Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF atau baca online di Scribd
AZ kata ghafur sama dengan asal kata asma Al-Ghaffar, yaitu "me
nutup”. Asma Al-GhafGr bermakna sama dengan Al-Ghaffar, namun Al-
Ghafur adalah asma yang menekankan sifat-sifat yang terkandung dalam
asma Al-Ghaffar, menunjukkan bahwa Al-Ghafar-lah yang paling sempurna
ke-ghaffér-annya.
Al-Ghafdr bermakna Dia yang maha sempurna ghaffar-Nya. Asma ini
menekankan bahwa sesungguhnya ghaffar-Nya dilakukan berulang-ulang,
tanpa batas dan terus-menerus. Dialah yang terus menerus menutupi aib dan
dosa hamba-Nya, baik dari mata manusia maupun dari mata penghuni langit.
Dia tak akan lelah atau jenuh mengampuni, sehingga asma ini seakan-akan
mengundang hamba-Nya untuk terus-menerus memohon ampun dan tidak
kehilangan harapan kepada-Nya.
Dalam sebuah hadis qudsi, disebutkan “Hambaku! Andaikan kau datang
(meminta ampun) kepada-Ku dengan dosa hampir sebanyak isi bumi, kusam-
but kedatanganmu dengan maghfirah (pengampunan) sebanyak itu pula
asalkan engkau tidak menyekutukan Aku dengan sesuatu pun.
00
Abdul Ghafdr adalah hamba yang tidak akan pernah kehilangan harapan akan
ampunan dan kepemaafan Allah. Karena ia berharap diampuni-Nya, maka ia
adalah seorang hamba yang suka memaafkan dan menutupi aib orang lain.
la memaafkan dengan penuh keikhlasan dan berulang-ulang, meski terus
menerus dan pada orang yang sama.
oo)
“Ya Allah, sesungguhnya aku telah banyak menzhalimi diriku sendiri. Tidak ada
yang dapat mengampuni dosa kecuali Engkau, maka karuniakanlah ampunan
dari sisi-Mu dan rahmatilah aku. Sesungguhnya Engkau Maha Pengampun lagi
Maha Penyayang.” (H.R. Bukhari)yukur berarti “pujian atas kebaikan” dan “membalas kebaikan dengan
kebaikan yang lain”. Asma Al-Syakdr bermakna “Dia yang paling baik
memberikan balasan atas perbuatan baik.” Al-Syakdr juga bermakna bahwa
Allah-lah yang paling tinggi pujian-Nya atas perbuatan baik.
Al-Syakir-lah yang paling berlipat ganda ketika memberikan balasan atas
perbuatan baik. Balasan-balasan-Nya tidak berbatas waktu dan tak terhitung,
meski untuk perbuatan atau amal yang berbatas waktu dan sedikit.
oo
Hamba yang menghayati makna Al-SyakGr adalah hamba yang memahami
bahwa segala sesuatu yang ia miliki, termasuk dirinya sendiri, sesungguhnya
adalah karunia Allah semata. Sebagai rasa syukur atas karunia tersebut, maka
ia hanya menggunakan segala yang ia miliki sesuai dengan kehendak Allah
ta’ala. Dengan demikian ia menjadi seorang hamba yang tidak ada satu pun
hal buruk yang berasal dari dirnya.
la meneladani asma Al-SyakGr dengan menjadi seorang yang senan-
tiasa membalas perbuatan baik yang ia terima. Syukur yang demikian juga
merupakan bagian dari syukur kepada Allah, sesuai hadits “Tidak bersyukur
kepada Allah siapa yang tidak bersyukur kepada manusia.” (H.R. Abu Daud
dan Tirmizi)
Manifestasi syukur terbagi dalam empat hal: tubuhnya (digunakan untuk
ibadah kepada Allah dan menjauhi kemaksiatan); lisan (berzikir kepada Allah,
serta tutur kata yang baik dan menjauhi yang buruk); harta (digunakan untuk
hal-hal maslahat yang diridhai Allah dan menjauhi kemudaratan); hatinya
(berzikir dan bermakrifat kepada Allah)
foo)
“Tuhanku, anugerahilah aku kemampuan untuk mensyukuri nikmat-Mu yang
telah Engkau anugerahkan kepadaku dan kepada ibu bapakku, dan (anugerahi
pula aku kemampuan) untuk beramal shaleh yang Engkau ridhai, serta jadikan-
lah kebaikan bersinambung untukku pada anak keturunanku. Sesungguhnya
aku bertaubat kepada-Mu dan sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang
berserah diri." (Al-Ahqaf [46]: 15)gle Se
L-Aliy menggambarkan kemahatinggian, namun bukan terkait pada
\jarak, posisi, atau tempat. Ketinggian Al-Aliy menggambarkan kelayakan-
Nya, yang layak bagi segala keagungan dan kemuliaan-Nya.
Jika dikatakan bahwa Allah bersemayam di atas ‘Arsy, bukan berarti
bahwa Allah menempati tempat itu. ‘Arsy adalah ciptaan-Nya yang tertinggi
dan tak terjangkau ukuran, dan yang menjangkaunya hanyalah sesuatu yang
memiliki kesucian agung dan lebih tinggi lagi. Allah bahkan melebihi ‘Arsy;
ungkapan “Allah bersemayam di atas ‘Arasy” menunjukkan bahwa Dia memiliki
kekuasaan mutlak atas ‘Arsy. Ilustrasi Allah tentang ‘Arsy mendekatkan kita
untuk lebih memahami tingginya keagungan-Nya, yang tak terjangkau oleh
apa pun juga.
Segala tentang diri-Nya, seperti kekuatan-Nya, keindahan-Nya, kepe-
murahan-Nya maupun keperkasaan-Nya sedemikian tinggi sehingga tak
tertandingi oleh apa pun. Waktu tak membatasinya karena Dialah penguasa
waktu. Tempat tak membatasinya karena Dialah tempat segala tempat. Dia
Mahatinggi atas segala yang pernah, sedang, dan akan ada. la Mahatinggi,
sedemikian tingginya sehingga tidak menyerupai apa pun dan tidak terjang-
kau apa pun.
oo
Hamba yang menghayati asma Al-Aliy adalah Abdul ‘Aliy. la adalah hamba
yang tawadhu dan rendah hati. la memahami bahwa yang tertinggi di antara
manusia adalah yang paling menyadari kedudukan rendahnya di hadapan
Allah ta’ala. la menyukai ketinggian esensi segala sesuatu, dan tidak suka
dengan hal-hal yang sia-sia
oo
"Ya Allah, Engkau yang Mahatinggi yang bebas dari segala batas dan arah, suci
dari semua waham dan imajinasi. Engkau telah menganugerahkan junjungan
kami Muhammad Saw. derajat yang setinggi-tingginya dan menjadikannya seba-
gai pembuka semua pintu yang menuju ridha-Mu. Maka, Ya Allah, anugerahilah
kami setumpuk dari warisan beliau yang amat bernilai, serta kemuliaannya
yang amat tinggi.”x X
BAZ 8 :
DG
:
\aeice dari huruf ka, ba dan ra bermakna “besar” dalam pengertian
antonim dari kecil. Asma Al-Kabir dapat dikaitkan dengan kebesaran dan
keagungan, namun lebih dekat jika dikaitkan dengan makna “kesempurnaan
zat".
Dialah zat yang paling sempurna dalam segala sesuatunya. Wujud-Nya
sempurna, keabadian-Nya sempurna. Tanpa awal dan tanpa akhir, tanpa se-
bab akibat. Tak tergambar dalam hati atau pikiran, tak akan terjangkau oleh
penglihatan. Kebesaran, keagungan dan kesempurnaan-Nya mutlak.
AL-Kabir adalah Dia Yang Mahabesar, yang zat-Nya, sifat-Nya dan per-
buatan-Nya ada di luar segala batas dan ukuran. Menciptakan atom atau alam
semesta sama mudahnya bagi-Nya. Segala anugerah-Nya untuk makhluk ada
dalam limpahan kebesaran-Nya yang tak terbilang
Allah memerintahkan Rasul dan umatnya untuk mengagungkan Allah
dalam hati dan ucapan. Dengan hati, berupa pengagungan-Nya dengan segala
sifat dan asma-Nya, hingga hati merasakan keagungan diri-Nya dan kebesaran
kekuasaan-Nya. Dengan ucapan berupa sering-sering mengucapkan “Allahu
Akbar.”
oe
Baar
co
Abdul Kabir adalah hamba yang menyadari bahwa kebesaran hanya milik Al-
lah. la memahami dirinya makhluk yang terbatas dan dibatasi dalam segala
hal oleh ciptaan Allah yang lain. Takabur sudah habis terkikis dari jiwanya.
la menjadi takut kepada Allah, takut akan siksa-Nya dan takut kehilangan
cinta-Nya. Abdul Kabir tumbuh dan matang oleh tangan Allah, bukan karena
usahanya sendiri maupun bantuan orang lain. la hanya menyandarkan segala
kebutuhannya pada Sang Mahabesar.
oo
“Ya Allah yang Mahabesar, Mahaagung, Mahatinggi, kami memohon kepada-Mu
kebaikan, kelebihan dan kekayaan, sehingga kami tidak menyaksikan apa pun
kecuali kebesaran-Mu. Dan Ya Allah, kami memohon kiranya Engkau menghiasi
kami dengan pakaian kerendahan hati serta pengetahuan diri sehingga kami
benar-benar dapat menjadi hamba-hamba-Mu dalam segala saat dan keadaan.
Tuhanku, sesungguhnya Engkau maha mendengar permohonan.”H afidz mengandung makna “memelihara”, "menjaga”, "mengawasi” serta
“tidak lengah”. Asma Al-Hafizh bermakna bahwa Dialah sebaik-baik
pemelihara, penjaga dan pengawas, dan Dia tidak lengah dalam penjagaan
dan pengawasan. Tidak ada yang luput dari pemeliharaan dan penjagaan-Nya;
baik yang telah lalu, yang sedang terjadi dan yang akan terjadi. Dia mustahil
melupakan sesuatu, atau lengah terhadap sesuatu. Penjagaan dan pemeli-
haraan Al-Hafizh tidak membuat diri-Nya lelah dan mengantuk, sebagaimana
dikatakan-Nya dalam Ayat Kursi (Q.S. AL-Baqarah [2]: 255)
Menurut Imam Al-Ghazali, makna Al-Hafizh adalah “sangat pemelihara”.
Allah memelihara dengan dua cara. Yang pertama adalah dari sisi melang-
gengkan segala sesuatu yang wujud sampai waktu yang Dia tetapkan, dan
dengan segala hal yang terkait dengan upaya melanggengkan tersebut. Yang
kedua adalah dari sisi memelihara dengan hal yang bertolak belakang. Seba-
gai contoh, air dapat memadamkan api, dan api pun mampu menguapkan air.
