LAPORAN PENDAHULUAN
GANGGUAN JIWA RESIKO BUNUH DIRI
1. Pengertian
Bunuh diri merupakan tindakan agresif yang merusak diri sendiri dan dapat
mengakhiri kehidupan. Bunuh diri merupakan kedaruratan psikiatri karena pasien
berada dalam keadaan stres yang tinggi dan menggunakan koping yang maladaptif.
Situasi gawat pada bunuh diri adalah saat ide bunuh diri timbul secara berulang tanpa
rencana yang spesifik atau percobaan bunuh diri atau rencana yang spesifik untuk
bunuh diri. Oleh karena itu, diperlukan pengetahuan dan keterampilan perawat yang
tinggi dalam merawat pasien dengan tingkah laku bunuh diri, agar pasien tidak
melakukan tindakan bunuh diri.
Resiko bunuh diri adalah resiko untuk mencederai diri sendiri yang dapat mengancam
kehidupan. Bunuh diri merupakan kedaruratan psikiatri karena merupakan perilaku
untuk mengakhiri kehidupannya. Perilaku bunuh diri disebabkan karena stress yang
tinggi dan berkepanjangan dimana individu gagal dalam melakukan mekanisme
koping yang digunakan dalam mengatasi masalah. Beberapa alasan individu
mengakhiri kehidupan adalah kegagalan untuk beradaptasi, sehingga tidak dapat
menghadapi stress, perasaan terisolasi, dapat terjadi karena kehilangan hubungan
interpersonal/gagal melakukan hubungan yang berarti, perasaan marah/bermusuhan,
bunuh diri dapat merupakan hukuman pada diri sendiri, cara untuk mengakhiri
keputusasaan (Stuart, 2016).
Menurut Durkheim, bunuh diri dibagi menjadi tiga jenis, yaitu:
a. Bunuh diri egoistic (faktor dalam diri seseorang)
Individu tidak mampu berinteraksi dengan masyarakat, ini disebabkan oleh
kondisi kebudayaan atau karena masyarakat yang menjadikan individu itu seolah-
olah tidak berkepribadian. Kegagalan integrasi dalam keluarga dapat menerangkan
mengapa mereka tidak menikah lebih rentan untuk melakukan percobaan bunuh
diri dibandingkan mereka yang menikah.
b. Bunuh diri altruistic (terkait kehormatan seseorang)
Individu terkait pada tuntutan tradisi khusus ataupun ia cenderung untuk bunuh
diri karena indentifikasi terlalu kuat dengan suatu kelompok, ia merasa kelompok
tersebut sangat mengharapkannya.
c. Bunuh diri anomik
(faktor lingkungan dan tekanan) Hal ini terjadi bila terdapat gangguan
keseimbangan integrasi antara individu dan masyarakat, sehingga individu
tersebut meninggalkan norma- norma kelakuan yang biasa. Individu kehilangan
pegangan dan tujuan. Masyarakat atau kelompoknya tidak memberikan kepuasan
padanya karena tidak ada pengaturan atau pengawasan terhadap kebutuhan-
kebutuhannya.
2. Penyebab
Berdasarkan teori terdapat 3 penyebab terjadinya bunuh diri adalah sebagai berikut:
a. Genetic dan teori biologi
Factor genetic mempengaruhi terjadinya resiko bunuh diri pada keturunannya.
Disamping itu adanya penurunan serotonin dapat menyebabkan depresi yang
berkontribusi terjadinya resiko buuh diri.
b. Teori sosiologi
Emile Durkheim membagi suicide dalam 3 kategori yaitu: Egoistik (orang yang
tidak terintegrasi pada kelompok social) , atruistik (Melakukan suicide untuk
kebaikan masyarakat) dan anomic (suicide karena kesulitan dalam berhubungan
dengan orang lain dan beradaptasi dengan stressor).
c. Teori psikologi
Sigmund Freud dan Karl Menninger meyakini bahwa bunuh diri merupakan hasil
dari marah yang diarahkan pada diri sendiri
Penyebab bunuh diri berdasarkan proses terjadinya sebagai berikut:
a. Faktor Predisposisi
Lima factor predisposisi yang menunjang pada pemahaman perilaku destruktif-
diri sepanjang siklus kehidupan adalah sebagai berikut:
1) Diagnosis Psikiatrik
Lebih dari 90% orang dewasa yang mengakhiri hidupnya dengan cara bunuh
diri mempunyai riwayat gangguan jiwa. Tiga gangguan jiwa yang dapat
membuat individu berisiko untuk melakukan tindakan bunuh diri adalah
gangguan afektif, penyalahgunaan zat, dan skizofrenia
2) Sifat Kepribadian
Tiga tipe kepribadian yang erat hubungannya dengan besarnya resiko bunuh
diri adalah antipati, impulsif, dan depresi.
