Asuhan Keperawatan Hipertensi Kardiovaskular
Asuhan Keperawatan Hipertensi Kardiovaskular
SUNADI
40190124080
Hipertensi adalah tekanan darah sistolik yang sama dengan atau di atas 140
mmHg dan atau tekanan darah diastolik sama dengan atau diatas 90 mmHg.
Hipertensi merupakan peningkatan tekanan darah abnormal yang dapat menjadi
penyebab utama timbulnya penyakit kardiovaskular (Ansar et al., 2019).
Hipertensi atau tekanan darah tinggi adalah suatu keadaan kronis yang
ditandai dengan meningkatnya tekanan darah pada dinding pembuluh darah arteri
(Azizah et al., 2022)
B. Anatomi Fisiologi
Sistem kardiovaskular terdiri dari jantung, vaskular (arteri, vena, kapiler) dan
limpatik. Fungsi utama sistem kardiovaskuler adalah menghantarkan darah kaya
oksigen keseluruhan tubuh dan memompakan darah dari seluruh tubuh (jaringan)
ke sirkulasi paru untuk di oksigenasi (Muttaqin, 2009).
1. Jantung
Jantung merupakan organ utama sistem kardiovaskular, berotot dan
berongga, terletak dirongga torak bagian mediastinum, diantara dua paru-paru.
Bentuk jantung seperti kerucut tumpul, pada bagian bawah disebut apeks, letaknya
lebih kiri dari garis medial, bagian tepinya pada ruang intrakosta V kiri atau kira-
kira 9 cm dari kiri linea media clavikularis. Sedangkan bagian atasnya disebut basis
terletak agak ke kanan tepatnya pada kosta ke III, 1 cm dari tepi lateral sternum.
Ukuran jantung kira-kira panjangnya 12 cm, lebar 8-9 cm, tebalnya 6 cm, beratnya
sekitar 200-425 gram, pada laki-laki sekitar 310 gram, dan pada perempuan sekitar
225 gram (Muttaqin, 2009).
2. Lapisan Otot Jantung
Ada tiga lapisan jantung yaitu lapisan bagian luar disebut epikardium, lapisan
bagian tengah disebut miokardium, lapisan ini lebih tebal, tersusun atas otot lurik
dan mampu berkontraksi dengan kuat. Sedangkan lapisan bagian dalam disebut
endokardium, lapisan ini terdiri dari jaringan endothelia yang juga melapisi ruang
jantung katup-katup jantung.
3. Selaput Jantung
Jantung dilapisi oleh dua membran untuk mencegah terjadiya trauma juga
infeksi yaitu pericardium parietal dengan pericardium visceral. Pericardium parietal
merupakan membran lapisan jantung paling luar tersusun dari jaringan fibrosa.
Membran ini sangat efektif dalam melindungi jantung dari infeksi (Muttaqin,
2009).
4. Ruang Jantung
Jantung terbagi atas dua belahan kanan dan kiri, kedua belahan tersebut
dipisahkan oleh otot pemisah disebut septum, dengan demikian jantung memiliki
empat ruang yaitu atrium kanan, ventrikel kanan, atrium kiri, ventrikel kiri.
(Muttaqin, 2009).
5. Katup Jantung
Jantung memiliki dua tipe yaitu katup atrioventrikuler katup semilunar. Katup
jantung tersusun oleh endothelium yang dilapisi oleh jaringan fibrosa, sehingga
katup dapat menutup dan membuka karena sifatnya yang fleksibel (Muttaqin,
2009).
6. Suplai Darah Otot Jantung
Otot jantung membutuhkan aliran darah untuk memenuhi kebutuhan oksigen,
nutrient yang sangat dibutuhkan untuk metabolisme. Otot jantung diperdarahi oleh
arteri koronaria yang merupakan cabang dari aorta, arteri koroner bercabang
menjadi dua yaitu: arteri koronaria kanan/ right coronary artery (RCA) arteri
coronary kiri/ left coronery artery (LCA). Arteri koronaria kanan memperdarahi
bagian atrium kanan, ventrikel kanan, inferior ventrikel kiri bagian posterior
dinding septal,sinoatrial node (SA Node) atrioventrikel/node (AV node) (Muttaqin,
2009).
7. Siklus Jantung
Siklus jantung merupakan periode dimana jantung berkontraksi relaksasi.
Satu kali siklus jantung sama dengan satu periode systole (saat ventrikel
berkontraksi) satu periode diastole (saat ventrikel relaksasi). Normalnya siklus
jantung dimulai dengan depolarisasi spontan dari sel pacemaker dari SA node
berakhir dengan keadaan relaksasi ventrikel (Muttaqin, 2009).
8. Bunyi Jantung
Bunyi jantung terdiri dari bunyi jantung murni & bunyi jantung tambahan.
Bunyi jantung murni terdiri atas bunyi bunyi jantung SI, terjadi akibat penutupan
katup atrioventrikular pada saat sistol ventrikel bunyi S2. Terjadi akibat penutupan
katup semilunar pada saat terjadi diastol ventrikel (Muttaqin, 2009).
9. Frekuensi Jantung
Jantung berdenyut dalam satu menit sekitar 60-100 kali rata-rata 75 kali
permenit (Muttaqin, 2009).
1. Darah
Komponen darah merupakan alat pembawa pada sistem kardiovaskular.
Secara normal volume darah yang berada dalam sirkulasi pada seorang laki-
laki dengan berat badan 70 kg berkisar 8% dari berat badan atau sekitar 5600
ml (Muttaqin, 2009).
2. Curah Jantung
Curah jantung orang dewasa adalah antara 4,5-8 liter permenit, peningkatan
curah jantung terjadi karena adanya peningkatan denyut jantung atau volume
sekuncup (Muttaqin, 2009).
3. Denyut Jantung
Denyut jantung normalnya berkisar 70 kali permenit, denyut jantung ini
dikontrol sendiri oleh jantung melalui mekanisme regulasi nodus SA dan
sistem purkinje. Dalam keadaan normal, regulasi denyut jantung dipengaruhi
oleh saraf simpatis, saraf parasimpatik melalui saraf otonom (Muttaqin,
2009).
4. Ruang Jantung
Atrium kanan memiliki lapisan dinding yang tipis berfungsi sebagai tempat
penyimpanan darah mengalirkan darah dari vena-vena sirkulasi sistematis ke
dalam ventrikel kanan dan kemudian ke paru-paru (Muttaqin, 2009).
C. Klasifikasi
Klasifikasi Hipertensi Hasil Konsensus Perhimpunan
Kategori Tekanan Darah Sistol Tekanan Darah Diastol
(mmHg) (mmHg)
D. Etiologi
Berdasarkan etiologinya, hipertensi dibagi menjadi dua kelompok, yaitu hipertensi
esensial atau primer dan hipertensi sekunder atau renal.
E. Patofisiologi
1. Mekanisme yang mengontrol kontraksi dan relaksasi pembuluh darah terletak di
pusat vasomotor pada medulla di otak. Pada pusat vasomotor ini bermula jarak
saraf simpatis yang berlanjut ke bawah corda spinalis dan keluar dari kolumna
medulla spinalis, gangga simpatis di toraks dan abdomen. Rangsangan pusat
vasomotor dihantarkan dalam bentuk impuls yang bergerak kebawah melalui
sistem saraf simpatis ke gangga simpatis. Pada titik ini, neuron preganglia
melepaskan ACTH yang akan merangsang serabut saraf pasca ganglion ke
pembuluh darah, dimana dengan dilepaskannya non epineprin mengakibatkan
kontriksi pembuluh darah.
