0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
5 tayangan6 halaman

Keragaman Fenotipe Sapi Brahman-Bali

Diunggah oleh

Ester Parmanes
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
5 tayangan6 halaman

Keragaman Fenotipe Sapi Brahman-Bali

Diunggah oleh

Ester Parmanes
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

E-ISSN: 2798-3080

Tarjih Tropical Livestock Journal


Volume 01, Number 2, December 2021
Pages 37-42
Journal homepage: [Link]

Keragaman Fenotipe Bentuk-Bentuk Tubuh Sapi Hasil Persilangan Pejantan


Brahman dengan Indukan Bali

Susril Dendi Efendi1*, Junaedi1, Suparman1, Khaeruddin2


1
Program Studi Peternakan, Fakultas Pertanian Perikanan dan Peternakan, Universitas Sembilanbelas November Kolaka.
Jl. Pemuda No. 339, Kolaka 93517, Sulawesi Tenggara, Indonesia
2
Program Studi Peternakan, Fakultas Pertanian, Universitas Muhammadiyah Sinjai.
Jl. Teuku Umar No. 8, Biringere, Sinjai Utara 92611, Sulawesi Selatan, Indonesia
*uccillahay@[Link]

INFORMASI ABSTRAK
ARTIKEL
Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi keragaman fenotipe
Diterima 01 Desember bentuk-bentuk tubuh sapi hasil persilangan pejantan brahman dengan indukan
2021 sapi bali. Penelitian ini dilakukan di wilayah Kecamatan Watubangga, Toari
Hasil revisi diterima 02 dan Tanggetada, kabupaten Kolaka menggunakan sapi hasil persilangan
Desember 2021
pejantan Brahman dengan indukan Bali sebanyak 100 sampel. Penelitian
Diterbitkan 02
Desember 2021 dilakukan dengan metode survey. Parameter yang diamati berupa sifat
Publish online 02 kualitatif meliputi; garis punggung gelambir, punuk, bentuk tanduk, dan
Desember 2021 bentuk telinga. Data sifat kualitatif ditabulasi dan dihitung frekuensi
fenotipnya. Sapi hasil persilangan pejantan Brahman dengan indukan Bali
Kata-kata kunci: memiliki garis punggung sebanyak 13 % dan didominasi oleh sapi
Sapi Brahman; keturunan tidak memiliki garis punggung (87%). Sapi hasil persilangan
Sapi Bali; pejantan Brahman dengan indukan Bali memiliki gelambir sebanyak 67%
Fenotipe; dan tidak bergelambir sebanyak 33%. Sapi hasil persilangan pejantan
Persilangan; Brahman dengan indukan Bali didominasi oleh fenotipe yang tidak berpunuk
Bentuk tubuh; (78%) dibanding sapi hasil silangan berpunuk (22%). Bentuk tanduk sapi
hasil pesilangan pejantan Brahman dengan indukan Bali terdapat lima variasi,
frekuensi fenotip sapi bertanduk sebanyak 91%, tidak bertanduk 9%. Sapi
hasil persilangan pejantan Brahman dengan indukan Bali memiliki bentuk
telinga tegak sebanyak 32% dan telinga tidak tegak 68%.

ARTICLE INFO ABSTRACT

Article history This study aims to identify the diversity of phenotypes of body forms of
Received 01 December cattle resulting from crosses between Brahman bulls and Bali cattle. This
2021 research was conducted in the Watubangga, Toari and Tanggetada sub-
Received in revised
districts, Kolaka district using 100 samples of crossbreeding cows from
from 02 December
2021 Brahman males with Balinese breeds. The research was conducted by survey
Accepted 02 December method. Parameters observed in the form of qualitative properties include;
2021 wavy dorsal line, hump, horn shape, and ear shape. The qualitative trait data
Available online. 02 were tabulated and the phenotypic frequency was calculated. The
December 2021 crossbreeding of Brahman bulls with Balinese breeds has a backline of 13%

37
Tarjih Tropical Livestock Journal Efendi et al.

Key Words: and is dominated by cows that do not have a dorsal line (87%). The
Brahman bull; crossbreeding of Brahman bulls with Balinese breeds had 67% of wavy and
Bali cattle; 33% of non-slapped cows. The crossbreeding of Brahman bulls with Balinese
Phenotype; breeds was dominated by the humpless phenotype (78%) compared to the
Crossess; hump-crossed cattle (22%). There are five variations of the horn shape of the
Body parts shape; cross between Brahman males and Balinese breeds, the phenotype frequency
of horned cows is 91%, without horns is 9%. The crossbreeding of Brahman
bulls with Balinese breeds had erect ears as much as 32% and ears not erect
as much as 68%.

