PENINGKATAN KETERAMPILAN SOSIAL MELALUI BIMBINGAN
KELOMPOK BERBASIS COOPERATIVE LEARNING
DI SMP NEGERI 2 PAKEM KELAS VIII C
SKRIPSI
Diajukan kepada Fakultas Ilmu Pendidikan
Universitas Negeri Yogyakarta
untuk Memenuhi Sebagian Persyaratan
guna Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan
Oleh
Eprilia Kusuma Dewi
NIM 08104241008
PROGRAM STUDI BIMBINGAN DAN KONSELING
JURUSAN PSIKOLOGI PENDIDIKAN DAN BIMBINGAN
FAKULTAS ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA
NOVEMBER 2013
i
MOTTO
Sesuatu yang belum dikerjakan, seringkali tampak mustahil, kita baru yakin kalau
kita telah berhasil melakukannya dengan baik.
- Evelyn Underhill -
v
PERSEMBAHAN
Karya ini penulis persembahkan untuk :
1. Ibu, Ayah, Kakak dan seluruh keluarga tercinta.
2. Para dosen yang meluangkan waktunya untuk membimbing.
3. Almamater tercinta, Universitas Negeri Yogyakarta.
4. Teman – teman yang senantiasa membantu dalam penyusunan
5. Keluarga besar SMP Negeri 2 Pakem.
vi
PENINGKATAN KETERAMPILAN SOSIAL MELALUI BIMBINGAN
KELOMPOK BERBASIS COOPERATIVE LEARNING
DI SMP NEGERI 2 PAKEM KELAS VIII C
Oleh:
Eprilia Kusuma Dewi
08104241008
ABSTRAK
Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan keterampilan sosial siswa di
SMP N 2 Pakem kelas VIII C melalui bimbingan kelompok berbasis cooperative
learning. Metode bimbingan kelompok berbasis cooperative learning diharapkan
dapat meningkatkan keterampilan sosial siswa dimana siswa mampu berinisiatif,
bersikap terbuka, dapat bekerjasama dalam tim, berani berbicara di depan orang
lain dan menyelesaikan konflik.
Penelitian ini menggunakan penelitian tindakan dengan subyek penelitian
adalah siswa kelas VIII C SMP N 2 Pakem yang berjumlah 12 siswa yang diambil
dengan menggunakan teknik purposive. Penelitian dilakukan dalam 2 siklus. Pada
siklus pertama dan kedua terdiri atas 5 tindakan. Metode pengumpulan data
menggunakan skala keterampilan sosial yang diuji validitas dan reliabilitasnya.
Analisis data menggunakan kuantitatif deskriptif. Penelitian dimulai dari
penyusunan instrumen, ujicoba instrumen, pelaksanaan pra tindakan keterampilan
sosial, dilanjutkan dengan bimbingan kelompok berbasis cooperative learning.
Hasil penelitian menunjukkan bimbingan kelompok berbasis cooperative
learning dapat meningkatkan keterampilan sosial siswa di SMP N 2 Pakem kelas
VIII C. Hal tersebut dibuktikan dengan perolehan rata-rata pra tindakan sebesar
221,6 menjadi 230,2 pada paska tindakan siklus pertama dan 241,8 pada paska
tindakan siklus kedua.
Kata kunci : bimbingan kelompok berbasis cooperative learning, keterampilan
sosial
vii
KATA PENGANTAR
Puji syukur atas kehadirat Allah SWT, atas segala limpahan rahmat dan
karuniaNya. Hanya dengan ridho dan rahmat Allah SWT peneliti dapat
menyelesaikan karya ini. Skripsi yang berjudul Peningkatan Keterampilan Sosial
melalui Bimbingan Kelompok Berbasis Cooperative Learning di SMP Negeri 2
Pakem Kelas VIII C ini disusun untuk memenuhi sebagian persyaratan guna
memperoleh gelar Sarjana Pendidikan, pada Jurusan Psikologi Pendidikan dan
Bimbingan, Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Yogyakarta.
Peneliti menyadari bahwa penyusunan skripsi ini tidak akan terwujud
tanpa adanya ridho dan rahmat Allah SWT dan juga bantuan dari berbagai pihak.
Oleh karena itu peneliti menyampaikan penghargaan dan rasa terima kasih
kepada:
1. Dekan Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Yogyakarta yang telah
memberikan ijin penelitian.
2. Ketua Jurusan Psikologi Pendidikan dan Bimbingan Universitas Negeri
Yogyakarta yang telah memberikan ijin penelitian.
3. Bapak Dr. Muhammad Nur Wangid, M. Si. dosen pembimbing I yang dengan
sabar dan ikhlas bersedia meluangkan waktu, tenaga dan pikiran untuk
membimbing dalam penyusuna skripsi ini.
4. Ibu Isti Yuni Purwanti, M. Pd. dosen pembimbing II yang dengan sabar, teliti
memberikan arahan, masukan, saran, dan memotivasi saya dalam penulisan
skripsi ini.
viii
5. Seluruh Dosen Jurusan Psikologi Pendidikan dan Bimbingan yang telah
memberikan wawasan, ilmu dan pengalamannya kepada penulis selama
perkuliahan.
6. Kepala Sekolah SMP N 2 Pakem yang telah memberikan ijin penelitian.
7. Ibu Ichwani guru BK SMP N 2 Pakem yang telah banyak membantu dalam
pelaksanaan penelitian.
8. Siswa-siswi SMP N 2 Pakem khususnya kelas VIII C atas kesediaannya dalam
membantu penelitian.
9. Kedua orang tua tercinta dan keluarga besar teriring do’a yang paling tulus
semoga Allah SWT senantiasa merahmati dan memberikan kenikmatan dunia
dan akhirat.
10. Kakak saya Noviana Kusuma Dewi dan Imam Bayu Prasetyo atas segala
motivasinya.
11. Gugun Ramdhan Natapraja yang selalu memberi motivasi untuk
menyelesaikan skripsi ini.
12. Temanku Kadarisman, Vivi, Risma, Hendy yang bersedia memberikan
motivasi, pengarahan dan membantu dalam menyusun skripsi. Yang belum
selesai cepat menyusul.
13. Teman-teman BK semua angkatan, khususnya BK 2008 kelas A yang telah
berbagi suka, duka serta pengalaman yang berharga bagiku. Semoga kita
sukses selalu.
14. Semua pihak yang telah memberikan bantuannya kepada penulis dalam
menyelesaikan skripsi ini yang tidak dapat penulis sebutkan satu persatu.
ix
DAFTAR ISI
hal
HALAMAN JUDUL........................................................................................ i
HALAMAN PERSETUJUAN........................................................................ ii
HALAMAN PERNYATAAN......................................................................... iii
HALAMAN PENGESAHAN......................................................................... iv
HALAMAN MOTTO .................................................................................... v
HALAMAN PERSEMBAHAN...................................................................... vi
ABSTRAK....................................................................................................... vii
KATA PENGANTAR.................................................................................... viii
DAFTAR ISI................................................................................................... xi
DAFTAR TABEL........................................................................................... xv
DAFTAR GAMBAR...................................................................................... xvii
DAFTAR LAMPIRAN.................................................................................. xviii
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah………………………………………………… 1
B. Identifikasi Masalah……………………………………………………... 6
C. Batasan Masalah………………………………………………………… 7
D. Rumusan Masalah……………………………………………………….. 7
E. Tujuan Penelitian………………………………………………………... 7
F. Manfaat Penelitian………………………………………………………. 8
BAB II KAJIAN TEORI
A. Kajian tentang Keterampilan Sosial…….................................................. 9
1. Definisi Keterampilan Sosial…………….......................................... 9
2. Arti Penting Keterampilan Sosial…………………………………… 10
3. Karakteristik Keterampilan Sosial……….......................................... 12
4. Aspek Keterampilan Sosial………………………………………… 16
5. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Keterampilan Sosial…………... 19
6. Upaya Peningkatan Keterampilan Sosial…………………………… 22
B. Kajian tentang Bimbingan Kelompok Berbasis Cooperative Learning.... 23
1. Pengertian Bimbingan Kelompok Berbasis Cooperative Learning.... 23
xi
2. Komponen Layanan Bimbingan Kelompok Berbasis Cooperative
Learning……………………………………………………………………. 26
3. Tujuan Bimbingan Kelompok Berbasis Cooperative Learning……... 27
4. Tahap Bimbingan Kelompok Berbasis Cooperative Learning …….. 30
C. Kajian tentang Remaja……………………............................................... 45
1. Pengertian Remaja .............................................................................. 45
2. Tugas Perkembangan Remaja ............................................................ 46
3. Karakteristik Siswa SMP sebagai Remaja………………………….. 49
D. Kerangka Berpikir ..................................................................................... 55
F. Hipotesis Tindakan .................................................................................. 58
BAB III METODE PENELITIAN
A. Pendekatan Penelitian…………………………………………………… 59
B. Desain Penelitian ..................................................................................... 60
C. Rencana Tindakan…………..…………………………………………… 61
D. Subjek Penelitian………………………………………………………... 67
E. Variabel Penelitian…………………………………………..................... 67
F. Tempat dan Waktu Penelitian…………………………………………… 68
G. Instrumen Penelitian.…………………………………………................. 68
H. Uji Validitas dan Reliabilitas Instrumen..…………………………….... 73
a. Uji Validitas Instrumen.………………………………................ 73
b. Uji Reliabilitas Instrumen..……………………………............... 76
I. Teknik Analisis Data…………………………………………………….. 78
J. Kriteria Keberhasilan................................................................................. 79
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
A. Lokasi Penelitian…………………………………………….................... 80
1. Deskripsi Lokasi Penelitian…………………………………………. 80
B. Data Subyek Penelitian…………………………………………….......... 80
C. Siklus I (Pertama)…………………………………………….................. 81
1. Tindakan Siklus I…………………………………………………… 82
a. Tindakan I....................................................................................... 82
b. Tindakan II..................................................................................... 83
xii
c. Tindakan III.................................................................................... 84
d. Tindakan IV.................................................................................... 87
2. Observasi/Pengamatan Siklus I........................................................... 88
3. Hasil Skala Keterampilan Interpersonal.............................................. 92
4. Wawancara Siklus I............................................................................ 95
5. Refleksi dan Evaluasi Siklus I............................................................. 97
E. Siklus II (Kedua)…………………………………………….................... 98
1. Perencanaan Siklus II……………………………………………….. 98
2. Tindakan Siklus II…………………………………………………... 100
a. Tindakan I……………………………………………………....... 100
b. Tindakan II……………………………………………………..... 100
c. Tindakan III……………………………………………………… 101
d. Tindakan IV……………………………………………………… 104
3. Observasi/Pengamatan Siklus II.......................................................... 105
4. Hasil Skala Keterampilan Interpersonal.............................................. 108
5. Wawancara Siklus II........................................................................... 110
6. Refleksi dan Evaluasi Siklus II........................................................... 111
7. Hasil Tindakan Siklus I dan II............................................................ 114
F. Pembahasan……………………………………………........................... 115
G. Keterbatasan Penelitian………………………………….......................... 121
BAB V KESIMPULAN DAN SARAN
A. Kesimpulan........…………………………………………….................... 122
B. Saran..................…………………………………………….................... 122
DAFTAR PUSTAKA....................................................................................... 124
LAMPIRAN...................................................................................................... 127
xiii
DAFTAR TABEL
hal
Tabel 1. Dimensi Umum Keterampilan Sosial ............................................. ...... 16
Tabel 2. Aspek Keterampilan Sosial ............................................................. ...... 17
Tabel 3. Kisi-Kisi Instrumen Skala Keterampilan Sosial Sebelum Uji ........ ...... 71
Tabel 4. Pedoman Wawancara ...................................................................... ...... 72
Tabel 5. Pedoman Observasi Keterampilan Sosial ....................................... ...... 73
Tabel 6. Rangkuman Item Sahih dan Item Gugur ................................................ 74
Tabel 7. Kisi-Kisi Instrumen Skala Keterampilan Sosial
Setelah Uji Validitas ............................................................................. 75
Tabel 8. Kategori Keterampilan Sosial ................................................................ 79
Tabel 9. Subjek Penelitian ` .................................................................................. 81
Tabel 10. Kategori Keterampilan Sosial .............................................................. 82
Tabel 11. Hasil Skala Pra Tindakan ..................................................................... 83
Tabel 12. Skor Awal Siswa ................................................................................. 84
Tabel 13. Daftar Nama Kelompok ....................................................................... 85
Tabel 14. Nama Tim Hasil Kesepakatan Kelompok ............................................ 85
Tabel 15. Hasil Kuis Game Puzzle ....................................................................... 86
Tabel 16. Hasil Tes Individual Siswa Siklus ....................................................... 88
Tabel 17. Hasil Skor Awal dan Tes Individual ..................................................... 89
Tabel 18. Hasil Kerja Tim Puzzle ......................................................................... 90
Tabel [Link] Rangkuman Tim Ferayoba ...................................................... 90
Tabel 20. Lembar Rangkuman Tim Telmi ........................................................... 91
Tabel 21. Lembar Rangkuman Tim Super ........................................................... 91
xiv
Tabel 22. Rangkuman Hasil Observasi…………………………… .................... 92
Tabel 23. Hasil Penilaian Keterampilan Sosial ..................................................... 95
Tabel 24. Skor Awal Siswa ................................................................................... 100
Tabel 25. Daftar Nama Tiap Kelompok ............................................................... 102
Tabel 26. Nama Kelompok .................................................................................. 102
Tabel 27. Hasil Kuis Puzzle ................................................................................. 103
Tabel 28. Hasil Tes Individual ............................................................................. 105
Tabel 29. Hasil Skor Awal dan Tes Individual ..................................................... 102
Tabel 30. Hasil Kerja Tim Game Puzzle .............................................................. 107
Tabel 31. Lembar Rangkuman Tim Super Mario ................................................ 107
Tabel 32. Lembar Rangkuman Tim Smart ........................................................... 107
Tabel 33. Lembar Rangkuman Tim Wonder ....................................................... 108
Tabel 34. Rangkuman Hasil Observasi……………………………… ................. 108
Tabel 35. Peningkatan Hasil Skala Keterampilan Sosial ..................................... 113
xv
DAFTAR GAMBAR
hal
Gambar 1. Game Puzzle Siklus I ............................................................... 174
Gambar 2. Game Puzzle Siklus II .............................................................. 175
Gambar 3. Rekognisi Prestasi Tim ............................................................. 176
Gambar 4. Foto Bersama Guru BK SMP N 2 Pakem ................................ 181
Gambar 5. Belajar Materi ........................................................................... 181
Gambar 6. Mengerjakan Soal ..................................................................... 181
Gambar 7. Game Menyusun Puzzle ............................................................ 181
Gambar 8. Diskusi Kelompok .................................................................... 181
Gambar 9. Rekognisi Tim ........................................................................... 181
xvi
DAFTAR LAMPIRAN
hal
Lampiran 1. Bentuk Skala Sebelum Ujicoba............................................. 128
Lampiran 2. Bentuk Skala Setelah Ujicoba............................................... 135
Lampiran 3. Uji Validitas dan Reliabilitas................................................ 142
Lampiran 4. Pra Tindakan......................................................................... 150
Lampiran 5. Paska Tindakan Siklus I....................................................... 153
Lampiran 6. Paska Tindakan Siklus II...................................................... 156
Lampiran 7. Materi Keterampilan Sosial.................................................. 159
Lampiran 8. Game Konsentrasi................................................................. 165
Lampiran 9. Lembar Kuis Keterampilan Sosial Siklus I........................... 166
Lampiran 10. Lembar Kuis Keterampilan Sosial Siklus II.......................... 167
Lampiran 11. Hasil Observasi Siklus I........................................................ 171
Lampiran 12. Hasil Observasi Siklus II....................................................... 172
Lampiran 13. Hasil Wawancara Siswa Siklus I........................................... 173
Lampiran 14. Hasil Wawancara Siswa Siklus II.......................................... 174
Lampiran 15. Foto Kegiatan Penelitian....................................................... 175
Lampiran 16. Lembar Skala Sebelum Uji Coba.......................................... 176
Lampiran 17. Lembar Skala Setelah Uji Coba............................................ 178
Lampiran 18. Surat-Surat Penelitian............................................................ 180
xvii
BAB I
PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG
Siswa Sekolah Menengah Pertama (SMP) ditinjau dari usia
tergolong ke dalam masa remaja. Adapun tugas perkembangan remaja
menurut Hurlock (Muhammad Ali, 2008:10) adalah mampu membina
hubungan baik dengan anggota kelompok baik sesama jenis ataupun yang
berlainan jenis. Pada usia remaja pergaulan dan interaksi sosial dengan
teman sebaya bertambah luas dan kompleks dibandingkan dengan masa-
masa sebelumnya, termasuk pergaulan dengan sesama jenis ataupun
berlainan jenis. Tugas perkembangan remaja selanjutnya adalah mencapai
kemandirian emosional dan mengembangkan keterampilan intelektual
yang sangat diperlukan untuk melakukan peran sebagai anggota
masyarakat. Perkembangan intelektual dan emosional juga didapatkan
oleh remaja dalam kelompoknya dengan berdiskusi untuk memecahkan
masalah.
Salah satu bagian terpenting dari tugas perkembangan remaja
adalah dalam perkembangan sosial. Remaja sebagai manusia yang sedang
mengalami peralihan dari masa anak-anak menuju dewasa menurut Gea
(2003: 56) membutuhkan berinteraksi dengan orang lain dalam proses
sebagai hubungan sosial. Perkembangan sosial mempengaruhi remaja
dalam hubungan sosialnya dengan teman sebaya, orangtua dan lainnya.
Dengan demikian, agar remaja dapat bergaul dengan baik dalam
1
kelompoknya diperlukan kompetensi sosial yang berupa keterampilan
sosial dalam berhubungan dengan orang lain.
Keterampilan sosial adalah suatu keterampilan untuk mengatasi
atau menjalani kehidupan sosial dengan baik (Neila Ramdhani, 1994: 96).
Keterampilan sosial merupakan kemampuan berinteraksi dengan orang
lain dalam konteks sosial dengan cara-cara yang khusus yang dapat
diterima secara sosial maupun nilai-nilai dan disaat yang sama berguna
bagi dirinya dan orang lain.
Idealnya siswa haruslah mempunyai keterampilan sosial, yang
meliputi : kemampuan berkomunikasi, kemampuan menjalin hubungan
baik dengan orang lain, kemapuan menghargai diri sendiri dan orang lain,
kemampuan mendengarkan pendapat atau keluhan dari orang lain,
kemampuan memberi dan menerima feedback, kemampuan memberi dan
menerima kritik, berlaku atau bertindak sesuai norma dan aturan yang
berlaku (Lujianto, 2009: 29).
Akan tetapi, yang terjadi di lapangan berbeda dengan yang
diharapkan. Ketika dilakukan observasi di lapangan selama 2 bulan
ketika melaksanakan program KKN PPL di SMP N 2 Pakem, ditemukan
beberapa fakta antara lain: Ada kecenderungan siswa hanya bergaul dan
berkelompok dengan siswa lain yang itu-itu saja. Mereka bergerombol
hanya dengan teman-teman dekatnya saja (gengnya). Sehingga sering
terjadi perselisihan antar kelompok yang menjrus pada perselisihan.
Berdasarkan catatan yang ada di Bimbingan Konseling (BK) SMP N 2
2
Pakem, dalam satu minggu rata-rata terdapat 3 sampai 4 kasus perselisihan
yang menjurus pada pertengkaran dan kerkelahian ringan (Laporan BK
bulan Mei-Juni 2012).
Berdasarkan hasil wawancara dengan Icshwani, S, Pd. (Guru
BK/Wawancara, Mei 2012), dinyatakan bahwa anak-anak lebih sering
menunjukkan ego kelompoknya, sehingga hadirnya kelompok lain
dianggap sebagai pesaing mereka. Akibatnya mereka sulit bekerjasama
dan menjurus pada persiangan yang bersifat negatif. Ini menunjukkan
bahwa siswa yang ada di SMP N 2 Pakem masih kurang memiliki
keterampilan sosial.
Berdasarkan wawancara dengan ST (siswa kelas VIII C), yang
selalu terlihat cenderung diam dan tidak mau ikut serta dalam kegiatan
bersama temannya di dalam maupun di luar kelas. ST menyatakan bahwa
dia mengalami kesulitan bergaul dengan teman-teman lain, sehingga dia
lebih senang menyendiri. Bahkan pada saat jam istirahatpun dia hanya
diam di kelas. Padahal pada saat tersebut banyak teman lain ketika jam
istirahat jajan di kantin atau paling tidak sekedar bercanda bersama teman-
temannya di depan kelas.
Fenomena ini juga dialami oleh beberapa teman ST, yaitu BK,
DW dan MY, yang berdasarkan pengamatan selama hampir 2 bulan,
menunjukkan gejala hanya melakukan interaksi sosial yang terbatas.
Mereka hanya menjalin hubungan hanya dengan teman dekatnya saja.
3
Mereka membatasi diri dengan siswa lain dan terkesan sungkan untuk
bergabung dengan siswa lain.
Sementara itu, masalah lain yang dapat diamati adalah adanya
siswa yang kurang disukai oleh temannya karena sulit mengontrol amarah
dengan suka bertengkar. Siswa ini jika digoda siswa lain sedikit saja
langsung marah, bahkan dia langsung mengajak berkelahi siswa yang
menyinggungnya. Sementara siswa yang tidak suka bercanda hanya diam
dan bersikap acuh.
Masalah akademik yang muncul adalah kurang antusiasnya siswa
dalam mendengarkan guru di dalam kelas. Dari informasi guru BK,
banyak guru mata pelajaran mengeluh bahwa banyak siswa yang tidak
mendengarkan guru di dalam kelas ketika kegiatan belajar mengajar
sedang berlangsung. Mereka asik mengobrol di dalam kelas dengan teman
sebangkunya tanpa memperdulikan guru yang sedang menjelaskan di
depan kelas. Sedangkan dalam kegiatan diskusi siswa cenderung pasif,
bahkan ketika diberikan pertanyaan oleh guru tidak sedikit siswa yang
hanya diam.
Fenomena kurangnya keterampilan sosial yang terlihat adalah
dengan banyaknya siswa yang sering melanggar peraturan sekolah.
Ditemukan fakta selama observasi, pada hari Senin siswa perempuan tidak
memai jilbab, padahal peraturan sekolah mewajibkan untuk memakai
jilbab. Mereka secara sengaja tidak memakai jilbab atau ketika istirahat
melepas jilbabnya. Sementara itu, banyak juga siswa yang terlambat ketika
4
datang ke sekolah. Bahkan beberapa siswa juga ada yang membolos ketika
pelajaran tertentu. Masalah lain yang ditemukan adalah keluhan dari guru
mata pelajaran kepada guru BK karena masih banyak siswa yang tidak
mengerjakan pekerjaan rumah (PR) atau tidak menyelesaikan tugas yang
telah diberikan oleh guru (Laporan BK Mei-Juni 2012).
Dari pemaparan tersebut di atas dapat diketahui bahwa mayoritas
siswa kelas VIII C SMPN 2 Pakem terindikasi kurang memiliki
keterampilan sosial. Pihak guru BK menurut Ichwani, [Link]. (Guru
BK/Wawancara, Mei 2012) selama ini telah melakukan pendekatan dalam
menangani permasalahan tersebut, antara lain dengan berbicara dan
melakukan interaksi bersama siswa-siswa yang tersebut. Tujuannya
adalah agar mereka dapat membuka diri dan dapat berinteraksi lebih luas
dengan orang lain. Namun keterbatasan jam untuk BK di SMP N 2 Pakem
menjadikan guru BK tidak dapat melakukan bimbingan individual atau
bimbingan kelompok secara intens. Dengan demikian diperlukan upaya
lain guna mengatasi permasalahan rendahnya keterampilan sosial siswa.
Gagasan yang akan dilakukan dalam upaya peningkatan
keterampilan sosial adalah dengan menggunakan teknik bimbingan
kelompok berbasis cooperative learning. Menurut Isjoni (2007: 15)
cooperative learning mengandung arti bekerja sama dalam mencapai
tujuan bersama.
Secara teoritik, keunggulan dari teknik bimbingan kelompok adalah
dapat melatih siswa untuk dapat hidup secara berkelompok dan
5
menumbuhkan kerjasama antara siswa dalam mengatasi masalah, melatih
siswa untuk dapat mengemukakan pendapat dan menghargai pendapat
orang lain dan dapat meningkatkan kemampuan siswa untuk dapat
berkomunikasi dengan teman sebaya dan pembimbing. Sebagaimana
dikemukakan oleh Prayitno (1995: 67) bahwa secara umum layanan
bimbingan kelompok bertujuan untuk pengembangan kemampuan
bersosialisasi, khususnya kemampuan berkomunikasi siswa.
Sehingga pada penelitian ini, metode bimbingan kelompok akan
dipadukan dengan cooperative learning dalam upaya meningkatkan
keterampilan sosial siswa, dalam bentuk penelitian tindakan kelas (PTK).
B. IDENTIFIKASI MASALAH
Berdasarkan permasalahan tersebut, maka dapat diidentifikasikan
permasalahan yang ada di SMP N 2 Pakem adalah:
1. Ada kecenderungan siswa hanya bergaul secara terbatas dengan teman
dekatnya saja.
2. Siswa yang berkelompok memiliki kecenderungan tidak dapat
berinteraksi kelompok dengan siswa lain secara positif.
3. Banyak siswa yang masih melanggar peraturan sekolah.
4. Mayoritas siswa masih terlihat pasif dalam kegiatan pembelajaran
dalam kelas.
5. Keterampilan sosial siswa masih rendah.
6. Proses bimbingan dalam mengatasi rendahnya keterampilan sosial
belum maksimal.
6
C. PEMBATASAN MASALAH
Berdasarkan beberapa permasalahan pada identifikasi masalah,
maka penelitian ini dibatasi pada:
1. Masalah yang akan diteliti adalah mengenai upaya peningkatan
keterampilan sosial siswa di SMP N 2 Pakem khususnya kelas VIII C
yang masih rendah.
2. Upaya meningkatkan keterampilan sosial tersebut dilakukan dengan
menggunakan metode Bimbingan Kelompok berbasis Cooperative
Learning.
D. PERUMUSAN MASALAH
Berdasarkan latar belakang dan identifikasi masalah di atas, maka
rumusan masalah dalam penelitian ini adalah bagaimana upaya
peningkatan teknik bimbingan kelompok berbasis cooperative learning ini
dapat meningkatkan keterampilan sosial siswa kelas VIII-C di SMP N 2
Pakem?
E. TUJUAN PENELITIAN
Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui teknik bimbingan
kelompok berbasis cooperative learning ini dapat meningkatkan
ketrampilan sosial siswa kelas VIII-C di SMP N 2 Pakem.
7
F. MANFAAT PENELITIAN
Manfaat penelitian ini adalah :
1. Bagi sekolah, sebagai bentuk pengembangan bagi guru BK dalam
upaya meningkatkan keterampilan sosial pada siswa di sekolah
melalui Bimbingan Kelompok.
2. Bagi siswa, berguna bagi pengembangan keterampilan sosial siswa
agar dapat berinteraksi dengan baik.
3. Bagi peneliti, menjadikan penelitian ini sebagai wawasan dan
pengalaman dalam memberikan bimbingan pribadi dan kelompok bagi
siswa, sehingga merupakan bekal berharga dalam nejalankan profesi
sebagai guru Bimbingan dan Konseling.
8
BAB II
KAJIAN PUSTAKA
A. Kajian Keterampilan Sosial
1. Definisi Keterampilan Sosial
Keterampilan sosial menurut Libet dan Lewinsohn (Cartledge dan
Milburn, 1995: 3) didefinisikan sebagai kemampuan yang kompleks untuk
menunjukkan perilaku yang baik dinilai secara positif atau negative oleh
lingkungan, dan jika perilaku itu tidak baik akan diberikan punishment oleh
lingkungan.
Andi Mappiare (2006: 312) memberikan pengertian tentang
keterampilan sosial (social skills) sebagai keterampilan antar pribadi yang
berkaitan dengan interaksi social. Menurut Neila Ramdhani (1994: 39)
keterampilan sosial merupakan suatu keterampilan yang diperoleh individu
melalui proses belajar, mengenai cara-cara mengatasi atau melakukan
hubungan sosial dengan tepat dan baik. Keterampilan sosial juga merupakan
suatu keterampilan untuk mengatasi atau menjalani kehidupan sosial dengan
baik.
Sedangkan menurut Sri Sunarni (2000: 23), dinyatakan bahwa
keterampilan sosial sangat dibutuhkan manusia karena dengan keterampilan
ini seseorang dapat menghadapi dan mengatasi masalah yang dijumpai
dalam kehidupan sosialnya.
Berdasarkan beberapa pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa
keterampilan sosial merupakan kemampuan yang berkaitan dengan
9
perilaku diri yang digunakan selama melakukan interaksi dengan orang
lain secara efektif, dimana seseorang mampu menunjukkan perilaku diri
yang baik dan dapat menyesuaikan diri dalam lingkungan, serta dapat
menjalankan tugasnya sesuai dengan perannya.
2. Arti Penting Keterampilan sosial
Johnson dan Johnson (1999: 201-210) mengemukakan 6 hasil
penting dari memiliki keterampilan sosial, yaitu :
a. Perkembangan Kepribadian dan Identitas
Hasil pertama adalah perkembangan kepribadian dan identitas karena
kebanyakan dari identitas masyarakat dibentuk dari hubungannya
dengan orang lain. Sebagai hasil dari berinteraksi dengan orang lain,
individu mempunyai pemahaman yang lebih baik tentang diri sendiri.
Individu yang rendah dalam keterampilan interpersonalnya dapat
mengubah hubungan dengan orang lain dan cenderung untuk
mengembangkan pandanagn yang tidak akurat dan tidak tepat tentang
dirinya.
b. Mengembangkan kemampuan kerja, produktivitas, dan kesuksesan
karir
Keterampilan sosial juga cenderung mengembangkan kemampuan
kerja, produktivitas, dan kesuksesan karir, yang merupakan
keterampilan umum yang dibutuhkan dalam dunia kerja nyata.
Keterampilan yang paling penting, karena dapat digunakan untuk
bayaran kerja yang lebih tinggi, mengajak orang lain untuk bekerja
10
sama, memimpin orang lain, mengatasi situasi yang kompleks, dan
menolong mengatasi permasalahan orang lain yang berhubungan
dengan dunia kerja.
c. Meningkatkan kualitas hidup
Meningkatkan kualitas hidup adalah hasil positif lainnya dari
keterampilan sosial karena setiap individu membutuhkan hubungan
yang baik, dekat, dan intim dengan individu lainnya.
d. Meningkatkan kesehatan fisik
Hubungan yang baik dan saling mendukung akan mempengaruhi
kesehatan fisik. Penelitian menunjukkan hubungan yang berkualitas
tinggi berhubungan dengan hidup yang panjang dan dapat pulih dengan
cepat dari sakit.
e. Meningkatkan kesehatan psikologis
Penelitian menunjukkan bahwa kesehatan psikologis yang kuat
dipengaruhi oleh hubungan positif dan dukungan dari orang lain.
Ketidakmampuan mengembangkan dan mempertahankan hubungan
yang positif dengan orang lain dapat mengarah pada kecemasan,
depresi, frustasi, dan kesepian. Telah dibuktikan bahwa kewmampuan
membangun hubungan yang positif dengan orang lain dapat
mengurangi distress psikologis, yang menciptakan kebebasan, identitas
diri, dan harga diri.
11
f. Kemampuan mengatasi stress
Hasil lain yang tidak kalah pentingnya dari memiliki keterampilan
sosial adalah kemampuan mengatasi stress. Hubungan yang saling
mendukung telah menunjukkan berkurangnya jumlah penderita stress
dan mengurangi kecemasan. Hubungan yang baik dapat membantu
individu dalam mengatasi stress dengan memberikan perhatian,
informasi, dan feedback.
Berdasarkan pendapat diatas, dapat disimpulkan keterampilan sosial
mempunyai arti penting, khususnya untuk remaja yang sedang mengalami
tahap perkembangan. Arti penting keterampilan sosial meliputi
perkembangan kepribadian dan identitas, mengembangkan kemampuan
kerja, produktivitas, dan kesuksesan karir, meningkatkan kualitas hidup,
meningkatkan kesehatan fisik, meningkatkan kesehatan psikologis dan
kemampuan mengatasi masalah.
3. Karakteristik Keterampilan Sosial
Karakteristik keterampilan sosial menurut Kaili Chen (Lujianto,
2009: 29) ini meliputi:
a. Memahami dan mengatur emosi diri maupun orang lain (kontrol
emosi).
b. Merespon orang lain dan mengarahkan tindakan sosial (sikap
sosial).
c. Interaksi dan berkomunikasi secara verbal maupun non verbal
(komunikasi).
d. Bertanggung jawab atas tindakan (tanggung jawab).
e. Memperhatikan orang lain (peduli).
Secara lebih spesifik, Elksnin dan Elksnin (2007: 176)
mengidentifikasikan keterampilan sosial dengan beberapa ciri, antara lain:
12
a. Perilaku Interpersonal
Perilaku interpersonal adalah perilaku yang menyangkut
keterampilan yang digunakan selama melakukan interaksi sosial yang
disebut dengan keterampilan menjalin persahabatan. Misalnya
memperkenalkan diri, menawarkan bantuan, dan memberikan atau
menerima pujian.
b. Perilaku yang Berhubungan dengan Diri Sendiri
Perilaku ini merupakan ciri dari seorang yang dapat mengatur
dirinya sendiri dalam situasi sosial, seperti: keterampilan menghadapi stress,
memahami perasaan orang lain, mengontrol kemarahan dan sebagainya.
c. Perilaku yang Berhubungan dengan Kesuksesan Akademis
Perilaku ini berhubungan dengan hal-hal yang mendukung prestasi
belajar di sekolah, seperti: mendengarkan guru, mengerjakan pekerjaan
sekolah dengan baik, dan mengikuti aturan-aturan yang berlaku di sekolah.
d. Penerimaan Teman Sebaya (Peer Acceptance)
Hal ini didasarkan bahwa individu yang mempunyai keterampilan
sosial yang rendah akan cenderung ditolak oleh teman-temannya, karena
mereka tidak dapat bergaul dengan baik. Beberapa bentuk perilaku yang
dimaksud adalah: memberi dan menerima informasi, dapat menangkap
dengan tepat emosi orang lain, dan sebagainya.
13
e. Keterampilan Berkomunikasi
Keterampilan ini sangat diperlukan untuk menjalin hubungan sosial
yang baik, berupa pemberian umpan balik dan perhatian terhadap lawan
bicara, dan menjadi pendengar yang responsif.
