SATUAN ACARA PENYULUHAN KELOMPOK 1 & 3
PADA An. P DENGAN RHEUMATIC HEART DISEASE (RHD)
DI RUANG JANTUNG
RUMAH SAKIT UMUM JAYAPURA
Oleh :
KELOMPOK I & 3
Hasrullah Tajang Zaharia
Gloriya M Kenelak Yance Paisei
Ilona S J Jadas Sherliana Pramaisela
Alowisye G H Lawere Sudiman Hataul
Asniati Mersi Tetelepta
Brian C I Sahusilawane Ermelinda Koibur
Andi Ikhmasabaniyah Helena Modouw
Letrince Runtuboi
PROGRAM STUDI PROFESI NERS
FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS CENDERAWASIH
JAYAPURA
2024
SATUAN ACARA PENYULUHAN
Topik : RHD (Rheumatic Heart Desease)
Pokok Bahasan : RHD (Rheumatic Heart Desease)
Sasaran : Pasien dan Keluarga Pasien
Tempat : Ruang Jantung RSUD Jayapura
Hari/Tanggal : Kamis/17 Oktober 2024
TUJUAN INTRUKSIONAL
A. Tujuan
1. Tujuan Umum
Setelah dilakukan penyuluhan diharapkan Pasien dan Keluarga mengetahui tentang penyakit RHD
(Rheumatic heart desease) dan cara pencegahannya.
2. Tujuan Khusus
Setelah dilakukan penyuluhan pasien dan keluarga dapat mengerti dan memahami pengertian
RHD
Setelah dilakukan penyuluhan pasien dan keluarga mampu mengetahui penyebab terjadinya
RHD
Setelah dilakukan penyuluhan pasien dan keluarga mampu mengetahui tanda dan gejala RHD
Setelah dilakukan penyuluhan pasien dan keluarga mampu mengetahui penatalaksanaan RHD
Setelah dilakukan penyuluhan pasien dan keluarga mampu mengetahui pencegahan RHD
B. Materi
MATERI PENYULUHAN
1. Definisi
Penyakit jantung reumatik (Reumatic Heart Disease) merupakan penyakit jantung didapat
yang sering ditemukan pada anak. Penyakit jantung reumatik merupakan kelainan katup jantung
yang menetap akibat demam reumatik akut sebelumnya, terutama mengenai katup mitral (75%),
aorta (25%), jarang mengenai katup trikuspid, dan tidak pernah menyerang katup pulmonal.
Penyakit jantung reumatik dapat menimbulkan stenosis atau insufisiensi atau keduanya (Rudolph,
2011). Penyakit Jantung Rematik (PJR) merupakan gangguan pada jantung karena katup
jantung rusak. Penyakit yang dalam bahasa medisnya disebut Rheumatic Heart Disease
(RHD) ini bisa saja disebabkan karena adanya penyempitan jantung atau kebocoran jantung
terutama pada katup mitral (keadaan ini disebut dengan stenosis katup mitral). Penyempitan dan
kebocoran itu bisa diakibatkan karena gejala sisa dari Demam Rematik (Wong, 2004).
Penyakit jantung rematik merupakan penyebab terpenting dari penyakit jantung yang didapat
baik pada anak maupun orang dewasa. Penyakit jantung reumatik adalah suatu proses peradangan
yang mengenai jaringan penyokong tubuh terutama persendian, jantung dan pembuluh darah oleh
organisme streptococus hemolitik B group A (Riskesdas, 2018).
2. Etiologi
Penyebab secara pasti penyakit ini belum diketahui, namun penyakit ini sangat berhubungan
erat dengan infeksi saluran napas bagian atas yang disebabkan oleh organisme streptococcus
hemolitik B group A yang pengobatannya tidak tuntas atau bahkan tidak terobati. Pada penilitian
menunjukan bahwa penyakit jantung reumatik terjadi akibat adanya reaksi imunologis antigen-
antibody dari tubuh. Antibody akan melawan streptococcus bersifat sebagai antigen sehingga
terjadi reaksi autoimmune (Rudolph, 2011).
