i
KATA PENGANTAR
Dengan menyebut nama Allah SWT yang Maha Pengasih lagi Maha
Penyayang, saya panjatkan puji syukur atas kehadirat-Nya, yang telah
melimpahkan rahmat, hidayah, dan inayah-Nya sehingga saya dapat
menyelesaikan modul dengan judul “Model Elearning Tooth Activies Game
Untuk Meningkatkan Perilaku Menyikat Gigi Pada Anak Autis Usia Sekolah
Dasar”.
Adapun penyusunan modul ini saya usahakan semaksimal mungkin dan
tentunya dengan bantuan berbagai pihak, sehingga dapat memperlancar
penyusunan modul dengan judul “Model Elearning Tooth Activies Game Untuk
Meningkatkan Perilaku Menyikat Gigi Pada Anak Autis Usiat Sekolah Dasar”.
Untuk itu saya tidak lupa menyampaikan banyak terima kasih kepada semua
pihak yang telah membantu dalam penyusunan modul ini.
Namun tidak lepas dari semua itu, saya menyadari sepenuhnya bahwa ada
kekurangan baik dari segi penyusun bahasanya maupun segi [Link] karena
itu dengan lapang dada dan tangan terbuka bagi pembaca yang ingin memberi
saran dan kritik kepada saya sehingga penulis dapat memperbaiki modul ini.
Demikian saya harapkan semoga dari modul yang berjudul “Model
Elearning Tooth Activies Game Untuk Meningkatkan Perilaku Menyikat Gigi
Pada Anak Autis Usia Sekolah Dasar” agar dapat diambil hikmah dan manfaatnya
sehingga dapat memberikan informasi terhadap pembaca.
Jepara, November 2022
Penulis
i
DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL ............................................................................................
KATA PENGANTAR ......................................................................................... i
DAFTAR ISI ...................................................................................................... ii
BAB I PENDAHULUAN .............................................................................. 1
A. Latar Belakang ....................................................................................... 1
B. Filosofi Pelatihan ..................................................................................... 4
C. Tujuan..........................................................................................................5
D. Manfaat........................ ............................................................................ 6
BAB II METODE PELATIHAN MODEL “MEAS TOOTH GAME” ........7
A. Sasaran........................................................................................................7
B. Metode Pelatihan ..................................................................................... 7
C. Materi dan Kurikulum Pelatihan................................................................7
D. Perlengkapan dan Bahan...........................................................................11
E. Evaluasi Keberhasilan Pelatihan................................................................11
F. Tahap Pelaksanaan Model "MEAS TOOTH GAME"..............................12
BAB III LANGKAH PELAKSANAAN...........................................................14
BAB IV PENUTUP..............................................................................................15
A. Kesimpulan.................................................................................................15
B. Saran...........................................................................................................15
MATERI MODUL...............................................................................................16
Materi Dasar I Pengetahuan Tentang Kesehatan Gigi dan Mulut...................17
Materi Dasar II Masalah Kesehatan Gigi dan Mulut......................................21
Materi Dasar III Autism Spectrum Disorder ( ASD).......................................24
Materi Inti Model MEAS Tooth Game...........................................................28
Materi Penunjang............................................................................................31
DAFTAR PUSTAKA
ii
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Kesehatan rongga mulut merupakan bagian penting dari
kesehatan secara menyeluruh. Meskipun tidak menimbulkan kematian,
kesehatan gigi dan mulut dapat menurunkan produktivitas kerja bahkan
berpengaruh terhadap kualitas hidup.1 Status kesehatan seseorang secara
umum dipengaruhi oleh kesehatan gigi dan mulut, artinya seseorang
yang memiliki masalah kesehatan gigi dan mulut, maka akan terganggu
kesehatan secara umum.2 Menurut Centers of Control Disease
Prevention (CDC), karies gigi merupakan penyakit yang harus dicegah
karena akan menjadi penyakit kronis yang utama pada anak usia 6-11
tahun (25%) serta remaja usia 12-19 tahun (59%).3 Riset Kesehatan
Dasar (Riskesdas) tahun 2018 menyatakan bahwa prevalensi def-t di
Indonesia pada usia 5-6 tahun sebesar 88,8% dengan nilai def-t 8,1
angka menunjukan rata-rata setiap anak memiliki 8 gigi yang mengalami
karies.4
Masalah kesehatan gigi tidak hanya terjadi pada anak biasa,
melainkan juga terjadi pada anak berkebutuhan khusus. Anak
berkebutuhan khusus merupakan anak yang memiliki kelemahan
terhadap salah satu fungsi anggota tubuh baik bersifat fisik maupun
psikisnya seperti tunanetra (buta), tunarungu (tuli), autis dan retardasi
1
mental.5 Salah satu dari anak berkebutuhan khusus yaitu anak autis.