PENDAHULUAN karakteristik rumpun sebagai alat untuk


membentuk rumpun dan kegiatan seleksi.
Indonesia dikenal sebagai salah satu Sapi Bali tersebar ke daerah – daerah
negara yang memiliki keanekaragaman disebabkan karena berbagai program
sumber daya genetik ternak lokal, salah pemerintah pusat dan daerah. Selain program
satunya yaitu ternak sapi. Populasi sapi penyediaan bibit sapi, penyebaran sapi bali
potong di Indonesia yang secara kuantitatif juga disebabkan oleh program transmigrasi
mengalami peningkatan. Peningkatan pemerintah (Indrijani, 2012). Salahsatu daerah
populasi ini pada kenyataannya tidak transmigrasi yang dilakukan oleh pemerintah
diimbangi oleh peningkatan mutu genetik sapi adalah Kolaka. Daerah transmigrasi yang
lokal. Sapi Bali merupakan salah satu sapi tersebar diberbagai kecamatan yang ada di
potong lokal yang mengalami penurunan kolaka ternyata sebagian besar penduduknya
mutu genetik. Sehingga diperlukan upaya beternak sapi Bali. Kecamatan Watubangga,
peningkatan mutu genetik sapi untuk Toari dan Tanggetada sebagai daerah sentra
meningkatkan produktivitas sapi lokal, salah produksi ternak di kabupaten Kolaka
satunya dapat dilakukan dengan perbaikan memiliki potensi yang cukup besar sebagai
aspek genetik melalui persilangan dan seleksi. lumbung ternak di Sulawesi Tenggara. Sapi
Seleksi pada ternak bisa dilakukan lokal yang banyak dipelihara peternak di
berdasarkan keragaman genotipe dan kabupaten Kolaka adalah sapi Bali. Sapi Bali
fenotipenya. Dugaan keragaman genetik sapi betina banyak disilangkan dengan sapi
salah satunya dapat diteliti melalui Brahman jantan melalui inseminasi buatan
pengamatan keragaman sifat kualitatif dan (IB) untuk meningkatkan produksi daging
kuantitatif. sapi lokal (Susilawati, 2013).
Salah satu sifat karakteristik genetik Program Upsus Siwab (upaya khusus
yang jarang diamati pada ternak adalah sapi indukan wajib bunting) adalah kegiatan
kergaman genetik sifat kualitatif. Keragaman yang terintegrasi untuk percepatan
kualitatif memberikan kontribusi yang besar peningkatan populasi sapi secara
pada program pemuliaan. Sifat kualitatif pada berkelanjutan. Salah satu program utama
ternak bisa digunakan untuk membedakan ciri dalam Upsus Siwab adalah peningkatan
khas ternak individu yang satu dengan populasi melalui program IB. Program Upsus
individu yang lainnya. Keragaman sifat Siwab merupakan upaya untuk meingkatkan
kualitatif dapat menggambarkan ciri khas dari populasi sapi dalam rangka penyediaan ternak
suatu bangsa. Keragaman sifat kualitatif dapat yang cukup dan ketersediaan daging dan telah
dilihat melalui warna kulit, warna rambut, dituangkan dalam Peraturan Menteri
bentuk tanduk, bentuk telinga, gelambir, Pertanian Nomor 48/Permentan/PK.210/
bentuk tanduk, warna kaki dan bentuk tubuh 10/2016. Program Upsus Siwab diapresiasi
fenotipe lainnya pada hewan. Sifat kualitatif oleh Pemda Kolaka, sehingga ditetapkan dua
adalah sifat penting dalam membentuk kecamatan sentra pelaksanaan program Upsus