2. Berbagai faktor seperti kecemasan mempengaruhi rangsangan vasokontriksi
pada pembuluh darah karena pada saat bersamaan sistem saraf simpatis
merangsang dan sangat respon terhadap emosi sehingga kelenjar adrenalin
terangsang menyebabkan vasokontriksi. Vasokontriksi menyebabkan penurunan
aliran ginjal dan terjadi pelepasan renin angiotensin I menjadi angiotensin I yang
akan merangsang sekresi aldosteronoleh korteks adrenalin yang menyebabkan
retensi Na dan H2O oleh tubulus ginjal menyebabkan peningkatan volume
intravaskuler. Selain dari itu usia bisa menjadikan hilangnya elastisitas jaringan
dan penurunan relasasi otot polos pembuluh darah, maka aorta dan arteri besar
berkurang kemampuannya dalam mengakomodasi volume darah yang dipompa
oleh jantung mengakibatkan penurunan curah jantung dan peningkatan tekanan
perifer.
Pathway
Tahanan perifer
Kelemahan fisik
Kelebihan volume cairan
Intoleransi aktivitas
F. Manifestasi Klinis
Gejala yang lazim yang sering dikatakan bahwa gejala yang menyertai hipertensi,
yaitu:
1. Nyeri kepala
2. Kelelahan
3. Penglihatan kabur
4. Gelisah
5. Mual dan muntah
G. Pemeriksaan Diagnostik
1. Pemeriksaan Laboratorium
a. Hb/ Ht, mengkaji hubungan sel-sel terhadap volume cairan (viskositas) dan
dapat mengindikasikan faktor resiko seperti hipokoagulabilitas, anemia
b. BUN/ Keratinin, memberikan informasi fungsi ginjal
c. Glukosa, untuk mengetahui ada tidaknya DM
d. Urinalisasi, darah, protein, glukosa untuk melihat adanya DM dan fungsi
ginjal
2. CT Scan, untuk menilai adanya tumor, cerebral, encelopati
3. EKG, untuk melihat gelombang PQRST
4. IUP, untuk melihat penyebab hipertensi berupa batu ginjal
5. Photo dada, menunjukkan destruksi klasifikasi pada area katup, pembesaran
jantung
H. Penatalaksanaan Medis
1. Penatalaksanaan non farmakologi
- Pengurangan konsumsi garam
- Menurunkan berat badan
- Berjalan, jogging, bersepeda
- Senam relaksasi
2. Penatalaksanaan farmakologi
- Hipertensi derajat I dan II ]: diuretik golongan tiazide, pemberian penghambat
EKA, ARB, penyekat β, antagonis Ca atau kombinasi.
I. Proses Keperawatan
1. Pengkajian
a) Riwayat penyakit sebelum masuk rumah sakit
Saat dikaji pasien hipertensi biasanya didapat riwayat penyakit jantung
koroner, merokok, penyalahgunaan obat, tingkat stres yang tinggi, dan
gaya hidup yang kurang aktivitas (Muttaqin, 2009)
b) Saat masuk rumah sakit
Riwayat penyakit sekarang dapat dijabarkan dari keluhan utama dengan
menggunakan PQRST, yaitu (Muttaqin, 2009)
P : Paliative/ provolaktif; hal-hal yang menyebabkan/ berkurangnya
keluhan utama
Pada kasus hipertensi, ditemukan adanya rasa pusing. Keluhan dirasakan
semakin berat bila melakukan aktivitas yang berat
Q : Quality / Quantity, tingkat keluhan utama
R : Region, lokasi keluhan utama
Pada kasus hipertensi ditemukan adanya pusing yang tak tertahankan
diseluruh bagian kepala
S : Savety, intensitas dari keluhan utama, apakah sampai mengganggu
aktivitas atau tidak, seperti bergantung pada derajat beratnya
T : Timing, kapan mulai muncul dan berapa lama berlangsungnya.
Gejala yang timbul seperti sakit kepala, perdarahan dari hidung, pusing,
wajah kemerahan dan kelelahan.
2. Diagnosa Keperawatan
a) Gangguan perfusi jaringan serebral berhubungan dengan tekanan vaskular
serebral.
b) Gangguan pemenuhan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan
dengan intake yang tidak adekuat.
c) Intoleransi aktivitas berhubungan dengan kelemahan fisik.
3. Intervensi Keperawatan
Diagnosa Tujuan dan Kriteria
No Intervensi Rasional
Keperawatan Hasil
1. Gangguan perfusi Setelah dilakukan 1. Pertahankan tirah 1. Meminimalkan
jaringan serebral tindakan keperawatan baring selama fase stimulus/ tindakan
berhubungan dengan selama ... x 24 jam, tidak aktif. relaksasi.
tekanan vaskular terjadi kerusakan 2. Berikan tindakan 2. Tindakan
serebral. jaringan dengan kriteria non farmakologis menurunkan
hasil: untuk vaskuler serebral dan
Melaporkan nyeri atau menghilangkan menghambat/
ketidaknyamanan tekanan vaskuler memblok respon
hilang atau terkontrol, serebral. stimulus simpatis
mengikuti regimen efektif dalam
farmakologi yang menghilangkan sakit
diresepkan. kepala dan
komplikasinya.
3. Hilangkan/ 3. Aktivitas yang
minimalkan aktifitas vasokontriksi
vasokontriksi yang
dapat meningkatkan menyebabkan sakit
sakit kepala. kepala.
4. Kolaborasi berikan
obat sesuai dengan 4. Menurunkan nyeri
indikasi analgesik. dan menurunkan
rangsangan sistem
5. Kolaborasi berikat saraf simpatis.
obat anastesi. 5. Mengurangi tekanan
dan
ketidaknyamanan
yang dibuat oleh
stress
2. Gangguan pemenuhan Setelah dilakukan 1. Mulai dengan 1. Kandungan makanan
nutrisi kurang dari tindakan keperawatan makanan kecil dan dapat
kebutuhan tubuh selama ... x 24 jam, tingkatkan sesuai mengakibatkan
berhubungan dengan kebutuhan nutrisi klien dengan toleransi. ketidaktoleransi GI
intake yang tidak dapat terpenuhi, sehingga
adekuat. peningkatan nafsu memerlukan
makan dan tidak terjadi perubahan pada
penurunan berat badan kecepatan atau tipe
dengan kriteria hasil: formula.
Nafsu makan dapat 2. Anjurkan klien 2. Konsumsi minuman
meningkat, dapat untuk menghindari yang mengandung
menghabiskan diit dari paparan dari agen kafein perlu
rumah sakit iritan. dihindari karena
dapat mempengaruhi
sistem saraf pusat.
3. Nutrisi yang sesuaia
3. Kolaborasi dengan dapat mempercepat
ahli gizi dalam penyembuhan.
pemenuhan nutrisi.
3. Intoleransi aktivitas Setelah dilakukan 1. Kaji tingkat 1. Sebagai dasar untuk
berhubungan dengan tindakan keperawatan kemampuan klien memberikan
kelemahan fisik. selama ... x 24 jam, dalam melakukan alternatif dan latihan
dapat melakukan gerak gerak. gerak yang sesuai
dengan kriteri hasil: dengan
Hasil aktivitas dapat kemampuannya.
dilakukan secara 2. Rencanakan tentang 2. Latihan pergerakan
optimal, aktivitas dapat pemberian program dapat meningkatkan
dilakukan sendiri latihan sesuai otot dan
kemampuan klien. menstimulasi
sirkulasi darah.