American Psychiatric Association, menyatakan bahwa autis merupakan
gangguan perkembangan syaraf yang kompleks pada otak anak, dan
biasanya terjadi pada anak usia dini. Tanda-tanda gangguan autis adalah
adanya kesulitan atau beberapa taraf keterlambatan dalam berinteraksi
sosial, komunikasi secara non verbal maupun verbal dan tingkah laku
yang diulang-ulang pada suatu keminatan atau aktivitas.6 Karakteristik
anak autis umumnya adalah susah untuk fokus, cepat merasa bosan
apabila disodori hal-hal yang tidak sesuai dengan keminatan, dan kurang
mampu mengontrol gerak motorik mereka. 5,6 Peran guru pembimbing
sangat diharapkan untuk mengajarkan materi dengan kreatif, baik dan
menyenangkan. Serta harus mampu membimbing anak autis mengontrol
gerak motorik mereka.7
Orang tua juga berperan penting membimbing anak khususnya
dalam menjaga kesehatan gigi dan mulut. Penelitian di Dubai
menyatakan anak autis memiliki tantangan dan hambatan yang lebih
sulit dalam menjaga kesehatan gigi dan mulut dibandingkan dengan anak
biasa. Sebanyak 83,3% orang tua anak autis menyatakan bahwa anak-
anak mereka membutuhkan bantuan dalam menyikat gigi. 8 Sementara di
Pakistan menyebutkan anak autis memiliki insiden karies yang lebih
tinggi yaitu sebesar 50% dibandingkan anak biasa yaitu 22,2%. 9 Hal ini
sejalan dengan penelitian di China yang menyatakan anak autis memiliki
2
resiko dua kali lebih tinggi terhadap karies dibandingkan dengan anak
biasa.10 Penelitian di Manado juga menyatakan bahwa status karies gigi
pada anak autis di SLB YPAC Manado dengan Indeks DMF-T sebesar
4,4 termasuk kategori sedang. Kesehatan gigi dan mulut pada anak
berkebutuhan khusus lebih rendah dibandingkan dengan anak biasa
dikarenakan rendahnya kemampuan motorik serta kognitifnya. 11
Peningkatan perilaku menyikat gigi dapat dilakukan melalui
pendidikan kesehatan gigi yang merupakan bentuk pendekatan perilaku
promosi kesehatan yang membutuhkan proses pendidikan. 12 Model
Elearning adalah suatu sistem atau konsep pendidikan yang
memanfaatkan teknologi informasi dalam proses belajar mengajar. 13
Penggunaan model Elearning merupakan media yang menjadi salah satu
faktor yang dapat mempengaruhi proses pendidikan, karena merupakan
alat bantu untuk mempermudah dalam penyampaian materi. Sama
halnya dengan media pendidikan kesehatan gigi dan mulut sebagai alat
bantu belajar yang harus dikemas dengan baik, menarik dan melibatkan
banyak indera agar lebih mudah di ingat.6,13
Penelitian terdahulu tentang Pengaruh Game Based Learning
terhadap Motivasi dan Prestasi Belajar membuktikan secara signifikan
adanya perbedaan motivasi belajar mahasiswa antara pembelajaran
dengan direct learning dibanding dengan game based learning.14 Pada
penelitian terdahulu penggunaan game untuk memperkenalkan anggota
3
tubuh dan anggota keluarga pada anak autis juga terbukti efektif.
Permainan dimasukkan ke dalam aktivitas yang mampu membuat
kegiatan menggosok gigi menjadi kegiatan yang menyenangkan bagi
anak. Model yang di gunakan untuk memperkenalkan cara-cara
menyikat gigi dan waktu menyikat gigi yang benar akan menjadi
langkah awal untuk meningkatkan perilaku menyikat gigi pada anak.
Untuk itu diperlukan upaya inovasi dalam mengedukasi anak, khususnya
pada anak autis berupa model e-learning tooth activies game (MEAS
Tooth Game).
B. Filosofi Pelatihan
Pelatihan ini diselenggarakan berdasarkan pendekan sebagai berikut :
1. Berdasarkan Masalah (Problem Based)
Proses Pelatihan didekatkan pada permasalahan nyata yang ada di
lapangan
2. Berdasaekan kompetensi (Competency Based)
Proses pelatihan selalu berupaya untuk mengembangkan
keterampilan berjenjang Langkah demi Langkah menuju
kemampuan paripurna
3. Pembelajaran Orang Dewasa (Adulth Learning)
Proses pelatihan yang diselenggaran dengan pendekatan
pembelajaran orang dewasa, yang selama pelatihan peserta berhak
4
untuk :
a. Didengarkan dan dihargai pengalamannya
b. Dipertimbangkan setiap ide dan pendapat, sejauh berada di
dalamkonteks pelatihan
c. Dihargai keberadaannya
4. Pembelajaran dengn Melakukan (Learning by Doing)
Memungkinkan peserta untuk
a. Berkesempatan melakukan eksperimentasi dan materi
pelatihan dengan menggunakan metode pembelajaran
antara lain diskusi kelompok, studi kasus, simulasi,
bermain peran (role play) dan latihan(exercise) baik secara
individu maupun kelompok
b. Melakukan pengulangan ataupun perbaikan yang dirasa perlu
C. Tujuan
1. Tujuan Umum
Setelah mengikuti pelatihan diharapkan orang tua dapat mengerti
dan memahami tentang cara memelihara kesehatan gigi dan
mulut pada anak autis..
2. Tujuan Khusus
a. Orang tua mampu mendampingi anak autis dalam
memelihara kesehatan gigi dan mulut dengan menggunakan
model “MEAS Tooth Game “ sebagai upaya meningkatkan
perilaku menyikat gigi pada anak autis.
b. Meningkatnya perilaku menyikat gigi dan
5
menurunnya skor debris indeks pada anak autis.
D. Manfaat
1. Manfaat Teoritis
Menambah pengetahuan orang tua murid tentang model “MEAS
Tooth Game” sebagai upaya meningkatkan perilaku menyikat
gigi pada anak autis.
2. Manfaat Praktis
Orang tua melaksakan pendampingan dalam menggunakan
model “ MEAS Tooth Game” sebagai upaya meningkatkan
perilaku menyikat gigi dan menurunkan skor debris indeks pada
anak autis.
