Asuhan Bayi Baru Lahir: Praktik Kebidanan
Asuhan Bayi Baru Lahir: Praktik Kebidanan
IDENTITAS MAHASISWA
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN PROFESI BIDAN PROGRAM
PROFESI
Dengan senantiasa memanjatkan puji dan syukur kepada Allah SWT, karena
atas rahmat dan karuniaNya jualah maka Logbook Praktik Stase Bayi Baru Lahir
Program studi Pendidikan Profesi Bidan Program Profesi STIKES Muhammadiyah
Sidenreng Rappang tahun 2022/2023 dapat diselesaikan.
Kami haturkan terima kasih dan penghargaan yang tinggi atas kerjasama dalam
melaksanakan tugas – tugas ini dengan baik
Harapan kami dengan Kepada semua pihak yang telah berjasa dalam
penyusunan loogbook ini, sekali lagi diucapkan terima kasih. Dan marilah kita
berkomitmen untuk memajukan Pendidikan Tinggi ITKES Muhammadiyah Sidrap
dengan menjadi bagian penting dalam Peningkatan Sumber Daya Manusia yang islami
dan berkemajuan.
Syukur Alhamdulillah kami panjatkan ke hadirat Allah SWT, karena atas izin-
Nya jualah maka Logbook Praktik Stase Bayi Baru Lahir . Program studi Pendidikan
Profesi Bidan Program Profesi STIKES Muhammadiyah Sidenreng Rappang tahun
2022 - 2023 dapat diselesaikan.
Kami sadar bahwa apa yang terkandung dalam pedoman ini belum tersaji
dengan optimal, sehingga perlu kritik dan saran demi tersempurnanya pedoman ini.
Fastabiqulkhaerat.
A. TUJUAN
1. Tujuan Umum
Memberikan pengalaman belajar klinik pada mahasiswa dalam lingkup
asuhan kebidanan yaitu Asuhan kebidanan pada BBL dan Kegawatdaruratan
neonatal
2. Tujuan Khusus
a. Mampu melakukan asuhan kebidanan pada BBL secara
holistik,komprehensif dan berkesinambungan yang didukung
kemampuan berpikir kritis dan rasionalisasi klinis dan reflektif
b. Mampu melakukan deteksi dini,konsultasi,kalaborasi dan
rujukan,didukung kemampuan berpikir kritis dan rasionlisasi klinis
sesuai lingkup asuhan kebidanan
c. Mampu melakukan penanganan awal kegawat daruratan neonatal sesuai
standar mutu yang berlaku
d. Mampu melakukan manajemen pengelolaan pencegahan infeksi,pasien
safety dan upaya bantuan hidup dasar
e. Mampu melakukan pendokumentasian asuhan dan pelopor pelayanan
kebidanan sesuai kode etik profesi
f. Mampu membuat keputusan secara tepat dalam pelayanan kebidanan
berdasarkan pemikiran logis,kritis,inovatif sesuai dengan kode etik
B. TEMPAT DAN WAKTU PELAKSANAAN
Waktu Praktik : 08 Mei s.d 03 Juni 2023
Tempat : UPT Puskesmas Mangkoso
Bagian : Bayi Baru Lahir
4. Pemeriksaan Fisik
7. Imunisasi
9. Memandikan bayi
D. TARGET
1. CBD 1
2. BST 25
3. Tutorial Klinik 1
4. Refleksi Kasus 1
5. Journal Reading 1
6. OMP 3
7. DOPS 1
8. Mini Cex 1
9. OSLER 1
10. Laporan Lengkap 9
a. OMP
Tanda Tangan
No Jenis Keterampilan Identitas Pasien Tanggal Catatan
Preceptor
1 Penilaian Awal Bayi Ny. Rahmatiah 08/05/2023
Disusun Oleh :
NAMA : RAJAWATI
NIM : 202210152
1. Latar Belakang
Neonatus adalah bayi yang baru mengalami proses kelahiran dan harus
menyesuaikan diri dari kehidupan intra uterin ke kehidupan ekstra uterin. Bayi baru
lahir normal adalah bayi yang lahir dari kehamilan 37 sampai 42 Minggu dan berat
badan lahir 2500 - 4000 gram.
Menurut data profil kesehatan Indonesia Angka Lahir Hidup pada tahun 2019
di Indonesia yaitu 4.778.621 dan menurut profil kesehatan ibu dan anak pada tahun
2020, persentase ibu yang melahirkan Anak Lahir Hidup (ALH) yang terakhir
dilahirkan di Fasilitas Anak Lahir Hidup adalah semua anak yang waktu lahir
memeperlihatkan tanda-tanda kehidupan, walaupun sesaat, seperti adanya detak
jantung, bernafas, menangis dan tanda-tanda kehidupan lainnya.
Asuhan bayi baru lahir adalah asuhan yang diberikan pada bayi tersebut selama
jam pertama setelah kelahiran, sebagian besar BBL akan menunjukkan usaha
pernapasan spontan dengan sedikit bantuan. Setelah lahir BBL harus dipindahkan
dari keadaan sangat bergantung menjadi fisiologis. Saat ini bayi harus mendapatkan
pernapasannya sendiri lewat sirkulasi baru mendapatkan nutrisi oral untuk
mempertahankan kadar gula yang cukup.
Fisiologi neonatus adalah ilmu yang mempelajari fungsi dan proses vital pada
neonatus. Selama dalam uterus janin mendapatkan O2 dari pertukaran gas melalui
plasenta, setelah lahir pertukaran gas harus melalui paru-paru bayi. Rangsangan
untuk gerakan pernapasan pertama adalah tekanan mekanis dari torak saat melewati
jalan lahir. Mengakibatkan penurunan Pa O2 kenaikan Pa CO2 dan peningkatan pH
darah. Kondisi ini merangsang kemoreseptor yang terletak pada sinus karotis.
Stimulasi dingin, bunyi-bunyian,cahaya dan sensasi lain selama proses kelahiran
akan merangsang permulaan pernapasan dan mengakibatkan timbulnya refleks
Defaring Hering Breur sehingga terjadi pernafasan pertama bayi baru lahir yang
normalnya dalam waktu 30 detik setelah lahir.
Hal-hal yang mungkin terjadi jika tidak dilakukan asuhan pada bayi baru lahir
adalah Hipotermi yang dapat menyebabkan hipoksia atau hipoglikemia dan
mengakibatkan kerusakan otak. Kurang tepatnya penanganan bayi baru lahir yang
sehat juga akan menyebabkan neonatal dengan komplikasi yaitu neonatal dengan
penyakit dan atau kelainan yang dapat menyebabkan kecacatan dan atau kematian,
seperti asfiksia, ikterus, hipotermia, tetanusneonatorum, infeksi/sepsis, trauma lahir,
BBLR, sindroma gangguan pernafasan, dan kelainan kongenital maupun yang
termasuk klasifikasi kuning dan merah pada pemeriksaan dengan manajemen terpadu
bayi muda (MTBM) yang merupakan suatu pendekatan terpadu dalam tatalaksana
bayi umur 1 hari - 2 bulan.
Pada Tahun 2011 pemerintah melalui Kementerian kesehatan dalam upaya
mencegah komplikasi pada neonatal, meluncurkan program USAID (United States
Aids for Internasional Development) EMAS (Expanding Maternal And Neonatal
Survival) dengan harapan rumah sakit dan puskesmas di seluruh Indonesia,
khususnya di tingkat kabupaten/kota, memetik pelajaran penting dari program
USAID EMAS dan menggunakannya untuk membuat perubahan terus menerus
dengan memastikan ibu dan bayi baru lahir sehat.
Indikator cakupan pelayanan yang mencerminkan jangkauan dan kualitas
pelayanan kesehatan bayi baru lahir dan penurunan angka kematian neonatal dapat
dicapai dengan memberikan pelayanan kesehatan yang berkualitas dan
berkesinambungan sejak bayi dalam kandungan, saat lahir hingga masa neonatal.
Perawatan neonatal esensial pada saat lahir sangat penting, karena pada
neonatus hari-hari pertama kehidupannya yang sangat rentan. Banyak perubahan
yang terjadi pada bayi dalam menyesuaikan diri dari kehidupan di dalam rahim ke
kehidupan di luar rahim, dengan meliputi kewaspadaan umum, penilaian awal,
pencegahan kehilangan panas, pemotongan dan perawatan tali pusat, inisiasi
menyusu dini (IMD), pencegahan perdarahan, pencegahan infeksi mata, pemberian
imunisasi, pemberian identitas, anamnesis dan pemeriksaan fisik.
2. Tujuan
a. Tujuan Umum
Memberikan asuhan kebidanan secara berkelanjutan pada bayi baru lahir
dengan pendekatan Manajemen kebidanan
b. Tujuan Khusus
1) Melakukan asuhan kebidan pada bayi baru lahir
2) Melakukan pendokumentasian asuhan yang telah dilakukan pada bayi baru
lahir
BAB II
TINJAUAN TEORI
1. Pada saat lahir 0 (nol) sampai 6 (enam) jam, asuhan yang diberikan :
a. Menjaga bayi tetap hangat, dengan cara keringkan bayi secara seksama,
lakukan imd, selimuti bayi dengan selimut bersih, kering dan hangat, tutupi
kepala bayi, anjurkan ibu memeluk dan memberikan asi, jangan segera
menimbang atau memandikan bayi, tempatkan bayi di lingkungan yang
hangat.
b. Inisiasi menyusu dini
c. Pemotongan dan perawatan tali pusat, cara merawat tali pusat bayi sesudah
melakukan dengan benar, jika punting tali pusat kotor bersihkan (hati-hati)
dengan air DTT dan sabun dan keringkan dengan menggunakan kain bersih.
d. Pemberian suntikan vitamin KI 1 mg intramuscular di paha kiri anterolateral
setelah inisiasi menyusu dini.
e. Pemberian salep mata antibiotik, berikan sebelum 12 jam setelah persalinan.
f. Pemberian imunisasi hepatitis B, imunisasi HB0 dilakukan boleh dilakukan
pada 0-7 hari usia bayi.
g. Pemeriksaan fisik bayi baru lahir
h. Pemantauan tanda bahaya
i. Pemberian tanda identitas diri.
2. Setelah lahir 6 (enam) jam sampai 28 (dua puluh delapan) hari, dilakukan
paling sedikit 3 (tiga) kali kunjungan, yang meliputi:
a. 1 (satu) kali pada umur 6-48 jam
b. 1 (satu) kali pada umur 3-7 hari 3) 1 (satu) kali pada umur 8-28 hari.
Asuhan yang diberikan:
1) Menjaga bayi tetap hangat;
2) Perawatan tali pusat;
3) Pemeriksaan bayi baru lahir;
4) Perawatan dengan metode kanguru pada bayi berat lahir rendah;
5) Pemeriksaan status vitamin Kl profilaksis dan imunisasi;
6) Penanganan bayi baru lahir sakit dan kelainan bawaan; dan
7) Merujuk kasus yang tidak dapat ditangani dalam kondisi stabil, tepat
waktu ke fasilitas pelayanan kesehatan yang lebih mampu.
BAB III
TINJAUAN KASUS
A. Data Subjektif
1. Identitas/Biodata
5. Riwayat Neonatal
Keadaan umum bayi baik , bayi langsung menangis,Bayi diletakkan di dada ibu
untuk dilakukan IMD segera setelah lahir, pergerakan aktif, bayi sudah
mendapatkan injeksi Vit.K dan HB 0
B. Objektif
1. Pemeriksaan umum
a. Keadaan umum :
b. Tanda vital :P: 50x/m, FJ: 120 x/m, Suhu: 36,8 0C
c. Antropometri
Berat Badan : 3000 gram
Panjang Badan : 48 cm
Lingkar Kepala : 33 cm
Lingkar dada : 32 cm
Lingkar Perut : 32 cm
2. Pemeriksaan Fisik
a. Kepala : Bentuk simetris, UUB membuka berdenyut, datar,caput
succedaneum (-), chepal haematom (-)
b. Wajah : Simetris, tidak ada lesi, tidak ada kelainan pada wajah
c. Mata : Simetris, sklera putih, conjungtiva merah muda, secret
(-), strabismus (-)
RAJAWATI
NIM.202210152
BAB IV
PEMBAHASAN
Dalam BAB ini penulis akan membahas kesesuaian dan kesenjangan yang
ditemukan antara teori dan praktek dilapangan, serta kendala-kendala yang terjadi
dilapangan selama melakukan Asuhan Kebidanan Bayi Baru Lahir pada Bayi Ny. D
Neonatus Cukup Bulan Sesuai Masa Kehamilan di UPT Puskesmas Mangkoso
A. Data Subjektif
Dari hasil data subjektif Ny. D usia 23 tahun G1P0A0, HPHT 10 Agustus
2022, TP 17 Mei 2022, Usia Kehamilan 38-40 minggu, ini merupakan anak
pertama, belum pernah keguguran. Ibu melahirkan normal pada hari Senin, 15 Mei
2022 pukul 10.20 WIB. Ibu dan keluaga tidak memiliki riwayat penyakit menurun,
menahun maupun menular seperti jantung, hipertensi, asma, malaria, DM, ginjal
hepatitis. Bayi baru lahir normal adalah bayi yang lahir dari kehamilan 37 sampai
42 Minggu dan berat badan lahir 2500 - 4000 gram. (1) Pengertian dari Aterm
adalah umur kehamilan 37- 42 minggu.
Berdasarkan usia kehamilan Ny.D saat persalinan yaitu 38 - 40 minggu
dengan HPHT 10 Agustus 2022, TP 17 Mei 2023. Maka sesuai dengan teori
dimana usia kehamilan 37- 42 minggu termasuk aterm atau cukup bulan. Dapat di
simpulkan bayi Ny.D bayi cukup bulan.
Berdasarkan riwayat persalinan ibu, ditemukan air ketuban pada Ny.D
diketahui berwarna hijau encer dan tidak berbau (meconium). Jumlah cairan air
ketuban diperkirakan sekitar setengah daya tapung dari underpadd. Mekonium
dalam cairan ketuban tidak selalu menunjukkan adanya gawat janin. Jika terdapat
mekonium, pantau DJJ dengan seksama untuk mengenali tanda-tanda gawat janin
selama proses persalinan. Jika ada tanda-tanda gawat janin (denyut jantung janin
<100 atau >180 kali permenit) maka ibu harus segera dirujuk tetapi jika terdapat
mekonium kental, segera rujuk ibu tempat yang memiliki kemampuan
penatalaksanaan gawat daruratan obstetri dan bayi baru lahir. Telah diajukan tiga
teori untuk menjelaskan keluarnya mekonium dan mungkin sebagian, menjelaskan
hubungan yang lemah antara deteksi meconium dan mortalitas janin. Pada teori
pertama pemeriksaan patologis mengisyaratkan bahwa janin mengeluarkan
mekonium sebagai respons terhadap hipoksia, dan bahwa mekonium merupakan
tanda gangguan janin. Sebaliknya teori kedua, keluarnya mekonium in utero
mungkin mencerminkan pematangan normal saluran cerna dibawah kendali saraf.
Teori ketiga,keluarnya mekonium juga dapat terjadi setelah stimulasi vagus akibat
terjepitnya tali pusat yang sering terjadi namun sementara sehingga menyebabkan
peningkatan peristalsis karena itu pengeluaran mekonium oleh janin juga dapat
mencerminkan proses fisiologis.
Dari penjelasan tersebut, air ketuban bercampur meconium pada ibu tidak
selalu menunjukkan adanya gawat janin, karena DJJ yang terpantau tidak
menunjukan adanya gawat janin pada bayi Ny.D, DJJ yang terpantau dalam
keadaan baik.
Pada pukul 11.30 WIB dilakukan pengkajian pada bayi Ny.D usia 1 jam.
Dilakukan inisiasi menyusu dini (IMD) pada bayi selama 60 menit, bayi telah
berhasil menyusu pada menit ke 7 dan bayi sudah dapat menyusu dengan baik.
Memulai menyusu dini akan mengurangi 22% kematian bayi berusia 28 hari ke
bawah, meningkatkan keberhasilan menyusui secara eksklusif dan lamanya bayi
disusui, merangsang produksi ASI, memperkuat refleks menghisap bayi refleks
menghisap awal pada bayi paling kuat dalam beberapa jam pertama setelah lahir.
Berdasarkan uraian teori melakukan inisiasi menyusu bayi pada 1 jam
pertama dan berhasil pada menit ke 7 dan bayi sudah dapat menyusu, hal ini sesuai
dengan teori refleks menghisap bayi paling kuat dalam beberapa jam pertama
setelah lahir.
Bayi Ny.D usia 3 jam sudah menyusu kuat sebanyak 2x lamanya 10-15
menit. Sudah BAK sebanyak 1x pada 3 jam pertama. Sudah tidur selama kurang
lebih 1 jam dan sudah diberikan salf mata dan vitamin K.
B. Data Objektif
Pada tanggal 15 Mei 2023 Jam berdasarkan penilaian pada awal bayi baru
lahir didapatkan bayi Ny.D lahir spontan pukul 05.00 WIB dengan keadaan umum
baik, bayi menangis kuat, tonus otot aktif, kulit kemerahan.
Penilaian segera setelah proses persalinan, lakukan penilaian awal pada bayi
baru lahir yang berupa kondisi pernafasan bayi, gerakan aktif bayi, dan warna kulit
bayi. Pada saat lahir, kulit bayi yang baru lahir dapat menunjukkan berbagai warna,
tekstur dan tanda, yang banyak diantaranya akan hilang dengan sendirinya. Kulit
bayi yang sangat halus terlihat merah kehitaman karena tipis, dan lapisa lemak
subkutan belum melapisi kapiler. Kemerahan ini tetap terlihat pada kulit sekalipun
ketika bayi menangis, kulit akan terlihat lebih kemerahan. Perhatikan warna kulit
saat bayi lahir, kulit bayi mungkin tampak berwarna kemerahan. Namun tangan dan
kaki bayi mungkin kebiruan (acrosianosis) karena aliran darah dan oksigen belum
sempurna. Ketika sistem sirkulasi bayi terbuka, warna kebiruan ini akan hilang.
Hal ini sesuai dengan uraian teori dimana pada saat bayi baru lahir dilakukan
penilaian awal yaitu dengan menilai tangisan bayi, pernafasan, gerakan bayi dan
warna kulit pada bayi, berdasarkan hasil yang ditemukan bayi dalam keadaan baik
yaitu keadaan umum baik, bayi menangis kuat, tonus otot aktif, kulit kemerahan.
Pada pukul 11.00 WIB dilakukan pengkajian bayi 6 jam. Didapatkan tanda -
tanda vital dalam keadaan normal, yaitu Laju Jantung : 120x/m, Laju Nafas : 50 x/m,
S : 36,8˚C dan pada pemeriksaan antropometri di dapatkan BB 3000 gram, PB 48
cm, Lingkar kepala 33 cm, Lingkar dada 33 cm,Lingkar kepala 32 cm.
Pengukuran pengukuran lingkar kepala yang dalam keadaan normal berkisar
32 - 37 cm, lingkar dada 34 - 36 cm, panjang badan 45 - 53 cm, berat badan bayi
2500 - 4000 gram. Suhu bayi dalam keadaan normal berkisar antara 36,5 -37,5˚C.
Denyut nadi bayi yang normal berkisar 120 -140 kali permenit. Pernafasannya
bervariasi dari 40 sampai 60 kali permenit.(8). Pada rumus Johnson Tausack
menggunakan suatu metode untuk menaksirkan berat badan janin dengan
pengukuran tinggi fundus uteri (TFU), yaitu dengan mengukur jarak antara tepi atas
simfisis pubis sampai puncak fundus uteri dengan mengikuti lengkungan uterus,
memakai pita pengukur dalam centimeter dikurangi 11, 12, atau 13 hasilnya
dikalikan 155, didapatkan berat badan bayi dalam gram. Pengurangan 11, 12, atau 13
tergantung dari posisi kepala bayi. Jika kepala sudah melewati tonjolan tulang
(spinaischiadika) maka dikurangi 12, jika belum melewati tonjolan tulang
(spinaischiadika) dikurangi 11. Rumus Johnson adalah TBJ = (TFU-N) x 155. N =
13 bila kepala belum masuk PAP, 12 bila kepala masih berada di atas spina
ischiadika, 11 bila kepala berada di bawah spina ischiadika.
Berdasarkan uraian teori dimana menggunakan rumus Johnson Tausack untuk
menghitung TBJ = TFU (30cm - 11) x 155. Maka hasil yang didapatkan yaitu TBJ
2.945 gram. Berat badan lahir pada bayi temukan 2500 gram, hal ini sejalan dengan
teori dimana TBJ yang diperkirakan dengan berat badan lahir tidak jauh berbeda.
Panjang badan, lingkar kepala, lingkar dada, laju jantung, laju nafas dan suhu yang
ditemukan dalam batas baik tidak ditemukan kesenjangan.
Dari hasil pemeriksaan fisik secara sistematis pada kepala bayi Ny.D
ditemukan bentuk proposional, rambut tebal, tidak ada moulage, tidak ada benjolan,
cekungan atau kelainan lainnya.
Pemeriksaan fisik secara sistematis pada bayi baru lahir Kepala teraba
sepanjang garis sutura dan fontanel, apakah ukuran dan tampilannya normal. Pada
kelahiran spontan letak kepala, sering terlihat tulang kepala tumpang tindih yang
disebut moulding atau moulase. Fontanel anterior harus diraba, fontanel yang besar
dapat terjadi akibat prematuritas atau hidrosefalus, sedangkan yang terlalu kecil
terjadi pada mikrosefali. Jika fontanel menonjol, hal ini diakibatkan peningkatan
tekanan intakranial, sedangkan yang cekung dapat terjadi akibat dehidrasi.
Perhatikan adanya kelainan congenital seperti anensefali, mikrosefali, kraniotabes
dan sebagainya.
Berdasarkan pemeriksaan yang ditemukan pada bayi Ny.D didapatkan yaitu
kepala bentuk proposional, rambut tebal, tidak ada moulage, tidak ada benjolan,
cekungan atau kelainan lainnya. Hal ini sesuai dengan uraian teori tidak ditemukan
kelainan pada kepala bayi.
Pada pemeriksaan telinga bayi ditemukan hasil yaitu telinga Simetris, terletak
sejajar dengan sudut mata, daun telinga elastis, terdapat lubang telinga, tidak ada
pengeluaran cairan abnormal.
Pada telinga Periksa dan pastikan jumlah, bentuk dan posisinya pada bayi
cukup bulan, tulang rawan sudah matang. Daun telinga harus berbentuk sempurna
dengan lengkungan yang jelas dibagian atas. Perhatikan letak daun telinga. Daun
telinga yang letaknya rendah (low set ears) terdapat pada bayi yang mengalami
sindrom tertentu (Pierre-robin).
