0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
5 tayangan7 halaman

Kesiapsiagaan Perawat Hadapi Bencana

contoh tugas keperawatan

Diunggah oleh

Seftian Darma
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
5 tayangan7 halaman

Kesiapsiagaan Perawat Hadapi Bencana

contoh tugas keperawatan

Diunggah oleh

Seftian Darma
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

HUBUNGAN PENGETAHUAN DENGAN SIKAP PERAWAT TENTANG KESIAP

SIAGAAN PELAYANAN KESEHATAN DALAM


MENGHADAPI BENCANA DI RSU MUHAMMADIYAH PONOROGO

BAB 1

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Masalah

Indonesia terletak diantara empat lempeng tektonik dengan barisan gunung api dari

ujung barat sampai ujung timur. Berdasarkan letak geografis ini sehingga risiko ancaman

bencana alam seperti erupsi gunung berapi, gempa tektonik dengan tsunami, banjir dan

sebagainya rawan terjadi (Pusponegoro, D & Sujudi, 2016). Kesiapsiagaan merupakan suatu

kegiatan yang menunjukkan tingkat efektivitas respon terhadap adanya bencana secara

keseluruhan (Abidin, 2014). Munandar dan Waraningsih (2018) menyatakan bahwa strategi

kesiapsiagaan dalam penanggulangan bencana merupakan upaya yang sangat penting untuk

dilakukan, khususnya oleh perawat. Perawat sebagai tenaga kesehatan terbesar dan first

responder sertapemberi pelayanandalam tanggap darurat bencana dituntut untuk memiliki

kesiapsiagaan bencana yang lebih tinggi dibandingkan dengan tim lain (Perron, Rudge,

Blais, & Holmes, 2010 dalam Rizqillah, 2018). Kesiapsiagaan perawat dalam menghadapi

bencana perlu ditunjang dengan kompetensi perawat terhadap penanggulangan bencana.

Salah satunya dengan cara mengikuti pendidikan pelatihan bencana dan simulasi bencana
secara formal. Sehingga perawat siap menghadapi penanggulangan bencana secara efektif

(Setyawati et al., 2020).

Angka kejadian bencana alam dan kegawatan selalu meningkat setiap tahunnya

diseluruh dunia. Pada tahun 2020, terjadi total 416 peristiwa bencana alam di dunia. Wilayah

Asia Pasifik berada di urutan tertinggi kedua jumlah kejadian bencana alam, hal ini salah

satunya dikarenakan ukuran dan biaya yang dirugikan akibat bencana alam. Pada tahun 2018

di Amerika, sebagian besar kematian akibat bencana alam disebabkan oleh siklon tropis,

kebakaran hutan, panas dan kekeringan (Jaganmohan, 2021).

Indonesia merupakan negara tertinggi didunia kejadian bencana alam pada tahun 2020

(Szmigiera, 2021). Indonesia secara geografis terletak antara dua benua dan lintasan

khatulistiwa dan merupakan salah satu wilayah rawan bencana. Beberapa alasan kerawanan

Indonesia terhadap bencana alam yaitu berada pada pertemuan tiga lempeng tektonik utama

dunia (lempeng Eurasia, India Australia, dan Samudra Pasifik), berada pada pertemuan tiga

sistem pegunungan (Alpine Sunda, Circum Pasific dan Circum Australia) yang memiliki

lebih dari 500 gunung api, 128 gunung diantaranya masih aktif, memiliki sekitar 500 sungai

besar dan kecil, 30% diantaranya melintasi wilayah padat penduduk, tata ruang 2 wilayah

yang belum tertib, serta banyaknya kejadian penyimpangan pemanfaatan kekayaan alam

(KemenPPPA, 2017). Sepanjang tahun 2020, tercatat jumlah kejadian bencana di Indonesia

sebanyak 2.939 kejadian, yang didominasi oleh bencana banjir (1.070 kejadian), puting

beliung (879), dan tanah longsor (575). Dampak bencana ini adalah lebih dari 6,4 juta jiwa

penduduk yang menderita mengungsi dan 370 jiwa meninggal dunia. Infrastruktur yang

terdampak bencana diantaranya lebih dari 42 ribu rumah dan 2 ribu fasilitas (pendidikan,

kesehatan, kantor, jalan, dan jembatan). Selain bencana alam, pada tanggal 13 April 2020,
pemerintah Indonesia menetapkan penyebaran Covid-19 sebagai bencana nasional Non-

Alam yang berdampak lebih dari 200 ribu jiwa meninggal dunia (Wiguna, 2021). Badan

Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Jawa Timur mencatat 309

kejadian bencana alam sepanjang Januari-Desember 2021. Antara lain banjir 166 kejadian,

61 bencana angin kencang, 12 banjir bandang, 30 tanah longsor, 19 angin puting beliung, 6

gempa bumi dan 14 bencana lainnya (gerakan tanah, abrasi, banjir rob, gunung api serta

karhutla). (Lely Yuana, 2022). Selama tahun 2021, Badan Penanggulangan Bencana Daerah

(BPBD) Ponorogo mencatat ada 214 kejadian. Paling banyak longsor dan banjir akibat

luapan sungai Charolin Pebrianti (2022). Penelitian dilakukan Di RSU Muhammadiyah

Ponorogo dengan jumlah dengan 111 perawat.

Bencana merupakan suatu keadaan darurat mendesak yang dapat menyebabkan

kesakitan kematian, kesakitan, cedera, kerusakan materi serta terganggunya kehidupan

sehari-hari manusia dan hal tersebut berada diluar kendali manusia untuk mengendalikan

dan mengaturnya (Purwana, 2013). Data yang diperoleh dari Badan Nasional

Penanggulangan Bencana (BNPB) bencana yang paling tinggi angka kejadiannya yaitu

bencana banjir (BNPB, 2018). Dampak yang ditimbulkan dari dapat berupa adanya masalah

kesehatan fisik dan mental, korban jiwa, kerusakan fasilitas umum, dan kerugian harta

benda. Upayaupaya untuk mengurangi dampak bencana tersebut dapat dilakukan dengan

manajemen bencana yang baik (Sinaga, 2015). Sendai Framework for Disaster Risk

Reduction 2015-2030 menyatakan bahwa tahapan manajemen bencana yang paling sesuai

untuk mengurangi risiko bencana ialah pada tahap pra bencana. Hal ini sesuai dengan

perubahan konsep penanggulangan bencana yang dahulu berfokus pada upaya tanggap
darurat bencana saat ini mengoptimalkan upaya pada tahap pra bencana, yaitu kesiapsiagaan

(Khambali, 2017).

Perawat sebagai bagian terbesar tenaga kesehatan yang berada di daerah mempunyai

peran sangat penting karena perawat sebagai lini terdepan pelayanan kesehatan. Masalah

utama dalam kesiapsiagaan penanggulangan bencana menurut penelitian yang dilakukan

oleh Kija Chapman dan Paul Arbon (2008) menyatakan bahwa pengetahuan perawat masih

kurang dalam manajemen bencana meliputi pengetahuan tentang kesiapsiagaan bencana,

tanggap bencana dan pemulihan setelah bencana. Perawat kurang baik dalam implementasi

dan belum ada standarisasi kesiapsiagaan bencana (Anam, 2013).

Tim penanganan bencana Di RSU Muhammadiyah Ponorogo yang di keluarkan dalam

surat keputusan direktur rumah sakit. Dalam Pedoman Manajemen Sumber Daya Kesehatan

dalam Penanggulangan Bencana kebutuhan minimal tim penanganan bencana terdari Tim

Reaksi Cepat (TRC), Tim Rapid Health Assesment (RHA) dan Tim Bantuan Kesehatan. Tim

TRC yaitu tim yang diharapkan dapat segera bergerak dalam waktu 0-24 jam setelah ada

informasi kejadian bencana. Tim RHA yakni tim yang bisa diberangkatkan bersamaan

dengan TRC atau menyusul dalam waktu kurang dari 24 jam. Sedangkan Tim Bantuan

Kesehatan yakni Tim yang diberangkatkan berdasarkan kebutuhan setelah TRC dan RHA

kembali dengan hasil kegiatan mereka di lapangan. (14) Tim penanggulangan bencana

bekerjasama dengan instansi-instansi/ unit kerja di luar rumah sakit (pelayanan ambulans,

bank darah, dinas kesehatan, PMI, media, dan rumah sakit lainnya) serta pelatihan berkala

terhadap tim penanggulangan bencana sehingga mereka mengetahui dan terbiasa dengan

perencanaan yang telah disusun agar dapat diterapkan.


