BAB II
KAJIAN TEORI
A. Media Pembelajaran
Pengertian media pembelajaran adalah segala sesuatu yang dapat
digunakan untuk menyalurkan pesan dari guru kepada siswa sehingga dapat
merangsang pikiran, perasaan dan perhatian siswa yang menjurus kearah
terjadinya proses pembelajaran yang optimal. Media pembelajaran dapat
memperjelas penyajian pesan dan informasi sehingga dapa memperlancar dan
mengarahkan perhatian anak sehingga dapat menimbulkan motivasi belajar,
interaksi yang lebih langsung antara siswa dan lingkungannya, dan
kemungkinan siswa untuk belajar sendiri-sendiri sesuai dengan kemampuan
dan minatnya (Arsyad, 2017: 29).
Menurut Gagne’ dan Briggs (dalam Arsyad, 2017: 4), media
pembelajaran adalah komponen sumber belajar atau wahana fisik yang
mengandung materi instruksional di lingkungan siswa yang dapat
merangsang siswa untuk belajar. Sedangkan menurut Gerlach & Ely dalam
Arsyad (2017: 3) menyatakan bahwa secara lebih khusus pengertian media
dalam proses belajar mengajar diartikan sebagai alat-alat grafis, photografis,
atau elektronis untuk menangkap, memproses, dan menyusun kembali
informasi visual atau verbal.
Penggunaan media dalam pembelajaran saat ini sangat penting, karena
tanpa adanya media penyampain informasi dalam proses pembelajaran tidak
akan terjadi dan tidak berlangsung secara optimal. Dalam proses
pembelajaran, media berada diantara peserta didik dalam menyampaikan
suatu informasi sehingga media sangat erat kaitannya dalam proses
pembelajaran.
Berdasarkan perkembangan teknologi tersebut media pembelajaran
dapat dikelompokkan ke dalam beberapa kelompok seperti media berbasis
komputer. Menurut Daryanto (2016: 163), AECT (Association for
Educational Communication and Technology) membedekan enam jenis
sumber belajar yang dapat digunakan dalam prses belajar, yaitu :
1. Pesan : didalamnya mencakup kurikulum (GBPP) dan mata pelajaran.
2. Orang : didalamnya mencakup guru, orang tua, tenaga ahli, dan
sebagainya.
3. Bahan : merupakan suatu format yang digunakan untuk menyimpan
pesan pembelajaran, seperti buku paket, buku teks, modul, program
video, film, OHT (Over Head Transparency), program slide, alat
peraga dan sebagainya (biasa disebut software).
4. Alat: yang dimaksud di sini adalah sarana (piranti, hardware) untuk
menyajikan bahan pada butir 3 di atas. Di dalamnya mencakup
proyektor OHP, slide, film tape recorder, dan sebagainya.
5. Teknik : yang dimaksud adalah cara (prosedur) yang digunakan guru
dalam memberikan pelajaran guna tercapai tujuan pembelajaran. Di
dalamnya mencakup ceramah, permainan/ simulasi, Tanya jawab,
sosiodrama (roleplay), dan sebagainya.
6. Latar (setting) atau lingkungan termasuk didalamnya adalah
pengaturan ruang, pencahayaan, dan sebagainya.
Menurut Daryanto (2016: 5), kegunaan media dalam pembelajaran
adalah sebagai berikut:
1) Memperjelas pesan agar tidak terlalu verbalistis.
2) Mengatasi keterbatasan ruang waktu, tenaga, dan daya indera.
3) Menimbulkan gairah belajar, interaksi secara langsung antara nurid
dengan sumber belajar.
4) Memungkinkan anak belajar mandiri sesuai dengan bakat dan
kemampuan visual, auditori, dan kinestetiknya.
5) Memberikan rangsangan yang sama, mempersamakan pengalaman,
dan menimbulkan persepsi yang sama.
6) Membantu menyalurkan pesan (bahan pelajaran), sehingga dapat
merangsang perhatian, minat, pikiran, dan perasaan siswa dalam
kegiatan belajar mengajar untuk mencapai tujuan belajar.
Kemudian Arsyad (2017: 29), juga menyimpulkan beberapa manfaat
praktis dari penggunaan media pembelajaran di dalam proses belajar
mengajar sebagai berikut:
1. Media pembelajaran dapat memperjelas penyajian pesan dan
informasi sehingga dapat memperlancar dan meningkatkan proses dan
hasil belajar.
2. Media pembelajaran dapat meningkatkan dan mengarahkan perhatian
anak sehingga dapat menimbulkan motivasi belajar, interaksi yang
lebih langsung antara siswa dan lingkungannya, dan kemungkinan
siswa untuk belajar sendiri-sendiri sesuai dengan kemampuan dan
minatnya.
3. Media pembelajaran dapat mengatasi keterbatasan indera, ruang, dan
waktu :
a) Objek atau benda yang terlalu besar untuk ditampilkan langsung di
ruang kelas dapat diganti dengan gambar, foto, slide, realita, film,
radio, atau model.
b) Objek atau benda yang terlalu kecil yang tidak tampak oleh indera
dapat disajikan dengan bantuan mikroskop, film, slide, atau
gambar.
c) Kejadian langka yang terjadi di masa lalu atau terjadi sekali dalam
puluhan tahun dapat ditampilkan melalui rekaman video, film, foto,
slide di samping secara verbal.
d) Objek atau proses yang amat rumit seperti peredaran darah dapat
ditampilkan secara konkret melalui film, gambar, slide, atau
simulasi komputer.
e) Kejadian atau percobaan yang dapat membahayakan sehingga
disimulasilian dengan media seperti komputer film, dan video.
f) Peristiwa alam seperti terjadinya letusan gunung berapi atau proses
yang dalam kenyataan memakan waktu lama seperti proses
kepompong menjadi kupu-kupu dapat disajikan dengan teknik-
teknik rekaman seperti film, video, slide, atau simulasi komputer.
4. Media pembelajaran dapat memberikan kesamaan pengalaman kepada
peserta didik tentang peristiwa di lingkungan mereka serta
memungkinkan terjadinya interaksi langsung dengan guru,
masyarakat, dan lingkungannya misalnya melalui karyawisata,
kunjungan ke museum atau kebun binatang.
