KATA PENGANTAR
Dengan menyebut nama Allah SWT yang maha pengasih lagi maha penyayang, kami
panjatkan puja dan puji syukur atas kehadiratnya, yang telah melimpahkan rahmat, hidayah,
dan inayahnya kepada kami, sehingga saya dapat menyelesaikan tugas Keperawatan Jiwa 1 ini.
Tugas ini telah saya susun dengan maksimal dan mendapat bantuan dari berbagai buku
sehingga dapat memperlancar pembuatan makalah ini. Terlepas dari semua itu saya menyadari
sepenuhnya bahwa masih ada kekuranagan baik dari segi susunan kalimat maupun tata
bahasanya. Oleh karena itu dengan tangan terbuka kami menerima segala saran dan kritik dari
pembaca agar kami dapat memperbaiki tugas ini.
Akhir kata kami berharap semoga makalah tentang “Terapi Modalitas (Terapi Bermain)” ini
dapat memberikan manfaat maupun inspirasi terhadap pembaca.
Malang, Desember 2021
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Gangguan jiwa atau penyakit jiwa merupakan penyakit dengan multi kausal, suatu
penyakit dengan berbagai penyebab yang sangat bervariasi. Kausa gangguan jiwa selama ini
dikenali meliputi kausa pada area organobiologis, area psikoedukatif, dan area sosiokultural.
Dalam konsep stress-adaptasi penyebab perilaku maladaptif dikostrukkan sebagai tahapan
mulai adanya factor predisposisi, factor presipitasi dalam bentuk stressor pencetus, kemampuan
penilaian terhadap stressor, sumber koping yang dimiliki, dan bagaimana mekanisme koping
yang dipilih oleh seorang individu. Dari sini kemudian baru menentukan apakah perilaku
individu tersebut adaptif atau maladaptif.
Yang dimaksud dengan perilaku adaptif adalah bentuk perilaku yang masih dapat
diterima oleh norma-norma, sosial dan kebudayaan secara umum yang berlaku di masyarakat.
Sedangkan perilaku maladaptif adalah perilaku yang menimbulkan gangguan dengan berbagai
tingkat keparahan (Stuart dan Sundeen, 1998).
Berbagai pendekatan penanganan klien gangguan jiwa inilah yang dimaksud dengan
terapi modalitas. Suatu pendekatan penanganan klien gangguan yang bervariasi yang bertujuan
mengubah perilaku klien gangguan jiwa dengan perilaku maladaptifnya menjadi perilaku yang
adaptif.
1.2 Rumusan Masalah
Dari uraian tersebut, dapat ditarik rumusan masalah sebagai berikut:
1. Apa yang dimaksud dengan terapi modalitas dalam keperawatan kejiwaan ?
2. Apa saja yang termasuk dalam jenis terapi ini ?
3. Apa yang dimaksud dengan terapi biologis dalam keperawatan kejiwaan ?
4. Apa saja yang termasuk dalam jenis terapi biologis / terapi somatic?
5. Apa yang dimaksud dengan terapi kognitif dalam keperawatan kejiwaan ?
6. Apa yang menjadi tujuan diberikannya terapi kognitif?
7. Hal apa saja yang termasuk dalam proses pendekatan teknik kognitif?
1.3 Tujuan Penulisan
Penulisan makalah ini bertujuan untuk mengetahui pengertian terapi modalitas dalam
keperawatan jiwa pada umumnya, dan apa saja jenis terapi modalitas dalam keperawatan jiwa
khususnya jenis terapi biologis dan terapi kognitif serta bagaimana tujuan dan proses yang
dilakukan agar tercapainya terapis bagi klien.
1.4 Metode Penulisan
Penyusunan makalah ini menggunakan metode studi kepustakaan dimana kami
mengumpulkan informasi dari berbagai literatur-literatur kepustakaan. Dan kami tuangkan
kedalam bentuk makalah, yang dijabarkan secara garis besar.
2.1 Pengertian Terapi Modalitas
Terapi modalitas adalah terapi utama dalam keperawatan jiwa. Terapi ini di
berikan dalam upaya mengubah perilaku klien dari perilaku maladaptif menjadi
perilaku adaptif (Keliat, 2004).
Terapi modalitas adalah terapi dalam keperawatan jiwa, dimana perawat
mendasarkan potensi yang dimiliki klien (modal-modality) sebagai titik tolak terapi
atau penyembuhannya (Sarka, 2008).
Gangguan jiwa atau penyakit jiwa merupakan penyakit dengan multi kausal, suatu
penyakit dengan berbagai penyebab yang sangat bervariasi. Kausa gangguan jiwa
selama ini dikenali meliputi kausa pada area organobiologis, area psikoedukatif, dan
area sosiokultural.
Dalam konsep stress-adaptasi penyebab perilaku maladaptive dikostrukkan sebagai
tahapan mulai adanya factor predisposisi, factor presipitasi dalam bentuk stressor
pencetus, kemampuan penilaian terhadap stressor, sumber koping yang dimiliki, dan
bagaimana mekanisme koping yang dipilih oleh seorang individu. Dari sini kemudian
baru menentukan apakah perilaku individu tersebut adaptif atau maladaptive.
Berbagai pendekatan penanganan klien gangguan jiwa inilah yang dimaksud dengan
terapi modalitas. Suatu pendekatan penanganan klien gangguan yang bervariasi yang
bertujuan mengubah perilaku klien gangguan jiwa dengan perilaku maladaptifnya
menjadi perilaku yang adaptif.
2.2 Jenis Terapi Modalitas
Ada beberapa jenis terapi modalitas, antara lain:
a. Terapi individual
Terapi individual adalah penanganan klien gangguan jiwa dengan pendekatan
hubungan individual antara seorang terapis dengan seorang klien. Suatu hubungan yang
terstruktur yang terjalin antara perawat dan klien untuk mengubah perilaku klien.
Hubungan yang dijalin adalah hubungan yang disengaja dengan tujuan terapi, dilakukan
dengan tahapan sistematis (terstruktur) sehingga melalui hubungan ini terjadi perubahan
tingkah laku klien sesuai dengan tujuan yang ditetapkan di awal hubungan.
b. Terapi lingkungan (milleu therapy)
Terapi lingkungan adalah bentuk terapi yaitu menata lingkungan agar terjadi
perubahan perilaku pada klien dari perilaku maladaptive menjadi perilaku adaptif.
Perawat menggunakan semua lingkungan rumah sakit dalam arti terapeutik. Bentuknya
adalah memberi kesempatan klien untuk tumbuh dan berubah perilaku dengan
memfokuskan pada nilai terapeutik dalam aktivitas dan interaksi.
c. Terapi keluarga
Terapi keluarga adalah terapi yang diberikan kepada seluruh anggota keluarga
sebagai unit penanganan (treatment unit). Tujuan terapi keluarga adalah agar keluarga
mampu melaksanakan fungsinya. Untuk itu sasaran utama terapi jenis ini adalah
keluarga yang mengalami disfungsi; tidak bisa melaksanakan fungsi-fungsi yang
dituntut oleh anggotanya.
d. Terapi kelompok
Terapi kelompok adalah bentuk terapi kepada klien yang dibentuk dalam
kelompok, suatu pendekatan perubahan perilaku melalui media kelompok. Dalam terapi
kelompok perawat berinteraksi dengan sekelompok klien secara teratur. Tujuannya
adalah meningkatkan kesadaran diri klien, meningkatkan hubungan interpersonal, dan
mengubah perilaku maladaptive. Tahapannya meliputi: tahap permulaan, fase kerja,
diakhiri tahap terminasi.
e. Terapi perilaku
Anggapan dasar dari terapi perilaku adalah kenyataan bahwa perilaku timbul
akibat proses pembelajaran. Perilaku sehat oleh karenanya dapat dipelajari dan
disubstitusi dari perilaku yang tidak sehat. Teknik dasar yang digunakan dalam terapi
jenis ini adalah:
1. Role model
2. Kondisioning operan
3. Desensitisasi sistematis
4. Pengendalian diri
5. Terapi aversi atau releks kondisi
6. Terapi bermain
Terapi bermain diterapkan karena ada anggapan dasar bahwa anak-anak akan
dapat berkomunikasi dengan baik melalui permainan dari pada dengan ekspresi verbal.
