0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
21 tayangan25 halaman

Penguatan Profil Pelajar Pancasila

Suara Demokrasi

Diunggah oleh

mhelyza ponelo
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
21 tayangan25 halaman

Penguatan Profil Pelajar Pancasila

Suara Demokrasi

Diunggah oleh

mhelyza ponelo
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

BAB II

KAJIAN TEORETIS

A. Landasan Teori

1. Proyek Penguatan Profil Pelajar Pancasila

a. Pengertian Profil Pelajar Pancasila

Pelajar Pancasila merupakan pelajar sepanjang hayat yang memiliki

kompetensi, karakter, dan perilaku global sesuai kaidah Pancasila.1

Pernyataan tersebut menjelaskan tiga komponen penting yaitu pelajar

sepanjang hayat, kompetensi, dan karakter sesuai nilai nilai Pancasila.

Pelajar sepanjang hayat membutuhkan kemandirian, dimana seseorang

mengenali kebutuhan belajarnya, memiliki motivasi tinggi untuk tetap

belajar, dan mampu mencari sumber serta metode belajar yang sesuai

dengan dirinya.2

Pelajar Indonesia diharapkan memiliki kompetensi untuk menjadi

warga negara yang demokratis, unggul, dan produktif.3 Kompetensi

(profil) menjadi output sistem pendidikan Indonesia yang fokus untuk

mencapai standar kompetensi lulusan dalam hal penanaman karakter

1
Dyah M, Sulistyati, Panduan Guru P5 untuk Satuan PAUD, (Jakarta : Pusat
Kurikulum dan Perbukuan Badan Penelitian dan Pengembangan dan Perbukuan
Kemendikbud, 2021), hal. 2.

Dini Irawati, dkk., “Profil Pelajar Pancasila Sebagai Upaya Mewujudkan Karakter
2

Bangsa”, Jurnal Pendidikan Edumaspul. Vol 6. No. 1, (2022), hal. 6.


3
Rizki Satria, dkk., [Link]., hal. 1.

10
11

pelajar Pancasila. Karakter pelajar Pancasila memili`ki ciri ciri sebagai

berikut :4

1) Beriman, Bertakwa Kepada Tuhan YME, dan Berakhlak Mulia.

Pelajar Pancasila diharapkan mampu menjalankan nilai nilai

spiritual dalam kehidupannya. Selain keimanan dan akhlak

beragama pelajar Pancasila juga memiliki akhlak kepada diri

sendiri, kepada sesama manusia, kepada alam, dan akhlak

berbangsa.

2) Berkebhinekaan Global

Pancasila dan Bhineka Tunggal Ika menjadi nilai yang harus

dipegang bersama oleh seluruh masyarakat Indonesia. Tidak hanya

dengan sesama masyarakat Indonesia tetapi juga dengan bangsa

dan budaya lain. Pelajar Pancasila harus memiliki kemampuan

untuk menjaga budaya dan identitas bangsa dengan tetap berpikir

terbuka saat berinteraksi dengan bangsa atau budaya lain.

3) Gotong Royong

Gotong royong sebagai solusi dalam mencapai kemudahan dan

keringanan menjadi hal yang dijunjung bangsa Indonesia.

Kolaborasi dan rasa kepedulian antar sesama manusia dapat

tercipta dengan adanya gotong royong.

4
Kemendikbud. [Link]
cerdas-dan-berkarakter/. Diakses tanggal 28 Desember 2022.
12

4) Mandiri

Kemandirian merupakan bentuk tanggung jawab pelajar

Pancasila dalam menyelesaikan segala aktivitas dengan baik.

Kolaborasi tidak menjadi alasan untuk tidak memiliki tanggung

jawab pribadi karna pelajar Pancasila memiliki kesadaran dari diri

sendiri terhadap situasi yang dihadapi, Serta mampu membentuk

regulasi diri sendiri untuk mewujudkan karakter yang tangguh dan

mandiri.

5) Bernalar Kritis

Untuk menghadapi persaingan global seperti sekarang dan di

masa depan, diperlukan penalaran kritis. untuk mengambil

keputusan yang tepat pelajar Pancasila harus berpikir kritis.

berpikir kritis diartikan sebagai kemampuan mengolah informasi

secara objektif, mengetahui keterkaitan antar informasi,

menganalisis informasi, mengevaluasi, dan menyimpulkannya.

6) Kreatif

Kreativitas merupakan awal dari penemuan inovasi besar di

masa depan. Bukan hanya sekadar menemukan gagasan-gagasan

baru, inovasi diharapkan bermakna, bermanfaat, dan berdampak

bagi masyarakat. Pelajar Pancasila dapat meningkatkan

kreativitasnya dengan menerapkan berpikir kritis kemudian

disempurnakan menjadi inovasi-inovasi baru.


