KRITIK TERHADAP MODERNITAS: PERSPEKTIF MASYARAKAT MADANI
Selvira Gusti Ayu
Himpunan Mahasiswa Islam Cabang Yogyakarta
Komisariat Fakultas Ushuluddin UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta
selviragustiayu00@[Link]
ABSTRAK:
Penelitian ini menganalisis modernitas dari perspektif masyarakat madani. Modernitas, yang sering kali dilabeli
dengan kemajuan teknologi, industrialisasi, dan rasionalisasi, jelas memiliki implikasi terhadap struktur sosial
dan kebudayaan dewasa ini. Konsep masyarakat madani yang ada sejak zaman Nabi Muhammad SAW telah
berdasar pada nilai Islam yang memproduksi pula nilai-nilai kemanusiaan, keadilan sosial, dan partisipasi
masyarakat dalam pembangunan. Melalui pendekatan kualitatif, penelitian ini menggali pandangan kritis dari
tokoh-tokoh dan literatur yang mendukung penelitian ini. Data dikumpulkan melalui studi pustaka, termasuk
analisis karya-karya ilmiah, artikel, dan buku yang relevan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa masyarakat
madani memberikan kritik terhadap modernitas yang dilihat dari proses dehumanisasi, ketidakadilan sosial, dan
krisis identitas yang muncul akibat proses modernisasi. Kesimpulannya, perspektif masyarakat madani
menawarkan corak masyarakat yang tidak sekuler dan tidak bebas nilai seperti modernitas sebab konsep
masyarakat madani sejak masa Rasululkalalah SAW berdasar pada religios values yang beroutput pada nilai-
nilai kemanusiaan, toleran dan keadilan sosial serta keadilan ekonomi.
Kata Kunci: Modernitas, Masyarakat Madani, Kritik Sosial, Keadilan Sosial, Dehumanisasi.
ABSTRACT:
This research analyzes criticism of modernity from a civil society perspective. Modernity, which is often labeled
with technological progress, industrialization and rationalization, clearly has implications for today's social
and cultural structures. The concept of civil society that has existed since the time of the Prophet Muhammad
SAW has been based on Islamic values which also produce human values, social justice and community
participation in development. Through a qualitative approach, this research explores the critical views of
figures and literature that supports this research. Data was collected through literature study, including
analysis of relevant scientific works, articles and books. The research results show that civil society provides
criticism of modernity which is seen from the process of dehumanization, social injustice, and the identity crisis
that emerged as a result of the modernization process. In conclusion, the civil society perspective offers a style
of society that is not secular and not value-free, such as modernity because the concept of civil society since the
time of the Prophet SAW has been based on religious values which result in human values, tolerance and social
justice as well as economic justice.
Keywords: Modernity, Civil Society, Social Criticism, Social Justice, Dehumanization.
PENDAHULUAN justru lebih banyak mudharatnya.2 Hal ini yang
kemudian juga membawa implikasi
Modernitas telah menjadi istilah kunci mengekspoloitatif struktur sosial, lingkungan dan
dalam diskursus sosial, politik, dan budaya sejak kebudayaan masyarakat. Lingkungan adalah
abad ke-18, ditandai dengan kemajuan teknologi, korban dari proyek modernitas (antroposentisme).3
industrialisasi, dan rasionalisasi. Fenomena ini, Industrialiasi yang masif membawa dampak buruk
yang pertama kali muncul di Eropa Barat, bagi ekosistem. Penggunaan sumber daya alam
kemudian menyebar ke seluruh dunia, membawa secara berlebihan dan pencemaran yang dihasilkan
serta transformasi besar dalam berbagai aspek oleh industri-industri besar telah menyebabkan
kehidupan manusia.1 Modernitas sering dikaitkan kerusakan lingkungan yang parah. Pemanasan
dengan perubahan standar hidup, kemajuan ilmiah, global, polusi udara dan air, serta hilangnya
dan teknologi. Namun, di balik itu semua, hal yang
diproduk oleh modernitas meminjam bahasa agama 2
Bahtiar Effendy, “Agama dan Negara:
Transformasi Pemikiran Politik Islam” (Jakarta:
Paramadina, 2001), 123.
1 3
Simatupang, Paul Budi. “Transformasi Sosial dan Adian Husaini, “Wajah Peradaban Barat: Dari
Modernitas”. Yogyakarta: Kanisius, 2006. Hlm. Hegemoni Kristen ke Dominasi Sekuler-Liberal”
10. (Jakarta: Gema Insani Press, 2005), 78.
keanekaragaman hayati adalah beberapa dari artinya bukan sesuatu yang utopis. 2.) Idealisme
banyak masalah lingkungan yang diperparah oleh Islam adalah iman. Jika masyarakat bebas nilai
modernitas. Dengan demikian, modernitas yang menempatkan agama didapur maka potretnya
menempatkan pertumbuhan ekonomi di atas adalah individualisme-kapitalisme. Ekonomi
kelestarian lingkungan, sebuah pendekatan yang semacam ini sudah pernah dibantai oleh system
pada akhirnya tidak berkelanjutan.4 zakat ketika zaman Rasulullah SAW.