38
Vol 01, No. 2, Desember 2021 Efendi et al.
.

Siwab di kabupaten Kolaka. Semen sapi secara langsung serta wawancara dengan
unggul Brahman telah di IB ke indukan sapi peternak.
Bali yang tersebar dimasyarakat peternak.
Karakteristik hasil IB dari pejantan Brahman Parameter Penelitian
dan indukan Bali belum diketahui Parameter yang diamati pada
performnsnya. Disisi lain, petani sangat penelitian ini berupa sifat kualitatif meliputi;
antusius menjadikan hasil persilangan bangsa 1. Garis punggung meliputi; tebal dan jelas,
sapi tersebut sebagai bibit unggul. tebal dan tidak jelas, tipis dan jelas, tipis
Tersebarnya sapi hasil persilangan Brahman dan tidak jelas, tidak ada
dengan Bali menimbulkan ciri khas tersendiri 2. Gelambir: bergelambir, tidak
yang menyimpan dari tetuanya. Perbedaan bergelambir, gelambir besar, gelabir kecil
fenotipe antra indukan dan anak dari hasil 3. Punuk: berpunuk, tidak berpunuk, punuk
persilangan menyebabkan peternak kesulitan besar, punuk kecil
mengidentifikasi ternak hasil persilangan. 4. Bentuk Tanduk: ada, tidak ada,
Sehubungan dengan hal diatas, penulis melengkung kedepan, melengkung
tertarik melakukan sebuah penelitian untuk kebelakang, melengkung keatas,
mengidentifikasi karakteristik fenotip sapi 5. Bentuk telinga: tegak, tidak tegak, lebar,
hasil persilangan pejantan Brahman dengan sempit.
indukan Bali pada program Upsus Siwab.
Penelitian ini bertujuan untuk Analisis Data
mengidentifikasi keragaman fenotipe bentuk- Data sifat kualitatif ditabulasi dan
bentuk tubuh sapi hasil persilangan pejantan dihitung frekuensi fenotipnya. Frekuensi
brahman dengan indukan sapi bali. fenotip dihitung berdasarkan proporsi fenotip
dengan rumus (Johari et al., 2009) sebagai
METODE PENELITIAN berikut;


Waktu Penelitian ( )
Penelitian ini dilakukan di wilayah
Kecamatan Watubangga, Toari dan Keterangan:
Tanggetada, kabupaten Kolaka yang
merupakan sentral pengembangan ternak sapi A = salah satu sifat kualitatif pada sapi yang
menggunakan inseminasi buatan pada diamati
program upsus Siwab. Penelitian ini N = total sampel sapi kuantan yang diamati
dilakukan selama satu bulan. Mulai bulan
HASIL DAN PEMBAHASAN
Oktober – November 2021.
Garis Punggung
Lingkup Penelitian Hasil pengamatan terhadap 100 sampel
Penelitian ini menggunakan sapi hasil sapi hasil persilangan pejantan Brahman
persilangan pejantan Brahman dengan dengan indukan Bali memiliki frekuensi
indukan Bali sebanyak 100 sampel. fenotip garis punggung sebanyak 13 % dan
Penelitian dilakukan dengan metode didominasi oleh sapi keturunan tidak
survey. Cara pengambilan sampel dengan memiliki garis punggung (87%). Sifat tidak
purposive sampling. Data yang diambil adalah bergaris punggung pada sapi hasil
data primer dan sekunder. Data primer persilangan diturunkan dari pejantan sapi
diambil dengan melakukan pengamatan Brahman sedangkan adanya garis punggung

