0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
4 tayangan10 halaman

Drama "Prita Istri Kita" oleh Arifin C. Noer

teater

Diunggah oleh

ardianjulian854
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
4 tayangan10 halaman

Drama "Prita Istri Kita" oleh Arifin C. Noer

teater

Diunggah oleh

ardianjulian854
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

PRITA ISTRI KITA

KARYA: ARIFIN C. NOER

SOALNYA RUMAH ITU TIDAK BEGITU BESAR MESKIPUN TIDAK KECIL AMAT,
SEHINGGA RUANG DI MANA MEREKA MAKAN JUGA MEREKA PERGUNAKAN
SEBAGAI RUANG TENGAH. TAPI MAKSUD SAYA SEMENTARA INI KITA ANGGAP
DULU SUNGGUH-SUNGGUH SEBAGAI RUANG [Link] JANGAN SEGERA
MENGIRA DI SANA KITA AKAN MENDAPATKAN SEBUAH KULKAS, APALAGI :
----
- BAHKAN KITA TIDAK AKAN MENJUMPAI BARANG-BARANG YANG UMUMNYA
DIPERGUNAKAN OLEH ORANG-ORANG KAYA. YA, BISA KALIAN BAYANGKAN
SENDIRI RUMAH SEORANG GURU, YANG SAYA MAKSUDKAN ADALAH
SEORANG GURU SEKOLAH MENENGAH DI INDONESIA DEWASA INI.
KALAU SEKARANG KALIAN MELIHAT PADA ARLOJI, BAGI YANG PUNYA
MAKSUD SAYA, TENTU KALIAN AKAN MELIHAT BAHWA WAKTU SEKARANG
MENUNJUKKAN JAM SETENGAH SATU SIANG, YA 12.30 WIB. SAYA AGAK BISA
MEMASTIKAN MEMANG, SEBAB PEREMPUAN MUDA ITU SUDAH TERBIASA
MENYEDIAKAN MAKAN SIANG SUAMINYA PADA SAAT-SAAT SEPERTI
SEKARANG.
LIHATLAH, MALAH PEREMPUAN MUDA ITU BARU SAJA KE LUAR DARI DAPUR
DAN MEMASUKI RUANG ITU. IA MEMBAWA SEBAKUL KECIL NASI YANG MASIH
MENGEPULKAN ASAP. CEMBERUT BETUL DIA. TANPA SEDIKITPUN
SEMANGAT IA MENARUH BAKUL DI ATAS MEJA MAKAN (RENDAH MUTUNYA
TENTU SAJA).

Salah saya! Kesalahan saya yang terbesar selama ini. Salah saya! Selalu membayang-
bayangkan hidup ini.

IA MASUK LAGI KE DAPUR. IA AKAN MEMBUAT SAMBAL DI ATAS COET. KITA


HANYA MENDENGAR SUARANYA SAJA.

Saya tahu! Tapi itu urusan pribadi saya! ---memang sering kau ngomong, bahkan terlalu
sering. Hidup ini bukan untuk dibayang-bayangkan. Hidup ini bukan untuk diimpi-impikan.
Hidup ini untuk dijalani. Untuk disaksikan. Untuk dirasakan. Dilihat dengan mata. Didengar
dengan telinga. --- ya, tapi itu urusan saya pribadi, kau dengar? Congek! Siapapun tidak
berhak menghalangi saya melamun ataupun mengenangkan sesuatu. Ya, juga kau. Kaupun
tak berhak melarang atau menghalangi saya mengenangkan, membayangkan bekas pacar-
pacar saya. Juga tak ada hakmu melarang saya melamunkan hidung Si Beni Brewok itu. Itu
hak saya!

IA KELUAR LAGI DARI DAPUR ITU MEMBAWA COET BERISI SAMBAL.


Betul, saudara-saudara. Itu hak tiap-tiap orang. Hak azasi manusia. Saudara, saudarapun tidak
berhak atas dunia sunyi seseorang. Dan apakah bisa? Itu rahasia. Dan saudara-saudara akan
menjadi pembohong besar kalau sekarang berani mengatakan saudara tidak pernah melamun.

Dalam keadaan begini saya ingin mabuk saja dengan menelan semua sambal itu. Saya tahu
sambal itu merangsang nafsu makan. Tapi saya tidak perlu dirangsang. Tanpa sambal itu saya
sanggup menelan sekaligus nasi sebanyak itu. Nasi. Nasib! Ya, nasib. Bah, nasib!

