Model Pembelajaran Make A Match
Model Pembelajaran Make A Match
LANDASAN TEORI
A. Deskripsi Teori
1. Model Pembelajaran Make A Match
a. Pengertian Model Pembelajaran Make A Match
Menurut Joyce dan Weil, model pembelajaran
merupakan suatu perencanaan atau pola yang dapat
digunakan untuk membentuk kurikulum atau merancang
bahan-bahan pembelajaran dan membimbing pembelajaran
dikelas atau yang lain sesuai prosedur yang sistematis
dalam mengorganisasikan pengalaman belajar untuk
mencapai tujuan belajar Sedangkan menurut Rusman
model pembelajaran merupakan perencanaan yang
diterapkan untuk membuat kurikulum, menyusun perangkat
pembelajaran, dan melakukan kegiatan belajar dikelas agar
tujuan pembelajaran dapat tercapai, dan agar tujuan
pembelajaran dapat tercapai maka pemilihan model
pembelajaran harus mempunyai berbagai alasan,
diantaranya: materi belajar yang akan diajar, kemampuan
peserta didik, alokasi waktu pelajaran, sarana dan prasarana
yang tersedia, serta kondisi belajar siswa.1 Sehingga model
pembelajaran menjadikan salah satu alternatif dalam
pendekatan yang digunakan pada proses pembelajaran.
Salah satu model pembelajaran yang banyak
diterapkan dalam proses belelajaran yaitu model
pembelajaran kooperatif. Model pembelajaran kooperatif
merupakan model pembelajaran berkelompok yang strategi
dalam pengajarannya melibatkan siswa bekerja dengan
berkolaborasi untuk mencapai tujuan bersama, atau
pembelajaraan kooperatif merupakan pendekatan
pembelajaran yang berfokus pada penggunaan kelompok
kecil siswa untuk bekerja sama dalam memaksimalkan
kondisi belajar untuk mencapai tujuan belajar. Tujuan dari
pembelajaran kooperatif yaitu: melatih keterampilan sosial
seperti tenggang rasa, bersikap sopan, berani mengkritik,
berani mempertahankan ide yang logis dan berbagai
1
Rofa’ah, Pentingnya Kompetensi Guru Dalam Kegiatan Pembelajaran
Dalam Perspektif Islam (Yogyakarta: DEEPUBLISH, 2016), 70.
7
keteramilan yang bermanfaat untuk menjalin hubungan
interpersonal. 2
Salah satu model pembelajaran kooperatif yaitu
model make a match. Arti make a match dalam Bahasa
Indonesia yaitu mencari pasangan. Model pembelajaran
make a match (mencari pasangan) merupakan suatu jenis
kegiatan pembelajaran dengan teknik mencari pasangan
sambil belajar mengenai suatu materi/topik sehingga dalam
proses belajar lebih menyenangkan, dalam proses
pembelajarannya siswa disuruh untuk mencari soal dan
jawaban sehingga dalam proses pembelajaran
menggunakan model make a match siswa harus bisa
bekerjasama dengan temannya, dan model pembelajaran
make a match dapat digunakan untuk semua mata pelajaran
atau semua usia peserta didik. Dalam proses pembelajaran
make a match lebih mengutamakan kemampuan sosial
yaitu pada proses bekerjasama antar siswa.3
Pengertian make a match menurut Komalasari
merupakan model pembelajaran yang mengajak siswa
mencari jawaban terhadap suatu pertanyaan atau pasangan
dari suatu konsep melalui suatu permainan kartu pasangan
dalam batas waktu yang ditentukan, sedangkan menurut
Huda make a match merupakan salah satu pendekatan
konseptual yang mengajarkan siswa memahami konsep-
konsep secara aktif , kreatif, efektif interaktif, dan
menyenangkan bagi siswa sehingga konsep mudah
dipahami dan bertahan lam dalam struktur kognitif siswa.
Karakteristik model pembelajaran make a match adalah
memiliki hubungan yang erat dengan karakteristik siswa
yang gemar bermain. Pelaksanaan model make a match
harus didukung dengan keaktifan siswa untuk bergerak
mencari pasangan dengan kartu yang sesuai dengan
jawaban atau pertanyaan dalam kartu tersebut, siswa yang
pembelajarannya dengan model make a match dalam
2
Suharni, Pembelajaran IPS Model Cari Jodoh dengan Kartu Kwartet
(Carjotet) (Pekalongan: NEM-Anggota IKAPI, 2021), 15.
3
Shilphy A. Oktavia, Model-Model Pembelajaran (Yogyakarta:
DEEPUBLISH, 2020), 89.
8
mengikuti pembelajaran sehingga dapat mempunyai
pengalaman belajar yang bermakna.4
Sehingga dengan pengertian model pembelajaran
make a match diatas dapat disimpukan, bahwa model
pembelajaran make a match merupakan salah satu model
pembelajaran yang mengandung unsur permainan dengan
teknik bekerjasama untuk mencari pasangan sambil belajar
memahami suatu topik dalam pembelajaran sehingga siswa
mudah menerima dan memahami materi yang disampaikan
guru.
b. Tujuan model pembelajaran Make A Match
1) Menumbuhkan sikap saling menghormati
Manusia merupakan makhluk sosial untuk itu
sikap saling menghormati dan menghargai antar
sesama sangat dibutuhkan dalam kehidupan sehari-
hari, karena saling menghormati akan memunculkan
hubungan yang baik antar sesama. Sebagaimana dalam
firman allah swt dalam Al-Qur’an Surat Al-Hujurat
ayat 13 yang berbunyi:
4
Mieke Mandagi,dkk, Book Chapter Inovasi Pembelajaran Di
Pendidikan Tinggi (Sleman: DEEPUBLISH,2020), 49.
