0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
6 tayangan11 halaman

Profesi Notaris dan Akta Autentik di Indonesia

Diunggah oleh

masdik0822
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
6 tayangan11 halaman

Profesi Notaris dan Akta Autentik di Indonesia

Diunggah oleh

masdik0822
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Indonesia sebagai negara yang meletakkan hukum sebagai kekuatan tertinggi berlandaskan
Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945 telah memberikan jaminan bagi seluruh warga negarannya
untuk mendapatkan kepastian, ketertiban, dan perlindungan hukum yang berintikan pada kebenaran
dan keadilan. Hukum mengatur segala hubungan antar individu atau perorangan dan induvidu dengan
kelompok atau masyarakat maupun individu dengan pemerintah, hukum merupakan bagian yang tidak
dapat dipisahkan dari kehidupan masyarakat manusia sehingga di dalam masyarakat selalu ada sistem
hukum, ada masyarakat ada norma hukum.

Jaminan kepastian, ketertiban dan perlindungan hukum tersebut tentunya membutuhkan


upaya konkrit agar terselenggara dengan seksamaa sebagai bentuk pertanggung jawaban negara bagi
kemakmuran dan kesejahteraan seluruh rakyat Indonesia. Hukum berupaya menjaga dan mengatur
keseimbangan antara kepentingan atau hasrat induvidu yang egoistis dan kepentingan bersama agar
tidak terjadi konflik. Oleh karena itu, secara hakiki hukum haruslah pasti dan adil sehingga dapat
berfungsi sebagaimana mestinya.

Hal terebut menunjukkan pada hakikatnya para penegak hukum (Hakim, Jaksa, Notaris dan
Polisi) adalah pembela kebeneran dan keadilan, para penegak hukum harus menjalankan dengan itikad
baik dan ikhlas, sehingga profesi hukum 2 merupakan profesi terhormat dan luhur. Oleh karena mulia
dan terhotmat, profesional hukum sudah semestinya merasakan profesi ini sebagai pilihan dan sekaligus
panggilan hidupnya untuk melayani sesama dibidang hukum.

Menurut Abdulkadir Muhammad, agar suatu pekerjaan dapat disebut suatu profesi ada
beberapa syarat yang harus dipenuhi, antara lain: (1)

1. Adanya spesialisasi pekerjaan;

2. Berdasarkan keahlian dan ketrampilan;

3. Bersifat tetap dan terus menerus;

4. Lebih mendahulukan pelayanan daripada imbalan;

5. Mempunyai rasa tanggung jawab yang tinggi;

6. Terkelompok dalam suatu organisasi profesi.

Lebih lanjut menurut C.S.T. Kansil, menjelaskan kaidah-kaidah pokok yang berlaku bagi suatu
profesi adalah sebagai berikut:(2)

1. Profesi merupakan pelayan, karena itu mereka harus bekerja tanpa pamrih, terutama bagi klien atau
pasiennya yang tidak mampu;
2. Pelaksanaan pelayanan jasa profesional mengacu pada nilai-nilai luhur;

3. Pelaksanaan profesi berorientasi kepada masyarakat secara keseluruhan;

4. Pola persaingan dalam 1 (satu) profesi harusah sehat.

Notaris merupakan profesi dimana Notaris dalam melaksanakannya dituntut serba profesional,
ini terlihat dalam melaksanakan tugasnya Notaris tidak boleh menguntungkan salah satu pihak, Notaris
harus menunjukkan sifatnya yang netral.

1Abdulkadir Muhamad,Etika Profesi Hukum, ( Bandung: PT. Citra Aditya Bakti,2001), hal. 58.