Fenomena masyarakat madani adalah Tujuan penelitian ini adalah
sebuah perlawanan atau refleksi kritis dari situasi mengidentifikasi kritik-kritik utama terhadap
terpuruknya citra masyarakat modern yang modernitas dari perspektif masyarakat madani.
mengharapkan suatu tatanan masyarakat ideal, Menganalisis implikasi sosial, budaya, dan
namun dinamika yang dibangun merupakan lingkungan dari modernitas. Penelitian ini juga
kesadaran palsu civil society concept yang tidak akan menjelaskan bagaimana konsep masyarakat
menempatkan etika sosial sebagai sebuah piranti di madani yang berlandaskan nilai-nilai Islam dapat
segala aspek kehidupan bermasyarakat. Nurcholis menawarkan mekanisme terhadap tantangan-
Majdid biasa disapa Cak Nur menjelaskan bahwa tantangan yang dihadapi oleh masyarakat modern.
masyarakat madani merupakan masyarakat yang
berperadaban (bermadaniyah) karena tunduk dan
patuh (dana-yadinu) kepada ajaran kepatuhan (din) METODE PENELITIAN
yang dinyatakan dalam supremasi hukum dan
peraturan.5 Hal ini artinya masyarakat madani 1. Jenis Penelitaian
menempatkan agama sebagai bagian penting Metode penelitian adalah rangkaian
bahkan utama dalam setiap pengambilan keputusan langkah atau prosedur yang digunakan oleh peneliti
tanpa mendiskredit nilai-nilai yang tidak kontra untuk mengumpulkan, menganalisis, dan
peradaban. Jelas bahwa kemudian Islam ketika menginterpretasikan data. Metode ini berfungsi
zaman Rasulullah SAW sebagai khalifah fil ardh sebagai panduan untuk mencapai tujuan penelitian
yang diutus Allah SWT ketika itu Rasulullah SAW dan menjawab rumusan masalah yang telah
memperlakukan manusia, alam menjadi tatanan ditentukan sebelumnya. Metode penelitian terdiri
yang seimbang lagi harmonis. Fenomena dari berbagai jenis dan pendekatan, masing-masing
sekularisme yang hadir pada zaman modern sesuai dengan jenis data dan tujuan penelitian yang
terutama di eropa dan Amerika Serikat telah berbeda.7 Jenis penelitian ini adalah kualitatif.
menjadikan agama sebagai kebutuhan dapur atau Menggunakan penelitian kualitatif tujuannya untuk
agama tidak lagi menjadi aspek penting diruang mendapatkan data yang mendalam8
publik. Bebas nilai inilah yang kemudian manusia 2. Sumber Data
menganggap dirinya sebagai mahluk yang bisa Sumber Data merupakan informasi yang
mengeksploitatif semua yang diluar dirinya, bahkan diperoleh oleh peneliti untuk menjawab pertanyaan
kalau mau kasar mengekspoitatif manusia lain.6 dalam penelitian (Arikunto (2010:172). Adapun
dalam penelitian ini menggunakan sumber data
Dalam Q.S Ali Imran: 105 telah dijelaskan sebagai berikut:
bahwa keseimbangan (ummatan wasathan) dalam a. Data Primer
segala aspek kehidupan, memberikan makna Data Primer adalah data yang didapat dari
egaliter dalam kebersamaan umat untuk sumber pokok atau utama.9 Pada penelitian ini data
membangun masyarakat yang terbaik (khaira primer yang digunakan adalah data dikumpulkan
ummah) yang selalu menyerukan kebaikan dan melalui studi pustaka, termasuk analisis karya-
mencegah kemungkaran (amar ma’ruf nahi karya ilmiah, artikel, dan buku.
munkar) serta menjaga persatuan dan tidak b. Data Sekunder
berpecah belah (Q.S Ali Imran: 105). Dengan Data sekunder adalah informasi yang telah
demikian, tercapailah masyarakat moderat (ummat dikumpulkan oleh pihak lain untuk tujuan yang
muqtashidah) yang jujur, lurus, dan tidak mungkin berbeda dengan tujuan penelitian yang
menyimpang dari kebenaran. 1.) tesis tentang sedang dilakukan.10 Dalam penelitian ini data
konsep masyarakat idealitas ini sudah pernah ada
4
Imam Suprayogo, “Sosiologi Agama: Teori,
7
Sosial, dan Aplikasinya di Indonesia” (Bandung: Moleong, Lexy J. “Metode Penelitian Kualitatif”.
Rosda, 2016), 98. Bandung: Remaja Rosdakarya, 2014, hlm. 3-5.
5 8
Nurcholish Majdid. “Islam, Kemodernan dan Sugiyono. Metode Penelitian Kualitatif
Keindonesiaan”. Bandung: Mizan, 2008. Hlm. 45. (Pendekatan Kualitatif, Kuantitatif, dan R&D).
6
Zain, M. Amin Abdullah. “Agama dan Bandung: Alfabeta, 2018, hlm. 12-15.
9
Modernitas: Pergumulan Nilai-nilai Agama dalam Sugiyono. (2016). “Metode Penelitian Kuantitatif,
Era Modernitas”. Yogyakarta: Pustaka Pelajar, Kualitatif, dan R&D”. Penerbit Alfabeta. Halaman
2016. Hlm. 102. 42.
sekunder yang digunakan adalah kanal media sosial krisis lingkungan, Rasa cemas Ketika melakukan
seperti kajian di youtube dan spotify. sesuatu dan lain-lain. Modernitas telah menjadi