3. Berikan diet tinggi 3. Membantu
kalsium. mengganti kalsium
yang hilang.
4. Ajarkan klien 4. Meningkatkan
tentang bagaimana pergerakan dan
melakukan aktivitas. melakukan
pergerakan yang
aman.
J. Daftar Pustaka
1. Apriliawati. 2012. Asuhan Keperawatan Pada Tn.H dengan Hipertensi di
Bangsal/ Multazam Rumah Sakit PKU Muhammadiyah Surakarta. Surakarta:
Dekan fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Muhammadiyah Surakarta
2. Corwin, Ellizabeth J. 2009. Buku Saku Patofisiologi. Jakarta: EGC
3. Julianti, dkk. 2007. Bebas Hipertensi Dengan Terapi Jus. Jakarta: Pusaka
Pengembangan Swadaya Nusantara
4. Muttaqin. 2009. Buku Ajar Asuhan Keperawatan Klien Dengan Gangguan
Sistem Kardiovaskuler dan Hematologi. Jakarta: Salemba Medika
5. Nurarif. 2016. Asuhan Keperawatan Praktis. Jogjakarta: Medication
Publishing
6. [Link]
7. [Link] detail/hypertensionto=
Hipertensi%20(tekanan%20darah%20tinggi)%20terjadi,tinggi%20mungkin
%20tidak%20merasaka gejala.
LAPORAN PENDAHULUAN DAN ASUHAN KEPERAWATAN
DENGAN MASALAH GANGGUAN SISTEM HEMATOLOGI:
ANEMIA
SUNADI
40190124080
2024
A. Definisi
Menurut Kementerian Kesehatan (Kemenkes), anemia adalah kondisi ketika
jumlah sel darah merah dalam tubuh seseorang di bawah batas normal. Hal ini dapat
terjadi karena kadar hemoglobin (Hb) dalam darah kurang dari normal.
Kadar Hb yang normal berbeda-beda berdasarkan kelompok umur, jenis kelamin,
dan kondisi fisiologis. Misalnya, pada remaja putri, kadar Hb yang normal adalah
12 g/dL.
Kekurangan zat besi adalah kondisi medis yang terjadi ketika tubuh tidak
memiliki cukup zat besi untuk memproduksi hemoglobin, protein dalam sel darah
merah yang mengikat dan mengangkut oksigen ke seluruh tubuh. Hasilnya adalah
anemia defisiensi besi, jenis anemia yang paling umum di dunia Menurut
Kementerian Kesehatan (Kemenkes)
Anemia sering dianggap sebagai sebuah penyakit, padahal anemia merupakan
gejala dari suatu penyakit yang mendasarinya (WHO, 2023). Menurut World
Health Organization (WHO), anemia didefinisi- kan sebagai penurunan kadar Hb
kurang dari 12,0 g/dL pada wanita dan kurang dari 13,0 g/dL pada pria.
Anemia adalah istilah yang menunjukkan rendahnya hitung sel darah dan kadar
hematokrit dibawah normal. Anemia bukan merupakan penyakit, melainkan
merupakan pencerminan keadaan suatu penyakit (gangguan) fungsi tubuh. Secara
fisiologis anemia terjadi apabila terdapat kekurangan Hb untuk mengangkut
oksigen ke jaringan. Anemia tidak merupakan satu kesatuan tetapi merupakan
akibat dari berbagai proses patologik yang mendasari (Smeltzer C. Suzanne).
B. Anatomi Fisiologi
Darah merupakan cairan jaringan tubuh. Fungsi utamanya adalah
mengangkut oksigen yang diperlukan oleh sel-sel di seluruh tubuh. Darah juga
menyuplai jaringan tubuh dengan nutrisi, mengangkut zat-zat metabolisme, dan
mengandung berbagai bahan penyusun sistem imun yang bertujuan
mempertahankan tubuh dari berbagai penyakit. Hormon-hormon dari sistem
endokrin juga diedarkan melalui darah. Darah berwarna merah, antara merah terang
apabila kaya oksigen sampai merah tua apabila kekurangan oksigen. Warna merah
pada darah disebabkan oleh hemoglobin, protein pernafasan (respiratory protein)
yang mengandung besi dalam bentuk heme, yang merupakan tempat terikatnya
molekul-melekul oksigen. Manusia memiliki sistem peredaran darah tertutup yang
berarti darah mengalir dalam pembuluh darah dan di sirkulasikan oleh jantung.
Darah dipompa oleh jantung menuju paru-paru untuk melepaskan sisa metabolisme
berupa karbondioksida dan menyerap oksigen melalui pembuluh arteri pulmonalis,
lalu dibawa kembali ke jantung melalui vena pulmonalis. Setelah itu darah
dikirimkan ke seluruh tubuh melalui saluran halus darah yang disebut pembuluh
kapiler. Darah kemudian kembali ke jantung melalui pembuluh darah vena cava
superior dan vena cava inferior. Darah juga mengangkut bahan-bahan sisa
metabolisme, obat-obatan dan bahan kimia asing ke hati untuk diuraikan dan ke
ginjal untuk di buang sebagai air seni.
Komposisi darah terdiri dari 2 komponen yaitu:
1. Korpuskuler adalah unsur padat darah yaitu sel-sel darah eritrosit, leukosit, dan
trombosit.
a) Eritrosit (Sel Darah Merah)
Merupakan bagian utama dari sel darah. Jumlah pada pria dewasa sekita 5
juta sel/cc darah dan pada wanita sekitar 4 juta sel/cc darah. Berbentuk
bikonkaf, warna merah disebabkan oleh Hemoglobin (Hb) fungsinya adalah
mengikat oksigen. Kadar Hb inilah yang dijadikan patokan dalam
menentukan penyakit anemia. Eritrosit berusia sekitar 120 hari. Sel yang telah
tua dihancurkan limpa. Hemoglobin dirombak kemudian dijadikan pigmen
bilirubin (pigmen empedu).
b) Leukosit (Sel Darah Putih)
Leukosit memiliki nukleus namun tidak memiliki hemoglobin. Rentang hidup
leukosit adalah bebrapa jam hingga beberapa hari. Leukosit bersifat amuboid
atau tidak memiliki bentuk yang tetap. Orang yang kelebihan leukosit
menderita penyakit leukimia, sedangkan orang yang kekurangan leukosit
menderita penyakit leukopenia. Jumlah leukosit adalah 4.000-11.000.
Leukosit digolongkan menjadi 2 yaitu granulosit dan agranulosit. Ciri dari
granulosit atau leukosit granuler adalah memiliki granula pada sitoplasma.
Ada 3 macam granulosit, yaitu neutrofil atau polimorf (10-12 µm), eosinofil
(10-12 µm) dan basofil (8-10 µm). Ciri dari agranulosit adalah tidak memiliki
granula pada sitoplasma. Ada 2 macam agranulosit yaitu limfosit (7-15 µm)
dan monosit (14-19 µm). Leukosit bertanggung jawab terhadap sistem imun
tubuh dan bertugas untuk memusnahkan benda-benda yang dianggap asing
dan berbahaya oleh tubuh, misalnya virus atau bakteri.
