9
PEMBENTUKAN KARAKTER RELIGIUS SISWA
DI MADRASAH
Wahid Khoirul Anam
STIT Al-Mubarok Bandar Mataram
[Link]@[Link]
ABSTRACT : The focus of this research problemisHow
Impact formation of the religious character of the daily
behavior of students in Madrasah. Objectives to be
achieved in this study areto identify, analyze and
describeThe formation of the religious character of the
program and impact the establishment of a religious
character to the everyday behavior of students in
Madrasah. This study is a qualitative research The data
collection method used is the method of observation,
interviews and documentation respondents involved,
headmaster, teachers, staff and students. Hasi these
studies show that Madrasah using five methodsin order to
form the religious character of students, namely:exemplary,
planting discipline, habituation, and the atmosphere is
conducive. These five methods are applied in routine
activities such asDuha prayer, midday prayer in
congregationand Habituation Tadarus Qur'an.
Fokus masalah dalam penelitian ini adalah dan
Bagaimana Dampak pembentukan karakter religius
terhadap prilaku sehari-hari siswa di Madrasah. Tujuan
yang ingin di capai dalam penelitian ini yaitu untuk
mengetahui, menganalisis dan mendeskripsikan Program
Pembentukan karakter religius dan dampak pembentukan
karakter religius terhadap prilaku sehari-hari siswa di
Madrasah. Jenis penelitian ini termasuk penelitian
kualitatif, Adapun metode pengumpulan data yang
digunakan adalah Metode observasi, interview dan
dokumentasi yang respondennya melibatkan, kepala
madrasah, guru, staf dan siswa. Hasi penelitian ini
Pembentukan Karakter Religius - Wahid Khoirul Anam 149
menunjukan bahwa Madrasah menggunakan 5 metode
dalam upaya membentuk karakter religius siswa, yaitu:
keteladanan, penanaman kedisiplinan, pembiasaan, dan
suasana kondusif. Kelima metode tersebut diterapkan
dalam kegiatan rutin berupa shalat Dhuha, Sholat
dzuhur berjamaah dan Pembiasaan Tadarus Al-Qur’an.
Keyword : Pembentukan, Karakter, Religius
A. PENDAHULUAN
Dunia pendidikan dinilai masih kurang berhasil dalam
mengantarkan generasi bangsa menjadi pribadi-pribadi yang
bermartabat. Hal ini menjadikan bangsa Indonesia dikategorikan
dalam kondisi krisis dan salah satunya adalah krisis moral, seperti
praktik korupsi, kolusi, dan nepotisme yang semakin marak pada
lembaga pemerintahan, perilaku seks bebas dikalangan generasi
muda, penyalah gunaan narkoba, maraknya anarkis, peristiwa
tawuran antar pelajar, kriminalitas, kerusakan lingkungan, serta
masih banyak kondisi yang semakin parah. Hal ini menjadi
tanggung jawab semua lapisan warga Indonesia khususnya para
pelaku pendidikan. Jalannya suatu proses pendidikan seyogyanya
mampu merubah karakter peserta didik menjadi lebih baik.
Karakter merupakan nilai-nilai yang terpatri dalam diri seseorang
melalui pendidikan, pengalaman, percobaan, pengorbanan, dan
pengaruh lingkungan, dipadukan dengan nilai-nilai dalam diri
manusia menjadi semacam nilai intrinsik yang mewujud dalam
system daya juang melandasi pemikiran, sikap dan perilaku.
Karakter bukan bawaan sejak lahir, tidak datang dengan
sendirinya, tidak bisa diwariskan dan tidak bisa ditukar
melainkan harus dibentuk, ditumbuh kembangkan, dan
dibangun secara sadar dan sengaja hari demi hari melalui suatu
proses. Salah satu proses tersebut dapat melalui pendidikan.