3. Metode Pengumpulan data suatu proses yang tidak dapat terelakkan.
Teknik pengumpulan data adalah cara Kekurangan dai Modernisasi barat ini memberikan
untuk memperoleh data dari objek penelitian. 11 dampak negative terhadap nilai-nilai yang menjadi
Dalam penelitian ini metode pengumpulan data menyimpang dan keracunan. Manusia modern
menggunakan metode studi literatur. Metode studi dihantui rasa cemas yang berdatangan dan merasa
literatur adalah serangkaian kegiatan yang hidupnya tidak memiliki makna. Karena telah
berkenaan dengan metode pengumpulan data hilangnya rasa keilahian nya, karena itu sering
pustaka, membaca dan mencatat, serta mengelolah mendapatkan hampa spiritual. Pada akhirnya
bahan penelitian (Zed, 2008:3). Masyarakat modern sekuler kebanyakan menderita
keterasingan (alienasi), baik terhadap dirinya
HASIL DAN PEMBAHASAN sendiri maupun lingkungan sosial dan terutama
Modernisasi menjadi bentuk nyata dalam terhadap tuhannya.13
perubahan sosial yang terjadi di Masyarakat. Proses Kritik terhadap modernitas dari sudut
yang terjadi mencakup banyak persoalan seperti pandang masyarakat madani sering mengacu pada
masalah-masalah sosial, konflik antar golongan, perbedaan antara nilai-nilai tradisional Islam
adat budaya yang terus-menerus terkikis oleh dengan pengaruh Barat. Modernitas dapat
perkembangan zaman dan hambatan-hambatan lain mengancam identitas dan budaya masyarakat
terhadap suatu hal. Civil society merupakan hasil madani, yang berlandaskan nilai-nilai Islam.
dari modernitas yaitu Masyarakat yang dianggap Masyarakat madani berpendapat bahwa modernitas
sebagai Gerakan masyarakat sekuler yang sering kali membawa pengaruh yang merusak,
meminggirkan tuhan. Civil society juga dikenal seperti materialisme dan individualisme, yang
sebagai Masyarakat kota yang berpradaban maju, bertentangan dengan nilai-nilai kekeluargaan dan
sebagai Masyarakat yang beradab dan berbudaya. kebersamaan yang dijunjung tinggi dalam
Adapun sebuah sikap Masyarakat lain yang masyarakat madani.
memiliki perbedaan signifikan dengan konsep civil
society yaitu Masyarakat madani. Memiliki konsep Dalam konteks masyarakat madani,
yang berbeda, secara historis civil society dan modernitas sering dianggap sebagai ancaman
Masyarakat madani tidak memiliki keterkaitan satu terhadap nilai-nilai tradisional yang telah berakar
sama lain. Jika Masyarakat madani dikenal sebagai sejak lama. Pengaruh Barat, seperti materialisme
Masyarakat yang terbuka dan toleran dengan dan individualisme, dianggap dapat menggeser
berpangku pada ajaran-ajaran tuhan. Sedangkan keko masyarakat dari kepentingan umum ke
civil society dianggap sebagai Masyarakat sekuler kepentingan pribadi. Hal ini bisa membuat
berbeda dengan Masyarakat madani yang memiliki hilangnya ciri khas masyarakat madani yang
landasan berdasarkan keagamaan dalam islam. 12 menjunjung rasa tanggung jawab dan kepedulian
terhadap sesama. Selain itu, modernitas juga dapat
Secara historis, Sains barat modern menghilangkan sifat pluralistik dan toleransi yang
memiliki peranan penting dalam berkembangnya telah menjadi bagian dari budaya masyarakat
modernitas, yang menimbulkan sikap untuk madani, yang memungkinkan berbagai kelompok
menghilangkan aspek transcendental atau spiritual. dan agama hidup berdampingan dengan damai.
Hal ini tandai dengan munculnya zaman Kritik-kritik ini juga menekankan bahwa
renaissance (pencerahan) yang pada akhirnya modernitas dapat menghilangkan sifat kolektivitas
melahirkan modernitas. Peristiwa ini dianggap dan kebersamaan yang telah menjadi bagian dari
sebagai pemberontakan yang dilakukan manusia budaya masyarakat madani, yang memungkinkan
kepada kuasa Ilahi. Yang menyebabkan, dunia mereka untuk bekerja sama dan membantu sesama
modern tertimpa suatu fenomena krisis spiritual, dalam berbagai situasi.
10
Deddy Mulyana 2016. “Metode Penelitian Menurut Seyyed Hossein Nasr, terdapat
Kualitatif: Paradigma Baru Ilmu Komunikasi dan karakteristik dalam dunia modern: 1.)
Ilmu Sosial Lainnya”. Bandung: PT. Remaja antroposentris yang maksudnya bahwa seluruh
Rosdakarya. hlm 45-46 lokus didunia ini tertuju diturunkan untuk manusia.
11
Sutrisno Hadi, “Metode Research 1”, Bahwa segala sesuatu dipandang sesuai dengan
(Yogyakarta: YPFE UGM.1981), hlm. 4. standar manusia. 2.) Karena sesuai standar
12
Dikutip dari “ Perbedaan Civil Society dan manusia, maka dunia tidak mempunyai prinsip
Masyarakat Madani” dalam
13
[Link] Mohamad Anas, “KRITIK HOSSEIN NASR
011/perbedaan-civil-society-dan-masyarakat- ATAS PROBLEM SAINS MODERNITAS”,
madani?page=all, diakses pada 13 juli 2024 jam Article in KALAM · February 2017 DOI:
21.30 10.24042/klm.v6i1.391, Hal. 2.