Atau, suatu negeri dipelihara Allah dengan menjadikan negeri-negeri lain yang
memusuhinya saling berperang. Dalam hal ini Allah memelihara kedamaian
dengan peperangan.
oo
Abdul Hafizh adalah hamba yang senantiasa memelihara diri dari apa-apa
yang dapat menjauhkannya dari Allah Ta’ala. la pun menjaga sedapat mungkin
kebaikan-kebaikan yang telah ada padanya, sehingga tidak menurunkan dera-
jat dirinya di mata Allah ta’ala. Kesadaran bahwa dirinya ada dalam penjagaan
Allah ta‘ala membuatnya tidak mengenal takut dan jauh dari kekhawatiran. la
sepenuhnya mempercayakan diri dan keluarganya pada penjagaan Al-Hafizh,
karena Dia mampu menjaga dengan jauh lebih baik dari dirinya.
oo
“Ya Allah, aku memohon kepada-Mu keselamatan di dunia dan akhirat. Ya Allah,
aku memohon kepadamu ampunan dan keselamatan untuk agamaku, duniaku,
keluargaku dan hartaku. Ya Allah, tutupilah auratku, berilah aku rasa aman dari
ketakutan. Ya Allah, peliharalah aku dari depanku, dari belakang, dari kanan,
dari kiri dan dari atasku, dan aku berlindung kepada-Mu agar tidak tertimpa
bencana dari bawahku."sma Al-Mugit berasal dari rangkaian huruf-huruf mim, gaf dan ta. Kata-
kata yang berasal dari huruf-huruf tersebut bermakna “genggaman”,
“pemeliharaan”, "kekuasaan” serta “kemampuan”.
‘Al-Mugit dapat dipahami sebagai Yang Maha Memberi Rezeki, baik rezeki
jasmani maupun ruhani. Asma ini dibedakan dengan asma Al-Razzaq karena
dalam Al-Mugit terdapat penekanan di sisi “keterjaminan rezeki, baik banyak
maupun sedikit." Sedangkan dalam asma Al-Razzaq penekanannya adalah
pada pengulangan pemberian rezeki dan pada keberlimpahan pemberiannya.
Jika dikaitkan dengan makna kekuasaan, maka asma ini bermakna “Dia yang
segala rezeki ada dalam genggaman-Nya, dan yang Mahakuasa menjamin
ketercukupan rezeki makhluk-Nya".
Al-Mugit adalah yang menjaga makhluk-Nya dari kelaparan dan ketidak-
cukupan makanan, baik makanan jasmani atau ruhani. Ar-Razzéq adalah asma
yang menggambarkan kepemilikan dan hak-Nya dalam menganugerahkan
rezeki dalam bentuk apa pun dengan berlimpah.
foo)
Hamba Al-Mugit adalah hamba yang meyakini bahwa Allah telah menetapkan
untuk menjamin kebutuhan dirinya dan keluarganya sejak zaman azali. Tidak
ada sesuatu pun yang diciptakan-Nya, tanpa la juga menjamin kecukupan
makanannya. la yakin bahwa apa yang akan menjadi hak seseorang pasti
akan sampai dengan bagaimanapun caranya. Dan apa yang bukan menjadi
hak seseorang, tidak akan sampai kepadanya walaupun diupayakan dengan
segenap kemampuannya.
Abdul Mugit dianugerahi kepekaan tentang kebutuhan orang lain. la
dimudahkan untuk memenuhi kebutuhan itu dengan jumlah yang tepat, saat
yang tepat, dan tanpa kehabisan.
oo
“Ya Allah, Engkaulah Al-Mugit, yang menciptakan makanan, membagi dan
meneruskannya kepada hamba-hamba-Mu, maka permudahlah bagi jiwaku
makanannya berupa cinta dan iman, serta bagi jasadku makanan dan minuman
bergizi serta halal, lezat, lagi baik akibatnya.”AL-HASIB
ata yang berakar dari huruf-huruf ha, sin dan ba bermakna *menghitung”
Kes “mencukupi". Asma Al-Hasib bermakna Dialah yang memberi kecu-
kupan bagi siapa yang mempercayakan kebutuhan dirinya pada Al-Hasib. Jika
Dia berkehendak untuk mencukupi kebutuhan hamba, segala sesuatu akan
tunduk pada kehendak-Nya. la pula yang menciptakan sarana-sarana demi
tersampaikannya pemenuhan kebutuhan itu pada yang dikehendaki-Nya.
Dengan demikian, pemenuhan kebutuhan yang tidak secara langsung,
seperti bayi yang membutuhkan ibunya, pada hakikatnya Allah-lah yang me-
menuhinya, karena Allah menciptakan ibunya, menjadikan susu pada ibunya,
yang memberikan bayi naluri untuk mengisap, dan menjadikan rasa cinta si
ibu kepada bayi sehingga ia mau menyusuinya.
Al-Hasib juga bisa dipahami dengan makna “menghitung”, bahwa Dialah
yang paling teliti, paling benar dan paling tepat perhitungannya. Perhitungan-
Nya tak membutuhkan alat, tak membutuhkan sebab maupun analisis dan
pemikiran. Hitungan-Nya mencakup segala hal. Yang lahir dan yang batin,
yang lalu, yang kini dan yang akan datang di alam semesta, semuanya sudah
tercakup dalam hitungannya yang mustahil memiliki kesalahan.
oo
Hamba yang meneladani sifat ini akan senantiasa menyadari bahwa Allah-lah
yang memberi kecukupan, sehingga lahir dari dirinya sifat merasa cukup atas
karunia-Nya. la tidak menjadi seorang hamba yang panjang angan-angan,
karena meyakini bahwa apa pun yang telah sampai padanya sudah dalam
perhitungan Allah ta’ala.
Ketika menghayati bahwa Allah sangat teliti perhitungannya, ia senantiasa
menghitung dirinya sendiri sebelum Allah menghitung segala amalnya kelak.
Karena takut dengan perhitungan Allah, ia akan sangat amanah dan berhati-
hati dalam perdagangan dan pembayaran, memenuhi hak-hak keluarga dan
orang lain, juga dalam pembayaran hak-hak fakir miskin yang ada pada dirinya,
seperti zakat dan sedekah. la tidak akan melakukan hal yang sia-sia, karena
menyadari bahwaia tidak akan mampu membayar waktu yang berlalu dengan
tanpa amal shaleh di dalamnya, sedangkan Allah mampu menghitung setiap
detik kekurangannya,
oo
“Cukuplah Allah yang Maha Mencukupi dan sebaik-baik wakil. Dialah sebaik-baik
pendukung dan pembela."ae
AL- aa] D4
ke jalil biasa dihubungkan dengan kedudukan yang tinggi atau peranan
yang penting. Asma Al-Jalil adalah “Dia yang menyandang sifat-sifat jalal
(keagungan, kebesaran, kemegahan, dan kesempurnaan)’.
Dialah Allah Al-Jalil, tidak ada sesuatu pun yang menandingi kesem-
purnaan dan keagungan-Nya. Tak ada sesuatu pun yang dapat menentang-Nya,
dan tak ada yang mampu menandingi keperkasaan-Nya. Pengetahuannya jalal,
kekekalannya jalal, kekuasaan-Nya jalal, pengampunan-Nya jalal, kasih sayang-
Nya jalal, kekayaan-Nya pun jalal. Menurut Al-Ghazali, sifat jalal Allah di mata
hati mereka yang mampu menyaksikannya akan menjadi jamal (keindahan).
Asma Al-Kabir menunjukkan kesempurnaan zat-Nya, Al-Jalil menunjukkan
kesempurnaan sifat-Nya, dan Al-Azhim menunjukkan kesempurnaan keduanya,
baik zat maupun sifat-Nya.
co
Abdul Jalil adalah hamba yang dianugerahi kesempurnaan oleh Allah
ta’ala. Perilakunya adalah perilaku Rasulullah, dan akhlaknya adalah Al-
Qur'an. la meneladani asma Al-Jalil dengan penampilan yang bersih, hati
yang bersih, sifatnya luhur dan mulia. Seluruh keluhuran yang ada padanya
menjadikan dirinya berlaku anggun dan memancarkan wibawa, mengundang
simpati dan cinta. Ke-jalal-an Allah ta‘ala membuatnya menjadi hamba yang,
tak henti-hentinya takjub kepada Allah, sehingga membuatnya bersujud
sedalam-dalamnya.
co
“Wahai Yang Mahaluhur, hidupkanlah kami sebagaimana hidup orang-orang
yang luhur. Ya Allah, ya Tuhanku. Engkaulah Al-Jalil. Lebur hatiku memandang
kecantikan dan keindahan-Mu. Bergetar jiwaku karena menyadari keagungan dan
kebesaran-Mu. Tampakkanlah padaku rahasia nama-Mu Al-Jalil sehingga aku
tidak melihat satu makhluk pun kecuali aku semakin tunduk bersujud di hadapan-
Mu, dan tidak memandang keindahan kecuali bersumber dari keindahan-Mu."
x
Oe
ep
Y
WY
yKee karim” berasal dari huruf-huruf kaf, ra dan mim yang akar katanya
mengandung makna "kemuliaan” dan “keistimewaan”. Karim juga men-
gandung makna “keluhuran budi"
Asma Al-Karim bermakna Dia yang Maha Pemurah ketika memberi, dan
memberi dengan pemberian yang terbaik. Dia Mahaluas anugerah-Nya, dan
memberi dengan anugerah yang terbaik. Pemberian-Nya jauh melebihi peng-
harapan. Jika melindungi, maka perlindungan-Nya jauh melebihi pengharapan
hamba-Nya. Al-Karim adalah Dia yang kedermawanannya begitu mulia dalam
semua hal. Ke-karim-an Allah mencakup segala hal dari sifat-Nya. Beriman atau
kafir, percaya atau tidak kepada-Nya, hamba yang saleh maupun pendosa,
tiada makhluk yang terlepas dari kedermawanannya yang agung dan mulia
lamemberi tanpa menghitung-hitung. kikir, atau serampangan. Asma Al-Karim
adalah asma yang menafikan segala sifat rendah dan hina dari diri-Nya.
Dia juga mengampuni ketika kuasa memberikan hukuman. Janji-janji-Nya
selalu ditepati, dengan amanah yang jauh melebihi harapan makhluk-Nya.