Berdasarkan beberapa pendapat di atas memuat indikator perilaku
sebagai berikut:
a. Komunikasi : terlibat aktif dalam interaksi sosial.
b. Pengaturan diri : mengatur diri sendiri dalam situasi sosial.
c. Control emosi : mengatur dan mengendalikan emosi
d. Tanggung jawab : menyelesaikan tugas atau pekerjaan.
e. Tata karma : mematuhi aturan atau norma
Social skill atau kecakapan sosial sebagai bagian dari life skills
meliputi dua hal sebagai berikut (Anwar Kurnia, 2006: 30):
a. Kecakapan berkomunikasi dengan empati (communication skills)
Kecakapan ini berarti komunikasi yang bukan hanya sekedar
penyampaian pesan tetapi menyangkut isi dan sampainya pesan yang
disertai dengan kesan baik yang menimbulkan hubungan harmonis.
Keterampilan komunikasi meliputi: memberikan umpan balik,
mengungkap perasaan, mendukung dan menanggapi orang lain, serta
menerima diri sendiri dan orang lain.
b. Kecakapan bekerjasama (collaboration skills)
Kecakapan ini meliputi:
1) Memahami dan menerima peran yang berbeda.
14
2) Memfasilitasi kelompok agar lebih efektif.
3) Menggunakan sumber daya secara efektif.
4) Bekerja dengan suatu populasi yang berbeda.
5) Respon dalam hubungan yang komplek.
Sedangkan menurut Caldarella dan Merrell (Merrell & Gimpel 1998:
36) terdapat 5 (lima) dimensi paling umum yang terdapat dalam
keterampilan sosial,yaitu :
a. Hubungan dengan teman sebaya (Peer relation), ditunjukkan
melalui perilaku yang positif terhadap teman sebaya seperti memuji
atau menasehati orang lain, menawarkan bantuan kepada orang lain,
dan bermain bersama orang lain.
b. Manajemen diri (Self-management), merefleksikan remaja yang
memiliki emosional yang baik, yang mampu untuk mengontrol
emosinya, mengikuti peraturan dan batasan-batasan yang ada, dapat
menerima kritikan dengan baik.
c. Kemampuan akademis (Academic), ditunjukkan melalui pemenuhan
tugas secara mandiri, menyelesaikan tugas individual, menjalankan
arahan guru dengan baik.
d. Kepatuhan (Compliance), menunjukkan remaja yang dapat
mengikuti peraturan dan harapan, menggunakan waktu dengan baik,
dan membagikan sesuatu.
15
e. Perilaku assertive (Assertion), didominasi oleh kemampuan-
kemampuan yang membuat seorang remaja dapat menampilkan
perilaku yang tepat dalam situasi yang diharapkan.
Tabel [Link] Umum Keterampilan Sosial
Dimensi Pola Perilaku
Hubungan dengan teman sebaya Interaksi sosial, prososial, empati,
(peer relation) partisipasi sosial, kemampuan sosial pada teman
sebaya.
Manajemen diri (Self Kontrol diri, kompetensi sosial,
management) tanggung jawab sosial, peraturan,
toleransi terhadap frustasi.
Kemampuan akademis Penyesuaian sekolah, kepedulian pada
(academic) peraturan sekolah, orientasi tugas,
tanggung jawab akademis, kepatuhan di
kelas, murid yang baik
Kepatuhan (Compliance) Kerjasama secara sosial, kompetensi,
Perilaku Asertif (Assertion) Perilaku Asertif (Assertion) Keterampilan sosial
asertif, social
initiation, social activator, gutsy
Dari beberapa identifikasi di atas, secara umum keterampilan sosial
dapat dilihat dari tiga bentuk yaitu:
a. Interaksi sosial meliputi komunikasi, peduli, dan kerjasama.
b. Penyesuaian sosial meliputi pengaturan diri, kontrol emosi, dan sikap
sosial.
c. Pemecahan masalah sosial meliputi penyelesaian konflik, tanggung
jawab, dan tata karma.
4. Aspek Keterampilan Sosial
Stephens mengelompokkan keterampilan sosial menjadi empat aspek
yaitu “environmental, interpersonal, self-related, and task-related
16
behaviors” (Cartledge&Milburn, 1995: 17). Aspek keterampilan sosial
dapat dilihat pada tabel dibawah ini:
Tabel 2. Aspek Keterampilan Sosial
Perilaku diri Perilaku lingkungan
Menerima konsekuensi Peduli lingkungan
Perilaku etika Peka dengan keadaan darurat
Mengekspresikan perasaan
Perilaku respon
Perduli terhadap diri sendiri
Perilaku terkait tugas Perilaku interpersonal
Bertanya dan menjawab Mengatasi konflik
pertanyaan Menunjukan perhatian
Memperhatiakn penjelasan Mengucapkan salam
Diskusi kelas Membantu orang lain
Menyelesaikan tugas-tugas Membuat percakapan
Mengikuti arah/ peraturan Berorganisasi
Kegiatan kelompok Mampu menerima orang lain apa
Mengerjakan tugas adanya
Menunjukkan diri Mengatur diri
Pengelompokkan komponen di atas dapat dijelaskan bahwa
keterampilan sosial mengandung beberapa hal sebagai berikut:
a. Memahami dan menerima konsekuensi sosial
b. Mengarahkan perilaku sesuai etika
c. Mengekspresikan perasaan
d. Mengatasi konflik
e. Memperhatikan orang lain
f. Bekerjasama dengan orang lain
17
g. Mengatur diri dalam situasi sosial
h. Peduli kepada sesama
i. Peka terhadap keadaan darurat
j. Memahami dan menghargai orang lain
k. Aktif bertanya dan menjawab pertanyaan
l. Memeperhatikan penjelasan guru
m. Aktif dalam diskusi dan kegiatan kelompok
n. Mengerjakan tugas
o. Berperilaku sesuai aturan
Berdasarkan beberapa aspek di atas dapat dilihat bahwa aspek
keterampilan sosial meliputi; perilaku diri, perilaku lingkungan, perilaku
terkait tugas, perilaku interpersonal.
5. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Keterampilan Sosial
Sunarto dan Hartono (1995: 130) mengungkapkan bahwa faktor-
faktor yang mempengaruhi perkembangan keterampilan anak diantaranya
adalah :
a. Faktor Internal
Adalah faktor-faktor yang berasal dari dalam diri individu antara lain
kapasitas mental, emosi dan intelegensi serta kematanagan harga diri.
1) Kapasitas Mental, Emosi dan Intelegensi
Anak berkemampuan intelektual tinggi akan berkemampuan berbahasa
secara baik. Oleh karena itu, kemampuan intelektual tinggi, kemampuan
18
berbahasa baik dan pengendalian emosional seara seimbang sangat
menetukan keberhasilan dalam perkembangan sosial anak.
2) Kematangan
Bersosialisasi membutuhkan kematangan fisik dan psikis. Untuk mampu
mempertimbangkan dalam proses sosial memberi dan menerima
pendapat orang lain, memerlukan kematangan intelektual dan
emosional.
b. Faktor Eksternal
Adalah faktor yang berasal dari lingkungan yang berpengaruh
terhadap perilaku sosial anak,anatara lain : faktor keluarga, status sosial
ekonomi, pendidikan.
1) Keluarga
a) Lingkungan rumah
Jika lingkungan rumah secara keseluruhan memupuk sikap sosial yang
baik kemungkina besar anaka akan menjadi pribadi sosial dan
sebaliknya.
b) Hubungan antara ayah dan ibu, anak dan saudaranya mempunyai
pengaruh yang sangat kuat.
c) Posisi anak dan keluarga. Anak yang lebih tua atau yang jarak
umurnya dengan saudaranya terlalu jauh, atau satu-satunya anak yg
jenis kelaminnya lain dari saudara-saudaranya, cenderung lebih banyak
menyendiri ketika bersama anak-anak lain. Anak yang jenis
kelaminnya sama dengan saudara-saudaranya menemukan kesulitan
19
dalam bergaul dengan teman yang jenis kelaminnya berlainan tetapi
mudah membina pergaulan dengan anak yang jenis kelamnnya sama.
d) Ukuran keluarga
Sebagai contoh, anak tunggal sering mendapatkann perhatian yang
lebih dari semestinya. Akibatnya mereka mengharapkan perlakuan
yang sama dari orang luar dan kesal jika meraekan tidak
mendapatkannya.
e) Perilaku sosial dan sikap anak mencerminkan perilaku yang diterima
dirumah.
Anak yang merasa ditolak oleh orag tua mungkin akan suka meneyndir
dan menjadi introvert. Sebalaiknya penerimaan dan sikap orang tua
yang penuh cinta kasih mendorong anak bersikap ekstrovert.
2) Status Sosial Ekonomi
Kehidupan sosial banyak dipengaruhi oleh kondisi sosial ekonmi
keluarga dalam masyarkat. Perilaku anak akan banyak memperhatikan
kondisi normative yang telah ditanamkan oleh kelaurga.
3) Lingkungan
Sejak dini anak-anak harus sudah diperkenalkan dengan lingkungan.
Lingkungan dalam batasan ini meliputi lingkungan fisik (rumah,
pekarangan) dan lingkungan sosial (tetangga). Lingkungan juga meliputi
lingkungan keluarga (keluarga primer dan sekunder), lingkungan sekolah
dan lingkungan masyarakat luas. Dengan pengenalan lingkungan maka
sejak dini anak sudah mengetahui bahwa dia memiliki lingkungan sosial
20
yang luas, tidak hanya terdiri dari orang tua, saudara, atau kakek dan nenek
saja.
Berdasarkan pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa faktor
keterampilan sosial meliputi 2, yaitu faktor internal dan faktor eksternal.
Faktor internal adalah faktor yang berasal dari dalam diri individu yang
meliputi kapasitas mental, emosi dan intelegensi serta kematangan harga
diri. Sedangkan faktor eksternal adalah faktor yang berasal dari lingkungan
yang berpengaruh terhadap perilaku sosial anak yang meliputi faktor
keluarga, status sosial ekonomi, dan lingkungan.
6. Upaya Peningkatan Keterampilan Sosial
Prayitno (1995: 67) mengemukakan bahwa dalam layanan
bimbingan dan konseling terdapat beberapa metode layanan bimbingan
yaitu, layanan bimbingan kelompok, layanan bimbingan individual dan
layanan bimbingan klasikal. Secara umum layanan bimbingan kelompok
bertujuan untuk pengembangan kemampuan bersosialisasi, khususnya
kemampuan berkomunikasi siswa.
Oleh karena itu, dalam meningkatkan keterampilan sosial, layanan
bimbingan kelompok dirasa lebih efisien karena dalam meningkatkan
keterampilan sosial diharapkan siswa dapat berinteraksi dengan siswa
lainnya. Slavin (2005: 203) mengembangkan teori cooperative learning.
Dimana model pembelajaran cooperative learning menekankan pada kerja
kelompok.
21
Menurut Ibrahim (2000: 10) bahwa tujuan utama pembelajaran
cooperative learning dalam kegiatan mengajar adalah : 1) hasil belajar 2)
penerimaan terhadap keragaman 3) pengembangan keterampilan sosial.
Stahl (1994: 101) mengemukakan bahwa dengan melaksanakan
model pembelajaran cooperative learning siswa dimungkinkan dapat meraih
keberhasilan dalam belajar, di samping itu juga bisa melatih siswa untuk
memiliki keterampilan, baik keterampilan berpikir (thinking skill) maupun
keterampilan sosial (social skill). Di dalam metode cooperative learning
terdapat beberapa teknik, salah satunya adalah teknik STAD yang
dikembangkan oleh Slavin. Beberapa tahapan dari teknik STAD adalah
penyajian materi, kerja tim, kuis, skor kemajuan individual, dan rekognisi
tim.
Dari pemaparan di atas dapat disimpilkan bahwa upaya peningkatan
keterampilan sosial dapat dilakukakan dengan metode bimbingan kelompok
berbasis cooperative learning dengan menggunakan teknik STAD.
B. Bimbingan Kelompok Berbasis Cooperative Learning
1. Pengertian Bimbingan Kelompok Berbasis Cooperative Learning
Menurut Rusmana (2009: 13) bimbingan kelompok didefinisikan
sebagai suatu proses pemberian bantuan kepada individu melalui suasana
kelompok yang memungkinkan setiap anggota untuk belajar berpartisipasi
aktif dan berbagi pengalaman dalam upaya mengembangkan wawasan,
22
sikap atau keterampilan yang diperlukan dalam upaya mencegah
timbulnya masalah atau dalam mengembangkan pribadi.
Ditambahkan oleh Dewa Ketut Sukardi (2008: 64) bahwa
bimbingan kelompok adalah layanan bimbingan yang memungkinkan
sejumlah peserta didik secara bersama-sama memperoleh berbagai bahan
dari narasumber tertentu (terutama dari pembimbing/ konselor) yang
berguna untuk menunjang kehidupannya sehari-hari baik individu maupun
pelajar, anggota keluarga dan masyarakat serta untuk pertimbangan dalam
pengambilan keputusan.
Winkel dan Sri Hastuti (2004: 547) Bimbingan Kelompok adalah
kegiatan kelompok diskusi yang menunjang perkembangan pribadi dan
perkembangan sosial masing-masing individu-individu dalam kelompok,
serta meningkatkan mutu kerja sama dalam kelompok guna aneka tujuan
yang bermakna bagi para partisipan.
Berdasarkan beberapa pengertian diatas, dapat disimpulkan
pengertian bimbingan kelompok adalah layanan bimbingan untuk
membantu siswa dalam situasi kelompok untuk pengembangan pribadi,
kemampuan hubungan sosial, kegiatan belajar, karir atau jabatan dan
pengambilan keputusan serta melakukan kegiatan tertentu melalui
dinamika kelompok dengan klasifikasi kelompok, yaitu kelompok kecil,
kelompok sedang, dan kelompok kelas.
Sedangkan, Cooperative learning atau pembelajaran kooperatif
adalah salah satu bentuk pembelajaran yang berdasarkan faham
23
konstruktivis. Cooperative learning merupakan strategi belajar dengan
sejumlah siswa sebagai anggota kelompok kecil yang tingkat
kemampuannya berbeda. Dalam menyelesaikan tugas kelompoknya, setiap
siswa anggota kelompok harus saling bekerja sama dan saling membantu
untuk memahami materi pelajaran. Dalam cooperative learning, belajar
dikatakan belum selesai jika salah satu teman dalam kelompok belum
menguasai bahan pelajaran. (Isjoni, 2007: 12)
Ditambahkan oleh Johnson (Isjoni, 2007: 15), bahwa cooperative
learning mengandung arti bekerja sama dalam mencapai tujuan bersama.
Dalam kegiatan cooperative, siswa mencari hasil yang menguntungkan
bagi seluruh anggota kelompoknya. Belajar cooperative adalah
pemanfaatan kelompok kecil untuk memaksimalkan belajar mereka dan
belajar anggota yang lain dalam kelompok itu.
Prosedur cooperative learning didesain untuk mengaktifkan siswa
melalui dan diskusi dalam kelompok kecil yang terdiri atas 4-6 orang
dengan struktur kelompok heterogen Slavin 1985, (Isjoni, 2007: 12).
Anita Lie (Isjoni, 2007: 16) menyebut cooperative learning dengan
istilah pembelajaran gotong – royong, yaitu sistem pembelajaran yang
memberi kesempatan kepada peserta didik untuk bekerja sama dengan
peserta siswa lain dalam tugas yang terstuktur. Lebih jauh dikatakan
cooperative learning hanya berjalan jika sudah terbentuk kelompok atau
suatu tim yang di dalamnya siswa bekerja secara terarah untuk mencapai
24
tujuan yang sudah ditentukan dengan jumlah anggota kelompok pada
umumnya terdiri atas 4-6 orang saja.
Dari beberapa pengertian yang dipaparkan oleh beberapa ahli,
dapat disimpulkan pengertian cooperative learning adalah suatu model
dalam melakukan pembelajaran dimana siswa akan dikelompokkan secara
heterogen dengan jumlah siswa 4 - 6 orang. Siswa akan belajar dan bekerja
secara kolaboratif dan bergotong royong sehingga dapat merangsang siswa
lebih bergairah dalam belajar serta mencapai kemampuan yang maksimal
dengan satu tujuan yang sama.
Berdasarkan pengertian di atas bimbingan kelompok berbasis
cooperative learning adalah suatu layanan bimbingan kelompok yang
membantu siswa dalam situasi kelompok untuk pengembangan pribadi,
kemampuan hubungan sosial, kegiatan belajar, serta melakukan kegiatan
tertentu melalui dinamika kelompok, dengan klasifikasi kelompok kecil.
Jumlah siswa dalam satu kelompok adalah 4-6 siswa dan dikelompokkan
secara heterogen. Siswa akan belajar dan bekerja secara kolaboratif dan
bergotong royong sehingga dapat merangsang siswa lebih bergairah dalam
belajar serta mencapai kemampuan yang maksimal dengan satu tujuan
yang sama.
25
2. Komponen Layanan Bimbingan Kelompok berbasis Cooperative
learning
Prayitno (2004: 4) menjelaskan bahwa dalam bimbingan kelompok
berperan dua pihak, yaitu pemimpin kelompok dan peserta atau anggota
kelompok.
a. Pemimpin Kelompok
Pemimpin kelompok (PK) adalah konselor yang terlatih dan
berwenang menyelenggarakan praktik konseling profesional.
Sebagaimana untuk jenis layanan konseling lainya, konselor memiliki
keterampilan khusus menyelenggarakan bimbingan kelompok
b. Anggota Kelompok
Tidak semua kumpulan orang atau individu dapat dijadikan anggota
bimbingan kelompok. Untuk terselenggaranya bimbingan kelompok
seorang konselor perlu membentuk kumpulan individu menjadi
sebuah kelompok yang memiliki persyaratan sebagaimana tersebut di
atas.
c. Dinamika Kelompok
Dalam kegiatan bimbingan kelompok dinamika bimbingan kelompok
sengaja ditumbuh kembangkan, karena dinamika kelompok adalah
hubungan interpersonal yang ditandai dengan semangat, kerja sama
antar anggota kelompok, saling berbagi pengetahuan, pengalaman dan
mencapai tujuan kelompok.
26
Berdasarkan pendapat diatas, dapat disimpulkan bahwa komponen
layanan bimbingan kelompok berbasis Cooperative learning dapat dibagi
menjadi tiga macam yaitu pemimpin Kelompok (konselor yang terlatih
dan berwenang menyelenggarakan praktik konseling profesional), anggota
kelompok (untuk terselenggaranya bimbingan kelompok seorang konselor
perlu membentuk kumpulan individu menjadi sebuah kelompok),
dinamika kelompok (hubungan interpersonal yang ditandai dengan
semangat, kerja sama antar anggota kelompok, saling berbagi
pengetahuan, pengalaman dan mencapai tujuan kelompok).
3. Tujuan Bimbingan Kelompok berbasis Cooperative Learning
Prayitno (1995: 178) mengemukakan tujuan bimbingan kelompok
antara lain;
a. Mampu berbicara di depan orang banyak.
b. Mampu mengeluarkan pendapat, ide, saran, tanggapan, perasaan dan
lain sebagainya kepada orang banyak.
c. Belajar menghargai pendapat orang lain.
d. Bertangung jawab atas pendapat yang dikemukakannya.
e. Mampu mengendalikan diri dan menahan emosi (gejolak kejiwaan
yang bersifat negatif).
f. Dapat bertenggang rasa.
g. Menjadi akrab satu sama lainnya.
h. Membahas masalah atau topik-topik umum yang dirasakan atau
menjadi kepentingan bersama.
Berdasarkan pendapat di atas dapat dilihat bahwa tujuan bimbingan
kelompok adalah mampu berbicara di depan orang banyak untuk
mengeluarkan pendapat, ide, saran, tanggapan, perasaaan, serta dapat
belajar menghargai pendapat orang lain dan bertanggung jawab atas
pendapat yang dikemukannya. Dalam sebuah diskusi atau percakapan
27
lainnya juga mampu mengendalikan diri dan menahan emosi, dapat
bertenggang rasa dan akrab satu dengan yang lainnya. Dengan demikian,
secara tidak langsung keterampilan sosial peserta didik perlahan akan
berkembang.
Menurut Erman Amti (1992: 108) bahwa tujuan bimbingan
kelompok terdiri dari tujuan umum dan tujuan khusus. Secara umum
bimbingan kelompok betujuan untuk membantu para siswa yang
mengalami masalah melalui prosedur kelompok. Selain itu juga
mengembangkan pribadi masing-masing anggota kelompok melalui
berbagai suasana yang muncul dalam kegiatan itu, baik suasana yang
menyenangkan maupun yang menyedihkan. Secara khusus bimbingan
kelompok bertujuan untuk:
a. Melatih siswa untuk berani mengemukakan pendapat di hadapan
teman-temannya.
b. Melatih siswa dapat bersikap terbuka di dalam kelompok.
c. Melatih siswa untuk dapat membina keakraban bersama teman-teman
dalam kelompok khususnya dan teman di luar kelompok pada
umumnya.
d. Melatih siswa untuk dapat mengendalikan diri dalam kegiatan
kelompok.
e. Melatih siswa untuk dapat bersikap tenggang rasa dengan oran lain.
f. Melatih siswa memperoleh keterampilan sosial.
28
g. Membantu siswa mengenali dan memahami dirinya dalam
hubungannya dengan orang lain.
Melihat definisi beberapa ahli tersebut dapat disimpulkan bahwa
tujuan bimbingan kelompok adalah untuk melatih siswa mengembangkan
kemampuan bersosialisasi, dan mewujudkan perilaku yang lebih efektif
serta meningkatkan kemampuan berkomunikasi baik verbal maupun non-
verbal. Pada penelitian ini bimbingan kelompok menggunakan metode
belajar cooperative learning dikarenakan memiliki tujuan yang sama dan
sesuai dengan tujuan penelitian ini yaitu peningkatan keterampilan sosial.
Hal ini di ungkapkan oleh Ibrahim, et al.2000 (Isjoni, 2010: 27) yaitu salah
satu tujuan penting cooperative learning adalah mengajarkan kepada
siswa keterampilan bekerjasama dan kolaborasi. Keterampilan-
keterampilan sosial penting dimiliki siswa, sebab saat ini banyak anak
muda masih kurang dalam keterampilan sosial.
4. Tahap-tahap Bimbingan Kelompok berbasis Cooperative Learning
Pada umumnya terdapat empat tahap perkembangan bimbingan
kelompok seperti yang dikemukakan oleh Prayitno (1995: 40), yaitu tahap
pembentukan, tahap peralihan, tahap pelaksanaan kegiatan dan tahap
pengakhiran. Selain keempat tahap ini, masih ada tahap yang disebut
dengan tahap awal. Tahap awal berlangsung sampai berkumpulnya para
calon anggota kelompok dan dimulainya tahap pembentukan. Tahap-tahap
ini merupakan suatu kesatuan dari seluruh kegiatan kelompok. Berikut ini
dijelaskan tahapan masing-masing.
29
a. Tahap Pertama Pembentukan
Tahap ini merupakan tahap pengenalan, tahap pelibatan diri atau
tahap memasukkan diri ke dalam kehidupan suatu kelompok. Pada tahap
ini para anggota saling memperkenalkan diri dan juga mengungkapkan
tujuan atau harapan-harapan yang ingin dicapai baik oleh masing-masing,
sebagian maupun seluruh anggota. Tahap ini merupakan masa keheningan.
Para anggota mulai mempelajari perilaku-perilaku dasar seperti:
menghargai, empati, penerimaan, perhatian dan menanggapi semua
perilaku yang membangun kepercayaan. Dalam tahap ini anggota
kelompok mulai belajar untuk terlibat dalam interaksi kelompok.
Fungsi dan tugas utama pemimpin selama tahap ini adalah
mengajarkan cara untuk berpartisipasi dengan aktif sehingga dapat
meningkatkan peluang mereka untuk mendapatkan kelompok yang
produktif. Selain itu, mengajarkan kepada anggota dasar hubungan antar
manusia seperti mendengarkan dan menanggapi secara efektif. Pemimpin
kelompok harus dapat memastikan semua anggota berpartisifasi dalam
interaksi kelompok sehingga tidak seorang pun yang merasa dikucilkan.
Prayitno (1995: 60) menyatakan bahwa kegiatan-kegiatan yang
harus dilakukan pada tahap awal adalah sebagai berikut.
1) Mengungkapkan pengertian dan tujuan kegiatan bimbingan
kelompok.
30
2) Menjelaskan cara-cara dan asas-asas kegiatan bimbingan kelompok.
3) Saling memperkenalkan dan mengungkapkan diri.
4) Permainan penghangatan/ pengakraban.
b. Tahap Kedua Peralihan
Pada tahap ini suasana kelompok mulai terbentuk dan dinamika
kelompok sudah mulai tumbuh. Karakteristik tahap peralihan/transisi
ini ditandai perasaan khawatir, defence (bertahan) dan berbagai
bentuk perlawanan. Pada kondisi demikian pemimpin kelompok perlu
memberikan motivasi dan reinforcment kepada anggota agar mereka
peduli tentang yang dipikirkan terhadapnya dan belajar
mengekspresikan diri sehingga anggota lain bisa mendengarkan.
Menurut Prayitno (1995: 47) kegiatan-kegiatan yang harus
dilakukan pada tahap ini adalah sebagai berikut.
1) Menjelaskan kegiatan yang akan ditempuh pada tahap
berikutnya.
2) Menawarkan atau mengamati kesiapan para anggotanya
menjalani kegiatan pada tahap selanjutnya (tahap ketiga).
3) Membahas suasana yang terjadi.
4) Meningkatkan kemampuan keikutsertaan anggota.
5) Apabila diperlukan kembali ke beberapa aspek tahap pertama
(tahap pembentukan).
c. Tahap Ketiga : Kegiatan
Tahap ini merupakan inti kegiatan kelompok sehingga aspek-
aspek yang menjadi isi pengiringnya cukup banyak. Pada kegiatan ini
saatnya anggota berpartisipasi untuk menyadari bahwa merekalah
yang bertanggung jawab atas kehidupan mereka. Mereka perlu
didorong untuk mengambil keputusan, pendapat dan tanggapan
31
mengenai topik atau masalah yang dihadapi untuk digali dalam
kelompok, dan belajar menjadi bagian kelompok yang integral
sekaligus memahami kepribadiannya sendiri dan juga dapat
memahami orang lain. Di samping itu mereka diharapkan dapat
menyaring umpan balik yang diterima dan membuat kesimpulan yang
komprehensif dari berbagai pendapat dan masukan-masukan dalam
pembahasan kelompok dan memutuskan yang harus dilakukannya
nanti.
Fungsi utama pemimpin kelompok pada tahap ini adalah
memberikan penguatan secara sistematis dari tingkah laku kelompok
yang diinginkan. Selain itu dapat memberikan dukungan pada
kesukarelaan anggota untuk mengambil resiko dan mengarahkan
untuk menerapkan tingkah laku dalam kehidupan sehari-hari.
Kegiatan-kegiatan yang harus dilakukan pada tahap ini adalah
sebagai berikut.
1) Masing-masing anggota secara bebas mengemukakan
pendapat terhadap topik/masalah.
2) Menetapkan topik/masalah yang akan dibahas terlebih
dahulu.
3) Anggota membahas masing-masing topik/masalah secara
mendalam dan tuntas.
4) Kegiatan selingan.
32
Pada tahap ini anggota membahas masing-masing topik/masalah
secara mendalam dan tuntas, dalam pelaksanaannya metode cooperative
learning ini akan diterapkan. Pembahasan topik atau masalah dilakukan
berbasis cooperative learning. Metode cooperative learning mempunyai 5
teknik sesuai menurut pendapat Slavin (2005: 11) metode yang digunakan
dalam pembelajaran cooperative learning antara lain:
a) Student Team-Achievement Division (STAD)
b) Team Games-Tournament (TGT)
c) Jigsaw II (adaptasi dari teknik teka-teki Elliot Aronson 1978)
d) Team Accelerated Instruction (TAI)
e) Cooperative Integrated Reading and Composition (CIRC)
Dari beberapa metode pembelajaran cooperative learning diatas,
dalam penelitian ini peneliti akan menggunakan metode STAD. STAD
merupakan salah satu metode cooperative learning yang paling sederhana,
dan merupakan model yang paling baik untuk permulaan bagi para guru
yang baru menggunakan pendekatan kooperatif. STAD terdiri atas lima
komponen utama, yaitu, presentasi kelas, tim, kuis, skor kemajuan
individual, rekognisi tim (Slavin, 2005: 143):
(1) Presentasi kelas
Materi dalam STAD pertama-tama diperkenalkan dalam presentasi
di dalam kelas. Ini merupakan pengajaran langsung seperti yang sering
kali dilakukan atau diskusi pelajaran yang dipimpin oleh guru. Bedanya
presentasi kelas dengan pengajaran biasa hanyalah bahwa presentasi
33
tersebut haruslah benar-benar berfokus pada unit STAD. Dengan cara ini,
para siswa akan menyadari bahwa mereka harus benar-benar member
perhatian penuh selama presentasi kelas, karena dengan demikian akan
sangat membantu mereka mengerjakan kuis-kuis dan skor kuis mereka
menentukan skor tim mereka.
(2) Tim
Tim terdiri dari 4-5 siswa yang mewakili sekuruh bagian dari kelas
dalam hal kinerja akademik, jenis kelamin, ras, dan etnisitas. Fungsi utama
dari tim ini adalah memastikan bahwa semua anggota timm benar-benar
belajar, dan lebih khususnya lagi, adalah untuk mempersiapkan
anggotanya untuk bisa mengerjakan kuis dengan baik. Setelah guru
menyampaikan materinya, tim berkumpul untuk mempelajari lembar-
kegiatan atau materi lainnya. Yang paling sering terjadi, pembelajaran itu
melibatkan pembahasan permasalah bersama, membandingkan jawaban,
dan mengoreksi tiap kesalahan pemahaman apabila anggota tim ada yang
membuat kesalahan.
Tim adalah fitur yang paling penting dalam STAD. Pada tiap
poinnya, yang ditekankan adalah membuat anggota tim melakukan yang
terbaik untuk membantu tiap anggotanya. Tim ini memberikan dukungan
kelompok bagi kinerja akademik penting dalam pembelajaran, dan itu
adalah untuk memberikan perhatian dan respek yang mutual yang penting
untuk akibat yang dihasilkan seperti hubungan antar kelompok, rasa harga
diri, penerimaan terhadap siswa-siswa lain.
34
(3) Kuis
Setelah sekitar satu atau dua periode setelah guru memberikan
presentasi dan sekitar satu atau dua periode praktik tim., para siswa akan
mengerjakan kuis individual. Para siswa tidak diperbolehkan untuk saling
membantu dalam mengerjakan kuis, sehingga tiap siswa bertanggung
jawab secara individual untuk memahami materinya.
(4) Skor kemajuan individual
Gagasan dibalik skor kemajuan individual adalah untuk memberikan
kepada tiap siswa tujuan kinerja yang akan dapat dicapai apabila mereka
bekerja lebih giat dan memberikan kinerja yang lebih baik daripada
sebelumnya. Tiap siswa dapat memberikan kontribusi poin yang maksimal
kepada timnya dalam system skor ini, tetapi tak ada siswa yang dapat
melakukannya tanpa memberikan usaha mereka yang terbaik. Tiap siswa
diberikan skor “awal”, yang diperoleh dari rata-rata kinerja siswa tersebut
sebelumnya dalam mengerjakan kuis yang sama. Siswa selanjutnya akan
mengumpulkan poin untuk tim mereka berdasarkan tingkat kenaikan skor
kuis mereka dibandingkan dengan skor awal mereka.
(5) Rekognisi tim
Tim akan mendapatkan sertifikat atau bentuk penghargaan yang lain
apabila skor rata-rata mereka mencapai criteria tertentu. Skor tim siswa
dapat juga digunakan untuk menentukan dua puluh persen dari peringkat
mereka.
35
STAD dapat digunakan bersama materi-materi kurikulum yang
dirancang khusus untuk Pembelajaran Tim Siswa yang disebarluaskan oleh
John Hopkins Team Learning Project atau dapat digunakan bersama-sama
materi yang diadaptasi dari buku teks atau sumber-sumber terbitan lainnya
atau bisa juga dengan materi yang dibuat oleh guru. Materi John Hopkins
tersedia untuk bidang studi Matematika mulai dari kelas dua sampai
sepuluh, Seni Berbahasa mulai dari kelas tiga sampai kelas delapan,
sekolah menengah pertama dan Ilmu Fisika, dan topik-topik lainnya.
Membagi para Siswa ke Dalam Tim. Seperti yang sudah kita lihat,
tim-tim STAD mewakili seluruh bagian didalam kelas. Di dalam kelas
yang terdiri dari separuh laki-laki, separuh perempuan, tiga perempat kulit
putih, dan seperempat minoritas boleh saja membentuk Tim yang terdiri
dari empat orang yang gterdiri dari dua laki-laki dan dua perempuan, dan
tiga siswa kulit putih serta satu siswa minoritas. Tim tersebut juga harus
terdiri dari seorang siswa berprestasi tinggi, seorang siswa berprestasi
rendah, dan dua lainnya yang berprestasi sedang. Tentunya, breprestasi
tinggi adalah sebuah terminologi yang relatit: ini berarti tinggi untuk kelas
yang bersangkutan, tidak perlu tinggi bila dibandingkan dengan norma-
norma nasional.
STAD terdiri atas sebuah siklus kegiatan regular (Slavin, 2005:
151), sebagai berikut:
a) Mengajar (menyampaikan pelajaran).
Gagasan utama: menyampaikan pelajaran
36
Materi yang dibutuhkan: Rencana pelajaran
Tiap pelajaran dalam STAD dimulai dengan presentasi pelajaran
tersebut di dalam kelas. Presentasi tersebut haruslah mencakup
pembukaan, pengembangan, dan pengarahan-praktis tiap komponen
dari keseluruhan pelajaran.
(1) Pembukaan
(a) Sampaikan pada siswa apa yang akan mereka pelajari dan
mengapa hal itu penting. Tumbuhkan rasa ingin tahu para
siswa dengan cara penyampaian yang berputar-putar, masalah
dalam kehidupan nyata, dan sarana-sarana lainnya.
(b) Anda bisa saja membuat para siswa bekerja dalam tim
mereka untuk „menemukan” konsep-konsep atau
mengbangkitkan minat mereka terhadap pelajaran.
(c) Ulangi tiap persyaratan atau informasi secara singkat.
(2) Pengembangan
(a) Tetaplah selalu pada hal-hal yang anda ingin agar dipelajari
para siswa.
(b) Fokuskan pada pemaknaan bukan penghapalan.
(c) Demonstrasikan secara aktif konsep-konsep atau skill-skill
dengan menggunakan alat bantu visual, cara-cara cerdik,
dan contoh yang banyak.
(d) Nilailah siswsa sesering mungkin dengan member banyak
pertanyaan.
37
(e) Jelaskan mengapa sebuah jawaban bisa salah atau benar
kecuali jika memang sudah sangat jelas.
(f) Berpindahlah pada konsep berikutnya begitu para siswa
telah menangkap gagasan utamanya.
(g) Peliharalah momentum dengan menghilangkan interupsi
terlalu banyak bertanya, dan berpindah bagian pelajaran
terlalu cepat.
