0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
31 tayangan4 halaman

Manajemen Hiperbilirubinemia Neonatus

WERTWERTWTWTE

Diunggah oleh

icursudklu2023
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
31 tayangan4 halaman

Manajemen Hiperbilirubinemia Neonatus

WERTWERTWTWTE

Diunggah oleh

icursudklu2023
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

PEMERIKSAAN PENUNJANG

DEFINISI WEB OF CAUTION HIPERBILIRUBIN 1. Laboratorium (pemeriksaan Darah)


Hiperbilirubin adalah suatu keadaan a. Test Coomb pada tali pusat BBL
dimana konsentrasi bilirubin dalam b. Golongan darah bayi dan ibu :
Peningkatan Gangguan Gangguan Gangguan Peningkatan
darah berlebihan sehingga mengidentifikasi incompatibilitas ABO.
produksi fungsi hati transportasi ekskresi sirkulasi
c. Bilirubin total.
menimbulkan joundice pada neonatus. bilirubin enterohepatik
d. Protein serum total
Hiperbilirubinemia ialah terjadinya e. Hitung darah lengkap
peningkatan kadar bilirubin dalam f. Glukosa
darah, baik oleh faktor fisiologik g. Daya ikat karbon dioksida
maupun non-fisiologik, yang secara h. Meter ikterik transkutan
klinis ditandai dengan ikterus.
HIPERBILIRUBIN i. Pemeriksaan bilirubin serum
(Mathindas, Wilar and Wahani, 2013) j. Smear darah perifer
k. Test Betke-Kleihauer
2. Pemeriksaan radiologi
ikterus Peningkatan Diperlukan untuk melihat adanya metastasis
ETIOLOGI kulit kering, pemecahan bilirubin di paru atau peningkatan diafragma kanan
1. Polychetemia
2. Isoimmun Hemolytic Disease
turgor kulit pada pembesaran hati,seperti abses hati atau
Fototerapi hepatoma
3. Kelainan struktur dan enzim sel darah menurun 3. Ultrasonografi
merah Digunakan untuk membedakan antara
4. Keracunan obat (hemolisis kimia; Pemisahan bayi Pengeluaran cairan kolestatis intra hepatic dengan ekstra
salisilat,kortikosteroid, MK:GANGGUAN Perubahan
dg orang tua empedu di usus hepatic.
kloramfenikol) INTEGRITAS suhu 4. Biopsy hati
5. Hemolisis ekstravaskuler KULIT(D.0129) Digunakan untuk memastikan diagnosa
6. Cephalhematoma lingkungan
terutama pada kasus yang sukar seperti
7. Ecchymosis untuk membedakan obstruksi ekstra hepatic
8. Gangguan fungsi hati; defisiensi Gangguan Peristaltic usus
Saraf hand hygine orang
peran orang tua
dengan intra hepatic selain itu juga
glukoronil transferase, obstruksi tua saat kontak meningkat memastikan keadaan seperti hepatitis,
empedu (atresia biliary), infeksi, Aferen dengan bayi serosis hati, hepatoma.
masalah metabolic galaktosemia,
kurang
hipotiroid jaundice ASI
Hipotalamus Diare DIAGNOSA KEPERAWATAN YANG
PENGKAJIAN FOKUS KEPERAWATAN MK:
MUNCUL
[Link] PERUBAHAN 1. GANGGUAN INTEGRITAS KULIT
Biasa ditemukan pada bayi baru lahir sampai minggu I, MK: RESIKO PERAN ORANG 2. TERMOREGULASI TIDAK EFEKTIF
Kejadian ikterus : 60 % bayi cukup bulan & 80 % pada INFEKSI TUA 3. RESIKO INFEKSI
bayi kurang bulan. Perhatian utama : ikterus pada 24 jam vasokonstriksi Pengeluaran volume 4. PERUBAHAN PERAN ORANG TUA
pertama & bila kadar bilirubin > 5mg/dl dalam 24 jam. cairan dan intake 5. RESIKO KETIDAKSEIMBANGAN
b. Riwayat Kesehatan CAIRAN
1) Riwayat Kehamilan Kurangnya antenatal care yang ikterik kramer III-IV 6. IKTERIK NEONATUS
baik. Penggunaan obat – obat yang meningkatkan
Penguapan (Kuning meluas hingga ke perut
ikterus ex: salisilat sulkaturosic oxitosin yang dapat
mempercepat proses konjungasi sebelum ibu partus. menurun bagian bawah dan lipatan
MK: RESIKO
2) Riwayat Persalinan Persalinan dilakukan oleh dukun, paha)
KETIDAKSEIMBANGAN
bidan, dokter. Atau data obyektif : lahir CAIRAN
prematur/kurang bulan, riwayat trauma persalinan,
hipoksia dan asfiksia. MK: TERMOREGULASI
MK: IKTERIK
3) Riwayat Post natal Adanya kelainan darah, kadar TIDAK EFEKTIF
NEONATUS
bilirubin meningkat kulit bayi tampak kuning.
4) Riwayat Kesehatan Keluarga Seperti ketidak cocokan
darah ibu dan anak polisitemia, gangguan saluran cerna
dan hati ( hepatitis )
MK:GANGGUAN INTEGRITAS MK:RESIKO INFEKSI (D.0142) MK:TERMOREGULASI TIDAK EFEKTIF MK: PERUBAHAN PERAN ORANG
KULIT (D.0129) Pencegahan infeksi (I.14539) (D.0149) TUA D.0126
Perawatan Integritas Kulit (I.11353) Observasi Regulasi Temperatur (I.14578) Promosi Pengasuhan (I.13495)
Observasi  Monitor tanda dan gejala infeksi lokal Observasi Observasi
 Identifikasi penyebab gangguan dan sistemik  Monitor suhu bayi sampai stabil (36,5°C-37,5°C)  Identifikasi keluarga risiko tinggi dalam
integritas kulit (mis: perubahan Terapeutik  Monitor suhu tubuh anak tiap dua jam, jika perlu program tindak lanjut
sirkulasi, perubahan status nutrisi,  Batasi jumlah pengunjung  Monitor tekanan darah, frekuensi pernapasan dan  Monitor status Kesehatan anak dan
penurunan kelembaban, suhu  Berikan perawatan kulit pada area nadi status imunisasi anak
lingkungan ekstrim, penurunan edema  Monitor warna dan suhu kulit Terapeutik