Kesiapsiagaan merupakan sebuah kegiatan dimana memperlihatkan tingkat keefektifan

suatu respon terhadap adanya bencana secara keseluruhan. Strategi kesiapsiagaan dalam

penanggulangan bencana merupakan upaya yang sangat penting untuk dilakukan, khususnya

oleh perawat. Perawat sebagai tenaga kesehatan terbesar dan first responder serta pemberi

pelayanan dalam tanggap darurat bencana dituntut untuk memiliki kesiapsiagaan bencana

yang lebih tinggi dibandingkan dengan tim lain. Kemampuan perawat dalam kesiapsiagaan

penanggulangan bencana harus didukung oleh dasar pengetahuan dan sikap yang baik dalam

disaster management. Dalam perencanaan penanggulangan bencana diperlukan prinsip “The

right team in the right place at the right time with the right knowledge, the right skill and

the right logistics”, dimana salah satu yang harus dimiliki adalah pengetahuan yang benar.

Sikap perawat untuk merespon tanggap bencana sangat dibutuhkan dalam situasi kritis serta

dalam merawat korban bencana (Kartika et al., 2018).

Perawat dituntut untuk selalu menjalankan perannya di berbagai situasi dan kondisi

yang meliputi tindakan penyelamatan pasien secara profesional khususnya penanganan pada

pasien gawat darurat, hal ini tidak lepas dari pentingnya tingkat pengetahuan perawat dalam

menanangani kasus pasien gawat darurat sehingga penulis tertarik untuk melakukan

penelitian tentang Hubungan pengetahuan dengan sikap perawat tentang kesiapsiagaan

pelayanan kesehatan dalam menghadapi bencana Di RSU Muhammadiyah Ponorogo.

1.2 Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang di atas maka rumusan masalah yang di dapat ”Apakah ada

hubungan pengetahuan dengan sikap perawat tentang kesiapsiagaan pelayanan kesehatan

dalam menghadapi bencana di RSU Muhammadiyah Ponorogo?”.


1.3 Tujuan Penelitian

1.3.1 Tujuan Umum

Mengetahui hubungan pengetahuan dengan sikap perawat tentang kesiapsiagaan

pelayanan kesehatan dalam menghadapi bencana di RSU Muhammadiyah Ponorogo.

1.3.2 Tujuan Khusus

1. Mengidentifikasi pengetahuan perawat tentang kesiapsiagaan pelayanan kesehatan

dalam menghadapi bencana di RSU Muhammadiyah Ponorogo.

2. Mengidentifikasi sikap perawat tentang kesiapsiagaan pelayanan kesehatan dalam

menghadapi bencana di RSU Muhammadiyah Ponorogo.

3. Menganalisis hubungan pengetahuan dengan sikap perawat tentang kesiapsiagaan

pelayanan kesehatan dalam menghadapi bencana di RSU Muhammadiyah Ponorogo.

1.4 Manfaat Penelitian

1.4.1 Manfaat Teoritis

1. Bagi IPTEK

Penelitian ini diharapkan memberikan pengetahuan perawat agar terwujud pengetahuan

yang baik tentang kesiapsiagaan pelayanan kesehatan dalam menghadapi bencana

sehingga tercipta sikap yang positif.

2. Bagi Institusi Pendidikan

Penelitian ini sebagai masukan khususnya pada keperawatan gawat darurat dan hasil

penelitian ini dapat digunakan sebagai bahan pertimbangan dalam perkembangan

kurikulum pendidikan di Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Muhammadiyah


Ponorogo.

1.4.2 Manfaat Praktis

1. Bagi Responden

Penelitian ini diharapkan bermanfaat memberi Pengetahuan perawat tentang

kesiapsiagaan, mempercepat serta meningkatkan mutu pelayanan saat terjadi bencana.

2. Bagi Peneliti Selanjutnya

Penelitian sebagai sumber data peneliti selanjutnya dengan yang berkaitan dengan

Pengetahuan, sikap, kesiapsiagaan pelayanan kesehatan, bencana.

1.5 Keaslian Penulisan

Penelitian-penelitian yang telah dilakukan terkait dengan Hubungan pengetahuan

dengan sikap perawat tentang kesiapsiagaan pelayanan kesehatan dalam menghadapi

bencana adalah sebagai berikut:

1. Yarwin Yari (2018) Hubungan Tingkat Pengetahuan Dan Sikap Dengan Kesiapsiagaan

Bencana Banjir Pada Mahasiswa Kesehatan Di DKI Jakarta. Jenis penelitian ini adalah

kuantitatif dengan desain Cross-Sectional. Sampel dalam penelitian ini adalah mahasiswa

DIII Keperawatan di DKI Jakarta yang berjumlah 98 orang.

a. Perbedaan: obyek penelitian bencana, responden perawat, lokasi penelitian.

b. Persamaan; pada sebagian variabel (pengetahuan, sikap, kesiapsiagaan bencana

perawat), Jenis penelitian ini adalah kuantitatif dengan desain Cross-Sectional.

Anda mungkin juga menyukai