B. Multimedia Interaktif
Multimedia dalam konteks komputer menurut Hofstetter (dalam Munir,
2013: 3) adalah penggunaan komputer untuk menyajikan dan menggabungkan
teks, suara, gambar, animasi dan video dengan alat bantu (tool) dan koneksi
(link) sehingga pengguna dapat melakukan navigasi, berinteraksi, berkarya dan
berkomunikasi. Kaddarudin (2015: 82) menyatakan, multimedia adalah
pemanfaatan komputer untuk membuat dan menggabungkan teks, grafik, audio
dan gambar begerak (video dan animasi) dengan mengabungkan link yang
memungkinkan pemakaian melakukan navigasi, berinterkasi, berkreasi, dan
komunikasi. Menurut Munir (2013: 110) menyatakan bahwa interaktif terakit
dengan komunikasi dua arah atau lebih dari komponen-komponen komunikasi.
Menurut Green & Browm (dalam Munir, 2013: 112), terdapat metode
yang digunakan dalam penyajian multimedia yaitu:
1. Berbasis kertas (Paper-based), contoh: buku, majalah, brosur.
2. Berbasis cahaya (Light-based), contoh: slide shows, transparansi.
3. Berbasis suara (Audio-based), contoh: CD Players, tape recorder,
radio.
4. Berbasis gambar bergerak (Moving-image-based), contoh: televise,
VCR (Video cassette recorder), film.
5. Berbasis digital (Digitally-based), contoh: komputer.
Media pembelajaran adalah salah satu alat bantu dalam proses
pembelajaran. Salah satu media yang saat ini paling efektif untuk
meningkatkan hasil belajar adalah multimedia interaktif. Menurut Kadaruddin
(2015: 85), multimedia interaktif adalah suatu multimedia yang dilengkapi
dengan alat pengontrol yang dapat dioperasikan oleh pengguna, sehingga
pengguna dapat memilih apa yang dikehendaki untuk proses selanjutnya.
Sedangkan menurut Munir (2013: 110), multimedia interaktif adalah suatu
tampilan multimedia yang dirancang oleh desainer agar tampilannya memenuhi
fungsi menginformasikan pesan dan memiliki interaktifitas kepada
penggunanya. Munir (2013: 111) menyatakan, ada lima elemen atau teknologi
utama dalam multimedia interaktif yaitu, Teks, Grafik, Audio, Video, dan
Animasi.
Menurut Munir (2013: 115), menjelaskan terdapat beberapa karakteristik
multimedia interaktif dalam pembelajaran yaitu:
1. Memiliki lebih dari satu media yang konvergen, misalnya
menggabungkan unsur audio dan visual.
2. Bersifat interaktif, memiliki kemampuan untuk mengakomodasi
respon pengguna.
3. Bersifat mandiri, memberi kemudahan dan kelengkapan isi
sehinggapengguna bisa menggunakan tanpa bimbingan orang lain.
Secara umum manfaat yang dapat diperoleh dari penggunaan multimedia
pembelajaran adalah proses pembelajaran yang lebih menarik, lebih interaktif,
jumlah waktu mengajar dapat dikurangi, kualitas belajar siswa dapat
ditingkatkan dan proses belajar mengajar dapat dilakukan dimana saja
(Kadaruddin,2015: 87).
Menurut Daryanto (2016: 70) menjelaskan bahwa terdapat beberapa
manfaat penggunaan multimedia dalam proses pembelajaran seperti:
1. Memperbesar benda yang sangat kecil dan tidak tampak oleh mata,
seperti kuman, bakteri, dan muatan elektron.
2. Memperkecil benda yang sangat besar sehingga tidak mungkin
dihadirkan kedalam kelas, seperti gajah, rumah, dan gunung.
3. Menjadikan benda atau pristiwa yang kompleks, rumit, dan
belangsung cepat atau lambat, seperti sistem tubuh manusia,
bekerjanya suatu mesin, peredaran planet, dan berkembangnya
bunga.
4. Menjadikan benda atau peristiwa yang jauh, seperti bulan, bintang,
dan salju.
5. Menyajikan benda atau peristiwa yang berbahaya, seperti letusan
gunung merapi, harimau, dan racun.
6. Meningkatkan daya tarik dan perhatian siswa.
Menurut Kadaruddin (2015: 102), adapun karakteristik dari multimedia
pembelajaran yaitu sebagai berikut:
1. Memiliki lebih dari satu media yang konvergen, misalnya
menggabungkan unsur audio dan visual.
2. Bersifat interaktif, dalam pengertian memiliki kemampuan untuk
mengakomodasi respons pengguna.
3. Bersifat mandiri, dalam pengertian memberi kemudahan dan
kelengkapan isi sedemikian rupa sehingga pengguna bisa
menggunakan tanpa bimbingan orang lain.
Menurut Munir (2013: 113), adapun kelebihan menggunakan
multimedia interaktif dalam pembelajaran diantaranya:
1. Sistem pembelajaran lebih inovatif dan interaktif.
2. Pendidik akan selalu dituntut untuk kreatif inovatif dalam mencari
terobosan pembelajaran.
3. Mampu menggabungkan antara teks, gambar, audio, music, animasi
gambar atau video dalam satu kesatuan yang saling mendukung guna
tercapainya tujuan pembelajaran.
4. Menambah motivasi peserta didik selama proses belajar mengajar
hingga didapatkan tujuan pembelajaran yang diinginkan.
5. Mampu menvisualisasikan materi yang selama ini sulit untuk
diterangkan hanya sekedar dengan penjelas atau alat peraga yang
konvensional.
6. Melatih peserta didik lebih mandiri dalam mendapatkan ilmu
pengetahuan.
Selain itu, Munir (2013: 39) menyatakan bahwa multimedia akan
membantu peserta didik menjadi lebih aktif dan kreatif dalam pembelajaran,
dan menjadikan pendidik sebagai fasilitator yang memberikan kemudahan
kepada peserta didik untuk belajar bukan sebagai pemberi perintah/intruksi
kepada peserta didik.
C. Lectora Inspire
Lectora adalah Authoring Tool untuk pengembangan konten e-learning
yang dikembangkan oleh Trivantis Corporation. Lectora inspire mampu
membuat kursus online, penilaian, persentasi serta dapat mengkonversi
presentasi dari Microsoft power point ke dalam konten e-learning (Mas’ud,
2014: 1). Lectora sangat mudah untuk digunakan dalam mengembangkan
konten Multimedia Pembelajaran Interaktif.
