0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
25 tayangan20 halaman

Pengaruh Kompetensi dan Etika pada Laporan Keuangan Daerah

penelitian lagi

Diunggah oleh

D sm
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
25 tayangan20 halaman

Pengaruh Kompetensi dan Etika pada Laporan Keuangan Daerah

penelitian lagi

Diunggah oleh

D sm
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KUALITAS LAPORAN

KEUANGAN PEMERINTAH DAERAH DALAM PENGELOLAAN


BARANG MILIK DAERAH

Oleh :
Christina, SE, [Link]

Fakultas Ekonomi Program Studi Akuntansi


Universitas Satya Negara Indonesia

ABSTRAK
Tujuan penelitian ini untuk menganalisis pengaruh parsial dan simultan variabel
kompetensi dan pengalaman dalam mengelola barang milik daerah terhadap kualitas laporan
keuangan pemerintah daerah. Jenis Penelitian ini adalah penelitian asosiatif yang bersifat
kausal. Populasi dalam penelitian ini adalah pegawai yang terlibat dalam pegelolaan barang
milik daerah Kabupaten Bekasi. Data yang diolah adalah data primer yang diperoleh dengan
cara mengolah data kuesioner sebanyak 60 responden yang terdiri dari pengurus barang dan
pengurus barang-barang pembantu di Pemerintah Daerah kabupaten Bekasi. Data dianalisis
dengan metode analisis regresi berganda dengan menggunakan program SPSS. Hasil
penelitian membuktikan bahwa secara parsial etika tidak berpengaruh secara signifikan
terhadap kualitas laporan keuangan pemerintah daerah, sedangkan kompetensi dan
pengalaman dalam pengelolaan barang milik daerah berpengaruh secara signifikan terhadap
kualitas laporan keuangan pemerintah daerah Kabupaten Bekasi. Sementara itu secara
simultan etika, kompetensi dan pengalaman dalam pengelolaan barang milik daerah
berpengaruh secara signifikan terhadap kualitas laporan keuangan pemerintah daerah.
Kata kunci : Kualitas Laporan Keuangan, Pengelolaan Barang Milik Daerah, Etika,
Kompetensi, dan Pengalaman

ABSTRACT
The purpose of this study is to analyze the effect of partial and simultaneous
competency variables and experience in managing regional property to the quality of local
government financial reports. This type of research is associative research that is causal. The
population in this study are employees involved in managing the property of the Bekasi
Regency area. Data processed is primary data obtained by processing questionnaire data as
many as 60 respondents consisting of goods administrators and administrators of auxiliary
goods in the Bekasi District Government. Data were analyzed by multiple regression analysis
using the SPSS program. The results of the research prove that partially ethics does not
significantly influence the quality of local government financial statements, while competence
and experience in managing regional property have a significant effect on the quality of the
Bekasi district government financial statements. Meanwhile, simultaneously ethics,
competence and experience in managing regional property have a significant effect on the
quality of local government financial reports.
Keywords : Quality of Financial Statements, Management of Regional Property, Ethics,
Competence, and Experience

Jurnal Ilmiah Akuntansi dan Ekonomi Volume. 4 Nomor. 1 Februari 2019 Page 1
PENDAHULUAN
Pengelolaan Barang Milik Daerah merupakan hal yang sangat penting karena
pengelolaan Barang Milik Daerah yang buruk dapat berdampak buruk bagi laporan keuangan
pemerintah daerah tersebut. Aset tetap/Barang Milik Daerah memiliki fungsi yang sangat
penting dalam penyelenggaraan pemerintahan, tetapi dalam pelaksanaan pengelolaannya
sering kali terdapat berbagai persoalanAset/barang daerah merupakan suatu potensi
ekonomi serta sumber daya yang mutlak diperlukan dalam penyelenggaraan pemerintahan
daerah. Hal ini dikarenakan apabila barang daerah dikelola dengan baik dan benar, akan
terwujud pengelolaan barang daerah yang transparan, efisien, dan akuntabel sehingga dapat
memberikan kontribusi bagi pemerintah daerah sebagai sumber pendapatan sekaligus
dapat menunjang peran dan fungsi pemerintah daerah sebagai pemberi pelayanan publik
kepada masyarakat.
Dalam rangka mendukung pelimpahan kewenangan proses pengelolaan barang milik
daerah, maka pemerintah pusat telah mengeluarkan peraturan menteri dalam negeri nomor 17
tahun 2007, dan telah diubah dengan peraturan terbaru yaitu peraturan menteri dalam negeri
nomor 19 tahun 2016 tentang Pedoman Pengelolaan Barang Milik Daerah, peraturan ini
menuntut suatu perubahan mendasar dibidang pengelolaan dan pertanggungjawaban barang
milik daerah dan telah memunculkan optimisme baru dalam pengelolaan aset daerah yang
lebih tertib, akuntabel dan transparan kedepannya dengan mengedepankan prinsip good
governance.
Laporan keuangan pemerintah daerah merupakan pertanggungjawaban pelaksanaan
anggaran yang merupakan tanggungjawab pemerintah daerah yang bersangkutan, untuk itu
pemerintah daerah harus membuat pernyataan tertulis bahwa laporan keuangan dsajikan
berdasarkan Sistem Pengendalian Intern yang memadai dan sesuai dengan Standar Akuntansi
Pemerintahan. Pengawasan terhadap keuangan daerah merupakan bagian yang tidak dapat
dipisahkan baik pengawasan internal maupun eksternal, dalam hal ini pengawasan eksternal
oleh Badan Pemeriksa Keuangan. Pemeriksaan Laporan Keuangan Tahunan oleh BPK akan
ditindaklanjuti dengan pemberian opini, oleh sebab itu untuk mendapatkan opini yang baik
yaitu Wajar Tanpa Pengecualian (WTP), maka pengelolaan barang milik daerah yang
merupakan bagian integral dari laporan keuangan harus dilakukan dengan optimal dan sesuai
dengan Standar Akuntansi Pemerintahan dan peraturan perundang-undangan yang berlaku.
Permasalahan dalam pembuatan Laporan Keuangan dan Laporan Barang Milik Daerah
bisa terjadi dalam Sistem Pengendalian Intern (SPI). Kepatuhan terhadap ketentuan
perundang-undangan maupun dalam penyusunan laporan keuangan, etika para pegawai dalam
menerapkan kepatuhan terhadap kode etik pegawai menjadi suatu permasalahan dalam
mengelola barang milik daerah.
Etika sangat diperlukan karena akan mempengaruhi hasil pekerjaan tersebut. Aparatur
pemerintah pada dasarnya adalah pelayan publik. Fokus utama dalam etika pelayanan publik
adalah aparatur telah mengambil keputusan dan berperilaku yang dapat dibenarkan dari sudut
pandang etika yang salah satunya adalah mmemberikan transparansi, jujur dan akuntabel
dalam sebuah pelaporan, baik pelaporan barang milik daerah maupun pelaporan keuangan
yang berkualitas bagi masyarakat.
Pengalaman ialah sesuatu yang pernah dialami (dijalani, dirasai, ditangggung dan
sebagainya) bisa berupa peristiwa yang baik maupun yang buruk (KBBI, 2005). Pengalaman
merupakan guru terbaik, pepatah ini mengandung maksud bahwa pengalaman dapat dijadikan
sebagai sumber pengetahuan, atau pengalaman merupakan suatu cara untuk memperoleh
kebenaran pengetahuan. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa pengalaman adalah
tingkat penguasaan pengetahuan dan ketrampilan pegawai dalam pekerjaannya. Pengalaman
pegawai dalam mengelola barang milik daerah akan ikut mematangkan pegawai yang

Jurnal Ilmiah Akuntansi dan Ekonomi Volume. 4 Nomor. 1 Februari 2019 Page 2
bersangkutan dalam menghadapi masalah-masalahnya khususnya dalam penyusunan laporan
keuangan.
Untuk memperoleh laporan keuangan yang berkualitas dibutuhkan pegawai yang
mempunyai kompetensi dalam membuat laporan keuangan, maupuan dalam mengelolan
barang milik daerah sebagai bagian yang terintegrasi dengan laporan keuangan sehingga
sangat dibutuhkan pegawai untuk mempunyai kompetensi dimana kualitas individu tersebut
akan menghasilkan kesuksesan dalam pekerjaannya. Sampai dengan tahun 2013 Pemerintah
Daerah Kabupaten Bekasi belum pernah sekalipun menerima opini Wajar Tanpa
Pengecualian (WTP) akibat tidak memadainya pengelolaan barang milik daerah sehingga
terdapat beberapa hal yang dikecualikan ( belum diyakini kewajaran pelaporannya).
Berdasarkan Laporan hasil Pemeriksaan atas Laporan Keuangan Pemerintah Daerah
(LKPD) tahun anggaran 2014-2016 meskipun sudah memperoleh opini Wajar Tanpa
Pengecualian, pengelolaan barang milik daerah termasuk didalamnya penatausahaan barang
milik daerah pada pemerintah daerah kabupaten bekasi dilaporkan masih belum memadai
yaitu masih terdapat aset yang dilaporkan dalam pelaporan keuangan dengan rincian barang
milik daerah yang tidak ditemukan keberadaannya, tanpa keterangan ataupun identitas yang
lengkap, terdapat tanah sebagai bagian dari barang milik daerah yang belum bersertifikat,
barang milik daerah yang dicatat dan dilaporkan dalam bentuk paket sehingga masih belum
dapat diyakini sepenuhnya atas kewajaran nilai penyusutannya, serta permasalahan lainnya.
Dari uraian diatas, penulis terdorong untuk melakukan penelitian dengan judul
“Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Kualitas Laporan Keuangan Pemerintah Daerah
Dalam Pengelolaan Barang Milik Daerah”

Perumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang diatas maka dapat dirumuskan masalah penelitian sebagai
berikut :
1. Apakah etika, kompetensi, dan pengalaman dalam pengelolaan barang milik daerah
berpengaruh secara parsial terhadap kualitas laporan keuangan pemerintah daerah?
2. Apakah etika, kompetensi, dan pengalaman dalam pengelolaan barang milik daerah
berpengaruh secara simultan terhadap kualitas laporan keuangan pemerintah daerah?