13

Dimensi-dimensi tersebut menunjukan bahwa Profil Pelajar

Pancasila tidak hanya fokus pada kemampuan kognitif, tetapi juga

sikap dan perilaku sesuai jati diri sebagai bangsa Indonesia.

b. Pengertian pembelajaran proyek

Pembelajaran berbasis proyek adalah model pembelajaran yang

dikelola dengan melibatkan kerja proyek. Proyek adalah kegiatan untuk

mencapai tujuan dengan cara mempelajari topik yang menantang.

Proyek dirancang agar peserta didik melakukan penelitian,

memecahkan masalah, dan mengambil keputusan. Proyek merupakan

pembelajaran lintas disiplin ilmu untuk mengamati dan memikirkan

solusi dari permasalahan yang ada di lingkungan sekitarnya untuk

menguatkan berbagai kompetensi Profil Pelajar Pancasila.

Kemendikbud ristek No 5/M/2022, menjelaskan bahwa P5 merupakan

kegiatan kokurikuler yang dibentuk untuk menguatkan upaya

pencapaian kompetensi dan karakter sesuai dengan Profil Pelajar

Pancasila.

Pelaksanaan P5 dilakukan secara fleksibel baik dari segi muatan,

kegiatan, dan waktu pelaksanaan. Rencana kegiatan proyek tidak harus

sesuai dengan materi di kurikulum baik itu tujuan, muatan, dan kegiatan

pembelajaran. Pendidik dapat tetap melaksanakan kegiatan

pembelajaran berbasis proyek pada saat melakukan pelajaran

intrakurikuler yang bertujuan untuk mencapai Capaian Pembelajaran

sesuai kurikulum, Sementara P5 bertujuan untuk mencapai kompetensi


14

Profil Pelajar Pancasila. Untuk mencapai tujuan tersebut satuan

pendidikan dapat berkolaborasi dengan masyarakat luas dan dunia kerja

dalam melaksanakan P5.5

Adapun prinsip-prinsip dalam Penguatan Profil Pelajar Pancasila

adalah :6

a. Holistik

Holistik memiliki arti memandang sesuatu secara utuh dan

menyeluruh, tidak parsial atau terpisah-pisah. Pendidikan holistik

merupakan pendidikan yang mengembangkan potensi peserta didik

seutuhnya dari kualitas intelektual, rohani, jasmani, hingga estetika

untuk mewujudkan generasi bangsa yang berkualitas.

Tujuan dari pendidikan holistik adalah untuk mengembangkan

potensi peserta didik melalui suasana pembelajaran yang

menyenangkan, demokratis, humanis, serta terdapat pengalaman

berinteraksi dengan lingkungan. Pendidikan holistik lebih

memperhatikan kebutuhan dan kemampuan peserta didik secara

keseluruhan, dalam pendidikan holistik guru lebih banyak berperan

sebagai sahabat, mentor, dan fasilitator daripada peran guru dalam

memimpin kegiatan pembelajaran.7

5
Rizki Satria, [Link]. hal 5.
6
Ibid., hal. 8.
7
Abd. Rahman, Pendidikan Holistik : Konsep dan Implementasi dalam Pendidikan.
(Jakarta : Uhamka Press, 2012). Hal. 29-31.
15

Dalam konteks perancangan P5 pendidikan holistik mendorong

kita untuk menelaah mata pelajaran secara keseluruhan dan

mengetahui keterkaitan dari berbagai hal sehingga kita dapat

memahami sebuah isu secara mendalam. Oleh karna itu setiap tema

P5 yang diimplementasikan bukanlah sebuah wadah tematik yang

menghimpun beragam mata pelajaran, melainkan wadah untuk

menyatukan beragam perspektif dan konten pengetahuan secara

terpadu. Holistik juga mendorong kita untuk dapat melihat hubungan

yang bermakna antar komponen dalam pelaksanaan proyek profil,

seperti peserta didik, pendidik, satuan pendidikan, masyarakat, dan

realita kehidupan sehari-hari.

b. Kontekstual

Prinsip kontekstual mengacu pada upaya yang mendasarkan

kegiatan pembelajaran pada pengalaman nyata yang dihadapi dalam

kehidupan sehari-hari. Prinsip ini menjadikan bahan utama

pembelajaran adalah lingkungan sekitar dan realitas kehidupan

sehari-hari. Oleh karna itu satuan pendidikan harus memberikan

kesempatan kepada peserta didik untuk dapat mempelajari hal-hal

yang berbeda di luar lingkup satuan pendidikan.