(3) Pedoman Pelaksanaan
(a) Buatlah para siswa mengerjakan tiap persoalan atau contoh
atau mempersiapkan jawaban terhadap pertanyaan yang
anda berikan.
(b) Panggil siswa secara acak. Ini akan membuat para siswa
selalu mempersiapkan diri mereka untuk menjawab.
(c) Pada saat ini jangan memberikan tugas-tugas kelas yang
memakan waktu lama. Buatlah agar para siswa
mengerjakan atu atau dua permasalahan atau contoh, atau
mempersiapkan satu atau dua jawaban, lalu berikan mereka
umpan balik.
b) Belajar Tim (para siswa bekerja dengan lembar kegiatan dalam tim
mereka untuk menguasai materi).
Gagasan utama : para siswa belajar dalam tim mereka
Materi yang dibutuhkan : Dua lembar kegiatan untuk tiap tim
Dua lembar jawaban untuk tiap tim
38
Selama masa belajar tim, tugas para anggota tim adalah menguasai
materi yang anda sampaikan di dalam kelas dan membantu teman
sekelasnya untuk menguasai materi tersebut. Para siswa mempunyai
lembar kegiatan dan lembar jawaban yang dapat mereka gunakan
untuk melatih kemampuan selama prosespengajaran dan menilai diri
mereka sendiri dan teman sekelasnya. Hanya dua kopian dari lembar
kegiatan dan lembar jawaban yang diberikan kepada tiap tim ini akan
mendorong teman satu tim untuk bekerja sama, tetapi bila ada siswa
yang ingin punya kopian sendiri, anda bisa menyediakan kopian
tambahan.
(1) Tes (para siswa mengerjakan kuis-kuis individual).
Gagasan utama : kuis individual
Materi yang dibutuhkan : satu kuis tiap anak
(2) Bagikan kuisnya dan berikan waktu yang sesuai kepada para siswa
untuk menyelesaikannya. Jangan biarkan para siswa bekerja sama
mengerjakan kuis tersebut.
(3) Biarkan siswa saling bertukar kertas dengan anggota tim lain,
ataupun mengumpulkan kuisnya untuk dinilai setelah kelas selesai.
Pastikan skor kuis dan skor tim dihitung tepat pada waktunya untuk
digunakan pada kelas selanjutnya.
c) Rekognisi Tim (skor tim dihitung berdasarkan skor kemajuan yang
dibuat tiap anggota tim).
39
Gagasan utama : menghitung skor kemajuan individual dan skor
tim dan memberikan sertifikat atau bentuk
penghargaan tim lainnya.
Menghitung Skor Individual Tim
Sesegera mungkin setelah melakukan tiap kuis, hitunglah skor
kemajuan individual dan skor tim, dan berilah sertifikat atau
bentuk penghargaan lainnya kepada tim dengan skor tertinggi.
Poin kemajuan. Para siswa mengumpulkan poin untuk tim mereka
berdasarkan tingkat di mana skor kuis mereka (presentase yang
benar) melampaui skor awal mereka:
Skor kuis Poin kemajuan
Lebih dari 10 poin di bawah skor awal 5
10-1 poin dibawah skor awal 10
Skor awal sampai 10 poin di atas skor awal 20
Lebih dari 10 poin diatas skor awal 30
Kertas jawaban sempurna (terlepas dari skor awal) 30
Skor tim
Untuk menghitung skor tim, catatlah tiap poin kemajuan setiap
semua anggota tim pada lembar rangkuman tim dan bagilah jumlah
total poin kemajuan seluruh anggota tim dengan jumlah anggota
tim yang hadir, bulatkan semua pecahan. Untuk diingat bahwa skor
tim lebih tergantung pada skor kemajuan daripada skor kuis awal.
d) Merekognisi Prestasi Tim
40
Tiga macam tingkatan penghargaan diberikan di sini. Ketiganya
didasarkan pada rata-rata skor tim, sebagai berikut:
Penghargaan
TIM BAIK
TIM SANGAT BAIK
TIM SUPER
e) Mengembalikan Kuis Set Yang Pertama
Saat anda mengembalikan kuis-kuis set yang pertama (dengan skor
awal, skor kuis, dan poin kemajuan) kepada para siswa, anda akan
perlu menjelaskan system poin kemajuan. Dalam penjelasan anda,
tekankanlah hal-hal sebagai berikut:
(1) Tujuan utama dari sistem poin kemajuan adalah memberikan
kepada semua orang skor minimum untuk bisa dilampauin dan
untuk membuat skor minimum sebelumnya tersebut menjadi dasar
sehingga semua siswa akan mempunyai kesempatan yang sama
untuk sukses jika mereka bisa melakukan yang terbaik dalam
bidang akademik.
(2) Para siswa harus menyadari bahwa skor tiap orang dalam tim
mereka adalah penting bahwa semua anggota tim dapat
mengumpulkan poin kemajuan maksimal jika mereka bisa
melakukan yang terbaik.
41
(3) System poin kemajuan ini sifatnya adil karena tiap orang hanya
berkompetisi dengan dirinya sendiri. Berusaha untuk
meningkatkan kinerja mereka. Terlepas dari apa yang dilakukan
oleh anak lain di kelas tersebut.
f) Menghitung Skor Awal
Pada setia periode yang telah ditentukan (atau sesering yang anda
inginkan), hitung kembali skor kuis rata-rata siswa pada semua kuis
dan berikan skor awal baru siswa.
g) Mengubah Tim
Setelah 4 atau 5 minggu melakukan STAD atau pada akhir tiap periode
ysng telah ditentukan, tempatkan kembali para siswa ke dalam tim
yang baru. Ini memberikan kesempatan baru kepada siswa yang
mempunyai skor tim rendah, biarkan siswa bekerja dengan teman
sekelasnya yang lain, dan agar programnya tetap segar.
h) Memberi Penilaian
Kartu laporan penilaian harus didasarkan pada skor kuis actual para
siswa, bukan pada poin kemajuan atau skor tim mereka. Sebagian
guru, khusunya di SMU, memberikan lima poin untuk bonus (pada
skal poin 100) kepada para siswa dari Tim Super, dan tiga poin kepada
para siswa dari Tim Sangat Baik. Akan tetapi, nilai kartu laporan siswa
harus terpisah dari skor tim mereka, karena para siswa dan orang tua
mereka akan melihat nilai kelompok itu sebagai sesuatu yang kurang
42
adil (khususnya jika skor tim menurunkan nilai siswa berprestasi
tinggi).
Setelah proses ini selesai maka akan dilakukan selingan guna
menghilangkan kejenuhan atau kepenatan siswa. Lalu semua tahap
ketiga selesai maka tinggal melakukan tahap akhir yaitu pengakhiran.
d. Tahap Keempat : Pengakhiran
Tahap ini merupakan tahap konsolidasi dan terminasi. Perhatian
utama adalah bukan pada berapa kali kelompok itu harus bertemu
namun pada hasil yang telah dicapai oleh kelompok ketika
menghentikan permainan atau latihan. Pada saat memasuki tahap
pengakhiran, kegiatan kelompok sebaiknya dipusatkan pada
pembahasan tentang kemampuan anggota kelompok untuk
menerapkan hal-hal yang telah dipelajari pada kehidupan anggota
sehari-hari. Selama tahap akhir kelompok akan muncul sedikit
kecemasan dan kesedihan terhadap kenyataan perpisahan. Para
anggota memutuskan tindakan-tindakan yang harus mereka ambil.
Tugas utama yang dicapai para anggota selama tahap akhir yaitu
mentransfer yang telah mereka pelajari dalam kelompok ke dunia luar.
Peranan pemimpin kelompok adalah tetap mengusahakan
suasana yang hangat, memberikan pernyataan dan mengucapkan
terima kasih atas keikutsertaan anggota serta memberi semangat untuk
kegiatan lebih lanjut dengan penuh rasa persahabatan dan simpati.
Selain itu fungsi pemimpin kelompok pada tahap ini adalah
43
memperjelas arti dari tiap pengalaman yang diperoleh melalui
kelompok dan mengajak para anggota untuk menerapkan dalam
kehidupan sehari-hari serta menekankan kembali akan pentingnya
pemeliharaan hubungan antar anggota setelah kelompok berakhir.
Kegiatan-kegiatan yang harus dilakukan pada tahap ini sebagai
berikut:
1) Pemimpin kelompok menyatakan bahwa kegiatan akan segera
diakhiri.
2) Pemimpin dan anggota kelompok mengemukakan kesan dan hasil-
hasil kegiatan.
3) Membahas kegiatan lanjutan.
4) Mengemukakan pesan dan harapan.
Setelah semua tahap di atas terlaksana kemudian diadakan evaluasi
dan follow up. Follow Up dapat dilaksanakan secara kelompok maupun
secara individual. Pada kegiatan tindak lanjut ini para anggota kelompok
dapat membicarakan tentang upaya-upaya yang telah ditempuh. Mereka
dapat melaporkan tentang kesulitan-kesulitan yang mereka temui, berbagai
kesukacitaan dan keberhasilan dalam kelompok. Para anggota kelompok
menyampaikan tentang pengalaman mereka dan hasilnya selama mengikuti
kegiatan bimbingan kelompok dalam kehidupan sehari- hari. Pemimpin
kelompok dapat mengadakan evaluasi dengan memberikan pertanyaan atau
wawancara dengan batas tertentu dan melihat penguasaan anggota terhadap
topik yang dibicarakan.
44
C. Kajian Tentang Remaja
1. Pengertian Remaja
Menurut Santrock (2003: 26) masa perkembangan remaja atau
adolescence adalah masa transisi antara masa anak dan dewasa yang
mencakup perubahan biologis, kognitif, sosial. Rita Eka Izzaty dkk (2008:
123) menjelaskan kata remaja diterjemahkan dari kata dalam bahasa inggris
adolescence atau adolecere (bahasa latin) yang berarti tumbuh untuk masak,
menjadi dewasa. Definisi remaja menurut Sarlito Wirawan Sarwono (2005:
9) yaitu:
Remaja adalah suatu masa ketika: individu berkembang dari saat
pertama kali ia menunjukkan tanda-tanda seksual sekudernya sampai saat ia
mencapai kematangan seksual; Individu mengalami perkembangan
psikologis dan pola identifikasi dari anak-anak mencapai dewasa; Terjadi
peralihan dan ketergantungan sosial ekonomi yang penuh kepada keadaan
yang relatif lebih mandiri.
Santrock (2003: 26) menyatakan masa remaja kira-kira dari usia 10
sampai 13 tahun dan berakhir pada usia 18 sampai 22 tahun. Sedangkan
Hurlock (1991: 206) menyatakan awal masa remaja terjadi pada usia 13
tahun sampai 16 tahun atau tujuh belas tahun, dan remaja akhir berlangsung
dari usia 16 atau 17 tahun sampai 18 tahun, yaitu usia mata secara hukum.
Bila remaja dibagi menjadi dua bagian remaja awal dan akhir, maka remaja
awal berada di usia 13 tahun sampai 18 tahun, sedangkangkan remaja akhir
berada dalam usia 18 tahun sampai 22 tahun.
Jadi berdasarkan uraian diatas defnisi remaja, dapat disimpulkan
bahwa remaja adalah masa transisi dari anak-anak ke dewasa yang ditandai
45
oleh berkembangnya psikologis dan terjadi perubahan biologis dan dapat
berinteraksi dengan lingkungan sosialnya secara mandiri.
2. Tugas Perkembangan Remaja
Masa remaja adalah masa yang sangat menentukan karena pada
masa ini anak-anak banyak mengalami perubahan perkembangan pada fisik
dan psikisnya, oleh karena itu tugas perkembngan pada masa remaja
menuntut remaja untuk melakukan perubahan besar dalam sikap dan pola
perilaku mereka.
Menurut Havighurst, dalam Hurlock (1991: 10) tugas perkembangan
masa remaja adalah:
a. Mencapai hubungan sosial yang lebih matang dengan teman-teman
sebayanya, baik dengan teman-teman sejenis maupun dengan jenis
kelamin lain.
b. Dapat menjalankan peranan sosial menurut jenis kelamin masing-masing,
artinya mempelajari dan menerima peranan masing-masing sesuai
dengan ketentuan-ketentuan/ norma-norma masyarakat.
c. Menerima kenyataan (realitas) jasmaniah serta menggunakannya
seefektif-efektifnya dengan perasaan puas.
d. Memperlihatkan tingkah laku yang secara sosial dapat dipertanggung
jawabkan. Artinya ikut serta dalam kegiatan-kegiatan sosial sebagai
orang dewasa yang bertanggung jawab, menghormati serta mentaati
nilai-nilai sosial yang berlaku dalam lingkungannya, baik regional
maupun nasional.
46
e. Memilih dan mempersiapkan diri untuk pekerjaan atau jabatan. Artinya
belajar memilih suatu jenis pekerjaan sesuai dengan bakatnya dan
mempersiapkan diri untuk pekerjaan tersebut.
f. Mempersiapkan diri untuk melakukan perkawinan dan hidup berumah
tangga.
g. Memperoleh sejumlah norma-norma sebagai pedoman dalam tindakan-
tindakannya dan sebagai pandangan hidupnya.
Senada dengan pendapat Havighurst, William Kay dalam (Syamsu
Yusuf, 2004: 72) mengungkapkan bahwa tugas-tugas perkembangan remaja
meliputi :
a. Menerima fisiknya sendiri berikut keragaman kualitasnya.
b. Mencapai kemandirian emosional dari orang tua atau figur-figur yang
mempunyai otoritas.
c. Mengembangkan keterampilan komunikasi interpersonal dan belajar
bergaul dengan teman sebaya atau orang lain, baik secara individual
maupun kelompok.
d. Menemukan manusia model yang dijadikan identitasnya.
e. Menerima dirinya sendiri dan memiliki kepercayaan terhadap
kemampuannya sendiri.
f. Memperkuat self-control (kemampuan mengendalikan dirinya) atas dasar
skala nilai, prinsip-prinsip atau falsafah hidup (Weltanschauung).
g. Mampu meninggalkan reaksi dan penyesuaian diri (sikap/perilaku)
kekanak-kanakan.
Menurut William W. Wattenberg, (Andi Mapiarre, 1982: 106-109)
tugas perkembangan remaja awal adalah sebagai berikut:
a. Memiliki kemampuan mengkontrol diri sendiri seperti orang dewasa.
Remaja awal diharapkan dapat mengadakan pengkontrolan diri
sendiri (self control) atas perbuatan-perbuatanya. Tugas perkembangan
47
yang pertama timbul karena remaja telah bertambah pekerjaan atau
perbuatan yang dilakukan seperti orang dewasa.
b. Memperoleh kebebasan.
Merupakan satu diantara tugas perkembangan penting bagi
remaja awal. Berarti remaja awal diharapkan belajar dan berlatih bebas
membuat rencana, bebas menentukan pilihan dan bebas membuat
keputusan-keputusan itu serta tanggung jawab diri sendiri atas keputusan
dan pelaksana keputusannya.
c. Bergaul dengan lawan jenis.
Remaja awal sadar bahwa dirinya ada rasa simpati, rasa tertarik
untuk selalu bersama-sama dengan lawan jenis. Tetapi mereka umumnya
masih ada ragu. Apa dirinya juga membuat lawan jenisnya tertarik atau
tidak.
d. Mengembangkan keterampilan baru untuk mempersiapkan diri
memasuki masa dewasa.
Masa remaja seseorang diharapkan berlatih dan mengembangkan
ketrampilan baru yang sesuai dengan tuntutan hidup dan pergaulannya
dalam masa dewasa kelak.
e. Memiliki citra diri yang realistik.
Masa remaja diharapkan dapat memberikan penilaian terhadap
keadaan dirinya secara apa adanya. Mereka diharapkan dapat mengukur
atau menafsirkan apa-apa yang lebih dan kurang pada dirinya secara
48
cepat menerima apa adanya diri mereka, memelihara dan memanfaatkan
secara positif.
Dari paparan dari para ahli tentang tugas perkembangan masa remaja
dapat disimpulkan bahwa tugas perkembangan remaja merupakan tugas-
tugas apa saja yang harus dikerjakan oleh remaja untuk mencapai tingkat
kedewasaannya. Tugas perkembangan remaja bisa dikatakan berhasil
dikerjakan apabila tidak ada hambatan dari dalam individu sendiri maupun
lingkungannya.
3. Karakteristik Siswa SMP sebagai Remaja
a. Karakteristik fisik remaja
Pesatnya pertumbuhan fisik pada masa remaja sering menimbulkan
kejutan pada diri remaja itu sendiri. Pertumbuhan fisik pada usia remaja ini
akan ditandai dengan kematangan organ seks primer maupun organ seks
sekunder. Organ seks primer menentukan organ yang langsung berhubungan
dengan proses reproduksi. Sedangkan organ kelamin sekunder merupakan
tanda-tanda yang tak langsung tetapi menunjukkan ciri khas pria dan wanita.
Anak wanita dalam pemasakan seksual mempunyai urutan dimulai
oleh tanda-tanda sekunder terlebih dahulu, khususnya puting susu sekitar
usia 8-13 tahun, selanjutnya datangnya menarche atau haid pertama. Pada
pria tanda seks primer ditandai tumbuhnya testis pada usia sekitar 9-14
tahun dan diikuti dengan keluarnya air mani yang pertama atau ejakulasi
atau mimpi basah. Baru sekitar usia 15-16 tahun mengalami perubahan
suara (tanda kelamin sekunder).
49
Sri Rumini dan Siti Sundari (2004: 63) menjelaskan pertumbuhan
tinggi/panjang tubuh pria dan wanita hingga umur 9 tahun dapat dikatakan
berjalan sama. Sesudah itu itu mulai permulaan percepatan pertumbuhan
wanita, sedang percepatan pada anak pria lebih kemudian.
Sri Rumini (2000: 36) menegaskan tanda-tanda kelamin sekunder
yang nampak pada remaja seperti: pertumbuhan rambut pada wanita
terutama pada kepala, ketiak dan kemaluan. Selain itu tumbuh pula
payudara dan pelebaran pinggul. Pada pria tumbuh kumis, janggut,
jampang, kaki, tangan, kemaluan dan kadang-kadang pada dada. Terjadi
pula pelebaran pundak dan perubahan suara. Tanda-tanda kelamin tersebut
menunjukkan penampilan khas wanita atau pria.
Berdasarkan beberapa pandangan ahli di atas, dapat disimpulkan
bahwa perkembangan fisik remaja ditandai dengan matangnya organ
kelamin sekunder meliputi tumbuhnya rambut di kepala, ketiak dan
kemaluan serta tumbuhnya payudara dan melebarnya pinggul pada wanita.
Pada laki-laki tumbuhnya kumis, janggut, jampang, kaki, tangan, kemaluan
kadang-kadang pada dada, pelebaran pundak dan perubahan suara. Mulai
berfungsinya organ kelamin primer ditandai dengan menstruasi untuk
remaja wanita dan mimpi basah pada remaja laki-laki.
b. Karakteristik emosi remaja
Hurlock (2005: 212-213) mengemukakan bahwa remaja
mengalami ketegangan emosi yang meninggi sebagai akibat dari
perubahan fisik dan kelenjar. Adapun meningginya emosi terutama
50
karena anak laki-laki dan perempuan berada di bawah tekanan sosial dan
menghadapi kondisi baru, sedangkan selama masa kanak-kanak ia kurang
mempersiapkan diri untuk menghadapi keadaan-keadaan itu.
Remaja yang merupakan masa peralihan dari masa anak-anak dan
masa dewasa, statusnya menjadi agak kabur, baik bagi dirinya maupun
bagi lingkungannya. M. Ali dan M. Asrori (2005: 67), mengibaratkan
terlalu besar untuk serbet, terlalu kecil untuk taplak meja karena sudah
bukan anak-anak lagi, tetapi juga belum dewasa. Masa remaja biasanya
memiliki energi yang besar, emosi yang berkobar-kobar, sedangkan
pengendalian diri belum sempurna.
Hurlock (2005: 213) menyatakan pola emosi masa remaja sama
dengan pola emosi masa kanak-kanak. Perbedaannya terletak pada
rangsangan yang membangkitkan emosi dan derajat, dan khususnya pada
pengendalian latihan individu terhadap ungkapan emosi mereka.
Misalnya, perlakuan sebagai “anak kecil” atau secara “tidak adil”
membuat remaja sangat marah dibandingkan dengan hal-hal lain. Remaja
tidak lagi mengungkapkan amarahnya dan dengan cara gerakan amarah
yang meledak-ledak, melainkan dengan menggerutu, tidak mau
berbicara, atau dengan suara keras mengkritik orang-orang menyebabkan
amarah. Remaja juga iri hati terhadap orang yang memiliki benda lebih
banyak. Ia tidak mengeluh dan menyesali diri sendiri, seperti yang
dilakukan anak-anak. Remaja suka bekerja sambilan agar dapat
memperoleh uang untuk membeli barang yang diinginkan atau bila perlu
51
berhenti sekolah untuk mendapatkannya.
Berdasarkan beberapa pandangan ahli di atas, dapat disimpulkan
bahwa perkembangan emosi remaja sering berubah-ubah. Perubahan
emosi ini sangat dipengaruhi oleh lingkungan remaja.
c. Karakteristik kognitif atau inteligensi remaja
Jean Piaget (Agus Dariyo, 2004: 53) mengemukakan bahwa
inteligensi atau kecerdasan adalah kemampuan mental (aktivitas mental
atau mental activity) untuk beradapsi (menyesuaikan diri) dan mencari
keseimbangan dalam hidupnya. Lingkungan hidup ini terdiri atas
lingkungan fisik maupun lingkungan sosial. Masa remaja adalah masa
transisi dari kognitif operasional konkret berkembang menjadi
operasional formal.
Bracee dan Bracee (Agus Dariyo, 2004: 57) ciri-ciri
perkembangan kognitif operasi formal antara lain:
1) Individu telah memiliki pengetahuan gagasan inderawi yang cukup
baik.
2) Individu mampu memahami hubungan antara 2 (dua) ide atau lebih.
3) Individu dapat melaksanakan tugas tanpa perintah atau instruksi dari
gurunya.
4) Individu dapat menjawab secara praktis (applied), menyeluruh
(comprehensive), mengartikan (interpretative) suatu informasi yang
dangkal.
Santrock (Agus Dariyo, 2004: 57) menyatakan perkembangan
kognitif remaja dibandingkan dengan masa anak-anak terdapat perbedaan
pada ciri-ciri tahap operasi formal yaitu meliputi aspek berpikir abstrak,
idealistis, maupun logika. Secara rinci dapat dijelaskan sebagai berikut:
1) Abstrak. Remaja mulai berpikir lebih abstrak (teoritis) daripada anak-
52
anak. Kemampuan berpikir abstrak, menurut Turner dan Helm ialah
kemampuan untuk menghubungkan berbagai ide, pemikiran atau konsep
pengertian guna menganalisis, dan memecahkan masalah yang ditemui
dalam kehidupan formal maupun non formal. Remaja pada kondisi ini
dapat memecahkan masalah masalah yang abstrak, misalnya: persamaan
aljabar.
2) Idealistis. Remaja sering berpikiran dengan ketidakmungkinan. Mereka
berpikir secara ideal (das sollen) mengenai diri sendiri, orang lain,
maupun masalah-masalah sosial kemasyarakatan yang ditemui dalam
hidupnya. Ketika menghadapi hal-hal yang tidak benar (tidak beres),
maka remaja mengkritik agar hal itu segera diperbaiki dan menjadi
benar kembali.
3) Logika. Remaja mulai berpikir seperti seorang ilmuwan. Remaja mulai
mampu membuat suatu perencanaan untuk memecahkan suatu masalah.
Kemudian remaja mampu mencari cara pemecahan itu secara runtut,
teratur, dan sistematis.
Berdasarkan beberapa pandangan ahli di atas, dapat disimpulkan
bahwa perkembangan kognitif atau inteligensi remaja mulai masuk dalam
tahap operasional formal. Dalam tahap ini remaja sudah mulai berpikir
abstrak, idealistis, maupun logika.
d. Karakteristik Sosial
Hurlock (1991: 213) mengemukakan bahwa salah satu tugas
perkembangan masa remaja yang tersulit adalah penyesuaian sosial.
53
Remaja harus menyesuaikan diri dengan lawan jenis dalam hubungan yang
sebelumnya belum pernah ada dan harus menyesuaikan dengan mencapai
tujuan dari pola sosialisasi dewasa. Yang terpenting dan tersulit adalah
penyesuaian diri dengan meningkatnya pengaruh kelompok sebaya,
perubahan dalam perilaku sosial, pengelompokan sosial yang baru, nilai-
nilai baru dalam seleksi persahabatan, nilai baru dalam sosial.
Panut dan Ida Umami (2005: 133) menyatakan bahwa kelompok
sebaya mempunyai peranan yang sangat penting dalam penyesuaian diri
remaja, dan persiapan bagi kehidupannya di masa yang akan datang dan
juga berpengaruh terhadap perilaku dan pandangannya. Remaja pada umur
ini sedang berusaha bebas dari keluarga dan tidak tergantung kepada orang
tua. Selain itu, secara sosial remaja menghadapi konflik antara ingin bebas
dan ingin mandiri serta ingin nyaman. Oleh karena itu, remaja memerlukan
orang yang dapat memberikan rasa nyaman yang hilang dan dorongan
kepada rasa bebas yang dirindukannya.
Lebih lanjut Agus Dariyo (2004: 91) memaparkan sejumlah
karakteristik menonjol dari perkembangan sosial remaja, yaitu:
1) Berkembangnya kesadaran akan kesunyian dan dorongan pergaulan.
Ini sering kali menyebabkan remaja memiliki solidaritas yang amat
tinggi dan kuat dengan kelompok sebayanya, jauh melebihi dengan
kelompok lain; bahkan dengan orang tuanya sekalipun. Untuk itu,
remaja perlu diberikan perhatian intensif dengan cara melakukan
interaksi dan komunikasi secara terbuka dan hangat kepada mereka.
2) Adanya upaya memilih nilai-nilai sosial. Ini menyebabkan remaja
senantiasa mencari nilai-nilai yang dapat dijadikan pegangan. Dengan
demikian, jika tidak menemukannya cenderung menciptakan nilai-
nilai khas kelompok mereka sendiri. Untuk itu, orang dewasa dan
orang tua harus menunjukkan konsistensi dalam memegang dan
menerapkan nilai-nilai dalam kehidupannya.
54
3) Meningkatnya ketertarikan pada lawan jenis, menyebabkan remaja
pada umumnya berusaha keras memiliki teman dekat dari lawan
jenisnya atau pacaran. Untuk itu, remaja perlu diajak berkomunikasi
secara rileks dan terbuka untuk membicarakan hal-hal yang
berhubungan dengan lawan jenis.
4) Mulai tampak kecenderungannya untuk memilih karir tertentu,
meskipun sebenarnya perkembangan karir remaja masih berada pada
taraf pencarian karir. Untuk itu, remaja perlu diberikan wawasan karir
dy ,isertai dengan keunggulan dan kelemahan masing-masing jenis
karir tersebut.
Berdasarkan beberapa pendapat ahli di atas, dapat disimpulkan
bahwa perkembangan sosial remaja mulai menyesuaikan diri, bergaul
dengan kelompok sebayanya, memilih nilai-nilai sosial, tertarik terhadap
lawan jenis. Perkembangan sosial remaja sangat bergantung dari lingkungan
yang mereka tempati.
D. Kerangka Berpikir
Bimbingan kelompok sebagai salah satu bentuk bimbingan konseling
yang dilakukan akan memberikan pengalaman belajar bagi siswa agar mampu
berbicara, mengeluarkan pendapat, ide, saran, tanggapan, perasaan dan lain
sebagainya kepada orang banyak. Bimbingan kelompok juga akan membantu
siswa belajar menghargai pendapat orang lain, bertangung jawab atas pendapat
yang dikemukakannya dan mampu mengendalikan diri dan menahan emosi
(gejolak kejiwaan yang bersifat negatif). Ini juga akan bermanfaat dalam
mengembangkan bertenggang rasa, menambah keakraban antar siswa dan
mengembangan penyesaian masalah atau topik-topik umum yang dirasakan
atau menjadi kepentingan bersama.
55
Pendekatan cooperative learning model STAD terdiri atas lima
komponen utama, yaitu, presentasi kelas, tim, kuis, skor kemajuan individual,
rekognisi tim. Proses presentasi kelas, akan menorong siswa para siswa untuk
menyadari bahwa mereka harus benar-benar memberi perhatian penuh, karena
dengan demikian akan sangat membantu mereka mengerjakan kuis-kuis dan
skor kuis mereka menentukan skor tim mereka. Pembentukan Tim yang terdiri
dari 4-5 siswa memiliki fungsi utama untuk melibatkan siswa dalam
pembahasan permasalah bersama, membandingkan jawaban, dan mengoreksi
tiap kesalahan pemahaman apabila anggota tim ada yang membuat kesalahan.
Proses interaksi dalam Tim akan memberikan dampak positif pada
pengembangan dukungan kelompok. Hal ini berguna untuk memberikan
perhatian dan respek yang saling menguntungkan dalam hubungan antar
kelompok, rasa harga diri, penerimaan terhadap siswa-siswa lain. Kuis dalam
STAD akan mengajarkan bagaimana siswa bertanggung jawab secara
individual untuk memahami tugasnya. Sementara skor kemajuan individual
berguna untuk memberikan kepada tiap siswa bahwa mereka punya kontribusi
terhadap prestasi Tim. Sedangkan rekognisi tim merupakan bentuk
penghargaan bagi hasil kinerja tim yang mencapai tingkat keberhasilan
tertentu.
Dengan demikian, bimbingan kelompok yang dikombinasikan dengan
cooperative learning model STAD akan membimbing siswa agar mampu
berbicara di depan orang banyak, berani mengemukakan pendapat, ide, saran,
tanggapan, perasaaan, serta dapat belajar menghargai pendapat orang lain dan
56
bertanggung jawab atas pendapat yang dikemukannya. Interaksi dalam Tim
akan mengajarkan siswa agar mampu mengendalikan diri dan menahan emosi,
dapat bertenggang rasa dan akrab satu dengan yang lainnya. Dengan demikian,
secara tidak langsung keterampilan sosial siswa secara perlahan akan terbentuk
dan berkembang. Sehingga bimbingan kelompok yang dikombinasikan dengan
cooperative learning model STAD memungkinkan siswa untuk meningkatkan
kemampuan berkomunikasi, kemampuan menjalin hubungan baik dengan
orang lain, kemapuan menghargai diri sendiri dan orang lain, kemampuan
mendengarkan pendapat atau keluhan dari orang lain, kemampuan memberi
dan menerima feedback, kemampuan memberi dan menerima kritik, berlaku
atau bertindak sesuai norma dan aturan yang berlaku. Dengan demikian metode
ini digunakan secara tepat akan menumbuhkan keterampilan sosial siswa.
Dari beberapa uraian diatas dapat dibuat gambar kerangka pikir peneliti,
yaitu sebagai berikut:
Pemberian materi dengan
Keterampilan teknik bimbingan Keterampilan
sosial siswa kelompok berbasis sosial siswa
rendah cooperative learning meningkat
dengan metode STAD
Gambar 1. Diagram kerangka berpikir
Siswa yang semula memiliki keterampilan sosial yang rendah, dengan
pemberian materi dengan teknik teknik bimbingan kelompok berbasis
cooperative learning dengan metode STAD yang terdiri dari presentasi kelas,
tim, kuis, skor kemajuan individual dan rekognisi tim, akan memberikan
pengalaman belajar yang menungkinkan siswa dalam peningkatkan
keterampilan sosialnya.
57
E. Hipotesis Tindakan
Berdasarkan kajian teori dan kerangka berpikir diatas, maka
dirumuskan hipotesis tindakan dalam penelitian ini adalah bimbingan
kelompok berbasis cooperative learning dapat meningkatkan keterampilan
sosial siswa di SMP N 2 Pakem kelas VIII C.
58
BAB III
METODE PENELITIAN
A. Pendekatan Penelitian
Penelitian ini menggunakan penelitian tindakan (action research).
Departemen Pendidikan dan Kebudayaan (1999: 1) menyatakan bahwa
penelitian tindakan adalah salah satu strategi pemecahan masalah yang
memanfaatkan tindakan nyata dan proses pengembangan kemampuan dalam
mendeteksi dan memecahkan masalah. Dalam prosesnya, pihak-pihak yang
terlibat saling mendukung satu sama lain, dilengkapi dengan fakta-fakta dan
mengembangkan kemampuan analisis.
Menurut Kemmis & Mc Taggart yang dikutip oleh Suwarsih Madya
(2007: 10) ciri metode penelitian tindakan yaitu mencobakan gagasan-
gagasan baru dalam praktik sebagai alat peningkatan dan sebagai alat
menambah pengetahuan mengenai kurikulum, pengajaran dan pembelajaran
(learning).
Dari berbagai pendapat diatas, dapat diambil pengertian bahwa
penelitian tindakan merupakan salah satu strategi yang mengandung prinsip
penyelesaian masalah, dan merupakan alat menambah pengetahuan untuk
menambah kualitas tindakan agar menunjukan dampak yang nyata terhadap
situasi yang terjadi di dalamnya.
59
Dalam penelitian tindakan kelas yang dilakukan bermasud untuk
menyelesaikan masalah rendahnya keterampilan sosial yang dimiliki oleh
siswa. Penyelesaian masalah akan dilakukan melalui tindakan yang dilakukan
melalui siklus yang dirancang. Harapannya adalah setelah dilakukan tindakan
akan memberikan dampak terhadap meningkatnya keterampilan sosial siswa.
Tindakan akan dilakukan dalam bentuk kolaborasi antara guru dengan
peneliti.
B. Desain Penelitian
Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dan kuantitatif.
Peneliti terlibat secara langsung dari tahap perencanaan, memantau, mancatat
dan mengumpulkan data. Gambaran dari tahapan penelitian ini adalah sebagai
berikut :
0 0 : Perenungan
3 1 1 : Perencanaan
2 : Tindakan dan pengamatan I
2 3 : Refleksi I
6 4 : Revisi dan Perencanaan II
4 5 : Tindakan dan pengamatan II
5 6 : Refleksi II
Gambar 1. Proses Penelitian Tindakan Model Kemmis & Mc Taggart
(Suwarsih Madya, 1994: 25)
Penelitian tindakan ini menggunakan model Kemmis & Mc Taggart
yang dikutip oleh Suwarsih Madya (1994: 25), yang setiap siklus terdiri dari
60
perencanaan, tindakan, observasi dan refleksi. Sedangkan Suyanto ( 1997: 7)
mengemukakan bahwa penelitian tindakan kelas dapat dilakukan secara
kolaborasi dimana guru sebagai praktisi pembelajaran sedangkan peneliti
sebagai penggagas ide dan pengamat dibantu kolaborator.