Tujuan penelitian
Tujuan penelitian ini adalah sebagai berikut :
1. Untuk mengetahui pengaruh etika, kompetensi, dan pengalaman dalam pengelolaan
barang milik daerah secara parsial terhadap kualitas laporan keuangan pemerintah daerah.
2. Untuk mengetahui pengaruh etika, kompetensi, dan pengalaman dalam pengelolaan
barang milik daerah secara simultan terhadap kualitas laporan keuangan pemerintah
daerah.

Manfaat Penelitian
1. Bagi akademisi, menjadi bahan literatur untuk pengembangan penelitian selanjutnya
tentang kualitas laporan keuangan pemerintah daerah.
2. Bagi peneliti, dapat memberikan kontribusi keilmuan dan mengembangkan wawasan
dibidang akuntansi sektor publik mengenai faktor-faktor yang mempengaruhi kualitas
laporan keuangan pemerintah daerah.
3. Bagi Pemerintah Daerah, menjadi bahan evaluasi dan dapat dijadikan gambaran bagi
pemda dalam meningkatkan kualitas laporan keuangan pemda.

Jurnal Ilmiah Akuntansi dan Ekonomi Volume. 4 Nomor. 1 Februari 2019 Page 3
LANDASAN TEORI
Pengertian Laporan Keuangan Pemerintah Daerah
Laporan keuangan merupakan bentuk pertanggungjawaban atas kepengurusan sumber
daya ekonomi yang dimiliki oleh suatu entitas. Menurut Peraturan Menteri Dalam Negeri
Nomor 13 Tahun 2006, tentang Pedoman Pengelolaan Keuangan Daerah, dalam ketentuan
umumnya menyebutkan bahwa yang dimaksud dengan keuangan daerah adalah semua hak
dan kewajiban daerah dalam rangka penyelenggaraan pemerintah daerah yang dapat dinilai
dengan uang termasuk di dalamnya segala bentuk kekayaan yangberhubungan dengan hak
dan kewajiban daerah tersebut. Selanjutnya dikatakan pula bahwa, pengelolaan keuangan
daerah dilakukan dengan tertib, taat pada peraturan perundang-undangan, efektif, efisien,
ekonomis, transparan dan bertanggungjawab dengan memperhatikan asas keadilan, kepatutan
dan manfaat untuk masyarakat.
Berdasarkan Peraturan Pemerintah No. 71 Tahun 2010 pengertian laporan keuangan
adalah laporan yang terstruktur mengenai posisi keuangan dan transaksi-transaksi yang
dilakukan oleh suatu entitas pelaporan. Entitas pelaporan adalah unit pemerintahan yang
terdiri dari satu atau lebih entitas akuntansi yang menurut ketentuan peraturan perundang-
undangan wajib menyampaikan laporan pertanggungjawaban, berupa laporan keuangan yang
bertujuan umum, yang terdiri dari:
a. Pemerintah pusat;
b. Pemerintah daerah;
c. Masing-masing kementerian negara atau lembaga di lingkungan pemerintah pusat;
d. Suatu organisasi di lingkungan pemerintah pusat/daerah atau organisasi lainnya jika
menurut peraturan perundang-undangan satuan organisasi dimaksud wajib
menyampaikan laporan keuangan
Jenis-Jenis Laporan Keuangan Pemerintah Daerah
Laporan keuangan pemerintah daerah adalah suatu bentuk pertanggungjawaban
pmerintah daerah kepada stakeholder yang didalamnya mencakup berbagai macam pekerjaan
yang membutuhkan keuangan, termasuk komponen aset yang tercermin dalam neraca (kini
disebut sebagai “laporan posisi keuangan”) daerah dimana setiap tahun dibuatkan laporannya
setelah pelaksanaan anggaran ([Link].2010)
Menurut Peraturan Pemerintah Nomor 72 tahun 2010 tentang standar akuntansi
pemerintah, laporan kuangan pemerintahan terdiri atas 7 jenis laporan , yaitu sebagai berikut :
a) Laporan Realisasi Anggaran
b) Laporan Perubahan Saldo Anggaran Lebih
c) Laporan Operasional
d) Laporan Perubahan Ekuitas
e) Neraca / Laporan Posisi Keuangan
f) Laporan Arus Kas
g) Catatan atas Laporan Keuangan

Kualitas Laporan Keuangan Pemeintah Daerah


Laporan keuangan daerah akan diperiksa oleh Badan Pemeriksa Keuangan pada setiap
tahun anggaran untuk memberikan opini terhadap hasil pemeriksaan atas laporan keuangan
pemerintah daerah. Menurut undang-undang nomor 15 tahun 2004 tentang pemeriksaan
pengelolaan dan tanggungjawab keuangan Negara pasal 1, opini adalah pernyataan
profesional sebagai kesimpulan suatu pemeriksaan mengenai tingkat kewajaran informasi
yang disajikan dalam laporan keuangan.
Dalam undang-undang nomor 15 tahun 2004 pasal 4 tentang pemeriksaan pengelolaan
dan tanggung jawab keuangan Negara, BPK antara lain melakukan pemeriksaan keuangan.
Jurnal Ilmiah Akuntansi dan Ekonomi Volume. 4 Nomor. 1 Februari 2019 Page 4
Pemeriksaan keuangan adalah pemeriksaan atas laporan keuangan yang bertujuan
memberikan keyakinan yang memadai (reasonable assurance) bahwa laporan keuangan telah
disajikan secara wajar dalam semua hal yang material sesuai dengan prinsip akuntansi yang
berlaku umum di Indonesia.
Menurut keputusan BPK RI Nomor 4/K/I-XIII/29/2012 tentang jenis opini terdapat
empat jenis opini yang diberikan oleh pemeriksa, yaitu:
1. Wajar Tanpa Pengecualian (WTP) memuat suatu pernyataan bahwa laporan keuangan
menyajikan secara wajar, dalam segala hal yang material sesua dengan Standar
Profesional Akuntan Publik (SPAP) yang diberlakukan, BPK dapat memberikan opini
WTP dengan paragraph penjelas karena keadaan tertentu sehingga mengharuskan
pemeriksa menambahkan suatu paragraph penjelasan dalam laporan hasil pemeriksaan
sebagai modifikasi dari opini WTP.
2. Wajar Dengan Pengecualian (WDP) memuat suatu pernyataan bahwa laporan keuangan
menyajikan secara wajar, dalam semua hal material sesuai dengan SAP, kecuali untuk
dampak hal-hal yang berhubungan dengan yang dikecualikan.
3. Tidak Wajar memuat suatu pernyataan bahwa laporan keuangan tidak menyajikan secara
wajar dalam semua hal yang material sesuai dengan SAP
4. Pernyataan menolak memberikan opini atau tidak memberikan pendapat (TMP)
menyatakan bahwa pemeriksa tidak menyatakan opini atas laporan keuangan.
Kriteria dan unsur-unsur kualtas atau nilai informasi dari laporan keuangan
pemerintah telah ditentukan dalam Peraturan Pemerintah Nomor 71 tahun 2010 tentang
Standar Akuntansi pmerintah, ada empat karateristik kualitatif laporan keuangan yaitu :
1. Relevan
2. Andal
3. Dapat dibandingkan
4. Dapat dipahami

