0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
5 tayangan4 halaman

Prinsip Pembelajaran Kontekstual Terbaik

Diunggah oleh

nike
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
5 tayangan4 halaman

Prinsip Pembelajaran Kontekstual Terbaik

Diunggah oleh

nike
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

Nama :

i. Nike Lestari (20191113019)


ii. Veda Nabilla (20191113024)
iii. Maulidah Putri (20191113013)

Prinsip-prinsip Pembelajaran Kontekstual


Prinsip pembelajaran Kontekstual melibatkan tujuh komponen utama pembelajaran.
Berikut adalah uraian mengenai ketujuh komponen utama dalam pembelajaran Kontekstual :
1. Kontrukstivisme (constructivism)
Salah satu landasan teoritis pendidikan modern termasuk CTL adalah teori pembelajaran
konstruktivisme. Pendekatan ini pada dasarnya menekankan pentingnya siswa membangun
sendiri pengetahun mereka lewat keterlibatan aktif proses belajar mengajar. Proses belajar
mengajar lebih diwarnai pada pembelajaran siswa aktif. Sebagian besar waktu proses belajar
mengajar berlangsung dengan berbasis pada aktivitas siswa. Menurut Nurhadi kontruktivisme
merupakan landasan berpikir dalam pendekatan belajar Kontekstual, yaitu bahwa pengetahuan
dibangun oleh manusia sedikit demi sedikit, yang hasilnya diperluas melalui konteks yang
terbatas. Dalam hal ini, manusia harus mengkontruksi pengetahuan itu dan memberi makna
melalui pengalaman nyata.
Siswa perlu dibiasakan untuk memecahkan masalah, menemukan sesuatu yang berguna
bagi dirinya, dan bergelut dengan ide-ide. Guru tidak akan mampu memberikan semua
pengetahuan kepada siswa. Siswa harus mengkonstruksikan pengetahuan dibenak mereka
sendiri. Esensi dari teori konstruktivisme adalah ide bahwa siswa harus menemukan dan
mentransformasikan suatu informasi kompleks ke situasi lain, dan apabila dikehendaki informasi
itu menjadi milik mereka sendiri.
Dengan dasar itu pembelajaran harus dikemas menjadi proses mengkonstruksi bukan
menerima pengetahuan. Dalam proses pembelajaran, siswa membangun sendiri pengetahuan
mereka melalui keterlibatan aktif dalam proses belajar dan mengajar. Siswa menjadi pusat
kegiatan bukan guru.
2. Menemukan (inquiri)
Menemukan merupakan kegiatan inti dari proses pembelajaran Kontekstual. Pengetahuan
dan keterampilan yang diperoleh siswa diharapkan bukan hasil mengingat seperangkat fakta-
fakta, tetapi hasil dari menemukan sendiri. Dalam hal ini tugas guru yang harus selalu merancang
kegiatan yang selalu merujuk pada kegiatan menemukan, apapun materi yang diajarkan.
3. Bertanya (questioning)
Bertanya merupakan strategi utama pembelajaran dengan menggunakan pendekatan
Kontekstual. Dalam proses pembelajaran bertanya dipandang sebagai kegiatan guru untuk
mendorong, membimbing, dan menilai kemampuan berpikir siswa. Kegiatan bertanya bagi siswa
yaitu menggali informasi, mengkonfirmasikan apa yang sudah diketahui dan mengarahkan
perhatian pada aspek yang belum diketahuinya. Guru dapat menggunakan teknik bertanya
dengan cara memodelkan keingintahuan siswa dan mendorong siswa agar mengajukan
pertanyaan-pertanyaan. Siswa belajar mengajukan pertanyaan tentang gejala-gejala yang ada,
belajar bagaimana merumuskan pertanyaan-pertanyaan, dan belajar bertanya tentang bukti, dan
penjelasan-penjelasan yang ada. Dalam pembelajaran yang produktif kegiatan bertanya berguna
untuk; (1) Menggali informasi baik administrasi maupun akademis; (2) Mengecek pemahaman
siswa; (3) Membangkitkan respon kepada siswa; (4) Mengetahui sejauh mana keingintahuan
siswa; (6) Mengetahui hal-hal yang sudah diketahui siswa; (7) Memfokuskan perhatian siswa