Faktor predisposisi timbulnya penyakit jantung reumatik adalah :
1) Faktor individu
a) Faktor genetik
Pada umumnya terdapat pengaruh faktor keturunan pada proses terjadinnya penyakit jantung
reumatik meskipun cara pewarisannya belum dipastikan.
b) Jenis Kelamin
Dahulu sering dinyatakan bahwa penyakit jantung reumatik lebih sering pada anak perempuan
dari pada laki-laki.
2) Faktor lingkungan
a) Keadaan sosial ekonomi yang buruk
Sanitasi lingkungan yang buruk dengan penghuni yang padat, rendahnya pendidikan sehingga
pemahaman untuk segera mencari pengobatan anak yang menderita infeksi tenggorokan
sangat kurang ditambah pendapatan yang rendah sehingga biaya perawatan kesehatan kurang.
b) Iklim geografis
Penyakit ini terbanyak didapatkan pada daerah iklim sedang, tetapi data akhir-akhir ini
menunjukan bahwa daerah tropis memiliki insiden yangtertinggi.
c) Cuaca
Perubahan cuaca yang mendadak sering mengakibatkan insiden infeksi saluran pernapasan
atas meningkat sehingga mengakibatkan kejadian penyakit jantung reumatik juga dapat
meningkat.
3. Patofisologi
Hubungan yang pasti antara infeksi streptococcus dan demam reumatik akut tidak diketahui.
Cedera jantung bukan merupakan akibat langsung infeksi, seperti yang di tunjukan oleh hasil
kultur streptococcus yang negatif pada bagian jantung yang terkena (Ngastiyah, 2005). Fakta
berikut ini menunjukan bahwa hubungan tersebut terjadi akibat hipersensitifimunologi yang
belum terbukti terhadap antigen antigen streptococcus :
a. Demam reumatik akut terjadi 2-3 minggu setelah faringitis streptokokus, sering setelah pasien
sembuh dari faringitis.
b. Kadar antibodi antii streptococcus tinggi (anti streptolisin O, anti Dnase, anti hialorodinase),
terdapat pada klien demam reumatik akut.
c. Pengobatan dini faringitis streptococcus dengan penisilin menurunkan risiko demam reumatik.
d. Imunoglobulin dan komplemen terdapat pada permukaan membran sel
miokardiaum yang terkena.
Hipersensitifitas kemungkinan bersifat imunologik, tetapi mekanisme demam reumatik
akut masih belum [Link] antibodi yang memiliki aktifitas terhadap antigen
streptococcus dan sel miokardium menunjukan kemungkinan adanya hipersensitiftas tipe II
yang diperantarai oleh antibodi reaksi silang. Pada beberapa pasien yang kompleks imunnya
terbentuk untuk melawan antigen streptococcus, adanya antibodi tersebut didalam serum akan
menunjukan hipersensifitas tipe III (Wahab, 2010).
4. Tanda dan gejala
Gejala umum:
a. Tanda-tanda demam reumatik bisanya muncul 2-3 minggu setelah infeksi, tetapi
dapat juga muncul awal minggu pertama atau setelah 5 minggu.
b. Insiden puncak antara umur 5-15 tahun, demam reumatik jarang terjadi sebelum
umur 4 tahun dan setelah umur 40 tahun.
c. Karditis reumatik dan valvulitis dapat sembuh sendiri atau berkembang lambat menjadi
kelainan katup
d. Karakteristik lesi adalah adanya reaksi granulomotosa perivaskuler dengan vaskulitis.
e. Pada 75-85% kasus, yang terserang adalah katup mitral, katup aorta pada 30% kasus (tetapi
jarang berdiri sendiri), dan mengenai katup pulmonalis kurang dari5%.