Pengelolaan Barang Milik Daerah


Berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 6 tahun 2006 tentang Pengelolaan Barang
Milik Negara / Daerah, yang diberi nama aset adalah barang. Selanjutnya dalam Peraturan
Presiden Nomor 54 tahun 2010 dijelaskan pengertian barang adalah setiap benda baik
berwujud maupun tidak berwujud, bergerak maupun tidak bergerak, yang dapat
diperdagangkan, dipakai, dipergunakan atau dimanfaatkan oleh Pengguna Barang.
Seiring dengan perkembangan jaman, peraturan mengenai barang milik daerah pun
mengalami beberapa perubahan, yang diawali dengan diterbitkannya Peraturan Menteri
Dalam Negeri Nomor 17 tahun 2007 tentang Pedoman Teknis Pengelolaan Barang Milik
Daerah, menyebutkan bahwa yang dimaksud dengan Barang Milik Daerah (BMD) adalah
semua barang yang dibeli atau diperoleh atas beban Anggaran Pendapatan dan Belanja
Daerah atau perolehan lainnya yang sah antara lain, barang yang diperoleh dari
hibah/sumbangan atau sejenisnya, barang diperoleh sebagai pelaksanaan dari
perjanjian/kontrak, barang yang diperoleh berdasarkan ketentuan undang-undang atau barang
yang diperoleh berdasarkan putusan pengadilan yang telah memperoleh kekuatan hukum
tetap. Peraturan mengenai Barang Milik Daerah yang terbaru yaitu Peraturan Menteri Dalam
Negeri nomor 19 tahun 2016 juga menyebutkan hal yang sama, yaitu bahwa barang milik
daerah adalah semua barang yang dibeli atau diperoleh atas beban APBD atau perolehan
lainnya yang sah. Peraturan Pemerintah Nomor 6 Tahun 2006 tentang Pengelolaan Barang
Milik Negara / Daerah pasal 3 ayat (2) menyebutkan bahwa pengelolaan barang milik daerah
meliputi perencanaan kebutuhan dan penganggaran, pengadaan, penggunaan, pemanfaatan,
pengamanan dan pemeliharaan, penilaian, penghapusan, pemindahtangannan, penatausahaan,

Jurnal Ilmiah Akuntansi dan Ekonomi Volume. 4 Nomor. 1 Februari 2019 Page 5
pembinaan dan pengawasan. Sedangkan menurut Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 17
tahun 2007 pengelolaan barang milik daerah meliputi perencanaa kebutuhan dan
penganggaran, pengadaan, penerimaan, penyimpanan dan penyaluran, penggunaan,
penatausahaan, pemanfaatan, pengamanan dan pemeliharaan, penilaian, penghapusan,
pemindahtanganan, pembinaan, pengawasan dan pengendalian, pembiayaan dan tuntutan
ganti rugi. Selanjutnya menurut peraturan terbaru yaitu Peraturan Menteri Dalam Negeri
Nomor 19 tahun 2016 pengelolaan Barang Milik Daerah meliputi perencanaan kebutuhan dan
penganggaran, pengadaan, penggunaan, pemanfaatan, pengamanan dan pemeliharaan,
penilaian, pemindahtangan, pemusnahan, penghapusan, penatausahaan, pembinaan,
pengawasan dan pengendalian serta tuntutan gantirugi. Penatausahaan meliputi pembukuan,
inventarisasi dan pelaporan. Pada peraturan terbaru terdapat dua prosedur tambahan yang
tidak ada pada peraturan sebelumnya yaitu pemeliharaa dan pemusnahan.

Etika
Etika berasal dari bahasa Yunani ethos (kata tunggal) yang berarti tempat tinggal,
padang rumput, kandang, kebiasaan, adat, watak, sikap, cara berfikir. Bentuk jamaknya
aadalah ta, etha, yang berarti adat kebiasaan. Menurut Bertens ada dua pengertian etika, yakni
etika sebagai praktis dan etika sebagai reflesi. Sebagai praktis, etika berarti nilai-nilai dan
norma-norma, moral yang baik dipraktikkan atau justru tidak dipraktikkan, walaupun
seharusnya dipraktikkan. Etika sebagai praktis sama artinya dengan moral atau moralitas,
yaitu apa yang harus dilakukan, tidak boleh dilakukan, pantas dilakukan, dan sebagainya.
Etika sebagai refleksi adalah pemikiran moral, etika bagi seseorang terwujud dalam kesadaran
modal yang memuat keyakinan benar atau tidak sesuatu. Perasaan yang muncul bahwa ia
akan salah melakukan sesuatu yang diyakini tidak benar berangkat dari norma-norma dan
self-respect (menghargai diri) bila ia meninggalkannya.
Indikator Etika Apartur Sipil Negara antara lain sebagai berikut :
a. Bekerja dengan penuh pengabdian dan tanggungjawab
b. Berperilaku sesuai etika
c. Menjaga nama baik kepada pribadi, atasan dan instansi.
d. Menjunjung tinggi moral dalam melakukan pekerjaan.
Pengelola Barang Milik Daerah merupakan bagian dari aparatur sipil Negara yang
mempunyai tugas dalam pengelolaan barang milik daerah, untuk itu indikator etika tersebut
berlaku juga kepada pengelola barang milik daerah.

Kompetensi
Menurut pendapat Gulo (2014), kompetensi terdiri dari dua aspek yang saling
berinteraksi, yaitu aspek yang tampak atau disebut performance (penampilan) dan aspek yang
tidak tampak atau yang disebut aspek rasional. Performance ditunjukkan dalam bentuk
tingkah laku yang dapat didemontrasikan sehingga dapat, diamati dan dirasakan, sedangkan
aspek rasional tidak dapat diamati karena tidak tampil dalam bentuk perilaku empiris.
Menurut Peraturan Pemerintah Nomor 101 pasal 3 tentang Pendidikan dan Pelatihan
Jabatan Pegawai Negeri Sipil, menyebutkan bahwa kompetensi dan karakteristika yang
dimilik oelh seorang pegawai negeri sipil berupa pengetahuan, sikap perilaku yang diperlukan
dalam tugas dan jabatannya. Dengan demikian kompetensi yang dimiliki pegawai
berhubungan langsung dengan pekerjaan yang sesuai dengan kemampuan dan pengetahuan
yang dimiliki sehingga dengan kompetensi yang dimiliki akan menentukan jabatan yang
sesuai didalam organisasi.
Dalam bukunya yang berjudul kompentensi plus, Hutapea (2008) menyebutkan
indicator kompetensi, antara lain :
a. Pengetahuan yang berkaitan dengan pekerjaan yang meliputi :

Jurnal Ilmiah Akuntansi dan Ekonomi Volume. 4 Nomor. 1 Februari 2019 Page 6
1) Mengetahui dan memahami pengetahuan dibidangya masing-masing yang
menyangkut tugas dan tanggungjawab dalam bekerja
2) Mengetahui tupoksi organisasi instansi
3) Mengetahui bagaimana menggunakan informasi, peralatan dan teknik yang tepat dan
benar
b. Keterampilan individu, meliputi :
1) Kemampuan menyelesaikan tugas dengan baik
2) Kemampuan dalam mengatasi masalah
3) Kemampuan menentukan prioritas masalah
4) Kemampuan memberikan informasi pelayanan
c. Sikap Kerja, meliputi :
1) Mempunyai kreativitas dalam bekerja
2) Adanya semangat kerja yang tinggi
3) Mempunyai kemampuan dalam perencanaan/pengorganisasian

Pengalaman
Pengalaman merupakan suatu proses pembelajaran dan pertambahan perkembangan
potensi bertingkah laku baik dari pendidikan formal maupun nonformal atau bias diartikan
sebagai suatu proses yang membawa seseorang kepada suatu pola tingkah laku yang lebih
tinggi. Suatu pembelajaran juga mencakup perubahan yang relative lebih tepat dari perilaku
yang diakibatkan pengalaman, pemahaman dan praktek (Knoers & Haditono, 2009).
Menurut Foster (2001), ada beberapa hal yang dapat digunakan untuk menetukan
berpengalaman tidaknya seorang karyawan yang sekaligus sebagai indicator pengalaman
kerja, yang meliputi :
a. Lama waktu / masa kerja.
b. Tingkat pengetahuan dan ketrampilan yang dimiliki.
c. Penguasaan terhadap pekerjaan dan peralatan.

METODE PENELITIAN
Desain Penelitian
Penelitian ini merupakan penelitian Kausal, yaitu penelitian yang mencari pengaruh antara
satu atau lebih variable bebas (Independent Variable) terhadap variable terikat (Dependent
Variable ).

Jenis Data
Data yang digunakan merupakan data primer, yaitu data yang diperoleh langsung dari objek
yang diteliti dan digunakan untuk mengukur variabel independen (etika, kompetensi, dan
pengalaman) serta variabel dependen (kualitas laporan keuangan pemerintah daerah) yang
diambil dari individu atau perseorangan seperti hasil penyebaran kuesioner.

Populasi dan Sampel Penelitian


Populasi adalah wilayah generalisasi yang terdiri atas objek / subjek yang mempunyai
kualitas dan karakteristik tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk mempelajari dan
kemudian ditarik kesimpulan (Sugiyono 2013). Populasi bukan sekedar jumlah yang ada pada
objek atau subjek tersebut, tetapi meliputi seluruh karakteristik atau sifat yang dimiliki oleh
objek atau subjek tersebut. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh karyawan dan pihak-
pihak yang berhubungan dengan pengelolaan barang milik daerah dan penyusunan Laporan
Keuangan Pemerintah Daerah Kabupaten Bekasi.
Sampel yang akan diambil dari populasi tersebut diatas yang betul-betul representatif
atau dapat mewakilinya. Dalam penelitian ini yang menjadi sampel adalah seluruh Pengurus

Jurnal Ilmiah Akuntansi dan Ekonomi Volume. 4 Nomor. 1 Februari 2019 Page 7
Barang pada masing-masing Perangkat Daerah yang ada di Kabupaten Bekasi yang telah
ditugaskan minimal selama 2 tahun. Teknik yang digunakan dalam pengambilan sampel pada
penelitian ini dengan menggunakan teknik non probability sampling, yaitu pengambilan
sampel yang ditentukan sendiri oleh peneliti atau menurut pertimbangan pakar.