C. Etiologi
Beberapa penyebab umum dari kekurangan zat besi pada remaja antara lain:
1. Konsumsi Diet Rendah Zat Besi: Makanan seperti daging merah, kacang-
kacangan, dan sayuran berdaun hijau merupakan sumber zat besi yang baik.
2. Kehilangan Darah: Pada remaja perempuan, menstruasi merupakan salah
satu penyebab utama kehilangan zat besi.
3. Penyerapan Zat Besi yang Tidak Efisien: Gangguan seperti penyakit celiac
atau peradangan kronis dapat mengganggu kemampuan tubuh untuk
menyerap zat besi.
4. Pertumbuhan Pesat: Fase pertumbuhan yang cepat pada masa remaja
meningkatkan kebutuhan zat besi.
5. Patofisiologi
Timbulnya anemia mencerminkan adanya kegagalan sumsum atau
kehilangan sel darah merah secara berlebihan atau keduanya. Kegagalan sumsum
dapat terjadi akibat kekurangan nutrisi, pajanan toksik, invasi tumor atau
kebanyakan akibat penyebab yang tidak diketahui. Sel darah merah dapat hilang
melalui perdarahan atau hemolisis (destruksi), hal ini dapat akibat defek sel darah
merah yang tidak sesuai dengan ketahanan sel darah merah yang menyebabkan
destruksi sel darah merah.
Lisis sel darah merah (disolusi) terjadi terutama dalam sel fagositik atau
dalam sistem retikuloendotelial, terutama dalam hati dan limfa. Hasil samping
proses ini adalah bilirubin yang akan memasuki aliran darah. Setiap kenaikan
destruksi sel darah merah (hemolisis) segera direfleksikan dengan peningkatan
bilirubin plasma (konsentrasi normal, ≤ 1 mg/dl, kadar diatas 1.5 mg/dl
mengakibatkan ikterik pada sclera). Apabila sel darah merah mengalami
penghancuran dalam sirkulasi (pada kelainan hemplitik) maka hemoglobin akan
muncul dalam plasma (hemoglobinemia). Apabila konsentrasi plasmanya melebihi
kapasitas haptoglobin plasma (protein pengikat untuk hemoglobin bebas) untuk
mengikat semuanya, hemoglobin akan berdifusi dalam glomerulus ginjal dalam
urin (hemoglobinuria).
Anemia defisiensi zat besi dapat terjadi karena kehilangan banyak darah yang
kronik. Pada bayi hal ini terjadi karena perdarahan usus kronik yang disebabkan
oleh protein dalam susu sapi yang tidak tahan panas. Pada anak sembarang umur
kehilangan darah sebanyak 1-7 ml dari saluran cerna setiap hari dapat menyebabkan
anemia defisiensi zat besi. Pada remaja puteri anemia defisiensi zat besi juga dapat
terjadi karena menstruasi.
Anemia aplastik diakibatkan oleh karena rusaknya sumsum tulang. Gangguan
berupa berkurangnya sel darah dalam darah tepi sebagai akibat terhentinya
pembentukan sel hemotopoetik dalam sumsum tulang. Aplasia dapat terjadi hanya
pada satu, dua, atau ketiga sistem hemotopoetik (eritropoetik, granulopoetik, dan
trombopoetik).
Aplasia yang hanya mengenai sistem eritropoetik disebut eritroblastopenia
(anemia hipoplastik) yang mengenai sistem trombopoetik disebut agranulositosis
(penyakit Schultz) dan yang mengenai sistem trombopoetik disebut
amegakariositik trombositopenik purpura (ATP). Bila mengenai ketiga sistem
tersebut panmieloptisis atau lazimnya disebut anemia aplastik.
Kekurangan asam folat akan mengakibatkan anemia megaloblastik. Asam
folat merupakan bahan esensial untuk sintesis DNA dan RNA, yang paling penting
sekali untuk metabolisme inti sel dan pematangan sel.
Pertahanan sekunder
Resiko infeksi
tidak adekuat
Gangguan penyerapan
Kompensasi jantung Kompensasi paru nutrisi & defisiensi folat
6. Manifestasi Klinis
1. Manifestasi klinis yang sering muncul
a) Pusing
b) Mudah berkunang-kunang
c) Lesu
d) Aktivitas berkurang
e) Rasa mengantuk
f) Susah konsentrasi
g) Cepat lelah
h) Prestasi kerja fisik/ pikiran menurun
2. Gejala khas masing-masing anemia
a) Perdarahan berulang/ kronik pada anemia pasca perdarahan, anemia
defisiensi besi
b) Ikterus, urin berwarna kuning tua/ coklat, perut mrongkol/ makin buncit
pada anemia hemolitik
c) Mudah infeksi pada anemia aplastik dan anemia karena keganasan
3. Pemeriksaan fisik
a) Tanda-tanda anemia umum: pucat, takhikardi, pulsus encer, suara
pembuluh darah spontan, bising karotis, bising sistolik, anorganik,
perbesaran jantung
b) Manifestasi khusus pada anemia:
- Defisiensi besi: spoon nail, glositis
- Defisiensi B12: paresis ulkus di tungkai
- Hemolitik: ikterus, splenomegali
- Aplastik: anemia biasanya berat, perdarahan, infeksi (Asuhan
Keperawatan Berdasarkan Diagnosa Medis & NANDA NIC-NOC Jilid
1).
7. Pemeriksaan Diagnostik
1. Pemeriksaan Laboratorium
a) Tes penyaring, pemeriksaan ini meliputi pengkajian pada komponen-
komponen: kadar hemoglobin, indeks eritrosit, (MCV dan MCHC),
apusan darah tepi.
b) Pemeriksaan darah seri anemia: hitung leukosit, trombosit, laju endap
darah (LED), dan hitung retikulosit.
c) Pemeriksaan sumsum tulang: pemeriksaan ini memberikan informasi
mengenai keadaan sistem hematopoesis.
d) Pemeriksaan atas indikasi khusus: pemeriksaan ini untuk mengonfirmasi
dugaan diagnosis awal yang memiliki komponen berikut ini:
- Anemia defisiensi: serum iron, TIBC, saturasi transferin, dan feritin
serum
- Anemia megaloblastik: asam folat darah/ eritrosit, vitamin B12
- Anemia hemolitik: hitung retikulosit, tes coombs, dan elektroforesis Hb
- Anemia pada leukemia akut biasanya dilakukan pemeriksaan sitokimia
2. Pemeriksaan laboratorium nonhematologis: faal ginjal, faal endokrin, asam
urat, faat hati, biakan kuman.
3. Radiologi: thorax, bone survey, USG, atau linfangiografi
4. Pemeriksaan sitogenetik
5. Pemeriksaan biologi molekuler PCR (Polymerase Chain Raction), FISH
(Fluorescence In Situ Hybridization) (Asuhan Keperawatan Berdasarkan
Diagnosa Medis & NANDA NIC-NOC Jilid 1).
8. Penatalaksanaan Medis
1. Anemia aplastik
Dengan transplantasi sumsum tulang dan terapi immunosupresif dengan
antithimocyte globulin (ATG) yang diperlukan melalui jalur sentral selama 7-
10 hari. Prognosis buruk jika transplantasi sumsum tulang tidak berhasil. Bila
diperlukan dapat diberikan transfusi RBC rendah leukosit dan platelet.