2 C.S.T. Kansil, Pokok-Pokok Etika Profesi Hukum, (Jakarta: Pradnya Paramita, 2003), hal 5. 3

Akta Notaris adalah Akta autentik yang merupakan alat bukti tertulis dengan kekuatan pembuktian
sempurna. Pembuatan Akta autentik ada yang diharuskan oleh peraturan perundang- undangan dalam
rangka mencitakan kepastian, ketertiban dan perlindungan hukum. Selain Akta autentik yang dibuat
oleh atau di hadapan Notaris, bukan saja karena diharuskan oleh peraturan perundangundangan tetapi
juga karena dikehendaki oleh pihak yang berkepentingan untuk memastikan hak dan kewajiban para
pihak demi kepatian, ketertiban, dan perlindungan hukum bagi pihak yang berkepentingan sekaligus
bagi masyarakat secara keseluruhan. Jabatan Notaris diadakan atau kehadirannya dikehendaki oleh
aturan hukum dengan maksud membantu dan melayani masyarakat yang membutuhkan alat bukti
tertulis yang bersifat Autentik mengenai keadaan, peristiwa atau perbuatan hukum.(3) Untuk itu telah
dibentuk Undang-undang Nomor 30 Tahun 2004 tentang Undang-Undang Jabatan Notaris (selanjutnya
disingkat UUJN), yang diundangkan pada tanggal 6 Oktober 2003, UUJN tersebut mengalami perubahan
pada tanggal 23 Maret 20013 menjadi Undang-undang Republik Indonesia Nomor 2 Tahun 2014 tentang
Perubahan Atas Undang-undang Nomor 30 Tahun 2004 tentang Jabatan Notaris UUJN yang baru ini
diharapkan lebih baik dari peraturan perundangan yang digantikannya, sehingga dapat memberikan
perlindungan hukum baik kepada masyarakat maupun kepada Notaris. 3 Habib Ajie ( Selanjutnya
disebut Habib I), 2013, Sanksi Perdata dan Administrative Terhadap Notaris Sebagai Pejabat Public, PT.
Refika Aditama, Bandung, hal. 32 4 Dalam Pasal 1 disebutkan definisi Notaris, yaitu: “Notaris adalah
Pejabat Umum yang berwenang untuk membuat Akta autentik dan memiliki kewenangan lainnya
sebagaimana dimaksud dalam undang-undang ini atau berdasarkan undang-undang lainnya”. Menurut
[Link] Notodisoerjo, Notaris adalah pejabat umum openbare ambtenaren, karena erat
hubunganya dengan wewenang atau tugas dan kewajiban yang utama yaitu membuat Akta-akta
autentik. (4) Selain Notaris, pejabatan umum yang berwenang membuat Akta autentik adalah Pejabat
Lelang, Pegawai Pencatatan Sipil burgerlijke stand, juru sita deurwaarder, Hakim, Panitera Pengadilan
dan lain sebagainya.(5) Notaris, merupakan pejabat umum yang diangkat oleh Pemerintah, serta
diberikan wewenang dengan tujuan untuk melayani kepentingan masyarakat umum. Notaris bukanlah
Pegawai Negeri sebagaimana dimaksud dalam UndangUndang Nomor 8 Tahun 1974 tentang Pokok-
pokok Kepegawaian. Oleh karenannya Notaris tidak menerima gaji dan memperoleh pensiun, hanya
menerima honorarium dari kliennya. Notaris merupakan suatu pekerjaan yang memiliki keahlian khusus
dan menuntut pengetahuan luas, serta tanggungjawab berat untuk melayani kepentingan umum. Inti
tugas Notaris adalah mengatur secara tertulis dan autentik hubungan-hubungan hukum antara para
pihak yang secara mufakat meminta jasa Notaris. Dalam menjalankan profesinya para Notaris tidak
hanya menjalankan pekerjaan yang diamanatkan oleh undang-undang semata tetapi meliputi bidang 4
R. soegondo Notodisoerjono, 1993, Hukum Notariat Di Indonesia Suatu Kejelasan, Raja Grafindo
Persada, Jakarta, hal. 8 5 R. Supomo, Hukum Acara Perdata Pengadilan Negeri, Pradnya Paramita,
Jakarta, hal.77 5 yang lebih luas dari apa yang diuraikan dalam Undang-Undang. Para Notaris
menjalankan suatu fungsi sosial yang sangat penting, yang meliputi bidang yang lebih luas dari jabatan
yang sesungguhnya diamantkan kepadanya. Pasal 15 ayat (1) Undang-Undang Republik Indonesia
Nomor 2 Tahun 2014 Tentang Perubahan Atas Undang-undang Nomor 30 Tahun 2004 tentang Jabatan
Notaris, menyebutkan bahwa : “Notaris berwenang membuat Akta autentik mengenai semua
perbuatan, perjanjian dan penetapan yang diharuskan oleh peraturan perundang – undangan dan/atau
yang dikehendaki oleh yang berkepentingan untuk dinyatakan dalam Akta autentik, menjamin kepastian
tanggal pembuatan Akta, menyimpan Akta, memberikan grosse, salinan dan kutipan Akta, semuanya itu
sepanjang pembuatan Akta itu tidak juga ditugaskan atau dikecualikan kepada pejabat lain atau orang
lain yang ditetapkan oleh Undang-undang”. Akta autentik sebagai alat bukti terkuat dan terpenuh
mempunyai peranan penting dalam setiap hubungan hukum dalam kehidupan masyarakat. Dalam
berbagai hubungan bisnis, kegiatan di bidang perbankan, pertanahan, kegiatan sosial, dan lain-lain,
kebutuhan akan pembuktian tertulis berupa Akta autentik makin meningkat sejalan dengan
berkembangnya tuntutan akan kepastian hukum dalam berbagai hubungan ekonomi dan sosial, baik
pada tingkat nasional, regional, maupun global. Melalui Akta autentik yang menentukan secara jelas hak
dan kewajiban, menjamin kepastian hukum, dan sekaligus diharapkan pula dapat dihindari terjadinya
sengketa. 6 Akta autentik yang merupakan alat bukti tertulis terkuat dan terpenuh memberi sumbangan
nyata bagi penyelesaian perkara secara murah dan cepat. Akta autentik pada hakikatnya memuat
kebenaran formal sesuai dengan apa yang diberitahukan para pihak kepada Notaris. Namun, Notaris
mempunyai kewajiban untuk memasukkan bahwa apa yang termuat dalam Akta Notaris
sungguhsungguh telah dimengerti dan sesuai dengan kehendak para pihak, yaitu dengan cara
membacakannya sehingga menjadi jelas apa isi dari pada Akta Notaris tersebut, serta memberikan akses
terhadap informasi, termasuk akses terhadap peraturan perundang-undangan yang terkait bagi para
pihak penandatanganan Akta. Dengan demikian, para pihak dapat menentukan dengan bebas untuk
