Eksploitasi Seksualitas Remaja di Euphoria
Eksploitasi Seksualitas Remaja di Euphoria
SKRIPSI
Oleh
AGISNA YUNI.S.
UNIVERSITAS PATTIMURA
AMBON
2023
HALAMAN PERNYATAAN KEASLIAN
Dengan ini saya menyataakan bahwa hasil penulisan Skripsi ini tidak ada atau tidak sama sebagai
Karja Tulis yang pernah diajukan untuk memperoleh derajat Kesarjaan (S1) di Perguruan Tinggi
manapun sepanjang pengetahuan penulis, sebagai hasil karya atau pendapat orang lain, yang
ditulis atau diterbitkan tentang hal ini, terkecuali secara tertulis dalam naskah ini, yang penulis
sebutkan dalam lembaran daftar pustaka skripsi ini.
Demikian persyataan ini saya buat, dan apabila dikemudian hari, ada pihak lain merasa hail karya ini
sebagai PLAGIAT , maka saya bersedia menerima sanksi secara akademik sesuai ketentuan aturan
perundangan-undangan yang berlaku.
Penulis
AGISNA YUNI.S.
NIM 2019 25 008
i
HALAMAN PENYATAAN BERSAMA
Sebagian civitas akademik FISIP UNPATTI, saya yang bertanda tangan di bawah ini :
Segala tuntutan hukum yang timbul atas pelanggaran Hak Cipta dalam karya ilmiah ini
menjadi tanggungjawab saya pribadi.
Dibuat di : AMBON
ii
BIODATA
Nomor Hp : 082290181368
Riwayat pendidikan
1. SD Negeri Wolu
2. SMP Negeri 14 Ambon
3. SMA Negeri 3 Ambon
iii
MOTTO
iv
PERSEMBAHAN
Kedua orang tua saya yang telah memberikan doa serta semangat dan dorongan yang kuat hingga
saya sampai ke tahap ini.
Alexi Oxley kucing peliharaan saya yang selalu menemani dalam proses pembuatan skripsi ini.
Almamater tercinta dan seluruh keluarga besar Ilmu Komunikasi FISIP Universitas Pattimura
Ambon.
v
KATA PENGANTAR
Puji syukur kepada Allah SWT berkat Rahmat, Hidayah, dan Karunia-Nya, peneliti dapat
menyelesaikan skripsi dengan judul REPRESENTASI EKSPLOITASI SEKSUALITAS REMAJA
PEREMPUAN (ANALISIS SEMIOTIKA SERIAL EUPHORIA). Shalawat dan salam senantiasa
terucap kepada Baginda Nabi Besar Muhammad SAW sebagai panutan semua umat islam yang
mengajak menuju kebenaran dan menyelamatkan umat islam dari kesesatan.
Skripsi ini disusun guna memenuhi sebagian persyaratan untuk memperoleh gelar Sarjana
Ilmu Komunikasi ([Link]) di Jurusan Ilmu Administrasi, Program Studi Ilmu Komunikasi,
Universitas Pattimura, Kota Ambon. Peneliti berharap semoga karya ini mampu memberikan ilmu
yang bermanfaat serta menjadi sebuah bentuk pembelajaran yang berhubungan dengan
manajemen komunikasi sosial.
Dalam proses penyelesaian skripsi peneliti menyadari bahwa skripsi ini tidak akan selesai
tanpa bantuan dari berbagai pihak. Karena itu pada kesempatan ini peneliti ingin mengucapkan
terima kasih kepada:
1. Prof. Dr. M. J. Sapteno, S.H, [Link] selaku Rektor Universitas Pattimura Ambon.
2. Dr. Wahab Tuanaya, [Link] selaku Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas
Pattimura, Dr. Josep A. Ufi, SS, MA selaku Wakil Dekan 1 Bidang Akademik, Said
Lestaluhu, [Link], [Link] selaku Wakil Dekan 2 Bidang Umum dan Keuangan, dan Dr.
Paulus Koritelu, [Link], [Link] selaku Wakil Dekan 3 Bidang Kemahasiswaan dan Alumni.
3. Drs. Pieter Sammy Soselisa, [Link] selaku Ketua Jurusan Ilmu Administrasi dan Fatmawati
Rumra, [Link], [Link] selaku Sekretaris Jurusan Ilmu Administrasi.
4. Ronald Alfredo [Link], [Link] selaku Ketua Program Studi Ilmu Komunikasi Fakultas
Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Pattimura yang Selalu Memberikan Motivasi dan
Arahan Terkait Penulisan Skripsi ini.
5. Ibu Sandra Telussa, [Link], [Link] selaku Dosen Pembimbing I, yang telah bersedia setulus
hati dalam membimbing peneliti dalam penyusunan skripsi ini.
viii
6. Ibu Antasari Bandjar, SS, [Link] selaku Dosen Pembimbing II yang telah mengorbankan
waktunya untuk membimbing peneliti, memberi saran dan arahan juga semangat dari awal
hingga saat penyusunan skripsi ini.
7. Para tim penguji yang telah memberikan saran dan masukan dalam upaya
penyempurnaan skripsi ini.
8. Seluruh Dosen Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politk yang telah mendidik dan memberikan
ilmu yang bermanfaat kepada peneliti selama menempuh Pendidikan di Universitas
Pattimura.
9. Seluruh staf dan karyawan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politk yang telah membantu
peneliti dalam urusan administrasi selama perkuliahan dan selama penelitian skripsi..
10. Orangtua Tercinta, Ayah Amaludin dan Ibu Novita Parawangsa, yang telah merawat,
membesarkan dan membiayai seluruh kebutuhan anaknya dengan perjuangan dan kerja
keras tanpa henti hingga saat ini. Terima kasih untuk semuanya saya akan membalas
semua dengan terus melakukan dan memberikan yang terbaik.
11. Untuk kedua saudari saya Rizky Triani dan Anisa Prawangsa yang selama ini telah
memberikan semangat dan motifasi di dalam setiap langkah untuk menuju hari esok yang
lebih baik.
12. Sahabat saya, Andi Ainin, Salshabillah dan Jihan Siddiq yang telah menemani dan
memberikan dukungan penuh atas pengerjaan skripsi ini. Teman-teman Ilmu Komunikasi
Angkatan 2019 yang sudah memberikan momen-momen penting semasa perkuliahan dan
seluruh teman-teman yang tidak dapat disebutkan satu per satu.
13. Kepada Gilang Dzakwan Syafaqi yang telah menemani, memberikan dukungan dan
kontribusi yang begitu besar dalam proses pengerjaan skripsi ini.
14. Terakhir tetapi bukan menjadi yang terakhir yaitu saya sendiri, terima kasih sudah
berusaha sampai di titik ini, walaupun tidak mudah. Banyak sekli rintangan dan ujian yang
dihadapi, tetapi saya tetap bertahan hingga akhir dan berhasil dalam menyelesaikan
skripsi ini.
ix
Semoga skripsi ini dapat memberikan manfaat bagi pembacanya terkhusus untuk
mahasiswa program studi Imu Komunikasi. Mohon maaf atas segala kekurangan dalam skripsi
ini. Terima kasih.
Penulis
AGISNA YUNI.S.
x
ABSTRACT
This type of research is critical discourse research which aims to find out how and what forms
of exploitation of female adolescent sexuality are represented in the Euphoria series through
semiotic analysis from Roland Barthes.
The data sources used in this research are primary data obtained through observation of the
research object, namely in the form of original video recordings from the Euphoria season 1
series, totaling 8 episodes and secondary data in the form of literature such as journals,
articles and so on.
The results of this research show that in the Euphoria series the exploitation of teenage girls'
sexuality is represented audio/verbally in the form of dialogues and narration from the
characters as well as visually in the form of scenes that are considered to exploit the
sexuality of teenage girls which can be obtained from every scene in this series. These
results depart from the Male Gaze theory which was analyzed using a semiotic approach
from Roland Barthes which shows that women's bodies have selling value so they are often
used as sexual objects.
xi
ABSTRAK
Penelitian ini berjenis penelitian wacana kritis yang bertujuan untuk mengetahui bagaimana
dan apa saja bentuk representasi eksploitasi seksualitas remaja perempuan dalam serial
Euphoria melalui analisis semiotika dari Roland Barthes.
Sumber data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data primer yang di dapat melalui
observasi dari objek penelitian yakni berupa rekaman video original dari serial Euphoria
season 1 yang berjumlah 8 episode dan data sekunder berupa literatur seperti jurnal, artikel
dan sebagainya.
Hasil penelitian ini menunjukan bahwa dalam serial Euphoria eksploitasi seksualitas remaja
perempuan di representasikan secara audio/verbal berupa dialog-dialog dan narasi dari
karakter serta visual berupa adegan-adegan yang dinilai mengeksploitasi seksualitas remaja
perempuan yang di dapat dari setiap scene dalam serial ini. Hasil tersebut berangkat dari
teori Male Gaze yang dianalisis dengan pendekatan semiotika dari Roland Barthes yang
menunjukan bahwa tubuh perempuan memiliki nilai jual sehingga sering dijadikan objek
secara seksual.
xii
DAFTAR ISI
Hal
HALAMAN JUDUL..............................................................................
HALAMAN PERNYATAAN KEASLIAN............................................... i
HALAMAN PERNYATAAN BERSAMA............................................... ii
HALAMAN BIODATA.......................................................................... iii
HALAMAN MOTTO............................................................................. iv
HALAMAN PEMBAHASAN................................................................. v
HALAMAN KATA PENGANTAR......................................................... vi
ABSTRAK............................................................................................ vii
ABSTRAC........................................................................................... viii
DAFTAR ISI......................................................................................... xi
DAFTAR TABEL.................................................................................. xii
DAFTAR GAMBAR............................................................................. xii
BAB I PENDAHULUAN....................................................................... 1
1.1 Latar Belakang Masalah........................................................ 1
1.2 Rumusan Masalah................................................................. 4
1.3 Tujuan dan Manfaat Penelitian.............................................. 4
xiv
BAB III METODE PENELITIAN........................................................... 39
2.1 Jenis Penelitian................................................................. 39
2.2 Objek Penelitian................................................................ 39
2.3 Subjek Penelitian............................................................... 40
2.4 Intrumen dan Teknis Penelitian Data ............................... 40
2.5 Sumber Data..................................................................... 40
2.6 Teknik Pengumpulan Data................................................ 41
2.7 Teknik Analisi Data…………………………………………. 41
BAB V PENUTUP................................................................................ 62
5.1 Kesimpulan........................................................................ 62
5.2 saran.................................................................................. 63
DAFTAR PUSTAKA
DAFTAR LAMPIRAN
xv
Daftar tabel
Hal
xvi
Daftar Gambar
Hal
xv
PENDAHULUAN
Manusia yang hidup selalu berkaitan erat dengan komunikasi bahkan dalam kehidupan
sehari-hari manusia selalu menggunakan komunikasi untuk menyampaikan pesan, mulai dari
perorangan, kelompok, organisasi hingga dalam media. Sederhananya komunikasi dapat
terjadi antara komunikan dan [Link] berkembangnya waktu, Film menjadi
salah satu media saluran yang menyampaikan pesan, apakah itu pesan verbal maupun
nonverbal. Hal ini disebabkan karena film dibuat dengan tujuan tertentu, kemudian hasilnya
diproyeksikan ke layar lebar atau saat ini sudah bisa dinikmati dengan menggunakan
layanan streaming kemudian ditonton oleh sejumlah khalayak. Dewasa ini film semakin
berkembang. Penyampaian sebuah pesan yang terdapat didalamnya gambar, suara, tanda,
simbol dan makna tidak hanya disampaikan dalam bentuk film. Salah satu alternatifnya
adalah series atau serial. Para penikmat sinema pasti sering menemukan kata-kata seperti
movie maupun serial. Istilah ini memiliki pengertian yang sangat berbeda jika diterapkan
dengan benar dalam sebuah kalimat. Seperti yang kita tahu movie yang berarti film adalah
sebuah suguhan audio visual yang jalan ceritanya berlangsung selama dua hingga tiga jam.
Sementara series atau serial biasanya memiliki durasi cerita yang lebih panjang
dibandingkan film. Oleh sebab itu menurut [Link] rumah produksi yang menggarap
serial biasanya membaginya dengan sejumlah episode secara terpisah. Durasi yang lebih
panjang membuat serial memiliki keunggulan tersendiri. Kreator serial sangat mungkin untuk
menggali cerita maupun karakter menjadi lebih dalam dan luas.
Film dalam hal ini juga serial sebagai salah satu bentuk media massa yang
mempunyai peran penting di dalam sosiokultural, artistik, politik dan dunia ilmiah ( Worth
dalam Gross, 5 Maret 2000 ). Film sebagai bagian dari media massa dalam kajian
komunikasi massa modern dinilai memiliki pengaruh pada khalayaknya. Munculnya
pengaruh itu sesungguhnya sebuah kemungkinan yang sangat tergantung pada proses
negosiasi makna oleh khalayak terhadap pesan dari film itu dan mengacu pada keberhasilan
khalayak dalam proses negosiasi makna dari pesan yang disampaikan. Jika negosiasi
makna yang dilakukan khalayak tersebut lemah, maka akan semakin besar pengaruh
tayangan tersebut ( McQuaill, 1991 : 101 ). Negosiasi makna merupakan sebuah proses
transaksional dari komunikasi, dimana komunikan menerima dan menginterpretasikan
1
makna dari pesan yang diterima sesuai dengan latar belakang sosial budaya yang
dimilikinya. Khlayak menerima dan menginterpretasikan pesan tekstual dari film melalui cara
yang terkait dengan kondisi sosial dan budaya mereka terhadap kondusi tersebut. Maka dari
itu, keragaman khalayak memunculkan perbedaan dalam proses penerimaan dan
pemaknaan atau interpretasi terhadap pesan dari film. Film juga dianggap sebagai media
komunikasi yang ampuh terhadap massa yang menjadi sasarannya, karena sifatnya yang
audio visual , yaitu gambar dan suara yang hidup. Pesan film sebagai media komunikasi
massa dapa berbentuk apa saja tergantung dari misi film tersebut. Akan tetapi, umumnya
sebuah film dapat mencakup berbagai pesan, baik itu pesan pendidikan, hiburan dan
informasi. Pesan dalam film menggunakan mekanisme lambang-lambanh yang ada pada
pikiran manusia berupa isi pesan, suara, perkataan, percakapan dan sebagainya. Seperti
yang sudah dijelaskan, saat ini penyampaian pesan berupa tayangan tidak hanya berupa
satu film yang dikemas dalam satu atau dua jam saja. Semakin berkembangnya proses
penyampaian itu, serial ada untuk merepresentasikan pesan-pesan yang terkandung
didalamnya dengan durasi yang lebih lama dan episode yang beragam. Hal ini
memungkinkan untuk para rumah produksi agar bisa mengeksplore lebih dalam isi cerita
maupun karakter yang ada yang nantinya akan menimbulkan proses negosiasi makna
diantara para khalayak yang menonton tayangan tersebut.