6
BAB II
METODE PELATIHAN MODEL “MEAS
TOOTH GAME”
A. Sasaran
Model E-learning tooth activies game ( meas tooth game ) di tujukan
bagi anak autis, yang pelaksanaannya didampingi oleh orang tua anak
autis.
B. Metode Pelatihan
Pelatihan dilaksanakan dengan metode ceramah, simulasi,
demonstrasi, praktik, monitoring, dan evaluasi.
C. Materi dan Kurikulum Pelatihan
Materi pelatihan meliputi :
1. Materi dasar
2. Materi inti
3. Materi penunjang
Tabel 2.1 Struktur kurikulum pelatihan
Alokasi Waktu
No Materi
T P PL Jumlah
A Materi Dasar
1. Pengetahuan tentang Gigi dan Mulut 2 1 3
2. Masalah Kesehatan Gigi dan Mulut 2 2 4
3. A u t i s m S p e c t r u m D i s o r d e r 2 4 4
(ASD)
4. Peran orang tua sebagai 2 4 6
pendamping
B Materi Inti
Model MEAS Tooth Game 3 4 7
C Materi Penunjang
1. Teknik Penyuluhan Sederhana 1 1 2
2. Komunikasi Efektif 0 2 2
Total Waktu 12 18 30
Keterangan :
Jpl = 45 menit
T = penyampaian teori
P = penugasan dalam diskusi kelompok, latihan,
studi kasus
7
bermainperan, dsb.
PL = Praktik Lapangan
1. Materi dasar
Tabel 2.2 Struktur materi dasar I kurikulum pelatihan
Materi Dasar I : Pengetahuan tentang Gigi dan Mulut
Waktu : 3 Jpl (T = 2, P = 1, PL = 0 Jpl)
Tujuan Pelatihan : Setelah pelatihan selesai, orang tua murid mampu
Umum memahami tentang gigi dan mulut
Tujuan Pelatihan : Setelah pelatihan selesai, orang tua murid mampu
Khusus memahami :
1. Anatomi gigi dan Mulut
2. Pertumbuhan Gigi
Pokok Bahasan : 1. Anatomi gigi dan Mulut
dan Sub Pokok 2. Macam dan Fungsi Gigi
Bahasan 3. Pertumbuhan Gigi
Metode : Ceramah, tanya jawab, dan diskusi
Media : Power Point
Alat Bantu : LCD, laptop, dan spidol
Tabel 2.3 Struktur materi dasar II kurikulum pelatihan
Materi Dasar II : Masalah Kesehatan Gigi dan Mulut
Waktu : 4 Jpl (T = 2, P = 2, PL = 0 Jpl)
Tujuan Peltihan : Setelah pelatihan selesai, orang tua murid mampu
Umum memahami masalah kesehatan gigi dan mulut
Tujuan Pelatihan : Setelah pelatihan selesai, orang tua murid
Khusus mampu memahami :
1. Kebersihan gigi dan mulut
2. Karies
3. Kalkulus
4. Maloklusi
:
Pokok Bahasan 1. Kebersihan gigi dan mulut
dan Sub Pokok 2. Karies
Bahasan 3. Kalkulus
4. Maloklusi
Metode : Ceramah, tanya jawab, dan diskusi
Media : Power Point
Alat Bantu : LCD, laptop, dan spidol
8
Tabel 2.4 Struktur materi dasar III kurikulum pelatihan
Materi Dasar III : Autism Spectrum Disorder ( ASD )
Waktu : 4 Jpl (T = 2, P = 2, PL = 0 Jpl)
Tujuan Pelatihan : Setelah pelatihan selesai, orang tua murid
Umum mampu memahami tentan ASD
Tujuan Pelatihan : Setelah pelatihan selesai, orang tua murid mampu
Khusus memahami :
1. Klasifikasi autis
2. Pendekatan pada anak autis
3. Peran pendampingan orang tua
Pokok Bahasan
dan Sub Pokok 1. Klasifikasi autis
Bahasan
2. Pendekatan pada anak autis
3. Peran pendampingan orang tua
Metode : Ceramah, tanya jawab, dan diskusi
Media : Power Point
Alat Bantu : LCD, laptop, dan spidol
2. Materi intI
Tabel 2.5 Struktur materi inti kurikulum pelatihan
Materi Inti : Model MEAS Tooth Game
Waktu : 7 Jpl (T = 3, Jpl, P= 4 Jpl, PL= 0 Jpl)
Tujuan Pelatiahan : Setelah pelatihan selesai, orang tua murid mampu
Umum memahami dan mengimplementasikan Model MEAS
Tooth Game
Tujuan Pelatihan : Setelah pelatihan selesai :
Khusus 1. Orang tua murid memahami Model MEAS Tooth
Game
2. Orang tua murid mengimplementasikan Model
MEAS Tooth Game
Pokok Bahasan : Model MEAS Tooth Game
dan Sub Pokok a. Definisi
Bahasan b. Tahap-Tahap Pelaksanaan
Metode : Ceramah, tanya jawab dan praktik
Media : Power Point
Alat Bantu : 1. LCD
2. Laptop
3. HP Android
9
3. Materi Penunjang
Tabel 2.6 struktur materi penunjang kurikulum pelatihan
Materi Penunjang : Komunikasi Efektif
Waktu : 2 Jpl (T = 1 Jpl, P = 1 Jpl, PL = 0 Jpl)
Tujuan Pelatihan : Setelah mengikuti pelatihan ini, orang tua
Umum murid mampu mengetahui tentang komunikasi
efektif
Tujuan Pelatihan : Setelah pelatihan selesai, orang tua murid
Khusus mampu memberikan pendampingan kepada
anak autis
Pokok Bahasan dan :
Sub Pokok Bahasan memberikan pendampingan kepada anak autis
Metode : Diskusi kelompok
Alat Bantu : LCD, laptop, spidol, Flip chart, kertas
D. Perlengkapan dan Bahan
Perlengkapan yang harus disiapkan dalam implementasi model adalah :
1. Aplikasi MEAS Tooth Game
2. Modul MEAS Tooth Game
3. HP Android
4. LCD
5. Laptop
6. Sound System
E. Evaluasi Keberhasilan Pelatihan
Evaluasi keberhasilan pelatihan dilaksanakan dalam bentuk :
1. Observasi pre-post test pengetahuan, sikap dan tindakan orang tua
murid terhadap pemeliharaan kesehatan gigi dan mulut.