menyetujui atau tidak menyetujui isi Akta Notaris yang akan ditanda tanganinya. Suatu Akta autentik
dapat dijadikan sebagai alat bukti yang sempurna, karena kedudukannya sama dengan Undang-
Undang,yang artinya apabila salah satu pihak mengajukan akta tersebut di pengadilan, Hakim harus
menerimanya dan menganggap bahwa apa yang tertulis dalam Akta itu sungguh-sungguh telah terjadi.
Sehingga segala sesuatu yang tertulis dalam Akta tersebut harus dipercayai oleh Hakim serta
mempunyai kekuataan pembuktian keluar secara formil maupun materiil. Agar dapat dinyatakan
sebagai Akta autentik, suatu Akta Notaris harus memenuhi persyaratan, yaitu:(6) 1. Akta harus dibuat
oleh atau di hadapan pejabat umum. 2. Akta harus dibuat dalam bentuk yang ditentukan oleh Undang-
undang. 6 KUHperdata, Ps 1868 7 3. Akta dibuat oleh yang berkuasa untuk itu di tempat di mana Akta
itu dibuat. Jika salah satu dari persyaratan tersebut tidak dipenuhi, maka Akta tersebut kehilangan
otensitasnya, dengan kata lain Akta tersebut menjadi Akta di Bawah Tangan. Akta autentik yang dibuat
oleh seorang Notaris dapat dibedakan atas ;(7) 1. Akta yang dibuat “oleh” (door) Notaris atau yang
dinamakan “akta relas” atau “akta pejabat” (ambtelijke akten). 2. Akta yang dibuat “dihadapan” (ten
overstaan) Notaris atau yang dinamakan “akta partij” (partij akten). Sejak berlakunya Undang-Undang
Jabatan Notaris yang baru, maka lahirlah perkembangan hukum yang berkaitan langsung dengan dunia
kenotariatan ini, yakni : 8 1. Adanya “perluasan kewenangan Notaris”, yaitu kewenangan yang
dinyatakan dalam Pasal 15 ayat (2) huruf f, yakni: “kewenangan membuat akta yang berkaitan dengan
pertanahan”. 2. Kewenangan untuk membuat Akta risalah lelang. Akta risalah lelang ini sebelum lahirnya
Undang-Undang tentang Jabatan Notaris menjadi kewenangan juru lelang dalam Badan Urusan Piutang
dan LelangNegara (BUPLN) berdasarkan Undang-Undang Nomor 49 Prp Tahun 1960. Kebutuhan akan
jasa Notaris dalam masyarakat modern tidak mungkin dapat dihindarkan. Notaris sebagai pejabat umum
diangkat oleh Pemerintah dan pemerintah sebagai organ negara mengangkat Notaris bukan semata
untuk 7 G.H.S. Lumben Tobing, Peraturan Jabatan Notaris, (Jakarta : Penerbit Erlanggaa, 1999), hlm 51-
52 8 Indonesia, Undang-Undang Tentang Jabatan Notaris, UU No. 30 Tahun 2004 8 kepentingan Notaris
itu sendiri, melainkan juga untuk kepentingan masyarakat luas. Jasa yang diberikan oleh Notaris terkait
erat dengan persoalan trust (kepercayaan diantara para pihak), artinya negara memberikan kepercayaan
yang besar terhadap Notaris dan dengan demikian dapat dikatakan bahwa pemberian kepercayaan
kepada Notaris berarti bahwa Notaris itu mau tidak mau telah memikul tanggung jawab atasnya.
Tanggung jawab ini dapat berupa tanggung jawab secara hukum maupun moral. Jabatan yang diemban
Notaris adalah suatu jabatan kepercayaan yang diberikan oleh Undang-Undang dan masyarakat, untuk
itulah seorang Notaris bertanggung jawab untuk melaksanakan kepercayaan yang diberikan kepadanya
dengan selalu menjunjung tinggi etika hukum dan martabat serta keluhuran jabatannya, sebab apabila
hal tersebut diabaikan oleh seorang Notaris maka akan berbahaya bagi masyarakat umum yang
dilayaninya. Peranan dan kewenangan Notaris sangat penting, oleh karena itu Notaris harus dapat
menjalankan profesinya secara profesional, berdedikasi tinggi serta selalu menjunjung harkat dan
martabatnya dengan menegakkan Kode Etik Notaris. Etika adalah salah satu bagian dari filsafat yang
mengadakan studi tentang kehendak manusia. Secara lebih sederhana dapatlah dikatakan bahwa etika
adalah filsafat tingkah laku manusia, yang mencari pedoman tentang bagaimana seharusnya manusia
bertindak atau berbuat.(9) Etika pada hakekatnya merupakan pandangan hidup dan pedoman tentang
bagaimana seyogyannya seseorang itu bertindak. Bagi etika, baik buruknya, 9 Solomon, Robert C-, Etika
Suatu Pengantar, (Jakarta: Penerbit Erlangga, 2000), hal 47 9 tercela tidaknya perbuatan itu diukur
dengan tujuan hukum, yaitu ketertiban masyarakat.(10) Masyarakat sebagai mahkluk sosial senantiasa
dalam kehidupan sehari – hari akan saling melakukan interaksi sosial. Hubungan – hubungan yang
terjadi dalam interaksi sosial tersebut tidak jarang merupakan suatu hubungan hukum, yang tentunya
akan melahirkan suatu perbuatan hukum, yang mempunyai akibat – akibat hukum tertentu. Bagi hukum
problematikannya adalah ditaati atau dilanggar tidaknya kaedah hukum. Hukum menuntut legalitas,
yang berarti bahwa yang dituntut adalah pelaksanaan atau pentaatan kaedah hukum semata – mata.
Sebaliknya etika lebih mengandalkan itikad baik dan kesadaran moral pada pelakunya. Oleh karena itu
etika menuntut formalitas, yang berarti bahwa yang dituntut adalah perbuatan yang didorong oleh rasa
wajib dan tanggung jawab. Itulah sebabnya timbul kesulitan untuk menilai pelanggaran etika selama
pelanggaran itu tidak merupakan pelanggaran hukum. Etika seperti halnya juga dengan hukum
mengancam pelanggaran dengan sanksi. Hanya saja pelanggaran pada etika sanksinya tidak dapat
dipaksakan dengan sarana ekstrem. Menurut etimologi, kata etika berasal dari bahasa Yunani “Ethos”
yang berarti memiliki watak kesusilaan atau beradat.(11) Etika adalah refleksi kritis, metodis, dan
sistematis tentang tingkah laku manusia sejauh berkaitan dengan norma – norma atau tentang tingkah
laku manusia dari sudut baik dan buruk.(12) 10Ibid 11Ignatus Ridwan Widyadharma, Etika Profesi
Hukum, Badan Penerbit Universitas Diponegoro, Semarang, 1996), hal.7 12E.Y. Kanter, Etika Profesi
Hukum; Sebuah Pendekatan Religius, Storia Grafika, Jakarta, 2001, ha.11 10 Dalam Kamus Besar Bahasa