yang kekal dan abadi. 3.) Manusia modern dapat di kerabatmu. Jika ia kaya atau miskin maka Allah
artikan sebagai manusia yang telah kehilangan lebih tahu kemaslahatannya. Maka janganlah
kepekaan kesakralannya. 4.) Hilangnya dimensi kamu mengikuti hawa nafsu karena ingin
metafisika. Menurut pandangan nasr, akar menyimpang dari kebenaran. Dan jika kamu
permasalahan yang terjadi pada dunia modern memutarbalikkan (kata-kata) atau enggan menjadi
adalah pada pengkonsepsian manusia. Yaitu, saksi, maka sesungguhnya Allah Maha Mengetahui
peradaban modern memiliki landasan konsep segala apa yang kamu kerjakan."15
manusia tidak menyertakan hal yang paling penting
bagi manusia itu sendiri, yaitu dimensi 2. Al-Qur'an, Surah Al-Hujurat (49:13):
spiritualnya.14 - " َيا َأُّيَهاالَّناُس ِإَّناَخَلْقَناُكْم ِمْن َذَكٍرَوُأْنَثٰىَوَجَعْلَناُكْم ُشُعوًباَوَقَباِئَل ِلَتَعاَرُفواۚ ۚ ِإَّن
َأ َأ
Nurcholish Madjid, atau yang lebih akrab " ْكَرَمُكْم ِعْنَد الَّلِه ْتَقاُكْم ۚ ۚ ِإَّن الَّلَه َعِليٌم َخ ِبيٌر
disapa Cak Nur, menawarkan pandangan yang "Wahai manusia! Sungguh, Kami telah
tajam tentang masyarakat madani, sebuah konsep menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan
yang merangkum visi tentang masyarakat yang seorang perempuan, kemudian Kami jadikan kamu
beradab dan beretika. Baginya, masyarakat madani berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu
adalah sebuah komunitas yang menjunjung tinggi saling mengenal. Sungguh, yang paling mulia di
nilai-nilai keislaman yang universal seperti antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling
keadilan, kebebasan, dan kesejahteraan bersama. bertakwa. Sungguh, Allah Maha Mengetahui,
Cak Nur menegaskan bahwa masyarakat madani Maha Teliti."16
harus dibangun di atas pilar kebebasan dan
keadilan. Dalam konteks ini, kebebasan Inklusifitas dan berkeadilan
berpendapat dan beragama menjadi elemen
fundamental yang tidak bisa ditawar. Kebebasan ini 1. Al-Qur'an, Surah Al-Baqarah (2:256) :
bukan hanya sekadar hak, tetapi juga tanggung " َّطُغوِت َوُيْؤِمْن ِبالَّلِه يلِّديِنۖ ۖ َقْدَتَبَّيَن الُّرْشُدِمَن اْلَغِّيۚ ۚ َفَمْن َيْكُفْر ِبال ا
اَل ِإْكَراَه ِف ا
jawab setiap individu untuk menghargai perbedaan ي ي َّل
ال ۗ ۗ
ا َل ا ا اَل َقْث ْلا ْل
ا َك ا َق َف
َع
ِل
ِد ْسَتْمَس ِب ُعْرَوِة ُو ٰى ْنِفَصَم َه َو ُه َسِمٌع ٌم "
dan pluralitas yang ada dalam masyarakat. Ia
menekankan bahwa pluralisme adalah syarat "Tidak ada paksaan dalam (menganut) agama
mutlak bagi terciptanya masyarakat yang harmonis (Islam); sesungguhnya telah jelas jalan yang benar
dan toleran. daripada jalan yang sesat. Karena itu barang
siapa yang ingkar kepada Tagut dan beriman
Agama, khususnya Islam, menurut Cak kepada Allah, maka sesungguhnya ia telah
Nur, memiliki peran pokok dalam membentuk berpegang kepada tali yang amat kuat yang tidak
karakter masyarakat yang bermoral dan beretika. akan putus. Dan Allah Maha Mendengar lagi
Namun, ia dengan tegas menolak penggunaan Maha Mengetahui."17
agama sebagai alat politik untuk menindas atau
mendiskriminasi. Agama harus menjadi sumber Sekulerisme yang bersamaan hadir
inspirasi yang mendorong terciptanya keadilan dengan modernitas. Hal ini kemudian
sosial dan kesejahteraan bagi semua. Tidak hanya menempatkan agama pada ranah dapur, atau lebih
itu Nurcholish Madjid sering menggunakan dalil- parahnya lagi solusi modernitas adalah ateisme.
dalil dari Al-Qur'an dan Hadis untuk memperkuat Dalam al-Quran dijelaskan bahwa perabadan
pandangannya tentang masyarakat madani dan semacam ini tidak lain hanya semu semata, ini
kritik terhadap modernitas. terbutkti hari ini. Berikut dalil yang terdapat dalam
kitab syci al-Quran:
Beberapa dari banyaknya yang disebut dalam al-
Quran adalah tentang Keadilan dan Kebebasan Keseimbangan Material dan Spiritual
1. Al-Qur'an, Surah An-Nisa' (4:135): 1. Al-Qur'an, Surah Al-Qasas (28:77) :
- "َيا َأُّيَهااَّلِذيَن آَمُنوا ُكوُنواَقَّواِميَنِباْلِقْسِط ُشَهَداَءِلَّلِه َوَلْوَعَلٰى َأنُفِسُكْم َأِو " َواْبَتِغ ِفيَماآَتاَك الَّلُه الَّداَر اآْل ِخَرَة َواَلَتْنَس َنِصيَبَك ِمَن الُّدْنَياَوَأْحِسْن َكَماَأْحَسَن
ۚ ۚاْلَواِلَدْيِن َواَأْلْقَرِبيَنۚ ۚ ِإنَيُكْن َغِنًّياَأْو َفِقيًراَفالَّلُهَأْوَلٰى ِبِهَماۖ ۖ َفاَل َتَّتِبُعواْلَهَوٰىَأْن َتْعِدوا
ۚ ۖ ُۚل "الَّل َلْيَك اَل َتْب اْلَف اَد ِفاَأْل
يْرِضِإَّن الَّلَه اَل ُيِحُّب اْلُمْفِسِديَن ُه ِإ َو ِغ َس
"َوِإن َتْلُووا َأْو ُتْعِرُضوا َفِإَّن الَّلَه َكاَن ِبَما َتْعَمُلوَن َخ ِبيًر ا
"Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan
"Wahai orang-orang yang beriman! Jadilah Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan
kalian orang-orang yang benar-benar menegakkan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari
keadilan, menjadi saksi karena Allah biarpun (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada
terhadap dirimu sendiri atau ibu bapa dan kaum orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik
kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan
14
Mohamad Anas, “KRITIK HOSSEIN NASR
ATAS PROBLEM SAINS MODERNITAS”,
15
. Al-Qur'an, Surah An-Nisa' (4:135).