3) Lingkungan Psikososial
Faktor predisposisi terjadinya perilaku bunuh diri, diantaranya adalah
pengalaman kehilangan, kehilangan dukungan sosial, kejadian-kejadian
negatif dalam hidup, penyakit krinis, perpisahan, atau bahkan
[Link] dukungan social sangat penting dalam menciptakan
intervensi yang terapeutik, dengan terlebih dahulu mengetahui penyebab
masalah, respons seseorang dalam menghadapi masalah tersebut, dan lain-lain.
4) Riwayat Keluarga
Riwayat keluarga yang pernah melakukan bunuh diri merupakan factor
penting yang dapat menyebabkan seseorang melakukan tindakan bunuh diri.
5) Faktor Biokimia Data menunjukkan bahwa pada klien dengan resiko bunuh
diri terjadi peningkatan zat-zat kimia yang terdapat di dalam otak sepeti
serotonin, adrenalin, dan dopamine. Peningkatan zat tersebut dapat dilihat
melalui ekaman gelombang otak Electro Encephalo Graph (EEG).
b. Faktor Presipitasi
Perilaku destruktif diri dapat ditimbulkan oleh stress berlebihan yang dialami oleh
individu. Pencetusnya sering kali berupa kejadian hidup yang [Link]
lain yang dapat menjadi pencetus adalah melihat atau membaca melalui media
mengenai orang yang melakukan bunuh diri ataupun percobaan bunuh diri. Bagi
individu yang emosinya labil, hal tersebut menjadi sangat rentan.
c. Perilaku Koping
Klien dengan penyakit kronik atau penyakit yang mengancam kehidupan dapat
melakukan perilaku bunuh diri dan sering kali orang ini secara sadar memilih
untuk melakukan tindakan bunuh [Link] bunuh diri berhubungan dengan
banyak faktor, baik faktor social maupun [Link] social dan kehidupan
bersosial dapat menolong atau bahkan mendorong klien melakukan perilaku
bunuh [Link] social dapat menyebabkan kesepian dan meningkatkan
keinginan seseorang untuk melakukan bunuh diri. Seseorang yang aktif dalam
kegiatan masyarakat lebih mampu menoleransi stress dan menurunkan angka
bunuh diri. Aktif dalam kegiatan keagamaan juga dapat mencegah seseorang
melakukan tindakan bunuh diri.
d. Mekanisme Koping
Seseorang klien mungkin memakai beberapa variasi mekanisme koping yang
berhubungan dengan perilaku bunuh diri, termasuk denial, rasionalization,
regression, dan magical [Link] pertahanan diri yang ada seharusnya
tidak ditentang tanpa memberikan koping alternatif.
3. Rentang Respon Protektif Diri
Adaptif Maladaptif
Peningkatan diri Pertumbuhan Perilaku Pencederaan Bunuh
diri
Peningkatan destruktif diri diri
Beresiko tak langsung
a. Peningkatan diri yaitu seorang individu yang mempunyai pengharapan,
yakin, dan kesadaran diri meningkat.
b. Pertumbuhan-peningkatan berisiko, yaitu merupakan posisi pada rentang yang
masih normal dialami individu yang mengalami perkembangan perilaku.
c. Perilaku destruktif diri tak langsung, yaitu setiap aktivitas yang merusak
kesejahteraan fisik individu dan dapat mengarah kepada kematian, seperti perilaku
merusak, mengebut, berjudi, tindakan kriminal, terlibat dalam rekreasi yang
berisiko tinggi, penyalahgunaan zat, perilaku yang menyimpang secara sosial, dan
perilaku yang menimbulkan stres.
d. Pencederaan diri, yaitu suatu tindakan yang membahayakan diri sendiri yang
dilakukan dengan sengaja. Pencederaan dilakukan terhadap diri sendiri, tanpa
bantuan orang lain, dan cedera tersebut cukup parah untuk melukai tubuh. Bentuk
umum perilaku pencederaan diri termasuk melukai dan membakar kulit,
membenturkan kepala atau anggota tubuh, melukai tubuhnya sedikit demi sedikit,
dan menggigit jari.