5
Soenarjo, Al-Qur’an dan Terjemahannya, (Jakarta: Depag RI, 2006),
874.
9
Penjelasan dari ayat di atas diciptakan oleh
Allah swt secara berpasang-pasangan dan
membutuhkan proses saling mengenal tersebut
merupakan proses saling bekerja sama satu dengan
yang lain, saling menghargai, saling menghormati,
sehingga terbentuk sebuah masyarakat yang baik.
2) Menumbuhkan sikap tanggung jawab
Manusia adalah makhluk sosial yang
bertanggung jawab satu dengan yang lainnya dengan
memperhatikan setiap tindakan yang dilakukan
didasarkan keharmonisan. Tanggung jawab merupakan
bentuk kepedulian seseorang terhadap orang lain,
sebagaimana firman Allah SWT Al-Qur’an Surat Al-
Mudatsir ayat 38:
6
Soenarjo, Al-Qur’an dan Terjemahannya, (Jakarta: Depag RI, 2006),
995.
7
Ayu anggita anggraeni, Veryliana P, Ibnu Fatkhu R, “Pengaruh Model
Pembelajaran Make A Match Terhadap Motivasi Dan Hasil Belajar
Matematika”, International journal of Elemntary Education. Vol. 3 No. 2.
2019.
10
a) Guru menyampaikan suatu materi pelajaran kepada
siswa atau siswa diberikan tugas untuk
mempelajari materi pembelajaran dirumah.
b) Siswa dibagi menjadi dua kelompok, yaitu
kelompok A dan B kemudian diminta untuk
berhadap-hadapan.
c) Guru memberikan pertanyaan kepada kelompok A
dan jawaban untuk kelompok B
d) Kemudian guru menyampaikan kepada siswa untuk
mencari kartu yang dipegang dengan kartu yang
dipegang kelompok lain, dan guru juga
menyampaikan batasan waktu maksimum yang
diberikan kepada siswa.
e) Guru meminta semua kelompok A untuk
menemukan jawaban ke kelompok B. Jika sudah
ada yang mampu menemukan pasangannya
masing-masing, selanjutnya guru akan meminta
untuk melaporkan diri kepadanya. Kemudian guru
mencatat mereka pada kertas yang yang sudah
dipersiapkan.
f) Jika waktu telah habis, para siswa harus diberitahu
bahwa waktunya telah selesai, dan siswa yang
belum menemukan pasangannya diminta untuk
berkumpul tersendiri.
g) Kemudian guru memanggil satu pasangan untuk
presentasi. Sedangkan untuk pasangan lain dan
siswa yang belum mendapatkan pasangan diminta
untuk memerhatikan dan menanggapi tentang
kesesuaian jawaban yang dipresentasikan oleh
temannya tadi.
h) Terakhir guru memberikan informasi tentang
kesesuaian pertanyaan dan jawaban dari pasangan
yang telah mempresentasikan tadi.
i) Setelah itu guru akan memanggil pasangan
selanjutnya dan begitu seterusnya sampai seluruh
pasangan menyampaikan informasi yang telah
didapatkannya tadi.8
8
Miftahul Huda, Cooperatif Learning: Metode, Teknik, Struktur, dan
Model Penerapan (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2014), 252
11
2) Langkah-langkah model pembelajaran make a match
menurut Rusman:
a) Guru menyampaikan tentang beberapa kartu yang
berisi beberapa topik yang sesuai untuk sesi review
yang isinya berupa kartu yang berisi soal dan yang
satunya lagi kartu yang berisi jawaban.
b) Setiap siswa mendapatkan satu bagian kartu yang
berusaha memikirkan kartu soal atau jawaban dari
katu yang dipegangnya.
c) Setiap siswa mencari pasangan yang mempunyai
kartu yang sesuai dengan kartunya (kartu soal dan
kartu jawaban)
d) Setiap siswa yang berhasil menyesuaiakan
kartunya diberikan poin
e) Setelah satu babak selesai maka kartu tersebut
diacak lagi agar setiap siswa mendapatkan kartu
yang berbeda dari kartu yang sebelumnya,
demikian dan seterusnya
f) Dan yang terakhir kesimpulan.9
3) Langkah-langkah model pembelajaran make a match
menurut Moh. Sholeh Hamid
a) Guru menyediakan beberapa kartu yang
didalamnya berisi konsep yang sesuai untuk sesi
review. Sebagian kartu berisi soal yang berbeda-
beda sesuai topik sementara sebagian kartu yang
lainnya diisi jawaban dari soal-soal tersebut.
b) Untuk setiap siswa diberikan satu buah kartu
c) Tiap siswa berpikir tentang jawaban soal dari kartu
yang dipegangnya tersebut
d) Tiap siswa mencari pasangan yang cocok dengan
kartunya
e) Tiap siswa yang sudah menemukan pasangannya
sebelum waktunya maka aka diberikan poin.
f) Setelah satu babak, kartu dikocok lagi agar tiap
siswa mendapatkan kartu yang berbeda dengan
sebelumnya, demikian dan seterusnya.
