0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
3 tayangan206 halaman

Peningkatan Keterampilan Sosial Siswa SMP

Diunggah oleh

Amelia Febriani
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
3 tayangan206 halaman

Peningkatan Keterampilan Sosial Siswa SMP

Diunggah oleh

Amelia Febriani
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

PENINGKATAN KETERAMPILAN SOSIAL MELALUI BIMBINGAN

KELOMPOK BERBASIS COOPERATIVE LEARNING


DI SMP NEGERI 2 PAKEM KELAS VIII C

SKRIPSI

Diajukan kepada Fakultas Ilmu Pendidikan


Universitas Negeri Yogyakarta
untuk Memenuhi Sebagian Persyaratan
guna Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan

Oleh
Eprilia Kusuma Dewi
NIM 08104241008

PROGRAM STUDI BIMBINGAN DAN KONSELING


JURUSAN PSIKOLOGI PENDIDIKAN DAN BIMBINGAN
FAKULTAS ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA
NOVEMBER 2013

i
MOTTO

Sesuatu yang belum dikerjakan, seringkali tampak mustahil, kita baru yakin kalau

kita telah berhasil melakukannya dengan baik.

- Evelyn Underhill -

v
PERSEMBAHAN

Karya ini penulis persembahkan untuk :

1. Ibu, Ayah, Kakak dan seluruh keluarga tercinta.

2. Para dosen yang meluangkan waktunya untuk membimbing.

3. Almamater tercinta, Universitas Negeri Yogyakarta.

4. Teman – teman yang senantiasa membantu dalam penyusunan

5. Keluarga besar SMP Negeri 2 Pakem.

vi
PENINGKATAN KETERAMPILAN SOSIAL MELALUI BIMBINGAN
KELOMPOK BERBASIS COOPERATIVE LEARNING
DI SMP NEGERI 2 PAKEM KELAS VIII C

Oleh:
Eprilia Kusuma Dewi
08104241008

ABSTRAK

Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan keterampilan sosial siswa di


SMP N 2 Pakem kelas VIII C melalui bimbingan kelompok berbasis cooperative
learning. Metode bimbingan kelompok berbasis cooperative learning diharapkan
dapat meningkatkan keterampilan sosial siswa dimana siswa mampu berinisiatif,
bersikap terbuka, dapat bekerjasama dalam tim, berani berbicara di depan orang
lain dan menyelesaikan konflik.
Penelitian ini menggunakan penelitian tindakan dengan subyek penelitian
adalah siswa kelas VIII C SMP N 2 Pakem yang berjumlah 12 siswa yang diambil
dengan menggunakan teknik purposive. Penelitian dilakukan dalam 2 siklus. Pada
siklus pertama dan kedua terdiri atas 5 tindakan. Metode pengumpulan data
menggunakan skala keterampilan sosial yang diuji validitas dan reliabilitasnya.
Analisis data menggunakan kuantitatif deskriptif. Penelitian dimulai dari
penyusunan instrumen, ujicoba instrumen, pelaksanaan pra tindakan keterampilan
sosial, dilanjutkan dengan bimbingan kelompok berbasis cooperative learning.
Hasil penelitian menunjukkan bimbingan kelompok berbasis cooperative
learning dapat meningkatkan keterampilan sosial siswa di SMP N 2 Pakem kelas
VIII C. Hal tersebut dibuktikan dengan perolehan rata-rata pra tindakan sebesar
221,6 menjadi 230,2 pada paska tindakan siklus pertama dan 241,8 pada paska
tindakan siklus kedua.

Kata kunci : bimbingan kelompok berbasis cooperative learning, keterampilan


sosial

vii
KATA PENGANTAR

Puji syukur atas kehadirat Allah SWT, atas segala limpahan rahmat dan

karuniaNya. Hanya dengan ridho dan rahmat Allah SWT peneliti dapat

menyelesaikan karya ini. Skripsi yang berjudul Peningkatan Keterampilan Sosial

melalui Bimbingan Kelompok Berbasis Cooperative Learning di SMP Negeri 2

Pakem Kelas VIII C ini disusun untuk memenuhi sebagian persyaratan guna

memperoleh gelar Sarjana Pendidikan, pada Jurusan Psikologi Pendidikan dan

Bimbingan, Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Yogyakarta.

Peneliti menyadari bahwa penyusunan skripsi ini tidak akan terwujud

tanpa adanya ridho dan rahmat Allah SWT dan juga bantuan dari berbagai pihak.

Oleh karena itu peneliti menyampaikan penghargaan dan rasa terima kasih

kepada:

1. Dekan Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Yogyakarta yang telah

memberikan ijin penelitian.

2. Ketua Jurusan Psikologi Pendidikan dan Bimbingan Universitas Negeri

Yogyakarta yang telah memberikan ijin penelitian.

3. Bapak Dr. Muhammad Nur Wangid, M. Si. dosen pembimbing I yang dengan

sabar dan ikhlas bersedia meluangkan waktu, tenaga dan pikiran untuk

membimbing dalam penyusuna skripsi ini.

4. Ibu Isti Yuni Purwanti, M. Pd. dosen pembimbing II yang dengan sabar, teliti

memberikan arahan, masukan, saran, dan memotivasi saya dalam penulisan

skripsi ini.

viii
5. Seluruh Dosen Jurusan Psikologi Pendidikan dan Bimbingan yang telah

memberikan wawasan, ilmu dan pengalamannya kepada penulis selama

perkuliahan.

6. Kepala Sekolah SMP N 2 Pakem yang telah memberikan ijin penelitian.

7. Ibu Ichwani guru BK SMP N 2 Pakem yang telah banyak membantu dalam

pelaksanaan penelitian.

8. Siswa-siswi SMP N 2 Pakem khususnya kelas VIII C atas kesediaannya dalam

membantu penelitian.

9. Kedua orang tua tercinta dan keluarga besar teriring do’a yang paling tulus

semoga Allah SWT senantiasa merahmati dan memberikan kenikmatan dunia

dan akhirat.

10. Kakak saya Noviana Kusuma Dewi dan Imam Bayu Prasetyo atas segala

motivasinya.

11. Gugun Ramdhan Natapraja yang selalu memberi motivasi untuk

menyelesaikan skripsi ini.

12. Temanku Kadarisman, Vivi, Risma, Hendy yang bersedia memberikan

motivasi, pengarahan dan membantu dalam menyusun skripsi. Yang belum

selesai cepat menyusul.

13. Teman-teman BK semua angkatan, khususnya BK 2008 kelas A yang telah

berbagi suka, duka serta pengalaman yang berharga bagiku. Semoga kita

sukses selalu.

14. Semua pihak yang telah memberikan bantuannya kepada penulis dalam

menyelesaikan skripsi ini yang tidak dapat penulis sebutkan satu persatu.

ix
DAFTAR ISI
hal
HALAMAN JUDUL........................................................................................ i
HALAMAN PERSETUJUAN........................................................................ ii
HALAMAN PERNYATAAN......................................................................... iii
HALAMAN PENGESAHAN......................................................................... iv
HALAMAN MOTTO .................................................................................... v
HALAMAN PERSEMBAHAN...................................................................... vi
ABSTRAK....................................................................................................... vii
KATA PENGANTAR.................................................................................... viii
DAFTAR ISI................................................................................................... xi
DAFTAR TABEL........................................................................................... xv
DAFTAR GAMBAR...................................................................................... xvii
DAFTAR LAMPIRAN.................................................................................. xviii
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah………………………………………………… 1
B. Identifikasi Masalah……………………………………………………... 6
C. Batasan Masalah………………………………………………………… 7
D. Rumusan Masalah……………………………………………………….. 7
E. Tujuan Penelitian………………………………………………………... 7
F. Manfaat Penelitian………………………………………………………. 8
BAB II KAJIAN TEORI
A. Kajian tentang Keterampilan Sosial…….................................................. 9
1. Definisi Keterampilan Sosial…………….......................................... 9
2. Arti Penting Keterampilan Sosial…………………………………… 10
3. Karakteristik Keterampilan Sosial……….......................................... 12
4. Aspek Keterampilan Sosial………………………………………… 16
5. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Keterampilan Sosial…………... 19
6. Upaya Peningkatan Keterampilan Sosial…………………………… 22
B. Kajian tentang Bimbingan Kelompok Berbasis Cooperative Learning.... 23
1. Pengertian Bimbingan Kelompok Berbasis Cooperative Learning.... 23

xi
2. Komponen Layanan Bimbingan Kelompok Berbasis Cooperative
Learning……………………………………………………………………. 26
3. Tujuan Bimbingan Kelompok Berbasis Cooperative Learning……... 27
4. Tahap Bimbingan Kelompok Berbasis Cooperative Learning …….. 30
C. Kajian tentang Remaja……………………............................................... 45
1. Pengertian Remaja .............................................................................. 45
2. Tugas Perkembangan Remaja ............................................................ 46
3. Karakteristik Siswa SMP sebagai Remaja………………………….. 49
D. Kerangka Berpikir ..................................................................................... 55
F. Hipotesis Tindakan .................................................................................. 58
BAB III METODE PENELITIAN
A. Pendekatan Penelitian…………………………………………………… 59
B. Desain Penelitian ..................................................................................... 60
C. Rencana Tindakan…………..…………………………………………… 61
D. Subjek Penelitian………………………………………………………... 67
E. Variabel Penelitian…………………………………………..................... 67
F. Tempat dan Waktu Penelitian…………………………………………… 68
G. Instrumen Penelitian.…………………………………………................. 68
H. Uji Validitas dan Reliabilitas Instrumen..…………………………….... 73
a. Uji Validitas Instrumen.………………………………................ 73
b. Uji Reliabilitas Instrumen..……………………………............... 76
I. Teknik Analisis Data…………………………………………………….. 78
J. Kriteria Keberhasilan................................................................................. 79
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
A. Lokasi Penelitian…………………………………………….................... 80
1. Deskripsi Lokasi Penelitian…………………………………………. 80
B. Data Subyek Penelitian…………………………………………….......... 80
C. Siklus I (Pertama)…………………………………………….................. 81
1. Tindakan Siklus I…………………………………………………… 82
a. Tindakan I....................................................................................... 82
b. Tindakan II..................................................................................... 83
xii
c. Tindakan III.................................................................................... 84
d. Tindakan IV.................................................................................... 87
2. Observasi/Pengamatan Siklus I........................................................... 88
3. Hasil Skala Keterampilan Interpersonal.............................................. 92
4. Wawancara Siklus I............................................................................ 95
5. Refleksi dan Evaluasi Siklus I............................................................. 97
E. Siklus II (Kedua)…………………………………………….................... 98
1. Perencanaan Siklus II……………………………………………….. 98
2. Tindakan Siklus II…………………………………………………... 100
a. Tindakan I……………………………………………………....... 100
b. Tindakan II……………………………………………………..... 100
c. Tindakan III……………………………………………………… 101
d. Tindakan IV……………………………………………………… 104
3. Observasi/Pengamatan Siklus II.......................................................... 105
4. Hasil Skala Keterampilan Interpersonal.............................................. 108
5. Wawancara Siklus II........................................................................... 110
6. Refleksi dan Evaluasi Siklus II........................................................... 111
7. Hasil Tindakan Siklus I dan II............................................................ 114
F. Pembahasan……………………………………………........................... 115
G. Keterbatasan Penelitian………………………………….......................... 121
BAB V KESIMPULAN DAN SARAN
A. Kesimpulan........…………………………………………….................... 122
B. Saran..................…………………………………………….................... 122
DAFTAR PUSTAKA....................................................................................... 124
LAMPIRAN...................................................................................................... 127

xiii
DAFTAR TABEL
hal
Tabel 1. Dimensi Umum Keterampilan Sosial ............................................. ...... 16

Tabel 2. Aspek Keterampilan Sosial ............................................................. ...... 17

Tabel 3. Kisi-Kisi Instrumen Skala Keterampilan Sosial Sebelum Uji ........ ...... 71

Tabel 4. Pedoman Wawancara ...................................................................... ...... 72

Tabel 5. Pedoman Observasi Keterampilan Sosial ....................................... ...... 73

Tabel 6. Rangkuman Item Sahih dan Item Gugur ................................................ 74

Tabel 7. Kisi-Kisi Instrumen Skala Keterampilan Sosial


Setelah Uji Validitas ............................................................................. 75

Tabel 8. Kategori Keterampilan Sosial ................................................................ 79

Tabel 9. Subjek Penelitian ` .................................................................................. 81

Tabel 10. Kategori Keterampilan Sosial .............................................................. 82

Tabel 11. Hasil Skala Pra Tindakan ..................................................................... 83

Tabel 12. Skor Awal Siswa ................................................................................. 84

Tabel 13. Daftar Nama Kelompok ....................................................................... 85

Tabel 14. Nama Tim Hasil Kesepakatan Kelompok ............................................ 85

Tabel 15. Hasil Kuis Game Puzzle ....................................................................... 86

Tabel 16. Hasil Tes Individual Siswa Siklus ....................................................... 88

Tabel 17. Hasil Skor Awal dan Tes Individual ..................................................... 89

Tabel 18. Hasil Kerja Tim Puzzle ......................................................................... 90

Tabel [Link] Rangkuman Tim Ferayoba ...................................................... 90

Tabel 20. Lembar Rangkuman Tim Telmi ........................................................... 91

Tabel 21. Lembar Rangkuman Tim Super ........................................................... 91

xiv
Tabel 22. Rangkuman Hasil Observasi…………………………… .................... 92

Tabel 23. Hasil Penilaian Keterampilan Sosial ..................................................... 95

Tabel 24. Skor Awal Siswa ................................................................................... 100

Tabel 25. Daftar Nama Tiap Kelompok ............................................................... 102

Tabel 26. Nama Kelompok .................................................................................. 102

Tabel 27. Hasil Kuis Puzzle ................................................................................. 103

Tabel 28. Hasil Tes Individual ............................................................................. 105

Tabel 29. Hasil Skor Awal dan Tes Individual ..................................................... 102

Tabel 30. Hasil Kerja Tim Game Puzzle .............................................................. 107

Tabel 31. Lembar Rangkuman Tim Super Mario ................................................ 107

Tabel 32. Lembar Rangkuman Tim Smart ........................................................... 107

Tabel 33. Lembar Rangkuman Tim Wonder ....................................................... 108

Tabel 34. Rangkuman Hasil Observasi……………………………… ................. 108

Tabel 35. Peningkatan Hasil Skala Keterampilan Sosial ..................................... 113

xv
DAFTAR GAMBAR

hal
Gambar 1. Game Puzzle Siklus I ............................................................... 174

Gambar 2. Game Puzzle Siklus II .............................................................. 175

Gambar 3. Rekognisi Prestasi Tim ............................................................. 176

Gambar 4. Foto Bersama Guru BK SMP N 2 Pakem ................................ 181

Gambar 5. Belajar Materi ........................................................................... 181

Gambar 6. Mengerjakan Soal ..................................................................... 181

Gambar 7. Game Menyusun Puzzle ............................................................ 181

Gambar 8. Diskusi Kelompok .................................................................... 181

Gambar 9. Rekognisi Tim ........................................................................... 181

xvi
DAFTAR LAMPIRAN

hal
Lampiran 1. Bentuk Skala Sebelum Ujicoba............................................. 128
Lampiran 2. Bentuk Skala Setelah Ujicoba............................................... 135
Lampiran 3. Uji Validitas dan Reliabilitas................................................ 142
Lampiran 4. Pra Tindakan......................................................................... 150
Lampiran 5. Paska Tindakan Siklus I....................................................... 153
Lampiran 6. Paska Tindakan Siklus II...................................................... 156
Lampiran 7. Materi Keterampilan Sosial.................................................. 159
Lampiran 8. Game Konsentrasi................................................................. 165
Lampiran 9. Lembar Kuis Keterampilan Sosial Siklus I........................... 166
Lampiran 10. Lembar Kuis Keterampilan Sosial Siklus II.......................... 167
Lampiran 11. Hasil Observasi Siklus I........................................................ 171
Lampiran 12. Hasil Observasi Siklus II....................................................... 172
Lampiran 13. Hasil Wawancara Siswa Siklus I........................................... 173
Lampiran 14. Hasil Wawancara Siswa Siklus II.......................................... 174
Lampiran 15. Foto Kegiatan Penelitian....................................................... 175
Lampiran 16. Lembar Skala Sebelum Uji Coba.......................................... 176
Lampiran 17. Lembar Skala Setelah Uji Coba............................................ 178
Lampiran 18. Surat-Surat Penelitian............................................................ 180

xvii
BAB I
PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG
Siswa Sekolah Menengah Pertama (SMP) ditinjau dari usia

tergolong ke dalam masa remaja. Adapun tugas perkembangan remaja

menurut Hurlock (Muhammad Ali, 2008:10) adalah mampu membina

hubungan baik dengan anggota kelompok baik sesama jenis ataupun yang

berlainan jenis. Pada usia remaja pergaulan dan interaksi sosial dengan

teman sebaya bertambah luas dan kompleks dibandingkan dengan masa-

masa sebelumnya, termasuk pergaulan dengan sesama jenis ataupun

berlainan jenis. Tugas perkembangan remaja selanjutnya adalah mencapai

kemandirian emosional dan mengembangkan keterampilan intelektual

yang sangat diperlukan untuk melakukan peran sebagai anggota

masyarakat. Perkembangan intelektual dan emosional juga didapatkan

oleh remaja dalam kelompoknya dengan berdiskusi untuk memecahkan

masalah.

Salah satu bagian terpenting dari tugas perkembangan remaja

adalah dalam perkembangan sosial. Remaja sebagai manusia yang sedang

mengalami peralihan dari masa anak-anak menuju dewasa menurut Gea

(2003: 56) membutuhkan berinteraksi dengan orang lain dalam proses

sebagai hubungan sosial. Perkembangan sosial mempengaruhi remaja

dalam hubungan sosialnya dengan teman sebaya, orangtua dan lainnya.

Dengan demikian, agar remaja dapat bergaul dengan baik dalam

1
kelompoknya diperlukan kompetensi sosial yang berupa keterampilan

sosial dalam berhubungan dengan orang lain.

Keterampilan sosial adalah suatu keterampilan untuk mengatasi

atau menjalani kehidupan sosial dengan baik (Neila Ramdhani, 1994: 96).

Keterampilan sosial merupakan kemampuan berinteraksi dengan orang

lain dalam konteks sosial dengan cara-cara yang khusus yang dapat

diterima secara sosial maupun nilai-nilai dan disaat yang sama berguna

bagi dirinya dan orang lain.

Idealnya siswa haruslah mempunyai keterampilan sosial, yang

meliputi : kemampuan berkomunikasi, kemampuan menjalin hubungan

baik dengan orang lain, kemapuan menghargai diri sendiri dan orang lain,

kemampuan mendengarkan pendapat atau keluhan dari orang lain,

kemampuan memberi dan menerima feedback, kemampuan memberi dan

menerima kritik, berlaku atau bertindak sesuai norma dan aturan yang

berlaku (Lujianto, 2009: 29).

Akan tetapi, yang terjadi di lapangan berbeda dengan yang

diharapkan. Ketika dilakukan observasi di lapangan selama 2 bulan

ketika melaksanakan program KKN PPL di SMP N 2 Pakem, ditemukan

beberapa fakta antara lain: Ada kecenderungan siswa hanya bergaul dan

berkelompok dengan siswa lain yang itu-itu saja. Mereka bergerombol

hanya dengan teman-teman dekatnya saja (gengnya). Sehingga sering

terjadi perselisihan antar kelompok yang menjrus pada perselisihan.

Berdasarkan catatan yang ada di Bimbingan Konseling (BK) SMP N 2

2
Pakem, dalam satu minggu rata-rata terdapat 3 sampai 4 kasus perselisihan

yang menjurus pada pertengkaran dan kerkelahian ringan (Laporan BK

bulan Mei-Juni 2012).

Berdasarkan hasil wawancara dengan Icshwani, S, Pd. (Guru

BK/Wawancara, Mei 2012), dinyatakan bahwa anak-anak lebih sering

menunjukkan ego kelompoknya, sehingga hadirnya kelompok lain

dianggap sebagai pesaing mereka. Akibatnya mereka sulit bekerjasama

dan menjurus pada persiangan yang bersifat negatif. Ini menunjukkan

bahwa siswa yang ada di SMP N 2 Pakem masih kurang memiliki

keterampilan sosial.

Berdasarkan wawancara dengan ST (siswa kelas VIII C), yang

selalu terlihat cenderung diam dan tidak mau ikut serta dalam kegiatan

bersama temannya di dalam maupun di luar kelas. ST menyatakan bahwa

dia mengalami kesulitan bergaul dengan teman-teman lain, sehingga dia

lebih senang menyendiri. Bahkan pada saat jam istirahatpun dia hanya

diam di kelas. Padahal pada saat tersebut banyak teman lain ketika jam

istirahat jajan di kantin atau paling tidak sekedar bercanda bersama teman-

temannya di depan kelas.

Fenomena ini juga dialami oleh beberapa teman ST, yaitu BK,

DW dan MY, yang berdasarkan pengamatan selama hampir 2 bulan,

menunjukkan gejala hanya melakukan interaksi sosial yang terbatas.

Mereka hanya menjalin hubungan hanya dengan teman dekatnya saja.

3
Mereka membatasi diri dengan siswa lain dan terkesan sungkan untuk

bergabung dengan siswa lain.

Sementara itu, masalah lain yang dapat diamati adalah adanya

siswa yang kurang disukai oleh temannya karena sulit mengontrol amarah

dengan suka bertengkar. Siswa ini jika digoda siswa lain sedikit saja

langsung marah, bahkan dia langsung mengajak berkelahi siswa yang

menyinggungnya. Sementara siswa yang tidak suka bercanda hanya diam

dan bersikap acuh.

Masalah akademik yang muncul adalah kurang antusiasnya siswa

dalam mendengarkan guru di dalam kelas. Dari informasi guru BK,

banyak guru mata pelajaran mengeluh bahwa banyak siswa yang tidak

mendengarkan guru di dalam kelas ketika kegiatan belajar mengajar

sedang berlangsung. Mereka asik mengobrol di dalam kelas dengan teman

sebangkunya tanpa memperdulikan guru yang sedang menjelaskan di

depan kelas. Sedangkan dalam kegiatan diskusi siswa cenderung pasif,

bahkan ketika diberikan pertanyaan oleh guru tidak sedikit siswa yang

hanya diam.

Fenomena kurangnya keterampilan sosial yang terlihat adalah

dengan banyaknya siswa yang sering melanggar peraturan sekolah.

Ditemukan fakta selama observasi, pada hari Senin siswa perempuan tidak

memai jilbab, padahal peraturan sekolah mewajibkan untuk memakai

jilbab. Mereka secara sengaja tidak memakai jilbab atau ketika istirahat

melepas jilbabnya. Sementara itu, banyak juga siswa yang terlambat ketika

4
datang ke sekolah. Bahkan beberapa siswa juga ada yang membolos ketika

pelajaran tertentu. Masalah lain yang ditemukan adalah keluhan dari guru

mata pelajaran kepada guru BK karena masih banyak siswa yang tidak

mengerjakan pekerjaan rumah (PR) atau tidak menyelesaikan tugas yang

telah diberikan oleh guru (Laporan BK Mei-Juni 2012).

Dari pemaparan tersebut di atas dapat diketahui bahwa mayoritas

siswa kelas VIII C SMPN 2 Pakem terindikasi kurang memiliki

keterampilan sosial. Pihak guru BK menurut Ichwani, [Link]. (Guru

BK/Wawancara, Mei 2012) selama ini telah melakukan pendekatan dalam

menangani permasalahan tersebut, antara lain dengan berbicara dan

melakukan interaksi bersama siswa-siswa yang tersebut. Tujuannya

adalah agar mereka dapat membuka diri dan dapat berinteraksi lebih luas

dengan orang lain. Namun keterbatasan jam untuk BK di SMP N 2 Pakem

menjadikan guru BK tidak dapat melakukan bimbingan individual atau

bimbingan kelompok secara intens. Dengan demikian diperlukan upaya

lain guna mengatasi permasalahan rendahnya keterampilan sosial siswa.

Gagasan yang akan dilakukan dalam upaya peningkatan

keterampilan sosial adalah dengan menggunakan teknik bimbingan

kelompok berbasis cooperative learning. Menurut Isjoni (2007: 15)

cooperative learning mengandung arti bekerja sama dalam mencapai

tujuan bersama.

Secara teoritik, keunggulan dari teknik bimbingan kelompok adalah

dapat melatih siswa untuk dapat hidup secara berkelompok dan

5
menumbuhkan kerjasama antara siswa dalam mengatasi masalah, melatih

siswa untuk dapat mengemukakan pendapat dan menghargai pendapat

orang lain dan dapat meningkatkan kemampuan siswa untuk dapat

berkomunikasi dengan teman sebaya dan pembimbing. Sebagaimana

dikemukakan oleh Prayitno (1995: 67) bahwa secara umum layanan

bimbingan kelompok bertujuan untuk pengembangan kemampuan

bersosialisasi, khususnya kemampuan berkomunikasi siswa.

Sehingga pada penelitian ini, metode bimbingan kelompok akan

dipadukan dengan cooperative learning dalam upaya meningkatkan

keterampilan sosial siswa, dalam bentuk penelitian tindakan kelas (PTK).

B. IDENTIFIKASI MASALAH

Berdasarkan permasalahan tersebut, maka dapat diidentifikasikan

permasalahan yang ada di SMP N 2 Pakem adalah:

1. Ada kecenderungan siswa hanya bergaul secara terbatas dengan teman

dekatnya saja.

2. Siswa yang berkelompok memiliki kecenderungan tidak dapat

berinteraksi kelompok dengan siswa lain secara positif.

3. Banyak siswa yang masih melanggar peraturan sekolah.

4. Mayoritas siswa masih terlihat pasif dalam kegiatan pembelajaran

dalam kelas.

5. Keterampilan sosial siswa masih rendah.

6. Proses bimbingan dalam mengatasi rendahnya keterampilan sosial

belum maksimal.

6
C. PEMBATASAN MASALAH

Berdasarkan beberapa permasalahan pada identifikasi masalah,

maka penelitian ini dibatasi pada:

1. Masalah yang akan diteliti adalah mengenai upaya peningkatan

keterampilan sosial siswa di SMP N 2 Pakem khususnya kelas VIII C

yang masih rendah.

2. Upaya meningkatkan keterampilan sosial tersebut dilakukan dengan

menggunakan metode Bimbingan Kelompok berbasis Cooperative

Learning.

D. PERUMUSAN MASALAH

Berdasarkan latar belakang dan identifikasi masalah di atas, maka

rumusan masalah dalam penelitian ini adalah bagaimana upaya

peningkatan teknik bimbingan kelompok berbasis cooperative learning ini

dapat meningkatkan keterampilan sosial siswa kelas VIII-C di SMP N 2

Pakem?

E. TUJUAN PENELITIAN

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui teknik bimbingan

kelompok berbasis cooperative learning ini dapat meningkatkan

ketrampilan sosial siswa kelas VIII-C di SMP N 2 Pakem.

7
F. MANFAAT PENELITIAN

Manfaat penelitian ini adalah :

1. Bagi sekolah, sebagai bentuk pengembangan bagi guru BK dalam

upaya meningkatkan keterampilan sosial pada siswa di sekolah

melalui Bimbingan Kelompok.

2. Bagi siswa, berguna bagi pengembangan keterampilan sosial siswa

agar dapat berinteraksi dengan baik.

3. Bagi peneliti, menjadikan penelitian ini sebagai wawasan dan

pengalaman dalam memberikan bimbingan pribadi dan kelompok bagi

siswa, sehingga merupakan bekal berharga dalam nejalankan profesi

sebagai guru Bimbingan dan Konseling.

8
BAB II
KAJIAN PUSTAKA

A. Kajian Keterampilan Sosial

1. Definisi Keterampilan Sosial

Keterampilan sosial menurut Libet dan Lewinsohn (Cartledge dan

Milburn, 1995: 3) didefinisikan sebagai kemampuan yang kompleks untuk

menunjukkan perilaku yang baik dinilai secara positif atau negative oleh

lingkungan, dan jika perilaku itu tidak baik akan diberikan punishment oleh

lingkungan.

Andi Mappiare (2006: 312) memberikan pengertian tentang

keterampilan sosial (social skills) sebagai keterampilan antar pribadi yang

berkaitan dengan interaksi social. Menurut Neila Ramdhani (1994: 39)

keterampilan sosial merupakan suatu keterampilan yang diperoleh individu

melalui proses belajar, mengenai cara-cara mengatasi atau melakukan

hubungan sosial dengan tepat dan baik. Keterampilan sosial juga merupakan

suatu keterampilan untuk mengatasi atau menjalani kehidupan sosial dengan

baik.

Sedangkan menurut Sri Sunarni (2000: 23), dinyatakan bahwa

keterampilan sosial sangat dibutuhkan manusia karena dengan keterampilan

ini seseorang dapat menghadapi dan mengatasi masalah yang dijumpai

dalam kehidupan sosialnya.

Berdasarkan beberapa pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa

keterampilan sosial merupakan kemampuan yang berkaitan dengan

9
perilaku diri yang digunakan selama melakukan interaksi dengan orang

lain secara efektif, dimana seseorang mampu menunjukkan perilaku diri

yang baik dan dapat menyesuaikan diri dalam lingkungan, serta dapat

menjalankan tugasnya sesuai dengan perannya.

2. Arti Penting Keterampilan sosial

Johnson dan Johnson (1999: 201-210) mengemukakan 6 hasil

penting dari memiliki keterampilan sosial, yaitu :

a. Perkembangan Kepribadian dan Identitas

Hasil pertama adalah perkembangan kepribadian dan identitas karena

kebanyakan dari identitas masyarakat dibentuk dari hubungannya

dengan orang lain. Sebagai hasil dari berinteraksi dengan orang lain,

individu mempunyai pemahaman yang lebih baik tentang diri sendiri.

Individu yang rendah dalam keterampilan interpersonalnya dapat

mengubah hubungan dengan orang lain dan cenderung untuk

mengembangkan pandanagn yang tidak akurat dan tidak tepat tentang

dirinya.

b. Mengembangkan kemampuan kerja, produktivitas, dan kesuksesan

karir

Keterampilan sosial juga cenderung mengembangkan kemampuan

kerja, produktivitas, dan kesuksesan karir, yang merupakan

keterampilan umum yang dibutuhkan dalam dunia kerja nyata.

Keterampilan yang paling penting, karena dapat digunakan untuk

bayaran kerja yang lebih tinggi, mengajak orang lain untuk bekerja

10
sama, memimpin orang lain, mengatasi situasi yang kompleks, dan

menolong mengatasi permasalahan orang lain yang berhubungan

dengan dunia kerja.

c. Meningkatkan kualitas hidup

Meningkatkan kualitas hidup adalah hasil positif lainnya dari

keterampilan sosial karena setiap individu membutuhkan hubungan

yang baik, dekat, dan intim dengan individu lainnya.

d. Meningkatkan kesehatan fisik

Hubungan yang baik dan saling mendukung akan mempengaruhi

kesehatan fisik. Penelitian menunjukkan hubungan yang berkualitas

tinggi berhubungan dengan hidup yang panjang dan dapat pulih dengan

cepat dari sakit.

e. Meningkatkan kesehatan psikologis

Penelitian menunjukkan bahwa kesehatan psikologis yang kuat

dipengaruhi oleh hubungan positif dan dukungan dari orang lain.

Ketidakmampuan mengembangkan dan mempertahankan hubungan

yang positif dengan orang lain dapat mengarah pada kecemasan,

depresi, frustasi, dan kesepian. Telah dibuktikan bahwa kewmampuan

membangun hubungan yang positif dengan orang lain dapat

mengurangi distress psikologis, yang menciptakan kebebasan, identitas

diri, dan harga diri.

11
f. Kemampuan mengatasi stress

Hasil lain yang tidak kalah pentingnya dari memiliki keterampilan

sosial adalah kemampuan mengatasi stress. Hubungan yang saling

mendukung telah menunjukkan berkurangnya jumlah penderita stress

dan mengurangi kecemasan. Hubungan yang baik dapat membantu

individu dalam mengatasi stress dengan memberikan perhatian,

informasi, dan feedback.

Berdasarkan pendapat diatas, dapat disimpulkan keterampilan sosial

mempunyai arti penting, khususnya untuk remaja yang sedang mengalami

tahap perkembangan. Arti penting keterampilan sosial meliputi

perkembangan kepribadian dan identitas, mengembangkan kemampuan

kerja, produktivitas, dan kesuksesan karir, meningkatkan kualitas hidup,

meningkatkan kesehatan fisik, meningkatkan kesehatan psikologis dan

kemampuan mengatasi masalah.

3. Karakteristik Keterampilan Sosial

Karakteristik keterampilan sosial menurut Kaili Chen (Lujianto,

2009: 29) ini meliputi:

a. Memahami dan mengatur emosi diri maupun orang lain (kontrol


emosi).
b. Merespon orang lain dan mengarahkan tindakan sosial (sikap
sosial).
c. Interaksi dan berkomunikasi secara verbal maupun non verbal
(komunikasi).
d. Bertanggung jawab atas tindakan (tanggung jawab).
e. Memperhatikan orang lain (peduli).

Secara lebih spesifik, Elksnin dan Elksnin (2007: 176)

mengidentifikasikan keterampilan sosial dengan beberapa ciri, antara lain:

12
a. Perilaku Interpersonal

Perilaku interpersonal adalah perilaku yang menyangkut

keterampilan yang digunakan selama melakukan interaksi sosial yang

disebut dengan keterampilan menjalin persahabatan. Misalnya

memperkenalkan diri, menawarkan bantuan, dan memberikan atau

menerima pujian.

b. Perilaku yang Berhubungan dengan Diri Sendiri

Perilaku ini merupakan ciri dari seorang yang dapat mengatur

dirinya sendiri dalam situasi sosial, seperti: keterampilan menghadapi stress,

memahami perasaan orang lain, mengontrol kemarahan dan sebagainya.

c. Perilaku yang Berhubungan dengan Kesuksesan Akademis

Perilaku ini berhubungan dengan hal-hal yang mendukung prestasi

belajar di sekolah, seperti: mendengarkan guru, mengerjakan pekerjaan

sekolah dengan baik, dan mengikuti aturan-aturan yang berlaku di sekolah.

d. Penerimaan Teman Sebaya (Peer Acceptance)

Hal ini didasarkan bahwa individu yang mempunyai keterampilan

sosial yang rendah akan cenderung ditolak oleh teman-temannya, karena

mereka tidak dapat bergaul dengan baik. Beberapa bentuk perilaku yang

dimaksud adalah: memberi dan menerima informasi, dapat menangkap

dengan tepat emosi orang lain, dan sebagainya.

13
e. Keterampilan Berkomunikasi

Keterampilan ini sangat diperlukan untuk menjalin hubungan sosial

yang baik, berupa pemberian umpan balik dan perhatian terhadap lawan

bicara, dan menjadi pendengar yang responsif.