Dia memberi sebelum diminta, dan mengetahui semua kebutuhan sebelum
makhluk menyadari kebutuhannya sendiri.
oo
Abdul Karim adalah seorang hamba yang mempersaksikan mulianya kemura-
han Allah dalam segala hal. la menyadari bahwa dosa manusia tidak ada artinya
di hadapan ke-karim-an Allah, sehingga ia tidak pernah kehilangan harapan
atas cinta dan ampunan-Nya. la tidak saja pemurah, namun juga ramah dan
menghiasi dirinya dengan taqwa, karena di sisi Allah, manusia yang “akram”
(paling mulia) adalah mereka yang paling takwa (QS. Al-Hujurat [49]: 13)
oo
Rasulullah Saw. bersabda kepada Ali bin Abi Thalib ra, “Maukah aku ajarkan
kalimat yang apabila kamu mengatakannya niscaya Allah akan mengampunimu
walaupun kamu sudah diampuni? Katakanlah,
“Tiada tuhan selain Allah, yang Mahatinggi lagi Mahaagung. Tiada tuhan
selain Allah, yang Mahapenyantun lagi Mahamulia kedermawananannya. Tiada
tuhan selain Allah, Mahasuci Allah, Rabb-nya Arsy yang agung.”jee yang tersusun atas huruf ra, gaf dan ba bermakna “yang tegak
untuk memelihara sesuatu".
Al-Raqib adalah “Dia yang menyaksikan dan mengamati makhluk-Nya
tanpa henti”. Imam Al-Ghazali memaknai asma Al-Raqib dengan “Yang Maha
Mengetahui lagi Maha Memelihara”. Ke-raqib-an-Nya meliputi segala sesuatu.
Tiada satu hal pun yang luput dari pengawasan-Nya. la tidak lengah, penga-
wasan-Nya penuh dan tanpa henti, sesuai dengan kekekalan-Nya.
Kepengawasan Al-Raqib tidak dimaknai dalam pengertian mencari
kesalahan namun lebih dekat pada konteks melindungi dan memelihara.
Sebagai contoh, la memerintahkan malaikat raqib dan ‘atid (malaikat pencatat)
untuk tidak mencatat dosa seorang hamba jika belum dilakukannya. Namun
untuk sebuah niat baik, meski belum dilakukan, Allah mengetahui dan akan
mempahalainya.
oo
Hamba yang menghayati asma Al-Raqib menyadari bahwa Allah sedang men-
gawasinya, sehingga ia tidak dapat melewati hukum-hukum yang ditetapkan-
Nya. la akan menjadi hamba yang waspada, taat dan mengabdi kepada Allah.
Tidak akan ada amalnya yang luput dari pengawasan-Nya sehingga hilang.
Kepada hamba ini dikaruniai sifat ihsan, yaitu "mengabdi kepada Allah seakan-
akan engkau melihat-Nya. Jika kamu tidak melihat-Nya, maka (yakinlah bahwa)
sesungguhnya Dia melihatmu.” (H.R. Bukhari). Dengan demikian, Abdul Raqib
adalah hamba yang sepenuhnya mengawasi dan mengendalikan dirinya.
00
“Yq Allah, anugerahilah kami petunjuk sebagaimana mereka yang telah Engkau
anugerahi petunjuk. Jadikan kami selalu berada di hadirat-Mu yang tak pernah
lalai, lindungilah kami dengan perlindungan-Mu yang tak tersentuh. Wahai
Tuhan yang Maha Memelihara lagi Maha Mengawasi, aku memohon kiranya
Engkau memelihara dan menjaga kami dari tipu daya para penipu dan dari
dengkinya orang yang iri, wahai Tuhan yang paling penyayang dari semua
yang penyayang."Ke “mujib” berasal dari kata “ajaba” yang berarti *menjawab". “Mujib"
adalah "yang menjawab". Al-Mujib adalah Dia yang memperkenankan
doa hamba-hamba-Nya. Dialah yang mengabulkan permohonan mereka yang
meminta, bahkan memberi sebelum meminta dan melimpahkan pengabulan-
Nya. Al-Mujib adalah yang mengetahui hajat setiap makhluk sehingga mampu
mengabulkan sebelum diminta. Dia menolong orang yang terdesak dan mem-
butuhkan bantuan dengan kecukupan dari-Nya yang dermawan dan mulia.
Bahkan permohonan iblis pun dikabulkan-Nya ketika meminta perpanjangan
usia hingga hari akhir.
Firman Allah
“Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepada-Mu tentang Aku, jawab-
lah bahwa Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohon yang berdoa apa-
bila ia memohon kepada-Ku. Maka, hendaklah mereka itu memenuhi (segala
perintah-Ku) dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku agar mereka selalu
berada dalam kebenaran” (QS Al-Baqarah [2]: 186)
oo
Penghayatan pada asma Al-Mujib melahirkan sifat yang percaya penuh pada
Janji-Nya. Kepada manusia, ia akan cenderung memenuhi permintaan mereka
yang membutuhkan selama ia memiliki kemampuan. Undangan kepadanya
akan dipenuhinya, permintaan akan diperhatikannya. la bahkan memberi
sebelum meminta jika melihat ada makhluk-Nya yang terlihat butuh dan
terdesak.
Hamba Al-Mujib berkeyakinan bahwa Allah mengabulkan doa orang yang
berdoa kepada-Nya dan bahwa Allah tidak akan mengecewakan harapan
orang yang berlindung dan bersandar kepada-Nya. Oleh sebab itu, ia rajin
berdoa dan bermunajat, memilih waktu yang tepat saat berdoa, misalnya pada
sepertiga malam menjelang fajar. la tidak tergesa-gesa menanti doanya dika-
bulkan oleh Al-Mujib, karena yakin bahwa Allah akan mengabulkan doanya
pada waktu yang dipilih-Nya
oo
“Ya Tuhan Yang Maha Mengabulkan, kabulkanlah doa dan seruan kami, serta
luluskanlah semua keperluan kami.”Kz yang berakar dari huruf-huruf waw, sin dan ‘ain maknanya berkisar
pada lawan dari kesempitan dan kesulitan. Dari sini maknanya menjadi
kaya, mampu, luas, dan sebagainya.
‘Asma Al-Wasi’ bermakna bahwa segala sesuatu yang berasal dari-Nya
memiliki keluasan yang tak terbatas dan meliputi segala sesuatu. Ilmu-Nya,
kasih sayang-Nya, rahmat-Nya, kekuasaan-Nya, kepemurahan-Nya, kesabaran-
Nya, semuanya tak terbatas dan tak bertepi. Keragaman petunjuk-Nya begitu
luas tak terhitung, ragam ciptaan-Nya tak terukur. Segala sesuatu dari-Nya
bersifat menyeluruh, luas, dalam dan tak terhingga.
Al-Wasi’ adalah “Dia yang kelapangan-Nya tak bertepi". Asma ini juga
menjadi penegasan kemustahilan bahwa Dia tersentuh oleh kesulitan, ketidak-
mampuan, kesempitan, dan hal-hal lain yang serupa
oo
Hamba Al-Wasi’ adalah hamba yang dianugerahi pemahaman yang luas dan
dalam. la memahami hikmah banyak hal, sehingga keluasan pengetahuannya
tercermin dalam akhlaknya. Tidak ada lagi rasa takut miskin, iri hati, dan meng-
hakimi manusia maupun kejadian. Kelapangan batinnya membuatnya hidup
dalam kedamaian. Pikirannya, tindakannya, cara berfikir dan keputusannya
diwarnai hikmah dan kebijaksanaan.
Saat ditimpa kesulitan, dia enggan meminta bantuan kepada makhluk dan
hanya mengharapkan pertolongan Al-Wasi’ yang mahaluas kebaikan, keka-
yaan dan pemberiannya. Saat tergelincir dalam kemaksiatan, dia tidak jatuh
ke dalam keputusasaan dan segera bertaubat kepada Allah yang mahaluas
rahmat dan ampunan-Nya.
oo
“Ya Rabb kami, rahmat dan ilmu-Mu meliputi segala sesuatu, maka berilah am-
punan kepada orang-orang yang bertaubat dan mengikuti jalan-Mu. Peliharalah
mereka dari siksa api yang menyala-nyala. Ya Rabb kami, masukkanlah mereka ke
dalam surga Adn yang telah Engkau janjikan kepada mereka, dan orang-orang
saleh di antara bapak-bapak, istri-istri, dan keturunan mereka. Sesungguhnya
Engkau Mahaperkasa lagi Mahabijaksana’ (QS Ghafir: 7-8)‘injauan kata Al-Hakim telah disampaikan dalam asma Al-Hakam, karena
kata ini memiliki akar yang sama. Asma Al-Hakim bermakna “Dia yang
Mahabijaksana dalam pertimbangan dan memberi keputusan.” Asma ini juga
memiliki makna “Dia yang memiliki hikmah dan yang menganugerahkan
hikmah”. Keputusannya mustahil ragu dan bimbang. Kebijaksanaan-Nya men-
cakup segala sesuatu, dan tidak ada sesuatu pun yang luput dari pertimba-
ngan-Nya. Dialah yang memiliki hikmah, dan la berhak menganugerahkannya
kepada siapa pun di antara para hamba-Nya, dalam kedalaman dan kadar
sebagaimana kehendak-Nya.
Asma Al-Hakim mencakup pengetahuan-Nya yang menyeluruh dan mutlak,
karena kebijaksanaan hanya bisa dipenuhi bila telah memiliki pengetahuan
dan pemahaman yang penuh serta mencakup segala hal yang terkait.
Kata “hukum”, “hakim” dan “hikmah” memiliki akar kata yang sama, yang
maknanya terkait dengan pencegahan dari kesulitan dan mudarat. Maka
Al-Hakim adalah Dia yang hukum dan ketetapan-Nya mustahil membawa
keburukan dan mudarat, karena didasarkan pada kebijaksanaan dan penge-
tahuan-Nya yang agung dan tak terjangkau.
oo
Hamba Al-Hakim adalah hamba yang telah terbebas dari kebimbangan dan
keraguan, karena memahami bahwa hukum dan ketetapan Allah didasari
oleh pengetahuan-Nya yang agung. Allah telah menganugerahinya hikmah
yang banyak, sehingga cara pandangnya bijak. Kepadanya telah diperlihat-
kan rahasia sebab-sebab penciptaan. Karena ia telah memahami kebenaran
tertinggi, ia memahami apa yang benar sesuai dengan kehendak Allah, dan
apa yang tidak. Dengan demikian, ia mampu meluruskan penyimpangan
ketika ia melihatnya.
o
“Wahai Yang Mahabijaksana, hidupkanlah kami sebagaimana orang-orang
bijaksana. Ya Allah, sinarilah hati kami dengan pancaran nama-Mu Al-Hakim,
agar terpancar hikmah ke dalam lubuk hati, lidah dan amal-amal kami. Wahai
Yang Mahabijaksana, hidupkanlah kami sebagaimana hidup orang-orang yang
Engkau karunia hikmah."aN
48 %
k Md
x
| ce “wadGd" dapat dipahami sebagai “yang mencintai dan mengasihi",
namun juga dapat dipahami sebagai "yang dicintai". "Wudd" sendiri
bermakna “cinta”.