Hal ini sesuai dengan teori dimana telinga Simetris, terletak sejajar dengan
sudut mata, daun telinga elastis, terdapat lubang telinga, tidak ada pengeluaran cairan
abnormal, tidak terdapat kelainan pada telinga bayi. Hal ini dapat disimpulkan tidak
ditemukan kelainan pada telinga bayi.
Pada mata ditemukan hasil simetris, sclera putih, tidak terdapat tanda infeksi,
reflex berkedip dan refleks cahaya positif, tidak ada kelainan. Pada Hidung terdapat
septum ditengah, terdapat dua lubang hidung, bersih, tidak ada kelainan, tidak ada
pernapasan cuping hidung. Bibir tidak ada kelainan, berwarna kemerahan, tidak ada
palatoskiziz maupun labioskizis, lidah bersih, mukosa lembab, gusi kemerahan,
refleks mencari positif, refleks menghisap positif, dan refleks menelan positif.
Pada mata periksa mulanya akan tampak sebagai pembesaran kemudian
sebagai kekeruhan pada kornea. Katarak congenital akan mudah terlihat yaitu pupil
berwarna putih. Pupil harus tampak bulat. Hidung atau mulut Bibir bayi baru lahir
harus kemerahan dan lidahnya harus rata dan simetris bibir dipastikan tidak adanya
sumbing dan langit-langit harus tertutup. Refleks hisap bayi harus bagus, dan
berespon terhadap rangsangan. Bayi harus bernafas dengan hidung, jika melalui
mulut harus diperhatikan kemungkinan adanya obstruksi jalan nafas karena atresia
koana bilateral, fraktur tulang hidung atau ensefalokel yang menonjol ke nasofaring.
Hal ini sesuai dengan teori dimana pada mata ditemukan mata Simetris, sclera
putih, tidak terdapat tanda infeksi, refleks berkedip dan refleks cahaya positif, tidak
ada kelainan pada mata bayi. Tidak terdapat kelainan pada hidung, hidung terdapat
septum ditengah, terdapat dua lubang hidung, bersih, tidak ada kelainan, tidak ada
pernapasan cuping hidung dan pada mulut bayi, refleks mencari, menghisap dan
menelan pun baik.
Pada pemeriksaan fisik yang dilakukan pada bayi dengan hasil yaitu tidak
teraba benjolan, tidak bengkak pada leher bayi, pergerakan baik, dan tidak ada
pembesaran pada kelenjar tiroid dan vena jugularis. Pada pemeriksaan dada
ditemukan yaitu bentuk dada normal dan simetris, putting susu kecoklatan dan
menonjol, bunyi nafas dan jantung teratur, tidak ada retraksi dada.
Pada leher pergerakannya harus baik. Jika terdapat keterbatasan pergerakan
kemungkinan ada kelainan tulang leher. Periksa adanya trauma leher yang dapat
menyebabkan kerusakan pada fleksus brakhialis lakukan perabaan untuk
mengidentifikasi adanya pembengkakan. Periksa adanya pembesaran kelenjar tiroid
dan vena jugularis. Pada dada Kontur dan simetrisitas dada normalnya adalah bulat
dan simetris. Payudara baik pada laki-laki maupun perempuan terlihat
[Link] pengaruh hormone wanita dari darah ibu. Periksa kesimetrisan
gerakan dada saat bernafas. Apabila tidak simetris kemungkinan bayi mengalami
pneumotorik, paresis diafragma atau hernia diafragmatika. pernafasan yang normal
dinding dada dan abdomen bergerak secara bersamaan.
Tidak ada kesenjangan antara teori dengan pemeriksaan leher bayi di
dapatkan dengan hasil yaitu tidak teraba benjolan dan tidak bengkak pada leher bayi
hal ini sesuai dengan teori. Dari pemeriksaan dada yang di dapatkan tidak terdapat
kelainan pada dada bayi ditemukan dengan hasil simetris, putting susu menonjol hal
ini sesuai dengan teori karena penonjolan putting susu pengaruh dari hormone ibu.
Pada pemeriksaan abomen bayi ditemukan tidak teraba benjolan, tidak ada
penonjolan umbicalis, tidak ada perdarahan maupun tanda-tanda infeksi pada tali
pusat. Didapatkan hasil pemeriksaan pada genetalia bayi Ny.D yaitu Labia mayora
menutupi labia minora dan terdapat lubang uretra.
Perut Bentuk, penonjolan sekitar tali pusat pada saat menagis, perdarahan tali
pusat. Perut harus tampak bulat dan bergerak secara bersamaan dengan gerakan dada
saat beernafas. Kaji adanya pembengkakan, jika perut sangat cekung kemungkinan
terdapat hernia diafragmatika, perut yang membuncit kemungkinan karena hepato-
splenomegali atau tumor lainnya. Jika perut kembung kemungkinan adanya
enterokolitis vesikalis, omfalokel atau duktus omfaloentriskus persisten. Labia
mayora normalnya menutupi labia minora dan klitoris. Klitoris normalnya menonjol.
Menstruasi palsu kadang ditemukan, diduga pengaruh hormon ibu disebut juga
psedomenstruasi, normalnya terdapat umbai hymen.
Dari hasil pemeriksaan bayi tidak ditemukan kelainan maupun masalah pada
abdomen hal ini sejalan dengan uraian teori seperti tidak adanya pembengkakan
maupun tidak ada tanda-tanda infeksi pada tali pusat bayi. Pada pemeriksaan
genetalia bayi berjenis kelamin perempuan yaitu labia mayora yang sudah menutupi
labia minora, dan tidak terdapat kelainan.
Pada pemeriksaan punggung bayi Ny.D tidak ditemukan adanya benjolan
atau cekungan dan tidak terdapat bercak mongol, pada anus terdapat lubang anus
ditandai dengan bayi sudah dapat BAB. Pada pemeriksaan ekstremitas tangan kanan
dan kiri simetris, tonus otot aktif, jumlah jari tangan kanan dan kiri lengkap. Kaki
kanan dan kiri simteris, tonus otot aktif, jumlah jari kaki kanan dan kiri lengkap.
Periksa spina dengan cara menelungkupkan bayi, cari adanya tanda-tanda
abnormalitas seperti pembengkakan atau cekungan, lesung atau bercak kecil
berambut yang dapat menunjukan adanya abnormalitas medulla spinalis atau
kolumna vertebrata. Bahu, lengan dan tangan Gerakan normal, kedua lengan harus
bebas gerak, jika gerakan kurang kemungkinan adanya kerusakan neurologis atau
fraktur. Periksa jumlah jari. Perhatikan adanya plidaktili atau sidaktili. Telapak
tangan harus dapat terbuka, garis tangan yang hanya satu buah berkaitan dengan
abnormalitas kromosom, seperti trisomi 21. Periksa adanya paronisia pada kuku
yang dapat terinfeksi atau tercabut sehingga menimbulkan luka dan perdarahan.
Dari hasil pemeriksaan tidak ditemukannya kelainan pada punggung maupun
anus bayi hal ini sejalan dengan teori tidak ada tanda-tanda abnormalis seperti
pembengkakan atau cekungan pada punggung bayi. Pada bahu tidak terdapat
kelainan jumlah jari lengkap, pergerakan aktif hal ini sejalan dengan uraian teori
tidak adanya kerusakan neurogalis atau fraktur pada bahu bayi dan julah jari tangan
dan kaki lengkap.
Dari hasil pemeriksaan reflek-reflek ditemukan pada Reflek glabella : Positif.
Bayi menutup mata saat diketuk dahinya. Refleks rooting : Positif. Mencari sentuhan
saat disentuh sudut bibirnya. Refleks sucking : Positif. Bayi dapat menghisap dengan
baik pada saat menyusu. Refleks swallowing : Positif. Bayi dapat menelan dengan
baik pada saat menyusu. Refleks palmar : Positif. Tangan bayi menggenggam saat
diberi sentuhan. Refleks plantar : Positif. Jari-jari menggenggam saat diberi
sentuhan. Refleks Babinski : Jari-jari menggenggam lalu fleksi saat disentuh
sepanjang tumit hingga jari. Refleks morro : Positif. Bayi melakukan gerakkan
mengangkat kedua tangan dan kaki secara bersamaan ketika meja digebrak.
Pemeriksaan refleks pada bayi dilakukan guna memeriksa kesehatan
neurologi. Yang jika ditemukan salah satu dari refleks yang diperiksa mengalami
kelainan, maka bayi dicurigai mengalami kelainan pada sistem saraf. Pemeriksannya
meliputi refleks glabella positif (cahaya terang atau ketukan diantara kedua mata
menyebabkan mata berkedip dan kepala dorsifleksi), refleks rooting positif (refleks
mencari terlihat sejak usia kehamilan 34 minggu), refleks sucking positif (refleks
menghisap terlihat sejak usia kehamilan 32 minggu), refleks swallowing positif
(refleks menelan akan menetap seumur hidup), refleks palmar positif (usap telapak
tangan bayi, maka bayi akan menggenggam tangan pemeriksa. Berlangsung sampai
usia 3-6 bulan), refleks plantar positif (saat diusap, kaki bayi akan menekuk
kebawah, memegang dan menggenggam jari pemeriksa. Berlangsung hingga usia 8-
15 bulan), refleks babinski positif (saat mengusap bagian lateral kaki, akan
menyebabkan jari-jari kaki mengembang dan jari kaki yang besar menekuk untuk
hasil yang positif. Menetap sampai usia 2-4 tahun), refleks morro positif (saat
menghasilkan suara yang keras, bayi akan mengangkat kedua lengan secara simetris,
membentuk huruf C dan jari-jari membuka dan kemudian bayi melakukan gerakan
seperti memeluk. Menetap sampai usia4-6 bulan).
Jika dilihat dari uraian teori hasil pemeriksaan yang ditemukan pada bayi
tidak terdapat kesenjangan. Reflek-reflek yang ditemukan mulai dari reflek glabella,
rooting, sucking, swallowing, palmar, plantar, babinski dan morro ditemukan positif
baik maka hal ini sejalan dengan teori.
Pada pukul 14.20 WIB bayi Ny.D usia 3 jam dilakukan pemeriksaan tanda -
tanda vital pada bayi. Didapatkan hasil yaitu pada Laju Jantung : 120x/m, Laju Nafas
: 50 x/m dan Suhu : 36,8˚C. Suhu bayi dalam keadaan normal berkisar antara 36,8˚-
36,8˚C. Denyut nadi bayi yang normal berkisar 120 - 140 kali permenit.
Pernafasannya bervariasi dari 40 sampai 60 kali permenit.
Jika dilihat dari teori hal ini sejalan karena hasil laju jantung pada bayi
120x/m dengan normal berkisar 120-140x/menit, pernafasan bayi 50x/m dengan
rentan normal berkisar 40-60x/menit, dan suhu bayi 36,8˚C dengan batasan normal
berkisar 36,5-37,5˚C.
C. Analisa
Berdasarkan hasil pengkajian data subjektif dan objektif dapat ditegakkan
analisa yaitu Bayi Ny. D Neonatus Cukup Bulan. Kemudian berdasarkan data
perkembangan didapatkan laju Jantung : 120x/m, laju nafas : 50x/m, s : 36,8˚C,
berat badan 3000 gram, panjang badan 48 cm, lingkar kepala : 33 cm, lingkar
dada : 33 cm, lingkar perut : 32 cm, maka Bayi Ny.D Neonatus Cukup Bulan
Sesuai Masa Kehamilan
Bayi baru lahir normal adalah bayi yang lahir dari kehamilan 37 sampai 42
Minggu dan berat badan lahir 2500 - 4000 gram. Tanda-tanda bayi baru lahir
normal Lahir aterm antara 37- 42 minggu, Berat badan 2500 - 4000 gram, Panjang
badan 48 - 52 cm, Lingkar dada 30 - 38 cm, Lingkar kepala 33 - 35 cm, Frekuensi
jantung 120-160×/menit, Pernapasan ± 40 - 60×/menit, Kulit kemerah merahan dan
licin karena jaringan subkutan cukup, Nilai APGAR > 7, Gerakan aktif, Bayi lahir
langsung menangis kuat.
Analisa ditegakan berdasarkan data objektif dan subjektif bahwa bayi
neonatus cukup bulan sesuai masa kehamilan yang di perkuat dengan usia
kehamilan ibu saat persalinan yaitu 38 -40 minggu dan berat badan bayi saat lahir
yaitu 3000 gram, gerakan aktif, menangis kuat, warna kulit kemerahan.
D. Penatalaksanaan
Telah dilakukan upaya menjaga kehangatan pada bayi baru lahir dengan
mengeringkan tubuh bayi kecuali kedua telapak tangan. Menggunakan kain bersih
dan kering, serta memakaikan topi pada kepala bayi. Dilakukan upaya dalam
membebaskan jalan nafas dengan usaha isap lendir menggunakan alat penghisap
lendir yaitu suction dilakukan pada mulut bayi.
Mekanisme pengaturan temperature tubuh pada bayi baru lahir belum
berfungsi sempurna. Oleh karena itu, jika tidak segera dilakukan upaya pencegahan
kehilangan panas tubuh maka BBL dapat mengalami hipotermia. Membebaskan
Jalan Nafas dengan cara sebagai berikut yaitu, penolong segera membersihkan jalan
nafas dengan cara sebagai Alat penghisap lendir mulut (De Lee) atau alat penghisap
lainnya yang steril. Bila cairan amnion yang mengandung meconium terintalasi oleh
bayi. Mekonium membantu pertumbuhan pathogen yang mematikan dalam jalan
respirasi, karena meconium merupakan medium yang baik bagi pertumbuhan
bakteri. Bila segera tidak bersihkan / dihisap dengan baik, maka saat bayi aktif
bernafas setelah lahir, meconium akan tersedot masuk ke jaringan paru, dan bayipun
mengalami sesak nafas.
Maka dapat di simpulkan upaya dalam pencegahan kehilangan panas pada
bayi baru lahir sudah dilakukan sesuai dengan teori. Hal ini dilakukan untuk
mencegah bayi mengalami hipotermia dimana mekanisme pengaturan suhu tubuh
bayi belum berfungsi sempurna. Dilakukannya isap lendir pada bayi hal ini pun
sejalan dengan uraian teori untuk mencegah cairan ketuban yang bercampur
meconium masuk ke dalam paru dan mencegah bayi mengalami sesak nafas.
Pada pukul 10.22 WIB memotong tali pusat dengan menggunakan klem tali
pusat, menjepit tali pusat sekitar 1-2 cm dari umbilikas bayi. Dari sisi luar klem
penjepit, mendorong isi talipusat kearah ibu dan melakukan penjepitan kedua 2 cm
dari klem pertama, dan dilakukan pemotongan diantara kedua klem. Memotong dan
mengikat tali pusat klem dan potong tali pusat setelah 2 menit setelah bayi lahir, tali
pusat dijepit dengan klem dtt pada sekitar 3 cm dari dinding perut (pangkal pusat)
bayi. Dari titik jepitan,tekan tali pusat dengan dua jari kemudian dorong isi tali pusat
ke arah ibu (agar darah tidak terpancar pada saat dilakukan pemotongan tali pusat).
Kemudian jepit (dengan klem kedua) tali pusat pada bagian yang isinya sudah
dikosongkan, berjarak 2 cm dari tempat jepitan pertama.
Pemotongan tali pusat pada bayi baru lahir sudah dilakukan sesuai dengan
teori. Dimana pemotongan tali pusat dilakukan 2 menit setelah bayi lahir dengan
menggunakan klem dan menjepit tali pusat dengan klem sekitar 1-2 cm dari
umbilikas bayi. Pada pukul 05.10 wita telah melakukan Inisiasi Menyusu Dini
(IMD) dimana bayi diletakkan pada dada ibu kulit bersentuhan dengan kulit dan
inisiasi menyusu dini telah berhasil pada menit ke 15. Dilakukan inisiai menyusi
dini selama 60 menit. Prinsip menyusu / pemberian ASI adalah dimulai sedini
mungkin dan secara ekslusif. Segera setelah bayi lahir dan tali pusat diikat letakkan
bayi tengkurap di dada ibu dengan kulit bayi bersentuhan langsung ke kulit ibu.
Biarkan kontak kulit ke kulit ini berlangsung setidaknya 1 jam atau lebih, bahkan
sampai bayi dapat menyusu sendiri
Inisiasi Menyusu Dini (IMD) sudah dilakukan sesuai dengan uraian teori
dimana telah dilakukan segera setelah bayi lahir. Dilakukan selama 60 menit bayi
tengkurap di dada ibu dengan kulit bayi bersentuhan langsung ke kulit ibu dan bayi
telah berhasil menyusu sendiri.
Pada jam 06.00 wita dilakukan pemberian vit K 1mg pada ⅓ paha kiri bayi
secara IM dilakukan untuk mencegah perdarahan pada otak bayi. Salep mata untuk
pencegahan infeksi mata diberikan setelah 1 jam kontak kulit ke kulit dan bayi
selesai menyusu.
Pemberian vitamin K 1mg pada ⅓ paha kiri secara IM telah dilakukan sesuai
dengan teori diberikan setelah 1 jam kontak kulit ke kulit dan bayi selesai menyusu
dilakukan pada ⅓ paha kiri bayi secara IM. Pada pukul 06.30 WIB telah dilakukan
pemberikan salf mata oxytetracycline 1% diberikan pada kedua mata bayi upaya
untuk pencegahan infeksi pada mata bayi. Vitamin K1 injeksi 1mg intramuscular
setelah 1 jam kontak kulit ke kulit untuk mencegah perdarahan bayi baru lahir akibat
defisiensi vitamin k yang dapat dialami oleh sebagian bayi baru lahir.
Pemberian salep mata sudah dilakukan sesuai dengan teori dilakukan setelah
1 jam kontak kulit ke kulit dan bayi selesai menyusu, diberikan pada kedua mata
bayi salf mata oxytetracycline 1%.
Pada pukul 07.30 wita bayi Ny.D usia 3 jam. Telah dilakukan pemberian
suntik vaksin HB0, dengan dosis 0,5 ml dilakukan di paha luar atas sebelah kanan
bayi secara IM, menjelaskan kepada ibunya hal ini upaya untuk pencegahan
penyakit hepatitis [Link] Hepatitis B bermanfaat untuk mencegah infeksi
Hepatitis B terhadap bayi, terutama jalur penularan Ibu bayi. Imunisasi Hepatitis B
pertama diberikan 1 jam setelah pemberian vitamin K1, pada saat bayi baru berumur
2 jam.
Pemberian Imunisasi Hepatitis B sudah dilakukan sesuai dengan uraian teori
dilakukan dengan jarak 1 jam setelah pemberian vitamin K1. Pada paha luar atas
sebelah kanan bayi diberikan dengan dosis 0,5 ml disuntikan secara IM. Hal ini
bermanfaat untuk mencegah infeksi Hepatitis B terhadap bayi.
Memberikan motivasi kepada ibu bahwa untuk cukup hanya memberikan ASI
saja hingga usia bayi 6 bulan (ASI Ekslusif). Tanpa memberikan makanan serta
minuman apapun madu dan lain-lainnya. ASI eksklusif yaitu pemberian ASI saja
tanpa makanan dan minuman lain. ASI eksklusif dianjurkan sampai enam bulan
pertama kehidupan bayi.
Berdasarkan yang telah dilakukan hal ini sejalan dengan uraian teori. Telah
dilakukan upaya menganjurkan ibu untuk memberikan ASI saja tanpa memberikan
makanan maupun minuman yang lainnya hingga usia bayi 6 bulan (ASI Ekslusif).
Mengingatkan kepada ibu untuk menjemurkan bayinya di pagi hari. Sebaiknya
menjemur bayi dilakukan dibawah jam 10 pagi. Dilakukan selama 10 hingga 15
menit. Menejemur bayi dilakukan hanya jika cuaca mendukung.
Bayi yang baru lahir masih memiliki berbagai keterbatasan karena organ-
organ tubuhnya yang belum berfungsi dengan sempurna, termasuk organ hati. Hal
ini menyebabkan bilirubin tidak dapat diolah dengan semestinya sehingga kadar
bilirubin dalam darah bayi meningkat, yang akan membuat kulit bayi menguning.
Untuk mengatasi hal ini untuk rutin menjemur bayi di bawah terik matahari pagi.
Ada berbagai manfaat yang bisa dirasakan, seperti : Mencegah Bayi Kuning,
manfaat menjemur bayi di pagi hari yang perlu diketahui kasus bayi kuning terjadi
ketika kandungan bilirubin pada bayi yang baru lahir meningkat yang ditandai
dengan rona kuning pada kulit bayi. Peningkatan kadar bilirubin tersebut biasanya
terjadi pada hari ke 3 hingga 5, dan akan turun di hari ke 7 hingga 10. Dengan
menjemur bayi di bawah sinar matahari pagi, bilirubin dalam darah bayi dapat
dipecah sehingga kadarnya dapat diturunkan hingga normal. Manfaat menjemur
bayi di pagi hari sinar matahari pagi juga sangat berguna untuk menghangatkan
tubuh bayi sehingga lendir yang ada di dalam saluran pernafasan dapat keluar. Hal
ini terutama sangat membantu bagi bayi yang rentan mengalami alergi. Bayi
sebaiknya dijemur di bawah sinar matahari pagi sebelum jam 10.00. Agar tidak
terlalu panas, Anda bisa menjemurnya sebelum pukul 08.00 selama 15 menit saja.
Karena kulit bayi masih sangat sensitif, pehatikan juga durasi penjemurannya agar
tidak terlalu lama. Tidak harus berada di luar ruangan, Tetap bisa menjemur bayi di
dalam ruangan yang terpapar sinar matahari pagi jika tidak memungkinkan untuk
keluar rumah.
Sesuai dengan uraian teori dimana manfaat dari menjemur bayi di pagi hari
untuk mencegah bayi kuning. Dengan menjemur bayi di bawah sinar matahari pagi,
bilirubin dalam darah bayi dapat dipecah sehingga kadarnya dapat diturunkan
hingga normal.
Memberitahu kepada ibu jika ada tanda - tanda bahaya pada bayinya seperti :
kejang, demam, tidak mau menyusu, bayi merintih, mata bernanah, kulit dan mata
pada bayi kuning untuk segera datang ke fasilitas kesehatan terdekat tanpa
menunggu jadwal kunjungan ulang.
Tanda-tanda bahaya pada bayi pemberian ASI sulit, sulit menghisap, atau
hisapan lemah, Kesulitan bernapas, yaitu pernapasan cepat >60/menit atau
menggunakan otot napas tambahan, letargi bayi terus-menerus tidur tanpa bangun
untuk makan, Warna abnormal kulit atau bibir biru (sianosis) atau bayi sangat
kuning, Suhu terlalu panas (febris) atau terlalu dingiin (hipotermia), Tanda atau
perilaku abnormal atau tidak biasa, tidak bertinja selama 3 hari pertama setelah
lahir, muntah terus menerus, muntah dan perut bengkak, tinja hijau tua atau
berdarah atau lender, Mata bengkak atau mengeluarkan cairan.