2. Observasi pre-post test tindakan anak autis dalam menyikat gigi dan
pemeriksaan skor debris indeks
10
F. Tahap Pelaksanaan MEAS Tooth Game
1. Sosialisasi
Tujuan dilakukannya sosialisasi adalah tersosialisasikannya
model e-learning activies tooth game sebagai upaya
meningkatkan perilaku menyikat gigi pada anak autis. Sasaran
sosialisi adalah orang tua anak autis.
2. Persiapan perlengkapan dan bahan untuk implementasi
a) Menyiapkan ruangan sebagai tempat pelaksanaan
pelatihan sesuaidengan jumlah orang tua murid yang akan
dilatih
b) Menyiapkan alat bahan pendukung pelatihan seperti LCD,
phantom,poster, hp android dan pengeras suara.
c) Menyiapkan lembar kuesioner pengetahuan, sikap dan
tindakan orang tua terhadap pemeliharaan kesehatan gigi
dan mulut.
3. Pelatihan Orang tua Murid
Kegiatan ini dilakukan pelatihan model e-learning activies
tooth game ( MEAS Tooth Game ) dengan sasaran, tujuan, dan
materi sesuai dengan kurikulum yang dilatih yaitu orang tua
murid.
4. Demonstrasi
11
Orang tua murid mempraktikan penggunaan aplikasi MEAS
Tooth Game.
5. Evaluasi Implementasi
Setelah MEAS Tooth Game dilaksanakna, tenaga Kesehatan
gigimelakukan evaluasi sebagai berikut :
d) Observasi post test pengetahuan, sikap dan tindakan orang
tua murid
e) Observasi post test pemeriksaan skor debris indeks dan
tindakan anak autis dalam menyikat gigi.
12
BAB III
LANGKAH PENGGUNAAN “MEAS TOOTH GAME”
Adapun langkah penggunaan aplikasi MEAS Tooth Game
adalah sebagai berikut :
1. Buka aplikasi MEAS Tooth Game di Hp Android lalu klik bermain
2. Akan muncul dua pilihan game yaitu ayo sikat dan ayo bermain. Ayo
sikat adalah permainan tentang cara menyikat gigi. Orang tua
membimbing anak untuk memilih gerakan sikat gigi yang sesuai dengan
gambar yang diperlihatkan di bagian tengah. Setelah memilih akan ada
ilustrasi vidio dan suara yang menjelaskan cara menyikat gigi yang
benar sesuai bagiannya.
13
3. Ada beberapa pilihan bagian gigi seperti gigi bagian depan, gigi
bagian dekat pipi, gigi bagian dalam dekat lidah dan langit-langit
serta gigi bagian dekat pengunyahan beserta pilihan cara
menyikatnya.
4. Pada bagian ayo hindari adalah permainan tentang makan yang baik
dan yang buruk untuk kesehatan gigi. Orang tua dapat menjelaskan
pada anak makan apa saja yang baik dan buruk untuk kesehatan gigi
sambil bermain, dimana karakter gigi dalam game ini harus
menghindari makanan yang jatuh dari atas jika makanan tersebut
buruk untuk gigi.
14
BAB IV
PENUTUP
A. Kesimpulan
Model e-learning tooth activies game dilakukan sebagai inovasi media
promosi kesehatan gigi dan mulut upaya meningkatkan perilaku menyikat
gigi pada anak autis usia sekolah dasar. Sasaran primer dari MEAS Tooth
Game ini adalah anak autis usia sekolah dasar melalui sasaran sekunder yaitu
orang tua anak autis.
B. Saran
Perlunya pendampingan orang tua dalam menggunakan aplikasi MEAS
Tooth Game ini, karena pentingnya peranan pendamping sangat
mempengaruhi tujuan dari MEAS Tooth Game ini yaitu sebagai upaya
meningkatkan perilaku menyikat gigi pada anak autis usia sekolah dasar.
15
16
MATERI DASAR I
PENGETAHUAN TENTANG GIGI
A. Anatomi Gigi dan Mulut
Bagian-bagian gigi terdiri dari :
1) Email
Merupakan bagian terluar dan terkeras dari gigi yang
berfungsi melindungi bagian-bagian dalam gigi dari
rangsangan panas dan dingin. Pada lapisan ini belum
terdapat saraf gigi
2) Dentin
Merupakan bagian dalam sesudah email yang
berwarna lebih kuning dari email. Disini terdapat
ujung-ujung syaraf yang berasal dari pulpa
3) Pulpa
Merupakan temat syaraf-syaraf, pembuluh darah dan
pembuluh getah bening dari gigi yang memberi
kehidupan pada gigi
4) Tulang alveolar
Merupakan tempat tertanamnya akar gigi
5) Cementum
17
Merupakan bagian yang melapisi seluruh permukaan akar gigi
6) Jaringan periodontal ( serat selubung akar gigi)
Merupakan serabut-serabut yang menyelubungi akar
gigi yang melekar pada cementum dan alveolar serta
berfungsi untuk menahan tekanan agar tidak
langsung mengenai tulang.
