Kalimantan Barat memiliki ciri budaya yang sama akan tetapi

setiap suku memiliki persepsi dan metode yang berbeda terkait

pemanfaatan tumbuhan sebagai obat tradisional.

Suku Dayak, adalah suku yang sangat fenomenal yang ada di

negara Indonesia, hal ini dikarenakan suku Dayak masih memegang

teguh budaya leluhur dan terus dilestarikan. Kata Dayak berasal dari kata

“Daya” yang artinya hulu, untuk menyebutkan masyarakat yang tinggal

di pedalaman atau perhuluan Kalimantan umumnya dan Kalimantan

Barat.

Suku Dayak bukanlah merupakan suku tunggal, tetapi terdiri atas

suku bangsa. Ada beberapa kelompok besar suku Dayak yaitu :


a. Kenyah, Kayan, dan Bahau yang mendiami daerah Kalimantan

Timur.

b. Klemantan yang mendiami daerah Kalimantan Barat.

c. Than yang mendiami daerah Serawak, Malaysia Timur.

d. Murut mendiami daerah Sabah Malaysia Timur dan Utara

Kalimantan Timur.

e. Puanan atau suku-suku yang mengembara di pedalaman Kalimantan.

Meskipun terbagi dalam ratusan subetnis, semua etnis Dayak

memiliki kesamaan ciri-ciri budaya yang khas. Ciri-ciri tersebut menjadi

faktor penentu apakah subsuku di Kalimantan dapat dimasukkan ke

dalam kelompok Dayak atau tidak. Ciri-ciri tersebut adalah rumah

panjang, hasil budaya material seperti tembikar, mandau, sumpit, beliong

(kapak Dayak), pandangan terhadap alam, mata pencarian (sistem

perladangan), dan seni tari.

Kecamatan-kecamatan di Kalimantan yang merupakan wilayah

adat Dayak dipimpin seorang kepala adat yang memimpin satu atau dua

suku Dayak yang berbeda. Berdasarkan hasil penelitian Santy (2017)

menyatakan bahwa kelompok etnis Dayak adalah suku asli yang

mendiami pulau Kalimantan, memiliki budaya sungai dimasa sekarang

yaitu setelah berkembangnya agama Islam di Borneo. Sebelumnya

budaya masyarakat Dayak adalah budaya maritim atau bahari. Hampir

semua nama sebutan orang Dayak mempunyai arti sebagai sesuatu yang

berhubungan dengan "perhuluan" atau sungai, terutama pada nama-nama


rumpun dan nama kekeluargaannya, contoh Bidayuh dari bahasa

kekeluargaan Dayak Bidayuh itu sendiri yaitu asal kata "Bi" yang berarti

"orang" dan Dayuh yang bearti " Hulu" jadi Bidayuh bearti "orang hulu",

dan lainnya. kelompok Suku Dayak, terbagi dalam sub-sub suku yang

kurang lebih jumlahnya 405 sub. Suku bangsa Dayak terbagi dalam enam

rumpun besar, yaitu: Apokayan (Kenyah-Kayan-Bahau), Ot Danum-

Ngaju, Iban, Murut, Klemantan dan Punan. Rumpun Dayak Punan

merupakan suku Dayak yang paling tua mendiami pulau Borneo.

2. Suku Dayak Desa

Suku Desa adalah salah satu kelompok orang Dayak yang

mendiami wilayah Provinsi Kalimantan Barat. Mereka berada di

wilayah Kabupaten Sintang dan Kabupaten Sanggau. Di Kabupaten

Sintang kelompok ini berdiam dalam empat wilayah kecamatan, yaitu

Kecamatan Sintang, Kecamatan Tempunak, Kecamatan Sepauk,

Kecamatan Dedai, Kecamanatn Kayan Hilir. Di Kecamatan Sintang

mereka bertetangga dengan kelompok Dayak Linoh, Kantuk, Sebaruk,

Lebang, Seberuang. Di Kabupaten Sanggau, Dayak Desa ini berdiam

dalam wilayah Kecamatan Meliau. Demikian juga di Kecamatan

Tempunak mereka bertetangga dengan Dayak Linoh dan Seberuang.

Di Kecamatan Dedai mereka bertetangga dengan kelompok Dayak

Lebang dan Randuk, sedangkan di Kecamatan Hilir bertetangga dengan

kelompok Dayak Lebang, Undau, Kebahan, dan Barai. Dalam


Kecamatan Meliau di Kabupaten Sanggau mereka bertetangga dengan

kelompok Dayak Tebang (Hamid, 2016).

Anda mungkin juga menyukai