Dengan mendasarkan proyek profil pada pengalaman nyata dan

pemecahan masalah yang dihadapi dalam kehidupan sehari-hari,

peserta didik diharapkan dapat mengalami pembelajaran yang


16

bermakna sehingga dapat meningkatkan pemahaman dan

kemampuanya.

c. Berpusat pada peserta didik

Prinsip berpusat pada peserta didik adalah menempatkan peserta

didik sebagai pusat pembelajaran. Peserta didik diberikan

kesempatan untuk memilih atau mengusulkan topik proyek profil

sesuai minatnya. Pendidik diharapkan mengurangi peran sebagai

aktor utama dalam kegiatan pembelajaran yang menjelaskan banyak

materi dan memberikan banyak instruksi. Sebaiknya pendidik

menjadi fasilitator pembelajaran yang memberikan banyak

kesempatan kepada peserta didik untuk mengeksplorasi berbagai hal

atas dorongannya sendiri sesuai dengan kondisi dan

kemampuannya. Dengan harapan setiap kegiatan belajar mengajar

dapat mengasah kemampuan peserta didik dalam memunculkan

inisiatif serta meningkatkan kemampuan peserta didik dalam

mengambil keputusan dan memecahkan masalah.

d. Eksploratif

Prinsip eksploratif yaitu semangat untuk membuka ruang dalam

mengembangkan diri baik terstruktur maupun bebas. P5 tidak

berada dalam struktur intrakurikuler yang terkait dengan aturan

formal sehingga proyek profil ini memiliki area eksplorasi yang luas

dari segi jangkauan materi, alokasi waktu, dan penyesuaian dengan

tujuan pembelajaran. Namun diharapkan dalam implementasinya


17

pendidik dapat Menyusun kegiatan proyek profil secara sistematis

dan terstruktur untuk memudahkan pelaksanaannya.

2. Proses Pelaksanaan Proyek Penguatan Profil Pelajar Pancasila

Proyek Penguatan Profil Pelajar Pancasila merupakan upaya

pencapaian Profil Pelajar Pancasila dengan menggunakan paradigma

pembelajaran baru. Oleh karena itu, diperlukan pemahaman mengenai

Profil Pelajar Pancasila dan paradigma pembelajaran baru. Faktor penting

yang harus di lakukan yaitu bagaimana desain P5 dan proses penerapannya.

Tahapan perencanaan dan pelaksanaan P5 adalah sebaga berikut :8

1) Membentuk tim fasilitator P5

Pembentukan dan pengelolaan tim fasilitator oleh kepala sekolah

dan koordinator Proyek Profil. Tim fasilitator terdiri dari pendidik yang

bertugas merencanakan, menjalankan, dan mengevaluasi Proyek Profil.

Pembentukan tim fasilitator disesuaikan dengan kondisi dan kebutuhan

sekolah, dapat disesuaikan dengan :

a. Jumlah peserta didik dalam satuan Pendidikan

b. Jumlah tema yang ada dalam satu tahun ajaran

c. Jumlah jam mengajar pendidik yang belum terpenuhi atau

dialihkan untuk Proyek Profil

d. Pertimbangan lain sesuai kebutuhan

8
Rizky Satria, dkk., [Link]., hal. 20.
18

Langkah-langkah dalam pembentukan tim fasilitator :

a. Kepala sekolah menentukan koordinator Proyek Profil yang

memiliki kemampuan atau pengalaman dalam mengelola proyek.

b. Membentuk koordinator level kelas apabila memiliki SDM yang

cukup.

c. Kepala sekolah Bersama dengan koordinator memetakan pendidik

dari setiap kelas untuk menjadi tim fasilitator Proyek Profil.

d. Tim fasilitator Membuat perencanaan dan modul Proyek Profil

Pelajar Pancasila untuk setiap kelas dengan di arahkan oleh

koordinator.

2) Pembagian Peran dan Tanggung Jawab dalam Pengelolaan Proyek

Profil.

Masing-masing bagian mulai dari satuan pendidikan, koordinator

Proyek Profil, dan Fasilitator Proyek Profil memiliki peran dan

tanggung jawab yaitu sebagai berikut :

a. Satuan Pendidikan

a) Bertugas menyiapkan sistem dari perencanaan hingga evaluasi

dan refleksi Proyek Profil.

b) Bekerjasama dengan masyarakat, komunitas, akademisi,

praktisi untuk menambah materi Proyek Profil.

c) Mengomunikasikan P5 kepada lingkungan sekolah, orang tua

peserta didik, dan mitra.