e. Bunuh diri, yaitu tindakan agresif yang langsung terhadap diri sendiri untuk
mengakhiri kehidupan
4. Tahapan Risiko Bunuh Diri
a. Suicide Ideation
Pada tahap ini merupakan proses contemplasi dari suicide, atau sebuah metoda
yang digunakan tanpa melakukan aksi/tindakan, bahkan klien pada tahap ini tidak
akan mengungkapkan idenya apabila tidak ditekan. Walaupun demikian, perawat
perlu menyadari bahwa pasien pada tahap ini memiliki pikiran tentang keinginan
untuk mati
b. Suicide intent
Pada tahap ini klien mulai berpikir dan sudah melakukan perencanaan yang
konkrit untuk melakukan bunuh diri
c. Suicide threat
Pada tahap ini klien mengekspresikan adanya keinginan dan hasrat yang dalam,
bahkan ancaman untuk mengakhiri hidupnya .
d. Suicide gesture
Pada tahap ini klien menunjukkan perilaku destruktif yang diarahkan pada diri
sendiri yang bertujuan tidak hanya mengancam kehidupannya tetapi sudah pada
percobaan untuk melakukan bunuh [Link] yang dilakukan pada fase ini
pada umumnya tidak mematikan, Hal ini terjadi karena individu memahami
ambivalen antara mati dan hidup dan tidak berencana untuk mati. Individu ini
masih memiliki kemauan untuk hidup, ingin di selamatkan, dan individu ini
sedang mengalami konflik mental. Tahap ini sering di namakan “Crying for help”
sebab individu ini sedang berjuang dengan stress yang tidak mampu di selesaikan.
e. Suicide attempt
Pada tahap ini perilaku destruktif klien yang mempunyai indikasi individu ingin
mati dan tidak mau diselamatkan misalnya minum obat yang
mematikan .walaupun demikian banyak individu masih mengalami ambivalen
akan kehidupannya.
f. Suicide
Tindakan yang bermaksud membunuh diri sendiri .hal ini telah didahului oleh
beberapa percobaan bunuh diri sebelumnya.30% orang yang berhasil melakukan
bunuh diri adalah orang yang pernah melakukan percobaan bunuh diri
sebelumnya.
5. Manifestasi Klinik
Tanda dan gejala dari klien dengan resiko bunuh diri yaitu:
a. Mempunyai ide untuk bunuh diri.
b. Mengungkapkan keinginan untuk mati.
c. Mengungkapkan rasa bersalah dan keputusasaan.
d. Impulsif.
e. Menunjukkan perilaku yang mencurigakan (biasanya menjadi sangat patuh).
f. Verbal terselubung (berbicara tentang kematian, menanyakan tentang obat
dosis mematikan).
g. Status emosional (harapan, penolakan, cemas meningkat, panic, marah dan
mengasingkan diri).
6. Cara Pengukuran Bunuh Diri
Salah satu instrumen yang dapat dipakai untuk mengukur bunuh diri adalah dengan
SAD PERSONS yaitu sebagai berikut:
a. Jenis Kelamin
Laki-laki lebih komit melakukan suicide 3x lebih tinggi dibanding wanita.
Meskipun wanita lebih sering 3x dibanding laki-laki melakukan percobaan bunuh
diri.
b. Age (umur)
Kelompok resiko tinggi: umur 19 tahun atau lebih muda, 45 tahun atau lebih
tua dan khususnya umur 65 tahun lebih.
c. Depression
35-79% orang yang melakukan bunuh diri mengalami sindrome depresi.
d. Previous attempts (percobaan sebelumnya)
65-70% orang yang melakukan bunuh diri sudah pernah melakukan percobaan
bunuh diri sebelumnya.
e. ETOH (alkohol)
65% orang yang suicide adalah orang menyalahgunakan alkohol.
f. Rational thinking loss (kehilangan berpikir rasional)
Orang skizofrenia dan dementia lebih sering melakukan bunuh diri dibanding
general populasi
g. Sosial support lack (kurang dukungan sosial)
Orang yang melakukan bunuh diri biasanya kurang dukungan dari teman dan
saudara, pekerjaan yang bermakna serta dukungan spiritual keagamaan.
h. Organized plan (perencanaan yang terorganisasi)
Adanya perencanaan yang spesifik terhadap bunuh diri merupakan resiko tinggi.
i. No spouse (tidak memiliki pasangan)
Orang duda, janda, single adalah lebih rentang dibanding orang yang menikah.
j. Sickness
Orang berpenyakit kronik dan terminal beresiko tinggi melakukan bunuh diri.