Menurut Mas’ud (2014:96), konten yang dikembangan dengan perangkat
lunak Lectora dapat dipublikasikan. Publikasi adalah proses penyajian file
lectora ke dalam beberapa format file, yaitu: EXE, CD. HTML, SCORM .
Adapun keunggulan Lectora Inspire menurut Shalikhah, dkk. (2017: 13)
yakni:
1. Guru dapat membuat dan menyajikan materi ajar dengan tanpa harus
melakukan programming.
2. Guru dapat melakukan pengujian terhadap materi ajar yang diberikan,
dalam berbagai macam bentuk teks seperti pilihan ganda, benar/salah,
mencocokan (matching), tarik dan tempatkan (drag and drop), isian
singkat (fill in the blank), dan hot spot.
3. Guru/ peserta didik dapat mengakses materi ajar/uji yang dibutuhkan
baik secara online maupun offline.
4. Mampu menggunakan teks, suara, video, animasi dalam satu kesatuan.
5. Mampu memvisualisasikan materi yang abstrak.
6. Membawa objek yang sangat besar atau berbahaya dalam lingkungan
kelas.
7. Menampilkan objek yang tidak bisa dilihat oleh mata telanjang.
Dengan melihat keunggulan keunggulan multimedia lectora inspire, sangat
mendukung jika multimedia tersebut diterapkan dalam pembelajaran disekolah.
D. Multimedia Interaktif Berbasis Lectora Inspire
Multimedia dalam konteks komputer menurut Hofstetter dalam Munir
(2013:3) adalah penggunaan komputer untuk menyajikan dan menggabungkan
teks, suara, gambar, animasi dan video dengan alat bantu (tool) dan koneksi
(link) sehingga pengguna dapat melakukan navigasi, berinteraksi, berkarya dan
berkomunikasi. Multimedia yang dipersiapkan dengan baik membantu siswa
menerima pengetahuan dan keterampilan dengan mudah selain itu multimedia
yang di persiapkan dengan baik akan mampu mengubah tingkah laku siswa
(Kadaruddin, 2016: 155).
Menurut Munir (2013: 110) menyatakan bahwa interaktif terakit dengan
komunikasi dua arah atau lebih dari komponen-komponen komunikasi.
Multimedia interaktif adalah suatu tampilan multimedia yang dirancang oleh
desainer agar tampilannya memenuhi fungsi menginformasikan pesan dan
memiliki interaktifitas kepada penggunanya.
Lectora adalah Authoring Tool untuk pengembangan konten e-learning
yang dikembangkan oleh Trivantis Corporation. Lectora inspire mampu
membuat kursus online, penilaian, persentasi serta dapat mengkonversi
presentasi dari Microsoft power point ke dalam konten e-learning (Mas’ud,
2014: 1). Lectora inspire sangat mudah untuk digunakan dalam
mengembangkan konten Multimedia Pembelajaran Interaktif.
Adapun keunggulan lectora inspire menurut Prasetyo (2015: 327) yakni:
1. Sistem pembelajaran lebih inovatif dan interaktif
2. Mampu menggabungkan antara teks, gambar, audio, musik, animasi
gambar atau video dalam satu kesatuan yang saling mendukung guna
tercapainya tujuan pembelajaran.
3. Mampu memvisualisasikan materi yang selama ini sulit diterangkan
hanya sekedar dengan penjelasan atau alat peraga yang konvensional.
Adapun cara pembuatan multimedia interaktif menggunakan lectora
inspire yaitu:
a) Membuka tampilan awal dari Lectora inspire
Gambar 2.1 Menu tampilan awal dari Lectora inspire
(Sumber: [Link])
b) Membuka menu tampilan my template untuk memulai project
baru.
Gambar 2.2 Menu tampilan my template untuk memulai
project baru
(Sumber : [Link])
c) Membuka menu sisi sebelah kanan type dan design
Gambar 2.3 Menu sisi sebelah kanan type dan design
(Sumber : [Link]).
d) Membuka menu tampilan fixed page size
Gambar 2.4 Menu tampilan fixed page size
(Sumber : [Link])
e) Membuka menu tampilan menambahkan teks dalam chapter maupun
page
Gambar 2.5 Menu tampilan menambahkan teks dalam
Chapter maupun page.
(Sumber : [Link])
f) Membuka menu tampilan menambahkan gambar dalam chapter maupun
page.
Gambar 2.6 Menu tampilan menambahkan gambar
dalam chapter maupun page.
(Sumber : [Link])
g) Membuka menu tampilan menambahkan audio dalam chapter maupun
page
Gambar 2.7 Menu tampilan menambahkan audio
dalam chapter maupun page.
(Sumber : [Link])
E. Etnobotani
Purwanto (dalam Atmojo, 1999). Menykan tumbuhan berperan penting
karena memiliki banyak manfaat bagi kehidupan. Penggunaan tumbuhan dalam
kehidupan manusia menunjukkan adanya interaksi antara tumbuhan dan
manusia yang dikenal dengan istilah etnobotani. Etnobotani dapat didefinisikan
sebagai suatu bidang ilmu yang mempelajari hubungan timbal balik secara
menyeluruh antara masyarakat lokal dengan alam lingkungannya meliputi
sistem pengetahuan tentang sumber daya alam tumbuhan. Etnobotani dapat
digunakan sebagai salah satu alat untuk mendokumentasikan pengetahuan
masyarakat tradisional, masyarakat awam yang telah menggunakan berbagai
macam jasa tumbuhan untuk menunjang kehidupannya dan menggambarkan
dan menjelaskan kaitan antara budaya dan kegunaan tumbuhan, bagaimana
tumbuhan digunakan, dirawat dan dinilai memberikan manfaat untuk manusia,
contohnya sebagai makanan, obat, kosmetik, pewarna, pakaian, dalam upacara
dan dalam kehidupan masyarakat (Efremila, Wardenaar, E., Sisillia, E., 2015).