19

d) Memastikan pembelajaran tetap berjalan sesuai dengan arahan

alokasi waktu dari pemerintah. Adapun alokasi waktu Proyek

Profil dilaksanakan pada mata Program Ketterampilan.

e) Melibatkan pendidik bimbingan dan konseling untuk

memberikan fasilitas dan dukungan pada proses berjalannya

Proyek Profil Pelajar Pancasila.

f) Menyediakan dana dan sumber daya yang diperlukan untuk

kelangsungan Proyek Profil Pelajar Pancasila.

b. Koordinator Proyek Profil

Tugas koordinator Proyek Profil adalah :

a) Mengembangkan kemampuan kepemimpinan dalam

menjalankan Proyek Profil Pelajar Paancasila

b) Menyiapkan sistem yang dibutuhkan oleh fasilitator dan

peserta didik yang digunakan dalam proses menyelesaikan

Proyek Profil Pelajar Pancasila.

c) Memastikan adanya kolaborasi antara fasilitator.

d) Memastikan pelaksanaan Proyek Profil dilakukan secara

eksploratif.

e) Memastikan rancangan penilaian yang dilaksanakan sesuai

dengan kriteria yang ada.

c. Fasilitator Proyek Profil

a) Memperhatikan kebutuhan dan minat belajar peserta didik dan

menjadikan pembelajaran (berdiferensiasi), sesuai dengan


20

gaya belajar, imajinasi, kreatiivitas, dan inovasi tema Proyek

Profil.

b) Memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk terlibat

dalam Proyek Profil Pelajar Pancasila.

c) Memberikan kesempatan pada peserta didik untuk mendalami

tema pembelajaran yang diminati.

d) Berkolaborasi dengan pihak terkait Proyek Profil (orang tua,

mitra, lingkungan) untuk mencapai tujuan pembelajaran dari

setiap tema Proyek Profil.

e) Menyediakan sumber belajar yang dibutuhkan peserta didik.

f) Mengajarkan keterampilan proses inkuiri kepada peserta didik

dan mendampingi peserta didik dalam mencari referensi.

g) Memberikan fasilitas akses untuk proses riset dan bukti.

h) Terbuka dalam memberi dan menerima saran dan kritik

pelaksanaan Proyek Profil.

i) Memberi kesempatan kepada peserta didik untuk

menyampaikan pendapat, memilih, dan mempresentasikan

Proyek Profil.

j) Mengelola beban kerja mengajar dengan seimbang antara

intrakurikuler dan Proyek Profil.

3) Mengidentifikasi tingkat kesiapan satuan pendidikan.

Kesiapan awal dalam pelaksanaan Proyek Profil Pelajar Pancasila

didasarkan pada kemampuan sekolah dalam menerapkan pembelajaran


21

berbasis proyek (project based learning). Pembelajaran berbasis proyek

adalah pendekatan dimana peserta didik secara aktif menyelidiki

masalah dan tantangan nyata untuk mendapatkan informasi dan

pengetahuan. Aspek yang perlu diketahui dalam identifikasi kesiapan

satuan pendidikan antara lain :

a. Seberapa banyak pendidik yang pernah melaksanakan

pembelajaran berbasis proyek ?

b. Apakah pembelajaran berbasis proyek sudah menjadi kebiasaan di

sekolah ?

c. Apakah proyek sudah terjadi lintas disiplin ?

d. Apakah sekolah memiliki sistem yang mendukung perlaksanaan

pembelajaran berbasis proyek ?

e. Apakah sudah ada keterlibatan mitra ?

4) Merancang dimensi, tema, dan alokasi waktu P5.

a. Langkah menentukan dimensi Profil Pelajar Paancasila

diantaranya sebagai berikut :

a) Tim fasilitator dan kepala sekolah menentukan dimensi Profil

Pelajar Pancasila yang akan dikembangkan.

b) Dimensi dapat merujuk pada visi misi sekolah.

c) Menentukan jumlah dimensi Profil Pelajar Pancasila tidak

terlalu banyak supaya tujuan dapat terarah dan jelas.


22

d) Penentuan dimensi akan ditindaklanjuti dengan penentuan

elemen dan sub-elemen sesuai dengan minat dan kebutuhan

peserta didik.

b. Tema Proyek Penguatan Profil Pelajar Pancasila

Kemendikbudristek telah menentukan tema untuk setiap

Proyek Profil yang diimplementasikan di satuan pendidikan. Mulai

dari tahun ajaran 2021-2022 terdapat empat tema untuk jenjang

paud dan delapan tema untuk SD-SMK dan sederajat. Tema P5

yang dapat dipilih oleh satuan pendidikan SD-SMK dan sederajat

adalah sebagai berikut :

a) Gaya Hidup Berkelanjutan

Peserta didik memahami dampak aktivitas manusia terhadap

kelangsungan hidup dan lingkungan sekitarnya. Peserta didik

membangun kesadaran untuk berperilaku ramah lingkungan

dan memahami mempelajari potensi krisis keberlanjutan yang

terjadi di lingkungan sekitarnya.