Dewasa ini banyak tayangan-tayangan yang ada di khalayak seakan meniggikan
kapitalisme, romantisme, nasionalisme atau sekedar idealisme. Namun, dari beberapa
pilihan yang ada peneliti lebih tertarik dengan serial yang saat ini relevan dengan kehidupan
remaja di era sekarang. Salah satu serial yang sempat menjadi pembicaraan dikalangan Gen
Z adalah EUPHORIA. Euphoria adalah serial televisi drama remaja Amerika yang
ditayangkan HBO. Diciptakan oleh Sam Levinson, serial ini diadaptasi dari miniseries asal
Israel dengan judul yang sama, yang diciptakan oleh Ron Leshem dan Daphna Levin. Series
ini bercerita tentang pengalaman remaja dalam mecari jati diri dan kepribadian trauma, seks,
obat terlarang, persahabatan, kasih sayang hingga keluarga dieksploitasi dalam serial
[Link] komentator dan organisasi mengkritik serial ini yang dinilai terlalu
mengeksploitasi adegan-adegan berbahaya secara berlebihan. Kelompok advokasi media
konservatif Parents Television and Media Council menyebut serial ini “gelap, bejat, cabul dan
nihilistik” dan meminta HBO untuk menghentikan penayangannya. Common Sense Media,
yang menyediakan informasi yang berkaitan dengan kesesuaian media untuk anak-anak,
juga mecatat tema yang kuat dan menyarankan untuk tidak ditonton. Disamping kehadiran
isu-isu sensitif didalam cerita yang memang akrab dengan realita sisi gelap dunia remaja,
2
banyak yang beranggapan juga bahwa serial ini secara gamblang menampilkan bagaimana
realita Gen Z dalam mengekspresikan diri.
Serial ini dinilai mengangkat isu yang relevan dengan realita saat ini. Serial ini tak hanya
menampilkan realita kehidupan remaja yang ada saat ini melaui pesan, tanda, simbol dan
adegan-adegan yang ada didalamnya. Melainkan banyak mengeksploitasi seksualitas
remaja perempuan. Pada episode satu musim pertamanya saja sudah banyak menyuguhkan
adegan-adegan yang dinilai mengeksploitasi seksualitas remaja perempuan. Misalnya pada
menit ke 28.30, menampilkan salah satu karakter wanita dalam serial Euphoria bertelanjang
dan melakukan adegan ranjang yang mana karakter tersebut memerankan sosok remaja.
Bahkan pada menit ke 33.10, menampilkan karakter lainnya yang melakukan adegan
ranjang dengan seorang pria dewasa secara jelas. Tidak hanya menyuguhkan adegan
berbahaya dan obat-obat terlarang, serial ini juga menampilkan seksualitas remaja
perempuan secara gamblang melalui narasi dan akting para aktrisnya. Faktanya serial ini
dianggap terasa begitu nyata dan relatable karena banyak unsur-unsur yang digarap
berdasarkan pengalaman pribadi sang sutradara yang mengaku dirinya dulu merupakan
seorang pecandu narkoba dan mencoba menuangkan bagaimana kegelisahan, depresi, dan
kecanduannya saat itu dalam cerita ini. Adegan yang menampilkan sang aktris bertelanjang
hingga menunjukkan lekuk tubuh banyak disortoi dalam serial ini. Banyak adegan yang
secara gamblang menunjukan adegan intim yang secara nyata yang menjadikan remaja
perempuan sebagai objek utamanya. Hal ini jelas bertolak belakang dengan bagaimana ahli
dan hukum dalam terkait fokus eksploitasi seksualitas pada remaja.
Secara internasional pengertian tindak pidana eksploitasi seksual adalah pelanggaran
terhadap hak anak yang mendasar dengan menjadikan anak sebagai objek seksual dan
objek komersial. Menurut ECPAT international ada 5 bentuk tindak pidana eksploitasi
seksual anak, yaitu: pelacuran anak, pornografi anak, perdagangan anak untuk tujuan
seksual, pariwisata seks anak dan pernikahan anak. Konvensi PBB untuk Hak Anak (CRC)
telah mewajibkan setiap negara melindungi hak-hak anak. Pasal 34 menuliskan, "Negara-
negara pihak berusaha melindungi anak dari semua bentuk eksploitasi seksual dan
penyalahgunaan seksual." Pasal itu juga termasuk larangan anak untuk melakukan aktivitas
seksual, pelacuran, dan eksploitasi dalam bagian dari pornografi. Terlepas dari kontrovesial
karena ketelanjangan dan seksualnya, serial ini telah menerima ulasan positif , dengan
pujian untuk sinematografi, cerita, skor, penampilan para pemerannya dan pendekatan
terhadap ceritanya.
3
Gambar 1.1 Adegan Dewasa Gambar 1.2 Adegan Dewasa
Berdasarkan latar belakang di atas, perlu adanya penelitian secara mendalam pada
aspek cerita serial ini, guna memahami denotasi, konotasi apa yang akan di sampaikan
melalui pendekatan semiotika Roland Barthes. Sebab dalam industri perfiliman, khususnya
bagi sang sutradara ada pesan atau simbol-simbol yang ingin disampaikan untuk masyarakat
luas, serta menelaah bagaimana eksploitasi seksualitas remaja perempuan dalam serial ini.
4
Ilmu Komunikasi dalam melakukan penelitian dengan tema atau masalah yang
serupa
3. Secara Praktis, hasil ini diharapkan dapat memberikan masukan atau referensi
tambhan bagi peneliti lanjutan yang memiliki kajian yang sama.
5
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
Menurut Burhan Bungin (2006:72) media massa merupakan media komunikasi dan
informasi secara massal dan dapat diakses oleh masyarakat secara massal pula. Seperti
yang dikatakan Lasswell media digunakan oleh komunikator untuk menyampaikan pesan
kepada khalayak, terlebih apabila pesan yang disampaikan oleh komunikator itu akan
disampaikan kepada khalayak yang berjauhan atau dalam jumlah yang banyak.
Dengan demikian, semua pesan yang disampaikan adalah pesan yang dapat diakses
oleh publik. Proses penyampaian pesan melalui media massa biasanya terjadi dalam satu
arah dengan efek yang tidak langsung. Di sisi lain, perkembangan teknologi komunikasi
ternyata membawa dampak yang sangat besar terhadap lahirnya media massa yang baru.
Pada awal 20-an media penyiaran mlai bermunculan di tengah-tengah masyarakat. Televisi,
radio dan internet menjadi bagian yang tidak dapat lagi dipisahkan dari kehidupan manusia.
Hal ini bisa dilihat dari terpaan media massa (baik itu radio, televisi dan internet) yang sangat
tinggi dalam kehidupan masyarakat kita. Dari semua media massa yang ada, terpaan yang
paling tinggi adalah televisi (Darmastuti, 2012:57-58). Dalam segi kegunaannya tentunya
media massa memiliki kelebihan dibandingkan dengan media lain, yaitu ia dapat mengatasi
6
hambatan ruang dan waktu. Bahkan media massa mampu menyebarluaskan pesan hampir
seketika dengan waktu yang tak terbatas. Media massa memiliki peran penting dalam
komunikasi massa. Dengan adanya media massa, masyarakat yang tadinya dapat dikatakan
tidak beradab dapat menjadi beradab. Hal tersebut disebabkan, karena media memiliki
jaringan yang luas dan bersifat missal sehingga masyarakat yang membaca tidak hanya
orang-perorang namun sudah mencakup jumlah puluhan, ratusan, bahkan hingga ribuan
pemirsa, sehingga pengaruh media massa akan sangat terlihat di permukaan masyarakat.
Menurut McQuaile dalam bukunya Mass Communication Theories, terdapat enam prespektif
dalam hal peran media yaitu :
1) Sebagai window on event and experience jendela peristiwa dan pengalaman. Media
dianggap sebagai jendela yang memungkinkan khalayak dapat melihat kejadian apa
yang sedang terjadi di luar sana. Atau sebagai sarana untuk mendapatkan informasi
tentang berbagai peristiwa.
2) Media juga dianggap sebagai cermin bagi peristiwa yang ada di dunia. Oleh
karenanya media bertindak sebagai cerminan yang merefleksikan kejujuran.
3) Media sebagai filter atau gatekepeer. Media senantiasa menyeleksi berbagai hal
yang patut diberi perhatian atau tidak. Disini khalayak “dipilihkan” media mengenai
apa saja yang layak untuk diketahui dan mendapat perhatian.
4) Media seringkali pula dipandang sebagai guide dan penerjemah, dimana media
menerjemahkan dan menunjukkan atas berbagai hal-hal yang membingungkan
menjadi masuk akal.
5) Media sebagai forum untuk mempresentasikan informasi sehingga mendapatkan
umpan balik dari pemirsa.
6) Media tak hanya sekedar tempat berlalu lalangnya informasi. Tetapi juga partner
komunikasi yang berfungsi untuk menjawab pertanyaanpertanyaan atas peristiwa
yang terjadi.
2.2 Film
Menurut James Monaco, kritikus film dan ahli komunikasi massa Amerika Serikat,
dalam bukunya yang berjudul How to Read a Film, menyatakan bahwa “Film secara luas,
yaitu yang direkam dalam media yang tergolong rumpun citra bergerak (moving image).
Rumpun citra bergerak ini meliputi rekaman film yang lazimnya untuk ditayangkan di bioskop,
rekaman pada pita video, piringan laser, serta siaran TV. Salah satu kegunaan film adalah
medium komunikasi massa , yaitu alat penyampai berbagai jenis pesan dalam peradaban
7
modern ini. Dalam penggunaan lain, film menjadi medium apresiasi artistik, yaitu menjadi alat
bagi seniman-seniman film untuk mengutarakan gagasan, ide melalui suatu wawasan
keindahan. Kedua pemanfaatan tersebut secara unik terjalin dalam perangkat teknologi film
yang dari waktu ke waktu makin canggih.
Fungsi dan peranan film adalah menarik perhatian orang terhadap muatan masalah-
masalah yang dikandung. Selain itu, dirancang untuk melayani keperluan publik terbatas
maupun publik yang seluas-luasnya. Dapat juga dianggap sebagai alat hiburan dan
meluangkan waktu. Film dapat juga disebut sebagai media kesenian, yang memiliki fungsi
dan tujuan yang sangat beragam. Film dapat juga menjadi replika kehidupan dan duduk
sama tinggi dengan seni-seni yang lain seperti sastra, teater dan musik. Di dalam suatu
karya seni hal yang terpenting untuk diperhatikan adalah keasliannya. Film yang semakin
memberikan pengembangan atau pembaruan dalam jenisnya, semakin tinggi nilai suatu film,
dalam hal ini berarti juga menyumbangkan semakin banyak terhadap perfilman berarti
semakin unik dan juga semakin asli, semakin original. Keaslian adalah hal yang menjadi batu
ukur utama suatu karya seni. Di mana karya seni adalah ekspresi pribadi penciptanya, jadi
semakin pribadi ekspresinya, semakin pencipta tersebut memberikan “sesuatu” pada
penikmatnya Inilah yang disebut paradoks kesenian. Film adalah gambar bergerak, dibuat
dari serangkaian gambar diam. Ketika diproyeksikan, serangkaian gambar ini akan
membentuk sebuah ilusi pergerakan. Ada beberapa gaya dan pendekatan yang digunakan
untuk memfilmkan, akan tetapi yang diperlukan atau yang utama diperhatikan sebaiknya
adalah shot-shot yang diambil, karena pada akhirnya shot inilah yang akan membangun
dasar-dasar utama film.
Jika gambar yang diambil selama waktu kamera mulai dinyalakan hingga kemudian
kamera dimatikan (shot) adalah dasar utama film, angle yang juga perlu diperhatikan adalah
pengaturan arah kamera pada saat pengambilan gambar. Jika dibutuhkan gambar yang
secara sederhana menampilkan karakter mengatakan “iya”, dibutuhkan pengaturan kamera,
dan beberapa pengaturan dasar dekorasi, membuat rencana penerangan, merekam suara
dan sebagainya. Begitu juga halnya jika membutuhkan gambar karakter yang mengatakan
“tidak”, dibutuhkan perencanaan berbagai hal diatas terlebih dahulu, sebelum mulai
melakukan pengambilan gambar.
Berdasarkan definisi dasar di atas, maka sangatlah penting untuk mulai memikirkan
bahwa setiap pengambilan memiliki suatu tujuan yang mendasari, apakah ingin mengambil
8
gambar yang dramatik atau sebaliknya. Sebuah pengambilan gambar, menunjukkan kepada
penonton sepotong informasi, atau membantu untuk menciptakan atmosfer. Yang tanpanya,
sebuah pertanyaan tidak akan bisa dijawab, atau bahkan diasosiasikan untuk mendapatkan
hasil seperti yang diinginkan. Sebuah pengambilan gambar, tidak harus selalu didiskusikan
seperti sebuah konteks cerita naratif. Sebuah pengambilan gambar seperti di dalam video
klip contohnya, setiap potongannya memiliki sesuatu, berkaitan dengan tujuan dan isinya,
setiap kehadiran potongan gambarnya akan membawa hasil yang diinginkan.
9
harus menghadapi pertanyaan yang berhubungan dengan kamera sebagai dasar untuk
pokok materi dan sekitarnya. Yang terpenting dari semuanya adalah memiliki strategi yang
sesuai, akan tetapi setiap rencana harus datang dari pembuat film, yang mengetahui material
yang ada dan bagaimana menampilkan efek dramatis. Dan bagaimanapun juga tujuan dari
pengambilan gambar adalah bagaimana penangkapan penonton dari gambar-gambar yang
telah disatukan tersebut. Selain itu dari seluruh proses yang ada, informasi yang
disampaikan haruslah relevan hingga akhir dari film tersebut.