Article in KALAM · February 2017 DOI:
16
Al-Qur'an, Surah Al-Hujurat (49:13).
10.24042/klm.v6i1.391, Hal. 16-17. 17
Al-Qur'an, Surah Al-Baqarah (2:256)
di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak manusia. Di satu sisi, modernitas telah
menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan."18 memungkinkan manusia mencapai standar hidup
yang lebih tinggi dan akses yang lebih mudah
Menghindari Materialisme Berlebihan terhadap informasi dan teknologi. Namun, di sisi
1. Al-Qur'an, Surah Al-Hadid (57:20) : lain, modernitas juga telah menciptakan berbagai
tantangan dan masalah yang perlu mendapat
"يَأْلْمَواِل َواَأْلْواَلِد اْعَلُموا َأَّنَمااْلَحَياُة الُّدْنَياَلِعٌب َوَلْهٌوَوِزيَنٌةَوَتَفاُخٌر َبْيَنُكْمَوَتَكاُثٌر ِف ا perhatian serius. Dalam tulisan ini, kita akan
يآْل ِخَرِة َۖكَمَثِل َغْيٍث َأْعَجَب اْلُكَّفاَر َنَباُتُهُثَّم َيِهيُج َفَتَراُه ُمْصَفًّراُثَّمَيُكوُنُح ا
َطًماۖ ۖ َوِف ا mengkaji dampak sosial, budaya, dan lingkungan
"َعَذاٌب َشِديٌدَوَمْغِفَرٌةِمَن الَّلِهَوِرْضَواٌنۚ ۚ َوَمااْلَحَياُة الُّدْنَياِإاَّل َمَتاُعاْلُغُروِر dari modernitas dengan pendekatan kritis,
mengandalkan berbagai sumber otoritatif untuk
"Ketahuilah, bahwa sesungguhnya kehidupan menguatkan argumen.
dunia itu hanyalah permainan dan suatu yang
melalaikan, perhiasan dan bermegah-megah Modernitas telah memperlebar
antara kamu serta berbangga-banggaan tentang kesenjangan antara kelompok kaya dan miskin.
banyaknya harta dan anak, seperti hujan yang Teknologi dan globalisasi, meski membawa
tanam-tanamannya mengagumkan para petani; kemajuan ekonomi, juga menciptakan
kemudian tanaman itu menjadi kering dan kamu ketidaksetaraan yang mencolok. Menurut laporan
lihat warnanya kuning kemudian hancur. Dan di World Inequality Lab (2022), 10% penduduk
akhirat (nanti) ada azab yang keras dan ampunan terkaya di dunia menguasai sekitar 76% dari total
dari Allah serta keridhaan-Nya. Dan kehidupan kekayaan global, sementara 50% penduduk
dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang termiskin hanya memiliki 2% dari total kekayaan
menipu."19 tersebut. Kesenjangan ini tidak hanya berdampak
pada distribusi pendapatan, tetapi juga akses
Di sisi lain, Cak Nur juga memberikan terhadap pendidikan, kesehatan, dan kesempatan
kritik tajam terhadap modernitas. Ia melihat ekonomi. Kesenjangan ini menyebabkan
modernitas sebagai pedang bermata dua; di satu marginalisasi sosial dan penurunan kualitas hidup
sisi, ia membawa kemajuan teknologi dan bagi sebagian besar populasi, terutama di negara-
peningkatan kualitas hidup, tetapi di sisi lain, ia negara berkembang.
sering kali membawa krisis moral dan spiritual.
Salah satu kritik utama Cak Nur terhadap Modernitas juga mengubah struktur
modernitas adalah kecenderungan materialisme keluarga dan komunitas secara drastis. Urbanisasi
yang menggerogoti nilai-nilai luhur dalam dan mobilitas tinggi menyebabkan terjadinya
masyarakat. Modernitas yang berlebihan, fragmentasi dalam hubungan keluarga dan
menurutnya, bisa menyebabkan masyarakat masyarakat. Lebih banyak individu yang tinggal
kehilangan orientasi spiritual dan moral. Cak nur sendiri atau dalam keluarga nuklir, mengurangi
mengingatkan bahwa kesejahteraan material tidak interaksi antar generasi dan komunitas yang erat.