Gambar 1. Penampang Gigi
B. Pertumbuhan Gigi
Pada umumnya manusia mempunyai 3 periode pertumbuhan gigi yaitu :
1) Periode gigi susu (gigi sulung)
Merupakan gigi pada anak-anak yang usianya
antar 6 bulan hingga 8 tahun. Jika sudah sampai
waktunya, maka gigi susu akan tanggal satu persatu
dan kedudukannya akan digantikan oleh gigi baru
18
yang merupakan gigi tetap. Jumlah gigi pada anak-
anak seluruhnya 20 buah (8 gigi seri, 4 gigi taring,
dan 8 gigi geraham) yang semuanya tersusun berdert
pada rahang atas dan rahang bawah
2) Periode gigi tetap
Gigi tetap merupakan gigi yang sudah permanen.
Jika gigi tetap tanggal, maka tidak terjadi lagi
pergantian gigi baru. Jumlah gigi tetap seluruhnya
adalah 32 buah yang terdiri atas 8 gigi seri, 4 gigi
taring, 8 gigi geraham depan, dan 12 gigi geraham
belakang (molar)
3) Periode gigi bercampur
Merupakan periode peralihan gigi susu ke gigi
tetap. Periode ini terjadi pada usia 6-14 tahun. Pada
periode ini terlihat gigi anak tidak beraturan dan
kadang-kadang gigi tetap sudah tumbuh namun gigi
susunya belum lepas. Bila terjadi kondisi seperti ini,
segeralah dirujuk ke dokter gigi puskesmas agar
mendapat agar mendapatkan penanganan yang tepat.
C. Macam dan Fungsi Gigi
Gigi berfungsi dalam proses pencernaan makanan
secara mekanis, yaitu dengan cara mengunyah. Gigi
19
mengalami diferensi dalam bentuk sesuai dengan tugas dan
fungsinya.
Berdasarkan bentuk dan fungsinya, gigi dapat kita
bedakan menjadi beberapa bagian, yaitu :
1) Gigi seri merupakan jenis gigi yang berbentuk seperti
pahat dan berfungsi untuk memotong makanan yang
sifatnya berserat danberbongkah
2) Gigi taring merupakan jenis gigi yang berbentuk
geligi dengan ujung meruncing dan berfungsi untuk
menyobek atau mencabik makanan
3) Gigi geraham merupakan jenis gigi yang berbentuk
seperti bongkol, tapi memiliki ujung yang agak
melebar. Gigi geraham berfungsi untuk mengunyah
atau menggiling makanan. Pada orang dewasa ada 2
jenis gigi geraham yaitu geraham kecil/depan dan
geraham besar.
20
MATERI DASAR II
MASALAH KESEHATAN GIGI DAN MULUT
1. Kebersihan Gigi dan Mulut
Kebersihan mulut sangat berperan dalam kesehatan gigi dan mulut karena
dapat menimbulkan berbagai penyakit baik lokal maupun sistemik. Anak
autis dengan keterbatasan yang dimiliki menyebabkan sebagian besar
kebersihan mulut yang buruk. Tingkat kebersihan gigi dan mulut di ukur
menggunakan Debris Indeks. Debris merupakan sisa makanan yang masih
lunak yang melekat pada permukaan gigi yang bersih 5-30 menit setelah
mengkonsumsi makanan atau minuman. Debris akan mengalami liqufikasi
oleh enzim yang kemungkinan masih tertinggal pada permukaan gigi yang
disebabkan oleh aliran saliva, mekanisme lidah, bibir dan pipi serta akibat
susunan gigi geligi yang tidak beraturan.
2. Karies Gigi
a. Pengertian karies gigi
Karies atau gigi berlubang adalah suatau penyakit yang
disebabkan oleh kerusakan lapisan luar gigi yang bisa meluas
sampai ke bagian saraf gigi yang disebabkan oelh aktifitas bakteri
di dalam rongga mulut
b. Penyebab karies atau gigi berlubang
1) Waktu dan cara menggosok gigi yang belum benar
21
2) Tidak menggunakan pasta gigi yang mengandung fluor
3) Sering mengkonsumsi makan-makanan manis atau lengket
4) Jarang menggoeok dan membersihkan gigi
c. Pencegahan karies/gigi berlubang
Menghindari makanan yang bersifat kariogenik atau tinggi
gula yang mudah melekat pada gigi. Makanan seperti gula,
kacang bersalut gula, sereal kering, roti dan kismis. Usahakan
untuk membersihkan gigi dalam waktu 20 menit setelah
makanan. Apabila tidak menggosok gigi maka berkumurlah
dengan air putih.
Penambalan gigi, kerusakan gigi biasanya dihentikan dengan
membuang bagian gigi yang rusak dan digantikan dengan
tambalan gigi. Jenis bahan tambalan yang digunakan
tergantung dari lokasi dan fungsi gigi.
Gigi dengan karies yang sudah dilakukan pencabutan dapat di
lakukan pembuatan gigi palsu supaya dapat mengembalikan
fungsi dari gigi yang hilang.