Menurut Purwanto ruang lingkup etnobotani masa kini adalah
sebagai berikut:
a. Etnoekologi: menitik beratkan pada pengetahuan tradisional tentang
adaptasi dan interaksi diantara organisme dan pengaruh pengelolaan
tradisional lingkungan alam terhadap kualitas lingkungan.
b. Pertanian tradisional: pengetahuan tradisional tentang varietas
tumbuhan dan sistem pertanian, pengaruh alam dan lingkungan pada
seleksi tumbuhan dan pengelolaan sumber daya tumbuhan.
c. Etnobotani kognitif: persepsi tradisional terhadap sumber daya alam
tumbuhan, melalui analisis simbolik dalam ritual dan mitos dan
konsekuensi ekologisnya. Organisasi dari sistem pengetahuan melalui
studi etnotaksonomi.
d. Budaya materi: pengetahuan tradisional dan pemanfaatan tumbuhan
dan produk tumbuhan dalam seni dan teknologi.
e. Fitokimia tradisional: pengetahuan tradisional penggunaan tumbuhan
dan kandungan bahan kimianya, contohnya sebagai bahan insektisida
lokal dan tumbuhan obat-obatan.
f. Paleoetnobotani: interaksi masa lalu antara populasi manusia dengan
tumbuhan yang mendasarkan pada interpretasi peninggalan
arkeologi.
F. Kerajinan Tangan (Seni Kriya)
1. Pengertian Seni Kriya
Kerajinan sebagai kreativitas alternatif yang bernilai dan
dihasilkan melalui keterampilan tangan para pengrajin. Umumnya,
produk kerajinan dikaitkan dengan unsur seni sehingga disebut seni
kerajinan yang merupakan implementasi dari karya seni kriya yang
telah diproduksi secara massal oleh pengrajin (Raharjo, 2011).
Seni kriya adalah karya seni yang dibuat dengan keterampilan
tangan (hand skill) dengan memperhatikan aspek fungsional dan nilai
seni. Penciptaan karya seni kriya tidak hanya didasarkan pada aspek
fungsionalnya (kebutuhan fisik) saja, tetapi juga untuk pemenuhan
kebutuhan terhadap keindahan/ emosianal (Handika, 2013). Dalam
perkembangannya karya seni kriya selalu identik dengan seni kerajinan.
Hal ini disebabkan pembuatan karya seni kriya yang tidak lepas dari
pengerjaan tangan (hand made) dan memiliki aspek fungsional.
Benda-benda hasil pekerjaan tangan atau seni kriya biasanya
dibuat untuk keperluan sehari-hari sekaligus melestarikan tradisi
kesenirupaan suatu daerah. Karena itu, karya seni kriya biasanya
memiliki karakter dan ciri khas daerah dengan aturan, warna dan motif
yang mengandung makna-makna tertentu dari daerah tersebut. Seni
kriya diminati dengan tujuan yang berbeda-beda sesuai fungsi dari
benda tersebut. Hal tersebut disebabkan karena seni kriya diciptakan
sebagai sarana untuk menunjang kebutuhan manusia yang beraneka
ragam. Pembuatan karya seni kriya setiap daerah berbeda-beda,
tergantung kondisi alam, letak georgafis dan budaya daerah tersebut.
2. Fungsi Seni Kriya
Fungsi merupakan aspek pertama dalam pemilihan produk
kerajinan sehingga seni kriya harus mempunyai unsur kenyaman dalam
pemakaian, nilai estetis, simbolik, filosofis, dan fungsional (Gustami
dalam Raharjo, 2011).Fungsi seni kriya secara garis besar terbagi atas
tiga golongan, yaitu sebagai berikut.
a. Hiasan (dekorasi)
Banyak produk seni kriya yang berfungsi sebagai benda
pajangan. Seni kriya jenis ini lebih menonjolkan segi rupa daripada
segi fungsinya sehingga bentuk-bentuknya mengalami
pengembangan. Misalnya, karya seni ukir, hiasan dinding,
cinderamata, patung,dan lain-lain.
b. Benda terapan (siap pakai)
Seni kriya yang tetap mengutamakan fungsinya. Seni kriya
jenis inimempunyai fungsi sebagai benda yang siap pakai, bersifat
nyaman, namun tidak kehilangan unsure keindahannya. Misalnya,
senjata, keramik, furnitur, alat rumah tangga dan lain-lain.
c. Benda mainan
Seni kriya yang tetap mengutamakan fungsinya. Seni kriya
jenis inimempunyai fungsi sebagai benda yang siap pakai, bersifat
nyaman, namun tidak kehilangan unsure keindahannya. Misalnya,
senjata, keramik, furnitur, alat rumah tangga dan lain-lain.
3. Jenis-jenis Seni Kriya
Bentuk karya seni kriya sangat beragam dan juga bahan alam
yang digunakan. Jenis-jenis seni kriya banyak sekali dan sangat
mudah ditemukan di berbagai daerah. Dari berbagai karya tersebut
ada yang masih mempertahankan keanekaragaman hiasan tradisional
dan ada juga yang telah mengembangkannya karena tuntutan pasar.
Jenis seni kriya dibagi berdasarkan bahan yang digunakan dan
teknik pembuatannya.
a. Jenis-jenis seni kriya berdasarkan bahan yang digunakan
1) Seni kriya kayu
Kriya kayu merupakan suatu jenis seni kriya dalam
pekerjaannya membuat benda selalu menggabungkan antara
nilai fungsi sekaligus hias dengan menggunakan bahan kayu.
Dalam seni kriya kayu, terdapat pekerjaan dengan tingkat
dasar atau tingkat permulaan. Kayu sangat banyak
dimanfaatkan dalam pembuatan berbagai benda kerajinan
seperti patung, wayang golek, topeng, furnitur, dan hiasan
ukir-ukiran.
Gambar 2.8 Seni kriya kayu
([Link])
2) Seni Kriya Tekstil
Seni kriya tekstil adalah kriya dengan bahan dasar kain.
Istilah tekstil memiliki lingkup yang luas dan mencakup
dengan macam aneka jenis kain yang cara pembuatannya baik
dengan cara diikat, ditenun dipres dan masih banyak cara
teknik pembuatan kain. Umumnya kain terbuat dari serat yang
dipintal atau dipin untuk menghasilkan benang yang panjang
dan selanjutnya ditenun atau dirajut agar menghasilkan kain
berupa barang jadi. Jenis seni kriya tekstil dikelompokkan
menjadi dua macam yaitu karya batik dan karya tenun.
