Asuhan Keperawatan DBD Anak di Nganjuk
Asuhan Keperawatan DBD Anak di Nganjuk
DISUSUN OLEH
AKBAR FAHREZA PUTRA
P17210223094
JURUSAN KEPERAWATAN
2024
LAPORAN PENDAHULUAN ASUHAN KEPERAWATAN KEPERAWATAN ANAK
DENGAN MASALAH DBD DI RSUD NGANJUK
Laporan Ini Telah Memenuhi Persyaratan Praktik Klinik Keperawatan Medikal Bedah
Program Studi DIII Keperawatan Malang Jurusan Keperawatan Poltekkes Kemenkes Malang
Mahasiswa
Mengetahui,
…………………………… …………………………….
A. Konsep Teori
a. Definisi
Demam dengue atau DF dan demam berdarah dengue atau DBD ( Dengue
Hemorhagic Fever) merupakan suatu penyakit infeksi yang disebabkan oleh virus
dengue dengan manifestasi klinis demam, nyeri otot dan/ atau nyeri sendir yang
disertai leukopenia, ruam, limfadenopati,trombositopenia dan ditesis hemoragik.
Pada DHF terjadi pembesaran plasma yang di tandai dengan hemokusentrasi
(peningkatan pada hematokrit) atau penumpukan cairan di rongga tubuh. Sindrom
renjatan dengue yang ditandai oleh renjatan atau syok (Nurarif & Kusuma, 2015).
Dengue Hemorrhagic Fever (DHF) adalah penyakit yang menyerang anak dan
orangdewasa yang disebabkan oleh virus dengan manifestasi berupa demam akut,
perdarahan, nyeri otot dan sendi. Dengue adalah suatu infeksi Arbovirus (Artropod
Born Virus) yang akut ditularkan oleh nyamuk Aedes Aegypti atau oleh Aedes
Aebopictus (Wijayaningsih, 2017).
Dengue Hemorrhagic Fever (DHF) menular melalui gigitan nyamuk Aedes
aegypti. DHF merupakan penyakit berbasis vektor yang menjadi penyebab kematian
utama di banyak negara tropis. Penyakit DHF bersifat endemis, sering menyerang
masyarakat dalam bentuk wabah dan disertai dengan angka kematian yang cukup
tinggi, khususnya pada mereka yang berusia dibawah 15 tahun (Hermawan, 2018).
b. Etiologi
Virus dengue, termasuk genus flavivirus, keluarga flaviridae ini berdiameter
40 nonometer yang dapat berkembang biak dengan baik pada berbaai macam kultur
jaringan baik 27 yang berasal dari sel-sel mamalia misalnya sel BHK (Babby
Homster Kiney) maupun sel-sel Arthpoda misalnya sel aedes albopictus.
Terdapat 4 serotipe virus yaitu DEN-1, DEN-2, DEN-3 dan DEN-4.
Keempatnya ditemukan di Indonesia dengan DEN-3 serotipe terbanyak. Infeksi
salah satu serotipe akan menimbulkan antibody terhadap serotipe yang
bersangkutan, sedangkan antibody yang terbentuk terhadap serotype lain sangat
kurang, sehingga tidak dapat memberikan perlindungan yang memadai terhadap
serotipe lain tersebut. Seseorang yang tinggal di daerah endemis dengue dapat
terinfeksi oleh 3 atau 4 serotipe selama hidupnya. Keempat serotipe virus dengue
dapat ditemukan di berbagai daerah di Indonesia (Nurarif & Kusuma, 2015).
c. Patofisiologi
Virus dengue yang telah masuk ketubuh penderita akan menimbulkan
viremia. Hal tersebut akan menimbulkan reaksi oleh pusat pengatur suhu di
hipotalamus sehingga menyebabkan (pelepasan zat bradikinin, serotinin, trombin,
histamin) terjadinya: peningkatan suhu. Selain itu viremia menyebabkan pelebaran
pada dinding pembuluh darah yang menyebabkan perpindahan cairan dan plasma
dari intravascular ke intersisiel yang menyebabkan hipovolemia. Trombositopenia
dapat terjadi akibat dari penurunan produksi trombosit sebagai reaksi dari antibodi
melawan virus (Murwani, 2018).
Pada pasien dengan trombositopenia terdapat adanya perdarahan baik kulit
seperti petekia atau perdarahan mukosa di mulut. Hal ini mengakibatkan adanya
kehilangan kemampuan tubuh untuk melakukan mekanisme hemostatis secara
normal. Hal tersebut dapat menimbulkan perdarahan dan jika tidak tertangani maka
akan menimbulkan syok. Masa virus dengue inkubasi 3-15 hari, rata-rata 5-8 hari.