Hal ini sejalan dengan uraian teori yang menjelaskan bahwa bayi baru lahir
perlu pengawasan. Maka dari itu perlu di ketahui tanda - tanda bahaya pada bayi
baru lahir seperti kejang, demam, tidak mau menyusu, bayi merintih, mata
bernanah, kulit dan mata pada bayi kuning. Agar segera cepat di ketahui dan di
tangani.
BAB V
KESIMPULAN
Pada bab ini penyusun mengambil suatu kesimpulan dari laporan kasus yang
berjudul Asuhan Kebidanan Bayi Baru Lahir pada Bayi Ny. D Neonatus Cukup Bulan
Sesuai Masa Kehamilan UPT Puskesmas Mangkoso.
1. Data Subjektif pada Ny. D usia 23 tahun G1P0A0, HPHT 10 Agustus 2022, TP 15
Mei 2023, Usia Kehamilan 38-40 minggu, ini merupakan anak pertama, belum
pernah keguguran, TFU 30 cm. Ibu melahirkan normal pada hari Senin, 15 Mei 2022
pukul 05.00 WIB dengan ketuban pecah saat pembukaan lengkap, ketuban hijau
encer tidak berbau. Ibu dan keluaga tidak memiliki riwayat penyakit menurun,
menahun maupun menular seperti jantung, hipertensi, asma, malaria, DM, ginjal,
hepatitis. Bayi diletakkan di dada ibu untuk dilakukan IMD,
2. Data Objektif didapatkan Keadaan umum baik, bayi menangis kuat, tonus otot aktif,
kulit kemerahan.
3. Analisa yang dapat ditegakkan adalah Bayi Ny.D Neonatus Cukup Bulan dengan
keadaan baik.
4. Penatalaksaan yang diberikan yaitu dengan menjaga kehangatan bayi, membersihkan
jalan napas dengan menghisap lendir, memotong tali pusat dengan menggunakan
klem tali pusat, melakukan Inisiasi Menyusu Dini, memberikan salf mata
oxytetracycline 1%, memberikan vit K 1mg, memberikan vaksin HB0, memandikan
bayi.
BAB IV
DAFTAR PUSTAKA
No Komponen Pembahasan
Tutorial I :
Ny.A, 26 Tahun P1A0 melahirkan bayi perempuan, usia kehamilan 38-40 minggu,
1 dengan BB lahir 3400 gram, PB: 47 cm, lahir spontan, warna ketuban jernih, tidak
ada meconium. Saat lahir bayi tidak bernafas, tonus otot kurang baik, setelah
dilakukan resusitasi awal, bayi tetap tidak menangis sampai dilakukan
penalaksanaan VTP
Data Subjektif Ny.A, 26 Tahun P1A0 melahirkan bayi perempuan, usia
kehamilan 38-40 minggu
BB lahir 3400 gram, PB: 47 cm, lahir spontan, warna ketuban
Data Objektif jernih, tidak ada meconium. Saat lahir bayi tidak bernafas,
tonus otot kurang baik,
Diagnosis Anoksia
Banding
Langkah awal
Perencanaan 1. Pastikan bayi tetap hangat
2. Atur posisi bayi
3. Keringkan dan stimulasi (rangsang taktil)
4. Reposisi
Tutorial II :
Setelah dilakukan Penalaksanaan VTP didapatkan bayi bernafas spontan, tidak ada
retraksi , Frekuensi Jantung 100x/m, Skor Apgar 5´ 7-10. Dari anamnesis
2
kehamilan didapatkan ANC tidak teratur , tidak ada demam sebelum melahirkan .
catatan Kesehatan ibu menunjukkan bahwa tanda-tanda vital ibu normal , Bayi
sudah rawat gabung dengan
Diagnosis Asfiksia
1. Resusitasi Bayi
Penatalaksanaan 2. VTP
s esuai kasus 3. Asuhan bayi baru lahir normal
TANGGAL DIAGNOSA
EVALUASI TTD
JAM KEBIDANAN
10 Mei 2023 Asuhan Subjektif Mahasiswa
Kebidanan pada Ibu melahirkan normal pada hari
bayi baru lahir Rabu, 10 Mei 2023 pukul 04.00
Wita dengan ketuban pecah pada
saat pembungkaan lengkap,
ketuban hijau encer tidak berbau.
Keadaan umum bayi baik , bayi Rajawati
langsung menangis,Bayi diletakkan NIM.202210152
di dada ibu untuk dilakukan IMD
segera setelah lahir, pergerakan
aktif, bayi sudah mendapatkan
injeksi Vit.K dan HB 0 dan salep Preseptor Lahan
Mata Oksitetracylin 1 %
Objektif
1. KU Baik
2. TTV : Suhu : 36,5 0C, FJ 110
x/m, P: 50 x/m
3. BB/PB : 2800 gram/47 cm
4. LK/LD/LP : 32 cm/31 cm/32
cm Preseptor Akademik
5. UUB Membuka,
berdenyut,Caput Succedenium
(-), Cephal Haematom (-),
Strabismus (-),sekret pada mata
(-),Labio Palatum (-), lidah
bersih, bibir tidak sianosis Asmah Sukarta,[Link].,[Link]
6. leher : tidak ada pembengkakan NIDN.09071081
pada pembuluh darah dan
kelenjar limfe
7. Punggung : spina bifida (-),
cekungan (-)
Ekstremintas :tidak ada fraktur,
polidactil (-), sindadactil (-),
akral hangat, tidak oedema,
Estremitas bawah :simetris,
tonus otot normal, oedema (-)
9. Genetalia/Anus : Labia Mayora
menutupi labia minora,Atresia
uretra (-), Atresia ani (-)
10. Refleks Primitif
Moro : Baik,
Rooting: Bayi menoleh
saat pipinya disentuh
Suching: Bayi mengisap
saat bibirnya disentuh
Swallowing: Bayi menelan
saat lehernya disentuh
Graps: Bayi menggenggam
saat telapak tangan
disentuh
Babinski:Jari-jari
menggenggam saat telapak
kaki di usap
Analisa
Bayi Ny.E, Neonatus Cukup Bulan,
Sesuai Masa Kehamilan, KU bayi
baik
Penatalaksanaan
TANGGAL DIAGNOSA
EVALUASI TTD
JAM KEBIDANAN
8 Mei 2023 Asuhan Subjektif Mahasiswa
Kebidanan pada Ibu melahirkan normal pada hari
bayi baru lahir Minggu, 07 Mei 2023 pukul .18.00
Wita dengan ketuban pecah pada
saat pembungkaan lengkap,
ketuban hijau encer tidak berbau.
Keadaan umum bayi baik , bayi Rajawati
langsung menangis,Bayi diletakkan NIM.202210152
di dada ibu untuk dilakukan IMD
segera setelah lahir, pergerakan
aktif, bayi sudah mendapatkan
injeksi Vit.K dan HB 0 dan salep Preseptor Lahan
Mata Oksitetracylin 1 %
Objektif
1. KU Baik
2. TTV : Suhu : 36,6 0C, FJ 120
x/m, P: 48 x/m
3. BB/PB : 2900 gram/47 cm
4. LK/LD/LP : 33 cm/31 cm/32
cm Preseptor Akademik
5. UUB Membuka,
berdenyut,Caput Succedenium
(-), Cephal Haematom (-),
Strabismus (-),sekret pada mata
(-),Labio Palatum (-), lidah
bersih, bibir tidak sianosis Asmah Sukarta,[Link].,[Link]
6. leher : tidak ada pembengkakan NIDN.09071081
pada pembuluh darah dan
kelenjar limfe
7. Punggung : spina bifida (-),
cekungan (-)
8. Ekstremintas :tidak ada fraktur,
polidactil (-), sindadactil (-),
akral hangat, tidak oedema,
Estremitas bawah :simetris,
tonus otot normal, oedema (-)
9. Genetalia/Anus : sudah turun ke
scrotum,Atresia uretra (-),
Atresia ani (-)
10. Refleks Primitif
Moro : Baik,
Rooting: Bayi menoleh
saat pipinya disentuh
Suching: Bayi mengisap
saat bibirnya disentuh
Swallowing: Bayi menelan
saat lehernya disentuh
Graps: Bayi menggenggam
saat telapak tangan
disentuh
Babinski:Jari-jari
menggenggam saat telapak
kaki di usap
Analisa
Bayi Ny.R, Neonatus Cukup Bulan,
Sesuai Masa Kehamilan, KU bayi
baik
Penatalaksanaan
Tanggal 8 Mei 2023 Jam 08.00 s.d
10.00 Wita
1. Memberitahu ibu dan keluarga
tentang keadaan umum bayinya
bahwa bayi dalam keadaan
sehat: ibu dan keluarga merasa
senang.
2. Mengobservasi KU dan TTV
bayi;
KU bayi baik, TTV : Suhu 36, 6
ºC, FJ 120 x/m, P 48 x/m
3. Menganjurkan ibu untuk tetap
menjaga kehangatan bayi
dengan mengganti pakaian bayi
jika basah atau saat popok
penuh dan menganjurkan ibu
untuk mendekap bayinya; ibu
menuruti anjuran yang
diberikan dan bayi dalam
keadaan hangat.
4. Menganjurkan ibu untuk
menyusui bayinya sesering
mungkin 2 jam sekali atau
secara on demand; Ibu
mengerti dan bersedia untuk
menerapkannya.
5. Merawat tali pusat dengan
prinsip aseptic, biarkan kering
dan jangan biarkan tali pusat
basah; ibu bersedia
melaksanakan anjuran yang
diberikan
6. Memberitahu ibu jika ada
tanda-tanda bahaya pada
bayinya seperti : Kejang,
demam, tidak mau menyusu,
suhu tubuh < 36,5 ºC atau >
37,5ºC, bayi merintih,kulit dan
mata pada bayi kuning untuk
segera memberitahu petugas
Kesehatan; ibu mengerti tanda-
tanda bahaya pada bayi baru
lahir
7. Menganjurkan ibu untuk
memberikan ASI saja hingga
usia bayi 6 bulan tanpa
tambahan apapun; ibu bersedia
mengikuti anjuran yang
diberikan
TANGGAL DIAGNOSA
EVALUASI TTD
JAM KEBIDANAN
12 Mei 2023 Asuhan Subjektif Mahasiswa
Kebidanan pada Ibu melahirkan normal pada hari
bayi baru lahir Kamis, 11 Mei 2023 pukul 16.00
Wita dengan ketuban pecah pada
saat pembungkaan lengkap,
ketuban hijau encer tidak berbau.
Keadaan umum bayi baik , bayi Rajawati
langsung menangis,Bayi diletakkan NIM.202210152
di dada ibu untuk dilakukan IMD
segera setelah lahir, pergerakan
aktif, bayi sudah mendapatkan
injeksi Vit.K dan HB 0 dan salep Preseptor Lahan
Mata Oksitetracylin 1 %
Objektif
1. KU Baik
2. TTV : Suhu : 36,7 0C, FJ 120
x/m, P: 48 x/m
3. BB/PB : 3200 gram/51 cm
4. LK/LD/LP : 33 cm/32 cm/32
cm Preseptor Akademik
5. Ubun-ubun besar Membuka,
berdenyut,Caput Succedenium
(-), Cephal Haematom (-),
Strabismus (-),sekret pada mata
(-),Labio Palatum (-), lidah
bersih, bibir tidak sianosis Asmah Sukarta,[Link].,[Link]
6. leher : tidak ada pembengkakan NIDN.09071081
pada pembuluh darah dan
kelenjar limfe
7. Punggung : spina bifida (-),
cekungan (-)
8. Ekstremintas :tidak ada fraktur,
polidactil (-), sindadactil (-),
akral hangat, tidak oedema,
Estremitas bawah :simetris,
tonus otot normal, oedema (-)
9. Genetalia/Anus : Labia Mayora
menutupi labia minora,Atresia
uretra (-), Atresia ani (-)
10. Refleks Primitif
Moro : Baik,
Rooting: Bayi menoleh
saat pipinya disentuh
Suching: Bayi mengisap
saat bibirnya disentuh
Swallowing: Bayi menelan
saat lehernya disentuh
Graps: Bayi menggenggam
saat telapak tangan
disentuh
Babinski:Jari-jari
menggenggam saat telapak
kaki di usap
Analisa
Bayi Ny.H, Neonatus Cukup Bulan,
Sesuai Masa Kehamilan, KU bayi
baik
Penatalaksanaan
Tanggal 12 Mei 2023 Jam 09.00 s.d
11.00 Wita
1. Memberitahu ibu dan keluarga
tentang keadaan umum bayinya
bahwa bayi dalam keadaan
sehat: ibu dan keluarga merasa
senang.
2. Mengobservasi KU dan TTV
bayi;
KU bayi baik, TTV : Suhu 36, 7
ºC, FJ 120 x/m, P 48 x/m
3. Menganjurkan ibu untuk tetap
menjaga kehangatan bayi
dengan mengganti pakaian bayi
jika basah atau saat popok
penuh dan menganjurkan ibu
untuk mendekap bayinya; ibu
menuruti anjuran yang
diberikan dan bayi dalam
keadaan hangat.
4. Menganjurkan ibu untuk
menyusui bayinya sesering
mungkin 2 jam sekali atau
secara on demand; Ibu
mengerti dan bersedia untuk
menerapkannya.
5. Merawat tali pusat dengan
prinsip aseptic, biarkan kering
dan jangan biarkan tali pusat
basah; ibu bersedia
melaksanakan anjuran yang
diberikan
6. Memberitahu ibu jika ada
tanda-tanda bahaya pada
bayinya seperti : Kejang,
demam, tidak mau menyusu,
suhu tubuh < 36,5 ºC atau >
37,5ºC, bayi merintih,kulit dan
mata pada bayi kuning untuk
segera memberitahu petugas
Kesehatan; ibu mengerti tanda-
tanda bahaya pada bayi baru
lahir
7. Menganjurkan ibu untuk
memberikan ASI saja hingga
usia bayi 6 bulan tanpa
tambahan apapun; ibu bersedia
mengikuti anjuran yang
diberikan
TANGGAL DIAGNOSA
EVALUASI TTD
JAM KEBIDANAN
15 Mei 2023 Asuhan Subjektif Mahasiswa
Kebidanan pada Ibu melahirkan normal pada hari
bayi baru lahir Senin, 15 Mei 2023 pukul .03.00
Wita dengan ketuban pecah pada
saat pembungkaan lengkap,
ketuban hijau encer tidak berbau.
Keadaan umum bayi baik , bayi Rajawati
langsung menangis,Bayi diletakkan NIM.202210152
di dada ibu untuk dilakukan IMD
segera setelah lahir, pergerakan
aktif, bayi sudah mendapatkan
injeksi Vit.K dan HB 0 dan salep Preseptor Lahan
Mata Oksitetracylin 1 %
Objektif
1. KU Baik
2. TTV : Suhu : 36,6 0C, FJ 120
x/m, P: 48 x/m
3. BB/PB : 2900 gram/47 cm
4. LK/LD/LP : 33 cm/31 cm/32
cm Preseptor Akademik
5. UUB Membuka,
berdenyut,Caput Succedenium
(-), Cephal Haematom (-),
Strabismus (-),sekret pada mata
(-),Labio Palatum (-), lidah
bersih, bibir tidak sianosis Asmah Sukarta,[Link].,[Link]
6. leher : tidak ada pembengkakan NIDN.09071081
pada pembuluh darah dan
kelenjar limfe
7. Punggung : spina bifida (-),
cekungan (-)
8. Ekstremintas :tidak ada fraktur,
polidactil (-), sindadactil (-),
akral hangat, tidak oedema,
Estremitas bawah :simetris,
tonus otot normal, oedema (-)
9. Genetalia/Anus : sudah turun ke
scrotum,Atresia uretra (-),
Atresia ani (-)
10. Refleks Primitif
Moro : Baik,
Rooting: Bayi menoleh
saat pipinya disentuh
Suching: Bayi mengisap
saat bibirnya disentuh
Swallowing: Bayi menelan
saat lehernya disentuh
Graps: Bayi menggenggam
saat telapak tangan
disentuh
Babinski:Jari-jari
menggenggam saat telapak
kaki di usap
Analisa
Bayi Ny.D, Neonatus Cukup Bulan,
Sesuai Masa Kehamilan, KU bayi
baik
Penatalaksanaan
Tanggal 15 Mei 2023 Jam 13.00 s.d
15.00 Wita
1. Memberitahu ibu dan keluarga
tentang keadaan umum bayinya
bahwa bayi dalam keadaan
sehat: ibu dan keluarga merasa
senang.
2. Mengobservasi KU dan TTV
bayi;
KU bayi baik, TTV : Suhu 36, 6
ºC, FJ 120 x/m, P 48 x/m
3. Menganjurkan ibu untuk tetap
menjaga kehangatan bayi
dengan mengganti pakaian bayi
jika basah atau saat popok
penuh dan menganjurkan ibu
untuk mendekap bayinya; ibu
menuruti anjuran yang
diberikan dan bayi dalam
keadaan hangat.
4. Menganjurkan ibu untuk
menyusui bayinya sesering
mungkin 2 jam sekali atau
secara on demand; Ibu
mengerti dan bersedia untuk
menerapkannya.
5. Merawat tali pusat dengan
prinsip aseptic, biarkan kering
dan jangan biarkan tali pusat
basah; ibu bersedia
melaksanakan anjuran yang
diberikan
6. Memberitahu ibu jika ada
tanda-tanda bahaya pada
bayinya seperti : Kejang,
demam, tidak mau menyusu,
suhu tubuh < 36,5 ºC atau >
37,5ºC, bayi merintih,kulit dan
mata pada bayi kuning untuk
segera memberitahu petugas
Kesehatan; ibu mengerti tanda-
tanda bahaya pada bayi baru
lahir
7. Menganjurkan ibu untuk
memberikan ASI saja hingga
usia bayi 6 bulan tanpa
tambahan apapun; ibu bersedia
mengikuti anjuran yang
diberikan
Objektif
1. KU Baik
2. TTV: Suhu : 37,2 0C, FJ 120
x/m, P: 50 x/m
3. BB/PB : 3400 gram/50 cm
4. LK/LD/LP: 33 cm/32 cm/32
cm Preseptor Akademik
5. Ubun-ubun besar Membuka,
berdenyut,Caput Succedenium
(-), Cephal Haematom (-),
Strabismus (-),sekret pada mata
(-),Labio Palatum (-), lidah
bersih, bibir tidak sianosis Asmah Sukarta,[Link].,[Link]
6. leher : tidak ada pembengkakan NIDN.09071081
pada pembuluh darah dan
kelenjar limfe
7. Punggung : spina bifida (-),
cekungan (-)
Ekstremintas :tidak ada fraktur,
polidactil (-), sindadactil (-),
akral hangat, tidak oedema,
Estremitas bawah :simetris,
tonus otot normal, oedema (-)
9. Genetalia/Anus : sudah turun ke
scrotum,Atresia uretra (-),
Atresia ani (-)
10. Refleks Primitif
Moro : Baik,
Rooting: Bayi menoleh
saat pipinya disentuh
Suching: Bayi mengisap
saat bibirnya disentuh
Swallowing: Bayi menelan
saat lehernya disentuh
Graps: Bayi menggenggam
saat telapak tangan
disentuh
Babinski:Jari-jari
menggenggam saat telapak
kaki di usap
Analisa
Bayi Ny.N, Neonatus Cukup Bulan,
Sesuai Masa Kehamilan, KU bayi
baik
Penatalaksanaan
Tanggal 13 Mei 2023 Jam 09.00 s.d
11.00 Wita
1. Memberitahu ibu dan keluarga
tentang keadaan umum bayinya
bahwa bayi dalam keadaan
sehat: ibu dan keluarga merasa
senang.
2. Mengobservasi KU dan TTV
bayi;
KU bayi baik, TTV : Suhu 37,2
ºC, FJ 120 x/m, P 50 x/m
3. Menganjurkan ibu untuk tetap
menjaga kehangatan bayi
dengan mengganti pakaian bayi
jika basah atau saat popok
penuh dan menganjurkan ibu
untuk mendekap bayinya; ibu
menuruti anjuran yang
diberikan dan bayi dalam
keadaan hangat.
4. Menganjurkan ibu untuk
menyusui bayinya sesering
mungkin 2 jam sekali atau
secara on demand; Ibu
mengerti dan bersedia untuk
menerapkannya.
5. Merawat tali pusat dengan
prinsip aseptic, biarkan kering
dan jangan biarkan tali pusat
basah; ibu bersedia
melaksanakan anjuran yang
diberikan
6. Memberitahu ibu jika ada
tanda-tanda bahaya pada
bayinya seperti : Kejang,
demam, tidak mau menyusu,
suhu tubuh < 36,5 ºC atau >
37,5ºC, bayi merintih,kulit dan
mata pada bayi kuning untuk
segera memberitahu petugas
Kesehatan; ibu mengerti tanda-
tanda bahaya pada bayi baru
lahir
7. Menganjurkan ibu untuk
memberikan ASI saja hingga
usia bayi 6 bulan tanpa
tambahan apapun; ibu bersedia
mengikuti anjuran yang
diberikan
Analisa
Bayi Ny.R, Neonatus Cukup Bulan,
Sesuai Masa Kehamilan, hari ke 3
KU bayi baik, tali pusat masih Preseptor Akademik
basah
Penatalaksanaan
Tanggal 17 Mei 2023 Jam 09.00 s.d
11.00 Wita
1 Memberitahu ibu dan keluarga Asmah Sukarta,[Link].,[Link]
tentang keadaan umum bayinya NIDN.09071081
bahwa bayi dalam keadaan
sehat: ibu dan keluarga merasa
senang.
2. Mengobservasi KU dan TTV
bayi;
KU bayi baik, TTV : Suhu 36, 7
ºC, FJ 120 x/m, P 48 x/m
4. Menganjurkan ibu untuk tetap
menjaga kehangatan bayi
dengan mengganti pakaian bayi
jika basah atau saat popok
penuh dan menganjurkan ibu
untuk mendekap bayinya; ibu
menuruti anjuran yang
diberikan dan bayi dalam
keadaan hangat.
5. Menganjurkan ibu untuk
menyusui bayinya sesering
mungkin 2 jam sekali atau
secara on demand; Ibu
mengerti dan bersedia untuk
menerapkannya.
