Manfaat KUR untuk Pengembangan UMKM
Manfaat KUR untuk Pengembangan UMKM
PROPOSAL
OLEH :
2019430098
FAKULTAS EKONOMI
UNIVERSITAS FLORES
ENDE
2024
A. Latar Belakang
Secara ekonomi, Indonesia menempati urutan ke-16 negara terbesar di dunia
karena memiliki wilayah yang luas dengan jumlah penduduk terbanyak nomor empat di
dunia. Namun, dengan pendapatan per kapita $4.900, hanya menempati urutan ke 126 di
dunia, yang menunjukkan bahwa kekayaan masyarakat masih rendah. Rendahnya tingkat
kesejahteraan penduduk negara tersebut tercermin dari jumlah penduduk miskin yang
tinggi, yaitu sebanyak 28,55 juta jiwa atau 14%. Ditambah, sebanyak 63% penduduk
miskin Indonesia yang berada di pedesaan dan sebagian besar adalah petani dan nelayan.
Jumlah pengangguran tetap sekitar 7% dari total penduduk yang bekerja atau
angkatankerja. Dalam kondisi ini, bangsa Indonesia menghadapi banyak masalah
mendasar seperti berbagai kesenjangan sosial dan ekonomi, kesenjangan antar daerah dan
infrastruktur yang tidak merata.
Lapangan kerja yang menjadi wadah bagi masyarakat untuk meningkatkan
kesejahteraannya belum mampu untuk menampung seluruh angkatan kerja yang ada.
Pendapatan yang memadai sangat diharapkan oleh masyarakat secara keseluruhan, karena
dengan pendapatan yang cukup maka semua kebutuhan keluarga dapat terpenuhi
(Syofyan : 2012).
Usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM) memiliki peran penting dalam
pembangunan ekonomi karena tingkat permintaan tenaga kerja yang relatif tinggi dan
kebutuhan investasi modal kecil. Menurut Afifah (2012), Usaha mikro, kecil menengah
yang disingkat UMKM dapat memperluas kesempatan kerja, memberikan pelayanan
ekonomi yang komprehensif kepada masyarakat, berperan dalam proses keadilan, dan
menghasilkan pendapatan bagi masyarakat serta dapat mendorong pertumbuhan ekonomi.
Usaha-usaha mandiri yang dijalankan oleh masyarakat kelas menengah ke bawah
memiliki peran strategis dalam menggerakkan roda perekonomian nasional, namun
negara seolah mengabaikan keberadaan UMKM. Ada begitu banyak UMKM di Indonesia
yang menghadapi kendala dalam mengembangkan usahanya yakni dalam hal
mendapatkan pinjaman kredit perbankan, pembinaan, dan pemasaran produk.
Usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM) sangat penting bagi pertumbuhan ekonomi
dan upaya mengatasi jumlah pengangguran, kemiskinan dan pemerataan pendapatan.
Peran UMKM (Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah) telah diakui oleh berbagai pihak
yang cukup besar dalam perekonomian nasional. Keinginan pemerintah untuk mendorong
pertumbuhan ekonomi Indonesia menjadi terbesar kelima di dunia tidak lepas dari peran
yang dimainkan oleh usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM). Banyak usaha kecil
yang bisa dilakukan untuk meningkatkan pendapatan mereka seperti perdagangan,
peternakan, dan lain sebagainya. Namun perkembangan UMKM umumnya masih
menghadapi berbagai kendala seperti keterbatasan modal bagi UMKM dan sulitnya
UMKM mengakses sumber permodalan yang menghambat perkembangan usaha UMKM.
Modal yang dibutuhkan untuk pengembangan usaha mikro, kecil dan menengah sangat
bergantung pada perputaran modal pribadi dan kinerja yang dicapai, beberapa di
antaranya kurang efektif.
Perbankan merupakan lembaga yang memegang peranan penting dalam
pembangunan suatu negara. Peran bank dan lembaga keuangan lainnya sangat penting
dalam membantu usaha mikro yang berjuang untuk mengumpulkan dana. Tujuan bank
untuk membiayai usaha mikro adalah untuk meningkatkan akses pembiayaan bagi usaha
mikro yang yang bergerak dalam kegiatan usaha produktif, untuk membantu usaha mikro
yang terlibat dalam pembangunan sektor aktual dan mereka yang terlibat dalam
pengurangan kemiskinan atau mitigasi dan perluasan kesempatan kerja. meningkatkan
keberdayaan umat (Fitriza: 2020). Oleh karena itu pemilik usaha kecil diharapkan dapat
terbantu dengan pinjaman modal dari lembaga keuangan yang memberikan pinjaman
khusus untuk mengatasi keterbatasan modal. Sebagaimana diketahui di atas bahwa
UMKM merupakan salah satu solusi untuk mengurangi ketimpangan dan kesenjangan
pendapatan masyarakat Indonesia, selain kontribusinya yang signifikan terhadap
perekonomian Indonesia. Hal ini mendorong pemerintah untuk terus menciptakan dan
mendukung program pemberdayaan ekonomi berbasis kerakyatan.
Menghadapi tantangan usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM), Presiden
Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) meluncurkan program Kredit Usaha Rakyat (KUR)
pada 5 November 2007. Kredit Usaha Rakyat adalah pinjaman atau pembiayaan untuk
modal kerja atau investasi pada usaha mikro, kecil, menengah dan koperasi di bidang
usaha yang produktif dan menguntungkan, namun belum bankable dan diterbitkan oleh
perusahaan penjaminan. Kredit Usaha Rakyat (KUR) juga telah terbukti berperan besar
dalam pengembangan UMKM, membantu mengurangi kemiskinan dan pengangguran.
Jenis usaha yang dibiayai KUR antara lain perdagangan, pertanian, telekomunikasi dan
restoran, menurut (Anggraini, 2013) didalam Fauziah (2019)
Tabel 1 Jumlah Kredit Usaha Rakyat (KUR) yang Disalurkan Oleh Bank Tahun 2023
KUR adalah kredit atau pembiayaan untuk usaha mikro, kecil dan menengah
(UMKM), yang diberikan dalam bentuk modal kerja dan investasi yang didukung oleh
skema penjaminan usaha produktif. Menurut Semara (2013) dalam Kadju & Bendesa
(2017), Kredit Usaha Rakyat (KUR) merupakan salah satu upaya pemerintah untuk
mendorong perbankan memberikan pinjaman modal kepada UMKM dan koperasi. Kredit
Usaha Rakyat bertujuan untuk mempercepat pengembangan kegiatan ekonomi di sektor
riil dalam rangka pengurangan dan pengentasan kemiskinan serta perluasan kesempatan
kerja.
