PROSES 8.
TINJAUAN
1. Apakah Pelaksana Kontrak telah menyusun dan mengesahkan
program tinjauan/ review terhadap implementasi HSSE Plan
selama pelaksanaan pekerjaan kontrak?
KEPEMIMPINAN DAN AKUNTABILITAS Doc. : 002 / HSEPLAN /HSE-AT&E / II /2024
1.1 KETERLIBATAN MANAGEMENT Disahkan Oleh Direktur
DALAM BUDAYA HSE
S.O.P Management Visit / Tinjauan Management/Management Walktrough
(009/ SOP-HSE/ AT&E /2024)
1. TUJUAN
Prosedur Tinjauan Manajemen ini menjelaskan tahap-tahap Tinjauan Manajemen yang
berlaku di PT. Adyawinsa Telecommunication & Electrical berdasar pada penerapan HSSE
Plan dan CSMS Perusahaan.
2. RUANG LINGKUP
Prosedur ini meliputi penjadwalan, pelaksanaan rapat, distribusi dan pelaksanaan hasil
rapat hingga pendokumentasian untuk Tinjauan Manajemen berikutnya dalam penerapan
HSSE di lapangan
Prosedur ini mengatur tahapan:
- Penetapan Jadwal Rapat Tinjauan Manajemen
- Persiapan Rapat Tinjauan Manajemen
- Pelaksanaan Rapat Tinjauan Manajemen
- Tindak Lanjut Hasil Rapat Tinjauan Manajemen
- Verifikasi Tindak Lanjut Hasil Rapat Tinjauan Manajemen
3. DEFINISI
3.1 Tinjauan Manajemen adalah suatu kegiatan yang dilakukan setidaknya Setahun 2x
atau sesuai kebutuhan untuk membahas masalah-masalah yang timbul dalam
penerapan, perbaikan, dan pelaksanaan HSSE Plan. Juga untuk membahas berbagai
temuan audit dan tindakan yang perlu diambil.
4. PROSEDUR DAN TANGGUNG JAWAB
4.1. Penetapan Jadwal Rapat Tinjauan Manajemen
4.1.1. Management Representative membuat jadwal Rapat Tinjauan Manajemen
berdasarkan lampiran program internal audit dan tinjauan manajemen.
4.1.2. Management Representative mengajukan jadwal Rapat Tinjauan
Manajemen ke Kepala Sub. Bidang atau Top Management untuk proses
persetujuan.
4.1.3. Direktur Utama atau Top Management memeriksa dan menyetujui jadwal
Rapat Tinjauan Manajemen. Direktur Utama atau Top Management dapat
meminta perubahan jadwal Rapat Tinjauan Manajemen jika dinilai
waktunya tidak cocok.
15
KEPEMIMPINAN DAN AKUNTABILITAS Doc. : 002 / HSEPLAN /HSE-AT&E / II /2024
1.1 KETERLIBATAN MANAGEMENT Disahkan Oleh Direktur
DALAM BUDAYA HSE
4.2. Persiapan Rapat Tinjauan Manajemen
4.2.1. Document Control membuat undangan Rapat Tinjauan Manajemen
4.2.2. Document Control mendistribusikan undangan Rapat Tinjauan Manajemen
kepada Direktur Utama serta pihak lain yang terkait.
4.2.3. Management representative dan Direktur Utama Terkait Mempersiapkan
materi Rapat Tinjauan Manajemen.
4.3. Pelaksanaan Rapat Tinjauan Manajemen
4.3.1. Direktur Utama atau Top Management memimpin pelaksanaan Rapat Tinjauan
Manajemen
4.3.2. Document Control membuat notulen atau hasil Rapat Tinjauan Manajemen
4.3.3. Management memeriksa notulen Rapat Tinjauan Manajemen, memperbaiki
jika dianggap perlu, dan mengajukan kepada Pimpinan tertinggi untuk proses
persetujuan.