b) Kearifan lokal

Peserta didik membangun rasa ingin tau melalui budaya dan

kearifan lokal masyarakat sekitar.

c) Bhinneka Tunggal Ika

Peserta didik mengenal berbagai budaya, mempelajari

perspektif berbagai agama dan kepercayaan.

d) Bangunlah Jiwa dan Raganya


23

Contoh kontekstualisasi tema : mencari solusi untuk masalah

cyber bullying yang marak di kalangan remaja.

e) Suara Demokrasi

Contoh kontekstualisasi tema : sistem musyawarah yang

dilakukan masyarakat untuk menyelesaikan suatu konflik.

f) Rekayasa dan Teknologi

Peserta didik melatih daya pikir kritis, kreatif, dan inovatif,

dan belajar untuk melakukan penerapan teknologi untuk

mempermudah suatu pekerjaan.

g) Kewirausahaan

Contoh : membuat produk dengan konten lokal yang berdaya

jual.

h) Kebekerjaan

Peserta didik menghubungkan berbagai pengetahuan yang

telah dipahami dengan pengalaman nyata dunia kerja.

Dalam satu tahun ajaran, peserta didik mengikuti P5 dengan

ketentuan jenjang SMP dengan ketentuan jumlah tema 3 s.d 4

Proyek Profil dengan tema berbeda.

c. Alokasi Waktu Proyek Penguatan Profil Pelajar Paancasila

Permulaan merancang alokasi waktu Proyek Profil adalah

mengidentifikasi jumlah total jam Proyek Profil yang dimiliki oleh

setiap kelas. Adapun jumlah jam tersebut telah ditentukan oleh

Kepmendibudristek RI Nomor 56/M/2022 tentang Pedoman


24

Penerapan Kurikulum dalam Rangka Pemulihan Pembelajaran.

Pada jenjang SMP kelas VII-VIII 360JP dan SMP kelas IX 320JP.

Adapun pilihan waktu pelaksanaan Proyek Profil, sekolah dapat

menentukan satu hari dalam seminggu untuk pelaksanaan Proyek

Profil, mengalokasikan 1-2 jam pelajaran di akhir hari, atau dengan

memadatkan tema dalam satu periode satu atau dua minggu untuk

melaksanakan Proyek Profil.

5) Menyusun Modul Proyek

Modul P5 terdiri dari beberapa komponen yaitu Profil Modul (Tema,

Fase, Durasi kegiatan), tujuan, Langkah, media pembelajaran, dan

asesmen. Pendidik dapat membuat sendiri dan memodifikasi modul

sesuai dengan kebutuhan peserta didik.

6) Merancang strategi pelaporan hasil proyek

Dalam pelaporan hasil Proyek pertama mengoleksi dan mengolah

hasil asesmen, kedua menyusun rapor Projek Profil. Pada tahap pertama

Tindakan yang dilakukan yaitu dokumentasi berupa penyusunan juenal

bagi pendidik dan portofolio bagi peserta didik. Setelah melakukan

dokumentasi tim fasilitator dapat mengolah hasil asesmen untuk

menentukan pencapaian peserta didik secara menyeluruh. Melalui

berbagai macam bentuk instrument penilaian.

Dalam penyusunan rapor terdapat perinsip – prinsip seperti :

menunjukan keterpaduan, tidak menjadi beban administrasi yang berat,

dan kompetensi utuh.


25

3. Karakter Peserta Didik

Karakter adalah konstruksi yang berkaitan dengan keinginan seseorang

melakukan sesuatu yang dianggap baik menurut agama, nilai nilai

kemanusiaan, aturan, dan budaya masyarakat.9 Istilah karakter erat

hubunganya dengan personality. Seseorang dapat dikatakan orang yang

berkarakter apabila tingkah lakunya sesuai dengan kaidah moral yang

berlaku di masyarakat, bangsa, dan negara. Menurut Imam Ghozali nilai

karakter lebih dekat dengan akhlak yaitu spontanitas manusia dalam

bersikap, atau perbuatan yang telah menyatu dalam diri manusia. sehingga

dapat dipadankan dengan istilah watak.

Adapun pendapat dari Qomari Anwar, karakter itu berkaitan dengan

kualitas moral seseorang, orang yang berkarakter adalah mereka yang

memiliki kualitas moral positif. Dengan demikian, pengertian membangun

karakter memiliki arti membangun sifat atau pola perilaku yang didasari

oleh dimensi moral yang positif atau yang baik. Character strength

merupakan unsur-unsur psikologis yang membangun karakter seseorang.