Setiap siang yang panas di meja ini selalu ada sambal yang panas. Ini bukan lagi perangsang.
Sungguh-sungguh lauk untuk makan. Tiap hari. Tidak. Tiap saat! Ini penipuan mentah-
mentah namanya.
Bank naskah Teater GENERASI, 1
2022.
Cuma sebulan saja sejak lebih dari dua tahun saya menjadi istrinya, pernah makan agak
lumayan. Malah tidak penuh sebulan, dua puluh tiga hari. Itulah bulan pertama saya seranjang
dengan laki-laki itu. Maksud saya Mas Broto.
Barangkali saudara-saudara menyangka saya berdusta? Mengada-ada?
IA MENGANGKAT SEBUAH PIRING YANG TERLETAK DI MEJA.
Tempe. Dan cuma lima kerat. Yang lima kerat lagi saya simpan untuk nanti malam.
IA MENGANGKAT SEBUAH PINGGAN (RANTANG).
Sayur bening. Daun bayam. Masih lumayan. Kalau tanggal dua puluh, daun singkong bukan
mustahil.
Saya tidak peduli apakah di antara saudara-saudara ada pejabat pemerintah atau polisi. Saya
tidak peduli apakah juga di sini ada pemimpin partai, pemimpin agama, ulama atau malaikat.
Saya hanya akan berkata bahwa semua ini gila-gilaan! Apakah cuma anak-anak orang lain saja
yang penting? Sementara dia sendiri tidak mempunyai seorang anakpun. Mengajar dari pagi
sampai siang, dari siang sampai sore. Malam terpaksa ia gunakan untuk kursus supaya bisa
beranjak dari keluar dari nasib jeleknya itu.
SEKONYONG TERDENGAR SEBUAH LAGU DARI RADIO. SEKONYONG
PEREMPUAN ITUPUN MENGUBAH SIKAP. IA MENJADI LEMBUT. IA MULAI BISA
LAGI MERASAKAN GETARAN ANGIN LEMBUT SIANG HARI. BERSERI
WAJAHNYA LEBIH DARI ITU, IA TURUT BERSENANDUNG SEKARANG.

Dulu saya bayangkan betapa bahagianya hidup saya. Saya bayangkan betapa nikmatnya
bangun pagi-pagi menyediakan sarapan, menunggu dengan berdebar-debar kedatangan suami
dari mengajar, makan siang bersama Mas Broto, mandi bersama Mas Broto, tidur siang
bersama Mas Broto, jalan-jalan senja hari, makan malam bersama Mas Broto dan akhirnya
tidur dalam pelukan Mas Broto.

TERTAWA KECIL IA.


Geli. Alangkah menggelikan waktu Mas Broto menyatakan cintanya sama saya. Saya ingat
betul. Di pasar malam. Di tengah keramaian kok sempat- sempatnya ia mencurahkan isi
hatinya. Dikatakannya : “Jeng.....” Yang pertama cuma itu karena ia lalu menelan ludahnya.
Jelass sekali. Naik nafsu barangkali.

Kemudian ia mengulangi hal itu ketika kami sampai dekat tontonan ledek ketek, itu tontonan
kera menari dari Jawa. Dia memang aneh sekali. Kurang bisa menguasai dirinya. Lekas
gugup. Seharusnya dia bisa mencari tempat yang lebih sesuai untuk mengucapkan kata-kata
cinta. Tapi ketika sampai di tempat tontonan kera itu, rupanya ia tidak bisa lagi menahan
gelora perasaannya. Dia bilang dengan suara gemetar, seperti penderita malaria; lain
wajahnya. Katanya: “Jeng, kau sangat manis”. Urat di leher saya terasa tidak normal lagi,
gemetar sekali saya, tapi saya goda dia : “Apa iya?” Dia lebih gemetar. Udara dari lobang
hidungnya keras berdesah.
LAGU YANG TADI SUDAH HABIS. DAN TIDAK LAMA KEMUDIAN TERDENGAR
SEBUAH LAGU LAGI.

Bank naskah Teater GENERASI, 2


2022.
Itulah kesalahan saya. Justru itu! Kalau dulu saya tidak pernah membayangkan begitu
indahnya hidup ini, mungkin saya tak akan pernah mengomel seperti ini. Ya, mungkin saya
akan bisa tenang menunggu kedatangannya siang ini di depan sana. Tapi karena dulu saya
membayang-bayangkan betapa lezatnya makan siang bersama Mas Broto, saya jadi selalu
kecewa setiap kali saya melihat sambal itu.