7. Penatalaksanaan
Pencegahan bunuh diri menurut Conwell terdiri atas pencegahan primer, sekunder dan
tertier. Pencegahan primer adalah suatu upaya pencegahan terjadinya perilaku bunuh
diri atau keadaan yang berkembang menjadi menjadi upaya bunuh diri. Pencegahan
sekunder adalah suatu upaya pencegahan dengan cara menemukan sedini mungkin
krisis bunuh diri dan melakukan tindakan agar tidak berlanjut menjadi bunuh diri.
Sedangkan pencegahan tertier adalah tindakan yang ditujukan untuk menyelamatkan
sesorang yang melakukan bunuh diri, mengurangi gejala psikiatris dan penyakit sosial
pada kelompok risiko. Penanganan di ruang gawat darurat dan di bangsal rawat inap
psikiatri merupakan pelayanan tertier.
Pasien dengan ide bunuh diri yang berulang dapat diberikan golongan benzodiazepine
dan antipsikotik seperti Clozapin. Jangan diberikan antidepresan pada kondisi ini.
Pasien geriatrik di berikan ½ dosis dewasa. - Antidepresan tidak direkomendasikan
untuk tata laksana akut perilaku bunuh diri. Antidepresan hanya diberikan bila depresi
didiagnosis sebagai faktor yang mendasari perilaku bunuh diri. Antidepresan
diberikan golongan SSRI seperti fluexetin 20-40 mg, sertraline 50-200 mg,
fluvoxamine 150-250 mg dan venlafaxine 75 - 300 mg per hari.
8. Pohon Masalah
Resiko mendecerai diri sendiri, orang lain, dan lingkungan efek
Resiko bunuh diri core problem
Harga diri rendah causa
9. Asuhan Keperawatan
a. Masalah keperawatan yang mungkin muncul dan data yang perlu dikaji
Masalah keperawatan yang mungkin muncul yaitu
1) Resiko mendecerai diri sendiri, orang lain, dan lingkungan
2) Resiko bunuh diri
3) Harga diri rendah
Data-data yang perlu dikaji yaitu:
1) Data Subjektif
a) Mengungkapkan keinginan bunuh diri
b) Mengungkapkan keinginan untuk mati
c) Mengungkapkan rasa bersalah dan keputusaan
d) Ada riwayat berulang percobaan bunuh diri sebelumnya
e) Berbicara tentang kematian, menanyakan tentang dosis obat yang
mematikan
f) Mengungkapkan adanya konflik interpersonal
g) Mengungkapkan telah menjadi korban perilaku kekerasan saat kecil
2) Data objektif
a) Impulsif
b) Menunjukkan perilaku yang mencurigakan
c) Ada riwayat penyakit mental
d) Ada riwayat penyakit fisik
e) Pengangguran (tidak bekerja, kehilangan pekerjaan, atau kegagalan dalam
karir)
3) Alasan masuk
Apa yang menyebabkan klien dan keluarga datang,atau dirawat di rumah
sakit,biasanya berupa sikap percobaan bunuh diri,komunikasi dengan keluarga
kurang, tidak mampu berkonsentrasi, merasa gagal,merasa tidak berguna dan
merasa tidak yakin melangsungkan hidup. Apakah sudah tahu penyakit
sebelumnya,apa yang sudah dilakukan keluarga untuk mengatasi ini.
4) Faktor presdiposisi
Menanyakan apakah keluarga mengalami gangguan jiwa, bagaimana hasil
pengobatan sebelumnya, apakah pernah melakukan atau mengalami
penganiayaan fisik, seksual, penolakan dari lingkungan, kekerasan dalam
keluarga, dan tindakan criminal. Menanyakan kepada klien dan keluarga
apakah ada yang mengalami gangguan jiwa, menanyakan kepada klien tentang
pengalaman yang tidak menyenangkan
5) Pemeriksaan fisik
Memeriksa tanda-tanda vital, tinggi badan, berat badan, dan tanyakan apakah
ada keluhan fisik yang dirasakan klien. Apakah ada bekas percobaan bunuh
diri pada leher, pergelangan tangan maupun di bagian tubuh [Link]
biasanya mengeluh sakit
pada dirinya, pusing ataupun tidak dapat melakukan aktifitas seperti
[Link] mengeluh bahwa dirinya sudah tidak mampu beraktivitas lagi.