Salah satu kriterianya adalah karakter tersebut berkontribusi besar dalam

mewujudkan potensi dan cita-cita seseorang dalam membangun kehidupan

yang baik, yang bermanfaat bagi dirinya, orang lain, masyarakat, bangsa,

dan negara.10

9
Dini Irawati, dkk., [Link]. hal. 6.
10
Suparlan, Praktik-Praktik Terbaik Pelaksanaan Pendidikan Karakter,
(Yogyakarta : Hikayat Publishing, 2012), hal. 22.
26

4. Pendidikan Karakter

a. Pengertian Pendidikan Karakter

Secara akademik, pendidikan karakter adalah pendidikan nilai

(value education), pendidikan budi pekerti, pendidikan moral (moral

education), pendiidkan watak, yang memiliki tujuan untuk

mengembangkan kemampuan peserta didik supaya dapat mengambil

keputusan yang baik dan mengaplikasikan kebaikan tersebut dalam

kehidupannya. Karna itu muatan pendidikan karakter secara psikologis

mencakup dimensi moral reasoning, moral feeling, dan moral

behaviour.11

Pendidikan karakter menurut David Elkind dan Freddy Sweet

menjelaskan bahwa “ Pendidikan karakter merupakan upaya yang

dilakukan untuk membantu orang memahami, empati, dan bertindak

berdasarkan nilai-nilai etika inti. Ketika kita berpikir tentang jenis

karakter yang kita inginkan untuk anak-anak kita, jelas bahwa kita ingin

mereka dapat menilai apa yang benar, sangat peduli tentang apa yang

benar, dan melakukan apa yang mereka yakini benar, bahkan dalam

menghadapi tekanan dari luar maupun dari dalam”. Nilai-nilai etika inti

dalam pendidikan karakter sejalan dengan nilai-nilai etika inti yang

11
Ibid., hal. 103.
27

dijabarkan dari Pancasila, sebagai dasar dan filsafat hidup manusia,

baik sebagai pribadi maupun sebagai bangsa dan negara.12

b. Tujuan pendidikan karakter

Tujuan pendidikan karakter secara operasional adalah untuk

meningkatkan mutu penyelenggaraan dan hasil pendidikan yang

mengarah pada pencapaian pengembangan karakter dan akhlak mulia

peserta didik secara utuh, terpadu, dan seimbang. Pendidikan karakter

mengarah pada pembentukan budaya sekolah, yaitu nilai-nilai yang

melandasi perilaku, tradisi, dan kebiasaan sehari-hari yang dipraktekan

oleh semua warga sekolah.13

Secara prinsipil pendidikan karakter bertujuan membangun bangsa

yang Tangguh, kompetitif, berakhlak mulia, bermoral, toleran,

bergotong royong, dinamis, dan beriman serta bertakwa kepada Tuhan

Yang Maha Esa berdasarkan Pancasila. Melalui pendidikan karakter

diharapkan peserta didik mampu meningkatkan dan

mengimplementasikan pengetahuannya.

Secara institusional, pendidikan karakter bertujuan untuk

meningkatkan mutu penyelenggaraan dan hasil pendidikan di sekolah.

Melalui pendidikan karakter yang komprehensif akan membentuk

12
Ibid., hal. 85.
13
Mansur Muslich, Pendidikan Karakter : Menjawab Tantangan Krisis
Multidimensional, (Jakarta: Bumi Aksara, 2011), hal. 81.
28

budaya sekolah (school culture) yang menjadi ciri khas, karakter atau

watak. Dan citra sekolah tersebut di mata masyarakat luas.14

c. Prinsip pendidikan karakter

Terdapat sebelas prinsip pendidikan karakter yang perlu

diperhatikan oleh satuan pendidikan agar pendidikan karakter dapat

berjalan efektif, yaitu :15

1. Meningkatkan nilai-nilai karakter inti dan mendukung nilai-nilai

kinerja sebagai pondasi karakter yang baik.

2. Mengartikan karakter secara komprehensif yang terdiri dari

pemikiran, perasaan, dan perilaku.

3. Pendidikan karakter dilaksanakan menggunakan pendekatan yang

komprehensif, disengaja atau intensional, dan proaktif dalam

mengembangkan karakter.

4. Pendidikan karakter harus menciptakan komunitas sekolah yang

empati atau peduli.

5. Pendidikan karakter memberikan kesempatan kepada peserta didik

untuk melakukan kegiatan praktek tentang moral.

6. Pendidikan karakter harus menggunakan kurikulum akademik

yang bermakna dan menantang serta menghargai peserta didik,

14
Aisyah. Ali, Pendidikan Karakter : Konsep Dan Implementasinya, (Jakarta:
Kencana, 2018), hal. 14.
15
Suparlan, [Link]. hal. 105.
29

mengembangkan karakternya, dan membantu peserta didik supaya

mencapai keberhasilan.