4.3.4. Direktur Utama atau Top Management memeriksa dan menyetujui notulen
Rapat Tinjauan Manajemen. Direktur Utama atau Top Management meminta
perubahan maupun perbaikan notulen Rapat Tinjauan Manajemen jika dinilai
tidak tepat.
4.4. Tindak Lanjut Hasil Rapat Tinjauan Manajemen
4.4.1. Document Control mendistribusikan notulen Hasil Rapat Tinjauan
Manajemen yang telah disetujui oleh Direktur Utama.
4.4.2. Direktur Utama Terkait melaksanakan hasil Rapat Tinjauan Manajemen
yang telah diputuskan.
4.5. Verifikasi Hasil Tindak Lanjut Rapat Tinjauan Manajemen
4.5.1. Management Repesentative melakukan verifikasi pelaksanaan hasil rapat
Tinjauan Manajemen.
4.5.2. Management Representative mengukur keefektifan dari pelaksanaan hasil Rapat
Tinjauan Manajemen.
4.5.3. Management Representative memberi masukan pelaksanaan hasil Rapat
Tinjauan Manajemen kepada Direktur Utama terkait apabila dinilai
pelaksanaannya tidak efektif.
16
KEPEMIMPINAN DAN AKUNTABILITAS Doc. : 002 / HSEPLAN /HSE-AT&E / II /2024
1.1 KETERLIBATAN MANAGEMENT Disahkan Oleh Direktur
DALAM BUDAYA HSE
5. DOKUMEN PENDUKUNG
5.1 Prosedur Audit Internal
6. REKAMAN PENDUKUNG
6.1 Form Audit Internal Rekapitulasi temuan Audit Internal
6.2 Form Tinjauan Manajemen Rencana & undangan Tinjauan Manajemen
6.3 Form Tinjauan Manajemen Notulen Hasil Rapat Tinjauan Manajemen
Jakarta, 19 Februari 2024
PT. Adyawinsa Telecommunication & Electrical
Rony Dosonugroho
Direktur
17
KEPEMIMPINAN DAN AKUNTABILITAS Doc. : 002 / HSEPLAN /HSE-AT&E / II /2024
1.1 KETERLIBATAN MANAGEMENT Disahkan Oleh Direktur
DALAM BUDAYA HSE
Jadwal management Walkthrough
No Kegiatan Jadwal 7 Bulan Pekerjaan
1 2 3 4 5 6 7
1 MWT Plan
Actual
Dokumentasi Management Visit
18
KEPEMIMPINAN DAN AKUNTABILITAS Doc. : 002 / HSEPLAN /HSE-AT&E / II /2024
1.1 KETERLIBATAN MANAGEMENT Disahkan Oleh Direktur
DALAM BUDAYA HSE
PROGRAM INSPEKSI MANAJAEMEN
NO KEGIATAN METODOLOGI TIME SCHEDULE
1 PERSIAPAN 1. Tujuan dan ruang lingkup inspeksi. Persiapan kegiatan inspeksi
Perusahaan perlu merencanakan kegiatan 2. Personil pelaksana inspeksi. dilakukan minimal 2 hari
inspeksi agar dapat berjalan lancar dan 3. Tugas dan tanggung jawab yang jelas. sebelum diadakan.
memenuhi sasaran dari kegiatan inspeksi 4. Jadual kegiatan inspeksi.
tersebut. 5. Dokumentasi kegiatan inspeksi ( prosedur, form, dll
).
2 PELAKSANA INSPEKSI a. Pengumpulan informasi. Dilaksanakan setiap 2 x dalam
Perusahaan melalui Direktur langsung dan b. Peninjauan dokumen ( manual, SOP, dll ). satu bulan
bila berhalangan maka diserahkan kepada c. Mempersiapkan alat tulis dan cheklist.