Dengan bermain perawat dapat mengkaji tingkat perkembangan, status emosional anak,
hipotesa diagnostiknya, serta melakukan intervensi untuk mengatasi masalah anak
tersebut.
g. Terapi biologis atau terapi somatic
Merupakan jenis terapi yang memfokuskan penyembuhan klien dengan
menggunakan bantuan obat-obatan yang berfungsi sebagai anti depressan.
h. Terapi kognitif
Terapi perilaku kognitif (atau terapi perilaku kognitif, CBT) adalah sebuah
pendekatan psikoterapi yang bertujuan untuk memecahkan masalah mengenai
disfungsional emosi, perilaku dan kognisi melalui berorientasi tujuan, prosedur
sistematis. Tapi khusus pada pembahasan kali ini kami akan membahas tentang jenis
terapi biologis dan terapi kognitif.
BAB II
KAJIAN TEORI
2.1 Terapi Bermain
1. Pengertian Bermain dan Terapi Bermain
Bermain menurut Hughes, seorang ahli perkembangan anak dalam
bukunya children, play, and development, mengatakan bahwa permainan
merupakan hal yang berbeda dengan belajar dan bekerja. Suatu kegiatan
bermain harus ada lima unsur di dalamnya antara lain: Mempunyai tujuan
yakni untuk mendapatkan kepuasan, Memilih dengan bebas atas kehendak
sendiri tidak ada yang menyuruh ataupun memaksa, Menyenangkan dan
dapat menikmati, Menghayal untuk mengembangkan daya imajinatif dan
kreativitas, Melakukan secara aktif dan standar. 1
Hetherington & Parke mendefinisikan permainan sebagai “a nonserious
and self contained activity engaged in for the sheer sastisfaction it brings.
Jadi permainan bagi anak- anak adalah suatu bentuk aktivitas yang
menyenangkan yang dilakukan semata- mata untuk aktivitas itu sendiri,
bukan karena ingin memperoleh sesuatu yang dihasilkan dari aktivitas
tersebut.
13
Hetherington dan Parke menyebutkan tiga fungsi utama dari permainan
yakni:
1. Fungsi kognitif permainan yang membantu perkembangan kognitif
anak. Dengan melalui permainan ini anak akan lebih mudah
mejelajah lingkungannya serta mempelajari objek- objek yang ada
disekitarnya dan belajar memecahkan masalah yang dihadapinya.
Piget (1962) percaya bahwa stuktur kognitif anak juga perlu untuk
dilatih, dan permainan merupakan seting yang sempurna bagi
latihan ini, melalui permainan anak- anak mungkin akan
mengembangkan kompetensi- kompetensi dan ketrampilan-
ketrampilan yang diperlukannya dengan cara yang menyenangkan.
2. Fungsi sosial permaianan yakni permainan dapat meningkatkan
perkembangan sosial anak, khususnya dalam permainan fantasi
dengan memerankan suatu peran. Anak belajar memahami orang
lain dan peran yang akan ia mainkan dikemudian hari setelah
tumbuh menjadi orang dewasa.
3. Fungsi emosi permainan memungkinkan anak memecahkan
sebagian dari emosionalnya, belajar mengatasi kegelisahan dan
konflik batin. Karena permainan memungkinkan anak melepaskan
energi fisik yang berlebihan dan membebaskan perasaan- perasaan
yang terpendam.
14
Bruner dalam buku Hurlock menyatakan bahwa bermain adalah aktivitas
yang serius, selanjutnya ia menjelaskan bahwa bermain memberikan
kesempatan bagi banyak bentuk belajar. Dua diantaranya yang sangat penting
adalah pemecahan masalah dan kreativitas. Tanpa bermain dasar kreativitas
dan dasar pemecahan masalah tidak dapat diletakkan sebelum anak
mengembangkan kebiasaan untuk menghadapi lingkungan dengan cara yang
tidak kreatif.
2. Pola- Pola Bermain
Hurlock mendefinisikan bermain adalah kegiatan yang dilakukan untuk
kesenangan yang ditimbulkan tanpa mempertimbangkan hasil akhir. Hurlock
juga membagi pola bermainan meurut tingkat perkembangan dari bayi hingga
masa anak- anak:
a. Pola Bermain pada masa bayi
1. Sensomotorik
Merupakan bentuk permainan yang paling awal dan terdiri dari
tendangan, gerakan- gerakan, mengangkat tubuh, bergoyang- goyang,
menggerak- gerakkan jari jemari tangan dan kaki, memanjat, berceloteh
dan menggelinding.
Dengan berkembangnya koordinasi lengan dan tangan, bayi
mulai mengamati tubuhnya dengan menarik rambut, menghisap jari- jari
tangan dan kaki, memasukkan jari kedalam pusar, dan memainkan alat
kelamin. Mulai mengocok, membuang, membanting, menghisab dan
menarik narik mainan dan menjelajah dengan cara menarik,
membanting dan merobek benda- benda yang dapat diraihnya.
2. Meniru
Mencoba untuk menirukan orang- orang yang ada disekitarnya, seperti
halnya membaca majalah, menyapu lantai, atau menulis dengan pensil
dan krayon.
3. Berpura-pura
Selama tahun kedua, kebanyakan anak banyak memberikan sifat kepada
mainannya seperti sifat yang sesungguhnya. Seperti boneka hewan
diberikan sifat seperti hewan. Mobil- mobilan dianggap seperti orang
atau mobil.
15
4. Permainan
Sebelum berusia satu tahun anak mulai memainkan cilukba, petak
umpet dan sebagainya bersama dengan orangtua, dan kakaknya.
5. Hiburan
Bayi senang dinyanyikan, diceritai, dan dibacakan dongeng- dongeng
kebanyakan bayi menyenangi siaran radio dan televisi dan suka melihat
gambar- gambar.
b. Pola Bermain pada masa awal anak- anak
1. Bermain dengan mainan
Pada permulaan masa awal kanak- kanak bermain dengan mainan
merupakan bentuk yang dominan. Minat bermain dengan mainan mulai
agak berkurang pada akhir awal masa kanak- kanak pada saat anak
tidak lagi dapat membayangkan bahwa mainannya mempunyai sifat
hidup.
2. Dramatisasi
Sekitar usia 3 tahun dramatisasi terdiri dari permainan dengan meniru
pengalaman- pengalaman hidup, kemudian anak- anak bermain
permainan pura- pura dengan temannya seperti polisi dan perampok,
penjaga toko, berdasarkan cerita- cerita yang dibacakan kepada mereka
atau bisa juga berdasarkan acara filem dan televisi yang mereka lihat.