Virus akan masuk ke dalam tubuh melalui gigitan nyamuk Aedes aegypti. Pertama
tama yang terjadi adalah viremia yang mengakibatkan penderita mengalami demam,
sakit kepala, mual, nyeri otot pegal pegal di seluruh tubuh, ruam atau bintik bintik
merah pada kulit, hiperemia tenggorokan dan hal lain yang mungkin terjadi
pembesaran kelenjar getah bening, pembesaran hati atau hepatomegali (Murwani,
2018).
Kemudian virus bereaksi dengan antibodi dan terbentuklah kompleks virus
antibodi. Dalam sirkulasi dan akan mengativasi sistem komplemen. Akibat aktivasi
C3 dan C5 akan di lepas C3a dan C5a dua peptida yang berdaya untuk melepaskan
histamin dan merupakan mediator kuat sebagai faktor meningkatnya permeabilitas
dinding kapiler pembuluh darah yang mengakibatkan terjadinya pembesaran plasma
ke ruang ekstraseluler. Pembesaran plasma ke ruang eksta seluler mengakibatkan
kekurangan volume plasma, terjadi hipotensi, hemokonsentrasi dan hipoproteinemia
serta efusi dan renjatan atau syok. Hemokonsentrasi atau peningkatan hematokrit
>20% menunjukan atau menggambarkan adanya kebocoran atau perembesan
sehingga nilai hematokrit menjadi penting untuk patokan pemberian cairan intravena
(Murwani, 2018).
Adanya kebocoran plasma ke daerah ekstra vaskuler di buktikan dengan
ditemukan cairan yang tertimbun dalam rongga serosa yaitu rongga peritonium,
pleura, dan perikardium yang pada otopsi ternyata melebihi cairan yang diberikan
melalui infus. Setelah pemberian cairan intravena, peningkatan jumlah trombosit
menunjukan kebocoran plasma telah teratasi, sehingga pemberian cairan intravena
harus di kurangi kecepatan dan jumlahnya untuk mencegah terjadi edema paru dan
gagal jantung, sebaliknya jika tidak mendapat cairan yang cukup, penderita akan
mengalami kekurangan cairan yang akan mengakibatkan kondisi yang buruk bahkan
bisa mengalami renjatan. Jika renjatan atau hipovolemik berlangsung lama akan
timbul anoksia jaringan, metabolik asidosis dan kematian apabila tidak segera diatasi
dengan baik (Murwani, 2018).
d. Pathway
Sumber: (Erdin 2018) (SDKI DPP PPNI 2017)
e. Manifestasi Klinik
Menurut (Nurarif & Kusuma, 2015), Manifestasi klinis pada penderita DHF antara
lain, yaitu :
a) Demam dengue
merupakan penyakit demam akut selama 2-7 hari, ditandai dengan dua (2)
atau lebih manifestasi klinis sebagai berikut :
1) Nyeri kepala.
2) Nyeri retro-orbital.
3) Myalgia atau arthralgia.
4) Ruam kulit.
5) Manifestasi perdarahan seperti petekie atau uji bending positif.
6) Leukopenia.
7) Pemeriksaan serologi dengue positif atau ditemukan DD/DBD yang
sudah terkomfirmasi pada lokasi dan waktu yang sama.
b) Demam berdarah dengue
Berdasarkan kriteria WHO 2016 diagnosis DHF ditegakkan bila semua hal
dibawah ini dipenuhi :
1) Demam atau riwayat demem akut antara 2-7 hari, biasanya bersifat
bifastik.
2) Manifestasi perdarahan yang berupa:
a. Uji tourniquet positif.
b. Petekie, ekimosis, atau purpura.
c. Perdarahan mukosa ( epistaksis, perdarahan usi), saluran cerna,
tempat bekas suntikan.
d. Hematemesis atau melena.
3) Trombositopenia <100.00/ul.
4) Kebocoran plasma yang ditandai dengan :
a. Peningkatan nilai hematokrit > 20% dari nilai baku sesuai umur,
dan jenis kelamin.
b. Penurunan nilai hematokrit > 20% setelah pemberian cairan
yang adekuat.