6. Merawat tali pusat dengan
prinsip aseptic, biarkan kering
dan jangan biarkan tali pusat
basah; ibu bersedia
melaksanakan anjuran yang
diberikan
7. Menjelaskan pada ibu agar tidak
memberikan bahan apapun pada
tali pusat bayi termasuk bedak
powder; ibu dan keluarga
mengerti dan bersedia
mengikuti anjuran yang
diberikan
8. Memberitahu ibu jika ada
tanda-tanda bahaya pada
bayinya seperti : Kejang,
demam, tidak mau menyusu,
suhu tubuh < 36,5 ºC atau >
37,5ºC, bayi merintih,kulit dan
mata pada bayi kuning untuk
segera memberitahu petugas
Kesehatan; ibu mengerti tanda-
tanda bahaya pada bayi baru
lahir
9. Menganjurkan ibu untuk
memberikan ASI saja hingga
usia bayi 6 bulan tanpa
tambahan apapun; ibu bersedia
mengikuti anjuran yang
diberikan
Objektif
1. KU Baik
2. TTV : Suhu : 36,5 0C, FJ 120
x/m, P: 50 x/m
3. BB/PB : 3100 gram/49 cm
4. LK/LD/LP : 33 cm/32 cm/32
cm Preseptor Akademik
5. Ubun-ubun besar Membuka,
berdenyut,Caput Succedenium
(-), Cephal Haematom (-),
Strabismus (-),sekret pada mata
(-),Labio Palatum (-), lidah
bersih, bibir tidak sianosis Asmah Sukarta,[Link].,[Link]
6. leher : tidak ada pembengkakan NIDN.09071081
pada pembuluh darah dan
kelenjar limfe
7. Punggung : spina bifida (-),
cekungan (-)
Ekstremintas :tidak ada fraktur,
polidactil (-), sindadactil (-),
akral hangat, tidak oedema,
Estremitas bawah :simetris,
tonus otot normal, oedema (-)
9. Genetalia/Anus : Labia Mayora
menutupi labia minora,Atresia
uretra (-), Atresia ani (-)
10. Refleks Primitif
Moro : Baik,
Rooting: Bayi menoleh
saat pipinya disentuh
Suching: Bayi mengisap
saat bibirnya disentuh
Swallowing: Bayi menelan
saat lehernya disentuh
Graps: Bayi menggenggam
saat telapak tangan
disentuh
Babinski:Jari-jari
menggenggam saat telapak
kaki di usap
Analisa
Bayi Ny.S, Neonatus Cukup Bulan,
Sesuai Masa Kehamilan, KU bayi
baik
Penatalaksanaan
Tanggal 16 Mei 2023 Jam 10.00 s.d
12.00 Wita
1. Memberitahu ibu dan keluarga
tentang keadaan umum bayinya
bahwa bayi dalam keadaan
sehat: ibu dan keluarga merasa
senang.
2. Mengobservasi KU dan TTV
bayi;
KU bayi baik, TTV : Suhu 36, 5
ºC, FJ 110 x/m, P 50 x/m
3. Menganjurkan ibu untuk tetap
menjaga kehangatan bayi
dengan mengganti pakaian bayi
jika basah atau saat popok
penuh dan menganjurkan ibu
untuk mendekap bayinya; ibu
menuruti anjuran yang
diberikan dan bayi dalam
keadaan hangat.
4. Menganjurkan ibu untuk
menyusui bayinya sesering
mungkin 2 jam sekali atau
secara on demand; Ibu
mengerti dan bersedia untuk
menerapkannya.
5. Merawat tali pusat dengan
prinsip aseptic, biarkan kering
dan jangan biarkan tali pusat
basah; ibu bersedia
melaksanakan anjuran yang
diberikan
6. Memberitahu ibu jika ada
tanda-tanda bahaya pada
bayinya seperti : Kejang,
demam, tidak mau menyusu,
suhu tubuh < 36,5 ºC atau >
37,5ºC, bayi merintih,kulit dan
mata pada bayi kuning untuk
segera memberitahu petugas
Kesehatan; ibu mengerti tanda-
tanda bahaya pada bayi baru
lahir
7. Menganjurkan ibu untuk
memberikan ASI saja hingga
usia bayi 6 bulan tanpa
tambahan apapun; ibu bersedia
mengikuti anjuran yang
diberikan
Objektif
1. KU Baik
2. TTV: Suhu : 36,8 0C, FJ 120
x/m, P: 50 x/m
3. BB/PB : 3100 gram/50 cm
4. LK/LD/LP: 33 cm/32 cm/32
cm Preseptor Akademik
5. Ubun-ubun besar Membuka,
berdenyut,Caput Succedenium
(-), Cephal Haematom (-),
Strabismus (-),sekret pada mata
(-),Labio Palatum (-), lidah
bersih, bibir tidak sianosis Asmah Sukarta,[Link].,[Link]
6. leher : tidak ada pembengkakan NIDN.09071081
pada pembuluh darah dan
kelenjar limfe
7. Punggung : spina bifida (-),
cekungan (-)
8. Ekstremintas :tidak ada fraktur,
polidactil (-), sindadactil (-),
akral hangat, tidak oedema,
Estremitas bawah :simetris,
tonus otot normal, oedema (-)
9. Genetalia/Anus : sudah turun ke
scrotum,Atresia uretra (-),
Atresia ani (-)
10. Refleks Primitif
Moro : Baik,
Rooting: Bayi menoleh
saat pipinya disentuh
Suching: Bayi mengisap
saat bibirnya disentuh
Swallowing: Bayi menelan
saat lehernya disentuh
Graps: Bayi menggenggam
saat telapak tangan
disentuh
Babinski:Jari-jari
menggenggam saat telapak
kaki di usap
Analisa
Bayi Ny.R, Neonatus Cukup Bulan,
Sesuai Masa Kehamilan, KU bayi
baik
Penatalaksanaan
Tanggal 09 Mei 2023 Jam 09.00 s.d
11.00 Wita
1. Memberitahu ibu dan keluarga
tentang keadaan umum bayinya
bahwa bayi dalam keadaan
sehat: ibu dan keluarga merasa
senang.
2. Mengobservasi KU dan TTV
bayi;
KU bayi baik, TTV : Suhu 36,8
ºC, FJ 120 x/m, P 50 x/m
3. Menganjurkan ibu untuk tetap
menjaga kehangatan bayi
dengan mengganti pakaian bayi
jika basah atau saat popok
penuh dan menganjurkan ibu
untuk mendekap bayinya; ibu
menuruti anjuran yang
diberikan dan bayi dalam
keadaan hangat.
4. Menganjurkan ibu untuk
menyusui bayinya sesering
mungkin 2 jam sekali atau
secara on demand; Ibu
mengerti dan bersedia untuk
menerapkannya.
5. Merawat tali pusat dengan
prinsip aseptic, biarkan kering
dan jangan biarkan tali pusat
basah; ibu bersedia
melaksanakan anjuran yang
diberikan
6. Memberitahu ibu jika ada
tanda-tanda bahaya pada
bayinya seperti : Kejang,
demam, tidak mau menyusu,
suhu tubuh < 36,5 ºC atau >
37,5ºC, bayi merintih,kulit dan
mata pada bayi kuning untuk
segera memberitahu petugas
Kesehatan; ibu mengerti tanda-
tanda bahaya pada bayi baru
lahir
7. Menganjurkan ibu untuk
memberikan ASI saja hingga
usia bayi 6 bulan tanpa
tambahan apapun; ibu bersedia
mengikuti anjuran yang
diberikan
Objektif
1. KU Baik
2. TTV : Suhu : 37,4 0C, FJ 120
x/m, P: 48 x/m
3. BB/PB : 2800 gram/47 cm
4. LK/LD/LP : 32 cm/32 cm/32
cm Preseptor Akademik
5. Ubun ubun besar Membuka,
berdenyut, Caput Succedenium
(-), Cephal Haematom (-),
Strabismus (-),sekret pada mata
(-),Labio Palatum (-), lidah
bersih, bibir tidak sianosis Asmah Sukarta,[Link].,[Link]
6. leher : tidak ada pembengkakan NIDN.09071081
pada pembuluh darah dan
kelenjar limfe
7. Punggung : spina bifida (-),
cekungan (-)
8. Ekstremintas :tidak ada fraktur,
polidactil (-), sindadactil (-),
akral hangat, tidak oedema,
Estremitas bawah :simetris,
tonus otot normal, oedema (-)
9. Genetalia/Anus : Labia Mayora
menutupi labia minora,Atresia
uretra (-), Atresia ani (-)
10. Refleks Primitif
Moro : Baik,
Rooting: Bayi menoleh
saat pipinya disentuh
Suching: Bayi mengisap
saat bibirnya disentuh
Swallowing: Bayi menelan
saat lehernya disentuh
Graps: Bayi menggenggam
saat telapak tangan
disentuh
Babinski:Jari-jari
menggenggam saat telapak
kaki di usap
Analisa
Bayi Ny.M, Neonatus Cukup
Bulan, Sesuai Masa Kehamilan,
KU bayi baik
Penatalaksanaan
Tanggal 12 Mei 2023 Jam 10.00 s.d
12.00 Wita
1. Memberitahu ibu dan keluarga
tentang keadaan umum bayinya
bahwa bayi dalam keadaan
sehat: ibu dan keluarga merasa
senang.
2. Mengobservasi KU dan TTV
bayi;
KU bayi baik, TTV : Suhu 36, 5
ºC, FJ 110 x/m, P 50 x/m
3. Menganjurkan ibu untuk tetap
menjaga kehangatan bayi
dengan mengganti pakaian bayi
jika basah atau saat popok
penuh dan menganjurkan ibu
untuk mendekap bayinya; ibu
menuruti anjuran yang
diberikan dan bayi dalam
keadaan hangat.
4. Menganjurkan ibu untuk
menyusui bayinya sesering
mungkin 2 jam sekali atau
secara on demand; Ibu
mengerti dan bersedia untuk
menerapkannya.
5. Merawat tali pusat dengan
prinsip aseptic, biarkan kering
dan jangan biarkan tali pusat
basah; ibu bersedia
melaksanakan anjuran yang
diberikan
6. Memberitahu ibu jika ada
tanda-tanda bahaya pada
bayinya seperti : Kejang,
demam, tidak mau menyusu,
suhu tubuh < 36,5 ºC atau >
37,5ºC, bayi merintih,kulit dan
mata pada bayi kuning untuk
segera memberitahu petugas
Kesehatan; ibu mengerti tanda-
tanda bahaya pada bayi baru
lahir
7. Menganjurkan ibu untuk
memberikan ASI saja hingga
usia bayi 6 bulan tanpa
tambahan apapun; ibu bersedia
mengikuti anjuran yang
diberikan
NAMA : RAJAWATI
NIM : 202210152
NAMA : RAJAWATI
NIM : 202210152
Preseptor Pendidikan Preseptor Lahan Mahasiswa
Objektif
8. KU Baik
9. TTV: Suhu : 36,9 0C, FJ 120
x/m, P: 50 x/m
[Link]/PB : 3300 gram/50 cm
11. LK/LD/LP: 33 cm/32 cm/32
cm Preseptor Akademik
[Link]-ubun besar Membuka,
berdenyut,Caput Succedenium
(-), Cephal Haematom (-),
Strabismus (-),sekret pada mata
(-),Labio Palatum (-), lidah
bersih, bibir tidak sianosis Asmah Sukarta,[Link].,[Link]
[Link] : tidak ada pembengkakan NIDN.09071081
pada pembuluh darah dan
kelenjar limfe
[Link] : spina bifida (-),
cekungan (-)
Ekstremintas :tidak ada fraktur,
polidactil (-), sindadactil (-),
akral hangat, tidak oedema,
Estremitas bawah :simetris,
tonus otot normal, oedema (-)
9. Genetalia/Anus : sudah turun ke
scrotum,Atresia uretra (-),
Atresia ani (-)
10. Refleks Primitif
Moro : Baik,
Rooting: Bayi menoleh
saat pipinya disentuh
Suching: Bayi mengisap
saat bibirnya disentuh
Swallowing: Bayi menelan
saat lehernya disentuh
Graps: Bayi menggenggam
saat telapak tangan
disentuh
Babinski:Jari-jari
menggenggam saat telapak
kaki di usap
Analisa
Bayi Ny.H, Neonatus Cukup Bulan,
Sesuai Masa Kehamilan, KU bayi
baik
Penatalaksanaan
BAB I
PENDAHULUAN
A. Masalah
Ruam popok merupakan masalah kulit pada area genital bayi yang ditandai
dengan munculnya bintik-bintik merah pada kulit. Kulit bayi masih sensitif karena
fungsinya masih berkembang, terutama pada epidermis atau lapisan luar kulit. Bagian
ini memberikan perlindungan alami bagi kulit dari lingkungan. (Dewi, 2011).
Seorang individu dalam rentang kehidupannya akan melalui berbagai macam
fase atau periode seiring dengan perkembangan usia. Salah satu periode yang
memegang peranan penting dalam perkembangan seorang individu adalah periode
bayi. Periode ini merupakan salah satu periode terpenting dan kritis dalam kehidupan.
Hal ini dikarenakan pada periode ini, seorang bayi mulai belajar dan memahami
berbagai macam hal dan pengalaman baru tentang dirinya untuk menyesuaikan diri
dengan lingkungan agar tercapai kesehatan yang optimal.
B. Skala
Berdasarkan data World Health Organization (WHO) tahun 2012, prevalensi iritasi
kulit (ruam) pada bayi cukup tinggi yaitu 25% dari 6.840. 507.000 bayi yang lahir di
seluruh dunia menderita iritasi kulit akibat penggunaan popok. Jumlah tertinggi
ditemukan pada umur 6-12 bulan (Ramba dan Nurbaya, 2014). Hanya di Indonesia,
menurut statistik dari Divisi Dermatologi Anak, Poliklinik Kulit Anak, Rumah Sakit
Cipto Mangunkusumo, Jakarta pada 2005-2009, satu dari tiga bayi atau balita
mengalami ruam popok. Insiden ruam popok mencapai 7-35%, yang menyerang anak
laki-laki dan perempuan (Ward et al., 2000).
C. Kronologi
Ruam popok dikenal juga dengan sebutan diaper rash karena gangguan kulit ini
timbul di daerah yang tertutup popok, yaitu pada area alat kelamin, bokong, dan
pangkal paha bagian dalam. Ruam popok memiliki tanda tanda seperti kulit di sekitar
daerah tersebut meradang, berwarna kemerahan, dan kadang lecet yang membuat bayi
menjadi rewel dan tidak nyaman. Ruam popok kerap dijumpai pada bayi atau anak di
bawah usia 2 tahun dengan angka kejadian yang lebih tinggi antara usia 9-12 bulan
yaitu sebanyak 7- 35%.
Diaper rash sering terjadi akibat kurangnya kebersihan bayi dan lingkungannya
serta rendahnya pengetahuan orang tua mengenai dermatitis diapers/ruam popok.
Bayi dari orang tua dengan tingkat sosial ekonomi rendah maupun tinggi dapat
mengalami kejadian diaper rash apabila orang tuanya tidak mengetahui terjadinya
diaper rash (Ruam popok pada anaknya (Nursalam, 2005).
D. Solusi
Salah satu bahan olahan alami yang dapat dipertimbangkan sebagi terapi topikal
alternatif yang dapat digunakan untuk perawatan kulit pada bayi yang mengalami
ruam popok yaitu virgin coconut oil.
Virgin coconut oil adalah minyak yang terbuat dari daging kelapa segar,
diproses dengan pemanasan terkendali atau tanpa pemanasan sama sekali, dan tanpa
bahan kimia. Penyulingan minyak kelapa yang demikian menjadikan kandungan
senyawa-senyawa esensial yang dibutuhkan tubuh tetap utuh dan minyak yang
dihasilkan menjadi terasa lembut dan berbau khas kelapa yang harum.5
Jika dipakai secara topikal, virgin coconut oil akan bereaksi dengan bakteri-
bakteri kulit menjadi bentuk asam lemak bebas seperti yang terkandung dalam sebum.
Sebum sendiri terdiri dari asam lemak rantai sedang seperti yang ada pada VCO
sehingga melindungi kulit dari bahaya mikroorganisme patogen. Asam lemak bebas
juga membantu menciptakan lingkungan yang asam di atas kulit sehingga mampu
menghalau bakteribakteri penyebab penyakit. 6,7
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
1. Kesimpulan
Hasil penelitian dalam ketiga jurnal ini menjelaskan terdapat pengaruh
pemberian virgin coconut oil terhadap ruam popok pada bayi.
2. Saran
Diharapkan lebih menekankan pemberian KIE yang terkait dengan perawatan
bayi serta memberikan penyuluhan dan demonstrasi tentang perawatan bayi
khususnya perawatan perineal bayi.
BAB IV
DAFTAR PUSTAKA
Aisyah, S. (2015). Hubungan pemakaian Diaper dengan kejadian ruam popok pada bayi usia
6 – 12 bulan. Jurnal. journal. unisla. ac. id/pdf/19812016/d. %20dr. %20Siti. pdf.
Diakses pada tanggal 19 Maret 2019.
Alamsyah, A. N. (2006). Virgin Coconut Oil minyak penakluk aneka penyakit. Jakarta:
Agromedia Pustaka.
VCO, Ruam Popok Hal : 392 - 400 Gusti Ayu Tirtawat , dkk
1. ABSTRAK
Ruam popok merupakan masalah kulit pada daerah genital bayi yang ditandai dengan timbulnya
bercak-bercak merah dikulit. Kulit bayi yang masih sensitif disebabkan fungsifungsinya yang
masih terus berkembang terutama pada lapisan epidermis atau lapisan terluar kulit. Bagian ini
yang memberikan perlindungan alami pada kulit dari lingkungan sekitar. Pemakaian Diaper
yang terlalu sering akan menyebabkan ruam popok karena akan menimbulkan berkembang
biakan mikro organisme semakin banyak sehingga bidan setempat harus melakukan penyuluhan
tentang pemakaian Diaper. Dan rata-rata setiap bayi yang datang untuk imunisasi menggunakan
popok dan sebagian mengalami Diaper Rash (ruam popok). Ini terjadi karena orang tua tidak
peduli dengan jenis popok, popok yang dipakai sepanjang hari dan jarang diganti dan popok
kain dicuci asal bersih. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemberian VCO
(Virgin Coconut Oil) pada bayi dengan ruam popok (Diaper Rash) pada bayi dengan
menggunakan VCO (Virgin Coconut Oil) di Wilayah kerja Puskesmas Tanawangko
Jenis penelitian ini adalah adalah rancangan quasi eksperimental yaitu penelitian yang berusaha
mencari pengaruh suatu perlakuan terhadap sebuah variabel. Desain penelitian One-Group
Pretest-Posttest yaitu untuk mengetahui pengaruh pemberian VCO pada bayi yang mengalami
gangguan kesehatan kulit, yaitu Diaper Rash. Analisis data menggunakan Wilcoxon signed
rank test. Sampel dalam penelitian ini adalah 15 bayi dengan Diaper Rash di wilayah Kerja
Puskesmas Tanawangko, menggunakan accidental sampling. Variabel penelitian yang dinilai
adalah pengaruh pemberian Virgin Coconut Oil (sebelum dan sesudah) pada bayi dengan ruam
popok.
Hasil penelitian ini menunjukkan rata-rata ruam pada bayi mengalami penyembuhan yang
signifikan setelah diberikan VCO. Analisis data menunjukkan nilai p<=0,001. Kesimpulannya
ada pengaruh pemberian VCO terhadap ruam popok bayi di Puskesmas Tanawangko.
Disarankan program pemberian promosi kesehatan mengenai personal hygiene pada bayi dapat
dilakukan dengan berkelanjutan oleh pihak yang berwenang terutama tenaga kesehatan,
sehingga permasalahan ruam popok dapat di cegah.
2. ABSTRACT
Diaper rash is a skin problem in baby's genital area which is marked by the appearance of red
patches on the skin. Baby's skin is still sensitive due to its functions which are still developing,
especially in the epidermis or the outer layer of skin. As we know, epidermis provides natural
protection to the skin from the surrounding environment (Dewi, 2011). The use of diapers that
are too frequent will cause some diaper rash because it will lead to the proliferation of
microorganisms more and more so midwives have to do counseling about the use of Diapers to
their parents. In average, every baby who comes for immunizations uses diapers and some have
Diaper Rash. This happens because parents do not care about the type of diapers, diapers are
used all day and are rarely replaced and cloth diapers washed as long as they are clean. This
study aims to determine the effect of giving VCO (Virgin Coconut Oil) to baby with diaper rash
in using VCO (Virgin Coconut Oil) in Tanawangko Public Health Center.
This type of research is a quasy experimental design that is research that seeks to find the effect
of a treatment on a variable. The design of the One-Group Pretest-Posttest study was to
determine the effect of VCO administration on baby with skin health problems, diaper rash.
Data analysis using Wilcoxon signed rank test. The sample in this study was 15 babies with
Diaper Rash in Tanawangko Public Health Center, using accidental sampling. The research
variable assessed was the effect of giving Virgin Coconut Oil (before and after) to baby with
diaper rash.
The results of this study showed that the average rash in babies experienced significant relief
after being given VCO. Data analysis showed the value of p<= 0.001. In conclusion, there is an
effect of giving VCO to baby diaper rash in Tanawangko Public Health Center. It is
recommended that the health promotion program regarding personal hygiene to baby be carried
out sustainably by the authorities, especially health workers, so that the problem of diaper rash
can be prevented.
3. PENDAHULUAN
Ruam popok merupakan masalah kulit pada area genital bayi yang ditandai dengan munculnya
bintik-bintik merah pada kulit. Kulit bayi masih sensitif karena fungsinya masih berkembang,
terutama pada epidermis atau lapisan luar kulit. Bagian ini memberikan perlindungan alami bagi
kulit dari lingkungan. (Dewi, 2011).
Berdasarkan data World Health Organization (WHO) tahun 2012, prevalensi iritasi kulit (ruam)
pada bayi cukup tinggi yaitu 25% dari 6.840. 507.000 bayi yang lahir di seluruh dunia
menderita iritasi kulit akibat penggunaan popok. Jumlah tertinggi ditemukan pada umur 6-12
bulan (Ramba dan Nurbaya, 2014). Hanya di Indonesia, menurut statistik dari Divisi
Dermatologi Anak, Poliklinik Kulit Anak, Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo, Jakarta pada
2005-2009, satu dari tiga bayi atau balita mengalami ruam popok. Insiden ruam popok
mencapai 7-35%, yang menyerang anak laki-laki dan perempuan (Ward et al., 2000).
Data Profil Dinas Kesehatan Provinsi Sulut pada Januari-Maret 2019, jumlah anak di Minahasa
Induk sebanyak 3.370 anak. Sedangkan di Puskesmas Tanawangko periode Januari-Maret 2019,
jumlah bayi usia 0-1 tahun sebanyak 290 bayi yang datang untuk imunisasi. Dan rata-rata setiap
bayi yang datang untuk imunisasi menggunakan popok dan ada yang mengalami ruam popok.