Indonesia terbitan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Tahun 1998, Etika diberi tiga arti yang
cukup lengkap, yaitu: 1. Ilmu tentang apa yang baik dan apa yang buruk, tentang hak dan kewajiban
moral (akhlak) ; 2. Kumpulan asas atau nilai yang berkenaan dengan akhlak ; 3. Nilai mengenai benar dan
salah yang dianut oleh satu golongan atau masyarakat umum.(13) Berdasarkan pengertian dalam Kamus
Besar Bahasa Indonesia dapat dirumuskan pengertian Etika, yaitu : 1. Nilai-nilai dan norma-norma moral
yang dipegang oleh seorang atau sekelompok orang dalam masyarakat untuk mengatur tingkah lakunya.
2. Etika juga berarti kumpulan asas atau nilai moral. 3. Etika bisa pula dipahami sebagai ilmu tentang
yang baik dan yang buruk.(14) Pada umumnya profesi dapat dilukiskan sebagai pekerjaan yang
menyediakan atau memberikan pelayanan yang “higty specialized intellectual”.(15) Jadi profesi adalah
pekerjaan pelayanan yang dilandasi dengan persiapan atau pendidikan khusus yang formil dan landasan
kerja yang ideal serta didukung oleh cita-cita etis masyarakat. Profesi berbeda dengan pekerjaan lain
yang tujuannya adalah untuk memperoleh keuntungan semata-mata, sedangkan kalau profesi
memusatkan perhatiannya pada kegiatan yang bermotif pelayanan.(16) 13E.Y. Kanter, Op. Cit, hal. 12.
[Link], Etika, Gramedia Pustaka Utama, Jakarta, 1997, hal 5-6 15Sumaryono, E., Etika Profesi
Hukum, (Jakarta: Penerbit Kanisius, 2006), hal. 58 16Ibid 11 Peraturan mengenai profesi pada umumnya
mengandung hak-hak yang fundamental dan mempunyai peraturan-peraturan mengenai tingkah laku
atau berbuatan dalam melaksankan profesinya yang dituangkan dalam Kode Etik. Dapatlah kiranya
profesi hukum itu dirumuskan sebagai suatu kegiatan pelayanan dalam bidang hukum melalui
pendidikkan tinggi hukum berdasarkan etik. Kode Etik profesi hukum yang bersifat umum tidak ada,
karena profesi hukum sangat bervariasi. Hal ini tampak dari adanya beberapa kelompok profesi hukum,
yaitu antara lain Hakim, Jaksa, Pengacara, Notaris, Dosen hukum dan sebagainya. Mengingat bahwa
secara teknis fungsional dan operasional tugas masing-masing kelompok dalam profesi hukum yang
berbeda, maka maing-masing mempunyai Kode Etiknya sendiri-sendiri. Hakim misalnya yang tergabung
dalam IKAHI mempunyai Kode Etiknya sendiri, Pengacara yang tergabung dalam IKADIN mempunyai
Kode Etik sendiri, Notaris yang tergabung dalam INI mempunyai Kode Etiknya yang ditetapkan oleh
Konggres Ikatan Notaris Indonesia ke IX Tahun 1974. Mereka semua itu bergerak di bidang hukum,
tetapi pada hakekatnya kegiatan mereka bersifat ilmiah yang membutukan dasar pendidikan tinggi
hukum. Mereka harus mampu merumuskan masalah-masalah hukum, memecahkannya,
menerapkannya dan memberi putusan. Yang diperlukan adalah kemampuan untuk “solving legal
problems” (memecahkan masalah dengan sesuai aturan). Baik Hakim, Jaksa dan sebagainya harus
menguasai “the power of solving legal problems”.(kekuatan dari pemecahan masalah yang sesuai
aturan). 12 Meskipun secara teknis operasional kegiatan mereka berbeda namun dilapangan mereka
selalu dihadapkan pada peristiwa atau konflik yang harus dipecahkannya, oleh karena itu harus
menguasai dan mampu mengoperasionalkan bekal yang diperolehnya dari pendidikan tinggi hukum.(17)
Dalam menjalankan jabatannya Notaris harus mematuhi seluruh kaedah moral yang telah hidup dan
berkembang di masyarakat. Selain dari adanya tanggung jawab dan etika profesi, adanya integritas dan
moral yang baik merupakan persyaratan penting yang harus dimiliki oleh seorang Notaris. Dikatakan
demikian karena tanggung jawab dan etika profesi mempunyai hubungan yang erat dengan integritas
dan moral. Etika profesi adalah norma -norma, syarat-syarat dan ketentuan-ketentuan yang harus
dipenuhi oleh sekelompok orang yang disebut sebagai kalangan profesioanal.(18) Etika profesi menurut
Liliana Tedjosaputra adalah : (19) “Keseluruhan tuntutan moral yang terkena pada pelaksanaan suatu
profesi, sehingga etika profesi memperhatikan masalah ideal dan praktek-praktek yang berkembang
karena adanya tanggung jawab dan hak-hak istimewa yang melekat pada profesi tersebut, yang
merupakan ekspresi dari usaha untuk menjelaskan keadaan yang belum jelas dan masih samar-samar
dan 17Sudikno Mertokusumo, Profesi dan Pendidikan Hukum, (Makalah disajikan pada Temu ilmiah
Mahasiswa Notariat Indonesia di Kaliurang, 2006) 18Ibid 19Liliana TedjoSaputra, Etika Profesi Notaris,
Dalam Penegakan Hukum Pidana Yogyakarta;Bayu Grafika, 1955) hal.9 13 merupakan penerapan nilai-
nilai moral yang umum dalam bidang khusus yang lebih dikonkretkan lagi dalam Kode Etik”. Agar dapat
menjalankan tugasnya dengan baik sebagai pelayan masyarakat, seorang profesional harus menjalankan
jabatannya dengan menyelaraskan antara keahlian yang dimilikinya dengan menjunjung tinggi kode etik
profesional. Profesi yang dijalankan hanya dengan dasar profesionalisme maka ia hanya berpijak atas
dasar keahlian semata dan bisa terjebak menjadi tukang atau dapat menjadikan keahlian tanpa kendali
nilai sehingga bisa berbuat semau-maunya sendiri, sedangkan etika yang dijalankan tanpa pijakan dasar
profesioanlitas dapat menjadikan lumpuh sayap. (20) Dalam menjalankan tugas profesinya seorang
Notaris harus: 1. Mempunyai integritas moral yang mantap 2. Seorang Notaris harus jujur terhadap klien
maupun dirinya sendiri (kejujuran intelektual) 3. Sadar akan batas-batas kewenangannya. Adanya kode
etik bertujuan agar suatu profesi dapat dijalankan dengan profesional dengan motivasi dan orientasi
pada ketrampilan intelektual serta beragumentasi secara rasional dan kritis serta menjunjung tinggi