Penelitian tindakan ini dilaksanakan dengan model Kemmis dan Mc
Taggart yang dikutip Suwarsh Madya (1994: 25), dan dilaksanakan secara
kolaborasi antara peneliti, guru bidang studi seni rupa dan guru pembimbing.
Tahap tindakan setiap siklus dalam penelitian ini meliputi tahap perencanaan,
tindakan, observasi dan refleksi.
C. Rencana Tindakan
Menurut Kemmis & Mc Taggart yang dikutip oleh Suwarsih Madya
(1994: 25), bahwa siklus terdiri dari perencanaan, tindakan, observasi dan
refleksi.
1. Pra Tindakan
Sebelum melakukan rencana tindakan, terlebih dahulu dilakukan
beberapa langkah pra tindakan agar dapat mengetahui kondisi awal peserta
sebelum diberi tindakan. Adapun langkah-langkah yang dilakukan pada saat
pra tindakan adalah:
a. Dilakukan observasi terhadap siswa kelas VIII SMP N 2 Pakem dan
wawancara terhadap guru BK untuk mengetahui kondisi subjek yang
akan dikenai tindakan.
61
b. Pemberian angket pra tindakan untuk mengetahui keterampilan
sosial siswa sebelum diberi tindakan.
c. Guru pembimbing, guru dan peneliti berdiskusi terkait tindakan yang
akan diberikan kepada siswa.
d. Peneliti berdiskusi dengan guru pembimbing mengenai pelaksanaan
tindakan.
2. Siklus
a. Perencanaan
Sebelum melakukan tindakan, dilakukan perencanaan kegiatan agar
penelitian tindakan dapat berjalan dengan lancar. Kegiatan Perencanaan
meliputi:
a. Menyiapkan pedoman observasi untuk membantu merekam fakta yang
terjadi selama tindakan berlangsung.
b. Menentukan kriteria keberhasilan setelah dilakukan tindakan pada hasil
penelitian.
c. Menyiapkan tempat dan waktu untuk melaksanakan tindakan.
d. Melakukan pembentukan kelompok untuk pelaksanaan bimbingan
kelompok yang dibentuk berdasarkan kriteria.
e. Peneliti memberikan bimbingan kelompok tentang materi “Keterampilan
Sosial” kemudian dilakukan diskusi kelompok.
f. Guru pembimbing memberikan materi tentang keterampilan sosial
kepada siswa.
62
g. Guru pembimbing memberikan bimbingan kelompok menggunakan
teknik berbasis cooperative learning.
b. Tindakan
Tindakan dalam penelitian ini adalah dengan menggunakan teknik
bimbingan kelompok berbasis cooperative learning dengan menggunakan
teknik STAD. Langkah cooperative learning diawali dengan pembukaan
yang diisi dengan kegiatann presensi dan pengarahan mengenai tahap
pelajaran yang akan dilakukan. Selanjutnya akan dilakukan langkah-langkah
tindakan cooperative learning yang pada tahap belajarnya akan
memasukkan unsur-unsur belajar kelaompok. Langkah yang disusun
meliputi lima langkah kegiatan yaitu: (1) tes penetapan skor awal; (2)
penyampaian materi; (3) belajar tim; (4) tes individual; dan (5) rekognisi
tim. Secara lengkap diuraikan sebagai berikut :
1) Tes Penetapan Skor Awal
Tes penetapan skor awal dimaksudkan untuk mengetahui skor
keterampilan sosial awal siswa sebelum tindakan dilakukan. Tes ini
dilakukan dengan cara memberikan lembar kerja yang berupa soal-
soal tentang keterampilan sosial. Siswa diminta mengerjakan soal-soal
tersebut secara individual tanpa boleh bertanya apalagi mencontek
teman lain. Hasil tes tersebut merupakan pedoman guna menghitung
skor kemajuan siswa.
63
2) Mengajar (menyampaikan materi)
Guru memberi penjelasan terhadap siswa tentang materi
keterampilan sosial. Materi keterampilan sosial mencakup: pengertian
keterampilan sosial, manfaat keterampilan sosial, ciri keterampilan
sosial, dan faktor yang mempengaruhi keterampilan sosial.
3) Belajar Tim
Pada tahap ini, kegiatan kelompok dimulai dengan proses
pembentukan tim. Siswa yang berjumlah 12 orang dibagi dalam 3
kelompok (tim), masing-masing terdiri dari 4 siswa. Pembentukan tim
ini mempertimbangkan jenis kelamin siswa, artinya pada tiap tim
terdapat siswa laki-laki dan perempuan secara proporsional.
Tahap selanjutnya adalah peralihan dari belajar individual ke
belajar kelompok. Langkah yang dilakukan adalah: setelah tim
terbentuk, siswa diminta duduk sesuai dengan kelompok timnya
masing-masing. Masing-masing tim diminta untuk berdiskusi untuk
memberi nama pada kelompoknya masing-masing. Guru memberikan
kebebasan kepada kelompok untuk memberikan nama pada kelompok
mereka sesuai kesepakatan tiap-tiap tim.
Tahap selanjutnya adalah kegiatan, yaitu mendiskusikan materi
pelajaran. Setelah nama terbentuk, masing-masing, masing-masing
tim diminta untuk berdiskusi mengenai materi keterampilan sosial
yang telah diberikan sebelumnya. Siswa diminta saling tanya jawab
dengan satu kelompoknya dari materi yang telah diberikan. Satu
64
kelompok secara bergantian saling tanya jawab. Dalam kegiatan ini
siswa cukup antusias dengan tanya jawab. Jika teman dalam satu tim
tidak dapat menjawab pertanyaan dari satu timnya, akan diberikan
hukuman dengan dicoret tangannya dengan bolpoint.
Tahap selanjutnya adalah tahap terakhir pada kegiatan
kelompok yaitu: pengakhiran. Kegiatan ini dilakukan oleh guru
dengan memberikan game puzzle. Tiap tim diminta merangkai puzzle
yang berjumlah 30 kepingan dalam waktu 2 menit. Siswa dituntut
untuk bekerjasama dalam tim yang nanti akan dinilai prestasi timnya.
Setelah waktu 2 menit, dihitung bersama-sama berapa puzzle yang
dapat tersusun dari masing-masing tim. Tujuan dari game ini adalah
melatih siswa untuk bekerjasama dalam sebuah tim, serta bagaimana
mereka dapat menyelesaikan masalah secara bersama-sama dengan
membangun komunikasi yang baik.
4) Tes Individual
Tes individual dilakukan setelah tahap belajar tim. Tes
individual bertujuan untuk mengetahui skor kemajuan siswa. Skor ini
nantinya akan dibandingkan dengan skor awal untuk mengetahui
apakah perlakukan yang diberikan menghasilkan kemajuan dalam hal
ketrampilan sosial individual masing-masing siswa.
Tes dilakukan dengan cara, siswa diminta duduk secara
individual berpisah dari tim nya tadi. Kemudian guru membagikan
lembar kerja sama seperti yang diberikan pada tahap penetapan skor
65
awal. Siswa diminta agar mengerjakan soal secara individual dan tidak
mencontek teman lain dalam waktu 15 menit.
5) Rekognisi Tim
Pada tahap ini dihitung poin kemajuan individual siswa dan
skor tim masing-masing kelompok. Pada tahap ini guru merekognisi
prestasi tim dengan memberikan reward kepada siswa sesuai dengan
prestasinya.
c. Pengamatan
Pengamatan terhadap proses pelaksanaan bimbingan kelompok
berbasis cooperative learning dengan teknik STAD menggunakan lembar
observasi. Peneliti mencatat dengan cermat apa yang terjadi selama kegiatan
tersebut dan setelah tindakan diberikan agar memperoleh data yang akurat
untuk perbaikan siklus berikutnya. Hal-hal yang diamati pada saat
pelaksanaan tindakan adalah perilaku diri siswa, perilaku terhadap
lingkungan sekitar, perilaku terkait tugas, dan perilaku sosial.
d. Refleksi
Pada tahap ini, data yang telah terkumpul selanjutnya akan dianalisis
sebagai bahan untuk refleksi. Hasil dari data yang telah diperoleh tersebut,
maka akan dapat diketahui apakah kegiatan yang telah dilakukan dapat
meningkatkan keterampilan sosial siswa atau tidak. Hasil refleksi
digunakan sebagai bahan acuan untuk merencanakan tindakan yang lebih
efektif pada siklus berikutnya.
66
D. Subjek Penelitian
Berdasarkan hasil wawancara dengan guru BK dan pengamatan
terhadap siswa tentang siswa yang mempunyai keterampilan sosial rendah
sehingga dapat ditentukan sampel siswa berdasarkan populasi yang
memiliki sifat dan karkteristik sama yang hasilnya akan digeneralisasikan
pada seluruh populasi. Oleh karena itu, sampel penelitian ditentukan pada
kelas VIII C yang berjumlah 12 anak. Pengamatan perkembangan
keterampilan sosial, difokuskan pada siswa kelas VIII C yang berdasarkan
penilaian awal memiliki keterampilan sosial yang rendah, sejumlah 12
siswa. Penilaian pada pra tindakan dilakukan dengan mengukur
keterampilan sosial siswa melalui skala keterampilan sosial.
E. Variabel Penelitian
1. Keterampilan Sosial
Keterampilan sosial adalah kemampuan yang berkaitan dengan
perilaku sosial yang digunakan selama melakukan interaksi dengan orang
lain secara efektif, dimana seseorang mampu menunjukkan perilaku diri
yang baik dan dapat menyesuaikan diri dalam lingkungan, serta dapat
menjalankan tugasnya sesuai dengan perannya.
2. Bimbingan Kelompok Berbasis Cooperative Learning
Bimbingan kelompok adalah layanan bimbingan untuk membantu
siswa dalam situasi kelompok untuk pengembangan pribadi, kemampuan
hubungan sosial, kegiatan belajar, karir atau jabatan dan pengambilan
keputusan serta melakukan kegiatan tertentu melalui dinamika kelompok
67
dengan klasifikasi kelompok, yaitu kelompok kecil, kelompok sedang, dan
kelompok kelas. Dalam menggunakan bimbingan kelompok akan
dipadukan dengan menggunakan teknik Cooperative Learning.
Cooperative Learning adalah suatu model dalam melakukan pembelajaran
dimana siswa akan dikelompokkan secara heterogen dengan jumlah siswa
4 - 6 orang. Siswa akan belajar dan bekerja secara kolaboratif dan
bergotong royong sehingga dapat merangsang siswa lebih bergairah dalam
belajar serta mencapai kemampuan yang maksimal dengan satu tujuan
yang sama.
F. Tempat dan Waktu Penelitian
1. Tempat Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan di SMP N 2 Pakem, yang beralamatkan
di Jl. Kaliurang km.20 Hargobinangun Pakem, Sleman.
2. Waktu Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Juni 2013 sampai Juli 2013.
G. Instrumen Penelitian
Menurut Suharsimi Arikunto (2002: 137) dalam pemilihan metode dan
instrumen penelitian sangat ditentukan oleh beberapa hal yaitu : objek
penelitian, sumber data, waktu, dana yang tersedia, jumlah tenaga peneliti, dan
teknik yang akan digunakan untuk mengolah data bila sudah terkumpul.
Menurut Suharsimi Arikunto (2002: 136) Instrumen penelitian adalah
alat atau fasilitas yang digunakan oleh peneliti dalam mengumpulkan data agar
pekerjaannya lebih mudah dan hasilnya lebih baik dalam arti lebih cermat,
68
lengkap, serta sistematis sehingga lebih mudah diolah. Instrumen yang
digunakan dalam peneliti tindakan ini adalah skala keterampilan sosial,
pedoman observasi dan pedoman wawancara.
Adapun langkah-langkah dalam penyusunan instumen menurut
Suharsimi Arikunto (2006: 70) adalah sebagai berikut :
1. Mengidentifikasi variabel-variabel dalam rumusan judul penelitilian.
2. Menjabarkan variabel-variabel tersebut menjadi sub variabel atau dimensi.
3. Mencari indikator atau setiap sub variabel.
4. Menderetkan deskriptor dari setiap indikator.
5. Merumuskan setiap deskriptor menjadi butir-butir instrumen.
6. Melengkapi instrumen dengan petunjuk pengisian dan kata pengantar.
Berdasarkan uraian tersebut maka peneliti melakukan penyusunan
instrumen untuk meningkatkan keterampilan sosial siswa kelas VIII C SMP N
2 Pakem sebagai berikut:
1. Mengidentifikasi variabel-variabel dalam rumusan judul penelitilian.
Judul penelitian adalah peningkatan keterampilan sosial melalui
bimbingan kelompok berbasis cooperative learning pada siswa kelas VIII
C SMP N 2 Pakem, variabel dari judul tersebut adalah keterampilan sosial
dan bimbingan kelompok berbasis cooperative learning.
2. Mencari indikator atau setiap variabel
Indikator dari setiap variabel dalam penelitian adalah:
a. Perilaku diri.
69
b. Perilaku lingkungan.
c. Perilaku terkait tugas.
d. Perilaku interpersonal.
3. Menderetkan deskriptor dari setiap indikator.
Selanjutnya dari setiap indikator tersebut dijabarkan menjadi
bagian yang lebih kecil yaitu deskriptor.
4. Merumuskan setiap deskriptor menjadi butir-butir instrumen.
Sebelum menuliskan butir-butir pertanyaan peneliti membuat skala
angket keterampilan sosial dan kisi-kisi angket terlebih dahulu. Adapun
skala angket keterampilan sosial dan kisi-kisi angket adalah sebagai
berikut:
a. Menyusun Skala
1) Membuat definisi operasional
Keterampilan sosial adalah kemampuan yang berkaitan dengan
perilaku sosial yang digunakan selama melakukan interaksi dengan orang
lain secara efektif, dimana seseorang mampu menunjukkan perilaku diri
yang baik dan dapat menyesuaikan diri dalam lingkungan, serta dapat
menjalankan tugasnya sesuai dengan perannya. Empat aspek yang
menggambarkan kemampuan keterampilan sosial adalah, perilaku diri,
perilaku lingkungan, perilaku terkait tugas, perilaku interpersonal.
70
2) Membuat kisi-kisi intrumen
Tabel 3. Kisi-kisi instrumen skala keterampilan sosial sebelum uji validitas
No. Item
Variabel Aspek Indikator ∑
+ -
Perilaku diri a. Dapat menerima konsekuensi atas apa
yang diperbuat 1,2 3,4
b. Dapat berperilaku sesuai etika yang 5,6 7,8
ada
c. Mampu mengekspresikan perasaan
yang dirasakan kepada orang lain 9,10 11,12
d. Mampu merespon komunikasi dengan 13,14 15,16
orang lain
e. Dapat peduli terhadap diri sendiri 17,18 19,20
Perilaku a. Peduli terhadap lingkungan di sekitar 21,22 23,24
lingkungan b. Mampu bertindak saat keadaan darurat 25,26 27,28
a. Mampu bertanya dan menjawab 29,30 31,32
pertanyaan
Keterampilan b. Memperhatikan penjelasan guru di 33,34 35,36
Sosial dalam kelas
Perilaku c. Ikut serta dalam diskusi diskusi kelas 37,38 39,40
terkait tugas d. Menyelesaikan tugas-tugas yang telah 41,42 43,44
diberikan
e. Mengikuti peraturan yang telah 45,46 47,48
disepakati
f. Ikut berperan dalam kegiatan 49,50 51,52
kelompok
g. Mampu menunjukkan diri di dalam 53,54 55,56
kelas
a. Mampu mencari jalan keluar dalam 57,58 59,60
mengatasi konflik
b. Menunjukan perhatian terhadap orang 61,62 63,64
lain
c. Mengucapkan salam ketika bertemu 65,66 67,68
orang lain
Perilaku d. Membantu orang lain yang sedang 69,70 71,72
interpersonal dalam kesusahan
e. Mampu memulai percakapan 73,74 75,76
f. Ikut dalam organisasi di sekolah 77,78 79,80
g. Mampu menerima orang lain apa 81,82 83,84
adanya
h. Dapat mengatur diri dalam situasi 85,86 87,88
apapun
71
3) Menyusun item skala
Setiap pernyataan dalam skala angket keterampilan sosial
dilengkapi dengan empat pilihan jawaban yaitu yaitu sangat sesuai
(SS), sesuai (S), tidak sesuai (TS) dan sangat tidak sesuai (STS).
Skor untuk skala keterampilan sosial yang positif secara berurutan
adalah 4, 3, 2, 1. Untuk skala keterampilan sosial yang negatif
masing-masing diberi skor 1, 2, 3, 4.
b. Menyusun pedoman wawancara
Tabel 4. Pedoman Wawancara
No. Aspek Deskriptor
1. Perilaku diri a) Apakah anda merasa bahwa berperilaku anda telah sesuai dengan etika?
b) Apakah anda sering curhat terhadap teman ketika ada masalah?
2. Perilaku a) Apakah anda merasa telah peduli terhadap lingkungan disekitar?
lingkungan b) Jika sudah, dalam bentuk apa saja?
3. Perilaku terkait a) Apakah anda merasa senang dengan tugas yang diberikan guru?
tugas b) Apakah anda sering mengajukan pertanyaan atau menjawab pertanyaan
kepada guru?
c) Apakah anda senang berdiskusi dengan teman?
d) Apakah anda menyelesaikan tugas yang diberikan tepat waktu?
e) Apakah anda pernah melanggar paraturan sekolah?
4. Perilaku a) Apakah anda merasa sulit bergaul dengan teman?
b) Apakah anda senang membantu kesulitan teman?
Interpersonal
c. Menyusun pedoman observasi
Pedoman observasi ini digunakan untuk mencatat sikap dan
perilaku siswa yang muncul dalam pelaksanaan permaianan dan diskusi
kelompok.
72
Tabel 5. Pedoman Observasi Keterampilan Sosial
No.
No. Aspek yang diamati Deskripsi ∑
Item
1. Perilaku diri Perilaku siswa sesuai dengan etika 1
Respon siswa terhadap teman lain saat 2 2
berkomunikasi
2. Perilaku lingkungan Kepedulian siswa terhadap 3 3
lingkungan sekitar
3. Perilaku terkait Keaktifan siswa dalam kegiatan diskusi 4
Tugas Perhatian siswa terhadap penjelasan guru
Tanggung jawab siswa terhadap tugas 5
Kepatuhan siswa terhadap peraturan 8
6
7
4. Perilaku interpersonal Mengendalikan diri saat berdiskusi 8 8
H. Uji Validitas dan Reliabilitas Instrumen
1. Uji Validitas Instrumen
Burhan Nurgiyantoro, dkk (2004: 336) menyatakan validitas
berkaitan dengan permasalahan ”Apakah istrumen yang dimaksudkan untuk
mengukur sesuatu itu memang dapat mengukur secara tepat terhadap
sesuatu yang akan diukur”. Semakin tinggi validitas maka instrumen
semakin valid atau sahih, semakin rendah validitas maka instrumen kurang
valid.
Uji validitas instrumen dilakukan untuk mengetahui seberapa jauh
instrumen penelitian mampu mencerminkan isi sesuai dengan hal dan sifat
yang diukur. Artinya, setiap butir instrumen telah benar-benar
menggambarkan keseluruhan isi atau sifat bangun konsep yang menjadi
73
dasar penyusunan instrumen. Pengujian ini digunakan rumus product
momen dengan rumus yang dikemukakan oleh Burhan Nurgiyantoro (2004:
338):
–
rxy =
– –
Keterangan :
r xy = Koefisien korelasi suatu butir
N = Jumlah sampel
X = Skor total butir pernyataan
Y = Skor butir pernyataan
Dalam pengembangan dan penyusunan skala-skala psikologi
digunakan harga koefisien korelasi yang sesuai dengan r tabel. Untuk N=27,
r minimal sama dengan 0, 253. Dengan demikian semua pernyataan yang
memiliki korelasi dengan skor skala kurang dari 0, 253 harus disisihkan dan
pernyataan-pernyataan yang diikutkan dalam skala sikap adalah yang
memiliki koefisien korelasi 0, 253 ke atas.
Tabel 6. Rangkuman Item Sahih dan Item Gugur
Variabel Jumlah item Jumlah item gugur Jumlah item sahih
semula
10 78
(1,2,3,4,6,7,9,11,12,13,14,16,17,1
9,20,22,23,24,25,26,28,29,30,31,3
Keterampilan
88 2,33,34,35,36,37,38,39,40,41,42,4
Sosial (5,8,10,15,18,21,27,4
3,44,45,46,47,49,50,51,52,53,54,5
8,68,73)
5,56,57,58,59,60,61,62,63,64,65,6
6,67,69,70,71,72,74,75,76,77,78,7
9,80,81,92,83,84,85,86,87,88)
74
Tabel.7 Kisi-Kisi Instrumen Skala Keterampilan Sosial Setelah Uji Validitas
No. Item
Variabel Aspek Indikator ∑
+ -
f. Dapat menerima konsekuensi atas apa 1,2 3,4
yang diperbuat
g. Dapat berperilaku sesuai etika yang 5 6
ada
h. Mampu mengekspresikan perasaan 7 8,9
Perilaku diri
yang dirasakan kepada orang lain
i. Mampu merespon komunikasi dengan 10,11 12
orang lain
j. Dapat peduli terhadap diri sendiri 13 14,15
c. Peduli terhadap lingkungan di sekitar 16 17,18
Perilaku lingkungan d. Mampu bertindak saat keadaan darurat 19,20 21
h. Mampu bertanya dan menjawab 22,23 24,25
pertanyaan
i. Memperhatikan penjelasan guru di 26,27 28,29
dalam kelas
j. Ikut serta dalam diskusi diskusi kelas 30,31 32,33
Keterampilan Perilaku terkait
k. Menyelesaikan tugas-tugas yang telah 34,35 36,37
Sosial tugas
diberikan
l. Mengikuti peraturan yang telah 38,39 40
disepakati
m. Ikut berperan dalam kegiatan 41,42 43,44
kelompok
n. Mampu menunjukkan diri di dalam 45,46 47,48
kelas
i. Mampu mencari jalan keluar dalam 49,50 51,52
mengatasi konflik
j. Menunjukan perhatian terhadap orang 53,54 55,56
lain
k. Mengucapkan salam ketika bertemu 57,58 59
Perilaku
orang lain
interpersonal l. Membantu orang lain yang sedang 60,61 62,63
dalam kesusahan
m. Mampu memulai percakapan 64 65,66
n. Ikut dalam organisasi di sekolah 67,68 69,70
o. Mampu menerima orang lain apa 71,72 73,74
adanya
p. Dapat mengatur diri dalam situasi 75,76 77,78
apapun
75
2. Uji Reliabilitas Instrumen
Saifuddin Azwar (2004: 4) menyatakan bahwa reliabilitas adalah
sejauh mana hasil suatu pengukuran dapat dipercaya. Instrumen yang sudah
dapat dipercaya, yang reliabel akan menghasilkan data yang dapat dipercaya
juga. Apabila datanya memang sesuai dengan kenyataannya, maka berapa
kalipun diambil tetap akan sama.
Menurut Syaifuddin Azwar (2007: 83) pengujian reliabilitas
terhadap hasil ukur skala psikologi dilakukan apabila item-item yang
terpilih lewat prosedur analisis item telah dikompilasikan menjadi satu.
Kumpulan item ini merupakan format pertama skala yang masih sangat
mungkin mengalami perubahan isi setelah pengujian reliabilitas dan
validitas dilakukan. Pada tahapan ini, data jawaban respon yang dihasilkan
dari uji coba dapat digunakan sebagai data pengujian reliabilitas. Karena
pengujian reliabilitas dan validitas merupakan pengujian yang terus
berlanjut selama skala yang bersangkutan masih digunakan , maka pada
tahapan-tahapan berikutnya data untuk pengujian reliabilitas diperoleh dari
kelompok subjek yang diukur.
Reliabilitas menunjukkan sejauh mana alat ukur dapat diandalkan
sebagai alat pengumpul dataUntuk uji reliabilitas instrumen, digunakan
rumus Alpha dari Cronbach (Nurgiyantoro, 2004: 350) sebagai berikut
Keterangan:
76
r11= reliabilitas instrumen
k = Banyaknya butir pertanyaan
Σσi 2 = Jumlah varian butir
σ2 = Varian total
Realibilitas dinyatakan oleh koefisien realibilitas yang angkanya
berkisar antara 0 sampai dengan 1,00. Semakin tinggi koefisien realibilitas
mendekati 1,00 berarti semakin tinggi realibilitasnya. Sebaliknya koefisien
yang semakin rendah mendekati angka 0, berarti semakin rendah
reliabilitasnya.
Case Processing Summary
N %
Cases Valid 25 100.0
Excludeda 0 .0
Total 25 100.0
a. Listwise deletion based on all variables in the procedure.
Reliability Statistics
Cronbach's Alpha N of Items
.963 88
77
I. Teknik Analisis Data
Menurut Ardhana (Lexy J. Moleong, 2002: 103) menjelaskan bahwa
analisis data adalah proses mengatur urutan data, mengorganisasikanya ke
dalam suatu pola, kategori, dan satuan uraian dasar. Teknik analisis data
yang digunakan oleh peneliti yaitu analisis data kuantitaif.
Analisis Data Kuantitatif
Data kuantitatif adalah berupa angka. Pada penelitian ini, analisis
data yang digunakan adalah dengan menghitung skor tertinggi dan terendah
dari nilai skor skala keterampilan sosial serta menghitung skor masing-
masing subjek.
Penentuan kategori kecenderungan tiap-tiap variabel didasarkan
pada norma atau ketentuan kategori. Merujuk pada penjelasan Saifuddin
Azwar (2010 : 107-119) berikut ini langkah-langkah pengkategorisasian
keterampilan sosial dalam penelitian ini :
a. Untuk Pra Tindakan
1) Menentukan skor tertinggi dan skor terendah
Skor tertinggi = 4 x 78 = 312
Skor terendah = 1 x 78 = 78
b. Menghitung mean ideal (M) yaitu (skor tertinggi+skor terendah)
M = ½ (312 + 78 )
= ½ (390)
= 195
c. Menghitung standar deviasi (SD) yaitu 1/6 (skor tertinggi- skor terendah)
78
SD = 1/6 (312- 78)
= 1/6 (234)
= 39
Batas antara kategori tersebut adalah (M+1SD) = 234 dan (M-1SD) =
156. Kategori untuk percaya diri siswa diamati pada tabel 5 berikut ini :
Tabel 8. Kategori Keterampilan Sosial
Batas (Interval) Rumus Kategori
Keterampilan Sosial
Skor < 156 < (M-1SD)
Rendah
Keterampilan Sosial
156 ≤ Skor < 234 (M-1SD) s/d (M+1SD)
Sedang
Keterampilan Sosial
Skor ≥ 234 ≥ (M+1SD)
Tinggi
J. Kriteria Keberhasilan
Pada penelitian ini, peneliti mengambil jenis penelitian tindakan kelas.
Satu siklus yang akan peneliti ambil terdiri dari 5 tindakan yaitu secara garis
besar terdiri dari tes penetapan skor awal, penyampaian materi, belajar tim,
tes individual, rekognisi tim dan rekognisi prestasi tim. Peneliti akan
menghentikan penelitian apabila telah mencapai kriteria tinggi, atau
keterampilan sosial mereka sudah mencapai 234, tetapi jika belum mencapai
nilai yang diharapkan akan dilanjutkan ke siklus ke dua.
79
BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
A. Lokasi Penelitian
1. Deskripsi Lokasi Penelitian
SMP Negeri 2 Pakem merupakan salah satu sekolah yang digunakan
sebagai lokasi penelitian. SMP Negeri 2 Pakem berdiri sejak 1 September
1946. Sekolah ini berlokasi di Hargobinangun Pakem Jalan Kaliurang Km.20
Sleman, dengan luas tanah 12.800 m². Saat ini SMP Negeri 2 Pakem dipimpin
oleh seorang Kepala Sekolah dengan 1 orang Wakil Kepala Sekolah Bagian
Kurikulum, 1 orang Wakil Kepala Sekolah Bagian Humas, 1 orang Wakil
Kepala Sekolah Bagian Kesiswaan, 1 orang Wakil Kepala Sekolah Bagian
Sarana dan Prasarana, 30 orang guru, 10 pegawai Tata Usaha (TU), 5
karyawan dan 1 orang satpam.
Kondisi kelas maupun bangunan-bangunan atau ruang-ruang lainnya di
SMP N 2 Pakem cukup baik. Fasilitas yang mendukung kegiatan pembelajaran
juga sudah lengkap, mempunyai fasilitas rata-rata dimiliki sekolah-sekolah
lainnya.
B. Deskripsi Subyek Penelitian
Subjek penelitian adalah siswa kelas VIII C di SMP N 2 Pakem Sleman
yang memiliki keteram[pilan sosial yang rendah, berjumlah 12 orang.
Pemilihan subjek berdasarkan hasil obervasi, wawancara dengan guru
pembimbing dan hasil pra-tindakan. Berikut ini adalah nama subjek tersebut :
80
Tabel 9. Subyek Penelitian
No Nama No Nama
1 EWN 7 DDAC
2 AMM 8 FRN
3 AWS 9 NRKI
4 BS 10 REP
5 DM 11 YPDYR
6 DSN 12 SRCAS
C. Siklus I (Pertama)
1. Perencanaan Siklus I
Sebelum melakukan tindakan, dilakukan perencanaan kegiatan agar
penelitian tindakan dapat berjalan dengan lancar. Kegiatan Perencanaan
meliputi:
a. Menentukan kriteria keberhasilan, yaitu dengan menggunakan skor
keterampilan sosial. Jika skor keterampilan sosial telah mmencapai skor
234, maka telah dianggap berhasil.
b. Menyiapkan pedoman observasi yang akan digunakan untuk merekam
fakta yang terjadi selama tindakan berlangsung. Pedoman ini akan
digunakan oleh observer ketika melakukan observasi selaam tindakan
berlangsung.
c. Menyiapkan tempat untuk melaksanakan tindakan, yaitu kelas VIII C.
d. Menyiapkan jadwal waktu tindakan Siklus I yaitu:
1) Senin, 17 Juni 2013, pukul 08.00 - 09.00 WIB Tes Pra Tindakan
2) Selasa, 18 Juni 2013, pukul 08.00 - 09.15 WIB Penyampaian
Materi
81
3) Rabu, 19 Juni 2013, pukul 08.30 - 09.00 WIB Belajar Tim dan
Tes Individul
4) Kamis, 20 Juni 2013, pukul 08.00 - 09.15 WIB Rekognisi Tim
2. Tindakan Siklus I
a. Tes penetapan skor awal
Dalam penelitian ini, dilakukan pra tindakan terlebih dahulu sebelum
melaksanakan tindakan dengan tujuan untuk mengukur tingkat keterampilan
sosial siswa. Pada pra tindakan keterampilan sosial siswa diambil dengan
menggunakan skala keterampilan sosial yang berisi 78 pernyataan dimana
pernyataan-pernyataan tersebut telah diuji validitas dan reliabilitasnya. Setelah
dilakukan pra tindakan selanjutnya dilakukan tindakan dan kemudian
dilakukan pasca tindakan yaitu dengan skala keterampilan sosial untuk
mengukur tingkat keterampilan sosial setelah dilakukan tindakan.
Hasil pra tindakan menunjukkan bahwa dari 12 siswa, skor yang
tertinggi yaitu 245 kemudian skor terendah adalah 180 dan skor rata-rata 221,6.
Setelah diketahui skor tingkat keterampilan sosial yang dimiliki siswa,
selanjutnya keterampilan sosial siswa tersebut dikategorikan.
Tabel 10. Kategori Keterampilan Sosial
Batas (Interval) Rumus Kategori
Skor < 156 < (M-1SD) Keterampilan Sosial Rendah
156 ≤ Skor < 234 (M-1SD) s/d (M+1SD) Keterampilan Sosial Sedang
Skor ≥ 234 ≥ (M+1SD) Keterampilan Sosial Tinggi
Berdasarkan data diatas diketahui bahwa keterampilan sosial siswa
dengan skor <156 dikategorikan keterampilan sosial rendah, keterampilan
82
sosial dengan 156≤ skor <234 dikategorikan keterampilan sosial sedang,
keterampilan sosial dengan skor ≥234 dikategorikan dengan keterampilan
sosial tinggi.
Sistem pengukuran dan pengkategorian keterampilan sosial diatas
kemudian digunakan pada pra tindakan untuk mengetahui tingkat
keterampilan sosial siswa. Berikut disajikan secara jelas data pra tindakan
masing-masing siswa.
Tabel 11. Hasil Skala pra tindakan tentang Keterampilan Sosial
No Nama Skor Kategori
1 EWN 180 Sedang
2 AMM 228 Sedang
3 AWS 223 Sedang
4 BS 231 Sedang
5 DM 233 Sedang
6 DSN 221 Sedang
7 DDAC 245 Tinggi
8 FRN 221 Sedang
9 NRKI 232 Sedang
10 REP 227 Sedang
11 YPDYR 213 Sedang
12 SRCAS 206 Sedang
Rata-rata 221,6
Berdasarkan tabel diatas dapat dikategorisasikan siswa yang memiliki
keterampilan sosialnya tinggi berjumlah 1 siswa, keterampilan sosial sedang
berjumlah 11 siswa, dan yang keterampilan sosial rendah berjumlah 0 siswa.
b. Penyampaian materi
Guru memberi penjelasan terhadap siswa tentang materi keterampilan
sosial. Materi keterampilan sosial mencakup: pengertian keterampilan sosial,
83
manfaat keterampilan sosial, ciri keterampilan sosial, dan faktor yang
mempengaruhi keterampilan sosial.
Berdasarkan hasil observasi saat guru menjelaskan materi, siswa
tampak bosan dan kurang antusias dalam mendengarkan. Setelah guru
menjelaskan materi, guru memberikan umpan balik terhadap siswa tentang
materi tersebut. Guru memberikan pertanyaan secara bergantian dan terus
menerus terhadap siswa sehingga siswa dapat memahami tentang apa itu
sebenarnya keterampilan sosial. Guru memberikan contoh dan gambaran
bagaimana seseorang yang kurang cerdas akan tetapi mempunyai keterampilan
sosial yang baik sehingga dapat sukses dengan mengembangkan keterampilan
sosialnya. Setelah itu guru masih mengulang pertanyaan secara acak kepada
siswa tentang materi yang telah diberikan.
Manfaat dari tahap ini adalah agar siswa lebih memahami materi yang
telah diberikan. Bagi siswa yang tidak membaca materi di rumah diberikan
kesempatan belajar pada tahap ini.
c. Belajar tim
Pada kegiatan ini guru membagi siswa dalam sebuah kelompok, siswa
yang berjumlah 12 anak akan dibagi dalam 3 kelompok yang setiap
kelompoknya terdiri dari 4 siswa. Guru membagi siswa dengan 2 siswa laki-
laki dan 2 siswa perempuan dalam satu kelompok sehingga adil. Dengan rata-
rata kemampuan yang hampir sama dalam tiap kelompoknya. Daftar kelompok
tersebut adalah:
84
Tabel. 13 Daftar Nama Kelompok
Kelompok 1 Kelompok 2 Kelompok 3
YPDY EWN AMM
FRN DM AW
REP DSM DDAC
BS SR NR
Setelah dibentuk kelompok guru meminta siswa duduk sesuai dengan
kelompoknya masing-masing. Setelah mereka duduk pada kelompok masing-
masing guru meminta siswa berdiskusi untuk memberikan nama pada
kelompok masing-masing. Guru memberikan kebebasan kepada kelompok
untuk memberikan nama pada kelompok mereka sesuai kesepakatan tiap-tiap
tim. Dalam kegiatan ini sangat bermanfaat untuk meningkatkan keterampilan
sosial siswa dengan mengemukakan pendapat dan menyelesaikan konflik.