3. Konstruksi
Anak- anak mulai membuat bentuk- bentuk dengan balok- balok, pasir,
lumpur, tanah liat, manik- manik, cat, pasta, gunting, krayon, sebagian
besar konstruk yang dibuat merupakan tiruan dari apa yang dilihatnya
dalam kehidupan sehari- hari atau dari televisi. Menjelang berakhirnya
awal masa kanak- kanak, anak- anak sering menambahkan
kereativitasnya kedalam konstruksi- konstruksi yang dibuat berdasarkan
pengamatan- pengamatannya dalam kehidupan sehari- hari.
4. Permainan
Dalam tahun keempat anak mulai lebih mempunyai permainan yang
dimainkan bersama dengan teman- teman sebayanya dari pada
dengan orang- orang dewasa. Permainan ini dapat terdiri dari beberapa
permainan dan melibatkan beberapa peraturan. Permainan yang
menguji ketrampilan adalah melempar dan menangkap bola.
16
5. Membaca
Anak- anak senang dibacakan dan melihat gambar dari buku, yang
sangat menarik adalah dongeng- dongeng dan nyanyian anak- anak,
cerita tentang hewan, dan kejadian sehari- hari.
6. Film radio dan televisi
Anak- anak jarang melihat bioskop namun anak- anak suka melihat
filem kartun, filem tentang binatang, dan filem rumah tentang anggota
keluarga. Anak- anak juga senang mendengarkan radio tetapi lebih
senang melihat televisi. Ia lebih suka melihat acara anak- anak yang
lebih besar dari pada usia prasekolah.
Perkembangan bermain berhubungan dengan perkembangan kecerdasan
seseorang, maka taraf kecerdasan seseorang anak akan mempengaruhi
kegiatan bermainnya. Artinya jika anak memiliki kecerdasan rata- rata,
kegiatan bermain mengalami keterbelakangan dibandingkan dengan anak
seusianya.
Terapi bermain adalah penerapan sistematis dari sekumpulan prinsip
belajar terhadap suatu kondisi perilaku yang bermasalah atau dianggap
menyimpang dengan melakukan suatu perubahan serta menempatkan
anak dalam situasi bermain.
7. Pengaruh Aktivitas Bermain
Menurut Elizabeth B. Horlock, aktivitas bermain memiliki pengaruh
yang besar diantaranya adalah sebagai berikut:8
a. Perkembangan fisik. Bermain aktif penting bagi anak untuk
mengembangkan otot dan melatih seluruh bagian tubuh.
b. Dorongan berkomunikasi. Agar dapat berkomunikasi dengan anak
lain.
c. Penyaluran bagi kebutuhan dan keinginan. Kebutuhan dan keinginan
yang tidak dapat dipenuhi dengan cara lain seringkali dapat dipenuhi
dengan cara bermaian.
d. Sumber belajar. Bermaian memberi kesempatan untuk mempelajari
berbagai hal melalui buku, televisi, majalah, dan lingkungan.
e. Rangsangan bagi kreativitas.
17
f. Perkembangan wawasan diri. Dengan bermain anak mengetahui
tingkat kemampuannya dibandingkan dengan teman bermainnya. Ini
memungkinkan mereka untuk mengembangkan konsep dirinya (self
concept) dengan lebih pasti dan nyata.
g. Belajar bermasyarakat dan bersosialisasi.
h. Belajar bermain sesuai dengan peran dan jenis kelamin.
i. Perkembangan ciri kepribadian yang diinginkan. Hal ini bisa dilihat
dari hubungan dengan anggota kelompok teman sebaya dalam
bermain, belajar bekerja sama, murah hati, jujur, sportif, dan disukai
orang.
2.2 Definisi Perkembangan motorik dan Motorik Kasar
Menurut Hurlock, ketrampilan motorik belum dapat berkembang
sebelum system syaraf dan otot anak berkembang dengan baik, dan mencapai
kematangan, sehingga upaya dalam mengajarkan ketrampilan motorik pada
anak yang belum mencapai kematangan tidak akan memberikan pengaruh
yang signifikan atau tidak akan berarti apa- apa. Saat yang tepat untuk
mengajarkan ketrampilan motorik, terutama kegiatan yang terkoordinasi
adalah ketika anak sudah mencapai kematangan organ- organ yang
berpengaruh terhadap perkembangan motorik, seperti kematangan otot dan
syaraf.9
a. Pola Perkembangan Motorik Menurut Hurlock
Perkembangan motorik mengikuti pola perkembangan, antara lain
sebagai berikut:
1. Continuity (bersifat kontinyu) artinya perkembangan motorik
dimulai dari gerakan yang sederhana menuju ke gerakan yang
lebih komplek, seiring dengan bertambahnya usia.
2. Uniform sequence (memiliki pola tahapan yang sama), dalam hal
ini semua anak memiliki pola tahapan perkembangan motorik yang
sama meskipun tingkat perkembangan setiap anak berbeda.
3. Maturity (kematangan), perkembangan motorik depengaruhi oleh
perkembangan sel syaraf dan berlangsung terus samapai beberapa
tahun kemudian.
4. Gerak yang bersifat umum ke khusus, gerakan secara menyeluruh
dari badan terjadi lebih dahulu sebelum gerakan bagian- bagiannya.
Hal ini disebabkan karena otot- otot besar berkembang lebih dahulu
dibandingkan dengan otot halus.
18
5. Dimulai dari gerak refleks ke gerak yang terkoordinasi, tapi anak
yang lahir di dunia telah memilki gerak refleks, seperti menangis
bila lapar. Gerak refleks tersebut akan menjadi gerak yang
terkoordinasi dan bertujuan seiring dengan usia kematangan anak.
6. Bersifat chepalo caudal derection, artinya bagian yang mendekati
kepala berkembang terlebih dahulu dibandingkan bagian yang
mendekati ekor. Otot pada leher berkembang lebih dahulu dari pada otot
kaki.
7. Bersifat proximo distal, artinya bahwa yang mendekati sumbu tubuh
(tulang belakang) berkembang lebih dahulu dari pada otot yang jauh
dari tulang belakang.
8. Koordinasi bilateral menuju crosslateral artinya bawa koordinasi
organ yang sama berkembang lebih dahulu sebelum bisa melakukan
koordinasi organ bersilangan. Seperti: melempar bola tenis, tangan
kanan terayun.
Perkembangan motorik kasar anak berdasarkan ketrampilan tangan
dan kaki menurut Hurlock dapat dijelaskan sebagai berikut:11
Tabel 2.1 : Perkembangan Motorik Kasar menurut tingakat Usianya
berdasarkan Hurlock.