Pendidikan adalah usaha sadar yang dilakukan
pemerintah, melalui kegiatan bimbingan, pengajaran, dan atau
latihan yang berlangsung di sekolah dan diluar sekolah sepanjang
hayat, untuk mempersiapkan peserta didik agar dapat memainkan
peranan dalam berbagai lingkungan hidup secara tepat dimasa
150 Dimar – Volume 1 No 1, Desember 2019 : 148 - 163
yang akan datang. 1 Tujuan pendidikan nasional menurut UU
Sisdiknas 2003, yakni mengembangkan kemampuan dan
membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat
dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk
berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang
beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak
mulia, sehat berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga
negara yang demokratis serta bertanggung jawab.2
Sasaran pendidikan adalah membangun karakter,
sedangkan tujuan utama pendidikan bukanlah pengetahuan tapi
penampilan atau tindakan.3 Oleh karena itu pendidikan karakter
dalam sebuah lembaga pendidikan sangat penting dan
dibutuhkan. Pendidikan karakter adalah proses menanamkan
karakter tertentu sekaligus memberi benih agar peserta didik
mampu menumbuhkan karakter khasnya pada saat menjalankan
kehidupannya.4
Lembaga pendidikan menjadi faktor yang sangat penting
dalam membentuk sebuah karakter. Di sekolah atau madrasah
siswa belajar dan bergaul dengan guru dan teman sebayanya, siswa
belajar untuk mengembangkan potensi dalam diri dan siswa juga
belajar bagaimana bersikap dengan orang yang lebih tua dan
teman sebayanya. Pada saat yang bersamaan siswa akan
menampakan karakternya masing-masing. Di momen inilah
lembaga pendidikan berperan membentuk karakter siswa, melalui
keteladanan ataupun pembiasaan-pembiasaan yang baik. Momen
pertama pendidikan karakter didalam lembaga pendidikan adalah
penentuan visi dan misinya. Visi dan misi lembaga pendidikan
merupakan momen awal yang menjadi prasyarat sebuah program
pendidikan karakter disekolah. Tanpa ini, pendidikan karakter
disekolah tidak dapat berjalan.5 Untuk itu, dengan pendidikan
karakter diharapkan mampu menghasilkan dan menampilkan
generasi yang tidak hanya memiliki kecerdasan intelektual, tetapi
memiliki kecerdasan emosional dan spiritual serta memiliki
Pembentukan Karakter Religius - Wahid Khoirul Anam 151
pribadi berkarakter yang selalu berusaha menjaga perkembangan
dirinya dengan meningkatkan kualitas keimanan, akhlak,
hubungan antar sesama manusia dan mewujudkan motto
hidupnya bahagia dunia dan akhirat. Untuk membentuk pribadi
berkarakter tersebut dapat melalui kebiasaan-kebiasaan yang baik
dan bermanfaat yang dilakukan secara berulang-ulang, hari demi
hari akan masuk pada bagian pribadinya yang sulit ditinggalkan.
B. METODE PENELITIAN
Penelitian adalah usaha seseorang yang dilakukan secara
sistematis, dikontrol, dan mendasarkan pada teori yang ada dan
diperkuat dengan gejala yang ada. Tujuan dari penelitian adalah
mendapatkan gambaran mengenai masalah-masalah yang dihadapi
serta cara mengatasi permasalahan tersebut. Metodologi penelitian
adalah usaha seseorang yang dilakukan secara sistematis mengikuti
aturan-aturan guna menjawab permasalahan yang hendak diteliti.
Jenis penelitian ini adalah penelitian kualitatif.
Tujuan penelitian kualitatif diarahkan untuk memahami
fenomena-fenomena social dari perspektif partisipan. Ini diperoleh
melalui pengamatan partisipatif dalam kehidupan orang-orang
yang menjadi partisipan. Adapun metode pengumpulan data yang
digunakan peneliti dalam penelitian ini adalah Observasi dan
Interview.
C. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
1. Pentingnya Nilai Religius dalam Pendidikan Karakter
Agama sangatlah penting untuk pedoman hidup
manusia karena dengan bekal agama yang cukup akan
memberikan dasar yang kuat ketika akan bertindak, dalam
nilai religius berisi tentang aturan-aturan kehidupan dan
pengendali diri dari perbuatan yang tidak sesuai dengan
syariat agama. Nilai religius yang kuat merupakan landasan
bagi siswa untuk kelak menjadi orang yang dapat
mengendalikan diri terhadap hal-hal yang bersifat negatif.