Gambar 2.9 Seni kriya batik
([Link])
3) Seni Kriya Keramik
Seni kriya keramik adalah benda yang terbuat dari
tanah liat yang dibakar. Pembuatan seni kriya keramik adalah
dengan teknik slab/lempeng, putar (Throwing), pilin
(Pinching), dan cetak tuang.
Gambar 2.10 Tempayan
([Link])
4) Seni Kriya Logam
Seni kriya logam adalah seni kriya yang mengolah
logam menjadi berbagai macam benda kerajinan. Teknik
pembuatan seni kriya logam terdiri dari dua macam teknik
yaitu a cire perdue/cetak lilin, dan teknik bivalve.
Gambar 2.11 Gong (Takulel)
([Link])
5) Seni Kriya Kulit
Seni kriya kulit adalah karya seni yang menggunakan
kulit sebagai bahan bakunya. Kulit yang umumnya digunakan
dalam seni kriya kulit adalah kulit kambing, sapi, buaya,
kerbau, dan ular. Kulit tersebut menjalani serangkaian proses
pengolahan yang panjang, dimana dimulai dari pemisahan dari
daging hewan, pencucian menggunakan cairan tertentu,
pembersihan, perendaman dengan menggunakan zat kimia
tertentu (penyamakan), perwarnaan, perentangan kulit agar
tidak mengkerut, pengeringan dan penghalusan. Setelah itu
barulah dipotong-potong agar sesuai dengan ukuran dari benda
yang akan dibuat. Contoh hasil dari seni kriya kulit adalah tas,
sepatu, ikat pinggang, wayang kulit, dompet, pakaian (jaket),
alat musik rebana, dan tempat handphone. Daerah-daerah
penghasil seni kriya kulit adalah yogyakarta, garut, dan bali.
Selain itu, bagi suku dayak kulit tumbuhan (kapuak)
juga dapat digunakan untuk membuat tas dan pakaian adat.
Gambar 2.13 Seni kriya kulit kapuak
([Link])
6) Seni Kriya Batu
Seni kriya batu merupakan seni kriya dengan bahan
dasar batu yang dibentuk sedemikian rupa agar terlihat indah.
Batu dengan tekstur keras dan kaku ternyata dapat diolah.
Contoh di daerah sukami dan sukaraja yang sering ditemukan
hiasan-hiasan dan dekorasi rumah dari batu. Contohnya batu
akik, fosil, jesper, dan batu permata seta masih banyak lagi.
Gambar 2.14 Seni kriya batu
([Link])
b. Jenis-jenis seni kriya berdasarkan Teknik pembuatannya
1) Seni kriya pahat/ukir
Jenis, bahan, bentuk dan teknik dalam seni pahat
sangatlah beragam, mulai dari jenis patung, ukiran dan
aneka kerajinan lainnya. Selain menggunakan kayu,
seni pahat juga menggunakan aneka logam, batu, serta
tulang dan kulit hewan sebagai bahan dasarnya. Salah
satu seni kriya pahat/ukir yang dapat ditemui di Desa
Ensaid Panjang yaitu patung dan sarung parang
(Mandau).
Gambar 2.15 Patung
(dokumentasi pribadi)
2) Seni Kriya Batik
Proses pembuatan kain batik bisa dilakukan
dengan berbagai macam teknik diantaranya adalah
teknik cap, tulis dan teknik lukis. Teknik batik tulis
adalah salah satu teknik membantik yang paling banyak
digunakan di Indonesia. Selain di pulau jawa, batik
juga terdapat di pulau Kalimantan, Sulawesi, Sumatra
dan Bali. Corak kain batik dari setiap daerah juga
beraneka ragam.
Gambar 2.16 Batik
([Link])
3) Seni Kriya Tenun
Indonesia merupakan salah satu negara penghasil
kain tenun terbesar di dunia terutama dalam hal
keragaman corak hiasannya. Tenun terdiri dari dua
jenis yaitu tenun songket, dan tenun ikat. Perbedaannya
ada pada teknik pembuatan dan bahan yang digunakan.
Tenun songket berupa benang perak, emas atau benang
sutra. Daerah-daerah di Indonesia terkenal dengan
penghasil tenun ikat adalah Aceh, Sulawesi Tengah,
Bali, Sumatra Utara, Toraja (Sulawesi Selatan), NTT,
Kalimantan Timur, Flores, dan Kalimantan Barat.
Sedangkan daerah penghasil tenun songket adalah
Sumatra Barat, Aceh, Riau, Sumatra Utara, Lombok,
Palembang, Sumatra Barat, Nusa Tenggara dan
Maluku.
Gambar 2.17 Seni Kriya Tenun
(dokumentasi pribadi)
4) Seni Kriya Anyaman
Seni kriya anyaman adalah tekhnik membuat dengan
mengatur bahan-bahan dasarnya dalam bentuk yang
tindih-menindih, silang-menyilang, dan lipat-melipat
pakat dan lungsen dengan pola tertentu. Bahan-bahan
yang digunakan dalam seni kriya anyaman adalah
rotan, bambu, pandan, lontar, mendong, enceng
gondok, kertas, plastik, dan tali. Pusat kerajinan
anyaman yaitu di Bali, Sulawesi, Tasikmala,
Kalimantan dan Papua. Di Kalimantan Barat khusunya
di Desa Ensaid Panjanh terdapat beberapa seni kriya
anyaman seperti takin dan bakul terbuat dari rotan,
penampi terbuat dari bambu dan bagian tepinya
menggunakan rotan, bidai terbuat dari rotan dan kulit
kayu (kapuak), serta tikar terbuat dari daun pandan.
Gambar 2.18 Capan
(dokumentasi pribadi)
5) Seni Kriya Bordir
Seni kriya bordir/sulam adalah kriya yang
menempatkan hiasan dari benang yang dijahitkan pada
kain yang berfungsi untuk menghias dan mempercantik
tampilan kain. Aplikasi kriya bordir digunakan pada
baju, tas, kerudung, taplak, dan mukena. Daerah
penghasil bordir/sulam adalah di Jawab Barat tepatnya
di Tasikmalaya.