Penerima KUR adalah individu/perseorangan atau badan hukum yang melakukan
usaha produktif, Adapun sumber dana untuk penyaluran KUR adalah 100% dari dana
penyalur KUR. KUR memiliki manfaat cukup besar bagi perekonomian msyarakat dan
bisnis perbankan. Keuntungan yang dihasilkan oleh pedagang biasa meningkat dengan
adanya pemberian KUR. Kredit Usaha Rakyat (KUR) merupakan pembiayaan kepada
Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) dalam bentuk modal kerja dan investasi yang
didukung fasilitas penjaminan untuk usaha produktif dan layak. Lembaga yang sering
menawarkan pinjaman modal usaha yang disebut dengan kredit adalah bank, dimana bank
sebagai suatu perusahaan yang harus memahami keinginan, selera dan berbagai
kebutuhan. Lembaga keuangan (perbankan) yang menawarkan produk kredit. Bank
Rakyat Indonesia (BRI) merupakan salah satu lembaga keuangan yang menyediakan
pembiayaan kepada UMKM, seperti KUR yaitu produk kredit bank dengan skala 5
Mikro yang khusus pembiayaan sector Usaha Mikro Kecil Menengah. Dilihat dari
sisi kelembagaann, maka sasaran KUR adalah UMKM sektor usaha yang diperbolehkan
untuk memperoleh KUR adalah semua sektor usaha produktif (Aidil 2014).
Apabila suatu usaha yang sebelumnya produktif kemudian menjadi tidak produktif untuk
kedepannya dianggap mengandung resiko terhadap pemberian pinjaman karena dapat
menimbulkan adanya kredit macet, hal ini dikarenakan kurangnya pendapatan yang
didapatkan oleh pelaku UMKM. Pinjaman yang diberikan terhadap kreditur yang tidak
memenuhi syarat sesuai dengan ketentuan yang dilakukan oleh bank maka akan
menimbulkan permasalahan yang dapat mempengaruhi besar kecilnya keuntungan yang
di dapat oleh bank. Maka bank perlu melakukan strategi khusus agar para debitur yang
melakukan pinjaman tidak menimbulkan dampak yang merugikan bank itu sendiri.
Dampak yang sangat fatal apabila terjadi kredit macet akan mempengaruhi kinerja bank
dalam menetapkan anggaran kredit usaha rakyat untuk tahun berikutnya. Hal seperti ini
tentu saja sering timbul dari kalangan pelaku UMKM yang terkadang belum mampu
membayarkan sejumlah pinjaman kepada bank. Oleh karena itu pihak bank harus
memiliki kebijakan dan strategi agar tidak timbul permasalahan kredit macet.
Tabel 2 Tabel KUR DiKabupaten Nagekeo
Usaha mikro kecil atau UMKM adalah salah satu usaha yang dilakukan sebagian
masyarakat di Desa Kelimado Kecamata Boawae Kabupaten Nagekeo untuk menikatkan
kebutuhan masyarakat dalam hal material. Walupun mata pencarian utama sebagian besar
masyarakat di Desa Kelimado adalah bertani padi, kacang, kemiri, sayur- sayuran,
cengke,coklat tetapi masyarakat di Desa Kelimado juga memiliki usaha lain seperti
pedagang ikan, pedagang barang, campuran,pedagang sayur, pedagang kamiri. Dan lain
sebagainya. Permasalah usaha mikro kecil atau UMKM di Desa Kelimado Kecamatan
Boawae Kabupaten Nagekeo banyak sekali masyarakat yang menjadi pelaku usaha
UMKM tetapi banyak juga yang ambil KUR diBANK lalu ada yang sukses tapi juga
tidak sedikit terlilit utang yang berkepanjangan sehinga harus jual aset untuk tutup utang
atau pergi merantau ke Kalimantan supaya bisa tutup utang.
Berdasarkan permasalahan diatas peneliti bermaksud ingin meneliti lebih lanjut
tentang “pengaruh kredit usaha rakyat ( KUR ) BRI terhadap perkembangan usaha mikro
kecil dan menengah ( UMKM ) didesa kelimado kecamatan boawae kabupaten nagekeo”
B. Rumusan Masalah
Dari uraian latar belakang diatas maka rumusan masalah yang akan dibahas dalam
penelitian ini yaitu apakah kredit usaha rakyat (KUR) BRI terhadap perkembangan
usaha mikro dan kecil UMKM diDesa Kelimado Kecamatan Boawae Kabupaten Nagekeo
?
C. Tujuan Penelitian
Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui apakah kredit usaha rakyat atau KUR BRI
terhadap peningkatan pendapatan usaha mikro kecil atau UMKM diDesa Kelimado
Kecamatan Boawae Kabupaten Nagekeo.
D. Manfaat Penelitian
Berdasarkan hasil penelitian ini diharapkan dapat diperoleh manfaat sebagai berikut:
1. Manfaat Teoritis
Penelitian ini diharapkan dapat memberikan masukan ilmu pengetahuan serta
pengembangan teori didunia akademis, khususnya dalam bidang ekonomi
pembangunan.
2. Manfaat praktis
a. Bagi penulis
Penulis damat menambah pengetahuan menerapkan ilmu yang telah diperoleh
dibangku kuliah.
b. Sebagai persaratan dalam menyelesaikan studi pada Fakultas Ekonomi, Ekonomi
pembangunan.