6) Psikososial
a) Konsep Diri
- Gambaran diri
Pasien merasa tidak ada yang ia sukai agi dari dirinya, ada bagian
tubuh pasien yang mengalami penurunan fungsi sehingga pasien tidak
bisa menerima keadaan [Link] perasaan
keputusasaan dan merasa ingin mati
- Identitas diri
Pasien berstatus sudah menikah ataupun belum, merasa tidak puas
dengan status ataupun pekerjaannya sedang dapat mempengaruhi
hubungan sosial dengan orang lain
- Peran diri
Klien dengan resiko bunuh diri merasa tidak mampu melaksanakan
tugas atau peranannya baik dalam keluarga,pekerjaan atau dalam
kelompok masyarakat
- Ideal diri
Pasien merasakan kesedihan dan keputusasaan yang sangat mendalam,
tidak ada harapan lagi dengan masalah yang menimpanya
- Harga diri
Pasien mengatakan hal yang negatif tentang dirinya,yang menunjukkan
harga diri yang rendah, selalu berfikiran negatif kepada orang lain
bahwa dirinya tidak lagi dihargai dan dianggap. Perilaku resiko bunuh
diri mengalami harga diri rendah situasi seperti masalah keluarga atau
pekerjaan yang sedang dihadapi saat ini.
b) Hubungan sosial
Pasien dengan resiko bunuh diri cenderung ada gangguan dalam
berhubungan dengan orang lain,mereka tidak dapat berhubungan dengan
orang lain,tidak dapat berperan dikelompok masyarakat,sering mengeluh
atau curhat ke orang lain yang dipercayai bahwa ia ingin mengakhiri
hidupnya
c) Spiritual
Pasien meyakini bahwa tidak ada gunanya untu hidup,keyakinannya akan
masalah adalah takdir yang maha kuasa itupun tidak ada. Mereka
menganggap bahwa tidak ada jalan lain untuk menyelesaikan masalahnya
selain dengan mengakhiri hidupnya.
7) Status mental
a) Penampilan
Penampilan pasien tidak rapi, acak-acakan, malas untuk membersihkan
tubuh, rambut,kuku. Mereka tidak mau untuk menjaga kesehatan tubuhnya
bahkan cenderung tidak mau makan agar cepat meninggal.
b) Pembicaraan
Pembicaraannya lesu dan topik yang dibicarakan tentang kematian dan
penyesalan hidup.
c) Aktivitas motoric
Aktivitas motorik klien lebih mengarah untuk mengakhiri hidupnya misal
membenturkan kepalanya, melukai badannya, dan membuat sesuatu
sebagai sarana untuk mengakhiri hidupnya misal membuat gantungan dari
tali.
d) Afek dan emosi
Perasaan sedih, rasa tak berguna, gagal, kehilanaga, merasa berdosa, putus
asa, penyesalan tak ada harapan. Menunjukkan rasa kekecewaan yang
mendalam disertai rasa putus asa.
e) Interaksi selama wawancara
Kontak kurang: tidak mau menatap lawan bicara. Pasien tidak kooperatif,
tidak mau mendengarkan pendapat atau saran yang dapat membantunya
dalam menyelesaikan masalah.
f) Persepsi sensori
Adanya halusinasi pendengaran yang menyuruhnya mengakhiri hidupnya.
g) Proses pikir
- Proses pikir
Perseferasi: kata-kata yang diulang berkali-kali pada suatu ide pikiran.
- Isi pikir
Suicidal thaught/pikiran bunuh diri: isi pikiran yang dimulai dengan
memikirkan usaha bunuh diri sampai terus menerus berusaha untuk
dapat bunuh diri.
h) Tingkat kesadaran
Bingung, seseorang yang ingin melakukan bunuh diri merasa dirinya
bingung karena adanya kejadian-kejadian negatif dalam hidup, penyakit
kronis atau bahkan perceraian.
i) Memori
Kontigulasi: Ingatan yang keliru dan dimanifestasikan dengan
pembicaraan tidak sesuai dengan kenyataan dengan memasukkan cerita
yang tidak benar untuk menutupi daya ingatnya. Perilaku bunuh diri
biasanya bercerita yang tidak sesuai dengan kenyataan. Tidak berdasarkan
fakta karena pasien dengan resiko bunuh diri akan menghindar dari
kenyataan.
j) Tingkat kosentrasi dan berhitung
- Mudah beralih
Perhatian perilaku bunuh diri mudah berganti dari satu objek ke objek
lain. Mudah untuk mengalihkan pembicaraan.