Ketrampilan tangan Ketrampilan kaki
Anak usia 1-4 tahun Anak usia 1- 4 tahuan
1. Menyisir rambut dan mandi 1. berjalan, merayap, merangkak
2. Mengikat tali sepatu [Link] turun tangga, berlari, dan
sudah bisa keseimbangan dan naik
sepeda roda 3
Anak Usia 5- 6 tahun Anak Usia 5- 6 tahun
1. Melempar dan menangkap bola [Link]
2. Bisa menggunakan gunting [Link] dengan cepat
3. Dapat membentuk dengan tanah [Link] memanjat
liat, membuat kue- kuean dan
menjahit
4. Dapat menggunkan krayon, [Link] dan naik sepeda roda 2
pensil, dan cat untuk mewarnai
gambar
19
5. Dapat menggambar, mengecat [Link] tali, keseimbangan tubuh
gambar, dan menggambar orang saat berjalan diatas dinding atau
pagar, bermain sepatu roda dan
Menari
Anak Uisa 6-10 tahun Anak Usia 6- 10 tahun
Perkembangan ketrampilan Perkembangan ketrampilan kakinya
tangannya lebih berkembang lebih berkembang lagi dan suka olah
Raga
b. Definisi Motorik kasar
Motorik Kasar adalah kemampuan gerak tubuh yang menggunakan
otot-otot besar, sebagian besar atau seluruh anggota tubuh motorik kasar
diperlukan agar anak dapat duduk, menendang, berlari, naik turun tangga
dan sebagainya. Perkembangan motorik kasar anak lebih dahulu berkembang
dari pada motorik halus, misalnya anak akan lebih dahulu
memegang benda- benda yang ukurannya besar dari pada benda yang
ukurannya kecil.
Bambang Sujiono berpendapat bahwa gerak motorik kasar adalah
kemampuan yang membutuhkan koordinasi sebagaian besar bagian tubuh
anak. Gerak motorik kasar melibatkan aktivitas otot- otot besar seperti
tangan, otot kaki dan seluruh tubuh anak.13
Motorik kasar adalah kemampuan yang membutuhkan koordinasi
sebagai besar tubuh anak, oleh karena itu biasanya memerlukan tenaga karena
dilakukan oleh otot- otot yang lebih besar.14
Menurut Yudha M.S menyatakan bahwa motorik kasar adalah
serangkaian gerak tubuh yang dilakukan oleh manusia yang melibatkan otot-
otot kasar (gross muscle), atau gerak anggota tubuh yang dipengaruhi oleh
kematangan anak itu sendiri. Gerak kasar adalah suatu ketrampilan yang
ditampilkan individu dalam beraktivitas dominan dengan menggunakan otot-
otot besarnya. Ketrampilan menggunakan otot- otot besar ini bagi anak
tergolong pada ketrampilan gerak dasar. Ketrampilan gerak dasar dibagi
menjadi tiga kategori. Yaitu: lokomotor, nonlokomotor dan manipulatif.
Diantaranya sebagai berikut:
20
1. Gerak Lokomotor
Gerak lokomotor adalah gerak yang menyebabkan terjadinya
perpindahan tempat atau ketrampilan yang digunakan memindahkan tubuh
dari satu tempat ke tempat yang lainnya. Gerakan ini yang termasuk
adalah berjalan, jelan cepat, berlari, dan melompat.16
2. Gerak non lokomotor
Gerakan nonlokomotor adalah gerakan yang tidak menyebabkan
pelakunya berpindah tempat seperti menelukuk, membengkokkan badan,
membungkuk, menarik, mendorong, merangkak, memutar, mangayun,
memilih, mengangkat, merendahkan tubuh.17
3. Gerakan manipulatif
Gerakan manipulatif biasanya dilukiskan sebagai gerakan yang
mempermainkan obyek tertentu sebagai medianya atau ketrampilan yang
melibatkan kemampuan seseorang dalam menggunakan bagian- bagian
tubuhnya untuk memanipulasi benda diluar dirinya. Menurut Kogan
menyatakan bahwa ketrampilan manipulatif merupakan ketrampilan
yang perlu melibatkan koordinasi antara mata, tangan dan koordinasi
mata- kaki, misalnya: menangkap, melempar, menendang, memukul
dengan pemukul seperti raket, dan tongkat. Sebagian para ahli juga
memasukkan seperti mengetik, dan bermain piano sebagai gerakan
manipulatif. Endang Rini Sukanti menyatakan bahwa aktivitas yang
menggunakan otot- otot besar diantaranya gerakan ketrampilan non
lokomotor, gerakan lokomotor dan gerakan manipulatif. Gerakan non
lokomotor adalah aktivitas gerak tanpa memindahkan tubuh ketempat lain.
Contoh: mendorong, melipat, menarik, membungkuk. Gerak lokomotor
adalah aktivitas gerak yang memindahkan tubuh satu ke tempat lain.
Contohnya, berlari, melompat, jalan dan sebagainya. Sedangkan gerakan
manipulatif adalah aktivitas gerak manipulasi benda. Contohnya
melempar, minggiring, menangkap, dan menendang.
Perkembangan motorik anak tunagrahita ini tidak secepat anak normal.
Dalam penelitian juga menunjukkan bahwa tingkat kesegaran jasmani anak
tunagrahita ini mempunyai MA 2 tahun sampai dengan 12 tahun dalam
kategori kurang sekali. Sedangkan anak normal pada umur yang sama ada
dalam kategori kurang dengan demikian dapat dikatakan bahwa tingkat
perkembangan motorik anak tunagrahita ini mengalami keterlambatan lebih
rendah dibandingkan dengan anak normal.20
21
c. Konsep Perkembangan Motorik Kasar
Konsep perkembangan motorik kasar anak sesuai dengan usia
perkembangannya menurut J.W Santrock sebagai berikut:
1. Perkembangan motorik kasar anak saat berusia 3 tahun. Anak
menikmati gerakan sederhana seperti loncat- loncatan, melompat,
dan lari kesana kemari hanya demi kesenangan murni melakukan
aktivitas tersebut. Mereka dapat berlari melintasi ruangan dan
melompat sejauh 6 inci.
2. Perkembangan motorik kasar anak saat usia 4 tahun. Pada saat usia
4 tahun anak masih suka berpetualang, mereka senang dengan
memanjat dengan tangkas dan menunjukkan kemampuan atletisnya.
Meskipun pada usia 4 tahun ini anak sudah mampu memanjat
tangga dengan menggunakan 1 kaki disetiap anak tangga, mereka
baru mulai mampu menuruni tangga dengan cara yang sama.
3. Perkembangan motorik kasar anak saat berusia 5 tahun. Anak lebih
suka memanjat suatu objek yang dilihatnya, serta mereka dapat
berlari dengan cepat dengan teman- teman sebayanya.
4. Pada usia 6 tahun – 10 tahun anak sudah mulai bermain seperti
memanjat, bermain lompat tali, berenang, dan menaiki serta
mengendarai sepeda, serta olahraga itu merupakan kegiatan yang
dapat membantu perkembangan motorik kasar anak. Itulah dari
tingkat perkembangan motorik kasar yang dilalui oleh setiap anak
pada masa perkembangan yang dilaluinya.
22
Kegiatan yang dilakukan untuk mengembangkan motorik kasar
dasar anak sesuai dengan tingakatan usianya dapat digolongkan sebagai
berikut:
Tabel 2.2: Perkembangan Motorik Kasar Anak berdasarkan
Tingkat Usia (Tumbuh Kembang Anak)
TINGKATAN USIA PERKEMBANGAN MOTORIK KASAR
ANAK
Usia 12 Bulan Anak mulai berjalan tanpa bantuan
Mengambil mainan diluar jangkauan dengan berjalan atau merangkak
Bermain bola dengan cara menggelindingkan bola kearah anak dan
diusahakan anak menggelindingkan bolanya kembali
Membungkuk
Mulaui belajar berjalan dan memanjat tangga
Usia 12- 15 bulan Mulai berjalan sendiri
Berjalan mundur
Muali bisa menarik mainan dengan berjalan
Berjalan anik turun tangga
Berjalan sambil berjinjit
Sudah bisa menangkap dan melempar bola
Usia 15 – 18 bulan Berjalan sambil berjinjit
Naik turun tangga
Berjalan mundur
Sudah bisa main ayunan, dan memanjat
Bermain air, dan berenang
Menendang bola besar
Usia 18- 24 Bulan Berlari
Berjalan jinjit
Bermain dengan air, melempar, menangkap dan menendang bola.