1) Kriteria mayor
a. Karditis merupakan peradangan pada jantung (miokarditis atau endokarditis) yang
menyebabkan terjadinya gangguan pada katup mitral dan aorta dengan manifestasi
terjadi penuruna curah jantung (seperti hipotensi, pucat, sianosis, berdebar-debar dan
denyut jantung meningkat), bunyi jantung melemah dan terdengar suarah bising katup.
Pada auskultasi akibatstenosisdari katup terutama mitral (bising sistolik), karditis
paling sering menyerang anak dan remaja. Beberapa tanda karditis, antara lain
kardiomegali, gagal jantung kongestif kanan dan kiri (pada anak yang lebih menonjol
sisi kanan), dan regurgitasi mitral serta aorta.
b. Poliatritis Penderita penyakit ini biasanya datang dengan keluhan nyeri pada sendi
yang berpindah-pindah, radang sendi besar. Lutut, pergelangan kaki, pergelangan
tangan, siku (poliatritis migrans), gangguan fungsi sendi, dapat timbul bersamaan tetapi
sering bergantian. Sendi yang terkena menunjukkan gejala radang yang khas (bengkak,
merah, panas sekitar sendi, nyeri dan disertai gangguan fungsi sendi). Kondisi ini
berlangsung selama 1-5 minggu dan mereda tanpa deformitas residual.
c. Khorea syndenham. Merupakan gerakan yang tidak disengaja/ gerakan abnormal,
bilateral, tanpa tujuan dan involunter, serta seringkali disertai dengan kelemahan otot,
sebagai manifestasi peradangan pada sistem saraf pusat. Pasien yang terkena penyakit
ini biasanya mengalami gerakan tidak terkendali pada ekstremitas, wajah dan kerangka
tubuh. Hipotonik akibat kelemahan otot, dan gangguan emosi selalu ada bahkan sering
merupakan tanda dini.
d. Eritema marginatum. Gejala ini merupakan manifestasi penyakit jantung reumatik pada
kulit berupa bercak merah dengan bagian tengah berwarna pucat sedangkan tepinya
berbatan tegas, berbentuk bulat dan bergelombang tanpa indurasi dan tidak gatal.
Biasanya terjadi pada batang tubuh dan telapak tangan.
2) Nodul supkutan. Nodul ini terlihat sebagai tonjolan keras dibawah kulit tanpa adanya
perubahan warna atau rasa nyeri. Biasanya timbul pada minggu pertama serangan dan
menghilang setelah 1-2 minggu. Nodul ini muncul pada permukaan ekstensor sendi
terutama siku, ruas jari, lutut, persendiaan kaki. Nodul ini lunak dan bergerak bebes.
3) Kriteria minor
a) Memang mempunyai riwayat penyakit jantung reumatik
b) Nyeri sendi tanpa adanya tanda objektif pada persendian, klien juga sulit
menggerakkan persendian.
c) Deman namun tidak lebih dari 39ᴼ C dan pola tidur tertentu.
d) Leokositosis, peningkatan laju endapan darah (LED).
e) Protein krea (CPR) positif.
f) Peningkatan denyut jantung saat tidur.
g) Peningkatan anti streptolosin O (ASTO).
5. Komplikasi
a. Gagal jantung pada kasus yang berat.
b. Dalam jangka panjang timbul penyakit demam jantung reumatik.
c. Aritmia.
d. Perikarditis dengan efus
e. Pneumonia reumatik.