Variabel Penelitian
1. Variabel dependen (Y)
Variabel terikat yang digunakan dalam penelitian ini adalah kualitas laporan keuangan
pemerintah daerah.
2. Variabel independen (X)
Variabel bebas dalam penelitian ini adalah etika (X1), kompetensi (X2), dan pengalaman
(X3).

Kerangka Pemikiran Teoritis


Berdasarkan teori yang telah diuraikan sebelumnya maka dapat disusun kerangka pemikiran
sebagai berikut :

Etika

Kompetensi Kualitas
laporan
Pengalaman

Gambar
Kerangka Berfikir
Hipotesis
1) Hipotesis Ho1 : Etika dalam mengelola barang milik daerah tidak berpengaruh
terhadap kualitas laporan keuangan
2) Hipotesis Ha1 : Etika dalam mengelola barang milik daerah berpengaruh
terhadap kualitas laporan keuangan
3) Hipotesis Ho2 : Kompetensi dalam mengelola barang milik daerah tidak
berpengaruh terhadap kualitas laporan keuangan
4) Hipotesis Ha2 : Kompetensi dalam mengelola barang milik daerah berpengaruh
terhadap kualitas laporan keuangan
5) Hipotesis Ho3 : Pengalaman dalam mengelola barang milik daerah tidak
berpengaruh terhadap kualitas laporan keuangan
6) Hipotesis Ha3 : Pengalaman dalam mengelola barang milik daerah berpengaruh
terhadap kualitas laporan keuangan
7) Hipotesis Ho4 : Etika, kompetemsi dan pengalaman dalam mengelola barang
milik daerah secara bersama-sama tidak berpengaruh terhadap
kualitas laporan keuangan
8) Hipotesis Ha4 : Etika, kompetemsi dan pengalaman dalam mengelola barang
milik daerah secara bersama-sama berpengaruh terhadap
kualitas laporan keuangan

ANALISIS HASIL DAN PEMBAHASAN


Responden dalam penelitian ini adalah pegawai yang bertugas sebagai pengurus
barang dan pengurus barang pembantu. Pengurus barang adalah staf pelaksana yang bertugas
dalam mengelola barang milik daerah pada lingkup pengguna barang atau secara sederhana
Jurnal Ilmiah Akuntansi dan Ekonomi Volume. 4 Nomor. 1 Februari 2019 Page 8
pada tingkat instansi/satuan kerja perangkat daerah sebagai contoh pengurus barang pada
Dinas Kesehatan, sedangkan pengurus barang pembantu adalah staf pelaksana yang bertugas
dalam mengelola barang milik daerah pada lingkup kuasa pengguna barang atau secara
sederhana pada pada tingkat unit instansi sebagai contoh pengurus barang pembantu pada
bagian humas sekretariat daerah. Adapun tugas dan fungsi baik pengurus barang maupun
pengurus barang pembantu adalah sama.
Tingkat pengembalian kuesioner pada penelitian ini tinggi, dikarenakan peneliti
mendistribusikan secara langsung dan juga menggunakan media elektronik dengan
memanfaatkan google form. Kuesioner yang disebarkan kepada responden adalah sebanyak
sebanyak 71 responden dengan tingkat pengembalian sebanyak 100%. Distribusi hasil
penelitian ini disajikan sebagai berikut:
Tabel
Deskripsi Kuesioner
Responden Kuesioner Kuesioner Kuesioner Kuesioner yang
Disebarkan Kembali Gugur diolah
Pengurus Barang 60 60 11 49
Pengurus Barang Pembantu 11 11 - 11
Total 71 71 11 60
Sumber: Data primer diolah, 2019
Dari tabel di atas dapat diketahui bahwa kuesioner yang disebar sebanyak 71 rangkap
dengan tingkat pengembalian 100%.Terdapat data yang tidak sesuai dengan syarat pemilihan
sampel, yakni sebanyak 8 data yang merupakan responden dengan masa jabatan sebagai
pengurus barang kurang dari 2 tahun, serta 3 kuesioner yang tidak menggambarkan keadaan
yang sebenarnya, sehingga kuesioner tersebut tidak dapat dipakai untuk menjadi data
penelitian. Sehingga nantinya data yang dapat diolah untuk menguji penelitian ini adalah
sebanyak 60 responden.

Statistik Deskriptif

Statistiks

Etika kompetensi pengalaman kualitas

N Valid 60 60 60 60

Missing 0 0 0 0
Mean 39.8333 31.7667 32.5500 38.8167
Median 40.0000 32.0000 33.0000 39.0000

Std. Deviation 4.69824 3.30570 3.78859 3.69375


Minimum 30.00 25.00 25.00 31.00
Maximum 50.00 40.00 40.00 45.00

Uji Validitas
Menurut Marsun yang dikutip oleh Sugiyono (2008 : 124) menyatakan teknik korelasi untuk
menganalisis validitas item, sampai sekarang merupakan teknik yang paling banyak
digunakan. Item mempunyai korelasi positif dengan skor total serta korelasi yang tinggi
menujukkan bahwa item tersebut memiliki validitas yang tinggi pula. Syarat minimum adalah
apabila r = 0,3. jadi kalau korelasi terjadi antara butir dengan skor total kurang dari 0,3 maka
butir dalam instrumen tersebut dinyatakan tidak valid.
(∑ ) (∑ .∑ )
Rumus : 𝑟 =
{ ∑ (∑ )( ∑ (∑ ) )}
Keterangan :
r = Koefisiensi korelasi

Jurnal Ilmiah Akuntansi dan Ekonomi Volume. 4 Nomor. 1 Februari 2019 Page 9
X= Nilai dari butir (X)
Y= Nilai dari total butir(Y)
N= Banyaknya butir
Apabila rhitung > rtabel, maka pengujian item / butir instrumen dinyatakan valid,
sebaliknya jika rhitung < rtabel, maka pengujian item /butir instrument tidak valid. Item
pertanyaan yang memiliki r hitung lebih besar dari taraf signifikansi 5% dianggap tidak valid.
Sedangkan item yang mempunyai r hitung lebih kecil dari 5% dianggap valid (Joko Sulistyo,
2010). Untuk pengujian menentukan signifikan atau tidak signifikan dengan membanding
nilai r tabel untuk degree of freedom = n – k dalam hal ini 60-2 atau 58 dan satu daerah sisi
pengujian dengan alpha 0,1 didapat rtabel 0,2144. Jika rhitung untuk r tiap butir pertanyaan
bernilai positif dan lebih besar dari rtabel (lihat corrected item-total correlation), maka butir
pertanyaan tersebut dikatakan valid.
a) Hasil Uji Validasi Variabel Etika
Tabel
Hasil Uji Validasi Variabel Etika
Item-Total Statistiks
Corrected Item- Cronbach's
Scale Mean if Scale Variance Total Alpha if Item
Item Deleted if Item Deleted Correlation Deleted
etika1 35.48 18.491 .655 .914
etika2 35.52 18.017 .658 .914
etika3 35.95 17.981 .715 .910
etika4 35.97 17.660 .768 .907
etika5 35.98 17.440 .762 .908
etika6 36.45 19.303 .543 .919
etika7 35.97 18.033 .729 .910
etika8 35.95 17.506 .817 .905
etika9 35.85 16.977 .832 .903
etika10 35.38 18.986 .498 .922
Sumber : hasil pengolahan data, 2019
Berdasarkan tabel diatas, dapat diketahui bahwa kesepuluh butir pertanyaan pada
variabel etika memiliki nilai siginifikan rhitung yang lebih besar dari r tabel, sehingga 10
item pertanyaan tersebut dinyatakan valid.
b) Hasil Uji Validasi Variabel Kompetensi
Tabel
Hasil Uji Validasi Variabel Kompetensi
Item-Total Statistiks
Corrected Item- Cronbach's
Scale Mean if Scale Variance Total Alpha if Item
Item Deleted if Item Deleted Correlation Deleted
kompetensi1 32.37 9.728 .701 .817
kompetensi2 32.33 9.718 .623 .823
kompetensi3 32.60 9.397 .645 .820
kompetensi4 34.10 11.719 .040 .871
kompetensi5 32.58 9.874 .601 .825
kompetensi6 32.67 9.616 .627 .822
kompetensi7 32.75 9.140 .740 .810
kompetensi8 33.10 9.278 .682 .816
kompetensi9 34.25 11.343 .169 .860
kompetensi10 32.50 9.983 .599 .826
Berdasarkan tabel diatas, terdapat 2 item pertanyaan yang memiliki r hitung kurang
dari r tabel, yaitu pertanyaan nomor 4 dan pertanyaan nomor 9 dengan nilai 0,040 dan 0,169,
selebihnya 8 item memiliki nilai rhitung yang lebih besar dari r tabel, sehingga dapat