39
Tarjih Tropical Livestock Journal Efendi et al.

Tabel 1. Keragaman fenotipe bentuk-bentuk tubuh sapi hasil persilangan pejantan brahman dengan
indukan bali
No Fenotipe Sifat Kualitatif Jumlah Persentase (%)
1 Garis Punggung Tebal dan jelas 2 2
Tebal dan tidak jelas 2 2
Tipis dan jelas 3 3
Tipis dan tidak jelas 6 6
Tidak ada 87 87
2 Gelambir Bergelambir 67 67
Tidak bergelambir 33 33
Gelambir besar 3 3
Gelambir kecil 64 64
3 Punuk Berpunuk 22 22
Tidak berpunuk 78 78
Punuk besar 3 3
Punuk kecil 19 19
4 Bentuk tanduk Ada 91 91
Tidak ada 9 9
Melengkung kedepan 3 3
Melengkung keatas 77 77
Melengkung kebelakang 11 11
5 Bentuk telinga Tegak 32 32
Tidak tegak 68 68

pada sapi hasil persilangan diturunkan dari sapi Bali. Menurut Pane (1990), ciri khas sapi
indukan sapi bali. Menurut Agusriadi et al. Brahman adalah berpunuk besar dan berkulit
(2019) pada punggung sapi Bali terdapat longgar, gelambir di bawah leher sampai
garis belut, yaitu bulu hitam yang membentuk perut lebar dengan banyak lipatan-lipatan.
garis memanjang dari gumba hingga pangkal Sapi keturunan yang bergelambir terdiri dari
ekor yang ditemukan pada sapi jantan maupun dua variasi yaitu gelambir besar sebanyak 3%
betina. Fenotipe garis punggung pada sapi dan gelambir kecil sebanyak 64% dari total
hasil persilangan Brahman dengan Bali sampel penelitian.
memiliki empat variasi sifat kualitatif yaitu
garis punggung tebal dan jelas 2%, tebal dan Punuk
tidak jelas 2%, tipis dan jelas 3%, serta tipis Sapi hasil persilangan pejantan
dan tidak jelas 6%. Hasil penelitian Brahman dengan indukan Bali didominasi
mengenai keragaman fenotipe bentuk-bentuk oleh fenotipe yang tidak berpunuk (78%)
tubuh sapi hasil persilangan pejantan brahman dibanding sapi hasil silangan berpunuk (22%).
dengan indukan bali disajikan pada tabel 1. Sifat berpunuk diturunkan dari pejantan sapi
Gelambir Brahman sedangkan tidak berpunuk
Sapi hasil persilangan pejantan diturunkan dari indukan sapi Bali. Sapi
Brahman dengan indukan Bali memiliki keturunan yang berpunuk terdiri dari dua
gelambir dengan frekuensi fenotip sebanyak variasi yaitu punuk besar 3% dan punuk kecil
67% dan tidak bergelambir sebanyak 33%. sebanyak 19%. Keragaman punuk hanya
Sifat bergelambir diturunkan dari pejantan terletak pada ukurannya, yaitu punuk
yaitu sapi Brahman sedangkan sifat tidak berukuran kecil dan besar dengan bentuk
bergelambir diturunkan dari indukan yaitu tegak ataupun sudah rubuh (Sudrajad et al.,

40
Vol 01, No. 2, Desember 2021 Efendi et al.
.

2013). Ditinjau dari segi produktivitas, besar punggung, memiliki gelambir, tidak
kecilnya punuk mempengaruhi bobot badan berpunuk, bertanduk dan telinga tidak
sapi (Sudrajad et al., 2013; Dhita et al., 2017). tegak.