Sesungguhnya pendidikan karakter bertujuan untuk
membentuk setiap pribadi menjadi insan manusia yang
mempunyai nilai-nilai yang utama sebagai dasar karakter yang
152 Dimar – Volume 1 No 1, Desember 2019 : 148 - 163
baik sesuai dengan nilai yang berlaku dimasyarakat, nilai-nilai
yang utama tersebut berasal dari ajaran agama, kearifan lokal,
maupun falsafah bangsa. 6 Nilai Religius adalah nilai yang
paling penting dalam kehidupan manusia karena apabila
seseorang dapat mencintai Tuhannya, kehidupannya akan
penuh dengan kebaikan apalagi jika kecintaan kepada Tuhan
juga disempurnakan dengan mencintai ciptaan-Nya yang lain
yaitu seluruh alam semesta dan isinya, dengan demikian
mencintai ciptaan-Nya berarti juga harus mencintai sesama
manusia, hewan, tumbuhan, dan seluruh alam ini. Seseorang
yang mempunyai karakter ini akan berusaha berperilaku
penuh cinta dan kebaikan. Tanda yang paling tampak oleh
seseorang yang beragama dengan baik adalah mengamalkan
ajaran agama yang dianutnya dalam kehidupan sehari-hari.
Inilah karakter yang sesungguhnya perlu dibangun bagi
penganut agama misalnya keimanan seseorang didalam Islam
baru dianggap sempurna bila meliputi tiga hal yaitu keyakinan
dalam hati, diikrarkan secara lisan, dan diwujudkan dalam
tindakan nyata. Bila hal ini dapat dilakukan dengan baik,
berarti pendidikan karakter telah berhasil dibangun dalam
proses belajar mengajar yang dilakukan di sekolah. 7
Apabila tingkat keimanan seseorang telah meresap
benar-benar ke dalam jiwa maka manusia yang memiliki jiwa
itu pasti tidak akan dihinggapi sikap kikir, tamak, atau rakus.
Sebaliknya, ia akan bersifat dermawan, suka memberi,
membelanjakan harta pada yang baik-baik, penyantun, dan
pemberi kelapangan pada sesama. Selain itu, ia akan menjadi
manusia yang dapat diharapkan kebaikannya dan dapat
dijamin tidak akan timbul kejahatan. Nilai religius sangat
penting dalam kehidupan manusia sebagai landasan manusia
untuk berpijak karena pada hakikatnya manusia dicipatkan
untuk menyembah Allah SWT dan menjadi khalifah di bumi.
Nilai religius sangat penting di tanamkan sedini mungkin
kepada siswa agar mereka mempunyai pondasi yang kuat
untuk menapak kehidupanya.
Pembentukan Karakter Religius - Wahid Khoirul Anam 153
Karakter religius ini sangat dibutuhkan oleh siswa
dalam menghadapi perubahan zaman dan degradasi moral
dalam hal ini siswa diharapkan mampu memiliki
berkepribadian dan berprilaku sesuai dengan ukuran baik dan
buruk yang didasarkan pada ketentuan dan ketetapan agama.
Oleh karena itu siswa harus dikembangkan karakternya agar
benar-benar berkeyakinan, bersikap, berkata-kata, dan
berperilaku sesuai dengan ajaran agama yang dianutnya.
Untuk mewujudkan harapan tersebut dibutuhkan pendidik
atau guru yang bias menjadi suri tauladan bagi siswa. Guru
tidak hanya memerintah siswa agar taat dan patuh serta
menjalankan ajaran agama namun juga memberikan contoh,
figur, dan keteladanan.
2. Peran Sekolah dalam Pelaksanaan Pendidikan Karakter
Religius
Keberhasilan pendidikan karakter di lingkungan
sekolah memerlukan pemahaman yang cukup dan konsisten
oleh seluruh personalia pendidikan. Seluruh komponen
sekolah yang terdiri dari kepala sekolah, guru, dan karyawan,
harus memiliki persamaan persepsi tentang pendidikan
karakter untuk siswa. Setiap personalia mempunyai peran dan
tugasnya masing-masing sebagai berikut:
a. Kepala Sekolah
Kepala sekolah sebagai manajer harus mempunyai
komitmen yang kuat tentang pentingnya pendidikan
karakter dan mampu membudayakan karakter-karakter
unggul di sekolahnya. Perlu adanya revitalisasi peranperan
kepala sekolah berupa penyesuaian terhadap
Kemendiknas Nomor 13 Tahun 2007 agar memasukan
pula kompetensi kepala sekolah terkait dengan peran dan
tugasnya sebagai pendidik karakter bangsa. Peraturan ini
mencakup penguasaan, kemampuan, dan keterampilan
kepala sekolah sebagai pendidik nilai karakter bangsa
sebagai salah satu dimensi kompetensi mengenai peran
dan tugas kepala sekolah.