RADIO MATI TIBA-TIBA.


Mati radio itu. Biarkan saja. Radio itu bukan kami punya. Itu radio tetangga. Alah, apalagi
radio. Kami sempat membeli pakaian yang bagus saja sudah Alhamdulillah.
Sebenarnya lelaki itu bisa saja membeli radio kalau dia mau tapi dia pengecut yang sukar
untuk diampuni. Kan dia mengajar di SMP Partikulir kalau sore? Suatu ketika ada seorang
juragan yang datang kemari. Kalian mengerti sendiri saja apa latar belakangnya kalau ada
seorang juragan datang ke rumah seorang guru. Juragan itu punya anak yang bengalnya
seperti setan keranjingan. Memang setan anak itu. Di tengah kelas anak itu bermain kartu
bersama teman-temannya.
Nah, juragan itu datang kemari karena mengharapkan suami saya bisa menolong anaknya
naik kelas. Sudah umum, tentu saja juragan itu membawa amplop. Tapi suami saya seorang
pengecut yang bodoh seperti kerbau. Dia menolak amplop itu sementara ia berjanji akan
menolongnya. Sungguh-sungguh tak bisa diampuni dia. Untung saja kemudian saya dengar
anak setan itu betul- betul tidak naik kelas.

TIBA-TIBA RADIO MULAI TERDENGAR LAGI. KALI INI BUNYINYA SANGAT


KERAS SEKALI SEHINGGA MENYAKITKAN TELINGA.

Sombong betul tetangga yang satu itu. Apa dia pikir cuma dia yang punya telinga? Marah
saya. Seminggu yang lalu saya bertengkar dengan suami saya lantaran tetangga yang sok itu.
Coba saja. Saya baru saja menelentangkan tubuh di atas ranjang batu itu. Ya, saya selalu
menyebutnya begitu untuk ranjang besi kuno yang jelek itu. Nah, baru saja saya telentangkan
badan saya tahu-tahu tetangga itu mengeraskan bunyi radionya. Saya sudah tidak bisa lagi
menahan diri. Hampir saya meloncat ke dapur untuk mengambil palu. Untung saja tangan
Mas Broto cukup kuat menahan saya. Kalau tidak, remuk atap rumahnya. Eh, Mas Broto
malah membela tetangga itu. Kalian tahu apa yang dikatakan suami saya?
“Jeng, sabar.”
“Sabar-sabar apa?” Saya bilang.
“Kalau kau terus-terus...begini, kita tak akan pernah punya tetangga”.
“Apa kita diberi makan tetangga?” Bertolak pinggang saya: ya, persetan tetangga. Kalau dia
menghina kita tidak peduli tetangga itu siapa. Tidak peduli dia jendral. Karena begitu
marahnya sampai-sampai saya berteriak.
“Apa kau tidak merasakan bagaimana dia menghina kita dengan radionya?”
Apa suami saya bilang?
“Itu bukan penghinaan, Jeng”.
“Bukan penghinaan?” Mata saya melotot.
“Itu namanya kemurahan. Dengan memperdengarkan radionya sekeras itu tentu mereka
maksudkan supaya kita pun turut menikmatinya” katanya.
Uuuh, begitu geram saya, sehingga jari saya hampir putus saya gigit. Lalu saya berteriak
lebih keras.
“Kau memang batu. Batu. Kau tidak punya perasaan. Kau tidak pernah merasakan bagaimana
mereka menghina kita dengan baju-bajunya yang baru, dengan perhiasannya, bahkan ketika
ia memakai gigi emas ia selalu bertengger saja di jendela.”
Lalu saya menangis. Dan kalian tahu apa yang dikerjakan suami saya?
Kalian tahu? Saya lihat kemudian dia sudah mendengkur. Tidur.
Kerbau.
Bank naskah Teater GENERASI, 3
2022.
Bank naskah Teater GENERASI, 4
2022.
DENGAN SEDIH IA MELANGKAH KE PINTU ARAH MUKA. IA MENANGIS KINI.
Kalau duduk sedang kemelut begini, saya selalu membayangkan saya bisa minggat saja dari
sini. Dulu saya bayangkan, saya akan bisa tidur dengan nyaman dalam pelukan Mas Broto,
sekarang kenyataanya saya seperti tidur dalam sebuah terali dengan seekor harimau. Dia buas
tapi juga seperti cacing. Lekas gugup, nafasnya bau, tapi tak punya tenaga seperti orang sakit-
sakitan. Betul-betul bisa gila saya kalau terus-terusan begitu.
Sudah terlampau sering saya ludahi potretnya ketika dia tak ada. Saya bahkan bayangkan
kalau saya bisa minggat, barangkali saya akan bisa tidur di atas ranjang yang penuh bunga.
RADIO KINI MEMPERDENGARKAN ACARA PILIHAN PENDENGAR. IA CAIR LAGI
KINI.
Dulu sewaktu saya masih berpacaran dengan Mas Beni Brewok itu, saya kerap berkirim-
kiriman lagu lewat radio. Jangan bilang-bilang ya? Saya beri tahu kalian. Sebenarnya waktu
pacaran itu saya sudah bercium-ciuman dengan Mas Beni. Yang pertama kali dalam becak.
Tapi jelas suami saya tidak pernah tahu hal itu karena tak pernah saya beri tahu.