Melompat
Keseimbangan tubuh dengan cara angkat satu kaki dengan cara
bergantian dengan berdiri seimbang
Usia 2 – 3 Tahun Memanjat, dan berlari
Melompat dan melatih keseimbangan badan
Bermain bola
Latihan menghadapi rintangan seperti merangkak, berjinjit, berjalan
diatas titian.
Melempar dan menangkap bola
Usia 3- 4 Tahun Mampu memanjat
Berlari, melompat dan berdiri diatas satu kaki
Bermain bola
Mengendarai sepeda roda 3
Menangkap bola kecil
Berjalan diatas titian mengikuti garis
Melompat dengan 2 kaki dan melompat dengan 1 kaki
23
Melempar benda kecil keatas
Menirukan binatang berjalan seperti halnya katak elompat, jalan angsa
berjongkok
Berjalan jinjit
Usia 4-5 Tahun Bermain dengan bola, lompat satu kaki
Berjalan dietitian dan memanjat
Bermain engklak
Bermain lompat tali
Usia 5 – 6 Tahun Bermain dengan bola
Bermain keseimbangan tubuh
Lompt satu kaki dan lompat jauh
Berlari
Bisa mengendarai sepeda dan sepatu roda
Usia 6- 10 Lebih melanjutkan perkembangan motorik yang sudah ada
24
2.3 Pengertian Tunagrahita
Tunagrahita berasal dari kata tuna dan grahita. Tuna yang berarti
luka atau rusak atau ketiadaan dan grahita dari kata grahito yang berarti
akal. Tinagrahita ditandai dengan ciri utamanya adalah kelemahan dalam
berfikir atau ketidak mampuan dalam berperilaku adaptif.23
Moh Amin, neyatakan bahwa tunagrahita adalah anak yang
memiliki kecerdasan dibawah rata- rata, dan mengalami keterbelakangan
dalam menyesuaikan diri dengan lingkungan. Menurut Kirk & Gallagher
melalui AAMD (American Association on Mental Defeciency)
merumuskan definisi tunagrahita yakni mental retardation refers to
significationtly subverege general intellectual functioning exixting
concurrently with deficits in adaptif behavior and manifested during the
development period. Definisi tersebut menekankan bahwa anak tunagrahita
mengacu pada fungsi intelektual umum yang nyata berada dibawah rata-
rata bersamaan dengan kekurangan dalam adaptasi tingkah laku dan
berlangsung dalam masa perkembangan.24
Tunagrahita (intellectual disability) atau dalam perkembangan
sekarang sering dikenal dengan istilah developmental disability secara
historis terdapat lima basis yang dapat dijadikan pijakan konseptual dalam
memahami tunagrahita. Menurut Herbart J. Prehm dan Philip L.
Browning, 1974 yaitu: a) tunagrahita merupakan kondisi, b) kondisi
tersebut ditandai dengan adanya kemampuan jauh dibawa rata- rata, c)
secara sosial memiliki hambatan dalam penyesuaian diri, d) berkaitan
dengan adanya kerusakan organik pada saraf pusat, e) ketunagrahitaan
tidak dapat [Link] dikategorikan berkelainan mental
subnormal atau tunagrahita, jika ia memiliki tingkat kecerdasan yang
sedemikian rendahnya (dibawah normal), sehingga untuk meneliti tugas
perkembangannya memerlukan bantuan atau layanan secara sepesifik,
termasuk dalam program pendidikannya.
Edgar Doll berpendapat seseorang dikatakan tunagrahita jika: a)
secara sosial tidak cakap, b) secara mental dibawah normal, c)
kecerdasannya terhambat sejak lahir atau pada usia muda, d)
kematangannya terhambat. Sedangkan menurut AAMD, seseorang
dikategorikan tunagrahita apabila kecerdasannya secara umum dibawah
rata- rata dan mengalami kesulitan penyesuaian sosial dalam setiap fase
25
perkembangannya.
1. Klasifikasi Tingkat Intelegensi Tunagrahita
Seorang psikolog mengklasifikasikan tunagrahita berdasarkan
tingkat intelegensinya dan indikasinya dapat dilihat pada angka hasil tes
kecerdasan, seperti IQ 0-25 dikategorikan idiot, IQ 25-50
dikategorikanimbecile, dan IQ 50-75 dikategorikan debil atau moron.
Klasifikasi anak tunagrahita:
1. Anak tunagrahita mampu didik (debil)
Adalah anak tunagrahita yang tidak mampu mengikuti program
sekolah biasa, tetapi ia masih memiliki kemampuan yang dapat
dikembangkan melalui pendidikan walaupun hasilnya tidak
maksimal. Kemampuan yang dapat dikembangkan pada anak
tunagrahita mampu didik antara lain: 1) membaca, menulis,
mengeja, dan berhitung, 2) menyesuaikan diri dan tidak
menggantungkan diri pada orang lain, 3) ketrampilan yang
sederhana untuk kepentingan kerja dikemudian hari.
2. Anak tunagrahita mampu latih (imbecil)
Adalah anak tunagrahita yang memiliki kecerdasan yang
sedemikian rendahnya sehingga tidak mungkin untuk mengikuti
program yang diperuntukkan bagi anak tunagrahita mampu
didik. Kemampuan yang dapat dikembangkan antara lain seperti:
1) belajar mengurus dirinya sendiri misalnya makan, tidur dan
mandi sendiri,
2) belajar menyesuaikan dilingkungan rumah atau sekitarnya,
3) mempelajari kegunaan ekonomi dirumah, dan ketrampilan yang
lain. A
3. Anak tunagrahita mampu rawat (idiot)
Adalah anak tunagrahita yang memiliki kecerdasan sangat rendah
sehingga ia tidak mampu mengurus diri sendiri atau sosialisasi, dan
untuk mengurus diri sendiri sangat membutuhkan orang lain.
Tunagrahita dalam bahasa asing lebih dikenal dengan istilah
mental retardation, mentally retarded, mental deficiency, mental
defective. Istilah- istilah tersebut memiliki maksud yang sama yakni
kondisi anak yang kecerdasannya dibawah rata- rata. Anak tunagrahita
26
adalah anak dengan kondisi hambatan perkembangan dimana
perkembangan MA (Mental age) lebih rendah dari pada perkembangan
CA (Chronological age) dan secara fisik tidak terlihat berbeda dengan
anak normal.29
Mary Beimer/ Smith, Richard [Link] & James R menyatakan
bahwa tunagrahita memiliki ciri- ciri sebagai berikut: 1) ditandai oleh
adanya gangguan mental (kognitif) atau fisik atau kombinasi dari mental
dan fisik, 2) memiliki keterbatasan dalam tiga atau lebih pada aspek
berikut: menolong diri sendiri, bahasa reseptif dan ekspresif, belajar,
mobilitas, mengarahkan diri sendiri, kapasitas untuk hidup mandiri, 3)
membutuhkan treatment atau layanan pendidikan yang sistematis dan
layanan multi disiplin, sepanjang hidupnya.