Gambar 2.19 Taplak meja
([Link])
G. Submateri Pemanfaatan Keanekaragaman Hayati Indonesia
Keanekaragaman hayati Indonesia merupakan anugerah terbesar dari
Tuhan Yang Maha Kuasa. Keanekaragaman hayati memiliki berbagai
manfaat bagi kehidupan manusia. Manusia membutuhkan tumbuhan dan
hewan untuk menjaga keberlangsungan hidupnya. Jenis-jenis tumbuhan dan
hewan dimanfaatkan oleh manusia sebagai bahan pangan, sandang, dan
papan. Selain itu, jenis tumbuhan dan hewan lainnya dimanfaatkan manusia
sebagai untuk dibudidayakan, bahan obat-obatan, bahkan dimanfaatkan juga
sebagai keindahan.
Beberapa manfaat tumbuhan dan hewan bagi manusia sebagai berikut.
1. Bahan Pangan
Setiap hari kita membutuhkan makanan dan minuman agar
memperoleh energi untuk beraktivitas. Manusia memperoleh makanan
dari makhluk hidup lain, yaitu tumbuhan dan hewan. Sumber bahan
makanan dari berbagai jenis tumbuhan dan hewan yang dimanfaatkan
manusia diantaranya sebagai berikut.
a. Bahan makanan pokok, misalnya padi (Oryza sativa), jagung
(Zea mays), gandum (Triticum L.), sagu (Metroxylon sagu), ubi
jalar (Ipomoea batatas), singkong (Manihot esculenta), dan
talas (Colocasia esculenta).
b. Bahan makanan sebagai sayuran di Indonesia terdapat sekitar
370 jenis, antara lain bayam (Amaranthus), kangkung
(Ipomoea aquatica), tomat (Solanum lycopersicum), dan wortel
(Daucus carota).
c. Bahan makanan sebagai buah-buahan diperkirakan terdapat
sekitar 400 jenis, antara lain mangga (Mangifera indica L),
anggur (Vitis vinifera), rambutan (Nephelium lappaceum),
durian (Zurio zibethinus), sirsak (Annona muricata) dan
manggis (Garcinia mangostana).
d. Bahan makanan sebagai rempah-rempah terdapat sekitar 55
jenis, antara lain merica (Piper nigrum), cengkih (Eugenia
aromatica), dan ketumbar (Cariandrum sativum).
e. Sumber makanan juga berasal dari aneka ragam hewan darat,
air tawar dan air laut. Contohnya, ikan, ayam, sapi, kambing,
kepiting, kerang, dan udang (Nunung & Wijayanti, 2016).
Gambar 2.20 Padi (Oryza sativa)
([Link])
2. Bahan Sandang
Manusia hidup selalu membutuhkan pakaian, walaupun pakaian
yang dikenakan penduduk di dunia memiliki bentuk, model, dan
bahan yang berbeda-beda. Bahan pakaian yang dimanfaatkan manusia
antara lain berasal dari berbagai jenis tumbuhan atau hewan, misalnya
kapas (Gossypium arboretum), pisang abaka (Musa textilis), ulat sutra
(Bombyx mori), dan rambut dari biri-biri (Ovis aries). Namun, ada
juga yang memanfaatkan kulit kayu seperti suku dayak yang
menggunakan kulit kayu untuk membuat pakaian adat dayak
((Nunung & Wijayanti, 2016).
Gambar 2.21 Baju adat dayak
([Link])
3. Bahan Bangunan dan Alat-alat Rumah Tangga
Sebagian besar bahan bangunan dan alat-alat rumah tangga
terbuat dari kayu terutama rumah adat. Kayu dimanfaatkan untuk
membuat pintu, jendela, tiang, atap dan alat-alat rumah tangga.
Beberapa jenis tumbuhan yang dapat digunakan sebagai sumber bahan
bangunan dan alat-alat rumah tangga antara lain jati (Tertona
grandis), mahoni (Swietenia mahagoni), sonokeling (Dalbergia
latifolia), keruing (Dipterocarpus borneensis), ulin (Eusideroxylon
zwageri), kelapa (Cocos nucifera), rotan (Calameae), enau (Arenga
pinnata), meranti (Shorea acuminata) dan bambu (Dendrocalamus
asper).Di pulau Timor, alang-alang (Imperata cylindrical)
dimanfaatkan untuk membuat atap [Link] itu, beberapa jenis
tumbuhan palem (Nypa fruticans, Oncosperma tigillarium, dan
Oncosperma horridum) juga dimanfaatkan untuk membuat rumah di
Sumatra dan Kalimantan (Nunung & Wijayanti, 2016).
Gambar 2.22 Pohon Jati (Tertona grandis)
([Link])
4. Budidaya
Saat ini banyak orang berwirausaha dengan mengembangkan
usaha di bidang keanekaragaman hayati, baik hewan maupun
tumbuhan. Berbagai hewan dikembangkan manusia sebagai sumber
pendapatan, misalnya dengan memelihara ayam, bebek, itik, sapi,
ikan, dan sebagainya. Selain hewan, banyak juga orang yang
menggantungkan sumber pendapatnya dari usaha pembudidayaan
tanaman, seperti tanaman buah-buahan, sayuran, tanaman hias,
perkebunan, dan lain-lain (Nunung & Wijayanti, 2016).
Gambar 2.23 Budidaya sawi
([Link])
5. Sumber Plasma Nutfah
Plasma nutfah atau sering disebut gen merupakan substansi atau
sumber sifat keturunan makhluk hidup yang dapat dimanfaatkan untuk
menciptakan jenis unggul baru. Di Indonesia terdapat
keanekaragaman hayati yang tinggi, diantaranya banyak jenis
tumbuhan maupun hewan yang memiliki sifat unggul seperti
perakarannya kuat, tahan terhadap hama dan penyakit, tahan terhadap
kekeringan, maupun tahan terhadap air asin (Nunung & Wijayanti,
2016).
Gambar 2.24 Anggrek
([Link])
6. Keilmuan
Tumbuhan dikembangkan manusia melalui usaha pertanian,
sedangkan hewan dikembangkan melalui kegiatan peternakan. Salah
satu cara yang dilakukan manusia untuk meningkatkan hasil pertanian
adalah dengan mengupayakan perkembangbiakan secara vegetatif
buatan, seperti mencangkok, menempel, menyambung, merunduk, dan
stek (Nunung & Wijayanti, 2016).