2. Anemia pada penyakit ginjal
Pada pasien dialisis harus ditangani dengan pemberian zat besi dan asam
folat.
3. Anemia pada penyakit kronis
Kebanyakan pasien tidak menunjukkan gejala dan tidak memerlukan
penanganan untuk anemianya. Dengan menangani kelainan yang
mendasarinya, maka anemia akan terobati dengan sendirinya.
4. Anemia pada defisiensi zat besi dan asam folat
Dengan pemberian makanan yang adekuat. Pada defisiensi besi diberikan
sulfas ferosus 3x10 mg/hari. Transfusi darah diberikan bila kadar Hb kurang
dari 5 gr %.
5. Anemia megaloblastik
a) Defisiensi vitamin B12 ditangani dengan pemberian vitamin B12, bila
defisiensi disebabkan oleh defek absorbsi atau tidak tersedianya faktor
intrinsik dapat diberikan vitamin B12 dengan injeksi IM.
b) Untuk mencegah kekambuhan anemia, terapi vitamin B12 harus
diteruskan selama hidup pasien yang menderita anemia pernisiosa atau
malabsorbsi yang tidak dapat dikoreksi.
c) Pada anemia defisiensi asam folat diberikan asam folat 3x5 mg/hari.
d) Anemia defisiensi asam folat pada pasien dengan gangguan absorbsi,
penanganannya dengan diet, dan penambahan asam folat 1 mg/hari secara
IM.
6. Anemia pasca perdarahan
Dengan memberikan transfusi darah dan plasma. Dalam keadaan darurat
diberikan cairan intravena dengan cairan infus apa saja yang tersedia.
7. Anemia hemolitik
Dengan pemberian transfusi darah menggantikan darah yang hemolisis.
9. Proses Keperawatan
1. Pengkajian
a) Identitas Klien
1) Nama
2) Umur
3) Jenis kelamin
4) Pekerjaan
5) Hubungan klien dengan penanggung jawab
6) Agama
7) Suku bangsa
8) Status perkawinan
9) Alamat
10) Golongan darah
b) Identitas Penanggung Jawab
c) Keluhan Utama
Keluhan utama meliputi 5 L letih, lesu, lemah, lelah, lunglai, pandangan
berkunang-kunang.
2. Diagnosa Keperawatan
a) Intoleransi aktivitas berhubungan dengan ketidakseimbangan antara suplai
dan kebutuhan oksigen.
b) Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan
dengan intake yang kurang, anoreksia.
c) Resiko infeksi berhubungan dengan pertahanan tubuh sekunder yang tidak
adekuat.
3. Intervensi Keperawatan
Diagnosa Tujuan dan Kriteria
No Intervensi Rasional
Keperawatan Hasil
1 Intoleransi aktivitas Setelah dilakukan 1. Kaji kemampuan 1. Mempengaruhi
berhubungan dengan tindakan keperawatan klien untuk pilihan intervensi/
ketidakseimbangan selama ... x 24 jam melakukan tugas/ bantuan.
antara suplai dan diharapkan klien bisa AKS normal.
kebutuhan oksigen. melaporkan 2. Kaji kehilangan/ 2. Menunjukkan
peningkatan toleransi gangguan perubahan neurologi
aktivitas (termasuk keseimbangan gaya karena defisiensi
aktivitas sehari-hari) jalan, kelemahan vitamin B12
dengan kriteria hasil: otot. mempengaruhi
1. Klien mampu keamanan klien/
melakukan resiko cedera.
aktivitas sehari- 3. Pantau tekanan 3. Manifestasi
hari darah, nadi, kardiopulmonal dari
2. Tanda-tanda vital pernafasan selama upaya jantung dan
normal dan sesudah paru untuk
3. Status respirasi aktivitas. membawa jumlah
pertukaran gas dan oksigen adekuat ke
ventilasi adekuat jaringan.
4. Berikan lingkungan 4. Meningkatkan
tenang. istirahat untuk
menurunkan
kebutuhan oksigen
tubuh dan
menurunkan
regangan jantung
dan paru.
5. Ubah posisi pasien 5. Hipotensi postural
dengan perlahan dan atau hipoksia
pantau terhadap serebral dapat
pusing. menyebabkan
pusing, berdenyut,
dan peningkatan
resiko cedera.
6. Anjurkan pasien 6. Regangan/ stress
untuk menghentikan kardiopulmonal
aktivitas bila berlebihan/ stress
palpitasi. dapat menimbulkan
kegagalan.
2 Ketidakseimbangan Setelah dilakukan 1. Kaji riwayat nutrisi, 1. Mengidentifikasi
nutrisi kurang dari tindakan keperawatan termasuk makanan defisiensi, menduga
kebutuhan tubuh selama ... x 24 jam yang disukai. kemungkinan
berhubungan dengan diharapkan klien bisa intervensi.
intake yang kurang, menunjukkan 2. Observasi dan catat 2. Mengawasi masukan
anoreksia. peningkatan berat masukan makanan kalori atau kualitas
badan atau berat badan klien. kekurangan
stabil dengan nilai konsumsi makanan.
laboratorium normal 3. Timbang berat badan 3. Mengawasi
dengan kriteria hasil: setiap hari. penurunan berat
1. Adanya badan atau
peningkatan berat efektivitas intervensi
badan nutrisi.
2. Berat badan ideal 4. Berikan makan 4. Makan sedikit dapat
sesuai dengan sedikit dan frekuensi menurunkan
tinggi badan sering. kelemahan dan
3. Tidak ada tanda- meningkatkan
tanda malnutrisi pemasukann juga
4. Menunjukkan mencegah distensi
peningkatan fungsi gaster.
pengecapan dari 5. Observasi dan catat 5. Gejala GI dapat
menelan kejadian mual/ menunjukkan efek
muntah, flatus dan anemia (hipoksia)
gejala lain yang pada organ.
berhubungan.
6. Berikan dan bantu 6. Meningkatkan nasfu
hygiene mulut yang makan dan
baik sebelum dan pemasukan oral,
sesudah makan, menurunkan
gunakan sikat gigi pertumbuhan
halus untuk bakteri,
penyikatan yang meminimalkan
lembut. kemungkinan
infeksi.
7. Kolaborasi obat 7. Kolaborasi
sesuai indikasi. kebutuhan
penggantian
tergantung pada tipe
anemia atau adanya
masukan oral yang
buruk dan defisiensi
yang diidentifikasi.
3 Resiko infeksi Setelah dilakukan 1. Tingkatkan cuci 1. Mencegah
berhubungan dengan tindakan keperawatan tangan yang baik kontaminasi silang.
pertahanan tubuh selama ... x 24 jam oleh perawat dan
sekunder yang tidak diharapkan klien dapat klien.
adekuat. mengidentifikasi 2. Pertahankan teknik 2. Menurunkan resiko
perilaku untuk aseptik ketat pada infeksi bakteri.
mencegah/ prosedur/ perawatan
menurunkan resiko luka.
infeksi dengan kriteri 3. Tingkatkan masukan 3. Membantu dalam
hasil: cairan adekuat. pengenceran secret
1. Klien bebas dari pernafasan untuk
tanda dan gejala mempermudah
infeksi pengeluaran dan
2. Menunjukkan mencegah statis
kemampuan untuk cairan tubuh.
mencegah 4. Pantau suhu, catat 4. Adanya proses
timbulnya infeksi adanya menggigil inflamasi/ infeksi
3. Jumlah leukosit dan takikardia membutuhkan
dalam batas normal dengan atau tanpa evaluasi pengobatan.