Berikut nama tim hasil kesepakatan masing-masing kelompok:
Tabel. 14 Nama Tim Hasil Kesepakatan Kelompok
Kel. 1 Nama Kel. 2 Nama Kel. 3 Nama
kelompok kelompok kelompok
YPDY FERAYOBA EWN TELMI AMM SUPER
FRN DM AW
REP DSM DDAC
BS SR NR
Setelah selesai memberi nama pada tim masing-masing guru meminta
siswa untuk berdiskusi terhadap materi yang telah diberikan sebelumnya
tentang keterampilan sosial.
Siswa diminta saling tanya jawab dengan satu kelompoknya dari materi
yang telah diberikan. Satu kelompok secara bergantian saling tanya jawab.
Dalam kegiatan ini siswa cukup antusias dengan tanya jawab. Jika teman
85
dalam satu tim tidak dapat menjawab pertanyaan dari satu timnya, akan
diberikan hukuman dengan dicoret tangannya dengan bolpoint.
Sebelum menginjak kegiatan berikutnya, guru memberikan game
puzzle dimana siswa dalam satu tim harus merangkai puzzle yang berjumlah
30 kepingan. Siswa dituntut untuk bekerjasama dalam tim yang nanti akan
dinilai kekompakannya. Dalam waktu 2 menit siswa harus menyusun puzzle
tersebut dan nanti setelah waktu 2 menit selesai akan dihitung bersama-sama
berapa puzzle yang dapat tersusun dari masing-masing kelompok. Cara
menghitung skor dalam penilaian game puzzle adalah :
Jumlah puzzle yang tersusun x 10
Berikut hasil kuis puzzle:
Tabel. 15 Hasil Kuis Game Puzzle
FERAYOBA SKOR TELMI SKOR SUPER SKOR
YPDY EWN AMM
FRN 20x10:3=67 DM 14x10:3=47 AW 12x10:3=40
REP DSM DDAC
BS SR NR
Dari hasil skor diatas dapat dilihat bahwa kelompok FERAYOBA
memperoleh skor paling tinggi yaitu 67 poin dengan dapat menyusun puzzle
sebanyak 20. Sedangkan kelompok TELMI mendapat skor 47 dengan dapat
menyusun puzzle sebanyak 14, sedangkan kelompok super mendapat skor 40
dengan menyusun puzzle sebanyak 12.
86
Manfaat dari game ini adalah melatih siswa untuk bekerjasama dalam
sebuah tim, serta bagaimana mereka dapat menyelesaikan masalah secara
bersama-sama dengan membangun komunikasi yang baik.
d. Tes individual
Setelah melakukan tahap belajar tim, tahap selanjutnya adalah tes
individual. Tes individual bermanfaat untuk mengetahui skor kemajuan siswa
nantinya, dari skor awal tadi apakah ada peningkatan skor setelah dilakukan
treatment.
Pertama – tama guru meminta siswa duduk secara individual berpisah
dari tim nya tadi. Setelah itu guru membagikan lembar kerja sama seperti yang
diberikan pada tahap penetapan skor awal. Guru meminta agar siswa
mengerjakannya secara individual dan tidak mencontek teman lain, kerjakan
semampu siswa dapat mengerjakannya tanpa bertanya ataupun mencontek
teman lain. Guru memberikan waktu selama 15 menit untuk siswa
mengerjakan soal tersebut.
Pada tahap ini siswa terlihat serius mengerjakan soal walaupun raut
muka nya masih terlihat bingung dan masih mengalami kesulitan. Setelah 15
menit berlalu, guru meminta siswa untuk saling menukar lembar jawaban
mereka dengan teman lain. Siswa tidak diperbolehkan mengkoreksi lembar
jawaban milik mereka sendiri. Setelah dilakukan koreksi berikut hasil tes
individual siswa:
87
Tabel. 16 Hasil Tes Individual Siswa
No Nama Skor No Nama Skor
1 YPDY 92 7 DSM 44
2 FRN 92 8 SR 40
3 REP 44 9 AMM 60
4 BS 64 10 AW 60
5 EWN 36 11 DDAC 68
6 DM 60 12 NR 56
Setelah skor individual didapat, tahap selanjutnya adalah merekognisi
tim. Akan tetapi, tahap merekognisi tim dan merekognisi prestasi tim akan
dilaksanakan pada hari selanjutnya, dikarenakan siswa tampak lelah setelah
melakukan kegiatan yang cukup menguras otak. Setelah melakukan tahap
rekognisi akan dilanjutkan dengan tindakan ke IV yaitu tahap pengakhiran
yang merupakan tahap terakhir.
e. Rekognisi tim dan Rekognisi prestasi tim
Pada tahap ini guru menghitung poin kemajuan individual siswa dan skor
tim masing-masing kelompok. Cara menghitung poin kemajuan siswa adalah
sebagai berikut:
Skor kuis Poin kemajuan
Lebih dari 10 poin di bawah skor awal 5
10-1 poin dibawah skor awal 10
Skor awal sampai 10 poin di atas skor awal 20
Lebih dari 10 poin diatas skor awal 30
Kertas jawaban sempurna (terlepas dari skor awal) 30
88
Skor tim
Untuk menghitung skor tim, catatlah tiap poin kemajuan setiap semua
anggota tim pada lembar rangkuman tim dan bagilah jumlah total poin
kemajuan seluruh anggota tim dengan jumlah anggota tim yang hadir, bulatkan
semua pecahan. Untuk diingat bahwa skor tim lebih tergantung pada skor
kemajuan daripada skor kuis awal.
Sedangkan hasil skor awal dan tes individual siswa adalah sebagai
berikut:
Tabel. 17 Hasil Skor Awal dan Tes Individual
Kenaikan Poin
No Nama Skor Dasar Skor Kuis
Poin Kemajuan
1 YPDY 32 92 60 30
2 FRN 24 92 68 30
3 REP 20 44 22 30
4 BS 36 64 28 30
5 EWN 8 36 28 30
6 DM 32 60 28 30
7 DSM 18 44 26 30
8 SR 26 40 14 30
9 AMM 24 60 36 30
10 AW 36 60 24 30
11 DDAC 24 68 44 30
12 NR 16 56 40 30
89
Hasil kerja tim puzzle:
Tabel. 18 Hasil Kerja Tim Puzzle
FERAYOBA SKOR TELMI SKOR SUPER SKOR
YPDY EWN AMM
FRN 67 DM 47 AW 40
REP DSM DDAC
BS SR NR
Sehingga dapat diperoleh hasil keseluruhan kuis tiap tim:
Tabel. 19 Lembar Rangkuman Tim Ferayoba
LEMBAR RANGKUMAN TIM
Nama Tim : FERAYOBA
Anggota Skor Game Skor Skor Skor Skor
No. Total
Tim Puzzle Dasar Kuis Kenaikan kemajuan
1. YPDY 67 32 92 60 30 281
2. FRN 67 281
24 92 68 30
3. REP 67 183
20 44 22 30
4. BS 67 36 64 28 30 225
Total Skor Tim 268 112 292 178 120 970
Rata-Rata Tim 67 28 73 44 30 242
Penghargaan Tim SUPER TEAM
Rata-rata tim = total skor tim/jumlah anggota
90
Tabel. 20 Lembar Rangkuman Tim Telmi
LEMBAR RANGKUMAN TIM
Nama Tim : TELMI
Anggota Skor Game Skor Skor Skor Skor
No. Total
Tim Puzzle Dasar Kuis Kenaikan kemajuan
1. EWN 47 8 36 28 30 149
2. DM 47 32 60 28 30 197
3. DSM 47 18 44 26 30 165
4. SR 47 26 40 14 30 157
Total Skor Tim 188 84 180 96 120 668
Rata-Rata Tim 47 21 45 24 30 167
Penghargaan Tim GOOD TEAM
Rata-rata tim = total skor tim/jumlah anggota
Tabel. 21 Lembar Rangkuman Tim Super
LEMBAR RANGKUMAN TIM
Nama Tim : SUPER
Anggota Skor Game Skor Skor Skor Skor
No. Total
Tim Puzzle Dasar Kuis Kenaikan kemajuan
1. AMM 40 24 60 36 30 190
2. AW 40 36 60 24 30 190
3. DDAC 40 24 68 44 30 206
4. NR 40 16 56 40 30 182
Total Skor Tim 160 100 244 144 120 768
Rata-Rata Tim 40 25 61 36 30 192
Penghargaan Tim GREAT TEAM
Rata-rata tim = total skor tim/jumlah anggota
1) Rekognisi Prestasi Tim
Pada tahap ini guru merekognisi prestasi tim dengan memberikan
reward kepada siswa, mulai dari Good Team, Great Team, dan Super Team.
Tim juara ke 3/Good Team adalah tim Telmi yang mendapat skor rata-rata
91
tim 167 poin. Tim juara ke 2/Great Team adalah tim Super yang mendapat
skor rata-rata tim 192 poin. Sedangkan, tim juara ke 1/Super Team adalah
tim Ferayoba yang mendapat skor rata-rata tim 242 poin. Manfaat pada
tahap ini adalah memberikan motivasi siswa untuk belajar lebih tekun
dengan memberikan reward kepada siswa.
3. Observasi/Pengamatan dan Wawancara Siklus I
Berdasarkan observasi yang dilakukan oleh peneliti selama tindakan
berlangsung, secara keseluruhan tindakan yang dilaksanakan masih belum
seluruhnya berjalan lancar. Guru masih terlihat canggung dalam
menerapkan metode STAD. Namun semua langkah dalam STAD telah
dilaksanakan sesuai dengan perencanaan. Hasil pengamatan pada siswa
selama siklus I berlangsung adalah sebagai berikut :
Tabel 22. Rangkuman Hasil Observasi Siklus I
Ya Tidak Total
No Aspek yang diamati
f % f % f %
1 Perilaku siswa sesuai dengan etika 7 58% 5 42% 12 100%
Respon siswa terhadap teman lain
2 6 50% 6 50% 12 100%
saat berkomunikasi
Kepedulian siswa terhadap
3 6 50% 6 50% 12 100%
lingkungan sekitar
Keaktifan siswa dalam kegiatan
4 7 58% 5 42% 12 100%
diskusi
Perhatian siswa terhadap penjelasan
5 6 50% 6 50% 12 100%
guru
Tanggung jawab siswa terhadap
6 7 58% 5 42% 12 100%
tugas
7 Kepatuhan siswa terhadap peraturan 7 58% 5 42% 12 100%
8 Mengendalikan diri saat berdiskusi 7 58% 5 42% 12 100%
Rata-rata 6,625 55% 5,375 45% 12 100%
Sumber : Hasil Pengamatan Siklus I (N=12)
92
Dari delapan aspek yang diamati, maka 55% siswa yang diobservasi
yang telah mencapai keterampilan sosial dengan baik. Sedangkan 45%
belum memiliki keterampilan sosial yang diharapkan.
Hal lain yang berhasil diamati adalah pada tindakan pertama, siswa
belum menunjukkan antusias yang tinggi dalam mengikuti permainan.
Peserta masih terlihat ramai sendiri dan juga kurang serius sehingga peserta
belum bisa mengerti makna dari tindakan yang telah diberikan. Pada
tindakan kedua peserta sudah menunjukkan tingkat antusiasnya. Peserta
merasa sudah nyaman dan lebih mengenal satu sama lain.
Siswa mulai menunjukkan antusias yang tinggi ketika pemberian
reward dilakukan. Siswa terlihat sangat menyukai reward yang diberikan
oleh guru. Pada tindakan berikutnya siswa kembali menunjukkan
antusiasnya. Siswa terlihat mendengarkan kembali ketika guru dan peneliti
berbicara, mereka mulai mengerti makna dari keterampilan sosial. Guru BK
merasakan adanya perubahan positif sikap dan tingkat keterampilan sosial
siswa.
Selain observasi juga dilakukan wawancara kepada siswa dan guru
BK. Wawancara dilakukan untuk benar-benar mengetahui hasil dari metode
bimbingan kelompok berbasis cooperative learning dalam meningkatkan
keterampilan sosial siswa.
Wawancara dengan Ichwani (Guru BK), menyatakan bahwa :
“.... siswa menunjukkan antusias pada waktu mengikuti kegiatan
Siklus I. Menurut saya ini disebakan metode yang diterapkan
menuntut setiap siswa aktif dan setiap siswa harus bekerjasama
dengan siswa lain. Siswa yang semula canggung dan malu-malu, pada
93
akhirnya mulai dapat membaur dan mulai nampak nyaman ditengah-
tengah siswa lain...”
Wawancara dengan EWN (siswa), menyatakan bahwa :
“.... pembelajaran dengan berkelompok dan berkompetisi sangat
menyenangkan. Sebenarnya saya canggung ketika harus berkelompok
dengan teman-teman yang sebelumnya tidak terlalu akrab....”
Wawancara dengan FRN (siswa), menyatakan bahwa :
“.... pada mulanya saya sangat malu. Apalagi ada teman yang suka
banyak bicara dan lebih mendominasi waktu diskusi. Tetapi lama
kelamaan kita bisa saling menyesuaikan dan saling memberi
kesempatan berbicara. Saya juga suka karena dapat hadiah waktu
kuiz....”
Berdasarkan hasil wawancara dengan guru BK diperoleh informasi
bahwa siswa terlihat mengalami perubahan pada keterampilan sosialnya.
Siswa mulai bisa mengeluarkan ide-ide mereka dan dapat mempertahankan
ide-ide mereka untuk dipakai tanpa perlu dipendam, siswa mengerti cara
menyelesaikan konflik bila terjadi masalah dengan teman, siswa lebih
terbuka atas perasaannya, dan juga siswa dapat berani berbicara di depan
orang lain. Menurut Guru BK telah terjadi perubahan sikap di dalam atau di
luar kelas.
Berdasarkan hasil wawancara dengan siswa menunjukkan bahwa
siswa merasa senang mengikuti kegiatan dalam penelitian. Walaupun awal-
awal tindakan siswa belum menunjukkan antusiasnya. Akan tetapi, setelah
beberapa tindakan dilaksanakan siswa mulai merasa nyaman dan
menikmatinya. Selain itu juga menurut para siswa dengan bimbingan
kelompok ini mereka bisa belajar menyelesaikan konflik, berempati
94
kepada orang lain, mengemukakan pendapat, menerima kritik, mampu
berbicara di depan orang banyak, bekerjasama dan terbuka kepada orang
lain.
4. Hasil Penilaian Keterampilan Sosial Siklus I
Berikut ini akan disajikan peningkatan hasil penilaian keterampilan
sosial pada siklus I dibandingkan dengan keterampilan sosial pada pra
tindakan.
Tabel 23. Peningkatan Hasil Keterampilan Sosial Pra Tindakan dan
Siklus I
Pratindakan Siklus I
NO Nama
Skor Kategori Skor Kategori
1 EWN 180 Sedang 206 Sedang
2 AMM 228 Sedang 232 Sedang
3 AWS 223 Sedang 230 Sedang
4 BS 231 Sedang 236 Tinggi
5 DM 233 Sedang 238 Tinggi
6 DSN 221 Sedang 228 Sedang
7 DDAC 245 Sedang 250 Tinggi
8 FRN 221 Sedang 227 Sedang
9 NRKI 232 Sedang 240 Tinggi
10 REP 227 Sedang 230 Sedang
11 YPDYR 213 Sedang 220 Sedang
12 SRCAS 206 Sedang 225 Sedang
221,6 230,2
Rata-rata
Dari hasil skala yang disebarkan oleh peneliti menunjukan adanya
perubahan pada keterampilan sosial yang diperlihatkan oleh para siswa.
Skala pra tindakan yang disebarkan menunjukan terdapat 11 siswa
95
berkategori sedang dan sisanya 1 siswa berkategori tinggi.. Hasil pra
tindakan ini yang menjadi acuan peneliti melakukan penelitian siswa kelas
VIII C di SMP N 2 Pakem.
Dari tabel pratindakan tersebut peneliti melaksanakan siklus satu
yang terdiri dari 5 tindakan. Bimbingan kelompok berbasis cooperative
learning menjadi pendekatan peneliti untuk meningkatkan keterampilan
sosial para siswa. Dalam kriteria keberhasilan yang diinginkan, peneliti
mentargetkan skor keberhasilan minimal adalah ≥ 234 atau masuk dalam
kategori tinggi. Sedangkan pada pratindakan yang dilakukan oleh peneliti
skor yang dicapai 221,6 berdasarkan siswa yang terpilih (nilai kurang dari
234).
Pada siklus yang pertama, terjadi peningkatan yang cukup meskipun
belum mencapai target peneliti. Dari hasil siklus pertama dapat dilihat skor
meningkat menjadi 230,2 dari siswa yang terpilih (kriteria rendah dan
sedang).
Dari hasil skala tersebut peneliti melanjutkan ke siklus ke dua karena
hasil yang didapat belum memenuhi indikator keberhasilan yang
diharapakan oleh peneliti. Skor indikator keberhasilan yang di harapkan
peneliti adalah sebesar ≥ 234 atau pada kategori tinggi, sedangkan pada
siklus pertama hanya mampu mencapai skor sebesar 230,2 atau masih
kurang 3,8 untuk memenuhi indikator keberhasilan.
96
5. Refleksi dan Evaluasi Siklus I
Refleksi dilaksanakan melalui diskusi antara peneliti dan guru
pembimbing. Secara keseluruhan tindakan pada siklus 1 masih belum
seluruhnya berjalan sesuai keinginan peneliti. Siswa masih menunjukkan
tingkat antusias yang naik turun. Para siswa masih ada yang berkomentar:
“bu, ini sampai jam berapa”. Ada juga yang berkomentar “bu capek”.
Dilihat dari komentar tersebut para siswa kurang antusias dalam mengikuti
tindakan. Kurang menariknya kegiatan menjadi faktor yang menyebabkan
naik turunnya tingkat antusias siswa mengikuti kegiatan. Tetapi dari hasil
siklus 1 para siswa dapat melakukan kegiatan dengan lancar. Para siswa
dapat mengetahui makna dari kegiatan yang telah dilaksanakan serta mulai
memahami makna dari keterampilan sosial.
Hambatan-hambatan dari siklus 1 dilihat dari pengamatan yaitu
siswa kurang bersemangat dalam mengikuti kegiatan. Hal ini dikarenakan
para siswa kadang merasa jenuh jika kegiatan berlangsung terlalu lama. Para
siswa masih terlihat ramai sendiri dan juga kurang memperhatikan guru.
Hasil dari pra tindakan pada siklus pertama skornya sebesar 221,6
dan setelah diberikan tindakan mengalami kenaikan sebesar 230,2. Tetapi
poin tersebut belum mencapai kriteria yang sudah ditentukan oleh peneliti,
yaitu 234. Berdasarkan hasil tersebut, maka diputuskan untuk dilakukan
tindakan pada Siklus II dengan beberapa perbaikan sesuai hasil refleksi dan
evaluasi pada Sillus I.
97
Pada siklus II fasilitator (guru pembimbing) akan terus memberikan
arahan dan mendampingi siswa. Peneliti juga akan lebih banyak
memberikan selingan permainan/ice breaking. Dibandingkan dengan siklus
I yang hanya memberikan sedikit permainan sehingga siswa merasa sangat
jenuh. Nantinya siswa juga akan diberikan waktu beberapa menit untuk
meregangkan fikiran untuk beristirahat. Hal ini dimaksudkan agar peserta
dapat selalu antusias dan bersemangat mengikuti kegiatan. Guru
pembimbing juga akan lebih santai dalam memberikan tindakan, sehingga
siswa akan merasa lebih nyaman. Selain itu juga guru harus selalu
memberikan motivasi positif kepada peserta agar peserta selalu merasa
dihargai apapun hasil yang mereka terima baik secara individu maupun
kelompok.
Sebagaimana pada Siklus I, kegiatan pada siklus II dilakukan 5
tindakan. Tindakan pada siklus II dilakukan dengan tujuan siswa dapat
benar-benar mengerti makna dari bimbingan kelompok yang diberikan dan
dapat diterapkan pada kehidupan sehari-hari mereka di rumah,di sekolah
maupun di lingkungannya.
D. Siklus II (Kedua)
1. Perencanaan Siklus II
Dari hasil refleksi siklus pertama yaitu siswa belum mampu berperan
maksimal dalam tiap kegiatan yang telah dilaksanakan oleh guru BK. Hal
ini dikarenakan siswa nampaknya merasa jenuh dengan kegiatan yang
menuntut siswa untuk terus berfikir dan hanya diberikan satu permainan
98
dari 5 tindakan yang ada. Sehingga menyebabkan ada siswa terlihat kurang
bersemangat dan seringkali mengeluh agar tindakan segera dihentikan.
Pada siklus II perencanaan awal yang dilakukan adalah menyusun
pedoman kegiatan pada siklus II melalui diskusi dengan guru pembimbing.
Dari hasil siklus I yang telah dilaksanakan, dapat dilihat hal yang perlu
disempurnakan adalah lebih menambah permainan/ice breaking singkat agar
siswa tidak merasa jenuh. Guru BK juga nantinya akan memberikan
kesempatan siswa untuk beristirahat meregangkan otak untuk beberapa
menit sambil bercanda bersama siswa lain. Selain itu peneliti memberikan
pelatihan kepada guru pembimbing secara lebih terperinci dan lebih jelas,
agar guru pembimbing sebagai fasilitator mengerti dan bisa memberikan
pengarahan kepada peserta secara lebih jelas.
Dalam siklus yang ke II peneliti merencanakan akan melaksanakan
sebanyak 5 kali tindakan sesuai dengan langkah cooperative learning, yang
akan dilaksanan pada tanggal 24-27 Juni 2013, pukul 08.00 – 09.00 WIB.
Tindakan yang dirancang peneliti diharapkan mampu membuat siswa lebih
bersemangat/antusias dalam mengikuti kegiatan yang diberikan. Peserta
juga diharapkan bisa mengerti makna dari bimbingan kelompok yang
diberikan untuk diterapkan dalam kehidupan sehari-hari siswa di sekolah
maupun di lingkungan siswa. Pada siklus II terdapat 5 tindakan.
99
2. Tindakan Siklus II
Tindakan yang dilakukan dalam siklus II terdapat 5 tindakan dengan
rincian sebagai berikut:
a. Tes Penetapan Skor Awal
Pada tahap penetapan skor awal siklus II ini, guru tidak perlu
memberikan tes lagi kepada siswa, karena yang digunakan sebagai skor
dasar nantinya adalah hasil tes individual siswa terakhir pada siklus I.
Berikut hasil skor awal siswa menurut hasil tes individual siswa pada siklus
I:
Tabel.24 Skor Awal Siswa
No Nama Skor No Nama Skor
1 YPDY 92 7 DSM 44
2 FRN 92 8 SR 40
3 REP 44 9 AMM 60
4 BS 64 10 AW 60
5 EWN 36 11 DDAC 68
6 DM 60 12 NR 56
b. Penyampaian materi
Guru memberi penjelasan terhadap siswa tentang materi
keterampilan sosial. Materi keterampilan sosial mencakup: pengertian
keterampilan sosial, manfaat keterampilan sosial, ciri keterampilan sosial,
dan faktor yang mempengaruhi keterampilan sosial.
Saat guru menjelaskan materi siswa tampak bosan dan kurang
antusias dalam mendengarkan. Setelah guru menjelaskan materi, guru
100
memberikan umpan balik terhadap siswa tentang materi tersebut. Guru
memberikan pertanyaan secara bergantian dan terus menerus terhadap siswa
sehingga siswa dapat memahami tentang apa itu sebenarnya keterampilan
sosial. Guru memberikan contoh dan gambaran bagaimana seseorang yang
kurang cerdas akan tetapi mempunyai keterampilan sosial yang baik
sehingga dapat sukses dengan mengembangkan keterampilan sosialnya.
Setelah itu guru masih mengulang pertanyaan secara acak kepada siswa
tentang materi yang telah diberikan.
Manfaat dari tahap ini adalah agar siswa lebih memahami materi
yang telah diberikan. Bagi siswa yang tidak membaca materi di rumah
diberikan kesempatan belajar pada tahap ini.
Agar siswa tidak merasa capek dan bosan guru mengistirahatkan
siswa selama 5 menit untuk meregangkan otot dan otak. Bisa dengan minum
dan makan ringan.
c. Belajar Tim
Pada kegiatan ini guru tidak membagi siswa ke dalam kelompok
lagi, karena kelompok ditentukan masih sama dengan siklus I. Guru tidak
mengacak kelompok lagi dengan tujuan agar siswa lebih belajar
bekerjasama lagi dengan kelompok yang telah ditentukan pada siklus I
untuk lebih mengasah kekompakkan dan kerjasama tim. Daftar kelompok
tersebut adalah:
101
Tabel. 25 Daftar Nama Tiap Kelompok
Kelompok 1 Kelompok 2 Kelompok 3
YPDY EWN AMM
FRN DM AW
REP DSM DDAC
BS SR NR
Setelah mereka duduk pada kelompok masing-masing guru meminta
siswa berdiskusi untuk memberikan nama pada kelompok masing-masing.
Nama kelompok pada siklus I tidak boleh dipakai lagi, harus berbeda
dengan nama kelompok pada siklus I. Guru memberikan kebebasan kepada
kelompok untuk memberikan nama pada kelompok mereka sesuai
kesepakatan tiap-tiap tim. Dalam kegiatan ini sangat bermanfaat untuk
meningkatkan keterampilan sosial siswa dengan mengemukakan pendapat
dan menyelesaikan konflik. Berikut nama tim hasil kesepakatan masing-
masing kelompok:
Tabel. 26 Nama Kelompok
Kel. 1 Nama Kel. 2 Nama Kel. 3 Nama
kelompok kelompok kelompok
YPDY SUPER EWN SMART AMM WONDER
FRN MARIO DM AW
REP DSM DDAC
BS SR NR
Setelah selesai memberi nama pada tim masing-masing guru
meminta siswa untuk berdiskusi terhadap materi yang telah diberikan
sebelumnya tentang keterampilan sosial.
102
Siswa diminta saling tanya jawab dengan satu kelompoknya dari
materi yang telah diberikan. Satu kelompok secara bergantian saling tanya
jawab. Dalam kegiatan ini siswa cukup antusias dengan tanya jawab.
Sebelum menginjak kegiatan berikutnya, guru memberikan game
puzzle sama seperti pada siklus I. Akan tetapi, guru merubah gambar dari
puzzle, tetapi jumlah kepingan puzzle masih sama dengan siklus I yaitu 30.
Siswa dalam satu tim harus merangkai puzzle yang berjumlah 30 kepingan.
Siswa dituntut untuk bekerjasama dalam tim yang nanti akan dinilai
kekompakannya. Dalam waktu 2 menit siswa harus menyusun puzzle
tersebut dan nanti setelah waktu 2 menit selesai akan dihitung bersama-
sama berapa puzzle yang dapat tersusun dari masing-masing kelompok.
Cara menghitung skor dalam penilaian game puzzle adalah :
Jumlah puzzle yang tersusun x 10
Berikut hasil kuis puzzle:
Tabel. 27 Hasil Kuis Puzzle
SUPER
SKOR SMART SKOR WONDER SKOR
MARIO
YPDY EWN AMM
FRN DM AW
REP 24x10:3=80 DSM 21x10:3= DDAC 21x10:3
BS SR 70 NR =70
Dari hasil skor diatas dapat dilihat bahwa kelompok SUPER
MARIO memperoleh skor paling tinggi yaitu 80 poin dengan dapat
103
menyusun puzzle sebanyak 24. Sedangkan kelompok SMART mendapat
skor 70 dengan dapat menyusun puzzle sebanyak 21, sedangkan kelompok
WONDER mendapat skor 70 dengan menyusun puzzle sebanyak 21.
Manfaat dari game ini adalah melatih siswa untuk bekerjasama
dalam sebuah tim, serta bagaimana mereka dapat menyelesaikan masalah
secara bersama-sama dengan membangun komunikasi yang baik.
d. Tes Individual
Setelah melakukan tahap belajar tim, tahap selanjutnya adalah tes
individual. Tes individual bermanfaat untuk mengetahui skor kemajuan
siswa nantinya, dari skor awal tadi apakah ada peningkatan skor setelah
dilakukan treatment.
Pertama–tama guru meminta siswa duduk secara individual berpisah
dari tim nya tadi. Setelah itu guru membagikan lembar kerja sama seperti
yang diberikan pada tahap penetapan skor awal. Guru meminta agar siswa
mengerjakannya secara individual dan tidak mencontek teman lain, kerjakan
semampu siswa dapat mengerjakannya tanpa bertanya ataupun mencontek
teman lain. Guru memberikan waktu selama 15 menit untuk siswa
mengerjakan soal tersebut.
Pada tahap ini siswa terlihat serius mengerjakan soal walaupun raut
muka nya masih terlihat bingung dan masih mengalami kesulitan. Setelah
15 menit berlalu, guru meminta siswa untuk saling menukar lembar jawaban
mereka dengan teman lain. Siswa tidak diperbolehkan mengkoreksi lembar
104
jawaban milik mereka sendiri. Setelah dilakukan koreksi berikut hasil tes
individual siswa:
Tabel.28 Hasil Tes Individual
No Nama Skor No Nama Skor
1 YPDY 98 7 DSM 68
2 FRN 98 8 SR 62
3 REP 62 9 AMM 68
4 BS 70 10 AW 66
5 EWN 44 11 DDAC 72
6 DM 66 12 NR 66
Setelah skor individual didapat, tahap selanjutnya adalah
merekognisi tim. Akan tetapi, tahap merekognisi tim dan merekognisi
prestasi tim akan dilaksanakan pada hari selanjutnya, dikarenakan siswa
tampak lelah setelah melakukan kegiatan yang cukup menguras otak.
Setelah melakukan tahap rekognisi akan dilanjutkan dengan tindakan ke IV
yaitu tahap pengakhiran yang merupakan tahap terakhir.
e. Rekognisi tim dan Rekognisi prestasi tim
Tahap rekognisi tim masuk ke dalam tindakan ke III, akan tetapi
karena keterbatasan waktu dalam tindakan ke III dibagi dalam 2 kali
pertemuan. Pada tahap ini guru menghitung poin kemajuan individual siswa
dan skor tim masing-masing kelompok.
Cara menghitung poin kemajuan siswa adalah sebagai berikut:
Skor kuis Poin kemajuan
Lebih dari 10 poin di bawah skor awal 5
10-1 poin dibawah skor awal 10
Skor awal sampai 10 poin di atas skor awal 20
Lebih dari 10 poin diatas skor awal 30
Kertas jawaban sempurna (terlepas dari skor awal) 30
105
Skor tim
Untuk menghitung skor tim, catatlah tiap poin kemajuan setiap
semua anggota tim pada lembar rangkuman tim dan bagilah jumlah total
poin kemajuan seluruh anggota tim dengan jumlah anggota tim yang hadir,
bulatkan semua pecahan. Untuk diingat bahwa skor tim lebih tergantung
pada skor kemajuan daripada skor kuis awal
Sedangkan hasil skor awal dan tes individual siswa adalah
sebagai berikut:
Tabel. 29 Hasil Skor Awal dan Tes Individual
Skor Skor Kenaikan Poin
No Nama
Dasar Kuis Poin Kemajuan
1 YPDY 92 98 6 20
2 FRN 92 98 6 20
3 REP 44 62 18 30
4 BS 64 70 6 20
5 EWN 36 44 8 20
6 DM 60 66 6 20
7 DSM 44 68 24 30
8 SR 40 62 22 30
9 AMM 60 68 8 20
10 AW 60 66 6 20
11 DDAC 68 72 4 20
12 NR 56 66 10 20
106
Hasil kerja tim puzzle:
Tabel. 30 Hasil Kerja Tim Game Puzzle
SUPER
SKOR SMART SKOR WONDER SKOR
MARIO
YPDY EWN AMM
FRN 80 DM 70 AW 70
REP DSM DDAC
BS SR NR
Sehingga dapat diperoleh hasil keseluruhan kuis tiap tim:
Tabel. 31 Hasil Lembar Rangkuman Tim Super Mario
LEMBAR RANGKUMAN TIM
Nama Tim : SUPER MARIO
Skor
Anggota Skor Skor Skor Skor
No. Game Total
Tim Dasar Kuis Kenaikan kemajuan
Puzzle
1. YPDY 80 92 98 6 20 296
2. FRN 80 92 98 6 20 296
3. REP 80 44 62 18 30 234
4. BS 80 64 70 6 20 240
Total Skor Tim 320 292 328 36 90 1066
Rata-Rata Tim 80 73 82 9 22 266
Penghargaan Tim SUPER TEAM
Rata-rata tim = total skor tim/jumlah anggota
Tabel. 32 Hasil Lembar Rangkuman Tim Smart
LEMBAR RANGKUMAN TIM
Nama Tim : SMART
Anggota Skor Game Skor Skor Skor Skor
No. Total
Tim Puzzle Dasar Kuis Kenaikan kemajuan
1. EWN 70 36 44 8 20 178
2. DM 70 60 66 6 20 222
3. DSM 70 44 68 24 30 236
4. SR 70 40 62 22 30 224
Total Skor Tim 280 180 240 60 100 860
Rata-Rata Tim 70 45 60 15 25 215
Penghargaan Tim GOOD TEAM
Rata-rata tim = total skor tim/jumlah anggota
107
Tabel. 33 Hasil Lembar Rangkuman Tim Wonder
LEMBAR RANGKUMAN TIM
Nama Tim : WONDER
Skor Skor Skor
Skor Skor
No. Anggota Tim Game Kenai kemaju Total
Dasar Kuis
Puzzle kan an
1. AMM 70 60 68 8 20 230,2
2. AW 70 60 66 6 20 222
3. DDAC 70 68 72 4 20 234
4. NR 70 56 66 10 20 222
Total Skor Tim 280 244 272 28 80 904
Rata-Rata Tim 70 61 68 7 20 230,2
Penghargaan Tim GREAT TEAM
Rata-rata tim = total skor tim/jumlah anggota
Pada tahap ini guru merekognisi prestasi tim dengan
memberikan reward kepada siswa, mulai dari Good Team, Great
Team, dan Super Team. Tim juara ke 3/Good Team adalah tim
SMART yang mendapat skor rata-rata tim 215 poin. Tim juara ke
2/Great Team adalah tim WONDER yang mendapat skor rata-rata tim
230,2 poin. Sedangkan, tim juara ke 1/Super Team adalah tim SUPER
MARIO yang mendapat skor rata-rata tim 266 poin. Manfaat pada
tahap ini adalah memberikan motivasi siswa untuk belajar lebih tekun
dengan memberikan reward kepada siswa.