Asma Al-Wadid adalah “Dia yang Maha Mencintai dan Maha Mengasihi,
dan yang menjadi tujuan tertinggi para pecinta.” Meski maknanya dekat
dengan Al-Rahim, namun Al-Wadid tidak membutuhkan obyek. Al-Rahim
mengharuskan adanya sesuatu untuk diberi. Sedangkan dalam Al-Wadad,
la Maha Mencintai sejak awalnya dan sudah menjadi sifat-Nya, baik adanya
obyek atau tidak.
Al-Wadad adalah Dia yang pasti membuat sesuatu takjub, kagum dan
jatuh cinta pada siapa saja yang telah mengenal-Nya. Tidak takjub dan tidak
mencintai Al-Wadid adalah sebuah kemustahilan bagi siapa yang telah
mengenal-Nya. Siapa yang tidak takjub dan jatuh cinta kepada-Nya, maka
sesungguhnya ia belum mengenal-Nya. Bagi yang telah mengenal-Nya dan
jatuh cinta kepada-Nya, Al-WadGd pastilah membalas cinta dengan kecintaan
yang tak terkira dan tak terhingga.
co
Hamba Al-WadGd adalah seorang yang senantiasa mengharapkan kebaikan
yang sama bagi makhluk, seperti apa yang ia harapkan untuk dirinya sendiri.
la senantiasa mendahulukan hamba Allah yang lain atas dirinya sendiri. la
begitu mencintai Allah, sehingga dengan sendirinya ia pun mencintai hamba-
hamba yang mengenal-Nya.
oo
“Wahai Yang Maha Mencintai, hanya cinta-Mulah yang kami utamakan, maka
ilhamkan kepada kami rasa cinta dan kasih sayang. Ya Allah, pemilik tali yang
kuat dan perkara yang benar. Berilah rasa aman pada Hari Ancaman (Kiamat).
Karunialah kami surga pada Hari Abadi, bersama orang-orang yang didekatkan
dan syahid, yang rukuk dan sujud, serta mereka yang menepati janji. Sesung-
guhnya Engkaulah Al-Rahim dan Al-Wadéd. Engkau kuasa berbuat apa pun
yang Engkau kehendaki.”eke yang tersusun dari huruf-huruf mim, jim dan dal memiliki makna
dasar “mencapai batas”, namun hanya digunakan untuk hal-hal yang baik
dan mulia. Puncak kemenangan atau keberhasilan disebut “majid’.
Dalam asma Al-Majid terkandung dua hal. Pertama, kemuliaan yang
sempurna. Yang kedua, kebajikan yang luas. Asma Al-Majid bermakna “Dia
yang memiliki puncak kemuliaan.” Kasih sayang-Nya mulia, cintanya mulia,
keagungan-Nya mulia, pemberian-Nya mulia, dan seluruhnya diliputi kesem-
purnaan yang tiada tara.
Menurut Imam Al-Ghazali, asma ini menghimpun makna-makna yang
ada dalam asma Al-Jalil, Al-Wahhdb dan Al-Karim. Hanya Al-Majid-lah yang.
menghimpun seluruh keagungan itu dalam satu diri
co
Hamba Al-Majid adalah hamba yang memiliki akhlak, perbuatan serta sifat
yang sempurna. la berakhlak dengan akhlak Allah. la dihormati oleh manusia
dan makhluk lain, karena ia memperlakukan mereka dengan sangat baik. Peri-
lakunya terhormat. Sebagai hamba Allah ketundukannya sangat dalam. la me-
nyadari segala kebaikan dirinya tak ada artinya di hadapan Al-Majid. Baginya,
kemuligan hanya mungkin didapatkan dari ketundukan pada Al-Majid.
oo
“Ya Allah, anugerahilah aku pujian, nama baik dan kejayaan. Ya Allah, tiada
kejayaan tanpa karya, tiada karya tanpa kekayaan (maka anugerahilah aku
kekayaan yang mengantar kepada nama baik dan kejayaar)."Mee kata bd‘its antara lain adalah “membangkitkan”, “mengutus",
“menghidupkan yang telah mati”. Asma Al-Ba‘its bermakna “Dia yang
membangkitkan yang mati”. Al-Ba'its cenderung diasosiasikan dengan makna
“Dia yang menghidupkan kembali makhluk di hari kiamat”. Namun dalam asma
ini juga terkandung makna menampakkan yang tersembunyi, menggerakkan
yang diam, juga menghidupkan hati yang mati. la pula yang membangkitkan
lintasan-lintasan hati yang mengajak manusia pada kebaikan.
Al-Ba‘its adalah yang membangkitkan makhluk setelah kematian mereka,
sekaligus mengungkapkan segala perbuatan, pikiran dan rasa yang terjadi
selama hidup mereka. la Mahakuasa melakukan hal itu.
AL-Ba’its jugalah yang menghidupkan organ yang mati, jiwa yang mati,
semangat yang padam, dan apapun yang terkait dalam diri maupun batin
makhluk-Nya. Karena kuasa-Nyalah apa yang telah kita lupakan kelak akan
kita ingat kembali. Apa yang dahulu terjadi kelak akan kita saksikan kembali.
Apa yang kita tutupi dan sembunyikan, Dialah yang akan membukanya dan
memperlihatkannya lagi.
co
Hamba Al-Ba’its adalah hamba yang meyakini bahwa kematian bukanlah akhir
dari segalanya. la meyakini sepenuhnya bahwa ia akan dibangkitkan kembali,
sehingga ia berupaya membersihkan dan menghidupkan hatinya agar mampu
mendapatkan petunjuk-Nya. la akan cermat dan teliti dalam tingkah laku se-
hingga bersesuaian dengan kehendak-Nya.
‘Abdul Ba‘its adalah hamba yang “bangkit dari kematian” setelah segala
sifat jasadiah dan kecintaanya terhadap dunia mati. Hawa nafsu dan syahwat
telah mati dari dirinya, dan dirinya “hidup kembali” dengan ilmu dan kebijak-
sanaan yang dianugerahkan Allah kepadanya. Inilah makna “mati sebelum
mati” di kalangan para ahli hikmah.
co
“Wahai Yang Maha Membangkitkan, bangkitkanlah kami kelak bersama orang-
orang yang syahid dan saleh."AL-SYAHID SK
akna kata yang berasal dari huruf-huruf syin, ha dan dal maknanya
berkisar pada kehadiran, kesaksian, pengetahuan dan informasi. Kata
“syahadah" juga memiliki makna "yang nyata”, dalam pengertian kebalikan
dari hal-hal yang gaib.
Menurut Imam Al-Ghazali, asma Al-'Alim adalah asma yang bermakna
bahwa Dia Maha Mengetahui hal-hal yang gaib dan yang nyata, dan Al-Khabir
terkait pengetahuan-Nya yang menyangkut hal-hal gaib dan batiniah. Sedang-
kan asma Al-Syahid adalah asma yang maknanya terkait dengan pengetahuan
dan pemahaman-Nya yang menyangkut hal-hal yang nyata. Asma Al-Syahid
bermaka “Dia yang senantiasa hadir, menyaksikan, dan menjadi saksi atas
segala sesuatu.”
Dialah yang menyaksikan segala sesuatu, dan hadir di setiap kejadian. la
menjadi saksi atas setiap kejadian, kapan pun, di mana pun, dan setiap saat.
Kehadiran-Nya kekal sekekal diri-Nya. la mustahil tidak hadir di suatu kejadian,
dan tidak menyaksikan suatu kejadian. Kelak di hari pengadilan, Dia pula yang
menjadi saksi atas setiap perbuatan makhluk-Nya.
oo
Hamba yang menghayati makna asma Al-Syahid menyadari bahwa Allah me-
nyaksikan segala amal perbuatannya. la menyadari pula bahwa setiap anggota
tubuhnya akan mempersaksikan segala perbuatan dirinya. Dengan demikian
ia menjadi seorang hamba yang perilakunya terpelihara dan terjaga.
Abdul Syahid,adalah hamba yang dianugerahi Allah penyaksian atas
adanya pertanda Allah pada segala sesuatu ciptaan-Nya. la mempersaksikan
bahwa tidak ada kesalahan dalam segala ciptaan-Nya, dan segala sesuatu
adalah ayat Allah yang juga menggambarkan sebuah penyaksian atas salah
satu sifat diri-Nya.
co
“Ya Allah, jadikantah Al-Qur’an sebagai saksi yang mendukung kami, bukan saksi
yang memberatkan kami. Hidupkanlah kami sebagai saksi-saksi ‘yang diteladani
dan wafatkanlah kami sebagai syuhada, kemudian bangkitkanlah kami kelak
bersama para syuhada."Suze kata yang terbentuk dari huruf-huruf ha dan gaf memiliki makna
yang berkisar antara "kemantapan yang tidak akan berubah”, “kebenaran”,
“wajib” atau “harus terlaksana”. Haq juga berarti lawan dari yang batilataupun
yang pasti lenyap.
‘Asma Al-Haqq bermakna bahwa Dialah yang terbenar, dan tidak ada
yang mampu menandingi kebenaran-Nya. Asma ini juga bermakna bahwa
Dialah yang memiliki kebenaran tertinggi. Dia tidak mengalami perubahan,
hukum-Nya tidak berubah-ubah, dan tidak ada sesuatu pun dari diri maupun
perbuatan-Nya yang berubah kondisinya sehingga perlu perbaikan.
Apa yang berasal dari Al-Haqq mustahil bersifat batil, dan kehendaknya
mustahil membawa kepada kebatilan. Dialah Al-Haqq, keputusan-Nya adalah
kebenaran tertinggi. Janji-Nya adalah setinggi-tingginya kepastian. Kebenaran
adalah milik-Nya, sehingga siapa pun yang berkeinginan untuk meraih pema-
haman akan kebenaran tertinggi, ia harus menuju kepada-Nya.
co
Seorang Abdul Haqq adalah hamba yang dianugerahi penyaksian akan kebe-
naran pada segala ciptaan Allah. la tidak melihat sesuatu kecuali ada Al-Haqq
yang menyertai sesuatu yang dipandangnya. la telah diselamatkan Allah dari
semua kesalahan. Seluruh perbuatannya tertuntun, pikirannya tertuntun,
kehendaknya tertuntun, dan senantiasa memperoleh petunjuk sehingga ia
terjaga dari berbuat kesalahan.