6. Penatalaksanaan
Dasar pengobatan demam reumatik terdiri dari istirahat, eradikasi kuman streptokok,
penggunaan obat anti radang, dan pengobatan suportif.
a. Istirahat ; bergantung pada ada tidaknya dan berat ringannya karditis.
b. Eradikasi kuman streptokok, untuk negara berkembang WHO menganjurkan penggunaan
benzatin penisilin 1,2 juta IM. Bila alergi terhadap penisilin digunakan eritromisin 20
mg/kg BB 2x sehari selama 10 hari.
c. Penggunaan obat anti radang bergantung terdapatnya dan beratnya kardiris. Prednison
hanaya digunakan pada karditis dengan kardiomegali atau gagal jantung.
d. Pengobatan suportif, berupa diet tinggi kalori dan protein serta vitamin (terutama vitamin
C) dan pengobatan terhadap komplikasi. Bila dengan pengobatan medikamentosa saja gagal
perlu di pertimbangkan tindakan operasi pembetulan katup jantung.
Demam reumatik cenderung mengalami serangan ulang, maka perludiberikanpengobatan
pencegahan (profilaksis sekunder) dengan memberikan bezatin penisilin 1,2 juta IM tiap
bulan. Bila tidak mau disuntik dapat diganti dengan penesilin oral 2 x 200.000 U/hari. Bila
alergi terhadap obat tersebut dapat diberikan sulfadiazin 1000 mg/hari untuk anak 12 tahun ke
atas, dan 500 mg/hari untuk anak 12 tahun ke bawah. Lama pemberian profilaksis sekunder
bergantung ada tidaknya dan beratnya karditis. Bagi yang berada di dalam yang mudah
terkena infeksi streptokok dianjurkan pemberian profilaksis seumur [Link] singkat
penanganan demam reumatik adalah sebagai berikut:
a. Artritis tanpa kardiomegali : Istirahat baring 2 minggu, rehabilitas 2 minggu,obat-obatan
anti inflamasi, erdikasi dan profilaksi (seperti yang diuraikan diatas). Anak boleh sekolah
setelah 4 minggu perawatan, olahraga bebas.
b. Artritis+karditis tanpa kardiomegali: Tirah baring 4 minggu, pengobatan sepertiyang
diuraikan: sekolah setelah 8 minggu perawatan. Olahraga bebas.
c. Karditis+kardiomegali: tirah baring 6 minggu, mobilisasi 6 minggu, pengobatan seperti
yang diuraikan. Sekolah setelah perawatan selama 12 minggu. Olahraga terbatas, hindari
olahraga berat dan kompetitif.
d. Karditis + kardimegali + gagal jantung: tirah baring selama ada gagal jantung, mobilisasi
bertahap 12 minggu. Pengobatan seperti yang diuraikan, sekolah setelah perawatan 12
minggu gagal jantung teratasi. Olahraga di larang (Ngastiyah, 2005).
7. Pemeriksaan Penunjang
a. Pemeriksaan laboratorium :Dari pemeriksaan laboratorium darah didapatkan peningkatan anti
steptolisin (ASTO), peningkatan laju endap darah (LED), terjadi leukositosis, dan dapat terjadi
penurunan hemoglobin.
b. Radiologi :Pada pemeriksaan foto toraks menunjukkan terjadinya pembesaran pada jantung.
c. Pemeriksaan ekokardiogram :Menunjukan pembesaran pada jantung dan terdapat lesi.