g) Kesimpulan atau penutup.10
9
Rusman, Model –Model Pembelajaran Mengembangkan
Profesionalisme Guru (Jakarta: Rajawali Pers, 2014), 224
10
Moh. Sholeh Hamid, Metode Edutaiment (Yogyakarta: DIVA Press,
2011), 228
12
4) Langkah-langkah model pembelajaran make a match
menurut Shoimin
a) Guru melakukan persiapan dengan membuat
beberapa kartu yaitu kartu pertanyaan dan kartu
jawaban
b) Masing-masing peserta didik mendapatkan satu
jenis kartu
c) Tiap peserta didik berfikir mengenai soal dan
jawaban kartu yang sudah dipegang
d) Tiap peserta didik diminta mencari pasangan tiap
kartu yang memiliki kecocokan dengan kartu yang
dipegang
e) Tiap peserta didik yang dapat menemukan
kecocokan kartu sebelum mencapai batasan waktu
maksimum, maka diberi poin
f) Apabila sudah selesai satu sesi, dilakukan
pengocokan kartu lagi supaya setiap peserta didik
memperoleh kartu yang tidak sama dari kartu disesi
satu.
g) Guru dan peserta didik menyimpulkan
pembelajaran.11
11
Aris, Shoimin, Model Pembelajaran Inovatif dalam Kurikulum 2013
(Yogyakarta: Ar-Ruzz Media, 2014), 68
13
5) Setiap siswa yang berhasil pertama kali memasangkan
kartunya tersebut sebelum habis waktu yang telah
diberikan guru.
6) Kemudian siswa diminta untuk mempresentasikannya,
jika isinya benar maka siswa tersebut mendapatkan
nilai dan reward oleh guru.
7) Setelah permainan pertama selesai maka guru tersebut
mengacak lagi kartu tersebut agar setiap peserta
tersebut mendapatkan kartu jawaban/soal yang
berbeda dari yang sebelumnya.
8) Kemudian setelah selesai guru bersama murid
menyimpulkan bersama.
d. Kelebihan dan Kekurangan Model Pembelajaran Make
A Match
Pada tiap model pembelajaran pasti akan mempunyai
suatu kelebihan serta kelemahan dalam penerapannya.
Untuk itu kelebihan dan kelemahan perlu diketahui oleh
guru atau siapapun yang ingin mengaplikasikan suatu
model pembelajaran agar dapat menyiapkan antisipasi
untuk mengurangi kurang efektifnya pada proses penerapan
model pembelajaran tersebut.
Kelebihan model pembelajaan model make a match
yaitu:
1) Pembelajaran dapat berlangsung dengan suasana yang
menyenangkan, sehingga keaktifan siswa pada proses
pembelajaran terjadi. Menurut Prihatmojo, Darsono
dan Sumadi, model pembelajaran make a match
merupakan suatu model pembelajaran yang aktif untuk
mengetahui pengetahuan serta kemampuan yang
dimilki siswa yang dilakukan dengan cara permainan
mencari pasangan kartu pertanyaan atau kartu jawaban
sekaligus mempelajari suatu konsep atau topik dalam
keadaan yang mengembirakan.
2) Memudahkan siswa dalam memahami suatu materi
pelajaran yang dipelajari. Menurut Riyanti dan
Abdullah, model pembelajaran make a match dapat
meningkatkan rasa keingin tahuan siswa dan membuat
siswa tertarik dalam memahami suatu materi dengan
meskipun dengan cara menyelesaikan soal.
3) Membangun sikap kerja sama yang positif antar sesama
siswa, karena mereka saling bekerjasama
14
menyelesaikan soal dalam bnuk berpasang-pasangan.
Menurut Kurniasih dan Berlin, sikap kerjasama yang
terjadi antar siswa terwujud dengan baik karena dengan
adanya bekerjasama antar siswa maka tugas yang
disampaikan oleh guru tersebut dapat terselesaikan.12
4) Meningkatkan motivasi belajar siswa
5) Melatih keberanian siswa untuk maju kedepan
6) Mengajarkan siswa untuk disiplin dalam menghargai
waktu.13
12
Niken Vioreza, dkk,Model & Metode Pembelajaran (Surabaya: CV.
Jakad Media Publishing, 2020), 80.
13
Shilphy A. Oktaviana, Model-Model Pembelajaran, 90.
14
Andi Kaharuddin dan Nining Hajeniati, Pembelajaran Inovatif &
Variatif Pedoman Untuk Penelitian PTK Dan Eksperimen (Sulawesi Selatan:
Pusaka Almaida, 2020), 57.
15
sekolah, dan keberhasilan secara menyeluruh nilai hasil
belajar siswa atau ketuntasan klasikal melebihi 85%
dari seluruh jumlah siswa,
2) Keberhasilan pada penerapan model make a match
dapat diketahui dari skor aktivitas siswa dari hasil
observasi selama proses belajar mengajar yaitu berada
pada kategori baik.
3) Keberhasilan penerapan model pembelajaran make a
match dalam pembelajaran juga dapat dilihat dari skor
respon siswa berdasarkan pengisian angket terhadap
penerapan model make a match yang berada dalam
kategori baik.
4) Pada tahapan terakhir ini perlu dirumuskan bahwa
penerapan model pebelajaran make a match dalam
pembelajaran dapat dilihat dari skor pengelolaan atau
keterlaksanaan pada tahapan rencana program
pembelajaran, yaitu kegiatan awal, inti, dan akhir
berada pada kategori terlaksana dengan baik.15
Berdasarkan indikator tersebut dapat disimpulkan
bahwa pengaruh dalam pembelajaran make a match untuk
keaktifan belajar yaitu: kriteria ketuntasan hasil belajar
siswa, skor aktivitas siswa pada proses belajar, skor respon
siswa berdasarkan pengisian angket, skor pengelolaan atau
keterlaksanaan pada tahapan rencana program belajar.