b. Pengawas
Meskipun pengawas tidak berhubungan langsung dengan
proses pembelajaran kepada siswa namun seorang
154 Dimar – Volume 1 No 1, Desember 2019 : 148 - 163
pengwas mampu mendukung dan keberhasilan atau
kegagalan penyelenggara pendidikan melalui fungsi dan
peran yang diembannya. Revitalisasi tugas dan peran
pengawas dalam pembentukan karakter siswa disegenap
satuan pendidikan merupakan hal yang penting unuk
diwujudkan. Pengawas tidak lagi hanya berperan dalam
tugas mengawasi dan mengavuluasi hal-hal yang bersifat
administrative sekolah, namun juga sebagai agen atau
mediator pendidikan karakter.
c. Guru atau pendidik
Zubaedi berpendapat bahwa para pendidik atau guru
dalam konteks pendidikan karakter dapat menjalankan
lima peran yaitu: “Pertama, konservator (pemelihara)
sistem nilai yang merupakan sumber norma kedewasaan.
Kedua, inovator (pengembang) system nilai ilmu
pengetahuan. Ketiga, transmit (penerus) sistem-sistem
nilai ini kepada siswa. Keempat, tranformator
(penerjemah) sistem-sistem nilai ini melalui penjelmaan
dalam pribadinya dan perilakunya, dalam proses interaksi
dengan sasaran didik. Kelima, organisator (penyelenggara)
terciptanya proses edukatif yag dapat dipertanggung
jawabkan, baik secara formal (kepada pihak yang
mengangkat dan menugaskannya) maupun secara moral
(kepada sasaran didik, serta Tuhan yang
menciptakannya).”
d. Staf karyawan atau pegawai
Para staf karyawan atau pegawai di lingkungan sekolah
tidak hanya berkutat dengan pekerjaannya saja namun
juga dituntut untuk berperan dalam penyelenggaraan
pendidikan karakter. Cara yang dapat dilakukan yaitu
dengan menjaga sikap, sopan santun, dan perilaku agar
mampu menjadi sumber keteladanan bagi siswa walaupun
jarang berkomunikasi secara langsung dengan siswa.
Semua pihak berperan penting dalam keterlaksanaan
penyelenggaran pendidikan karakter di sekolah dan harus
mampu bekerja sama satu sama dengan yang lain dan
bertanggung jawab dengan peran yang telah diamanatkan
kepadanya agar pelaksanaan pendidikan karakter dapat
berjalan baik. Sekolah sebagai lembaga yang melakukan
Pembentukan Karakter Religius - Wahid Khoirul Anam 155
pelayanan pada masyarakat dengan menekankan secara
sosial, moral dan akademis bertanggung jawab dalam
mengintegrasikan pendidikan karakter pada semua
disiplin materi pembelajaran atau di setiap aspek dari
kurikulum.
3. Strategi Pembentukan Karakter Religius Di Madrasah
Pendidikan karakter (akhlak) dalam islam
menekankan penanaman sikap dan perilaku yang baik pada
diri individu, sehingga ia mampu berbuat baik bagi dirinya
dan masyarakatnya. Hubungan individu dengan masyarakat
dalam islam, merupakan hubungan timbal balik, yang diikat
oleh nilai dan norma etika yang disebut oleh Aminah Ahmad
Hasan dengan istilah ‘il_qah rūhiyyah khuluqiyah’ (interaksi
yang diikat oleh kode etik).8 Oleh karena itu, untuk
membentuk karakter anak dapat dilakukan dengan berbagai
macam pendekatan, selain yang dijelaskan diatas,
pembentukan karakter anak dapat dilakukan dengan sikap
sebagai berikut:
a. Keteladanan
Di dalam al-Qur’an kata teladan diproyeksikan dengan
kata uswah yang kemudian dibelakangnya diberi kata sifat
hasanah yang berarti baik, sehingga terdapat ungkapan
uswah hasanah yang artinya teladan yang baik. 9 Keteladan
lebih mengedepankan aspek perilaku dalam bentuk
tindakan nyata dari pada sekedar berbicara tanpa aksi,
apalagi didukung oleh suasana yang memungkinkan anak
mampu melakukan apa yang dilakukan oleh seorang guru.