5) Tanda kebocoran plasma seperti : hipoprpteinemi, asites, efusi
pleura.
c) Sindrom syok dengue
Seluruh kriteria DHF diatas disertai dengan tanda kegagalan sirkulasi yaitu :
1) Penurunan kesadaran, gelisah.
2) Nadi cepat, lemah.
3) Hipotensi.
4) Tekanan darah turun < 20 mmHg.
5) Perfusi perifer menurun.
6) Kulit dingin lembab.
f. Pemeriksaan penunjang
Menurut (Wijayaningsih, 2017), Pemeriksaan penunjang yang mungkin dilakukan
pada penderita DHF antara lain adalah :
a) Pemeriksaan darah lengkap
Pemeriksaan darah rutin dilakukan untuk memeriksa kadar hemoglobin,
hematokrit, jumlah trombosit. Peningkatan nilai hematokrit yang selalu
dijumpai pada DHF merupakan indikator terjadinya perembesan plasma.
1 Pada demam dengue terdapat Leukopenia pada hari kedua atau hari
ketiga.
2 Pada demam berdarah terdapat trombositopenia dan hemokonsentrasi.
3 Pada pemeriksaan kimia darah: Hipoproteinemia,
hipokloremia, SGPT, SGOT, ureum dan Ph darah
mungkin meningkat.
b) Uji Serologi = Uji HI (Hemaglutination Inhibition Test)
Uji serologi didasarkan atas timbulnya antibody pada penderita yang terjadi
setelah infeksi. Untuk menentukan kadar antibody atau antigen didasarkan
pada manifestasi reaksi antigen-antibody. Ada tiga kategori, yaitu primer,
sekunder, dan tersier. Reaksi primer merupakan reaksi tahap awal yang
dapat berlanjut menjadi reaksi sekunder atau tersier. Yang mana tidak dapat
dilihat dan berlangsung sangat cepat, visualisasi biasanya dilakukan
dengan memberi label antibody atau antigen dengan flouresens, radioaktif,
atau enzimatik. Reaksi sekunder merupakan lanjutan dari reaksi primer
dengan manifestasi yang dapat dilihat secara in vitro seperti prestipitasi,
flokulasi, dan aglutinasi. Reaksi tersier merupakan lanjutan reaksi sekunder
dengan bentuk lain yang bermanifestasi dengan gejala klinik.
c) Uji hambatan hemaglutinasi
Prinsip metode ini adalah mengukur campuran titer IgM dan IgG
berdasarkan pada kemampuan antibody-dengue yang dapat menghambat
reaksi hemaglutinasi darah angsa oleh virus dengue yang disebut reaksi
hemaglutinasi inhibitor (HI).
d) Uji netralisasi (Neutralisasi Test = NT test)
Merupakan uji serologi yang paling spesifik dan sensitif untuk virus
dengue. Menggunakan metode plague reduction neutralization test (PRNT).
Plaque adalah daerah tempat virus menginfeksi sel dan batas yang jelas
akan dilihat terhadap sel di sekitar yang tidak terkena infeksi.
e) Uji ELISA anti dengue
Uji ini mempunyai sensitivitas sama dengan uji Hemaglutination Inhibition
(HI). Dan bahkan lebih sensitive dari pada uji HI. Prinsip dari metode ini
adalah mendeteksi adanya antibody IgM dan IgG di dalam serum penderita.
f) Uji tourniket (Positif)
g) Rontgen Thorax : pada foto thorax (pada DHF grade III/ IV dan sebagian
besar grade II) di dapatkan efusi pleura.
g. Komplikasi
Komplikasi yang terjadi pada anak yang mengalami demam berdarah dengue
yaitu perdarahan massif dan dengue shock syndrome (DSS) atau sindrom syok
dengue (SSD). Syok sering terjadi pada anak berusia kurang dari 10 tahun. Syok
ditandai dengan nadi yang lemah dan cepat sampai tidak teraba, tekanan nadi
menurun menjadi 20 mmHg atau sampai nol, tekanan darah menurun dibawah 80
mmHg atau sampai nol, terjadi penurunan kesadaran, sianosis di sekitar mulut dan
kulit ujung jari, 24 hidung, telinga, dan kaki teraba dingin dan lembab, pucat dan
oliguria atau anuria (Pangaribuan, 2017).