15
Andi Kaharuddin, Nining Hajeniati, Pembelajaran Inovatif & Variatif:
Pedoman untuk Penelitian PTK dan Eksperimen (Gowa, Pustaka Almaida,
2020), 58
16
bahasan dalam suatu proses, cara melakukan , dan untuk
mengetahui berhasil atau tidak proses tersebut. Keaktifan
siswa merupakan suatu aktifitas siswa atau keikutsertaan
siswa dalam belajar, mencari berbagai informasi yang
diperlukan untuk memecahkan masalah, serta kegiatan
berbuat sesuatu untuk memahami materi pelajaran,
sehingga adanya keikutsertaan siswa untuk berinteraksi
dengan siswa lain maupun dengan guru.16
Keaktifan belajar siswa juga dapat dilihat dari
kesungguhan mereka mengikuti pelajaran. Siswa yang
kurang aktif akan ditunjukkan dengan adanya siswa yang
kurang gairah dalam belajar, malas, cenderung ingin ijin
keluar kelas dengan alasan kebelakang, tidak konsentrasi,
ngobrol dengan teman-temannya, mengerjakan tugas pada
mata pelajaran lain, sedang jam pelajaran saat ini tengah
berlangsung dan sebagainya. Untuk itu cara meningkatkan
keaktifan siswa. Keaktifan merupakan motor dalam
kegiatan belajar, siswa dituntut untuk aktif. Keaktifan
belajar dipengaruhi oleh berapa faktor, baik yang datang
dari dalam diri siswa maupun yang datang dari luar diri
siswa. Faktor yang datang dari dalam diri siswa sendiri ada
yang berkaitan dengan kecakapan, ada yang bukan
kecakapan, seperti minat dan dorongan untuk belajar.
Minat dan dorongan untuk belajar dapat ditimbulkan
melalui upaya dan situasi yang diciptakan oleh guru. Upaya
dan situasi yang dan situasi yang diciptakan oleh guru
tersebut disamping dapat mempengaruhi minat dan
dorongan belajar juga mempengaruhi keaktifan belajar.17
Berkaitan dengan keaktifan belajar menurut Oemar
Hamalik pengajaran efektif merupakan suatu proses
pengajaran yang memberikan aktifitas belajar sendiri atau
beraktivitas sendiri dalam proses belajar, aktif belajar
sambil bekerja, sehingga dengan bekerja dapat memperoleh
pengetahuan, pemahaman, dan aspek-aspek tingkah laku
16
Endang Sri Wahyuningsih, Model Pembelajaran Mastery Learning
Upaya Peningkatan Keaktifan Siswa dan Hasil Belajar Siswa (Yogyakarta:
DEEPUBLISH, 2020), 48.
17
Sinar, Metode Active Learning Upaya Peningkatan Keaktifan dan
Hasil Belajar Siswa (Sleman: DEEPUBLISH, 2018), 9.
17
yang lain, dan dapat mengembangkan keterampilan yang
bermakna hidup dimasyarakat.18
Sehingga dapat disimpulkan bahwa proses
pembelajaran akan lebih membekas dan bermakna untuk
siswa salah satunya dengan menciptakan suatu
pembelajaran yang menyenangkan bagi siswa dengan cara
melibatkan siswa dalam proses pembelajaran. Untuk itu
keaktifan belajar siswa sangatlah bermanfaat untuk
mengembangkan potensi yang dimiliki siswa, pengalaman,
mengembangkan pemahaman dan berfikir kritis,
menciptakan kerjasama antar siswa,dan belajar menjadi
menyenangkan.
b. Indikator Keaktifan Belajar
Keaktifan belajar merupakan hasil yang didapat
siswa selama belajar sekolah, yang menyangkut perpaduan
tiga ranah diantaranya ranah kognitif, ranah afektif, dan
ranah psikomotor, dengan perpaduan ketiga tersebut dapat
membentuk suatu aktivitas dalam proses pembelajaran
khususnya pada materi pembelajaran beriman kepada
malaikat Allah swt, dengan tujuan agar siswa menjadi insan
yang mempunyai akhlak mulia sehingga dapat menjadi
bekal untuk kehidupan didunia dan diakhirat.19
Menurut Deieric keaktifan dalam belajar dibagi
menjadi delapan kelompok, yaitu:
1) Visual activities (aktifitas siswa dalam melihat), seperti:
proses kegiatan membaca, memperhatikan apa yang
diajarkan oleh guru dikelas, dan melakukan percobaan.
2) Oral activities (aktifitas siswa dalam kemampuan
mengucapkan), seperti: bertanya, merumuskan,memberi
saran, memberikan pendapat, diskusi.
3) Listening activities (aktifitas siswa dalam konsentrasi
mendengarkan pelajaran), seperti: mendengarkan,
percakapan, diskusi, music maupun pidato.
4) Writing activities (aktifitas siswa dalam menulis),
seperti: menulis cerita, karangan, laporan, angket,
laporan.
18
Oemar Hamalik, Proses Belajar Mengajar (Jakarta: Bumi Aksara,
2011), 172.
19
Sinar, Metode Active Learning Upaya Peningkatan Keaktifan dan
Hasil Belajar Siswa, 15.
18
5) Drawing activities (aktifitas siswa dalam menggambar),
seperti menggambar, membuat peta, grafik.
6) Motor activities (aktifitas siswa dalam keterampilan
jasmani), seperti melakukan suatu percobaan.