Dengan demikian, baginya tidak ada kebenaran selain kebenaran Allah
ta'ala. Segala yang sesuai dengan Allah adalah benar, dan apa pun yang tidak
sesuai dengan kehendak Allah pada hakikatnya adalah sebuah kesalahan.
Kebenaran dalam sudut pandangnya adalah kebenaran yang ada dalam
kebenaran Allah Te’ala.
oo
Ya Allah Al-Haqq, tunjukkan kami kepada yang hag, dan berikanlah hak kepada
mereka yang berhak."ALWAKIL BS!
ata “wakil" berasal dari kata “wakala”, yang bermakna “mempercayakan
Kaeo yang seharusnya ditangani kepada pihak lain.” Al-Wakil adalah
Dia yang menjadi sebaik-baiknya wakil. Dialah yang paling utama dan paling
terpercaya dalam menangani sesuatu. Tiada sesuatu pun yang dipercayakan
kepada Al-Wakil akan menjadi terbengkalai. Itulah makna “Cukuplah Allah
sebagai wakil” dalam Al-Qur’an Q. S. An-Nisa [4]: 81.
Jika seseorang menyerahkan segala persoalan dan permasalahannya
kepada Allah, artinya ia mempercayakan Allah sebagai wakil. Artinya, ia mem-
Percayakan kepada Allah permasalahannya, dan membiarkan Dia menangani
dengan cara yang menurutnya terbaik, sesuai dengan ilmu-Nya dan penge-
tahuan-Nya. Dia melakukan segala sesuatu dengan cara yang terbaik. Namun
Dia tidak memiliki kewajiban, sehingga tidak ada sesuatu pun yang dapat
mempengaruhi cara dia berkehendak.
Kata “tawakkal” juga bermakna bahwa kita menyerahkan persoalan ke-
pada Al-Wakil. Tawakkal bukanlah tidak berbuat dan menyerahkan persoalan
begitu saja, karena hal ini dikoreksi dalam hadits Rasulullan Saw, “ikatlah
dahulu (untamu), baru bertawakkal.” (H.R. At-Tirmidzi). Ini bermakna bahwa
mempercayakan diri pada Al-Wakil bukanlah melepaskan diri dari segala
hukum sebab akibat yang juga menjadi sunatullah. Maka, jika seseorang telah
berusaha kemudian bertawakkal, seandainya usahanya tidak memberi hasil
sesuai harapannya ia tidak akan berkecil hati. Itulah penyelesaian terbaik
dalam kapasitas ilmu-Nya.
co
Hamba yang menghayati asma Al-Wakil adalah hamba yang tak henti-hentinya
bertawakkal, sehingga dia sendiri dianugerahi sifat Al-Wakil. la berusaha
dengan amanah dan mengerahkan segala kemampuan terbaiknya, namun
kegagalan tidak membuatnya larut dalam kesedihan dan keputusasaan. Keber-
hasilan pun tidak akan membuatnya lupa diri. la akan mendalami kapasitas
dirinya sehingga tidak akan menerima sebuah perwakilan untuk dipercayakan
Padanya, kecuali ia meyakini bahwa urusan itu masih dalam batas kemam-
puannya. Sebaliknya, jika ia menerima suatu amanah, ia akan melaksanakannya
dengan segenap kemampuannya.
oo
“Cukuplah Allah yang menjadi pelindung kami. Dialah sebaik-baik wakil yang
kami harapkan. Dia sebaik-baik penolong yang kami harapkan.”Ke Qawiy berasal dari huruf-huruf gaf, waw dan ya. Maknanya mencakup
antara lain “keras” dan “kuat”. Asma Al-Qawiy bermakna “Dia yang memi-
liki kekuatan yang maha sempurna.” Segala kekuatan ada dalam genggaman-
Nya, dan dia berkuasa untuk memberikannya pada siapa pun yang la kehen-
daki. Demikian pula, la Mahakuasa untuk mencabutnya dari siapa pun yang
la kehendaki.
Dia tidak terkena kelemahan, baik pada zat, sifat maupun perbuatan-
Nya. Kelelahan mustahil menyentuh-Nya. Kekuatan-Nya tak dapat dibantah,
kehendak-Nya tak mungkin ditolak. Ke-gawiy-an-Nya adalah kekuatan yang
kekal dan tiada habisnya, sementara kekuatan makhluk ada awal dan ada
akhirnya.
Dalam Al-Qur'an, secara umum asma ini dicantumkan-Nya dalam konteks
menghadapi orang-orang yang ingkar dan menentang Allah. Asma ini adalah
asma yang menggetarkan hati para penentang-Nya.
“Ya Qawiy” adalah zikirnya Izra’il, malaikat maut.
co
Abdul Qawiy adalah hamba yang dianugerahi manifestasi kekuatan asma
Al-Qawiy. Tak ada apa pun yang akan membuatnya takut. la akan menang
terhadap musuh di luar maupun yang ada di dalam dirinya sendiri: syahwat
dan hawa nafsunya. Sifat-sifat buruk ditundukannya dengan mudah. Dengan
tajalli kekuatan Al-Qawiy di dalam dirinya, ia membuat hati lawan-lawannya
gentar.
oo
“Wahai Yang Mahakuat, tolonglah kami dengan kekuatan-Mu. Ya Allah yang
Mahakuat, yang Mahakukuh. Aku bermohon dengan kekuasaan dan kekuatan-Mu,
kiranya Engkau limpahkan pada seluruh potensi dan anggota badanku, yang lahir
dan yang batin, kekuatan dari kekuatan-Mu, serta kekuasan dari kekuasaan-Mu,
sehingga aku mampu menggunakannya sesuai dengan kewajiban-kewajiban
dan anjuran-anjuran yang Engkau berikan kepadaku.”Ke “matin” bermakna kokoh, kuat dan tidak goyah. Kata ini biasa
dipergunakan untuk menunjukan sifat benda secara fisik. Karena Allah
maha suci dari segala sifat fisik, maka makna kekokohan dalam asma Al-Matin
menunjuk kepada dahsyatnya kekuatan yang dimiliki-Nya
Asma ini sangat dekat dengan asma Al-Qawiy. Jika Al-Qawiy menunjuk
pada kesempurnaan kekuasaan-Nya, Al-Matin menunjuk pada kekukuhan
kekuatan-Nya. Al-Matin adalah asma yang menerangkan sempurnanya ke-
Qawiy-an Allah. la menunjukkan hebatnya kekuatan Allah.
Tidak ada yang dapat selamat dari kekuatan-Nya. Kekuatan dan sempur-
nanya kekokohan Allah berlaku bersama kehendak-Nya, sehingga apa yang la
kehendaki pasti terjadi dan tidak ada yang dapat menentang-Nya.
Sebagai contoh, dalam Q, S. Al-Dzariyat : 58 disebutkan,
“Sesungguhnya Allah, Dialah Al-Razzdq yang Al-Qawiy dan Al-Matin.”
Ketika Allah berkehendak, misalnya memanifestasikan asma Al-Razzadq-
Nya dengan memberi rezeki pada sesuatu, ke-gawiy-an dan ke-matin-an
Allah juga menyertai. Ini menegaskan bahwa tiada sesuatu pun yang bisa
menghambat kehendak-Nya itu (rezeki) sampai pada makhluk yang dikehen-
daki-Nya.
co
Abdul Matin adalah hamba yang dikaruniai keyakinan sangat kokoh kepada
kekuasaan Allah. la yakin pada perlindungan Allah. Tak ada yang dapat mem-
buatnya takut, khawatir, atau cemas. la berpegang teguh pada agama Allah,
sehingga tak ada yang dapat memalingkannya. Tak ada apa pun yang dapat
mengalahkannya jika ia bersama Allah.
0
“Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kepada-Mu keteguhan dalam urusan. Aku
memohon kepada-Mu kesungguhan dalam urusan yang menjadi kebaikanku. Aku
memohon pada-Mu agar selalu mensyukuri nikmat-Mu dan mengabdi dengan
baik kepada-Mu. Aku mohon pada-Mu lisan yang benar dan hati yang selamat,
dan aku berlindung kepada-Mu dari keburukan yang Engkau ketahui, dan aku
memohon kepada-Mu dari kebaikan yang Engkau ketahui. Aku memohon am-
punan kepada-Mu atas apa-apa yang Engkau ketahui, Sesungguhnya Engkau
Maha Mengetahui segala yang gaib.”56|_ all
akna dasar kata dari huruf-huruf wa, lam dan ya adalah dekat. Makna-
makna turunannya adalah “pendukung”, "pembela”, “pelindung”, "yang
mencintai” dan sebagainya. Al-Waliy adalah Dia yang melindungi, menolong,
dan membela para hamba-Nya dengan seluruh kekuatan dan keperkasaan yang
dimiliki-Nya. Dialah yang memberi petunjuk, ketentraman, ketenangan hati
dan perlindungan kepada para kekasih-Nya. la melindungi mereka dari segala
sesuatu yang dapat menyebabkan mudarat pada mereka. Dialah sebaik-baik
pelindung, penolong, dan pembela.
Al-Waliy adalah asma yang ditujukan-Nya khusus bagi para hamba yang
beriman. Barangsiapa yang tidak menjadikan Allah sebagai pelindungnya,
maka setanlah yang menjadi pelindungnya, demikian firman Allah dalam QS.
Al-Baqarah [2] : 257:
“Allah Pelindung orang-orang yang beriman. Dia mengeluarkan mereka dari
kegelapan kepada cahaya. Dan orang-orang kafir, pelindung mereka adalah
setan, yang mengeluarkan mereka dari cahaya kepada kegelapan.”
Menurut Imam Al-Ghazali, perlindungan dan pembelaan Allah dalam
asma Al-Waliy terkait dengan cinta-Nya pada hamba tertentu. Karena itu,
ja memaknai asma Al-Waliy dengan “Dia yang membela karena mencintai.”