Dari penjelasan di atas, dapat diketahui bahwa membuat film adalah suatu kerja
kolaboratif. Sebuah film dihasilkan oleh kerjasama berbagai macam variabel yang saling
mendukung. Dalam kalimat seorang Ernest Lindgren, “Produksi film yang normal
membutuhkan kooperasi banyak ahli dan teknisi, yang bekerja bersama sebagai satu tim,
sebagai satu unit produksi. Tim kerja ini terbagi dalam departemen-departemen seperti
berikut ini :
Diantara berbagai variabel itu terdapatlah skenario, suatu variabel yang penting, karena
secara prosedural merupakan bagian dari tahap pembuatan sebuah film yang paling awal.
“Langkah pertama seorang produser dalam membuat film adalah mencari cerita yang layak,”
Jadi kesuksesan sebuah film tak lepas dari pemilihan tema yang menarik.
Arti streaming adalah sebuah teknologi pengiriman data baik video, maupun audio
dalam bentuk yang sudah dikompresi lewat jaringan internet. Data tersebut ditampilkan pada
aplikasi player secara realtime. Kita sebagai pengguna membutuhkan aplikasi tersebut untuk
melakukan dekompresi agar data yang telah dikirim dapat tampil ke layar monitor perangkat
milik kita. Aplikasi tersebut dapat berupa bagian dari browser maupun software. Karena
dilakukan secara realtime saat itu juga, maka pengguna tidak perlu melakukan pengunduhan
yang harus disimpan secara lokal di ponsel atau PC. Kita dapat menonton video atau musik
10
tersebut secara terus-menerus tanpa harus download, sehingga tidak membuat penuh
memori perangkat. Biasanya video atau audio akan dibuat terlebih dulu kemudian baru di
upload ke aplikasi atau situs streaming tersebut. Namun, biasanya beberapa aplikasi dan
situs juga menyediakan fitur untuk mengunduh video tersebut agar bisa dinikmati secara
offline.
Menurut [Link] streaming dibagi menjadi dua jenis, yaitu live streaming dan
prerecord streaming.
1. Live Streaming
Jenis pertama adalah live streaming, kamu juga pasti sudah tidak asing dengan
streaming jenis ini atau bahkan sering melakukannya. Live streaming adalah kegiatan siaran
langsung, artinya pemilik konten atau para content creator melakukan kegiatan sekaligus
merekamnya saat itu juga dan disiarkan pada media yang digunakan. Setiap detiknya
penonton dapat melihat apa saja yang dilakukan oleh pemilik konten tersebut. Dengan begitu
penonton juga dapat berinteraksi langsung, sehingga dapat membantu engagement media
sosial semakin naik.
2. Prerecord Streaming
Apa itu streaming prerecord? Berbeda dengan sebelumnya, jika live streaming dilakukan
secara langsung maka prerecord streaming adalah siaran yang dilakukan dengan cara membuat
videonya terlebih dahulu. Pemilik konten membuat konten berupa video atau audio kemudian
disimpan lalu baru di-upload pada media sosial yang digunakan. Setelah itu, barulah pengguna
bisa mulai menontonnya.
Pengguna layanan streaming dapat menikmati konten-konten yang diinginkan pada aplikasi
dan platfrom resmi yang tersedia antara lain :
1) Youtube
Aplikasi pertama adalah Youtube, hampir semua orang pasti sudah pernah
menggunakan aplikasi video ini. Kita bisa menonton berbagai video atau mendengarkan
musik di sana, selain itu para penggunanya juga bisa mengunduh agar bisa diputar
secara offline. Saat ini Youtube sudah memiliki fitur live streaming. Sehingga kita bisa
menonton live Youtuber favorit, baik live stream video game, musik, podcast, dan masih
banyak lagi.
11
2) Vidio
Aplikasi selanjutnya adalah Vidio, awalnya aplikasi ini hanya menyediakan konten dari
SCTV, Indosiar, dan pengguna Vidio saja. Tetapi sejak 2015 lalu, aplikasi Vidio dapat
digunakan untuk live streaming serta streaming berbagai film. Pengguna bisa
mengaksesnya secara gratis maupun premium. Jika berlangganan tentu kits akan
mendapat lebih banyak fasilitas. Ada beragam live streaming yang bisa ditonton mulai
dari berita, konser, radio baik lokal maupun luar negeri.
3) Netflix
Berikutnya terdapat aplikasi streaming Netflix yang menyediakan beragam layanan
streaming yang legal serta original. Terdapat banyak film yang bisa penggunanya tonton,
mulai dari film dan series lokal hingga luar negeri seperti drama Korea, atau film Asia
lainnya. Selain itu, pengguna juga dapat mengunduhnya terlebih dulu apabila ingin
menikmati secara offline nantinya. Untuk mendapatkan semua akses ke film-film favori,
pengguna dipastikan sudah memiliki akun dan berlangganan setiap bulannya.
4) Viu
Aplikasi streaming terakhir yaitu Viu, aplikasi ini juga tidak kalah populer dari Netflix,
karena menayangkan berbagai film, drama dari berbagai negara, serta acara reality show
yang tidak ditayangkan di Indonesia. Pengguna dapat mengaksesnya lewat situs ataupun
langsung mengunduhnya via PlayStore atau AppStore. Sama seperti aplikasi live stream
lainnya, Viu juga menyediakan yang gratis dan berbayar.
Di era yang serba online ini, adanya teknologi streaming banyak membantu para pihak.
Streaming dapat membantu proses publikasi dan penyiaran lebih efektif, selain karena
menghemat waktu, hal ini juga dapat membantu para penonton merasa lebih dekat dengan
pembuat konten. Meskipun terkadang dianggap menghabiskan banyak paket data, namun cara
ini masih banyak dipilih karena penonton tidak perlu repot menunggu proses pengunduhan yang
nantinya justru memakan memori perangkat. Fitur ini sudah berhasil membantu banyak pihak,
diantaranya yang bisa kita lihat adalah pada industri e-sport yang akan menyiarkan secara
langsung turnamennya. Dengan melakukan siaran langsung, mereka bisa mendapat penonton
yang banyak dalam waktu yang relatif cepat. Atau para tokoh publik yang ingin menyiarkan
kegiatannya secara langsung pada para pengikutnya.
12
Untuk dapat melakukan sebuah proses streaming, dibutuhkan sistem jaringan yang
dapat menghubungkan penggunanya secara real time. Sistem ini yang kita sebut dengan
[Link] adalah sistem global dari seluruh jaringan komputer yang saling terhubung
menggunakan standar Internet Protocol Suite. Selain komputer, saat ini internet juga bisa
menghubungkan berbagai macam gawai dan melayani miliaran pengguna di seluruh dunia.
Kehidupan manusia modern tidak bisa dilepaskan dengan jaringan internet. Sebab, internet
adalah suatu sistem jaringan yang dapat menghubungkan satu perangkat ke perangkat lainnya.
Kehidupan manusia modern tidak bisa dilepaskan dengan jaringan internet. Sebab, internet
adalah suatu sistem jaringan yang dapat menghubungkan satu perangkat ke perangkat lainnya.
Internet adalah sistem global dari seluruh jaringan komputer yang saling terhubung
menggunakan standar Internet Protocol Suite. Selain komputer, saat ini internet juga bisa
menghubungkan berbagai macam gawai dan melayani miliaran pengguna di seluruh dunia.
Keberadaan internet memungkinkan seseorang dapat mencari informasi yang dia inginkan.
Misalnya mencari berita terbaru atau mengakses layanan streaming untuk menonton serial
drama favoritnya. Hal tersebut berkaitan juga dengan pengertian internet adalah sebuah jaringan
komunikasi global yang terbuka. Internet adalah salah satu bukti dari kecanggihan teknologi.
Internet bisa memberikan dampak positif ataupun negatif tergantung pada penggunanya.
Internet sudah menjadi komponen utama yang menyokong aktivitas masyarakat modern
sekarang.
Secara harfiah pengertian internet adalah kumpulan komputer di seluruh dunia yang
terhubung ke dalam sebuah jaringan. Internet bisa dianalogikan sebagai perpustakaan besar
yang memuat beragam macam informasi yang dibutuhkan masyarakat. Dalam Kamus Besar
Bahasa Indonesia (KBBI), internet adalah jaringan komunikasi elektronik yang menghubungkan
jaringan komputer dengan fasilitas komputer di seluruh dunia. Jaringan ini tersusun dan
terorganisir melalui telepon atau satelit. Sementara itu, menurut tokoh dan pakar di bidang
teknologi informasi Onno W. Purbo, internet adalah media yang memungkinkan sebuah proses
komunikasi yang bisa berjalan secara efisien dengan tersambungnya perangkat ke beragam
aplikasi.
Menurut Allan, dikutip dari platform pendidikan dan pelajaran [Link], internet
adalah sebuah jaringan komputer yang mempunyai kemampuan membaca sekaligus
menguraikan Internet Protocol (IP) dan Transmission Control Protocol (TCP). Pendapat lain
mengemukakan kalau internet adalah bagian dari jaringan komputer. Merujuk dari buku Cara
MudahMembangun Jaringan Komputer & Internet, jaringan komputer merupakan sebuah sistem
13
yang terdiri atas komponen, perangkat, dan jaringan lainnya yang bekerjasama untuk tujuan
yang sama. Contoh kecilnya yaitu saat sebuah komputer bisa terhubung dengan perangkat
elektronik lainnya secara bersamaan seperti printer, mesin fotokopi, dan lain sebagainya. Dalam
buku Teknologi Informasi dan Komunikasi (2017) yang diterbitkan oleh Kemendikbud, istilah
internet adalah berasal dari bahasa Latin inter, yang berarti “antara”. Jika dilihat dari kata per
kata, pengertian internet adalah sebuah jaringan antara atau penghubung. Definisi
sederhananya, internet merupakan jaringan berjuta-juta komputer di seluruh dunia, terkoneksi
menggunakan protokol TCP/IP. Internet menyediakan segala informasi. Semuanya bisa diakses
oleh setiap orang. Bentuknya berupa tulisan, gambar, serta format multimedia lainnya.
Keberadaan internet juga tidak bisa dilepaskan dengan perkembangan sejarah komputer.
Sebab, dari komputer generasi pertama sampai sekarang, semua komponen mesinnya
menginspirasi lahirnya internet. Dari semua penjelasan di atas bisa disimpulkan kalau internet
adalah sebuah jaringan yang menghubungkan perangkat komputer ke seluruh dunia. Di
dalamnya, para pengguna bisa mencari informasi tentang berbagai hal yang dia inginkan.
Dikutip dari [Link], Internet adalah jaringan elektronik yang memiliki berbagai
kegunaan dan manfaat untuk kehidupan masyarakat modern. Berikut sejumlah manfaat yang
bisa diambil dari adanya jaringan internet:
1. Sumber Informasi
Manfaat internet adalah dapat menyediakan beragam informasi yang dibutuhkan oleh
semua orang. Hal ini bisa terjadi karena internet menghubungkan sejumlah perangkat
di dunia yang mendukung untuk terjadinya pertukaran data serta informasi.
Seseorang dapat memperoleh informasi dengan berselancar di internet. Dia hanya
perlu memasukan kata kunci di mesin pencari agar mendapatkan informasi tersebut.
2. Hiburan
Internet adalah jaringan komputer yang bisa digunakan sebagai sarana hiburan.
Jaringan ini mendukung berbagai macam bentuk file mulai dari tulisan, foto, video,
hingga audio untuk diunggah dan dibagikan.
14
kegiatan ekonomi. Contohnya seperti kehadiran e-commerce yang memudahkan
penggunanya untuk mencari dan membeli barang yang dia inginkan. Kemudian ada
pula para konten kreator yang bisa memonetisasi serta meraup keuntungan besar
dari berbagai platform media sosial.
15
Adapun istilah-istilah yang berkaitan dengan gendersebagaimana yang disampaikan
dalam materi Workshop oleh TimGender Direktorat SMP adalah sebagai berikut:
1) Pengarusutamaan Gender
2) Kesetaraan Gender
Akses
Partisipasi
Kontrol
16
Kontrol adalah penguasaan atau wewenang atau kekuatanuntuk mengambil keputusan.
Dalam hal ini apakah pemegangjabatan sekolah sebagai pengambil keputusan didominasi
olehgender tertentu atau tidak.
Manfaat
Manfaat adalah kegunaan yang dapat dinikmati secaraoptimal. Keputusan yang diambil oleh
sekolah memberikanmanfaat yang adil dan setara bagi perempuan dan laki-laki atau tidak.
3) Keadilan Gender
Keadilan gender adalah suatu proses dan perlakuan adil terhadapperempuan dan laki-laki.
Dengan keadilan gender berarti tidak adapembakuan peran, beban ganda, subordinasi,
marginalisasi dankekerasan terhadap perempuan maupun laki-laki.
4) Kesenjangan Gender
Dikatakan terjadi kesenjangan gender apabila salah satu jeniskelamin berada dalam keadaan
tertinggal dibandingkan jenis kelaminlainnya (L>P atau L<P).
Seks adalah perbedaan badani atau biologis perempuan dan laki-laki, yang sering
disebut jenis kelamin (Ing: sex). Sedangkan seksualitas menyangkut berbagai dimensi yang
sangat luas, yaitu dimensi biologis, sosial, psikologis, dan kultural. Seksualitas dari segi
dimensi biologis berkaitan dengan organ reproduksi dan alat kelamin, termasuk bagaimana
menjaga kesehatan dan memfungsikan secara optimal organ reproduksi dan dorongan
seksual, seksualitas dari segi dimensi psikologis erat kaitannya dengan bagaimana
menjalankan fungsi sebagai makhluk seksual, identitas peran atau jenis, serta bagaimana
dinamika aspek-aspek psikologis (kognisi, emosi, motivasi, perilaku) terhadap seksualitas itu
sendiri, dari segi dimensi sosial,seksualitas dilihat pada bagaimana seksualitas muncul
dalam hubungan antar manusia, bagaimana pengaruh lingkungan dalam membentuk
pandangan tentang seksualitas yang akhirnya membentuk perilaku seksual, sedangkan dari
dimensi kultural menunjukkan perilaku seks menjadi bagian dari budaya yang ada di
masyarakat. Seksualitas bukan tentang dengan siapa seseorang berhubungan seks atau
seberapa sering [Link] adalah tentang perasaan, pikiran, ketertarikan, dan
17
perilaku seksual terhadap orang [Link] seseorang dapat melihat pasangannya menarik
secara fisik, seksual atau emosional. Maka itulah bagian dari rasa seksualitas. Rasa ini
beragam dan bersifat pribadi. Akan tetapi, inilah bagian penting dari seseorang.