4. Menunjukkan demam.
perilaku hidup 5. Kolaborasi berikan 5. Mungkin digunakan
sehat antiseptik topical, secara propilatik
antibiotic sistemik. untuk menurunkan
kolonisasi atau untuk
pengobatan proses
infeksi lokal.
SUNADI
40190124080
L. Anatomi Fisiologi
Sistem endokrin merupakan kelenjar yang mengirimkan hasil sekresi
langsung ke dalam darah yang beredar dalam jaringan kelenjar tanpa melewati
saluran. Hasil dari sekresi tersebut dinamakan dengan hormon. Adapun komponen
dari sistem endokrin sebagai berikut:
1. Kelenjar Pienal (Epifise)
Kelenjar ini terdapat didalam otak didalam ventrikel terletak dekat korpus. Ini
menghasilkan sekresi interna dalam membantu pankreas dan kelenjar kelamin.
2. Kelenjar Hipofise
Kelenjar ini terletak pada dasar tengkorak yang mempunyai peran penting dalam
sekresi hormon-hormon semua sistem endokrin. Kelenjar hipofise terdiri dari 2
lobus yaitu lobus anterior dan lobus posterior. Lobus anterior menghasilkan
hormon yang berfungsi sebagai zat pengendali produksi dari semua organ
endokrin.
a. Hormon Somatropik, yang berfungsi mengendalikan pertumbuhan tubuh.
b. Hormon Tirotropik, yang berfungsi mengendalikan kegiatan kelenjar tiroid
dalam menghasilkan hormon tiroksin.
c. Hormon Adrenokortikotropik (ACTH), yang berfungsi mengendalikan
kelenjaar suprarenal dalam menghasilkan kortisol.
d. Hormon Gonadotropik yang berasal dari Folicel Stimulating Hormon (FSH)
yang merangsang perkembangan folikel degraf dalam ovarium dan
pembentukan spermatozoa dalam testis.
Adapun lobus posterior menghasilkan 2 jenis hormon yaitu:
a. Hormon anti diuretik (ADH) mengatur jumlah air yang keluar melalui ginjal.
b. Hormon oksitosin yang berguna merangsang dan menguat kontraksi uterus
sewaktu melahirkan dan mengeluarkan air susu sewaktu menyusui.
3. Kelenjar Tiroid
Terdiri dari 2 lobus yang berada di sebelah kanan dari trakea, yang terletak
didalam leher bagian depan bawah melekat pada dinding laring. Adapun fungsi
kelenjar tiroksin adalah mengatur pertukaran metabolisme dalam tubuh dan
mengatur pertumbuhan. Selain itu juga kelenjar tiroid mempunyai fungsi:
a. Bekerja sebagai perangsang kerja oksidasi
b. Mengatur penggunaan oksidasi
c. Mengatur pengeluaran karbondioksida
d. Pengaturan susunan kimia darah, jaringan
4. Kelenjar Timus
Kelenjar ini di mediastinum di belakang os sternum. Kelenjar timus terletak di
dalam thorak yang terdiri dari 2 lobus. Adapun fungsi dari kelenjar timus adalah:
a. Mengaktifkan pertumbuhan badan
b. Mengurangi aktifitas kelenjar kelamin
5. Kelenjar Adrenal
Kelenjar adrenal ada 2 bagian yaitu:
a. Bagian luar yang berwarna kekuningan yang menghasilkan kortisol disebut
korteks.
b. Bagian medula yang menghasilkan adrenalin (epineprin) dan non adrenalin
(non epineprin).
Non adrenalin dapat menaikkan tekanan darah dengan cara merangsang serabut
otot di dalam dinding pembuluh darah untuk berkontraksi, adrenalin membantu
metabolisme karbohidrat dengan cara menambah pengeluaran glukosa dalam
hati. Adapun fungsi kelenjar adrenal bagian korteks adalah:
a. Mengatur keseimbangan air, elektrolit, dan garam.
b. Mempengaruhi metabolisme hidrat arang dan protein.
c. Mempengaruhi aktifitas jaringan limfoid.
Dan fungsi kelenjar adrenal bagian medula adalah:
a. Vasokontriksi pembuluh darah perifer.
b. Relaksasi bronkus.
6. Pankreas
Terdapat di belakang lambung di depan vertebra lumbalis 1 dan 2 terdiri dari sel-
sel alpha dan beta. Sel alpha menghasilkan hormon glukagon dan sel beta
menghasilkan hormon insulin. Hormon yang digunakan untuk pengobatan
diabetes adalah hormon insulin yang merupakan sebuah protein yang di turut di
cernakan oleh enzim perncernaan protein.
Fungsi hormon insulin adalah mengendalikan kadar glukosa dan bila digunakan
sebagai pengobatan adalah memperbaiki sel tubuh untuk mengamati dan
penggunaan glukosa dan lemak. Selain itu juga terdapat pulau langerhans adalah
sebagai unit sekresi insulin glikogen dan polipeptida pankreas serta menghambat
sekresi glikogen. Selain itu juga pankreas sebagai tempat cadangan bagi tubuh
dan penggunaan glukosa.
7. Kelenjar Ovarika
Terdapat pada wanita dan terletak pada samping kanan dan kiri uterus dan
menghasilkan hormon esterogen dan progesteron, hormon ini mempengaruhi
uterus dan memberikan sifar kewanitaan.
8. Kelenjar Testika
Terdapat pada pria terletak pada skrotum dan menghasilkan hormon tertosteron
yang mempengaruhi pengeluaran sperma.
M. Etiologi
Etiologi Diabetes Melitus menurut Kemenkes RI (2020) yaitu:
Pathway
Diabetes Mellitus
Tipe 1 Tipe 2
Kerusakan sel B
Kelainan metabolisme O2
O. Manifestasi Klinis
1. Poliuria
Hiperglikemia yang disebabkan oleh penurunan aktivitas insulin mengakibatkan
hiperosmolaritas cairan intravaskuler. Tingginya osmolaritas intravaskuler
membuat cairan intrasel berdifusi kedalam sirkulasi sehingga volum dan aliran
darah meningkat yang pada akhirnya mengakibatkan diuresis osmotik sehingga
produksi urin meningkat.
2. Polidipsia
Peningkatan difusi cairan intrasel kedalam vaskuler membuat volum cairan
intrasel menurun sehingga menimbulkan dehidrasi sel yang akan mengaktifkan
sensor haus. Glukosa darah diekskresi melalui urin dalam bentuk diuresis
bersamaan cairan dan elektrolit tubuh sehingga pasien menjadi dehidrasi.
Dehidrasi inilah yang membuat pasien selalu merasa haus dan meminum air
dalam jumlah banyak.
3. Polifagia
Penurunan masukan glukosa darah kedalam intrasel menstimulasi rasa lapar
yang menjadikan penderita Diabetes Mellitus selalu ingin makan (Bare &
Suzzanne, 2012: 23).
4. Kelebihan dan kelemahan, perubahan pandangan secara mendadak, sensasi
kesemutan atau kebas ditangan atau kaki, kulit kering, lesi kulit atau luka yang
lambat sembuh, atau infeksi berulang.
5. Diabetes tipe 1 dapat disertai dengan penurunan berat badan mendadak atau
mual, muntah, atau nyeri lambung.