3. Bagi instansi pemerintah
Penelitian ini diharapkan dapat menjadi dokumentasi dan refrensi bagi pihak instansi
yang bersangkutan
[Link] Teori
2. KUR Retail
Segmen dari KUR Retail adalah usaha kelas menengah yang mampu membayar cicilan
dan bunga flat atau anuitas. Dari segi target, KUR Mikro dan KUR Retail jelas berbeda,
jadi maksimal pinjaman modalnya pun terpaut jauh yaitu mencapai Rp 500 juta. Selain
maksimal pinjaman atau plafonnya yang tinggi, KUR Retail ini juga menawarkan jangka
waktu pinjaman yang cenderung lebih lama, yaitu maksimal empat tahun untuk kredit
pembiayaan modal kerja dan lima tahun untuk pembiayaan investasi.
Sementara syarat yang dibutuhkan untuk pengajuan KUR Retail tidak jauh berbeda
dengan syarat pada Kredit Mikro. Mungkin ada sedikit perbedaan, yaitu tuntutan agar
peminjam memiliki agunan atau jaminan. Penempatan dana berupa kredit modal kerja dan
atau investasi kepada debitur yang memiliki usaha produktif dan layak dengan platfond
25 juta s.d 500 juta perdebitur dengan rincian:
a. Kredit modal kerja (KMK) jangka waktu maksimal 4 tahun
b. Suku bunga sebesar 7% (tujuh persen) efektif pertahun atau disesuaikan dengan suku
bunga/ marjin flat/ anuitas yang serta.
c. Tidak dipungut biaya provisi dan administrasi agunan sesuai ketentuan pada saat
pengajuan.
d. Dalam hal skema pembayaran KUR kecil, penerima KUR dapat melakukan
pembayaran pokok dan suku bunga/ marjin kecil secara angsuran berkala dan/atau
pembayaran sekaligus saat jatuh tempo sesuai dengan kesepakatan antara penerima
KUR dan penyalur KUR dengan memperhatikan kebutuhan skema pembiayaan
masing-masing penerima KUR.
3. KUR Tenaga Kerja Indonesia
KUR Tenaga Kerja Indonesia berbeda dari kedua jenis KUR sebelumnya. Bantuan
permodalan yang diberikan pemerintah ini tidak menyasar pelaku usaha. Seperti
namanya, KUR Tenaga Kerja Indonesia dibuat untuk para tenaga kerja Indonesia (TKI)
yang bekerja di luar negeri. Tujuannya agar para TKI yang mau berangkat dan melakukan
perjalanan ke luar negeri memiliki modal awal. Agar masyarakat bisa mendapatkan
bantuan ini secara adil dan diterima dalam bentuk nyata, KUR TKI didesain dengan
struktur khusus untuk pemerataan alokasi, stabilisasi dan distribusinya.
Masalah nominal, para calon TKI yang disetujui untuk mendapat KUR, akan
menerima pinjaman modal maksimal hingga Rp25 juta dengan suku bunga 7% per
tahun. Sedangkan untuk tempo pengembalian adalah paling lama tiga tahun sejak
pinjaman tersebut cair. Ada syarat berupa dokumen-dokumen yang perlu disiapkan untuk
KUR jenis ini, yaitu KTP, KK, surat keterangan domisili dan surat keterangan sehat dari
dokter. Selain itu, calon TKI juga harus punya surat perjanjian kontrak kerja.
[Link]-Syarat Penerima Kredit Usaha Rakyat
Syarat-syarat yang harus dipenuhi seseorang penerima kredit usaha rakyat ( KUR )
adala sebagai berikut:
1. Mempunyai usaha yang produktif
Yaitu usaha yang menghasil kan barang dan jasa untuk memberikan nilai tambah dan
meningkatkan pendapatan bagi pelaku usaha yang sudah berjalan 6 bulan sampe
dengan 2 tahun jadi bukan usaha baru.
2. Usahanya layak
Yaitu usaha calon debutur yang menguntungkan atau memberi labah sehingga
mampu membayar seluruh utang bunga dan mengembalikan seluruh utang atau
kewajipan pokok kredit dalam jangkah waktu yang telah disepakati bank dandebitur
KUR dan memberikan sisa keuntungan untuk mengembangkan usahanya.
3. Belum bankable
Artinya calon debitur belom mmenuhi persaratan teknik perbankan terutama masalah
agunan dan aspek legalitasnya. Umkm dikategorikan belum bankable karena belum
dapat memenuhi persaratan perkreditan dari bank pelaksanaan antara lain dalam
menyediakan agunan.
4. Tidak sedang menerima kredit dari perbankan
Calon debitur atau umkm tidak boleh sedang menerima kredit perbankan dari
lembaga keuangan lainya selain kredit KUR tersebut, kecuali kredit konsuntif.
5. Memenuhi persaratan administrasi
Calon debitur atau UMKM harus memenuhi persaratan administrasi yakni identitas
KTP, Kartu Keluarga, dan surat ijin usaha ( cukup level keseluruhan atau kecamatan ).
Jika ingin pengajuan untuk penepatan TKI, maka harus memiliki juga: perjanjian
penempatan kerja dan paspor dan visa.
6. Tinjauan megenai pengunaan dana
Salah satu kebijakan perkreditan yakni effectiveness, artinya kredit yang diberikan
benar-benar digunakan untuk pembiayaan yang seharusnya, dalam penyaluran kredit
usaha, perlu dipastikan oleh pihak perbankan kepada nasabah tersebut tepat digunakan
untuk keperluan usaha, misalnya sebagai tambahan modal usaha serta digunakan
untuk mengembangkan usaha. Pengembangan usaha yaitu upah dalam meningkatkan :
jumlah produksi, jumlah pelanggan, perluasan usaha, perluasan daerah pemasaran,
perbaikan sarana fisik dan lainya.
7. Tinjauan mengenai jumlah kredit
Tinjauan ini merupakan ketepatan jumlah kredit yang akan diterima oleh nasabah
peminjam kredit dari dana yang diajukan sebelumnya oleh parah nasabah sesuai
kebutuhan usaha mereka. Dalam pemberian kredit pemohon menentukan besarnya
jumlah kredit yang ingin diperoleh dalam jangkah waktu kreditnya penilaian besarnya
kredit dan jangkah waktunya dapat kita liat dari laporan keuangan ( neraca dan
laporan laba rugi ) jika dari hasi analisis tidak seuaian dengan pemohonan, maka
pihak bank berpedoman terhadap hasil analisis mereka dalam memutuskan jumlah
kredit yang layak untuk diberikan kepada sipemohon.