Gambar 2.25 Mencangkok
([Link])
7. Bahan Obat-obatan
Banyak jenis tumbuhan dan hewan yang dijadikan bahan obat-
obatan, seperti jahe (Zingiber officinale), kencur (Kaempferia
galanga), temulawak (Curcuma zanthorrhiza), sirih (Piper betle),
mengkudu (Morinda citrifolia), mahkota dewa (Phaleria
macrocarpa), dan sebagainya. Contoh pemanfaatan tumbuhan sebagai
bahan obat-obatan adalah sebagai berikut.
a. Buah mengkudu (Morinda citrifolia) diketahui berkhasiat
untuk mencegah dan mengobati penyakit tekanan darah tinggi,
diabetes, dan penyakit lainnya.
b. Buah merah (Pandanus conoideus) dimanfaatkan sebagai obat
untuk mengobati kanker (tumor), kolesterol tinggi, dan
diabetes.
c. Remujung (Orthosiphon aristatus) dan tempuyung (Sonchus
arvensis) diketahui berkhasiat menghancurkan batu ginjal.
d. Kina (Cinchona calisaya, Cinchona officinalis), kulitnya
mengandung alkaloid kina untuk obat malaria.
Selain tumbuhan-tumbuhan, beberapa jenis hewan juga dapat
dimanfaatkan sebagai obat-obatan, antara lain sebagai berikut.
1) Cacing tanah berkhasiat untuk mengobati penyakit tifus.
2) Madu dari lebah dimanfaatkan untuk meningkatkan daya tahan
tubuh.
3) Ular, bagian daging dan lemaknya dipercaya dapat mengobati
penyakit kulit (gatal-gatal) (Irnaningtyas, 2016).
Gambar 2.26 Mengkudu
([Link])
8. Kosmetik
Beberapa tumbuhan digunakan untuk kosmetik, antara lain
sebagai berikut.
a. Bunga mawar (Rosa hybrida), melati (Jasminum grandiflorum),
cendana (Santalum album), kenanga (Cananga odorata), dan
kemuning (Murraya exotica) dimanfaatkan untuk wewangian
(parfum).
b. Kemuning (Murraya paniculata), bengkuang (Pachyrhizus
erosus), alpukat (Persea americana), dan beras digunakan
sebagai lulur tradisional untuk menghaluskan kulit.
c. Urang aring (Eclipta alba), mangkokan (Polyscias scutellaria),
pandan (Pandanus), minyak kelapa (Cocos nucifera), dan lidah
buaya (Aloe vera) digunakan untuk pelumas dan penghitam
rambut (Irnaningtyas, (2016).
Gambar 2.27 Bunga mawar (Rosa hybrida)
([Link])
9. Aspek Budaya
Penduduk Indonesia yang menghuni kepulauan nusantara
memiliki keanekaragaman suku dan budaya yang tinggi. Terdapat
sekitar 350 etnis (suku) dengan agama dan kepercayaan, budaya, serta
adat istiadat yang berbeda. Dalam menjalankan ritual adat keagamaan
dan kepercayaannya, penyelenggaraan upacara adat dan pesta
tradisional seringkali memanfaatkan beragam jenis tumbuhan dan
hewan. Beberapa upacara ritual keagamaan dan kepercayaan, upacara
adat, serta pesta tradisional tersebut, antara lain sebagai berikut.
a. Budaya nyekar (ziarah kubur) pada masyarakat Jawa
menggunakan bunga mawar (Rosa), kenanga (Cananga odorata),
kantil (Magnolia alba) dan melati (Jasminum).
b. Umat Islam menggunakan hewan ternak (kambing, sapi dan
kerbau) pada hari raya Qurban.
c. Umat Nasrani menggunakan pohon cemara (Araucaria sp. dan
Casuarina equisetifolia) saat perayaan Natal (Irnaningtyas.
(2016).
Gambar 2.28 Pohon cemara (Araucaria sp.)
([Link])
10. Keindahan
Tanaman seperti anggrek, mawar, aneka jenis bonsai, dan
tanaman gelombang cinta (Anthurium) dimanfaatkan sebagai hiasan
karena dapat menjadikan pemandangan sekitar terlihat indah dan asri.
Selain itu, hewan juga dapat dimanfaatkan keindahannya, misalnya
burung beo dapat dinikmati suara indahnya dan burung merak serta
burung cendrawasih dapat dinikmati keindahan bulunya (Nunung &
Wijayanti, 2016).
Gambar 2.29 Bunga gelombang cinta (Anthurium)
([Link])
H. Desa Ensaid Panjang
1. Lokasi dan Batas Wilayah
Desa Ensaid Panjang merupakan salah satu desa dari 16 desa di
Kecamatan Kelam Permai, Kabupaten Sintang, Kalimantan Barat yang
memiliki kawasan hutan. Desa Ensaid Panjang merupakan Desa yang
berada di sebelah timur ibukota Kecamatan Kelam Permai. Jarak Desa
Ensaid Panjang dengan ibukota Kecamatan adalah 27 km, sementara
jarak dengan ibukota Kabupaten adalah 58 km, dan jarak desa ini ke
ibukota Provinsi mencapai 478 km. Desa Ensaid Panjang berbatasan
langsung dengan beberapa Desa di Kabupaten Sintang. Adapun batas-
batas wilayah Desa Ensaid Panjang adalah sebagai berikut :
a. Sebelah Utara dengan Desa Sungai Maram.
b. Sebelah Selatan dengan Desa Empaci.
c. Sebelah Barat dengan Desa Merpak.
d. Sebelah Timur dengan Desa Baning Panjang.
2. Administrasi
Desa Ensaid Panjang merupakan salah satu desa dari 16 desa di
wilayah administrasi Kecamatan Kelam Permai, Kabupaten Sintang,
Provinsi Kalimantan Barat. Desa yang memiliki luas wilayah 22 km² ini
terdiri dari tiga wilayah Dusun, yakni, Dusun Rentap Selatan, Dusun
Ensaid Baru, dan Dusun Ensaid Pendek. Memiliki 3 Rukun Warga (RW)
dan 6 Rukun Tetangga (RT).