Meskipun ada istilah umum untuk menggambarkan berbagai jenis seksualitas, seseorang
tidak perlu menggunakan label untuk mendeskripsikan dirinya masing-masing.
2. Biseksual
Seksualitas bisa lebih rumit daripada menjadi heteroseksual atau [Link]
orang tertarik pada pria dan wanita, dan dikenal sebagai [Link] tidak
berarti ketertarikan itu berbobot sama atau di mana seseorang mungkin memiliki
perasaan yang lebih kuat untuk satu jenis kelamin daripada yang [Link] dapat
bervariasi tergantung pada siapa mereka bertemu. Ada berbagai jenis
[Link] orang yang tertarik pada pria dan wanita masih menganggap
diri mereka sebagai heteroseksual atau [Link] mungkin memiliki perasaan
seksualitas terhadap kedua jenis kelamin, tetapi hanya melakukan hubungan dengan
satu jenis [Link] lain melihat ketertarikan seksual lebih abu-abu daripada
hitam dan [Link], karena ada banyak perbedaan antara individu, kata
biseksualitas adalah istilah umum saja.
3. Aseksual
Seseorang yang diidentifikasi sebagai aseksual (ace) adalah seseorang yang tidak
mengalami, atau mengalami sangat sedikit, ketertarikan [Link]
18
penjelasannya? Aseksualitas bukan sebuah pilihan seperti pantang atau rasa di
mana seseorang memilih untuk tidak berhubungan seks dengan siapa pun, baik
memiliki ketertarikan atau tidak. Sama seperti homoseksualitas atau
heteroseksualitas, aseksual adalah orientasi seks [Link] mungkin
mengidentifikasi diri sebagai aseksual, kecuali untuk beberapa pengalaman
ketertarikan seksual yang jarang (aseksualitas abu-abu).Beberapa lainmerasakan
seksualitas hanya setelah mereka mengembangkan ikatan emosional yang kuat
dengan [Link] ini dikenal dengan demiseksualitas.
Perkembangan seksualitas diawali dari masa pranatal dan bayi, kanak-kanak, masa
pubertas, masa dewasa muda dan pertengahan umur, serta dewasa.
2. Masa Kanak-kanak
Masa ini dibagi dalam usia balita, prasekolah, dan [Link] seksual pada
masa ini diawali secara biologis atau fisik, sedangkan perkembangan psikoseksual pada
masa ini terbagi menjadi dua, yaitu tahap phalik dan tahap laten.
3. Masa Pubertas
Pada masa ini sudah terjadi kematangan fisik dari aspek seksual dan akan terjadi
kematangan secara [Link] perubahan secara psikologis ini ditandai
dengan adanya perubahan citra tubuh,, serta perhatian yang cukup besar terhadap:
1) Perubahan fungsi tubuh
2) Pembelajaran tentang perilaku
3) Kondisi sosial
4) Perubahan lain, seperti perubahan berat badan, tinggi badan, perkembangan
otot, bulu di pubis, buah dada, atau menstruasi bagi wanita.
4. Masa Pubertas
19
Pada tahap ini perkembangan secara fisik sudah cukup matang dan ciri seks sekunder
telah mencapai puncaknya, yaitu antara umur 18-30 [Link] masa pertengahan usia
terjadi perubahan hormonal, pada wanita ditandai dengan penurunan esterogen,
pengecilan payudara dan jaringan vagina, penurunan cairan [Link] pria ditandai
dengan penurunan ukuran penis serta penurunan [Link] perkembangan
psikososial, sudah mulai terjadi hubungan intim antara lawan jenis, proses pernikahan
dan memiliki anak, sehingga terjadi perubahan peran.
Menurut Ratna Batara Munti (Suara Apik, edisi 12 tahun 2000), seksualitas
ditabukan sebagai bahan pembicaraan publik bukan semata-mata karena ia membicarakan
hal-hal yang sangat pribadi, tetapi terutama karena pembicaraan mengenai seksualitas
dapat menyadarkan orang tentang konstruksi sosial seksualitas yang diskriminatif,
20
seksploitatif dan oppressif. Celakanya, seksualitas hanya dipahami sebagai isu biologis dan
hubungan seks semata; hubungan seks yang dimaksudkan pun direduksi lagi menjadi
hanya pada hubungan badan antara laki-laki dan perempuan (heteroseksual). Padahal,
seksualitas jauh lebih luas dari sekadar persoalan biologis, apalagi hanya urusan hubungan
badan. Seksualitas mencakup selurus kompleksitas emosi, perasaan, kepribadian, sikap
dan bahkan watak sosial, berkaitan dengan perilaku dan orientasi atau preferensi seksual
(Munti, 2000). Akibat tabu itulah, pemahaman seksualitas mengalami reduksi bahkan
distorsi. Bisa dipahami jika wacana seksualitas selama ini tidak paralel dengan
perkembangan seksualitas sendiri yang terus berkembang.
Ada dua pendekatan yang selama ini dipakai untuk memahami seksualitas. Julia I
Suryakusuma (Prisma, Juli 1991) menyebut pendekatan esensialis dan non-esensialis.
Pendekatan esensialis, menurut Suryakusuma, mereduksi seksualitas sekadar dorongan
alamiah-biologis yang hadir sebelum adanya kehidupan sosial. Seksualitas dikonsepsikan
sebagai kekuatan instinktif (naluriah) yang menggerakkan dan menguasai individu dalam
kehidupan pribadi maupun sosial. Jika kekuatan ini tidak disalurkan ke dalam ekspresi
seksual yang langsung, maka ia akan muncul sebagai kelainan kejiwaan atau neurosis.
Selain itu, seksualitas juga dianggap sebagai dorongan yang sifatnya maskulin dan
heteroseksual. Sedangkan pendekatan non-esensialis beranggapan bahwa pemahaman
seksualitas tidak dapat direduksi ke dalam dorongan naluriah yang ada sejak lahir. Mengutip
J.H Gagnon dan William Simon, Suryakusuma mengatakan, seksualitas dipengaruhi oleh
suatu proses pembentukan sosial budaya yang melampaui aspek-aspek pembentukan lain
dari perilaku manusia. Pendekatan ini beranggapan bahwa seksualitas adalah hasil bentukan
(konstruksi) sosial budaya. Definisi “normal” dan “abnormal”, menurut Suryakusuma,
merupakan pendefinisian sosial, seperti halnya “homoseksual”, “banci”, “wadam”, dan lain-
lain yang semuanya merupakan mekanisme kontrol. Pendefinisian ini, lanjut Suryakusuma,
senada dengan mekanisme kontrol terhadap orang-orang yang dicap “nakal”, “berdosa”,
“pezinah”, “gila”, “sakit”, “patologis”, yang semuanya bisa diatur dan dihukum menurut norma
sosial yang berlaku dan menurut siapa yang berkuasa pada suatu kurun waktu.
Dalam setiap budaya, seksualitas manusia diarahkan dan bahkan kadang diberi
struktur yang sangat kaku. Kultus keperawanan, konsep aurat, perkawinan, paham-paham
kepantasan pergaulan pria dan wanita, larangan terhadap seks di luar nikah, incest dan
homoseksualitas semuanya merupakan regulasi seksualitas. Bahkan ada budaya yang
melakukan pemotongan secara fisik seperti clitoridectomy dan infibulasi untuk
21
mengendalikan seksualitas perempuan yang dianggap berbahaya. Dalam tatanan
masyarakat partiarkis, konstruksi sosial budaya atas seksualitas digunakan sebagai alat
untuk mempertahankan kekuasaan dan dominasi laki-laki atas perempuan. Dominasi ini
terlihat dari sikap masyarakat yang menempatkan seksualitas perempuan tak lebih sebagai
pemuas hasrat seksual laki-laki di satu sisi dan alat untuk melanjutkan keturunan di sisi lain.
Perempuan seolah-olah tidak memiliki kedaulatan terhadap seksualitasnya sendiri.
Pendekatan kedua ini dijadikan perspektif oleh kalangan aktivis perempuan untuk
membongkar akar masalah penindasan perempuan, khususnya dalam masalah seksual.
Sebab, dengan perspektif kritis inilah, masalah seksualitas perempuan diletakkan tidak
dalam posisi pasif dan hanya sebagai subordinat laki-laki, tetapi lebih diposisikan sebagai
subyek yang aktif dan punya hak yang sama dengan laki-laki dalam masalah seksualitas.
Ada tiga istilah yang penggunaannya hampir sama dan bahkan kadang tumpang
tindih, yakni seks, gender dan seksualitas. Ketiga istilah ini memang memiliki beberapa
kesamaan. Dan kesamaan yang paling menonjol adalah bahwa ketiganya membicarakan
mengenai “jenis kelamin”. Perbedaannya adalah pada titik tekan masing-masing istilah
tersebut. Seks lebih ditekankan pada keadaan anatomis manusia yang kemudian memberi
“identitas” kepada yang bersangkutan. Seseorang yang memiliki anatomi penis disebut laki-
laki. Sedangkan orang yang memiliki anatomi vagina disebut perempuan. Karena
penekanannya lebih pada hal-hal yang bersifat anatomis, maka seks kemudian sering
dimaknai sempit sebagai hubungan badan antara laki-laki dan perempuan. Berbeda dengan
seks yang menekankan aspek fisik dan anatomis, gender lebih ditekankan pada aspek
sosial. Jika seks adalah jenis kelamin fisik, maka gender adalah “jenis kelamin sosial” yang
identifikasinya bukan karena secara kodrati sudah given (takdir Tuhan), tetapi lebih karena
konstruksi sosial. Satpam dan sekretaris adalah dua contoh ekstrim mengenai gender. Posisi
satpam yang selalu diisi oleh laki-laki telah memberikan semacam jenis kelamin kepada
posisi tersebut. Seolah-olah jenis kelamin satpam adalah laki-laki. Padahal tidak semua
satpam laki-laki. Demikian juga dengan sekretaris yang diidentikkan dengan perempuan.
Jabatan ini seolah-olah berjenis kelamin perempuan, bukan karena jabatan sekretaris
memang “ditakdirkan” berjenis kelamin perempuan, tetapi lebih karena masyarakatlah yang
“membentuk” jenis kelamin tersebut. Berbeda dengan seks dan gender, seksualitas lebih
luas lagi maknanya. Ia mencakup tidak hanya seks, tapi bahkan kadang juga gender.
Perbedaan penting antara seksualits dengan seks dan gender terletak pada orientasinya.
Jika seks berorientasi fisik-anatomis dan gender berorientasi sosial, maka seksualitas adalah
kompleksitas dari dua jenis orientasi sebelumnya, mulai dari fisik, emosi, sikap, bahkan
22
moral dan norma-norma sosial. Jika seks mendefinisikan jenis kelamin fisik hanya pada
“jenis” laki-laki dan perempuan dengan pendekatan anatomis, maka seksualitas berbicara
lebih jauh lagi, yakni adanya bentuk-bentuk lain di luar itu.
Norma-norma sosial kita memang menghendaki bahwa emosi, perilaku dan orientasi
sesual seseorang harus sama dengan jenis kelaminnya. Jika laki-laki, maka harus
berpasangan dengan perempuan, demikian juga sebaliknya. Inilah yang disebut norma
heteroseksual. Namun, dalam kenyataannya, yang berlaku di masyarakat tidak hanya norma
heteroseksual. Seseorang yang secara fisik-anatomis laki-laki belum tentu memiliki emosi,
perilaku dan orientasi seksual sebagai laki-laki. Bisa jadi emosi, perilaku dan orientasi
seksualnya justru perempuan, meski jenis kelamin fisiknya laki-laki. Inilah yang disebut
homoseksual. Demikian juga dengan orang yang secara fisik-anatomis murni perempuan,
bisa jadi emosi, perilaku dan orientasi seksualnya justru bertolak belakang dengan jenis
kelamin tubuhnya yang perempuan. Kondisi ini sering disebut dengan istilah lesbian. Atau
bisa juga seseorang secara fisik berjenis kelamin laki-laki atau perempuan, tetapi emosi,
perilaku dan orientasi seksualnya justru bisa dua-duanya, bisa heteroseksual, tapi juga bisa
homo maupun lesbian. Bahkan ada juga yang sama sekali tidak memiliki orientasi seksual
yang sering disebut dengan istilah “a-seksual” seperti yang terjadi pada biarawan-biarawati,
pastur, pendeta maupun nikouw (pendeta wanita Budha). Pembicaraan mengenai
seksualitas di dalam masyarakat selama ini memang tidak mengalami perkembangan yang
berarti, karena masalah di seputar seksualitas telah ditabukan sedemikian rupa, sehingga
masalah seksualitas yang terus berkembang tidak sebanding dengan upaya memahaminya
secara lebih lengkap dan konprehensif yang stagnan akibat tradisi tabu tersebut.
23
abnormal”. Perilaku seksual yang sebelumnya diatur sedemikian rupa supaya mengikuti
norma heteroseksualitas pada akhirnya tidak mampu membendung berbagai kecenderungan
orientasi seksual yang sebelumnya tidak pernah terbayangkan, mulai dari
lesbian/homoseksual, biseksual, sodomasochisme, aseksual atau selibat (tidak melakukan
hubungan seks) sampai pada kecenderungan penggunaan binatang sebagai media
pelampiasan hasrat seksual manusia. Ironisnya, berbagai kecenderungan orientasi seksual
tersebut, seringkali bukannya berusaha dipahami, tetapi justru dinafikan, dianggap kelainan,
dihujat, dihina bahkan dinistakan. Problem seksualitas pada akhirnya bukan cuma
bagaimana menghindari dampak-dampak negatif dari beragam kecenderungan orientasi
seksual tersebut, tetapi juga bagaimana memahami dan melihat mereka sebagai fakta sosial
yang perlu mendapat perhatian sebagaimana layaknya manusia.(Gus).