3. Calculus
Calculus merupakan penumpukan plak pada permukaan gigi yang
melekat erat serta objek solid lainnya di dalam mulut sehingga gigi menjadi
kasar dan terasa tebal. Calculus terbentuk oleh adanya pengendapan sisa
makanan dengan air ludah serta kuman-kuman maka terjadilah proses
22
pengapuran yang lama kelamaan menjadi keras. Calculus tidak dapat
dibersihkan dengan tindakan menyikat gigi secara mandiri namun
membutuhkan tindakan perawatan yang dilakukan oleh tenaga kesehatan
gigi dan mulut.
4. Maloklusi
Maloklusi merupakan keadaan dalam rongga mulut yang ditandai
dengan adanya gigi yang tumpang tindih atau bahkan yang salah posisi.
Penyebabnya adalah keadaan rahang yang tidak sesuai dengan ukuran gigi
sehingga gigi menjadi berjejal. Pada anak autis keadaan ini bisa
berhubungan dengan kebiasaan anak yang suka makanan yang lunak dan
malas mengunyah. Hal ini membuat koordinasi otot rahang menjadi lemah
serta dapat mempengaruhi perkembangan rahang.
23
MATERI DASAR III
AUTISM SPECTRUM DISORDER (ASD)
Autism Spectrum Disorder (ASD) adalah suatu kelainan yang mengakibatkan
seseorang mengalami gangguan dalam komunikasi dan interaksi terhadap sosial.
Autisme pertama kali ditemukan oleh Leo Kenner pada tahum 1943. Autis
dideskripsikan sebagai gangguan ketidakmampuan untuk berinteraksi dengan
orang lain, gangguan berbahasa yang ditunjukkan dengan penguasaan bahasa
yang tertunda, echolalia (suara bergema yang sering didengar), pembalikan
kalimat, adanya aktivitas bermain repetitive dan sereotype, rute ingatan yang kuat
dan keinginan obsesif untuk mempertahankan keteraturan di dalam
lingkungannya.
1. Klasifikasi Autis
Autis dapat diklasifikasikan menjadi beberapa bagian berdasarkan
gejalanya. Sering kali pengklasifikasian disimpulkan setelah anak didiagnosa
autis. Klasifikasi ini dapat diberikan melalui Childhood Autism Rating Scale
(CARS).21 Pengklasifikasiannya adalah sebagai berikut :
a. Autis ringan
Pada kondisi ini, anak autis masih menunjukkan adanya kontak mata
walaupun tidak berlangsung lama. Anak autis ini dapat memberikan sedikit
respon ketika dipanggil namanya, menunjukkan ekspresi-ekspresi muka, dan
dalam berkomunikasi secara dua arah meskipun terjadinya hanya sesekali.
24
Tindakan-tindakan yang dilakukan, seperti memukulkan kepalanya sendiri,
mengigit kuku, gerakan tangan yang steroetif dan sebagainya, masih bisa
dikendalikan dan dikontrol dengan mudah. Karena biasanya perilaku ini
dilakukan masih sesekali saja, sehingga masih bisa dengan mudah untuk
mengendalikannya.
b. Autis sedang
Pada kondisi ini, anak autis masih menunjukkan sedikit kontak mata,
namun tidak memberikan respon ketika namanya dipanggil. Tindakan agresif
atau hiperaktif, menyakiti diri sendiri, acuh, dan gangguan motorik yang
stereotipik cenderung agak sulit untuk dikendalikan tetapi masih bisa
dikendalikan.
c. Autis berat
Anak autis yang berada pada kategori ini menunjukkan tindakan-tindakan
yang sangat tidak terkendali. Biasanya anak autis memukul-mukulkan
kepalanya ke tembok secara berulang-ulang dan terus-menerus tanpa henti.
Ketika orang tua berusaha mencegah, namun anak tidak memberikan respon
dan tetap melakukannya, bahkan dalam kondisi berada dipelukan orang
tuanya, anak autis tetap memukul-mukulkan kepalanya. Anak baru berhenti
setelah merasa kelelahan kemudian langsung tertidur. Kondisi yang lainnya
yaitu, anak terus berlarian didalam rumah sambil menabrakkan tubuhnya ke
dinding tanpa henti hingga larut malam, keringat sudah bercucuran di sekujur
25
tubuhnya, anak terlihat sudah sangat kelelahan dan tak berdaya. Tetapi masih
terus berlari sambil menangis. Seperti ingin berhenti, tapi tidak mampu
karena semua diluar kontrolnya. Hingga akhirnya anak terduduk dan tertidur
kelelahan.
2. Pendekatan Pada Anak Autis
Pendekatan khusus yang bisa dilakukan dalam proses pembelajaran bagi
anak autis yaitu melalui komunikasi interpersonal yang dilakukan dengan
memperlihatkan pengertian, kasih sayang, dan kesabaran dalam berkomunikasi
dengan anak autis. Penggunaan bahasa dan pemilihan kata yang tepat dalam
berkomunikasi dengan anak autis juga dapat mempengaruhi tindakan yang
ditunjukkan oleh anak autis. Hal ini dilakukan sebagai upaya untuk meningkatkan
rasa kepercayaan diri dan rasa ingin berbaur pada anak autis dengan lingkungan
sekitarnya. Komunikasi interpersonal dengan anak autis dapat berjalan dengan
baik apabila dapat memberikan stimulus dan kenyamanan bagi anak autis.
Aspek keterbukaan, empati, dukungan, sikap positif, dan kesetaraan juga
diterapkan agar anak autis dapat lebih terbuka dan dapat berkomunikasi dengan
lingkungan sosialnya. Keeratan akan komunikasi interpersonal dengan anak autis
tergantung bagaimana kita membangun chemistry dengan anak tersebut . Proses
pembelajaran pada anak autis juga memerlukan alat pendukung seperti alat peraga
untuk memudahkan anak dalam memahami materi yang disampaikan.