5..Ketentuan Kredit Usaha Rakyat
Penyaluran kredit usaha rakyat (KUR) diatur oleh pemerintah melalui peraturan
mentri keuangan No. 135/.05/2008 tentang fasilitas penjaminan kredit usha rakyat (KUR)
yang telah diubah dengan peraturan Mentri keuangan No. 10/PMK.05/2009. Beberapa
ketentuan yang dipersayaratkan oleh pemerintah dalam penyaluran kredit usaha rakyat
(KUR) yakni sebagai berikut:
1. Usaha Mikro Kecil Menegah (UMKM) yang dapat menerima fasilitas penjamin
adalah usaha produktif yang dianggak layak oleh bank (feasible) namun belum
memenuhi persyaratan yang diminta oleh bank (bankable) dengan ketentuan sebagai
berikut:
a) Merupakan debitur yang belum pernah mendapatkan kredit atau pembiayaan dari
perbankan yang dibuktikan dengan melalui sistem informasi.
b) Khusus untuk penutupan pembiayaan KUR antara tanggal nota kesepakatan bersama
penjaminan kredit usaha rakyat (KUR) dan sebelum addendum (tanggal 9 Oktober
sampai dengan 14 Mei 2008), maka fasilitas penjaminan dapat diberikan kepada
debitur yang belum pernah mendapatkan pembiayaan kredit program lainnya.
c) Kredit usaha rakyat (KUR) yang dijanjikan antara bank pelaksana dengan usaha
mikro kecil menengah( UMKM) yang bersangkutan.
2. KUR disalurkan kepada UMKM untuk modal kerja dan investasi dengan ketentuan:
a) Untuk kredit sampe dengan Rp 5 juta, tingkat bunga kredit atau margin pembiayaan
yang dikenakan maksimal sebesar atau setara 24% efektif pertahun.
b) Untuk kredit diatas Rp 5 juta rupiah sampai dengan Rp 500 juta, tingkat bunga kredit
atau margin pembiayaan dikenakan maksimal 165 efektif pertahun.
c) Bank pelaksana memutuskan pemberian kredit usaha rakyat (KUR) Berdasarkan
penilaian terhadap kelayakan usaha sesuai dengan asas-asas perkreditan yang sehat serta
dengan memperhatikan ketentuan yang berlaku.(Apriliani,2009).
6. Pengertian Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM)
Usaha mikro kecil menengah (UMKM) Merupakan kegiatan usaha yang mampu
memperluas lapangan kerja, memberikan pelayanan ekonomi secara luas kepada
masyarakat, mendorong pertumbuhan ekonomi, dan berperang dalam mewujudkan
stabilitas nasional (Hidayat dan Fadillah, 2011) didalam Fitriza 2020.
Berdasarkan Undang-undangRepublik Indonesia Nomor 20 tahun 2008 tentang
UMKM adalah usaha produktif milik peseorangan dan badan usaha perorangan dan atau
badan usaha perorangan yang memenuhi kriteria usaha mikro sebagaimana diatur dalam
Undang-undang tersebut. UMKM juga merupakan unit usaha produktif yang berdiri
sendiri, yang dilakukan oleh orang perorangan atau badan usaha disemua sektor ekonomi.
Diakui, bahawa usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) memainkan peran yang
sangat penting didalam pembangunan dan pertumbuhan ekonomi di Negara maju maupun
berkembang. Hal tersebut dikaranakan banyaknya UMKM yang tersebar sehingga
menyumbang banyak lapangan pekerjaan dinegara tersebut dibandingkan dengan industri
besar. Di Indonesia terdapat beberapa defenisi usaha mikro menurut SK yang berskala
kecil dan memenuhi kriteria kekayaan bersih atau hasil penjualan serta kepemilikan
sebagamana diatur dalam undang-undang ini.
7. Jenis Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM)
1. Usaha Mikro
Usaha mikro UMKM adalah usaha produktif milik orang peorangan atau badan usaha
peorangan yang memenuhi kriteria usaha mikro sebagaimana diatur dalam UU tersebut.
Penjualan atau omzet dari uaaha mikro dalam setahun paling banyak Rp.300 juta dan
umlah aset bisnisnya maksimal Rp 50 juta (diluar aset tanah dan bangunan). Tak jarang
dalam pengelolaan, keuangan usaha mikro masi tercampur dengan keuangan pribadi
pemiliknya. Contoh UMKM mikro adalah pedagang kecil dipasar, usaha pangkas rambut,
pedagang asongan, dan sebagainya.
2. Usaha Kecil
Usaha kecil adalah usaha ekonomi produktif yang berdiri sendiri, dilakukan oleh orang
perorangan atau badan usaha yamg bukan merupakan anak perusahaan atau bukan cabang
perusahaan yang dimiliki, dikuasai, atau menjadi bagain baik langsung maupun tidak
langsung dari usaha menengah atau usaha besar yang menuhi kriterian usaha kecil yang
dimaksud dalam UU tersebut. Arti UMKM kategori usaha kecil yakni memiliki kekayaan
bersih antara Rp 50 juta sampai dengan Rp 500 juta, lalu penjualan per tahun antara Rp
300 juta sampai Rp 2,5 miliar. Pengelolaan keuangan usaha kecil juga sudah lebih
profesional ketimbang usaha mikro. Contoh UMKM kecil adalah usaha binatu, restoran
kecil, bengkel motor, catering, usaha fotocopy, dan sebagainya.
3. Usaha Menengah
Sementara usaha menengah adalah usaha ekonomi produktif yang berdiri sendiri, yang
dilakukan oleh orang perorangan atau badan usaha yang bukan merupakan anak
perusahaan atau cabang perusahaan yang dimmiliki, dikuasai, atau menjadi bagaian baik
langsung maupun tidak langsung dengan usaha kecil atau usaha besar dengan jumlah
kekayaan bersih atau hasil penjualan tahunan sebgaimana diatur dalam UU tersebut.
Kekayaan bersih usaha menengah diluar tanah dan bangunan sudah mencapai diatas Rp
500 juta per tahun. Usaha menengah atau menengah UMKM adalah juga memiliki
kriterial omzet penjualan sebesar lebih dari Rp 2,5 miliar sampai Rp 50 miliar per tahun.