Oleh karena itu dalam mendidik manusia Allah
menggunakan contoh atau teladan sebagai model terbaik
agar mudah diserap dan diterapkan oleh manusia.
b. Penanaman Kedisiplinan
Amiroeddin Sjarif mengatakan bahwa kedisiplinan pada
dasarnya adalah suatu ketaatan yang sungguh-sungguh
yang didukung oleh kesadaran untuk menunaikan tugas
156 Dimar – Volume 1 No 1, Desember 2019 : 148 - 163
dan kewajiban serta berperilaku sebagaimana mestinya
menurut aturan-aturan atau tata kelakuan yang
seharusnya berlaku dalam suatu lingkungan tertentu. 10
Satria Hadi Lubis, dalam bukunya “Saatnya Memperbaiki
Diri” mengatakan bahwa disiplin berarti melakukan
sesuatu sesuai dengan aturan. Baik aturan yang dibuat
oleh manusia maupun aturan yang dibuat oleh Allah
dalam bentuk hukum alam (ayat kauniyah) dan hukum
kebenaran (ayat qouliyah). Semua aturan tersebut berperan
besar dalam membentuk karakter (akhlak) individu. 11
c. Pembiasaan
Anak akan tumbuh dan berkembang sebagaimana
lingkungan yang mengajarinya dan lingkungan tersebut
juga yang menjadi kebiasaan yang dihadapinya setiap hari.
Jika lingkungan mengajarinya dengan kebiasaan berbuat
baik, maka kelak anak akan terbiasa berbuat baik dan
sebaliknya jika seorang anak tumbuh dalam lingkungan
yang mengajarinya berbuat kejahatan, kekerasan, maka ia
akan tumbuh menjadi pelaku kekerasan. Pembiasaan
pada anak hendaknya dilakukan secara kontinu dalam
arti dilatih dengan tidak jemu-jemunya serta
menghilangkan kebiasaan buruk. 12
d. Menciptakan suasana yang kondusif
Terciptanya suasanya yang kondusif akan memberikan
iklim yang memungkinkan terbentuknya karakter. Oleh
karena itu, berbagai hal yang terkait dengan upaya
pembentukan karakter harus dikondisikan, terutama
individu-individu yang ada dilakungan itu.
e. Integrasi dan Internalisasi
Pendidikan karakter membutuhkan proses internalisasi
nilai-nilai. Untuk itu diperlukan pembiasaan yang
bertahap sehingga akan menimbulkan kesadaran. Nilai-
nilai karakter seperti menghargai orang lain, disiplin,
Pembentukan Karakter Religius - Wahid Khoirul Anam 157
jujur, amanah, sabar dapat diintegrasikan dan
internalisasikan ke dalam seluruh kegiatan sekolah.
Terintegrasi, karena pendidikan karakter memang tidak
dapat dipisahkan dengan aspek lain dan merupakan
landasan dari seluruh aspek termasuk mata pelajaran.
Terinternalisasi, karena pendidikan karakter harus
mewarnai seluruh aspek kehidupan.
4. Implementasi Pembentukan Karakter Religius Di Madrasah
a. Tadarus Al-Qur’an
Tadarus menurut bahasa berarti belajar. Istilah
ini biasa diartikan dan digunakan dengan pengertin
khusus, yaitu membaca Al-Qur’an semata-mata untuk
ibadah kepada Allah dan memperdalam pemahaman
terhadap ajaran Al- Qur’an.13 ”Selain itu tadarus juga
berarti membaca, mempelajari dan mengaktualisasikan
kandungan isi Al-Qur’an. Hal itu merupakan ibadah
yang sangat mulia di sisi Allah SWT”. Jadi tadarus dapat
disimpulkan yaitu suatu kegiatan atau aktivitas membaca
dan mempelajari Al-Qur’an yang diniatkan untuk
semata-mata ibadah kepada Allah. Dalam hal ini penulis
mengerucutkan kepada aktivitas membaca Al-Qur’an.