7) Mental activities (aktifitas siswa yang berkaitan dengan
mental), seperti menanggapi, mengingat, memecahkan
soal, menganalisis, dan mengambil keputusan
8) Emotional activities (aktifitas siswa dalam menaruh
minat), seperti merasa bosan, menaruh minat, gembira,
bersemangat, berani,gugup, tenang. 20
20
Sardiman, Interaksi dan Motivasi Belajar Mengajar (Jakarta: Rajawali
Pers, 2009), 101.
19
pemikiran-pemikiran baru, guna menyelesaikan suatu
masalah saat melakukan proses belajar tersebut.21
21
Sinar, Metode Active Learning Upaya Peningkatan Keaktifan dan
Hasil Belajar Siswa (Yogyakarta: DEEPUBLIS, 2018), 19.
22
Nana Sudjana, Dasar-Dasar Proses Belajar Mengajar (Bandung: Sinar
Baru Algesindo, 2005), 61
20
pengetahuan, maupun sikap.23 Pembelajaran pendidikan
agama islam merupakan dua gabungan kata pembelajaran
dan pendidikan agama Islam. Pembelajaran bermakna,
pelaksanaan aktivitas yang berkaitan dengan proses
pendidikan melibatkan peserta didik untuk mengembangkan
potensi, sikap, pengetahuan, dan keterampilan. 24
Pendidikan Agama Islam merupakan upaya yang
terencana untuk memberikan pengajaran untuk para siswa
tentang ajaran agama Islam yang terdapat dalam Al-Qur’an
dan Hadits, melalui pengajaran, bimbingan yang
sistematis.25 Menurut Abu Ahmadi dan Nur Uhbiyanti,
Pendidikan Agama Islam ialah upaya membentuk jasmani
maupun rohani seseorang sesuai dengan ajaran Islam
melalui proses bimbingan sehingga membentuk insan yang
beriman dan bertaqwa. 26 Sedangkan menurut Zakiyah
Drajat, Pendidikan Agama Islam merupakan proses
bimbingan dan pengasuhan terhadap anak melalui ajaran
Islam, sehingga nantinya anak tersebut dapat mengamalkan
ajaran tersebut dalam kehidupan sehari-hari sebagai
pandangan hidup dan siswa tersebut memperoleh
kebahagiaan didunia dan akhirat.27 Demikian itu sesuai
dengan keutamaan menuntut ilmu agama bagi seorang
manusia yang diriwayatkan oleh Ibn Majah yang berbunyi:
ﻏﹶﺎﻦﺍﻟﻠﹼﻪ ﺑﺪﺒﺎ ﻋﺛﹶﻨﺪ ﺣ،ﻲﻄ ﺍﻟﹾﻮﺍﺳﺍﻟﻠﹼﻪﺪﺒ ﻋﻦ ﺑﺎ ﺱﺒﺣﺪﺛﻨﺎ ﺍ ﻟﹾﻌ
ﻦﹺ ﺑﻲﻠ ﻋﻦ ﻋ،ﺍﻧﹺﻲﺮﺤﺍﻟﹾﺒﺎﺩﻦﹺ ﺯﹺﻳ ﺍﻟﻠﹼﻪ ﺑﺪﺒ ﻋﻦ ﻋ،ﺍﻧﹺﻲﺎﺩﺐﹺ ﺍﻟﹾﻌﺒﻟ
ﻲ ﻗﺎﻝ ﻟ: ﺍﺑﹺﻲ ﺫﺭ؛ ﻗﺎﻝﻦ ﻋ،ﺐﹺﻴﻦﹺ ﺍﳌﺴ ﺑﺪﻴﻌ ﺳﻦ ﻋ،ﺪﻳﺯ
23
S. Nasution, Kurikulum dan Pengajaran (Jakarta: Bima Aksara,1984),
102.
24
Asfiati, Visualisasi dan Virtualisasi Pembelajaran Pendidikan Agama
Islam Versi Program Merdeka Belajar Dalam Tiga Era (Revolusi Industri 5.0,
Era Pandemi Covid -19, dan Era New Normal) (Jakarta: Kencana, 2020), 15.
25
Departemen Pendidikan Nasional, Kurikulum Berbasis Kompetensi:
Kompetensi Dasar Pendidikan Agama Islam Untuk Sekolah Menengah Umum
(Jakarta: Badan Penelitian dan Pengembangan Pusat Kurikulum,2002), 4.
26
Muhammad Daud ali, Pendidikan Agama Islam (Jakarta: Raja
Grafindo Persada, 2008), 181.
27
Zakiyah Daradjat, Ilmu Pendidikan Islam (Jakarta: Bumi Aksara,2005),
86.