Berdasarkan beberapa pendapat di atas memuat indikator perilaku

sebagai berikut:

a. Komunikasi : terlibat aktif dalam interaksi sosial.

b. Pengaturan diri : mengatur diri sendiri dalam situasi sosial.

c. Control emosi : mengatur dan mengendalikan emosi

d. Tanggung jawab : menyelesaikan tugas atau pekerjaan.

e. Tata karma : mematuhi aturan atau norma

Social skill atau kecakapan sosial sebagai bagian dari life skills

meliputi dua hal sebagai berikut (Anwar Kurnia, 2006: 30):

a. Kecakapan berkomunikasi dengan empati (communication skills)

Kecakapan ini berarti komunikasi yang bukan hanya sekedar

penyampaian pesan tetapi menyangkut isi dan sampainya pesan yang

disertai dengan kesan baik yang menimbulkan hubungan harmonis.

Keterampilan komunikasi meliputi: memberikan umpan balik,

mengungkap perasaan, mendukung dan menanggapi orang lain, serta

menerima diri sendiri dan orang lain.

b. Kecakapan bekerjasama (collaboration skills)

Kecakapan ini meliputi:

1) Memahami dan menerima peran yang berbeda.

14
2) Memfasilitasi kelompok agar lebih efektif.

3) Menggunakan sumber daya secara efektif.

4) Bekerja dengan suatu populasi yang berbeda.

5) Respon dalam hubungan yang komplek.

Sedangkan menurut Caldarella dan Merrell (Merrell & Gimpel 1998:

36) terdapat 5 (lima) dimensi paling umum yang terdapat dalam

keterampilan sosial,yaitu :

a. Hubungan dengan teman sebaya (Peer relation), ditunjukkan

melalui perilaku yang positif terhadap teman sebaya seperti memuji

atau menasehati orang lain, menawarkan bantuan kepada orang lain,

dan bermain bersama orang lain.

b. Manajemen diri (Self-management), merefleksikan remaja yang

memiliki emosional yang baik, yang mampu untuk mengontrol

emosinya, mengikuti peraturan dan batasan-batasan yang ada, dapat

menerima kritikan dengan baik.

c. Kemampuan akademis (Academic), ditunjukkan melalui pemenuhan

tugas secara mandiri, menyelesaikan tugas individual, menjalankan

arahan guru dengan baik.

d. Kepatuhan (Compliance), menunjukkan remaja yang dapat

mengikuti peraturan dan harapan, menggunakan waktu dengan baik,

dan membagikan sesuatu.

15
e. Perilaku assertive (Assertion), didominasi oleh kemampuan-

kemampuan yang membuat seorang remaja dapat menampilkan

perilaku yang tepat dalam situasi yang diharapkan.

Tabel [Link] Umum Keterampilan Sosial


Dimensi Pola Perilaku
Hubungan dengan teman sebaya Interaksi sosial, prososial, empati,
(peer relation) partisipasi sosial, kemampuan sosial pada teman
sebaya.
Manajemen diri (Self Kontrol diri, kompetensi sosial,
management) tanggung jawab sosial, peraturan,
toleransi terhadap frustasi.
Kemampuan akademis Penyesuaian sekolah, kepedulian pada
(academic) peraturan sekolah, orientasi tugas,
tanggung jawab akademis, kepatuhan di
kelas, murid yang baik

Kepatuhan (Compliance) Kerjasama secara sosial, kompetensi,


Perilaku Asertif (Assertion) Perilaku Asertif (Assertion) Keterampilan sosial
asertif, social
initiation, social activator, gutsy

Dari beberapa identifikasi di atas, secara umum keterampilan sosial

dapat dilihat dari tiga bentuk yaitu:

a. Interaksi sosial meliputi komunikasi, peduli, dan kerjasama.

b. Penyesuaian sosial meliputi pengaturan diri, kontrol emosi, dan sikap

sosial.

c. Pemecahan masalah sosial meliputi penyelesaian konflik, tanggung

jawab, dan tata karma.

4. Aspek Keterampilan Sosial

Stephens mengelompokkan keterampilan sosial menjadi empat aspek

yaitu “environmental, interpersonal, self-related, and task-related

16
behaviors” (Cartledge&Milburn, 1995: 17). Aspek keterampilan sosial

dapat dilihat pada tabel dibawah ini:

Tabel 2. Aspek Keterampilan Sosial


Perilaku diri Perilaku lingkungan
Menerima konsekuensi Peduli lingkungan
Perilaku etika Peka dengan keadaan darurat
Mengekspresikan perasaan
Perilaku respon
Perduli terhadap diri sendiri
Perilaku terkait tugas Perilaku interpersonal
Bertanya dan menjawab Mengatasi konflik
pertanyaan Menunjukan perhatian
Memperhatiakn penjelasan Mengucapkan salam
Diskusi kelas Membantu orang lain
Menyelesaikan tugas-tugas Membuat percakapan
Mengikuti arah/ peraturan Berorganisasi
Kegiatan kelompok Mampu menerima orang lain apa
Mengerjakan tugas adanya
Menunjukkan diri Mengatur diri

Pengelompokkan komponen di atas dapat dijelaskan bahwa

keterampilan sosial mengandung beberapa hal sebagai berikut:

a. Memahami dan menerima konsekuensi sosial

b. Mengarahkan perilaku sesuai etika

c. Mengekspresikan perasaan

d. Mengatasi konflik

e. Memperhatikan orang lain

f. Bekerjasama dengan orang lain

17
g. Mengatur diri dalam situasi sosial

h. Peduli kepada sesama

i. Peka terhadap keadaan darurat

j. Memahami dan menghargai orang lain

k. Aktif bertanya dan menjawab pertanyaan

l. Memeperhatikan penjelasan guru

m. Aktif dalam diskusi dan kegiatan kelompok

n. Mengerjakan tugas

o. Berperilaku sesuai aturan

Berdasarkan beberapa aspek di atas dapat dilihat bahwa aspek

keterampilan sosial meliputi; perilaku diri, perilaku lingkungan, perilaku

terkait tugas, perilaku interpersonal.

5. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Keterampilan Sosial

Sunarto dan Hartono (1995: 130) mengungkapkan bahwa faktor-

faktor yang mempengaruhi perkembangan keterampilan anak diantaranya

adalah :

a. Faktor Internal

Adalah faktor-faktor yang berasal dari dalam diri individu antara lain

kapasitas mental, emosi dan intelegensi serta kematanagan harga diri.

1) Kapasitas Mental, Emosi dan Intelegensi

Anak berkemampuan intelektual tinggi akan berkemampuan berbahasa

secara baik. Oleh karena itu, kemampuan intelektual tinggi, kemampuan

18
berbahasa baik dan pengendalian emosional seara seimbang sangat

menetukan keberhasilan dalam perkembangan sosial anak.

2) Kematangan

Bersosialisasi membutuhkan kematangan fisik dan psikis. Untuk mampu

mempertimbangkan dalam proses sosial memberi dan menerima

pendapat orang lain, memerlukan kematangan intelektual dan

emosional.

b. Faktor Eksternal

Adalah faktor yang berasal dari lingkungan yang berpengaruh

terhadap perilaku sosial anak,anatara lain : faktor keluarga, status sosial

ekonomi, pendidikan.

1) Keluarga

a) Lingkungan rumah

Jika lingkungan rumah secara keseluruhan memupuk sikap sosial yang

baik kemungkina besar anaka akan menjadi pribadi sosial dan

sebaliknya.

b) Hubungan antara ayah dan ibu, anak dan saudaranya mempunyai

pengaruh yang sangat kuat.

c) Posisi anak dan keluarga. Anak yang lebih tua atau yang jarak

umurnya dengan saudaranya terlalu jauh, atau satu-satunya anak yg

jenis kelaminnya lain dari saudara-saudaranya, cenderung lebih banyak

menyendiri ketika bersama anak-anak lain. Anak yang jenis

kelaminnya sama dengan saudara-saudaranya menemukan kesulitan

19
dalam bergaul dengan teman yang jenis kelaminnya berlainan tetapi

mudah membina pergaulan dengan anak yang jenis kelamnnya sama.

d) Ukuran keluarga

Sebagai contoh, anak tunggal sering mendapatkann perhatian yang

lebih dari semestinya. Akibatnya mereka mengharapkan perlakuan

yang sama dari orang luar dan kesal jika meraekan tidak

mendapatkannya.

e) Perilaku sosial dan sikap anak mencerminkan perilaku yang diterima

dirumah.

Anak yang merasa ditolak oleh orag tua mungkin akan suka meneyndir

dan menjadi introvert. Sebalaiknya penerimaan dan sikap orang tua

yang penuh cinta kasih mendorong anak bersikap ekstrovert.

2) Status Sosial Ekonomi

Kehidupan sosial banyak dipengaruhi oleh kondisi sosial ekonmi

keluarga dalam masyarkat. Perilaku anak akan banyak memperhatikan

kondisi normative yang telah ditanamkan oleh kelaurga.

3) Lingkungan

Sejak dini anak-anak harus sudah diperkenalkan dengan lingkungan.

Lingkungan dalam batasan ini meliputi lingkungan fisik (rumah,

pekarangan) dan lingkungan sosial (tetangga). Lingkungan juga meliputi

lingkungan keluarga (keluarga primer dan sekunder), lingkungan sekolah

dan lingkungan masyarakat luas. Dengan pengenalan lingkungan maka

sejak dini anak sudah mengetahui bahwa dia memiliki lingkungan sosial

20
yang luas, tidak hanya terdiri dari orang tua, saudara, atau kakek dan nenek

saja.

Berdasarkan pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa faktor

keterampilan sosial meliputi 2, yaitu faktor internal dan faktor eksternal.

Faktor internal adalah faktor yang berasal dari dalam diri individu yang

meliputi kapasitas mental, emosi dan intelegensi serta kematangan harga

diri. Sedangkan faktor eksternal adalah faktor yang berasal dari lingkungan

yang berpengaruh terhadap perilaku sosial anak yang meliputi faktor

keluarga, status sosial ekonomi, dan lingkungan.

6. Upaya Peningkatan Keterampilan Sosial

Prayitno (1995: 67) mengemukakan bahwa dalam layanan

bimbingan dan konseling terdapat beberapa metode layanan bimbingan

yaitu, layanan bimbingan kelompok, layanan bimbingan individual dan

layanan bimbingan klasikal. Secara umum layanan bimbingan kelompok

bertujuan untuk pengembangan kemampuan bersosialisasi, khususnya

kemampuan berkomunikasi siswa.

Oleh karena itu, dalam meningkatkan keterampilan sosial, layanan

bimbingan kelompok dirasa lebih efisien karena dalam meningkatkan

keterampilan sosial diharapkan siswa dapat berinteraksi dengan siswa

lainnya. Slavin (2005: 203) mengembangkan teori cooperative learning.

Dimana model pembelajaran cooperative learning menekankan pada kerja

kelompok.

21
Menurut Ibrahim (2000: 10) bahwa tujuan utama pembelajaran

cooperative learning dalam kegiatan mengajar adalah : 1) hasil belajar 2)

penerimaan terhadap keragaman 3) pengembangan keterampilan sosial.

Stahl (1994: 101) mengemukakan bahwa dengan melaksanakan

model pembelajaran cooperative learning siswa dimungkinkan dapat meraih

keberhasilan dalam belajar, di samping itu juga bisa melatih siswa untuk

memiliki keterampilan, baik keterampilan berpikir (thinking skill) maupun

keterampilan sosial (social skill). Di dalam metode cooperative learning

terdapat beberapa teknik, salah satunya adalah teknik STAD yang

dikembangkan oleh Slavin. Beberapa tahapan dari teknik STAD adalah

penyajian materi, kerja tim, kuis, skor kemajuan individual, dan rekognisi

tim.

Dari pemaparan di atas dapat disimpilkan bahwa upaya peningkatan

keterampilan sosial dapat dilakukakan dengan metode bimbingan kelompok

berbasis cooperative learning dengan menggunakan teknik STAD.

B. Bimbingan Kelompok Berbasis Cooperative Learning

1. Pengertian Bimbingan Kelompok Berbasis Cooperative Learning

Menurut Rusmana (2009: 13) bimbingan kelompok didefinisikan

sebagai suatu proses pemberian bantuan kepada individu melalui suasana

kelompok yang memungkinkan setiap anggota untuk belajar berpartisipasi

aktif dan berbagi pengalaman dalam upaya mengembangkan wawasan,

22
sikap atau keterampilan yang diperlukan dalam upaya mencegah

timbulnya masalah atau dalam mengembangkan pribadi.

Ditambahkan oleh Dewa Ketut Sukardi (2008: 64) bahwa

bimbingan kelompok adalah layanan bimbingan yang memungkinkan

sejumlah peserta didik secara bersama-sama memperoleh berbagai bahan

dari narasumber tertentu (terutama dari pembimbing/ konselor) yang

berguna untuk menunjang kehidupannya sehari-hari baik individu maupun

pelajar, anggota keluarga dan masyarakat serta untuk pertimbangan dalam

pengambilan keputusan.

Winkel dan Sri Hastuti (2004: 547) Bimbingan Kelompok adalah

kegiatan kelompok diskusi yang menunjang perkembangan pribadi dan

perkembangan sosial masing-masing individu-individu dalam kelompok,

serta meningkatkan mutu kerja sama dalam kelompok guna aneka tujuan

yang bermakna bagi para partisipan.

Berdasarkan beberapa pengertian diatas, dapat disimpulkan

pengertian bimbingan kelompok adalah layanan bimbingan untuk

membantu siswa dalam situasi kelompok untuk pengembangan pribadi,

kemampuan hubungan sosial, kegiatan belajar, karir atau jabatan dan

pengambilan keputusan serta melakukan kegiatan tertentu melalui

dinamika kelompok dengan klasifikasi kelompok, yaitu kelompok kecil,

kelompok sedang, dan kelompok kelas.

Sedangkan, Cooperative learning atau pembelajaran kooperatif

adalah salah satu bentuk pembelajaran yang berdasarkan faham

23
konstruktivis. Cooperative learning merupakan strategi belajar dengan

sejumlah siswa sebagai anggota kelompok kecil yang tingkat

kemampuannya berbeda. Dalam menyelesaikan tugas kelompoknya, setiap

siswa anggota kelompok harus saling bekerja sama dan saling membantu

untuk memahami materi pelajaran. Dalam cooperative learning, belajar

dikatakan belum selesai jika salah satu teman dalam kelompok belum

menguasai bahan pelajaran. (Isjoni, 2007: 12)

Ditambahkan oleh Johnson (Isjoni, 2007: 15), bahwa cooperative

learning mengandung arti bekerja sama dalam mencapai tujuan bersama.

Dalam kegiatan cooperative, siswa mencari hasil yang menguntungkan

bagi seluruh anggota kelompoknya. Belajar cooperative adalah

pemanfaatan kelompok kecil untuk memaksimalkan belajar mereka dan

belajar anggota yang lain dalam kelompok itu.

Prosedur cooperative learning didesain untuk mengaktifkan siswa

melalui dan diskusi dalam kelompok kecil yang terdiri atas 4-6 orang

dengan struktur kelompok heterogen Slavin 1985, (Isjoni, 2007: 12).

Anita Lie (Isjoni, 2007: 16) menyebut cooperative learning dengan

istilah pembelajaran gotong – royong, yaitu sistem pembelajaran yang

memberi kesempatan kepada peserta didik untuk bekerja sama dengan

peserta siswa lain dalam tugas yang terstuktur. Lebih jauh dikatakan

cooperative learning hanya berjalan jika sudah terbentuk kelompok atau

suatu tim yang di dalamnya siswa bekerja secara terarah untuk mencapai

24
tujuan yang sudah ditentukan dengan jumlah anggota kelompok pada

umumnya terdiri atas 4-6 orang saja.

Dari beberapa pengertian yang dipaparkan oleh beberapa ahli,

dapat disimpulkan pengertian cooperative learning adalah suatu model

dalam melakukan pembelajaran dimana siswa akan dikelompokkan secara

heterogen dengan jumlah siswa 4 - 6 orang. Siswa akan belajar dan bekerja

secara kolaboratif dan bergotong royong sehingga dapat merangsang siswa

lebih bergairah dalam belajar serta mencapai kemampuan yang maksimal

dengan satu tujuan yang sama.

Berdasarkan pengertian di atas bimbingan kelompok berbasis

cooperative learning adalah suatu layanan bimbingan kelompok yang

membantu siswa dalam situasi kelompok untuk pengembangan pribadi,

kemampuan hubungan sosial, kegiatan belajar, serta melakukan kegiatan

tertentu melalui dinamika kelompok, dengan klasifikasi kelompok kecil.

Jumlah siswa dalam satu kelompok adalah 4-6 siswa dan dikelompokkan

secara heterogen. Siswa akan belajar dan bekerja secara kolaboratif dan

bergotong royong sehingga dapat merangsang siswa lebih bergairah dalam

belajar serta mencapai kemampuan yang maksimal dengan satu tujuan

yang sama.

25
2. Komponen Layanan Bimbingan Kelompok berbasis Cooperative

learning

Prayitno (2004: 4) menjelaskan bahwa dalam bimbingan kelompok

berperan dua pihak, yaitu pemimpin kelompok dan peserta atau anggota

kelompok.

a. Pemimpin Kelompok

Pemimpin kelompok (PK) adalah konselor yang terlatih dan

berwenang menyelenggarakan praktik konseling profesional.

Sebagaimana untuk jenis layanan konseling lainya, konselor memiliki

keterampilan khusus menyelenggarakan bimbingan kelompok

b. Anggota Kelompok

Tidak semua kumpulan orang atau individu dapat dijadikan anggota

bimbingan kelompok. Untuk terselenggaranya bimbingan kelompok

seorang konselor perlu membentuk kumpulan individu menjadi

sebuah kelompok yang memiliki persyaratan sebagaimana tersebut di

atas.

c. Dinamika Kelompok

Dalam kegiatan bimbingan kelompok dinamika bimbingan kelompok

sengaja ditumbuh kembangkan, karena dinamika kelompok adalah

hubungan interpersonal yang ditandai dengan semangat, kerja sama

antar anggota kelompok, saling berbagi pengetahuan, pengalaman dan

mencapai tujuan kelompok.

26
Berdasarkan pendapat diatas, dapat disimpulkan bahwa komponen

layanan bimbingan kelompok berbasis Cooperative learning dapat dibagi

menjadi tiga macam yaitu pemimpin Kelompok (konselor yang terlatih

dan berwenang menyelenggarakan praktik konseling profesional), anggota

kelompok (untuk terselenggaranya bimbingan kelompok seorang konselor

perlu membentuk kumpulan individu menjadi sebuah kelompok),

dinamika kelompok (hubungan interpersonal yang ditandai dengan

semangat, kerja sama antar anggota kelompok, saling berbagi

pengetahuan, pengalaman dan mencapai tujuan kelompok).

3. Tujuan Bimbingan Kelompok berbasis Cooperative Learning

Prayitno (1995: 178) mengemukakan tujuan bimbingan kelompok

antara lain;

a. Mampu berbicara di depan orang banyak.


b. Mampu mengeluarkan pendapat, ide, saran, tanggapan, perasaan dan
lain sebagainya kepada orang banyak.
c. Belajar menghargai pendapat orang lain.
d. Bertangung jawab atas pendapat yang dikemukakannya.
e. Mampu mengendalikan diri dan menahan emosi (gejolak kejiwaan
yang bersifat negatif).
f. Dapat bertenggang rasa.
g. Menjadi akrab satu sama lainnya.
h. Membahas masalah atau topik-topik umum yang dirasakan atau
menjadi kepentingan bersama.

Berdasarkan pendapat di atas dapat dilihat bahwa tujuan bimbingan

kelompok adalah mampu berbicara di depan orang banyak untuk

mengeluarkan pendapat, ide, saran, tanggapan, perasaaan, serta dapat

belajar menghargai pendapat orang lain dan bertanggung jawab atas

pendapat yang dikemukannya. Dalam sebuah diskusi atau percakapan

27
lainnya juga mampu mengendalikan diri dan menahan emosi, dapat

bertenggang rasa dan akrab satu dengan yang lainnya. Dengan demikian,

secara tidak langsung keterampilan sosial peserta didik perlahan akan

berkembang.

Menurut Erman Amti (1992: 108) bahwa tujuan bimbingan

kelompok terdiri dari tujuan umum dan tujuan khusus. Secara umum

bimbingan kelompok betujuan untuk membantu para siswa yang

mengalami masalah melalui prosedur kelompok. Selain itu juga

mengembangkan pribadi masing-masing anggota kelompok melalui

berbagai suasana yang muncul dalam kegiatan itu, baik suasana yang

menyenangkan maupun yang menyedihkan. Secara khusus bimbingan

kelompok bertujuan untuk:

a. Melatih siswa untuk berani mengemukakan pendapat di hadapan

teman-temannya.

b. Melatih siswa dapat bersikap terbuka di dalam kelompok.

c. Melatih siswa untuk dapat membina keakraban bersama teman-teman

dalam kelompok khususnya dan teman di luar kelompok pada

umumnya.

d. Melatih siswa untuk dapat mengendalikan diri dalam kegiatan

kelompok.

e. Melatih siswa untuk dapat bersikap tenggang rasa dengan oran lain.

f. Melatih siswa memperoleh keterampilan sosial.

28
g. Membantu siswa mengenali dan memahami dirinya dalam

hubungannya dengan orang lain.

Melihat definisi beberapa ahli tersebut dapat disimpulkan bahwa

tujuan bimbingan kelompok adalah untuk melatih siswa mengembangkan

kemampuan bersosialisasi, dan mewujudkan perilaku yang lebih efektif

serta meningkatkan kemampuan berkomunikasi baik verbal maupun non-

verbal. Pada penelitian ini bimbingan kelompok menggunakan metode

belajar cooperative learning dikarenakan memiliki tujuan yang sama dan

sesuai dengan tujuan penelitian ini yaitu peningkatan keterampilan sosial.

Hal ini di ungkapkan oleh Ibrahim, et al.2000 (Isjoni, 2010: 27) yaitu salah

satu tujuan penting cooperative learning adalah mengajarkan kepada

siswa keterampilan bekerjasama dan kolaborasi. Keterampilan-

keterampilan sosial penting dimiliki siswa, sebab saat ini banyak anak

muda masih kurang dalam keterampilan sosial.

4. Tahap-tahap Bimbingan Kelompok berbasis Cooperative Learning

Pada umumnya terdapat empat tahap perkembangan bimbingan

kelompok seperti yang dikemukakan oleh Prayitno (1995: 40), yaitu tahap

pembentukan, tahap peralihan, tahap pelaksanaan kegiatan dan tahap

pengakhiran. Selain keempat tahap ini, masih ada tahap yang disebut

dengan tahap awal. Tahap awal berlangsung sampai berkumpulnya para

calon anggota kelompok dan dimulainya tahap pembentukan. Tahap-tahap

ini merupakan suatu kesatuan dari seluruh kegiatan kelompok. Berikut ini

dijelaskan tahapan masing-masing.

29
a. Tahap Pertama Pembentukan

Tahap ini merupakan tahap pengenalan, tahap pelibatan diri atau

tahap memasukkan diri ke dalam kehidupan suatu kelompok. Pada tahap

ini para anggota saling memperkenalkan diri dan juga mengungkapkan

tujuan atau harapan-harapan yang ingin dicapai baik oleh masing-masing,

sebagian maupun seluruh anggota. Tahap ini merupakan masa keheningan.

Para anggota mulai mempelajari perilaku-perilaku dasar seperti:

menghargai, empati, penerimaan, perhatian dan menanggapi semua

perilaku yang membangun kepercayaan. Dalam tahap ini anggota

kelompok mulai belajar untuk terlibat dalam interaksi kelompok.

Fungsi dan tugas utama pemimpin selama tahap ini adalah

mengajarkan cara untuk berpartisipasi dengan aktif sehingga dapat

meningkatkan peluang mereka untuk mendapatkan kelompok yang

produktif. Selain itu, mengajarkan kepada anggota dasar hubungan antar

manusia seperti mendengarkan dan menanggapi secara efektif. Pemimpin

kelompok harus dapat memastikan semua anggota berpartisifasi dalam

interaksi kelompok sehingga tidak seorang pun yang merasa dikucilkan.

Prayitno (1995: 60) menyatakan bahwa kegiatan-kegiatan yang

harus dilakukan pada tahap awal adalah sebagai berikut.

1) Mengungkapkan pengertian dan tujuan kegiatan bimbingan

kelompok.

30
2) Menjelaskan cara-cara dan asas-asas kegiatan bimbingan kelompok.

3) Saling memperkenalkan dan mengungkapkan diri.

4) Permainan penghangatan/ pengakraban.

b. Tahap Kedua Peralihan

Pada tahap ini suasana kelompok mulai terbentuk dan dinamika

kelompok sudah mulai tumbuh. Karakteristik tahap peralihan/transisi

ini ditandai perasaan khawatir, defence (bertahan) dan berbagai

bentuk perlawanan. Pada kondisi demikian pemimpin kelompok perlu

memberikan motivasi dan reinforcment kepada anggota agar mereka

peduli tentang yang dipikirkan terhadapnya dan belajar

mengekspresikan diri sehingga anggota lain bisa mendengarkan.

Menurut Prayitno (1995: 47) kegiatan-kegiatan yang harus

dilakukan pada tahap ini adalah sebagai berikut.

1) Menjelaskan kegiatan yang akan ditempuh pada tahap


berikutnya.
2) Menawarkan atau mengamati kesiapan para anggotanya
menjalani kegiatan pada tahap selanjutnya (tahap ketiga).
3) Membahas suasana yang terjadi.
4) Meningkatkan kemampuan keikutsertaan anggota.
5) Apabila diperlukan kembali ke beberapa aspek tahap pertama
(tahap pembentukan).

c. Tahap Ketiga : Kegiatan

Tahap ini merupakan inti kegiatan kelompok sehingga aspek-

aspek yang menjadi isi pengiringnya cukup banyak. Pada kegiatan ini

saatnya anggota berpartisipasi untuk menyadari bahwa merekalah

yang bertanggung jawab atas kehidupan mereka. Mereka perlu

didorong untuk mengambil keputusan, pendapat dan tanggapan

31
mengenai topik atau masalah yang dihadapi untuk digali dalam

kelompok, dan belajar menjadi bagian kelompok yang integral

sekaligus memahami kepribadiannya sendiri dan juga dapat

memahami orang lain. Di samping itu mereka diharapkan dapat

menyaring umpan balik yang diterima dan membuat kesimpulan yang

komprehensif dari berbagai pendapat dan masukan-masukan dalam

pembahasan kelompok dan memutuskan yang harus dilakukannya

nanti.

Fungsi utama pemimpin kelompok pada tahap ini adalah

memberikan penguatan secara sistematis dari tingkah laku kelompok

yang diinginkan. Selain itu dapat memberikan dukungan pada

kesukarelaan anggota untuk mengambil resiko dan mengarahkan

untuk menerapkan tingkah laku dalam kehidupan sehari-hari.

Kegiatan-kegiatan yang harus dilakukan pada tahap ini adalah

sebagai berikut.

1) Masing-masing anggota secara bebas mengemukakan

pendapat terhadap topik/masalah.

2) Menetapkan topik/masalah yang akan dibahas terlebih

dahulu.

3) Anggota membahas masing-masing topik/masalah secara

mendalam dan tuntas.

4) Kegiatan selingan.

32
Pada tahap ini anggota membahas masing-masing topik/masalah

secara mendalam dan tuntas, dalam pelaksanaannya metode cooperative

learning ini akan diterapkan. Pembahasan topik atau masalah dilakukan

berbasis cooperative learning. Metode cooperative learning mempunyai 5

teknik sesuai menurut pendapat Slavin (2005: 11) metode yang digunakan

dalam pembelajaran cooperative learning antara lain:

a) Student Team-Achievement Division (STAD)

b) Team Games-Tournament (TGT)

c) Jigsaw II (adaptasi dari teknik teka-teki Elliot Aronson 1978)

d) Team Accelerated Instruction (TAI)

e) Cooperative Integrated Reading and Composition (CIRC)

Dari beberapa metode pembelajaran cooperative learning diatas,

dalam penelitian ini peneliti akan menggunakan metode STAD. STAD

merupakan salah satu metode cooperative learning yang paling sederhana,

dan merupakan model yang paling baik untuk permulaan bagi para guru

yang baru menggunakan pendekatan kooperatif. STAD terdiri atas lima

komponen utama, yaitu, presentasi kelas, tim, kuis, skor kemajuan

individual, rekognisi tim (Slavin, 2005: 143):

(1) Presentasi kelas

Materi dalam STAD pertama-tama diperkenalkan dalam presentasi

di dalam kelas. Ini merupakan pengajaran langsung seperti yang sering

kali dilakukan atau diskusi pelajaran yang dipimpin oleh guru. Bedanya

presentasi kelas dengan pengajaran biasa hanyalah bahwa presentasi

33
tersebut haruslah benar-benar berfokus pada unit STAD. Dengan cara ini,

para siswa akan menyadari bahwa mereka harus benar-benar member

perhatian penuh selama presentasi kelas, karena dengan demikian akan

sangat membantu mereka mengerjakan kuis-kuis dan skor kuis mereka

menentukan skor tim mereka.

(2) Tim

Tim terdiri dari 4-5 siswa yang mewakili sekuruh bagian dari kelas

dalam hal kinerja akademik, jenis kelamin, ras, dan etnisitas. Fungsi utama

dari tim ini adalah memastikan bahwa semua anggota timm benar-benar

belajar, dan lebih khususnya lagi, adalah untuk mempersiapkan

anggotanya untuk bisa mengerjakan kuis dengan baik. Setelah guru

menyampaikan materinya, tim berkumpul untuk mempelajari lembar-

kegiatan atau materi lainnya. Yang paling sering terjadi, pembelajaran itu

melibatkan pembahasan permasalah bersama, membandingkan jawaban,

dan mengoreksi tiap kesalahan pemahaman apabila anggota tim ada yang

membuat kesalahan.

Tim adalah fitur yang paling penting dalam STAD. Pada tiap

poinnya, yang ditekankan adalah membuat anggota tim melakukan yang

terbaik untuk membantu tiap anggotanya. Tim ini memberikan dukungan

kelompok bagi kinerja akademik penting dalam pembelajaran, dan itu

adalah untuk memberikan perhatian dan respek yang mutual yang penting

untuk akibat yang dihasilkan seperti hubungan antar kelompok, rasa harga

diri, penerimaan terhadap siswa-siswa lain.

34
(3) Kuis

Setelah sekitar satu atau dua periode setelah guru memberikan

presentasi dan sekitar satu atau dua periode praktik tim., para siswa akan

mengerjakan kuis individual. Para siswa tidak diperbolehkan untuk saling

membantu dalam mengerjakan kuis, sehingga tiap siswa bertanggung

jawab secara individual untuk memahami materinya.

(4) Skor kemajuan individual

Gagasan dibalik skor kemajuan individual adalah untuk memberikan

kepada tiap siswa tujuan kinerja yang akan dapat dicapai apabila mereka

bekerja lebih giat dan memberikan kinerja yang lebih baik daripada

sebelumnya. Tiap siswa dapat memberikan kontribusi poin yang maksimal

kepada timnya dalam system skor ini, tetapi tak ada siswa yang dapat

melakukannya tanpa memberikan usaha mereka yang terbaik. Tiap siswa

diberikan skor “awal”, yang diperoleh dari rata-rata kinerja siswa tersebut

sebelumnya dalam mengerjakan kuis yang sama. Siswa selanjutnya akan

mengumpulkan poin untuk tim mereka berdasarkan tingkat kenaikan skor

kuis mereka dibandingkan dengan skor awal mereka.

(5) Rekognisi tim

Tim akan mendapatkan sertifikat atau bentuk penghargaan yang lain

apabila skor rata-rata mereka mencapai criteria tertentu. Skor tim siswa

dapat juga digunakan untuk menentukan dua puluh persen dari peringkat

mereka.

35
STAD dapat digunakan bersama materi-materi kurikulum yang

dirancang khusus untuk Pembelajaran Tim Siswa yang disebarluaskan oleh

John Hopkins Team Learning Project atau dapat digunakan bersama-sama

materi yang diadaptasi dari buku teks atau sumber-sumber terbitan lainnya

atau bisa juga dengan materi yang dibuat oleh guru. Materi John Hopkins

tersedia untuk bidang studi Matematika mulai dari kelas dua sampai

sepuluh, Seni Berbahasa mulai dari kelas tiga sampai kelas delapan,

sekolah menengah pertama dan Ilmu Fisika, dan topik-topik lainnya.

Membagi para Siswa ke Dalam Tim. Seperti yang sudah kita lihat,

tim-tim STAD mewakili seluruh bagian didalam kelas. Di dalam kelas

yang terdiri dari separuh laki-laki, separuh perempuan, tiga perempat kulit

putih, dan seperempat minoritas boleh saja membentuk Tim yang terdiri

dari empat orang yang gterdiri dari dua laki-laki dan dua perempuan, dan

tiga siswa kulit putih serta satu siswa minoritas. Tim tersebut juga harus

terdiri dari seorang siswa berprestasi tinggi, seorang siswa berprestasi

rendah, dan dua lainnya yang berprestasi sedang. Tentunya, breprestasi

tinggi adalah sebuah terminologi yang relatit: ini berarti tinggi untuk kelas

yang bersangkutan, tidak perlu tinggi bila dibandingkan dengan norma-

norma nasional.

STAD terdiri atas sebuah siklus kegiatan regular (Slavin, 2005:

151), sebagai berikut:

a) Mengajar (menyampaikan pelajaran).

Gagasan utama: menyampaikan pelajaran

36
Materi yang dibutuhkan: Rencana pelajaran

Tiap pelajaran dalam STAD dimulai dengan presentasi pelajaran

tersebut di dalam kelas. Presentasi tersebut haruslah mencakup

pembukaan, pengembangan, dan pengarahan-praktis tiap komponen

dari keseluruhan pelajaran.

(1) Pembukaan

(a) Sampaikan pada siswa apa yang akan mereka pelajari dan

mengapa hal itu penting. Tumbuhkan rasa ingin tahu para

siswa dengan cara penyampaian yang berputar-putar, masalah

dalam kehidupan nyata, dan sarana-sarana lainnya.

(b) Anda bisa saja membuat para siswa bekerja dalam tim

mereka untuk „menemukan” konsep-konsep atau

mengbangkitkan minat mereka terhadap pelajaran.

(c) Ulangi tiap persyaratan atau informasi secara singkat.

(2) Pengembangan

(a) Tetaplah selalu pada hal-hal yang anda ingin agar dipelajari

para siswa.

(b) Fokuskan pada pemaknaan bukan penghapalan.

(c) Demonstrasikan secara aktif konsep-konsep atau skill-skill

dengan menggunakan alat bantu visual, cara-cara cerdik,

dan contoh yang banyak.

(d) Nilailah siswsa sesering mungkin dengan member banyak

pertanyaan.

37
(e) Jelaskan mengapa sebuah jawaban bisa salah atau benar

kecuali jika memang sudah sangat jelas.