Menurut Abudin Nata Al-Qur’an adalah kitab
suci yang isinya mengandung firman Allah SWT,
turunnya secara bertahap melalui malaikat Jibril,
pembawanya nabi Muhammad SAW. Susunannya
dimulai dari surat Al-Fatihah dan diakhiri dengan surat
An-Nas, bagi yang membacanya dinilai ibadah. 14
Dari beberapa pengertian-pengertian di atas
maka dapat disimpulkan bahawa intensitas tadarus Al-
Qur’an yaitu Rutinitas, keseriusan dan frekuensi dalam
kegiatan membaca Al-Qur’an, yang dilakukan dalam
kehidupan sehari-hari baik perorangan maupun
berjama’ah dan semata-mata hanya untuk ibadah kepada
Allah SWT. Dengan demikian intensitas tadarus Al-
Qur’an dapat dilakukan dalam bentuk : 1) Rutinitas
158 Dimar – Volume 1 No 1, Desember 2019 : 148 - 163
dalam pelaksanaan Tadarus Al-Qur’an. Menurut Kamus
Besar Bahasa Indonesia Intensitas merupakan kehebatan,
kekuatan, keadaan yang intens. Jadi Intensitas Tadarus
Al-Qur’an yaitu tingkat rutinitas dalam tadarus Al-
Qur’an. Dengan demakin semakin banyak kita melatih
diri baik mengembangkan potensi atau ketrampilan kita,
maka dengan itu kita akan semakin belajar atau semakin
memahami kondisi dan cara yang hendak dicapai. 2)
Kesungguhan dan keseriusan dalam pelaksanaan tadarus
Al-Qur’an. Al-Qur’an adalah surat cinta dari Allah untuk
hamba-Nya. Karena itu etika tadarus Al-Qur’an yang
sangat penting adalah berusaha berdialog dan
berinteraksi dengan Al-Qur’an yang dibaca dengan akal
dan hatinya. Yaitu, dalam keadaan serius bukan dalam
keadaan melamun atau tidak konsentrasi. 3) Frekuensi
tadarus Al-Qur’an. Frekuensi dalam hal ini adalah berapa
banyak siswa melakukan Tadarus Al-Qur’an dalam
sehari. Dalam konsepnya ketika kita tadarus Al-Qur’an
jiwa kita akan merasa nyaman dan tenang. Karena
menurut Sa’ad Riyadh bahwa Al-Qur’an dapat
mendatangkan ketenangan jiwa yang selalu dicari oleh
setiap manusia.15 Dari asumsi ini dapat disimpulkan
bahwa semakin banyak kita tadarus Al-Qur’an maka
semakin terjaga pula ketenangan jiwa kita. Sebab
ketenangan jiwa merupakan salah satu faktor psikologis
kita untuk mencapai sesuatu.
b. Shalat Dzuhur Berjamaah
Shalat berjama’ah merupakan kesempatan besar
untuk saling mengenal dan beramah tamah antar sesama
muslim saat pertemuan mereka dalam shalat lima waktu,
juga ketika masuk dan keluar masjid. Shalat berjama’ah
juga merupakan kesempatan bagi para jama’ah untuk
saling mencari tahu satu sama lain, serta untuk
mengetahui situasi dan kondisi mereka, sehingga
terjadilah kunjungan kepada orang sakit, membantu
orang yang membutuhkan, berbelas kasih kepada orang
yang terkena musibah dan sebagainya, hal-hal yang bisa
Pembentukan Karakter Religius - Wahid Khoirul Anam 159
menguatkan hubungan dan menambah persaudaraan
antar sesama muslim. Apabila dua orang sembahyang
bersama-sama dan salah seorang diantara mereka
mengikut yang lain, keduanya dinamakan shalat
berjama’ah. Shalat berjamaah itu paling sedikit ada imam
dan ada seorang makmum.16
c. Sholat Dhuha
Perilaku religius adalah sikap tingkah laku yang
tidak menyimpang dari syari’at Islam yang dimiliki oleh
seorang beragama Islam, guna dapat berinteraksi dengan
manusia lain dalam masyarakat. Dengan menjadikan
agama sebagai dasar dalam pencapaian keputusan dalam
segala hal, sehingga agama tidak lagi terbatas hanya
sekedar menerangkan hubungan antara manusia dengan
Tuhannya, tetapi secara tidak terelakkan juga melibatkan
kesadaran berkelompok (sosiologis) atau untuk
bermasyarakat. Adapun perilaku religius adalah sebagai
tindakan dalam melaksanakan ajaran agama baik
hubungan dengan Tuhan atau sesama makhluk. Untuk
berhubungan dengan sesama makhluk dapat dilihat
dalam perilaku keberagamaan seseorang, terutama di
masyarakat. Perilaku keagamaan dapat dikatakan juga
sebagai akhlak Islami.