Pengawas Operasi & K3LL untuk melakukan d. Pembuatan jadual inspeksi.
kegiatan inspeksi e. Breifing tim inspeksi.
f. Mempersiapkan APD ( Alat Pelindung Diri ) jika
diperlukan.
3 KEGIATAN INSPEKSI Perkenalan dari tim inspeksi Dilaksanakan maksimal 1 (satu)
Tim Inspeksi datang lokasi pekerjaan atau Menggunakan daftar periksa ( cheklist ) hari kerja.
ke tempat yang direncanakan untuk di Melihat bukti obyektif dengan methode : ( Verifikasi,
inspeksi Observasi, Wawancara
dan Mencatat secara mendetail bukti obyektif ).
4 LAPORAN INSPEKSI a. Laporan inspeksi yang dibuat merupakan Dilaksanakan maksimal 3 (tiga)
Setelah diadakan inspeksi, maka petugas dokumentasi dari keseluruhan inspeksi sehingga dapat hari kerja.
inspeksi wajib membuat Laporan yang akan menjadi bahan rapat Tinjauan Ulang Manajemen
dibahas dalam rapat manajemen. b. Isi dari laporan
c. Detail kegiatan inspeksi ( lokasi, tanggal, tenaga kerja,
dll )
d. Kesimpulan umum
e. Ruang lingkup inspeksi
f. Temuan inspeksi dan rekomendasi perbaikan
5 TINDAK LANJUT a. Melakukan pemantauan tindakan perbaikan atas Untuk waktu-waktu berikutnya.
Perusahaan perlu menindaklanjuti dari ketidaksesuaian yg ditemukan
setiap temuan-temuan kegiatan inspeksi. b. Sebagai bahan masukan kepada pihak Manajemen
c. Sebagai pertimbangan untuk frekwensi inspeksi
berikutnya
19
KEPEMIMPINAN DAN AKUNTABILITAS Doc. : 002 / HSEPLAN /HSE-AT&E / II /2024
1.1 KETERLIBATAN MANAGEMENT Disahkan Oleh Direktur
DALAM BUDAYA HSE
1.1.d.
MATERI
PENGAMATAN KESELAMATAN KERJA (PEKA) DAN
INTERVENSI TERHADAP KONDISI UNSAFE
Pedoman pengamatan keselamatan kerja PEKA bertujuan untuk memberikan panduan tentang
cara mengobservasi, mengkoreksi secara langsung dengan berdiskusi, maupun melaporkan
secara tertulis tentang tindakan atau kondisi tidak aman yang ditemukan di area kerja proyek.
Setiap pekerja harus melaporkan kondisi tidak aman unsafe condition dan tindakan tidak aman
unsafe act, karena itu merupakan sebab dasar terjadinya kecelakaan di lokasi kerja.
Kondisi tidak aman yaitu suatu kondisi dimana lingkungan tempat kerja dan sekitarnya
mengandung potensi bahaya yang dapat mengakibatkan terjadinya kecelakaan bagi pekerja
proyek yang berada di lokasi tersebut, meliputi:
1. Licin, bocor, bising, panas, vibrasigetaran, paparan gas.
2. Peralatan yang tidak standar.
3. Peralatan rusak.
4. Peralatan tidak sesuai peruntukannya.
Tindakan tidak aman yaitu suatu kondisi dimana seseorangpekerja melakukan tindakan secara
tidak aman sewaktu melakukan pekerjaan, meliputi:
1. Tidak memakai APD.
2. Tidak mengikuti prosedur.
3. Ceroboh dalam bekerja.
Faktor penyebab kecelakaan yang lain adalah faktor alam, yaitu suatu kejadian yang disebabkan
oleh faktor alam, banjir, angin, petir, gempa dll, Beberapa faktor utama yang mengakibatkan
seseorang melakukan unsafe act, yaitu:
20
KEPEMIMPINAN DAN AKUNTABILITAS Doc. : 002 / HSEPLAN /HSE-AT&E / II /2024
1.1 KETERLIBATAN MANAGEMENT Disahkan Oleh Direktur
DALAM BUDAYA HSE
1. Faktor tidak tahu
- Tidak tahu mengenai peraturanketentuan yang ada.