mobilitas)  Cuci tangan sebelum dan sesudah  Monitor dan catat tanda dan gejala hipotermia atau  Dukung ibu menerima dan melakukan
Terapeutik kontak dengan pasien dan lingkungan hipertermia perawatan pre natal secara teratur dan
 Ubah posisi setiap 2 jam jika tirah pasien Terapeutik sedini mungkin
baring  Pertahankan teknik aseptic pada pasien  Pasang alat pemantau suhu kontinu, jika perlu  Lakukan kunjungan rumah sesuai
 Lakukan pemijatan pada area berisiko tinggi  Tingkatkan asupan cairan dan nutrisi yang dengan tingkat risiko
penonjolan tulang, jika perlu Edukasi adekuat  Fasilitasi orang tua dalam memiliki
 Bersihkan perineal dengan air hangat,  Jelaskan tanda dan gejala infeksi  Badong bayi segera setelah lahir untuk mencegah harapan yang realistis sesuai tingkat
terutama selama periode diare  Ajarkan cara mencuci tangan dengan kehilangan panas kemampuan dan perkembangan anak
 Gunakan produk berbahan petroleum benar  Gunakan topi bayi untuk mencegah kehilangan  Fasilitasi orang tua dalam menerima
atau minyak pada kulit kering  Ajarkan etika batuk panas pada bayi baru lahir transisi peran
 Gunakan produk berbahan ringan/alami  Ajarkan cara memeriksa kondisi luka  Tempatkan bayi baru lahir dibawah radiant  Berikan bimbingan antisipasi yang
dan hipoalergik pada kulit sensitive atau luka operasi warmer diperlukan sesuai dengan tahapan usia
 Hindari produk berbahan dasar alkohol  Anjurkan meningkatkan asupan nutrisi  Pertahankan kelembaban inkubator 50% atau perkembangan anak
pada kulit kering  Anjurkan meningkatkan asupan cairan lebih untuk mengurangi kehilangan panas karena  Fasilitasi orang tua dalam mendapatkan
Edukasi Kolaborasi proses evaporasi dukungan, dan berpartisipasi dalam
 Anjurkan menggunakan pelembab (mis:  Kolaborasi pemberian imunisasi, jika  Atur suhu inkubator sesuai kebutuhan parent group programs
lotion, serum) perlu  Hangatkan terlebih dahulu bahan-bahan yang  Fasilitasi orang tua dalam
 Anjurkan minum air yang cukup akan kontak dengan bayi (mis. selimut, kain mengembangkan dan memelihara sistam
 Anjurkan meningkatkan asupan nutrisi bedongan, stetoskop) dukungan sosial
 Anjurkan meningkatkan asupan buah  Hindari meletakkan bayi di dekat jendela terbuka  Sediakan media untuk mengembangkan
dan sayur atau area aliran pendingin ruangan atau kipas keterampilan sosial dan koping
 Anjurkan menghindari terpapar suhu angina  Fasilitasi mengatur penitipan anak, jika
ekstrim  Gunakan matras penghangat, selimut hangat, dan perlu
 Anjurkan menggunakan tabir surya SPF penghangat ruangan untuk menaikan suhu tubuh,  Fasilitasi penggunaan kontrasepsi
minimal 30 saat berada diluar rumah jika perlu Edukasi
 Anjurkan mandi dan menggunakan  Gunakan kasur pendingin, water circulating  Ajarkan orang tua untuk menanggapi
sabun secukupnya blankets, ice pack atau gel pad dan intravascular isyarat bayi
cooling catheterization untuk menurunkan suhu
tubuh
 Sesuaikan suhu lingkungan dengan kebutuhan
pasien Edukasi
 Jelaskan cara pencegahan heat exhaustion dan
heat stroke
 Jelaskan cara pencegahan hipotermi karena
terpapar udara dingin
 Demonstrasikan teknik perawatan metode
kanguru (PMK) untuk bayi BBLR Kolaborasi
 Kolaborasi pemberian antipiretik, jika perlu
MK: RESIKO KETIDAKSEIMBANGAN MK: IKTERIK NEONATUS D.0024
CAIRAN D.0036 FOTOTERAPI NEONATUS (I.03091).
MANAJEMEN CAIRAN(I.03098) Observasi
Observasi  Monitor ikterik pada sklera dan kulit bayi
 Monitor status hidrasi (mis: frekuensi  Identifikasi kebutuhan cairan sesuai
nadi, kekuatan nadi, akral, pengisian dengan usia gestasi dan berat badan
kapiler, kelembaban mukosa, turgor kulit,  Monitor suhu dan tanda vital setiap 4 jam
tekanan darah) sekali
 Monitor berat badan harian  Monitor efek samping fototerapi (mis:
 Monitor berat badan sebelum dan sesudah hipertermi, diare, rush pada kulit,
dialisis penurunan berat badan lebih dari 8 – 10%
 Monitor hasil pemeriksaan laboratorium Terapeutik
(mis: hematokrit, Na, K, Cl, berat jenis  Siapkan lampu fototerapi dan incubator
urin, BUN) atau kotak bayi
 Monitor status hemodinamik (mis: MAP,  Lepaskan pakaian bayi kecuali popok
CVP, PAP, PCWP, jika tersedia)  Berikan penutup mata (eye
Terapeutik protector/biliband) pada bayi
 Catat intake-output dan hitung balans  Ukur jarak antara lampu dan permukaan
cairan 24 jam kulit bayi (30 cm atau tergantung
 Berikan asupan cairan, sesuai kebutuhan spesifikasi lampu fototerapi)
 Berikan cairan intravena, jika perlu  Biarkan tubuh bayi terpapar sinar
fototerapi secara berkelanjutan
 Ganti segera alas dan popok bayi jika
BAB/BAK
 Gunakan linen berwarna putih agar
memantulkan cahaya sebanyak mungkin
Edukasi
 Anjurkan ibu menyusui sekitar 20 – 30
menit
 Anjurkan ibu menyusui sesering mungkin
Kolaborasi
 Kolaborasi pemberian darah vena bilirubin
direk dan indirek
DAFTAR PUSTAKA