boleh mengorbankan nilai-nilai kemanusiaan dan Penelitian dari Pew Research Center (2018)
etika. menunjukkan bahwa perubahan ini berdampak
pada melemahnya dukungan sosial dan
Cak Nur juga memberi tesis yakni fakta meningkatnya isolasi sosial. Kehilangan interaksi
tentang krisis identitas yang sering dialami sosial yang mendalam dapat mengakibatkan
masyarakat modern. Dalam upaya mengejar masalah kesehatan mental, seperti depresi dan
kemajuan, masyarakat modern sering kali kecemasan, yang semakin marak dalam masyarakat
melupakan akar budaya dan nilai-nilai tradisional modern.
yang sebenarnya bisa menjadi penyeimbang dalam
menghadapi tantangan modernitas. Selain itu, kemajuan teknologi dan
globalisasi turut menciptakan krisis identitas dan
Implikasi Sosial, Budaya dan ekologi dari alienasi. Individu sering kali merasa terasing dalam
modernitas dunia yang terus berubah cepat dan serba
kesalahan modernisasi kini berdampak terhubung. Psikolog sosial Erich Fromm dalam
buruk pada dunia yang mengakibatkan banyak nya bukunya “Escape from Freedom” (1941)
tragedy dan krisis yang terjadi di berbagai tempat, menyatakan bahwa modernitas bisa menyebabkan
seperti krisis, krisis lingkungan, kecemasan perasaan kehilangan makna dan tujuan hidup.
terhadap bahaya perang dan lain-lain. Modernitas, Kondisi ini dapat memicu berbagai masalah
sering kali dianggap sebagai era kemajuan yang psikologis dan sosial, seperti rasa tidak aman,
dihasilkan oleh teknologi, urbanisasi, dan kebingungan identitas, dan konflik interpersonal.
perubahan sosial yang pesat, telah membawa Krisis identitas ini juga berdampak pada cara
dampak signifikan dalam berbagai aspek kehidupan
18
Al-Qur'an, Surah Al-Qasas (28:77)
19
Al-Qur'an, Surah Al-Hadid (57:20)
individu memandang diri mereka sendiri dan pada alam untuk kelangsungan hidup merek
hubungan mereka dengan masyarakat luas.20 Kerusakan lingkungan juga berdampak pada
hilangnya keanekaragaman hayati. Hutan yang
Modernisasi dan globalisasi membawa dibabat untuk keperluan pertanian, pertambangan,
perubahan yang kompleks terhadap kehidupan dan urbanisasi mengancam habitat berbagai spesies
sehari-hari Masyarakat. Dampak positifnya kualitas flora dan fauna. Menurut laporan WWF (2020),
hidup yang meningkat dan majunya alat teknologi. populasi satwa liar telah menurun hingga 68%
Sedangkan dampak negative yang didapat yaitu, dalam waktu kurang dari 50 tahun akibat aktivitas
hilangnya identitasa dan kebudayaan asli manusia. Kehilangan keanekaragaman hayati ini
Masyarakat local yang tergesar oleh budaya yang bukan hanya mengancam keseimbangan ekosistem,
masuk terutama budaya barat. Edward Said dalam tetapi juga mengurangi kemampuan alam untuk
“Orientalism” (1978) mengkritik bagaimana memberikan layanan ekosistem yang vital bagi
kekuatan dominan sering kali mendikte dan kehidupan manusia, seperti penyerbukan tanaman,
membentuk persepsi budaya minoritas. Fenomena pemurnian air, dan pengendalian hama.
ini menyebabkan hilangnya keragaman budaya dan
bahasa yang kaya. Tradisi, adat istiadat, dan nilai- Kritik terhadap modernitas juga muncul
nilai lokal semakin terpinggirkan, digantikan oleh dari perspektif etika dan moral. Modernitas sering
budaya global yang seragam dan didominasi oleh kali memiliki pemikiran yang bersifat utilitarian, di
kapitalisme.21 mana nilai-nilai diukur berdasarkan keuntungan
materi dan efisiensi. Pendekatan ini mengabaikan
Budaya konsumerisme dan materialisme aspek-aspek manusiawi dan etis yang tidak dapat
juga menjadi ciri khas modernitas. Dalam diukur secara kuantitatif. Immanuel Kant dalam
masyarakat modern, nilai-nilai sering kali “Groundwork of the Metaphysics of Morals”
ditentukan oleh kepemilikan materi. Jean (1785) berprinsip tentang manusia, bahwa sebagai
Baudrillard dalam “The Consumer Society” (1970) tujuan itu sendiri, manusia tidak boleh
mengemukakan bahwa konsumsi tidak lagi hanya memperlakukan orang lain sebagai alat untuk
sekadar pemenuhan kebutuhan, tetapi telah menjadi meraih tujuan, akan tetapi selalu sebagai tujuan
sarana untuk menunjukkan status sosial dan kepada diri sendiri. Yang dimana memperlakukan
identitas. Budaya konsumerisme ini mendorong manusia sebagai tujuan, bukan sebagai alat untuk
masyarakat untuk terus-menerus mencari kepuasan mencapai tujuan lainnya. 22 Modernitas, dengan
melalui pembelian barang dan jasa, sering kali fokusnya pada materialisme dan efisiensi. Hal ini
tanpa mempertimbangkan dampak lingkungan dan semua adalah potret ratusan tahun setelah
sosial. Akibatnya, terjadi eksploitasi sumber daya modernisme menyobongkan diri menyampingkan
alam yang berlebihan dan peningkatan jumlah nilai dalam setiap aspek kehidupan.