Bentuk tanduk UCAPAN TERIMAKASIH


Bentuk tanduk sapi hasil pesilangan
pejantan Brahman dengan indukan Bali Kami mengucapkan terima kasih
terdapat lima variasi, yaitu sapi bertanduk kepada Direktorat Sumber Daya Kementerian
sebanyak 91 ekor (91%), tidak bertanduk 9 Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi
ekor (9%), tanduk melengkung kedepan 3 atas pendanaan Program Talenta Inovasi
ekor (3%), melengkung ke atas 77 ekor Indonesia tahun anggaran 2021.
(77%), dan melengkung kebelakang 11 ekor
(11%). Sapi hasil persilangan Brahman
dengan Bali dengan bentuk tanduk DAFTAR PUSTAKA
melengkung keatas lebih dominanan dari
bentuk tanduk yang lainnya. Hasil penelitian
ini sejalan dengan penelitian pada sapi Bali Agusriadi, Kurnia, D., & Anwar, P. (2019).
murni oleh Handiwirawan (2003) bahwa Identifikasi fenotip pola warna dan pola
bentuk tanduk sapi Bali yang dominanan bentuk tanduk sapi kuantan sebagai
adalah melengkung keatas yang kemudian penciri plasma nutfah lokal Riau.
pada ujungnya melengkung keluar. Bradley Journal of Animal Center. 1(2), 46 -55.
dan Cunningham (1999) menyatakan bahwa
terjadinya perbedaan bentuk tanduk pada sapi Bradley, D.G., & Cunningham, E.P. (1999).
sekarang ini disebabkan karena hasil proses Genetics Aspects of Domestication.
domistikasi yang terjadi. Menurut Ris (2012), In: Fries, R. And Ruvinsky, A.,
keanekaragaman bentuk tanduk tidak hanya [Link] genetics of Cattle. New
terjadi antar bangsa tetapi juga di dalam satu York : CABI Publishing.
bangsa yang sama, keanekaragaman pada sapi
bali membuat tanduk pada sapi bali pun ikut [Dirjend PKH] Direktorat Jenderal Peternakan
bervariasi. Faktor-faktor yang memengaruhi dan Kesehatan Hewan, Kementerian
adanya perbedaan jenis tanduk yaitu jenis Pertanian. (2016). Pedoman
kelamin, umur, dan kekurangan kalsium. pelaksanaan Upaya Khusus Sapi Induk
Wajib Bunting (Upsus SIWAB 2017).
Bentuk Telinga Jakarta: Kementerian Pertanian.
Sapi hasil persilangan pejantan
Brahman dengan indukan Bali memiliki Dhita, N.T., Hamdani, M.D.I., & Adhianto,
bentuk telinga tegak sebanyak 32% dan K. (2017). Karakteristik kualitatif dan
telinga tidak tegak 68%. Bentuk telinga tegak kuantitatif sapi peranakan ongol dan
diturunkan dari indukan sapi Bali sedangkan sapi simpo jantan pada gigi seri
telinga tidak tegak diturunkan dari indukan berganti 2 di Kecamatan Terbanggi
sapi Brahman. besar Kabupaten Lampung Tengah.
Jurnal Riset dan Inovasi Peternakan.
KESIMPULAN 1(2), 28-32.
Handiwirawan, E. (2003). Penggunaan
Sapi hasil persilangan pejantan Mikrosatelit HEL9 dan INRA035
Brahman dengan indukan Bali didominasi sebagai Penciri Khas Sapi Bali. Tesis.
oleh sapi keturunan tidak memiliki garis Bogor: Institut Pertanian Bogor.

41
Tarjih Tropical Livestock Journal Efendi et al.

Indrijani, A., Johar, Dudi, Wendry, S.P., Jantan dan Betina. Buletin Veteriner
Romi, Z., & Hilmia. (2012). Kajian Udayana. 4(2): 87-93.
Identifikasi Sapi Lokal Jawa Barat
dalam Mendukung Swasembada Sudrajad, P., Subiharta, & Adinata, Y. (2013).
daging sapi. Laporan Penelitian. Karakter fenotipik sapi betina
Bandung: Dinas Peternakan Provinsi peranakan ongole Kebumen. Prosiding
Jawa Barat. Seminar Nasional Teknologi
Peternakan dan Veteriner: Inovasi
Johari, S., Sutopo, & Santi, A. (2009). Teknologi Peternakan dan Veteriner
Frekuensi Fenotipik Sifat-Sifat Berbasis Sumber Daya Lokal yang
Kualitatif Ayam Kedu Dewasa. Adaptif dan Mitigatif terhadap
Seminar Nasional Kebangkitan Perubahan Iklim. Medan, 3-5
Peternakan. Hal. 606-616. September 2013. Hal. 98-106.

Pane, I. (1990). Pemuliabiakan Ternak Sapi. Susilawati, T. (2011). Tingkat Keberhasilan


Jakarta: PT Gramedia Utama. Inseminasi Buatan dengan Kualitas
dan Deposisi Semen yang Berbeda
Ris, A., Suatha, I.K., & Batan, I.W. (2012). pada Sapi Peranakan Ongole. Jurnal
Keragaman Silak Tanduk Sapi Bali Ternak Tropika. 12 (02), 15- 24.

42

Anda mungkin juga menyukai