3. Observasi/Pengamatan Siklus II
Hasil dari observasi pada siklus kedua menunjukkan adanya
perubahan dan perbedaan dibandingkan pada siklus pertama. Pada tindakan
siklus kedua para siswa menunjukkan tingkat antusias dan keseriusan yang
108
lebih dari siklus pertama. Siswa pada siklus kedua terlihat lebih memahami
keterampilan sosial dalam dirinya masing-masing dan lebih mengerti arti
pentingnya memiliki keterampilan sosial yang tinggi untuk kehidupan
sehari-hari mereka.
Berdasarkan lembar observasi diperoleh data mengenai aspek-aspek
keterampian sosial siswa sebagai berikut :
Tabel. 34 Rangkuman Hasil Observasi Siklus II
Ya Tidak Total
No Aspek yang diamati
f % f % f %
1 Perilaku siswa sesuai dengan etika 8 67% 4 33% 12 100%
Respon siswa terhadap teman lain
2 8 67% 4 33% 12 100%
saat berkomunikasi
Kepedulian siswa terhadap
3 8 67% 4 33% 12 100%
lingkungan sekitar
Keaktifan siswa dalam kegiatan
4 8 67% 4 33% 12 100%
diskusi
Perhatian siswa terhadap penjelasan
5 7 58% 5 42% 12 100%
guru
Tanggung jawab siswa terhadap
6 7 58% 5 42% 12 100%
tugas
7 Kepatuhan siswa terhadap peraturan 8 67% 4 33% 12 100%
8 Mengendalikan diri saat berdiskusi 8 67% 4 33% 12 100%
Rata-rata 7,75 65% 4,25 35% 12 100%
Sumber : Hasil Pengamatan Siklus II (N=12)
Pada siklus II, hasil pengamatan menunjukkan adanya peningkatan
pada pemenuhan aspek-aspek keterampilan sosial siswa yang telah
mencapai 65%, dibandingkan dengan siklus I yang mencapai 55%. Hal lain
yang dapat diamati adalah bahwa pada siklus kedua ini para siswa lebih
antusias dalam melakukan tiap tindakan yang telah direncanakan peneliti.
Hal ini berdampak pada jalannya kegiatan.
109
4. Hasil Skala Keterampilan Sosial Siklus II
Hasil skala keterampilan sosial pada siklus kedua menunjukkan
adanya peningkatan terhadap keterampilan sosial siswa. Hasil skala pra
tindakan jumlah rata-rata sebesar 221,6 pada siklus pertama naik sebesar
230,2 dan pada siklus ke dua menjadi 241,8. Dari hasil siklus kedua dapat
dilihat perubahan siswa kelas VIII C di SMP N 2 Pakem. Skor rata-rata
siklus yang ke dua mencapai angka 241,8. Berdasarkan hasil itu peneliti
menyudahi penelitian karena skor kriteria keberhasilan peneliti yang semula
ditargetkan sebesar 234 sudah terlampaui dan sudah mencapai pada nilai
baik.
5. Wawancara Siklus II
Hasil wawancara dengan Guru BK adalah sebagai berikut :
“.... siklus II betul-betul dirasakan berbeda dibanding siklus II. Anak-
anak telah kelihatan enjoy mengikuti kegiatan yang diberikan. Jika
pada siklus pertama masih ada yang mengeluh capek, pada siklus II
ini seluruh siswa tidak ada yang mengeluh. Walaupun belum seluruh
siswa berani mengemukakan pendapat, namun siswa yang berani
berpendapat jauh lebih banyak. Anak-anak juga kelihatan nyaman
berkumpul pada kelompom yang sbelumnya asing bagi dirinya...”
Hasil wawancara dengan AMM (siswa) menyatakan bahwa “... sekarang
saya tidak takut berpendapat dalam diskusi...”. Sementara AW (siawa)
menyatakan “.... pelajarannya menyenagkan...”.
Dari hasil wawancara ini menunjukkan bahwa setelah mengikuti
bimbingan kelompok berbasis cooperative learning pada siklus II ini siswa
sudah mulai berani mengeluarkan ide dan mempertahankan ide yang mereka
kemukakan, siswa lebih bisa terbuka kepada teman lain tentang segala
110
sesuatu yang mereka rasakan, siswa lebih dapat bekerjasama, siswa juga
dapat mencari jalan keluar untuk permasalahan yang mereka hadapi. Hal ini
juga terjadi di sekolah maupun di lingkungan luar sekolah.
Siswa merasa senang mengikuti kegiatan bimbingan kelompok,
selain dijadikan ajang untuk hiburan, belajar, siswa juga lebih merasa dekat
dengan teman-temannya dan juga melatih diri untuk hidup di masyarakat
secara umum dan sekolah secara khusus.
6. Refleksi dan Evaluasi Siklus II
Refleksi dilakukan melalui diskusi antar peneliti dengan guru
pembimbing. Rangkaian tindakan bimbingan kelompok pada siklus kedua
berjalan dengan lancar dan sesuai yang diharapkan oleh peneliti dan guru
pembimbing. Para siswa banyak yang berkomentar: “kegiatannya lebih asik
dari yang kemarin bu”. Hal ini membuktikan bimbingan kelompok yang
diberikan pada siklus kedua lebih menarik dan para siswa menjadi antusias
dalam mengikutinya. Melalui kegiatan ini siswa sudah dapat meningkatkan
keterampilan sosial mereka. Hal ini terlihat dari hasil skor post test sebesar
241,8 meningkat dari hasil skor post test pada siklus pertama sebesar 230,2.
Berdasarkan hasil tersebut dapat dikategorisasikan 10 siswa
memiliki keterampilan sosial yang tinggi dan 1 siswa memiliki keterampilan
sosial yang sedang.
Hal ini menunjukkan bahwa peningkatan keterampilan sosial siswa
sesuai dengan kriteria keberhasilan. Oleh karena itu peneliti tidak
mengadakan tindakan lanjutan.
111
Pada tindakan pertama siklus kedua siswa terlihat sangat antusias
dan lebih serius mengikuti kegiatan. Siswa mengakui adanya perbedaan
pada siklus pertama dimana siswa lebih bisa bersabar dan serius dalam
mengikuti kegiatan. Siswa sudah menyadari pentingnya kegiatan yang
diberikan, untuk dirinya sendiri. Siswa lebih sadar bila memiliki
keterampilan sosial yang tinggi mereka bisa lebih berbaur dan disukai oleh
temannya dan juga sangat bermanfaat bagi dirinya sendiri dalam kehidupan
sehari-hari mereka di sekolah maupun di luar sekolah.
112
Tabel 35. Peningkatan Hasil Skala Keterampilan Sosial
Pasca Tindakan Pasca Tindakan
Pratindakan Kenaika
Nama Siklus I Siklus II
n Skor
Skor Kategori Skor Kategori Skor Kategori
EWN 180 Rendah 206 Rendah 237 Tinggi 57
AMM 228 Sedang 232 Sedang 240 Tinggi 12
AWS 223 Sedang 230 Sedang 242 Tinggi 19
BS 231 Sedang 236 Tinggi 246 Tinggi 15
DM 233 Sedang 238 Tinggi 250 Tinggi 17
DSN 221 Sedang 228 Sedang 236 Tinggi 15
DDAC 245 Sedang 250 Tinggi 256 Tinggi 11
FRN 221 Sedang 227 Sedang 237 Tinggi 16
NRKI 232 Sedang 240 Tinggi 250 Tinggi 18
REP 227 Sedang 230 Sedang 238 Tinggi 11
YPDYR 213 Sedang 220 Sedang 235 Tinggi 22
SRCAS 206 Sedang 225 Sedang 235 Tinggi 29
Rata-rata 221,6 230,2 241,8
Atau jika digambarkan adalah sebagai berikut :
Keterampilan Sosial
250
240 241,8
230 230,2
220 221,6
210
Pra Tindakan Siklus I Siklus II
Gambar 2. Grafik peningkatan keterampilan sosial siswa
113
Pada tindakan kedua siklus kedua, siswa masih menunjukkan
antusias yang tinggi. Siswa makin menyadari pentingnya memiliki
keterampilan sosial yang tinggi bagi dirinya sendiri. Guru pembimbing
merasakan perubahan yang cukup besar pada diri siswa di sekolah. Siswa
sudah terlihat sering mengeluarkan ide-ide dan dapat mempertahankan ide
mereka sesuai aturan untuk dipakai pada saat berdiskusi kelompok, siswa
mulai terbuka dengan teman lain, mereka mulai berani tentang masalah
pribadi kepada guru pembimbing, siswa sudah tidak memaksakan egonya
sendiri dan memikirkan perasaan dan permasalahan orang lain, siswa juga
sudah dapat mencari alternatif jalan keluar dari permasalahannya.
7. Hasil Tindakan Siklus I dan II
Dalam penelitian ini tindakan yang dilakukan untuk meningkatkan
keterampilan sosial siswa dilaksanakan melalui 2 siklus. Siklus I terdiri dari
5 tindakan dan siklus II terdiri dari 5 tindakan.
Siklus pertama ini terdiri dari 5 tindakan. Pada tindakan pertama
guru membantu siswa untuk berani berbicara di depan orang lain, dengan
melakukan perkenalan, serta membantu siswa dalam mengungkapkan
perasaannya melalui tahap mengungkapkan diri.
Pada tindakan kedua, guru membantu kesiapan siswa dalam
mengikuti tahap selanjutnya. Guru memberikan gambaran dan arahan
tentang peraturan-peraturan yang tidak boleh dilanggar pada tahap
selanjutnya.
114
Pada tindakan ketiga guru membantu siswa dalam mengembangkan
keterampilan sosialnya dengan cara bekerjasama dalam tim untuk
menyelesaikan masalah/konflik, dan membantu siswa mengembangkan
kemampuan untuk mengeluarkan idea tau pendapat serta menghargai
pendapat orang lain.
Pada tindakan keempat guru mengajarkan siswa bagaimana cara
berterimakasih kepada orang lain. Dalam tahap ini guru hanya berdiskusi,
berbincang serta bercanda dengan siswa secara rileks, agar tercipta
hubungan yang lebih harmonis antara siswa dengan guru dan siswa dengan
siswa lain.
Dari hasil diskusi dan evaluasi, secara umum keterampilan sosial
siswa masih belum meningkat sehingga kegiatan ini dilanjutkan pada siklus
kedua dengan tahapan dan tindakan yang sama. Peneliti hanya
memnambahkan beberapa permaianan, dan member waktu rileks beberapa
menit kepada siswa agar siswa tidak merasa jenuh.
E. Pembahasan
Hasil penelitian yang dilakukan menunjukkan bahwa bimbingan
kelompok berbasis cooperative learning dapat meningkatkan keterampilan
sosial para siswa kelas VIII C di SMP N 2 Pakem yang dapat diketahui dari
skor rata-rata keterampilan sosial pada tabel 28. Hal tersebut dilihat dari
peningkatan skor keterampilan sosial dari mulai pratindakan ke skor siklus
pertama lalu ke skor siklus kedua. Nilai pratindakan yang semula skornya
221,6 meningkat menjadi 230,2 pada siklus I dan meningkat lagi menjadi
115
241,8 pada siklus II. Hasil observasi juga menunjukkan adanya peningkatan
pada aspek-aspek keterampilan sosial yang diamati.
Hasil analisis tersebut menunjukkan bahwa metode cooparative
learning dengan bimbingan kelompok akan dapat meningkatkan
keterampilan sosial. Hal ini dapat dipahami karena bimbingan kelompok
sebagai salah satu bentuk bimbingan konseling, akan akan memberikan
pengalaman belajar bagi siswa agar mampu berbicara, mengeluarkan
pendapat, ide, saran, tanggapan, perasaan dan lain sebagainya kepada orang
banyak. Bimbingan kelompok juga akan membantu siswa belajar
menghargai pendapat orang lain, bertangung jawab atas pendapat yang
dikemukakannya dan mampu mengendalikan diri dan menahan emosi
(gejolak kejiwaan yang bersifat negatif).
Hal ini sesuai dengan yang dikemukakan oleh Andi Mappiare (2006:
312) yang menyatakan bahwa keterampilan sosial (social skills) sebagai
keterampilan antar pribadi yang berkaitan dengan interaksi sosial. Layanan
Bimbingan Konseling dengan cooparative learning dengan bimbingan
kelompok akan memberikan kesempatan kepada siswa melakukan interaksi
sosial dengan siswa lain dengan intensif. Sehingga secara tidak langsung
akan memberikan pengalaman belajar antar individu dengan individu yang
lain.
Pendapat lain yang menguatkan adalah Rusmana (2009: 13) bahwa
bimbingan kelompok merupakan suatu proses pemberian bantuan kepada
individu melalui suasana kelompok yang memungkinkan setiap anggota
116
untuk belajar berpartisipasi aktif dan berbagi pengalaman dalam upaya
mengembangkan wawasan, sikap atau keterampilan yang diperlukan dalam
upaya mencegah timbulnya masalah atau dalam mengembangkan pribadi.
Hasil analisis juga sesuai dengan yang dikemukakan oleh Winkel &
Sri Hastuti (2004: 547) yang menyatakan bahwa bimbingan kelompok
sebagai kegiatan kelompok diskusi yang menunjang perkembangan pribadi
dan perkembangan sosial masing-masing individu-individu dalam
kelompok, serta meningkatkan mutu kerja sama dalam kelompok guna
aneka tujuan yang bermakna bagi para partisipan.
Selain itu, cooparative learning dengan bimbingan kelompok juga
akan bermanfaat dalam mengembangkan tenggang rasa, menambah
keakraban antar siswa dan mengembangan penyesaian masalah atau topik-
topik umum yang dirasakan atau menjadi kepentingan bersama. Ini juga
sejalan dengan pendapat yang dikemukakan oleh Kaili Chen (Lujianto,
2009: 29) mengenai karakteristik keterampilan sosial yang meliputi: (1)
memahami dan mengatur emosi diri maupun orang lain (kontrol emosi); (2)
merespon orang lain dan mengarahkan tindakan sosial (sikap sosial); (3)
interaksi dan berkomunikasi secara verbal maupun non verbal (komunikasi);
(4) bertanggung jawab atas tindakan (tanggung jawab); dan (5)
Memperhatikan orang lain (peduli). Karanteristik tersebut terkandung dalam
kegiatan cooperative learning dengan bimbingan kelompok.
Hal tersebut juga sejalan dengan yang dikemukakan oleh
(Anwar,2006: 30) yang menyatakan bahwa social skill atau kecakapan
117
sosial sebagai bagian dari life skills meliputi dua hal yaitu kecakapan
berkomunikasi dengan empati (communication skills) dan Kecakapan
bekerjasama (collaboration skills). Kecakapan ini berarti komunikasi yang
bukan hanya sekedar penyampaian pesan tetapi menyangkut isi dan
sampainya pesan yang disertai dengan kesan baik yang menimbulkan
hubungan harmonis. Keterampilan komunikasi meliputi: memberikan
umpan balik, mengungkap perasaan, mendukung dan menanggapi orang
lain, serta menerima diri sendiri dan orang lain.
Dalam kegiatan tersebut siswa dalam kegiatan kelompok tentu akan
belajar peduli memahami orang lain, akan berkomunikasi dan merespon
orang lain, akan melakukan komunikasi verbal maupun non verbal, dan
akan berpartisipasi dalam kelompok mempertahankan pendapat sebagai
wujud tanggung jawab. Jika dilakukan secara berulang-ulang, maka akan
membentuk keterampilan sosial tanpa disadari oleh siswa.
Peranan guru yang terpenting dalam hal ini adalah memantau
bagaimana peningkatan keterampilan sosial yang terjadi. Pada aspek mana
telah berkembang baik, pada aspek mana yang masih kurang, pada aspek
mana yang per;lu perhatian dan seterusnya. Pengamatan yang terukur dari
guru memungkinkan guru melakukan tindakan sesuai dengan kebutuhan
siswa. Pendekatan cooperative learning model STAD terdiri atas lima
komponen utama, yaitu, presentasi kelas, tim, kuis, skor kemajuan
individual, rekognisi tim. Proses presentasi kelas, akan menorong siswa para
siswa untuk menyadari bahwa mereka harus benar-benar memberi perhatian
118
penuh, karena dengan demikian akan sangat membantu mereka
mengerjakan kuis-kuis dan skor kuis mereka menentukan skor tim mereka.
Pembentukan Tim yang terdiri dari 4-5 siswa memiliki fungsi utama untuk
melibatkan siswa dalam pembahasan permasalah bersama, membandingkan
jawaban, dan mengoreksi tiap kesalahan pemahaman apabila anggota tim
ada yang membuat kesalahan.
Proses interaksi dalam tim akan memberikan dampak positif pada
pengembangan dukungan kelompok. Hal ini berguna untuk memberikan
perhatian dan respek yang saling menguntungkan dalam hubungan antar
kelompok, rasa harga diri, penerimaan terhadap siswa-siswa lain. Kuis
dalam STAD akan mengajarkan bagaimana siswa bertanggung jawab secara
individual untuk memahami tugasnya. Sementara skor kemajuan individual
berguna untuk memberikan kepada tiap siswa bahwa mereka punya
kontribusi terhadap prestasi Tim. Sedangkan rekognisi tim merupakan
bentuk penghargaan bagi hasil kinerja tim yang mencapai tingkat
keberhasilan tertentu.
Hasil penelitian ini didukung oleh teori dan pendapat yang
dikemukakan oleh para ahli sehingga semakin menguatkan pendapat bahwa
bimbingan kelompok yang dikombinasikan dengan cooperative learning
model STAD akan membimbing siswa agar mampu berbicara di depan
orang banyak, berani mengemukakan pendapat, ide, saran, tanggapan,
perasaaan, serta dapat belajar menghargai pendapat orang lain dan
bertanggung jawab atas pendapat yang dikemukannya. Interaksi dalam Tim
119
akan mengajarkan siswa agar mampu mengendalikan diri dan menahan
emosi, dapat bertenggang rasa dan akrab satu dengan yang lainnya. Dengan
demikian, secara tidak langsung keterampilan sosial siswa secara perlahan
akan terbentuk dan berkembang. Bimbingan kelompok yang
dikombinasikan dengan cooperative learning model STAD memungkinkan
siswa untuk meningkatkan kemampuan berkomunikasi, kemampuan
menjalin hubungan baik dengan orang lain, kemampuan menghargai diri
sendiri dan orang lain, kemampuan mendengarkan pendapat atau keluhan
dari orang lain, kemampuan memberi dan menerima feedback, kemampuan
memberi dan menerima kritik, berlaku atau bertindak sesuai norma dan
aturan yang berlaku. Dengan demikian, penggunaan metode bimbingan
kelompok dengan cooperative learning akan membawa manfaat pada
meningkatnya keterampilan sosial siswa.
Menurut Ibrahim (2000: 10) bahwa tujuan utama pembelajaran
cooperative learning dalam kegiatan mengajar adalah : 1) hasil belajar 2)
penerimaan terhadap keragaman 3) pengembangan keterampilan sosial.
Teori yang dikemukakan oleh Erik Erikson (Singgih D. Gunarsa:
105-115) yang berpendapat bahwa terdapat delapan tahap perkembangan
terbentang ketika kita melampaui siklus kehidupan. Masing-masing tahap
terdiri dari tugas perkembangan yang khas dan mengedepankan individu
dengan suatu krisis yang harus dihadapi. Salah satunya adalah masa remaja
(identitas versus kebingungan identitas) terjadi pada masa remaja, yakni
usia 10 sampai dengan 20 tahun
120
Pada masa remaja anak dihadapkan oleh pencarian indentitas. Jika
anak menjajaki berbagai peran dan menemukan peran positif maka ia akan
mencapai identitas yang positif. Jika orangtua menolak identitas remaja
sedangkan remaja tidak mengetahui banyak peran dan juga tidak dijelaskan
tentang jalan masa depan yang positif maka ia akan mengalami
kebingungan identitas.
Oleh karena itu, masa remaja adalah masa yang sangat potensial ke
arah positif dan negatif. Maka bimbingan, maupun pendampingan sangat
diperlukan remaja untuk dapat diarahkan agar perkembangan remaja itu ke
arah yang positif. Dapat kita lihat pentingnya meningkatkan hubungan
sosial pada remaja agar dalam proses pendidikananya dan proses kehidupan
dalam masyarakat berjalan baik.
F. Keterbatasan Penelitian
Selama proses penelitian dilakukan, peneliti menyadari bahwa masih
ada keterbatasan penelitian ini yaitu: penilaian keterampilan sosial hanya
dilakukan pada saat penelitian, sehingga belum menjangkau pada keterampilan
sosial dalam kehidupan siswa sehari-hari disekolah.
121
BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN
A. Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan, diperoleh kesimpulan
bahwa bimbingan kelompok berbasis cooperative learning dapat meningkatkan
keterampilan sosial siswa di SMP N 2 Pakem kelas VIII C, untuk belajar
berinisisatif, bersikap terbuka, dapat bekerjasama dalam tim, berani berbicara
di depan orang lain dan menyelesaikan konflik. Pada setiap akhir tindakan
peneliti melakukan diskusi dengan peserta untuk bersama mencari tahu makna
dari setiap tindakan yang diberikan.
Terkait dengan hal tersebut, skor keterampilan sosial siswa kelas VIII C
di SMP N 2 Pakem meningkat. Hal ini dibuktikan dengan perolehan skor rata
pada pra tindakan sebesar 221,6, paska tindakan siklus I sebesar 230,2, dan
paska tindakan siklus II sebesar 241,8 yang berada pada kategori tinggi.
B. Saran
Berdasarkan kesimpulan hasil penelitian yang telah dikemukakan di
atas, maka disarankan sebagai berikut:
1. Bagi Guru Bimbingan dan Konseling
a. Guru Bimbingan dan Konseling diharapkan dapat melanjutkan kembali
tindakan dalam meningkatkan keterampilan sosial siswa di SMP N 2
Pakem.
122
b. Guru BK lebih berani berinovasi dalam menggunakan metode bimbingan
kelompok atau sejenisnya dalam memberikan bimbingan kepada siswa,
terutama pada peningkatan aspek-aspek sosial.
2. Bagi Siswa
a. Siswa hendaknya lebih serius dalam mengikuti bimbingan kelompok
yang diberikan oleh guru BK, sehingga siswa bisa mengerti makna
bimbingan kelompok berbasis cooperative learning dan bisa
menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari.
b. Siswa diharapkan terus mengembangkan keterampilan sosialnya
sehingga akan berguna dikemudian hari.
c. Siswa mampu membagi pengalaman dan ilmu yang telah didapat kepada
orang lain.
3. Bagi Penelitian Selanjutnya
a. Bagi peneliti yang akan meneliti mengenai keterampilan sosial agar lebih
meluangkan waktu dalam melakukan observasi awal terhadap subjek.
b. Bagi peneliti yang akan menggunakan teknik bimbingan kelompok
berbasis cooperative learning agar lebih detail dalam menyusun materi
tentang keterampilan sosial yang lebih menarik untuk siswa sehingga
siswa tidak merasa jenuh dengan lamanya kegiatan.
123
DAFTAR PUSTAKA
Agus Dariyo. (2004). Psikologi Perkembangan Remaja, Bogor : Ghalia Indonesia.
Andi Mappiare. (2006). Kamus Istilah Konseling dan Terapi. Jakarta: Rajawali
Press.
Anwar Kurnia. (2006). Pendidikan Kecakapan Hidup (life skills education).
Bandung: Alfabeta.
Cartlegde, G. & Milburn, J. F. (1995). Teaching Social Skills to Children and
Youth: Innovative Approaches. Massachusetts: Allyn and Bacon.
Depdikbud. (1999). Penelitian Tindakan. Jakarta: Direktorat Jendral Pendidikan
Dasar dan Menengah, Direktorat Pendidikan Menengah Umum.
Dewa Ketut Sukardi. (2008). Pengantar Pelaksanaan program bimbingan dan
konseling di sekolah. Jakarat: Rineka Cipta.
Elksnin, L. K. dan Elksnin, N. (2007). Assessment and Instruction of Social
Skill. London: Singular Publishing Group.
Erman Amti. (1992). Bimbingan dan Konseling. Jakarta:[Link]: P.T Proyek
Pembinaan Pendidikan.
Hurlock, E.B. (1991). Psikologi Perkembangan. Suatu Pendekatan Sepanjang
Rentang Kehidupan. (Alih bahasa: Istiwiayanti & Soedjarwo). Edisi
Kelima. Jakarta: Erlangga.
Ibrahim, M. (2000). Pembelajaran Kooperatif. Surabaya: Universitas Negeri
Surabaya
Isjoni. (2007). Cooperative Learning. Bandung:Alfabeta.
Johnson, D., W., & Johnson, R. (1999). Cooperation and Competition: Theory
and Research. Edina, MN: InteractionB ook Co.
Kemmis, S., & [Link], R. (1994). The Action Research Planner. Geelong:
Deaken Univercity Press.
Lie Anita. (2002). Cooperative Learning. Jakarta: PT. Grasindo.
Lujianto. (2009). Hubungan Antara Komunikasi Orang Tua dan Anak Dengan
Keterampilan Sosial Anak Di Madrasah 16 Tidakiyah Al-Khoiriyah
Melikan Wonde Pleret Bantul. Skripsi. FIP UNY.
Muhammad Ali & Muhammad Asrori. (2005). Psikologi Remaja. Jakarta: Bumi
Aksara.
124
Merrell, K.W & Gimpel, G.A. (1998). Social Skill of Children and Adolescents
Conceptualization, Assessment, Treatment. New Jersey London.
Lawrence. Erlbaum Associates.
Neila Ramdhani. (1994). Pelatihan Ketrampilan Sosial pada Mahasiswa yang
Sulit Bergaul, Tesis S2. Yogyakarta: Program Studi Pasca Sarjana UGM.
Panut Panuju dan Ida Umami. (2005). Psikologi Remaja. Yogyakarta: Tiara
Wacana.
Prayitno. (1995). Layanan Bimbingan dan Konseling Kelompok (Dasar dan
Profil). Jakarta: Ghalia Indonesia.
Rita Eka Izzaty, dkk. (2008). Perkembangan Peserta Didik. Yogyakarta: UNY
Press.
Rusmana. (2009). Bimbingan dan Konseling Kelompok di Sekolah (Metode,
Teknik, dan Aplikasi). Bandung : Rizqi Press.
Saifuddin Azwar. (2004). Reliabilitas dan Validitas. Yogyakarta: Pustaka Pelajar
Offset.
Santrock, J. W. (2003). Adolescence Perkembangan Remaja. Jakarta : Erlangga
Sarwono, S. W. (2005). Psikologi Remaja. Edisi Enam. Jakarta: Raja Grafindo
Persada.
Singgih D. Gunarsa. (2008). Dasar dan Teori Perkembangan Anak. Jakarta:
Gunung Mulia.
Slavin, R. E. (2005). Cooperative Learning Teori, Riset&Praktik. Bandung: Nusa
Media.
Sri Rumini. (2000). Psikologi Pendidikan. Yogyakarta: UNY.
Sri Rumini dan Siti Sundari. (2004). Perkembangan Anak dan Remaja. Jakarta:
PT Asdi Mahasatya.
Sri Sunarni. (2000). Hubungan Antara Layanan Bimbingan Pribadi Sosial dan
Keterampilan Sosial Dengan Penyesuaian Sosial Pada Siswa Kelas II
SMU N Yogyakarta Tahun Ajaran 2000/2001. Skripsi. Yogyakarta: FIP
UNY.
Stahl, R. J. (1994) Cooperative Learning In Social Studies: A Handbook For
[Link]: Kane Publishing Service. inc.
Suharsimi Arikunto. (2002). Manajemen Penelitian. Cetakan Ketujuh. Jakarta:
Rineka Cipta.
Sunarto dan Hartono A. (2002). Perkembangan Peserta Didik. Jakarta:
Depdikbud & Rineka Cipta.
125
Suyanto. (1997). Pedoman PelaksanaanPenelitian Tindakan Kelas (PTK), Bagian
satu. Jakarta: Dirjen Dikti Depdikbud Proyek Pendidikan Tenaga
Akademik Bagian Pengembangan Pendidikan Guru Sekolah Dasar
(BP3GSD).
Syamsu Yusuf dan Juntika Nurihsan. (2004). Landasan Bimbingan dan
Konseling. Bandung: Remaja Rosdakarya.
Winkel, W.S dan Sri Hastuti. (2004). Bimbingan dan Konseling di Institusi
Pendidikan. Yogyakarta: Media Abadi.
126
LAMPIRAN
127
Lampiran 1. Bentuk Skala Sebelum Uji Coba
SKALA KETERAMPILAN SOSIAL
KATA PENGANTAR
Skala ini bertujuan untuk mengetahui keterampilan sosial. Setiap
individu mempunyai tingkat keterampilan sosial yang berbeda-beda, dan
keterampilan sosial bukan semata-mata datang secara alami, namun dengan usaha
sadar dan berusaha untuk mengembangkan keterampilan sosial tersebut.
Skala ini berisi butir-butir pernyataan yang membutuhkan respon adik-
adik semua. Tidak ada jawaban benar atau salah setelah merespon item-item
tersebut. Jawablah tiap-item sesuai dengan keadaan/penghayatan/pengalaman
Anda. Kejujuran dan kesungguhan dalam menjawab pernyataan-pernyataan ini
sangat membantu dalam mengetahui seberapa keterampilan sosial adik-adik.
Jawaban dari pernyataan ini tidak akan mempengaruhi nilai maupun prestasi adik-
adik disekolah. Dalam menjawab pernyataan ini tidak ada jawaban yang dianggap
betul atau salah, karena jawaban satu siswa dan siswa lain berbeda-beda sesuai
dengan kondisi diri saat ini.
128
Atas kesediaan adik-adik untuk meluangkan waktu menjawab pernyataan
ini saya ucapkan terima kasih.
Penyusun : Eprilia Kusuma Dewi
PETUNJUK PENGISIAN
1. Tulislah nama lengkap dan kelas Anda dengan jelas.
2. Bacalah pernyataan dengan seksama, jawaban tidak ada betul dan salah
maka pilihlah sesuai dengan kondisi Anda sebenarnya.
3. Pada lembar jawab terdapat 4 jawaban yaitu:
Sangat Sesuai (SS)
Sesuai (S)
Tidak Sesuai (TS)
Sangat Tidak Sesuai (STS)
4. Jawablah pada tempat yang sudah tersedia dengan memberi tanda centang
(√) atau silang (X).
Contoh:
Jika Anda menghargai pendapat orang lain maka berilah tanda centang
(√)atau silang (X) pada kolom SS.
Jawaban
NO Pernyataan
SS S TS STS
1 Saya menghargai pendapat orang lain
√
Jika Anda tidak pernah memberi bantuan kepada orang lain maka berilah
tanda centang (√)atau silang (X) pada kolom STS.
Jawaban
NO Pernyataan
SS S TS STS
1 Saya memberi bantuan kepada orang lain saat
dibutuhkan. √
129
5. Jika jawaban yang telah Anda pilih ternyata tidak sesuai dan Anda ingin
menggantinya maka berikan tanda sama dengan (=).
Contoh:
Jawaban
NO Pernyataan
SS S TS STS
1 Saya memberi bantuan kepada orang lain saat
√ √
dibutuhkan.
Selamat mengerjakan .
SKALA KETERAMPILAN SOSIAL
Jawaban
NO. Pernyataan
SS S TS STS
1. Saya mengikuti remidial ketika nilai saya jelek
2. Saya bernyanyi di depan kelas karena tidak mengerjakan PR
3. Saya sulit menerima akibat kesalahan yang saya perbuat sendiri
4. Saya membolos sekolah karena tidak mengerjakan PR
5. Saya bersikap sopan ketika berkunjung ke rumah teman
Saya berjalan agak membungkuk ketika lewat di depan orang yang
6. lebih tua
7. Saya mendengarkan nasehat guru
8. Saya berbicara menggunakan nada tinggi dengan guru
9. Saya bercerita tentang masalah yang sedang saya hadapi kepada teman
Saya memberikan ucapan selamat kepada teman yang mendapat juara
10.