Retardasi Mental (tunagrahita) adalah fungsi kejiwaan yang
terbelakang atau dengan kata lain tidak berkembang sesuai yang
diharapkan pada anak seusianya. Anak- anak dengan keterbelakangan
mental memiliki kesulitan untuk memiliki hal yang baru. Ketidak
mampuan dapat mempengaruhi semua aspek perkembangan anak, mulai
dari belajar duduk dan berjalan hingga belajar berbicara dan makan.31
Retardasi Mental (tunagrahita) adalah suatu keadaan perkembangan
mental yang terhenti atau tidak lengkap, yang terutama ditandai oleh
adanya ketrampilan selama masa perkembangan, sehingga berpengaruh
pada semua tingkat intelegensi yaitu kemampuan kognitif, bahasa,
motorik dan sosial.32
Menurut pedoman Penggolongan Diagnosis Gangguan Jiwa
(PPDGJ) III, retardasi mental atau (tunagrahita) ialah suatu keadaan
perkembangan jiwa yang terhenti atau tidak lengkap, yang terutama
ditandai oleh terjadinya kendala ketrampilan selama masa perkembangan,
sehingga berpengaruh pada tingkat kecerdasan serta menyeluruh misalnya
kemampuan kognitif, bahasa, motorik, dan sosial.33
2. Penyebab Tunagrahita
Tunagrahita muncul karena otak tidak berkembang dengan baik.
Perkembangan otak dapat dipengaruhi oleh banyak faktor. Penyebabnya
antara lain:
27
1. Terjadinya berbagai gangguan sebelum anak lahir yaitu nutrisi
ibu yang kurang, ibu mengkonsumsi alkohol berlebihan dan
jenis- jenis infeksi tertentu pada ibu (ada beberapa temapat
didunia dimana terdapat kadar yodium yang rendah pada
garam, anak mungkin lahir dengan kondisi fungsi hormon
tiroid yang rendah dan retardasi mental)
2. Gangguan selama persalinan, seperti persalinan terlambat atau
terlilit tali pusar di leher bayi
3. Gangguan dalam satu tahun pertama kehidupan, seperti infeksi
saluran otak, terus berlanjut dan berat, kejang yang tidak
terkontrol, kecelakaan dan malnutrisi berat.
4. Masalah cara merawat anak, seperti kurangnya rangsangan,
kekerasan terhadap anak dan pelentaraan secara emosional.
Tabel. 2.3: Klasifikasi IQ berdasarkan retardasi mental (Tunagrahita)
Kompetensi perilaku
Tingkat retardasi Rentang IQ Prasekolah (0-5 tahun) Usia Sekolah (6-19
Mental tahun)
Ringan 50/ 55-70 Dapat mengembangkan Dapat mempelajari
ketrampilan sosial, retardasi ketrampilan akademis
minimal pada era sensori hingga level kelas 6, dapat
motorik, sehingga seringkali dibimbing untuk
tidak diketahui bedanya hingga konfirmasi sosial.
usia lebih tua.
Menengah 35/40-50/55 Dapat berbicara atau belajar Dapat dilatih ketrampilan
bekomunikasi, kesadaran sosial sosial dan pekerjaan,
yang rendah, ketrampilan kemungkinan tidak naik
motorik sedang, dapat diajari diatas kelas 2, beberapa
latihan menolong diri serta kemandirian di tempat
membutuhkan beberapa yang familiar.
pengawasan
Berat 20/25-35/40 Perkembangan motorik yang Dapat belajar bicara atau
buruk dan ketrampilan bahasa berkomunikasi dapat
yang minimal, umumnya tidak dipilih ketrampilan dasar
dapat dilatih ketrampilan menolong diri dapat
menolong diri, komunikasi dilatih melatih kebiasaan
28
sedikit. yang sistematis
Sangat Berat Dibawah 20 Retardasi yang besar dengan Ada beberapa
atau 25 tahun kapasitas keberfungsian yang perkembangan motorik
minimal dalam area sensoris dapat merespon latihan
motorik, membutuhkan menolong diri yang sangat
perawatan yang intens. bebas.
3. Kriteria dan Kararteristik Retardasi Mental (Tunagrahita)
Kriteria diagnostik retardasi mental menurut DSM-IV-TR yaitu:
a. Fungsi intelektual yang secara signifikan dibawah rata- rata dengan
IQ 70 ke bawah.
b. Daya fungsi adaptasi yang lemah dalam hal ketrampilan sosial
tanggung jawab, komunikasi, ketrampilan hidup sehari- hari,
kesanggupan untuk mencukupi diri sendiri yang lambat jika
dibandingkan dengan usianya.
c. Serangannya muncul sebelum berusia 18 tahun
Retardasi mental atau keterbelakangan mental merupakan masalah
multirasional yang menyangkut beberapa aspek dibawah ini.
a. Aspek medis yaitu adanya perubahan- perubahan dasar dalam otak
misalnya perubahan unsur- unsur yang penting didalam otak,
perubahan metabolisme sel- sel otak dan kurangnya kapasitas
transmisi antarneuron.
b. Aspek psikologis, yaitu adanya gangguan perkembangan fisik,
intelegensi dan emosi pada bayi sampai anak prasekolah,
timbulnya rasa rendah diri akibat kemampuannya lebih rendah dari
pada anak normal.
c. Aspek pendidikan (edukasi) yaitu kesukaan menangkap pelajaran
sehingga perlu pendidikan khusus yang disebut sekolah luar biasa.
d. Aspek perawatan yaitu tidak jarang anak dengan retardasi mental
tidak mampu mengurus kebutuhannya sendiri seperti makan,
minum, dan mandi.
e. Aspek sosial yaitu kurangnya kemampuan daya belajar dan daya
penyesuaian diri sosial sesuai dengan permintaan masyarakat,
sehingga penempatan anak selalu kurang memuaskan.
29
2.4 Definisi Cerebral Palsy dan Hiperaktif
1. Cerebral Palsy
Cerebral Palsy atau CP menurut terminologi adalah suatu istilah
yang digunakan untuk mendiskripsikan kelompok penyakit kronik yang
menangani pusat pengendalian pergerakan dengan manifestasi klinis yang
tampak pada beberapa tahun pertama kehidupan dan secara umum tidak
akan bertambah memburuk pada usia selanjutnya.36
Cerebral palsy lebih tepat dikatakan suatu gejala yang kompleks
dari pada suatu penyakit yang spesifik. CP merupakan kelainan motorik
yang banyak ditemukan pada anak- anak. William Little yang pertama kali
mempublikasikan kelainan ini pada tahun 1843 yang menyebutnya
dengan istilah “celebral diplegia”. konsensus tentang definisi CP yang
baru adalah suatu terminasi yang umum yang meliputi suatu kelompok
kelainan yang bersifat non-progresif, tetapi seringkali berubah dan
menampakkan syndrome kelainan gerak sekunder, sebagai akibat
kerusakan pada susunan saraf pusat diawali perkembangan sel- sel
motorik.37
Cerebral Palsy atau CP dalam bahasa Indonesia bisa dikatakan
sebagai kelumpuhan saraf pusat (KSP), karena cerebral berarti otak dan
palsy berarti lumpuh dan CP ini bukan penyakit turunan dan juga bukan
penyakit menular. Penyebab dari CP ini juga beragam antara
lainkurangnya oksigen di otak sehingga menyebabkan tidak befungsinya
otak (brain damage) dapat disebabkan oleh kecelakan. Dapat juga
sesebabkan karena ibu pada waktu hamil sakit campak, penyakit kelamin,
dan atau bisa juga karena ibu sakit jantung. Kelahiran yang sulit dan lama
juga bisa menyebabkan gangguan CP.