LAGU DALAM RADIO ROMANTIS SEKALI.


Di rumah bapak saya ada juga radio, meskipun cuma radio yang gedenya seperti roti. Setiap
hari kamis siang, ya seperti ini, telinga saya rapatkan pada radio itu dengan hati dag dig dug.
Kalau terdengar penyiar berkata : “Kemudian lagu in juga diminta oleh Mas Beni Sungkowo
ditujukan kepada Dik Prita Kartika Sekota dengan ucapan : kapan kita berenang lagi?”. Oh,
hancur hati saya. Oh, betapa menyenangkan berpacaran dalam kolam di pemandian itu. Mas
Beni adalah seorang lelaki yang tinggi besar dan brewok. Dalam pakaian mandi, dadanya
nampak hitam karena begitu lebat bulunya. Lucu. Tapi galak.
Dari beberapa teman saya dengar sekarang ia masuk tentara. Pangkatnya kopral kalau tak
salah. Terus terang, setengah bulan yang lalu saya lihat dia di jalan dekat pemandian itu. Dia
mengendarai sepeda motor. Sayang sekali dia tidak melihat saya. Terus terang saya katakan,
sebenarnya dia mencintai saya setengah mati. Ya, sekalipun dia kerap berganti pacar. Tapi
saya yakin, cintanya yang murni hanya untuk saya seorang. Dia pernah membisikkan di telinga
saya : “Dik Prita, kalau di dunia yang fana kita tak sempat berjumpa, pasti di sorga kita bisa
bersama”. Ah, sayang sekali Tuhan tak mempertemukan kami.
SEKONYONG KEGELISAHAN YANG SANGAT MENYERANG DIRINYA NAFASNYA
PENDEK-PENDEK DAN SELURUH BARANG DI SEPUTARNYA DIPANDANGINYA
DENGAN GERAKAN MATA YANG SANGAT CEPAT. DIA KELIHATAN SEKALI
SESAK NAFAS. MIMIK KEBENCIAN TERTERA DI WAJAHNYA. DIA SEPERTI
HENDAK MENGHANCURKAN KE EMPAT DINDING ITU. TAPI SEKONYONG PULA
IA BERUBAH. IA SEPERTI MEMBEKU KINI. IA MERASAKAN TUBUHNYA SEPERTI
KAPAS KINI.
Bagaimana rasanya kalau saya bisa membonceng di atas motornya? Ah, betapa anggunnya
bonceng di atas sepeda motor dengan seorang tentara yang gagah, seorang kopral.....
TERDENGAR SUARA SEPEDA MOTOR FADE IN STOP. YA. TENTU SAJA CUMA
DALAM PIKIRAN PEREMPUAN ITU. SEGERA SAJA IA MEMBETULKAN DIRINYA
DAN SEGERA PERGI KE KAMAR MUKA.
OFFSTAGE .
Mas Beni!-----
Lama nian kita tidak pernah bersua-----
Bank naskah Teater GENERASI, 5
2022.
Mas Beni sekarang sombong-----
Sombong. Beberapa hari yang lalu saya lihat Mas naik sepeda dekat pemandian, tapi Mas
diam saja -----
Pura-pura makan tahu. Pura-pura tidak tahu-----
TIDAK LAMA KEMUDIAN DIA DENGAN MAS BENINYA MUNCUL DARI KAMAR
MUKA.
Kenapa segan-segan Mas, suami saya tidak di rumah. Jam berapa sekarang? -----
Masih agak lama baru dia pulang-----

PEREMPUAN ITU MEMANDANGI “LELAKI” ITU DENGAN MESRA. KEMUDIAN


MEREKA BERCIUMAN.