Selain pengelolaan keuangan yang sudah terpisah, usaha menengah sudah memiliki
legalitas. Contoh UMKM menengah adalah perusahaan pembuat roti skala rumahan,
restoran besar, hinga took bangunan.
8. Kriterial Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM)
Pada Undang-undang Nomor 20 tahun 2008 telah dijelaskan apa saja yang termasuk
kedalam kriteria usaha mikro, kecil dan menengah, tetapi pada tahun 2021 aturan ini
kembali diperbarui lewat PP No. 7 tahun 2021. Berikut adalah perbandingan antara aturan
lama dengan aturan baru:
1. Dari segi klarifikasi usaha
Pada aturan terbaru, UMKM diklasifikasikan berdasarkan modal usaha atau hasil
penjualan selama satu tahun. Adapun yang dimaksud modal usaha termasuk modal
milik sendiri dan modal dari pinjaman yang dimanfaatkan untuk melakukan kegiatan
operasional usaha.
Dalam aturan sebelumya, UMKM diklasifikasikan berdasarkan nilai kekayaan
bersih atau nilai penjualan tahunan. Kekayaan bersih merupakan jumlah seluruh aset
setelah dikurangi dengan kewajiban dan utang.
2. Dari segi modal usaha/kekayaan bersih
Menurut aturan terbaru, usaha mikro memiliki modal usaha paling banyak Rp 1
miliar. Adapun usaha kecil memiliki modal lebih dari Rp 1 miliar dan maksimal Rp 5
milia. Untuk kategori usaha menengah, modal yang dimiliki lebih dari Rp 5 miliar
dengan modal maksimal Rp 10 miliar.
Sementara itu, pada aturan lama, usaha mikro adala h usaha dengan modal paling
besar Rp50 juta dan usaha kecil memiliki modal lebih dari Rp50 juta tapi tidak lebih
dari Rp500 juta. Kriteria usaha menengah dalam aturan lama usaha menengah
memiliki kekayaan bersih atau nilai modal nilai usaha lebih dari Rp500 juta dengan
nilai modal maksimal Rp10 milia. Nilai modal ini tidak termasuk bangunan dan tanah
tepat usaha dijalankan.
3. Dari total hasil penjualan tahunan
Berdasrkan aturan baru, usah mikro adalah usaha yang memiliki nilai total
penjualan tahunan maksimal Rp2 miliar. Adapun usaha kecil menghasilkan penjualan
tahunan lebih dari Rp2 miliar tetapi lebih kecil dariRp15 miliar. Kemudian yang
termasuk kategori usaha menengah adalah usaha yang hasil penjualan tahunannya
berkisar antaraRp15-Rp50 miliar.
Nilai ini lebih besar dibandingkan dalam aturan lama yang menetapkan usaha
mikro sebai usaha dengan hasil penjualan tahunan maksimal Rp300 juta dan usaha
kecil memiliki hasil penjualan tahunan antara Rp300 juta sampai Rp2,5 miliar. Dalam
peraturan lama, usaha menengah memiliki hasil penjualan tahunan lebih dari Rp2,5
miliar dengan hasil penjualan tahunan terbesar Rp50 miliar.
Meski termasuk salah satu sektor yang penting, faktanya berpegangan UMKM di
Indonesia masi terhambat oleh sejumlah permasalahan. Hal-hal krusial yang
berpengaruh terhadap perkembangan UMKM di Indonesia antara lain:
1. Jangkauan terhadap teknologi, informasi dan komunikasi
Salah satu faktor penting yang dapat mendukung perkembangan UMKM di
tanah air adalah teknologi dan pemanfataannya. Para pelaku UMKM perlu diberi
edukasi berbasis teknologi untuk mengembangakan usahanya. Mendirikan toko
online, melayani pembelian secara online hinga membuat website sendiri adalah
beberapa langkah yang bisa membuat jangkauan pemasaran menjadi lebih luas.
Pemerintah bahkan secara khusus menjadikan UMKM sebagai target digitataliasi.
Upaya pemerintah mulai menunjukkan hasil yang mengembirakan. Hal ini
terbukti dengan data yang diperoleh kemenkop UKM bahwa per tahun 2017
silam sudah ada 8 juta UMKM yang go-digital dan jumlah ini terus bertambah
sampai hari ini.
2. Kemudahan terhadap akses modal
Modal adalah faktor yang sangat penting bagi sebuah bisnis, tidak terkecuali
untuk sektor UMKM. Kemudahan akses perbankan adalah salah satu pendorong
tubuhnya sektor ini. Pemerintah melalui sistem perbankan nasional mulai
mewajibkan alokasi dana kredit khusus UMKM sebesar 5% mulai tahun 2015
lalu. Nilai ini terus mengalami kenaikan sampai 20% per 2018.
Tak hanya itu, kebutuhan modal usaha mikro yang tergolong kecil tentu akan
memudahkan siapa saja untuk memasuki sektor ini. Dengan begitu, kita bisa
mengharapkan pertumbuhan yang lebih besar lagi di sektor UMKM dalam
beberapa tahun kedepan.
3. Penurunan tarif PPh final
Dukungan pemerintah terhadap sektor UMKM juga ditunjukkan dengan
penurunan tariff PPh final pada awalnya pemerintah menetapkan kewajiban
pajak sebesar 1%. Naman, per bulan juli 2018 aturan baru menetapkan turunnya
tariff PPh final untuk pelaku UMKM menjadi setengahnya yakni hanya 0,5% saja.
4. Sistem pembukuan yang lebih moderen
Hal lain yang tak kalah penting dalam mendorong pertumbuhan UMKM adalah
tersedianya sistem pengelolaan karyawan termasuk absensi dan gaji karyawan
yang lebih praktis dan moderen. Alih-alih menggunakan cara manual yang
merepotkan, kini pelaku UMKM bisa menikmati buku gaji. Sebagai aplikasi
pengelolah karyawan nomor 1 di Indonesia, pengusaha UMKM dapat melakukan
pengelolaan absensi hingga penghitungan gaji professional yang lebih praktis.