h. Penatalaksanaan
Dasar pelaksanaan penderita DHF adalah pengganti cairan yang hilang
sebagai akibat dari kerusakan dinding kapiler yang menimbulkan peninggian
permeabilitas sehingga mengakibatkan kebocoran plasma. Selain itu, perlu juga
diberikan obat penurun panas (Rampengan, 2017). Penatalaksanaan DHF yaitu :
a) Penatalaksanaan Demam Berdarah Dengue Tanpa Syok
Penatalaksanaan disesuaikan dengan gambaran klinis maupun fase, dan
untuk diagnosis DHF pada derajat I dan II menunjukkan bahwa anak
mengalami DHF tanpa syok sedangkan pada derajat III dan derajat IV maka
anak mengalami DHF disertai dengan syok. Tatalaksana untuk anak yang
dirawat di rumah sakit meliputi:
1 Berikan anak banyak minum larutan oralit atau jus buah, air sirup,
susu untuk mengganti cairan yang hilang akibat kebocoran plasma,
demam, muntah, dan diare.
2 Berikan parasetamol bila demam, jangan berikan asetosal atau
ibuprofen karena dapat merangsang terjadinya perdarahan.
3 Berikan infus sesuai dengan dehidrasi sedang:
a) Berikan hanya larutan isotonik seperti ringer laktat atau asetat.
b) Pantau tanda vital dan diuresis setiap jam, serta periksa
laboratorium (hematokrit, trombosit, leukosit dan hemoglobin)
tiap 6 jam.
c) Apabila terjadi penurunan hematokrit dan klinis membaik,
turunkan jumlah cairan secara bertahap sampai keadaan stabil.
Cairan intravena biasanya hanya memerlukan waktu 24-48 jam
sejak kebocoran pembuluh kapiler spontan setelah pemberian
cairan.
4. Apabila terjadi perburukan klinis maka berikan tatalaksana sesuai
dengan tatalaksana syok terkompensasi.
b) Penatalaksanaan Dengue Hemorrhagic Fever Dengan Syok Penatalaksanaan
DHF menurut WHO (2016), meliputi:
1 Perlakukan sebagai gawat darurat. Berikan oksigen 2-4 L/menit secara
nasal.
2 Berikan 20 ml/kg larutan kristaloid seperti ringer laktat/asetan
secepatnya.
3 Jika tidak menunjukkan perbaikan klinis, ulangi pemberian kristaloid
20 ml/kgBB secepatnya (maksimal 30 menit) atau pertimbangkan
pemberian koloid 10-20 ml/kg BB/jam maksimal 30 ml/kgBB/24 jam.
4 Jika tidak ada perbaikan klinis tetapi hematokrit dan hemoglobin
menurun pertimbangkan terjadinya perdarahan tersembunyi: berikan
transfusi darah atau komponen.
5 Jika terdapat perbaikan klinis (pengisian kapiler dan perfusi perifer
mulai membaik, tekanan nadi melebar), jumlah cairan dikurangi hingga
10 ml/kgBB dalam 2-4 jam dan secara bertahap diturunkan tiap 4-6 jam
sesuai kondisi klinis laboratorium.
6 Dalam banyak kasus, cairan intravena dapat dihentikan setelah 36- 48
jam. Perlu diingat banyak kematian terjadi karena pemberian cairan
yang terlalu banyak dari pada pemberian yang terlalu sedikit.
c. Pemeriksaan Laboratorium
Pada pemeriksaan darah pasien DHF akan dijumpai :
1. HB dan PVC meningkat (≥20%)
2. Trombositopenia (≤ 100.000/ ml)
3. Leukopenia ( mungkin normal atau lekositosis)
4. Ig. D dengue positif
5. Hasil pemeriksaan kimia darah menunjukkan hipoproteinemia,
hipokloremia, dan hiponatremia
6. Ureum dan pH darah mungkin meningkat
7. Asidosis metabolic : pCO2
d. Diagnosa keperawatan
1. Hipertermia (D.0130)
2. Defisit nutrisi (D.0019)
3. Hipovolemia (D.0023)
e. Intervensi Keperawatan
Nurarif, A. H., & Kusuma, H. (2015). Aplikasi Asuhan Keperawatan Berdasarkan Diagnosa
Medis & NANDA.
PPNI, T. P. (2018b). Standar Luaran Keperawatan Indonesia (SLKI) Definisi dan Kriteria
Hasil Keperawatan ((Cetak II) ed 1.). Jakarta : DPP PPNI.
Widyorini, P., Shafrin, K. A., Wahyuningsih, N. E., & Murwani, R. (2017). Dengue
Hemorrhagic Fever (DHF) Cases in Semarang City are Related to Air Temperature,
Humidity, and Rainfall. Advanced Science Letters, 23(4), 3283–3287.