nilai-nilai moral. Untuk melindungi kepentingan masyarakat umum dan menjamin pelaksanaan Jabatan
Notaris yang dipercayakan oleh Undang-Undang dan masyarakat pada umumnya, maka adanya
pengaturan secara hukum mengenai pengawasan terhadap pelaksanaan Jabatan Notaris sangat tepat,
karena dalam 20Bambang Widjojanto, Etika Profesi Suatu Kajian dan Beberapa Masalah Pokok, Makalah
disampaikan pada Pendidikan khusus Profesi advokat Angkatan I, Depok, April-Juni 2005) Hal.1 14
menjalankan jabatannya yang diamanatkan oleh Undang-Undang tetapi juga berfungsi sebagai pengabdi
hukum yang meliputi bidang yang sangat luas. Tujuan dirumuskannya Kode Etik adalah untuk mencegah
terjadinya perilaku yang tidak etis dari anggotanya dan memberikan arah serta menjamin mutu moral
anggotanya. Pengawasan dan Pembinaan terhadap perilaku Notaris yang diatur dalam Kode Etik Profesi
dan Pelaksanaan Jabatan Notaris yang diatur dalam UndangUndang Nomor 30 Tahun 2004 tentang
Jabatan Notaris sebagaimana telah diubah dengan Undang-undang Republik Indonesia Nomor 2 Tahun
2014 Tentang Jabatan Notaris, dilakukan oleh Majelis Pengawas Notaris (MPN) secara berjenjang dari
mulai Majelis Pengawas Daerah Notaris (MPDN), Majelis Pengawas Wilayah Notaris (MPWN), Majelis
Pengawas Pusat Notaris (MPPN). Kode Etik bagi para Notaris telah diatur baik dalam Stabld 1860 Nomor
3 maupun dalam Pasal 89 Undang-Undang Jabatan Notaris Nomor 30 Tahun 2004 tentang Jabatan
Notaris sebagaimana telah diubah dengan Undang-undang Republik Indonesia Nomor 2 Tahun 2014
Tentang Jabatan Notaris berikut sanksi-sanksinya. Dalam melakukan pengawasan atas Notaris
sebagaimana dimaksud pada Pasal 67 ayat (1) Menteri membentuk Majelis Pengawas (MP). Dalam Pasal
68, MP terdiri dari Majelis Pengawas Pusat (MPP), Majelis Pengawas Wilayah (MPW) dan Majelis
Pengawas Daerah (MPD) yang pada setiap tingkat Majelis terdiri atas unsur : a. Pemerintah sebanyak 3
(tiga) orang; b. Organisasi Notaris sebanyak 3 (tiga) orang; 15 c. Ahli atau Akademisi sebanyak 3 (tiga)
orang. Adapun mengenai penjabaran yang mengatur pengawasan, penindakan dan pembelaan bagi
seorang Notaris telah disusun oleh Organisasi Ikatan Notaris Indonesia ( I.N.I ). Pelaksanaan Kode Etik
selain diawasi oleh Majelis Pengawas (MP) sebagaimana yang ditentukan Undang-Undang juga diawasi
oleh Dewan Kehormatan (DK) sebagai suatu badan atau lembaga yang mandiri dan bebas dari
keberpihakan dalam perkumpulan Ikatan Notaris Indonesia, yang terdiri dari Dewan Kehormatan Pusat
(DKP), Dewan Kehormtan Wilayah (DKW) dan Dewan Kehormatan Daerah (DKD). Ikatan Notaris
Indonesia (I.N.I) sebagai perkumpulan organisasi bagi para Notaris mempunyai peranan yang sangat
penting dalam penegakan pelaksanaan Kode Etik Profesi bagi Notaris. Kode Etik adalah seluruh kaidah
moral yang ditentukan oleh Perkumpulan Ikatan Notaris Indonesi yang selanjutnya akan disebut
“Perkumpulan” berdasar Keputusan Konggres Perkumpulan dan/atau yang ditentukan oleh dan diatur
dalam peraturan perundang-undangan yang mengatur tentang hal itu dan yang berlaku serta wajib
ditaati oleh setiap dan semua anggota perkumpulan dan semua orang yang menjalankan tugas jabatan
sebagai Notaris, termasuk di dalamnya para Pejabat Sementara Notaris, dan Notaris Pengganti. Pejabat
Sementara Notaris adalah seorang yang untuk sementara menjabat sebagai Notaris untuk menjalankan
jabatan dari Notaris yang meninggal dunia, Notaris Pengganti adalah seorang yang untuk sementara
diangkat sebagai Notaris untuk menggantikan 16 Notaris yang sedang cuti, sakit, atau untuk sementara
berhalangan menjalankan jabatannya sebagi Notaris. Pengawasan atas pelaksanaan Kode Etik itu
dilakukan dengan cara sebagai berikut : a. Pada tingkat Pertama oleh Pengurus Daerah (PD) Ikatan
Notaris Indonesia dan Dewan Kehormatan Daerah (DKD); b. Pada tingkat Banding oleh Pengurus
Wilayah (PW) Ikatan Notaris Indonesia dan Dewan Kehormatn Wilayah (DKW); c. Pada tingkat Terakhir
oleh Pengurus Pusat (PP) Ikatan Notaris Indonesia dan Dewan Kehormatan Pusat (DKP). Adanya Dewan
Kehormatan yang mempunyai tugas utama untuk melakukan pengawasan atas pelaksanaan Kode Etik
tidak lain adalah semata-mata untuk kepentingan para Notaris sendiri, yang mempunyai ikatan dengan
pengawasan yang dilakukan Majelis Pengawas yang telah ditentukan oleh Undang-Undang. Namun
harus diperhatikan bahwa Dewan Kehormatan di dalam menjalankan tugas dan wewenangnya tidak
terlepas dari ketentuan-ketentuan yang ada, baik yang berkaitan dengan organisasi Ikatan Notaris
Indonesia (I.N.I) maupun Undang-Undang Jabatan Notaris ( UUJN ). Dewan Kehormatan merupakan alat
perlengkapan perkumpulan yang berwenang melakukan pemeriksaan atas segala pelanggaran terhadap
Kode Etik yang bersifat internal atau yang tidak mempunyai kaitan dengan kepentingan masyarakat
secara langsung dan menjatuhkan sanksi kepada pelanggarannya sesuai dengan kewenangannya. 17
Bagi Notaris yang melakukan pelanggaran Kode Etik, Dewan Kehormatan berkoordinasi dengan Majelis
Pengawas berwenang melakukan pemeriksaan atas pelanggaran tersebut dan dapat menjatuhkan sanksi
Perdata atau sanksi Administratif kepada pelanggarannya, sanksi Administratif yang dikenakan terhadap
anggota Ikatan Notaris Indonesia yang melakukan pelanggaran Kode Etik dapat berupa : a. Teguran; b.
Peringatan; c. Pemberhentian Sementara (Schorzing) dari keanggotaan Perkumpulan; d. Pemberhentian
Dengan Hormat (Onzetting) dari keanggota Perkumpulan; e. Pemberhentian Dengan Tidak Hormat dari
keanggotaan Perkumpulan. Notaris yang diberikan sanksi atas pelanggaran Kode Etik dapat melakukan