Gambar 2.30 Peta Batas Desa Ensaid Panjang
Sumber : Monografi Desa Ensaid Panjang, 2018
3. Kependudukan
Jumlah penduduk Desa Ensaid Panjang adalah sebanyak 560
jiwa dari 258 Kepala Keluarga (KK), yang terdiri dari 301 orang laki-
laki dan 159 orang perempuan (Monografi Desa Ensaid Panjang,
2018).
4. Mata Pencaharian
Sebagian besar mata pencaharian masyarakat Desa Ensaid
Panjang adalah sebagai petani ladang dan penoreh karet. Warga Ensaid
Panjang ada juga yang berdagang, menganyam, dan menenun kain
tenun ikat dayak, terutama bagi kalangan perempuan. Desa Ensaid
Panjang merupakan salah satu sentra produksi kain tenun ikat dayak
Sintang (Monografi Desa Ensaid Panjang, 2018).
5. Agama
Sebagian besar masyarakat Desa Ensaid Panjang adalah
penganut agama Katholik dan sebagian lainnya adalah Protestan dan
penganut agama Islam. Kerukunan umat beragama tampak jelas dalam
kehidupan bermasyarakat di Desa Ensaid Panjang (Monografi Desa
Ensaid Panjang, 2018).
I. Suku Dayak di Kalimantan Barat
1. Penyebaran suku Dayak di Kalimantan Barat
Menurut Bamba (2010) Dayak atau daya (ejaan lama: Dayak atau
dyak) adalah sebutan dari penduduk pesisiran pulau Borneo yang
diberikan pada penghuni pedalaman yang mendiami pulau kalimantan.
Hampir semua nama sebutan orang Dayak mempunyai arti sebagai
sesuatu yang berhubungan dengan “perhuluan” atau sungai, terutama
pada nama-nama rumpun dan nama kekeluargaannya. Secara umum suku
Dayak di Kalimantan Barat memiliki ciri budaya yang sama akan tetapi
setiap suku memiliki persepsi dan metode yang berbeda terkait
pemanfaatan tumbuhan sebagai obat tradisional.
Suku Dayak, adalah suku yang sangat fenomenal yang ada di
negara Indonesia, hal ini dikarenakan suku Dayak masih memegang
teguh budaya leluhur dan terus dilestarikan. Kata Dayak berasal dari kata
“Daya” yang artinya hulu, untuk menyebutkan masyarakat yang tinggal
di pedalaman atau perhuluan Kalimantan umumnya dan Kalimantan
Barat.
Suku Dayak bukanlah merupakan suku tunggal, tetapi terdiri atas
suku bangsa. Ada beberapa kelompok besar suku Dayak yaitu :
a. Kenyah, Kayan, dan Bahau yang mendiami daerah Kalimantan
Timur.
b. Klemantan yang mendiami daerah Kalimantan Barat.
c. Than yang mendiami daerah Serawak, Malaysia Timur.
d. Murut mendiami daerah Sabah Malaysia Timur dan Utara
Kalimantan Timur.
e. Puanan atau suku-suku yang mengembara di pedalaman Kalimantan.
Meskipun terbagi dalam ratusan subetnis, semua etnis Dayak
memiliki kesamaan ciri-ciri budaya yang khas. Ciri-ciri tersebut menjadi
faktor penentu apakah subsuku di Kalimantan dapat dimasukkan ke
dalam kelompok Dayak atau tidak. Ciri-ciri tersebut adalah rumah
panjang, hasil budaya material seperti tembikar, mandau, sumpit, beliong
(kapak Dayak), pandangan terhadap alam, mata pencarian (sistem
perladangan), dan seni tari.
Kecamatan-kecamatan di Kalimantan yang merupakan wilayah
adat Dayak dipimpin seorang kepala adat yang memimpin satu atau dua
suku Dayak yang berbeda. Berdasarkan hasil penelitian Santy (2017)
menyatakan bahwa kelompok etnis Dayak adalah suku asli yang
mendiami pulau Kalimantan, memiliki budaya sungai dimasa sekarang
yaitu setelah berkembangnya agama Islam di Borneo. Sebelumnya
budaya masyarakat Dayak adalah budaya maritim atau bahari. Hampir
semua nama sebutan orang Dayak mempunyai arti sebagai sesuatu yang
berhubungan dengan "perhuluan" atau sungai, terutama pada nama-nama
rumpun dan nama kekeluargaannya, contoh Bidayuh dari bahasa
kekeluargaan Dayak Bidayuh itu sendiri yaitu asal kata "Bi" yang berarti
"orang" dan Dayuh yang bearti " Hulu" jadi Bidayuh bearti "orang hulu",
dan lainnya. kelompok Suku Dayak, terbagi dalam sub-sub suku yang
kurang lebih jumlahnya 405 sub. Suku bangsa Dayak terbagi dalam enam
rumpun besar, yaitu: Apokayan (Kenyah-Kayan-Bahau), Ot Danum-
Ngaju, Iban, Murut, Klemantan dan Punan. Rumpun Dayak Punan
merupakan suku Dayak yang paling tua mendiami pulau Borneo.
2. Suku Dayak Desa
Suku Desa adalah salah satu kelompok orang Dayak yang
mendiami wilayah Provinsi Kalimantan Barat. Mereka berada di
wilayah Kabupaten Sintang dan Kabupaten Sanggau. Di Kabupaten
Sintang kelompok ini berdiam dalam empat wilayah kecamatan, yaitu
Kecamatan Sintang, Kecamatan Tempunak, Kecamatan Sepauk,
Kecamatan Dedai, Kecamanatn Kayan Hilir. Di Kecamatan Sintang
mereka bertetangga dengan kelompok Dayak Linoh, Kantuk, Sebaruk,
Lebang, Seberuang. Di Kabupaten Sanggau, Dayak Desa ini berdiam
dalam wilayah Kecamatan Meliau. Demikian juga di Kecamatan
Tempunak mereka bertetangga dengan Dayak Linoh dan Seberuang.
Di Kecamatan Dedai mereka bertetangga dengan kelompok Dayak
Lebang dan Randuk, sedangkan di Kecamatan Hilir bertetangga dengan
kelompok Dayak Lebang, Undau, Kebahan, dan Barai. Dalam
Kecamatan Meliau di Kabupaten Sanggau mereka bertetangga dengan
kelompok Dayak Tebang (Hamid, 2016).