d. Pemeriksaanelektrokardiogram Menunjukkan interval PR menanjang
e. Apus tenggorokan Ditemukan streptokokus beta hemolitikus grup A (Aspiani, 2010)
C. Rencana Kegiatan
1. Metode
Ceramah dan Tanya jawab (diskusi)
2. Media
Leaflet
3. Materi
Terlampir
4. Tahap-tahap Kegiatan
Tahap Waktu Kegiatan Edukator Kegiatan Peserta Metode Media
Pembukaan 2 menit - Memberi salam Menjawab salam, Ceramah Leafleat
- Menjelaskan tujuan mendengarkan dan
edukasi memperhatikan
- Menyebutkan kontrak
waktu
- Menyebutkan
materi/pokok bahasan
yang akan
disampaikan
Pelaksanaan 20 menit - Menggali Menjawab apa yang Tanya jawab, leaflet
pengetahuan peserta diketahui tentang ceramah
tentang materi yang RHD
akan disampaikan
(brainstorming)
- Menjelaskan materi
penyulihan secara
berurutan dan teratur
- Materi:
1. Pengertian
2. Penyebab
3. Tanda dan gejala
4. Penatalaksanaan
5. Pencegahan
Evaluasi 10 menit - Mempersilakan - Aktif bertanya Ceramah, Leaflet
peserta untuk - Aktif dalam Tanya jawab
bertanya merespon
- Menjawab pertanyaan pertanyaan
peserta - Aktif menjawab
- Meminta peserta - Dapat mengulangi
untuk mengulangi materi yang sudah
materi yang sudah dibahas
disampaikan
- Mengidentifikasi jika
ada kesehalahan dan
menyimpulkan
Penutup 3 menit - Memberikan Memperhatikan dan Ceramah -
kesimpulan tentang menjawab salam
penyuluhan yang
disampaikan
- Mengucapkan terima
kasih
- Mengucapkan salam
D. Tim
Moderator : Mahasiswa Ners Uncen
Penyaji/pemateri : Mahasiswa Ners Uncen
Fasilitator/Notulen : Mahasiswa Ners Uncen
Observer : Mahasiswa Ners Uncen
E. Waktu Pelaksanaan
Pukul : Jam 11.00 WIT
Alokasi Waktu : 35 menit
F. Metode
- Leaflet
G. Tempat (Setting Tempat)
Bad 2 P
Ners Station
1 2
3 4
Bad 3 Bad 4 Bad 5 Bad 6 Bad 7 Bad 8
Keterangan :
1 : Penyaji/Pemateri
2 : Moderator
: Observer
3
4 : Notulen
: Mahasiswa Ners Uncen
Bad
: Tempat tidur pasien
P
: Pasien & Keluarga
H. Evaluasi
1. Evaluasi Struktur
- Adanya koordinasi dengan CI klinik RSUD Jayapura untuk menentukan tempat dan waktu
edukasi
- Pengorganisasian kegiatan edukasi dilakukan sebelum kegiatan
- Media dan bahan-bahan untuk edukasi telah siap sebelum edukasi dilakukan
2. Evaluasi Proses
Penyuluh
- Diharapkan penyuluh mampu menjelaskan materi secara komunikatif dan jelas
- Diharapkan penyuluh mampu mengajak sasaran untuk memperhatikan dan mendengarkan
penyuluh saat menjelaskan
- Diharapkan penyuluh mampu menjawab pertanyaan yang disampaikan oleh sasaran
Sasaran
- Diharapkan pasien dan keluarga memperhatikan dengan cermat saat berlangsungnya
penyuluhan
- Diharapkan pasien dan keluarga aktif bertanya jika ada hal yang tidak dimengerti saat
dijelaskan
- Diharapkan sasaran mampu menjawab pertanyaan dari penyuluh
DAFTAR PUSTAKA
Aspiani, Y. R (2010). Buku Ajar Asuhan Keperawatan Klien Gangguan
Kardiovaskular Aplikasi NIC & NOC. Jakarta. EGC
Kementrian Kesehatan RI. (2018). Riset Kesehatan Daerah. Jakarta
NANDA. (2015). Diagnosa keperawatan definisi dan Klasifikasi 2015-2017 Edisi
10. Jakrta: EGC
Ngastiyah. (2005). Penyakit Jantung Edisi 2. Jakarta: EGC
Rudolph, A. A (2011). Penyakit Jantung Rematik dan Demam Rematik. Medan.
FK USU.
Swanson, M. (2013). Nursing Outcome Classification Ed.5. Missouri:
Elseiver Mosby
Wahab, S. (2010). Penyakit Jantung . Jakarta. EGC
Wong, D. (2003). Pedoman Klinis Keperawatan . Jakarta: EGC
Wagner, B. (2013). Nursing Intervention Classification Ed 6. Missouri:
Elseiver Mosby