upaya pembelaan diri dan dapat mengajukan banding secara bertingkat terhadap putusan Dewan
Kehormatan Daerah kepada Dewan Kehormatan Wilayah dan Dewan Kehormatan Pusat sebagai
pemeriksaan tingkat akhir. Oleh karena itu, sangatlah penting bagi para Notaris untuk dapat lebih
memahami sejauh mana perbuatan itu dapat dikatakan sebagai pelanggaran Kode Etik Jabatan Notaris,
bagaimana efektivitas organisasi/perkumpulan Ikatan Notaris Indonesia (I.N.I) dalam memberikan
pembinaan terhadap para Notaris agar tidak terjadi hal-hal yang merugikan Notaris dan Masyarakat
yang dilayaninya. Berdasarkan kesemuanya itu, maka penulis tertarik untuk melakukan menyusun dalam
tesis dengan judul “ Mekanisme Pemberian Sanksi Terhadap Notaris Yang Melakukan Pelanggaran Kode
Etik Jabatan Notaris “. 18 B. Perumusan Masalah Perumusan Masalah merupakan hal yang sangat
penting dalam suatu penelitian, karena dengan perumusan masalah seorang peneliti telah
mengidentifikasikan persoalan yang diteliti sehingga sasaaran yang hendak dicapai menjadi jelas dan
terarah. Berdasarkan latar belakang kesemuannya tersebut diatas, maka Perumusan Masalah dalam
penelitian ini dapat penulis rumuskan sebagai berikut : 1. Bagaimana mekanisme pemberian Sanksi
Terhadap Notaris Yang Melakukan Pelanggaran Kode Etik Jabatan Notaris ? 2. Apa upaya-upaya yang
dapat dilakukan oleh Notaris yang dijatukan sanksi pelanggaran Kode Etik Jabatan Notaris untuk
mengajukan keberatan ? C. Tujuan Penelitian 1. Untuk menganalisis daya mengikat sanksi yang
dijatuhkan Dewan Kehormatan Ikatan Notaris Indonesia sebagai organisasi profesi terhadap Notaris
yang melanggar Kode Etik Jabatan Notaris. 2. Untuk menganalisis upaya-upaya yang dapat dilakaukan
oleh Notaris yang dijatuhi sanksi pelanggaran Kode Etik Jabatan Notaris untuk mengajukan keberatan.
19 D. Kegunaan Penelitian 1. Kegunaan Teoritis Hasil penelitian ini diharapkan dapat digunakan sebagai
bahan masukan pengembangan ilmu pengetahuan di bidang Hukum Perdata terkait dengan
pelaksanaan Jabatan Notaris 2. Kegunaan Praktis Dengan penelitian ini diharapkan dapat memberikan
masukan yang sangat berharga bagi berbagai pihak yang terkait dalam pelaksanaan Jabatan Notaris. E.
Kerangka Konseptual dan Kerangka Teoritis 1) Kerangka Konseptual Undang-undang Dasar Negara
Republik Indonesia tahun 1945 menentukan secara tegas bahwa negara Republik Indonesia adalah
negara Hukum. Prinsip negara hukum menjamin kepastian, ketertiban, dan perlindungan hukum yang
berintikan kebenaran dan keadilan. Kepastian, ketertiban dan perlindungan hukum dalam kehidupan
masyarakat memerlukan adanya alat bukti yang menentukan dengan jelas hak dan kewajiban seseorang
sebagai subyek hukum dalam masyarakat. Dalam menjalankan jabatannya, seorang Notaris tidak cukup
hanya memiliki keahlian hukum tetapi juga harus dilandasi tanggung jawab dan penghayatan terhadap
keluhuran martabat dan Etika. Peranan dan kewenangan Notaris sangat penting bagi lalu lintas hukum
di masyarakat, oleh karena itu Notaris harus dapat menjalankan profesinya secara profesional,
berdedikasi tinggi 20 serta selalu menjunjung harkat dan martabatnya dengan menegakkan Kode Etik
Notaris. Sebagaimana yang dituntut oleh hukum dan kepentingan masyarakat agar dapat menjalankan
tugasnya dengan baik sebagai pelayan masyarakat, seorang profesional harus menjalankan jabatanya
dengan menyelaraskan antara keahlian yang dimilikinya dengan menjunjung tinggi Kode Etik Profesi.
Notaris yang tidak bertanggung jawab dan tidak menjunjung tinggi hukum dan martabat serta keluhuran
jabatannya adalah berbahaya, tidak hanya bagi individu tetapi juga bagi masyarakat yang dilayaninya.
Selain dari adanya tanggung jawab dan etika profesi yang tinggi, juga adanya integritas dan moralitas
yang baik, hal ini merupakan persyaratan yang harus dimiliki oleh Notaris. Apabila, notaris memenuhi
persyaratan – persyaratan tersebut, maka dapat diharapkan Notaris akan melakukan tugasnya dengan
baik sesuai dengan tuntutan hukum dan kepentingan masyarakat. Etika Profesi adalah Norma-norma,
syarat-syarat dan ketentuan-ketentuan yang harus dipenuhi oleh sekelompok orang yang disebut
sebagai kalangan profesional. Oleh karena itu, sangatlah penting bagi para Notaris untuk dapat lebih
memahami sejauhmana perbuatan itu dapat dikatakan sebagai pelanggaran kode Etik, bagaimana
efektivitas organisasi/perkumpulan Ikatan Notaris Indonesia (I.N.I) dalam memberikan pembinaan
terhadap para Notaris agar tidak terjadi halhal yang merugikan Notaris dan masyarakat yang
dilayaninya. Berdasarkan hal-hal tersebut maka permasalahan yang akan diteliti dalam penelitian ini
adalah : Bagaimana daya mengikat sanksi yang dijatuhkan Dewan 21 Kehormatan Ikatan Notaris
Indonesia sebagai organisasi profesi terhadap Notaris yang melanggar Kode Etik dan upaya-upaya yang
dapat dilakukan oleh Notaris yang dijatuhkan sanksi pelanggaran Kode Etik jabatan notaris untuk
mengajukan keberatan. Bagi Notaris yang melakukan pelanggaran Kode Etik, Dewan Kehormatan dapat
menjatuhkan sanksi kepada pelanggarannya. Notaris yang dijatuhkan sanksi atas pelanggaran Kode Etik
dapat melakukan upaya pembelaan diri dan dapat mengajukan banding secara bertingkat terhadap
putusan Dewan Kehormatan Daerah (DKD), kepada Dewan Kehormatan Wilayah (DKW) dan Dewan
Kehormatan Pusat (DKP) sebagai pemeriksaan tingkat akhir. 2) Kerangka Teoritis Mekanisme pemberian
sanksi terhadap Notaris yang melakukan pelanggaran Kode Etik Jabatan Notaris dengan hal tersebut
maka penulisan tesis ini digunakan Teori Kepastian Hukum dan Teori Keadilan. 1. Teori Kepastian Hukum