21
ﻠﱠﻢﻌﺗﻭﺪﻐ ﻟﹶﺄﹶﻥﹾ ﺗ،ﺎﺫﹶﺭﺎﺍﺑ ﻳ: ﻝ ﺍﷲ ﺻﻠﻰ ﺍﷲ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢﻮﺳﺭ
،ﺔﻛﹾﻌﺎ ﺋﹶﺔﹶ ﺭﻰ ﻣﻠﺼ ﺃﹶﻥﹾ ﺗﻦ ﻣﻟﹶﻚﺮﻴ ﺧ،ﺎﺏﹺ ﺍﻟﻠﹼﻪﺘ ﻛﻦﺔﹶ ﻣﺁﻳ
ﺮﻴ ﺧ،ﻠﹶﻢﻌ ﻳ ﻟﹶﻢ ﺃﹶﻭ ﺑﹺﻪﻢﻠ ﻋ،ﻠﹾﻢﹺ ﺍﻟﹾﻌﻦﺎ ﻣﺎ ﺑ ﺑﻠﱠﻢﻌ ﻓﹶﺘﻭﺪﻐﻷَﻥﹾ ﺗﻭ
28
.ﺔﻛﹾﻌ ﺭﻠﱢﻰ ﺃﻟﹾﻒﺼ ﺃﻥﹾ ﺗﻦﻣ
Artinya : “Abbas bin Abdillah wasiti bercerita, Abdullah
bin Gholib Abadani, dari Abdillah bin Ziyadin
Bahrani, dari Ali bin Zaed, dari Said bin Musaib,
dari Abi darrin berkata: Nabi saw berkata
kepadaku: “wahai Abu Dar, sungguh
kepergianmu dipagi hari untuk belajar satu ayat
dari kitab Allah, itu lebih baik dari pada sholat
100 rakaat, dan sungguh kepergianmu dipagi hari
untuk belajar satu bab dari ilmu baik diamalkan
atau tidak ilmunya itu lebih baik dari pada sholat
1000 rakaat”.
28
Al-Imam Ibn Majah, Sunan Ibn Majah (Lebanon: Dar Al-Kotob Al-
ilmiyah, 1971), 48.
22
beriman dan bertakwa kepada Allah SWT, berilmu,
berakhlak mulia, mandiri, sehat, kreatif, cakap, demokratis
dan bertanggung jawab.29 Tujuan dari pendidikan Agama
Islam juga mengarah dalam tujuan ajaran Islam, yaitu
terwujudnya seorang insan yang bertakwa kepada Allah
SWT sehingga mempunyai akhlakul karimah, sehingga
bahagia dalam kehidupan dunia maupun diakhirat. 30
Seperti dalam hadist Rasulullah yang diriwayatkan
oleh Imam Thobroni bin Umar berbunyi:
31
(ﻠﹸﻘﹰﺎـ )ﺭﻭﺍﻩ ﺍﻟﻄﱪﺍ ﱐ ﻋﻦ ﺍﺑﻦ ﻋﻤﺮ ﺧﻢﻬﻨﺴﺎ ﺱﹺ ﺍﹶﺣﺍﻟﻨﺮﻴﺧ
Artinya : “Sebaik-baik manusia itu adalah lebih baik budi
pekertinya”. (Riwayat Thobroni bin Umar).
B. Penelitian Terdahulu
Ada beberapa penelitian atau skripsi terkait dengan tema dan
variabel penelitian yang sudah pernah dilakukan diantarnya:
1. Jurnal penelitian oleh Rian Juliana, Rustono WS, dan Hj.
Hodidjah dari Universitas Pendidikan Indonesia tahun 2018
29
Undang-undang RI No. 20 tahun 2003, Tentang Sistem Pendidikan
Nasional (Semarang: Aneka Ilmu, 2003), 2.
30
Hery Noer Aly, Watak Pendidikan Islam (Jakarta: Friska Agung,
2000), 142.
31
Al-Sayid Ahmad Al-Hashimy, Muhtar Al-Ahadit An-Nabawiyya Wal-
Hikam Al-Muhammadiyya (Beirut: Dar Al-Kotob Al-Ilmiyah, 2017), 74.
32
Muhammad Athiyah al-Abrasyi, Dasar-dasar Pokok Pendidikan Islam
(Jakarta: Bulan Bintang, 1993), 4.
23
yang berjudul Pengaruh Model Pembelajaran Make A Match
dalam Peningkatan Pemahaman Siswa tentang Tokoh Pejuang
Melawan Penjajah Belanda di Kelas V SD. Hasil penelitian
menunjukkan model pembelajaran make a match dapat
meningkatkan pemahaman serta antusias siswa tentang materi
tokoh pejuang melawan penjajah Belanda karena mengalami
peningkatan yang signifikan dengan nilai gain 0,70 pada kelas
eksperimen. 33
Penelitian Rian Juliana, Rustono WS, dan [Link]
memiliki kesamaan dengan penelitian yang sedang peneliti kaji
yaitu tentang model pembelajaran make a match, namun
penelitian yang peneliti lakukan model pembelajaran make a
match terkait dengan pembelajaran PAdBP (Pendidikan Agama
dan Budi Pekerti) bukan terkait dengan tokoh pejuang melawan
penjajah Belanda, begitu juga pada variabel Y juga berbeda
yaitu penelitian diatas tentang pemahaman siswa sedangkan
penelitian yang peneliti lakukan variabel Y adalah keaktifan
siswa pada pembelajaran PAdBP (Pendidikan Agama dan Budi
Pekerti).
2. Penelitian skripsi oleh Nita Sulistyarini program studi
Pendidikan Guru Sekolah Dasar Universitas Negeri Semarang
2017 yang berjudul “Pengaruh Model Make A Match Pada
Pembelajaran IPA Terhadap Aktivitas Dan Hasil Belajar Siswa
Kelas IV SDN Gugus III Jumapolo Kabupaten Karanganyar”.