Hal ini dikarenakan orang tua tidak memperdulikan jenis popoknya, popok digunakan sepanjang
hari dan jarang diganti, dan popok kain dicuci asalkan bersih (Marta Fitria, 2014).
Penulis juga melakukan survey awal pada setiap anak di Puskesmas Tanawangko yang datang
untuk imunisasi, didapatkan hampir semua bayi mengalami kemerahan pada bagian bokong,
alat kelamin, perianal dan selangkangan. Selain itu, pada bayi yang diteliti, faktor penyebab
ruam pada bayi yang paling umum adalah penggunaan popok sekali pakai dan frekuensi buang
air kecil dan buang air besar yang terlalu sering. Hasil wawancara diketahui pula bahwa
beberapa orang tua bayi menggunakan bedak untuk mengatasi ruam popok pada bayinya
terutama pada ibu primipara. Ibu-ibu yang masih memakai bedak belum mengetahui bahwa
bedak dapat mengakibatkan ruam popok yang lebih parah karena bedak yang terletak di lipatan
paha akan bercampur keringat yang dapat mengakibatkan tumbuhnya bakteri. Dan ada sebagian
ibu menggunakan bahan olahan alami sebagi terapi topikal alternatif yang dapat digunakan
untuk perawatan kulit pada bayi yang mengalami ruam popok yaitu VCO (Virgin Coconut Oil).
Berdasarkan uraian diatas penulis tertarik untuk melakukan studi kasus dengan ide berupa
inovasi tentang “Efektifitas VCO (Virgin Coconut Oil) Terhadap Ruam Popok (Diaper Rash)
Pada bayi di wilayah kerja Puskesmas Tanawangko”.
Metode penelitian yang digunakan adalah metode penelitian quasi eksperimental yaitu
penelitian yang berusaha mencari pengaruh suatu perlakuan terhadap sebuah variabel. Desain
penelitian One-Group Pretest-Posttest yaitu untuk mengetahui pengaruh pemberian VCO pada
bayi yang mengalami gangguan kesehatan kulit, yaitu Diaper Rash. Pemilihan sampel
menggunakan accidental sampling. Pengumpulan data dilakukan dengan wawancara
menggunakan lembar observasi. Analisa data menggunakan Wilcoxon Test dengan tingkat
kemaknaan (α) <0.05.
5. HASIL
Analisis Univariat
Ukuran Diaper Rash sebelum pemberian VCO paling banyak berada pada kategori 3 cm
sebanyak 6 responden (40,0%) dan ukuran Diaper Rash sesudah pemberian VCO paling banyak
berada pada kategori 1 cm sebanyak 13 responden (86,7%)
Analisis Bivariat
Sebelum dilakukan pengujian terhadap signifikansi dari pemberian intervensi berupa pemberian
VCO kepada responden, terlebih dahulu dilakukan uji normalitas data. Uji normalitas data
yang digunakan adalah uji Saphiro Wilk karena jumlah sampel yang kurang dari 50. Dalam
pengujian ini ditemukan bahwa normalitas data memiliki nilai yang signifikan (p value
α=<0,05), sehingga tidak dapat diuji dengan Uji t-berpasangan, oleh karena itu dilakukan
pengujian dengan menggunakan pengujian non-parametrik uji Wilcoxon signed rank test.
Perubahan kesembuhan Diaper Rash responden yang dinilai menggunakan lembar observasi
menunjukkan bahwa pengukuran posttest rata-rata ukuran Diaper Rash responden menurun
menjadi 1 cm dan yang paling tinggi adalah 2 cm. Hasil ini kemudian diuji dengan uji
Wilcoxon dan didapatkan nilai p value=0,001 (α<0,05) yang berarti ada pengaruh yang sangat
signifikan pemberian VCO terhadap Diaper Rash bayi dengan p value α=<0,05.
6. PEMBAHASAN
Berdasarkan hasil penelitian dan hasil analisis data pengurangan ukuran ruam popok sebelum
dan sesudah pemberian minyak kelapa murni, penggunaan uji wilcoxon signedrank
menunjukkan p-value = 0,001 < = 0,05 , yang berarti terdapat perbedaan pengaruh yang
signifikan terhadap ukuran. ruam popok pada bayi sebelum dan sesudah pemberian minyak
kelapa murni..
Ruam popok sering disebut sebagai “Diaper Rash”. Ruam popok adalah penyakit peradangan
kulit yang terjadi pada bayi di daerah yang terbedong. Terutama di sekitar perut, alat kelamin,
selangkangan dan bokong (Adji, 2010). Faktor-faktor yang berperan dalam menyebabkan ruam
popok adalah: kulit basah dari urin dan feses, popok kotor terus-menerus, kondisi tersumbat
atau terbungkus,
Rata-rata ukuran ruam popok sebelum menggunakan minyak kelapa murni rata-rata 3 cm,
dengan titik terendah 2 cm dan tertinggi 10 cm. Sementara itu ukuran ruam popok setelah
menggunakan minyak kelapa murni mengalami penurunan, terlihat bahwa ukuran ruam popok
telah berubah secara signifikan, rata-rata 1 cm.
Hasil analisis uji statistik Wilcoxon menunjukkan adanya pengaruh yang sangat signifikan yaitu
rata-rata ukuran 4.444 ruam popok setelah penggunaan virgin coconut oil lebih kecil dari ukuran
ruam popok sebelum digunakan virgin coconut oil, dengan p = 0,001. Ini menunjukkan bahwa
intervensi minyak kelapa murni dapat mengobati ruam popok pada bayi. Virgin coconut oil
akan memberikan nutrisi melalui penyerapan kulit untuk mengurangi efek gesekan dan
kelembapan, mengembalikan elastisitas kulit dan melindungi kulit dari kerusakan sel.
Hasil ini serupa dengan penelitian Kusumaningrum (2015) bahwa rerata skor ruam popok
sebelum menggunakan minyak kelapa murni menunjukkan skor rata-rata 8,64, dengan skor
terendah 2 dan tertinggi [Link] anti-popok skor ruam setelah diterapkan murni. minyak
kelapa meningkat, hal ini terlihat dari skor ruam popok meningkat menjadi 2,36 ri yang
sebelumnya 8,64%.
7. KESIMPULAN
8. KESIMPULAN
Bagi Peneliti, penelitian ini merekomendasikan untuk melakukan penelitian lanjutan dengan
membandingkan Virgin Coconut Oil dengan bahan lain seperti antibiotika (kortikosteroid
topikal) dan bahan alami (minyak zaitun, minyak atsiri, ataupun minyak nabati lainnya), perlu
dilakukan pada sampel yang lebih banyak, menggunakan kelompok pembanding (kontrol), dan
waktu pengolesan Virgin Coconut Oil secara berkelanjutan. Selain itu, untuk penelitian
selanjutnya agar memasukkan faktor counfonding (pengganggu) dalam variabel penelitiannya
serta menganalisis setiap hubungan antar variabel tersebut
9. DAFTAR PUSTAKA
Aisyah, S. (2015). Hubungan pemakaian Diaper dengan kejadian ruam popok pada bayi usia 6
– 12 bulan. Jurnal. journal. unisla. ac. id/pdf/19812016/d. %20dr. %20Siti. pdf. Diakses
pada tanggal 19 Maret 2019.
Alamsyah, A. N. (2006). Virgin Coconut Oil minyak penakluk aneka penyakit. Jakarta:
Agromedia Pustaka.
Alamsyah, Andi Nur. , (2005), Virgin Coconut Oil Minyak Penakluk Aneka Penyakit, Penerbit
Agro Media Pustaka, Jakarta
Champion, DJ & Black, JA. (2009). Metode & Masalah Penelitian Sosial. Bandung: Refika
Aditama
Dharma. (2011) Metodologi Penelitian keperawatan. Jakarta :CV. Trans Info Media
Stephani, Dewi. (2011), tindakan dini atasi ruam popok. [Link] kompas.
com/read/2011/07/09/17014027/tindakan. dini. atasi. ruam. popok, Kompas. com ,
dilihat tanggal 18 maret 2019 jam 16. 20
Januarti, I. (2014). Pemakaian disposable Diaper dengan terjadinya diaper rush. Jurnal
repository. poltekkesmajapahit. ac. id/index. php/PUB-
KEP/article/download/534/446. Diakses pada tanggal 2 Maret 2019.
Kusumaningrum A (2015), Pengaruh Virgin Coconut Oil Terhadap Ruam Popok Pada Bayi.
Jurnal Keperawatan Sriwijaya, Volume 2 – Nomor 1, Januari 2015, ISSN No 2355 5459
Manulang, Yessi. (2010). Gambaran pengetahuan dan tindakan ibu dalam perawatan daerah
perianal terhadap pencegahan ruam popok. Http://Repository. usu. ac. id (diperoleh
tanggal 18 Maret 2019).
Marta, F. 2014. Popok Pengaruhi Tumbuh Kembang Anak. [Link] bisnis. com (diakses
tanggal 25 April 2019).
Pristi. D , Rosyidah. A, Ina I, 2016, Pemberian Extra Virgin Olive Oil (Evoo) Untuk Mengatasi
Diaper Rash (Ruam Popok) Pada Bayi Usia 1-12 Bulan, Jurnal Kesehatan Hesti Wira
Sakti, Volume 4, Nomor 2, Oktober 2016. Hlm. 91-96, Diakses pada tanggal 25 april
2019, Pukul 20. 20
Ramba, H. L. , & Nurbaya, S. (2014). Kejadian Iritasi Kkulit (Ruam Popok) Pada Bayi Usia
012 Bulan: Analitik Asosiatif. Journal of Pediatric Nursing, Vol. 1(2), pp. 087-092
Siti A, 2015, Hubungan Pemakaian Diaper Dengan Kejadian Ruam Popok Pada Bayi Usia 6 –
12 Bulan , Jl Veteran No 53 A Lamongan,[Link] google. com/search, diakses
pada tanggal 25 april 2019, pukul 20. 12
Sri N, Mariyam, 2013, Pengetahuan Dan Kemampuan Ibu Dalam Perawatan Daerah Perianal
Pada Bayi Usia 0-12 Bulan Di Desa Surokonto Wetan Kecamatan Pageruyung
Kabupaten Kenda, Jurnal Keperawatan Anak . Volume 1, No. 1, Mei 2013; 37-43,
diakses pada tanggal 25 april 2019, Pukul 2015.
Sudarti, dkk. 2010. Buku Ajar Dokumentasi Kebidanan. Yogyakarta : Nuha Medika
Sukartin, J. Kuncoro. MM. MBA. (2010). Gempur Penyakit Dengan VCO. Jakarta : Gramedia
Tina, Inciden Diaper Rush di Indonesia. 2010 (Diakses pada tanggal 18 Maret 2019). Didapat
dari : [Link] kabarbisnis. com
Ward, DB, Fleischer, AB Jr. , Feldman, SR, Krowchuk, DP. 2000. Characterization of Diaper
Dermatitis in the United States. Archive of Pediatric and Adolescent, Vol. 154, pp.
943
Wong D. L. , Huckenberry M. J. (2008). Wong’s Nursing care of infants and children. Mosby
Company, St Louis Missouri.
Corespondensi Author
Narmawan
Program Sarjana Keperawatan STIKes Karya Kesehatan
Jalan AH. Nasution No. 89. Andonohu
Email: narmawanfebson@[Link]
Abstrak. Bayi sangat sensitif terhadap apapun yang ada dilingkungan sekitarnya. Oleh Karena
itu bayi belum terbiasa dengan keadaan yang dapat menyerang kondisi tubuhnya terutama
masalah kulit. Kondisi kulit pada bayi yang relatif lebih tipis menyebabkan bayi lebih rentan
terhadap infeksi, iritasi dan alergi. Salah satu masalah kulit yang masih sering terjadi pada
bayi dan anak adalah diaper dermatitis/ ruam popok. Ruam popok adalah radang / infeksi kulit
disekitar area popok seperti paha dan pantat bayi. Daerah kulit yang seringkali terjadi ruam
dikarenakan popok yaitu sekitar bokong dan kemaluan. Penelitian ini menggunakan metode
Pra eksperimen dengan rancangan (one group pre-test–post test design) yaitu melakukan
observasi awal (pretest) yang memungkinkan menguji perubahan-perubahan yang terjadi
selama eksperimen dan setelah itu dilakukan lagi observasi (Postest) untuk melihat perubahan
yang terjadi. Sampel dalam penelitian ini adalah bayi yang mengalami ruam popok di desa
Mowila yang berjumlah 31 orang. Dari hasil uji Marginal Homogeneity menunjukan bahwa
nilai p = 0,000 < 0,05 sehingga dapat disimpulkan bahwa ada pengaruh pemberian Virgin
Coconut Oil (VCO) terhadap ruam popok bayi di Desa Mowila. Saran bagi Pihak Desa Mowila
dan Puskesmas Mowila, agar dapat memberikan edukasi tentang ruam popok pada ibu bayi,
bagi ibu bayi agar mencegah terjadinya ruam popok dengan memperhatikan kelembapan popok
bayi dan selalu menggunakan VCO pada kulit bayi.
[Link] are very sensitive to whatever is in their environment. Therefore, babies are
not used to conditions that can attack body conditions, especially skin problems. The skin
condition in babies that is relatively thin makes the baby more susceptible to infections,
irritations and allergies. One of the most common skin problems in infants and children is
diaper dermatitis / diaper rash. Diaper rash is inflammation / infection of the skin around the
diaper area such as the baby's thighs and buttocks, the area of skin that occurs due to diapers,
namely around the buttocks and genitals. This study uses the pre-experimental method with a
design (one group pre-test - post test design), which is to make preliminary observations
(pretest) which allows testing the changes that occur during the experiment and after that,
another observation (postest) is made to see the changes that occur . The sample in this study
were babies who experienced diaper rash in Mowila village, which may be 33 people. From the
results of the Marginal Homogeneity test, it shows that the value of p = 0.000 <0.05, so it can
show that there is an effect of offering Virgin Coconut Oil (VCO) on baby diaper rash in
Mowila Village. Suggestions for Mowila Village and Mowila Puskesmas, in order to provide
education about diaper rash to infant mothers, for baby mothers to prevent diaper rash by
paying attention to baby humidity and always using VCO on the baby's skin.
2. Analisis Univariat
HASIL DAN PEMBAHASAN Tabel 2. Distribusi hasil pre test dan
Hasil pos test ruam popok pada
1. Karakteristik Responden bayi (n = 31)
Tabel 1. Karakteristik responden Ruam Popok n %
(n=31) Pre test
Karakteristik n (%) Mean ± - Derajat 1 1 3,2
Responden SD - Derajat 2 3 9,7
Umur Ibu 28.77 ± - Derajat 3 27 87,1
(Tahun) 3.283 Pos test
Pekerjaan - Sembuh 1 3,2
- IRT 31 (100) - Derajat 1 6 19,4
Agama - Derajat 2 23 74,2
- Islam 30 (96,8) - Derajat 3 1 3,2
dan terjadi gesekan antara popok dan kulit
Hasil analisis pada tabel 2 bayi. Hal tersebut bisa disebabkan karena
menunjukan bahwa hasil pretest bakteri mudah berkembang biak di suhu
sebelum diberikan VCO, sebagian besar yang lembab. Selain itu ruam popok dapat
adalah ruam popok derajat 3 dengan juga disebabkan oleh kurangnya
jumlah 27 bayi, namun setelah pengetahuan orang tua seperti jarang
diberikan VCO derajat ruam popok mengganti popok bayi yang sudah buang
terbanyak adalah derajat 2 dengan air kecil dan besar (Syah, 2005).
jumlah 23 bayi. Suryani (2017), mengungkapkan
3. Analisis Bivariat bahwa jika BAB/BAK bayi tidak
Tabel 3. Analisis pengaruh dibersihkan dengan benar maka akan
pemberian VCO pada bayi (n = 31) menimbulkan iritasi pada kulit bayi dan
Ruam Popok menimbulkan ruam dan bahkan yang lebih
VCO
Sembuh Derajat 2 Derajat
Jumlah parah lagi dapat menyebabkan luka pada
3
Derajat area pantat dan kelamin bayi. Lebih lanjut
1
n % n % n % n % n %
studi oleh Rusmawati (2019), bahwa
perawatan yang benar pada bayi dapat
meningkatkan tumbuh kembang bayi
Pretest 0 0 1 3.2 3 9.7 27 87.1 31 100
Postest 1 3.2 6 19.4 23 74.2 1 3.2 31 100 setelah optimal.
Penyebab terjadinya ruam popok
adalah karena orang tua bayi masih belum
Hasil analisis data meunjukkan paham mengenai perawatan bayi yang baik
bahwa hasil uji statistic dengan dan benar. Orang tua bayi juga mengatakan
menggunakan Uji Marginal sudah pernah mendapatkan penyuluhan
Homogeneity diperoleh nilai asymp. oleh pihak puskesmas tentang perawatan
Sig. (2-tailed) =0,000>p-value (0,05) bayi yang baik dan benar akan tetapi
pada taraf signifikan 5% yang berarti kadang lupa apalagi saat dalam keadaan
hipotesis alternative (Ha) diterima bayinya terluka/ sakit sehingga panik dan
(H0) ditolak, hal ini menunjukkan bingung harus melakukan apa, serta saat
bahwa terdapat pengaruh pemberian bayinya BAB/BAK kebiasaan orang tuanya
Virgin Coconut Oil (VCO) terhadap hanya dilap dengan kain lalu langsung
ruam popok bayi di Desa Mowila. menggantikan popoknya saja tidak
dibersihkan dahulu dengan menggunakan
Pembahasan air itu setelah dibersihkan langsung
Kejadian Ruam Popok di Desa Mowila diberikan bedak tidak dikeringkan terlebih
Dalam penelitian ini sebagian besar dahulu sehingga bedak menggumpal dan
bayi di desa mowila mengalami ruam trcampur dengan urin/feses menimbulkan
popok derajat 3 dengan jumlah 27 orang. penumpukan bakteri.
Hal ini dikarenakan kebiasaan orang tua Pengaruh pemberian virgin coconut
yang menunda membersihkan kulit yang oil pada bayi berdasarkan hasil uji statistik
terkena urin/feses dalam jangka waktu lama menggunakan uji Marginal Homogeneity
membuat bakteri menumpuk di sekitar area menunjukkan bahwa pemberian virgin
popok, serta setiap hari bayinya selalu coconut oil berpengaruh terhadap ruam
dipakaikan popok sekali pakai/ pempers popok pada bayi di Desa Mowila dengan
karena malas menggantikan popok bayinya nilai p = 0.000 ≤ α 0.05, yakni virgin
setiap kali BAB/BAK sehingga pemakaian coconut oil dapat menurunkan derajat ruam
popok yang terlalu sering dan lama dapat popok bayi. Hal ini menunjukkan bahwa
memicu terjadinya ruam popok disebabkan intervensi virgin coconut oil mampu
oleh kulit yang terlalu lembab. mengatasi ruam popok pada bayi. Virgin
Ruam popok pada bayi sering coconut oil akan memberikan nutrisi
terjadi disebabkan pemakaian popok/ melalui proses penyerapan oleh kulit untuk
diapers yang terlalu lama sehingga mengurangi efek gesekan dan kelembaban,
menyebabkan kulit bayi menjadi lembab mengembalikan elastisitas kulit, dan
melindungi kulit dari kerusakan sel Menurut asumsi peneliti,
(Armita, 2014). menggunakan Virgin coconut oil secara
Berdasarkan tinjauan literatur rutin kepada bayi dan dioleskan secukupnya
penyebab dari ruam popok adalah pada kulit bayi dapat mencegah/ mengobati
pemakaian popok sekali pakai yang kurang iritasi kulit (ruam popok) pada bayi, karena
baik. Pemakaian popok yang kurang baik kandungan yang terdapat dalam VCO
seperti: pemakaian popok yang lama, mampu melindungi kulit dari iritasi.
kontak yang lama antara kulit dan popok
yang basah mempengaruhi beberapa bagian SIMPULAN DAN SARAN
kulit, gesekan yang lebih sering dan lama Simpulan dari studi ini bahwa
menimbulkan kerusakan atau iritasi pada kejadian ruam popok pada bayi berjumlah
kulit yang dapat meningkat permeabilitas 33 orang. Terdapat pengaruh pemberian
kulit dan jumlah mikroorganisme. Dengan virgin coconut oil terhadap ruam popok
demikian kulit menjadi sensitif dan mudah pada bayi di Desa Mowila. Bagi Desa
mengalami iritasi (Nurdiansyah, 2011). Mowila khususnya Puskesmas Mowila,
Pernyataan ini sejalan dengan hasil studi agar dapat memberikan edukasi tentang
oleh Cahyati et al. (2015), tentang pengaruh ruam popok pada ibu bayi. Bagi ibi-ibu
virgin coconut oil terhadap ruam popok yang mempunyai bayi agar memperhatikan
pada bayi dimana hasil membuktikan kelembaban popok bayi dan selalu
adanya penurunan derajat ruam popok pada menggunakan VCO pada kulit bayi untuk
saat pre test hingga post test. Lebih lanjut, mencegah terjadinya ruam popok.
penelitian tersebut menyatakan bahwa Keterbatasan Dan Rekomendasi
virgin coconut oil dapat diaplikasikan Adapun keterbatasan dalam
dalam asuhan keperawatan pada bayi yang penelitian ini adalah bahwa populasi atau
mengalami ruam popok dan sekaligus responden masih sidikit, dosis pemberian
sebagai upaya pencegahan ruam popok. VCO untuk semua ruam popok sama serta
Untuk mengatasi terjadinya tidak adanya kelompok pembanding.
berbagai kerusakan kulit bayi akibat, Bagi peneliti selanjutnya, agar
terjadinya ruam popok pada bayi harus dapat mengkaji faktor lain dan
dilakukan upaya pencegahan terjadinya membandingkan virgin coconut oil dengan
ruam popok dengan cara mengganti baju/ bahan lain seperti antibiotika (kortiko
popok bayi setiap kali basah (Situmorang, steroid topikal) dan bahan alami (minyak
2017). Sewaktu mengganti popok, zaitun, minyak atsiri, ataupun minyak
bersihkan kulit secara lembut dengan air, nabati lainnya), perlu dilakukan penelitian
gunakan sabun lembut setelah buang air lebih lanjut pada sampel yang lebih banyak
besar, lalu bilas sampai bersih, keringkan dan menggunakan kelompok pembanding
dengan handuk atau kain halus dan lembut, (kontrol).
anginkan sebentar, baru memakai popok DAFTAR RUJUKAN
yang baru, biarkan bayi tidak memakai Aditya, N. (2017). Handbook for New
popok selama paling sedikit 2-3 jam perhari Mom: Paduan Lengkap Merawat Bayi
agar kulit bayi tidak panas dan lembab Baru Lahir. Stiletto Book.
oleskan bedak, krim atau salap untuk Agustina, M. (2019). Pengaplikasian
melindungi kulit agar mengurangi gesekan. Coconut Oil Terhadap Perawatan
Pemakaian bedak harus dilakukan pada Diaper Rash [Universitas
keadaan kulit kering atau tidak basah, Muhammadiyah Magelang]. [Link]
hindarkan ruam dari bedak seperti halnya [Link]/755/1/16.0601.0
debu, bedak juga berbahaya bagi paru-paru 002_BAB I_BAB II_BAB III_BAB
bayi (Aditya, 2017). Bedak juga dapat V_DAFTAR [Link]
mengakibatkan ruam popok yang lebih Armita, D. (2014). Uji Daya Hambat VCO
parah karena bedak yang terletak dilipatan yang disuplementasi Metabolit BAL
paha akan bercampur keringat yang dapat terhadap Bakteri Patogen [Universitas
mengakibatkan tumbuhnya bakteri Islam Negeri Alaudin Makassar].
