HEMOFILIA
Hemofilia adalah kondisi medis yang tergolong langka, ditandai dengan darah seseorang yang
sulit mengalami pembekuan. Apabila seseorang mengalami mimisan dan sulit berhenti, hal
tersebut bisa menjadi indikasi hemofilia. Mari kita kenali penyebab, gejala, hingga pencegahan
hemofilia pada ulasan ini.
Apa itu Hemofilia?
Hemofilia adalah kelainan yang terjadi pada sistem peredarah darah manusia. Penyakit
hemofilia membuat darah dalam tubuh tidak dapat menggumpal atau membeku dengan baik.
Seseorang yang menderita hemofilia mempunyai kemungkinan yang dapat menurunkan
penyakit ini kepada anak-anaknya.
Berdasarkan tingkat keparahannya, hemofilia dibedakan menjadi 3 jenis, yaitu:
Hemofilia ringan, yaitu hemofilia yang terjadi ketika kadar faktor pembekuan darah pada tubuh
penderitanya berada di kisaran 5 - 40 persen.
Hemofilia sedang, terjadi ketika kadar faktor pembekuan darah pada tubuh penderitanya
berada di kisaran 1 - 5 persen.
Hemofilia berat, terjadi ketika kadar faktor pembekuan darah pada tubuh penderitanya kurang
dari 1 persen.
Penyebab Hemofilia
Penyebab hemofilia adalah adanya mutasi gen pada tubuh sehingga tidak memiliki cukup
protein yang berfungsi dalam pembekuan darah. Lebih tepatnya, kelainan darah ini berkaitan
dengan mutasi pada kromosom X.
Karena itulah, hemofilia kerap kali dialami oleh pria karena hanya memiliki satu kromosom X,
sedangkan wanita dengan 2 kromosom X lebih sering menjadi pembawa mutasi dari gen
tersebut. Selain itu, penyebab mutasi gen tersebut belum diketahui secara pasti.
Gejala Hemofilia
Indikasi gejala hemofilia adalah sulitnya darah membeku ketika terjadi luka di permukaan kulit.
Namun, ada beberapa ciri hemofilia lain yang bisa dialami oleh penderitanya:
Cenderung mudah mengalami memar di permukaan kulitnya.
Ketika terkena luka gores atau mimisan, perdarahan sulit untuk berhenti.
Sering mengalami BAB berdarah.
Nyeri serta bengkak pada lutut dan siku yang menjadi tanda terjadinya perdarahan pada sendi.
Mudah merasa kesemutan.
Sering mengalami perdarahan pada mulut dan gusi.
Penderita hemofilia juga perlu mewaspadai perdarahan yang terjadi di dalam tengkorak
(intrakranial) ketika mengalami cedera kepala. Lantaran, hal tersebut dapat berakibat fatal
mulai dari hilangnya kesadaran hingga berujung kematian.
Berikut gejala yang ditimbulkan apabila penderita hemofilia mengalami perdarahan
intrakranial:
Sakit kepala hebat.
Mengalami kelumpuhan pada sebagian atau bahkan seluruh otot wajah.
Muntah-muntah.
Mengalami masalah penglihatan, seperti buram atau berbayang.
Apabila merasakan gejala tersebut, penderita hemofilia harus sesegera mungkin berkonsultasi
dengan dokter agar mendapatkan tindakan medis dengan tepat.
Pengobatan Hemofilia
Walaupun tidak ada pengobatan yang pasti untuk penyakit hemofilia, terdapat alternatif
pengobatan hemofilia untuk mencegah terjadinya perdarahan serius serta komplikasi penyakit
lain. Pengobatan tersebut adalah terapi profilaksis di mana dokter menyuntikkan faktor
pembekuan darah yang sesuai dengan kebutuhan penderita hemofilia.
Pencegahan Hemofilia
Hemofilia tidak dapat dicegah secara pasti. Akan tetapi, ibu hamil yang memiliki riwayat
penyakit hemofilia dapat melakukan pemeriksaan kesehatan secara menyeluruh ketika
memasuki trimester pertama.
Dengan begitu, kondisi bayi yang berpotensi diturunkan kelainan hemofilia dapat diwaspadai
dan dideteksi sedini mungkin. Selain itu, penderita hemofilia juga perlu menerapkan pola hidup
sehat dan senantiasa berhati-hati dalam setiap kegiatannya.
Hal yang dapat dilakukan secara mandiri oleh penderita hemofilia untuk mencegah terjadinya
perdarahan serta komplikasi serius adalah sebagai berikut:
Sebisa mungkin hindari melakukan aktivitas berat dan yang dapat mengakibatkan cedera,
seperti angkat beban. Apabila ingin melakukan aktivitas berat, lengkapi dengan pelindung
tubuh, seperti helm, pelindung siku serta lutut, dan lain sebagainya.
Mengonsumsi makanan sehat dan bergizi. Apabila ingin mengonsumsi ikan, sebisa mungkin
pastikan dagingnya sudah tidak terdapat duri.
Rutin melakukan pemeriksaan kesehatan.
Penderita hemofilia tetap diperbolehkan untuk berolahraga, namun lebih disarankan untuk
melakukan olahraga ringan, seperti yoga, berenang, jalan pagi, dan sejenisnya.