130
kelas
11. Saya malu memberikan pujian kepada teman yang berprestasi
12. Saya gengsi ketika harus meminta maaf kepada teman
Saya menjaga kontak mata dengan lawan bicara setiap terlibat
13. pembicaraan
14. Saya bersemangat saat teman mengajak saya bercerita
15. Saya melamun saat orang lain berbicara dengan saya
16. Saya lebih banyak diam ketika teman sedang berbicara dengan saya
17. Saya memperhatikan kesehatan saya
18. Saya menjaga pola makan agar tidak sakit
19. Saya mandi sehari sekali
20. Saya telat makan ketika waktunya makan
21. Saya datang lebih pagi ke sekolah karena harus piket
22. Saya menyiram bunga di depan kelas
23. Saya membuang sampah sembarangan
24. Saya menginjak tanaman di sekitar sekolah
25. Saya memberikan apa yang saya miliki demi menolong orang lain
26. Saya membantu orang lain yang terlihat membutuhkan pertolongan
Saya tidak membantu orang lain sebelum dimintai pertolongan oleh
27. orang tersebut
28. Saya hanya menolong orang yang suka menolong saya
29. Saya bertanya kepada guru ketika tidak dapat mengerjakan tugas
30. Saya meminta bantuan teman ketika tidak dapat mengerjakan PR
31. Saya bertanya kepada teman saat ujian
32. Saya malu bertanya jika tidak mengerti penjelasan guru
33. Saya mendengarkan orang lain yang sedang berbicara
34. Saya memperhatikan penjelasan guru di depan kelas
35. Saya asik bermain pensil saat guru memberikan penjelasan di kelas
Saya berbicara dengan teman sebangku saya ketika guru menjelaskan di
36. depan kelas
131
Saya mengemukakan pendapat/ide saat terlibat pembicaraan dengan
37. orang lain
38. Saya berbicara dengan jelas dan tegas saat mengemukakan pendapat
39. Saya terbata-bata ketika berbicara saat diskusi di kelas
40. Saya berbicara ketika orang lain sedang berpendapat
41. Saya menyelesaikan tugas tepat waktu
Saya bersungguh-sungguh dalam mengerjakan tugas yang diberikan
42. oleh guru
43. Saya menunda-nunda dalam mengerjakan PR
44. Saya mengerjakan PR di sekolah
45. Saya datang ke sekolah tepat waktu
46. Saya memakai seragam sesuai dengan peraturan sekolah
47. Saya membolos pelajaran yang saya tidak suka
48. Saya tidak memakai topi saat upacara
49. Saya menjalin hubungan baik dengan siapa saja tanpa membedakan
50. Saya belajar kelompok diluar jam sekolah
51. Saya mementingkan tugas individu dan mengabaikan tugas kelompok
52. Saya memilih menyendiri ketika ada kegiatan kelompok
Saya dengan senang hati mengambilkan penghapus papan tulis di ruang
53. guru
54. Saya menjadi ketua dalam kegiatan-kegiatan di sekolah
55. Saya memilih menjadi anggota daripada pemimpin
56. Saya malu ketika ditunjuk guru untuk maju mengerjakan soal
57. Saya memberikan solusi ketika teman curhat dengan saya
58. Saya tetap tenang dalam menyelesaikan masalah
59. Saya tidak bisa menyelesaikan masalah saya sendirian
60. Saya terburu-buru dalam menyelesaikan masalah dengan teman
61. Saya menanyakan kabar teman yang tidak masuk sekolah
62. Saya mengantarkan teman yang sedang sakit ke UKS
63. Saya ikut prihatin atas masalah yang dialami teman
64. Saya cuek ketika ada teman yang sedang mencurahkan isi hati kepada
132
saya
65. Saya menyapa teman terlebih dahulu ketika bertemu di jalan
66. Saya membalas ucapan salam dari orang lain
67. Saya menghindar ketika bertemu guru di jalan karena malu
68. Saya diam ketika bertemu teman di jalan
69. Saya membantu teman ketika teman dalam kesusahan
70. Saya tidak membeda-bedakan saat menolong orang lain
71 Saya membiarkan pengemis yang meminta-minta kepada saya
72 Saya menolak teman yang meminta bantuan dalam mengerjakan tugas
73 Saya membuka percakapan saat berkumpul bersama teman-teman
74 Saya banyak berbicara ketika berkumpul dengan teman-teman
75 Saya hanya berbicara dan dekat dengan orang-orang tertentu saja
76 Saya takut berbicara dengan orang yang baru saya kenal
77 Saya hadir dalam kegiatan ekstrakulikuler
78 Saya aktif mengikuti kegiatan OSIS di sekolah
Saya tidak memberikan keterangan saat tidak dapat mengikuti kegiatan
79 ekstrakulikuler
80 Saya tidak ikut serta dalam kegiatan bakti sosial
81 Saya berteman tanpa membeda-bedakan
82 Saya berteman tanpa melihat fisik
83 Saya berteman hanya dengan orang-orang kaya
84 Saya menjauhi teman yang mempunyai sifat sombong
85 Saya mampu mengendalikan amarah ke hal positif
86 Saya menghindari permusuhan dengan teman
87 Saya berkelahi dengan teman karena hal kecil
88 Saya memukul teman yang menghina saya
#TERIMA KASIH
133
Lampiran 2. Bentuk Skala Setelah Uji Coba
SKALA KETERAMPILAN SOSIAL
KATA PENGANTAR
Skala ini bertujuan untuk mengetahui keterampilan sosial. Setiap
individu mempunyai tingkat keterampilan sosial yang berbeda-beda, dan
keterampilan sosial bukan semata-mata datang secara alami, namun dengan usaha
sadar dan berusaha untuk mengembangkan keterampilan sosial tersebut.
Skala ini berisi butir-butir pernyataan yang membutuhkan respon adik-
adik semua. Tidak ada jawaban benar atau salah setelah merespon item-item
tersebut. Jawablah tiap-item sesuai dengan keadaan/penghayatan/pengalaman
Anda. Kejujuran dan kesungguhan dalam menjawab pernyataan-pernyataan ini
sangat membantu dalam mengetahui seberapa keterampilan sosial adik-adik.
Jawaban dari pernyataan ini tidak akan mempengaruhi nilai maupun prestasi adik-
adik disekolah. Dalam menjawab pernyataan ini tidak ada jawaban yang dianggap
betul atau salah, karena jawaban satu siswa dan siswa lain berbeda-beda sesuai
dengan kondisi diri saat ini.
134
Atas kesediaan adik-adik untuk meluangkan waktu menjawab pernyataan
ini saya ucapkan terima kasih.
Penyusun : Eprilia Kusuma Dewi
PETUNJUK PENGISIAN
1. Tulislah nama lengkap dan kelas Anda dengan jelas.
2. Bacalah pernyataan dengan seksama, jawaban tidak ada betul dan salah
maka pilihlah sesuai dengan kondisi Anda sebenarnya.
3. Pada lembar jawab terdapat 4 jawaban yaitu:
Sangat Sesuai (SS)
Sesuai (S)
Tidak Sesuai (TS)
Sangat Tidak Sesuai (STS)
4. Jawablah pada tempat yang sudah tersedia dengan memberi tanda centang
(√) atau silang (X).
Contoh:
Jika Anda menghargai pendapat orang lain maka berilah tanda centang
(√)atau silang (X) pada kolom SL.
Jawaban
NO Pernyataan
SS S TS STS
1 Saya menghargai pendapat orang lain
√
Jika Anda tidak pernah memberi bantuan kepada orang lain maka berilah
tanda centang (√)atau silang (X) pada kolom TP.
Jawaban
NO Pernyataan
SS S TS STS
1 Saya memberi bantuan kepada orang lain saat
dibutuhkan. √
135
5. Jika jawaban yang telah Anda pilih ternyata tidak sesuai dan Anda ingin
menggantinya maka berikan tanda sama dengan (=).
Contoh:
Jawaban
NO Pernyataan
SS S TS STS
1 Saya memberi bantuan kepada orang lain saat
√ √
dibutuhkan.
Selamat mengerjakan .
SKALA KETERAMPILAN SOSIAL
Jawaban
NO. Pernyataan
SS S TS STS
1. Saya mengikuti remidial ketika nilai saya jelek
2. Saya bernyanyi di depan kelas karena tidak mengerjakan PR
3. Saya sulit menerima akibat kesalahan yang saya perbuat sendiri
4. Saya membolos sekolah karena tidak mengerjakan PR
Saya berjalan agak membungkuk ketika lewat di depan orang yang
5. lebih tua
6. Saya mendengarkan nasehat guru
7. Saya bercerita tentang masalah yang sedang saya hadapi kepada teman
8. Saya malu memberikan pujian kepada teman yang berprestasi
9. Saya gengsi ketika harus meminta maaf kepada teman
10 Saya menjaga kontak mata dengan lawan bicara setiap terlibat
136
pembicaraan
11 Saya bersemangat saat teman mengajak saya bercerita
12 Saya lebih banyak diam ketika teman sedang berbicara dengan saya
13 Saya memperhatikan kesehatan saya
14 Saya mandi sehari sekali
15 Saya telat makan ketika waktunya makan
16 Saya menyiram bunga di depan kelas
17 Saya membuang sampah sembarangan
18 Saya menginjak tanaman di sekitar sekolah
19 Saya memberikan apa yang saya miliki demi menolong orang lain
20 Saya membantu orang lain yang terlihat membutuhkan pertolongan
21 Saya hanya menolong orang yang suka menolong saya
22 Saya bertanya kepada guru ketika tidak dapat mengerjakan tugas
23 Saya meminta bantuan teman ketika tidak dapat mengerjakan PR
24 Saya bertanya kepada teman saat ujian
25 Saya malu bertanya jika tidak mengerti penjelasan guru
26 Saya mendengarkan orang lain yang sedang berbicara
27 Saya memperhatikan penjelasan guru di depan kelas
28 Saya asik bermain pensil saat guru memberikan penjelasan di kelas
Saya berbicara dengan teman sebangku saya ketika guru menjelaskan di
29 depan kelas
Saya mengemukakan pendapat/ide saat terlibat pembicaraan dengan
30 orang lain
31 Saya berbicara dengan jelas dan tegas saat mengemukakan pendapat
32 Saya terbata-bata ketika berbicara saat diskusi di kelas
33 Saya berbicara ketika orang lain sedang berpendapat
34 Saya menyelesaikan tugas tepat waktu
Saya bersungguh-sungguh dalam mengerjakan tugas yang diberikan
35 oleh guru
36 Saya menunda-nunda dalam mengerjakan PR
137
37 Saya mengerjakan PR di sekolah
38 Saya datang ke sekolah tepat waktu
39 Saya memakai seragam sesuai dengan peraturan sekolah
40 Saya membolos pelajaran yang saya tidak suka
41 Saya menjalin hubungan baik dengan siapa saja tanpa membedakan
42 Saya belajar kelompok diluar jam sekolah
43 Saya mementingkan tugas individu dan mengabaikan tugas kelompok
44 Saya memilih menyendiri ketika ada kegiatan kelompok
Saya dengan senang hati mengambilkan penghapus papan tulis di ruang
45 guru
46 Saya menjadi ketua dalam kegiatan-kegiatan di sekolah
47 Saya memilih menjadi anggota daripada pemimpin
48 Saya malu ketika ditunjuk guru untuk maju mengerjakan soal
49 Saya memberikan solusi ketika teman curhat dengan saya
50 Saya tetap tenang dalam menyelesaikan masalah
51 Saya tidak bisa menyelesaikan masalah saya sendirian
52 Saya terburu-buru dalam menyelesaikan masalah dengan teman
53 Saya menanyakan kabar teman yang tidak masuk sekolah
54 Saya mengantarkan teman yang sedang sakit ke UKS
55 Saya ikut prihatin atas masalah yang dialami teman
Saya cuek ketika ada teman yang sedang mencurahkan isi hati kepada
56 saya
57 Saya menyapa teman terlebih dahulu ketika bertemu di jalan
58 Saya membalas ucapan salam dari orang lain
59 Saya menghindar ketika bertemu guru di jalan karena malu
60 Saya membantu teman ketika teman dalam kesusahan
61 Saya tidak membeda-bedakan saat menolong orang lain
62 Saya membiarkan pengemis yang meminta-minta kepada saya
63 Saya menolak teman yang meminta bantuan dalam mengerjakan tugas
64 Saya banyak berbicara ketika berkumpul dengan teman-teman
138
65 Saya hanya berbicara dan dekat dengan orang-orang tertentu saja
66 Saya takut berbicara dengan orang yang baru saya kenal
67 Saya hadir dalam kegiatan ekstrakulikuler
68 Saya aktif mengikuti kegiatan OSIS di sekolah
Saya tidak memberikan keterangan saat tidak dapat mengikuti kegiatan
69 ekstrakulikuler
70 Saya tidak ikut serta dalam kegiatan bakti sosial
71 Saya berteman tanpa membeda-bedakan
72 Saya berteman tanpa melihat fisik
73 Saya berteman hanya dengan orang-orang kaya
74 Saya menjauhi teman yang mempunyai sifat sombong
75 Saya mampu mengendalikan amarah ke hal positif
76 Saya menghindari permusuhan dengan teman
77 Saya berkelahi dengan teman karena hal kecil
78 Saya memukul teman yang menghina saya
#TERIMA KASIH#
139
Lampiran 3. Uji Validitas dan Reliabilitas
Uji Validitas
Correlations
Correlations
Rhitung Keterangan
P1 Pearson Correlation .569** Valid
Sig. (2-tailed) .003
N 25
P2 Pearson Correlation .660** Valid
Sig. (2-tailed) .000
N 25
P3 Pearson Correlation .552** Valid
Sig. (2-tailed) .004
N 25
P4 Pearson Correlation .573** Valid
Sig. (2-tailed) .003
N 25
P5 Pearson Correlation .105 Tidak Valid
Sig. (2-tailed) .619
N 25
P6 Pearson Correlation .712** Valid
Sig. (2-tailed) .000
140
N 25
P7 Pearson Correlation .553** Valid
Sig. (2-tailed) .004
N 25
P8 Pearson Correlation .043 Tidak Valid
Sig. (2-tailed) .837
N 25
P9 Pearson Correlation .536** Valid
Sig. (2-tailed) .006
N 25
P10 Pearson Correlation -.033 Tidak Valid
Sig. (2-tailed) .876
N 25
P10 Pearson Correlation -.033 Tidak Valid
Sig. (2-tailed) .876
N 25
P11 Pearson Correlation .536** Valid
Sig. (2-tailed) .006
N 25
P12 Pearson Correlation .559** Valid
Sig. (2-tailed) .004
N 25
P13 Pearson Correlation .618** Valid
Sig. (2-tailed) .001
N 25
141
Rhitung Keterangan
P14 Pearson Correlation .519** Valid
Sig. (2-tailed) .008
N 25
P15 Pearson Correlation -.077 Tidak Valid
Sig. (2-tailed) .716
N 25
P16 Pearson Correlation .548** Valid
Sig. (2-tailed) .005
N 25
P17 Pearson Correlation .610** Valid
Sig. (2-tailed) .001
N 25
P18 Pearson Correlation -.233 Tidak Valid
Sig. (2-tailed) .262
N 25
P19 Pearson Correlation .566** Valid
Sig. (2-tailed) .003
N 25
P20 Pearson Correlation .523** Valid
Sig. (2-tailed) .007
N 25
P21 Pearson Correlation .064 Tidak Valid
Sig. (2-tailed) .761
142
N 25
P22 Pearson Correlation .582** Valid
Sig. (2-tailed) .002
N 25
P23 Pearson Correlation .595** Valid
Sig. (2-tailed) .002
N 25
P24 Pearson Correlation .625** Valid
Sig. (2-tailed) .001
N 25
P25 Pearson Correlation .502* Valid
Sig. (2-tailed) .011
N 25
P26 Pearson Correlation .610** Valid
Sig. (2-tailed) .001
N 25
P27 Pearson Correlation .063 Tidak Valid
Sig. (2-tailed) .765
N 25
P28 Pearson Correlation .680** Valid
Sig. (2-tailed) .000
N 25
P29 Pearson Correlation .520** Valid
Sig. (2-tailed) .008
N 25
P30 Pearson Correlation .490* Valid
143
Sig. (2-tailed) .013
N 25
Rhitung Keterangan
P31 Pearson Correlation .509** Valid
Sig. (2-tailed) .009
N 25
P32 Pearson Correlation .519** Valid
Sig. (2-tailed) .008
N 25
P33 Pearson Correlation .512** Valid
Sig. (2-tailed) .009
N 25
P34 Pearson Correlation .540** Valid
Sig. (2-tailed) .005
N 25
P35 Pearson Correlation .562** Valid
Sig. (2-tailed) .003
N 25
P36 Pearson Correlation .507** Valid
Sig. (2-tailed) .010
N 25
P37 Pearson Correlation .572** Valid
Sig. (2-tailed) .003
N 25
P38 Pearson Correlation .573** Valid
Sig. (2-tailed) .003
144
N 25
P39 Pearson Correlation .519** Valid
Sig. (2-tailed) .008
N 25
P40 Pearson Correlation .569** Valid
Sig. (2-tailed) .003
N 25
P41 Pearson Correlation .547** Valid
Sig. (2-tailed) .005
N 25
P42 Pearson Correlation .569** Valid
Sig. (2-tailed) .003
N 25
P43 Pearson Correlation .598** Valid
Sig. (2-tailed) .002
N 25
P44 Pearson Correlation .490* Valid
Sig. (2-tailed) .013
N 25
P45 Pearson Correlation .504* Valid
Sig. (2-tailed) .010
N 25
P46 Pearson Correlation .600** Valid
Sig. (2-tailed) .002
N 25
145
P47 Pearson Correlation .680** Valid
Sig. (2-tailed) .000
N 25
Rhitung Keterangan
P48 Pearson Correlation -.053 Tidak Valid
Sig. (2-tailed) .802
N 25
P49 Pearson Correlation .771** Valid
Sig. (2-tailed) .000
N 25
P50 Pearson Correlation .497* Valid
Sig. (2-tailed) .012
N 25
P51 Pearson Correlation .635** Valid
Sig. (2-tailed) .001
N 25
P52 Pearson Correlation .500* Valid
Sig. (2-tailed) .011
N 25
P53 Pearson Correlation .647** Valid
Sig. (2-tailed) .000
N 25
P54 Pearson Correlation .505** Valid
Sig. (2-tailed) .010
N 25
P55 Pearson Correlation .486* Valid
146
Sig. (2-tailed) .014
N 25
P56 Pearson Correlation .526** Valid
Sig. (2-tailed) .007
N 25
P57 Pearson Correlation .564** Valid
Sig. (2-tailed) .003
N 25
P58 Pearson Correlation .491* Valid
Sig. (2-tailed) .013
N 25
P59 Pearson Correlation .499* Valid
Sig. (2-tailed) .011
N 25
P60 Pearson Correlation .523** Valid
Sig. (2-tailed) .007
N 25
P61 Pearson Correlation .470* Valid
Sig. (2-tailed) .018
N 25
P62 Pearson Correlation .558** Valid
Sig. (2-tailed) .004
N 25
P63 Pearson Correlation .507** Valid
Sig. (2-tailed) .010
147
N 25
P64 Pearson Correlation .648** Valid
Sig. (2-tailed) .000
N 25
Rhitung Keterangan
P65 Pearson Correlation .522** Valid
Sig. (2-tailed) .007
N 25
P66 Pearson Correlation .539** Valid
Sig. (2-tailed) .005
N 25
P67 Pearson Correlation .615** Valid
Sig. (2-tailed) .001
N 25
P68 Pearson Correlation -.168 Tidak Valid
Sig. (2-tailed) .423
N 25
P69 Pearson Correlation .506** Valid
Sig. (2-tailed) .010
N 25
P70 Pearson Correlation .632** Valid
Sig. (2-tailed) .001
N 25
P71 Pearson Correlation .583** Valid
Sig. (2-tailed) .002
N 25
148
P72 Pearson Correlation .574** Valid
Sig. (2-tailed) .003
N 25
P73 Pearson Correlation -.046 Tidak Valid
Sig. (2-tailed) .826
N 25
P74 Pearson Correlation .463* Valid
Sig. (2-tailed) .020
N 25
P75 Pearson Correlation .523** Valid
Sig. (2-tailed) .007
N 25
P76 Pearson Correlation .520** Valid
Sig. (2-tailed) .008
N 25
P77 Pearson Correlation .469* Valid
Sig. (2-tailed) .018
N 25
P78 Pearson Correlation .517** Valid
Sig. (2-tailed) .008
N 25
P79 Pearson Correlation .672** Valid
Sig. (2-tailed) .000
N 25
P80 Pearson Correlation .469* Valid
149
Sig. (2-tailed) .018
N 25
P81 Pearson Correlation .455* Valid
Sig. (2-tailed) .022
N 25
Rhitung Keterangan
P82 Pearson Correlation .463* Valid
Sig. (2-tailed) .020
N 25
P83 Pearson Correlation .686** Valid
Sig. (2-tailed) .000
N 25
P84 Pearson Correlation .535** Valid
Sig. (2-tailed) .006
N 25
P85 Pearson Correlation .519** Valid
Sig. (2-tailed) .008
N 25
P86 Pearson Correlation .508** Valid
Sig. (2-tailed) .010
N 25
P87 Pearson Correlation .543** Valid
Sig. (2-tailed) .005
N 25
P88 Pearson Correlation .548** Valid
150
Sig. (2-tailed) .005
N 25
*. Correlation is significant at the 0.05 level (2-tailed).
**. Correlation is significant at the 0.01 level (2-tailed).
151
Reliabilitas Angket
Scale: ALL VARIABLES
Case Processing Summary
N %
Cases Valid 25 100.0
Excludeda 0 .0
Total 25 100.0
a. Listwise deletion based on all variables in the procedure.
Reliability Statistics
Cronbach's Alpha N of Items
.963 88
Item-Total Statistics
Scale Mean if Item Scale Variance if Corrected Item- Cronbach's Alpha if
Deleted Item Deleted Total Correlation Item Deleted
P1 254.7600 1155.273 .551 .962
P2 255.0400 1149.123 .646 .962
P3 255.4000 1155.750 .534 .962
P4 254.7200 1154.877 .555 .962
P5 254.4800 1184.343 .087 .963
P6 254.8000 1144.750 .699 .961
P7 255.6800 1157.810 .536 .962
P8 255.2800 1187.043 .026 .963
P9 255.3200 1152.977 .515 .962
P10 255.4800 1191.510 -.060 .964
152
P11 254.5600 1160.840 .520 .962
P12 254.9200 1153.660 .540 .962
P13 255.1200 1149.527 .601 .962
P14 255.3600 1159.907 .502 .962
P15 255.0000 1192.583 -.096 .963
P16 255.4400 1159.173 .532 .962
P17 255.4400 1146.590 .590 .962
P18 255.3200 1203.727 -.258 .964
P19 255.0800 1159.410 .551 .962
P20 255.6800 1163.227 .508 .962
P21 256.0000 1185.583 .041 .963
P22 256.0400 1152.123 .564 .962
P23 255.3600 1157.740 .580 .962
P24 254.9200 1147.660 .607 .962
P25 255.6800 1166.310 .487 .962
P26 255.2800 1156.210 .596 .962
P27 255.2000 1185.667 .040 .963
P28 254.9200 1157.827 .669 .962
P29 255.5600 1158.173 .501 .962
P30 255.3600 1165.073 .474 .962
P31 255.6800 1165.977 .495 .962
P32 255.4000 1165.167 .505 .962
P33 255.1600 1157.057 .492 .962
P34 255.1600 1158.723 .523 .962
P35 255.4400 1162.673 .548 .962
P36 255.4800 1166.927 .494 .962
P37 255.6000 1163.250 .559 .962
P38 255.8400 1169.890 .564 .962
153
P39 255.2800 1161.127 .502 .962
P40 254.8000 1166.500 .557 .962
P41 255.6000 1154.750 .528 .962
P42 255.2000 1160.167 .555 .962
P43 255.5600 1153.507 .582 .962
P44 255.4000 1166.500 .475 .962
P45 255.0400 1158.623 .485 .962
P46 254.5600 1155.340 .585 .962
P47 254.4800 1153.927 .668 .962
P48 254.4000 1191.000 -.070 .963
P49 254.4800 1155.510 .764 .962
P50 255.5600 1161.173 .479 .962
P51 255.2000 1159.333 .623 .962
P52 254.8000 1158.000 .480 .962
P53 255.6000 1146.500 .631 .962
P54 256.4000 1154.250 .483 .962
P55 255.9200 1158.327 .465 .962
P56 255.4800 1158.260 .508 .962
P57 255.0400 1156.790 .547 .962
P58 255.0800 1163.327 .474 .962
P59 255.4800 1158.343 .479 .962
P60 255.1600 1167.973 .511 .962
P61 255.6000 1164.167 .452 .962
P62 255.5600 1161.757 .544 .962
P63 255.7600 1164.273 .491 .962
P64 254.6400 1157.073 .636 .962
P65 255.1200 1160.693 .505 .962
P66 254.6800 1167.060 .526 .962
154
P67 254.5600 1167.507 .606 .962
P68 254.7600 1196.357 -.186 .963
P69 255.1200 1163.360 .490 .962
P70 254.8800 1154.610 .618 .962
P71 255.3600 1150.907 .564 .962
P72 255.1200 1167.443 .564 .962
P73 255.4800 1191.677 -.069 .963
P74 255.4800 1157.927 .440 .962
P75 255.1200 1162.527 .507 .962
P76 255.7200 1159.710 .503 .962
P77 255.0400 1154.373 .443 .962
P78 256.0800 1148.743 .492 .962
P79 254.9600 1145.040 .656 .962
P80 254.8000 1166.333 .453 .962
P81 254.4000 1170.083 .441 .962
P82 254.5600 1166.423 .446 .962
P83 254.6400 1152.657 .673 .962
P84 255.6000 1155.500 .516 .962
P85 255.4400 1160.757 .502 .962
P86 255.2000 1155.167 .487 .962
P87 255.2400 1156.940 .525 .962
P88 255.5200 1143.843 .522 .962
Scale Statistics
Mean Variance Std. Deviation N of Items
2.5816E2 1.188E3 34.47424 88
155
Lampiran 4. Pra Tindakan
NO ITEM NO ITEM NO
ITEM NO ITEM
N NA 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 2 2
O MA
1 2 3 4 5 6 7 8 9 0 1 2 3 4 5 6 7 8 9 0 1
P P N N P N P N N P P N P N N P N N P P N
EW
1 N 2 1 2 3 4 2 3 2 4 2 3 3 3 4 2 1 2 4 2 4 3
AM
2 M 4 1 3 4 4 1 4 4 3 4 4 3 2 3 2 2 3 4 2 3 3
AW
3 S 4 1 4 4 3 3 3 4 4 3 2 4 4 2 2 1 3 4 2 2 3
4 BS 4 1 3 4 4 3 2 4 3 4 3 3 4 3 3 2 2 4 2 4 4
5 DM 2 1 4 4 4 2 2 4 4 4 2 3 3 3 3 2 3 4 2 2 4
6 DSN 4 1 3 4 2 3 4 4 3 2 2 3 2 3 2 1 3 2 2 2 3
DD
7 AC 3 1 2 4 4 1 3 4 3 4 4 3 4 4 2 3 2 2 4 4 4
8 FRN 2 1 3 4 4 2 2 3 3 4 2 3 3 3 3 3 3 4 2 2 4
NRK
9 I 4 1 3 4 3 3 2 4 4 3 3 3 3 3 2 3 3 3 3 3 3
1
0 REP 4 1 1 4 4 1 3 3 4 2 3 3 2 4 2 3 3 4 3 3 3
1
1 YPD 2 1 4 4 4 3 3 4 4 4 2 4 4 2 2 3 3 4 2 2 2
1
2 SRC 4 1 3 4 3 2 3 3 2 3 2 3 3 3 2 1 2 3 2 3 3
3 1 3 4 4 2 3 4 4 3 3 3 3 3 2 2 3 4 2 3 3
jumlah 9 2 5 7 3 6 4 3 1 9 2 8 7 7 7 5 2 2 8 4 9
keterangan:
P = Positive
N = Negative
156
NO ITEM
2 2 2 2 2 2 2 2 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 5 5 5
2 3 4 5 6 7 8 9 0 1 2 3 4 5 6 7 8 9 0 1 2 3 4 5 6 7 8 9 0 1 2
P P N N P P N N P P N N P P N N P P N P P N N P P N N P P N N
1 2 2 2 1 3 3 3 1 2 4 2 1 2 2 4 1 1 3 2 2 1 4 2 4 4 4 2 2 2 4
2 3 2 2 4 2 2 2 2 2 3 3 2 3 2 3 3 4 4 4 3 3 4 3 2 2 1 3 4 1 3
3 3 2 3 2 2 4 3 2 2 4 4 2 3 2 3 2 4 4 3 2 3 4 1 2 3 4 2 2 3 3
3 2 1 4 4 2 2 2 3 3 3 4 2 3 2 2 3 4 4 4 2 3 3 1 1 1 3 3 3 4 3
2 3 2 3 4 3 3 3 4 2 1 3 3 3 2 2 4 4 4 4 4 3 2 2 1 4 3 3 2 3 3
2 3 2 3 4 4 2 3 3 2 2 3 2 2 2 3 2 4 4 4 2 3 4 2 1 1 3 4 4 3 3
3 3 2 3 4 4 3 1 3 3 2 3 3 2 3 2 3 4 4 4 2 4 4 3 3 3 3 4 4 3 3
4 3 2 3 4 3 4 3 3 2 3 3 2 3 3 3 2 4 4 2 2 3 4 1 1 1 4 2 2 3 3
2 3 3 3 3 4 3 3 3 3 3 3 4 2 4 3 3 2 4 4 2 3 3 3 1 2 3 3 3 3 3
2 4 3 3 4 3 3 3 3 3 3 3 3 4 3 3 3 4 4 3 4 3 4 2 1 2 3 4 4 2 2
3 3 2 2 2 2 4 3 3 3 4 3 3 2 2 3 4 4 4 3 3 3 3 1 2 3 3 3 4 2 3
2 3 1 1 3 2 3 2 2 2 3 3 2 2 2 2 3 4 4 2 3 3 4 2 2 1 3 3 3 3 3
2 3 2 3 3 3 3 3 3 2 3 3 2 3 2 3 3 4 4 3 3 3 4 2 2 2 3 3 3 3 3
9 5 4 2 9 4 6 1 2 9 5 7 9 1 9 3 3 3 7 9 1 5 3 3 1 7 7 6 7 2 6
157
NO ITEM
5 5 5 5 5 5 5 6 6 6 6 6 6 6 6 6 6 7 7 7 7 7 7 7 7 7 Ju
3 4 5 6 7 8 9 0 1 2 3 4 5 6 7 8 9 0 1 2 3 4 5 6 7 8 ml
P P N N P P N P P N N P N N P P N N P P N N P P N N ah
18
1 2 4 2 4 1 2 2 2 2 1 2 2 3 1 4 1 1 4 2 2 1 2 1 1 1 0
22
3 3 2 3 4 4 3 3 4 2 3 2 3 2 4 1 4 3 4 4 4 3 3 4 3 4 8
22
2 2 3 4 2 3 4 2 3 2 3 2 3 2 4 2 4 2 4 2 4 3 2 3 4 4 3
23
2 2 3 3 4 3 4 4 4 3 2 4 4 3 1 4 3 4 4 4 3 1 4 3 1 4 1
23
4 3 2 4 2 3 4 3 4 1 3 2 4 2 4 2 4 4 4 4 4 3 3 1 4 4 3
22
2 2 3 4 4 4 4 2 2 3 3 3 3 2 4 1 4 4 4 4 4 2 3 4 4 1 1
24
3 4 2 4 4 4 2 4 3 3 3 3 3 3 4 3 3 3 4 4 4 3 3 4 3 2 5
22
2 3 3 4 2 3 4 3 4 3 3 2 3 2 3 2 3 3 4 3 3 3 2 2 3 3 1
23
3 3 2 4 3 3 4 3 4 3 3 3 3 2 3 2 2 3 4 3 3 3 3 3 3 3 2
22
2 2 2 4 3 3 3 3 3 1 3 3 2 2 4 1 4 3 4 4 3 1 3 4 3 2 7
21
3 2 3 3 2 2 3 2 2 2 3 3 2 1 2 1 4 3 2 2 4 1 2 2 2 3 3
20
3 2 3 3 2 3 3 3 3 3 3 2 3 2 3 1 3 3 3 3 4 3 3 3 3 3 6
3 3 3 4 3 3 4 3 3 2 3 3 3 2 3 2 3 3 4 3 4 2 3 3 3 3 26
0 0 2 2 6 6 0 4 8 8 3 1 5 6 7 4 9 6 5 9 2 7 3 4 4 4 60
158
Lampiran 5. Paska Tindakan Siklus 1
NO ITEM
1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 2 2
1 2 3 4 5 6 7 8 9 0 1 2 3 4 5 6 7 8 9 0 1
N NA
O MA P P N N P N P N N P P N P N N P N N P P N
EW
1 N 2 1 2 3 4 2 3 2 1 2 3 3 3 4 2 1 2 4 2 2 3
AM
2 M 4 1 3 4 4 1 4 4 3 4 4 3 2 3 2 2 3 4 2 3 3
AW
3 S 4 1 4 4 3 3 3 4 4 3 2 4 4 2 2 1 3 4 2 2 3
4 BS 4 1 3 4 4 3 2 4 3 4 3 3 4 3 3 2 2 4 2 4 4
5 DM 2 1 4 4 4 2 2 4 4 4 2 3 3 3 3 2 3 4 2 2 4
DS
6 N 4 1 3 4 2 3 4 4 3 2 2 3 2 3 2 1 3 2 2 2 3
DD
7 AC 3 1 2 4 4 1 3 4 3 4 4 3 4 4 2 3 2 2 4 4 4
FR
8 N 2 1 3 4 4 2 2 3 3 4 2 3 3 3 3 3 3 4 2 2 4
NR
9 KI 4 1 3 4 3 3 2 4 4 3 3 3 3 3 2 3 3 3 3 3 3
1 RE
0 P 4 1 1 4 4 1 3 3 4 2 3 3 2 4 2 3 3 4 3 3 3
1 YP
1 D 2 1 4 4 4 3 3 4 4 4 2 4 4 2 2 3 3 4 2 2 2
1 SR
2 C 4 1 3 4 3 2 3 3 3 3 2 3 3 3 2 4 2 3 2 3 3
3 1 3 4 4 2 3 4 3 3 3 3 3 3 2 2 3 4 2 3 3
Jumlah 9 2 5 7 3 6 4 3 9 9 2 8 7 7 7 8 2 2 8 2 9
159
No item
2 2 2 2 2 2 2 2 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 5 5 5
2 3 4 5 6 7 8 9 0 1 2 3 4 5 6 7 8 9 0 1 2 3 4 5 6 7 8 9 0 1 2
P P N N P P N N P P N N P P N N P P N P P N N P P N N P P N N
1 2 2 2 1 3 3 3 3 2 4 2 4 2 3 4 3 3 3 3 2 1 4 2 1 4 4 2 2 2 4
2 3 2 2 4 2 2 2 2 2 3 3 3 3 2 3 3 4 4 4 3 3 4 3 2 2 1 3 4 2 3
3 3 2 3 2 2 4 3 2 2 4 4 2 3 2 3 2 4 4 3 2 3 4 4 2 3 4 2 3 3 3
3 2 1 4 4 2 2 2 3 3 3 4 2 3 2 2 3 4 4 4 2 3 3 1 1 1 3 3 3 4 3
2 3 2 3 4 3 3 3 4 2 1 3 3 3 2 2 4 4 4 4 4 3 2 2 1 4 3 3 2 3 3
2 3 2 3 4 4 2 3 3 2 2 3 2 2 2 3 2 4 4 4 2 3 4 2 1 3 3 4 4 3 3
3 3 2 3 4 4 3 4 3 3 2 3 3 3 3 3 3 4 4 4 2 4 4 3 3 3 3 4 4 3 3
4 3 2 3 4 3 4 3 3 2 3 3 2 3 3 3 2 4 4 2 2 3 4 2 3 4 4 2 2 3 3
2 3 3 3 3 4 3 3 3 3 3 3 4 3 4 3 3 4 4 4 4 3 3 3 4 2 3 3 3 3 3
2 4 3 3 4 3 3 3 3 3 3 3 3 4 3 3 3 4 4 3 4 3 4 2 1 2 3 4 4 2 2
3 3 2 2 2 2 4 3 3 3 4 3 3 2 2 3 4 4 4 3 3 3 3 3 2 3 3 3 4 2 3
2 3 1 1 3 3 3 3 3 3 3 3 2 3 3 3 3 4 4 2 3 3 4 3 2 4 3 3 3 3 3
2 3 2 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 4 4 4 3 3 4 3 2 3 3 3 3 3 3
9 5 4 2 9 5 6 5 5 0 5 7 3 4 1 5 5 7 7 0 3 5 3 0 3 5 7 6 8 3 6
160
No item
5 5 5 5 5 5 5 6 6 6 6 6 6 6 6 6 6 7 7 7 7 7 7 7 7 7 Ju
3 4 5 6 7 8 9 0 1 2 3 4 5 6 7 8 9 0 1 2 3 4 5 6 7 8 ml
P P N N P P N P P N N P N N P P N N P P N N P P N N ah
20
3 2 4 2 1 4 2 3 2 3 4 2 3 3 1 4 1 4 4 2 3 4 2 3 4 4 6
23
3 3 2 3 4 4 3 3 4 2 3 2 3 2 4 4 4 3 4 4 3 3 3 4 3 4 2
23
2 2 3 4 2 3 3 3 3 2 3 2 3 2 4 4 4 2 4 3 4 3 2 3 4 4 0
23
2 2 3 3 4 3 4 4 4 3 3 4 4 3 1 4 3 4 4 4 3 3 4 3 3 4 6
23
4 3 2 4 3 3 4 3 4 2 3 2 4 2 4 2 4 4 4 4 4 3 3 4 4 4 8
22
2 2 3 4 4 4 4 2 3 3 3 3 3 2 4 3 4 4 4 4 4 2 3 4 4 3 8
25
3 4 2 4 4 4 2 4 3 3 3 3 3 3 4 3 3 3 4 4 4 3 3 4 3 2 0
22
2 3 3 4 2 3 4 3 4 3 3 2 3 2 3 2 3 3 4 3 3 3 2 2 3 3 7
24
3 3 2 4 3 3 4 3 4 3 3 3 3 2 3 2 2 3 4 3 3 3 3 3 3 3 0
23
2 2 2 4 3 3 3 3 3 1 3 3 2 2 4 1 4 3 4 4 3 4 3 4 3 2 0
22
3 2 3 3 2 2 3 3 2 2 3 3 2 2 2 4 4 3 2 2 4 1 2 2 2 3 0
22
3 2 3 3 2 3 3 3 3 3 3 3 3 2 3 4 3 3 3 3 4 3 3 3 3 3 5
3 3 3 4 3 3 3 3 3 3 3 3 3 2 3 3 3 3 4 4 4 3 3 3 3 3 27
2 0 2 2 4 9 9 7 9 0 7 2 6 7 7 7 9 9 5 0 2 5 3 9 9 9 62
161
Lampiran 6. Paska Tindakan Siklus II
No item
1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 2 2
1 2 3 4 5 6 7 8 9 0 1 2 3 4 5 6 7 8 9 0 1
N NA P P N N P N P N N P P N P N N P N N P P N
O MA
EW 2 4 2 3 4 3 3 2 4 2 3 3 3 4 2 4 2 4 2 2 3
1 N
AM 4 1 3 4 4 1 4 4 3 4 4 3 2 3 2 2 3 4 2 3 3
2 M
4 1 4 4 3 3 3 4 4 3 2 4 4 2 2 1 3 4 2 2 3
3 AWS
4 1 3 4 4 3 2 4 3 4 3 3 4 3 3 2 2 4 2 4 4
4 BS
2 1 4 4 4 2 2 4 4 4 2 3 3 3 3 2 3 4 2 2 4
5 DM
4 1 3 4 2 3 4 4 3 2 2 3 2 3 2 1 3 2 2 2 3
6 DSN
DDA 3 1 2 4 4 1 3 4 3 4 4 3 4 4 2 3 2 2 4 4 4
7 C
2 1 3 4 4 2 2 3 3 4 2 3 3 3 3 3 3 4 2 2 4
8 FRN
4 1 3 4 3 3 2 4 4 3 3 3 3 3 2 3 3 3 3 3 3
9 NRKI
1 4 1 1 4 4 1 3 3 4 2 3 3 2 4 2 3 3 4 3 3 3
0 REP
1 2 1 4 4 4 3 3 4 4 4 2 4 4 2 2 3 3 4 2 3 2
1 YPD
1 4 1 3 4 3 2 3 3 3 3 2 3 3 3 2 4 2 3 2 3 3
2 SRC
3 1 3 4 4 2 3 4 4 3 3 3 3 3 2 3 3 4 2 3
9 5 5 7 3 7 4 3 2 9 2 8 7 7 7 1 2 2 8 3
Jumlah
162
No item
2 2 2 2 2 2 2 2 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 5 5
2 3 4 5 6 7 8 9 0 1 2 3 4 5 6 7 8 9 0 1 2 3 4 5 6 7 8 9 0 1
P P N N P P N N P P N N P P N N P P N P P N N P P N N P P N
4 2 3 3 4 3 3 3 3 2 4 2 4 3 3 4 3 3 3 2 4 3 2 3 4 4 4 3 3 4
2 3 2 2 4 2 2 2 2 2 3 3 3 3 2 3 3 4 4 4 3 3 4 3 2 3 4 3 4 3
3 3 2 3 2 2 4 3 2 2 4 4 3 3 4 3 3 4 4 3 2 3 4 4 2 3 4 2 3 3
3 2 1 4 4 2 2 2 3 3 3 4 2 3 2 2 3 4 4 4 2 3 3 1 3 4 3 3 3 4
2 3 2 3 4 3 3 3 4 2 4 3 3 3 2 4 4 3 4 4 4 3 2 2 4 4 3 3 2 3
2 3 2 3 4 4 2 3 3 2 2 3 2 2 2 3 2 4 4 4 3 3 4 2 3 3 3 4 4 3
3 3 2 3 4 4 3 4 3 3 3 3 4 3 4 3 4 4 4 4 3 4 4 3 3 3 3 4 4 3
4 3 2 3 4 3 4 3 3 2 3 3 3 3 3 3 4 4 4 3 2 3 4 3 3 4 4 3 3 3
2 3 3 3 3 4 3 3 3 4 3 4 4 3 4 3 3 4 4 4 4 3 3 3 4 3 3 3 4 3
2 4 3 3 4 3 3 3 3 3 3 3 3 4 3 3 3 4 4 3 4 3 4 2 3 2 3 4 4 2
3 3 3 3 2 3 4 3 3 3 4 3 3 2 3 3 4 4 4 3 3 3 3 3 3 3 3 3 4 3
2 3 4 1 3 3 3 3 3 3 4 3 2 3 3 4 3 4 4 3 3 3 4 3 4 4 3 3 3 3
3 3 2 3 4 3 3 3 3 3 4 3 3 3 3 3 3 4 4 4 3 3 4 3 3 4 4 3 4 3
2 5 9 4 2 6 6 5 5 1 0 8 6 5 5 8 9 6 7 1 7 7 1 2 8 0 0 8 1 7
163
No item
5 5 5 5 5 5 5 5 6 6 6 6 6 6 6 6 6 6 7 7 7 7 7 7 7 7 7 Ju
2 3 4 5 6 7 8 9 0 1 2 3 4 5 6 7 8 9 0 1 2 3 4 5 6 7 8 m
la
N P P N N P P N P P N N P N N P P N N P P N N P P N N h
2
3
4 4 3 4 3 1 4 3 3 3 3 4 2 3 3 3 4 1 4 1 2 1 4 2 4 4 4 7
2
4
3 3 3 2 3 4 4 3 3 4 4 3 3 3 2 4 4 4 3 4 4 3 3 3 4 3 4 0
2
4
3 2 2 3 4 4 3 3 3 3 4 3 2 3 2 4 4 4 4 4 3 4 3 4 3 4 4 2
2
4
3 3 3 3 3 4 3 4 4 4 3 3 4 4 3 4 4 3 4 4 4 3 3 4 3 3 4 6
2
5
3 4 3 3 4 3 3 4 3 4 3 3 3 4 3 4 3 4 4 4 4 4 3 3 4 4 4 0
2
3
3 3 2 3 4 4 4 4 2 3 3 3 3 3 4 4 3 4 4 4 4 4 4 3 4 4 3 6
2
5
3 3 4 2 4 4 4 3 4 3 3 3 3 3 3 4 3 3 3 4 4 4 3 3 4 3 2 6
2
3
3 2 3 3 4 2 3 4 3 4 3 3 4 3 2 3 2 3 3 4 3 3 3 3 2 3 3 7
2
5
3 4 3 4 4 3 3 4 3 4 3 4 3 3 2 3 3 3 3 4 3 3 3 3 3 3 3 0
2
3
2 2 2 2 4 3 3 3 3 3 4 3 3 2 2 4 4 4 3 4 4 3 4 3 4 3 2 8
2
3
3 3 2 3 3 2 2 3 3 3 2 3 3 2 2 2 4 4 3 3 3 4 4 2 3 3 3 5
2
3
3 3 3 3 3 3 4 3 3 3 3 3 3 3 2 3 4 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 5
2
9
3 3 3 3 4 3 4 4 3 4 3 3 3 3 3 4 4 4 4 4 4 3 4 3 4 4 3 0
6 6 3 5 3 7 0 1 7 1 8 8 6 6 0 2 2 0 1 3 1 9 0 6 1 0 9 2
164
Lampiran 7. Materi Keterampilan Sosial
MATERI KETERAMPILAN SOSIAL
1. PENGERTIAN KETERAMPILAN SOSIAL
Menurut Ramdhani (1994:39) menyebutkan bahwa keterampilan sosial
merupakan suatu keterampilan yang diperoleh individu melalui proses belajar,
mengenai cara-cara mengatasi atau melakukan hubungan sosial dengan tepat dan
baik. Selain itu Ramdhani mengatakan bahwa keterampilan sosial adalah suatu
keterampilan untuk mengatasi atau menjalani kehidupan sosial dengan baik.