(Priyono, 2010). [Link] /
eprint/7584 [Link]
Cahyati, D., Indriansari, A., and Meliyana, E., and Hikmalia, N. (2018).
Kusumaningrum, A. (2015). Pengaruh Pengaruh Pemberian Coconut Oil
virgin coconut oil terhadap ruam Terhadap Kejadian Ruam Popok Pada
popok pada bayi. Jurnal Keperawatan Bayi. Jurnal Ilmiah STIKES Citra
Sriwijaya, 2(5), 57–63. https:// Delima Bangka Belitung, 2(1).
[Link]/[Link]/jk_sriwi [Link]
jaya/article/view/2332 2i1.12
Dahlan, S. (2014). Statistik untuk Nurdiansyah, N. (2011). Buku Pintar Ibu &
Kedokteran dan Kesehatan : Bayi : paduan lengkap merawat buah
Deskriptif, bivariat, dan Multivariat hati dan mejadi orangtua cerdas.
(6th ed.). Epidemologi Indonesia. Bukune.
Dewi, A., Kristiyawati, S. P., and Purnomo, Priyono, Y. (2010). Merawat Bayi Tanpa
S. E. C. (2016). Pengaruh minyak Baby Sitter. Media Pressindo.
kelapa terhadap penurunan rasa gatal Rusmawati, E. (2019). Pengaruh
pada pasien diabetes mellitus di rsud Pendidikan Kesehatan Menggunakan
kota slatiga. Jurnal Karya Ilmiah Metode Kooperatif Tipe Learning
Telogorejo, 5, 1–12. [Link] Together Tentang Pencegahan Ruam
[Link]/[Link]/ilmuk Popok Terhadap Pengetahuan Ibu
eperawatan/article/view/516 Hamil Di Kelurahan Ngadirejo
Dinkes Sultra. (2018). Profil Kesehatan Kecamatan Kartasura Kabupaten
Provinsi Sulawesi Tenggara Tahun Sukoharjo [Universitas
2017. Dinas Kesehatan Provinsi Muhammadiyah Surakarta]. http://
Sulawesi Tenggara. [Link] [Link]/76630/11/NASKAH
[Link]/resources/download/pro [Link]
fil/PROFIL_KES_PROVINSI_2017/2 Setianingsih, Y. A., and Hasanah, I. (2017).
8_Sultra_2017.pdf Pengaruh Minyak Zaitun (Olive Oil)
Ghony, M. D., and Almanshur, F. (2016). Terhadap Penyembuhan Ruam Popok
Metodologi penelitian pendidikan Pada Bayi Usia 0-12 Bulan di Desa
Pendekatan Kuantitatif. UIN-Malang Sukobanah Kabupaten Sampang
Press. Madura. INFOKES, 7(2), 22–27.
Jennifa, Ba’diah, A., and Purwaningsih, E. [Link]
(2014). Efektifitas penggunaan virgin okes/article/view/11
coconut oil (VCO) terhadap Situmorang, F. (2017). Asuhan Kebidanan
encegahan diaper rash pada bayi usia Pada Ny. A Masa Hamil Sampai
1 – 12 bulan di wilayah kerja Dengan Pelayanan Keluarga
Puskesmas Depok II sleman. Journal Berencana Di Rumah Bersalin Hj.
of Health (JoH), 1(2), 85–90. Nurhalma Hasibuan Medan Tembung
[Link] Tahun 2017 [Politekkes Kemenkes RI
p85-90 Medan]. [Link]
Kementerian Kesehatan RI. (2018). Hasil [Link]/jspui/handle/123456789/
Utama Riskesdas 2018. https:// 464?mode=full
[Link]/assets/upload/dir Suryani, R. (2017). Asuhan Kebidanan
_519d41d8cd98f00/files/Hasil-riskes Komprehensif Pada Ny.“D” G5p2022
das-2018_1274.pdf Hamil 39 Minggu 4 Hari Dengan
Kementerian Kesehatan RI. (2017). DATA Masalah Anemia Ringan
DASAR PUSKESMAS Kondosi Danpenurunan Berat Badan Kota
Desember 2016 Provinsi Sulawesi Balikpapan Tahun 2017 [Politeknik
Tenggara. Kementerian Kesehatan Kesehatan Kemenkes Kalimantan
Republik Indonesia. [Link] Timur]. [Link]
[Link]/resources/download/pus [Link]/id/eprint/914
datin/data-dasar-puskesmas/2016/28. Syah, A. N. A. (2005). Virgin Coconut Oil:
Data Dasar Puskesmas Sultra Minyak Penakluk Aneka Penyakit.
AgroMedia Pustaka. [Link]/medico
Ullya, Widyawati, & Armalina, D. (2018). WHO. (2018). Global action plan on
Hubungan Antara Pengetahuan Dan physical activity 2018-2030 : More
Perilaku Ibu Dalam Pemakaian Active People for A Healthhier World.
Disposable Diapers Pada Batita [Link]
Dengan Kejadian Ruam Popok. Jurnal dle/10665/272722/9789241514187-
Kedokteran Diponegoro, 7(2), 485– [Link]
498. [Link]
PENGARUH VIRGIN COCONUT OIL TERHADAP RUAM POPOK PADA BAYI
1
Dwi Cahyati, 2*Antarini Idriansari, 3Arie Kusumaningrum
1
Rumah Sakit Siloam Palembang
2,3
Program Studi Ilmu Keperawatan Fakultas Kedokteran Universitas Sriwijaya
*
E-mail: antarini@[Link]
Abstrak
Tujuan: Virgin coconut oil (VCO) adalah salah satu terapi topikal yang dapat diberikan untuk mengatasi ruam
popok. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh virgin coconut oil terhadap ruam popok pada bayi
di Kecamatan Ilir Barat II Palembang.
Metode: Penelitian ini menggunakan metode pre eksperimental design dengan rancangan one group pretest
posttest. Sampel didapatkan dengan menggunakan metode non probability sampling - purposive sampling. Uji
hipotesis menggunakan uji nonparametrik yaitu wilcoxon test dengan jumlah responden 11 bayi. Karakteristik
responden meliputi usia bayi rata-rata 14,73 bulan, sebagian besar merupakan bayi laki-laki (72,7%), dan
sebagian besar lokasi ruam popok terdapat di daerah gluteal, alat genitalia, dan lipatan paha (27,3%). VCO
dioleskan dua kali sehari setelah mandi pada pagi dan sore hari selama 5 hari.
Hasil: Hasil penelitian ini menunjukkan perbedaan skor ruam popok yang bermakna antara sebelum diberikan
VCO yaitu 8,64 dan setelah diberikan VCO 2,36 dengan p value =0,003 dan α = 0,05.
Simpulan: Penelitian ini dapat diaplikasikan dalam asuhan keperawatan pada bayi yang mengalami ruam
popok dan sekaligus sebagai upaya pencegahan ruam popok.
Kata kunci: Virgin coconut oil, ruam popok, lokasi ruam popok, bayi
Abstract
Aim: Diaper rash is the one of common skin problems that often be found in infants period. Diaper rash can
make the baby's skin becomes red so that making the baby to be cranky and uncomfortable. Virgin coconut oil
is the one of the topical therapies that can be given to treat the diaper rash. This research aims to determine the
effect of virgin coconut oil for diaper rash on babies in the Kecamatan Ilir Barat II Palembang.
Method: This research used the method of pre- experimental design with one-group pretest- posttest design.
The samples of this research were obtained with using the method of non-probability sampling purposive
sampling. Hypothesis testing in this research uses the nonparametric Wilcoxon test with the number of
respondents 11 babies. The characteristics of the research include the average age of infants 14.73 ± 12.24
( mean ± SD ) years, largely a male baby with the percentage of 72.7 % and the most of the locations are in
areas the diaper rash gluteal, genitalia, and groin with a percentage of 27.3 %. Virgin coconut oil applied in
twice a day after a shower in the morning and evening for 5 days.
Result: The results of this research are the differences in scores between the significant diaper rash before
given virgin coconut oil is 8.64 ± 3.95 and after a given virgin coconut oil to 2.36 ± 3.10 with a P value = 0.003
and α = 0.05.
Conclusion: This research should be applied in nursing care in the community and are expected to further
research by comparing virgin coconut oil with other substances, such as antibiotics (topical corticosteroids)
and natural ingredients (olive oil, essential oils, etc). It is also hoped further research can be done in more
samples and the rub time of virgin coconut oil is not only provided with the frequency twice a day but
continuously .
Key words: Virgin coconut oil, diaper rash, diaper rash location, baby
Salah satu bahan olahan alami yang dapat
dipertimbangkan sebagi terapi topikal alternatif
PENDAHULUAN yang dapat digunakan untuk perawatan kulit
pada bayi yang mengalami
ruam popok yaitu virgin coconut oil. 1
Seorang individu dalam rentang kehidupannya
akan melalui berbagai macam fase atau periode
seiring dengan perkembangan usia. Salah satu Virgin coconut oil adalah minyak yang terbuat
periode yang memegang peranan penting dalam dari daging kelapa segar, diproses dengan
perkembangan seorang individu adalah periode pemanasan terkendali atau tanpa pemanasan
bayi. Periode ini merupakan salah satu periode sama sekali, dan tanpa bahan kimia.
terpenting dan kritis dalam kehidupan. Hal ini Penyulingan minyak kelapa yang demikian
dikarenakan pada periode ini, seorang bayi mulai menjadikan kandungan senyawa-senyawa
belajar dan memahami berbagai macam hal dan esensial yang dibutuhkan tubuh tetap utuh dan
pengalaman baru tentang dirinya untuk minyak yang dihasilkan menjadi terasa lembut
menyesuaikan diri dengan lingkungan agar dan berbau khas kelapa yang harum.5
tercapai kesehatan yang optimal.1
Jika dipakai secara topikal, virgin coconut oil
Salah satu perawatan yang penting dilakukan akan bereaksi dengan bakteri-bakteri kulit
pada bayi adalah perawatan kulit. menjadi bentuk asam lemak bebas seperti yang
Karakteristik kulit pada bayi berbeda dengan terkandung dalam sebum. Sebum sendiri terdiri
kulit orang dewasa. Berdasarkan anatomi dan dari asam lemak rantai sedang seperti yang ada
fisiologi dari kulit, kulit pada bayi relatif tipis, pada VCO sehingga melindungi kulit dari
halus, pH kulit lebih asam, dan lapisan bagian bahaya mikroorganisme patogen.
dalamnya mempunyai kelembaban yang lebih Asam lemak bebas juga membantu menciptakan
tinggi sehingga dapat menyebabkan kulit bayi lingkungan yang asam di atas
rentan mengalami iritasi. Iritasi tersebut dapat kulit sehingga mampu menghalau bakteribakteri
diakibatkan oleh paparan yang lama dari penyebab penyakit. 6,7
pemakaian popok yang penuh dengan urin dan
feses. Kondisi ini dapat menyebabkan gangguan Virgin coconut oil diberikan dengan frekuensi
kulit yang dikenal dengan ruam kulit atau ruam dua kali sehari setelah mandi pada pagi dan sore
popok. 2 hari selama 5 hari berturut-turut dalam waktu 20
menit. Hal ini dikarenakan memberikan VCO
Ruam popok dikenal juga dengan sebutan diaper setelah mandi akan membuat kulit menjadi segar
rash karena gangguan kulit ini timbul di daerah karena VCO cepat membangun hambatan
yang tertutup popok, yaitu pada area alat mikrobial sehingga dapat meningkatkan
kelamin, bokong, dan pangkal paha bagian atau mempertahankan toleransi [Link]
dalam. Ruam popok memiliki tandatanda seperti itu, pengolesan virgin coconut oil pada kulit
kulit di sekitar daerah tersebut meradang, membutuhkan waktu sekitar 20 menit untuk
berwarna kemerahan, dan kadang lecet yang dapat diserap oleh pori-pori dan disalurkan oleh
membuat bayi menjadi rewel dan tidak nyaman. pembuluh darah ke seluruh tubuh. 8,9,10
Ruam popok kerap dijumpai pada bayi atau anak
di bawah usia 2 tahun dengan angka kejadian Berdasarkan hasil observasi yang dilakukan pada
yang lebih tinggi antara usia 9-12 bulan yaitu setiap bayi diketahui bahwa hampir semua bayi
sebanyak 7- mengalami kemerahan di daerah gluteal, alat
35%.3,4 genital, perianal, dan lipatan paha. Selain itu,
pada bayi yang diteliti faktor yang sebagian besar Peneliti menyeleksi responden berdasarkan
menyebabkan terjadinya ruam popok pada bayi- kriteria inklusi berupa bayi yang mengalami
bayi tersebut adalah pemakaian popok sekali ruam popok, bersedia menjadi reponden
pakai dan frekuensi BAK serta BAB yang terlalu yang diwakilkan oleh orang tua, dan tidak
sering. Hasil wawancara diketahui pula bahwa memakai popok sekali pakai selama
beberapa orang tua bayi menggunakan bedak penelitian; peneliti mengisi lembar
untuk mengatasi ruam popok pada bayinya karakteristik responden; selanjutnya peneliti
terutama pada ibu primipara. Ibu-ibu yang masih melakukan observasi awal untuk melihat
memakai bedak belum mengetahui bahwa bedak ruam popok dan difoto keadaan ruam popok
dapat mengakibatkan ruam popok yang lebih sebelum diberikan intervensi; peneliti
parah karena bedak yang terletak di lipatan paha mengukur luas lesi dengan menggunakan
akan bercampur keringat yang dapat meteran kertas untuk menghitung skor
mengakibatkan tumbuhnya bakteri. derajat lesi dengan menjumlahkan luas lesi
dan jenis lesi; peneliti melakukan intervensi
dengan mengoleskan virgin coconut oil
intervensi diberikan dengan frekuensi dua
kali sehari setelah mandi selama 5 hari
METODE PENELITIAN berturut-turut pada pagi dan sore hari;
peneliti melakukan observasi kembali pada
hari ke-5;dan setelah prosedur selesai
Jenis penelitian yang digunakan pra experimental peneliti mengecek kelengkapan data isian
dengan rancangan One Group Pretest-Postest. dan mengucapkan terima kasih kepada
Teknik pengambilan sampel dalam penelitian ini responden yang telah ikut berpartisipasi
menggunakan metode non probability sampling dalam penelitian.
dengan teknik purposive sampling dan
didapatkan jumlah sampel sebanyak 11
[Link] yang digunakan berupa lembar
karakteristik responden, hasil foto ruam popok, HASIL
dan lembar observasi skor derajat ruam popok.
Penelitian ini dilakukan di Kecamatan Ilir
Barat II Palembang. Pengambilan data Analisis univariat terdiri dari: karakteristik
dilakukan selama 5 hariyang dimulai pada 28 Juli responden (usia bayi, jenis kelamin, dan lokasi
2013 sampai 01 Agustus 2013. ruam popok), skor ruam popok sebelum
diberikan virgin coconut oil, dan skor ruam
popok setelah diberikan virgin coconut oil.
Tabel 1
Rerata Usia Bayi
95% CI
Variabel Mean Med SD Min-Maks
LB UB
Tabel 2
Tabel 3
Distribusi Frekuensi Lokasi Ruam Popok
Lokasi Frekuensi %
Gluteal 3 27.3
Perianal 2 18.2
Alat Genitalia 3 27.3
Selangkangan 3 27.3
Jumlah 11 100.0
Tabel 4
Skor Ruam Popok Sebelum diberikan VCO
95% CI
Mean Median SD Min-Maks
LB LB
8.64 9.0 3.95 2-14 5.98 11.29
Tabel 5
Skor Ruam Popok Setelah diberikan VCO
95% CI
Mean Median SD Min-Maks
LB LB
2.36 0.00 3.10 0-8 0.28 4.45
Tabel 6
Perbedaan Rata-Rata Skor Ruam Popok Sebelum dan Setelah diberikan VCO
Hasil analisis dari uji statistik Wilcoxon menunjukkan bahwa ada perbedaan yang signifikan yaitu
rata-rata skor ruam popok setelah diberikan virgin coconut oil lebih rendah dibandingkan skor ruam
popok sebelum diberikanvirgin coconut oil, dengan nilai p value= 0,003. Hal ini menunjukkan bahwa
intervensi virgin coconut oil mampu mengatasi ruam popok pada bayi. Virgin coconut oil akan
memberikan nutrisi melalui proses penyerapan oleh kulit untuk mengurangi efek gesekan dan
kelembaban, mengembalikan elastisitas kulit, dan
melindungi kulit dari kerusakan sel.5
Virgin coconut oil (VCO) telah diteliti bermanfaat bagi kesehatan kulit. Kandungan asam lemak
rantai sedang (MCT) yang terkandung dalam VCO bersifat antimikrobial karena dapat menghambat
pertumbuhan berbagai jasad renik berupa bakteri, ragi, jamur dan virus. Sifat-sifat anti mikroba dari
VCO berasal dari komposisi MCT yang dikandungnya karena ketika diubah menjadi asam lemak
bebas seperti yang terkandung dalam sebum, MCT akan menunjukkan sifatsifat sebagai anti mikroba.
Hal inilah yang menyebabkan VCO efektif dan aman digunakan pada kulit dengan cara meningkatkan
hidrasi kulit dan mempercepat penyembuhan pada kulit. 7,13.
SIMPULAN
Rata-rata skor ruam popok sebelum diberikan virgin coconut oil menunjukkan skor 8,64 (SD=3,95)
dengan skor terendah adalah 2 dan tertinggi adalah 14. Rata-rata skor ruam popok setelah diberikan
virgin coconut oil menunjukkan skor 2,36 (SD=3,10) dengan skor terendah adalah 0 dan tertinggi
adalah 8. Terdapat perbedaan yang bermakna antara skor ruam popok sebelum dan setelah diberikan
virgin coconut oil dengan nilai p value = 0,003 (α = 0,05).
Penelitian ini merekomendasikan untuk melakukan penelitian lanjutan dengan membandingkan virgin
coconut oil dengan bahan lain seperti antibiotika (kortikosteroid topikal) dan bahan alami (minyak
zaitun, minyak atsiri, ataupun minyak nabati lainnya), perlu dilakukan pada sampel yang lebih
banyak, menggunakan kelompok pembanding (kontrol), dan waktu pengolesan virgin coconut oil
yang tidak hanya diberikan dengan frekuensi dua kali sehari tetapi secara kontinyu. Selain itu, untuk
penelitian selanjutnya agar memasukkan faktor counfonding (pengganggu) dalam variabel
penelitiannya serta menganalisis setiap hubungan antar variabel tersebut.
REFERENSI
1. Potter, P. A., & Perry, A. G. (1997). Fundamentals of nursing: concepts, process, and
practice. Diterjemahkan oleh Asih, Y., Sumarwati, M., Evriyani, D., Mahmudah,L., Panggabean,
E.,
Kusrini., Kurnianingsih, S., Novieastari,
E. Edt. Yulianti, D.,Ester, M. (2005). Buku ajar fundamental keperawatan konsep, proses, dan
praktik, edisi 4, volume 1. Jakarta: EGC.
2. Manulang, [Link] dan tindakan ibu dalam perawatan perianal terhadap
pencegaham ruam popok pada neonatus di klinik bersalin Sally Medan. (Skripsi). Medan:
Universitas Sumatera Utara, 2010.
3. [Link] pintar merawat bayi 0-12 bulan. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 2009.
4. Putra, S.R. (2012). Asuhan neonatus bayi dan balita untuk keperawatan dan kebidanan.
Jogjakarta: D-Medika.
5. Darmoyuwono, N. (2003). Gaya hidup sehat dengan virgin coconut oil. Jakarta: Gramedia.
6. Alamsyah, A.N. (2006). Virgin coconut oil minyak penakluk aneka penyakit. Jakarta:
Agromedia Pustaka.
7. Price, M. (2004). Terapi Minyak Kelapa .
Jakarta : Prestasi Pustaka Publisher.
8. Evaria. (2006). MIMS. Jakarta: CMP Medica.
9. Informatorium Obat Nasional Indonesia. [Link].i d diakses
tanggal 08 Juni 2013.
10. Jumarani, L. (2009). The Essence of Indonesian Spa. Jakarta: Gramedia Pustaka
Utama.
11. Mansjoer, A., Suprohaita, Wardhani, W.I., & Setiowulan, W. (2000). Kapita selekta
kedokteran. Jakarta: Media Aesculapius.
12. Sugito. Pengobatan kombinasi mikonazol nitrat dan seng pada dermatitis popok. (Skripsi).
Depok: Universitas Indonesia, 2002.
13. Handayani, R.S. Efektivitas penggunaan virgin coconut oil (VCO) dengan massage untuk
pencegahan luka tekan grade 1 pada pasien yang berisiko mengalami luka tekan di RSUD Dr.
Hi. Abdoel Moeloek Provinsi Lampung. (Skripsi). Depok: Universitas Indonesia, 2010.
LAPORAN PROFESI READING JURNAL
EFEKTIFITAS MANDI KERING DALAM MEMPERCEPAT PELEPASAN
TALI PUSAT BAYI
TAHUN AKADEMIK 2022/2023
Disusun Oleh :
NAMA : RAJAWATI
NIM : 202210152
NAMA : RAJAWATI
NIM : 202210152
HALAMAN PENGESAHAN LAPORAN READING JURNAL
EFEKTIFITAS MANDI KERING DALAM MEMPERCEPAT PELEPASAN
TALI PUSAT BAYI
Rajawati
Asmah Sukarta, [Link]., [Link]
NIM: 202210152
NIDN: 09071081
BAB I
PENDAHULUAN
A. Masalah
Perawatan pada bayi baru lahir yang sering diajarkan oleh petugas kesehatan
pada ibu sebelum pulang dari rumah sakit atau rumah bersalin salah satunya adalah
cara perawatan tali pusat. Pada minggu-minggu pertama yang harus dilakukan adalah
membersihkan tali pusat dari pangkal sampai [Link] bayi baru lahir
memerlukan kehati-hatian, perhatian dan kecermatan tersendiri. Hal ini tidak lain
dimaksudkan untuk mengurangi kesakitan atau keadaan yang lebih buruk akibat
intervensi perawatan (Rakhmawati, 2007).