Gejala CP tampak sebagai sprektrum yang menggambarkan variasi
beratnya penyakit. Seseorang dengan CP dapat menampakkan gejala
kesulitan dalam hal motorik misalnya menulis atau menggunakan gunting
dan masalah keseimbangan dan berjalan atau mengenai gerakan involunter
misalnya tidak dapat mengontrol gerakan menulis atau selalu
mengeluarkan air liur. Gejala dapat berbeda pada setiap penderita dan
30
dapat berubah pada seorang penderita.
2. Klasifikasi Cerebral Palsy
CP dapat diklasifikasikan berdasarkan gejala dan tanda klinis
neurologis. Spesifik diplegia, untuk pertama kali di diskripsikan oleh dr.
Little (1860) merupakan salah satu bentuk penyakit yang dikenali
selanjutnya sebagai CP. Hingga saat ini, CP diklasifikasikan berdasarkan
kerusakan gerakan yang terjadi dan dibagi dalam 4 kategori:40
1. CP Spastik
Merupakan bentuk CP yang terbanyak (70-80%), otot mengalami
kekakuan dan secara permanen akan menjadi konstruk, jika
keduatangan mengalami spaditisitas, pada saat seseorang berjalan,
kedu tangan tampak bergerak kaku dan lurus. Gambaran klinis ini
membentuk karakteristik berupa ritme berjalan yang dikenal dengan
gait gunting (scissors gait) (Bryers, 1941). CP Spastik dibagi
berdasarkan jumlah ekstremitas yang terkena yaitu:
a. Monoplegi
Bila hanya mengenai 1 ekstremitas saja, biasanya lengan tangan
kanan.
b. Deplegia
Keempat ekstremitas terkena, tetapi kedua kaki lebih berat dari pada
kedua lengan.
c. Triplegia
Bila mengenai 3 ekstrimitas, yang paling banyak adalah mengenai
kedua lengan dan 1 kaki.
d. Quadriplegia
Keempat ekstrimitas terkena dengan drajat yang sama.
e. Hemiplegia
Mengenai salah satu sisi dari tubuh dan lengan terkena lebih berat.
2. CP atetoid/ diskinetik
Bentuk CP ini mempunyai karakteristik gerakan menulis yang
tidak terkontrol dan berlahan. Gerakan abnormal mengenai tangan,
kaki, lengan atau tungkai dan pada sebagian besar kasus, otot muka dan
lidah, menyebabkan anak tampak menyeringai dan selalu
mengeluarkanair liur. Penderita ini juga mengalami masalah koordinasi
gerakan otot bicara (disartria).
3. CP Ataksid
31
Jarang dijumpai, mengenai keseimbangan dan persepsi dalam.
Penderita yang terkena sering menunjukkan koordinasi yang buruk,
berjalan tidak setabil dengan gaya berjalan kaki terbuka lebar,
meletakkan kedua kaki dengan posisi yang saling berjauhan, kesulitan
dalam melakukan gerakan cepat dan tepat, misalnya menulis atau
mengancingkan baju.
4. CP campuran
Sering ditemukan pada penderita mempunyai lebih dari satu bentuk
CP yang dijabarkan diatas. Bentuk campuran yang sering dijumpai
adalah spatik dan gerakan atetoid tetapi kombinasi lain juga mungkin
dijumpai.
CP juga dapat diklasifikasikan berdasarkan estimasi derajat
penyakit dan kemampuan penderita untuk normal.
32
Tabel 2.4: Klasifikasi CP (Cerebral Palsy)
KLASIFIKASI PERKEMBANGAN GEJALA PENYAKIT
MOTORIK PENYERTA
Minimal Normal, hanya Kelainan tonus sementara Gangguan
terganggu secara Refleks primitive menetap komunikasi
kualitatif terlalu lama Gangguan belajar
Kelainan postur ringan spesifik
Gangguan gerak motor
kasar& halus
Ringan Berjalan umur 24 bulan Beberapa kelainan pada
pemeriksa neurologis
Perkembangan refleks
primitif abnormal
Respon postular terganggu
Gangguan motorik
Gangguan koordinasi
Sedang Berjalan umur 3 tahun Berbagai kelainan Retardasi mental
kadang memerlukan neurologis Gangguan belajar
bracing tidak perlu alat Refleks primitive dan komunikasi
khusus menetap dan kuat Kejang
Respon postural terlambat
Berat Tidak bisa berjalan berbagai kelainan
atau berjalan dengan neurologis
alat bantu kadang perlu respon postural terlambat
oprasi gejala neurologis dominan
refleks primitive menetap
respon postural tidak
muncul
3. Definisi Hiperaktif
Anak Hiperaktif adalah anak yang mengalami gangguan pemusatan
perhatian dengan hiperaktivitas (GPPH) atau attention deficit and
hiperaktif disorder (ADHD). ADHD adalah populer kependekan dari
attention deficit hyperactivity disorder (attention: perhatian, deficit:
berkurang), hiperaktivity: hiperaktif, disorder: gangguan) dan
didefinisikan bahwa kondisi anak- anak yang memperlihatkan simtom-
33
simtom kurang konsentrasi, hiperaktif, dan implusif yang dapat
34
menyebabkan ketidak seimbangan sebagian besar aktivitas hidup
mereka.42
Menurut Sani Budiman Hermawan, Hiperaktif adalah gangguan
tingkah laku yang tidak normal, disebabkan disfungsi neurologis dengan
gejala utama tidak mampu memusatkan perhatian, hiperaktif merupakan
turunan dari Attention Defisit Hiperactivity Disorder atau ADHD.43
4. Faktor- Faktor Hiperaktif
Ganggguan hiperaktif ini disebabkan oleh beberapa faktor
diantaranya adalah kerusakan kecil pada system saraf pusat dan otak
sehingga rentang konsentrasi, penderita menjadi lebih sangat pendek dan
sulit untuk dikendalikan. Penyebab lainnya dalah tempramen bawaan,
pengaruh dari lingkungan, malfungsi otak, dan epilepsi, bisa juga
disebabkan karena adanya gangguan dikepala seperti gagar otak, trauma
kepala karena persalinan sulit, infeksi, keracunan, gizi buruk dan elergi
makanan.
Kriteria dari ADHD dari DSM IV (1994), berikut ini kriteria
ADHD berdasarkan Diagnostic Statistic Manual.
A. Kurang perhatian
Pada kriteria ini, penderita ADHD paling sedikit mengalami enam atau
lebih dari gejala- gejala berikutnya, dan berlangsung selama
palingsedikit 6 bulan sampai satu tingkatan yang maladaptive dan tidak
konsisten dengan tingkat perkembangan.
a. Seringkali gagal memperhatikan baik- baik terhadap sesuatu yang
detail atau membuat kesalahan yang fatal dalam pekerjaan
sekolah dan kegiatan- kegiatan lainnya.
b. Seringkali mengalami kesulitan dalam memusatkan perhatian
terhadap tugas- tugas atau kegiatan bermain.
c. Seringkali tidak mendengarkan jika diajak bicara secara langsung.
d. Seringkali tidak mengikuti baik- baik instruksi dan gagal dalam
menyelesaikan pekerjaan sekolah, pekerjaan atau tugas dari tempat
kerja (bukan disebabkan karena perilaku melawan atau kegagalan
untuk mengerti instruksi).
e. Sering kali mengalai kesulitan dalam mengerjakan tugas dan
kegiatan.
f. Seringkali kehilangan barang/ benda penting untuk tugas- tugas
dan kegiatan- kegiatan misalnya kehilangan permainan, kehilangan
35
tugas sekolah, kehilangan pensil, buku dan alat tulis.
g. Seringkali menghindari, tidak menyukai atau enggan untuk
melaksanakan tugas- tugas yang membutuhkan usaha mental yang
didukung seperti pekerjaan sekolah atau pekerjaan rumah.
h. Sering bingung dan terganggu oleh rangsangan dari luar, dan Sering kali
cepat lupa dalam kegiatan sehari- hari. Hiperaktif Implusif
Paling sedikit enam atau lebih dari gejala- gejala hiperaktif implusif
berikutnya bertahan selama paling sedikit 6 bulan sampai dengan
tingkatan yang maladaptive dan tidak dengan tingkatan perkembangan.