limbah, yang merusak ekosistem dan mengancam
keberlanjutan lingkungan. Dampak lingkungan dari Konsep Masyarakat Madani Sebagai Alternatif
modernitas juga sangat meresahkan. Terhadap Modernitas
Industrialisasi dan urbanisasi telah Masyarakat madani bisa menjadi sebuah alternatif
mengakibatkan pencemaran udara, air, dan tanah terhadap permasalahan yang kerap terjadi pada
yang signifikan. Perubahan iklim yang dipicu oleh modernitas sekuler. Dikatakan bahwa adanya
emisi gas rumah kaca menjadi ancaman serius bagi dominasi nilai-nilai sekuler yang sering kali
kehidupan di planet ini. Menurut mengabaikan atau bahkan bertentangan dengan
Intergovernmental Panel on Climate Change nilai-nilai keagamaan dalam kehidupan
(IPCC), jika tren pemanasan global terus berlanjut, masyarakat. Dalam persoalan ini, Masyarakat
kita akan menghadapi bencana alam yang lebih Madani menawarkan suatu paradigma di mana
sering dan lebih parah, seperti banjir, kekeringan, nilai-nilai Islam tidak hanya dipertahankan tetapi
dan badai. Dampak ini tidak hanya merugikan juga diperkuat sebagai landasan utama untuk
lingkungan, tetapi juga manusia yang bergantung menjawab berbagai tantangan yang timbul dari
modernitas sekuler.
20
Greg Burton, “Gagasan Islam Liberal di
Pertama, Masyarakat Madani
Indonesia: Pemikiran Neo-Modernisme Nurcholish menekankan pentingnya mempertahankan identitas
Madjid, Djohan Effendi, Ahmad Wahib, dan keagamaan dalam berbagai aspek kehidupan sosial,
Abdurrahman Wahid”, Jakarta: Penerbit politik, dan ekonomi. Hal ini mencakup penerapan
Paramadina,1999. Hal 166. nilai-nilai moral dan etika Islam dalam
21
Heri Kurnia dan Dian Lestari, “TRANSFORMASI pengambilan keputusan publik, kebijakan sosial,
SOSIAL BUDAYA MASYARAKAT SUKU dan tata kelola yang berkeadilan. Dengan demikian,
KOROWAI DALAM KONTEKS MODERNISASI
22
DAN GLOBALISASI”, Volume 4, Enggang: Jurnal Dikutip dari “Etika Kant” dalam
Pendidikan, Bahasa, Sastra, Seni, dan Budaya, [Link]
Nomor 1, Desember 2023, hal. 194. diakses pada 15 Juli 2024, jam 15.17
konsep ini menegaskan bahwa nilai-nilai berbangsa dan bernegara, dan pada puncaknya akan
keagamaan tidak hanya relevan tetapi juga esensial tercipta masyarakat yang adil dan makmur.24
untuk membangun masyarakat yang adil dan
berkeadilan. KESIMPULAN
Kedua, Masyarakat Madani selalu Kesimpulannya, perspektif masyarakat
mempertahankan identitas keagamaan dalam madani menawarkan corak masyarakat yang tidak
kehidupan sosial maupun kehidupan berpolitik. sekuler dan tidak bebas nilai seperti yang diusung
Selalu memperlihatkan masyrakat yang majemuk, oleh modernitas. Konsep masyarakat madani, sejak
baik daari lingkup etnis, budaya dan agama. Tidak masa Rasulullah SAW, berdasar pada nilai-nilai
memaksakan dan memberikan kebebasan dalam religius yang beroutput pada nilai-nilai
beragama dan menjaga hubungan antar kelompok kemanusiaan, toleransi, keadilan sosial, serta
untuk mengatasi pluralitas nilai dalam masyarakat keadilan ekonomi. Dengan memadukan nilai-nilai
yang semakin kompleks.23 Dalam konteks spiritual dan etika dalam berbagai aspek kehidupan,
globalisasi, pendekatan yang berbasis nilai-nilai masyarakat madani memberikan jalan alternatif
keagamaan dapat menjadi titik temu bagi berbagai menuju masyarakat yang lebih adil, manusiawi, dan
kelompok dan komunitas yang berbeda latar berkelanjutan. Penelitian menunjukkan bahwa
belakang dan keyakinan. Konsep ini mendorong masyarakat madani memberikan kritik tajam
dialog antaragama dan kerjasama antarbudaya terhadap modernitas, terutama dalam hal
untuk membangun pemahaman yang lebih dalam dehumanisasi, ketidakadilan sosial, dan krisis
tentang persamaan dan keberagaman. identitas yang muncul akibat proses modernisasi.
Modernitas sering kali dikaitkan dengan
Ketiga, dalam hal ekonomi, Masyarakat peningkatan materialisme, sekularisme, dan
Madani mengusulkan model ekonomi yang penekanan pada nilai-nilai yang bebas dari
berbasis keadilan dan kesejahteraan bersama. pertimbangan moral dan spiritual. Akibatnya,
Prinsip-prinsip ekonomi Islam, seperti larangan manusia modern sering mengalami keterasingan
riba dan pemberdayaan ekonomi lokal, dianggap dari nilai-nilai kemanusiaan yang mendasar,
sebagai solusi untuk mengatasi ketimpangan mengalami ketidakadilan sosial yang meluas, serta
ekonomi yang sering kali diperparah oleh sistem kehilangan identitas dan arah hidup yang
kapitalis sekuler. Dengan memprioritaskan bermakna.