Kosim, M.S., Yunanto, A., Dewi, R, Sarosa, G.I., & Usman, A. (2014), Buku ajar neonatologi. IDAI: Jakarta
Mathindas, S., Wilar, R. and Wahani, A. (2013) ‘Hiperbilirubinemia Pada Neonatus’, Jurnal Biomedik (Jbm), 5(1). doi: 10.35790/jbm.5.1.2013.2599.

Marcdante, K.J., Kliegman, R,M., Jenson, H.B & Behrman, R.E, (2014). Ilmu Kesehatan Anak Esensial, Philadelphia:Sauders Company.

Muslihatum, Wafi Nur. 2016. Asuhan Neonatus, Bayi dan Balita. Yogyakarta : Fitramaya.

Moorshead,[Link] Outcomes Classification Pengukuran Outcomes Kesehatan Edisi 5 (NOC).Singapore : Elsevier Global Right.

Ngastiyah. (2014). Buku Perawatan Anak Sakit/Ngastiyah;Editor, Monica Ester. Ed.2, Jakarta: EGC

Potts, N.L., & Mandleco, B.L., (2012). Pediatric nursing care for children and their families, Amerika : Delmar.
Persatuan Perawat Nasional Indonesia. (2016). Standar Diagnosa Keperawata
Indonesia Definisi dan Indikator Diagnostik Edisi 1. Jakarta: DPP PPNI.
PPNI. (2018). Standar Intervensi Keperawatan Indonesia: Definisi dan Rencana
Tindakan Keperawatan, Edisi 1. Jakarta: DPP PPNI
PPNI. (2019). Standar Luaran Keperawatan Indonesia: Definisi dan Tujuan
Keperawatan, Edisi 1. Jakarta: DPP PPNI

Anda mungkin juga menyukai