Jurnal Ilmiah Akuntansi dan Ekonomi Volume. 4 Nomor. 1 Februari 2019 Page 10
disimpulkan bahwa dari 10 pertanyaan pada variabel kompetensi, terdapat 8 item yang
dinyatan valid dan 2 item yaitu pertanyaan nomor 4 dan 9 dinyatakan tidak valid / gugur.
c) Hasil Uji Validasi Variabel Pengalaman
Tabel
Hasil Uji Validasi Variabel Pengalaman
Item-Total Statistiks
Corrected Item- Cronbach's
Scale Mean if Scale Variance Total Alpha if Item
Item Deleted if Item Deleted Correlation Deleted
pengalaman1 33.03 12.270 .711 .863
pengalaman2 33.20 12.332 .740 .861
pengalaman3 32.58 12.417 .757 .860
pengalaman4 32.63 12.812 .692 .865
pengalaman5 33.25 12.055 .720 .862
pengalaman6 33.43 11.877 .693 .864
pengalaman7 34.77 14.758 .155 .898
pengalaman8 34.90 15.041 .108 .898
pengalaman9 33.18 11.813 .768 .858
pengalaman10 33.07 12.334 .688 .864
Sumber : hasil pengolahan data, 2019
Berdasarkan tabel diatas, terdapat 2 item pertanyaan yang memiliki rhitung kurang
dari r tabel, yaitu pertanyaan nomor 7 dan pertanyaan nomor 8 dengan nilai 0,155 dan 0,108,
selebihnya 8 item memiliki nilai r hitung yang lebih besar dari r tabel, sehingga dapat
disimpulkan bahwa dari 10 pertanyaan pada variabel pengalaman, terdapat 8 item yang
dinyatan valid dan 2 item yaitu pertanyaan nomor 7 dan 8 dinyatakan tidak valid / gugur.
d) Hasil Uji Validasi Variabel Kualitas
Tabel
Hasil Uji Validasi Variabel Kualitas Laporan Keuangan
Item-Total Statistiks
Corrected Item- Cronbach's
Scale Mean if Scale Variance Total Alpha if Item
Item Deleted if Item Deleted Correlation Deleted
kualitas1 34.43 11.436 .593 .876
kualitas2 34.87 10.151 .707 .866
kualitas3 34.45 11.167 .590 .876
kualitas4 34.40 10.719 .628 .873
kualitas5 34.42 10.518 .687 .868
kualitas6 34.50 11.068 .560 .879
kualitas7 34.53 11.440 .592 .876
kualitas8 34.53 10.795 .696 .867
kualitas9 34.40 11.125 .685 .869
Sumber : hasil pengolahan data, 2019
Berdasarkan tabel diatas, dapat diketahui bahwa kesembilan butir pertanyaan pada
variabel kualitas laporan keuangan memiliki nilai siginifikan rhitung yang lebih besar dari r
tabel, sehingga 9 item pertanyaan tersebut dinyatakan valid.

Uji Reliabilitas
Reliabilitas adalah alat untuk mengukur suatu kuesioner yang merupakan indikator
dari variabel atau konstruk. Pengujian ini bertujuan untuk mengetahui sejauh mana
pengukuran data memberikan hasil yang relatif konsisten bila dilakukan pengukuran ulang
subyek yang sama. Pengukuran reliablitas ini menggunakan rumus alpha, dengan formula
sebagai berikut (Arikunto, 2000)

Rumus : 𝑟 = 1−

Jurnal Ilmiah Akuntansi dan Ekonomi Volume. 4 Nomor. 1 Februari 2019 Page 11
Dimana :
r11 = reliablitas instrument
k = banyaknya butir pertanyaan atau banyaknya soal
∑α12= Jumlah varians butir
α12 = varians butir total
Hasil uji reliablitas akan dinyatakan benar-benar realiable jika r yang dihasilkan ≥ 0,7 dan
digunakan taraf signifikan 5%.
Tabel
Hasil Uji Reliabilitas
No Variabel Cronbach’s Keterangan
Alpha
1. Etika 0,920 Reliabel
2. Kompetensi 0,845 Reliabel
3. Pengalaman 0,882 Reliabel
4. Kualitas Laporan 0,885 Reliabel
Keuangan
Sumber : Data primer yang diolah 2019
Berdasarkan tabel diatas, dapat dilihat bahwa koefisien Cronbach’s alpha semua
variabel diatas rtabel yaitu variabel etika sebesar 0,920, kompetensi sebesar 0,845
pengalaman 0,882 dan kualitas laporan keuangan sebesar 0,885. Data tersebut menunjukkan
bahwa masing-masing variabel memiliki tingkat reliablitas yang sangat tinggi pada semua
variabel. Sehingga dapat disimpulkan bahwa instrument yang digunakan dalam penelitian ini
adalah realible dan dapat digunakan untuk penelitian selanjutnya.

Uji Asumsi Klasik


Uji Normalitas
Uji normalitas bertujuan untuk menguji apakah dalam model regresi, variabel
pengganggu atau residual memiliki distribusi normal. Pada penelitian ini, uji normalitas yang
digunakan untuk menguji normalitas data yaitu uji chi Kuadrat dengan taraf signifikansi 5.
Mengenai perolehan hasil dari uji normalitas tersebut ditunjukan dengan jika nilai
probabalitas (sig) >0,05, maka distribusi data dikatakan normal. Sebaliknya jika nilai (sig) <
0,05 maka distribusi data dinyatakan tidak normal. Berikut adalah hasil dari uji normalitas
yang penulis lakukan :
Tabel
Hasil Uji Normalitas
Variabel Chi Kuadrat Signifikansi Keterangan
Etika 27,400 0,072 Normal
Kompetensi 14,200 0,360 Normal
Pengalaman 16,267 0,365 Normal
Kualitas Laporan 11,000 0,686 Normal
Sumber : Data primer yang diolah 2019
Hasil uji normalitas menggunakan uji chi kuadrat tersebut menunjukkan bahwa semua
variabel mempunyai nilai signifikansi lebih besar dari 0,05. Sehingga dapat disimpulkan
bahwa data yang digunakan dalam penelitian ini terdistribusi secara normal.

Jurnal Ilmiah Akuntansi dan Ekonomi Volume. 4 Nomor. 1 Februari 2019 Page 12
Gambar P-P Plot Normalisasi
Hasil diagram P-P Plot yang juga merupakan output dari pengolahan data penelitian,
menunjukkan data terdistribusi atau titik menyebar disekitar garis diagonal dan mengikuti
arah garis diagonal penyebaran data yang mengikuti garis lurus, sehingga dapat disimpulkan
bahwa data penelitian menunjukan distribusi yang normal.

Uji Multikolinearitas
Menurut Imam Ghozali (2011), uji multikolinearitas bertujuan untuk menguji apakah
model regresi ditemukan adanya kolerasi antar variabel bebas (independen). Model regresi
yang baik seharusnya tidak terjadi kolerasi diantara variabel independen.
Adapun hasil uji Multikolinearitas terhadap data penelitian adalah sebagai berikut :
Tabel
Hasil Uji Multikolinearitas
Variabel Dependen = Kualitas
Variabel Toleransi VIF Keterangan
Etika 0,735 1,360 Non Multikolinearitas
Kompetensi 0,714 1,400 Non Multikolinearitas
Pengalaman 0,966 1,035 Non Multikolinearitas
Dasar Pengembilan keputusan uji Multikolinearitas adalah :
a. Jika nilai tolerance > 0,10 maka artinya tidak terjadi multikolinearitas.
b. Jika nilai VIF < 10,00 maka artinya tidak terjadi multikolinearitas.
Dari hasil uji Multikolinearitas di atas, nilai tolerance menunjukan nilai yang lebih
besar dari 0,10 yaitu variabel Etika sebesar 0,735, variabel kompetensi sebesar 0,714 dan
variabel pengalaman sebesar 0,966. Sementara untuk angka variance inflaction faktor (VIF)
semua variabel independent memiliki nilai lebih kecil dari 10, dimana Etika memiliki angka
sebesar 1,360, kompetensi memiliki angka 1,400 dan pengalaman memiliki angka sebesar
1,035. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa model regresi yang digunakan dalam
penelitian ini tidak terjadi adanya gejala multikolinearitas antar variabel independen.