Ini tercermin dalam firman-Nya di sebuah hadis qudsi: “Barangsiapa yang
memusuhi wali-Ku (para penolong Allah) maka aku mengumumkan perang
terhadapnya.” (H.Q.R. Bukhari)
co
Hamba yang meneladani asma Al-Waliy adalah hamba yang mencurahkan cinta
pada makhluk, serta melindungi dan menolong mereka. Sahabatnya adalah
orang-orang beriman, dan ia mencintai mereka seperti keluarganya sendiri.
la melindungi, menolong dan membela sahabat-sahabatnya itu sepenuh
kemampuannya. Tak ada sedih dan takut yang bisa menyentuhnya, karena ia
meyakini bahwa ia ada dalam perlindungan Al-Waliy.
co
“Yq Allah yang menciptakan langit dan bumi, Engkaulah penolongku di dunia
dan akhirat. Wafatkanlah aku dalam keadaan berserah diri, dan masukkanlah
aku ke dalam golongan orang-orang saleh.”DOO
SOY
Kae ice yang terbentuk dari huruf-huruf mim, dal dan hamzah maknanya
| berkisar di seputar "memulai sesuatu” atau “terdahulu”. Sedangkan kata
mu'‘id yang berakar dari huruf-huruf ‘ain, ya dan dal maknanya terkait dengan
“duplikasi” atau "penggandaan sesuatu”. Asma Al-Mubdi’ bermakna “Dia yang
pertama kali dan paling terdahulu menciptakan sesuatu dari ketiadaan dan
tanpa contoh”.
Dialah yang menjadi permulaan segala sesuatu, dan yang paling terda-
hulu menciptakan. Makna asma ini juga mengandung penegasan bahwa Dia
telah ada dan mahakuasa untuk mencipta, jauh sebelum segala sesuatu ada.
Dialah yang memulai penciptaan segalanya, dan tidak ada sesuatu pun yang
mendahului-Nya dalam penciptaan. Dengan demikian, mencontoh dan meniru
adalah sebuah kemustahilan bagi-Nya.
Namun Allah tidak hanya menjadi pendahulu penciptaan. Dia bahkan
mahakuasa untuk mengulangi lagi penciptaan-Nya sebanyak yang Dia kehen-
daki. Pengulangan-Nya tanpa cacat dan kekurangan sama sekali. Apa pun yang
telah hilang, pudar, punah atau mati, Dialah yang Mahakuasa untuk mengem-
balikannya sebagaimana keadaan semula.
Sempurnanya penciptaan yang pertama sama sekali tidak membuatnya
lelah dan jenuh. la mampu untuk mengulanginya lagi dengan kesempurnaan
yang sama. Inilah makna asma Al-Mu’d.
oo
Hamba yang menghayati asma Al-Mubdi' dan Al-Mu'td akan insaf bahwa Allah
yang menjadikannya juga berkuasa untuk menghidupkannya kembali setelah
kematian. la sadar bahwa adanya kematian tidak menghilangkan kewajibannya
mempertanggungjawabkan kehidupan yang Allah anugerahkan kepadanya.
Karena ia waspada dengan ini, maka hidupnya akan dipenuhinya dengan ke-
baikan. la menjadi pendahulu dalam berbagai amal shaleh, baik untuk dirinya
sendiri maupun untuk makhluk lain di sekelilingnya.
oo
“Wahai Yang Maha Memulai, dengan nama Engkau kami memulai. Wahai Yang
Maha Mengembalikan, kembalikanlah apa-apa yang hilang dari kami."c2fea| seal f
ess yang terdiri dari susunan huruf ha dan ya memiliki makna “hidup”
dan “malu". Sedangkan yang berasal dari huruf-huruf mim, waw dan taber-
makna “hilangnya potensi” sehingga maknanya berkembang menjadi “mati”.
Asma Al-Muhyi bermakna “Dia yang maha berkuasa untuk menjadikan sesuatu
hidup." Dialah yang memberi kehidupan pada sesuatu yang tak berkehidupan
dengan berbagai bentuk, tingkatan, dan kompleksitasnya.
Manusia yang hanya setetes daging dan darah di dalam rahim dijadikan-
Nya berdenyut, hidup dan tumbuh. Tanah yang mati dihidupkan-Nya dengan
hujan. Hati yang mati dihidupkan-Nya dengan hikmah. Jiwa yang mati dihidup-
kan-Nya dengan cahaya iman. Dia pun maha kuasa untuk mengembalikan
hidup pada jasad yang telah wafat.
Demikian pula, dia maha berkuasa untuk mematikan segala sesuatu
yang memiliki kehidupan. Karena hidup adalah kekuasaan-Nya, Dia mampu
mengambilnya kapan saja dengan tanpa harus merusak, tanpa membunuh
dan tanpa menghancurkan. Dialah yang maha berkuasa untuk mencabut
kehidupan dari segala sesuatu yang hidup, kapan pun Dia kehendaki. Inilah
makna asma Al-Mumit.
Dua asma ini, Al-Muhyi dan Al-Mumit, saling terkait dalam menggambarkan
kemahakuasaan-Nya. Tidak ada apa pun yang mampu menghidupkan sesuatu
yang tidak memiliki kehidupan, lalu mampu mencabut kehidupan itu kembali
setelah sesuatu itu hidup, selain Allah ta’ala.
oo
Hamba yang menghayati asma Al-Muhyi dan Al-Mumit mengerti bahwa
hidup dan mati dirinya adalah kuasa Allah. Dan jika ia mati, Allah Mahakuasa
untuk menghidupkannya kembali. Ini membuatnya berhati-hati dalam ber-
perilaku.
Kehidupannya tidak membuatnya Lupa diri, kematian tidak membuatnya
takut dan kecil hati. Hatinya yang mati dibebaskannya dari dosa dan keko-
toran, lalu ia memohon pada Sang Pemberi Hidup agar menghidupken hatinya
sehidup-hidupnya. Ketika melihat kuasa Al-Mumit, ia berlindung agar Allah
berkenan untuk tidak mematikan hatinya.
co
“Wahai Yang Mahamenghidupkan, karena Engkau kami hidup, hidupkanlah kami
dalam keselamatan. Wahai Yang Maha Meniadakan Kehidupan, matikanlah kami
dalam agama Islam.”G shaatimana diterangkan dalam asma Al-Muhyi, kata-kata yang terdiri dari
susunan huruf ha dan ya memiliki makna “hidup”. Al-Hayy adalah Dia
yang maha hidup, senantiasa hidup. Dia yang paling hidup dari segala yang
hidup, dan Dia pula yang memiliki hidup. Kematian, kelesuan, kepunahan
dan kehilangan mustahil mengenai-Nya. Ketika segala sesuatu belum hidup,
Dia telah ada dan hidup. Ketika segalanya telah mati, Dia masih akan hidup.
Kehidupan-Nya kekal, tanpa awal dan tiada akhir.
Al-Hayy-lah yang menjadikan makhluk merasa, mengetahui, bergerak dan
mencari penghidupan. Dialah yang menjadikan makhluk memiliki kesadaran,
dan dari Al-Hayat" milik-Nyalah makhluk menjadi mampu beraktivitas dengan
tingkat kehidupan dan kesadaran yang berbeda-beda.
Benda-benda alam semesta maupun benda mati memiliki kehidupan da-
lam kadarnya. Tumbuhan lebih hidup daripada planet, pasir atau batu. Hewan
lebih memiliki kesadaran dan lebih hidup daripada tumbuhan. Manusia lebih
hidup daripada hewan. Sebagian manusia lebih hidup daripada manusia lain,
dan seterusnya. Namun yang paling hidup dari segala yang hidup adalah Allah
Al-Hayy. Dialah satu-satunya yang hidup namun tanpa ketiadaan.
co
Hamba Al-Hayy adalah hamba yang mengerti bahwa hidup bukanlah semata
untuk hidup. Hidup adalah mempersembahkan hayatnya kepada Al-Hayy. la
akan membuat hidupnya sedemikian rupa sehingga layak dipersembahkan
kepada Al-Hayy. Demikian pula, ia pun insaf bahwa hidup bukan untuk mati.
Kematiannya kelak adalah sebuah kehidupan yang lain, karena kematian
pada hakikatnya juga datang dari sosok yang sama dengan yang memiliki
asma Al-Hayy.
Seorang hamba yang hidup namun ada di hadapan Sang Mahahidup,
bagaikan lilin di hadapan matahari. Eksistensinya tak ada artinya di hadapan
Allah, sehingga ia “mati”: ia bersikap penuh keberserahdirian bagaikan orang
mati, pada Sang Mahahidup.
oo
“Ya Allah, kepada-Mu aku berserah diri, kepada-Mu aku beriman dan kepada-Mu
aku bertawakal. Kepada-Mu aku kembali, dan bersama-Mu aku memusuhi. Ya
Allah, sesungguhnya aku berlindung dari kesesatan dengan keperkasaan-Mu,
tiada tuhan selain Engkau, Engkau Al-Hayy yang tidak akan mati, sedangkan
Jin dan manusia mati.”makna “sekelompok manusia (qaum)", “tegak (qiyam)" dan “berkesinam-
bungan dan sempurna (qawama)". Perintah agimu al-shalat dalam Al-Qur’an
berarti “laksanakanlah shalat dengan sempurna dan berkesinambungan’.
Asma Al-Qayym bermakna “Dia yang tidak membutuhkan siapa pun,
namun segala sesuatu membutuhkan Dia”. Dia tidak membutuhkan tempat
atau waktu. Dia tidak membutuhkan apa pun untuk menjaga kesinambungan
dan kesempurnaan diri-Nya. Kekuasaan-Nya tegak dengan sendirinya, kesem-
purnaan-Nya telah ada tanpa sebab. Dia adalah Dia yang segala sesuatunya
telah sempurna tanpa upaya, tanpa sebab dan tanpa waktu. Eksistensi-Nya
tidak bergantung pada siapa pun selain diri-Nya.
Namun lebih dari itu, Dia tidak berhenti dalam kemandirian dan kesempur-
naan-Nya. Dia bahkan memenuhi kebutuhan makhluk dengan kesempurnaan
dan kemandirian-Nya, hingga kebutuhan yang sekecil-kecilnya
Dalam Al-Qur'an, asma ini selalu bergandengan dengan asma Al-Hayy.
Ini bermakna bahwa ke-qayydm-an Allah akan senantiasa saling beriringan
| jackets yang berakar dari huruf-huruf gaf, wawdan mimmemiliki makna-
dengan ke-hayyu-an-Nya.
oo
Hamba Al-Qayyim adalah hamba yang tidak mampu lagi menoleh kepada
selain Allah ketika ia membutuhkan sesuatu. Dengan segala yang dihampar-
kan Allah, ia berusaha memenuhi kebutuhannya sendiri dan tidak lagi terlalu
berharap kepada makhluk. la dianugerahi ke-qayyGm-an sesuai kadarnya
sebagai makhluk, yang membuatnya peka terhadap kebutuhan orang lain
guna memenuhi kebutuhan mereka
oo
“Ya Allah, sesungguhnya aku meminta kepada-Mu dengan menyatakan bahwa
sesungguhnya milik-Mulah segala puji, tiada tuhan selain Engkau. Engkau Maha
Pemberi, pencipta langit dan bumi. Wahai pemilik keagungan dan kemuliaan,
wahai Al-Hayy dan Al-Qayyam, aku memohon kepada-Mu. Ya Hayyu Ya Qayytim,
dengan rahmat-Mu aku memohon pertolongan.”enyatuan huruf-huruf waw, jim dan dal memiliki makna yang berkisar pada
Ps “penemuan". Asma Al-Wajid adalah “Dia yang pasti mendapatkan
apa yang diinginkan-Nya, kapan pun Dia menghendaki”. Keinginan-Nya pasti
terpenuhi, dan tidak ada sesuatu pun yang hilang dari-Nya.