Menurut Utrecht, Kepastian hukum mengandung dua pengertian yaitu pertama, adanya aturan yang
bersifat umum membuat individu mengetahui perbuatan apa yang boleh atau tidak boleh dilakukan,
dan kedua, berupa keamanan hukum bagi individu dari kesewenangan pemerintah karena dengan
adanya aturan yang bersifat umum itu individu dapat mengetahui apa saja yang boleh dibebankan atau
dilakukan oleh negara terhadap individu. 22 2. Teori Keadilan Teori Keadilan menyangkut hak,
kebebasan, peluang kekuasaan, pendapatan, kemakmuran. Menurut Aristoteles Teori Keadilan dibagi
menjadi 5 yaitu Keadilan Komutatif, Distributif, Kodrat Alam, Konvensional dan Keadilan Perbaikan.
Menurut teorinya mengemukakan 5 jenis perbuatan yang dapat digolongkan adil. Kelima jenis keadilan
yang dikemukakan oleh Aristoteles itu adalah sebagai berikut : a. Keadilan Komutatif adalah perlakuan
terhadap seseorang dengan tidak melihat jasa-jasa yang telah diberikannya. b. Keadilan Distributif
adalah perlakuan terhadap seorang sesuai dengan jasa-jasa yang diberikannya c. Keadilan Kodrat Alam
adalah memberi sesuai dengan yang diberikan oleh orang lain kepada kita d. Keadilan Konvensional
adalah kondisi jika seorang warga negara telah menaati segala peraturan perundang-undangan yang
telah dikeluarkan. e. Keadilan Perbaikan adalah jika seseorang telah berusaha memulihkan nama baik
orang lain yang telah tercemar. Keadilan merupakan alat pemersatu tatanan kehidupan bermasyarakat
yang beradab. Untuk itu hukum diciptakan agar supaya tiap individu anggota masyarakat serta
penyelenggara negara melaksanakan tindakan yang dibutuhkan guna menjaga hubungan sosial, dan
tercapainya tujuan kehidupan bermasyarakat secara bersamaan atau sebaliknya supaya tidak
melakukan tindakan yang bisa 23 merusak suatu tatanan keadilan. Apabila tindakan yang diperintahkan
tidak dapat dilakukan atau dilanggar, menyebabkan tatanan sosial terganggu disebabkan terciderainya
keadilan. Guna mengembalikan suatu ketertiban kehidupan bermasyarakat keadilan harus ditegakkan.
Setiap pelanggaran hukum tentu akan mendapatkan sanksi hukum sebagaimana sesuai dengan tingkat
pelanggarannya. F. Metode Penelitian Setiap kegiatan ilmiah untuk lebih terarah, akurat dan rasional
sehingga sesuai dengan kriteria keilmuan dan dapat dipertanggung jawabkan keobyektifannya,
diperlukan suatu metode yang sesuai dengan obyek yang dibicarakan. Karena penelitian hukum
bertujuan untuk memberikan kemampuan dan ketrampilan untuk mengungkap kebenaran, melalui
kegiatan-kegiatan yang sistematis, metodologis dan konsisten. Menurut Maraton (21) ilmu mencakup
lapangan yang sangat luas, menjangkau semua aspek yang mencakup progres manusia secara
menyeluruh termasuk didalamnya pengetahuan yang telah dirumuskan secara sistematis melalui
pengamatan dan percobaan yang terus menerus, yang telah menghasilkan penemuan kebenaran
bersifat umum. Sementara itu, V.A. Tan, menyatakan bahwa ilmu bukan saja merupakan suatu
himpunan pengetahuan yang sistematis, tetapi juga merupakan suatu metodologi. Ilmu telah
memberikan metode dan sistem, yang mana tanpa ilmu semua iitu hanya merupakan suatu kebutuhan
belaka. Nilai ilmu tidak saja terletak dalam pengetahuan yang dikandungnya, sehingga ilmuan
21Sebagaimana dikutip oleh Moh. Nazir dalam bukunya, 1988, metode penelitian, Jakarta: Ghalia
Indonesia, hal 10 24 menjadi seorang yang ilmiah, baik dalam ketrampilan, pandangan, maupun
perilakunya. Untuk keberhasilan suatu penelitian yang baik dalam memberikan gambaran dan jawaban
terhadap permasalahan yang diangkat, tujuan serta manfaat penelitian sangat ditentukan oleh metode
yang digunakan dalam penelitian. Penggunaan metode tersebut dimaksudkan agar penelitian dapat
memberikan kebenaran. “Penelitian merupakan suatu sarana yang dipergunakan oleh manusia untuk
memperkuat, membina serta mengembangkan ilmu pengetahuan.(22) Dapat dikutip pendapat
Soeryono Soekanto mengenai penelitian hukum, sebagai berikut.(23) “Penelitian hukum pada dasarnya
merupkan suatu kegiatan ilmiah yang didasarkan pada metode, sistematika dan pemikiran tertentu yang
bertujuan untuk mempelajari satu atau beberapa gejala hukum tertentu dengan jalan menganalisisnya,
kecuali itu maka juga diadakan pemeriksaan yang mendalam terhadap fakta hukum tersebut untuk
kemudian yang ditimbulkan di dalam gejala yang bersangkutan.” 1. Metode Pendekatan Penelitian ini
menggunakan metode pendekatan penelitian Yuridis Normatif. Menurut Soerjono Soekanto, penelitian
hukum yang dilakukan 22Soerjono Soekanto, Pengantar Penelitian Hukum, cet. III, (Jakarta: Universitas
Indonesia, 1986), hal 3. 23Soerjono Soekanto, Pengantar Penelitian Hukum, (Jakarta : UI Press, 1981)
hal.43. 25 dengan cara penelitian bahan pustaka atau data sekunder belaka, dapat dinamakan penelitian
Normatif atau penelitian hukum kepustakaan.(24) Pendekatan yuridis normatif digunakan untuk
menganalisis berbagai peraturan perundang-undangan terkait dengan mekanisme pemberian sanksi
terhadap notaris yang melakukan pelanggaran kode etik jabatan notaris. 2. Spesifikasi Penelitian
Spesifikasi penelitian ini adalah Deskriptif Analitis.(25) Deskriptif karena penelitian ini bertujuan
memperoleh gambaran secara rinci, sistematis,danmenyeluruh mengenai mekanisme pemberian sanksi
terhadap Notaris yang melakukan pelanggaran Kode Etik jabatan notaris. Bersifat analitis yaitu dengan
cara menganalisa data yang diperoleh dari perundang-undangan yang berlaku, pendapat para ahli, dan
teori-teori ilmu hukum yang berkaitan dengan mekanisme pemberian sanksi terhadap Notaris yang
melakukan pelanggaran Kode Etik jabatan notaris. Seperti dikemukakan oleh Soeryono Soekanto,