- Tidak tahu mengenai kondisilingkungan kerja yang sedang dihadapi.
- Tidak tahu mengenai sifat dari suatu bahan material.
2. Faktor tidak mampu.
- Karena sakit, tidak enak badan, kurang tidur.
- Kondisi fisik pekerja tidak memungkinkan.
- Tidak memiliki keahlian khusus.
- Takut ketinggian.
3. Faktor tidak mau.
- Dikarenakan malas.
- Merupakan sifatprilaku bawaan.
Prinsip-prinsip Pengamatan Keselamatan Kerja (PEKA) adalah sebagai berikut :
1. Semua cedera dan penyakit akibat kerja bisa dicegah.
2. Keselamatan adalah tanggung jawab setiap pekerja untuk menjaga.
3. Pimpinan bertanggunga jawab langsung untuk mencegah cedera dan penyakit akibat kerja.
4. Keselamatan adalah merupakan sebuah persyaratan untuk kepegawaian.
5. Latihan adalah sebuah unsur penting bagi tercipta tempat kerja.
6. Audit keselamatan harus dilaksanakan.
Implementasi pengamatan keselamatan kerja PEKA ini berlaku untuk seluruh proyek yang ada di
PT. Pertamina, dari tingkat manajemen sampai dengan pelaksanaan dan seluruh mitra kerja di
kegiatan proyek. Pekerja dan mitra bertanggung jawab untuk melakukan observasi keselamatan
kerja dengan mengisi lembar pengamatan keselamatan kerja PEKA dan melaporkan setiap
menemukan kejadian nearmiss kondisi tidak aman.
21
KEPEMIMPINAN DAN AKUNTABILITAS Doc. : 002 / HSEPLAN /HSE-AT&E / II /2024
1.1 KETERLIBATAN MANAGEMENT Disahkan Oleh Direktur
DALAM BUDAYA HSE
kondisi tidak sesuai standar. (substandard condtions). Perilaku tidak sesuai standar
adalah perilaku tidak aman yang berbahaya dalam suatu pekerjaan. Kecelakaan kerja mempunyai
beberapa faktor penyebab diantaranya adalah kondisi tidak aman dan perilaku tidak aman.
22
KEPEMIMPINAN DAN AKUNTABILITAS Doc. : 002 / HSEPLAN /HSE-AT&E / II /2024
1.1 KETERLIBATAN MANAGEMENT Disahkan Oleh Direktur
DALAM BUDAYA HSE
LAPORAN PENGAMATAN STOP CARD
TINDAKAN TIDAK AMAN YANG DIAMATI
1. TINDAKAN PERBAIKAN DENGAN SEGERA
2. TINDAKAN UNTUK MENCEGAH TERULANGNYA KEJADIAN
DIAMATI OLEH :
Nama : _____________ Bagian : ________________ Tanggal :
__________
Lokasi : _______________ Tanda Tangan : ________________
23
KEPEMIMPINAN DAN AKUNTABILITAS Doc. : 002 / HSEPLAN /HSE-AT&E / II /2024
1.1 KETERLIBATAN MANAGEMENT Disahkan Oleh Direktur
DALAM BUDAYA HSE
Dokumentasi Intervensi terhadap kondisi dan Perilaku substandart
24
KEPEMIMPINAN DAN AKUNTABILITAS Doc. : 002 / HSEPLAN /HSE-AT&E / II /2024
1.1 KETERLIBATAN MANAGEMENT Disahkan Oleh Direktur
DALAM BUDAYA HSE
Intervensi terhadap kondisi dan Perilaku substandart
Program ini bertujuan agar semua pekerja dapat
melakukan pemadaman Api mula mula ,apabila
terjadi kebakaran kecil baik dilingkungan kerja
maupun dilingkungan tempat tinggal pekerja
Program ini bertujuan agar pekerja memahami
dan dapat menangani kecelakaan kecil dan
dapat memberikan pertolongan pertama pada
kecelakaan kecil
Program ini dapat dilakukan bersama sama
dengan pihak lokasi kerja ,sehingga apabila
terjadi keadaan darurat agar dapat terhindar dan
nihil kecelakaan
Standar Operasional Prosedur (SOP)
merupakan set instruksi yang dibuat untuk
membantu karyawan melakukan suati tindakan
atau proses kerja. Tujuan pembuatan SOP ini
untuk efisiensi, keseragaman kualitas otput dan
kinerja, sekaligus menghindari miskomunikasi dan
kegagalan.