keadilan distributif dan inklusi sosial, konsep ini
bertujuan untuk menciptakan lingkungan ekonomi Masyarakat madani menawarkan solusi
yang berkelanjutan dan berdaya bagi seluruh atas tantangan modernitas dengan memberikan
anggota masyarakat. penekanan bahwa sangat penting untuk
Keempat, Masyarakat Madani juga mempertahankan nilai- nilai keagamaan dalam
menyoroti pentingnya partisipasi aktif masyarakat berbagai aspek kehidupan. Baik mencakup aspek
dalam proses pembangunan dan pengambilan sosial, politik, dan ekonomi melalui berbagai cara
keputusan. Ini mencakup pembangunan lembaga- yang dilakukan seperti fokus pada inklusi sosial,
lembaga sosial yang berbasis komunitas, seperti dialog antaragama, ekonomi berkeadilan dan lain-
lembaga amil zakat, koperasi, dan wakaf, yang lain. Di sisi lain, dalam masyarakat modernitas
bertujuan untuk memperkuat solidaritas sosial dan yang sekuler, cenderung membuang tuhan dari
meningkatkan kualitas hidup bersama. Dengan perspektifnya, solusi yang dipakai tidak berbasis
demikian, konsep ini tidak hanya menawarkan agama. Seperti, pendekatan berbasis hak asasi
pandangan alternatif terhadap modernitas sekuler manusia, dan demokrasi liberal, dan sistem
tetapi juga mempromosikan nilai-nilai keagamaan ekonomi kapitalis yang mengedepankan kebebasan
sebagai fondasi utama pembangunan sosial- individu dan pasar bebas sebagai penyeimbang
ekonomi yang berkelanjutan. sosial.
Secara Menyeluruh konsep dalam DAFTAR PUSTAKA
masyarakat madani (Islam) menjadi sebuah Al-Qur’an Al-Karim dan Terjemahannya dengan
alternatif yang memungkinkan untuk mewujudkan transliterasi, Departemen Agama RI,
good government. Yaitu dengan mewujudkan Semarang: PT. Karya Toha Putra,t.t.
masyarakat yang harmonis dalam kehidupan
Ayu Caesar Isabela, Monica. (2022). Perbedaan
Civil Society dan Masyarakat Madani.
23
Nur Ahsan, “Kerukunan Antarumat Beragama [Link]
Dalam Masyarakat Madani (Analisis Piagam /05/03000011/perbedaan-civil-society-
Madinah Dan Relevansinya Bagi Indonesia)”,
24
TASAMUH: JURNAL STUDI ISLAM ISSN Abu Tholib Khalik, “Masyarakat Madani dan
2086-6291 (p); 2461-0542 (e) Volume 7, Nomor 1, Sosialisme”, Jurnal TAPIs Vol.8 No.2 Juli-
April 2015, hal. 171. Desember 2012, hal. 44.
dan-masyarakat-madani?page=all,. (13 Zain, Abdullah, [Link]. (2016). Agama dan
Juli 2024). Modernitas: Pergumulan Nilai-nilai
Agama dalam Era Modernitas.
Anas, M. (2012). Kritik Hossein Nasr Atas Yogyakarta: Pustaka belajar.
Problem Sains Dan Modernitas. Kalam,
6(1), 21-37.
Ahsan, N. (2015). Kerukunan Antara Umat
Beragama Dalam Masyarakat Madani
(Analisi Piagam Madinahdan
Relevansinya Bagi Indonesia). Tasamuh:
Jurnal Studi Islam, 7(1), 161-180.
Burton, Greg. (1999). Gagasan Islam Liberal di
Indonesia: Pemikiran Neo-Modernisme
Nurcholish Madjid, Djohan Effendi,
Ahmad Wahib, dan Abdurrahman Wahid.
Jakarta: Penerbit Paramadina.
Effendy, Bahtiar. (2001). Agama dan Negara:
Transformasi Pemikiran Politik Islam.
Jakarta: Paramadina.
Husaini, Adian. (2005). Wajah Peradaban Barat:
Dari Hegemoni kriten Ke Dominasi
Sekuler-Liberal. Jakarta:
Gema Insani Press.
Kurnia, H., & Lestari, D. (2023). TRANSFORMASI
SOSIAL BUDAYA MASYARAKAT SUKU
KOROWAI DALAM KONTEKS
MODERNISASI DAN GLOBALISASI.
ENGGANG: Jurnal Pendidikan, Bahasa,
Sastra, Seni, dan Budaya, 4(1), 190-204.
Khalik, A. T. (2017). Masyarakat madani dan
sosialisme. Jurnal Tapis: Jurnal Teropong
Aspirasi Politik Islam, 8(2), 30-45.
Majdid, Nurcholish. (2008). Islam, Kemodernan
dan Keindonesiaan. Bandung: Mizan.
Moleong. Dan J, Lexy. (2014). Metode Penelitian
Kualitatif. Bandung: Remaja Rosdakarya.
Mulyana, Deddy. (2016). “Metode Penelitian
Kualitatif: Paradigma Baru Ilmu
Komunikasi dan Ilmu Sosial Lainnya”.
Bandung: PT. Remaja Rosdakarya.
Simatupang dan Budi, P. (2006) “Transformasi
Sosial dan Modernitas”. Yogyakarta:
Kanisius.
Suprayogo, Imam. (2016). Sosiologi Agama: Teori,
sosial, dan Aplikasinya di
Indonesia. Bandung: Rosda.
Sugiyono. (2018). Metode Penelitian Kuantitatif
(Pendekatan Kualitatif, Kuantitatif, dan
R&D). Bandung: Alfabeta.