Penekanan makna asma Al-Wéjid, menurut Imam Al-Ghazali, ada dalam
konteks penekanan bahwa Dia tidak pernah membutuhkan sesuatu, dan tidak
dipersulit oleh apa pun. Tidak ada apa pun yang mampu mempersulit-Nya
dalam memperoleh sesuatu.
Dari pemaknaan ini asma Al-Wajid juga diartikan sebagai Yang Mahakaya,
Perbedaannya dengan asma Al-Ghaniy, pada asma Al-Wéjid tidak terbatas
pada hanya pada makna kepemilikan, namun juga mengandung makna pem-
berdayaan. Segala kekayaan-Nya akan digunakan-Nya untuk memberdayakan
mereka yang tidak berdaya, kapan pun Dia menghendaki (mendapatkan yang
tidak berdaya).
Dengan demikian, pemaknaan lain dari asma ini kurang lebih, “Dia yang
pasti mendapatkan ketidakberdayaan makhluk, dan pasti menggunakan ilmu
dan kekayaan-Nya untuk memberdayakan.”
co
Hamba yang menghayati asma Al-Wajid akan selalu bertindak sesuai kemam-
puannya setiap kali menemukan makhluk yang perlu ditolong atau ada dalam
ketidakberdayaan, baik material maupun spiritual. Langkah-langkah dan
perencanaanya adalah yang terbaik dalam kapasitasnya. Demikian pula, ia
pasti berhasil menemukan sisi yang perlu diperbaiki pada dirinya sendiri,
dan akan mengerahkan segala kemampuannya untuk memperbaiki keku-
rangan dirinya.
co
“Wahai Allah Yang Maha Mendapatkan, Yang Mahamengetahui lagi Maha Meli-
hat. Jangan biarkan Engkau melihat kami berada di tempat maupun saat yang
terlarang oleh-Mu. Jangan pula Engkau biarkan kami tidak berada di tempat
yang Engkau perintahkan. Jadikan kami tenggelam dalam ketekunan bersama
Engkau dan tidak disibukkanoleh apa pun selain Engkau. Putuskanlah segala
yang dapat memutus hubungan kami dengan Engkau.”sma Al-Mdjid memiliki akar kata yang sama dengan asma ke-49, Al-Majid.
Kata mdjid adalah pelipatgandaan puncak dari makna dalam kata majid.
Asma Al-Mdjid memiliki makna yang sama dengan Al-Majfd, namun dalam
makna pelipatgandaan dan superlatif. Al-Mdjid bermakna "yang paling memiliki
segala kemuliaan yang terkandung dalam asma Al-Majid, dan yang menjadi
puncaknya.”
co
Manusia yang menghayati asme Al-Mdjid akan merindukan kemuliaan, namun
kemuliaan yang dipandang dari sudut pandang Allah ta‘ala. la telah berakhlak
dengan asma Al-Majid terlebih dahulu, sehingga tampak dalam segala peri-
lakunya. la tidak akan memperlakukan makhluk lain dengan buruk, dan tidak
ada lagi sedikit pun perilaku buruk darinya. Ketika manusia mengenalnya
bersifat seperti itu, mereka akan menyadari bahwa Allah masih jauh melebihi
kemuliaan Sang Abdul Mdjid ini.
co
“Ya Allah, anugerahilah aku pujian, nama baik dan kejayaan. Ya Allah, tiada
kejayaan tanpa karya, tiada karya tanpa kekayaan (maka anugerahilah aku
kekayaan yang mengantar kepada nama baik dan kejayaan).”kee wahid dan ahad memiliki akar sama, yang secara umum bermakna
“tunggal" atau “sendiri”. Wahid bermakna “satu”, sedangkan ahad ber-
makna “esa”, hanya satu-satunya. Wahid (satu) berbeda dengan ahad (esa).
Wéhid (satu) adalah bilangan yang kepadanya bisa dilakukan penjumlahan
atau perkalian. Ahad bermakna “hanya satu-satunya”, tidak bisa dijumlah atau
dikalikan, dan tidak termasuk ke dalam bilangan.
Asma Al-Wahid bermakna Dia yang satu, namun tidak terdiri dari bagian-
bagian maupun unsur-unsur. Dia tidak ada duanya, dan tidak akan ada yang
lain menggantikan-Nya untuk menjadi penerus kehendak-Nya. Dia tidak
membutuhkan pihak kedua dalam kehendak dan perbuatan-Nya. Segala hal
pasti mengandung sesuatu yang menggambarkan tentang Allah, namun tidak
sebaliknya.
Asma Al-Ahad bermakna Dia yang tunggal dalam zat, sifat dan perbuatan-
Nya. Ahad dalam zat, artinya bahwa zat-Nya tunggal dan tidak terbangun dari
bagian-bagian. Dialah satu-satunya zat yang seperti itu, dan tidak ada sesuatu
pun yang serupa dengan-Nya.
Ahad dalam sifat-Nya, bermakna hanya Dialah satu-satunya yang memi-
liki kesempurnaan sifat-sifat sebagaimana yang tergambar dalam asma-Nya,
maupun yang tidak tergambarkan. Tidak ada sesuatu pun yang menyamai-Nya
dalam sifat-sifat-Nya itu. Hanya Dialah satu-satunya yang memiliki sifat-sifat
itu, dalam segenap kesempurnaan dan keagungan.
Ahad dalam perbuatan-Nya adalah ketunggalan-Nya dalam mewujudkan
kehendak-Nya. Segala sesuatu yang dikehendaki-Nya akan terwujud, dan
pewujudannya adalah karena perbuatan-Nya sendiri, tanpa persekutuan,
pertolongan dan bantuan siapa pun.
co
Manusia yang berupaya meneladani asma Al-Wahid dan Al-Ahad hanya mampu
berupaya menjadi yang terbaik dalam beramal. Seorang hamba yang dianu-
gerahi rahasia ketunggalan-Nya akan memahami esensi segala sesuatu. la
mengenal Allah, berbuat dan berkehendak sesuai dengan kehendak Allah.
oo
“Ya Allah, aku memohon kepada-Mu dengan menyatakan bahwa se-
sungguhnya Engkau adalah Al-Wéhid dan Al-Ahad, tempat bergantung semua
makhluk, yang tidak memiliki anak dan tidak pula diperanakkan, dan tidak ada
yang sebanding dengan Engkau. Ampunilah seluruh dosaku. Sesungguhnya
Engkau Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (H.R. Abu Dawud).Ke shamad berasal dari huruf-huruf shad, mim dan dal. Ada dua makna
yang terkait dengan huruf-huruf itu. Pertama, adalah “sesuatu yang tidak
memiliki rongga, lubang atau pori-pori”. Sesuatu yang Al-Shamad adalah se-
suatu yang sedemikian kukuh dan padat, tidak berlubang sedikit pun. Kedua,
bermakna “tokoh tertinggi yang menjadi harapan semua pihak".
Asma Al-Shamad bermakna “Dialah tempat bergantung segala sesuatu,
tujuan semua kebutuhan dan harapan; namun Dia tidak pernah membutuh-
kan sesuatu pun.” Segala sesuatu, disadari atau tidak, mutlak membutuhkan
Dia. Segala jenis eksistensi bergantung kepada Dia. Asma ini menunjukkan
kebergantungan mutlak setiap makhluk kepada-Nya.
Dia tidak memiliki kebutuhan maupun kelemahan sedikit pun. Sebaliknya,
Dialah yang memenuhi semua kebutuhan makhluk, baik makhluk menya-
darinya atau pun tidak. Dia tidak minum, tidak makan, tidak lemah, tidak sakit,
tidak mengantuk dan tidak tidur, namun Dialah yang memberikan semuanya itu
pada makhluk. Dia tidak membutuhkan perlindungan, namun dia memberikan
perlindungan. Dia tidak membutuhkan siapa pun atau apa pun, namun segala
sesuatu membutuhkan Dia. la selalu ada, selalu menjadi tempat bergantung,
dan selalu memenuhi kebutuhan makhluk.
co
Hamba yang menghayati asma Al-Shamad akan senantiasa mengarahkan
segala aktivitasnya, lahir dan batin, kepada Allah Al-Shamad. Allah-lah yang
menjadi awal semua perbuatannya, dan Allah juga yang menjadi tujuan
akhirnya. Dengan demikian, lahir dan batinnya tidak pernah terlepas sedikit
pun dari mengingat Allah.
Kepada makhluk, ia berusaha untuk tidak mengecewakan siapa pun yang
berharap kepadanya. Atas rahmat Allah, ia pun dikaruniai sifat qanaah(merasa
cukup) dan hanya bertawakkal kepada Allah. Dengan demikian kebutuhannya
kepada makhluk menjadi sangat sedikit. Apa pun yang sampal kepadanya
disadarinya sebagai pemberian Allah kepadanya.
oo
“Ya Allah, aku memohon kepada-Mu dengan menyatakan bahwa sesungguhnya
Engkau adalah Al-Wahid, Al-Ahad dan Al-Shamad, tidak ada yang sebanding
dengan Engkau. Ampunilah seluruh dosaku Sesungguhnya Engkau Maha
Pengampun lagi Maha Penyayang." (H.R. Abu Dawud).sma Al-Qadir bermakna “Dia berkuasa untuk melakukan apa pun yang
Dia kehendaki.” Mencipta, memusnahkan, menghukum, memberi petunjuk,
merahmati, apa pun kehendak-Nya niscaya terjadilah. Segala sesuatu takluk
di bawah kehendak-Nya. Dialah yang menentukan segala sesuatu, termasuk
menetapkan kadar segala sesuatunya.
Asma Al-Mugtadir memiliki makna yang mirip dengan asma Al-Qadir.
Namun makna yang mendekati adalah "Dia yang paling berkuasa atas segala
kuasa”. Kekuasaan-Nya menyeluruh dan tiada batas, Segala sesuatu menyerah
di bawah kekuasaan-Nya,
Kedua asma ini, selain terkait dengan kata “qudrah” (kekuasaan) Allah, juga
terkait dengan kata “taqdir’ atau “kadar yang ditentukan” kepada makhluk.