6. Diabetes tipe 2 disebabkan oleh inteleransi glukosa yang progresif yang
berlangsung perlahan (bertahun-tahun) dan mengakibatkan komplikasi jangka
panjang apabila Diabetes tidak terdeteksi selama bertahun-tahun (misalnya
penyakit mata, neuropati perifer, penyakit vaskular perifer). Komplikasi dapat
muncul sebelum diagnosis yang sebenarnya ditegakkan.
7. Tanda dan gejala Ketoasidosis Diabetik (DKA) mencakup nyeri abdomen, mual,
muntah, hiperventilasi, dan napas berbau buah. DKA yang tidak tertangani dapat
menyebabkan perubahan tingkat kesadaran, koma, dan kematian (Brunner &
Suddarth, 2013: 212).
P. Pemeriksaan Diagnostik
1. Kadar Glukosa Darah
Tabel 1.1
Kadar Glukosa Darah Sewaktu dan Puasa Sebagai Patokan Penyaring Diagnosis
Diabetes Melitus (mg/dL)
Metode
Bukan DM Belum pasti DM DM
Pengukuran
Kadar glukosa
darah sewaktu:
1. Plasma Vena < 100 100-200 > 200
2. Darah Kapiler < 80 80-200 > 200
Kadar glukosa
darah puasa:
1. Plasma Vena < 110 110-120 > 126
2. Darah Kapiler < 90 90-110 > 110
Sumber: Padila, 2012.
2. Kriteria diagnostik WHO untuk diabetes mellitus pada sedikitnya 2 kali
pemeriksaan:
a. Glukosa plasma sewaktu > 200 mg/dl (11,1 mmol/L).
b. Glukosa plasma puasa > 140 mg/dl (7,8 mmol/L).
c. Glukosa plasma dari sampel yang diambil 2 jam kemudian sesuda h mengkonsumsi
75 gr karbohidrat (2 jam post prandial (pp) > 200 mg/dl).
3. Tes Laboratorium
Jenis tes ini dapat berupa tes saring, tes diagnostik, tes monitoring terapi dan tes
untuk mendeteksi komplikasi.
a. Tes Saring
Tes glukosa urine: tes konvensional (metode reduksi/ benedict), dan tes carik
celup (metode glucose/ hexokinase).
b. Tes Diagnostik
Tes-tes diagnostik yaitu: GDP, GDS, GD2PP (Glukosa Darah 2 Jam Post
Prandial), glukosa jam ke 2 TTGO.
c. Tes Monitoring Terapi
- GDP: plasma vena, darah kapiler
- GD2PP: plasma vena
- A1c: darah vena darah kapiler
d. Tes untuk Mendeteksi Komplikasi
- Mikroalbuminuria: urine
- Ureum, kreatinin, asam urat
- Kolesterol total: plasma vena (puasa)
- Kolesterol LDL: plasma vena (puasa)
- Kolesterol HDL: plasma vena (puasa)
- Trigliserida: plasma vena (puasa)
(Asuhan Keperawatan Berdasarkan Diagnosa Medis & NANDA NIC-NOC Jilid 1,
2015).
Q. Penatalaksanaan Medis
Penanganan diabetes mellitus tipe 1 meliputi:
1. Terapi suntik insulin, perencanaan makan, dan latihan fisik (bentuk terapi insulin
yang mutakhir meliputi penyuntikan prxeparat mixed insulin, split-mixed, dan
penyuntikan insulin reguler (RI) lebih dari satu kali per hari serta penyuntikan
insulin subkutan yang kontinu).
2. Transplantasi pankreas (yang kini memerlukan terapi imunosupresi yang lama).
Penanganan diabetes mellitus tipe 2 meliputi:
1. Obat antidiabetik oral untuk menstimulasi produksi insulin endogen,
meningkatkan sensitivitas terhadap insulin pada tingkat seluler, menekan
glukoneogenesis hepar, dan memperlambat absorpsi karbohidrat dalam traktus
GI (dapat digunakan kombinasi obat-obatan tersebut) (Kowalak, 2013: 520).
Pemberian obat kepada pasien Diabetes Mellitus tipe 2 ketika penanganan
dengan menerapkan pola hidup sehat tidak cukup efektif. Beberapa obat untuk
menangani Diabetes Mellitus tipe 2 meliputi:
a) Metformin, untuk mengurangi produksi gula pada hati.
b) Meglitinide dan sulfonylurea, untuk merangsang kerja pankreas agar
memproduksi insulin lebih banyak.
c) DPP-4, untuk meningkatkan produksi insulin dan mengurangi produksi gula
oleh hati, contoh: Sitagliptin.
d) GLP-1 receptor agonist, obat dapat memperlambat proses pencernaan
makanan, terutama yang mengandung gula, sekaligus menurunkan kadar gula
dalam darah, contoh: Exenatide.
e) SGLT2 inhibitor, obat ini bekerja dengan cara mempengaruhi ginjal
membuang lebih banyak gula, contoh: Dapagliflozin.
2. Pada pasien Diabetes Mellitus tipe 2 ringan sampai sedang yang gagal
dikendalikan dengan pengaturan asupan energi dan karbohidrat serta olahraga.
Obat golongan antidiabetik ini ditambahkan bila setelah 4-8 minggu upaya diet
dan olahraga dilakukan, kadar gula darah tetap diatas 200 mg dan HbA1c diatas
8 mg. Jadi obat ini bukan menggantikan upaya diet, melainkan membantunya.
Pemilihan obat antidiabetik oral yang tepat sangat menentukan keberhasilan
terapi Diabetes. Pemilihan terapi menggunakan antidiabetik oral dapat dilakukan
dengan satu jenis obat atau kombinasi. Pemilihan dan penentuan regimen
antidiabetik oral yang digunakan harus mempertimbangkan tingkat keparahan
penyakit Diabetes Mellitus seta kondisi kesehatan pasien secara umum termasuk
penyakit-penyakit lain dan komplikasi yang ada (Restyana, 2015).
R. Proses Keperawatan
4. Pengkajian
a. Identitas
11) Nama
12) Umur
13) Jenis kelamin
14) Pekerjaan
15) Hubungan klien dengan penanggung jawab
16) Agama
17) Suku bangsa
18) Status perkawinan
19) Alamat
20) Golongan darah
b. Identitas Penanggung Jawab
1) Nama
2) Umur
3) Jenis kelamin
4) Pekerjaan
5) Hubungan dengan klien
6) Agama
7) Suku bangsa
8) Status perkawinan
9) Alamat
c. Keluhan Utama
Pasien diabetes melitus datang ke ruamh sakit dengan keluahan utama
yang berbeda-beda. Pada umumnya seseorang datang ke rumah sakit
dengan gejala khas berupa polifagia, poliuria, polidipsia, lemas, dan berat
badan menurun.
d. Riwayat Kesehatan
1) Riwayat Penyakit Dahulu
Pada pengkajian riwayat penyakit dahulu akan didapatkan informasi
apakah terdapat faktor-faktor resiko terjadinya diabetes mellitus
misalnya riwayat obesitas, hipertensi, atau juga aterosklerosis.
2) Riwayat Penyakit Sekarang
Pengkajian pada riwayat penyakit sekarang terjadinya gejala khas dari
diabetes mellitus, penyebab terjadinya diabetes mellitus telah
dilakukan oleh penderita untuk mengatasinya.