25
KEPEMIMPINAN DAN AKUNTABILITAS Doc. : 002 / HSEPLAN /HSE-AT&E / II /2024
1.1 KETERLIBATAN MANAGEMENT Disahkan Oleh Direktur
DALAM BUDAYA HSE
penggunaan fullbody harness adalah salah satu
prosedur bekerja di ketinggian lebih dari 1,8 m.
Sangat penting penggunaan safety body harnes,
kita melakukan sosialisasi dan refreshing
kepada semua pekerja
Fit to work merupakan salah satu kegiatan
kesehatan kerja yang diberikan kepada pekerja
dengan tujuan untuk mengetahui kemampuan
fisik, mental dan emosional pekerja sehingga
mampu melaksanakan tugasnya dengan baik
sesuai standar yang ditetapkan dan kondisi
pekerja tersebut tidak akan membahayakan
atau membawa risiko
safety induction adalah untuk
mengkomunikasikan bahaya- bahaya yang
terdapat selama pekerjaan/kunjungan, sehingga
diketahui tindakan pengendalian terhadap bahaya
tersebut.
Induksi karyawan baru yang baik juga
memberikan keuntungan bagi perusahaan
dalam mengurangi tingkat turnover karyawan.
Manfaat lain dengan adanya induksi karyawan
baru adalah membantu menciptakan citra yang
baik bagi perusahaan dalam pemikiran
karyawan baru yang merupakan suatu kegiatan
publik yang bermanfaat.
26
KEPEMIMPINAN DAN AKUNTABILITAS Doc. : 002 / HSEPLAN /HSE-AT&E / II /2024
1.1 KETERLIBATAN MANAGEMENT Disahkan Oleh Direktur
DALAM BUDAYA HSE
Bekerja di ketinggian adalah bekerja pada
suatu tempat yang memiliki potensi pekerja
terjatuh karena perbedaan ketinggian yang
dapat menyebabkan cidera atau kematian.
Agar dapat memberikan informasi HSE
Campaign yang tepat, desain stiker harus
dibuat semenarik dan pesan yang sederhana
tetapi mudah di ingat, beserta gambar
informatif yang mendukung pesan yang
disampaikan.
Program ini bertujuan memastikan komunikasi
atasan-pekerja dilakukan secara efektif dengan
menggunakan jalur komunikasi yang tepat dan
memungkinkan pekerja untuk berpartisipasi dan
memberikan saran dan informasi penting terkait
masalah keselamatan dan kesehatan kerja.
Hygen Industri dan pemberian makanan sehat
kepada pekerja , agar menciptakan kesehatan
dan tenaga kerja yang sehat dan produktif.
27
KEPEMIMPINAN DAN AKUNTABILITAS Doc. : 002 / HSEPLAN /HSE-AT&E / II /2024
1.1 KETERLIBATAN MANAGEMENT Disahkan Oleh Direktur
DALAM BUDAYA HSE
1.1.e.