26
3. Peran Orang Tua Sebagai Pendamping
Anak berkembang dan bergaul dengan lingkungan keluarga dari awal
dilahirkan. Lingkungan keluarga yang baik sangat berpengaruh dalam
tumbuh kembang anak. Menjaga anak merupakan tanggung jawab orang tua
dengan memberikan pendidikan formal atau non formal. Kesuksesan anak
autis dalam perkembangan tidak lepas dari bimbingan dan perhatian
keluarga.
Cara mendidik akan sangat mempengaruhi terhadap pertumbuhan dan
perkembangan psikologis seorang anak. Peran orang tua terhadap anak
dalam kesehatan gigi dan mulut juga sangat berpengaruh. Bimbingan dan
dampingan orang tua dalam hal menjaga kebersihan gigi dan mulut sangat
diperlukan sebagai role model. Fasilitas yang diberikan orang tua dalam
menjaga kebersihan gigi dan mulut juga sangat penting agar anak dapat
dengan mudah menyikat gigi.
27
MATERI INTI
MODEL E-LEARNING TOOTH ACTIVIES GAME
( MEAS TOOTH GAME)
1. Pengertian
Model E-learning Tooth Activies Game ( MEAS Tooth Game) adalah aplikasi
berbasis android yang memuat edukasi tentang kesehatan gigi dan mulut yang
menitik beratkan pada waktu menyikat gigi. Aplikasi ini dapat membuat anak
terbiasa menyikat gigi diwaktu yang tepat yaitu pagi setelah sarapan dan malam
sebelum tidur. Aplikasi ini dilengkapi dengan notifikasi sebagai pengingat waktu
menyikat gigi. Selain itu, terdapat pula fitur materi, permainan dan report. Fitur
materi berfungsi untuk meningkatkan pengetahuan tentang kesehatan gigi dan
mulut. Fitur permainan berfungsi untuk meningkatkan motivasi dan sikap dalam
menjaga kesehatan gigi dan mulut. Fitur report adalah media laporan hasil
kegiatan apakah anak sudah melakukan sikat gigi secara benar.
2. Tujuan
MEAS Tooth Game dibuat dengan tujuan untuk meningkatkan motivasi dan
perilaku dalam menyikat gigi. Aplikasi ini dapat mengingatkan waktu menyikat
gigi yaitu pagi setelah sarapan dan malam sebelum tidur. Model E-learning Tooth
Activies Game ( MEAS Tooth Game) ini di disign menarik supaya anak tidak
cepat bosan serta menggunakan bahasa – bahasa yang mudah dipahami oleh anak.
28
3. Dampak negatif penggunaan gadget/handphone secara berlebihan pada anak
Penggunaan gadged/handphone secara berlebihan akan mempengaruhi beberapa
hal pada anak antara lain, mempengaruhi kesehatan fisik (masalah penglihatan,
kekakuan, cidera tulang belakang karena posisi duduk), mengalami
ketergantungan bahkan menghambat perkembangan sosial pada anak dengan
orang disekitarnya.
Cara meminimalisir terjadinya dampak negatif dari penggunaan gadget secara
berlebihan pada anak yaitu :
a. Membatasi penggunaan gadget pada anak.
b. Memberi contoh yang baik saat pendamping bermain gadget.
c. Memberi tahu bahaya jika bermain gadget terlalu lama.
4. Kegiatan pelaksanaan implementasi Model E-learning Tooth Activies Game
a. Pelatihan
Pelatihan yang dilakukan pada penerapan model E-learning Tooth Activies
Game pada anak autis usia sekolah dasar yaitu dengan menyampaikan
informasi apa itu model E-learning Tooth Activies Game , manfaat, cara
menginstal serta cara penggunaan model E-learning Tooth Activies Game.
b. Simulasi
Simulasi yang dilakukan yaitu anak mempraktikkan bagaimana informasi
29
yang didapat seputar penggunaan model E-learning Tooth Activies Game
dan mulai memainkan game yang terdapat pada aplikasi tersebut.
c. Demonstrasi
Metode demonstrasi menggosok gigi adalah salah satu upaya preventif yang
dapat mencegah terjadinya keadaan kebersihan gigi yang buruk.
Demonstrasi menggosok gigi pada penelitian ini dilakukan dengan cara
sikat gigi bersama di sekolah dengan dipandu oleh peneliti. Pemantauan
kegiatan sikat gigi pagi setelah sarapan dan malam sebelum tidur yang
dilakukan anak dirumah di bantu oleh orang tua.
30
MATERI PENUNJANG
KOMUNIKASI EFEKTIF
Komunikasi efektif adalah pertukaran informasi, ide, perasaan yang
menghasilkan perubahan sikap sehingga terjalin sebuah hubungan baik
antara pemberi pesan dan penerima pesan. Pengkuran efektivitas dari suatu
proses komunikasi dapat dilihat dari tercapainya tujuan si pengirim pesan.
Pesan yang tersampaikan dengan benar dan tepat sesuai keinginan sang
komunikator, menunjukkan bahwa komunikasi dapat berjalan secara efektif.
Agar komunikasi bisa berlangsung efektif, perlu diperhatikan faktor-
faktor yang mempengaruhinya. Menurut Scoot M Cultip dan Allen
dalam bukunya Effective Public Relations, faktor-faktor tersebut disebut
dengan TheSeven Communication, yaitu:
1. Credibility
Kredibilitas berkaitan erat dengan kepercayaan. Seorang
komunikator yang baik harus memiliki kredibilitas agar pesan yang
disampaikan dapat tersasar dengan baik. Beberapa hal yang
berhubungan dengan kredibilitas misalnya kualifikasi atau tingkat
keahlian seseorang. Contoh, seorang dokter dianggap mempunyai
kredibilitas ketika ia menyampaikan hal-hal tentang kesehatan.