Rumusan definisi di atas terlihat jelas bahwa eksploitasi seksual anak tidak hanya
menjadi sebuah obyek seks tetapi juga sebagai sebuah komoditas. Adanya unsur
‘keuntungan’ dalam eksploitasi anak inilah yang membedakan antara eksploitasi seksual
anak dengan kekerasan seksual anak, karena dalam kekerasan seksual anak tidak ada
24
unsur keuntungan meskipun keduanya sama-sama menunjuk pada tindakan seksual anak.
Dalam kaitannya kekerasan seksual terhadap anak, definisi atas perbuatan ini adalah
hubungan atau interaksi antara seorang anak dengan seseorang yang lebih tua atau dewasa
seperti: orang asing, saudara kandung, atau orang tua, dimana anak tersebut diperlakukan
sebagai sebuah objek pemuas bagi kebutuhan seksual si pelaku. Perbuatan ini biasanya
diikuti dengan perbuatan lain berupa: paksaan, ancaman, suap, tipuan atau tekanan. Perlu
diketahui bahwa kekerasan seksual tidak mensyaratkan kontak badan antara pelaku dengan
anak tersebut, karena tindakan seperti ekshibisme atau voyeurism (seperti: orang dewasa
menonton atau merekam seorang anak sedang telanjang atau menuyuruh atau memaksa
anak-anak untuk melakukan kegiatan-kegiatan seksual dengan orang lain) (ECPAT
International, 2004). Celakanya, biasanya perbuatan ini dilakukan oleh pelaku yang dikenal
atau dipercaya oleh si anak (korban). Dalam kepustakaan hukum nasional, tindak pidana
eksploitasi seksual anak merupakan konsep yang belum banyak dibahas khususnya dalam
lingkup hukum pidana. Undang-undang Perlindungan Anak (UU No. 23/2002 yang direvisi
melalui UU No. 35/2014) hanya menyebut dua pasal tentang larangan melakukan eksploitasi
seksual dan eksploitasi ekonomi pada anak yaitu pasal 76 huruf I dan pasal pasal 88 dengan
ancaman hukuman penjara maksimum 10 tahun dan atau denda paling banyak 200 juta
rupiah. Namun sayangnya undang-undang ini tidak memberikan penjelasan yang rinci
tentang konseps tindak eksploitasi seksual.
Di Amerika Serikat tindak pidana eksploitasi seksual sudah menjadi satu konsep
dalam tindak pidana yang diatur dalam The Protect Act, 2003 (Tracy Agyemang, 2004).
Menariknya, undang-undang perlindungan anak tersebut memiliki jangkauan perlindungan
anak di dalam dan di luar negeri. Bentuk eksploitasi seksual yang dimaksudkan dalam The
Protect Act, 2003 meliputi: prostitusi anak, pornografi anak dan pariwisata seks anak. Selain
Amerika Serikat, beberapa negara di Asia yang sudah memiliki undang-undang perlindungan
seksual anak yang lebih baik dari Indonesia adalah Philipina yang sejak tahun 1991 telah
telah memiliki undang-undang eksploitasi seksual anak. Meski, eksploitasi seksual anak
masih dibatasi pada bentuk prostitusi anak (lihat: Republic of Philipines, Congres of
Phiipines, Metro Manila, Republic Act 7610, 21 Juli 1991). Sementara itu, negara lain di Asia
yang sudah memiliki undang-undang perlindungan seksual anak adalah Thailand sejak tahun
1996 telah memiliki “the Prevention and Suppresion for Prostitution Act 1996” (the “Act
1996”). Adapun undang-undang perlindungan anak di Thailand memberikan sanksi pidana
(kurungan dan denda) kepada siapa pun mengambil manfaat dari prostitusi anak atau
membeli seks pada anak-anak yang belum berusia 18 tahun. Dalam Rancangan Kitab
25
Undang-Undang Hukum Pidana (R-KUHP), tindak pidana eksploitasi seksual anak tidak
didefinisikan secara khusus sehingga secara konseptual tidak ada pemaknaan atas tindak
pidana ini. Oleh sebab itu, pemaknaan tindak pidana eksoloitasi seksual anak akan
dikembalikan kepada doktrin. Selain merujuk pada doktrin, maka penting juga merujuk pada
instrumen-instrumen hukum internasional yang lebih dahulu mendefinisikannya seperti
Deklarasi Stockholm, atau Protocol Optional tentang Sale of Children, Child Prostitution and
Child Pornography yang sudah diratifikasi oleh Indonesia melalui Undang-Undang No. 10
Tahun 2012. Selain itu, lembaga internasional yang khusus memberikan perhatian pada
masalah eksploitasi juga sering kali dijadikan rujukan sebagai alternatif, seperti: ECPAT
Internasional. Lembaga seperti ECPAT biasanya secara konsisten melakukan penelitian dan
menerbitkan sejumlah literatur yang membahas secara khusus tindak pidana eksploitasi
anak.
Semiotika adalah sebuah disiplin ilmu dan metode analisis yang dapat mengkaji
tanda-tanda yang terdapat pada suatu objek untuk diketahui makna yang terkandung dalam
objek tersebut. SEMIOTIKA berasal dari bahasa Yunani “Semeion”, yang berarti tanda.
Semiotika adalah ilmu yang mempelajari tanda (sign). Dalam pandangan Zoest, segala
sesuatu yang dapat diamati atau dibuat teramati dapat disebut tanda. Dan tanda tidak
terbatas pada benda (Zoest, 1993:18).Kata semiotika diturunkan dari bahasa Inggris, yaitu
semiotics. Nama lain semiotika adalah [Link] memiliki arti yang sama, yaitu
sebagai ilmu tentang tanda. Baik semiotika atau semiology berasal dari bahasa Yunani, yaitu
semeion, yang berarti tanda. Secara terminologis, semiotik dapat didefinisikan sebagai ilmu
yang mempelajari sederetan luas objek-objek, peristiwa-peristiwa seluruh kebudayaan
sebagai tanda (Sobur, 2001).Semiotik terdiri atas sekumpulan teori tentang bagaimana
tanda-tanda memrepresentasikan benda, ide, keadaan, situasi, perasaan, kondisi diluar
tanda-tanda itu sendiri. Semiotik menjadi salah satu kajian yang bahkan menjadi tradisi
dalam teori komunikasi. Tradisi semiotik terdiri atas sekumpulan teori tentang bagaimana
tanda-tanda merepresentasikan benda, ide, keadaan, situasi, perasaan dan kondisi di luar
tanda-tanda itu sendiri. Menurut Littlejohn, (2009: 53) dalam bukunya Teori Komunikasi
Theories of Human Communication edisi 9, Semiotik bertujuan untuk mengetahui makna-
makna yang terkandung dalam sebuah tanda atau menafsirkan makna tersebut sehingga
diketahui bagaimana komunikator mengkonstruksi pesan.
26
Semiotika dalam kajian ilmu komunikasi tentunya juga didefenisikan oleh para ahli di
bidangnya yakni antara lain :
1) Berger
Menurut Berger, semiotika memiliki dua tokoh, yakni Ferdinand de Saussure (1857-
1913) dan Charles Sander Peirce (1839-1914). Kedua tokoh tersebut
mengembangkan ilmu semiotika secara terpisah dan tidak mengenal satu sama lain.
Saussure di Eropa dan Peirce di Amerika Serikat. Latar belakang keilmuan adalah
linguistik, sedangkan Peirce filsafat. Saussure menyebut ilmu yang dikembangkannya
semiologi (semiology). Semiologi menurut Saussure seperti dikutip Hidayat,
didasarkan pada anggapan bahwa selama perbuatan dan tingkah laku manusia
membawa makna atau selama berfungsi sebagai tanda, harus ada di belakangnya
sistem perbedaan dan konvensi yang memungkinkan makna itu. Di mana ada tanda
di sana ada sistem (Hidayat, 1998:26).
2) Peirce
Sedangkan Peirce menyebut ilmu yang dibangunnya semiotika (semiotics). Bagi
Peirce yang ahli filsafat dan logika, penalaran manusia senantiasa dilakukan lewat
tanda. Artinya, manusia hanya dapat bernalar lewat [Link] pikirannya, logika
sama dengan semiotika dan semiotika dapat ditetapkan pada segala macam tanda
(Berger, 2000:11-22). Dalam perkembangan selanjutnya, istilah semiotika lebih
populer daripada semiologi. Semiotika adalah ilmu yang mempelajari tentang tanda
(sign), berfungsi tanda, dan produksi makna. Tanda adalah sesuatu yang bagi
seseorang berarti sesuatu yang lain.
3) Zoest
Dalam pandangan Zoest, segala sesuatu yang dapat diamati atau dibuat teramati
dapat disebut tanda. Karena itu, tanda tidaklah terbatas pada benda. Adanya
peristiwa, tidak adanya peristiwa, struktur yang ditemukan adalah sesuatu, suatu
kebiasaan, semua ini dapat disebut [Link] bendera kecil, sebuah isyarat
tangan, sebuah kata, suatu keheningan, suatu kebiasaan makan, sebuah gejala
mode, suatu gerak syaraf, peristiwa memerahnya wajah, suatu kesukaan tertentu,
27
letak bintang tertentu, suatu sikap, setangkah bunga, rambut uban, sikap diam
membisu, [Link] cepat, berjalan sempoyongan, menatap, api, putih, bentuk
bersudut tajam, kecepatan, kesabaran, kegilaan, kekhawatiran, kelengahan
semuanya itu dianggap sebagai tanda (Zoest, 1993:18).
4) Saussure
Seperti dikutip Pradopi (1991:54) tanda sebagai kesatuan dari dua bidang yang tidak
dapat dipisahkan seperti halnya selembar kertas. Di mana ada tanda di sana ada
sistem. Artinya, sebuah tanda (berwujud kata atau gambar) mempunyai dua aspek
yang ditangkap oleh indra kita yang disebut dengan signifier, bidang penanda atau
bentuk dan aspek lainnya yang disebut signified, bidang petanda atau konsep atau
makna Aspek kedua terkandung di dalam aspek pertama. Jadi petanda merupakan
konsep atau apa yang dipresentasikan oleh aspek pertama. Lebih lanjut dikatakannya
bahwa penanda terletak pada tingkatan ungkapan (level of expression) dan
mempunyai wujud atau merupakan bagian fisik seperti bunyi, huruf, kata, gambar,
warna, obyek, dan [Link] terletak pada level of content (tingkatan isi
atau gagasan)
dari apa yang diungkapkan melalui tingkatan ungkapan. Hubungan antara kedua
unsur melahirkan [Link] akan selalu mengacu pada (mewakili) sesuatu hal
(benda) yang lain yang disebut reerent. Lampu merah mengacu pada jalan berhenti.
Wajah cerah mengacu pada [Link] mata mengacu pada kesedihan.
Apalagi hubungan antara tanda dan yang diacu terjadi, maka dalam benak orang
yang melihat atau mendengar akan timbul penertian (Eco, 1979:59).
5) Barthes
Seperti dikutip Iriantara dan Ibrahim (2005:118:119) mengemukakan teorinya tentang
makna konotatif. Ia berpendapat bahwa konotasi dipakai untuk menjelaskan salah
satu dari tiga cara kerja tanda dalam tatanan pertandaan kedua. Konotasi
menggambarkan interaksi yang berlangsung tatkala tanda bertemu dengan perasaan
atau emosi penggunaannya dan nilai-nilai kulturalnya. Ini terjadi tatkala makna
bergerak menuju subjektif atau setidaknya [Link] itu berlangsung
ketika interpretant dipengaruhi sama banyaknya oleh penafsir dan objek atau
[Link] barthes, faktor penting dalam konotasi adalah penanda dalam tatanan
pertama. Penanda tatanan pertama merupakan tanda konotasi. Jika teori itu dikaitkan
28
dengan desain komunikasi visual (DKV), maka setiap pesan DKV merupakan
pertemuan antara signifier (lapisan ungkapan) dan signified (lapisan makna).Lewat
unsur verbal dan visual (non verbal), diperoleh dua tingkatan makna, yakni makna
denotatif yang didapat pada semiosis tingkat pertama dan makna dekatan semiotik
terletak pada tingkat kedua atau pada tingkat signified, makna pesan dapat dipahami
secara utuh (Barthes, 1998:172-173).
6) Noth (1995:44)
Tanda bunyi seperti tiupan peluit, terompet, genderang, suara manusia, dering
telepon, tanda tulisan, di antaranya huruf dan angka juga tanda gambar berbentuk
rambu lalu lintas, dan masih banyak ragamnya.
7) Piliang (1998:262).
Berdasarkan pandangan semiotika, bila seluruh praktek sosial dapat dianggap
sebagai fenomena bahasa, maka semuanya dapat juga dipandang sebagai tanda.
Hal ini dimungkinkan karena luasnya pengertian tanda itu sendiri.
8) Roland Barthes
Teori ini dikemukakan oleh Roland Barthes (1915-1980), dalam teorinya tersebut
Barthes mengembangkan semiotika menjadi 2 tingkatan pertandaan, yaitu tingkat
denotasi dan [Link] adalah tingkat pertandaan yang menjelaskan
hubungan penanda dan petanda pada realitas, menghasilkan makna eksplisit,
langsung, dan [Link] adalah tingkat pertandaan yang menjelaskan hubungan
penanda dan petanda yang di dalamnya beroperasi makna yang tidak eksplisit, tidak
langsung, dan tidak pasti (Yusita Kusumarini, 2006).
9) Umberto Eco
Stephen W. Littlejohn (1996) menyebut Umberto Eco sebagai ahli semiotikan yang
menghasilkan salah satu teori mengenai tanda yang paling komprehensif dan
[Link] Littlejohn, teori Eco penting karena ia mengintegrasikan teori-
teori semiotika sebelumnya dan membawa semiotika secara lebih mendalam (Sobur,
2006).Eco menganggap tugas ahli semiotika bagaikan menjelajahi hutan, dan ingin
memusatkan perhatian pada modifikasi sistem tanda. Eco kemudian mengubah
29
konsep tanda menjadi konsep fungsi [Link] menyimbulkan bahwa “satu tanda
bukanlah entitas semiotik yang dapat ditawar, melainkan suatu tempat pertemuan
bagi unsur-unsur independen (yang berasal dari dua sistem berbeda dari dua tingkat
yang berbeda yakni ungkapan dan isi, dan bertemu atas dasar hubungan
pengkodean”.