Kau tampak sangat gagah, Mas. Kau sungguh-sungguh terlihat jantan-----


PEREMPUAN ITU MERABA PUNDAK MAS BENINYA DENGAN MESRA DAN
BERNAFSU.
Kau terlalu tega, Mas. Kenapa kau tidak merebut aku dari Mas Broto?-----
Saya kira dulu kau mencintai saya,-----
Tidak. Kau tidak sayang pada Prita. Kau pasti benci pada Prita. Kau pasti benci pada Prita ----

PEREMPUAN ITU DENGAN MANJA MELEPASKAN TANGANNYA DARI PUNDAK


MAS BENINYA. DAN MENJAUH DAN DUDUK DI SALAH SEBUAH KURSI. MAS
BENINYA MENGIKUTI DAN KEMUDIAN BERDIRI DI BELAKANGNYA.
Kautega. Kautega. Kautega.-----
Kautega membiarkan saya makan sambal setiap hari.-----
Kautega membiarkan saya makan sayur bayam setiap hari.-----
Kautega membiarkan saya makan sayur daun singkong setelah tanggal duapuluh setiap bulan.
Kautega membiarkan saya dihina oleh tetangga yang bergigi emas itu.----
-
Kautega membiarkan saya tudur seranjang dengan seekor harimau
bertenaga cacing itu.-----
Kautega. Kautega. Kautega.-----

Betul? Oh!

TANGAN PEREMPUAN PADA BENI BREWOK SEKARANG.


Sungguh? Oh, Mas, kau membuat sayai ingat kolam itu. Mas Beni.-----
KEMBALI MEREKA BERCIUMAN. BERKALI-KALI MEREKA BERCIUMAN.
KEMUDIAN MEREKA REBAH DI KURSI MALAS. NAFSU MEREKA SAMPAI PADA
TITIK PUNCAK KULMINASI. MEREKA BERGULAT SEPERTI BINATANG DI SANA.
SUNGGUH-SUNGGUH ALAMIAH.

BEBERAPA SAAT KEMUDIAN PEREMPUAN DAN LELAKI ITU MELEPASKAN


LELAHNYA. DAN SEMENTARA ITU MAS BENI MENUTURKAN SUATU RENCANA
PRITA MENDENGARKAN DENGAN ASYIKNYA SEHINGGA TAMPAK IMPIAN
MENGGERAK-GERAKKAN MATANYA.

Alangkah indahnya. Ya, Mas. Bukan hanya di sorga tapi di duniapun kita akan tetap bersama.
Bank naskah Teater GENERASI, 6
2022.
Hidup seranjang mati seliang, itulah semboyan percintaan kita, Mas.

---------------------------------------------------------------------------------------------------
(BANGKIT DUDUK

Bank naskah Teater GENERASI, 7


2022.
Betul? Oh saya jadi ingat cerita wayang, bagaimana Noroyono melarikan Dewi Rukmini. -----

SEKONYONG PEREMPUAN ITU BANGKIT SENDIRI.


Minggat ke Jakarta, Mas? Oh, Kresnoku! Kresnoku! Kresnoku!-----

DIA DALAM PELUKAN MAS BENI KINI.


Rumah bagus. Pakaian bagus. Meja makan dengan makanan yang lezat- lezat. Kamar tidur
yang penuh wewangian. Sungguh-sungguh nirwana. -----
Mas, kita tak boleh menunggu lama-lama.-----
Hah? Bulan depan? Kenapa harus bulan depan? Kenapa mesti menanti lama?
Jangan pedulikan. Apakah kau akan terus membiarkan selama sebulan saya makan sambal
terus-terusan? Mas, rasakanlah apa yang kurasakan. Ingatlah janji-janji kita. Pegang teguhlah
semboyan percintaan kita. -----

Tidak, Mas. Tidak. Tak tahan saya sudah. Pingsan saya setiap kali mencium bau apak rumah
ini. Tahan saya. Mas. Tirulah perbuatan Kresno. Bagi Kresno tak ada tembok yang tinggi yang
sanggup menghalangi cintanya pada Dewi Rukmini.-----
Sekarang tak ada seorangpun yang kuasa menghalangi saya. Kemauan saya bulat-bulat penuh
sudah. -----