MATERI
12 ELEMEN CORPORATE LIVE SAVING RULES (CLSR)
Corporate Live Saving Rules (CLSR) adalah area/ jenis pekerjaan yang secara statistik
berpotensi terjadinya fatality incident, dan harus dilakukan upaya pengendalian risiko untuk
mengurangi potensi terjadinya fatality incident, sehingga pekerjaan dapat dilakukan secara aman
dan di lingkungan kerja yang aman. CLSR merupakan peraturan mengenai keamanan dan
keselamatan kerja dan lingkungan yang sudah disahkan oleh PT. Pertamina (Persero) melalui
Surat Keputusan No. Kpts – 12 /C00000/2019-SO dan disusun berdasarkan data statistik faktor
yang berkontribusi dalam kurun waktu tahun 2011 sampai 2018 di aktivitas operasi Pertamina.
CLSR berisi tentang faktor utama keselamatan, yaitu :
1. Melakukan risk assessment pekerjaan & identifikasi risiko life saving rules.
2. Yakinkan pekerjaan dilakukan oleh orang yang berkompeten dan authorized.
3. Menggunakan sarana & prasarana yang sesuai.
4. Mengikuti prosedur pekerjaan.
5. Menggunakan APD sesuai jenis risiko.
6. Kesiapan tanggap darurat dibuat sesuai dengan tingkat risiko pekerjaan.
7. Intervensi & hentikan tindakan / situasi tidak aman.
Tidak hanya itu, CLSR juga berisi tentang peran dan tanggung jawab dari setiap jabatan
manajemen, dan konsekuensi – konsekuensi pelanggaran CLSR itu sendiri. Secara spesifik,
CLSR memiliki 12 elemen yang mengatur keselamatan dari setiap jenis pekerjaan. 12 elemen itu
adalah :
1. Tools & Equipment
Memastikan peralatan dan perlengkapan layak pakai, terawat, dan sesuai dengan pekerjaan
yang dilakukan.
2. Safe Zone Position
Memastikan bekerja di area serta posisi yang aman.
3. Permit to Work
Setiap pekerjaan wajib mempunyai ijin kerja yang sesuai dengan risikonya.
28
KEPEMIMPINAN DAN AKUNTABILITAS Doc. : 002 / HSEPLAN /HSE-AT&E / II /2024
1.1 KETERLIBATAN MANAGEMENT Disahkan Oleh Direktur
DALAM BUDAYA HSE
4. Isolation
Pastikan energi sudah diisolasi sebelum melakukan pekerjaan, dengan aturan log out, tag out,
dan discharge test.
5. Confined Space
Memastikan pekerja memiliki otorisasi dan ijin kerja yang valid sebelum masuk ke dalam
ruang terbatas.
6. Lifting Operation
Memastikan operasi pengangkatan terencana, terawasi, dan dilaksanakan oleh personil yang
berkompeten.
7. Fit to Work
Memastikan pekerja memenuhi persyaratan medis dan fit untuk bekerja sesuai pekerjaan.
8. Working at Height
Memastikan ketersediaan alat pencegah jatuh saat bekerja di ketinggian.
9. Personal Floating Device
Memastikan pelampung digunakan saat bekerja di area yang memiliki potensi bahaya
tenggelam.
10. System Override
Memastikan mendapatkan ijin dan otorisasi sebelum melakukan override / bypass atau
menonaktifkan / disabling safety critical equipment.
11. Asset Integrity
Memastikan fasilitas telah dilakukan inspeksi, pengujian, dan pemeliharaan sesuai dengan
prosedur dan peraturan.
12. Driving safety
Memastikan pengemudi, penumpang, dan kendaraan telah mematuhi peraturan keselamatan
berkendara yang berlaku.
29
KEPEMIMPINAN DAN AKUNTABILITAS Doc. : 002 / HSEPLAN /HSE-AT&E / II /2024
1.1 KETERLIBATAN MANAGEMENT Disahkan Oleh Direktur
DALAM BUDAYA HSE
30
KEPEMIMPINAN DAN AKUNTABILITAS Doc. : 002 / HSEPLAN /HSE-AT&E / II /2024
1.1 KETERLIBATAN MANAGEMENT Disahkan Oleh Direktur
DALAM BUDAYA HSE
31
2. Apakah periode pelaksanaan tinjauan/ review terhadap
implementasi HSSE Plan telah ditetapkan?