(f) Berpindahlah pada konsep berikutnya begitu para siswa

telah menangkap gagasan utamanya.

(g) Peliharalah momentum dengan menghilangkan interupsi

terlalu banyak bertanya, dan berpindah bagian pelajaran

terlalu cepat.

(3) Pedoman Pelaksanaan

(a) Buatlah para siswa mengerjakan tiap persoalan atau contoh

atau mempersiapkan jawaban terhadap pertanyaan yang

anda berikan.

(b) Panggil siswa secara acak. Ini akan membuat para siswa

selalu mempersiapkan diri mereka untuk menjawab.

(c) Pada saat ini jangan memberikan tugas-tugas kelas yang

memakan waktu lama. Buatlah agar para siswa

mengerjakan atu atau dua permasalahan atau contoh, atau

mempersiapkan satu atau dua jawaban, lalu berikan mereka

umpan balik.

b) Belajar Tim (para siswa bekerja dengan lembar kegiatan dalam tim

mereka untuk menguasai materi).

Gagasan utama : para siswa belajar dalam tim mereka

Materi yang dibutuhkan : Dua lembar kegiatan untuk tiap tim

Dua lembar jawaban untuk tiap tim

38
Selama masa belajar tim, tugas para anggota tim adalah menguasai

materi yang anda sampaikan di dalam kelas dan membantu teman

sekelasnya untuk menguasai materi tersebut. Para siswa mempunyai

lembar kegiatan dan lembar jawaban yang dapat mereka gunakan

untuk melatih kemampuan selama prosespengajaran dan menilai diri

mereka sendiri dan teman sekelasnya. Hanya dua kopian dari lembar

kegiatan dan lembar jawaban yang diberikan kepada tiap tim ini akan

mendorong teman satu tim untuk bekerja sama, tetapi bila ada siswa

yang ingin punya kopian sendiri, anda bisa menyediakan kopian

tambahan.

(1) Tes (para siswa mengerjakan kuis-kuis individual).

Gagasan utama : kuis individual

Materi yang dibutuhkan : satu kuis tiap anak

(2) Bagikan kuisnya dan berikan waktu yang sesuai kepada para siswa

untuk menyelesaikannya. Jangan biarkan para siswa bekerja sama

mengerjakan kuis tersebut.

(3) Biarkan siswa saling bertukar kertas dengan anggota tim lain,

ataupun mengumpulkan kuisnya untuk dinilai setelah kelas selesai.

Pastikan skor kuis dan skor tim dihitung tepat pada waktunya untuk

digunakan pada kelas selanjutnya.

c) Rekognisi Tim (skor tim dihitung berdasarkan skor kemajuan yang

dibuat tiap anggota tim).

39
Gagasan utama : menghitung skor kemajuan individual dan skor

tim dan memberikan sertifikat atau bentuk

penghargaan tim lainnya.

Menghitung Skor Individual Tim

Sesegera mungkin setelah melakukan tiap kuis, hitunglah skor

kemajuan individual dan skor tim, dan berilah sertifikat atau

bentuk penghargaan lainnya kepada tim dengan skor tertinggi.

Poin kemajuan. Para siswa mengumpulkan poin untuk tim mereka

berdasarkan tingkat di mana skor kuis mereka (presentase yang

benar) melampaui skor awal mereka:

Skor kuis Poin kemajuan

Lebih dari 10 poin di bawah skor awal 5

10-1 poin dibawah skor awal 10

Skor awal sampai 10 poin di atas skor awal 20

Lebih dari 10 poin diatas skor awal 30

Kertas jawaban sempurna (terlepas dari skor awal) 30

Skor tim

Untuk menghitung skor tim, catatlah tiap poin kemajuan setiap

semua anggota tim pada lembar rangkuman tim dan bagilah jumlah

total poin kemajuan seluruh anggota tim dengan jumlah anggota

tim yang hadir, bulatkan semua pecahan. Untuk diingat bahwa skor

tim lebih tergantung pada skor kemajuan daripada skor kuis awal.

d) Merekognisi Prestasi Tim

40
Tiga macam tingkatan penghargaan diberikan di sini. Ketiganya

didasarkan pada rata-rata skor tim, sebagai berikut:

Penghargaan

TIM BAIK

TIM SANGAT BAIK

TIM SUPER

e) Mengembalikan Kuis Set Yang Pertama

Saat anda mengembalikan kuis-kuis set yang pertama (dengan skor

awal, skor kuis, dan poin kemajuan) kepada para siswa, anda akan

perlu menjelaskan system poin kemajuan. Dalam penjelasan anda,

tekankanlah hal-hal sebagai berikut:

(1) Tujuan utama dari sistem poin kemajuan adalah memberikan

kepada semua orang skor minimum untuk bisa dilampauin dan

untuk membuat skor minimum sebelumnya tersebut menjadi dasar

sehingga semua siswa akan mempunyai kesempatan yang sama

untuk sukses jika mereka bisa melakukan yang terbaik dalam

bidang akademik.

(2) Para siswa harus menyadari bahwa skor tiap orang dalam tim

mereka adalah penting bahwa semua anggota tim dapat

mengumpulkan poin kemajuan maksimal jika mereka bisa

melakukan yang terbaik.

41
(3) System poin kemajuan ini sifatnya adil karena tiap orang hanya

berkompetisi dengan dirinya sendiri. Berusaha untuk

meningkatkan kinerja mereka. Terlepas dari apa yang dilakukan

oleh anak lain di kelas tersebut.

f) Menghitung Skor Awal

Pada setia periode yang telah ditentukan (atau sesering yang anda

inginkan), hitung kembali skor kuis rata-rata siswa pada semua kuis

dan berikan skor awal baru siswa.

g) Mengubah Tim

Setelah 4 atau 5 minggu melakukan STAD atau pada akhir tiap periode

ysng telah ditentukan, tempatkan kembali para siswa ke dalam tim

yang baru. Ini memberikan kesempatan baru kepada siswa yang

mempunyai skor tim rendah, biarkan siswa bekerja dengan teman

sekelasnya yang lain, dan agar programnya tetap segar.

h) Memberi Penilaian

Kartu laporan penilaian harus didasarkan pada skor kuis actual para

siswa, bukan pada poin kemajuan atau skor tim mereka. Sebagian

guru, khusunya di SMU, memberikan lima poin untuk bonus (pada

skal poin 100) kepada para siswa dari Tim Super, dan tiga poin kepada

para siswa dari Tim Sangat Baik. Akan tetapi, nilai kartu laporan siswa

harus terpisah dari skor tim mereka, karena para siswa dan orang tua

mereka akan melihat nilai kelompok itu sebagai sesuatu yang kurang

42
adil (khususnya jika skor tim menurunkan nilai siswa berprestasi

tinggi).

Setelah proses ini selesai maka akan dilakukan selingan guna

menghilangkan kejenuhan atau kepenatan siswa. Lalu semua tahap

ketiga selesai maka tinggal melakukan tahap akhir yaitu pengakhiran.

d. Tahap Keempat : Pengakhiran

Tahap ini merupakan tahap konsolidasi dan terminasi. Perhatian

utama adalah bukan pada berapa kali kelompok itu harus bertemu

namun pada hasil yang telah dicapai oleh kelompok ketika

menghentikan permainan atau latihan. Pada saat memasuki tahap

pengakhiran, kegiatan kelompok sebaiknya dipusatkan pada

pembahasan tentang kemampuan anggota kelompok untuk

menerapkan hal-hal yang telah dipelajari pada kehidupan anggota

sehari-hari. Selama tahap akhir kelompok akan muncul sedikit

kecemasan dan kesedihan terhadap kenyataan perpisahan. Para

anggota memutuskan tindakan-tindakan yang harus mereka ambil.

Tugas utama yang dicapai para anggota selama tahap akhir yaitu

mentransfer yang telah mereka pelajari dalam kelompok ke dunia luar.

Peranan pemimpin kelompok adalah tetap mengusahakan

suasana yang hangat, memberikan pernyataan dan mengucapkan

terima kasih atas keikutsertaan anggota serta memberi semangat untuk

kegiatan lebih lanjut dengan penuh rasa persahabatan dan simpati.

Selain itu fungsi pemimpin kelompok pada tahap ini adalah

43
memperjelas arti dari tiap pengalaman yang diperoleh melalui

kelompok dan mengajak para anggota untuk menerapkan dalam

kehidupan sehari-hari serta menekankan kembali akan pentingnya

pemeliharaan hubungan antar anggota setelah kelompok berakhir.

Kegiatan-kegiatan yang harus dilakukan pada tahap ini sebagai

berikut:

1) Pemimpin kelompok menyatakan bahwa kegiatan akan segera

diakhiri.

2) Pemimpin dan anggota kelompok mengemukakan kesan dan hasil-

hasil kegiatan.

3) Membahas kegiatan lanjutan.

4) Mengemukakan pesan dan harapan.

Setelah semua tahap di atas terlaksana kemudian diadakan evaluasi

dan follow up. Follow Up dapat dilaksanakan secara kelompok maupun

secara individual. Pada kegiatan tindak lanjut ini para anggota kelompok

dapat membicarakan tentang upaya-upaya yang telah ditempuh. Mereka

dapat melaporkan tentang kesulitan-kesulitan yang mereka temui, berbagai

kesukacitaan dan keberhasilan dalam kelompok. Para anggota kelompok

menyampaikan tentang pengalaman mereka dan hasilnya selama mengikuti

kegiatan bimbingan kelompok dalam kehidupan sehari- hari. Pemimpin

kelompok dapat mengadakan evaluasi dengan memberikan pertanyaan atau

wawancara dengan batas tertentu dan melihat penguasaan anggota terhadap

topik yang dibicarakan.

44
C. Kajian Tentang Remaja

1. Pengertian Remaja

Menurut Santrock (2003: 26) masa perkembangan remaja atau

adolescence adalah masa transisi antara masa anak dan dewasa yang

mencakup perubahan biologis, kognitif, sosial. Rita Eka Izzaty dkk (2008:

123) menjelaskan kata remaja diterjemahkan dari kata dalam bahasa inggris

adolescence atau adolecere (bahasa latin) yang berarti tumbuh untuk masak,

menjadi dewasa. Definisi remaja menurut Sarlito Wirawan Sarwono (2005:

9) yaitu:

Remaja adalah suatu masa ketika: individu berkembang dari saat


pertama kali ia menunjukkan tanda-tanda seksual sekudernya sampai saat ia
mencapai kematangan seksual; Individu mengalami perkembangan
psikologis dan pola identifikasi dari anak-anak mencapai dewasa; Terjadi
peralihan dan ketergantungan sosial ekonomi yang penuh kepada keadaan
yang relatif lebih mandiri.

Santrock (2003: 26) menyatakan masa remaja kira-kira dari usia 10

sampai 13 tahun dan berakhir pada usia 18 sampai 22 tahun. Sedangkan

Hurlock (1991: 206) menyatakan awal masa remaja terjadi pada usia 13

tahun sampai 16 tahun atau tujuh belas tahun, dan remaja akhir berlangsung

dari usia 16 atau 17 tahun sampai 18 tahun, yaitu usia mata secara hukum.

Bila remaja dibagi menjadi dua bagian remaja awal dan akhir, maka remaja

awal berada di usia 13 tahun sampai 18 tahun, sedangkangkan remaja akhir

berada dalam usia 18 tahun sampai 22 tahun.

Jadi berdasarkan uraian diatas defnisi remaja, dapat disimpulkan

bahwa remaja adalah masa transisi dari anak-anak ke dewasa yang ditandai

45
oleh berkembangnya psikologis dan terjadi perubahan biologis dan dapat

berinteraksi dengan lingkungan sosialnya secara mandiri.

2. Tugas Perkembangan Remaja

Masa remaja adalah masa yang sangat menentukan karena pada

masa ini anak-anak banyak mengalami perubahan perkembangan pada fisik

dan psikisnya, oleh karena itu tugas perkembngan pada masa remaja

menuntut remaja untuk melakukan perubahan besar dalam sikap dan pola

perilaku mereka.

Menurut Havighurst, dalam Hurlock (1991: 10) tugas perkembangan

masa remaja adalah:

a. Mencapai hubungan sosial yang lebih matang dengan teman-teman

sebayanya, baik dengan teman-teman sejenis maupun dengan jenis

kelamin lain.

b. Dapat menjalankan peranan sosial menurut jenis kelamin masing-masing,

artinya mempelajari dan menerima peranan masing-masing sesuai

dengan ketentuan-ketentuan/ norma-norma masyarakat.

c. Menerima kenyataan (realitas) jasmaniah serta menggunakannya

seefektif-efektifnya dengan perasaan puas.

d. Memperlihatkan tingkah laku yang secara sosial dapat dipertanggung

jawabkan. Artinya ikut serta dalam kegiatan-kegiatan sosial sebagai

orang dewasa yang bertanggung jawab, menghormati serta mentaati

nilai-nilai sosial yang berlaku dalam lingkungannya, baik regional

maupun nasional.

46
e. Memilih dan mempersiapkan diri untuk pekerjaan atau jabatan. Artinya

belajar memilih suatu jenis pekerjaan sesuai dengan bakatnya dan

mempersiapkan diri untuk pekerjaan tersebut.

f. Mempersiapkan diri untuk melakukan perkawinan dan hidup berumah

tangga.

g. Memperoleh sejumlah norma-norma sebagai pedoman dalam tindakan-

tindakannya dan sebagai pandangan hidupnya.

Senada dengan pendapat Havighurst, William Kay dalam (Syamsu

Yusuf, 2004: 72) mengungkapkan bahwa tugas-tugas perkembangan remaja

meliputi :

a. Menerima fisiknya sendiri berikut keragaman kualitasnya.


b. Mencapai kemandirian emosional dari orang tua atau figur-figur yang
mempunyai otoritas.
c. Mengembangkan keterampilan komunikasi interpersonal dan belajar
bergaul dengan teman sebaya atau orang lain, baik secara individual
maupun kelompok.
d. Menemukan manusia model yang dijadikan identitasnya.
e. Menerima dirinya sendiri dan memiliki kepercayaan terhadap
kemampuannya sendiri.
f. Memperkuat self-control (kemampuan mengendalikan dirinya) atas dasar
skala nilai, prinsip-prinsip atau falsafah hidup (Weltanschauung).
g. Mampu meninggalkan reaksi dan penyesuaian diri (sikap/perilaku)
kekanak-kanakan.

Menurut William W. Wattenberg, (Andi Mapiarre, 1982: 106-109)

tugas perkembangan remaja awal adalah sebagai berikut:

a. Memiliki kemampuan mengkontrol diri sendiri seperti orang dewasa.

Remaja awal diharapkan dapat mengadakan pengkontrolan diri

sendiri (self control) atas perbuatan-perbuatanya. Tugas perkembangan

47
yang pertama timbul karena remaja telah bertambah pekerjaan atau

perbuatan yang dilakukan seperti orang dewasa.

b. Memperoleh kebebasan.

Merupakan satu diantara tugas perkembangan penting bagi

remaja awal. Berarti remaja awal diharapkan belajar dan berlatih bebas

membuat rencana, bebas menentukan pilihan dan bebas membuat

keputusan-keputusan itu serta tanggung jawab diri sendiri atas keputusan

dan pelaksana keputusannya.

c. Bergaul dengan lawan jenis.

Remaja awal sadar bahwa dirinya ada rasa simpati, rasa tertarik

untuk selalu bersama-sama dengan lawan jenis. Tetapi mereka umumnya

masih ada ragu. Apa dirinya juga membuat lawan jenisnya tertarik atau

tidak.

d. Mengembangkan keterampilan baru untuk mempersiapkan diri

memasuki masa dewasa.

Masa remaja seseorang diharapkan berlatih dan mengembangkan

ketrampilan baru yang sesuai dengan tuntutan hidup dan pergaulannya

dalam masa dewasa kelak.

e. Memiliki citra diri yang realistik.

Masa remaja diharapkan dapat memberikan penilaian terhadap

keadaan dirinya secara apa adanya. Mereka diharapkan dapat mengukur

atau menafsirkan apa-apa yang lebih dan kurang pada dirinya secara

48
cepat menerima apa adanya diri mereka, memelihara dan memanfaatkan

secara positif.

Dari paparan dari para ahli tentang tugas perkembangan masa remaja

dapat disimpulkan bahwa tugas perkembangan remaja merupakan tugas-

tugas apa saja yang harus dikerjakan oleh remaja untuk mencapai tingkat

kedewasaannya. Tugas perkembangan remaja bisa dikatakan berhasil

dikerjakan apabila tidak ada hambatan dari dalam individu sendiri maupun

lingkungannya.

3. Karakteristik Siswa SMP sebagai Remaja

a. Karakteristik fisik remaja

Pesatnya pertumbuhan fisik pada masa remaja sering menimbulkan

kejutan pada diri remaja itu sendiri. Pertumbuhan fisik pada usia remaja ini

akan ditandai dengan kematangan organ seks primer maupun organ seks

sekunder. Organ seks primer menentukan organ yang langsung berhubungan

dengan proses reproduksi. Sedangkan organ kelamin sekunder merupakan

tanda-tanda yang tak langsung tetapi menunjukkan ciri khas pria dan wanita.

Anak wanita dalam pemasakan seksual mempunyai urutan dimulai

oleh tanda-tanda sekunder terlebih dahulu, khususnya puting susu sekitar

usia 8-13 tahun, selanjutnya datangnya menarche atau haid pertama. Pada

pria tanda seks primer ditandai tumbuhnya testis pada usia sekitar 9-14

tahun dan diikuti dengan keluarnya air mani yang pertama atau ejakulasi

atau mimpi basah. Baru sekitar usia 15-16 tahun mengalami perubahan

suara (tanda kelamin sekunder).

49
Sri Rumini dan Siti Sundari (2004: 63) menjelaskan pertumbuhan

tinggi/panjang tubuh pria dan wanita hingga umur 9 tahun dapat dikatakan

berjalan sama. Sesudah itu itu mulai permulaan percepatan pertumbuhan

wanita, sedang percepatan pada anak pria lebih kemudian.

Sri Rumini (2000: 36) menegaskan tanda-tanda kelamin sekunder

yang nampak pada remaja seperti: pertumbuhan rambut pada wanita

terutama pada kepala, ketiak dan kemaluan. Selain itu tumbuh pula

payudara dan pelebaran pinggul. Pada pria tumbuh kumis, janggut,

jampang, kaki, tangan, kemaluan dan kadang-kadang pada dada. Terjadi

pula pelebaran pundak dan perubahan suara. Tanda-tanda kelamin tersebut

menunjukkan penampilan khas wanita atau pria.

Berdasarkan beberapa pandangan ahli di atas, dapat disimpulkan

bahwa perkembangan fisik remaja ditandai dengan matangnya organ

kelamin sekunder meliputi tumbuhnya rambut di kepala, ketiak dan

kemaluan serta tumbuhnya payudara dan melebarnya pinggul pada wanita.

Pada laki-laki tumbuhnya kumis, janggut, jampang, kaki, tangan, kemaluan

kadang-kadang pada dada, pelebaran pundak dan perubahan suara. Mulai

berfungsinya organ kelamin primer ditandai dengan menstruasi untuk

remaja wanita dan mimpi basah pada remaja laki-laki.

b. Karakteristik emosi remaja

Hurlock (2005: 212-213) mengemukakan bahwa remaja

mengalami ketegangan emosi yang meninggi sebagai akibat dari

perubahan fisik dan kelenjar. Adapun meningginya emosi terutama

50
karena anak laki-laki dan perempuan berada di bawah tekanan sosial dan

menghadapi kondisi baru, sedangkan selama masa kanak-kanak ia kurang

mempersiapkan diri untuk menghadapi keadaan-keadaan itu.

Remaja yang merupakan masa peralihan dari masa anak-anak dan

masa dewasa, statusnya menjadi agak kabur, baik bagi dirinya maupun

bagi lingkungannya. M. Ali dan M. Asrori (2005: 67), mengibaratkan

terlalu besar untuk serbet, terlalu kecil untuk taplak meja karena sudah

bukan anak-anak lagi, tetapi juga belum dewasa. Masa remaja biasanya

memiliki energi yang besar, emosi yang berkobar-kobar, sedangkan

pengendalian diri belum sempurna.

Hurlock (2005: 213) menyatakan pola emosi masa remaja sama

dengan pola emosi masa kanak-kanak. Perbedaannya terletak pada

rangsangan yang membangkitkan emosi dan derajat, dan khususnya pada

pengendalian latihan individu terhadap ungkapan emosi mereka.

Misalnya, perlakuan sebagai “anak kecil” atau secara “tidak adil”

membuat remaja sangat marah dibandingkan dengan hal-hal lain. Remaja

tidak lagi mengungkapkan amarahnya dan dengan cara gerakan amarah

yang meledak-ledak, melainkan dengan menggerutu, tidak mau

berbicara, atau dengan suara keras mengkritik orang-orang menyebabkan

amarah. Remaja juga iri hati terhadap orang yang memiliki benda lebih

banyak. Ia tidak mengeluh dan menyesali diri sendiri, seperti yang

dilakukan anak-anak. Remaja suka bekerja sambilan agar dapat

memperoleh uang untuk membeli barang yang diinginkan atau bila perlu

51
berhenti sekolah untuk mendapatkannya.

Berdasarkan beberapa pandangan ahli di atas, dapat disimpulkan

bahwa perkembangan emosi remaja sering berubah-ubah. Perubahan

emosi ini sangat dipengaruhi oleh lingkungan remaja.

c. Karakteristik kognitif atau inteligensi remaja

Jean Piaget (Agus Dariyo, 2004: 53) mengemukakan bahwa

inteligensi atau kecerdasan adalah kemampuan mental (aktivitas mental

atau mental activity) untuk beradapsi (menyesuaikan diri) dan mencari

keseimbangan dalam hidupnya. Lingkungan hidup ini terdiri atas

lingkungan fisik maupun lingkungan sosial. Masa remaja adalah masa

transisi dari kognitif operasional konkret berkembang menjadi

operasional formal.

Bracee dan Bracee (Agus Dariyo, 2004: 57) ciri-ciri

perkembangan kognitif operasi formal antara lain:

1) Individu telah memiliki pengetahuan gagasan inderawi yang cukup


baik.
2) Individu mampu memahami hubungan antara 2 (dua) ide atau lebih.
3) Individu dapat melaksanakan tugas tanpa perintah atau instruksi dari
gurunya.
4) Individu dapat menjawab secara praktis (applied), menyeluruh
(comprehensive), mengartikan (interpretative) suatu informasi yang
dangkal.

Santrock (Agus Dariyo, 2004: 57) menyatakan perkembangan

kognitif remaja dibandingkan dengan masa anak-anak terdapat perbedaan

pada ciri-ciri tahap operasi formal yaitu meliputi aspek berpikir abstrak,

idealistis, maupun logika. Secara rinci dapat dijelaskan sebagai berikut:

1) Abstrak. Remaja mulai berpikir lebih abstrak (teoritis) daripada anak-

52
anak. Kemampuan berpikir abstrak, menurut Turner dan Helm ialah

kemampuan untuk menghubungkan berbagai ide, pemikiran atau konsep

pengertian guna menganalisis, dan memecahkan masalah yang ditemui

dalam kehidupan formal maupun non formal. Remaja pada kondisi ini

dapat memecahkan masalah masalah yang abstrak, misalnya: persamaan

aljabar.

2) Idealistis. Remaja sering berpikiran dengan ketidakmungkinan. Mereka

berpikir secara ideal (das sollen) mengenai diri sendiri, orang lain,

maupun masalah-masalah sosial kemasyarakatan yang ditemui dalam

hidupnya. Ketika menghadapi hal-hal yang tidak benar (tidak beres),

maka remaja mengkritik agar hal itu segera diperbaiki dan menjadi

benar kembali.

3) Logika. Remaja mulai berpikir seperti seorang ilmuwan. Remaja mulai

mampu membuat suatu perencanaan untuk memecahkan suatu masalah.

Kemudian remaja mampu mencari cara pemecahan itu secara runtut,

teratur, dan sistematis.

Berdasarkan beberapa pandangan ahli di atas, dapat disimpulkan

bahwa perkembangan kognitif atau inteligensi remaja mulai masuk dalam

tahap operasional formal. Dalam tahap ini remaja sudah mulai berpikir

abstrak, idealistis, maupun logika.

d. Karakteristik Sosial

Hurlock (1991: 213) mengemukakan bahwa salah satu tugas

perkembangan masa remaja yang tersulit adalah penyesuaian sosial.

53
Remaja harus menyesuaikan diri dengan lawan jenis dalam hubungan yang

sebelumnya belum pernah ada dan harus menyesuaikan dengan mencapai

tujuan dari pola sosialisasi dewasa. Yang terpenting dan tersulit adalah

penyesuaian diri dengan meningkatnya pengaruh kelompok sebaya,

perubahan dalam perilaku sosial, pengelompokan sosial yang baru, nilai-

nilai baru dalam seleksi persahabatan, nilai baru dalam sosial.

Panut dan Ida Umami (2005: 133) menyatakan bahwa kelompok

sebaya mempunyai peranan yang sangat penting dalam penyesuaian diri

remaja, dan persiapan bagi kehidupannya di masa yang akan datang dan

juga berpengaruh terhadap perilaku dan pandangannya. Remaja pada umur

ini sedang berusaha bebas dari keluarga dan tidak tergantung kepada orang

tua. Selain itu, secara sosial remaja menghadapi konflik antara ingin bebas

dan ingin mandiri serta ingin nyaman. Oleh karena itu, remaja memerlukan

orang yang dapat memberikan rasa nyaman yang hilang dan dorongan

kepada rasa bebas yang dirindukannya.

Lebih lanjut Agus Dariyo (2004: 91) memaparkan sejumlah

karakteristik menonjol dari perkembangan sosial remaja, yaitu:

1) Berkembangnya kesadaran akan kesunyian dan dorongan pergaulan.


Ini sering kali menyebabkan remaja memiliki solidaritas yang amat
tinggi dan kuat dengan kelompok sebayanya, jauh melebihi dengan
kelompok lain; bahkan dengan orang tuanya sekalipun. Untuk itu,
remaja perlu diberikan perhatian intensif dengan cara melakukan
interaksi dan komunikasi secara terbuka dan hangat kepada mereka.
2) Adanya upaya memilih nilai-nilai sosial. Ini menyebabkan remaja
senantiasa mencari nilai-nilai yang dapat dijadikan pegangan. Dengan
demikian, jika tidak menemukannya cenderung menciptakan nilai-
nilai khas kelompok mereka sendiri. Untuk itu, orang dewasa dan
orang tua harus menunjukkan konsistensi dalam memegang dan
menerapkan nilai-nilai dalam kehidupannya.

54
3) Meningkatnya ketertarikan pada lawan jenis, menyebabkan remaja
pada umumnya berusaha keras memiliki teman dekat dari lawan
jenisnya atau pacaran. Untuk itu, remaja perlu diajak berkomunikasi
secara rileks dan terbuka untuk membicarakan hal-hal yang
berhubungan dengan lawan jenis.
4) Mulai tampak kecenderungannya untuk memilih karir tertentu,
meskipun sebenarnya perkembangan karir remaja masih berada pada
taraf pencarian karir. Untuk itu, remaja perlu diberikan wawasan karir
dy ,isertai dengan keunggulan dan kelemahan masing-masing jenis
karir tersebut.

Berdasarkan beberapa pendapat ahli di atas, dapat disimpulkan

bahwa perkembangan sosial remaja mulai menyesuaikan diri, bergaul

dengan kelompok sebayanya, memilih nilai-nilai sosial, tertarik terhadap

lawan jenis. Perkembangan sosial remaja sangat bergantung dari lingkungan

yang mereka tempati.

D. Kerangka Berpikir

Bimbingan kelompok sebagai salah satu bentuk bimbingan konseling

yang dilakukan akan memberikan pengalaman belajar bagi siswa agar mampu

berbicara, mengeluarkan pendapat, ide, saran, tanggapan, perasaan dan lain

sebagainya kepada orang banyak. Bimbingan kelompok juga akan membantu

siswa belajar menghargai pendapat orang lain, bertangung jawab atas pendapat

yang dikemukakannya dan mampu mengendalikan diri dan menahan emosi

(gejolak kejiwaan yang bersifat negatif). Ini juga akan bermanfaat dalam

mengembangkan bertenggang rasa, menambah keakraban antar siswa dan

mengembangan penyesaian masalah atau topik-topik umum yang dirasakan

atau menjadi kepentingan bersama.

55
Pendekatan cooperative learning model STAD terdiri atas lima

komponen utama, yaitu, presentasi kelas, tim, kuis, skor kemajuan individual,

rekognisi tim. Proses presentasi kelas, akan menorong siswa para siswa untuk

menyadari bahwa mereka harus benar-benar memberi perhatian penuh, karena

dengan demikian akan sangat membantu mereka mengerjakan kuis-kuis dan

skor kuis mereka menentukan skor tim mereka. Pembentukan Tim yang terdiri

dari 4-5 siswa memiliki fungsi utama untuk melibatkan siswa dalam

pembahasan permasalah bersama, membandingkan jawaban, dan mengoreksi

tiap kesalahan pemahaman apabila anggota tim ada yang membuat kesalahan.

Proses interaksi dalam Tim akan memberikan dampak positif pada

pengembangan dukungan kelompok. Hal ini berguna untuk memberikan

perhatian dan respek yang saling menguntungkan dalam hubungan antar

kelompok, rasa harga diri, penerimaan terhadap siswa-siswa lain. Kuis dalam

STAD akan mengajarkan bagaimana siswa bertanggung jawab secara

individual untuk memahami tugasnya. Sementara skor kemajuan individual

berguna untuk memberikan kepada tiap siswa bahwa mereka punya kontribusi

terhadap prestasi Tim. Sedangkan rekognisi tim merupakan bentuk

penghargaan bagi hasil kinerja tim yang mencapai tingkat keberhasilan

tertentu.

Dengan demikian, bimbingan kelompok yang dikombinasikan dengan

cooperative learning model STAD akan membimbing siswa agar mampu

berbicara di depan orang banyak, berani mengemukakan pendapat, ide, saran,

tanggapan, perasaaan, serta dapat belajar menghargai pendapat orang lain dan

56
bertanggung jawab atas pendapat yang dikemukannya. Interaksi dalam Tim

akan mengajarkan siswa agar mampu mengendalikan diri dan menahan emosi,

dapat bertenggang rasa dan akrab satu dengan yang lainnya. Dengan demikian,

secara tidak langsung keterampilan sosial siswa secara perlahan akan terbentuk

dan berkembang. Sehingga bimbingan kelompok yang dikombinasikan dengan

cooperative learning model STAD memungkinkan siswa untuk meningkatkan

kemampuan berkomunikasi, kemampuan menjalin hubungan baik dengan

orang lain, kemapuan menghargai diri sendiri dan orang lain, kemampuan

mendengarkan pendapat atau keluhan dari orang lain, kemampuan memberi

dan menerima feedback, kemampuan memberi dan menerima kritik, berlaku

atau bertindak sesuai norma dan aturan yang berlaku. Dengan demikian metode

ini digunakan secara tepat akan menumbuhkan keterampilan sosial siswa.

Dari beberapa uraian diatas dapat dibuat gambar kerangka pikir peneliti,

yaitu sebagai berikut:


Pemberian materi dengan
Keterampilan teknik bimbingan Keterampilan
sosial siswa kelompok berbasis sosial siswa
rendah cooperative learning meningkat
dengan metode STAD

Gambar 1. Diagram kerangka berpikir

Siswa yang semula memiliki keterampilan sosial yang rendah, dengan

pemberian materi dengan teknik teknik bimbingan kelompok berbasis

cooperative learning dengan metode STAD yang terdiri dari presentasi kelas,

tim, kuis, skor kemajuan individual dan rekognisi tim, akan memberikan

pengalaman belajar yang menungkinkan siswa dalam peningkatkan

keterampilan sosialnya.

57
E. Hipotesis Tindakan

Berdasarkan kajian teori dan kerangka berpikir diatas, maka

dirumuskan hipotesis tindakan dalam penelitian ini adalah bimbingan

kelompok berbasis cooperative learning dapat meningkatkan keterampilan

sosial siswa di SMP N 2 Pakem kelas VIII C.

58
BAB III
METODE PENELITIAN

A. Pendekatan Penelitian

Penelitian ini menggunakan penelitian tindakan (action research).

Departemen Pendidikan dan Kebudayaan (1999: 1) menyatakan bahwa

penelitian tindakan adalah salah satu strategi pemecahan masalah yang

memanfaatkan tindakan nyata dan proses pengembangan kemampuan dalam

mendeteksi dan memecahkan masalah. Dalam prosesnya, pihak-pihak yang

terlibat saling mendukung satu sama lain, dilengkapi dengan fakta-fakta dan

mengembangkan kemampuan analisis.

Menurut Kemmis & Mc Taggart yang dikutip oleh Suwarsih Madya

(2007: 10) ciri metode penelitian tindakan yaitu mencobakan gagasan-

gagasan baru dalam praktik sebagai alat peningkatan dan sebagai alat

menambah pengetahuan mengenai kurikulum, pengajaran dan pembelajaran

(learning).

Dari berbagai pendapat diatas, dapat diambil pengertian bahwa

penelitian tindakan merupakan salah satu strategi yang mengandung prinsip

penyelesaian masalah, dan merupakan alat menambah pengetahuan untuk

menambah kualitas tindakan agar menunjukan dampak yang nyata terhadap

situasi yang terjadi di dalamnya.

59
Dalam penelitian tindakan kelas yang dilakukan bermasud untuk

menyelesaikan masalah rendahnya keterampilan sosial yang dimiliki oleh

siswa. Penyelesaian masalah akan dilakukan melalui tindakan yang dilakukan

melalui siklus yang dirancang. Harapannya adalah setelah dilakukan tindakan

akan memberikan dampak terhadap meningkatnya keterampilan sosial siswa.

Tindakan akan dilakukan dalam bentuk kolaborasi antara guru dengan

peneliti.

B. Desain Penelitian

Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dan kuantitatif.

Peneliti terlibat secara langsung dari tahap perencanaan, memantau, mancatat

dan mengumpulkan data. Gambaran dari tahapan penelitian ini adalah sebagai

berikut :

0 0 : Perenungan

3 1 1 : Perencanaan

2 : Tindakan dan pengamatan I

2 3 : Refleksi I

6 4 : Revisi dan Perencanaan II

4 5 : Tindakan dan pengamatan II

5 6 : Refleksi II

Gambar 1. Proses Penelitian Tindakan Model Kemmis & Mc Taggart


(Suwarsih Madya, 1994: 25)

Penelitian tindakan ini menggunakan model Kemmis & Mc Taggart

yang dikutip oleh Suwarsih Madya (1994: 25), yang setiap siklus terdiri dari

60
perencanaan, tindakan, observasi dan refleksi. Sedangkan Suyanto ( 1997: 7)

mengemukakan bahwa penelitian tindakan kelas dapat dilakukan secara

kolaborasi dimana guru sebagai praktisi pembelajaran sedangkan peneliti

sebagai penggagas ide dan pengamat dibantu kolaborator.