2. Context
Konteks berupa kondisi yang mendukung ketika berlangsungnya
komunikasi. Supaya komunikasi berjalan efektif, konteks yang
31
tepat menjadihal yang menarik perhatian komunikan.
3. Content
Isi pesan merupakan bahan atau ,materi inti dari apa yang hendak
disampaikan kepada audiens. Komunikasi menjadi efektif apabila isi
pesan mengandung sesuatu yang berarti dan penting untuk diketahui
oleh komunikan.
4. Clarity
Pesan yang jelas alias tidak menimbulkan penafsiran yang bermacam-
macam adalah kunci keberhasilan komunikasi. Kejelasan informasi
adalah hal penting yang bisa mengurangi dan menghindari risiko
kesalahpahaman pada komunikan.
5. Continuity and consistency
Agar komunikasi berhasil, maka pesan atau informasi perlu
disampaikan secara berkesinambungan atau kontinyu. Misalnya,
pesan pemerintah yang menganjurkan masyarakat untuk menggunakan
kendaran umum dibandingkan kendaraan pribadi harus selalu
disampaikan melalui berbagai media secara terus menerus supaya
pesan itu dapat tertanam dalam benak dan mempengaruhi perilaku
masyarakat.
6. Capability of Audience
Komunikasi dapat dikatakan berhasil apabila sang penerima pesan
memahami dan melakukan apa yang terdapat pada isi pesan. Dalam
32
hal ini, tingkat pemahaman seseorang bisa berbeda-beda tergantung
beberapa faktor, contohnya latar belakang pendidikan, usia ataupun
status sosial.
7. Channels of Distributions
Selain berbicara secara langsung kepada audiens, ada cara lain
untuk berkomunikasi, yaitu menggunakan media. Bentuk-bentuk
media komunikasi yang biasa digunakan saat ini adalah media
cetak ataupun elektronik. Pertimbangkan secara matang
pemilihan media yang sesuai dan tepat sasaran agar tidak terjadi
komunikasi yang sia-sia.
33
DAFTAR PUSTAKA
1. Setiari LS, Sulistyowati M. Tindakan Pencegahan Karies Gigi Pada Siswa
Sekolah Dasar Berdasarkan Teori Health Belief Model. J PROMKES.
2018;5(1):65.
2. Eliana, Sumiati S. Kesehatan Masyarakat. Cetakan Pe. Sunarti, Suwarno N,
editors. Jakarta Selatan: Pusdik SDM Kesehatan, Badan Pengembangan
dan Pemberdayaan Sumber Daya Manusia Kesehatan; 2016. 207 p.
3. Centers of Control Diseases Prevention (CDC). 2014. Hygiene Related
Disease: Dental dcaries (tooth Decay).
4. Riskesdas. Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Kementerian
RI tahun 2018.
[Link]
20 18/Hasil%20Riskesdas%[Link]. 2018;
5. Puspitaningtyas AR, Vidya P. Pendekatan Pembelajaran Anak Autis
Dengan Menggunakan Metode Floor Time Di Sekolah Dasar Kec.
Situbondo Kabupaten Situbondo. J Ris Pendidik Dasar. 2018;01(2):78–83.
6. Irsyadi FY Al, Rohmah AN. Game Eduksi Bagi Anak Autis Bertema
Anggota Keluarga Berbasis Kinect XBOX 360. J SIMETRIS.
2017;8(2):739–46.
7. Anisa RS. Pola Komunikasi Antara Guru Dengan Anak Autis Dalam
Proses Belajar Mengajar Di Slb-C Syauqi Day Care Serdang Bedagai. J Ilm
Mhs Ilmu Sos dan Polit [JIMSIPOL]. 2021;1(3):1–10.
8. Mansoor D, Halabi M Al, Khamis A., Kowash M. Oral Health Challenges
Facing Dubai Children with Autism Spectrum Disorder at Home and in
Accessing Oral Health Care. Eur J Paediatr Dent. 2018;19(2):127–33.
9. Suhaib F, Saeed A, Gul H, Kaleem M. Oral Assessment of Children with
Autism Spectrum Disorder in Rawalpindi , Pakistan. AUTISM.
2019;23(1):81–6.
10. Pi X, Liu C, Li Z, Guo H, Jiang H, Du M. A Meta-Analysis of Oral Health
Status of Children with Autism. J Clin Pediatr Dent. 2020;44(1):17796.
11. Tulangow G, Pangemanan D, Parengkuan W. Gambaran Status Karies
Pada Anak Berkebutuhan Khusus Di SLB YPAC Manado. e-GIGI. 2015
Aug 5;3.
12. Factarun S. Hubungan Motivasi dan Perilaku Menggosok Gigi dengan
Karies Gigi pada Anak Usia Sekolah di MI NU Islahussalafiyah Kudus.
Pros Hefa [Internet]. 2018;2(1):hal 191-200. Available from:
34
[Link]
13. Nia K, Govena Mutia R. E-Learning In Online Education Game For Kids. J
Teknol Inf dan Pendidik. 2020;13.
14. Winatha KR, Setiawan IMD. Pengaruh Game-Based Learning Terhadap
Motivasi dan Prestasi Belajar. J Pendidik dan Kebudayaan,. 2019;10:198–
206.
35
36