Dalam penelitian ini peneliti menggunakan konsep semiotika Roland Barthes. Roland
Barthes dikenal sebagai salah seorang pemikir strukturalis yang getol mempraktikkan model
linguistik dan semiologi Saussurean. Ia lahir pada tahun 1915 dari keluarga kelas menengah
Protestan di Cherbourg dan dibesarkan di Bayonne, kota kecil dekat pantai Atlantik di
sebelah barat daya Prancis. Semasa hidupnya, Bathes telah banyak menulis buku, di
antaranya, telah menjadi bahan rujukan penting untuk studi semiotika di Indonesia. Karya-
karya pokok Barthes, antara lain: Le degree zero de I’ecriture atau “Nol Derajat di Bidang
Menulis”(1953, diterjemahkan ke dalam bahasa inggris, Writing Degree Zero, 1977). Salah
satu area penting yang dirambah Barthes dalam studinya tentang tanda adalah peran
pembaca (the reader). Konotasi, walaupun merupakan sifat asli tanda, membutuhkan
keaktifan pembaca agar dapat berfungsi. Barthes secara panjang lebar mengulas apa yang
sering disebut sebagai ssstem pemaknaan tataran ke-dua, yang dibangun di atas sistem lain
yang telah ada sebelumnya. Sastra merupakan contoh paling jelas sistem pemaknaan
tataran ke-dua yang dibangun di atas bahasa sebagai sistem yang pertama. Sistem ke-dua
ini oleh Barthes disebut dengan konotatif, yang di dalam Mythologies-nya secara tegas ia
bedakan dari denotatif atau sistem pemaknaan tataran pertama.
30
Di dalam mitos juga terdapat pola tiga dimensi penanda, petanda, dan tanda. Namun
sebagai suatu sistem yang unik, mitos dibangun oleh suatu rantai pemaknaan yang telah ada
sebelumnya atau dengan kata lain, mitos adalah juga suatu sistem pemaknaan tataran ke-
dua. Di dalam mitos pula sebuah petanda dapat memiliki beberapa penanda. Sering
dikatakan bahwa ideologi bersembunyi di balik mitos. Ungkapan ini ada benarnya, suatu
mitos menyajikan serangkaian kepercayaan mendasar yang terpendam dalam
ketidaksadaran representator. Ketidaksadaran adalah sebentuk kerja ideologis yang
memainkan peran dalam tiap representasi. Mungkin ini bernada paradoks, karena suatu
tekstualisasi tentu dilakukan secara sadar, yang dibarengi dengan ketidaksadaran tentang
adanya sebuah dunia lain yang sifatnya lebih imaginer. Sebagaimana halnya mitos, ideologi
pun tidak selalu berwajah tunggal. Ada banyak mitos, ada banyak ideologi; kehadirannya
tidak selalu kontintu di dalam teks. Mekanisme kerja mitos dalam suatu ideologi adalah apa
yang disebut Barthes sebagai naturalisasi sejarah. Suatu mitos akan menampilkan
gambaran dunia yang seolah terberi begitu saja alias alamiah. Nilai ideologis dari mitos
muncul ketika mitos tersebut menyediakan fungsinya untuk mengungkap dan membenarkan
nilai-nilai dominan yang ada dalam masyarakat. Barthes juga menyatakan bahwa mitos
merupakan sistem komunikasi, karena mitos ini merupakan sebuah pesan pula. Ia
menyatakan mitos sebagai “modus pertandaan, sebuah bentuk, sebuah “tipe wicara” yang
dibawa melalui wacana. Mitos tidaklah dapat digambarkan melalui obyek pesannya,
melainkan melalui cara pesan tersebut disampaikan. Apapun dapat menjadi mitos,
tergantung dari caranya ditekstualisasikan. Dalam narasi berita, pembaca dapat memaknai
mitos ini melalui konotasi yang dimainkan oleh narasi. Pembaca yang jeli dapat menemukan
adanya asosiasi-asosiasi terhadap ‘apa’ dan ‘siapa’ yang sedang dibicarakan sehingga
terjadi pelipatgandaan makna. Penanda bahasa konotatif membantu untuk menyodorkan
makna baru yang melampaui makna asalnya atau dari makna denotasinya.
Majunya perkembangan media dan teknologi yang sangat pesat termasuk literasi
media kemudian memberi pengaruh yang besar dan mendominasi seluruh sektor kehidupan
di masyarakat Indonesia. Salah satu sektor yang paling berpengaruh yakni usia remaja
hingga [Link] kalangan tersebut, literasi media sangat memiliki pengaruh dan bahkan
jadi elemen penting dalam berkehidupan. Tapi jika tidak berhati-hati, literasi media akan
31
menjadi dua ujung pedang yang juga memberi efek negatif selain memiliki berbagai dampak
positif. Tak heran jika teknologi informasi dan literasi media kini akhirnya menjadi fungsi yang
dimanfaatkan oleh berbagai pihak. Saat ini, teknologi informasi tak hanya dijadikan sebagai
fungsi memberi informasi tetapi juga bisa menjadi media pendidikan dan hiburan. Hal ini
terbukti bahwa literasi media kemudian menjadi kontrol sosial bagi masyarakat luas.
Literasi media berasal dari bahasa Inggris yaitu media literacy. Terdiri dari dua kata,
yakni media yang berarti tempat pertukaran pesan, dan literacy yang artinya melek atau
memahami. Kemudian dikenal dalam istilah bahasa Indonesia Literasi Media. Dalam hal ini,
literasi media merujuk pada kemampuan masyarakat yang melek terhadap media massa.
Tak hanya melek pada media massa, masyarakat juga diharapkan melek dengan adanya
pesan di berbagai media massa dalam konteks komunikasi massa. Literasi media juga dapat
diartikan sebagai pemahaman sumber, teknologi komunikasi, kode yang digunakan, pesan
yang dihasilkan, seleksi, interpretasi, dan dampak dari pesan tersebut. Literasi media
merupakan kemampuan mengakses, menganalisis, mengevaluasi, dan mengkomunikasikan
informasi dalam berbagai bentuk media. Literasi media merupakan seperangkat perspektif
yang digunakan secara aktif saat mengakses media massa untuk menginterpretasikan pesan
yang dihadapi. Sehingga akhirnya, literasi media tidak hanya sekadar memberikan informasi
dan hiburan semata, tetapi juga mengajak khalayak umum untuk melakukan perubahan
perilaku. Melalui berbagai konten media yang khas dan unik, pesan-pesan pada iterasi
media dapat terlihat sangat menarik dan dapat menimbulkan rasa bagi pembaca yang
selanjutnya membuat pola komunikasi manusia [Link] dalam literasi media, ada
pembingkaian pesan melalui teks, gambar, dan suara yang menjadi beberapa aktivitas
media untuk memengaruhi pikiran dan perasaan masyarakat sebagai pembaca. Adanya
hubungan antar-media massa dan masyarakat kemudian dibangun oleh pesan media yang
memiliki ciri khas tertentu. Oleh karena itu, sebuah langkah awal dilakukan guna memahami
bagaimana hubungan antara-media massa, pesan media, dan masyarakat di dalam literasi
media dibentuk.
Di dalam literasi media, konsep literasi media dibagi menjadi tiga tingkatan, di
antaranya: konsep dasar, konsep menengah, dan konsep lanjut. Konsep dasar berfokus
pada bagaimana cara media memengaruhi masyarakat. Konsep menengah mengkaji lebih
dekat bagaimana pesan literasi media tercipta, dan konsep lanjutan meneliti interaksi dan
peran literasi media. Berikut ini, detail mengenai konsep dasar literasi media.
32
1) Media Membangun Budaya
Masyarakat dan budaya masyarakat dibentuk oleh informasi dan gambar yang kita terima
melalui media dan literasi media. Pada zaman dahulu, penyampaian kisah budaya kita
adalah orang-orang, baik keluarga, teman, atau orang lain yang ada di lingkungan kita.
Tapi saat ini, kebanyakan orang menerima kisah atau informasi kuat dari televisi,
internet, dan sebagainya.
33
Teks adalah kata-kata sebenarnya yang tertulis di dalam literasi media. Disusul dengan
adanya unsur lain yang menguatkan, contohnya gambar, suara atau audio visual dalam
media pesan. Sementara itu, sub-teks memiliki makna tersembunyi yang menjadi dasar
pesan dalam literasi media.
10) Literasi Media Remaja dan Dewasa Adalah Konsumen Aktif Media
Konsumen aktif media adalah kaum muda mulai dari remaja hingga dewasa. Sehingga
literasi media umumnya diciptakan mengenai hal yang memiliki relasi di usia tersebut
agar media dapat menyampaikan sesuatu dengan harapan konsumen aktif dapat melihat
dengan kritis, mengevaluasi sumber, mendapat tujuan yang dimaksudkan, dan lain
sebagainya.
Literasi media hadir sebagai benteng bagi khalayak agar lebih kritis terhadap isi media,
sekaligus menentukan informasi apa yang dibutuhkan dari media. Literasi media sangat
dibutuhkan di tengah kejenuhan informasi, tingginya terpaan media, dan berbagai
permasalahan dalam informasi tersebut yang mengepung kehidupan masyarakat kita
sehari-hari. Seperti yang sudah dikemukakan oleh Baran (2010), kemampuan dan
34
keahlian seseorang dalam literasi media sangat penting dalam proses komunikasi
massa. oleh sebab itu, kemampuan literasi media seharusnya diterapkan secara efektif
dan efisien agar dapat memahami dan menggunakan berbagai komunikasi atau literasi
media. Sementara itu, Silverblatt (1995) menguatkan pentingnya literasi media terhadap
orientasi masyarakat dalam berkomunikasi. Di bawah ini adalah identifikasi pentingnya
literasi media menurut Silverblatt.
1. Kesadaran akan dampak media pada individu dan masyarakat.
2. Pemahaman atas proses komunikasi massa pada literasi media.
3. Pengembangan strategi untuk menganalisis dan mendiskusikan pesan
media.
4. Kesadaran atas konten media sebagai sebuah teks yang memberikan
pemahaman kepada budaya masyarakat dan budaya kita sendiri.
5. Pemahaman kesenangan, pemahaman diri, dan apresiasi yang meningkat
terhadap konten literasi media.
Terdapat beberapa refrensi penelitian yang sebelumnya pernah di lakukan oleh peneliti
untuk memperkuat kajian peneliti yang ada, sehingga aspek yang belum dan kurang tersentuh
dalam penelitian terdahulu dapat dilakukan dalam penelitian ini.
35
Quarantine Tales memiliki satu alur cerita inti yaitu menggambarkan keresahan yang
masyarakat rasakan selama mengalami dampak pandemi covid-19 tetapi di tampilkan
dengan isu yang berbeda-beda pada setiap subjudulnya. Selain itu, walaupun film ini
terdapat unsur negative akan tetapi banyak hal positif yang dapat diambil seperti 5 unsur
pesan moral. Adapun kelima pesan moral nya yaitu, jujur, kemandirian, bertanggung
jawab, keberanian moral, dan kritis
36
2.10 Kerangka Pikir
Serial Euphoria
Representasi Seksualitas
Remaja Perempuan
Pemaknaan
37
2.11 Defenisi Konsep dan Operasional
Untuk menghindari kesalah pahaman dalam kajian ini, maka konsep teori perlu di
operasionalkan sebagai tolak ukur dalam penelitian ini. Definisi operasional dalam penelitian ini
mengenai sebuah definisi yang akan memberikan penjelasan terhadap pendekatan teori yang
digunakan untuk membahas nilai moral yang terkandung didalam serial Euphoria
1) Semiotika Roland Barthes yang paling penting dalam konteks semiotik adalah mengenai
dua aspek dari kajian Denotasi dan Konotasi berupa lagu, dialog, not musik, logo,
gambar, mimik wajah dan gesture di atas merupakan kajian utama dalam meneliti
mengenai semiotik
2) Serial Euphoria yang telah mendapatkan banyak perhatian dari publik yang menganggap
serial ini merupakan suatu realita yang merepresentasikan eksploitasi pada remaja
melalui adegan dan isu-isu remaja yang ada saat ini.
38
BAB III
METEDOLOGI PENELITIAN
Objek penelitian ini ialah serial Euphoria. Euphoria adalah serial televisi drama
remaja Amerika yang ditayangkan HBO yang rilis pada tanggal 16 Juni 2019. Serial ini
diciptakan oleh Sam Levinson, seri ini diadaptasi dari miniseri asal Israel dengan judul yang
sama, yang diciptakan oleh Ron Leshem dan Daphna Levin. Serial yang satu ini di penuhi
dengan aktris dan aktor ternama seperti Zendaya, Maude Apatow, Angus Cloud, Eric Dane,
Alexa Demie, Jacob Elordi, Barbie Ferreira dan masih banyak lagi.
39
3.2 Subjek Penelitian
Mengingat serial sudah memiliki dua musim dan akan segera merilis musim ketiga,
peneliti hanya akan berfokus pada scene, potongan gambar, visual pada musim pertama
yang memiliki 8 episode dalam penelitian ini guna menghindari cakupan penelitian yang
terlalu luas.
1. Data primer
Adapun pengertian data primer menurut Sugiono adalah sumber data yang langsung
memberikan data yang langsung, memberikan data kepada pengumpulan data
berdasarkan pengertian diatas maka dapat disimpulkan bahwa data primer merupakan
data utama yang didapatkan langsung dari apa yang diteliti
Adapun data primer dalam penelitian ini yaitu melakukan observasi dengan tujuan
untuk memperoleh data dari objek penelitian yaitu serial Euphoria.
2. Data sekunder
Adapun data sekunder menurut Sugiono adalah sebagai berikut:
Data sekunder menurut Sugiono adalah data yang tidak langsung memberikan data
kepada penelitian, misalnya penelitian harus melalui orang lain atau mencari melalui
dokumen data itu diperoleh dengan mengunakan literartur yang dilakukan terhadap
banyak buku dan diperoleh berdasarkan catatan-catatan yang berhubungan dengan
penelitian
Adapun data sekunder dalam penelitian ini adalah penelitian yang dihasilkan dari
hasil objek yang mendukung data primer yaitu jurnal, artikel dan sebgainya.