Penelitian tindakan ini dilaksanakan dengan model Kemmis dan Mc

Taggart yang dikutip Suwarsh Madya (1994: 25), dan dilaksanakan secara

kolaborasi antara peneliti, guru bidang studi seni rupa dan guru pembimbing.

Tahap tindakan setiap siklus dalam penelitian ini meliputi tahap perencanaan,

tindakan, observasi dan refleksi.

C. Rencana Tindakan

Menurut Kemmis & Mc Taggart yang dikutip oleh Suwarsih Madya

(1994: 25), bahwa siklus terdiri dari perencanaan, tindakan, observasi dan

refleksi.

1. Pra Tindakan

Sebelum melakukan rencana tindakan, terlebih dahulu dilakukan

beberapa langkah pra tindakan agar dapat mengetahui kondisi awal peserta

sebelum diberi tindakan. Adapun langkah-langkah yang dilakukan pada saat

pra tindakan adalah:

a. Dilakukan observasi terhadap siswa kelas VIII SMP N 2 Pakem dan

wawancara terhadap guru BK untuk mengetahui kondisi subjek yang

akan dikenai tindakan.

61
b. Pemberian angket pra tindakan untuk mengetahui keterampilan

sosial siswa sebelum diberi tindakan.

c. Guru pembimbing, guru dan peneliti berdiskusi terkait tindakan yang

akan diberikan kepada siswa.

d. Peneliti berdiskusi dengan guru pembimbing mengenai pelaksanaan

tindakan.

2. Siklus

a. Perencanaan

Sebelum melakukan tindakan, dilakukan perencanaan kegiatan agar

penelitian tindakan dapat berjalan dengan lancar. Kegiatan Perencanaan

meliputi:

a. Menyiapkan pedoman observasi untuk membantu merekam fakta yang

terjadi selama tindakan berlangsung.

b. Menentukan kriteria keberhasilan setelah dilakukan tindakan pada hasil

penelitian.

c. Menyiapkan tempat dan waktu untuk melaksanakan tindakan.

d. Melakukan pembentukan kelompok untuk pelaksanaan bimbingan

kelompok yang dibentuk berdasarkan kriteria.

e. Peneliti memberikan bimbingan kelompok tentang materi “Keterampilan

Sosial” kemudian dilakukan diskusi kelompok.

f. Guru pembimbing memberikan materi tentang keterampilan sosial

kepada siswa.

62
g. Guru pembimbing memberikan bimbingan kelompok menggunakan

teknik berbasis cooperative learning.

b. Tindakan

Tindakan dalam penelitian ini adalah dengan menggunakan teknik

bimbingan kelompok berbasis cooperative learning dengan menggunakan

teknik STAD. Langkah cooperative learning diawali dengan pembukaan

yang diisi dengan kegiatann presensi dan pengarahan mengenai tahap

pelajaran yang akan dilakukan. Selanjutnya akan dilakukan langkah-langkah

tindakan cooperative learning yang pada tahap belajarnya akan

memasukkan unsur-unsur belajar kelaompok. Langkah yang disusun

meliputi lima langkah kegiatan yaitu: (1) tes penetapan skor awal; (2)

penyampaian materi; (3) belajar tim; (4) tes individual; dan (5) rekognisi

tim. Secara lengkap diuraikan sebagai berikut :

1) Tes Penetapan Skor Awal

Tes penetapan skor awal dimaksudkan untuk mengetahui skor

keterampilan sosial awal siswa sebelum tindakan dilakukan. Tes ini

dilakukan dengan cara memberikan lembar kerja yang berupa soal-

soal tentang keterampilan sosial. Siswa diminta mengerjakan soal-soal

tersebut secara individual tanpa boleh bertanya apalagi mencontek

teman lain. Hasil tes tersebut merupakan pedoman guna menghitung

skor kemajuan siswa.

63
2) Mengajar (menyampaikan materi)

Guru memberi penjelasan terhadap siswa tentang materi

keterampilan sosial. Materi keterampilan sosial mencakup: pengertian

keterampilan sosial, manfaat keterampilan sosial, ciri keterampilan

sosial, dan faktor yang mempengaruhi keterampilan sosial.

3) Belajar Tim

Pada tahap ini, kegiatan kelompok dimulai dengan proses

pembentukan tim. Siswa yang berjumlah 12 orang dibagi dalam 3

kelompok (tim), masing-masing terdiri dari 4 siswa. Pembentukan tim

ini mempertimbangkan jenis kelamin siswa, artinya pada tiap tim

terdapat siswa laki-laki dan perempuan secara proporsional.

Tahap selanjutnya adalah peralihan dari belajar individual ke

belajar kelompok. Langkah yang dilakukan adalah: setelah tim

terbentuk, siswa diminta duduk sesuai dengan kelompok timnya

masing-masing. Masing-masing tim diminta untuk berdiskusi untuk

memberi nama pada kelompoknya masing-masing. Guru memberikan

kebebasan kepada kelompok untuk memberikan nama pada kelompok

mereka sesuai kesepakatan tiap-tiap tim.

Tahap selanjutnya adalah kegiatan, yaitu mendiskusikan materi

pelajaran. Setelah nama terbentuk, masing-masing, masing-masing

tim diminta untuk berdiskusi mengenai materi keterampilan sosial

yang telah diberikan sebelumnya. Siswa diminta saling tanya jawab

dengan satu kelompoknya dari materi yang telah diberikan. Satu

64
kelompok secara bergantian saling tanya jawab. Dalam kegiatan ini

siswa cukup antusias dengan tanya jawab. Jika teman dalam satu tim

tidak dapat menjawab pertanyaan dari satu timnya, akan diberikan

hukuman dengan dicoret tangannya dengan bolpoint.

Tahap selanjutnya adalah tahap terakhir pada kegiatan

kelompok yaitu: pengakhiran. Kegiatan ini dilakukan oleh guru

dengan memberikan game puzzle. Tiap tim diminta merangkai puzzle

yang berjumlah 30 kepingan dalam waktu 2 menit. Siswa dituntut

untuk bekerjasama dalam tim yang nanti akan dinilai prestasi timnya.

Setelah waktu 2 menit, dihitung bersama-sama berapa puzzle yang

dapat tersusun dari masing-masing tim. Tujuan dari game ini adalah

melatih siswa untuk bekerjasama dalam sebuah tim, serta bagaimana

mereka dapat menyelesaikan masalah secara bersama-sama dengan

membangun komunikasi yang baik.

4) Tes Individual

Tes individual dilakukan setelah tahap belajar tim. Tes

individual bertujuan untuk mengetahui skor kemajuan siswa. Skor ini

nantinya akan dibandingkan dengan skor awal untuk mengetahui

apakah perlakukan yang diberikan menghasilkan kemajuan dalam hal

ketrampilan sosial individual masing-masing siswa.

Tes dilakukan dengan cara, siswa diminta duduk secara

individual berpisah dari tim nya tadi. Kemudian guru membagikan

lembar kerja sama seperti yang diberikan pada tahap penetapan skor

65
awal. Siswa diminta agar mengerjakan soal secara individual dan tidak

mencontek teman lain dalam waktu 15 menit.

5) Rekognisi Tim

Pada tahap ini dihitung poin kemajuan individual siswa dan

skor tim masing-masing kelompok. Pada tahap ini guru merekognisi

prestasi tim dengan memberikan reward kepada siswa sesuai dengan

prestasinya.

c. Pengamatan

Pengamatan terhadap proses pelaksanaan bimbingan kelompok

berbasis cooperative learning dengan teknik STAD menggunakan lembar

observasi. Peneliti mencatat dengan cermat apa yang terjadi selama kegiatan

tersebut dan setelah tindakan diberikan agar memperoleh data yang akurat

untuk perbaikan siklus berikutnya. Hal-hal yang diamati pada saat

pelaksanaan tindakan adalah perilaku diri siswa, perilaku terhadap

lingkungan sekitar, perilaku terkait tugas, dan perilaku sosial.

d. Refleksi

Pada tahap ini, data yang telah terkumpul selanjutnya akan dianalisis

sebagai bahan untuk refleksi. Hasil dari data yang telah diperoleh tersebut,

maka akan dapat diketahui apakah kegiatan yang telah dilakukan dapat

meningkatkan keterampilan sosial siswa atau tidak. Hasil refleksi

digunakan sebagai bahan acuan untuk merencanakan tindakan yang lebih

efektif pada siklus berikutnya.

66
D. Subjek Penelitian

Berdasarkan hasil wawancara dengan guru BK dan pengamatan

terhadap siswa tentang siswa yang mempunyai keterampilan sosial rendah

sehingga dapat ditentukan sampel siswa berdasarkan populasi yang

memiliki sifat dan karkteristik sama yang hasilnya akan digeneralisasikan

pada seluruh populasi. Oleh karena itu, sampel penelitian ditentukan pada

kelas VIII C yang berjumlah 12 anak. Pengamatan perkembangan

keterampilan sosial, difokuskan pada siswa kelas VIII C yang berdasarkan

penilaian awal memiliki keterampilan sosial yang rendah, sejumlah 12

siswa. Penilaian pada pra tindakan dilakukan dengan mengukur

keterampilan sosial siswa melalui skala keterampilan sosial.

E. Variabel Penelitian

1. Keterampilan Sosial

Keterampilan sosial adalah kemampuan yang berkaitan dengan

perilaku sosial yang digunakan selama melakukan interaksi dengan orang

lain secara efektif, dimana seseorang mampu menunjukkan perilaku diri

yang baik dan dapat menyesuaikan diri dalam lingkungan, serta dapat

menjalankan tugasnya sesuai dengan perannya.

2. Bimbingan Kelompok Berbasis Cooperative Learning

Bimbingan kelompok adalah layanan bimbingan untuk membantu

siswa dalam situasi kelompok untuk pengembangan pribadi, kemampuan

hubungan sosial, kegiatan belajar, karir atau jabatan dan pengambilan

keputusan serta melakukan kegiatan tertentu melalui dinamika kelompok

67
dengan klasifikasi kelompok, yaitu kelompok kecil, kelompok sedang, dan

kelompok kelas. Dalam menggunakan bimbingan kelompok akan

dipadukan dengan menggunakan teknik Cooperative Learning.

Cooperative Learning adalah suatu model dalam melakukan pembelajaran

dimana siswa akan dikelompokkan secara heterogen dengan jumlah siswa

4 - 6 orang. Siswa akan belajar dan bekerja secara kolaboratif dan

bergotong royong sehingga dapat merangsang siswa lebih bergairah dalam

belajar serta mencapai kemampuan yang maksimal dengan satu tujuan

yang sama.

F. Tempat dan Waktu Penelitian

1. Tempat Penelitian

Penelitian ini dilaksanakan di SMP N 2 Pakem, yang beralamatkan

di Jl. Kaliurang km.20 Hargobinangun Pakem, Sleman.

2. Waktu Penelitian

Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Juni 2013 sampai Juli 2013.

G. Instrumen Penelitian

Menurut Suharsimi Arikunto (2002: 137) dalam pemilihan metode dan

instrumen penelitian sangat ditentukan oleh beberapa hal yaitu : objek

penelitian, sumber data, waktu, dana yang tersedia, jumlah tenaga peneliti, dan

teknik yang akan digunakan untuk mengolah data bila sudah terkumpul.

Menurut Suharsimi Arikunto (2002: 136) Instrumen penelitian adalah

alat atau fasilitas yang digunakan oleh peneliti dalam mengumpulkan data agar

pekerjaannya lebih mudah dan hasilnya lebih baik dalam arti lebih cermat,

68
lengkap, serta sistematis sehingga lebih mudah diolah. Instrumen yang

digunakan dalam peneliti tindakan ini adalah skala keterampilan sosial,

pedoman observasi dan pedoman wawancara.

Adapun langkah-langkah dalam penyusunan instumen menurut

Suharsimi Arikunto (2006: 70) adalah sebagai berikut :

1. Mengidentifikasi variabel-variabel dalam rumusan judul penelitilian.

2. Menjabarkan variabel-variabel tersebut menjadi sub variabel atau dimensi.

3. Mencari indikator atau setiap sub variabel.

4. Menderetkan deskriptor dari setiap indikator.

5. Merumuskan setiap deskriptor menjadi butir-butir instrumen.

6. Melengkapi instrumen dengan petunjuk pengisian dan kata pengantar.

Berdasarkan uraian tersebut maka peneliti melakukan penyusunan

instrumen untuk meningkatkan keterampilan sosial siswa kelas VIII C SMP N

2 Pakem sebagai berikut:

1. Mengidentifikasi variabel-variabel dalam rumusan judul penelitilian.

Judul penelitian adalah peningkatan keterampilan sosial melalui

bimbingan kelompok berbasis cooperative learning pada siswa kelas VIII

C SMP N 2 Pakem, variabel dari judul tersebut adalah keterampilan sosial

dan bimbingan kelompok berbasis cooperative learning.

2. Mencari indikator atau setiap variabel

Indikator dari setiap variabel dalam penelitian adalah:

a. Perilaku diri.

69
b. Perilaku lingkungan.

c. Perilaku terkait tugas.

d. Perilaku interpersonal.

3. Menderetkan deskriptor dari setiap indikator.

Selanjutnya dari setiap indikator tersebut dijabarkan menjadi

bagian yang lebih kecil yaitu deskriptor.

4. Merumuskan setiap deskriptor menjadi butir-butir instrumen.

Sebelum menuliskan butir-butir pertanyaan peneliti membuat skala

angket keterampilan sosial dan kisi-kisi angket terlebih dahulu. Adapun

skala angket keterampilan sosial dan kisi-kisi angket adalah sebagai

berikut:

a. Menyusun Skala

1) Membuat definisi operasional

Keterampilan sosial adalah kemampuan yang berkaitan dengan

perilaku sosial yang digunakan selama melakukan interaksi dengan orang

lain secara efektif, dimana seseorang mampu menunjukkan perilaku diri

yang baik dan dapat menyesuaikan diri dalam lingkungan, serta dapat

menjalankan tugasnya sesuai dengan perannya. Empat aspek yang

menggambarkan kemampuan keterampilan sosial adalah, perilaku diri,

perilaku lingkungan, perilaku terkait tugas, perilaku interpersonal.

70
2) Membuat kisi-kisi intrumen

Tabel 3. Kisi-kisi instrumen skala keterampilan sosial sebelum uji validitas

No. Item
Variabel Aspek Indikator ∑
+ -
Perilaku diri a. Dapat menerima konsekuensi atas apa
yang diperbuat 1,2 3,4
b. Dapat berperilaku sesuai etika yang 5,6 7,8
ada
c. Mampu mengekspresikan perasaan
yang dirasakan kepada orang lain 9,10 11,12

d. Mampu merespon komunikasi dengan 13,14 15,16


orang lain
e. Dapat peduli terhadap diri sendiri 17,18 19,20
Perilaku a. Peduli terhadap lingkungan di sekitar 21,22 23,24
lingkungan b. Mampu bertindak saat keadaan darurat 25,26 27,28

a. Mampu bertanya dan menjawab 29,30 31,32


pertanyaan
Keterampilan b. Memperhatikan penjelasan guru di 33,34 35,36
Sosial dalam kelas
Perilaku c. Ikut serta dalam diskusi diskusi kelas 37,38 39,40
terkait tugas d. Menyelesaikan tugas-tugas yang telah 41,42 43,44
diberikan
e. Mengikuti peraturan yang telah 45,46 47,48
disepakati
f. Ikut berperan dalam kegiatan 49,50 51,52
kelompok
g. Mampu menunjukkan diri di dalam 53,54 55,56
kelas
a. Mampu mencari jalan keluar dalam 57,58 59,60
mengatasi konflik
b. Menunjukan perhatian terhadap orang 61,62 63,64
lain
c. Mengucapkan salam ketika bertemu 65,66 67,68
orang lain
Perilaku d. Membantu orang lain yang sedang 69,70 71,72
interpersonal dalam kesusahan
e. Mampu memulai percakapan 73,74 75,76
f. Ikut dalam organisasi di sekolah 77,78 79,80
g. Mampu menerima orang lain apa 81,82 83,84
adanya
h. Dapat mengatur diri dalam situasi 85,86 87,88
apapun

71
3) Menyusun item skala

Setiap pernyataan dalam skala angket keterampilan sosial

dilengkapi dengan empat pilihan jawaban yaitu yaitu sangat sesuai

(SS), sesuai (S), tidak sesuai (TS) dan sangat tidak sesuai (STS).

Skor untuk skala keterampilan sosial yang positif secara berurutan

adalah 4, 3, 2, 1. Untuk skala keterampilan sosial yang negatif

masing-masing diberi skor 1, 2, 3, 4.

b. Menyusun pedoman wawancara

Tabel 4. Pedoman Wawancara

No. Aspek Deskriptor

1. Perilaku diri a) Apakah anda merasa bahwa berperilaku anda telah sesuai dengan etika?
b) Apakah anda sering curhat terhadap teman ketika ada masalah?

2. Perilaku a) Apakah anda merasa telah peduli terhadap lingkungan disekitar?


lingkungan b) Jika sudah, dalam bentuk apa saja?

3. Perilaku terkait a) Apakah anda merasa senang dengan tugas yang diberikan guru?
tugas b) Apakah anda sering mengajukan pertanyaan atau menjawab pertanyaan
kepada guru?
c) Apakah anda senang berdiskusi dengan teman?
d) Apakah anda menyelesaikan tugas yang diberikan tepat waktu?
e) Apakah anda pernah melanggar paraturan sekolah?

4. Perilaku a) Apakah anda merasa sulit bergaul dengan teman?


b) Apakah anda senang membantu kesulitan teman?
Interpersonal

c. Menyusun pedoman observasi

Pedoman observasi ini digunakan untuk mencatat sikap dan

perilaku siswa yang muncul dalam pelaksanaan permaianan dan diskusi

kelompok.

72
Tabel 5. Pedoman Observasi Keterampilan Sosial
No.
No. Aspek yang diamati Deskripsi ∑
Item
1. Perilaku diri Perilaku siswa sesuai dengan etika 1
Respon siswa terhadap teman lain saat 2 2
berkomunikasi
2. Perilaku lingkungan Kepedulian siswa terhadap 3 3
lingkungan sekitar
3. Perilaku terkait Keaktifan siswa dalam kegiatan diskusi 4
Tugas Perhatian siswa terhadap penjelasan guru
Tanggung jawab siswa terhadap tugas 5
Kepatuhan siswa terhadap peraturan 8
6
7

4. Perilaku interpersonal Mengendalikan diri saat berdiskusi 8 8

H. Uji Validitas dan Reliabilitas Instrumen

1. Uji Validitas Instrumen

Burhan Nurgiyantoro, dkk (2004: 336) menyatakan validitas

berkaitan dengan permasalahan ”Apakah istrumen yang dimaksudkan untuk

mengukur sesuatu itu memang dapat mengukur secara tepat terhadap

sesuatu yang akan diukur”. Semakin tinggi validitas maka instrumen

semakin valid atau sahih, semakin rendah validitas maka instrumen kurang

valid.

Uji validitas instrumen dilakukan untuk mengetahui seberapa jauh

instrumen penelitian mampu mencerminkan isi sesuai dengan hal dan sifat

yang diukur. Artinya, setiap butir instrumen telah benar-benar

menggambarkan keseluruhan isi atau sifat bangun konsep yang menjadi

73
dasar penyusunan instrumen. Pengujian ini digunakan rumus product

momen dengan rumus yang dikemukakan oleh Burhan Nurgiyantoro (2004:

338):


rxy =
– –

Keterangan :

r xy = Koefisien korelasi suatu butir

N = Jumlah sampel

X = Skor total butir pernyataan

Y = Skor butir pernyataan

Dalam pengembangan dan penyusunan skala-skala psikologi

digunakan harga koefisien korelasi yang sesuai dengan r tabel. Untuk N=27,

r minimal sama dengan 0, 253. Dengan demikian semua pernyataan yang

memiliki korelasi dengan skor skala kurang dari 0, 253 harus disisihkan dan

pernyataan-pernyataan yang diikutkan dalam skala sikap adalah yang

memiliki koefisien korelasi 0, 253 ke atas.

Tabel 6. Rangkuman Item Sahih dan Item Gugur

Variabel Jumlah item Jumlah item gugur Jumlah item sahih


semula

10 78

(1,2,3,4,6,7,9,11,12,13,14,16,17,1
9,20,22,23,24,25,26,28,29,30,31,3
Keterampilan
88 2,33,34,35,36,37,38,39,40,41,42,4
Sosial (5,8,10,15,18,21,27,4
3,44,45,46,47,49,50,51,52,53,54,5
8,68,73)
5,56,57,58,59,60,61,62,63,64,65,6
6,67,69,70,71,72,74,75,76,77,78,7
9,80,81,92,83,84,85,86,87,88)

74
Tabel.7 Kisi-Kisi Instrumen Skala Keterampilan Sosial Setelah Uji Validitas

No. Item
Variabel Aspek Indikator ∑
+ -
f. Dapat menerima konsekuensi atas apa 1,2 3,4
yang diperbuat
g. Dapat berperilaku sesuai etika yang 5 6
ada
h. Mampu mengekspresikan perasaan 7 8,9
Perilaku diri
yang dirasakan kepada orang lain
i. Mampu merespon komunikasi dengan 10,11 12
orang lain
j. Dapat peduli terhadap diri sendiri 13 14,15
c. Peduli terhadap lingkungan di sekitar 16 17,18
Perilaku lingkungan d. Mampu bertindak saat keadaan darurat 19,20 21

h. Mampu bertanya dan menjawab 22,23 24,25


pertanyaan
i. Memperhatikan penjelasan guru di 26,27 28,29
dalam kelas
j. Ikut serta dalam diskusi diskusi kelas 30,31 32,33
Keterampilan Perilaku terkait
k. Menyelesaikan tugas-tugas yang telah 34,35 36,37
Sosial tugas
diberikan
l. Mengikuti peraturan yang telah 38,39 40
disepakati
m. Ikut berperan dalam kegiatan 41,42 43,44
kelompok
n. Mampu menunjukkan diri di dalam 45,46 47,48
kelas
i. Mampu mencari jalan keluar dalam 49,50 51,52
mengatasi konflik
j. Menunjukan perhatian terhadap orang 53,54 55,56
lain
k. Mengucapkan salam ketika bertemu 57,58 59
Perilaku
orang lain
interpersonal l. Membantu orang lain yang sedang 60,61 62,63
dalam kesusahan
m. Mampu memulai percakapan 64 65,66
n. Ikut dalam organisasi di sekolah 67,68 69,70
o. Mampu menerima orang lain apa 71,72 73,74
adanya
p. Dapat mengatur diri dalam situasi 75,76 77,78
apapun

75
2. Uji Reliabilitas Instrumen

Saifuddin Azwar (2004: 4) menyatakan bahwa reliabilitas adalah

sejauh mana hasil suatu pengukuran dapat dipercaya. Instrumen yang sudah

dapat dipercaya, yang reliabel akan menghasilkan data yang dapat dipercaya

juga. Apabila datanya memang sesuai dengan kenyataannya, maka berapa

kalipun diambil tetap akan sama.

Menurut Syaifuddin Azwar (2007: 83) pengujian reliabilitas

terhadap hasil ukur skala psikologi dilakukan apabila item-item yang

terpilih lewat prosedur analisis item telah dikompilasikan menjadi satu.

Kumpulan item ini merupakan format pertama skala yang masih sangat

mungkin mengalami perubahan isi setelah pengujian reliabilitas dan

validitas dilakukan. Pada tahapan ini, data jawaban respon yang dihasilkan

dari uji coba dapat digunakan sebagai data pengujian reliabilitas. Karena

pengujian reliabilitas dan validitas merupakan pengujian yang terus

berlanjut selama skala yang bersangkutan masih digunakan , maka pada

tahapan-tahapan berikutnya data untuk pengujian reliabilitas diperoleh dari

kelompok subjek yang diukur.

Reliabilitas menunjukkan sejauh mana alat ukur dapat diandalkan

sebagai alat pengumpul dataUntuk uji reliabilitas instrumen, digunakan

rumus Alpha dari Cronbach (Nurgiyantoro, 2004: 350) sebagai berikut

Keterangan:

76
r11= reliabilitas instrumen

k = Banyaknya butir pertanyaan

Σσi 2 = Jumlah varian butir

σ2 = Varian total

Realibilitas dinyatakan oleh koefisien realibilitas yang angkanya

berkisar antara 0 sampai dengan 1,00. Semakin tinggi koefisien realibilitas

mendekati 1,00 berarti semakin tinggi realibilitasnya. Sebaliknya koefisien

yang semakin rendah mendekati angka 0, berarti semakin rendah

reliabilitasnya.

Case Processing Summary

N %

Cases Valid 25 100.0

Excludeda 0 .0

Total 25 100.0

a. Listwise deletion based on all variables in the procedure.

Reliability Statistics

Cronbach's Alpha N of Items

.963 88

77
I. Teknik Analisis Data

Menurut Ardhana (Lexy J. Moleong, 2002: 103) menjelaskan bahwa

analisis data adalah proses mengatur urutan data, mengorganisasikanya ke

dalam suatu pola, kategori, dan satuan uraian dasar. Teknik analisis data

yang digunakan oleh peneliti yaitu analisis data kuantitaif.

 Analisis Data Kuantitatif

Data kuantitatif adalah berupa angka. Pada penelitian ini, analisis

data yang digunakan adalah dengan menghitung skor tertinggi dan terendah

dari nilai skor skala keterampilan sosial serta menghitung skor masing-

masing subjek.

Penentuan kategori kecenderungan tiap-tiap variabel didasarkan

pada norma atau ketentuan kategori. Merujuk pada penjelasan Saifuddin

Azwar (2010 : 107-119) berikut ini langkah-langkah pengkategorisasian

keterampilan sosial dalam penelitian ini :

a. Untuk Pra Tindakan

1) Menentukan skor tertinggi dan skor terendah

Skor tertinggi = 4 x 78 = 312

Skor terendah = 1 x 78 = 78

b. Menghitung mean ideal (M) yaitu (skor tertinggi+skor terendah)

M = ½ (312 + 78 )

= ½ (390)

= 195

c. Menghitung standar deviasi (SD) yaitu 1/6 (skor tertinggi- skor terendah)

78
SD = 1/6 (312- 78)

= 1/6 (234)

= 39

Batas antara kategori tersebut adalah (M+1SD) = 234 dan (M-1SD) =

156. Kategori untuk percaya diri siswa diamati pada tabel 5 berikut ini :

Tabel 8. Kategori Keterampilan Sosial


Batas (Interval) Rumus Kategori

Keterampilan Sosial
Skor < 156 < (M-1SD)
Rendah

Keterampilan Sosial
156 ≤ Skor < 234 (M-1SD) s/d (M+1SD)
Sedang

Keterampilan Sosial
Skor ≥ 234 ≥ (M+1SD)
Tinggi

J. Kriteria Keberhasilan

Pada penelitian ini, peneliti mengambil jenis penelitian tindakan kelas.

Satu siklus yang akan peneliti ambil terdiri dari 5 tindakan yaitu secara garis

besar terdiri dari tes penetapan skor awal, penyampaian materi, belajar tim,

tes individual, rekognisi tim dan rekognisi prestasi tim. Peneliti akan

menghentikan penelitian apabila telah mencapai kriteria tinggi, atau

keterampilan sosial mereka sudah mencapai 234, tetapi jika belum mencapai

nilai yang diharapkan akan dilanjutkan ke siklus ke dua.

79
BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

A. Lokasi Penelitian

1. Deskripsi Lokasi Penelitian

SMP Negeri 2 Pakem merupakan salah satu sekolah yang digunakan

sebagai lokasi penelitian. SMP Negeri 2 Pakem berdiri sejak 1 September

1946. Sekolah ini berlokasi di Hargobinangun Pakem Jalan Kaliurang Km.20

Sleman, dengan luas tanah 12.800 m². Saat ini SMP Negeri 2 Pakem dipimpin

oleh seorang Kepala Sekolah dengan 1 orang Wakil Kepala Sekolah Bagian

Kurikulum, 1 orang Wakil Kepala Sekolah Bagian Humas, 1 orang Wakil

Kepala Sekolah Bagian Kesiswaan, 1 orang Wakil Kepala Sekolah Bagian

Sarana dan Prasarana, 30 orang guru, 10 pegawai Tata Usaha (TU), 5

karyawan dan 1 orang satpam.

Kondisi kelas maupun bangunan-bangunan atau ruang-ruang lainnya di

SMP N 2 Pakem cukup baik. Fasilitas yang mendukung kegiatan pembelajaran

juga sudah lengkap, mempunyai fasilitas rata-rata dimiliki sekolah-sekolah

lainnya.

B. Deskripsi Subyek Penelitian

Subjek penelitian adalah siswa kelas VIII C di SMP N 2 Pakem Sleman

yang memiliki keteram[pilan sosial yang rendah, berjumlah 12 orang.

Pemilihan subjek berdasarkan hasil obervasi, wawancara dengan guru

pembimbing dan hasil pra-tindakan. Berikut ini adalah nama subjek tersebut :

80
Tabel 9. Subyek Penelitian

No Nama No Nama
1 EWN 7 DDAC
2 AMM 8 FRN
3 AWS 9 NRKI
4 BS 10 REP
5 DM 11 YPDYR
6 DSN 12 SRCAS

C. Siklus I (Pertama)

1. Perencanaan Siklus I

Sebelum melakukan tindakan, dilakukan perencanaan kegiatan agar

penelitian tindakan dapat berjalan dengan lancar. Kegiatan Perencanaan

meliputi:

a. Menentukan kriteria keberhasilan, yaitu dengan menggunakan skor

keterampilan sosial. Jika skor keterampilan sosial telah mmencapai skor

234, maka telah dianggap berhasil.

b. Menyiapkan pedoman observasi yang akan digunakan untuk merekam

fakta yang terjadi selama tindakan berlangsung. Pedoman ini akan

digunakan oleh observer ketika melakukan observasi selaam tindakan

berlangsung.

c. Menyiapkan tempat untuk melaksanakan tindakan, yaitu kelas VIII C.

d. Menyiapkan jadwal waktu tindakan Siklus I yaitu:

1) Senin, 17 Juni 2013, pukul 08.00 - 09.00 WIB  Tes Pra Tindakan

2) Selasa, 18 Juni 2013, pukul 08.00 - 09.15 WIB  Penyampaian

Materi

81
3) Rabu, 19 Juni 2013, pukul 08.30 - 09.00 WIB  Belajar Tim dan

Tes Individul

4) Kamis, 20 Juni 2013, pukul 08.00 - 09.15 WIB  Rekognisi Tim

2. Tindakan Siklus I

a. Tes penetapan skor awal

Dalam penelitian ini, dilakukan pra tindakan terlebih dahulu sebelum

melaksanakan tindakan dengan tujuan untuk mengukur tingkat keterampilan

sosial siswa. Pada pra tindakan keterampilan sosial siswa diambil dengan

menggunakan skala keterampilan sosial yang berisi 78 pernyataan dimana

pernyataan-pernyataan tersebut telah diuji validitas dan reliabilitasnya. Setelah

dilakukan pra tindakan selanjutnya dilakukan tindakan dan kemudian

dilakukan pasca tindakan yaitu dengan skala keterampilan sosial untuk

mengukur tingkat keterampilan sosial setelah dilakukan tindakan.

Hasil pra tindakan menunjukkan bahwa dari 12 siswa, skor yang

tertinggi yaitu 245 kemudian skor terendah adalah 180 dan skor rata-rata 221,6.

Setelah diketahui skor tingkat keterampilan sosial yang dimiliki siswa,

selanjutnya keterampilan sosial siswa tersebut dikategorikan.

Tabel 10. Kategori Keterampilan Sosial

Batas (Interval) Rumus Kategori


Skor < 156 < (M-1SD) Keterampilan Sosial Rendah

156 ≤ Skor < 234 (M-1SD) s/d (M+1SD) Keterampilan Sosial Sedang
Skor ≥ 234 ≥ (M+1SD) Keterampilan Sosial Tinggi

Berdasarkan data diatas diketahui bahwa keterampilan sosial siswa

dengan skor <156 dikategorikan keterampilan sosial rendah, keterampilan

82
sosial dengan 156≤ skor <234 dikategorikan keterampilan sosial sedang,

keterampilan sosial dengan skor ≥234 dikategorikan dengan keterampilan

sosial tinggi.

Sistem pengukuran dan pengkategorian keterampilan sosial diatas

kemudian digunakan pada pra tindakan untuk mengetahui tingkat

keterampilan sosial siswa. Berikut disajikan secara jelas data pra tindakan

masing-masing siswa.

Tabel 11. Hasil Skala pra tindakan tentang Keterampilan Sosial


No Nama Skor Kategori
1 EWN 180 Sedang
2 AMM 228 Sedang
3 AWS 223 Sedang
4 BS 231 Sedang
5 DM 233 Sedang
6 DSN 221 Sedang
7 DDAC 245 Tinggi
8 FRN 221 Sedang
9 NRKI 232 Sedang
10 REP 227 Sedang
11 YPDYR 213 Sedang
12 SRCAS 206 Sedang
Rata-rata 221,6

Berdasarkan tabel diatas dapat dikategorisasikan siswa yang memiliki

keterampilan sosialnya tinggi berjumlah 1 siswa, keterampilan sosial sedang

berjumlah 11 siswa, dan yang keterampilan sosial rendah berjumlah 0 siswa.

b. Penyampaian materi

Guru memberi penjelasan terhadap siswa tentang materi keterampilan

sosial. Materi keterampilan sosial mencakup: pengertian keterampilan sosial,

83
manfaat keterampilan sosial, ciri keterampilan sosial, dan faktor yang

mempengaruhi keterampilan sosial.

Berdasarkan hasil observasi saat guru menjelaskan materi, siswa

tampak bosan dan kurang antusias dalam mendengarkan. Setelah guru

menjelaskan materi, guru memberikan umpan balik terhadap siswa tentang

materi tersebut. Guru memberikan pertanyaan secara bergantian dan terus

menerus terhadap siswa sehingga siswa dapat memahami tentang apa itu

sebenarnya keterampilan sosial. Guru memberikan contoh dan gambaran

bagaimana seseorang yang kurang cerdas akan tetapi mempunyai keterampilan

sosial yang baik sehingga dapat sukses dengan mengembangkan keterampilan

sosialnya. Setelah itu guru masih mengulang pertanyaan secara acak kepada

siswa tentang materi yang telah diberikan.