Sedangkan menurut Sri Sunarni (2000:23).menyatakan bahwa
keterampilan sosial ini sangat dibutuhkan manusia karena dengan keterampilan
ini seseorang dapat menghadapi dan mengatasi masalah yang dijumpai dalam
kehidupan sosialnya.
Keterampilan sosial membawa orang untuk lebih berani berbicara,
mengungkapkan setiap perasaan atau permasalahan yang dihadapi dan sekaligus
menemukan penyelesaian yang adaptif, sehingga mereka tidak mencari pelarian
ke hal-hal lain yang justru dapat merugikan diri sendiri maupun orang lain.
Mu’tadin (2006) mengemukakan bahwa salah satu tugas perkembangan
yang harus dikuasai remaja yang berada dalam fase perkembangan masa remaja
madya dan remaja akhir adalah memiliki keterampilan sosial (social skill) untuk
dapat menyesuaikan diri dengan kehidupan sehari-hari. Keterampilan
keterampilan sosial tersebut meliputi kemampuan berkomunikasi, menjalin
hubungan dengan orang lain, menghargai diri sendiri dan orang lain,
mendengarkan pendapat atau keluhan dari orang lain, memberi atau menerima
feedback, memberi atau menerima kritik, bertindak sesuai norma dan aturan yang
berlaku, dsb. Apabila keterampilan sosial dapat dikuasai oleh remaja pada fase
tersebut maka ia akan mampu menyesuaikan diri dengan lingkungan sosialnya.
Hal ini berarti pula bahwa sang remaja tersebut mampu mengembangkan
aspek psikososial dengan maksimal. Berdasarkan uraian tersebut dapat
disimpulkan bahwa keterampilan sosial merupakan kemampuan seseorang untuk
berani berbicara, mengungkapkan setiap perasaan atau permasalahan yang
dihadapi sekaligus menemukan penyelesaian yang adaptif, memiliki tanggung
jawab yang cukup tinggi dalam segala hal, penuh pertimbangan sebelum
165
melakukan sesuatu, mampu menolak dan menyatakan ketidaksetujuannya
terhadap pengaruh-pengaruh negatif dari lingkungan.
2. MANFAAT KETERAMPILAN SOSIAL
Johnson dan Johnson (1999) mengemukakan 6 hasil penting dari memiliki
keterampilan sosial, yaitu :
a) Perkembangan Kepribadian dan Identitas
Hasil pertama adalah perkembangan kepribadian dan identitas karena
kebanyakan dari identitas masyarakat dibentuk dari hubungannya
dengan orang lain. Sebagai hasil dari berinteraksi dengan orang lain,
individu mempunyai pemahaman yang lebih baik tentang diri sendiri.
Individu yang rendah dalam keterampilan interpersonalnya dapat
mengubah hubungan dengan orang lain dan cenderung untuk
mengembangkan pandanagn yang tidak akurat dan tidak tepat tentang
dirinya.
b) Mengembangkan Kemampuan Kerja, Produktivitas, dan Kesuksesan
Karir
Keterampilan sosial juga cenderung mengembangkan kemampuan
kerja, produktivitas, dan kesuksesan karir, yang merupakan
keterampilan umum yang dibutuhkan dalam dunia kerja nyata.
Keterampilan yang paling penting, karena dapat digunakan untuk
bayaran kerja yang lebih tinggi, mengajak orang lain untuk bekerja
sama, memimpin orang lain, mengatasi situasi yang kompleks, dan
menolong mengatasi permasalahan orang lain yang berhubungan
dengan dunia kerja.
c) Meningkatkan Kualitas Hidup
Meningkatkan kualitas hidup adalah hasil positif lainnya dari
keterampilan social karena setiap individu membutuhkan hubungan
yang baik, dekat, dan intim dengan individu lainnya.
d) Meningkatkan Kesehatan Fisik
Hubungan yang baik dan saling mendukung akan mempengaruhi
kesehatan fisik. Penelitian menunjukkan hubungan yang berkualitas
166
tinggi berhubungan dengan hidup yang panjang dan dapat pulih dengan
cepat dari sakit.
e) Meningkatkan Kesehatan Psikologis
Penelitian menunjukkan bahwa kesehatan psikologis yang kuat
dipengaruhi oleh hubungan positif dan dukungan dari orang lain.
Ketidakmampuan mengembangkan dan mempertahankan hubungan
yang positif dengan orang lain dapat mengarah pada kecemasan,
depresi, frustasi, dan kesepian. Telah dibuktikan bahwa kewmampuan
membangun hubungan yang positif dengan orang lain dapat
mengurangi distress psikologis, yang menciptakan kebebasan, identitas
diri, dan harga diri.
f) Kemampuan Mengatasi Stress
Hasil lain yang tidak kalah pentingnya dari memiliki keterampilan
sosial adalah kemampuan mengatasi stress. Hubungan yang saling
mendukung telah menunjukkan berkurangnya jumlah penderita stress
dan mengurangi kecemasan. Hubungan yang baik dapat membantu
individu dalam mengatasi stress dengan memberikan perhatian,
informasi, dan feedback.
3. CIRI KETERAMPILAN SOSIAL
Secara lebih spesifik, Elksnin & Elksnin (dalam Adiyanti, 1999) mengidentifikasi
keterampilan sosial dengan beberapa ciri, yaitu:
a) Perilaku interpersonal
Merupakan perilaku yang menyangkut keterampilan yang dipergunakan
selama melakukan interaksi sosial. Perilaku ini disebut juga
keterampilan menjalin persahabatan, misalnya memperkenalkan diri,
menawarkan bantuan, dan memberikan atau menerima pujian.
Keterampilan ini kemungkinan berhubungan dengan usia dan jenis
kelamin.
b) Perilaku yang berhubungan dengan diri sendiri
Merupakan keterampilan mengatur diri sendiri dalam situasi sosial,
misalnya keterampilan menghadapi stress, memahami perasaan orang
lain, mengontrol kemarahan dan sejenisnya. Dengan kemampuan ini,
167
anak dapat memperkirakan kejadian-kejadian yang mungkin akan
terjadi dan dampak perilakunya pada situasi sosial tertentu.
c) Perilaku yang berhubungan dengan kesuksesan akademis
Merupakan perilaku atau keterampilan sosial yang dapat mendukung
prestasi belajar di sekolah, misalnya mendengarkan dengan tenang saat
guru menerangkan pelajar, mengerjakan pekerjaan sekolah dengan baik,
melakukan apa yang diminta oleh guru, dan semua perilaku yang
mengikuti aturan kelas.
d) Peer acceptance
Merupakan perilaku yang berhubungan dengan penerimaan sebaya,
misalnya memberi salam, memberi dan meminta informasi, mengajak
teman terlibat dalam suatu aktivitas, dan dapat menangkap dengan tepat
emosi orang lain.
e) Keterampilan komunikasi
Keterampilan komunikasi merupakan salah satu keterampilan yang
diperlukan untuk menjalin hubungan sosial yang baik. Kemampuan
anak dalam berkomunikasi dapat dilihat dalam beberapa bentuk, antara
lain menjadi pendengar yang responsif, mempertahankan perhatian
dalam pembicaraan dan memberikan umpan balik terhadap kawan
bicara.
Keterampilan sosial bukanlah kemampuan yang dibawa individu sejak
lahir tetapi diperoleh melalui proses belajar, baik belajar dari orang tua sebagai
figur yang paling dekat dengan anak maupun belajar dari teman sebaya dan
lingkungan masyarakat. Michelson, dkk. (dalam Ramdhani, 1994) menyebutkan
bahwa keterampilan sosial merupakan suatu keterampilan yang diperoleh
individu melalui proses belajar, mengenai cara-cara mengatasi atau melakukan
hubungan sosial dengan tepat dan baik. Mirip dengan pendapat Michelson, dkk.
tersebut, Kelly, dkk. (dalam Ramdhani, 1994) mengatakan bahwa keterampilan
sosial adalah perilaku-perilaku yang dipelajari, yang digunakan individu dalam
situasi-situasi interpersonal untuk memperoleh atau memelihara pengukuh dari
lingkungannya.
Berdasarkan beberapa pengertian yang telah diuraikan di atas, dapat
disimpulkan bahwa keterampilan sosial merupakan suatu kemampuan mengatur
pikiran, emosi dan perilaku untuk memulai dan memelihara hubungan atau
168
interaksi dengan lingkungan sosial secara efektif dengan mempertimbangkan
norma dan kepentingan sosial serta tujuan pribadi. Secara umum, keterampilan
sosial ini dapat dilihat dalam beberapa bentuk perilaku: pertama, perilaku yang
berhubungan dengan diri sendiri (bersifat intrapersonal) seperti mengontrol
emosi, menyelesaikan permasalahan sosial secara tepat, memproses informasi
dan memahami perasaan orang lain; kedua, perilaku yang berhubungan dengan
orang lain (bersifat interpersonel) seperti memulai interaksi dan komunikasi
dengan orang lain; dan ketiga perilaku yang berhubungan dengan akademis,
seperti mematuhi peraturan dan melakukan apa yang diminta oleh guru.
4. FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KETERAMPILAN SOSIAL
Sunarto dan Hartono (1995:130) mengungkapkan bahwa faktor-faktor
yang mempengaruhi perkembangan keterampilan anak diantaranya adalah :
a. Faktor Internal
Adalah faktor-faktor yang berasal dari dalam diri individu antara lain
kapasitas mental, emosi dan intelegensi serta kematanagan harga diri.
1) Kapasitas Mental, Emosi dan Intelegensi
Anak berkemampuan intelektual tinggi akan berkemampuan berbahasa secara
baik. Oleh karena itu, kemampuan intelektual tinggi, kemampuan berbahasa
baik dan pengendalian emosional seara seimbang sangat menetukan
keberhasilan dalam perkembangan sosial anak.
2) Kematangan
Bersosialisasi membutuhkan kematangan fisik dan psikis. Untuk mampu
mempertimbangkan dalam proses sosial memberi dan menerima pendapat
orang lain, memerlukan kematangan intelektual dan emosional.
b. Faktor Eksternal
Adalah faktor yang berasal dari lingkungan yang berpengaruh terhadap
perilaku sosial anak,anatara lain : faktor keluarga, status sosial ekonomi,
pendidikan.
1) Keluarga
a) Lingkungan rumah
169
Jika lingkungan rumah secara keseluruhan memupuk sikap sosial yang baik
kemungkina besar anaka akan menjadi pribadi sosial dan sebaliknya.
b) Hubungan antara ayah dan ibu, anak dan saudaranya mempunyai pengaruh
yang sangat kuat.
c) Posisi anak dan keluarga. Anak yang lebih tua atau yang jarak umurnya
dengan saudaranya terlalu jauh, atau satu-satunya anak yg jenis kelaminnya
lain dari saudara-saudaranya, cenderung lebih banyak menyendiri ketika
bersama anak-anak lain. Anak yang jenis kelaminnya sama dengan saudara-
saudaranya menemukan kesulitan dalam bergaul dengan teman yang jenis
kelaminnya berlainan tetapi mudah membina pergaulan dengan anak yang
jenis kelamnnya sama.
d) Ukuran keluarga
Sebagai contoh, anak tunggal sering mendapatkann perhatian yang lebih dari
semestinya. Akibatnyamereka mengharapkan perlakuan yang sama dari
orang luar dan kesal jika meraekan tidak mendapatkannya.
e) Perilaku sosial dan sikap anak mencerminkan perilaku yang diterima
dirumah.
Anak yang merasa ditolak oleh orag tua mungkin akan suka meneyndir dan
menjadi introvert. Sebalaiknya penerimaan dan sikap orang tua yang penuh
cinta kasih mendorong anak bersikap ekstrovert.
2) Status Sosial Ekonomi
Kehidupan sosial banyak dipengaruhi oleh kondisi sosial ekonmi keluarga
dalam masyarkat. Perilaku anak akan banyak memperhatikan kondisi normative
yang telah ditanamkan oleh kelaurga.
3) Lingkungan
Sejak dini anak-anak harus sudah diperkenalkan dengan lingkungan.
Lingkungan dalam batasan ini meliputi lingkungan fisik (rumah, pekarangan) dan
lingkungan sosial (tetangga). Lingkungan juga meliputi lingkungan keluarga
(keluarga primer dan sekunder), lingkungan sekolah dan lingkungan masyarakat
luas. Dengan pengenalan lingkungan maka sejak dini anak sudah mengetahui
bahwa dia memiliki lingkungan sosial yang luas, tidak hanya terdiri dari orang tua,
saudara, atau kakek dan nenek saja.
170
Lampiran 8. Game Konsentrasi
TEST KONSENTRASI KAMU !
ayo fokus !!
1. Jawab spontan , jangan kelamaan mikir
2. baca satu demi satu.
3. Konsentrasi ..
Permainan konsentrasi warna ...
1. kertas HVS warnanya apa ?
2. awan warnanya apa ?
3. tissu warnanya apa ?
4. sapi minum apa ?
Yang ngejawab susu konsentrasi anda terganggu,
karena sapi minum air
warna Hitam:"
1. rambut anda warna apa?
2. tulisan ini warnanya apa ??
3. aspal warnanya apa ???
4. kelelawar tidurnya kapan?
Yang menjawab malam, artinya konsentrasinya tergganggu.
karena kelelawar tidur siang hari.
warna Hijau:"
1. cendol warnanya apa?
2. daun kelapa warnanya apa?
3. warna umum daun?
4. ayam makan apa?
Yang jawab rumput , itu salah,
karena ayam makan beras atau cacing
Hayo ngaku salah brapa =))
FOKUS .... FOKUS .....
171
Lampiran 9. Lembar Soal Kuis Keterampilan Sosial Siklus 1
NAMA :
NAMA KELOMPOK :
SOAL:
1. APA PENGERTIAN KETERAMPILAN SOSIAL?
2. SEBUTKAN MANFAAT DARI KETERAMPILAN SOSIAL?
3. SEBUTKAN CIRI DARI KETERAMPILAN SOSIAL?
4. SEBUTKAN FAKTOR APA SAJA YANG MEMPENGARUHI KETERAMPILAN SOSIAL?
JAWABAN:
172
Lampiran 10. Soal Kuis Keterampilan Sosial
NAMA :
KELOMPOK :
CERITA
Sejak kecil saya dianggap sebagai seorang pemalu dan tidak pandai bergaul.
Sekarang saya bekerja sebagai seorang PNS tapi saya masih merasa kurang memiliki
kepercayaan diri yang cukup apalagi kalau saya harus berbicara di depan orang banyak.
Saya terkadang dianggap sebagai seorang yang sombong karena tidak mudah bergaul
dengan teman-teman kerja. Padahal sebenarnya saya ingin ngobrol kemudian cerita-
cerita sama mereka tapi rasanya saya takut kalau mereka menolaknya. Saya nggak pede
kalau harus ngobrol sama seseorang dan lagi kalau orang tersebut tidak melalui
pembicaraan terlebih dahulu maka saya juga tidak akan ngomong apapun.
Saya ingin supaya diri saya lebih pandai bergaul dan bisa diterima di semua
kalangan. Saya sempat cari solusi kemana-mana, bahkan sampai ke paranormal. Saya
disuruh mandi kembang katanya biar bisa membuang energi negatif yang ada pada diri
saya. Tetapi yang ada sama saja saya tetap pria pemalu dan tidak pandai bergaul. Kalau
ada semacam diskusi atau rapat sudah dipastikan saya adalah seorang yang tidak pernah
punya usulan atau pertanyaan apapun Meski kadang ada yang mengganjal pikiran saya
dengan keputusan rapat tersebut saya lebih memilih untuk diam saja. Karena saya tidak
punya keberanian yang cukup untuk mengutarakan isi hati saya tersebut.
PERTANYAAN:
1. Menurut anda apa yang terjadi pada pria tersebut?
2. Apa yang harus diperbaiki dari pria tersebut ?
3. Sebutkan perilaku apa saja yang mencerminkan kurangnya keterampilan sosial pada
pria tersebut?
4. Hal apa yang seharusnya tidak dilakukan pria tersebut?
5. Menurut anda bagaimana cara pria tersebut dapat meningkatkan keterampilan
sosialnya?
173
Lampiran 11. Game Puzzle Siklus 1
174
Lampiran 12. Game Puzzle Siklus 2
175
Lampiran 13. Rekognisi Prestasi Tim
Rekognisi Prestasi Tim
176
Lampiran 14. Hasil Observasi Siklus I
Lembar Observasi Pelaksanaan Bimbingan Kelompok Siklus I
No. Aspek yang diamati Deskripsi Keterangan
1. Perilaku diri Perilaku siswa sesuai dengan etika Siswa berperilaku sesuai
etika, siswa terlihat mulai
antusisa dan tidak begitu
gaduh .
Respon siswa terhadap teman lain saat Siswa kurang mendengarkan
berkomunikasi teman lain yang sedang
berbicara.
2. Perilaku lingkungan Kepedulian siswa terhadap Siswa kurang peduli
kebersihan kelas/lingkungan sekitar terhadap kebersihan kelas
dengan membuang
kertas/sampah
sembarangan.
3. Perilaku terkait Keaktifan siswa dalam kegiatan Siswa kurang terlihat aktif
dalam kegiatan dengan tidak
Tugas bertanya serta memberi ide
kepada timnya.
Perhatian siswa terhadap penjelasan Siswa kurang
guru memperhatikan guru saat
menjelaskan.
Keikutsertaan siswa dalam diskusi Siswa kurang berperan aktif
dalam diskusi, terlihat
beberapa siswa hanya diam.
Rata – rata siswa
Tanggung jawab siswa terhadap tugas menyelesaikan tugasnya
dengan tepat waktu dan
baik.
Kepatuhan siswa terhadap peraturan
Siswa patuh terhadap
peraturan yang telah
ditentukan oleh peneliti dan
guru
4. Perilaku sosial Mengucapkan salam ketika bertemu Siswa tidak mengucapkan
salam ketika bertemu
dengan teman lain, akan
tetapi ketika bertemu guru
siswa mencium tangan guru
dan mengucapkan salam
kepada peneliti.
Siswa dalam memulai percakapan
Hanya beberapa siswa yang
terlihat pandai memulai
percakapan..
177
Lampiran 15. Hasil Observasi Siklus II
Lembar Observasi Pelaksanaan Bimbingan Kelompok Siklus II
No. Aspek yang diamati Deskripsi Keterangan
1. Perilaku diri Perilaku siswa sesuai dengan etika Siswa berperilaku sesuai etika,
siswa terlihat mulai antusisa
dan tidak begitu gaduh .
Siswa mulai mendengarkan
Respon siswa terhadap teman lain saat teman lain yang sedang
berkomunikasi berbicara.
2. Perilaku lingkungan Kepedulian siswa terhadap Siswa lebih peduli terhadap
kebersihan kelas/lingkungan sekitar kebersihan kelas dengan
membuang kertas/sampah di
tempat sampah.
3. Perilaku terkait Keaktifan siswa dalam kegiatan Siswa masih mulai terlihat aktif
dalam kegiatan dengan
Tugas bertanya serta memberi ide
kepada timnya.
Perhatian siswa terhadap penjelasan
guru Siswa mulai memperhatikan
guru saat menjelaskan.
Keikutsertaan siswa dalam diskusi Siswa cukup berperan aktif
dalam diskusi, terlihat
beberapa siswa sibuk dengan
idenya masing-masing.
Tanggung jawab siswa terhadap tugas Rata – rata siswa
menyelesaikan tugasnya
dengan tepat waktu dan baik.
Siswa patuh terhadap
Kepatuhan siswa terhadap peraturan peraturan yang telah
ditentukan oleh peneliti dan
guru
4. Perilaku sosial Mengucapkan salam ketika bertemu Siswa tidak mengucapkan
salam ketika bertemu dengan
teman lain, akan tetapi ketika
bertemu guru siswa mencium
tangan guru dan mengucapkan
salam kepada peneliti.
Siswa dalam memulai percakapan Terlihat beberapa siswa mulai
dekat satu dengan yang lain,
padahal sebelumnya tidak
dekat.
178
Lampiran 16. Hasil Wawancara Siswa Siklus I
Lembar Wawancara Dengan Subyek Penelitian pada Siklus I
No. Aspek Deskriptor
1. Perilaku diri a) Apakah anda pernah melakukan kesalahan?Ya pernah
b) Apa yang anda lakukan setelah anda melakukan kesalahan? Saya
biasanya mengelak ketika disalahkan orang lain
c) Bagaimana berperilaku sesuai etika menurut anda?berperilaku sesuai
etika ya berperilaku dengan sopan
d) Apakah anda sering curhat terhadap teman ketika ada masalah?apa
manfaatnya? Jarang, karena sering diejek, rahasianya juga tidak terjamin
2. Perilaku a) Bagaimana menuriut anda sikap yang peduli terhadap lingkungan
lingkungan disekitar? Peduli terhadap lingkungan, tidak merusak
b) Apa respon anda ketika melihat orang yang merusak lingkungan
disekitar?diam saja, acuh
3. Perilaku terkait a) Menurut anda apa manfaat guru memberikan tugas? Supaya siswa belajar
tugas di rumah
b) Apakah anda sering mengajukan pertanyaan atau menjawab pertanyaan
kepada guru?apa manfaatnya? Jarang, bahkan tidak pernah, karena malu.
c) Menurut anda bagaimana cara menghargai orang yang sedang
berbicara?tidak berbicara sendiri, mendengarkan
d) Apakah anda menyelesaikan tugas yang diberikan tepat waktu? Kadang-
kadang
e) Seberapa sering anda mentaati peraturan sekolah yang ada? Beberapa kali
melanggar tapi tidak sering
4. Perilaku a) Bagaimana cara anda menyelesaikan masalah dengan baik? Dengan tidak
merugikan orang lain
sosial b) Menurut anda seberapa pentingkah memberikan perhatian kepada orang
lain? Penting, apalagi terhadap teman dekat
c) Menurut anda seberapa pentingkah menegur teman ketika berpapasan di
jalan? Penting, kalau tidak menegur dibilang sombong
d) Apa manfaat mengikuti kegiatan ekstrakulikuler di sekolah menurut
anda? Menambah teman dan pengalaman
179
Lampiran 17. Hasil Wawancara Siswa Siklus II
Lembar Wawancara Dengan Subyek Penelitian pada Siklus II
No. Aspek Deskriptor
1. Perilaku diri e) Apakah anda pernah melakukan kesalahan?Ya pernah
f) Apa yang anda lakukan setelah anda melakukan kesalahan? Saya
mengakui kesalahan saya
g) Bagaimana berperilaku sesuai etika menurut anda?berperilaku sesuai
etika ya berperilaku dengan sopan tidak melanggar peraturan
h) Apakah anda sering curhat terhadap teman ketika ada masalah?apa
manfaatnya? kadang, membantu mengurangi beban
2. Perilaku c) Bagaimana menuriut anda sikap yang peduli terhadap lingkungan
lingkungan disekitar? Peduli terhadap lingkungan, tidak merusak lingkungan
d) Apa respon anda ketika melihat orang yang merusak lingkungan
disekitar?menegur
3. Perilaku terkait f) Menurut anda apa manfaat guru memberikan tugas? Supaya siswa belajar
tugas di rumah
g) Apakah anda sering mengajukan pertanyaan atau menjawab pertanyaan
kepada guru?apa manfaatnya? kadang, melatih berbicara
h) Menurut anda bagaimana cara menghargai orang yang sedang
berbicara?tidak berbicara sendiri, mendengarkan
i) Apakah anda menyelesaikan tugas yang diberikan tepat waktu? Kadang-
kadang
j) Seberapa sering anda mentaati peraturan sekolah yang ada? Beberapa kali
melanggar tapi tidak sering
4. Perilaku e) Bagaimana cara anda menyelesaikan masalah dengan baik? Dengan tidak
merugikan orang lain dan diri sendiri
sosial f) Menurut anda seberapa pentingkah memberikan perhatian kepada orang
lain? Penting, karena sesama manusia harus saling menyayangi
g) Menurut anda seberapa pentingkah menegur teman ketika berpapasan di
jalan? Penting, kalau tidak menegur dibilang sombong dan dijauhi teman
h) Apa manfaat mengikuti kegiatan ekstrakulikuler di sekolah menurut
anda? Menambah teman dan pengalaman serta pengetahuan
180
Lampiran 18. Foto Penelitian
Gambar [Link] materi
Gambar 1. Foto bersama guru BK SMP N 2 Pakem
Gambar 4. Game menyusun
puzzle
Gambar 3. Mengerjakan soal
Gambar 6. Rekognisi tim
Gambar 5. Diskusi Kelompok
181
Lampiran 19. Lembar Jawab Skala Sebelum Uji Validitas
LEMBAR JAWAB SKALA KETERAMPILAN SOSIAL
Nama :
Kelas :
No. Absen :
NO. SS S TS STS 23.
1.
24.
2.
25.
3.
26.
4.
27.
5.
28.
6.
29.
7.
30.
8.
31.
9.
32.
10.
33.
11.
34.
12.
35.
13.
36.
14.
37.
15.
38.
16.
39.
17.
40.
18.
41.
19.
42.
20.
43.
21.
44.
22.
182
45. 75.
46. 76.
47. 77.
48. 78.
49. 79.
50. 80.
51. 81.
52. 82.
53. 83.
54. 84.
55. 85.
56. 86.
57. 87.
58. 88.
59.
60.
61.
62.
63.
64.
65.
66.
67.
68.
69.
70.
71.
72.
73.
74.
183
Lampiran 20. Lembar Jawab Skala Setelah Uji Validitas
LEMBAR JAWAB SKALA KETERAMPILAN SOSIAL
Nama :
Kelas :
No. Absen :
NO. SS S TS STS 23.
1.
24.
2.
25.
3.
26.
4.
27.
5.
28.
6.
29.
7.
30.
8.
31.
9.
32.
10.
33.
11.
34.
12.
35.
13.
36.
14.
37.
15.
38.
16.
39.
17.
40.
18.
41.
19.
42.
20.
43.
21.
44.
22.
45. 75.
46. 76.
47. 77.
48. 78.
49.
50.
51.
52.
53.
54.
55.
56.
57.
58.
59.
60.
61.
62.
63.
64.
65.
66.
67.
68.
69.
70.
71.
72.
73.
74.
Lampiran 21. Surat-Surat Penelitian