10. Peran Dan Fungsi UMKM Bagi Kondisi Ekonomi
1. Membuka lapangan pekerjaan
Peluang pekerjaan baru pasti akan terbuka bagi masyarakat disekitarnya. Berbeda
dengan perusahaan besar, UMKM biasanya memiliki syarat lapangan kerja yang ringan
dan dapat dilamar oleh masyarakat dengan tingkat pendidikan rendah maupun tanpa
kualifikasi yang spesifik.
Karenanya, usaha ini dapat menjadi kesempatan bagi masyarakat untuk bisa
mendapatkan penghasilan tanpa harus meninggalkan kegiatan harian yang tidak dapat
ditinggalkan. Sebagai contoh, ibu rumah tangga dapat bergabung pada komunitas bisnis
mikro maupun kecil dan menjadi pengrajin maupun pekerja dibidang kuliner.
2. Mendorong kondisi ekonomi yang lebih merata
UMKM yang maju menjadi salah satu cara bagi suatu negara untuk bisa mewujudkan
kondisi perekonomian yang merata. Bahkan, melalui usaha ini, kondisi ekonomi dikota
kecil maupun pedesaan juga akan ikut terdorong dan bertumbuh.
Masyarakat juga mampu mengakses beragam produk dan jasa secara langsung di area
sekitar tempat tinggal, tanpa harus menuju ke pusat kota. Bisa dibayangkan jika tidak
ada UMKM yang berkembang, masyarakat pedesaan setiap harinya harus menuju
kepusat pembelajaan dikota besar sebatas untuk memenuhi kebutuhan primer saja. Saat
hal ini terjadi, sudah pasti kondisi ekonomi di pedesaan jauh lebih terpuruk ketimbang
masyarakat yang tinggal di tengah kota.
3. Meningkatkan devisa negara
Devisa merupakan salah satu faktor yang menu jukkan kondisi ekonomi sebuah negara.
Jika nilainya tinggi, bisa dibilang negara tersebut memiliki kondisi perekonomian yang
maju dan dapat dianggap sebagai bangsa yang kaya. Nah, dengan meningkatakan
kehadiran UMKM dan mengelolahnya dengan baik, secara tidak langsung negara juga
tidak langsung negara juga turut menumbuhkan devisa.
Contoh paling mudah adalah UMKM yang terpadu mampu memproduksi barang
berkualitas minga menarik perhatian konsumen luar negri. Saat sering melakukan
aktivitas barang ke konsumen asing, negara akan menerima pemasukan tambahan.
Terlebih, dewasa ini aktivitas jual beli internasional dapat dengan mudah dilakukan
melalui internet secara online.
4. Memacu ekonomi di situs kritis
UMKM sudah terbukti mampu membangkitkan ekonomi disaat negara mengalami
situasi yang kritis. Pada ahun 1997, krisis moneter yang terjadi Indonesia berhasil
diatasi berkat sektor UMKM yang terus berkembang. Alhasil, meski sering diterpa isu
krisis moneter, masyarakat Indonesia masi mapu memenuhi kebutuhan primernya
dengan lebih mudah.
Hal serupa juga kemvali terjadi disaat pendemi virus covid-19 ini. Disaat adanya
anjuran untuk tidak beraktivitas diluar rumah, UMKM dapat beradaptasi dengan
menawarkan barang dagangannya secara online dan tetap memenuhi kebutuhan
masyarakat . dengan begitu, kondisi ekonomi akan tetap berjalan dan lambat laun
kembali bangkit.
5. Memenuhi kebutuhan masyarakat secatra akurat
Dijallankan oleh masyarakat kecil sendiri, bisnis ini pada umumnya lebih memahami
kebutuhan apa yang sedang dibutuhkan oleh masyarakat serikat. Barang yang
diproduksi dan diinovasikan pun seringkalih secara akurat memenuhi kebutuhan
masyarakat.
Tidak hanya itu, pelaku UMKM juga pasti mendapatkan bahan buku produksi dari
lingkungan sekitar dan produsen lokal. Hal ini tentu dapat menjanjikan keuntungan
tambahan bagi masyarakat sekitar yang juga akan menjadi konsumen dan meningkatkan
perputaran ekono mi yang lebih pesat.
11. Teori Perkembangan Usaha
Pengembangan usaha adalah suatu proses pelaksanaan usaha mengenai peluang
pertumbuhan potensial selama usaha itu berlangsung. Dalam hal ini perusaan dapat
memanfaatkan satu sama lain keahlian, teknologi atau kekayaan intelektual untuk
memperluas kapasitas mereka untuk mengidentifikasi, meneliti, menganalisis dan
membawa kepasar bisnis baru dan produk baru, pengembangan bisnis berfokus pada
implementasi dari rencana bisnis strategi melalui ekuitas pembiayaan, akuisisi atau
divestasi teknologi, produk, dan lain-lain. Jadi, perkembangan usaha merupakan suatu
bentuk usaha untuk usaha itu sendiri agar dapat berkembang menjadi lebih baik untuk
mencapai pada satu titik kesuksesan dan keuntungan.
Perkembangan usaha akan dilihat dari proses jalannya usaha itu sendiri dan
kemungkinan adanya usaha tersebut tumbuh dan berkembang. Usaha mikro diartikan
sebagai model usaha yang paling kecil, biasanya dilakukan dirumah dan sebagian besar
tenaga kerjanya oleh kerabat keluarga, seperti dagang. Usaha kecil adalah kegiatan
ekonomi rakyat yang berskala kecil dan memenuhi kriteria kekayaan bersih atau hasil
penjualan tahunan serta kepemilikan.
12. Teori Peningkatan Pendapatan Nasabah
Sesuai definisi di PSAK 23 (Revisi 2010) pendapatan adalah arus masuk kotor dari
manfaat ekonomi yang timbul dari aktivitas normal entitas selama suatu periode jika arus
masuk tersebut mengakibatkan kenaikan ekuitas yang tidak berasal dari kontribusi
penanam modal. Dalam Kerangka Dasar Penyusunan dan Penyajian Laporan Keuangan
(KDP2LK), penghasilan adalah kenaikan manfaat 28 ekonomi selama suatu periode
akuntansi dalam bentuk pemasukan atau penambahan aset atau penurunan liabilitas yang
mengakibatkan kenaikan ekuitas yang tidak berasal dari kontribusi penanam modal.