Manfaat dari tahap ini adalah agar siswa lebih memahami materi yang

telah diberikan. Bagi siswa yang tidak membaca materi di rumah diberikan

kesempatan belajar pada tahap ini.

c. Belajar tim

Pada kegiatan ini guru membagi siswa dalam sebuah kelompok, siswa

yang berjumlah 12 anak akan dibagi dalam 3 kelompok yang setiap

kelompoknya terdiri dari 4 siswa. Guru membagi siswa dengan 2 siswa laki-

laki dan 2 siswa perempuan dalam satu kelompok sehingga adil. Dengan rata-

rata kemampuan yang hampir sama dalam tiap kelompoknya. Daftar kelompok

tersebut adalah:

84
Tabel. 13 Daftar Nama Kelompok
Kelompok 1 Kelompok 2 Kelompok 3
YPDY EWN AMM
FRN DM AW
REP DSM DDAC
BS SR NR

Setelah dibentuk kelompok guru meminta siswa duduk sesuai dengan

kelompoknya masing-masing. Setelah mereka duduk pada kelompok masing-

masing guru meminta siswa berdiskusi untuk memberikan nama pada

kelompok masing-masing. Guru memberikan kebebasan kepada kelompok

untuk memberikan nama pada kelompok mereka sesuai kesepakatan tiap-tiap

tim. Dalam kegiatan ini sangat bermanfaat untuk meningkatkan keterampilan

sosial siswa dengan mengemukakan pendapat dan menyelesaikan konflik.

Berikut nama tim hasil kesepakatan masing-masing kelompok:

Tabel. 14 Nama Tim Hasil Kesepakatan Kelompok


Kel. 1 Nama Kel. 2 Nama Kel. 3 Nama
kelompok kelompok kelompok
YPDY FERAYOBA EWN TELMI AMM SUPER
FRN DM AW
REP DSM DDAC
BS SR NR

Setelah selesai memberi nama pada tim masing-masing guru meminta

siswa untuk berdiskusi terhadap materi yang telah diberikan sebelumnya

tentang keterampilan sosial.

Siswa diminta saling tanya jawab dengan satu kelompoknya dari materi

yang telah diberikan. Satu kelompok secara bergantian saling tanya jawab.

Dalam kegiatan ini siswa cukup antusias dengan tanya jawab. Jika teman

85
dalam satu tim tidak dapat menjawab pertanyaan dari satu timnya, akan

diberikan hukuman dengan dicoret tangannya dengan bolpoint.

Sebelum menginjak kegiatan berikutnya, guru memberikan game

puzzle dimana siswa dalam satu tim harus merangkai puzzle yang berjumlah

30 kepingan. Siswa dituntut untuk bekerjasama dalam tim yang nanti akan

dinilai kekompakannya. Dalam waktu 2 menit siswa harus menyusun puzzle

tersebut dan nanti setelah waktu 2 menit selesai akan dihitung bersama-sama

berapa puzzle yang dapat tersusun dari masing-masing kelompok. Cara

menghitung skor dalam penilaian game puzzle adalah :

Jumlah puzzle yang tersusun x 10

Berikut hasil kuis puzzle:

Tabel. 15 Hasil Kuis Game Puzzle


FERAYOBA SKOR TELMI SKOR SUPER SKOR
YPDY EWN AMM
FRN 20x10:3=67 DM 14x10:3=47 AW 12x10:3=40
REP DSM DDAC
BS SR NR

Dari hasil skor diatas dapat dilihat bahwa kelompok FERAYOBA

memperoleh skor paling tinggi yaitu 67 poin dengan dapat menyusun puzzle

sebanyak 20. Sedangkan kelompok TELMI mendapat skor 47 dengan dapat

menyusun puzzle sebanyak 14, sedangkan kelompok super mendapat skor 40

dengan menyusun puzzle sebanyak 12.

86
Manfaat dari game ini adalah melatih siswa untuk bekerjasama dalam

sebuah tim, serta bagaimana mereka dapat menyelesaikan masalah secara

bersama-sama dengan membangun komunikasi yang baik.

d. Tes individual

Setelah melakukan tahap belajar tim, tahap selanjutnya adalah tes

individual. Tes individual bermanfaat untuk mengetahui skor kemajuan siswa

nantinya, dari skor awal tadi apakah ada peningkatan skor setelah dilakukan

treatment.

Pertama – tama guru meminta siswa duduk secara individual berpisah

dari tim nya tadi. Setelah itu guru membagikan lembar kerja sama seperti yang

diberikan pada tahap penetapan skor awal. Guru meminta agar siswa

mengerjakannya secara individual dan tidak mencontek teman lain, kerjakan

semampu siswa dapat mengerjakannya tanpa bertanya ataupun mencontek

teman lain. Guru memberikan waktu selama 15 menit untuk siswa

mengerjakan soal tersebut.

Pada tahap ini siswa terlihat serius mengerjakan soal walaupun raut

muka nya masih terlihat bingung dan masih mengalami kesulitan. Setelah 15

menit berlalu, guru meminta siswa untuk saling menukar lembar jawaban

mereka dengan teman lain. Siswa tidak diperbolehkan mengkoreksi lembar

jawaban milik mereka sendiri. Setelah dilakukan koreksi berikut hasil tes

individual siswa:

87
Tabel. 16 Hasil Tes Individual Siswa
No Nama Skor No Nama Skor
1 YPDY 92 7 DSM 44
2 FRN 92 8 SR 40
3 REP 44 9 AMM 60
4 BS 64 10 AW 60
5 EWN 36 11 DDAC 68
6 DM 60 12 NR 56

Setelah skor individual didapat, tahap selanjutnya adalah merekognisi

tim. Akan tetapi, tahap merekognisi tim dan merekognisi prestasi tim akan

dilaksanakan pada hari selanjutnya, dikarenakan siswa tampak lelah setelah

melakukan kegiatan yang cukup menguras otak. Setelah melakukan tahap

rekognisi akan dilanjutkan dengan tindakan ke IV yaitu tahap pengakhiran

yang merupakan tahap terakhir.

e. Rekognisi tim dan Rekognisi prestasi tim

Pada tahap ini guru menghitung poin kemajuan individual siswa dan skor

tim masing-masing kelompok. Cara menghitung poin kemajuan siswa adalah

sebagai berikut:

Skor kuis Poin kemajuan


Lebih dari 10 poin di bawah skor awal 5
10-1 poin dibawah skor awal 10
Skor awal sampai 10 poin di atas skor awal 20
Lebih dari 10 poin diatas skor awal 30
Kertas jawaban sempurna (terlepas dari skor awal) 30

88
Skor tim

Untuk menghitung skor tim, catatlah tiap poin kemajuan setiap semua

anggota tim pada lembar rangkuman tim dan bagilah jumlah total poin

kemajuan seluruh anggota tim dengan jumlah anggota tim yang hadir, bulatkan

semua pecahan. Untuk diingat bahwa skor tim lebih tergantung pada skor

kemajuan daripada skor kuis awal.

Sedangkan hasil skor awal dan tes individual siswa adalah sebagai

berikut:

Tabel. 17 Hasil Skor Awal dan Tes Individual


Kenaikan Poin
No Nama Skor Dasar Skor Kuis
Poin Kemajuan
1 YPDY 32 92 60 30
2 FRN 24 92 68 30
3 REP 20 44 22 30
4 BS 36 64 28 30
5 EWN 8 36 28 30
6 DM 32 60 28 30
7 DSM 18 44 26 30
8 SR 26 40 14 30
9 AMM 24 60 36 30
10 AW 36 60 24 30
11 DDAC 24 68 44 30
12 NR 16 56 40 30

89
Hasil kerja tim puzzle:

Tabel. 18 Hasil Kerja Tim Puzzle


FERAYOBA SKOR TELMI SKOR SUPER SKOR
YPDY EWN AMM
FRN 67 DM 47 AW 40
REP DSM DDAC
BS SR NR

Sehingga dapat diperoleh hasil keseluruhan kuis tiap tim:

Tabel. 19 Lembar Rangkuman Tim Ferayoba


LEMBAR RANGKUMAN TIM
Nama Tim : FERAYOBA
Anggota Skor Game Skor Skor Skor Skor
No. Total
Tim Puzzle Dasar Kuis Kenaikan kemajuan
1. YPDY 67 32 92 60 30 281

2. FRN 67 281
24 92 68 30
3. REP 67 183
20 44 22 30
4. BS 67 36 64 28 30 225

Total Skor Tim 268 112 292 178 120 970

Rata-Rata Tim 67 28 73 44 30 242

Penghargaan Tim SUPER TEAM

Rata-rata tim = total skor tim/jumlah anggota

90
Tabel. 20 Lembar Rangkuman Tim Telmi
LEMBAR RANGKUMAN TIM
Nama Tim : TELMI
Anggota Skor Game Skor Skor Skor Skor
No. Total
Tim Puzzle Dasar Kuis Kenaikan kemajuan
1. EWN 47 8 36 28 30 149

2. DM 47 32 60 28 30 197

3. DSM 47 18 44 26 30 165

4. SR 47 26 40 14 30 157

Total Skor Tim 188 84 180 96 120 668

Rata-Rata Tim 47 21 45 24 30 167

Penghargaan Tim GOOD TEAM

Rata-rata tim = total skor tim/jumlah anggota

Tabel. 21 Lembar Rangkuman Tim Super


LEMBAR RANGKUMAN TIM
Nama Tim : SUPER
Anggota Skor Game Skor Skor Skor Skor
No. Total
Tim Puzzle Dasar Kuis Kenaikan kemajuan
1. AMM 40 24 60 36 30 190

2. AW 40 36 60 24 30 190

3. DDAC 40 24 68 44 30 206

4. NR 40 16 56 40 30 182

Total Skor Tim 160 100 244 144 120 768

Rata-Rata Tim 40 25 61 36 30 192

Penghargaan Tim GREAT TEAM

Rata-rata tim = total skor tim/jumlah anggota

1) Rekognisi Prestasi Tim

Pada tahap ini guru merekognisi prestasi tim dengan memberikan

reward kepada siswa, mulai dari Good Team, Great Team, dan Super Team.

Tim juara ke 3/Good Team adalah tim Telmi yang mendapat skor rata-rata

91
tim 167 poin. Tim juara ke 2/Great Team adalah tim Super yang mendapat

skor rata-rata tim 192 poin. Sedangkan, tim juara ke 1/Super Team adalah

tim Ferayoba yang mendapat skor rata-rata tim 242 poin. Manfaat pada

tahap ini adalah memberikan motivasi siswa untuk belajar lebih tekun

dengan memberikan reward kepada siswa.

3. Observasi/Pengamatan dan Wawancara Siklus I

Berdasarkan observasi yang dilakukan oleh peneliti selama tindakan

berlangsung, secara keseluruhan tindakan yang dilaksanakan masih belum

seluruhnya berjalan lancar. Guru masih terlihat canggung dalam

menerapkan metode STAD. Namun semua langkah dalam STAD telah

dilaksanakan sesuai dengan perencanaan. Hasil pengamatan pada siswa

selama siklus I berlangsung adalah sebagai berikut :

Tabel 22. Rangkuman Hasil Observasi Siklus I

Ya Tidak Total
No Aspek yang diamati
f % f % f %
1 Perilaku siswa sesuai dengan etika 7 58% 5 42% 12 100%
Respon siswa terhadap teman lain
2 6 50% 6 50% 12 100%
saat berkomunikasi
Kepedulian siswa terhadap
3 6 50% 6 50% 12 100%
lingkungan sekitar
Keaktifan siswa dalam kegiatan
4 7 58% 5 42% 12 100%
diskusi
Perhatian siswa terhadap penjelasan
5 6 50% 6 50% 12 100%
guru
Tanggung jawab siswa terhadap
6 7 58% 5 42% 12 100%
tugas
7 Kepatuhan siswa terhadap peraturan 7 58% 5 42% 12 100%
8 Mengendalikan diri saat berdiskusi 7 58% 5 42% 12 100%
Rata-rata 6,625 55% 5,375 45% 12 100%
Sumber : Hasil Pengamatan Siklus I (N=12)

92
Dari delapan aspek yang diamati, maka 55% siswa yang diobservasi

yang telah mencapai keterampilan sosial dengan baik. Sedangkan 45%

belum memiliki keterampilan sosial yang diharapkan.

Hal lain yang berhasil diamati adalah pada tindakan pertama, siswa

belum menunjukkan antusias yang tinggi dalam mengikuti permainan.

Peserta masih terlihat ramai sendiri dan juga kurang serius sehingga peserta

belum bisa mengerti makna dari tindakan yang telah diberikan. Pada

tindakan kedua peserta sudah menunjukkan tingkat antusiasnya. Peserta

merasa sudah nyaman dan lebih mengenal satu sama lain.

Siswa mulai menunjukkan antusias yang tinggi ketika pemberian

reward dilakukan. Siswa terlihat sangat menyukai reward yang diberikan

oleh guru. Pada tindakan berikutnya siswa kembali menunjukkan

antusiasnya. Siswa terlihat mendengarkan kembali ketika guru dan peneliti

berbicara, mereka mulai mengerti makna dari keterampilan sosial. Guru BK

merasakan adanya perubahan positif sikap dan tingkat keterampilan sosial

siswa.

Selain observasi juga dilakukan wawancara kepada siswa dan guru

BK. Wawancara dilakukan untuk benar-benar mengetahui hasil dari metode

bimbingan kelompok berbasis cooperative learning dalam meningkatkan

keterampilan sosial siswa.

Wawancara dengan Ichwani (Guru BK), menyatakan bahwa :

“.... siswa menunjukkan antusias pada waktu mengikuti kegiatan


Siklus I. Menurut saya ini disebakan metode yang diterapkan
menuntut setiap siswa aktif dan setiap siswa harus bekerjasama
dengan siswa lain. Siswa yang semula canggung dan malu-malu, pada

93
akhirnya mulai dapat membaur dan mulai nampak nyaman ditengah-
tengah siswa lain...”

Wawancara dengan EWN (siswa), menyatakan bahwa :

“.... pembelajaran dengan berkelompok dan berkompetisi sangat


menyenangkan. Sebenarnya saya canggung ketika harus berkelompok
dengan teman-teman yang sebelumnya tidak terlalu akrab....”

Wawancara dengan FRN (siswa), menyatakan bahwa :

“.... pada mulanya saya sangat malu. Apalagi ada teman yang suka
banyak bicara dan lebih mendominasi waktu diskusi. Tetapi lama
kelamaan kita bisa saling menyesuaikan dan saling memberi
kesempatan berbicara. Saya juga suka karena dapat hadiah waktu
kuiz....”

Berdasarkan hasil wawancara dengan guru BK diperoleh informasi

bahwa siswa terlihat mengalami perubahan pada keterampilan sosialnya.

Siswa mulai bisa mengeluarkan ide-ide mereka dan dapat mempertahankan

ide-ide mereka untuk dipakai tanpa perlu dipendam, siswa mengerti cara

menyelesaikan konflik bila terjadi masalah dengan teman, siswa lebih

terbuka atas perasaannya, dan juga siswa dapat berani berbicara di depan

orang lain. Menurut Guru BK telah terjadi perubahan sikap di dalam atau di

luar kelas.

Berdasarkan hasil wawancara dengan siswa menunjukkan bahwa

siswa merasa senang mengikuti kegiatan dalam penelitian. Walaupun awal-

awal tindakan siswa belum menunjukkan antusiasnya. Akan tetapi, setelah

beberapa tindakan dilaksanakan siswa mulai merasa nyaman dan

menikmatinya. Selain itu juga menurut para siswa dengan bimbingan

kelompok ini mereka bisa belajar menyelesaikan konflik, berempati

94
kepada orang lain, mengemukakan pendapat, menerima kritik, mampu

berbicara di depan orang banyak, bekerjasama dan terbuka kepada orang

lain.

4. Hasil Penilaian Keterampilan Sosial Siklus I

Berikut ini akan disajikan peningkatan hasil penilaian keterampilan

sosial pada siklus I dibandingkan dengan keterampilan sosial pada pra

tindakan.

Tabel 23. Peningkatan Hasil Keterampilan Sosial Pra Tindakan dan


Siklus I

Pratindakan Siklus I
NO Nama
Skor Kategori Skor Kategori
1 EWN 180 Sedang 206 Sedang
2 AMM 228 Sedang 232 Sedang
3 AWS 223 Sedang 230 Sedang
4 BS 231 Sedang 236 Tinggi
5 DM 233 Sedang 238 Tinggi
6 DSN 221 Sedang 228 Sedang
7 DDAC 245 Sedang 250 Tinggi
8 FRN 221 Sedang 227 Sedang
9 NRKI 232 Sedang 240 Tinggi
10 REP 227 Sedang 230 Sedang
11 YPDYR 213 Sedang 220 Sedang
12 SRCAS 206 Sedang 225 Sedang

221,6 230,2
Rata-rata

Dari hasil skala yang disebarkan oleh peneliti menunjukan adanya

perubahan pada keterampilan sosial yang diperlihatkan oleh para siswa.

Skala pra tindakan yang disebarkan menunjukan terdapat 11 siswa

95
berkategori sedang dan sisanya 1 siswa berkategori tinggi.. Hasil pra

tindakan ini yang menjadi acuan peneliti melakukan penelitian siswa kelas

VIII C di SMP N 2 Pakem.

Dari tabel pratindakan tersebut peneliti melaksanakan siklus satu

yang terdiri dari 5 tindakan. Bimbingan kelompok berbasis cooperative

learning menjadi pendekatan peneliti untuk meningkatkan keterampilan

sosial para siswa. Dalam kriteria keberhasilan yang diinginkan, peneliti

mentargetkan skor keberhasilan minimal adalah ≥ 234 atau masuk dalam

kategori tinggi. Sedangkan pada pratindakan yang dilakukan oleh peneliti

skor yang dicapai 221,6 berdasarkan siswa yang terpilih (nilai kurang dari

234).

Pada siklus yang pertama, terjadi peningkatan yang cukup meskipun

belum mencapai target peneliti. Dari hasil siklus pertama dapat dilihat skor

meningkat menjadi 230,2 dari siswa yang terpilih (kriteria rendah dan

sedang).

Dari hasil skala tersebut peneliti melanjutkan ke siklus ke dua karena

hasil yang didapat belum memenuhi indikator keberhasilan yang

diharapakan oleh peneliti. Skor indikator keberhasilan yang di harapkan

peneliti adalah sebesar ≥ 234 atau pada kategori tinggi, sedangkan pada

siklus pertama hanya mampu mencapai skor sebesar 230,2 atau masih

kurang 3,8 untuk memenuhi indikator keberhasilan.

96
5. Refleksi dan Evaluasi Siklus I

Refleksi dilaksanakan melalui diskusi antara peneliti dan guru

pembimbing. Secara keseluruhan tindakan pada siklus 1 masih belum

seluruhnya berjalan sesuai keinginan peneliti. Siswa masih menunjukkan

tingkat antusias yang naik turun. Para siswa masih ada yang berkomentar:

“bu, ini sampai jam berapa”. Ada juga yang berkomentar “bu capek”.

Dilihat dari komentar tersebut para siswa kurang antusias dalam mengikuti

tindakan. Kurang menariknya kegiatan menjadi faktor yang menyebabkan

naik turunnya tingkat antusias siswa mengikuti kegiatan. Tetapi dari hasil

siklus 1 para siswa dapat melakukan kegiatan dengan lancar. Para siswa

dapat mengetahui makna dari kegiatan yang telah dilaksanakan serta mulai

memahami makna dari keterampilan sosial.

Hambatan-hambatan dari siklus 1 dilihat dari pengamatan yaitu

siswa kurang bersemangat dalam mengikuti kegiatan. Hal ini dikarenakan

para siswa kadang merasa jenuh jika kegiatan berlangsung terlalu lama. Para

siswa masih terlihat ramai sendiri dan juga kurang memperhatikan guru.

Hasil dari pra tindakan pada siklus pertama skornya sebesar 221,6

dan setelah diberikan tindakan mengalami kenaikan sebesar 230,2. Tetapi

poin tersebut belum mencapai kriteria yang sudah ditentukan oleh peneliti,

yaitu 234. Berdasarkan hasil tersebut, maka diputuskan untuk dilakukan

tindakan pada Siklus II dengan beberapa perbaikan sesuai hasil refleksi dan

evaluasi pada Sillus I.

97
Pada siklus II fasilitator (guru pembimbing) akan terus memberikan

arahan dan mendampingi siswa. Peneliti juga akan lebih banyak

memberikan selingan permainan/ice breaking. Dibandingkan dengan siklus

I yang hanya memberikan sedikit permainan sehingga siswa merasa sangat

jenuh. Nantinya siswa juga akan diberikan waktu beberapa menit untuk

meregangkan fikiran untuk beristirahat. Hal ini dimaksudkan agar peserta

dapat selalu antusias dan bersemangat mengikuti kegiatan. Guru

pembimbing juga akan lebih santai dalam memberikan tindakan, sehingga

siswa akan merasa lebih nyaman. Selain itu juga guru harus selalu

memberikan motivasi positif kepada peserta agar peserta selalu merasa

dihargai apapun hasil yang mereka terima baik secara individu maupun

kelompok.

Sebagaimana pada Siklus I, kegiatan pada siklus II dilakukan 5

tindakan. Tindakan pada siklus II dilakukan dengan tujuan siswa dapat

benar-benar mengerti makna dari bimbingan kelompok yang diberikan dan

dapat diterapkan pada kehidupan sehari-hari mereka di rumah,di sekolah

maupun di lingkungannya.

D. Siklus II (Kedua)

1. Perencanaan Siklus II

Dari hasil refleksi siklus pertama yaitu siswa belum mampu berperan

maksimal dalam tiap kegiatan yang telah dilaksanakan oleh guru BK. Hal

ini dikarenakan siswa nampaknya merasa jenuh dengan kegiatan yang

menuntut siswa untuk terus berfikir dan hanya diberikan satu permainan

98
dari 5 tindakan yang ada. Sehingga menyebabkan ada siswa terlihat kurang

bersemangat dan seringkali mengeluh agar tindakan segera dihentikan.

Pada siklus II perencanaan awal yang dilakukan adalah menyusun

pedoman kegiatan pada siklus II melalui diskusi dengan guru pembimbing.

Dari hasil siklus I yang telah dilaksanakan, dapat dilihat hal yang perlu

disempurnakan adalah lebih menambah permainan/ice breaking singkat agar

siswa tidak merasa jenuh. Guru BK juga nantinya akan memberikan

kesempatan siswa untuk beristirahat meregangkan otak untuk beberapa

menit sambil bercanda bersama siswa lain. Selain itu peneliti memberikan

pelatihan kepada guru pembimbing secara lebih terperinci dan lebih jelas,

agar guru pembimbing sebagai fasilitator mengerti dan bisa memberikan

pengarahan kepada peserta secara lebih jelas.

Dalam siklus yang ke II peneliti merencanakan akan melaksanakan

sebanyak 5 kali tindakan sesuai dengan langkah cooperative learning, yang

akan dilaksanan pada tanggal 24-27 Juni 2013, pukul 08.00 – 09.00 WIB.

Tindakan yang dirancang peneliti diharapkan mampu membuat siswa lebih

bersemangat/antusias dalam mengikuti kegiatan yang diberikan. Peserta

juga diharapkan bisa mengerti makna dari bimbingan kelompok yang

diberikan untuk diterapkan dalam kehidupan sehari-hari siswa di sekolah

maupun di lingkungan siswa. Pada siklus II terdapat 5 tindakan.

99
2. Tindakan Siklus II

Tindakan yang dilakukan dalam siklus II terdapat 5 tindakan dengan

rincian sebagai berikut:

a. Tes Penetapan Skor Awal

Pada tahap penetapan skor awal siklus II ini, guru tidak perlu

memberikan tes lagi kepada siswa, karena yang digunakan sebagai skor

dasar nantinya adalah hasil tes individual siswa terakhir pada siklus I.

Berikut hasil skor awal siswa menurut hasil tes individual siswa pada siklus

I:

Tabel.24 Skor Awal Siswa


No Nama Skor No Nama Skor
1 YPDY 92 7 DSM 44
2 FRN 92 8 SR 40
3 REP 44 9 AMM 60
4 BS 64 10 AW 60
5 EWN 36 11 DDAC 68
6 DM 60 12 NR 56

b. Penyampaian materi

Guru memberi penjelasan terhadap siswa tentang materi

keterampilan sosial. Materi keterampilan sosial mencakup: pengertian

keterampilan sosial, manfaat keterampilan sosial, ciri keterampilan sosial,

dan faktor yang mempengaruhi keterampilan sosial.

Saat guru menjelaskan materi siswa tampak bosan dan kurang

antusias dalam mendengarkan. Setelah guru menjelaskan materi, guru

100
memberikan umpan balik terhadap siswa tentang materi tersebut. Guru

memberikan pertanyaan secara bergantian dan terus menerus terhadap siswa

sehingga siswa dapat memahami tentang apa itu sebenarnya keterampilan

sosial. Guru memberikan contoh dan gambaran bagaimana seseorang yang

kurang cerdas akan tetapi mempunyai keterampilan sosial yang baik

sehingga dapat sukses dengan mengembangkan keterampilan sosialnya.

Setelah itu guru masih mengulang pertanyaan secara acak kepada siswa

tentang materi yang telah diberikan.

Manfaat dari tahap ini adalah agar siswa lebih memahami materi

yang telah diberikan. Bagi siswa yang tidak membaca materi di rumah

diberikan kesempatan belajar pada tahap ini.

Agar siswa tidak merasa capek dan bosan guru mengistirahatkan

siswa selama 5 menit untuk meregangkan otot dan otak. Bisa dengan minum

dan makan ringan.

c. Belajar Tim

Pada kegiatan ini guru tidak membagi siswa ke dalam kelompok

lagi, karena kelompok ditentukan masih sama dengan siklus I. Guru tidak

mengacak kelompok lagi dengan tujuan agar siswa lebih belajar

bekerjasama lagi dengan kelompok yang telah ditentukan pada siklus I

untuk lebih mengasah kekompakkan dan kerjasama tim. Daftar kelompok

tersebut adalah:

101
Tabel. 25 Daftar Nama Tiap Kelompok
Kelompok 1 Kelompok 2 Kelompok 3
YPDY EWN AMM
FRN DM AW
REP DSM DDAC
BS SR NR

Setelah mereka duduk pada kelompok masing-masing guru meminta

siswa berdiskusi untuk memberikan nama pada kelompok masing-masing.

Nama kelompok pada siklus I tidak boleh dipakai lagi, harus berbeda

dengan nama kelompok pada siklus I. Guru memberikan kebebasan kepada

kelompok untuk memberikan nama pada kelompok mereka sesuai

kesepakatan tiap-tiap tim. Dalam kegiatan ini sangat bermanfaat untuk

meningkatkan keterampilan sosial siswa dengan mengemukakan pendapat

dan menyelesaikan konflik. Berikut nama tim hasil kesepakatan masing-

masing kelompok:

Tabel. 26 Nama Kelompok


Kel. 1 Nama Kel. 2 Nama Kel. 3 Nama
kelompok kelompok kelompok
YPDY SUPER EWN SMART AMM WONDER
FRN MARIO DM AW
REP DSM DDAC
BS SR NR

Setelah selesai memberi nama pada tim masing-masing guru

meminta siswa untuk berdiskusi terhadap materi yang telah diberikan

sebelumnya tentang keterampilan sosial.

102
Siswa diminta saling tanya jawab dengan satu kelompoknya dari

materi yang telah diberikan. Satu kelompok secara bergantian saling tanya

jawab. Dalam kegiatan ini siswa cukup antusias dengan tanya jawab.

Sebelum menginjak kegiatan berikutnya, guru memberikan game

puzzle sama seperti pada siklus I. Akan tetapi, guru merubah gambar dari

puzzle, tetapi jumlah kepingan puzzle masih sama dengan siklus I yaitu 30.

Siswa dalam satu tim harus merangkai puzzle yang berjumlah 30 kepingan.

Siswa dituntut untuk bekerjasama dalam tim yang nanti akan dinilai

kekompakannya. Dalam waktu 2 menit siswa harus menyusun puzzle

tersebut dan nanti setelah waktu 2 menit selesai akan dihitung bersama-

sama berapa puzzle yang dapat tersusun dari masing-masing kelompok.

Cara menghitung skor dalam penilaian game puzzle adalah :

Jumlah puzzle yang tersusun x 10

Berikut hasil kuis puzzle:

Tabel. 27 Hasil Kuis Puzzle


SUPER
SKOR SMART SKOR WONDER SKOR
MARIO
YPDY EWN AMM
FRN DM AW
REP 24x10:3=80 DSM 21x10:3= DDAC 21x10:3
BS SR 70 NR =70

Dari hasil skor diatas dapat dilihat bahwa kelompok SUPER

MARIO memperoleh skor paling tinggi yaitu 80 poin dengan dapat

103
menyusun puzzle sebanyak 24. Sedangkan kelompok SMART mendapat

skor 70 dengan dapat menyusun puzzle sebanyak 21, sedangkan kelompok

WONDER mendapat skor 70 dengan menyusun puzzle sebanyak 21.

Manfaat dari game ini adalah melatih siswa untuk bekerjasama

dalam sebuah tim, serta bagaimana mereka dapat menyelesaikan masalah

secara bersama-sama dengan membangun komunikasi yang baik.

d. Tes Individual

Setelah melakukan tahap belajar tim, tahap selanjutnya adalah tes

individual. Tes individual bermanfaat untuk mengetahui skor kemajuan

siswa nantinya, dari skor awal tadi apakah ada peningkatan skor setelah

dilakukan treatment.

Pertama–tama guru meminta siswa duduk secara individual berpisah

dari tim nya tadi. Setelah itu guru membagikan lembar kerja sama seperti

yang diberikan pada tahap penetapan skor awal. Guru meminta agar siswa

mengerjakannya secara individual dan tidak mencontek teman lain, kerjakan

semampu siswa dapat mengerjakannya tanpa bertanya ataupun mencontek

teman lain. Guru memberikan waktu selama 15 menit untuk siswa

mengerjakan soal tersebut.

Pada tahap ini siswa terlihat serius mengerjakan soal walaupun raut

muka nya masih terlihat bingung dan masih mengalami kesulitan. Setelah

15 menit berlalu, guru meminta siswa untuk saling menukar lembar jawaban

mereka dengan teman lain. Siswa tidak diperbolehkan mengkoreksi lembar

104
jawaban milik mereka sendiri. Setelah dilakukan koreksi berikut hasil tes

individual siswa:

Tabel.28 Hasil Tes Individual


No Nama Skor No Nama Skor
1 YPDY 98 7 DSM 68
2 FRN 98 8 SR 62
3 REP 62 9 AMM 68
4 BS 70 10 AW 66
5 EWN 44 11 DDAC 72
6 DM 66 12 NR 66
Setelah skor individual didapat, tahap selanjutnya adalah

merekognisi tim. Akan tetapi, tahap merekognisi tim dan merekognisi

prestasi tim akan dilaksanakan pada hari selanjutnya, dikarenakan siswa

tampak lelah setelah melakukan kegiatan yang cukup menguras otak.

Setelah melakukan tahap rekognisi akan dilanjutkan dengan tindakan ke IV

yaitu tahap pengakhiran yang merupakan tahap terakhir.

e. Rekognisi tim dan Rekognisi prestasi tim

Tahap rekognisi tim masuk ke dalam tindakan ke III, akan tetapi

karena keterbatasan waktu dalam tindakan ke III dibagi dalam 2 kali

pertemuan. Pada tahap ini guru menghitung poin kemajuan individual siswa

dan skor tim masing-masing kelompok.

Cara menghitung poin kemajuan siswa adalah sebagai berikut:

Skor kuis Poin kemajuan


Lebih dari 10 poin di bawah skor awal 5
10-1 poin dibawah skor awal 10
Skor awal sampai 10 poin di atas skor awal 20
Lebih dari 10 poin diatas skor awal 30
Kertas jawaban sempurna (terlepas dari skor awal) 30

105
Skor tim

Untuk menghitung skor tim, catatlah tiap poin kemajuan setiap

semua anggota tim pada lembar rangkuman tim dan bagilah jumlah total

poin kemajuan seluruh anggota tim dengan jumlah anggota tim yang hadir,

bulatkan semua pecahan. Untuk diingat bahwa skor tim lebih tergantung

pada skor kemajuan daripada skor kuis awal

Sedangkan hasil skor awal dan tes individual siswa adalah

sebagai berikut:

Tabel. 29 Hasil Skor Awal dan Tes Individual


Skor Skor Kenaikan Poin
No Nama
Dasar Kuis Poin Kemajuan
1 YPDY 92 98 6 20
2 FRN 92 98 6 20
3 REP 44 62 18 30
4 BS 64 70 6 20
5 EWN 36 44 8 20
6 DM 60 66 6 20
7 DSM 44 68 24 30
8 SR 40 62 22 30
9 AMM 60 68 8 20
10 AW 60 66 6 20
11 DDAC 68 72 4 20
12 NR 56 66 10 20

106
Hasil kerja tim puzzle:

Tabel. 30 Hasil Kerja Tim Game Puzzle


SUPER
SKOR SMART SKOR WONDER SKOR
MARIO
YPDY EWN AMM
FRN 80 DM 70 AW 70
REP DSM DDAC
BS SR NR
Sehingga dapat diperoleh hasil keseluruhan kuis tiap tim:

Tabel. 31 Hasil Lembar Rangkuman Tim Super Mario


LEMBAR RANGKUMAN TIM
Nama Tim : SUPER MARIO
Skor
Anggota Skor Skor Skor Skor
No. Game Total
Tim Dasar Kuis Kenaikan kemajuan
Puzzle
1. YPDY 80 92 98 6 20 296
2. FRN 80 92 98 6 20 296
3. REP 80 44 62 18 30 234
4. BS 80 64 70 6 20 240
Total Skor Tim 320 292 328 36 90 1066

Rata-Rata Tim 80 73 82 9 22 266

Penghargaan Tim SUPER TEAM

Rata-rata tim = total skor tim/jumlah anggota

Tabel. 32 Hasil Lembar Rangkuman Tim Smart


LEMBAR RANGKUMAN TIM
Nama Tim : SMART
Anggota Skor Game Skor Skor Skor Skor
No. Total
Tim Puzzle Dasar Kuis Kenaikan kemajuan
1. EWN 70 36 44 8 20 178
2. DM 70 60 66 6 20 222
3. DSM 70 44 68 24 30 236
4. SR 70 40 62 22 30 224
Total Skor Tim 280 180 240 60 100 860

Rata-Rata Tim 70 45 60 15 25 215

Penghargaan Tim GOOD TEAM

Rata-rata tim = total skor tim/jumlah anggota

107
Tabel. 33 Hasil Lembar Rangkuman Tim Wonder
LEMBAR RANGKUMAN TIM
Nama Tim : WONDER

Skor Skor Skor


Skor Skor
No. Anggota Tim Game Kenai kemaju Total
Dasar Kuis
Puzzle kan an
1. AMM 70 60 68 8 20 230,2

2. AW 70 60 66 6 20 222

3. DDAC 70 68 72 4 20 234

4. NR 70 56 66 10 20 222

Total Skor Tim 280 244 272 28 80 904

Rata-Rata Tim 70 61 68 7 20 230,2

Penghargaan Tim GREAT TEAM


Rata-rata tim = total skor tim/jumlah anggota

Pada tahap ini guru merekognisi prestasi tim dengan

memberikan reward kepada siswa, mulai dari Good Team, Great

Team, dan Super Team. Tim juara ke 3/Good Team adalah tim

SMART yang mendapat skor rata-rata tim 215 poin. Tim juara ke

2/Great Team adalah tim WONDER yang mendapat skor rata-rata tim

230,2 poin. Sedangkan, tim juara ke 1/Super Team adalah tim SUPER

MARIO yang mendapat skor rata-rata tim 266 poin. Manfaat pada

tahap ini adalah memberikan motivasi siswa untuk belajar lebih tekun

dengan memberikan reward kepada siswa.