Dialah yang menjadi penguasa qudrah dan taqdir bagi seluruh makhluk.
co
Mereka yang meneladani asma Al-Qadir dan Al-Mugtadir akan selalu meng-
harap rahmat dan kelembutan-Nya atas dirinya karena memahami kemaha-
kuasaan Allah yang maha berkuasa untuk berbuat apa pun pada dirinya. la
juga akan menjadi seorang hamba yang takut kepada Allah karena menyadari
kuasa-Nya. Dari sini akan lahir sikap khauf (takut) dan raja’ (harap) kepada
Allah.
oo)
“Ya Allah, dengan pengetahuan-Mu terhadap yang ghaib dan kekuasaan-Mu
atas makhluk, hidupkanlah aku selama Engkau tahu bahwa kehidupan lebih
baik bagiku, dan matikantah aku jika Engkau tahu kematian lebih baik bagiku.
Ya Allah, anugerahkaniah untukku rasa takut kepada-Mu, baik di saat sepi
maupun ketika ramai. Karuniakanlah untukku kalimat yang hak di saat ridha
maupun ketika marah, anugerahkan kepadaku sikap sederhana di kala fakir
‘maupun ketika kaya. Aku memohon kepada-Mu kenikmatan yang tiada pernah
habis dan berilah aku penyejuk mata yang tiada terputus. Berilah aku keridhaan
terhadap takdir-Mu. Berilah aku kehidupan yang baik setelah kematian. Dan
berilah aku kenikmatan menatap wajah-Mu dan kerinduan untuk berjumpa
dengan-Mu, tanpa kesulitan yang menghalangi dan fitnah yang menyesatkan. Ya
Allah, hiasilah kami dengan hiasan iman, Jjadikanlah kami orang yang memberi
petunjuk, dan mendapat petunjuk.”Ax Al-Mugaddim bermakna “Dia yang Mahakuasa untuk mendahulukan
siapa pun yang Dia kehendaki, dari yang lainnya.” Sedangkan asma Al-Mu-
akhir adalah “Dia yang Mahakuasa untuk mengakhirkan siapa pun yang Dia
kehendaki, dari yang lainnya.” Kedua asma ini sangat terkait satu sama lain.
la mampu menangguhkan apa pun yang dikehendaki-Nya, seperti ia juga
mampu mempercepat apa yang dikehendaki-Nya. Demikian pula, siapa yang
didekatkan kepada-Nya, ia telah didahulukan. Dan siapa yang dijauhkan dari-
Nya, ia telah diakhirkan.
Allah mendahulukan dengan cara apa pun yang disukai-Nya. Seseorang
bisa diberi-Nya hikmah dan ilmu sehingga mendekat kepada-Nya. Atau, dija-
dikan bagi seorang hamba-Nya bencana dan musibah, sehingga ia begitu
rindu akan pertolongan Allah dan menyadari bahwa hanya kepada Allah ia
bisa berharap.
Jika Allah berkehendak membiarkan seseorang menjauh dari-Nya, dibiar-
kanlah hamba-Nya itu terbenam dalam dosa dan kesalahan. Demikianlah
antara lain cara-Nya dalam mengakhirkan derajat hamba-Nya.
co
Hamba yang meneladani kedua asma ini akan senantiasa mendahulukan
apa yang diperintahkan-Nya, dan mengakhirkan apa yang dilarang-Nya. la
berperan dalam hal-hal_yang terkait dengan pendahuluan kehendak Allah,
dan penundaan apa yang dilarang Allah
Dalam kemakmuran, ia sadar bahwa Allah berkuasa untuk menurunkan
dirinya, dan dalam kesempitan ia tidak berkecil hati karena Allah berkuasa
untuk mempercepat atau menangguhkan kelapangan pada dirinya. la menya-
dari bahwa segala sesuatu tentang dirinya ada dalam pengetahuan Allah ta‘ala,
demi kebaikan dirinya sendiri.
oo
“Rabbku, ampunilah kesalahan dan kebodohanku, sikap berlebihanku dalam
semua urusanku, dan apa-apa yang Engkau lebih mengetahuinya dariku. Ya
Allah, ampuni semua kesalahan maupun kesengajaanku, kebodohanku dan
gurauanku, dan semua itu sungguh-sungguh ada padaku. Ya Allah, ampunilah
dosa-dosaku yang terdahulu dan yang akan datang, yang aku rahasiakan dan
yang aku lakukan dengan terang-terangan. Engkau Maha Kuasa Mendahulukan,
Engkau Maha Kuasa Mengakhirkan. Engkau Mahakuasa atas segala sesuatu.”
(H.R. Bukhari).Axe Al-Awwal bermakna “Dia yang tanpa permulaan dan telah ada
sebelum segala sesuatu ada”. Dan Asma Al-Akhir bermakna “Dia yang
tanpa penghabisan, dan masih terus akan ada setelah segala sesuatu tiada.”
Kedua asma ini disebutkan secara berurutan, “Dialah Al-Awwal dan Al-Akhir”
dalam Al-Qur'an Q. S. Al-Hadid [57]: 3.
Menurut Imam Al-Ghazali, kedua asma ini bermakna bahwa permulaan
pertama adalah dari-Nya, dan tempat kembali yang terakhir kepada-Nya. Dari
Allah datang keinginan seorang hamba untuk mengenal-Nya, dan Allah-lah
yang menjadi tujuan terakhir pengenalan seorang hamba. Semua pengenalan
dan pemahaman (ma'rifat) yang diraih sebelum pengenalan terhadap Allah
adalah tangga menuju pengenalan terhadap-Nya.
Sahabat Ali ra. menjelaskan makna kedua asma ini dengan kalimat, "Dialah
Al-Awwal yang bagi-Nya tiada 'sebelum’, sehingga mustahil ada sesuatu men-
dahului Dia. Dialah Al-Akhir yang bagi-Nya tiada ‘sesudah’, sehingga mustahil
ada sesuatu setelah Dia.”
co
Hamba yang menghayati kedua asma ini akan menyadari sepenuhnya bahwa
segala sesuatu berawal dari kehendak Allah, dan demikian pula segala sesuatu
yang telah terjadi pada dirinya. la pun menyadari bahwa segala sesuatu akan
ada akhirnya, dan akhir sesuatu pun karena kehendak Allah. Karena pengha-
yatan inilah ia menjadi seorang hamba yang sabar dan ridha.
Di jari Nabi Sulaiman a.s. konon terdapat sebuah cincin besi yang bertulis-
kan “Ini pun akan berlalu.” Ketika sedih, beliau melihat tulisan di cincinnya
itu sehingga tidak larut dalam kesedihan. Ketika senang pun beliau melihat
kepada cincinnya itu, sehingga tidak menjadi takabur dan lupa diri. Cincin
itu mengingatkan beliau bahwa segala sesuatu yang ada awalnya, pasti akan
ada akhirnya pula
co
“Ya Allah, Rabbnya langit dan bumi, Rabbnya Arsy yang agung. Rabb kami dan
Rabb segala sesuatu, Rabb yang membelah butir tumbuhan dan biji buah, Rabb
yang menurunkan kitb Taurat, Injil dan Al-Qur‘an, Aku berlindung kepada-Mu
dari kejahatan segala sesuatu yang Engkau pegang ubun-ubunnya. Ya Allah,
Engkaulah Al-Awwal dan tiada sesuatu sebelum Engkau. Engkaulah Al-Akhir
dan tiada sesuatu setelah Engkau. Engkaulah Al-Zahir, tidak ada sesuatu yang
lebih nyata daripada Engkau. Engkaulah Al-Bathin, tiada yang lebih tersembu-
nyi daripada Engkau. Lunasilah utang-utang kami, dan jauhkanlah kami dari
kefakiran.”(H. R. Muslim).|e asma ini juga disebutkan secara berurutan dalam Al-Qur'an Q. S. Al-
Hadid [57]: 3, “Dialah Al-Awwal dan Al-Akhir, Al-Zahir dan Al-Batin”. Asma
Al-Zahirbermakna “Dialah yang paling nyata dari segala sesuatu yang nyata”.
Sedangkan asma Al-Batin bermakna “Dialah yang paling tidak tampak dari
segala yang tak tampak.” Dua asma ini menggambarkan sifat-Nya.
Tidak ada sesuatu pun yang sedemikian nyata sehingga melampaui ke-
zGhir-an-Nya, dan tidak ada apa pun yang sedemikian tersembunyi sehingga
melampaui ke-bathin-an-Nya. Kekuasaan dan perbuatan-Nya begitu nyata di
alam semesta sehingga tidak ada satu makhluk pun yang tak melihatnya. Di
sisi lain, zat-Nya begitu tersembunyi dan tak terjangkau oleh akal maupun
pemikiran, sehingga tak ada sesuatu pun yang mampu melihat dan menyen-
tuh-Nya.
Dia yang paling zahirdan paling bathin, juga bermakna bahwa tak ada satu
pun—baik secara zahir maupun batin—yang tersembunyi dari-Nya. Segala
sesuatu, tampak atau tidak, terlihat maupun tersembunyi, mutlak ada dalam
kekuasaan-Nya dan pengetahuan-Nya.
Imam Al-Ghazali bahkan memahami kedua asma ini sebagaimana uraian-
nya, "Dia yang amat sangat zdhir-nya sehingga tak nampak oleh makhluk, dan
Dia amat sangat bahin-nya sehingga begitu jelas terlihat makhluk.”
0
Mereka yang menghayati kedua asma ini akan meninggalkan segala perbuatan
dosa mereka, baik dosa inderawi yang tampak, maupun dosa batin yang tak
tampak, seperti niat-niat buruk, kedengkian, lintasan pikiran yang buruk, dan
sebagainya.
Mereka dianugerahi pemahaman sejati dari kedua asma ini, sehingga
menyadari bahwa segala sesuatu memiliki sisi zahirdan sisi batin. Maka ketika
ja memahami sesuatu, ia tidak hanya memahami dari sisi tampak luarnya,
namun juga ia akan memahami sisi batinnya. Segala ayat-ayat Allah, baik
dalam Qur'an maupun di alam semesta, akan dipahaminya dengan utuh dari
kedua sisi tersebut.
co
“Ya Allah, Engkaulah Al-Awwal dan tiada sesuatu sebelum Engkau. Engkaulah
Al-Akhir dan tiada sesuatu setelah Engkau. Engkaulah Al-Zahir, tidak ada sesuatu
di atas-Mu. Engkaulah Al-Bathin, tiada sesuatu di bawah-Mu. Lunasilah hutang-
hutang kami, dan hindarkanlah kami dari kefakiran."