KEPEMIMPINAN DAN AKUNTABILITAS Doc. : 002 / HSEPLAN /HSE-AT&E / II /2024
1.1 KETERLIBATAN MANAGEMENT Disahkan Oleh Direktur
DALAM BUDAYA HSE
Jadwal management Walkthrough
No Kegiatan Jadwal 7 Bulan Pekerjaan
1 2 3 4 5 6 7
1 MWT Plan
Actual
Dokumentasi Management Visit
18
KEPEMIMPINAN DAN AKUNTABILITAS Doc. : 002 / HSEPLAN /HSE-AT&E / II /2024
1.1 KETERLIBATAN MANAGEMENT Disahkan Oleh Direktur
DALAM BUDAYA HSE
PROGRAM INSPEKSI MANAJAEMEN
NO KEGIATAN METODOLOGI TIME SCHEDULE
1 PERSIAPAN 1. Tujuan dan ruang lingkup inspeksi. Persiapan kegiatan inspeksi
Perusahaan perlu merencanakan kegiatan 2. Personil pelaksana inspeksi. dilakukan minimal 2 hari
inspeksi agar dapat berjalan lancar dan 3. Tugas dan tanggung jawab yang jelas. sebelum diadakan.
memenuhi sasaran dari kegiatan inspeksi 4. Jadual kegiatan inspeksi.
tersebut. 5. Dokumentasi kegiatan inspeksi ( prosedur, form, dll
).
2 PELAKSANA INSPEKSI a. Pengumpulan informasi. Dilaksanakan setiap 2 x dalam
Perusahaan melalui Direktur langsung dan b. Peninjauan dokumen ( manual, SOP, dll ). satu bulan
bila berhalangan maka diserahkan kepada c. Mempersiapkan alat tulis dan cheklist.
Pengawas Operasi & K3LL untuk melakukan d. Pembuatan jadual inspeksi.
kegiatan inspeksi e. Breifing tim inspeksi.
f. Mempersiapkan APD ( Alat Pelindung Diri ) jika
diperlukan.
3 KEGIATAN INSPEKSI Perkenalan dari tim inspeksi Dilaksanakan maksimal 1 (satu)
Tim Inspeksi datang lokasi pekerjaan atau Menggunakan daftar periksa ( cheklist ) hari kerja.
ke tempat yang direncanakan untuk di Melihat bukti obyektif dengan methode : ( Verifikasi,
inspeksi Observasi, Wawancara
dan Mencatat secara mendetail bukti obyektif ).
4 LAPORAN INSPEKSI a. Laporan inspeksi yang dibuat merupakan Dilaksanakan maksimal 3 (tiga)
Setelah diadakan inspeksi, maka petugas dokumentasi dari keseluruhan inspeksi sehingga dapat hari kerja.
inspeksi wajib membuat Laporan yang akan menjadi bahan rapat Tinjauan Ulang Manajemen
dibahas dalam rapat manajemen. b. Isi dari laporan
c. Detail kegiatan inspeksi ( lokasi, tanggal, tenaga kerja,
dll )
d. Kesimpulan umum
e. Ruang lingkup inspeksi
f. Temuan inspeksi dan rekomendasi perbaikan
5 TINDAK LANJUT a. Melakukan pemantauan tindakan perbaikan atas Untuk waktu-waktu berikutnya.
Perusahaan perlu menindaklanjuti dari ketidaksesuaian yg ditemukan
setiap temuan-temuan kegiatan inspeksi. b. Sebagai bahan masukan kepada pihak Manajemen
c. Sebagai pertimbangan untuk frekwensi inspeksi
berikutnya
19