3. Observasi/Pengamatan Siklus II

Hasil dari observasi pada siklus kedua menunjukkan adanya

perubahan dan perbedaan dibandingkan pada siklus pertama. Pada tindakan

siklus kedua para siswa menunjukkan tingkat antusias dan keseriusan yang

108
lebih dari siklus pertama. Siswa pada siklus kedua terlihat lebih memahami

keterampilan sosial dalam dirinya masing-masing dan lebih mengerti arti

pentingnya memiliki keterampilan sosial yang tinggi untuk kehidupan

sehari-hari mereka.

Berdasarkan lembar observasi diperoleh data mengenai aspek-aspek

keterampian sosial siswa sebagai berikut :

Tabel. 34 Rangkuman Hasil Observasi Siklus II


Ya Tidak Total
No Aspek yang diamati
f % f % f %
1 Perilaku siswa sesuai dengan etika 8 67% 4 33% 12 100%
Respon siswa terhadap teman lain
2 8 67% 4 33% 12 100%
saat berkomunikasi
Kepedulian siswa terhadap
3 8 67% 4 33% 12 100%
lingkungan sekitar
Keaktifan siswa dalam kegiatan
4 8 67% 4 33% 12 100%
diskusi
Perhatian siswa terhadap penjelasan
5 7 58% 5 42% 12 100%
guru
Tanggung jawab siswa terhadap
6 7 58% 5 42% 12 100%
tugas
7 Kepatuhan siswa terhadap peraturan 8 67% 4 33% 12 100%
8 Mengendalikan diri saat berdiskusi 8 67% 4 33% 12 100%
Rata-rata 7,75 65% 4,25 35% 12 100%
Sumber : Hasil Pengamatan Siklus II (N=12)

Pada siklus II, hasil pengamatan menunjukkan adanya peningkatan

pada pemenuhan aspek-aspek keterampilan sosial siswa yang telah

mencapai 65%, dibandingkan dengan siklus I yang mencapai 55%. Hal lain

yang dapat diamati adalah bahwa pada siklus kedua ini para siswa lebih

antusias dalam melakukan tiap tindakan yang telah direncanakan peneliti.

Hal ini berdampak pada jalannya kegiatan.

109
4. Hasil Skala Keterampilan Sosial Siklus II

Hasil skala keterampilan sosial pada siklus kedua menunjukkan

adanya peningkatan terhadap keterampilan sosial siswa. Hasil skala pra

tindakan jumlah rata-rata sebesar 221,6 pada siklus pertama naik sebesar

230,2 dan pada siklus ke dua menjadi 241,8. Dari hasil siklus kedua dapat

dilihat perubahan siswa kelas VIII C di SMP N 2 Pakem. Skor rata-rata

siklus yang ke dua mencapai angka 241,8. Berdasarkan hasil itu peneliti

menyudahi penelitian karena skor kriteria keberhasilan peneliti yang semula

ditargetkan sebesar 234 sudah terlampaui dan sudah mencapai pada nilai

baik.

5. Wawancara Siklus II

Hasil wawancara dengan Guru BK adalah sebagai berikut :

“.... siklus II betul-betul dirasakan berbeda dibanding siklus II. Anak-


anak telah kelihatan enjoy mengikuti kegiatan yang diberikan. Jika
pada siklus pertama masih ada yang mengeluh capek, pada siklus II
ini seluruh siswa tidak ada yang mengeluh. Walaupun belum seluruh
siswa berani mengemukakan pendapat, namun siswa yang berani
berpendapat jauh lebih banyak. Anak-anak juga kelihatan nyaman
berkumpul pada kelompom yang sbelumnya asing bagi dirinya...”

Hasil wawancara dengan AMM (siswa) menyatakan bahwa “... sekarang

saya tidak takut berpendapat dalam diskusi...”. Sementara AW (siawa)

menyatakan “.... pelajarannya menyenagkan...”.

Dari hasil wawancara ini menunjukkan bahwa setelah mengikuti

bimbingan kelompok berbasis cooperative learning pada siklus II ini siswa

sudah mulai berani mengeluarkan ide dan mempertahankan ide yang mereka

kemukakan, siswa lebih bisa terbuka kepada teman lain tentang segala

110
sesuatu yang mereka rasakan, siswa lebih dapat bekerjasama, siswa juga

dapat mencari jalan keluar untuk permasalahan yang mereka hadapi. Hal ini

juga terjadi di sekolah maupun di lingkungan luar sekolah.

Siswa merasa senang mengikuti kegiatan bimbingan kelompok,

selain dijadikan ajang untuk hiburan, belajar, siswa juga lebih merasa dekat

dengan teman-temannya dan juga melatih diri untuk hidup di masyarakat

secara umum dan sekolah secara khusus.

6. Refleksi dan Evaluasi Siklus II

Refleksi dilakukan melalui diskusi antar peneliti dengan guru

pembimbing. Rangkaian tindakan bimbingan kelompok pada siklus kedua

berjalan dengan lancar dan sesuai yang diharapkan oleh peneliti dan guru

pembimbing. Para siswa banyak yang berkomentar: “kegiatannya lebih asik

dari yang kemarin bu”. Hal ini membuktikan bimbingan kelompok yang

diberikan pada siklus kedua lebih menarik dan para siswa menjadi antusias

dalam mengikutinya. Melalui kegiatan ini siswa sudah dapat meningkatkan

keterampilan sosial mereka. Hal ini terlihat dari hasil skor post test sebesar

241,8 meningkat dari hasil skor post test pada siklus pertama sebesar 230,2.

Berdasarkan hasil tersebut dapat dikategorisasikan 10 siswa

memiliki keterampilan sosial yang tinggi dan 1 siswa memiliki keterampilan

sosial yang sedang.

Hal ini menunjukkan bahwa peningkatan keterampilan sosial siswa

sesuai dengan kriteria keberhasilan. Oleh karena itu peneliti tidak

mengadakan tindakan lanjutan.

111
Pada tindakan pertama siklus kedua siswa terlihat sangat antusias

dan lebih serius mengikuti kegiatan. Siswa mengakui adanya perbedaan

pada siklus pertama dimana siswa lebih bisa bersabar dan serius dalam

mengikuti kegiatan. Siswa sudah menyadari pentingnya kegiatan yang

diberikan, untuk dirinya sendiri. Siswa lebih sadar bila memiliki

keterampilan sosial yang tinggi mereka bisa lebih berbaur dan disukai oleh

temannya dan juga sangat bermanfaat bagi dirinya sendiri dalam kehidupan

sehari-hari mereka di sekolah maupun di luar sekolah.

112
Tabel 35. Peningkatan Hasil Skala Keterampilan Sosial

Pasca Tindakan Pasca Tindakan


Pratindakan Kenaika
Nama Siklus I Siklus II
n Skor
Skor Kategori Skor Kategori Skor Kategori
EWN 180 Rendah 206 Rendah 237 Tinggi 57

AMM 228 Sedang 232 Sedang 240 Tinggi 12

AWS 223 Sedang 230 Sedang 242 Tinggi 19

BS 231 Sedang 236 Tinggi 246 Tinggi 15

DM 233 Sedang 238 Tinggi 250 Tinggi 17

DSN 221 Sedang 228 Sedang 236 Tinggi 15

DDAC 245 Sedang 250 Tinggi 256 Tinggi 11

FRN 221 Sedang 227 Sedang 237 Tinggi 16

NRKI 232 Sedang 240 Tinggi 250 Tinggi 18

REP 227 Sedang 230 Sedang 238 Tinggi 11

YPDYR 213 Sedang 220 Sedang 235 Tinggi 22

SRCAS 206 Sedang 225 Sedang 235 Tinggi 29

Rata-rata 221,6 230,2 241,8

Atau jika digambarkan adalah sebagai berikut :

Keterampilan Sosial
250

240 241,8

230 230,2
220 221,6

210
Pra Tindakan Siklus I Siklus II

Gambar 2. Grafik peningkatan keterampilan sosial siswa

113
Pada tindakan kedua siklus kedua, siswa masih menunjukkan

antusias yang tinggi. Siswa makin menyadari pentingnya memiliki

keterampilan sosial yang tinggi bagi dirinya sendiri. Guru pembimbing

merasakan perubahan yang cukup besar pada diri siswa di sekolah. Siswa

sudah terlihat sering mengeluarkan ide-ide dan dapat mempertahankan ide

mereka sesuai aturan untuk dipakai pada saat berdiskusi kelompok, siswa

mulai terbuka dengan teman lain, mereka mulai berani tentang masalah

pribadi kepada guru pembimbing, siswa sudah tidak memaksakan egonya

sendiri dan memikirkan perasaan dan permasalahan orang lain, siswa juga

sudah dapat mencari alternatif jalan keluar dari permasalahannya.

7. Hasil Tindakan Siklus I dan II

Dalam penelitian ini tindakan yang dilakukan untuk meningkatkan

keterampilan sosial siswa dilaksanakan melalui 2 siklus. Siklus I terdiri dari

5 tindakan dan siklus II terdiri dari 5 tindakan.

Siklus pertama ini terdiri dari 5 tindakan. Pada tindakan pertama

guru membantu siswa untuk berani berbicara di depan orang lain, dengan

melakukan perkenalan, serta membantu siswa dalam mengungkapkan

perasaannya melalui tahap mengungkapkan diri.

Pada tindakan kedua, guru membantu kesiapan siswa dalam

mengikuti tahap selanjutnya. Guru memberikan gambaran dan arahan

tentang peraturan-peraturan yang tidak boleh dilanggar pada tahap

selanjutnya.

114
Pada tindakan ketiga guru membantu siswa dalam mengembangkan

keterampilan sosialnya dengan cara bekerjasama dalam tim untuk

menyelesaikan masalah/konflik, dan membantu siswa mengembangkan

kemampuan untuk mengeluarkan idea tau pendapat serta menghargai

pendapat orang lain.

Pada tindakan keempat guru mengajarkan siswa bagaimana cara

berterimakasih kepada orang lain. Dalam tahap ini guru hanya berdiskusi,

berbincang serta bercanda dengan siswa secara rileks, agar tercipta

hubungan yang lebih harmonis antara siswa dengan guru dan siswa dengan

siswa lain.

Dari hasil diskusi dan evaluasi, secara umum keterampilan sosial

siswa masih belum meningkat sehingga kegiatan ini dilanjutkan pada siklus

kedua dengan tahapan dan tindakan yang sama. Peneliti hanya

memnambahkan beberapa permaianan, dan member waktu rileks beberapa

menit kepada siswa agar siswa tidak merasa jenuh.

E. Pembahasan

Hasil penelitian yang dilakukan menunjukkan bahwa bimbingan

kelompok berbasis cooperative learning dapat meningkatkan keterampilan

sosial para siswa kelas VIII C di SMP N 2 Pakem yang dapat diketahui dari

skor rata-rata keterampilan sosial pada tabel 28. Hal tersebut dilihat dari

peningkatan skor keterampilan sosial dari mulai pratindakan ke skor siklus

pertama lalu ke skor siklus kedua. Nilai pratindakan yang semula skornya

221,6 meningkat menjadi 230,2 pada siklus I dan meningkat lagi menjadi

115
241,8 pada siklus II. Hasil observasi juga menunjukkan adanya peningkatan

pada aspek-aspek keterampilan sosial yang diamati.

Hasil analisis tersebut menunjukkan bahwa metode cooparative

learning dengan bimbingan kelompok akan dapat meningkatkan

keterampilan sosial. Hal ini dapat dipahami karena bimbingan kelompok

sebagai salah satu bentuk bimbingan konseling, akan akan memberikan

pengalaman belajar bagi siswa agar mampu berbicara, mengeluarkan

pendapat, ide, saran, tanggapan, perasaan dan lain sebagainya kepada orang

banyak. Bimbingan kelompok juga akan membantu siswa belajar

menghargai pendapat orang lain, bertangung jawab atas pendapat yang

dikemukakannya dan mampu mengendalikan diri dan menahan emosi

(gejolak kejiwaan yang bersifat negatif).

Hal ini sesuai dengan yang dikemukakan oleh Andi Mappiare (2006:

312) yang menyatakan bahwa keterampilan sosial (social skills) sebagai

keterampilan antar pribadi yang berkaitan dengan interaksi sosial. Layanan

Bimbingan Konseling dengan cooparative learning dengan bimbingan

kelompok akan memberikan kesempatan kepada siswa melakukan interaksi

sosial dengan siswa lain dengan intensif. Sehingga secara tidak langsung

akan memberikan pengalaman belajar antar individu dengan individu yang

lain.

Pendapat lain yang menguatkan adalah Rusmana (2009: 13) bahwa

bimbingan kelompok merupakan suatu proses pemberian bantuan kepada

individu melalui suasana kelompok yang memungkinkan setiap anggota

116
untuk belajar berpartisipasi aktif dan berbagi pengalaman dalam upaya

mengembangkan wawasan, sikap atau keterampilan yang diperlukan dalam

upaya mencegah timbulnya masalah atau dalam mengembangkan pribadi.

Hasil analisis juga sesuai dengan yang dikemukakan oleh Winkel &

Sri Hastuti (2004: 547) yang menyatakan bahwa bimbingan kelompok

sebagai kegiatan kelompok diskusi yang menunjang perkembangan pribadi

dan perkembangan sosial masing-masing individu-individu dalam

kelompok, serta meningkatkan mutu kerja sama dalam kelompok guna

aneka tujuan yang bermakna bagi para partisipan.

Selain itu, cooparative learning dengan bimbingan kelompok juga

akan bermanfaat dalam mengembangkan tenggang rasa, menambah

keakraban antar siswa dan mengembangan penyesaian masalah atau topik-

topik umum yang dirasakan atau menjadi kepentingan bersama. Ini juga

sejalan dengan pendapat yang dikemukakan oleh Kaili Chen (Lujianto,

2009: 29) mengenai karakteristik keterampilan sosial yang meliputi: (1)

memahami dan mengatur emosi diri maupun orang lain (kontrol emosi); (2)

merespon orang lain dan mengarahkan tindakan sosial (sikap sosial); (3)

interaksi dan berkomunikasi secara verbal maupun non verbal (komunikasi);

(4) bertanggung jawab atas tindakan (tanggung jawab); dan (5)

Memperhatikan orang lain (peduli). Karanteristik tersebut terkandung dalam

kegiatan cooperative learning dengan bimbingan kelompok.

Hal tersebut juga sejalan dengan yang dikemukakan oleh

(Anwar,2006: 30) yang menyatakan bahwa social skill atau kecakapan

117
sosial sebagai bagian dari life skills meliputi dua hal yaitu kecakapan

berkomunikasi dengan empati (communication skills) dan Kecakapan

bekerjasama (collaboration skills). Kecakapan ini berarti komunikasi yang

bukan hanya sekedar penyampaian pesan tetapi menyangkut isi dan

sampainya pesan yang disertai dengan kesan baik yang menimbulkan

hubungan harmonis. Keterampilan komunikasi meliputi: memberikan

umpan balik, mengungkap perasaan, mendukung dan menanggapi orang

lain, serta menerima diri sendiri dan orang lain.

Dalam kegiatan tersebut siswa dalam kegiatan kelompok tentu akan

belajar peduli memahami orang lain, akan berkomunikasi dan merespon

orang lain, akan melakukan komunikasi verbal maupun non verbal, dan

akan berpartisipasi dalam kelompok mempertahankan pendapat sebagai

wujud tanggung jawab. Jika dilakukan secara berulang-ulang, maka akan

membentuk keterampilan sosial tanpa disadari oleh siswa.

Peranan guru yang terpenting dalam hal ini adalah memantau

bagaimana peningkatan keterampilan sosial yang terjadi. Pada aspek mana

telah berkembang baik, pada aspek mana yang masih kurang, pada aspek

mana yang per;lu perhatian dan seterusnya. Pengamatan yang terukur dari

guru memungkinkan guru melakukan tindakan sesuai dengan kebutuhan

siswa. Pendekatan cooperative learning model STAD terdiri atas lima

komponen utama, yaitu, presentasi kelas, tim, kuis, skor kemajuan

individual, rekognisi tim. Proses presentasi kelas, akan menorong siswa para

siswa untuk menyadari bahwa mereka harus benar-benar memberi perhatian

118
penuh, karena dengan demikian akan sangat membantu mereka

mengerjakan kuis-kuis dan skor kuis mereka menentukan skor tim mereka.

Pembentukan Tim yang terdiri dari 4-5 siswa memiliki fungsi utama untuk

melibatkan siswa dalam pembahasan permasalah bersama, membandingkan

jawaban, dan mengoreksi tiap kesalahan pemahaman apabila anggota tim

ada yang membuat kesalahan.

Proses interaksi dalam tim akan memberikan dampak positif pada

pengembangan dukungan kelompok. Hal ini berguna untuk memberikan

perhatian dan respek yang saling menguntungkan dalam hubungan antar

kelompok, rasa harga diri, penerimaan terhadap siswa-siswa lain. Kuis

dalam STAD akan mengajarkan bagaimana siswa bertanggung jawab secara

individual untuk memahami tugasnya. Sementara skor kemajuan individual

berguna untuk memberikan kepada tiap siswa bahwa mereka punya

kontribusi terhadap prestasi Tim. Sedangkan rekognisi tim merupakan

bentuk penghargaan bagi hasil kinerja tim yang mencapai tingkat

keberhasilan tertentu.

Hasil penelitian ini didukung oleh teori dan pendapat yang

dikemukakan oleh para ahli sehingga semakin menguatkan pendapat bahwa

bimbingan kelompok yang dikombinasikan dengan cooperative learning

model STAD akan membimbing siswa agar mampu berbicara di depan

orang banyak, berani mengemukakan pendapat, ide, saran, tanggapan,

perasaaan, serta dapat belajar menghargai pendapat orang lain dan

bertanggung jawab atas pendapat yang dikemukannya. Interaksi dalam Tim

119
akan mengajarkan siswa agar mampu mengendalikan diri dan menahan

emosi, dapat bertenggang rasa dan akrab satu dengan yang lainnya. Dengan

demikian, secara tidak langsung keterampilan sosial siswa secara perlahan

akan terbentuk dan berkembang. Bimbingan kelompok yang

dikombinasikan dengan cooperative learning model STAD memungkinkan

siswa untuk meningkatkan kemampuan berkomunikasi, kemampuan

menjalin hubungan baik dengan orang lain, kemampuan menghargai diri

sendiri dan orang lain, kemampuan mendengarkan pendapat atau keluhan

dari orang lain, kemampuan memberi dan menerima feedback, kemampuan

memberi dan menerima kritik, berlaku atau bertindak sesuai norma dan

aturan yang berlaku. Dengan demikian, penggunaan metode bimbingan

kelompok dengan cooperative learning akan membawa manfaat pada

meningkatnya keterampilan sosial siswa.

Menurut Ibrahim (2000: 10) bahwa tujuan utama pembelajaran

cooperative learning dalam kegiatan mengajar adalah : 1) hasil belajar 2)

penerimaan terhadap keragaman 3) pengembangan keterampilan sosial.

Teori yang dikemukakan oleh Erik Erikson (Singgih D. Gunarsa:

105-115) yang berpendapat bahwa terdapat delapan tahap perkembangan

terbentang ketika kita melampaui siklus kehidupan. Masing-masing tahap

terdiri dari tugas perkembangan yang khas dan mengedepankan individu

dengan suatu krisis yang harus dihadapi. Salah satunya adalah masa remaja

(identitas versus kebingungan identitas) terjadi pada masa remaja, yakni

usia 10 sampai dengan 20 tahun

120
Pada masa remaja anak dihadapkan oleh pencarian indentitas. Jika

anak menjajaki berbagai peran dan menemukan peran positif maka ia akan

mencapai identitas yang positif. Jika orangtua menolak identitas remaja

sedangkan remaja tidak mengetahui banyak peran dan juga tidak dijelaskan

tentang jalan masa depan yang positif maka ia akan mengalami

kebingungan identitas.

Oleh karena itu, masa remaja adalah masa yang sangat potensial ke

arah positif dan negatif. Maka bimbingan, maupun pendampingan sangat

diperlukan remaja untuk dapat diarahkan agar perkembangan remaja itu ke

arah yang positif. Dapat kita lihat pentingnya meningkatkan hubungan

sosial pada remaja agar dalam proses pendidikananya dan proses kehidupan

dalam masyarakat berjalan baik.

F. Keterbatasan Penelitian

Selama proses penelitian dilakukan, peneliti menyadari bahwa masih

ada keterbatasan penelitian ini yaitu: penilaian keterampilan sosial hanya

dilakukan pada saat penelitian, sehingga belum menjangkau pada keterampilan

sosial dalam kehidupan siswa sehari-hari disekolah.

121
BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan

Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan, diperoleh kesimpulan

bahwa bimbingan kelompok berbasis cooperative learning dapat meningkatkan

keterampilan sosial siswa di SMP N 2 Pakem kelas VIII C, untuk belajar

berinisisatif, bersikap terbuka, dapat bekerjasama dalam tim, berani berbicara

di depan orang lain dan menyelesaikan konflik. Pada setiap akhir tindakan

peneliti melakukan diskusi dengan peserta untuk bersama mencari tahu makna

dari setiap tindakan yang diberikan.

Terkait dengan hal tersebut, skor keterampilan sosial siswa kelas VIII C

di SMP N 2 Pakem meningkat. Hal ini dibuktikan dengan perolehan skor rata

pada pra tindakan sebesar 221,6, paska tindakan siklus I sebesar 230,2, dan

paska tindakan siklus II sebesar 241,8 yang berada pada kategori tinggi.

B. Saran

Berdasarkan kesimpulan hasil penelitian yang telah dikemukakan di

atas, maka disarankan sebagai berikut:

1. Bagi Guru Bimbingan dan Konseling

a. Guru Bimbingan dan Konseling diharapkan dapat melanjutkan kembali

tindakan dalam meningkatkan keterampilan sosial siswa di SMP N 2

Pakem.

122
b. Guru BK lebih berani berinovasi dalam menggunakan metode bimbingan

kelompok atau sejenisnya dalam memberikan bimbingan kepada siswa,

terutama pada peningkatan aspek-aspek sosial.

2. Bagi Siswa

a. Siswa hendaknya lebih serius dalam mengikuti bimbingan kelompok

yang diberikan oleh guru BK, sehingga siswa bisa mengerti makna

bimbingan kelompok berbasis cooperative learning dan bisa

menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari.

b. Siswa diharapkan terus mengembangkan keterampilan sosialnya

sehingga akan berguna dikemudian hari.

c. Siswa mampu membagi pengalaman dan ilmu yang telah didapat kepada

orang lain.

3. Bagi Penelitian Selanjutnya

a. Bagi peneliti yang akan meneliti mengenai keterampilan sosial agar lebih

meluangkan waktu dalam melakukan observasi awal terhadap subjek.

b. Bagi peneliti yang akan menggunakan teknik bimbingan kelompok

berbasis cooperative learning agar lebih detail dalam menyusun materi

tentang keterampilan sosial yang lebih menarik untuk siswa sehingga

siswa tidak merasa jenuh dengan lamanya kegiatan.

123
DAFTAR PUSTAKA

Agus Dariyo. (2004). Psikologi Perkembangan Remaja, Bogor : Ghalia Indonesia.


Andi Mappiare. (2006). Kamus Istilah Konseling dan Terapi. Jakarta: Rajawali
Press.
Anwar Kurnia. (2006). Pendidikan Kecakapan Hidup (life skills education).
Bandung: Alfabeta.
Cartlegde, G. & Milburn, J. F. (1995). Teaching Social Skills to Children and
Youth: Innovative Approaches. Massachusetts: Allyn and Bacon.
Depdikbud. (1999). Penelitian Tindakan. Jakarta: Direktorat Jendral Pendidikan
Dasar dan Menengah, Direktorat Pendidikan Menengah Umum.
Dewa Ketut Sukardi. (2008). Pengantar Pelaksanaan program bimbingan dan
konseling di sekolah. Jakarat: Rineka Cipta.
Elksnin, L. K. dan Elksnin, N. (2007). Assessment and Instruction of Social
Skill. London: Singular Publishing Group.

Erman Amti. (1992). Bimbingan dan Konseling. Jakarta:[Link]: P.T Proyek


Pembinaan Pendidikan.
Hurlock, E.B. (1991). Psikologi Perkembangan. Suatu Pendekatan Sepanjang
Rentang Kehidupan. (Alih bahasa: Istiwiayanti & Soedjarwo). Edisi
Kelima. Jakarta: Erlangga.
Ibrahim, M. (2000). Pembelajaran Kooperatif. Surabaya: Universitas Negeri
Surabaya
Isjoni. (2007). Cooperative Learning. Bandung:Alfabeta.
Johnson, D., W., & Johnson, R. (1999). Cooperation and Competition: Theory
and Research. Edina, MN: InteractionB ook Co.
Kemmis, S., & [Link], R. (1994). The Action Research Planner. Geelong:
Deaken Univercity Press.
Lie Anita. (2002). Cooperative Learning. Jakarta: PT. Grasindo.
Lujianto. (2009). Hubungan Antara Komunikasi Orang Tua dan Anak Dengan
Keterampilan Sosial Anak Di Madrasah 16 Tidakiyah Al-Khoiriyah
Melikan Wonde Pleret Bantul. Skripsi. FIP UNY.
Muhammad Ali & Muhammad Asrori. (2005). Psikologi Remaja. Jakarta: Bumi
Aksara.

124
Merrell, K.W & Gimpel, G.A. (1998). Social Skill of Children and Adolescents
Conceptualization, Assessment, Treatment. New Jersey London.
Lawrence. Erlbaum Associates.
Neila Ramdhani. (1994). Pelatihan Ketrampilan Sosial pada Mahasiswa yang
Sulit Bergaul, Tesis S2. Yogyakarta: Program Studi Pasca Sarjana UGM.
Panut Panuju dan Ida Umami. (2005). Psikologi Remaja. Yogyakarta: Tiara
Wacana.
Prayitno. (1995). Layanan Bimbingan dan Konseling Kelompok (Dasar dan
Profil). Jakarta: Ghalia Indonesia.
Rita Eka Izzaty, dkk. (2008). Perkembangan Peserta Didik. Yogyakarta: UNY
Press.
Rusmana. (2009). Bimbingan dan Konseling Kelompok di Sekolah (Metode,
Teknik, dan Aplikasi). Bandung : Rizqi Press.
Saifuddin Azwar. (2004). Reliabilitas dan Validitas. Yogyakarta: Pustaka Pelajar
Offset.
Santrock, J. W. (2003). Adolescence Perkembangan Remaja. Jakarta : Erlangga
Sarwono, S. W. (2005). Psikologi Remaja. Edisi Enam. Jakarta: Raja Grafindo
Persada.
Singgih D. Gunarsa. (2008). Dasar dan Teori Perkembangan Anak. Jakarta:
Gunung Mulia.
Slavin, R. E. (2005). Cooperative Learning Teori, Riset&Praktik. Bandung: Nusa
Media.
Sri Rumini. (2000). Psikologi Pendidikan. Yogyakarta: UNY.
Sri Rumini dan Siti Sundari. (2004). Perkembangan Anak dan Remaja. Jakarta:
PT Asdi Mahasatya.
Sri Sunarni. (2000). Hubungan Antara Layanan Bimbingan Pribadi Sosial dan
Keterampilan Sosial Dengan Penyesuaian Sosial Pada Siswa Kelas II
SMU N Yogyakarta Tahun Ajaran 2000/2001. Skripsi. Yogyakarta: FIP
UNY.
Stahl, R. J. (1994) Cooperative Learning In Social Studies: A Handbook For
[Link]: Kane Publishing Service. inc.
Suharsimi Arikunto. (2002). Manajemen Penelitian. Cetakan Ketujuh. Jakarta:
Rineka Cipta.
Sunarto dan Hartono A. (2002). Perkembangan Peserta Didik. Jakarta:
Depdikbud & Rineka Cipta.

125
Suyanto. (1997). Pedoman PelaksanaanPenelitian Tindakan Kelas (PTK), Bagian
satu. Jakarta: Dirjen Dikti Depdikbud Proyek Pendidikan Tenaga
Akademik Bagian Pengembangan Pendidikan Guru Sekolah Dasar
(BP3GSD).
Syamsu Yusuf dan Juntika Nurihsan. (2004). Landasan Bimbingan dan
Konseling. Bandung: Remaja Rosdakarya.
Winkel, W.S dan Sri Hastuti. (2004). Bimbingan dan Konseling di Institusi
Pendidikan. Yogyakarta: Media Abadi.

126
LAMPIRAN

127
Lampiran 1. Bentuk Skala Sebelum Uji Coba

SKALA KETERAMPILAN SOSIAL


KATA PENGANTAR

Skala ini bertujuan untuk mengetahui keterampilan sosial. Setiap


individu mempunyai tingkat keterampilan sosial yang berbeda-beda, dan
keterampilan sosial bukan semata-mata datang secara alami, namun dengan usaha
sadar dan berusaha untuk mengembangkan keterampilan sosial tersebut.

Skala ini berisi butir-butir pernyataan yang membutuhkan respon adik-


adik semua. Tidak ada jawaban benar atau salah setelah merespon item-item
tersebut. Jawablah tiap-item sesuai dengan keadaan/penghayatan/pengalaman
Anda. Kejujuran dan kesungguhan dalam menjawab pernyataan-pernyataan ini
sangat membantu dalam mengetahui seberapa keterampilan sosial adik-adik.
Jawaban dari pernyataan ini tidak akan mempengaruhi nilai maupun prestasi adik-
adik disekolah. Dalam menjawab pernyataan ini tidak ada jawaban yang dianggap
betul atau salah, karena jawaban satu siswa dan siswa lain berbeda-beda sesuai
dengan kondisi diri saat ini.

128
Atas kesediaan adik-adik untuk meluangkan waktu menjawab pernyataan
ini saya ucapkan terima kasih.

Penyusun : Eprilia Kusuma Dewi

PETUNJUK PENGISIAN

1. Tulislah nama lengkap dan kelas Anda dengan jelas.

2. Bacalah pernyataan dengan seksama, jawaban tidak ada betul dan salah
maka pilihlah sesuai dengan kondisi Anda sebenarnya.

3. Pada lembar jawab terdapat 4 jawaban yaitu:

Sangat Sesuai (SS)


Sesuai (S)
Tidak Sesuai (TS)
Sangat Tidak Sesuai (STS)

4. Jawablah pada tempat yang sudah tersedia dengan memberi tanda centang
(√) atau silang (X).

Contoh:

Jika Anda menghargai pendapat orang lain maka berilah tanda centang
(√)atau silang (X) pada kolom SS.

Jawaban
NO Pernyataan
SS S TS STS
1 Saya menghargai pendapat orang lain

Jika Anda tidak pernah memberi bantuan kepada orang lain maka berilah
tanda centang (√)atau silang (X) pada kolom STS.

Jawaban
NO Pernyataan
SS S TS STS
1 Saya memberi bantuan kepada orang lain saat
dibutuhkan. √

129
5. Jika jawaban yang telah Anda pilih ternyata tidak sesuai dan Anda ingin
menggantinya maka berikan tanda sama dengan (=).

Contoh:

Jawaban
NO Pernyataan
SS S TS STS

1 Saya memberi bantuan kepada orang lain saat


√ √
dibutuhkan.

Selamat mengerjakan .

SKALA KETERAMPILAN SOSIAL

Jawaban
NO. Pernyataan
SS S TS STS

1. Saya mengikuti remidial ketika nilai saya jelek

2. Saya bernyanyi di depan kelas karena tidak mengerjakan PR

3. Saya sulit menerima akibat kesalahan yang saya perbuat sendiri

4. Saya membolos sekolah karena tidak mengerjakan PR

5. Saya bersikap sopan ketika berkunjung ke rumah teman

Saya berjalan agak membungkuk ketika lewat di depan orang yang


6. lebih tua

7. Saya mendengarkan nasehat guru

8. Saya berbicara menggunakan nada tinggi dengan guru

9. Saya bercerita tentang masalah yang sedang saya hadapi kepada teman

Saya memberikan ucapan selamat kepada teman yang mendapat juara


10.