Kesalahan intervensi perawatan memungkinkan bayi akan merespon yang tidak
diinginkan, misalnya pada saat melakukan perawatan tali pusat tidak dilakukan secara
rutin dan tidak menjaga kebersihan daerah sekitar tali pusat akan mengakibatkan tali
pusat menjadi basah dan lama kering. Respon lain yang mungkin dapat ditimbulkan
adalah terjadinya infeksi tali pusat yang mengakibatkan tali pusat lebih lama lepas (
Rakhmawati, 2007).
Tujuan perawatan tali pusat adalah untuk mencegah terjadinya penyakit infeksi
seperti tetanus neonatorum pada bayi baru [Link] Neonatorum adalah penyakit
tetanus pada bayi baru lahir dengan tanda klinik yang khas, setelah 2 hari pertama
bayi hidup, menangis dan menyusu secara normal, pada hari ketiga atau lebih timbul
kekakuan seluruh tubuh yang ditandai dengan kesulitan membuka mulut dan menetek,
disusul dengan kejang–kejang (WHO, 1989 dalam Zakariah, 2014). Penyakit ini
disebabkan karena masuknya spora kuman tetanus ke dalam tubuh melalui tali pusat,
baik dari alat steril, pemakaian obat-obatan, bubuk atau daundaunan yang ditaburkan
ke tali pusat sehingga dapat mengakibatkan infeksi ( Depkes RI dalam Supriyanik,
2011).
B. Skala
Angka Kematian Bayi (AKB) di Indonesia masih tergolong tinggi, jika
dibandingkan dengan negara lain di kawasan ASEAN. Berdasarkan Survei Demografi
dan kesehatan Indonesia (2013), AKB di Indonesia mencapai 32 per 1.000 kelahiran
hidup. Kematian bayi baru lahir sebesar 79% terjadi pada minggu pertama kelahiran
terutama pada saat persalinan. Penyebab utama kematian bayi baru lahir adalah
prematuritas dan BBLR (29%), asfiksia (gangguan pernapasan) bayi baru lahir (27%),
tetanus neonatorum (10%) dan masalah pemberian ASI (10%).
Infeksi sebagai penyebab kematian neonatal masih banyak [Link] ini
termasuk tetanus neonatorum. Sekitar 12 negara dengan kasus neonatal tetanus yang
tinggi termasuk di Indonesia. Hasil survei menunjukkan jumlah kematian karena
tetanus neonatorum tertinggi di antara penyakit infeksi (9,5%)(Ellen, 2003 dalam
Dwisuda 2009) .
C. Kronologi
Tali pusat merupakan pintu gerbang masuknya infeksi, karena itu termasuk jaringan
nekrotik. Infeksi tali pusat berkembang setelah kolonisasi bakteri yang menjadi salah
satu penyebab kematian bayi baru lahir dan morbiditas di negara terbelakang dan
berkembang (Imdad et al., 2013).
D. Solusi
Perawatan tali pusat secara umum bertujuan mencegah terjadi infeksi dan
mempercepat putusnya tali pusat. WHO sejak tahun 1998 merekomendasikan
perawatan tali pusat dijaga agar tetap bersih dan kering pada bayi baru lahir (Kasiati,
Santoso, Yunitasari, & Nursalam, 2013).
Upaya untuk mencegah terjadinya infeksi tali pusat sesungguhnya merupakan
tindakan sederhana yang terpenting adalah tali pusat selalu dalam keadaan bersih dan
kering, serta selalu mencuci tangan menggunakan sabun sebelum dan sesudah
memandikan bayi. Memandikan bayi dengan tidak membasahi tali pusat diperlukan
untuk mencegah tali pusat menjadi media perkembangbiakan mikroorganisme
patogen. Selama tali pusat belum lepas, sebaiknya bayi tidak dimandikan dengan cara
berendam. Cukup dilap saja dengan kain yang direndam air hangat (Sinsin, 2008).
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
Efektifitas Mandi Kering Efektifitas Teknik Tehnik mandi kering Efektifitas Mandi Kering Terdapat Juni
Jurnal Judul Populasi Intervensi Comparasion Outcome Waktu
(Washlap) Dalam Mandi Kering pengambilan (Washlap) pada bayi. (Washlap) Dalam perbedaan 2018
Mempercepat Waktu (Washlap) sampel pada Mempercepat Waktu bermakna waktu
Pelepasan Tali Pusat (Rina Dalam penelitian ini total Pelepasan Tali Pusat (Rina pelepasan tali
Kartikasari ) Mempercepat sampling yaitu Kartikasari ) pusat berdasar
Waktu seluruh bayi yang Berdasar hasil penelitian Teknik
Pelepasan Tali lahir pada bulan waktu lepas tali pusat pada memandikan
Pusat Juni tahun 2018 bayi yang dimandikan bayi baru lahir.
sejumlah 40 bayi. dengan teknik washlap lebih
cepat 1,5 hari dibandingkan
dengan bayi yang
dimandikan dengan cara
berendam.
Pengaruh Penerapan Sop Pengaruh Sampel yang Teknik sampling yang Jurnal “Pengaruh Penerapan Terdapatnya 10-14
Memandikan Dan Perawatan Penerapan Sop digunakan dalam digunakan dalam Sop Memandikan Dan perbedaan yang Juni
Tali Pusat Terhadap Kejadian Memandikan penelitian ini adalah pengambilan sampel pada Perawatan Tali Pusat signifikan 2014
Ompalitis Pada Bayi Di Rsud Dan Perawatan 16 orang untuk penelitian ini adalah non Terhadap Kejadian Ompalitis kejadian
Muhammad Zein Painan Tali Pusat kelompok intervensi probability sampling Pada Bayi Di Rsud ompalitis pada
(Indaryani1, Supiyah 2, Surya Terhadap dan 16 orang untuk dengan accidental Muhammad Zein Painan bayi yang
Dharma 3) Kejadian kelompok kontrol, sampling. Teknik (Indaryani1, Supiyah 2, Surya dimandikan dan
Ompalitis Pada total sampel yang accidental sampling Dharma 3) dirawat tali
Bayi Di Rsud diambil adalah 32 adalah Teknik Hasil penelitian ini secara pusatnya
Muhammad Zein orang. pengumpulan data dari statistik ada perbedaan yang sebelum dan
Painan subyek yang ditemuinya signifikan yang artiny setelah
selama dilakukan efektia sebagai upaya penerapan SOP
penelitian. menurunkan kejadian dan terdapatnya
infeksi nosomomial, tetapi penurunan
hasil penelitian ini masih kejadian
ompalitis pada
jauh diatas standar
bayi yang
Kemenkes RI (2008) yang
dimandikan dan
menetapkan bahwa kejadian dirawat tali
infeksi nosokomial ≤ 1,5%. pusatnya setelah
Hal ini dikarenakan, faktor penerapan SOP
Jurnal Judul Populasi Intervensi Comparasion Outcome Waktu
yang dapat mempengaruhi
kejadian ompalitis bukan
hanya pelaksanaan
memandikan dan perawatan
tali pusat bayi tetapai masih
banyak faktor yang lain
yang dapat mempengaruhi
terjadinya ompalitis
G. Deskripsi Hasil Asuhan Kebidanan
Hasil pengkajian pada Bayi Ny.D pada usia 1 hari adalah memberikan asuhan
bayi baru lahir, yaitu salah satu perawatan yang penting dilakukan pada bayi adalah
perawatan tali pusat.
Kesalahan intervensi perawatan memungkinkan bayi akan merespon yang tidak
diinginkan, misalnya pada saat melakukan perawatan tali pusat tidak dilakukan secara
rutin dan tidak menjaga kebersihan daerah sekitar tali pusat akan mengakibatkan tali
pusat menjadi basah dan lama kering. Respon lain yang mungkin dapat ditimbulkan
adalah terjadinya infeksi tali pusat yang mengakibatkan tali pusat lebih lama lepas (
Rakhmawati, 2007).
Tali pusat merupakan pintu gerbang masuknya infeksi, karena itu termasuk
jaringan nekrotik. Infeksi tali pusat berkembang setelah kolonisasi bakteri yang menjadi
salah satu penyebab kematian bayi baru lahir dan morbiditas di negara terbelakang dan
berkembang (Imdad et al., 2013).
Upaya untuk mencegah terjadinya infeksi tali pusat sesungguhnya merupakan
tindakan sederhana yang terpenting adalah tali pusat selalu dalam keadaan bersih dan
kering, serta selalu mencuci tangan menggunakan sabun sebelum dan sesudah
memandikan bayi. Memandikan bayi dengan tidak membasahi tali pusat diperlukan
untuk mencegah tali pusat menjadi media perkembangbiakan mikroorganisme patogen.
Selama tali pusat belum lepas, sebaiknya bayi tidak dimandikan dengan cara berendam.
Cukup dilap saja dengan kain yang direndam air hangat (Sinsin, 2008).
Berdasarkan kasus diatas dan dikaitkan dengan teori, didapatkan tidak ada
kesenjangan antara teori dengan praktek dilapangan. Telaah jurnal yang telah dilakukan
didapatkan jurnal pertama dengan judul “Perbedaan Lama Pelepasan Tali Pusat Pada
Bayi Yang Dimandikan Ke Dalam Air Hangat Dengan Bayi Yang Dilap Handuk Basah
Di Rsia Husada Bunda Salo Tahun 2017 (Dewi Sulastri Juwita ¹, dr. Devina Yuristin² )
Berdasarkan hasil penelitian dapat diketahui bahwa terdapat perbedaan rerata (
mean) lama pelepasan tali pusat pada kelompok bayi yang dimandikan menggunakan air
hangat dengan bayi dilap menggunakan kain [Link] mean perawatan bayi dengan
dimandikan ke dalam air hangat sebesar 120,83 dan perawatan bayi dengan dilap handuk
basah sebesar 86,9
Menurut Sodikin (2009 dalam Hasibuan, 2012), rekomendasi terbaru WHO
adalah cukup membersihkan pangkal tali pusat dengan menggunakan air dan sabun, lalu
dikering anginkan sehingga benar-benar kering. Lepasnya ujung tali pusat berkisar 7-10
hari setelah bayi lahir, bisa juga 15-18 hari dan bahkan bisa lebih. Perawatan tali pusat
cukup mudah dan sederhana, tetapi jika tidak dilakukan dengan benar akan menyebabkan
infeksi yang serius pada bayi.
Jika tali pusat basah kemungkinan terjadi infeksi lebih besar karena tali pusat
yang basah merupakan tempat yang baik untuk berkembangbiaknya kuman dan bakteri
termasuk spora kuman tetanus. Intinya adalah dengan membiarkan tali pusat terkena
udara maka tali pusat akan cepat mengering dan lepas. Manfaat perawatan tali pusat yang
baik dan benar yaitu tali pusat akanlepas sekitar 5-7 hari setelah bayi lahir tanpa ada
komplikasi (Saleha, 2009).
Hasil ini juga didukung oleh jurnal kedua Efektifitas Mandi Kering (Washlap)
Dalam Mempercepat Waktu Pelepasan Tali Pusat (Rina Kartikasari ) didapatkan Hasil
penelitian menunjukkan Berdasar hasil penelitian waktu lepas tali pusat pada bayi yang
dimandikan dengan teknik washlap lebih cepat 1,5 hari dibandingkan dengan bayi yang
dimandikan dengan cara berendam.
Hal ini sesuai dengan hasil penelitian Ayyildiz (2015) bahwa waktu pemisahan
tali pusat pada bayi yang dimandikan dengan cara washlap 4-11 hari lebih pendek
dibandingkan dengan bayi yang dimandikan dengan cara berendam 4-16 hari. Karena
pada saat bayi dimandikan menggunakan cara berendam dan tali pusatnya dibasahi akan
menunda pemisahan tali pusat, teknik memandikan bayi dengan cara washlap dianjurkan
untuk bayi baru lahir sampai tali pusat terlepas.
Proses pengeringan dan pelepasan tali pusat dipermudah oleh karena tali pusat
terpapar udara, air dari jeli Wharton akan menghilang dan menyebabkan tali pusat
mengalami mumifikasi, dan terjadi perubahan morfologi sehingga terjadilah pelepasan
tali pusat dari umbilikus (Cunningham, 2014).
Sedangkan dari hasil pembanding ketiga dari jurnal “Pengaruh Penerapan Sop
Memandikan Dan Perawatan Tali Pusat Terhadap Kejadian Ompalitis Pada Bayi Di
Rsud Muhammad Zein Painan (Indaryani1, Supiyah 2, Surya Dharma 3) berdasarkan hasil
analisis data, didapatkan bahwa hipotesis yang diterima adalah kelompok yang diberi
perlakuan berupa penerapan standar memandikan dan perawatan tali pusat sesuai SOP
lebih sedikit yang terjadi ompalitis yaitu 6,25% dibanding dengan kelompok sebelum
penerapan standar memandikan dan perawatan tali pusat sesuai SOP yaitu sebanyak
37,5%. Secara statistik hasil analisis data didapatkan p value = 0,035 yang berarti ada
pengaruh yang signifikan antara kejadian ompalitis pada bayi setelah dimandikan dan
dirawat tali pusatnya sesuai SOP dengan yang sebelum sesuai SOP.
H. Teori dan Pokok Bahasan
Infeksi tali pusat (ompalitis) merupakan salah satu infeksi pada bayi. Ompalitis
adalah infeksi yang terjadi pada sisa potongan tali pusat bayi dengan tanda dan gejala
seperti kemerahan, bengkak, bernanah, berbauh, atau lainnya pada tali pusat (Hidayat,
2008). Walaupun secara tidak langsung ompalitis pasti akan menjadi sepsis, meningitis
dan infeksi tetanus neonatorum, tetapi ompalitis dapat dikaitkan dengan peningkatan
resiko kematian bayi. Menurut Wawan upaya yang dilakukan untuk mencegah kematian
bayi diutamakan pada pemeliharaan kehamilan sebaik mungkin, pertolongan persalinan
oleh tenaga kesehatan dengan standar yang benar dan perawatan tali pusat yang higienis
(Wawan, 2009).
Hal ini sejalan dengan Perwitasari (2007) mengatakan salah satu cara untuk
menurunkan Angka Kematian Bayi (AKB) adalah perawatan tali pusat yang tepat. Oleh
karena itu untuk menguranginya angka kematian bayi, salah satu upaya yang dapat
dilakukan dengan melakukan perawatan tali pusat yang baik dan benar.
Adapun indikator yang mempengaruhi lepasnya tali pusat adalah perawatan
tali pusat dengan menjaga agar tali pusat tetap kering dan bersih (Gultom, 2004 dalam
[Link], 2009). Variabel-variabel yang mempengaruhi pengeringan dan pelepasan
tali pusat antara lain usia lahir bayi apakah cukup bulan atau kurang bulan, cara
memandikan bayi, cara perawatan tali pusat terbuka atau tertutup ( Rakhmawati, 2007).
BAB III
KESIMPULAN
1. Disamping memandikan bayi, perawatan tali pusat sangat penting juga dilakukan
terutama oleh ibu melahirkan karena ibu yang lebih mengetahui perkembangan
bayi setiap harinya.
2. Tali pusat merupakan jalan masuk utama infeksi sistemik pada bayi baru lahir
(Riaz et al., 2019).
3. Sekitar 23% sampai 91% tali pusat yang tidak dirawat dengan menggunakan
antiseptik akan terinfeksi oleh kuman staphylococcus aureus pada 72 jam pertama
setelah kelahiran (Subiastutik, 2017)
BAB IV
DAFTAR PUSTAKA
Arif, Al. 2004. Cara Benar Merawat [Link]://[Link] diunggah tanggal 26
Agustus 2014 Azz,
City Ardhillah. 2012. Segalanya Bayi. Yogyakarata : Surya Media Utama
Cunningham, dkk. (2014). Obstetri Williams (Williams Obstetri) (24th ed.). Jakarta: EGC.
Depkes RI. (2005) Ilmu Kesehatan Anak. Jakarta: FKUI
Depkes RI. (2008). Profil Kesehatan Indonesia. Jakarta
Dewi Sulastri Juwita ¹, dr. Devina Yuristin² . Perbedaan Lama Pelepasan Tali Pusat Pada
Bayi Yang Dimandikan Ke Dalam Air Hangat Dengan Bayi Yang Dilap Handuk Basah
Di Rsia Husada Bunda Salo Tahun 2017
Erenel, AS, Vural, G, Efe, SY, Ozkan, S, Ozgen, S, Erenuglu, R. (2010). Comparison of
Olive Oil and Dry-Clean Keeping Methods in Umbilical Cord Care Microbiological.
Matern Child Health J.
Hockenberry, M.J & Wilson, D. (2009). Essential of Pediatric Nursing. St. Louis
Missoury: Mosby.
Indaryani1, Supiyah 2. Surya Dharma 3Memandikan Dan Perawatan Tali Pusat Terhadap
Kejadian Ompalitis Pada Bayi Di Rsud Muhammad Zein Painan
Juwita DS, Y. D. (2013). Perbedaan Lama Pelepasan Tali Pusat pada bayi yang Dimandikan
ke Dalam Air Hangat dengan Bayi yang Dilap Handuk Basah di RSIA Husada Bunda
Solo Tahun 2017. Journal of Chemical Information and Modeling, 53(9), 1689–1699.
[Link]
Rina Kartikasari . Efektifitas Mandi Kering (Washlap) Dalam Mempercepat Waktu
Pelepasan Tali Pusat
PERBEDAAN LAMA PELEPASAN TALI PUSAT PADA BAYI YANG
DIMANDIKAN KE DALAM AIR HANGAT DENGAN BAYI YANG DILAP
HANDUK BASAH DI RSIA HUSADA BUNDA SALO TAHUN 2017
ABSTRACT
Newborn care that is often taught by health workers to mothers before returning from the hospital or
maternity home is one of the ways of cord care. Paisal (2007, in Supriyanik, 2011) said that before the
umbilical cord is released, the baby should not be bathed by dipping it in water. Simply wipe it with
warm water. The reason is to keep the umbilical cord dry. If the umbilical cord is wet the chances of
infection are greater because the wet umbilical cord is a good place to breed germs and bacteria
including tetanus germ spores. The point is to let the umbilical cord be exposed to air so that the
umbilical cord will dry quickly and loose. The benefits of good and correct umbilical cord care that is
the umbilical cord will be released about 5-7 days after the baby is born without any complications
(Saleha, 2009). Treatment intervention errors allow the baby to respond unwantedly, for example
when performing cord care is not done regularly and not keeping the area around the umbilical cord
clean will cause the umbilical cord to become wet and long dry. Another response that might be
generated is the occurrence of umbilical cord infection which results in the umbilical cord being
released longer. The purpose of cord care is to prevent infectious diseases such as tetanus
neonatorum in newborns. Tetanus Neonatorum is tetanus disease in newborns with typical clinical
signs, after the first 2 days the baby lives, cries and suckles normally, on the third day or more there is
a full body stiffness characterized by difficulty opening the mouth and sucking, followed by seizures–
seizure. The type of research used in this study is quasi experimental research. The design of this
study uses Experimental DesignEquivalent Time Sample Population method and a sample of 60
people. Sampling using Accidental Sampling technique. The results of this study stated that there was
a significant difference in the average length of umbilical cord release between infants with wet towel,
which was 3.4 days with the baby bathed in warm water which was 5.03 days.
HASIL PENELITIAN
PEMBAHASAN Perbedaan
Tabel 4.4 Perbedaan Lama Pelepasan Tali Pusat Lama Pelepasan Tali
Pada Bayi yang Dimandikan Ke Dalam Air Pusat
Hangat Dengan Bayi Yang Dilap Handuk Basah
Di RSIA Husada Bunda Tahun 2018 Bayi Yang Dimandikan Ke Dalam Air
Berdasarkan hasil penelitian dapat
Kategori diketahui bahwa terdapat perbedaan rerata
(jam) ( mean) lamapelepasan tali pusat pada
kelompok bayi yang dimandikan menggunakan
Mandi ke 120,8 21,51 4,14 <0,001
air hangat dengan bayi dilap menggunakan
dalam air 3 6 8 kain [Link] mean perawatan bayi dengan
hangat dimandikan ke dalam air hangat sebesar 120,83
33.93 dan perawatan bayi dengan dilap handuk basah
Dilap 86,9 37,42 6,19
sebesar 86,9 dengan nilai Pvaluesebesar 0,001 (p
handuk 0 7 < 0,05). Dapat disimpulkan bahwa terdapat
basah perbedaan antara lama pelepasan tali pusat
pada bayi yang dimandikan ke dalam air
hangat dengan bayi yang dilap handuk basah.
Mean Beda SD SE Pvalue Dengan beda rerata (mean) sebesar 33,93 jam
Mean atau 1,41 hari jika dikonversikan ke dalam hari.
Tujuan perawatan tali pusat adalah untuk
mencegah terjadinya penyakit infeksi seperti
tetanus neonatorum pada bayi baru
[Link] Neonatorum adalah penyakit
tetanus pada bayi baru lahir dengan tanda klinik
yang khas, setelah 2 hari pertama bayi hidup,
menangis dan menyusu secara normal, pada
hari ketiga atau lebih timbul kekakuan seluruh
tubuh yang ditandai dengan kesulitan membuka
Ket : Hail penelitian dilakukakn dengan uji T mulut dan
independent test menetek, disusul dengan kejang –kejang
(WHO, 1989 dalam Zakariah,
Dari tabel 4.4 dapat dilihat bahwa rata-rata 2014).Penyakit ini disebabkan karena
lama pelepasan tali pusat bayi yang masuknya spora kuman tetanus ke dalam tubuh
dimandikan ke dalam air hangat (kelomok melalui tali pusat, baik dari alat steril,
eksperimen) adalah 120,83 jam atau 5,03 hari, pemakaian obat-obatan, bubuk atau daun-
sedangkan rata-rata lama pelepasan tali pusat daunan yang ditaburkan ke tali pusat sehingga
bayi yang dilap handuk basah (kelompok
kontrol) adalah 86,9 jam atau 3,4 hari. Beda dapat mengakibatkan infeksi ( Depkes RI
rata-rata dua kelompok yaitu 33.93 jam atau dalam Supriyanik, 2011).