Uji Heteroskedastisitas
Uji ini digunakan untuk mengetahui apakah setiap nilai variabel independen
berpasangan dengan variabel dependen mempunyai distribusi dan varians yang sama atau
tidak. Uji heteroskedastitas yang digunakan dalam penelitian ini adalah uji korelasi jenjang
Spearman. Apabila nilai koefisian signifikansi yang didapat dari perhitungan hasil uji
heteroskedastitas pada masing masing variabel lebih besar dari pada nilai alpha yang telah
ditetapkan yaitu 0,05. Maka data yang digunakan dalam penelitian tidak terjadi adanya

Jurnal Ilmiah Akuntansi dan Ekonomi Volume. 4 Nomor. 1 Februari 2019 Page 13
heteroskedastitas, dan sebaliknya. Hasil uji heteroskedastitas menggunakan uji spearman
disajikan pada tabel dibawah ini.
Tabel
Hasil Uji Heteroskedastisitas
Coefficientsa
Standardized
Unstandardized Coefficients Coefficients Collinearity Statistics
Model B Std. Error Beta t Sig. Tolerance VIF
1 (Constant) 2,751 4,594 ,599 ,552
Total_X1 ,139 ,084 ,177 1,664 ,102 ,735 1,360
Total_X2 ,508 ,114 ,483 4,473 ,000 ,714 1,400
Total_X3 ,322 ,087 ,344 3,701 ,000 ,966 1,035
a. Dependent Variable: Total_Y
Sumber : Data primer yang diolah 2019
Berdasarkan hasil perhitungan pada tabel diatas menunjukkan bahwa nilai koefisiensi
signifikansi pada masing-masing variabel lebih besar dari pada 0,05, yaitu variabel etika
sebesar 0,102, variabel kompetensi sebesar 0,000 dan variabel pengalaman sebesar 0,000.
Sehingga dapat disimpulkan bahwa data yang digunakan dalam penelitian ini tidak ditemukan
adanya heteroskedastitas.

Uji Autokorelasi
Uji autokorelasi dalam penelitian ini dengan menggunakan uji Durbin Watson. Nilai Durbin
Watson yang berada diantara nilai du dan 4-du menunjukkan model yang tidak terkena
masalah autokorelasi. Hasil penelitian dengan menggunakan uji tersebut dapat dilihat pada
tabel sebagai berikut :
Tabel
Uji Autokorelasi
Model Summaryb
Std. Error of the
Model R R Square Adjusted R Square Estimate Durbin-Watson
1 ,730a ,534 ,509 2,590 1,990
a. Predictors: (Constant), Total_X3, Total_X1, Total_X2
b. Dependent Variable: Total_Y
Sumber : Data primer yang diolah 2019
Berdasarkan tabel diatas dapat diketahui bahwa nilai durbin watson adalah 1,990. Jika
nilai durbin watson tersebut diantara du dan 4-du ( du < d < 4-du ) maka tidak terjadi masalah
autokorelasi.
Tabel
Hasil Uji Autokorelasi dengan Durbin Watson (DW Test)
Tidak ada
Autokorelasi positf Daerah ragu-ragu Daerah ragu-ragu Autkorelasi negative
autokorelasi

0 dl du 4-du 4-dl
1,466
1,32 2,534 2,68

Nilai DW = 1,990
Berdasarkan tabel diatas hasil uji autokorelasi dengan durbin watson diatas
menunjukkan bahwa nilai durbin watson 1,990 berada diantara nilai du dan 4-du, maka dapat
disimpulkan bahwa tidak terjadi masalah autokorelasi.
Analisis Regresi Linier Berganda
Analisis regresi berganda digunakan untuk menguji dua pengaruh atau lebih variabel
independen terhadap variabel dependen. Analisis regresi berganda juga bertujuan untuk
mengestimasi dan memprediksi nilai rata-rata variabel dependen berdasarkan nilai variabel

Jurnal Ilmiah Akuntansi dan Ekonomi Volume. 4 Nomor. 1 Februari 2019 Page 14
independen yang diketahui. Analisis ini juga mengukur kekuatan hubungan atara dua variabel
atau lebih dan menunjukkan hubungan antara variabel independen dengan variabel dependen.
Adapun persamaan regresinya linier seperti pada tabel dibawah ini:
Tabel
Hasil Uji Regresi Linier Berganda
Coefficientsa
Standardized
Unstandardized Coefficients Coefficients Collinearity Statistics
Model B Std. Error Beta t Sig. Tolerance VIF
1 (Constant) 2,751 4,594 ,599 ,552
Total_X1 ,139 ,084 ,177 1,664 ,102 ,735 1,360
Total_X2 ,508 ,114 ,483 4,473 ,000 ,714 1,400
Total_X3 ,322 ,087 ,344 3,701 ,000 ,966 1,035
a. Dependent Variable: Total_Y
Sumber: data primer yang diolah, 2019
Berdasarkan tabel diatas hasil analisis regresi diatas maka diperoleh persamaan
sebagai berikut :
Y = 2,751+0,139 X1 + 0,508 X2 – 0,322 X3
Dari persamaan tersebut bisa diambil kesimpulan sebagai berikut:
1. Nilai konstanta sebesar 2,751 dapat diartikan bahwa variabel kualitas laporan keuangan
akan mengalami peningkatan sebesar 2,751 tanpa adanya pengaruh dari variabel etika,
kompetensi dan pengalaman.
2. Nilai koefisiensi pada variabel etika (X1) sebesar 0,139 artinya bahwa setiap perubahan
variabel etika sebesar satu satuan dengan asumsi varibel lainnya dianggap konstan, maka
kualitas laporan keuangan sebesar 0,139 atau sebesar 13,9%.
3. Nilai koefisiensi pada variabel kompetensi (X2) sebesar 0,508 artinya bahwa setiap
perubahan variabel kompetensi sebesar satu satuan dengan asumsi varibel lainnya
dianggap konstan, maka kualitas laporan keuangan sebesar 0,508 atau sebesar 50,8%.
4. Nilai koefisiensi pada variabel pengalaman (X3) sebesar 0,322 artinya bahwa setiap
perubahan variabel pengalaman sebesar satu satuan dengan asumsi varibel lainnya
dianggap konstan, maka kualitas laporan keuangan sebesar 0,322 atau sebesar 32,2%.

Uji Koefisien Determinasi


Koefisien determinasi (Adjusted R2) digunakan untuk mengetahui sejauh mana
kontribusi variabel independen terhadap variabel dependen dengan adanya regresi linier
berganda. Semakin besar nilai r2 digunakan maka semakin besar variasi sumbangannya
terhadap variabel terikat. Adapun hasil dari analisis koefisien determinasi pada penelitian ini
adalah sebagai berikut:
Tabel
Hasil Analisis Koefisien Determinasi (R2)
Model Summaryb
Std. Error of the
Model R R Square Adjusted R Square Estimate Durbin-Watson
1 ,730a ,534 ,509 2,590 1,990
a. Predictors: (Constant), Total_X3, Total_X1, Total_X2
b. Dependent Variable: Total_Y
Sumber: data primer yang diolah, 2019
Tabel diatas menunjukkan angka Adjusted R Square sebesar 0.509 atau sebesar
50,9%. Hal ini menunjukkan bahwa kualitas laporan keuangan pemerintah daerah dipengaruhi
oleh variabel etika, kompetensi dan pengalaman dalam mengelola barang milik daerah
sebesar 50,9%, sedangkan sisanya sebesar 49,1% dipengaruhi oleh variabel lain yang tidak
termasuk dalam penelitian ini.

Jurnal Ilmiah Akuntansi dan Ekonomi Volume. 4 Nomor. 1 Februari 2019 Page 15
Uji t
Uji parsial digunakan untuk mengetahui pengaruh masing-masing variabel independen
terhadap variabel dependen. Menentukan tingkat signifikan (⍺) yaitu sebesar 5% dapat
dilakukan dengan berdasarkan nilai probabilitas, dengan cara pegambilan keputusan adalah:
a) Jika nilai probabilitas > 0,05 maka Ho diterima
b) Jika nilai probabilitas < 0,05 maka Ho ditolak
atau dengan cara melihat tabel t :
a) Jika t tabel < t hitung, maka Ha diterima
b) Jika t tabel > t hitung, maka Ho diditerima
Untuk menghitung t-tabel digunakan ketentuan n-1 pada level signifikan (⍺) sebesar
5% (tingkat kesalahan 5% atau 0,05 atau taraf keyakinan 95%, jadi apabila tingkat kesalahan
suatu variabel lebih dari 5% berarti variabel itu tidak signifikan, berikut adalah hasil analisis
uji t ouput spss uji t :
Tabel
Hasil Uji t
Coefficientsa
Standardized
Unstandardized Coefficients Coefficients Collinearity Statistics
Model B Std. Error Beta t Sig. Tolerance VIF
1 (Constant) 2,751 4,594 ,599 ,552
Total_X1 ,139 ,084 ,177 1,664 ,102 ,735 1,360
Total_X2 ,508 ,114 ,483 4,473 ,000 ,714 1,400
Total_X3 ,322 ,087 ,344 3,701 ,000 ,966 1,035
a. Dependent Variable: Total_Y
Sumber: data primer yang diolah, 2019
a. Pengaruh Etika dalam mengelola barang milik daerah terhadap kualitas laporan keuangan
Uji parsial yang pertama dilakukan untuk mengetahui pengaruh etika dalam mengelola
barang milik daerah terhadap kualitas laporan keuangan, adapun hipotesis yang
ditetapkan oleh peneliti adalah :
Ho1 : etika dalam mengelola barang milik daerah tidak berpengaruh terhadap kualitas
laporan.
Ha1 : etika dalam mengelola barang milik daerah berpengaruh terhadap kualitas laporan.
Nilai t hitung etika dalam mengelola barang milik daerah sebesar 1,664 dengan
signifikansi sebesar 0,102 sementara t tabel diperoleh angka 2,00324 (t tabel = t (⍺/2 : n-
k-1) = t (0.025 ; 56 ) = 2,00324). Dengan demikian maka t-hitung < t-tabel atau 1,664<
2,00324), Ho1 diterima dan Ha1 ditolak, yang artinya tidak terdapat pengaruh yang
signifikan antara Etika dalam mengelola barang milik daerah terhadap kualitas laporan
keuangan. Artinya besar kecilnya kenaikan variabel etika, tidak berpengaruh terhadap
kenaikan kualitas laporan keuangan, apabila terjadi penurunan pada variabel etika tidak
berpengaruh terhadap kualitas laporan keuangan, begitupun sebaliknya.
b. Pengaruh kompetensi dalam mengelola barang milik daerah terhadap kualitas laporan
keuangan
Uji parsial yang kedua dilakukan untuk mengetahui pengaruh kompetensi dalam
mengelola barang milik daerah terhadap kualitas laporan keuangan, adapun hipotesis
yang ditetapkan oleh peneliti adalah :
Ho2 : kompetensi dalam mengelola barang milik daerah tidak berpengaruh terhadap
kualitas laporan.
Ha2 : kompetensi dalam mengelola barang milik daerah berpengaruh terhadap kualitas
laporan.
Nilai t hitung pengalaman dalam mengelola barang milik daerah sebesar 4,473 dengan
signifikansi sebesar 0,000 sementara t tabel diperoleh angka 2,00324 (t tabel = t (⍺/2 : n-
k-1) = t (0.025 ; 56 ) = 2,00324). Dengan demikian maka t-hitung > t-tabel atau 4,473 >
2,00324), Ha2 diterima dan Ho2 ditolak, yang artinya terdapat pengaruh yang signifikan