- Tidak mampu berkonsentrasi
Perilaku bunuh diri tidak mampu untuk berkonsentrasi dengan
[Link] meminta agar pertanyaan diulang atau tidak dapat
menjelaskan kembali pembicaraan.
- Tidak mampu berhitung
Perilaku bunuh diri tidak dapat melakukan penambahan atau
pengurangan pada benda benda [Link] orang tersebut tidak bisa
berkonsentrasi dengan baik.
k) Kemampuan penilaian
- Gangguan kemampuan penilaian ringan
Dapat mengambil keputusan yang sederhana dengan bantuan orang
lain. Contoh: berikan kesempatan pada klien untuk memilih mandi
dulu sebelum makan atau makan dulu sebelum mandi. Jika diberi
penjelasan, orang tersebut dapat mengambil keputusan.
- Gangguan kemampuan penilaian bermakna
Tidak mampu mengambil keputusan walaupun dibantu orang lain.
Contoh: berikan kesempatan pada klien untuk memilih mandi dulu
sebelum makan atau makan dulu sebelum mandi. Jika diberi penjelasan
klien masih tidak mampu mengambil keputusan.
l) Gangguan tilik diri
Mengingkari penyakit yang di derita dan menyalahkan hal-hal di luar
dirinya
8) Masalah psikologis dan lingkungan
Pasien mendapat prilaku yang tidak wajar dari lingkungan seperti pasien
diejek dan direndahkan karena pasien menderita gangguan jiwa
9) Pengetahuan
Kurang pengetahuan dalam hal mencari bantuan, faktor predisposisi, kooping
mekanisme dan sistem pendukung dan obat-obatan sehingga penyakit pasien
semakin berat.
b. Diagnose keperawatan
1) Resiko mendecerai diri sendiri, orang lain, dan lingkungan
2) Resiko bunuh diri
3) Harga diri rendah
c. Intervensi
Tujuan umum: Klien tidak melakukan bunuh diri
Strategi pelaksanaan pada pasien
1. Strategi Pelaksanaan 1 (SP 1)
a) Mengidentifikasi benda-benda yang dapat membahayakan pasien
b) Mengamankan benda-benda yang dapat membahayakan pasien
c) Melatih cara mengendalikan dorongan bunuh diri
d) Membimbing memasukkan dalam jadwal kegiatan
2. Strategi Pelaksanaan 2 (SP 2)
a) Validasi masalah dan latihan sebelumnya
b) Mengidentifikasi aspek positif pasien
c) Melatih aspek positif
d) Membimbing memasukkan ke dalam jadwal kegiatan
3. Strategi Pelaksanaan 3 (SP 3)
a) Validasi masalah dan latihan sebelumnya
b) Mengidentifikasi pola koping yang biasa diterapkan pasien
c) Mengidentifikasi pola koping yang konstruktif
d) Melatih pasien teknik koping konstruktif
e) Membimbing pasien memasukkan dalam jadwal kegiatan
Strategi pelaksanaan pada keluarga
1. Strategi Pelaksanaan 1 (SP 1) keluarga
a) Mendiskusikan masalah yang dirasakan keluarga dalam merawat pasien
b) Menjelaskan pengertian, tanda dan gejala risiko bunuh diri, dan jenis
perilaku bunuh diri yang dialami pasien beserta proses terjadinya
c) Menjelaskan cara-cara merawat pasien risiko bunuh diri
2. Strategi Pelaksanaan 2 (SP 2) keluarga
a) Melatih keluarga mempraktekkan cara merawat pasien dengan risiko
bunuh diri
b) Melatih keluarga melakukan cara merawat langsung kepada pasien risko
bunuh diri
3. Strategi Pelaksanaan 3 (SP 3) keluarga
a) Membantu keluarga membuat jadual aktivitas di rumah termasuk minum
obat
b) Mendiskusikan sumber rujukan yang bisa dijangkau oleh keluarga
DAFTAR PUSTAKA
Azizah, L., Zainuri, I., & Akbar, A. (2016). Buku ajar keperawatan kesehatan
jiwa. Yogyakarta: Indomedia Pustaka.
Azizah, L. M. (2021). Keperawatan jiwa aplikasi praktik klinik. Yogyakarta: Graha
Ilmu, 8.
Yusuf, A., Fitryasari PK, R., & Nihayati, H. E. (2015). Buku ajar keperawatan kesehatan
jiwa.