130
kelas

11. Saya malu memberikan pujian kepada teman yang berprestasi

12. Saya gengsi ketika harus meminta maaf kepada teman

Saya menjaga kontak mata dengan lawan bicara setiap terlibat


13. pembicaraan

14. Saya bersemangat saat teman mengajak saya bercerita

15. Saya melamun saat orang lain berbicara dengan saya

16. Saya lebih banyak diam ketika teman sedang berbicara dengan saya

17. Saya memperhatikan kesehatan saya

18. Saya menjaga pola makan agar tidak sakit

19. Saya mandi sehari sekali

20. Saya telat makan ketika waktunya makan

21. Saya datang lebih pagi ke sekolah karena harus piket

22. Saya menyiram bunga di depan kelas

23. Saya membuang sampah sembarangan

24. Saya menginjak tanaman di sekitar sekolah

25. Saya memberikan apa yang saya miliki demi menolong orang lain

26. Saya membantu orang lain yang terlihat membutuhkan pertolongan

Saya tidak membantu orang lain sebelum dimintai pertolongan oleh


27. orang tersebut

28. Saya hanya menolong orang yang suka menolong saya

29. Saya bertanya kepada guru ketika tidak dapat mengerjakan tugas

30. Saya meminta bantuan teman ketika tidak dapat mengerjakan PR

31. Saya bertanya kepada teman saat ujian

32. Saya malu bertanya jika tidak mengerti penjelasan guru

33. Saya mendengarkan orang lain yang sedang berbicara

34. Saya memperhatikan penjelasan guru di depan kelas

35. Saya asik bermain pensil saat guru memberikan penjelasan di kelas

Saya berbicara dengan teman sebangku saya ketika guru menjelaskan di


36. depan kelas

131
Saya mengemukakan pendapat/ide saat terlibat pembicaraan dengan
37. orang lain

38. Saya berbicara dengan jelas dan tegas saat mengemukakan pendapat

39. Saya terbata-bata ketika berbicara saat diskusi di kelas

40. Saya berbicara ketika orang lain sedang berpendapat

41. Saya menyelesaikan tugas tepat waktu

Saya bersungguh-sungguh dalam mengerjakan tugas yang diberikan


42. oleh guru

43. Saya menunda-nunda dalam mengerjakan PR

44. Saya mengerjakan PR di sekolah

45. Saya datang ke sekolah tepat waktu

46. Saya memakai seragam sesuai dengan peraturan sekolah

47. Saya membolos pelajaran yang saya tidak suka

48. Saya tidak memakai topi saat upacara

49. Saya menjalin hubungan baik dengan siapa saja tanpa membedakan

50. Saya belajar kelompok diluar jam sekolah

51. Saya mementingkan tugas individu dan mengabaikan tugas kelompok

52. Saya memilih menyendiri ketika ada kegiatan kelompok

Saya dengan senang hati mengambilkan penghapus papan tulis di ruang


53. guru

54. Saya menjadi ketua dalam kegiatan-kegiatan di sekolah

55. Saya memilih menjadi anggota daripada pemimpin

56. Saya malu ketika ditunjuk guru untuk maju mengerjakan soal

57. Saya memberikan solusi ketika teman curhat dengan saya

58. Saya tetap tenang dalam menyelesaikan masalah

59. Saya tidak bisa menyelesaikan masalah saya sendirian

60. Saya terburu-buru dalam menyelesaikan masalah dengan teman

61. Saya menanyakan kabar teman yang tidak masuk sekolah

62. Saya mengantarkan teman yang sedang sakit ke UKS

63. Saya ikut prihatin atas masalah yang dialami teman

64. Saya cuek ketika ada teman yang sedang mencurahkan isi hati kepada

132
saya

65. Saya menyapa teman terlebih dahulu ketika bertemu di jalan

66. Saya membalas ucapan salam dari orang lain

67. Saya menghindar ketika bertemu guru di jalan karena malu

68. Saya diam ketika bertemu teman di jalan

69. Saya membantu teman ketika teman dalam kesusahan

70. Saya tidak membeda-bedakan saat menolong orang lain

71 Saya membiarkan pengemis yang meminta-minta kepada saya

72 Saya menolak teman yang meminta bantuan dalam mengerjakan tugas

73 Saya membuka percakapan saat berkumpul bersama teman-teman

74 Saya banyak berbicara ketika berkumpul dengan teman-teman

75 Saya hanya berbicara dan dekat dengan orang-orang tertentu saja

76 Saya takut berbicara dengan orang yang baru saya kenal

77 Saya hadir dalam kegiatan ekstrakulikuler

78 Saya aktif mengikuti kegiatan OSIS di sekolah

Saya tidak memberikan keterangan saat tidak dapat mengikuti kegiatan


79 ekstrakulikuler

80 Saya tidak ikut serta dalam kegiatan bakti sosial

81 Saya berteman tanpa membeda-bedakan

82 Saya berteman tanpa melihat fisik

83 Saya berteman hanya dengan orang-orang kaya

84 Saya menjauhi teman yang mempunyai sifat sombong

85 Saya mampu mengendalikan amarah ke hal positif

86 Saya menghindari permusuhan dengan teman

87 Saya berkelahi dengan teman karena hal kecil

88 Saya memukul teman yang menghina saya

#TERIMA KASIH

133
Lampiran 2. Bentuk Skala Setelah Uji Coba

SKALA KETERAMPILAN SOSIAL


KATA PENGANTAR

Skala ini bertujuan untuk mengetahui keterampilan sosial. Setiap


individu mempunyai tingkat keterampilan sosial yang berbeda-beda, dan
keterampilan sosial bukan semata-mata datang secara alami, namun dengan usaha
sadar dan berusaha untuk mengembangkan keterampilan sosial tersebut.

Skala ini berisi butir-butir pernyataan yang membutuhkan respon adik-


adik semua. Tidak ada jawaban benar atau salah setelah merespon item-item
tersebut. Jawablah tiap-item sesuai dengan keadaan/penghayatan/pengalaman
Anda. Kejujuran dan kesungguhan dalam menjawab pernyataan-pernyataan ini
sangat membantu dalam mengetahui seberapa keterampilan sosial adik-adik.
Jawaban dari pernyataan ini tidak akan mempengaruhi nilai maupun prestasi adik-
adik disekolah. Dalam menjawab pernyataan ini tidak ada jawaban yang dianggap
betul atau salah, karena jawaban satu siswa dan siswa lain berbeda-beda sesuai
dengan kondisi diri saat ini.

134
Atas kesediaan adik-adik untuk meluangkan waktu menjawab pernyataan
ini saya ucapkan terima kasih.

Penyusun : Eprilia Kusuma Dewi

PETUNJUK PENGISIAN

1. Tulislah nama lengkap dan kelas Anda dengan jelas.

2. Bacalah pernyataan dengan seksama, jawaban tidak ada betul dan salah
maka pilihlah sesuai dengan kondisi Anda sebenarnya.

3. Pada lembar jawab terdapat 4 jawaban yaitu:

Sangat Sesuai (SS)


Sesuai (S)
Tidak Sesuai (TS)
Sangat Tidak Sesuai (STS)

4. Jawablah pada tempat yang sudah tersedia dengan memberi tanda centang
(√) atau silang (X).

Contoh:

Jika Anda menghargai pendapat orang lain maka berilah tanda centang
(√)atau silang (X) pada kolom SL.

Jawaban
NO Pernyataan
SS S TS STS
1 Saya menghargai pendapat orang lain

Jika Anda tidak pernah memberi bantuan kepada orang lain maka berilah
tanda centang (√)atau silang (X) pada kolom TP.

Jawaban
NO Pernyataan
SS S TS STS
1 Saya memberi bantuan kepada orang lain saat
dibutuhkan. √

135
5. Jika jawaban yang telah Anda pilih ternyata tidak sesuai dan Anda ingin
menggantinya maka berikan tanda sama dengan (=).

Contoh:

Jawaban
NO Pernyataan
SS S TS STS

1 Saya memberi bantuan kepada orang lain saat


√ √
dibutuhkan.

Selamat mengerjakan .

SKALA KETERAMPILAN SOSIAL

Jawaban
NO. Pernyataan
SS S TS STS

1. Saya mengikuti remidial ketika nilai saya jelek

2. Saya bernyanyi di depan kelas karena tidak mengerjakan PR

3. Saya sulit menerima akibat kesalahan yang saya perbuat sendiri

4. Saya membolos sekolah karena tidak mengerjakan PR

Saya berjalan agak membungkuk ketika lewat di depan orang yang


5. lebih tua

6. Saya mendengarkan nasehat guru

7. Saya bercerita tentang masalah yang sedang saya hadapi kepada teman

8. Saya malu memberikan pujian kepada teman yang berprestasi

9. Saya gengsi ketika harus meminta maaf kepada teman

10 Saya menjaga kontak mata dengan lawan bicara setiap terlibat

136
pembicaraan

11 Saya bersemangat saat teman mengajak saya bercerita

12 Saya lebih banyak diam ketika teman sedang berbicara dengan saya

13 Saya memperhatikan kesehatan saya

14 Saya mandi sehari sekali

15 Saya telat makan ketika waktunya makan

16 Saya menyiram bunga di depan kelas

17 Saya membuang sampah sembarangan

18 Saya menginjak tanaman di sekitar sekolah

19 Saya memberikan apa yang saya miliki demi menolong orang lain

20 Saya membantu orang lain yang terlihat membutuhkan pertolongan

21 Saya hanya menolong orang yang suka menolong saya

22 Saya bertanya kepada guru ketika tidak dapat mengerjakan tugas

23 Saya meminta bantuan teman ketika tidak dapat mengerjakan PR

24 Saya bertanya kepada teman saat ujian

25 Saya malu bertanya jika tidak mengerti penjelasan guru

26 Saya mendengarkan orang lain yang sedang berbicara

27 Saya memperhatikan penjelasan guru di depan kelas

28 Saya asik bermain pensil saat guru memberikan penjelasan di kelas

Saya berbicara dengan teman sebangku saya ketika guru menjelaskan di


29 depan kelas

Saya mengemukakan pendapat/ide saat terlibat pembicaraan dengan


30 orang lain

31 Saya berbicara dengan jelas dan tegas saat mengemukakan pendapat

32 Saya terbata-bata ketika berbicara saat diskusi di kelas

33 Saya berbicara ketika orang lain sedang berpendapat

34 Saya menyelesaikan tugas tepat waktu

Saya bersungguh-sungguh dalam mengerjakan tugas yang diberikan


35 oleh guru

36 Saya menunda-nunda dalam mengerjakan PR

137
37 Saya mengerjakan PR di sekolah

38 Saya datang ke sekolah tepat waktu

39 Saya memakai seragam sesuai dengan peraturan sekolah

40 Saya membolos pelajaran yang saya tidak suka

41 Saya menjalin hubungan baik dengan siapa saja tanpa membedakan

42 Saya belajar kelompok diluar jam sekolah

43 Saya mementingkan tugas individu dan mengabaikan tugas kelompok

44 Saya memilih menyendiri ketika ada kegiatan kelompok

Saya dengan senang hati mengambilkan penghapus papan tulis di ruang


45 guru

46 Saya menjadi ketua dalam kegiatan-kegiatan di sekolah

47 Saya memilih menjadi anggota daripada pemimpin

48 Saya malu ketika ditunjuk guru untuk maju mengerjakan soal

49 Saya memberikan solusi ketika teman curhat dengan saya

50 Saya tetap tenang dalam menyelesaikan masalah

51 Saya tidak bisa menyelesaikan masalah saya sendirian

52 Saya terburu-buru dalam menyelesaikan masalah dengan teman

53 Saya menanyakan kabar teman yang tidak masuk sekolah

54 Saya mengantarkan teman yang sedang sakit ke UKS

55 Saya ikut prihatin atas masalah yang dialami teman

Saya cuek ketika ada teman yang sedang mencurahkan isi hati kepada
56 saya

57 Saya menyapa teman terlebih dahulu ketika bertemu di jalan

58 Saya membalas ucapan salam dari orang lain

59 Saya menghindar ketika bertemu guru di jalan karena malu

60 Saya membantu teman ketika teman dalam kesusahan

61 Saya tidak membeda-bedakan saat menolong orang lain

62 Saya membiarkan pengemis yang meminta-minta kepada saya

63 Saya menolak teman yang meminta bantuan dalam mengerjakan tugas

64 Saya banyak berbicara ketika berkumpul dengan teman-teman

138
65 Saya hanya berbicara dan dekat dengan orang-orang tertentu saja

66 Saya takut berbicara dengan orang yang baru saya kenal

67 Saya hadir dalam kegiatan ekstrakulikuler

68 Saya aktif mengikuti kegiatan OSIS di sekolah

Saya tidak memberikan keterangan saat tidak dapat mengikuti kegiatan


69 ekstrakulikuler

70 Saya tidak ikut serta dalam kegiatan bakti sosial

71 Saya berteman tanpa membeda-bedakan

72 Saya berteman tanpa melihat fisik

73 Saya berteman hanya dengan orang-orang kaya

74 Saya menjauhi teman yang mempunyai sifat sombong

75 Saya mampu mengendalikan amarah ke hal positif

76 Saya menghindari permusuhan dengan teman

77 Saya berkelahi dengan teman karena hal kecil

78 Saya memukul teman yang menghina saya

#TERIMA KASIH#

139
Lampiran 3. Uji Validitas dan Reliabilitas

Uji Validitas

Correlations

Correlations

Rhitung Keterangan

P1 Pearson Correlation .569** Valid

Sig. (2-tailed) .003

N 25

P2 Pearson Correlation .660** Valid

Sig. (2-tailed) .000

N 25

P3 Pearson Correlation .552** Valid

Sig. (2-tailed) .004

N 25

P4 Pearson Correlation .573** Valid

Sig. (2-tailed) .003

N 25

P5 Pearson Correlation .105 Tidak Valid

Sig. (2-tailed) .619

N 25

P6 Pearson Correlation .712** Valid

Sig. (2-tailed) .000

140
N 25

P7 Pearson Correlation .553** Valid

Sig. (2-tailed) .004

N 25

P8 Pearson Correlation .043 Tidak Valid

Sig. (2-tailed) .837

N 25

P9 Pearson Correlation .536** Valid

Sig. (2-tailed) .006

N 25

P10 Pearson Correlation -.033 Tidak Valid

Sig. (2-tailed) .876

N 25

P10 Pearson Correlation -.033 Tidak Valid

Sig. (2-tailed) .876

N 25

P11 Pearson Correlation .536** Valid

Sig. (2-tailed) .006

N 25

P12 Pearson Correlation .559** Valid

Sig. (2-tailed) .004

N 25

P13 Pearson Correlation .618** Valid

Sig. (2-tailed) .001

N 25

141
Rhitung Keterangan

P14 Pearson Correlation .519** Valid

Sig. (2-tailed) .008

N 25

P15 Pearson Correlation -.077 Tidak Valid

Sig. (2-tailed) .716

N 25

P16 Pearson Correlation .548** Valid

Sig. (2-tailed) .005

N 25

P17 Pearson Correlation .610** Valid

Sig. (2-tailed) .001

N 25

P18 Pearson Correlation -.233 Tidak Valid

Sig. (2-tailed) .262

N 25

P19 Pearson Correlation .566** Valid

Sig. (2-tailed) .003

N 25

P20 Pearson Correlation .523** Valid

Sig. (2-tailed) .007

N 25

P21 Pearson Correlation .064 Tidak Valid

Sig. (2-tailed) .761

142
N 25

P22 Pearson Correlation .582** Valid

Sig. (2-tailed) .002

N 25

P23 Pearson Correlation .595** Valid

Sig. (2-tailed) .002

N 25

P24 Pearson Correlation .625** Valid

Sig. (2-tailed) .001

N 25

P25 Pearson Correlation .502* Valid

Sig. (2-tailed) .011

N 25

P26 Pearson Correlation .610** Valid

Sig. (2-tailed) .001

N 25

P27 Pearson Correlation .063 Tidak Valid

Sig. (2-tailed) .765

N 25

P28 Pearson Correlation .680** Valid

Sig. (2-tailed) .000

N 25

P29 Pearson Correlation .520** Valid

Sig. (2-tailed) .008

N 25

P30 Pearson Correlation .490* Valid

143
Sig. (2-tailed) .013

N 25

Rhitung Keterangan

P31 Pearson Correlation .509** Valid

Sig. (2-tailed) .009

N 25

P32 Pearson Correlation .519** Valid

Sig. (2-tailed) .008

N 25

P33 Pearson Correlation .512** Valid

Sig. (2-tailed) .009

N 25

P34 Pearson Correlation .540** Valid

Sig. (2-tailed) .005

N 25

P35 Pearson Correlation .562** Valid

Sig. (2-tailed) .003

N 25

P36 Pearson Correlation .507** Valid

Sig. (2-tailed) .010

N 25

P37 Pearson Correlation .572** Valid

Sig. (2-tailed) .003

N 25

P38 Pearson Correlation .573** Valid

Sig. (2-tailed) .003

144
N 25

P39 Pearson Correlation .519** Valid

Sig. (2-tailed) .008

N 25

P40 Pearson Correlation .569** Valid

Sig. (2-tailed) .003

N 25

P41 Pearson Correlation .547** Valid

Sig. (2-tailed) .005

N 25

P42 Pearson Correlation .569** Valid

Sig. (2-tailed) .003

N 25

P43 Pearson Correlation .598** Valid

Sig. (2-tailed) .002

N 25

P44 Pearson Correlation .490* Valid

Sig. (2-tailed) .013

N 25

P45 Pearson Correlation .504* Valid

Sig. (2-tailed) .010

N 25

P46 Pearson Correlation .600** Valid

Sig. (2-tailed) .002

N 25

145
P47 Pearson Correlation .680** Valid

Sig. (2-tailed) .000

N 25

Rhitung Keterangan

P48 Pearson Correlation -.053 Tidak Valid

Sig. (2-tailed) .802

N 25

P49 Pearson Correlation .771** Valid

Sig. (2-tailed) .000

N 25

P50 Pearson Correlation .497* Valid

Sig. (2-tailed) .012

N 25

P51 Pearson Correlation .635** Valid

Sig. (2-tailed) .001

N 25

P52 Pearson Correlation .500* Valid

Sig. (2-tailed) .011

N 25

P53 Pearson Correlation .647** Valid

Sig. (2-tailed) .000

N 25

P54 Pearson Correlation .505** Valid

Sig. (2-tailed) .010

N 25

P55 Pearson Correlation .486* Valid

146
Sig. (2-tailed) .014

N 25

P56 Pearson Correlation .526** Valid

Sig. (2-tailed) .007

N 25

P57 Pearson Correlation .564** Valid

Sig. (2-tailed) .003

N 25

P58 Pearson Correlation .491* Valid

Sig. (2-tailed) .013

N 25

P59 Pearson Correlation .499* Valid

Sig. (2-tailed) .011

N 25

P60 Pearson Correlation .523** Valid

Sig. (2-tailed) .007

N 25

P61 Pearson Correlation .470* Valid

Sig. (2-tailed) .018

N 25

P62 Pearson Correlation .558** Valid

Sig. (2-tailed) .004

N 25

P63 Pearson Correlation .507** Valid

Sig. (2-tailed) .010

147
N 25

P64 Pearson Correlation .648** Valid

Sig. (2-tailed) .000

N 25

Rhitung Keterangan

P65 Pearson Correlation .522** Valid

Sig. (2-tailed) .007

N 25

P66 Pearson Correlation .539** Valid

Sig. (2-tailed) .005

N 25

P67 Pearson Correlation .615** Valid

Sig. (2-tailed) .001

N 25

P68 Pearson Correlation -.168 Tidak Valid

Sig. (2-tailed) .423

N 25

P69 Pearson Correlation .506** Valid

Sig. (2-tailed) .010

N 25

P70 Pearson Correlation .632** Valid

Sig. (2-tailed) .001

N 25

P71 Pearson Correlation .583** Valid

Sig. (2-tailed) .002

N 25

148
P72 Pearson Correlation .574** Valid

Sig. (2-tailed) .003

N 25

P73 Pearson Correlation -.046 Tidak Valid

Sig. (2-tailed) .826

N 25

P74 Pearson Correlation .463* Valid

Sig. (2-tailed) .020

N 25

P75 Pearson Correlation .523** Valid

Sig. (2-tailed) .007

N 25

P76 Pearson Correlation .520** Valid

Sig. (2-tailed) .008

N 25

P77 Pearson Correlation .469* Valid

Sig. (2-tailed) .018

N 25

P78 Pearson Correlation .517** Valid

Sig. (2-tailed) .008

N 25

P79 Pearson Correlation .672** Valid

Sig. (2-tailed) .000

N 25

P80 Pearson Correlation .469* Valid

149
Sig. (2-tailed) .018

N 25

P81 Pearson Correlation .455* Valid

Sig. (2-tailed) .022

N 25

Rhitung Keterangan

P82 Pearson Correlation .463* Valid

Sig. (2-tailed) .020

N 25

P83 Pearson Correlation .686** Valid

Sig. (2-tailed) .000

N 25

P84 Pearson Correlation .535** Valid

Sig. (2-tailed) .006

N 25

P85 Pearson Correlation .519** Valid

Sig. (2-tailed) .008

N 25

P86 Pearson Correlation .508** Valid

Sig. (2-tailed) .010

N 25

P87 Pearson Correlation .543** Valid

Sig. (2-tailed) .005

N 25

P88 Pearson Correlation .548** Valid

150
Sig. (2-tailed) .005

N 25

*. Correlation is significant at the 0.05 level (2-tailed).

**. Correlation is significant at the 0.01 level (2-tailed).

151
Reliabilitas Angket

Scale: ALL VARIABLES

Case Processing Summary

N %

Cases Valid 25 100.0

Excludeda 0 .0

Total 25 100.0

a. Listwise deletion based on all variables in the procedure.

Reliability Statistics

Cronbach's Alpha N of Items

.963 88

Item-Total Statistics

Scale Mean if Item Scale Variance if Corrected Item- Cronbach's Alpha if


Deleted Item Deleted Total Correlation Item Deleted

P1 254.7600 1155.273 .551 .962

P2 255.0400 1149.123 .646 .962

P3 255.4000 1155.750 .534 .962

P4 254.7200 1154.877 .555 .962

P5 254.4800 1184.343 .087 .963

P6 254.8000 1144.750 .699 .961

P7 255.6800 1157.810 .536 .962

P8 255.2800 1187.043 .026 .963

P9 255.3200 1152.977 .515 .962

P10 255.4800 1191.510 -.060 .964

152
P11 254.5600 1160.840 .520 .962

P12 254.9200 1153.660 .540 .962

P13 255.1200 1149.527 .601 .962

P14 255.3600 1159.907 .502 .962

P15 255.0000 1192.583 -.096 .963

P16 255.4400 1159.173 .532 .962

P17 255.4400 1146.590 .590 .962

P18 255.3200 1203.727 -.258 .964

P19 255.0800 1159.410 .551 .962

P20 255.6800 1163.227 .508 .962

P21 256.0000 1185.583 .041 .963

P22 256.0400 1152.123 .564 .962

P23 255.3600 1157.740 .580 .962

P24 254.9200 1147.660 .607 .962

P25 255.6800 1166.310 .487 .962

P26 255.2800 1156.210 .596 .962

P27 255.2000 1185.667 .040 .963

P28 254.9200 1157.827 .669 .962

P29 255.5600 1158.173 .501 .962

P30 255.3600 1165.073 .474 .962

P31 255.6800 1165.977 .495 .962

P32 255.4000 1165.167 .505 .962

P33 255.1600 1157.057 .492 .962

P34 255.1600 1158.723 .523 .962

P35 255.4400 1162.673 .548 .962

P36 255.4800 1166.927 .494 .962

P37 255.6000 1163.250 .559 .962

P38 255.8400 1169.890 .564 .962

153
P39 255.2800 1161.127 .502 .962

P40 254.8000 1166.500 .557 .962

P41 255.6000 1154.750 .528 .962

P42 255.2000 1160.167 .555 .962

P43 255.5600 1153.507 .582 .962

P44 255.4000 1166.500 .475 .962

P45 255.0400 1158.623 .485 .962

P46 254.5600 1155.340 .585 .962

P47 254.4800 1153.927 .668 .962

P48 254.4000 1191.000 -.070 .963

P49 254.4800 1155.510 .764 .962

P50 255.5600 1161.173 .479 .962

P51 255.2000 1159.333 .623 .962

P52 254.8000 1158.000 .480 .962

P53 255.6000 1146.500 .631 .962

P54 256.4000 1154.250 .483 .962

P55 255.9200 1158.327 .465 .962

P56 255.4800 1158.260 .508 .962

P57 255.0400 1156.790 .547 .962

P58 255.0800 1163.327 .474 .962

P59 255.4800 1158.343 .479 .962

P60 255.1600 1167.973 .511 .962

P61 255.6000 1164.167 .452 .962

P62 255.5600 1161.757 .544 .962

P63 255.7600 1164.273 .491 .962

P64 254.6400 1157.073 .636 .962

P65 255.1200 1160.693 .505 .962

P66 254.6800 1167.060 .526 .962

154
P67 254.5600 1167.507 .606 .962

P68 254.7600 1196.357 -.186 .963

P69 255.1200 1163.360 .490 .962

P70 254.8800 1154.610 .618 .962

P71 255.3600 1150.907 .564 .962

P72 255.1200 1167.443 .564 .962

P73 255.4800 1191.677 -.069 .963

P74 255.4800 1157.927 .440 .962

P75 255.1200 1162.527 .507 .962

P76 255.7200 1159.710 .503 .962

P77 255.0400 1154.373 .443 .962

P78 256.0800 1148.743 .492 .962

P79 254.9600 1145.040 .656 .962

P80 254.8000 1166.333 .453 .962

P81 254.4000 1170.083 .441 .962

P82 254.5600 1166.423 .446 .962

P83 254.6400 1152.657 .673 .962

P84 255.6000 1155.500 .516 .962

P85 255.4400 1160.757 .502 .962

P86 255.2000 1155.167 .487 .962

P87 255.2400 1156.940 .525 .962

P88 255.5200 1143.843 .522 .962

Scale Statistics

Mean Variance Std. Deviation N of Items

2.5816E2 1.188E3 34.47424 88

155
Lampiran 4. Pra Tindakan
NO ITEM NO ITEM NO
ITEM NO ITEM
N NA 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 2 2
O MA
1 2 3 4 5 6 7 8 9 0 1 2 3 4 5 6 7 8 9 0 1
P P N N P N P N N P P N P N N P N N P P N
EW
1 N 2 1 2 3 4 2 3 2 4 2 3 3 3 4 2 1 2 4 2 4 3
AM
2 M 4 1 3 4 4 1 4 4 3 4 4 3 2 3 2 2 3 4 2 3 3
AW
3 S 4 1 4 4 3 3 3 4 4 3 2 4 4 2 2 1 3 4 2 2 3
4 BS 4 1 3 4 4 3 2 4 3 4 3 3 4 3 3 2 2 4 2 4 4
5 DM 2 1 4 4 4 2 2 4 4 4 2 3 3 3 3 2 3 4 2 2 4
6 DSN 4 1 3 4 2 3 4 4 3 2 2 3 2 3 2 1 3 2 2 2 3
DD
7 AC 3 1 2 4 4 1 3 4 3 4 4 3 4 4 2 3 2 2 4 4 4
8 FRN 2 1 3 4 4 2 2 3 3 4 2 3 3 3 3 3 3 4 2 2 4
NRK
9 I 4 1 3 4 3 3 2 4 4 3 3 3 3 3 2 3 3 3 3 3 3
1
0 REP 4 1 1 4 4 1 3 3 4 2 3 3 2 4 2 3 3 4 3 3 3
1
1 YPD 2 1 4 4 4 3 3 4 4 4 2 4 4 2 2 3 3 4 2 2 2
1
2 SRC 4 1 3 4 3 2 3 3 2 3 2 3 3 3 2 1 2 3 2 3 3
3 1 3 4 4 2 3 4 4 3 3 3 3 3 2 2 3 4 2 3 3
jumlah 9 2 5 7 3 6 4 3 1 9 2 8 7 7 7 5 2 2 8 4 9

keterangan:
P = Positive
N = Negative

156
NO ITEM

2 2 2 2 2 2 2 2 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 5 5 5
2 3 4 5 6 7 8 9 0 1 2 3 4 5 6 7 8 9 0 1 2 3 4 5 6 7 8 9 0 1 2
P P N N P P N N P P N N P P N N P P N P P N N P P N N P P N N
1 2 2 2 1 3 3 3 1 2 4 2 1 2 2 4 1 1 3 2 2 1 4 2 4 4 4 2 2 2 4
2 3 2 2 4 2 2 2 2 2 3 3 2 3 2 3 3 4 4 4 3 3 4 3 2 2 1 3 4 1 3
3 3 2 3 2 2 4 3 2 2 4 4 2 3 2 3 2 4 4 3 2 3 4 1 2 3 4 2 2 3 3
3 2 1 4 4 2 2 2 3 3 3 4 2 3 2 2 3 4 4 4 2 3 3 1 1 1 3 3 3 4 3
2 3 2 3 4 3 3 3 4 2 1 3 3 3 2 2 4 4 4 4 4 3 2 2 1 4 3 3 2 3 3
2 3 2 3 4 4 2 3 3 2 2 3 2 2 2 3 2 4 4 4 2 3 4 2 1 1 3 4 4 3 3
3 3 2 3 4 4 3 1 3 3 2 3 3 2 3 2 3 4 4 4 2 4 4 3 3 3 3 4 4 3 3
4 3 2 3 4 3 4 3 3 2 3 3 2 3 3 3 2 4 4 2 2 3 4 1 1 1 4 2 2 3 3
2 3 3 3 3 4 3 3 3 3 3 3 4 2 4 3 3 2 4 4 2 3 3 3 1 2 3 3 3 3 3
2 4 3 3 4 3 3 3 3 3 3 3 3 4 3 3 3 4 4 3 4 3 4 2 1 2 3 4 4 2 2
3 3 2 2 2 2 4 3 3 3 4 3 3 2 2 3 4 4 4 3 3 3 3 1 2 3 3 3 4 2 3
2 3 1 1 3 2 3 2 2 2 3 3 2 2 2 2 3 4 4 2 3 3 4 2 2 1 3 3 3 3 3
2 3 2 3 3 3 3 3 3 2 3 3 2 3 2 3 3 4 4 3 3 3 4 2 2 2 3 3 3 3 3
9 5 4 2 9 4 6 1 2 9 5 7 9 1 9 3 3 3 7 9 1 5 3 3 1 7 7 6 7 2 6

157
NO ITEM

5 5 5 5 5 5 5 6 6 6 6 6 6 6 6 6 6 7 7 7 7 7 7 7 7 7 Ju
3 4 5 6 7 8 9 0 1 2 3 4 5 6 7 8 9 0 1 2 3 4 5 6 7 8 ml
P P N N P P N P P N N P N N P P N N P P N N P P N N ah
18
1 2 4 2 4 1 2 2 2 2 1 2 2 3 1 4 1 1 4 2 2 1 2 1 1 1 0
22
3 3 2 3 4 4 3 3 4 2 3 2 3 2 4 1 4 3 4 4 4 3 3 4 3 4 8
22
2 2 3 4 2 3 4 2 3 2 3 2 3 2 4 2 4 2 4 2 4 3 2 3 4 4 3
23
2 2 3 3 4 3 4 4 4 3 2 4 4 3 1 4 3 4 4 4 3 1 4 3 1 4 1
23
4 3 2 4 2 3 4 3 4 1 3 2 4 2 4 2 4 4 4 4 4 3 3 1 4 4 3
22
2 2 3 4 4 4 4 2 2 3 3 3 3 2 4 1 4 4 4 4 4 2 3 4 4 1 1
24
3 4 2 4 4 4 2 4 3 3 3 3 3 3 4 3 3 3 4 4 4 3 3 4 3 2 5
22
2 3 3 4 2 3 4 3 4 3 3 2 3 2 3 2 3 3 4 3 3 3 2 2 3 3 1
23
3 3 2 4 3 3 4 3 4 3 3 3 3 2 3 2 2 3 4 3 3 3 3 3 3 3 2
22
2 2 2 4 3 3 3 3 3 1 3 3 2 2 4 1 4 3 4 4 3 1 3 4 3 2 7
21
3 2 3 3 2 2 3 2 2 2 3 3 2 1 2 1 4 3 2 2 4 1 2 2 2 3 3
20
3 2 3 3 2 3 3 3 3 3 3 2 3 2 3 1 3 3 3 3 4 3 3 3 3 3 6
3 3 3 4 3 3 4 3 3 2 3 3 3 2 3 2 3 3 4 3 4 2 3 3 3 3 26
0 0 2 2 6 6 0 4 8 8 3 1 5 6 7 4 9 6 5 9 2 7 3 4 4 4 60

158
Lampiran 5. Paska Tindakan Siklus 1

NO ITEM

1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 2 2
1 2 3 4 5 6 7 8 9 0 1 2 3 4 5 6 7 8 9 0 1
N NA
O MA P P N N P N P N N P P N P N N P N N P P N

EW
1 N 2 1 2 3 4 2 3 2 1 2 3 3 3 4 2 1 2 4 2 2 3

AM
2 M 4 1 3 4 4 1 4 4 3 4 4 3 2 3 2 2 3 4 2 3 3

AW
3 S 4 1 4 4 3 3 3 4 4 3 2 4 4 2 2 1 3 4 2 2 3

4 BS 4 1 3 4 4 3 2 4 3 4 3 3 4 3 3 2 2 4 2 4 4

5 DM 2 1 4 4 4 2 2 4 4 4 2 3 3 3 3 2 3 4 2 2 4

DS
6 N 4 1 3 4 2 3 4 4 3 2 2 3 2 3 2 1 3 2 2 2 3

DD
7 AC 3 1 2 4 4 1 3 4 3 4 4 3 4 4 2 3 2 2 4 4 4

FR
8 N 2 1 3 4 4 2 2 3 3 4 2 3 3 3 3 3 3 4 2 2 4

NR
9 KI 4 1 3 4 3 3 2 4 4 3 3 3 3 3 2 3 3 3 3 3 3

1 RE
0 P 4 1 1 4 4 1 3 3 4 2 3 3 2 4 2 3 3 4 3 3 3

1 YP
1 D 2 1 4 4 4 3 3 4 4 4 2 4 4 2 2 3 3 4 2 2 2

1 SR
2 C 4 1 3 4 3 2 3 3 3 3 2 3 3 3 2 4 2 3 2 3 3

3 1 3 4 4 2 3 4 3 3 3 3 3 3 2 2 3 4 2 3 3
Jumlah 9 2 5 7 3 6 4 3 9 9 2 8 7 7 7 8 2 2 8 2 9

159
No item

2 2 2 2 2 2 2 2 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 5 5 5
2 3 4 5 6 7 8 9 0 1 2 3 4 5 6 7 8 9 0 1 2 3 4 5 6 7 8 9 0 1 2

P P N N P P N N P P N N P P N N P P N P P N N P P N N P P N N

1 2 2 2 1 3 3 3 3 2 4 2 4 2 3 4 3 3 3 3 2 1 4 2 1 4 4 2 2 2 4

2 3 2 2 4 2 2 2 2 2 3 3 3 3 2 3 3 4 4 4 3 3 4 3 2 2 1 3 4 2 3

3 3 2 3 2 2 4 3 2 2 4 4 2 3 2 3 2 4 4 3 2 3 4 4 2 3 4 2 3 3 3

3 2 1 4 4 2 2 2 3 3 3 4 2 3 2 2 3 4 4 4 2 3 3 1 1 1 3 3 3 4 3

2 3 2 3 4 3 3 3 4 2 1 3 3 3 2 2 4 4 4 4 4 3 2 2 1 4 3 3 2 3 3

2 3 2 3 4 4 2 3 3 2 2 3 2 2 2 3 2 4 4 4 2 3 4 2 1 3 3 4 4 3 3

3 3 2 3 4 4 3 4 3 3 2 3 3 3 3 3 3 4 4 4 2 4 4 3 3 3 3 4 4 3 3

4 3 2 3 4 3 4 3 3 2 3 3 2 3 3 3 2 4 4 2 2 3 4 2 3 4 4 2 2 3 3

2 3 3 3 3 4 3 3 3 3 3 3 4 3 4 3 3 4 4 4 4 3 3 3 4 2 3 3 3 3 3

2 4 3 3 4 3 3 3 3 3 3 3 3 4 3 3 3 4 4 3 4 3 4 2 1 2 3 4 4 2 2

3 3 2 2 2 2 4 3 3 3 4 3 3 2 2 3 4 4 4 3 3 3 3 3 2 3 3 3 4 2 3

2 3 1 1 3 3 3 3 3 3 3 3 2 3 3 3 3 4 4 2 3 3 4 3 2 4 3 3 3 3 3

2 3 2 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 4 4 4 3 3 4 3 2 3 3 3 3 3 3
9 5 4 2 9 5 6 5 5 0 5 7 3 4 1 5 5 7 7 0 3 5 3 0 3 5 7 6 8 3 6