pada sesuatu yang dikehendaki guru; (8) Untuk membangkitkan lebih banyak lagi pertanyaan
dari siswa; dan (9) Untuk menyegarkan kembali pengetahuan siswa.
4. Masyarakat belajar (learning community)
Konsep masyarakat belajar menyarankan agar hasil pembelajaran diperoleh dari kerja sama
dengan orang lain. Hasil pembelajaran diperoleh dari berbagi antar teman, antar kelompok, dan
antar yang tahu dengan yang tidak tahu. Sehingga menimbulkan komunikasi dua arah, saling
memberikan informasi satu dengan yang lain.
Dalam kelas CTL, penerapan asas masyarakat belajar dapat dilakukan dengan menerapkan
pembelajaran melalui kelompok belajar. Siswa dibagi dalam kelompok-kelompok yang
anggotanya bersifat heterogen, baik dilihat dari kemampuan dan kecepatan belajarnya, maupun
dilihat dari bakat dan minatnya. Biarkan dalam kelompoknya mereka saling membelajarkan,
yang cepat belajar didorong untuk membantu yang lambat belajar, yang memiliki kemampuan
tertentu didorong untuk menularkannya pada yang lain.
5. Pemodelan (modeling)
Pemodelan maksudnya adalah bahwa dalam suatu pembelajaran keterampilan atau
pengetahuan tertentu harus ada model yang ditiru. Pemodelan akan lebih mengefektifkan
pelaksanaan pembelajaran. Prinsip pembelajaran modeling merupakan proses pembelajaran
dengan memperagakan sesuatu sebagai contoh yang dapat ditiru oleh setiap siswa. Proses
modeling tidak terbatas dari guru saja akan tetapi guru dapat memanfaatkan siswa yang dianggap
memiliki kemampuan. Artinya dalam pembelajaran Kontekstual guru bukan satu-satunya model.
Pemodelan dapat dirancang dengan melibatkan siswa. Misalkan siswa yang pernah menjadi juara
dalam olimpiade matematika dapat disuruh untuk menampilkan kebolehannya di depan teman-
temannya, dengan demikian siswa dianggap sebagai model. Modeling merupakan prinsip yang
cukup penting dalam pembelajaran CTL, sebab dengan modeling siswa dapat terhindar dari
pembelajaran yang abstrak.
6. Refleksi (reflection)
Refleksi adalah berpikir kembali tentang materi yang baru dipelajari, merenungkan lagi
aktivitas atau pengetahuan yang baru diterima. Melalui proses refleksi, pengalaman belajar itu
akan dimasukkan dalam struktur kognitif siswa yang pada akhirnya akan menjadi bagian dari
pengetahuan yang dimilikinya. Bisa terjadi melalui proses refleksi siswa akan memperbaharui
pengetahuan yang telah dibentuknya atau menambah khazanah pengetahuannya.
Dalam proses pembelajaran dengan menggunakan Kontekstual, setiap berakhir proses
pembelajaran, guru memberikan kesempatan kepada siswa untuk “merenung” atau mengingat
kembali apa yang telah dipelajari. ”Biarkan secara bebas siswa menafsirkan pengalamannya
sendiri, sehingga ia dapat menyimpulkan tentang pengalaman belajarnya”.
7. Penilaian Sebenarnya ( Authentic Assessment)
Tahap terakhir dari pembelajaran Kontekstual ialah melakukan penilaian sebenarnya.
Penilaian sebagai bagian integral dari pembelajaran memiliki fungsi yang amat menentukan
untuk mendapatkan informasi kualitas proses dan hasil pembelajaran melalui penerapan CTL.
Penilaian sebenarnya adalah penilaian yang dilakukan berkenaan dengan seluruh aktivitas
pembelajaran yang meliputi proses dan produk belajar sehingga seluruh usaha siswa yang telah
dilakukan mendapat penghargaan. Penilaian sebenarnya menilai pengetahuan dan keterampilan
yang diperoleh siswa. Penilaian yang dilakukan tidak hanya dilakukan guru, tetapi bisa juga
teman lain atau orang lain.
Adapun diagram dari ketujuh komponen pembelajaran Kontekstual adalah

Anda mungkin juga menyukai