Hasil penelitian menunjukkan adanya pengaruh yang signifikan
terhadap aktivitas dan hasil belajar siswa pada mata pelajaran
IPA kelas IV di SDN 03 Jumapolo Dan SDN 01 Jatirejo. Hal
tersebut ditunjukkan melalui hasil analisis dari uji hipotesis yang
dilakukan dengan uji gain dan uji t, dengan ketuntasan untuk
kelas eksperimen hampir mencapai 100%, sedangkan untuk
kelas kontrol mencapai 66,7%.34
Penelitian yang dilakukan Nita Sulistyarini memiliki
kesamaan penelitian yang sedang peneliti kaji yaitu tentang
model pembelajaran make a match, namun penelitian yang
33
Rian Juliana Rustono WS dan [Link], “Pengaruh Model
Pembelajaran Make A Match dalam Peningkatan Pemahaman Siswa tentang
Tokoh Pejuang Melawan Penjajah Belanda di Kelas V SD”, Jurnal Ilmiah
Pendidikan Guru Sekolah Dasar, Vol. 5 No. 1, 2018
34
Skripsi penelitian Nita Sulistyarini berjudul “Pengaruh Model Make A
Match Pada Pembelajaran IPA Terhadap Aktivitas Dan Hasil Belajar Siswa
Kelas IV SDN Gugus III Jumapolo Kabupaten Karanganyar”.
24
peneliti lakukan pada pembelajaran PAdBP (Pendidikan Agama
dan Budi Pekerti) sedangkan pada penelitian yang dilakukan
Nita Sulistyarini pada pembelajaran IPA, begitu pula pada
variabel Y juga berbeda yaitu pada penelitian diatas terdapat 2
variabel Y yaitu aktivitas dan hasil belajar siswa sedangkan
penelitian yang peneliti lakukan variabel Y adalah keaktifan
siswa pada pembelajaran PAdBP (Pendidikan Agama dan Budi
Pekerti).
3. Jurnal penelitian oleh Dhestha Hazilla Aliputri tahun 2018 yang
berjudul Penerapan Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Make
A Match Berbantuan Kartu Bergambar Untuk Meningkatkan
Hasil Belajar Siswa. Hasil penelitian menunjukkan
meningkatnya hasil belajar IPS kelas IV SDN Wulung 1
Kabupaten Blora yang dibuktikan dengan ketuntasan hasil
belajar yang hasil awalnya ketuntasan belajar hanya 51%
meningkat menjadi 94%.35
Penelitian yang dilakukan oleh Dhestha Hazilla Aliputri
memiliki kesamaan dengan penelitian yang sedang peneliti kaji
yaitu tentang model pembelajaran make a match berbatuan kartu
bergambar, namun penelitian peneliti lakukan model
pembelajaran make a match pada pembelajaran IPS sedangkan
yang peneliti kaji pada pembelajaran PAdBP (Pendidikan
Agama dan Budi Pekerti), begitu juga pada variabel Y juga
berbeda yaitu penelitian diatas hasil belajar sedangkan
penelitian yang peneliti lakukan variabel Y adalah keaktifan
siswa pada pembelajaran PAdBP (Pendidikan Agama dan Budi
Pekerti).
4. Penelitian skripsi Tisha Fatimasari Fakultas Tektik Universitas
Negeri Yogyakarta, 2017 berjudul “Penerapan Pembelajaran
Kooperatif Tipe Make A Match Untuk Meningkatkan Keaktifan
Dan Hasil Belajar Siswa Pada Mata Pelajaran Kompetensi
Kejuruan TKJ SMK Muhammadiyah 2 Yogyakarta”. Hasil
penelitian ini menunjukkan meningkatnya keaktifan dan hasil
belajar siswa di kelas X TKJ SMK Muhammadiyah 2
Yogyakarta dengan peningkatan keaktifan siswa yang awalnya
35
Dhestha Hazilla Aliputri, “Penerapan Model Pembelajaran Kooperatif
Tipe Make A Match Berbantuan Kartu Bergambar Untuk Meningkatkan Hasil
Belajar Siswa”, Jurnal Bidang Pendidikan Dasar (JBPD), Vol.2 No. 1 April
2018
25
53,85% meningkat menjadi 72,02%, sedangkan untuk hasil
belajar siswa yang awalnya 68% meningkat menjadi 87,5%.36
Penelitian Tisha Fatimasari memiliki kesamaan dengan
peneliti yang sedang peneliti kaji yaitu tentang model
pembelajaran make a match untuk meningkatkan keaktifan
siswa, namun penelitian peneliti lakukan pada mata pelajaran
PAdBP (Pendidikan Agama dan Budi Pekerti) di SD,
sedangnkan penelitian yang dilakukan oleh Tisha Fatimasari
pada mata pelajaran kompetensi kejuruan TKJ SMK, begitu
juga pada variabel Y juga berbeda yaitu peneliti diatas variabel
Y terdapat 2 variabel yaitu keaktifan siswa dan hasil belajar
siswa sedangkan penelitian yang peneliti lakukan variabel Y
adalah keaktifan belajar siswa pada pembelajaran PAdBP
(Pendidikan Agama dan Budi Pekerti).
5. Jurnal penelitian oleh Ayu Anggita Anggraeni, Veryliana P,
Ibnu Fatkhu R, 2019 yang berjudul “ Pengaruh Model
Pembelajaran Kooperatif Tipe Make A Make Match Terhadap
Motivasi dan Hasil Belajar Matematika”. Hasil penelitian ini
menunjukkan meningkatnya motivasi belajar siswa mata
pelajaran matematika kelas V SD Negeri 1dilihat dari kelas
kontrol 57,14% kemudian dikelas eksperimen sebesar 90,91%.