5. Dampak Program Pembentukan Karakter Religius Siswa di
Madrasah
Religius merupakan karakter yang harus dibentuk
pada pribadi siswa untuk menunjukkan sikap patuh dan
beriman kepada tuhanya yaitu Allah SWT, karena dengan
karakter religius siswa akan dapat meraih keberuntungan dan
keberhasilan yang diharapkan di dunia terlebih di akhirat
kelak. Perilaku religius adalah sikap tingkah laku yang tidak
menyimpang dari syari’at Islam yang dimiliki oleh seorang
beragama Islam, guna dapat berinteraksi dengan manusia lain
dalam masyarakat. Dengan menjadikan agama sebagai dasar
dalam pencapaian keputusan dalam segala hal, sehingga
160 Dimar – Volume 1 No 1, Desember 2019 : 148 - 163
agama tidak lagi terbatas hanya sekedar menerangkan
hubungan antara manusia dengan Tuhannya, tetapi secara
tidak terelakkan juga melibatkan kesadaran berkelompok
(sosiologis) atau untuk bermasyarakat. Adapun dampak dari
pembentukan karakter religius siswa di Madrasah adalah
sebagai berikut:
a. Tawakal
Dampak pembentukan karakter religius siswa terhadap
prilaku sehari-hari antara lain adalah tawakal kepada
Allah Swt. Hasil wawancara dengan guru dan siswa dapat
dianalisi bahwa setelah siswa melaksanakan kegiatan
keagamaan terutama sholat dzuhur berjama’ah, mereka
merasa lebih tawakkal, menyerahkan segala urusan kepada
Allah SWT. setelah mereka berusaha semaksimalnya. Hal
ini disebabkan karena mereka yakin bahwa dengan
melaksanakan shalat dzuhur berjamaah, maka Allah
SWT. akan mempermudah segala urusan.
b. Syukur
Dampak pembentukan karakter religius siswa terhadap
prilaku sehari-hari antara lain adalah terbentuknya siswa
yang mampu bersyukur kepada Allah SWT.
c. Sopan
Dampak pembentukan karakter religius siswa terhadap
prilaku sehari-hari antara lain adalah terbentuknya siswa
yang mampu menampakan sikap sopan. Hasil wawancara
dengan kepala madrasah, staf, guru dan siswa dapat
dianalisi bahwa setelah siswa melaksanakan kegiatan
keagamaan terutama sholat berjama’ah, mereka merasa
dapat menampakan sikap sopan kepada guru, orang tua
maupun teman sebayanya.
d. Sabar
Dampak pembentukan karakter religius siswa terhadap
prilaku sehari-hari antara lain adalah terbentuknya siswa
yang mampu menampakan sikap sabar. Dapat dianalisa
bahwa dengan melaksanakan program keagamaan, siswa
cukup mampu menerapkan sikap sabar.
e. Al-Ukhuwah
Pembentukan Karakter Religius - Wahid Khoirul Anam 161
Hasil wawancara dengan kepala madrasah, staf, guru dan
siswa dapat dianalisi bahwa setelah siswa melaksanakan
kegiatan keagamaan terutama sholat berjama’ah maupun
tadarus Al-Qur’an, mereka merasa dapat menampakan
jiwa persaudaraan bahwa dengan adanya kegiatan
keagamaan siswa punya rasa peduli dan punya rasa saling
bersaudara dengan sesama teman.
f. Insyirah (lapang dada)
Hasil wawancara dengan kepala madrasah, staf, guru dan
siswa dapat dianalisi bahwa setelah siswa melaksanakan
kegiatan keagamaan terutama sholat berjama’ah maupun
tadarus Al-Qur’an, mereka merasa dapat menampakan
sikap lapang dada. Bahwa dengan adanya kegiatan
keagamaan siswa punya sikap lapang dada. bahwa di
tengah-tengah rutinitas kegiatan belajar mengajar, siswa
sering mengalami tekanan. Akibatnya, pikiran menjadi
kalut, hati tidak tenang, dan emosi tidak stabil.
D. PENUTUP
Dari uraian di atas dapat di simpulkan bahwa Pembentukan
Karakter Religius Siswa di Madrasah dapat disimpulkan bahwa
Madrasah dalam Program Pembentukan Karakter Religius Siswa,
menggunakan 5 metode yaitu: keteladanan, penanaman
kedisiplinan, pembiasaan, dan suasana kondusif. Kelima metode
tersebut diterapkan dalam kegiatan rutin berupa shalat Dhuha,
Sholat dzuhur berjamaah dan Pembiasaan Tadarus Al-Qur’an.
Kegiatan shalat dhuha menjadi program harian di Madrasah,
Selain itu, setelah mengerjakah sholat dhuha berjamaah diadakan
do’a bersama. Kegiatan Sholat dzuhur berjamaah dilaksanakan
setiap hari yang di imami oleh guru piket. Setelah Sholat dzuhur
berjamaah selesai siswa membaca ayat-ayat Al Qur’an yang
dibimbing oleh guru. Tadarus Al-Qur’an dilaksanakan setiap hari
tepat sebelum proses belajar mengajar dimulai dimana kegiatan ini
di pimpin oleh guru mata pelajaran pertama.