“Penelitian deskriptif analitis adalah penelitian yang bertujuan untuk membuat gambaran atau lukisan
secara sistematik, faktual dan akurat mengenai fakta-fakta, sifat-sifat serta hubungan fenomena yang
diselidiki”.(26) 3. Sumber dan Jenis Data Data Sekunder terdiri dari : 24Mahmudji., Sri dan Soejono
Soekanto, 2003, Penelitian Hukum Normatif:Suatu Tinjauan Singkat., Raja Grafindo, Jakarta, hal.14
25Soerjono Soekanto, Pengantar Penelitian Hukum, (Jakarta: Universitas Indonesia Press, 1984)
26Soerjono Soekanto, Metodologi Research (Yogyakarta: Andi Offset, 1998), hal 3 26 a. Bahan hukum
primer berupa peraturan perundang-undangan yang terkait dengan topik pembahasan penelitian ini,
antara lain: 1. Kitab Undang-Undang Hukum Perdata. 2. Kitab Undang-Undang Hukum Pidana. 3.
Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 30 Tahun 2004 tentang Jabatan Notaris, Lembaran Negara
Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 117, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor
4432. 4. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 2 Tahun 2014 tentang Perubahan Atas Undang-
Undang Nomor 30 Tahun 2004 tentang Jabatan Notaris, Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun
2014 Nomor 3, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5491. b. Bahan hukum sekunder
yaitu bahan hukum yang memberikan petunjuk sertapenjelasan terhadap bahan hukum primer, seperti
buku, koran, artikel, dan karya ilmiah lainnya yang berhubungan dengan penelitian ini. c. Bahan hukum
tersier yaitu bahan hukum yang memberikan petunjuk dan penjelasan terhadap bahan hukum primer
dan bahan hukum sekunder yang terdiri dari Kamus Bahasa Indonesia dan Kamus Hukum. Data yang
telah diperoleh tersebut kemudian diinterprestasi, dianalisis dan diolah penulis. Penelitian ini
menggunakan metode penelitian dengan pendekatan kualitatif, yaitu menganalisis data sekunder 27
sehingga dapat ditarik keimpulan yang berdasar pada peraturan terkait yang pada akhirnya dapat
menjawab rumusan permasalahan dalam penulisan ini. Pendekatan kualitatif merupakan tata cara
penelitian yang menghasilkan data deskriptif analitis, yaitu apa yang dinyatakan oleh sasaran penelitiaan
yang bersangkutan secara tertulis atau lisan, dan perilaku nyata.(27) atau memberi gambaran tentang
suatu gejala atau keadaan sehingga dapat diperoleh data mengenai hubungan hukum antara satu gejala
hukum dengan gejala lainnya. 4. Teknik Pengumpulan Data Kegiatan yang dilakukan dalam
pengumpulan data dalam penelitian ini adalah dengan cara mengumpulkan data sekunder berupa
dokumen- , adokumen, arsip-arsip, literatur, dan yang mendukung. Adapun penelitian ilmiah ini
menggunakan teknik studi kepustakaan dalam mengumpulkan dan menyusun data yang diperlukan.
Penelitian kepustakaan, dilakukan untuk memperoleh data sekunder guna mendapatkan landasan
teoritis berupa pendapat-pendapat para ahli atau pihak-pihak yang berwenang dan juga untuk
memperoleh informasi baik dalam bentuk-bentuk ketentuan formal maupun data, melalui naskah resmi
yang ada ataupun bahan hukum yang berupa Peraturan Perundang-undangan yang berlaku, buku-buku
hasil penelitian, dokumentasi, maajalah, jurnal, surat kabar, internet dan sumber lainnya dengan
masalah-masalah yang akan dibahas dalam tesis ini. 27Ibid, hal 67 28 5. Teknik Analisa Data. a.
Pengolahan Data dilakukan dengan cara editing, yaitu penyusunan kembali data yang ada dengan
melakukan penyeleksian hal-hal yang relevan dengan yang tidak relevan dengan penelitian. Selanjutnya
dilakukan pengelompokan data secara sistematis. b. Analisa Data yang ditempuh dalam penelitian ini
adalah analitis kualitatif dengan menggunakan metode penguraian deskriptif analisis. Setelah data
dikumpulkan, tahap berikutnya adalah menganalisa data. Analisa data merupakan hal yang sangat
penting dalam suatu penelitian yang bertujuan untuk menemukan jawaban terhadap suatu masalah
yang diteliti. Sebelum menganalisa data, terlebih dahulu diadakan pemeriksaan dan evaluasi terhadap
semua data yang ada untuk mengetahui keakuratannya. Proses analisis data sebenarnya merupakan
pekerjaan untuk menemukan tema-tema dan merumuskan hipotesa-hipotesa, meskipun sebenarnya
tidak ada formula yang pasti untuk dapat digunakan merumuskan hipotesa. Adapun pada analisis data
tema dan hipotesa lebih diperkaya dan diperdalam dengan cara menggabungkannya dengan sumber-
sumber data yang ada. G. Sistematika Penulisan Untuk menyusun tesis ini penulis membahas dan
menguraikan masalah, yang dibagi dalam (4) empat bab. Adapun maksud dari pembagian tesis ini
kedalam bab-bab dan sub bab adalah agar untuk menjelaskan dan menguraikan setiap permasalahan
dengan baik. BAB I PENDAHULUAN 29 Mengenai pendahuluan bab ini merupakan bab pendahuluan
yang berisikan antara lain Latar Belakang Masalah, Perumusan Masalah, Tujuan Penelitian, Kegunaan
Penelitian, Kerangka Konseptual dan Kerangka Teoritis, Metode Penelitian dan Sistematika Penulisan.
BAB II TINJAUAN PUSTAKA Di dalam bab ini akan menyajikan landasan teori tentang Tinjauan Umum
Tentang Notaris, Tinjauan Umum Tentang Kode Etik Notaris dan Tinjauan Umum Sanksi Pelanggaran
Kode Etik. BAB III HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN Hasil Penelitian dan Pembahasan, dalam bab ini
akan diuraikan : Pelaksanaan mekanisme pemberian sanksi terhadap Notaris yang melakukan
pelanggaran kode etik jabatan Notaris, dan upaya - upaya yang dapat dilakukan oleh Notaris yang
dijatuhi sanksi pelanggaran kode etik. BAB IV PENUTUP Di dalam Bab IV merupakan penutup yang
memuat kesimpulan dan saran dari hasil penelitian ini.

Anda mungkin juga menyukai