Penghasilan terdiri dari pendapatan (revenue) dan keuntungan (gain).
Pendapatan adalah penghasilan yang berasal dari aktivitas normal dari suatu entitas dan
merujuk kepada istilah yang berbedabeda seperti penjualan (sales), pendapatan jasa (fees),
bunga (interest), dividen (dividend), dan royalti (royalty). Sedangkan keuntungan
mencerminkan pos lain yang memenuhi definisi penghasilan dan mungkin timbul atau
mungkin tidak timbul dalam pelaksanaan aktivitas perusahaan yang biasa. Keuntungan
mencerminkan kenaikan manfaat ekonomi dan dengan demikian pada hakikatnya tidak
berbeda dengan pendapatan. Contoh keuntungan, misalnya keuntungan dari penjualan
aset tetap. Sesuai definisi pendapatan, perusahaan hanya mengakui pendapatan yang
berasal dari manfaat ekonomi yang diterima atau dapat diterima oleh entitas untuk entitas
itu sendiri. Jumlah yang ditagih atas kepentingan pihak lain, seperti pungutan Pajak
Pertambahan Nilai (PPN) bukan merupakan pendapatan, karena tidak mengalir ke entitas
dan tidak mengakibatkan kenaikan ekuitas.
Sedangkan yang dimaksud dengan nasabah menurut Undang-Undang No. 24 Tahun 2004
tentang Lembaga Penjamin Simpanan mengenal pengertian nasabah sebagaimana
dijelaskan dalam Undang-Undang No. 10 Tahun 1998 tentang Perubahan Atas Undang-
Undang No. 7 Tahun 1992 tentang Perbankan, yaitu:
E. Metode Penelitian
1. Jenis Dan Sumber Data
a. Jenis Data
Jenis data yang dikumpulkan terdiri data kuantitatif dan kualitatif (joka dan
kune,2021)
1. Kualitatif yaitu data yang bukan dalam bentuk angka-angka atau tidak dapat
dihitung dan diperoleh dari hasii wawancara dengan pengusaha untuk mendapat
informasi-informasi yang diperoleh dari pihak lain yang berkaitan dengan
masalah yang diteliti. Variabel kredit usaha rakyat dan variabel usaha mikro kecil
menengah.
2. Data kuantitatif
Data kuantitatif adalah data yang dipaparkan dalam bentuk angka-angka.
Misalnya jumlah pengusaha variabel kredit usaha rakyat dan variabel usaha
mikro kecil menengah.
b. Sumber Data
Sumber data yang digunakan dalam penelitian ini berbagi menjadi dua berdasarkan
pada pengelompokanya yaitu.
1. Data Primer
Adalah data yang diperoleh langsung dari lapangan oleh peneliti melalui
wawancara dengan pihak terkait dan penyebar konsioner (siregara, 2013)
variabel kredit usaha rakyat dan variabel usaha mikro kecil menengah.
2. Data sekunder
Data sekunder adalah data yang diterbitkan atau digunakan oleh organisasi yang
bukan penggelolaannya (siregar, 2013) dalam penelitian ini data sekunder dapat
diperoleh dari lokasi serta instansi yang menjadi objek penelitian. Variabel kredit
usaha rakyat dan usaha mikro kecil menengah.
c. Lokasi Penelitian
1. Lokasi penelitian
Lokasi penelitian bertempat didesa kelimado kecamatan boawae kabupaten
nagekeo.
d. Oprasionalisasi Variabel Penelitian
Menurut (Sandu siyoto & sodik, 2015) menyatakan bahwa variabel dalam penelitian
adalah suatu menjadi fokus perhatian yang memberikan pengaruh dan mempunyai
nilai. Variabel independen atau variabel bebas adalah variabel yang menjadi
pengaruh atau sebab terjadinya perubahan atau timbulnya variabel terikat. Variabel
independen dilambangkan dengan X dan dalam penelitian ini yang menjadi variabel
independen.
e. Populasi Dan Sampel
a. Populasi
Adalah wilayah generarilasi yang terdiri atas objek atau subyek yang
mempunyai kualitas dan krateritis tertentu yang ditetapkan oleh peneliti
untuk dipelajari dan ditarik kesimpulannya. (sugiyono, 2018) populasi
adalah keseluruhan unit atau individu dalam ruang lingkup yang akan
diteliti. Adapun populasi dalam penelitian ini adalah masyarakat didesa
kelimado kecamatan boawae kabupaten nagekeo.
b. Sampel
Sampel adalah sebagian dari populasi yang terpilih dan mewakili populasi.
Dalam penelitian terdapat dua teknik sampel yang bisa digunakan yaitu
probability sampeling dengan non probability sampling. Adapun teknik
sampel yang digunakan adalah probability sampling yaitu teknik
pengambilan sampel memberikan peluang yang sama bagi setiap unsur
(anggota) populasi untuk dipilih menjadi anggota sampel. Sampel yaitu
sebagian dari jumlah populasi yang akan ditelitih dengan melihat waktu,
tenaga, luas wilayah dan dana sehingga penulis dengan menentukan
jumlah sampel dengan mengunakan rumus sovin adalah sebagai berikut.
N
N=
1+ne ²
n : Jumlah sampel
N : Jumlah populasi
e : Batas toleransi kesalahan error tolerance 10%
50
N=
1+ 50.(0 , 1)²
N = 1+50.(0 , 1)²
50
N=
1, 5
N = 33,33
N = 33
Dari hasil perhitungan sampel bahwa jumlah sampel yang dibutuhkan
dalam penelitian ini adalah sebanyak 33 orang.
f. Teknik Pengumpulan Data
Menurut (Rianse & Abdi, 2008) Teknik pengumpulan data adalah cara-cara atau
teknik yang dapat digunakan oleh peneliti untuk peneleliti untuk mendapatkan data.
Dalam peneliti ini adlah beberapa teknik yang dilakukan antara lain.
1. Observasi
Observasi adalah pengumpulan data dengan cara mengandalkan pengamatan
secara langsung terhadap objek peneliti.