160
No item
5 5 5 5 5 5 5 6 6 6 6 6 6 6 6 6 6 7 7 7 7 7 7 7 7 7 Ju
3 4 5 6 7 8 9 0 1 2 3 4 5 6 7 8 9 0 1 2 3 4 5 6 7 8 ml
P P N N P P N P P N N P N N P P N N P P N N P P N N ah
20
3 2 4 2 1 4 2 3 2 3 4 2 3 3 1 4 1 4 4 2 3 4 2 3 4 4 6
23
3 3 2 3 4 4 3 3 4 2 3 2 3 2 4 4 4 3 4 4 3 3 3 4 3 4 2
23
2 2 3 4 2 3 3 3 3 2 3 2 3 2 4 4 4 2 4 3 4 3 2 3 4 4 0
23
2 2 3 3 4 3 4 4 4 3 3 4 4 3 1 4 3 4 4 4 3 3 4 3 3 4 6
23
4 3 2 4 3 3 4 3 4 2 3 2 4 2 4 2 4 4 4 4 4 3 3 4 4 4 8
22
2 2 3 4 4 4 4 2 3 3 3 3 3 2 4 3 4 4 4 4 4 2 3 4 4 3 8
25
3 4 2 4 4 4 2 4 3 3 3 3 3 3 4 3 3 3 4 4 4 3 3 4 3 2 0
22
2 3 3 4 2 3 4 3 4 3 3 2 3 2 3 2 3 3 4 3 3 3 2 2 3 3 7
24
3 3 2 4 3 3 4 3 4 3 3 3 3 2 3 2 2 3 4 3 3 3 3 3 3 3 0
23
2 2 2 4 3 3 3 3 3 1 3 3 2 2 4 1 4 3 4 4 3 4 3 4 3 2 0
22
3 2 3 3 2 2 3 3 2 2 3 3 2 2 2 4 4 3 2 2 4 1 2 2 2 3 0
22
3 2 3 3 2 3 3 3 3 3 3 3 3 2 3 4 3 3 3 3 4 3 3 3 3 3 5

3 3 3 4 3 3 3 3 3 3 3 3 3 2 3 3 3 3 4 4 4 3 3 3 3 3 27
2 0 2 2 4 9 9 7 9 0 7 2 6 7 7 7 9 9 5 0 2 5 3 9 9 9 62

161
Lampiran 6. Paska Tindakan Siklus II

No item
1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 2 2
1 2 3 4 5 6 7 8 9 0 1 2 3 4 5 6 7 8 9 0 1

N NA P P N N P N P N N P P N P N N P N N P P N
O MA
EW 2 4 2 3 4 3 3 2 4 2 3 3 3 4 2 4 2 4 2 2 3
1 N
AM 4 1 3 4 4 1 4 4 3 4 4 3 2 3 2 2 3 4 2 3 3
2 M
4 1 4 4 3 3 3 4 4 3 2 4 4 2 2 1 3 4 2 2 3
3 AWS
4 1 3 4 4 3 2 4 3 4 3 3 4 3 3 2 2 4 2 4 4
4 BS
2 1 4 4 4 2 2 4 4 4 2 3 3 3 3 2 3 4 2 2 4
5 DM
4 1 3 4 2 3 4 4 3 2 2 3 2 3 2 1 3 2 2 2 3
6 DSN
DDA 3 1 2 4 4 1 3 4 3 4 4 3 4 4 2 3 2 2 4 4 4
7 C
2 1 3 4 4 2 2 3 3 4 2 3 3 3 3 3 3 4 2 2 4
8 FRN
4 1 3 4 3 3 2 4 4 3 3 3 3 3 2 3 3 3 3 3 3
9 NRKI
1 4 1 1 4 4 1 3 3 4 2 3 3 2 4 2 3 3 4 3 3 3
0 REP
1 2 1 4 4 4 3 3 4 4 4 2 4 4 2 2 3 3 4 2 3 2
1 YPD
1 4 1 3 4 3 2 3 3 3 3 2 3 3 3 2 4 2 3 2 3 3
2 SRC

3 1 3 4 4 2 3 4 4 3 3 3 3 3 2 3 3 4 2 3
9 5 5 7 3 7 4 3 2 9 2 8 7 7 7 1 2 2 8 3
Jumlah

162
No item
2 2 2 2 2 2 2 2 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 5 5
2 3 4 5 6 7 8 9 0 1 2 3 4 5 6 7 8 9 0 1 2 3 4 5 6 7 8 9 0 1
P P N N P P N N P P N N P P N N P P N P P N N P P N N P P N
4 2 3 3 4 3 3 3 3 2 4 2 4 3 3 4 3 3 3 2 4 3 2 3 4 4 4 3 3 4
2 3 2 2 4 2 2 2 2 2 3 3 3 3 2 3 3 4 4 4 3 3 4 3 2 3 4 3 4 3
3 3 2 3 2 2 4 3 2 2 4 4 3 3 4 3 3 4 4 3 2 3 4 4 2 3 4 2 3 3
3 2 1 4 4 2 2 2 3 3 3 4 2 3 2 2 3 4 4 4 2 3 3 1 3 4 3 3 3 4
2 3 2 3 4 3 3 3 4 2 4 3 3 3 2 4 4 3 4 4 4 3 2 2 4 4 3 3 2 3
2 3 2 3 4 4 2 3 3 2 2 3 2 2 2 3 2 4 4 4 3 3 4 2 3 3 3 4 4 3
3 3 2 3 4 4 3 4 3 3 3 3 4 3 4 3 4 4 4 4 3 4 4 3 3 3 3 4 4 3
4 3 2 3 4 3 4 3 3 2 3 3 3 3 3 3 4 4 4 3 2 3 4 3 3 4 4 3 3 3
2 3 3 3 3 4 3 3 3 4 3 4 4 3 4 3 3 4 4 4 4 3 3 3 4 3 3 3 4 3
2 4 3 3 4 3 3 3 3 3 3 3 3 4 3 3 3 4 4 3 4 3 4 2 3 2 3 4 4 2
3 3 3 3 2 3 4 3 3 3 4 3 3 2 3 3 4 4 4 3 3 3 3 3 3 3 3 3 4 3
2 3 4 1 3 3 3 3 3 3 4 3 2 3 3 4 3 4 4 3 3 3 4 3 4 4 3 3 3 3

3 3 2 3 4 3 3 3 3 3 4 3 3 3 3 3 3 4 4 4 3 3 4 3 3 4 4 3 4 3
2 5 9 4 2 6 6 5 5 1 0 8 6 5 5 8 9 6 7 1 7 7 1 2 8 0 0 8 1 7

163
No item
5 5 5 5 5 5 5 5 6 6 6 6 6 6 6 6 6 6 7 7 7 7 7 7 7 7 7 Ju
2 3 4 5 6 7 8 9 0 1 2 3 4 5 6 7 8 9 0 1 2 3 4 5 6 7 8 m
la
N P P N N P P N P P N N P N N P P N N P P N N P P N N h
2
3
4 4 3 4 3 1 4 3 3 3 3 4 2 3 3 3 4 1 4 1 2 1 4 2 4 4 4 7
2
4
3 3 3 2 3 4 4 3 3 4 4 3 3 3 2 4 4 4 3 4 4 3 3 3 4 3 4 0
2
4
3 2 2 3 4 4 3 3 3 3 4 3 2 3 2 4 4 4 4 4 3 4 3 4 3 4 4 2
2
4
3 3 3 3 3 4 3 4 4 4 3 3 4 4 3 4 4 3 4 4 4 3 3 4 3 3 4 6
2
5
3 4 3 3 4 3 3 4 3 4 3 3 3 4 3 4 3 4 4 4 4 4 3 3 4 4 4 0
2
3
3 3 2 3 4 4 4 4 2 3 3 3 3 3 4 4 3 4 4 4 4 4 4 3 4 4 3 6
2
5
3 3 4 2 4 4 4 3 4 3 3 3 3 3 3 4 3 3 3 4 4 4 3 3 4 3 2 6
2
3
3 2 3 3 4 2 3 4 3 4 3 3 4 3 2 3 2 3 3 4 3 3 3 3 2 3 3 7
2
5
3 4 3 4 4 3 3 4 3 4 3 4 3 3 2 3 3 3 3 4 3 3 3 3 3 3 3 0
2
3
2 2 2 2 4 3 3 3 3 3 4 3 3 2 2 4 4 4 3 4 4 3 4 3 4 3 2 8
2
3
3 3 2 3 3 2 2 3 3 3 2 3 3 2 2 2 4 4 3 3 3 4 4 2 3 3 3 5
2
3
3 3 3 3 3 3 4 3 3 3 3 3 3 3 2 3 4 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 5

2
9
3 3 3 3 4 3 4 4 3 4 3 3 3 3 3 4 4 4 4 4 4 3 4 3 4 4 3 0
6 6 3 5 3 7 0 1 7 1 8 8 6 6 0 2 2 0 1 3 1 9 0 6 1 0 9 2

164
Lampiran 7. Materi Keterampilan Sosial

MATERI KETERAMPILAN SOSIAL


1. PENGERTIAN KETERAMPILAN SOSIAL
Menurut Ramdhani (1994:39) menyebutkan bahwa keterampilan sosial
merupakan suatu keterampilan yang diperoleh individu melalui proses belajar,
mengenai cara-cara mengatasi atau melakukan hubungan sosial dengan tepat dan
baik. Selain itu Ramdhani mengatakan bahwa keterampilan sosial adalah suatu
keterampilan untuk mengatasi atau menjalani kehidupan sosial dengan baik.
Sedangkan menurut Sri Sunarni (2000:23).menyatakan bahwa
keterampilan sosial ini sangat dibutuhkan manusia karena dengan keterampilan
ini seseorang dapat menghadapi dan mengatasi masalah yang dijumpai dalam
kehidupan sosialnya.
Keterampilan sosial membawa orang untuk lebih berani berbicara,
mengungkapkan setiap perasaan atau permasalahan yang dihadapi dan sekaligus
menemukan penyelesaian yang adaptif, sehingga mereka tidak mencari pelarian
ke hal-hal lain yang justru dapat merugikan diri sendiri maupun orang lain.
Mu’tadin (2006) mengemukakan bahwa salah satu tugas perkembangan
yang harus dikuasai remaja yang berada dalam fase perkembangan masa remaja
madya dan remaja akhir adalah memiliki keterampilan sosial (social skill) untuk
dapat menyesuaikan diri dengan kehidupan sehari-hari. Keterampilan
keterampilan sosial tersebut meliputi kemampuan berkomunikasi, menjalin
hubungan dengan orang lain, menghargai diri sendiri dan orang lain,
mendengarkan pendapat atau keluhan dari orang lain, memberi atau menerima
feedback, memberi atau menerima kritik, bertindak sesuai norma dan aturan yang
berlaku, dsb. Apabila keterampilan sosial dapat dikuasai oleh remaja pada fase
tersebut maka ia akan mampu menyesuaikan diri dengan lingkungan sosialnya.
Hal ini berarti pula bahwa sang remaja tersebut mampu mengembangkan
aspek psikososial dengan maksimal. Berdasarkan uraian tersebut dapat
disimpulkan bahwa keterampilan sosial merupakan kemampuan seseorang untuk
berani berbicara, mengungkapkan setiap perasaan atau permasalahan yang
dihadapi sekaligus menemukan penyelesaian yang adaptif, memiliki tanggung
jawab yang cukup tinggi dalam segala hal, penuh pertimbangan sebelum

165
melakukan sesuatu, mampu menolak dan menyatakan ketidaksetujuannya
terhadap pengaruh-pengaruh negatif dari lingkungan.

2. MANFAAT KETERAMPILAN SOSIAL

Johnson dan Johnson (1999) mengemukakan 6 hasil penting dari memiliki


keterampilan sosial, yaitu :
a) Perkembangan Kepribadian dan Identitas
Hasil pertama adalah perkembangan kepribadian dan identitas karena
kebanyakan dari identitas masyarakat dibentuk dari hubungannya
dengan orang lain. Sebagai hasil dari berinteraksi dengan orang lain,
individu mempunyai pemahaman yang lebih baik tentang diri sendiri.
Individu yang rendah dalam keterampilan interpersonalnya dapat
mengubah hubungan dengan orang lain dan cenderung untuk
mengembangkan pandanagn yang tidak akurat dan tidak tepat tentang
dirinya.
b) Mengembangkan Kemampuan Kerja, Produktivitas, dan Kesuksesan
Karir
Keterampilan sosial juga cenderung mengembangkan kemampuan
kerja, produktivitas, dan kesuksesan karir, yang merupakan
keterampilan umum yang dibutuhkan dalam dunia kerja nyata.
Keterampilan yang paling penting, karena dapat digunakan untuk
bayaran kerja yang lebih tinggi, mengajak orang lain untuk bekerja
sama, memimpin orang lain, mengatasi situasi yang kompleks, dan
menolong mengatasi permasalahan orang lain yang berhubungan
dengan dunia kerja.
c) Meningkatkan Kualitas Hidup
Meningkatkan kualitas hidup adalah hasil positif lainnya dari
keterampilan social karena setiap individu membutuhkan hubungan
yang baik, dekat, dan intim dengan individu lainnya.
d) Meningkatkan Kesehatan Fisik
Hubungan yang baik dan saling mendukung akan mempengaruhi
kesehatan fisik. Penelitian menunjukkan hubungan yang berkualitas

166
tinggi berhubungan dengan hidup yang panjang dan dapat pulih dengan
cepat dari sakit.
e) Meningkatkan Kesehatan Psikologis
Penelitian menunjukkan bahwa kesehatan psikologis yang kuat
dipengaruhi oleh hubungan positif dan dukungan dari orang lain.
Ketidakmampuan mengembangkan dan mempertahankan hubungan
yang positif dengan orang lain dapat mengarah pada kecemasan,
depresi, frustasi, dan kesepian. Telah dibuktikan bahwa kewmampuan
membangun hubungan yang positif dengan orang lain dapat
mengurangi distress psikologis, yang menciptakan kebebasan, identitas
diri, dan harga diri.
f) Kemampuan Mengatasi Stress
Hasil lain yang tidak kalah pentingnya dari memiliki keterampilan
sosial adalah kemampuan mengatasi stress. Hubungan yang saling
mendukung telah menunjukkan berkurangnya jumlah penderita stress
dan mengurangi kecemasan. Hubungan yang baik dapat membantu
individu dalam mengatasi stress dengan memberikan perhatian,
informasi, dan feedback.

3. CIRI KETERAMPILAN SOSIAL


Secara lebih spesifik, Elksnin & Elksnin (dalam Adiyanti, 1999) mengidentifikasi
keterampilan sosial dengan beberapa ciri, yaitu:
a) Perilaku interpersonal
Merupakan perilaku yang menyangkut keterampilan yang dipergunakan
selama melakukan interaksi sosial. Perilaku ini disebut juga
keterampilan menjalin persahabatan, misalnya memperkenalkan diri,
menawarkan bantuan, dan memberikan atau menerima pujian.
Keterampilan ini kemungkinan berhubungan dengan usia dan jenis
kelamin.
b) Perilaku yang berhubungan dengan diri sendiri
Merupakan keterampilan mengatur diri sendiri dalam situasi sosial,
misalnya keterampilan menghadapi stress, memahami perasaan orang
lain, mengontrol kemarahan dan sejenisnya. Dengan kemampuan ini,

167
anak dapat memperkirakan kejadian-kejadian yang mungkin akan
terjadi dan dampak perilakunya pada situasi sosial tertentu.
c) Perilaku yang berhubungan dengan kesuksesan akademis
Merupakan perilaku atau keterampilan sosial yang dapat mendukung
prestasi belajar di sekolah, misalnya mendengarkan dengan tenang saat
guru menerangkan pelajar, mengerjakan pekerjaan sekolah dengan baik,
melakukan apa yang diminta oleh guru, dan semua perilaku yang
mengikuti aturan kelas.
d) Peer acceptance
Merupakan perilaku yang berhubungan dengan penerimaan sebaya,
misalnya memberi salam, memberi dan meminta informasi, mengajak
teman terlibat dalam suatu aktivitas, dan dapat menangkap dengan tepat
emosi orang lain.
e) Keterampilan komunikasi
Keterampilan komunikasi merupakan salah satu keterampilan yang
diperlukan untuk menjalin hubungan sosial yang baik. Kemampuan
anak dalam berkomunikasi dapat dilihat dalam beberapa bentuk, antara
lain menjadi pendengar yang responsif, mempertahankan perhatian
dalam pembicaraan dan memberikan umpan balik terhadap kawan
bicara.
Keterampilan sosial bukanlah kemampuan yang dibawa individu sejak
lahir tetapi diperoleh melalui proses belajar, baik belajar dari orang tua sebagai
figur yang paling dekat dengan anak maupun belajar dari teman sebaya dan
lingkungan masyarakat. Michelson, dkk. (dalam Ramdhani, 1994) menyebutkan
bahwa keterampilan sosial merupakan suatu keterampilan yang diperoleh
individu melalui proses belajar, mengenai cara-cara mengatasi atau melakukan
hubungan sosial dengan tepat dan baik. Mirip dengan pendapat Michelson, dkk.
tersebut, Kelly, dkk. (dalam Ramdhani, 1994) mengatakan bahwa keterampilan
sosial adalah perilaku-perilaku yang dipelajari, yang digunakan individu dalam
situasi-situasi interpersonal untuk memperoleh atau memelihara pengukuh dari
lingkungannya.
Berdasarkan beberapa pengertian yang telah diuraikan di atas, dapat
disimpulkan bahwa keterampilan sosial merupakan suatu kemampuan mengatur
pikiran, emosi dan perilaku untuk memulai dan memelihara hubungan atau

168
interaksi dengan lingkungan sosial secara efektif dengan mempertimbangkan
norma dan kepentingan sosial serta tujuan pribadi. Secara umum, keterampilan
sosial ini dapat dilihat dalam beberapa bentuk perilaku: pertama, perilaku yang
berhubungan dengan diri sendiri (bersifat intrapersonal) seperti mengontrol
emosi, menyelesaikan permasalahan sosial secara tepat, memproses informasi
dan memahami perasaan orang lain; kedua, perilaku yang berhubungan dengan
orang lain (bersifat interpersonel) seperti memulai interaksi dan komunikasi
dengan orang lain; dan ketiga perilaku yang berhubungan dengan akademis,
seperti mematuhi peraturan dan melakukan apa yang diminta oleh guru.

4. FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KETERAMPILAN SOSIAL

Sunarto dan Hartono (1995:130) mengungkapkan bahwa faktor-faktor


yang mempengaruhi perkembangan keterampilan anak diantaranya adalah :

a. Faktor Internal

Adalah faktor-faktor yang berasal dari dalam diri individu antara lain
kapasitas mental, emosi dan intelegensi serta kematanagan harga diri.

1) Kapasitas Mental, Emosi dan Intelegensi


Anak berkemampuan intelektual tinggi akan berkemampuan berbahasa secara
baik. Oleh karena itu, kemampuan intelektual tinggi, kemampuan berbahasa
baik dan pengendalian emosional seara seimbang sangat menetukan
keberhasilan dalam perkembangan sosial anak.
2) Kematangan
Bersosialisasi membutuhkan kematangan fisik dan psikis. Untuk mampu
mempertimbangkan dalam proses sosial memberi dan menerima pendapat
orang lain, memerlukan kematangan intelektual dan emosional.
b. Faktor Eksternal

Adalah faktor yang berasal dari lingkungan yang berpengaruh terhadap


perilaku sosial anak,anatara lain : faktor keluarga, status sosial ekonomi,
pendidikan.

1) Keluarga
a) Lingkungan rumah

169
Jika lingkungan rumah secara keseluruhan memupuk sikap sosial yang baik
kemungkina besar anaka akan menjadi pribadi sosial dan sebaliknya.
b) Hubungan antara ayah dan ibu, anak dan saudaranya mempunyai pengaruh
yang sangat kuat.
c) Posisi anak dan keluarga. Anak yang lebih tua atau yang jarak umurnya
dengan saudaranya terlalu jauh, atau satu-satunya anak yg jenis kelaminnya
lain dari saudara-saudaranya, cenderung lebih banyak menyendiri ketika
bersama anak-anak lain. Anak yang jenis kelaminnya sama dengan saudara-
saudaranya menemukan kesulitan dalam bergaul dengan teman yang jenis
kelaminnya berlainan tetapi mudah membina pergaulan dengan anak yang
jenis kelamnnya sama.
d) Ukuran keluarga
Sebagai contoh, anak tunggal sering mendapatkann perhatian yang lebih dari
semestinya. Akibatnyamereka mengharapkan perlakuan yang sama dari
orang luar dan kesal jika meraekan tidak mendapatkannya.
e) Perilaku sosial dan sikap anak mencerminkan perilaku yang diterima
dirumah.
Anak yang merasa ditolak oleh orag tua mungkin akan suka meneyndir dan
menjadi introvert. Sebalaiknya penerimaan dan sikap orang tua yang penuh
cinta kasih mendorong anak bersikap ekstrovert.
2) Status Sosial Ekonomi

Kehidupan sosial banyak dipengaruhi oleh kondisi sosial ekonmi keluarga


dalam masyarkat. Perilaku anak akan banyak memperhatikan kondisi normative
yang telah ditanamkan oleh kelaurga.

3) Lingkungan

Sejak dini anak-anak harus sudah diperkenalkan dengan lingkungan.


Lingkungan dalam batasan ini meliputi lingkungan fisik (rumah, pekarangan) dan
lingkungan sosial (tetangga). Lingkungan juga meliputi lingkungan keluarga
(keluarga primer dan sekunder), lingkungan sekolah dan lingkungan masyarakat
luas. Dengan pengenalan lingkungan maka sejak dini anak sudah mengetahui
bahwa dia memiliki lingkungan sosial yang luas, tidak hanya terdiri dari orang tua,
saudara, atau kakek dan nenek saja.

170
Lampiran 8. Game Konsentrasi

TEST KONSENTRASI KAMU !


ayo fokus !!

1. Jawab spontan , jangan kelamaan mikir


2. baca satu demi satu.
3. Konsentrasi ..

Permainan konsentrasi warna ...


1. kertas HVS warnanya apa ?
2. awan warnanya apa ?
3. tissu warnanya apa ?
4. sapi minum apa ?

Yang ngejawab susu konsentrasi anda terganggu,


karena sapi minum air

warna Hitam:"
1. rambut anda warna apa?
2. tulisan ini warnanya apa ??
3. aspal warnanya apa ???
4. kelelawar tidurnya kapan?

Yang menjawab malam, artinya konsentrasinya tergganggu.


karena kelelawar tidur siang hari.

warna Hijau:"
1. cendol warnanya apa?
2. daun kelapa warnanya apa?
3. warna umum daun?
4. ayam makan apa?

Yang jawab rumput , itu salah,


karena ayam makan beras atau cacing

Hayo ngaku salah brapa =))


FOKUS .... FOKUS .....

171
Lampiran 9. Lembar Soal Kuis Keterampilan Sosial Siklus 1

NAMA :

NAMA KELOMPOK :

SOAL:
1. APA PENGERTIAN KETERAMPILAN SOSIAL?
2. SEBUTKAN MANFAAT DARI KETERAMPILAN SOSIAL?
3. SEBUTKAN CIRI DARI KETERAMPILAN SOSIAL?
4. SEBUTKAN FAKTOR APA SAJA YANG MEMPENGARUHI KETERAMPILAN SOSIAL?

JAWABAN:

172
Lampiran 10. Soal Kuis Keterampilan Sosial

NAMA :

KELOMPOK :

CERITA

Sejak kecil saya dianggap sebagai seorang pemalu dan tidak pandai bergaul.
Sekarang saya bekerja sebagai seorang PNS tapi saya masih merasa kurang memiliki
kepercayaan diri yang cukup apalagi kalau saya harus berbicara di depan orang banyak.
Saya terkadang dianggap sebagai seorang yang sombong karena tidak mudah bergaul
dengan teman-teman kerja. Padahal sebenarnya saya ingin ngobrol kemudian cerita-
cerita sama mereka tapi rasanya saya takut kalau mereka menolaknya. Saya nggak pede
kalau harus ngobrol sama seseorang dan lagi kalau orang tersebut tidak melalui
pembicaraan terlebih dahulu maka saya juga tidak akan ngomong apapun.

Saya ingin supaya diri saya lebih pandai bergaul dan bisa diterima di semua
kalangan. Saya sempat cari solusi kemana-mana, bahkan sampai ke paranormal. Saya
disuruh mandi kembang katanya biar bisa membuang energi negatif yang ada pada diri
saya. Tetapi yang ada sama saja saya tetap pria pemalu dan tidak pandai bergaul. Kalau
ada semacam diskusi atau rapat sudah dipastikan saya adalah seorang yang tidak pernah
punya usulan atau pertanyaan apapun Meski kadang ada yang mengganjal pikiran saya
dengan keputusan rapat tersebut saya lebih memilih untuk diam saja. Karena saya tidak
punya keberanian yang cukup untuk mengutarakan isi hati saya tersebut.

PERTANYAAN:

1. Menurut anda apa yang terjadi pada pria tersebut?


2. Apa yang harus diperbaiki dari pria tersebut ?
3. Sebutkan perilaku apa saja yang mencerminkan kurangnya keterampilan sosial pada
pria tersebut?
4. Hal apa yang seharusnya tidak dilakukan pria tersebut?
5. Menurut anda bagaimana cara pria tersebut dapat meningkatkan keterampilan
sosialnya?

173
Lampiran 11. Game Puzzle Siklus 1

174
Lampiran 12. Game Puzzle Siklus 2

175
Lampiran 13. Rekognisi Prestasi Tim

Rekognisi Prestasi Tim

176
Lampiran 14. Hasil Observasi Siklus I

Lembar Observasi Pelaksanaan Bimbingan Kelompok Siklus I

No. Aspek yang diamati Deskripsi Keterangan

1. Perilaku diri Perilaku siswa sesuai dengan etika Siswa berperilaku sesuai
etika, siswa terlihat mulai
antusisa dan tidak begitu
gaduh .

Respon siswa terhadap teman lain saat Siswa kurang mendengarkan


berkomunikasi teman lain yang sedang
berbicara.

2. Perilaku lingkungan Kepedulian siswa terhadap Siswa kurang peduli


kebersihan kelas/lingkungan sekitar terhadap kebersihan kelas
dengan membuang
kertas/sampah
sembarangan.

3. Perilaku terkait Keaktifan siswa dalam kegiatan Siswa kurang terlihat aktif
dalam kegiatan dengan tidak
Tugas bertanya serta memberi ide
kepada timnya.

Perhatian siswa terhadap penjelasan Siswa kurang


guru memperhatikan guru saat
menjelaskan.

Keikutsertaan siswa dalam diskusi Siswa kurang berperan aktif


dalam diskusi, terlihat
beberapa siswa hanya diam.

Rata – rata siswa


Tanggung jawab siswa terhadap tugas menyelesaikan tugasnya
dengan tepat waktu dan
baik.
Kepatuhan siswa terhadap peraturan
Siswa patuh terhadap
peraturan yang telah
ditentukan oleh peneliti dan
guru

4. Perilaku sosial Mengucapkan salam ketika bertemu Siswa tidak mengucapkan


salam ketika bertemu
dengan teman lain, akan
tetapi ketika bertemu guru
siswa mencium tangan guru
dan mengucapkan salam
kepada peneliti.
Siswa dalam memulai percakapan
Hanya beberapa siswa yang
terlihat pandai memulai
percakapan..

177
Lampiran 15. Hasil Observasi Siklus II

Lembar Observasi Pelaksanaan Bimbingan Kelompok Siklus II

No. Aspek yang diamati Deskripsi Keterangan

1. Perilaku diri Perilaku siswa sesuai dengan etika Siswa berperilaku sesuai etika,
siswa terlihat mulai antusisa
dan tidak begitu gaduh .

Siswa mulai mendengarkan


Respon siswa terhadap teman lain saat teman lain yang sedang
berkomunikasi berbicara.

2. Perilaku lingkungan Kepedulian siswa terhadap Siswa lebih peduli terhadap


kebersihan kelas/lingkungan sekitar kebersihan kelas dengan
membuang kertas/sampah di
tempat sampah.

3. Perilaku terkait Keaktifan siswa dalam kegiatan Siswa masih mulai terlihat aktif
dalam kegiatan dengan
Tugas bertanya serta memberi ide
kepada timnya.
Perhatian siswa terhadap penjelasan
guru Siswa mulai memperhatikan
guru saat menjelaskan.

Keikutsertaan siswa dalam diskusi Siswa cukup berperan aktif


dalam diskusi, terlihat
beberapa siswa sibuk dengan
idenya masing-masing.

Tanggung jawab siswa terhadap tugas Rata – rata siswa


menyelesaikan tugasnya
dengan tepat waktu dan baik.

Siswa patuh terhadap


Kepatuhan siswa terhadap peraturan peraturan yang telah
ditentukan oleh peneliti dan
guru

4. Perilaku sosial Mengucapkan salam ketika bertemu Siswa tidak mengucapkan


salam ketika bertemu dengan
teman lain, akan tetapi ketika
bertemu guru siswa mencium
tangan guru dan mengucapkan
salam kepada peneliti.

Siswa dalam memulai percakapan Terlihat beberapa siswa mulai


dekat satu dengan yang lain,
padahal sebelumnya tidak
dekat.

178
Lampiran 16. Hasil Wawancara Siswa Siklus I

Lembar Wawancara Dengan Subyek Penelitian pada Siklus I

No. Aspek Deskriptor

1. Perilaku diri a) Apakah anda pernah melakukan kesalahan?Ya pernah


b) Apa yang anda lakukan setelah anda melakukan kesalahan? Saya
biasanya mengelak ketika disalahkan orang lain
c) Bagaimana berperilaku sesuai etika menurut anda?berperilaku sesuai
etika ya berperilaku dengan sopan
d) Apakah anda sering curhat terhadap teman ketika ada masalah?apa
manfaatnya? Jarang, karena sering diejek, rahasianya juga tidak terjamin

2. Perilaku a) Bagaimana menuriut anda sikap yang peduli terhadap lingkungan


lingkungan disekitar? Peduli terhadap lingkungan, tidak merusak
b) Apa respon anda ketika melihat orang yang merusak lingkungan
disekitar?diam saja, acuh

3. Perilaku terkait a) Menurut anda apa manfaat guru memberikan tugas? Supaya siswa belajar
tugas di rumah
b) Apakah anda sering mengajukan pertanyaan atau menjawab pertanyaan
kepada guru?apa manfaatnya? Jarang, bahkan tidak pernah, karena malu.
c) Menurut anda bagaimana cara menghargai orang yang sedang
berbicara?tidak berbicara sendiri, mendengarkan
d) Apakah anda menyelesaikan tugas yang diberikan tepat waktu? Kadang-
kadang
e) Seberapa sering anda mentaati peraturan sekolah yang ada? Beberapa kali
melanggar tapi tidak sering

4. Perilaku a) Bagaimana cara anda menyelesaikan masalah dengan baik? Dengan tidak
merugikan orang lain
sosial b) Menurut anda seberapa pentingkah memberikan perhatian kepada orang
lain? Penting, apalagi terhadap teman dekat
c) Menurut anda seberapa pentingkah menegur teman ketika berpapasan di
jalan? Penting, kalau tidak menegur dibilang sombong
d) Apa manfaat mengikuti kegiatan ekstrakulikuler di sekolah menurut
anda? Menambah teman dan pengalaman

179
Lampiran 17. Hasil Wawancara Siswa Siklus II

Lembar Wawancara Dengan Subyek Penelitian pada Siklus II

No. Aspek Deskriptor

1. Perilaku diri e) Apakah anda pernah melakukan kesalahan?Ya pernah


f) Apa yang anda lakukan setelah anda melakukan kesalahan? Saya
mengakui kesalahan saya
g) Bagaimana berperilaku sesuai etika menurut anda?berperilaku sesuai
etika ya berperilaku dengan sopan tidak melanggar peraturan
h) Apakah anda sering curhat terhadap teman ketika ada masalah?apa
manfaatnya? kadang, membantu mengurangi beban

2. Perilaku c) Bagaimana menuriut anda sikap yang peduli terhadap lingkungan


lingkungan disekitar? Peduli terhadap lingkungan, tidak merusak lingkungan
d) Apa respon anda ketika melihat orang yang merusak lingkungan
disekitar?menegur

3. Perilaku terkait f) Menurut anda apa manfaat guru memberikan tugas? Supaya siswa belajar
tugas di rumah
g) Apakah anda sering mengajukan pertanyaan atau menjawab pertanyaan
kepada guru?apa manfaatnya? kadang, melatih berbicara
h) Menurut anda bagaimana cara menghargai orang yang sedang
berbicara?tidak berbicara sendiri, mendengarkan
i) Apakah anda menyelesaikan tugas yang diberikan tepat waktu? Kadang-
kadang
j) Seberapa sering anda mentaati peraturan sekolah yang ada? Beberapa kali
melanggar tapi tidak sering

4. Perilaku e) Bagaimana cara anda menyelesaikan masalah dengan baik? Dengan tidak
merugikan orang lain dan diri sendiri
sosial f) Menurut anda seberapa pentingkah memberikan perhatian kepada orang
lain? Penting, karena sesama manusia harus saling menyayangi
g) Menurut anda seberapa pentingkah menegur teman ketika berpapasan di
jalan? Penting, kalau tidak menegur dibilang sombong dan dijauhi teman
h) Apa manfaat mengikuti kegiatan ekstrakulikuler di sekolah menurut
anda? Menambah teman dan pengalaman serta pengetahuan

180
Lampiran 18. Foto Penelitian

Gambar [Link] materi

Gambar 1. Foto bersama guru BK SMP N 2 Pakem

Gambar 4. Game menyusun


puzzle

Gambar 3. Mengerjakan soal

Gambar 6. Rekognisi tim

Gambar 5. Diskusi Kelompok

181
Lampiran 19. Lembar Jawab Skala Sebelum Uji Validitas

LEMBAR JAWAB SKALA KETERAMPILAN SOSIAL

Nama :

Kelas :

No. Absen :

NO. SS S TS STS 23.


1.
24.
2.
25.
3.
26.
4.
27.
5.
28.
6.
29.
7.
30.
8.
31.
9.
32.
10.
33.
11.
34.
12.
35.
13.
36.
14.
37.
15.
38.
16.
39.
17.
40.
18.
41.
19.
42.
20.
43.
21.
44.
22.

182
45. 75.
46. 76.
47. 77.
48. 78.
49. 79.
50. 80.
51. 81.
52. 82.
53. 83.
54. 84.
55. 85.
56. 86.
57. 87.
58. 88.
59.
60.
61.
62.
63.
64.
65.
66.
67.
68.
69.
70.
71.
72.
73.
74.

183
Lampiran 20. Lembar Jawab Skala Setelah Uji Validitas

LEMBAR JAWAB SKALA KETERAMPILAN SOSIAL

Nama :

Kelas :

No. Absen :

NO. SS S TS STS 23.


1.
24.
2.
25.
3.
26.
4.
27.
5.
28.
6.
29.
7.
30.
8.
31.
9.
32.
10.
33.
11.
34.
12.
35.
13.
36.
14.
37.
15.
38.
16.
39.
17.
40.
18.
41.
19.
42.
20.
43.
21.
44.
22.
45. 75.
46. 76.
47. 77.
48. 78.
49.
50.
51.
52.
53.
54.
55.
56.
57.
58.
59.
60.
61.
62.
63.
64.
65.
66.
67.
68.
69.
70.
71.
72.
73.
74.
Lampiran 21. Surat-Surat Penelitian

Anda mungkin juga menyukai