3) Riwayat Kesehatan Keluarga
Kaji adanya riwayat kesehatan keluarga yang terkena diabetes
mellitus, hal ini berhubungan dengan proses genetik dimana orang tua
dengan diabetes mellitus berpeluang untuk menurunkan penyakit
tersebut kepada anaknya.
e. Pola Aktivitas
1) Pola Nutrisi
Akibat produksi insulin tidak adekuat atau adanya defisiensi insulin
maka kadar gula darah tidak dapat dipertahankan sehingga
menimbulkan keluhan sering kencing, banyak makan, banyak minum,
berat badan menurun dan mudah lelah. Keadaan tersebut dapat
mengakibatkan terjadinya gangguan nutrisi dan metabolisme yang
dapat mempengaruhi status kesehatan penderita.
2) Pola Eliminasi
Adanya hiperglikemia menyebabkan terjadinya diuresis osmotik yang
menyebabkan pasien sering kencing (poliuria) dan pengeluaran
glukosa pada urine (glukosuria). Pada eliminasi alvi relatif tidak aad
gangguan.
3) Pola Istirahat dan Tidur
Adanya poliuria, dan situasi rumah sakit yang ramai akan
mempengaruhi waktu tidur dan istirahat penderita, sehingga pola tidur
dan waktu tidur penderita terganggu.
4) Pola Aktivitas
Adanya kelemahan otot-otot pada ekstremitas menyebabkan penderita
tidak mampu melaksanakan aktivitas sehari-hari secara maksimal,
penderita mudah mengalami kelelahan.
5) Pola Persepsi dan Konsep Diri
Adanya perubahan fungsi dan struktur tubuh akan menyebabkan
penderita mengalami gangguan pada gambaran diri, lamanya
perawatan, banyaknya biaya perawatan dan pengobatan menyebabkan
pasien mengalami kecemasan dan gangguan peran pada keluarga (self
esteem).
6) Pola Sensori dan Kognitif
Pasien dengan diabetes mellitus cenderung mengalami neuropati/ mati
rasa pada kaki sehingga tidak peka terhadap adanya trauma.
7) Pola Seksual dan Reproduksi
Angiopati dapat terjadi pada sistem pembuluh darah di organ
reproduksi sehingga menyebabkan gangguan potensi seks, gangguan
kualitas maupun ereksi, serta memberi dampak pada proses ejakulasi
serta orgasme.
8) Pola Mekanisme Stress dan Koping
Lamanya waktu perawatan, perjalanan penyakit yang kronik, perasaan
tidak berdaya karena ketergantungan menyebabkan reaksi psikologis
yang negatif berupa marah, kecemasan, mudah tersinggung dan lain-
lain, dapat menyebabkan penderita tidak mampu menggunakan
mekanisme koping yang konstruktif/ adaptif.
f. Pemeriksaan Fisik
12) Status Kesehatan Umum
13) Sistem Pernafasan
14) Sistem Endokrin
15) Sistem Hematologi
16) Sistem Imunitas
17) Sistem Kardiovaskuler
18) Sistem Pencernaan
19) Sistem Persepsi Sensori
20) Sistem Muskuloskeletal
21) Sistem Integumen
22) Sistem Reproduksi
5. Diagnosa Keperawatan
1. Resiko ketidakefektifan kadar glukosa darah berhubungan dengan
hiperglikemia.
2. Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan
penurunan berat badan.
3. Kekurangan volume cairan berhubungan dengan kehilangan cairan aktif.
6. Intervensi Keperawatan
No Diagnosa Tujuan Intervensi Rasional
1. Resiko Setelah dilakukan 1. Pantau kadar gula 1. Agar mengetahui
ketidakefektifan kadar tindakan keperawatan darah tinggi atau rendah
glukosa darah selama ... x 24 jam, nya gula darah pasien
kadar gula darah 2. Agar pasien paham
menjadi normal dengan 2. Bantu pasien untuk dan bisa memantau
kriteria hasil: mengartikan kadar gula darah nya
1. Level gula darah glukosa darahnya sendiri
dalam batas normal 3. Supaya pasien patuh
2. Dapat merubah pola 3. Monitor tingkat dalam pengobatan
hidup kepatuhan pasien
3. Dapat patuh dalam dalam pengobatan 4. Pasien mengetahui
pengobatan 4. Pendidikan Kesehatan pengobatan DM
tentang pengobatan
DM 5. Pasien dan keluarga
5. Ajarkan pasien dan dapat mengelola
keluarga cara pengobatan DM
penggunaan injeksi selama di rumah
novorapid selama
dirumah 6. Novorapid injeksi
6. Kolaborasi dengan sebagai pengganti
dokter pemberian fungsi insulin dalam
injeksi novorapid 3x12 tubuh untuk
unit/SC menstabilkan kadar
glukosa dalam darah
2. Ketidakseimbangan Setelah dilakukan 1. Kaji adanya alergi 1. Agar dapat
nutrisi kurang dari tindakan keperawatan makanan menghindari adanya
kebutuhan tubuh selama ... x 24 jam efek samping
terjadi pemenuhan makanan
nutrisi yang adekuat 2. Kolaborasi dengan ahli 2. Agar asupan kalori
dengan kriteria hasil: gizi untuk menentukan dan nutrisi pasien
1. Tidak ada tanda- jumlah kalori dan sesuai dengan
tanda malnutrisi nutrisi yang kebutuhan
2. Mampu dibutuhkan pasien
mengidentifikasi 3. Ajarkan pasien 3. Agar pola makan
kebutuhan nutrisi beserta keluarga pasien terjaga dan
3. Tidak terjadi bagaimana membuat konsumsi makanan
penurunan berat catatan makanan pasien tetap
badan yang berarti harian terpantau dan sesuai
4. Menunjukkan dengan yang
peningkatan fungsi dianjurkan
pengecapan dan 4. Monitor adanya 4. Agar mengetahui
menelan penurunan berat gejala lebih awal
badan adanya malnutrisi
5. Monitor adanya mual 5. Agar mengetahui
dan muntah adanya gangguan
keinginan dan
kemampuan klien
untuk makan
3. Kekurangan volume Setelah dilakukan 1. Monitor tanda-tanda 1. Mengetahui keadaan
cairan tindakan keperawatan vital umum pasien dalam
selama ... x 24 jam, keadaan normal
volume cairan dapat 2. Monitor tingkat HT 2. Mengetahui jumlah
teratasi dengan kriteria HT dalam batas
hasil : normal
1. Tidak ada tanda- 3. Monitor respon 3. Mengetahui cairan
tanda dehidrasi pasien terhadap apakah kekurangan
2. Mempertahankan penambahan cairan atau kelebihan
HT normal
3. Tanda-tanda vital
dalam batas normal
Daftar Pustaka
1. WHO 2020
2. KEMENKES RI 2020
3. Bare dan Suzzanne. 2012. Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah, edisi 10
volume. Jakarta: EGC
4. Hasdianah, HR & Sentot, Imam, Suprapto. 2014. Patologi & Patofisiologi
Penyakit. Yogyakarta: Nuha Medika
5. Hasdianah. 2012. Mengenal Diabetes Melitus Pada Orang Dewasa dan
Anak-Anak Dengan Solusi Herbal. Yogyakarta: Nuha Medika
6. [Link]
7. [Link]
8. Smeltzer, Bare. 2013. Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah Brunner dan
Suddarth. Jakarta: EGC