Jurnal Ilmiah Akuntansi dan Ekonomi Volume. 4 Nomor. 1 Februari 2019 Page 16
antara kompetensi dalam mengelola barang milik daerah terhadap kualitas laporan
keuangan. Variabel kompetensi memiliki koefisien yang positif yatu sebesar 0,508 yang
artinya semakin tinggi kompetensi dalam mengelola barang maka semakin tinggi pula
kualitas laporan keuangan pemerintah daerah
c. Pengaruh pengalaman dalam mengelola barang milik daerah terhadap kualitas laporan
keuangan
Uji parsial yang kedua dilakukan untuk mengetahui pengaruh pengalaman dalam
mengelola barang milik daerah terhadap kualitas laporan keuangan, adapun hipotesis
yang ditetapkan oleh peneliti adalah :
Ho3 : pengalaman dalam mengelola barang milik daerah tidak berpengaruh terhadap
kualitas laporan.
Ha3 : pengalaman dalam mengelola barang milik daerah berpengaruh terhadap kualitas
laporan.
Nilai t hitung pengalaman dalam mengelola barang milik daerah sebesar 3,701
dengan signifikansi sebesar 0,000 sementara t tabel diperoleh angka 2,00324 (t tabel = t
(⍺/2 : n-k-1) = t (0.025 ; 56 ) = 2,00324). Dengan demikian maka t-hitung > t-tabel atau
3,701 > 2,00324), Ha2 diterima dan Ho2 ditolak, yang artinya terdapat pengaruh yang
signifikan antara pengalaman dalam mengelola barang milik daerah terhadap kualitas
laporan keuangan. Variabel pengalaman juga memiliki koefisien yang positif yatu sebesar
0,322 atau dapat juga dikatan bahwa variabel pengalaman berpengaruh secara positif
yang artinya semakin tinggi pengalaman dalam mengelola barang maka semakin tinggi
pula kualitas laporan keuangan pemerintah daerah.

Uji F
Uji simultan dengan F test ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh bersama-sama
variabel independen terhadap variabel dependen. Uji F diperuntukan untuk melakukan uji
hipotesis koefisien (slope) regresi secara bersamaan. Hipotesis yang ditetapkan oleh penulis
adalah :
a. Hipotesis Ho4 : Etika, kompetemsi dan pengalaman dalam mengelola barang milik daerah
secara bersama-sama tidak berpengaruh terhadap kualitas laporan keuangan
b. Hipotesis Ha3 : Etika, kompetemsi dan pengalaman dalam mengelola barang milik daerah
secara bersama-sama berpengaruh terhadap kualitas laporan keuangan
Menentukan tingkat signifikan (⍺) yaitu sebesar 5% dapat dilakukan dengan
berdasarkan nilai probabilitas, dengan cara :
a) Jika nilai probabilitas > 0,05 maka Ho diterima
b) Jika nilai probabilitas < 0,05 maka Ho ditolak
Atau dengan cara melihat f hitung dengan F tabel :
a) Jika Fhitung < Ftabel, maka Ho diterima
b) Jika Fhitung > Ftabel, maka Ho ditolak
Berikut adalah hasil analisis ouput spss untuk uji simultan :
Tabel
Hasil Uji F
ANOVAa
Model Sum of Squares df Mean Square F Sig.
1 Regression 429,460 3 143,153 21,348 ,000b
Residual 375,523 56 6,706
Total 804,983 59
a. Dependent Variable: Total_Y
b. Predictors: (Constant), Total_X3, Total_X1, Total_X2
Sumber: data primer yang diolah, 2019
Dari tabel hasil uji anova atau uji F pada tabel diatas, menunjukan F-hitung sebesar
21,348 dengan tingkat signifikansi 0,000 sedangkan F-tabel = 2,76. Dari tabel diatas bisa
diketahui bawah F-hitung > F-Tabel (21,348 > 2,76 ) dan tingkat signifikansi 0,000 < 0,05 maka
Jurnal Ilmiah Akuntansi dan Ekonomi Volume. 4 Nomor. 1 Februari 2019 Page 17
Ha diterima dan Ho ditolak yang artinya bahwa etika, kompetensi dan pengalaman dalam
mengelola barang milik daerah secara bersama-sama berpengaruh terhadap kualitas laporan
keuangan. Sehingga dapat disimpulkan bahwa semakin tinggi etika, kompetensi dan
pengalaman dalam mengelola barang miliki daerah akan semakin tinggi pula kualitas laporan
keuangan pemerintah daerah.

Pembahasan dan Interpretasi Penelitian


Etika dalam mengelola barang milik daerah tidak berpengeruh terhadap kualitas
laporan keuangan pemerintah daerah
Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa etika dalam mengelola barang milik
daerah tidak berpengaruh terhadap kualitas laporan keuangan. Hal tersebut ditunjukkan
dengan nilai t hitung < t tabel yaitu 1,623 < 2,00324 dan tingkat signifikansi bernilai 0,110 >
0,05.
Nilai t hitung lebih kecil dari pada nilai tabel menunjukkan bahwa etika dalam
mengelola barang milik daerah tidak berpengaruh secara signifikan terhadap kualitas laporan
keuangan pemerintah daerah Kabupaten Bekasi. Artinya besar kecilnya kenaikan variabel
etika, tidak berpengaruh terhadap kenaikan kualitas laporan keuangan, apabila terjadi
penurunan pada variabel etika tidak berpengaruh terhadap kualitas laporan keuangan,
begitupun sebaliknya. Hasil penelitian terhadap variabel etika diatas tidak sejalan dengan
penelitian sebelumnya oleh Rifa’i Aditya yang meneliti pengaruh etika, kompetensi dan
pengalaman dalam mengelola barang milik negara terhadap kualitas laporan keuangan
pemerintah pusat yang menunjukkan adanya pengaruh etika dalam mengelola barang milik
Negara terhadap kualitas laporan keuangan pemerintah pusat.

Kompetensi dalam mengelola barang milik daerah berpengaruh terhadap kualitas


laporan keuangan pemerintah daerah
Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa kompetensi dalam mengelola barang
milik daerah berpengaruh secara signifikan terhadap kualitas laporan keuangan. Hal tersebut
ditunjukkan dengan nilai t hitung > t tabel yaitu sebesar 4,304 > 2,00324 dan tingkat
signifikansi bernilai 0,000 < 0,05.
Kompetensi adalah kemampuan atau keahlian dalam membuat suatu bentuk atau
pekerjaan sesuai dengan skill dan pengetahuan berdasarkan keilmuan yang dimiliki dari
pendidikan formal dan informal yang membentuk sikap professional dalam bekerja. Hasil
penelitian ini sejalan dengan hasil penelitian terdahulu yang dilakukan oleh Rifa’i Aditya
(2014) yang menunjukkan adanya pengaruh antara kompetensi dalam mengelola barang milik
Negara terhadap kualitas laporan keuangan pemerintah pusat. Hal ini berarti bahwa semakin
baik kompetensi para pegawai dalam mengelola barang milik daerah, maka kualitas laporan
keuangan juga akan semakin baik, begitu pula sebaliknya.