7. Pendidikan karakter memberikan dorongan berupa motivasi diri

pada diri peserta didik.

8. Pendidikan karakter melibatkan seluruh staf sekolah untuk

berupaya selalu menjalankan nilai-nilai karakter inti karna mereka

adalah teladan peserta didik serta sebagai bentuk tanggung jawab

dalam keberhasilan pendidikan karakter.

9. Pendidikan karakter menumbuhkan kepemimpinan moral dan

bersama-sama mendukung gagasan pendidikan karakter dalam

jangka Panjang.

10. Pendidikan karakter melibatkan keluarga dan anggota masyarakat

sebagai mitra dalam upaya pembangunan karakter.

11. Pendidikan karakter melakukan evaluasi karakter sekolah, fungsi

staf sekolah sebagai pendidik karakter, dan sejauh mana peserta

didik telah menerapkan karakter yang baik.

Dalam pendidikan karakter nilai-nilai etika inti yang penting untuk

dikembangkan adalah kepedulian, kejujuran, keadilan, tanggung jawab,

dan menghormati baik diri sendiri maupun terhadap orang lain.

Kemudian diperlukan juga nilai-nilai kinerja pendukungnya seperti

ketekunan, etos kerja tinggi, dan kegigihan sebagai basis karakter yang

baik. Oleh karna itu pendidikan holistik dalam pendidikan karakter

berupaya untuk mengembangkan keseluruhan aspek kognitif,


30

emosional, dan perilaku serta moral dari kehidupan. Sekolah yang telah

berkomitmen untuk mengembangkan karakter peserta didik secara

komprehensif akan menggunakan seluruh aspek sekolah sebagai

peluang untuk pengembangan karakter.16

5. Strategi Penguatan Pendidikan Karakter

Pendidikan karakter pada satuan pendidikan tidak diberikan dalam

mata pelajaran khusus, akan tetapi diberikan melalui seluruh mata pelajaran.

Oleh karna itu, semua pendidik bertanggung jawab terhadap bimbingan

karakter peserta didik dan harus memiliki keterampilan melakukan proses

pengintegrasian nilai-nilai karakter dalam mata pelajaran yang diajarkan.17

Menurut kemendiknas terdapat strategi implementasi pendidikan

karakter di satuan pendidikan, yaitu :18

1) Integrasi dalam mata pelajaran

Dalam kurikulum pendidikan pendidikan karakter tidak dijadikan

satu mata pelajaran melainkan dalam semua mata pelajaran harus

menanamkan pendidikan karakter, karna dalam setiap mata pelajaran

terdapat muatan nilai-nilai karakter yang perlu dikembangkan.

2) Integrasi dalam muatan lokal

Muatan lokal merupakan bahan mata pelajaran yang berisi muatan

dan proses pembelajaran tentang potensi dan keunikan lokal sehingga

16
Mansur Muslich, [Link]., hal. 130.
17
Aisyah. Ali, [Link]., hal. 3.

Yusnita, “Strategi Peningkatan Pendidikan Karakter Berbasis Persepsi Guru” ,


18

Manajer Pendidikan, Vol. 11, No. 4, (2017), hal. 377.


31

peserta didik dapat memahami keunggulan dan kearifan di daerah

tempat tinggalnya. Muatan lokal membekali peserta didik agar dapat

mengenal dan mencintai lingkungan alam, sosial, budaya, dan spiritual

di daerahnya, serta dapat mengembangkan dan melestarikan

keunggulan dan kearifan di daerahnya. Adapun nilai-nilai karakter yang

dapat dikembangkan melalui pembelajaran muatan lokal seperti peduli

lingkungan, peduli sosial, cinta tanah air, kerja keras, kreatif, serta

mandiri.

3) Pengembangan budaya sekolah

Pengembangan budaya sekolah dapat dilakukan melalui kegiatan

pengembangan diri, diantaranya :

a. Pengkondisian

Pengkondisian yaitu menciptakan kondisi yang mendukung

terlaksananya pendidikan karakter seperti perlengkapan kebersihan

yang lengkap, halaman sekolah yang luas dan dapat ditanami

pepohonan agar menjadi hijau, tersedia tempat sampah sesuai

kebutuhan, toilet yang bersih dan sebagainya.

b. Kegiatan rutin

Kegiatan rutin adalah kegiatan yang dilakukan peserta didik

setiap saat dan terus-menerus, misalnya upacara setiap hari senin,

apel setiap pagi, tadarus alquran setiap mengawali pelajaran di pagi

hari, pelaksanaan sholat berjamaah, sholat dhuha berjamaah setiap


32

pagi, jadwal kebersihan kelas, selalu bersalaman saat bertemu

dengan guru.

c. Keteladanan

Keteladanan merupakan perilaku, sikap yang memberikan

contoh melalui tindakan-tindakan yang baik, sehingga diharapkan

ditiru oleh peserta didik.