1,41 hari. Hasil uji statistik didapatkan nilai Adapun indikator yang mempengaruhi
Pvalue (<0,001), berarti pada alpha 5% terlihat lepasnya tali pusat adalah perawatan tali pusat
ada perbedaan yang signifikan rata-rata lama dengan menjaga agar tali pusat tetap kering dan
pelepasan tali pusat antara bayi yangdilap bersih (Gultom, 2004 dalam [Link],
handuk basah yaitu 3,4 hari dengan bayi yang 2009). Variabel-variabel yang mempengaruhi
dimandikan ke dalam air hangat yaitu 5,03 pengeringan dan pelepasan tali pusat antara lain
hari. Sehingga perawatan bayi yang dilap usia lahir bayi apakah cukup bulan atau kurang
handuk basah lebih efektif dan lebih cepat bulan, cara memandikan bayi, cara perawatan
lepas tali pusatnya daripada perawatan bayi tali pusat terbuka atau tertutup ( Rakhmawati,
yang dimandikan ke dalam air [Link] 2007).
cepat tali pusat lepas, semakin kecil Menurut Choirunisa (2009 dalam
kemungkinan terjadinya infeksitetanus Musariah, 2011) memandikan bayi adalah
suatu cara membersihkan tubuh bayi dengan air tubuh bayi terutama daerah di sekitar tali pusat,
dengan cara menyiram, merendam diri dalam air maka semakin cepat tali pusat [Link] pusat
berdasarkan urutan-urutan yang sesuai. Paisal yang cepat lepas membuat kemungkinan
(2007, dalam Supriyanik, 2011) mengatakan terjadinya infeksi terutama tetanus
bahwa sebelum tali pusat lepas, sebaiknya bayi neonatorumpada bayi semakin kecil karena tali
tidak dimandikan dengan cara dicelupkan ke pusat merupakan pintu masuknya kuman spora
dalam air. Cukup dilap saja dengan air tetanus.
[Link] untuk menjaga tali pusat tetap
kering.
Menurut Sodikin (2009 dalam Hasibuan, 2012),
rekomendasi terbaru WHO adalah cukup
membersihkan pangkal tali pusat dengan DAFT AR PUSTAKA
menggunakan air dan sabun, lalu dikering Arif, Al. 2004. Cara Benar Merawat
anginkan sehingga benar-benar [Link] [Link]://[Link]
ujung tali pusat berkisar 7-10 hari setelah bayi gah tanggal 26 Agustus 2014 Azz, City
lahir, bisa juga 1518 hari dan bahkan bisa lebih. Ardhillah. 2012. Segalanya Bayi. Yogyakarata :
Perawatan tali pusat cukup mudah dan sederhana, Surya Media Utama
tetapi jika tidak dilakukan dengan benar akan
menyebabkan infeksi yang serius pada bayi. Bejo.2010. Tingkat Pengatahuan Ibu Tentang
Jika tali pusat basah kemungkinan terjadi infeksi Perawatan Tali
lebih besar karena tali pusat yang basah
[Link]://[Link]/2010/
merupakan tempat yang baik untuk
05/kti-tingkat-pengetahuan-
berkembangbiaknya kuman dan bakteri termasuk
[Link], diunggah tanggal 10
spora kuman tetanus. Intinya adalah dengan
Januari 2013
membiarkan tali pusat terkena udara maka tali
pusat akan cepat mengering dan lepas. Manfaat [Link]. Cara Memandikan Bayi.
perawatan tali pusat yang baik dan benar yaitu tali [Link]
pusat akanlepas sekitar 5-7 hari setelah bayi lahir bayi diunggah tanggal 18 April 2014
tanpa ada komplikasi (Saleha, 2009). Choirunnisa. 2009. Perawatan Bayi Baru
Selain itu menurut Dewi (2010), membiarkan tali Lahir.
pusat mongering, tidak ditutup dan hanya [Link]
dibersihkan setiap hari 22/jtptunimus-gdl-sitimusari-6051-1-
dengan menggunakan air bersih merupakan cara [Link] tanggal 18 April
paling efektif dengan biaya yang efisien pula (cost 2014
effective) untuk perawatan tali pusat Menurut Dewi.2010. Asuhan Neonatus Bayi dan
asumsi peneliti, perbedaan lama pelepasan tali [Link] : Salemba Medika Dinas
pusat terjadi karena perbedaan jumlah air yang Kesehatan Kota Pekanbaru. 2014.
sampai ke tali pusat bayi baru [Link] Laporan Angka Kematian Bayi Tahun
2012
perawatan bayi yang dimandikan ke dalam air
Dwisuda, [Link] Pengetahuan Ibu
hangat jumlah air yang mengenai tali pusat lebih Post Partum Tentang Perawatan
banyak daripada peratan bayi yang dilap handuk Tali Pusat di RSIA Sarinah Pekanbaru
[Link] ini mempengaruhi kecepatan Pekanbaru Tahun 2009.
pengeringan tali pusat hingga pelepasan tali pusat. Fhatimah. 2012. Hubungan Pengetahuan Ibu
Tentang Cara Perawatan Tali
Penelitian ini menunjukkan bahwa semakin kering
PREPOTIF Jurnal Kesehatan Masyarakat Page31
ISSN 2623-1581
ISSN 2623-1573
Rina Kartikasari
e-mail: hanaufzan@[Link]
ABSTRAK
Tali pusat merupakan pintu gerbang masuknya infeksi. Upaya untuk mencegah terjadinya infeksi tali
pusat sesungguhnya merupakan tindakan sederhana yang terpenting adalah tali pusat selalu dalam
keadaan bersih dan kering, serta selalu mencuci tangan menggunakan sabun sebelum dan sesudah
memandikan bayi. Memandikan bayi dengan tidak membasahi tali pusat diperlukan untuk mencegah tali
pusat menjadi media perkembangbiakan mikroorganisme patogen. Penelitian ini bertujuan untuk
mengetahui efektifitas mandi kering (washlap) dalam mempercepat waktu pelepasan tali pusat. Penelitian
ini bersifat kuantitatif dengan menggunakan desain penelitian quasy experiment with non equivalen
control group design. Penelitian dilakukan pada bulan Juni tahun 2018 di Puskesmas Ciruas Kabupaten
Serang Provinsi Banten. Teknik pengambilan sampel pada penelitian ini total sampling yaitu seluruh bayi
yang lahir pada bulan Juni tahun 2018 sejumlah 40 bayi. Perbedaan kedua variabel dianalisis dengan
menggunakan uji statistik t- test independent. Sebagian besar (65%) teknik memandikan bayi baru lahir
yang digunakan orangtua bayi adalah teknik berendam. Rerata waktu pelepasan tali pusat pada bayi yang
dimandikan dengan cara kering (washlap) yaitu 5,6 hari lebih cepat 1,5 hari dibanding bayi yang
dimandikan dengan cara berendam (p=0,000). Teknik mandi kering (washlap) merupakan teknik
memandikan bayi yang direkomendasikan untuk bayi baru lahir sampai dengan pelepasan tali pusat.
Pemberi pelayanan kesehatan khususnya bidan perlu merekomendasikan teknik mandi kering (washlap)
kepada orangtua bayi untuk mempercepat proses pelepasan tali pusat dan mencegah infeksi tali pusat.
Kata Kunci : memandikan bayi, tali pusat, teknik mandi kering (washlap)
Tabel 1
Distribusi Frekuensi Teknik Memandikan Bayi Baru Lahir
2. Teknik Berendam 26 65
Jumlah 40 100
Tabel 2
Rerata Waktu Pelepasan Tali Pusat pada Bayi Baru Lahir
n % Mean SD n % Mean SD
4 Hari 5 36 0 0
5 Hari 2 14 2 8
6 Hari 3 21 4 15
7 Hari 2 14 5.6 1.51 11 42 7.1 1.03
8 Hari 2 14 7 27
9 Hari 0 0 2 8
Tabel 3
Perbedaan Waktu Pelepasan Tali Pusat Berdasarkan Teknik Memandikan Bayi
Uraian Kelompok Washlap Kelompok Berendam Pvalue
Mean SD Mean SD
Nilai 5,6 1,51 7 ,1 1 ,03
0,003
Selisih Mean (δ) 1 ,5 Hari
teknik memandikan bayi dengan cara washlap tubuh bayi, kontak kulit ke kulit antara ibu dan
sampai jaringan granulasi bayi menutupi bagian bayi, teknik cuci tangan yang kurang tepat,
tali pusat yang lepas. perawatan tali pusat yang buruk, serta infeksi
Proses pengeringan dan pelepasan tali nosokomial (Kasiati et al., 2013).
pusat dipermudah oleh karena tali pusat terpapar Waktu lepasnya tali pusat yang cepat
udara, air dari jeli Wharton akan menghilang dan dapat mengurangi risiko infeksi pada tali pusat,
menyebabkan tali pusat mengalami mumifikasi, hal ini disebabkan oleh tali pusat yang
dan terjadi perubahan morfologi sehingga merupakan area rentan untuk terjadinya
terjadilah pelepasan tali pusat dari umbilikus kolonisasi kuman tidak dibiarkan lama melekat
(Cunningham, 2014). pada bayi.
Sebelum tali pusat terlepas, sisa
puntungnya dapat dianggap sebagai proses
penyembuhan luka dan dengan demikian menjadi
rute yang memungkinkan terjadi infeksi melalui KESIMPULAN
pembuluh darah ke dalam aliran darah bayi.
Teknik memandikan bayi baru lahir
Perawatan tali pusat yang buruk menyebabkan
sebagian besar dengan cara berendam sebanyak
tali pusat menjadi lama terlepas. Keterlambatan
65%. Rerata waktu pelepasan tali pusat pada bayi
lepasnya tali pusat dapat meningkatkan risiko
yang dimandikan dengan cara washlap yaitu 5,6
infeksi. Waktu lepasnya tali pusat yang cepat
hari, lebih cepat 1,5 hari dibanding bayi yang
dapat mengurangi risiko infeksi pada tali pusat,
dimandikan dengan cara berendam. Terdapat
hal ini disebabkan oleh tali pusat yang
perbedaan bermakna waktu pelepasan tali pusat
merupakan area rentan untuk terjadinya
berdasar teknik memandikan bayi baru lahir.
kolonisasi kuman tidak dibiarkan lama melekat
pada bayi.
Upaya pencegahan terjadinya infeksi tali
pusat sesungguhnya merupakan tindakan
sederhana yang terpenting adalah tali pusat selalu KEPUSTAKAAN
dalam keadaan bersih dan kering, serta selalu Ayyildiz, T., Kulakci, H., Ayoglu, F. N., Kalinci,
mencuci tangan menggunakan sabun sebelum N., & Veren, F. (2015). The effects of two
dan sesudah memandikan bayi. Memandikan bathing methods on the time of separation
bayi dengan tidak membasahi tali pusat of umbilical cord in term babies in Turkey.
diperlukan untuk mencegah tali pusat menjadi Iranian Red Crescent Medical Journal,
media perkembangbiakan mikroorganisme 17(1), 1–5.
patogen. Selama tali pusat belum lepas, [Link]
sebaiknya bayi tidak dimandikan dengan cara Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana
berendam. Cukup dilap saja dengan kain yang Nasional. (2013). Survei Demografi dan
direndam air hangat (Sinsin, 2008). Kesehatan Indonesia 2012. Survei
Tali pusat yang dibasahi pada saat mandi Demografi Dan Kesehatan Indonesia, 266.
berendam akan menyebabkan tali pusat menjadi [Link]
basah dan puntung tali pusat beserta kulit [pii]\r10.1073/pnas.0910383107
disekitar tali pusat menjadi lembab sehingga Cunningham, dkk. (2014). Obstetri Williams
proses pengeringan menjadi lebih lama. Hal (Williams Obstetri) (24th ed.). Jakarta:
tersebut akan menyebabkan waktu pelepasan tali EGC.
pusat menjadi lebih lama dan tentunya akan lebih Hockenberry, M.J & Wilson, D. (2009).
beresiko terjadinya infeksi tali pusat. Essential of Pediatric Nursing. St. Louis
Omfalitis atau infeksi tali pusat dapat Missoury: Mosby.
disebabkan oleh bakteri yang memasuki tubuh Imdad, A., Mullany, L. C., Baqui, A. H., El
melalui media tali pusat pada bayi. pemotongan Arifeen, S., Tielsch, J. M., Khatry, S. K., …
tali pusat dengan instrumen yang tidak steril Bhutta, Z. A. (2013). The effect of
dapat menyebabkan masuknya bakteri ke dalam umbilical cord cleansing with chlorhexidine
Rina Kartikasari
e-mail: hanaufzan@[Link]
ABSTRAK
Tali pusat merupakan pintu gerbang masuknya infeksi. Upaya untuk mencegah terjadinya infeksi tali
pusat sesungguhnya merupakan tindakan sederhana yang terpenting adalah tali pusat selalu dalam
keadaan bersih dan kering, serta selalu mencuci tangan menggunakan sabun sebelum dan sesudah
memandikan bayi. Memandikan bayi dengan tidak membasahi tali pusat diperlukan untuk mencegah tali
pusat menjadi media perkembangbiakan mikroorganisme patogen. Penelitian ini bertujuan untuk
mengetahui efektifitas mandi kering (washlap) dalam mempercepat waktu pelepasan tali pusat. Penelitian
ini bersifat kuantitatif dengan menggunakan desain penelitian quasy experiment with non equivalen
control group design. Penelitian dilakukan pada bulan Juni tahun 2018 di Puskesmas Ciruas Kabupaten
Serang Provinsi Banten. Teknik pengambilan sampel pada penelitian ini total sampling yaitu seluruh bayi
yang lahir pada bulan Juni tahun 2018 sejumlah 40 bayi. Perbedaan kedua variabel dianalisis dengan
menggunakan uji statistik t- test independent. Sebagian besar (65%) teknik memandikan bayi baru lahir
yang digunakan orangtua bayi adalah teknik berendam. Rerata waktu pelepasan tali pusat pada bayi yang
dimandikan dengan cara kering (washlap) yaitu 5,6 hari lebih cepat 1,5 hari dibanding bayi yang
dimandikan dengan cara berendam (p=0,000). Teknik mandi kering (washlap) merupakan teknik
memandikan bayi yang direkomendasikan untuk bayi baru lahir sampai dengan pelepasan tali pusat.
Pemberi pelayanan kesehatan khususnya bidan perlu merekomendasikan teknik mandi kering (washlap)
kepada orangtua bayi untuk mempercepat proses pelepasan tali pusat dan mencegah infeksi tali pusat.
Kata Kunci : memandikan bayi, tali pusat, teknik mandi kering (washlap)
METODE PENELITIAN
Penelitian ini bersifat kuantitatif dengan
menggunakan desain penelitian quasy
experiment with non equivalen control group
design. Populasi dalam penelitian ini seluruh
bayi yang lahir di wilayah kerja Puskesmas
Ciruas pada bulan Juni tahun 2018. Teknik
pengambilan sampel pada penelitian ini yaitu
Total sampling yaitu seluruh bayi yang lahir pada
bulan Juni tahun 2018 sejumlah 40 bayi. Pada
penelitian ini peneliti hanya melihat waktu
pelepasan tali pusat pada kedua kelompok.
Perbedaan kedua variabel dianalisis dengan
menggunakan uji statistik t- test independent.
Tabel 1
Distribusi Frekuensi Teknik Memandikan Bayi Baru Lahir
Tabel 2
Waktu Pelepasan Tali Pusat Teknik Washlap Teknik Berendam
n % Mean SD n % Mean SD
4 Hari 5 36 0 0
5 Hari 2 14 2 8
6 Hari 3 21 4 15
7 Hari 2 14 5.6 1.51 11 42 7.1 1.03
8 Hari 2 14 7 27
9 Hari 0 0 2 8
Rerata Waktu Pelepasan Tali Pusat pada Bayi Baru Lahir
Tabel 3
Perbedaan Waktu Pelepasan Tali Pusat Berdasarkan Teknik Memandikan Bayi
Mean SD Mean SD
Nilai 5,6 1,51 7,1 1,03
0,003
Selisih Mean / 1,5 Hari
*Uji T Independent
Berdasar tabel 1 diketahui bahwa sebanyak 26 bayi (65%) dari 40 responden yang
memandikan bayi baru lahir dengan cara berendam.
Berdasar tabel 2 rerata waktu pelepasan tali pusat pada kelompok
teknik memandikan washlap yaitu 5,6 hari, dan pada teknik memandikan berendam yaitu 7,1
hari.
97
Jurnal Menara Medika JMM 2020
[Link] p-ISSN 2622-657X, e-ISSN 2723-
6862
Wilson, (2009) untuk meningkatkan proses pengeringan dan penyembuhan tali pusat, pada saat
memandikan bayi baru lahir tidak dianjurkan untuk menggunakan teknik memandikan dengan
cara berendam sampai tali pusat sudah lepas dan umbilikus sembuh. Responden dianjurkan
dapat menggunakan teknik memandikan bayi dengan cara washlap sampai jaringan granulasi
bayi menutupi bagian tali pusat yang lepas.
Proses pengeringan dan pelepasan tali pusat dipermudah oleh karena tali pusat terpapar
udara, air dari jeli Wharton akan menghilang dan menyebabkan tali pusat mengalami
mumifikasi, dan terjadi perubahan morfologi sehingga terjadilah pelepasan tali pusat dari
umbilikus (Cunningham, 2014).
Sebelum tali pusat terlepas, sisa puntungnya dapat dianggap sebagai proses
penyembuhan luka dan dengan demikian menjadi rute yang memungkinkan terjadi infeksi
melalui pembuluh darah ke dalam aliran darah bayi. Perawatan tali pusat yang buruk
menyebabkan tali pusat menjadi lama terlepas. Keterlambatan lepasnya tali pusat dapat
meningkatkan risiko infeksi. Waktu lepasnya tali pusat yang cepat dapat mengurangi risiko
infeksi pada tali pusat, hal ini disebabkan oleh tali pusat yang merupakan area rentan untuk
terjadinya kolonisasi kuman tidak dibiarkan lama melekat pada bayi.
Upaya pencegahan terjadinya infeksi tali pusat sesungguhnya merupakan tindakan
sederhana yang terpenting adalah tali pusat selalu dalam keadaan bersih dan kering, serta selalu
mencuci tangan menggunakan sabun sebelum dan sesudah memandikan bayi. Memandikan bayi
dengan tidak membasahi tali pusat diperlukan untuk mencegah tali pusat menjadi media
perkembangbiakan mikroorganisme patogen. Selama tali pusat belum lepas, sebaiknya bayi
tidak dimandikan dengan cara berendam. Cukup dilap saja dengan kain yang direndam air
hangat (Sinsin, 2008).
Tali pusat yang dibasahi pada saat mandi berendam akan menyebabkan tali pusat
menjadi basah dan puntung tali pusat beserta kulit disekitar tali pusat menjadi lembab sehingga
proses pengeringan menjadi lebih lama. Hal tersebut akan menyebabkan waktu pelepasan tali
pusat menjadi lebih lama dan tentunya akan lebih beresiko terjadinya infeksi tali pusat.
Omfalitis atau infeksi tali pusat dapat disebabkan oleh bakteri yang memasuki tubuh
melalui media tali pusat pada bayi. pemotongan tali pusat dengan instrumen yang tidak steril
dapat menyebabkan masuknya bakteri ke dalam tubuh bayi, kontak kulit ke kulit antara ibu dan
bayi, teknik cuci tangan yang kurang tepat, perawatan tali pusat yang buruk, serta infeksi
nosokomial (Kasiati et al., 2013).
Waktu lepasnya tali pusat yang cepat dapat mengurangi risiko infeksi pada tali pusat,
hal ini disebabkan oleh tali pusat yang merupakan area rentan untuk terjadinya kolonisasi
kuman tidak dibiarkan lama melekat pada bayi.
KESIMPULAN
Teknik memandikan bayi baru lahir sebagian besar dengan cara berendam sebanyak
65%. Rerata waktu pelepasan tali pusat pada bayi yang dimandikan dengan cara washlap yaitu
5,6 hari, lebih cepat 1,5 hari dibanding bayi yang dimandikan dengan cara berendam. Terdapat
perbedaan bermakna waktu pelepasan tali pusat berdasar teknik memandikan bayi baru lahir.
KEPUSTAKAAN
Ayyildiz, T., Kulakci, H., Ayoglu, F. N., Kalinci, N., & Veren, F. (2015). The effects of two
bathing methods on the time of separation of umbilical cord in term babies in Turkey.
Iranian Red Crescent Medical Journal, 17(1), 1–5.
[Link]
98
Jurnal Menara Medika JMM 2020
[Link] p-ISSN 2622-657X, e-ISSN 2723-
6862
Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional. (2013). Survei Demografi dan
Kesehatan Indonesia 2012. Survei Demografi Dan Kesehatan Indonesia, 266.
[Link] [pii]\r10.1073/pnas.0910383107
Cunningham, dkk. (2014). Obstetri Williams (Williams Obstetri) (24th ed.). Jakarta: EGC.
Hockenberry, M.J & Wilson, D. (2009). Essential of Pediatric Nursing. St. Louis Missoury:
Mosby.
Imdad, A., Mullany, L. C., Baqui, A. H., El Arifeen, S., Tielsch, J. M., Khatry, S.
. « %KXWWD = $ 7he effect of umbilical cord cleansing with chlorhexidine on omphalitis
and neonatal mortality in community settings in developing countries: A meta-analysis.
BMC Public Health,
13(SUPPL.3), S15.
[Link]
S3-S15
Juwita DS, Y. D. (2013). Perbedaan Lama Pelepasan Tali Pusat pada bayi yang Dimandikan ke
Dalam Air Hangat dengan Bayi yang Dilap Handuk Basah di RSIA Husada Bunda Solo
Tahun 2017. Journal of Chemical Information and Modeling, 53(9), 1689–1699.
[Link]
15324.004
Kasiati, Santoso, B., Yunitasari, E., & Nursalam. (2013). Topikal Asi: Model Asuhan
Keperawatan Tali Pusat Pada Bayi. Ners, 8, 9–16. Retrieved from
[Link] j&q=&esrc=s&source=web&cd=&cad
=rja&uact=8&ved=2ahUKEwjoxur34q nqAhV_7HMBHQWoBOQQFjABegQ
IAxAB&url=https%3A%2F%[Link]%2FJNERS%2Fartic le%2Fdownload
%2F3864%2F2624&us
g=AOvVaw1COsLMoWIb1kUi6bYH
Dj1Z
Mullany, L. C., Darmstadt, G. L., Katz, J., Khatry, S. K., Leclerq, S. C., Adhikari, R. K., &
Tielsch, J. M. (2009). Risk of mortality subsequent to umbilical cord infection among
newborns of southern nepal: Cord infection and mortality. Pediatric Infectious Disease
Journal,
28(1), 17–20. [Link]
181fb4c
99