2. Wawancara
Menurut (Sugiyono, 2018) wawan cara digunakan sebagai teknik pengumpulan
data apabila peneliti melakukan studi.
3. Dokumentasi
Menurut (Sugiyono, 2018) Dokumentasi adalah suatu cara digunakan untuk
memperoleh data dan informasi dalam bentuk buku arsip dokumen tulisan agka
dan gambar yang berupa laporan serta keterangan yang dapat mendukung
penelitian.
4. Kosioner
Menurut (Sugiyono, 2018) Kosioner merupakan teknik pengumpulan data
deengan cara memberi secara seperangkat pertanyaan dan pernyataan tertulis
kepada responden untuk menjawabnya.
g. Teknik Analisis Data
Teknik analisis data adalah proses pencarian dan menyusun secara sistematis data
yang diperoleh dari hasil wawancara, catatan lapangan dan kosioner dengan cara
mengorganisasikan data kedalam kategori menjabarkan ke dalam unit-unit,
melakukan sintesa menyusun kedalam pola, memilih mana yang penting yang akan
dipelajari dan kemudian membuat kesimpulan sehinga mudah dipahami oleh diri
sendiri maupun orang lain (Sugiyono, 2018). Prosedur analisis yang dimaksud dalam
penelitian ini adalah.
1. Analisis Regresi Linear sederhana
Analisis ini digunakan untuk mengetahui ada dan tidaknya atau seberapa besar
pengaruh antara variabel X (independen) terhadap variabel Y (dependen).
Sugiyono (2014:270). Analisis ini mengestimasi besarnya koefisien yang
dihasilkan dari persamaan yang bersifat linear, yang melibatkan satu variabel
bebas sebagai alat prediksi besarnya nilai variabel terikat. Maka persamaan
regresi linear sederhana adalah sebagi berikut :
Y = a+Bx+e
Keterangan :
Y = perkembangan usaha mikro menengah (UMKM)
a = konstanta
b = koefisien regresi
X = kredit usaha rakyat (KUR)
e = error (tingkat kesalahan)
2. Uji F
Bertujuan untuk mengetahui ada tau tidaknya pengaruh simultan (bersama-
sama) yang diberikan dari variabel bebas (X) terhadap variabel terikat (Y).
3. Koefesien Determinasi
Bertujuan untuk mengetahui presentasi pengaruh yang diberikan variabel X
terhadap variabel Y secara simultan terhadap variabel Y.
4. Uji Validitas
Uji validitas digunakan untuk mengetahui sah atau valid tidaknya suatu kosioner.
Suatu kosioner dikatakan valid jika pertanyaanya pada kosioner mampu untuk
mengungkapkanseuatu yang diukir oleh kosioner tersebut. Uji validitas dilakukan
dengan membandingkan nilai r hitung (correlated item-total correlations)
dengan nilai r tabel jika nilai r hitung >r tabel dan bernilai positif maka
pertanyaan tersebut dikatakan valid.
5. Uji Reliabitas
Uji reliabitas adalah untuk mengukur suatu kosioner yang meruap indikator dari
variabel konstruk. Suatu konsioner dikatakan reliabel atau handal jika jawaban
seseorang terhadap pertanyaan adalah konsisten atau stabilitas dari waktu ke
waktu. SPSS memberikan fasilitas untuk mengukur reliabitas dengan uji statistic
Cronbacah Alpha (a). suatu variabel dikatakan reliabel jika memberi nilai (a) 0,60
h. Uji Asumsi Klasik
1. Uji normalitas
Uji normalitas digunakan untuk mengetahui apakah data yang diperoleh
berdistribusi normal atau tidak. Uji ini digunakan apabila peneliti ingin
mengetahui ada tidaknya perbedaan proposir subjek, objek, kejadian dan lainya.
Menurut (Sandu Siyoto & Sodik, 2015) uji normalitas dimaksudkan untuk
menguji apakah nilai residual yang telah distandarisai pada model regresi
berdistribusi normal atau tidak. Nilai residual dikatakan berdistribusi normal jika
nilai residual terstadarnisasi tersebut sebagai besar mendekati nilai rata-ratanya.
Uji normalitas yang digunakan yaitu Komlogotov-smirnov dengan tingkat
signifikasi yang digunakan sebesar 5% maka apabila signifikan>00,5 maka
variabel berdistribusi normal dan sebaliknya apabila siknifikan <0,05 maka
variabel tidak berdistribusi normal.
2. Uji Multikoliniearlitas
uji ini bertujuan menguji apakah dalam model regresi ditemukan adanya
korelasi antara variabel bebas (Ghozali, 2018)Mmodel regresi yang baik
seharusnya tidak terjadi korelasi diantara variabel bebas. Jika variabel bebas
saling berkorelasi, maka variabel ini tidak orthogonal. Variabel orthogonal adalah
variabel bebas yang nilainya sama dengan nol. Dalam teknik ini untuk
mendeteksi ada tidaknya multikoliniearlitas didalam model regresi dapat dari
nilai tolerance dan variance inflationfactor (VIF),nilai tolerance yang besarnya
diatas 0,1 dan nilai dan nilai VIF dibawa 1,0 menunjukan bahwa tidak ada
multikolinearitas diantara variabel bebasnya.
3. Uji Heterokedasitas
Uji heterokedasitas menguji apakah dalam sebuah model regresi telah terjadi
ketidaksamaan varian dari residual atas suatu pengamatan lainnya. Model yang
digunakan untuk mendeteksi adanya heterokedasitas adalah dengan
menggunakan glejserbtest. Jika probabilitas signifikan diatas tingkat kepercayaan
5% maka model regresi tidak mengandung adanya heterokedasitas (Sugiyono,
2018).
4. Uji Autokorelasi
Persamaan yang baik adalah tidak memiliki masalah autokorelasi. Jika terjadi
autokorelasi maka, persamaan terebut tidak baik atau tidak layak dipakai untuk
prediksi. Ukuran penentuan ada tidaknya masalah autokorelasi dengan uji
Durbin-waston (DW), dengan ketentuan sebagai berikut : -2 (DW<-2). Tidak
terjadi autokorelasi jika DW berada diantara -2 dan +2<DW.