40
3.6 Teknik Pengumpulan Data
Adapun teknik pengumpulan pada data atau cara untuk penelitian ini yaitu :
1. Observasi adalah pengamatan dan pencatatan secara sistematika terhadap
gejala yang tampak pada objek penelitian. Observasi merupakan metode
pengumpulan data yang mengunakan pengamatan terhadap objek penelitian
yang dapat dilaksanakan secara langsung maupun tidak langsung.
2. Dokumentasi adalah mengumpulkan data mengenai hal-hal yang akan diteliti.
Data diperoleh dari sumber-sumber tertulis yang terdapat dalam buku dan
literartur yang mendukung judul penelitian seperti buku, laporan, arsip, internet,
serta catatan yang berkaitan dengan penelitian ini.
41
BAB IV
Hasil Penelitian
Euphoria adalah serial televisi drama remaja Amerika yang ditayangkan HBO.
Diciptakan oleh Sam Levinson, seri ini diadaptasi dari miniseri asal Israel dengan judul
yang sama, yang diciptakan oleh Ron Leshem dan Daphna Levin. Di Amerika Serikat,
Euphoria tayang perdana pada 16 Juni 2019. Dua episode spesial berdurasi satu jam
disiarkan pada bulan Desember 2020 dan Januari 2021. Musim kedua ditayangkan
perdana pada 9 Januari 2022. Serial ini telah menerima banyak penghargaan, termasuk
nominasi Serial Drama Terbaik pada Penghargaan Primetime Emmy. Zendaya
memenangkan dua Penghargaan Primetime Emmy dan Penghargaan Satellite untuk
Aktris Terbaik dalam Serial Drama atas penampilannya dalam serial ini. Zendaya juga
dinominasikan dalam penghargaan yang sama pada musim kedua bersama lawan
mainnya yaitu Sydney Sweeney, Colman Domingo, dan Martha Kelly. Serial Ini
merupakan acara yang paling banyak ditonton kedua dalam sejarah HBO, setelah Game
of Thrones. Di Indonesia, serial ini ditayangkan pada layanan streaming milik HBO, HBO
Go. Pada tahun 2006, Sam Levinson mulai menyusun naskah yang pada akhirnya
menjadi naskah Euphoria. Cerita yang ditulis didasarkan dari pengalamannya sebagai
seseorang yang dekat dengan narkoba saat remaja. Ia diundang untuk bertemu dengan
petinggi HBO yang tertarik mengadaptasi serial televisi Israel tahun 2012 berjudul
42
Euphoria yang dibuat oleh Ron Leshem, Daphna Levin, dan Tamira Yardeni. Pada tahun
2019, Levinson mengatakan kepala program drama HBO, Francesca Orsi, menyukai
penggambaran penggunaan narkoba dan masalah remaja dalam serial versi Israel.
Konsep untuk Euphoria didasarkan pada pengalaman pribadi Levinson sebagai seorang
remaja yang berjuang menghadapi kecemasan, depresi, dan kecanduan narkoba.
Levinson juga mengutip kecemasan remaja secara keseluruhan sebagai pengaruh dalam
serial [Link] Juni 2017, dilaporkan bahwa serial ini resmi dalam pengembangan di
HBO.
Euphoria adalah produksi bersama dari The Reasonable Bunch, A24, Little Lamb,
DreamCrew, dan HBO Entertainment. Serial ini memiliki 16 produser eksekutif, termasuk
Levinson, Leshem, Levin, Yardeni, Hadas Mozes Lichtenstein, Mirit Toovi, Yoram
Mokadi, Gary Lennon, Zendaya, rapper Kanada Drake, Future the Prince, Ravi Nandan,
dan Kevin Turen. Episode perdananya disutradarai oleh Augustine Frizzell.
Levinson telah menjabat sebagai produser utama Euphoria sejak tahap
pengembangan dan merupakan penulis setiap episode. Ia menyutradarai setiap episode
kecuali episode perdana dan episode musim pertama yang berjudul " '03 Bonnie and
Clyde" dan "The Next Episode".
Produksi episode perdana serial ini diberi lampu hijau pada 13 Maret 2018, dan pada 30
Juli, HBO mengumumkan telah memberikan persetujuan untuk produksi musim pertama
berjumlah 8 episode. Serial ini diperpanjang ke musim kedua pada 11 Juli 2019.
Produksi untuk musim kedua dijadwalkan akan dimulai pada kuartal kedua tahun 2020,
[18] tetapi pandemi COVID-19 membuat produksi ditunda.[19][20] Produksi dilanjutkan
pada Maret 2021, dengan pengambilan gambar dimulai dari April hingga November.
Pada 4 Februari 2022, HBO mempepanjang seri ini ke musim ketiga.
Sebelum musim kedua tayang, HBO memesan dua episode spesial. Yang pertama,
berjudul "Trouble Don't Last Always", tayang perdana pada 6 Desember 2020,
menceritakan Rue saat ia menghadapi perasaannya yang hancur akibat ditinggalkan
oleh Jules. Episode kedua, berjudul "Fuck Everyone Who's Not a Sea Blob", tayang
perdana pada 24 Januari 2021, bercerita tentang Jules setelah meninggalkan Rue.
Episode kedua ditulis dan diproduseri oleh Sam Levinson dan Hunter Schafer.
Pengambilan gambar berlangsung di Sony Studios di Culver City, California. Sekolah
Menengah Atas Ulysses S. Grant di Los Angeles digunakan sebagai lokasi Sekolah
Menengah Atas East Highland dalam serial ini. Menurut Komisi Film California, musim
pertama Euphoria menerima $8.378.000 dalam bentuk kredit pajak insentif. Musim
43
pertama difilmkan selama total 104 hari; biaya produksi musim kedua mencapai
$96.685.000 selama total 176 hari. Musim kedua menerima kredit pajak $19.406.000
karena mempekerjakan lebih dari 15.000 orang di [Link] musim pertama, acara
ini direkam secara digital. Mulai musim kedua, serial ini direkam menggunakan stok film
Kodak Ektachrome. Sinematografer Marcell Rév mengatakan, alasan penggunaan stok
film tersebut adalah karena ia ingin mencetus "memori masa SMA".
44
Tmira Yardeni
Yoram Mokadi
Jim Kleverweis
Zendaya
Will Greenfield
Ashley Levinson
Produser
Tyler Romary
Philipp A. Barnett
Jamie Feldman
Kenneth Yu
Harrison Kreiss
Sinematografi :
Marcell Rév
André Chemetoff
Drew Daniels
Adam Newport-Berra
Rina Yang
Penyunting
Julio C. Perez IV
Laura Zempel
Harry Yoon
Aaron I. Butler
Darrin Navarro
Rumah Produksi
The Reasonable Bunch
A24
Little Lamb
DreamCrew
HBO Entertainment
45
Euphoria bercerita tentang sekelompok siswa sekolah menengah saat mereka
menavigasikan cinta dan persahabatan di dunia penuh narkoba, seks, trauma, dan media
sosial. Seperti musim yang pertama, serial kedua ini dipenuhi dengan lika-liku liar,
khususnya dalam hal perjalanan Rue melalui kecanduan narkoba. Selain karakter Rue,
tentu saja spotlight juga mengarah ke pemeran penting lainnya di Euphoria. Misalnya
saja karakter Cassie yang diperankan Sidney Sweeney. Cassie terlibat dalam cinta
segitiga dengan Nate dan temannya, [Link] karakter utama Rue (Zendaya) semakin
jatuh pada adiksinya dan memutuskan terlibat dengan bos besar pengedar narkotika
untuk mendapatkan suplai gratis. Keputusan yang membuat penonton berdebar takut
atas keselamatannya. Selain itu, membuat hubungannya dengan sang pacar, Jules
(Hunter Schafer), adiknya Gia (Storm Reid), dan ibunya Leslie (Nika King) semakin di
ujung tanduk.
Di sisi lain, kehadiran Nate Jacobs (Jacob Elordi), personifikasi dari maskulinitas toksik
dan male aggression, semakin mengancam ketentraman hidup Jules. Pada musim
sebelumnya, Nate memeras akan menyerahkan foto telanjang Jules atas tuduhan
penyebaran konten child pornography ke polisi jika menolak melakukan permintaan
[Link] menyuruh Jules memberikan kesaksian palsu pada polisi. Bahwasanya, alih-
alih Nate yang melakukan kekerasan pada kekasihnya Maddy (Alexa Demie), orang lain
yang pernah menjalin asmara Maddy lah pelaku kekerasan itu. ‘Masalah’ belum usai
yang jauh lebih kompleks itu dilanjutkan di musim kedua, tapi kali ini dibuat semakin
intens dan rumit ketika jalan ‘terungkapnya’ kebenaran semakin dekat.
Seks adalah perbedaan badani atau biologis perempuan dan laki-laki, yang sering
disebut jenis kelamin. Sedangkan seksualitas menyangkut berbagai dimensi yang sangat
luas, yaitu dimensi biologis, sosial, psikologis, dan kultural. Seksualitas dari segi dimensi
biologis berkaitan dengan organ reproduksi dan alat kelamin, termasuk bagaimana
menjaga kesehatan dan memfungsikan secara optimal organ reproduksi dan dorongan
seksual, seksualitas dari segi dimensi psikologis erat kaitannya dengan bagaimana
menjalankan fungsi sebagai makhluk seksual, identitas peran atau jenis, serta
bagaimana dinamika aspek-aspek psikologis (kognisi, emosi, motivasi, perilaku) terhadap
seksualitas itu sendiri, dari segi dimensi sosial,seksualitas dilihat pada bagaimana
seksualitas muncul dalam hubungan antar manusia, bagaimana pengaruh lingkungan
46
dalam membentuk pandangan tentang seksualitas yang akhirnya membentuk perilaku
seksual, sedangkan dari dimensi kultural menunjukkan perilaku seks menjadi bagian dari
budaya yang ada di masyarakat. Seksualitas bukan tentang dengan siapa seseorang
berhubungan seks atau seberapa sering [Link] adalah tentang perasaan,
pikiran, ketertarikan, dan perilaku seksual terhadap orang lain. Seksualitas sebenarnya
termasuk urusan privat. Tapi, dalam kenyataannya, ia tidak hanya menjadi persoalan
privat, tapi seringkali justru menjadi urusan publik. Ketika menjadi isu publik inilah banyak
persoalan muncul. Ketika seksualitas menjadi isu publik, ia menjadi obyek yang mudah
diintervensi dari luar, mulai dari struktur sosial, norma-norma budaya, agama hingga
negara. Seksualitas kemudian kehilangan otentisitasnya sebagai ekspresi paling pribadi
dari seseorang. Persoalan seksualitas menjadi semakin kompleks karena masyarakat
menganggapnya tabu untuk dibicarakan secara terbuka. Justru karena tabu inilah
berbagai persoalan seksualitas bukan semakin jelas, tapi justru kian tersembunyi dengan
berbagai kepentingan patriarkhi di dalamnya. Dalam setiap budaya, seksualitas manusia
diarahkan dan bahkan kadang diberi struktur yang sangat kaku. Kultus keperawanan,
konsep aurat, perkawinan, paham-paham kepantasan pergaulan pria dan wanita,
larangan terhadap seks di luar nikah, incest dan homoseksualitas semuanya merupakan
regulasi seksualitas. Dalam tatanan masyarakat partiarkis, konstruksi sosial budaya atas
seksualitas digunakan sebagai alat untuk mempertahankan kekuasaan dan dominasi
laki-laki atas perempuan. Dominasi ini terlihat dari sikap masyarakat yang menempatkan
seksualitas perempuan tak lebih sebagai pemuas hasrat seksual laki-laki di satu sisi dan
alat untuk melanjutkan keturunan di sisi lain. Perempuan seolah-olah tidak memiliki
kedaulatan terhadap seksualitasnya sendiri. Pendekatan kedua ini dijadikan perspektif
oleh kalangan aktivis perempuan untuk membongkar akar masalah penindasan
perempuan, khususnya dalam masalah seksual. Sebab, dengan perspektif kritis inilah,
masalah seksualitas perempuan diletakkan tidak dalam posisi pasif dan hanya sebagai
subordinat laki-laki, tetapi lebih diposisikan sebagai subyek yang aktif dan punya hak
yang sama dengan laki-laki dalam masalah seksualitas.
Ada tiga istilah yang penggunaannya hampir sama dan bahkan kadang tumpang
tindih, yakni seks, gender dan seksualitas. Ketiga istilah ini memang memiliki beberapa
kesamaan. Dan kesamaan yang paling menonjol adalah bahwa ketiganya membicarakan
mengenai “jenis kelamin”. Perbedaannya adalah pada titik tekan masing-masing istilah
tersebut. . Seks lebih ditekankan pada keadaan anatomis manusia yang kemudian
memberi “identitas” kepada yang bersangkutan. Seseorang yang memiliki anatomi penis
47
disebut laki-laki. Sedangkan orang yang memiliki anatomi vagina disebut perempuan.
Karena penekanannya lebih pada hal-hal yang bersifat anatomis, maka seks kemudian
sering dimaknai sempit sebagai hubungan badan antara laki-laki dan perempuan.