Pengalaman dalam mengelola barang milik daerah berpengaruh terhadap kualitas


laporan keuangan pemerintah daerah
Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa pengalaman dalam mengelola barang
milik daerah berpengaruh terhadap kualitas laporan keuangan. Hal tersebut ditunjukkan
dengan nilai t hitung > t tabel yaitu sebesar 3,976 > 2,00324 dan tingkat signifikansi bernilai
0,000 < 0,05.
Nilai t hitung yang lebih besar dari pada nilai tabel menunjukkan bahwa pengalaman
dalam mengelola barang milik daerah berpengaruh secara signifikan terhadap kualitas laporan
keuangan pemerintah daerah Kabupaten Bekasi.
Hasil penelitian terhadap variabel pengalaman diatas mendukung penelitian
sebelumnya oleh Rifa’i Aditya (2014) yang menunjukkan adanya pengaruh pengalaman

Jurnal Ilmiah Akuntansi dan Ekonomi Volume. 4 Nomor. 1 Februari 2019 Page 18
dalam mengelola barang milik negara terhadap kualitas laporan keuangan pusat, serta sejalan
dengan penelitian yang dilakukan oleh Utomo Ari (2017) yang menunjukkan bahwa
pengalaman berpengaruh positif terhadap kualitas laporan keuangan daerah. Hasil penelitian
ini menjelaskan bahwa semakin lama menjadi pengurus barang ataupun pengurus barang
pembantu, maka semakin mengerti dalam memperoleh data yang dibutuhkan dalam
penyusunan laporan. Semakin banyak wawasan dan memiliki pertimbangan yang lebih
matang, terkait pengambilan keputusan pada saat terjadi permasalahan, sehingga dapat
disimpulkan bahwa semankin banyaknya pengalaman yang diperoleh pegawai dalam
mengelola barang milik daerah maka semakin tinggi kualitas laporan keuangan yang
dihasilkan.

Etika, kompetensi dan pengalaman berpengaruh secara bersama-sama terhadap


kualitas laporan keuangan pemerintah daerah
Hasil penelitian ini menunjukkan F-hitung sebesar 21,461 dengan tingkat signifikansi
0,000 sedangkan F-tabel = 2,76. Hal ini berartinya bahwa etika, kompetensi dan pengalaman
dalam mengelola barang milik daerah secara bersama-sama berpengaruh terhadap kualitas
laporan keuangan pemerintah daerah.
Hasil penelitian secara stimultan tersebut juga memiliki hasil yang sama dengan
penelitian sebelumnya oleh Rifa’i Aditya (2014) yang menunjukkan adanya pengaruh etika,
kompetensi dan pengalaman dalam mengelola barang milik negara secara bersama-sama
terhadap kualitas laporan keuangan pusat. Laporan keuangan merupakan suatu bentuk
pertanggungjawaban pemerintah daerah dari transaksi keuanga yang terjadi selama satu tahun
/ satu periode buku bersangkutan. Laporan keuangan yang berkualitas menurut SAP harus
mengandung beberapa indikator yang meliputi dapat dipahami (undestandability), relevansi
(relevance), keterandalan (reliable) dan dapat diperbandingkan (comparibility).

KESIMPULANDAN SARAN
Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan mengenai pengaruh Etika, Kompetensi
dan Pengalaman dalam Mengelola Barang Milik Daerah terhadap Kualitas Laporan Keuangan
Pemerintah Daerah Kabupaten Bekasi maka dapat diambil kesimpulan dalam penelitian ini
sebagai berikut :
1. Tidak terdapat pengaruh yang signifikan antara variabel etika dalam mengelola barang
milik daerah terhadap kualitas laporan keuangan pemerintah daerah Kabupaten Bekasi.
2. Terdapat pengaruh yang signifikan antara variabel kompetensi dalam mengelola barang
milik daerah terhadap kualitas laporan keuangan pemerintah daerah Kabupaten Bekasi.
3. Terdapat pengaruh yang signifikan antara variable pengalaman dalam mengelola barang
milik daerah terhadap kualitas laporan keuangan pemerintah daerah Kabupaten Bekasi.
4. Secara simultan variabel etika, kompetensi dan pengalaman dalam mengelola barang
milik daerah berpengaruh signifikan terhadap kualitas laporan keuangan pemerintah
daerah Kabupaten Bekasi.

Saran
1. Bagi Pemerintah Daerah Kabupaten Bekasi diharapkan dapat mempertimbangkan hasil
penelitian ini, sebagai acuan dalam melakukan analisis pengelolaan barang milik daerah
untuk meningkatkan kualitas laporan keuangan pemerintah daerah Kabupaten Bekasi
2. Bagi Peneliti berikutnya dimasa mendatang untuk dapat meneliti faktor lain yang diduga
memiliki pengaruh terhadap kualitas laporan keuangan pemerintah daerah, mengingat
variable dalam penelitian ini memberikan kontribusi sebesa 50,9% , sehingga sisanya
yang sebesar 49,1% tersebut dapat diketahui melalui penelitian yang akan datang.

Jurnal Ilmiah Akuntansi dan Ekonomi Volume. 4 Nomor. 1 Februari 2019 Page 19
DAFTAR PUSTAKA
Abdul Halim, dkk. 2012. “Akuntansi Sektor Publik Akuntansi Keuangan Daerah”. Edisi 4.
Jakarta : Salemba Empat
Baridwan, Zaki, 2000. “Intermedite Accounting”, BPFE, Yogyakarta
Bastian, Indra. 2002. “Sistem Akuntansi Sektor Publik”. Jakarta : Salemba Empat
Ghozali, Imam. 2009. “Aplikasi Analisis Multivariate Dengan Program SPSS edisi 3
Hadi, Sutrisno, 2004. “Metodologi Research Jilid 3”. Yogyakarta :Andi
Indriantoro, Nur. 2009. “Metodologi Penelitian Bisnis untuk Akuntansi dan Manajemen, Edisi
Pertama”. Yogyakarta :BPFE, Yogyakarta
KH. Hilmah Fairoza. 2013. “Analisis pelaksanaan penatausahaan dan akuntansi aset tetap
pada DPKAD Kota Padang”. Fak. Ekonomi Universitas Padang
Kuncoro, Udi. 2017. “Pengaruh Kompetensi Sumber Daya Manuasia dan Penerapan Sistem
Informasi Manajemen Daerah (SIMDA) Terhadap Kualitas Laporan Keuangan
Pemerintah Daerah.” Fakultas Ekonomi dan Bisnis. Universitas Lampung Bandar
Lampung.
M. Yusuf. 2015. “Langkah Pengelolaan Aset Daerah Menuju Pengelolaan Keuangan Daerah
Terbaik”. Jakarta : Salemba Empat.
Nordiawan, Dedi. 2010. “Akuntansi Sektor Publik”. Jakarta: Salemba Empat
Purwanto, Erwan dan Sulistyastuti. 2015. “Metodologi Penelitian Kuantitatif Untuk
Administrasi Publik dan Masalah-Masalah Sosial”. Jogjakarta: Gava Media
Republik Indonesia. 2018. Peraturan Bupati Bekasi Nomor 35 Tahun 2018 tentang Petunjuk
Teknis Pengelolaan Barang Milik Daerah
Republik Indonesia. 2007. Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 17 tahun 2007 tentang
Pedoman Teknis Pengelolaan Barang Milik Daerah
Republik Indonesia. 2016. Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 19 tahun 2016 tentang
Penatausahaan Barang Milik Daerah
Republik Indonesia. 2007. Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 59 Tahun 2007 tentang
Pedoman Pengelolaan Keuangan Daerah
Republik Indonesia. 2014. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 27 Tahun 2014
tentang Pengelolaan Barang Milik Daerah / Negara
Republik Indonesia. 2010. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 71 Tahun 2010
tentang Standar Akuntansi Pemerintah
Republik Indonesia. 2016. Peraturan Daerah Kabupaten Bekasi Nomor 10 Tahun 2011
tentang Pengelolaan Barang Milik Daerah
Rifai’I, Aditya. 2014. “Pengaruh Etika, Kompetensi dan Pengalaman dalam Mengelola
Barang Milik Negara (BMN) terhadap Kualitas Laporan Keuangan Pemerintah Pusat”.
Fakultas Ekonomi Universitas Yogyakarta
Sekaran, Uma. 2009. “Metodologi Penelitian untuk Bisnis”. Jakarta : Salemba Empat
Siregar, Baldric. 2015. “Akuntansi Sektor Publik (Akuntansi Keuangan Pemerintah Daerah
Berbasis Akrual)”.Yogyakarta :UPP-STIM YKPN
Sugiyogo. 2018. “Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif dan R&D”. Cetakan ke -27,
Bandung : Alfabeta
Utomo, Ari. 2017. “ Pengaruh Kompetensi dan Pengalaman Dalam Mengelola Barang Milik
Daerah Terhadap Kualitas Laporan Keuangan Daerah Dengan Etika Sebagai
Variabel Moderating”. Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam UIN Alauddin Makasar

Jurnal Ilmiah Akuntansi dan Ekonomi Volume. 4 Nomor. 1 Februari 2019 Page 20

Anda mungkin juga menyukai