Tidak, Mas. Dulu memang Bapak saya masih berhak turut campur atas diri saya, sekarang
tidak lagi. Tidak siapapun. Sekarang tak ada lagi yang peduli apakah kau malas
bersembahyang apakah tidak. Sekarang tak ada lagi yang boleh menghalangi saya memilih
laki-laki, entah laki-laki itu suka baca kitab suci apakah suka baca buku-buku silat. Sekarang
aku kaupunya, Mas. Kaupunya.-----
Kau hanya. Penuh. Pasrah. Rela. Tanpa syarat apa-apa. kenapa kau diam saja? Kau malah
diam? Hilangkah semangat Kresno itu? Hilangkah? (MENANGIS)
Oh, saya ini memang Klenting Kuning yang malang. Oh, saya ini memang Bawang Putih yang
malang. Apakah saya harus menceburkan diri ke laut seperti yang dilakukan Dewi Surati? -----
Kau masih diam? Saya sungguh-sungguh tidak mengerti kenapa seorang perempuan harus lebih
berani dari pada seorang laki- laki. Saya sungguh-sungguh tidak mengerti. Apa yang ada di
balik tubuhmu yang besar tegap itu, Mas? Angin? Oh, rupanya kau tak lebih cuma
Sengkuni!-----

Jengkel betul saya!

DUDUK PEREMPUAN ITU.


Ya? (BANGKIT) ----- Betul? ----- Kau tidak main-main?
Oh, saya senang sekali. Senang
sekali mendengarnya. Senang. Senang. Senang sekali. Oh,--
--- Oh, kau memang Kresnoku. Kau sungguh-sungguh Kresno. Jangan bicara apa-apa lagi.
Tak ada lagi gunanya kata. Perbuatan nyata yang harus ada. Ayolah. Jakarta. Ayolah. Rumah
bagus. Ayolah. Pakaian bagus. Ayolah. Makanan lezat. Ayolah. Ranjang kencana. Ranjang
kahyangan. Ayolah. Nafas bahagiaku berdesah. Ayolah. -----

KETUKAN PADA PINTU. PEREMPUAN ITU TERPERANJAT DAN PUCAT.


Bank naskah Teater GENERASI, 8
2022.
Mas Beni!
KETUKAN PADA PINTU, KEDUA TANGANNYA PADA MULUTNYA. IA SERASA
HENDAK PINGSAN.

Dia! Tuhan.

Bank naskah Teater GENERASI, 9


2022.
KETUKAN PADA PINTU. PEREMPUAN ITU TERDUDUK DI KURSI MALAS DAN
MENANGIS SANGAT PARAH SEKALI.

Kalian pasti mengerti sudah. Ketukan itu ketukan suami saya. Saya menyesal sekali kenapa
tak berpikiran demikian.

PEREMPUAN ITU MENANGIS PARAH.


Salah saya. Kesalahan saya yang terbesar selama ini. Karena saya selalu membayang-
bayangkan hidup ini.

KETUKAN PADA PINTU.


Tapi saya yakin siapapun pernah berpikiran demikian dalam hidupnya.
Kalian tentu sudah tahu apa yang sebaiknya saya perbuat sekarang. Sebagai istri yang baik
saya akan menghapus airmata saya seakan saya tidak habis menangis.

DIHAPUSNYA AIR MATANYA.


Kemudian saya akan berlaku seakan saya tak pernah berpikiran apa-apa. Saya akan
menyambut suami saya dengan manis dan mesra seolah-olah saya tak pernah membayangkan
apa-apa.

KETUKAN PADA PINTU.


Sebentar, sayang!

TERDENGAR SUARA LAKI-LAKI. OFFSTAGE .


Prita!
SERAYA MENGUCAPKAN KATA-KATA MESRA PEREMPUAN ITU MELANGKAH
CEPAT. DAN KALAU DIA MENINGGALKAN RUANG MAKAN DAN RUANG
TENGAH ITU MENUJU KAMAR MUKA MAKA TANDANYA
SELESAILAHSANDIWARA SINGKAT INI.

Naskah ini diketik ulang dari majalah Budaya Jaya nomor 10 tahun kedua Maret 1969.

Bank naskah Teater GENERASI, 1


2022. 0

Anda mungkin juga menyukai