Terdapat 7 dampak dampak Program Pembentukan
Karakter Religius Siswa dalam kehidupan sehari-hari yaitu:
a. siswa selalu merasa tawakal kepada Allah SWT.;
162 Dimar – Volume 1 No 1, Desember 2019 : 148 - 163
b. siswa lebih mempunyai rasa syukur ketika mendapat sesuatu
yang berharga;
c. siswa mempunyai kesopanan terhadap guru, teman sebaya dan
orang lain;
d. siswa lebih sabar dalam menerima hasil ujian;
e. siswa dapat bersikap Insyirah (lapang dada) ketika menerima
sesuatu yang tidak dia inginkan.
ENDNOTESS
1. Binti Maunah, Landasan Pendidikan, (Yogyakarta: Teras, 2009),
h. 5
2. Binti Maunah, Landasan …., h. 14
3. Soemarno Soedarsono, Membangun …...., h. 23
4. Syafaruddin, Pendidikan dan Pemberdayaan Masyarakat, (Medan:
Perdana Publishing, 2012), h. 181
5. Doni Koesoema A, Pendidikan Karakter: Strategi Mendidik Anak
di Zaman Global, (Jakarta: Kompas Gramedia, 2010), h. 5
6. Samsuri, Pendidikan Karakter Warga Negara. (Yogyakarta:
Diandra 2011) h.11
7. Akmad Muhaimin Azzet. Urgensi Pendidikan karakter di
Indonesia. (Yogyakarta: Ar-Ruzz Media 2011) h. 68
8. Aminah ahmad Hasan, nazariyah al-Tarbiyah fi al-Qur’ān wa-
Tatbiqātuha fi Ahdi Rasulillah SAW (Qairo: Dār al-Mā ārif,
1985),h.32.
9. Abuddin Nata, Filsafat Pendidikan Islam (Jakarta: Gaya Media
Pratama, 2005), h. 147.
10. Ibid,,, h.45
11. Satria Hadi Lubis, Saatnya Memperbaiki Diri (Jakarta: Misykat
2004), h.62.
12. Ibid, 170.
13. Ahsin W. Al Hafizd, Kamus Ilmu Al-Qur’an, (Jakarta: Amzah,
2006) hlm. 280
Pembentukan Karakter Religius - Wahid Khoirul Anam 163
14. Abuddin Nata, Metodologi Studi Islam, (Jakarta: PT Raja
Grafindo, 2008), Eds. Revisi, h. 68
15. Sa’ad Riyadh, Anakku, Cintailah Al-Qur’an, (Jakarta : Gema
Insani, 2009) h. 104
16. Zainudin, Terjemah Fathul Mu’in, (Sinar Baru Algen
Sindo:2009), h. 355
DAFTAR PUSTAKA
Abuddin Nata, Filsafat Pendidikan Islam (Jakarta: Gaya Media Pratama,
2005)
Abuddin Nata, Metodologi Studi Islam, (Jakarta: PT Raja Grafindo,
2008)
Ahsin W. Al Hafizd, Kamus Ilmu Al-Qur’an, (Jakarta: Amzah, 2006)
Akmad Muhaimin Azzet. Urgensi Pendidikan karakter di Indonesia.
(Yogyakarta: Ar-Ruzz Media 2011)
Aminah ahmad Hasan, nazariyah al-Tarbiyah fi al-Qur’ān wa-Tatbiqātuha
fi Ahdi Rasulillah SAW (Qairo: Dār al-Mā ārif, 1985)
Binti Maunah, Landasan Pendidikan, (Yogyakarta: Teras, 2009)
Doni Koesoema A, Pendidikan Karakter: Strategi Mendidik Anak di
Zaman Global, (Jakarta: Kompas Gramedia, 2010)
Sa’ad Riyadh, Anakku, Cintailah Al-Qur’an, (Jakarta : Gema Insani,
2009)
Samsuri, Pendidikan Karakter Warga Negara. (Yogyakarta: Diandra
2011)
Satria Hadi Lubis, Saatnya Memperbaiki Diri (Jakarta: Misykat 2004)
Syafaruddin, Pendidikan dan Pemberdayaan Masyarakat, (Medan:
Perdana Publishing, 2012)
Zainudin, Terjemah Fathul Mu’in, (Sinar Baru Algen Sindo:2009)