4) Kegiatan pembelajaran dan ekstrakurikuler

Melalui kegiatan pembelajaran yang dirancang menggunakan

pendekatan dan strategi pembelajaran yang aktif dan berpusat pada

peserta didik dapat mengintegrasikan nilai-nilai karakter. Sedangkan

kegiatan ekstrakurikuler sebagai upaya untuk pembinaan karakter

peserta didik dan untuk meningkatkan mutu peserta didik yang

dilakukan di luar jam pelajaran di bawah bimbingan dan pengawasan

satuan pendidikan.

B. Hasil Penelitian Terdahulu

1. Jurnal Andriani yang berjudul “Proyek Penguatan Profil Pelajar Pancasila :

Sebuah Orientasi Baru Pendidikan dalam Meningkatkan Karakter Siswa

Indonesia”. Kesimpulan dari penelitian ini kurikulum merdeka sebagai salah

satu kurikulum untuk membentuk karakter siswa yang baik yang memuat

pengembangan karakter profil Pancasila. Kurikulum merdeka dinilai lebih

optimal dalam pengembangan karakter melalui pengembangan Profil Pelajar

Pancasila dibandingkan kurikulum sebelumnya yaitu kurikulum 2013.


33

Terkait dengan penelitian ini terdapat kesamaan yaitu P5 dalam

pengembangan atau meningkatkan karakter siswa. Adapun perbedaannya,

penelitian tersebut lebih berfokus pada pemahaman Profil Pelajar Pancasila

sebagai orientasi baru pendidikan dalam meningkatkan karakter siswa

Indonesia.19

2. Skripsi kirana yang berjudul “Implementasi Profil Pelajar Pancasila dalam

Pembelajaran PAI SMK Negeri 2 Salatiga”. Kesimpulan dari penelitian kirana

mengatakan bahwa implementasi Profil Pelajar Pancasila akan membentuk

siswa yang berkarakter sesuai dengan nilai-nilai Pancasila yang

terimplementasikan dalam pembelajaran PAI melalui penerapan pembiasaan-

pembiasaan sesuai dengan indikator Profil Pelajar Pancasila. Kesamaan

penelitian ini adalah implementasi Profil Pelajar Pancasila dalam

pengembangan karakter peserta didik. Sedangkan perbedaannya adalah

penelitian kirana lebih fokus terhadap metode guru PAI dalam melaksanakan

pembelajaran sesuai dengan indikator Profil Pelajar Pancasila. 20 Adapun fokus

penelitian ini adalah mengetahui proses penerapan Proyek Penguatan Profil

Pelajar Pancasila dan bagaimana pengembangan karakter peserta didik melalui

penerapan Proyek Penguatan Profil Pelajar Pancasila di SMP Muhammadiyah

Sempor Kabupaten Kebumen.

19
Andriani, P5 : “Sebuah Orientasi Baru Pendidikan dalam Meningkatkan
Karakter Siswa Indonesia”, Jurnal Basicedu, Vol 6, No 4,(2022).
[Link] Diakses tanggal 8 Januari 2023.
20
Kirana, Implementasi Profil Pelajar Pancasila dalam Pembelajaran PAI SMK
Negeri 2 Salatiga tahun 2021, (Salatiga : IAIN Salatiga, 2022), [Link]
[Link]/id/eprint/13704, Diakses tanggal 8 Januari 2023.
34

3. Jurnal Mery dengan judul “Sinergi Peserta Didik dalam Proyek Penguatan

Profil Pelajar Pancasila”. Kesimpulan dari jurnal ini adalah P5 memberikan

kesempatan kepada peserta didik untuk belajar melalui kegiatan yang lebih

interaktif dan terlibat langsung dengan lingkungan sehingga menguatkan

berbagai kompetensi yang harus dimiliki peserta didik sesuai dengan Profil

Pelajar Pancasila. Seperti peserta didik mampu melakukan investigasi,

memutuskan sesuatu, dan memecahkan masalah. Persamaan dari penelitian

adalah P5 sebagai upaya mengembangkan karakter peserta didik.21

C. Fokus Penelitian

Penerapan P5 di SMP Muhammadiyah Sempor Kabupaten Kebumen

dalam pengembangan karakter peserta didik.

21
Mery, dkk., “Sinergi Peserta Didik Dalam P5”, Jurnal Basicedu, Vol 6, No 5,
(2022), [Link] Diakses tanggal 8 Januari 2023.

Anda mungkin juga menyukai