Sedangkan untuk hasil belajar dikelas kontrol sebesar 49,05%
sedangkan dikelas eksperimen sebesar 65,91%.37
Penelitian Ayu Anggita Anggraeni, Veryliana P, Ibnu
Fatkhu R, memiliki kesamaan dengan dengan peneliti yang
sedang peneliti kaji yaitu tentang model pembelajaran make a
match, begitu juga pada variabel Y juga berbeda yaitu motivasi
dan hasil belajar matematika, sedangkan penelitian yang peneliti
lakukan variabel Y adalah keaktifan belajar siswa pada
pembelajaran PAdBP (Pendidikan Agama dan Budi Pekerti).
6. Jurnal penelitian oleh Dewa Nyoman Suprapta yang berjudul “
Penggunaan Model Pembelajaran Make A Match Sebagai Upaya
Meningkatkan Hasil Belajar Bahasa Inggris Siswa”. Hasil
36
Skripsi Tisha Fatimasari berjudul penerapan apembelajaran Kooperatif
Tipe Make A Match Untuk Meningkatkan Keaktifan Dan Hasil Belajar Siswa
Pada Mata Pelajaran Kompetensi Kejuruan TKJ Kelas X TKJ SMK
Muhammadiyah 2 Yogyakarta”.
37
Ayu anggita anggraeni, Veryliana P, Ibnu Fatkhu R, “Pengaruh Model
Pembelajaran Make A Match Terhadap Motivasi Dan Hasil Belajar
Matematika”, International journal of Elemntary Education, Vol. 3 No.2, 20
Maret 2019, 222
26
penelitian ini adalah model pembelajaran make a match dapat
meningkatkan hasil belajar Bahasa Inggris siswa yang rata-rata
awalnya 71,87 meningkat menjadi 81,71.38
Penelitian Dewa Nyoman Suprapta memiliki kesamaan
dengan penelitian yang sedang peneliti kaji yaitu tentang model
pembelajaran make a match berbantuan bergambar , namun
penelitian yang peneliti lakukan model pembelajaran make a
match pada pembelajaran Bahasa Inggris sedangkan yang
peneliti kaji pada pembelajaran PAdBP, begitu juga pada
variabel Y juga berbeda yaitu penelitian diatas hasil belajar
sedangkan penelitian yang peneliti lakukan variabel Y adalah
keaktifan siswa.
C. Kerangka Berfikir
Keaktifan siswa dalam proses pembelajaran sangatlah
penting guna mencapai suatu tujuan dalam pembelajaran, sehingga
proses belajar dan mengajar dapat tersampaikan sesuai apa yang
diinginkan oleh guru tersebut dan juga selaras dengan tujuan yang
telah ditetapkan oleh kurikulum di sekolah. Pemahaman yang
dicapai siswa juga ada beraneka ragam seperti ada yang
pemahamannya cepat, sedang, dan rendah. Sedangkan setiap siswa
melakukan proses kegiatan belajar secara aktif dan mempunyai
kesempatan untuk memperoleh prestasi yang baik.
Keberhasilan siswa dalam pembelajaran juga dapat
dipengaruhi oleh penggunaan pada model pembelajaran yang
digunakan guru dalam proses mengajar. Sehingga seorang guru
harus mampu memilih bentuk model pembelajaran yang tepat atau
sesuai bagi peserta didiknya, untuk itu dalam memilih model
pembelajaran yang tepat untuk peserta didik guru harus
memperhatikan kondisi dari siswa yang diajarkan, bahan pelajaran
serta sumber- sumber belajar yang ada agar penggunaan dapat
diterapkan secara efektif dan dapat nenunjang keberhasilan bagi
siswa tersebut. 39 Oleh karena itu model pembelajaran make a
match harus mampu menciptakan keaktifan siswa dalam
pembelajaran PAdBP (Pendidikan Agama dan Budi Pekeri).
38
Dewa Nyonya Suprapta, “Penggunaan Model Pembelajaran Make A
Match Sebagai Upaya Meningkatkan Hasil Belajar Bahasa Inggris Siswa”,
Journal of Education Action Research, Vol. 4 No. 3, 15 Juni 2020, 245
39
Rofa’ah, Pentingnya Kompetensi Guru Dalam Kegiatan Pembelajaran
Dalam Perspektif Islam, 71
27
Berdasarkan uraian tersebut, diduga bahwa variabel
keaktifan belajar siswa (Y) dipengaruhi dengan faktor penyebab,
yaitu model pembelajaran make a match (X), maka dapat
digambarkan kerangka berfikir dalam penelitian ini sebagai berikut:
Gambar 2.1
Kerangka Berfikir
Keterangan:
X = Variabel Independen (bebas)
Y = Variabel Dependen (Terikat)
D. Hipotesis
Hipotesis adalah dugaan sementara atau jawaban sementara
dari suatu permasalahan dalam penelitian dan dibuktikan melalui
proses penelitian. 40 Sehingga hipotesis tersebut belum tentu benar
maupun salah sehingga perlu diuji kebenarannya. Hipotesis dalam
penelitian ini adalah:
Ho : Ada pengaruh antara model make a match pada pembelajaran
PAdPB (Pendidikan Agama dan Budi Pekerti) terhadap
keaktifan belajar siswa kelas IV SD Tahfidz Roudlotul Qur’an
Mranak Demak
Ha : Tidak ada pengaruh antara model make a match pada
pembelajaran PAdPB (Pendidikan Agama dan Budi Pekerti)
terhadap keaktifan belajar siswa kelas IV SD Tahfidz
Roudlotul Qur’an Mranak Demak
40
Suharsimi Arikunto, Prosedur Penelitian: Suatu Pendekatan Praktek
(Jakarta: PT. Rineka Cipta, 2010), 64.
28