A. Hiperaktif
a. Seringkali gelisah dengan tangan atau kaki mereka dan sering
menggeliat di kursi.
b. Sering meninggalkan tempat duduk di dalam kelas atau dalam situasi
lainnya dimana diharapkan agar anak tetap duduk.
c. Sering berlarian atau naik- naik secara berlebihan dalam situasi
dimana hal ini tidak tepat (pada masa remaja atau dewasa terbatas
pada perasaan gelisah yang subyektif)
d. Sering mengalami kesulitan dalam bermain atau terlibat dalam
kegiatan senggang secara tenang.
e. Sering “bergerak” atau bertindak seolah- olah dikendalikan oleh
motor.
f. Sering berbicara berlebihan
B. Implusifitas
1. Mereka sering memberi jawaban sebelum pertanyaan selesai.
2. Mereka sering mengalami kesulitan menanti giliran
3. Mereka sering menginterupsi atau mengganggu orang lain: misalnya
memotong pembicaraan atau permainan
36
4. Beberapa gejala hiperaktivitas implusif atau kurang perhatian
yang menyebabkan gangguan muncul sebelum anak berusia 7
tahun.
5. Ada suatu gangguan di dua atau lebih setting/ situasi
6. Harus ada gangguan yang secara klinis, signifikan di dalam
fungsi sosial akademik atau pekerjaan.
7. Gejala tidak terjadi selama berlakunya PDD, skizofrenia, atau
gangguan psikotik lainnya, dan tidak dijelaskan dengan baik-
baik oleh gangguan mental lainnya.
5. Ciri- ciri anak Hiperaktif sebagai berikut:
1. Tidak fokus
Anak dengan gangguan hiperaktif tidak bisa berkonsentrasi lebih
dari 5 menit. Dengan kata lain, ia tidak bisa diam dalam waktu lama
dan mudah teralihkan perhatiannya kepada hal lain.
2. Menentang
Anak dengan gangguan hiperaktif umumnya mempunyai sikap
penentang atau pembangkang atau tidak mau dinasehati. Misalnya
penderita akan marah jika dilarang berlari kesana kemari.
3. Destruktif
Pelaku bersifat destruktif atau merusak. Tak kenal lelah
Anak dengan gangguan hiperaktif sering tidak menunjukkan sikap
lelah. Sepanjang hari dia akan selalu bergerak kesana kemari, lompat
lari, berguling dan sebagainya.
4. Tanpa tujuan
Anak hiperaktif juga tidak memiliki sifat sabar. Ketika bermain tidak
mau menunggu giliran. Anak hiperaktif juga sering mengusili teman-
temannya tanpa ada alasan yang jelas, misalnya tiba- tiba memukul,
mendorong, menimpuk, dan sebagainya meskipun tidak ada pemicu
yang harus membuat anak melakukan hal- hal seperti itu.
5. Tidak sabar dan usil
Sering kali intelektualitas anak dengan gangguan hiperaktif berada
dibawa rata- rata anak normal
37
B. Fungsi Terapi Bermain
Andang Ismail juga berpendapat bahwa permainan edukatif memiliki fungsi
untuk:
1. Memberikan ilmu pengetahuan kepada anak melalui proses pembelajaran
bermain sambil belajar.
2. Merangsang pengembangan daya pikir, daya cipta, dan bahasa agar dapat
menumbuhkan sikap, mental, serta akhlak yang baik.
3. Menciptakan lingkungan bermain yang menarik, memberikan rasa aman,
dan
Menyenangkan.
4. Meningkatkan kualitas pembelajaran anak-anak.
C. Alat-Alat Main Media Intervensi
Menurut Landerth, mainan yang digunakan untuk ekspersi diri berupa:
a. Real Life Toys, misalnya boneka keluarga, boneka rumah, boneka
wayang, dan figur lain yang sudah dikenal anak dapat dipakai untuk
mengekspresikan perasaan anak seperti marah, takut, iri, krisis, dan
konflik keluarga. Sedangkan mobil-bus, mobil-truk, perahu dan alat
hitung mainan dapat dijadikan media ekspresi perasaan menantang,
malu,khawatir, dan ingin menyendiri.
b. Acting-out Aggressive Release Toys, alat main yang dapat
menurunkan sifat agresif atau banyak tingkah. Yaitu mainan yang
bersifat structutured toys misalnya tas belanja, boneka tentara, boneka
binatang buas, senjata-senjataan, dan pisau.
c. Toys for Creative Expressive and Emmotional Release, misalnya pasir
dan air yang terkenal sebagai media bermain karena dapat diubahubah
dan sangat baik sekali untuk menumpahkan segala perasaan yang ada
pada benak anak. Miller menyatakan bahwa pasir dan air merupakan
media untuk melakukan kontak sosial dengan lingkungan serta dapat
menggali kemampuan-kemampuan diri anak yang bersangkutan, serta
membangunketerampilan kreativitas membangun suatu bentuk.
38
BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Terapi modalitas merupakan jenis terapi yang digunakan untuk mengubah perilaku
maladaptif klien guna mengatasi masalah gangguan kejiwaan yang dialaminya.
3.2 Saran
Sampai dengan saat ini belum ada jenis terapi modalitas tunggal yang dapat mengatasi
semua masalah gangguan jiwa klien. Kombinasi terapi modalitas merupakan suatu keharusan.
Untuk itu perawat mempunyai peranan yang sangat penting untuk mengkombinasikan berbagai
terapi modalitas sehingga perubahan perilaku yang dicapai akan maksimal. Untuk mencapai
langkah ini tentu diperlukan tingkatan kemampuan perawat dalam melaksanakan berbagai
pendekatan/strategi terapi modalitas ini. Belajar berkelanjutan karenanya menjadi hal yang
wajib dilakukan setiap perawat jiwa.
39
DAFTAR PUSTAKA
Sadock, kaplan. 1997. Sinopsis Psikiatri “Ilmu Pengetahuan Perilaku Psikiatri Klinis”.
Edisi
ketujuh. Jilid Dua. Jakarta Barat: Binarupa Aksara.
Niven, Neil. 1995. Psikologi Kesehatan: Pengantar Untuk Perawat dan Profesional
Kesehatan
Lain. Hal: 207. Edisi kedua. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran, EGC.
Stuart, G.W. dan Laraia, M.T. (2001). Principles and Practice of Psychiatric Nursing. (Ed
ke-7).
St. Louis: Mosby, Inc.
Guze, B., Richeimer, S., dan Siegel, D.J. (1990). The Handbook of Psychiatry. California:
Year
Book Medical Publishers.