Berbeda dengan seks yang menekankan aspek fisik dan anatomis, gender lebih
ditekankan pada aspek sosial. Jika seks adalah jenis kelamin fisik, maka gender adalah
“jenis kelamin sosial” yang identifikasinya bukan karena secara kodrati sudah given
(takdir Tuhan), tetapi lebih karena konstruksi sosial. Menurut Simamora (2019), gender
merupakan sifat yang melekat pada kaum laki-laki dan perempuan yang dibentuk oleh
faktor-faktor sosial maupun budaya, sehingga lahir dengan beberapa anggapan tentang
peran soasial serta budaya laki-laki atau perempuan. Ironisnya, perkembangan
modernitas ternyata tidak banyak membantu mengembalikan otonomi seksualitas
perempuan. Jika sebelumnya pengaturan dan pengekangan seksualitas perempuan
dilakukan oleh kekuatan simbolik (norma-norma sosial, budaya, agama) dan kekuatan
represif (negara), maka dalam negara modern, perempuan juga “ditundukkan” oleh
modernitas itu sendiri melalui kapitalisme sebagai kaki tangannya. Priyo Soemandoyo
(2001) menunjukkan dalam penelitiannya mengenai citra seksualitas perempuan di
media massa, betapa perempuan bukan saja dijadikan alat oleh industri media dan
pemilik modal untuk memasarkan beragam produknya, tetapi bahkan tak jarang justru
dilecehkan dalam proses-proses itu. Media massa, baik cetak maupun elektronik, hanya
salah satu dari sekian banyak contoh eksploitasi seksualitas perempuan. Ini membawa
dampak-dampak yang sangat luas bagi meluasnya apa yang disebut dengan “seksualitas
abnormal”. Perilaku seksual yang sebelumnya diatur sedemikian rupa supaya mengikuti
norma heteroseksualitas pada akhirnya tidak mampu membendung berbagai
kecenderungan orientasi seksual yang sebelumnya tidak pernah terbayangkan, mulai
dari lesbian/homoseksual, biseksual, sodomasochisme, aseksual atau selibat (tidak
melakukan hubungan seks) sampai pada kecenderungan penggunaan binatang sebagai
media pelampiasan hasrat seksual manusia. Ironisnya, berbagai kecenderungan
orientasi seksual tersebut, seringkali bukannya berusaha dipahami, tetapi justru
dinafikan, dianggap kelainan, dihujat, dihina bahkan dinistakan. Problem seksualitas
pada akhirnya bukan cuma bagaimana menghindari dampak-dampak negatif dari
beragam kecenderungan orientasi seksual tersebut, tetapi juga bagaimana memahami
dan melihat mereka sebagai fakta sosial yang perlu mendapat perhatian sebagaimana
48
layaknya [Link] penelitian ini peneliti berfokus pada tindak eksploitasi
seksualitas remaja perempuan yang ada didalam seial EUPHORIA. Teori dasar yang
akan digunakan dalam penelitian ini yakni teori semiotika dari Roland Barthes. Seperti
yang kita tahu bahwa semiotika adalah sebuah disiplin ilmu dan metode analisis yang
dapat mengkaji tanda-tanda yang terdapat pada suatu objek untuk diketahui makna yang
terkandung dalam objek tersebut. Sedangkan menurut Roland Barthes semiotika terbagi
menjadi 2 tingkatan pertandaan, yaitu tingkat denotasi dan konotasi. Denotasi adalah
tingkat pertandaan yang menjelaskan hubungan penanda dan petanda pada realitas,
menghasilkan makna eksplisit, langsung, dan pasti. Konotasi adalah tingkat pertandaan
yang menjelaskan hubungan penanda dan petanda yang di dalamnya beroperasi makna
yang tidak eksplisit, tidak langsung, dan tidak pasti. Atau lebih sederhananya tingkat
konotasi didefenisikan sebagai makna yang dikaitkan dengan gambar di luar tingkat
denotasi yang jelas, sedangkan denotasi didefenisikan sebagai tingkat makna pertama
dan paling sederhana dari sebuah gambar. Tingkatan denotasi dan konotasi semiotika
dari Roland Barthes ini juga meliputi didalamnya lagu, dialog,not musik, mimik wajah dan
gesture.
Representasi eksplotasi seksualitas remaja perempuan yang akan ditelaah dalam
penelitian ini menggunakan konsep semiotika Roland Barthes yang berupa audio/verbal
dan visual. Audio di sini berupa dialog-dialog di dalam serial Euphoria yang dinilai
merepresentasikan eksploitasi seksualitas remaja perempuan, sedangkan visual berupa
scene, adegan, mimik wajah dan gesture yang dinilai merepresentasi hal serupa.
49
4.1 Pemaknaan
A. Representasi secara verbal/audio
Tabel 4.1 Pemaknaan representasi audio
Episode 1
Durasi 25.44
Dialog Nate : “Mckay antara aku suka dia atau tidak itu tidak relevan.
Faktanya dia adalah seorang jalang teman.”
Pemaknaan Saat Nate menyebut Cassie jalang dalam scene ini, Nate
benar-benar bermaksud dengan apa yang ia katakan. Ia
benar-benar menganggap Cassie seorang jalang karena selalu
berganti pasangan seks dan banyak foto maupun video vulgar
Cassie yang tersebar luas di internet. Walaupun jalang lebih
terdengar sebagai umpatan, hal ini merupakan bentuk denotasi
dari apa yang di lontarkan oleh Nate. Konsep Denotasi yakni
representasi kata yang sesuai dengan makna sebenarnya. Arti
kata jalang sendiri adalah nakal atau perbuatan yang
melanggar asusila. Artinya disini Nate benar-benar
menginterpretasikan makna jalang yang sebenarnya kepada
Cassie.
50
Episode 1
Durasi 12.55
Episode 1
Durasi 38.28
51
Pemaknaan “Berapa hargamu?” bukan berarti pria tersebut menanyakan
harga Kat sebagai suatu barag, melainkan sebuah kiasan dan
bentuk konotasi dari pertanyaan ‘sudah seberapa sering Kat
melakukan hubungan seks dengan pria asing.’ Ia tidak
bertanya berapa ‘harga’ Kat untuk sebuah barang, namun dia
ingin bertanya sudah berapa banyak pria yang menjalin
hubungan seks dengan Kat.
Episode 2
Durasi 57.09
Adegan Mckay dan Cassie sedang bertukar pesan dan Mckay meminta
Cassie untuk mengirimkan foto telanjang kepadanya.
Dialog Mckay : “Apa yang ada di bawah selimut?. Apa kau sedang
bugil?. Ayolah aku sedang terangsang.”
52
Episode 4
Durasi 14.51
Nate : “Bukan ini acara sosioal. Ini sangat penting. Aku tidak
bisa membawamu ke stan seperti itu”.
53
Episode 6
Durasi 35.05
Cassie : “Tidak!”.
54
eksploitasi dan pelecehan seksual berupa perilaku menggoda. Perilaku ini ditandai
dengan perilaku seksual yang menyinggung , tidak pantas, dan tidak diinginkan korban.
Contohnya, menggoda seseorang hingga membuatnya risih, memaksa seseorang untuk
melakukan hal yang tidak disukai dan ajakan lain yang tidak pantas.
Visual
Visual
55
Tabel 4.9 Pemaknaan representasi visual
Visual
Visual
56
Tabel 4.11 Pemaknaan representsi visual
Visual
Visual
57
Tabel 4.13 Pemaknaan representasi visual
Visual
Episode 5 / 04.44
Visual
Episode 7 / 11.19
58
Tabel 4.15 Pemaknaan representasi visual
Visual
Episode 8 / 17.41
Visual
Episode 8 / 18.05
Sepuluh gambar yang ada pada tabel di atas merupakan contoh representasi
eksplotasi seksualitas remaja perempuan dalam serial Euphoria yang ditampilkan
secara visual melalui scene di setiap episodenya. Adegan-adegan ini sejalan dengan
59
teori Male Gaze atau “tatapan pria”atau kondisi di mana perempuan di media dilihat
berdasarkan sudut pandang laki-laki. Contohnya menunjukan bidikan Close Up dari
atas bahu laki-laki seperti pada gambar di tabel 4.7 dan 4.15. Dimana dalam dua
adegan ini merupakan dua adegan seks yang sama-sama memperlihatkan kegiatan
seks namun dari pengambilan gambar dengan menggunakan Medium Shot dan
angle camera hanya terfokuskan pada karakter perempuan saja. Gambar pada tabel
4.8, 4.9 dan 4.11 menunjukan bagaimana adegan seks di antara kedua karakter
sedang terjadi namun mengapa harus ekspresi dan mimik wajah “menikmati” hanya
di representasikan oleh karakter perempuan saja?. Pada gambar di tabel 4.10,
memperlihatkan karakter Jules yang sedang berhubungan seks dengan pria dewasa
namun sepanjang adegan ini kamera hanya menyoroti lekuk tubuh dan ekspresi
Jules saja. Gambar pada tabel 4.12 memperlihatkan Maddy yang sedang
berhubungan seks dengan seorang pria di sebuah tempat Gym. Pengambilan
gambar ini menggunakan Medium Long Shot dengan Over Shoulder shot, dimana
adegan seks ini hanya menyoroti punggung karakter pria dalam adegan itu, namun
memberikan angle camera yang berfokus pada ekspresi “keenakan” Maddy saat itu.
Pada tabel 4.13 dan 4.14 memperlihatkan Maddy dan Kat yang sedang
mempersiapkan diri untuk berhubungan seks. Tabel 4.13 di mana Maddy di soroti
dengan pengambilan gambar Medium Shot dengan Middle Close Up yang
memperlihatkan ekspresi genitnya untuk memulai adegan seks sedangkan pada tabel
4.14 memperlihatkan Kat dengan angle Off Shoulder Shot yang memperlihatkan Kat
sedang bercermin untuk memulai adegan seks. Dan yang terakhri pada tabel 4.16
memperlihatkan karakter Nate yang sedang menggoda salah satu karakter
perempuan dengan cara meraba bokong perempuan tersebut dengan diikuti oleh
Extreme Close Up Shot di mana adegan ini memfokuskan tangan Nate yang
menyentuh dan meraba bokong wanita tersebut.
Tindak Eksploitasi seksualitas remaja perempuan dalam serial ini di mendasar
pada teori di mana tubuh perempuan diperlakukan seperti objek yang bisa “dinikmati”
melalui pandangan. Male Gaze mengacu pada politik seksual dari tatapan dan
menunjukkan cara pandang seksual yang memberdayakan laki-laki dan
mengobjektifikasi perempuan. Tindak eksploitasi yang berangkat dari teori ini
memposisikan perempuan secara visual sebagai “objek” dari hasrat laki-laki
heteroseksual. Hal ini di picu oleh industri film karena kuatnya patriarki yang masih
60
tidak menghormati perempuan dan bagaimana mereka memandang perempuan
sebagai “objek”.
Dari kedua representasi eksploitasi seksualitas remaja perempuan yang
ditampilkan baik secara audio/verbal maupun visual, pemaknaan akhir dari penelitian
ini adalah bahwasanya tubuh perempuan yang telanjang dianggap sebagai sebuah
objek yang memiliki nilai jual. Seperti yang kita tahu media masa juga memasuki fase
modernitas. Namun ironisnya moderenitas tersebut ternyata tidak banyak membantu
mengembalikan otonomi seksualitas perempuan. Jika sebelumnya pengaturan dan
pengekangan seksualitas perempuan dilakukan oleh kekuatan simbolik (norma-
norma sosial, budaya, agama) dan kekuatan represif (negara), maka dalam negara
modern, perempuan juga “ditundukkan” oleh modernitas itu sendiri melalui
kapitalisme sebagai kaki tangannya. Priyo Soemandoyo (2001) menunjukkan dalam
penelitiannya mengenai citra seksualitas perempuan di media massa, betapa
perempuan bukan saja dijadikan alat oleh industri media dan pemilik modal untuk
memasarkan beragam produknya, tetapi bahkan tak jarang justru dilecehkan dalam
proses-proses itu. Media massa, baik cetak maupun elektronik, hanya salah satu dari
sekian banyak contoh eksploitasi seksualitas perempuan. Ini membawa dampak-
dampak yang sangat luas bagi meluasnya apa yang disebut dengan “seksualitas
abnormal”.
61
62
BAB V
PENUTUP
A. Kesimpulan
B. Saran
63
dari film atau serial tersebut, apakah sudah sesuai dengan kesesuaian dan kelayakan
untuk para remaja.
3. Diharapkan hasil penelitian ini dijadikan referensi para mahasiswa untuk
mengembangkan penelitian terkait eksploitasi seksualitas yang ada dalam film
ataupun serial, sehingga menambah referensi di bidang semiotika.
64
DAFTAR PUSTAKA
Andina Yurista. (2022, Januari). Sejarah Film dari Massa ke Massa. Retrieved from
[Link]: [Link]
Ani Ramadhani. (2023, April 13). 4 Pengertian Film Menurut Para Ahli, Jenis, dan
Manfaatnya. Retrieved from [Link]: [Link]
menurut-para-ahli
Dewaweb. (2022, September 1). Apa Itu Streaming? Ini Pengertian, Jenis-jenis dan
Penerapannya. Retrieved from [Link]: [Link]
itu-streaming/
E-Jurnal. (2014, Desember 01). Film Sebagai Media Komunikasi Massa. Retrieved from e-
[Link]: [Link]
[Link]?m=1
Fai Website. (2021, Juni 9). Apa Itu Semiotika. Retrieved from [Link]:
[Link]
Gita Aprianta E.B. (2011:16). Kajian Media Massa: Representasi Girl Power Wanita
Moderndalam Media Online (Studi Framing Girl Power dalam Rubrik Karir dan
Keuangan Femina Online), The Messenger, Vol. 2 No. 2
Joane Priskilia Kosakoy. (2016:3). Representasi Perempuan dalam Film Star Wars VH :
The Force Awakens , Vol. 4 No. 1
[Link]. (2022, Januari 24). Internet Adalah Jaringan Komputer, Ini Pengertian dan
Sejarahnya. Retrieved from [Link]:
[Link]
ini-pengertian-dan-sejarahnya
65
Khotima Khusnul (2022, Maret 28). Gender dan Seksualitas Perempuan dalam Pertarungan
Wacana Tafsir. Retrieved from: [Link]
Redline Indonesia. (2020, Maret 13). Seks dan Seksualitas. Retrieved from
[Link]: [Link]
[Link]. (2019, Maret 14). 9 Pengertian Semiotika Menurut Para Ahli. Retrieved
from [Link]: [Link]
[Link]
Sigit Saleseven. (2014, November 14). Teori Komunikasi Massa dan Teori Representasi.
Retrieved from [Link]: [Link]
[Link]?m=
Sofian Ahmad. (2016, Juli). Tindak Pidana Eksploitasi Seksual Anak dalam Hukum Positif
Indonesia. Retrieved from [Link]:
[Link]
dalam-hukum-positif-indonesia
[Link]. (2014, Mei 5). Hukum Internasional Terkait Kekerasan Seksual Anak. Retieved
from [Link]: [Link]
terkait-kekerasan-seksual-anak
Wibisono Panji. (2021, April). Jurnal Dinamika Ilmu Komunikasi Vol.1. Retrieved from
[Link]:
[Link]
66