0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
5 tayangan37 halaman

Meningkatkan Hasil Belajar Sejarah dengan D4

PTK (Penelitian Tindakan Kelas) adalah bentuk penelitian yang dilakukan oleh guru atau praktisi pendidikan di kelasnya sendiri dengan tujuan untuk memperbaiki atau meningkatkan proses pembelajaran. Penelitian ini bersifat reflektif, artinya guru melakukan tindakan untuk mengatasi masalah pembelajaran, kemudian mengamati dan mengevaluasi hasil tindakan tersebut secara sistematis. PTK bertujuan untuk meningkatkan kualitas pengajaran dan hasil belajar siswa melalui pendekatan yang berpusat pada pem

Diunggah oleh

Irma Yanti
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
5 tayangan37 halaman

Meningkatkan Hasil Belajar Sejarah dengan D4

PTK (Penelitian Tindakan Kelas) adalah bentuk penelitian yang dilakukan oleh guru atau praktisi pendidikan di kelasnya sendiri dengan tujuan untuk memperbaiki atau meningkatkan proses pembelajaran. Penelitian ini bersifat reflektif, artinya guru melakukan tindakan untuk mengatasi masalah pembelajaran, kemudian mengamati dan mengevaluasi hasil tindakan tersebut secara sistematis. PTK bertujuan untuk meningkatkan kualitas pengajaran dan hasil belajar siswa melalui pendekatan yang berpusat pada pem

Diunggah oleh

Irma Yanti
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

1

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang

Pendidikan merupakan proses untuk meningkatkan, memperbaiki, mengubah


pengetahuan, keterampilan, dan sikap serta tatalaku seseorang atau kelompok
dalam usaha mencerdaskan kehidupan manusia melalui kegiatan bimbingan
pengajaran dan pelatihan.
Pendidikan hendaknya mampu menghasilkan sumber daya manusia yang
memiliki kompetensi yang utuh, yaitu kompetensi sikap, kompetensi
pengetahuan, dan kompetensi keterampilan yang terintegrasi (Majid, 2013: 1).
Menurut Undang-Undang No. 20 Tahun 2003 Pendidikan adalah usaha sadar
dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar
peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki
kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak
mulia, serta ketrampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara.
Pendidikan dapat di artikan sebagai suatu hasil prabadan bangsa yang di
kembangkan atas dasar pandangan hidup bangsa itu sendiri (nilai dan norma
masyarakat) yang berfungsi sebagai filsafat pendidikannya atau sebagai cita-cita
dan pernyataan tujuan pendidikannya. Bagaimanapun pradaban suatu masyarakat,
di dalamnya terjadi suatu proses pendidikan sebagai usaha manusia untuk
melestarikan dan mengembangkan hidupnya (Hafid, 2021: 26).
Pendidikan adalah suatu proses dalam rangka mempengaruhi siswa agar dapat
menyesuaikan diri sebaik mungkin terhadap lingkungan dan dengan demikian
akan menimbulkan perubahan dalam dirinya yang memungkinkannya untuk
berfungsi secara kuat dalam kehidupan masyarakat (Hamalik, 2001: 79).
Pendidikan adalah proses pembentukan kecakapan-kecakapan fundamental
secara intelektual dan emosional kearah alam dan sesama manusia (Dewey, 2003:
69).
2

Pendidikan merupakan memberikan kita pembekalan yang tidak ada pada


masa kanakkanak, akan tetapi kita membutuhkanya pada masa dewasa (Rousseau,
2003: 69).
Menurut Sagala (2013: 162) Salah satu komponen yang berpengaruh dalam
pendidikan adalah proses pembelajaran Define, Design, Develop, Disseminate
yang artinya pendefinisian, perencanaan, pengembangan, dan penyebaran. Proses
pembelajaran merupakan interaktif edukatif antara peserta didik dengan guru,
peserta didik dengan lingkungan sekolah. Guru adalah salah satu unsur penting
dalam proses pembelajaran. Dalam proses pendidikan di sekolah, guru merupakan
ujung tombak dalam dunia pendidikan, di dalam proses belajar-mengajar guru
mempunyai tugas yang besar untuk mendorong siswa agar mampu memahami
pada saat proses pembelajaran. Hasil belajar adalah suatu akibat dari proses
belajar dengan menggunakan alat pengukuran berupa test yang disusun secara
terencana baik tertulis, lisan maupun perbuatan. Dalam hal ini hasil belajar yang
dimaksud berupa nilai ulangan yang diperoleh setiap siswa pada materi koperasi
dan kesejahteraan rakyat.
Berdasarkan hal tersebut maka perlu diterapkan model pembelajaran yang
membuat suasana kelas menjadi hidup dan meningkatkan hasil belajar siswa.
Salah satu cara untuk meningkatkan hasil belajar tersebut adalah menggunakan
model pembelajaran Define, Design, Develop, Disseminate.

B. Rumusan Masalah
Dari latar belakang sebagaimana telah disampaikan di atas, maka dapat
dirumuskan beberapa masalah dalam penelitian ini yaitu sebagai berikut:
1. Apakah penerapan model pembelajaran Define, Design, Develop, Disseminate
dapat meningkatkan keefektifan mengajar guru dalam pembelajaran sejarah kelas
XI IPS SMA Negeri 1 Kulisusu?
2. Apakah penerapan model pembelajaran Define, Design, Develop, Disseminate
dapat meningkaatkan aktivitas belajar siswa dalam pembelajaran sejarah kelas XI
IPS SMA Negeri 1 Kulisusu?
3. Apakah penerapan model pembelajaran Define, Design, Develop, Disseminate
3

dapat meningkatkan hasil belajar siswa dalam pembelajaran sejarah kelas XI IPS
SMA Negeri 1 Kulisusu?
4

C. Tujuan Penelitian
Berdasarkan rumusan masalah di atas maka tujuan yang hendak di capai dalam
penelitian ini adalah untuk:
1. Untuk meningkatkan keefektifan guru dalam pembelajaran sejarah kelas XI
IPS
SMA Negeri 1 Kulisusu melalui penerapan model pembelajaran Define, Design,
Develop, Disseminate.
2. Untuk meningkatkan aktivitas belajar siswa dalam pembelajaran sejarah kelas
XI IPS SMA Negeri 1 Kulisusu melalui penerapan model pembelajaran Define,
Design, Develop, Disseminate.
3. Untuk meningkatkan hasil belajar siswa dalam pembelajaran sejarah kelas XI
IPS SMA Negeri 1 Kulisusu melalui penerapan model pembelajaran Define,
Design, Develop, Disseminate.

D. Manfaat Penelitian
Hasil penelitian ini dapat memberikan manfaat teoritis dan manfaat praktis
sebagai berikut:
1. Manfaat Teoritis
Secara teoritis penelitian ini diharapkan mampu memperkaya literatur dalam
pembelajaran Define, Design, Develop, Disseminate.
2. Manfaat Praktis
a. Bagi siswa
Penelitian ini diharapkan dapat memberikan masukan pada peserta didik
tentang penerapan model pembelajaran Define, Design, Develop, Disseminate
dimana siswa mendapat pengalaman yang bermakna hasil belajar siswa dalam
pembelajaran sejarah.
b. Bagi guru
Penelitian ini diharapkan dapat dijadikan sebagai referensi dalam melakukan
penelitian terhadap proses belajar siswa dalam mata pelajaran sejarah. Dalam hal
ini penelitian tidak hanya bertumpu pada test tetapi juga mempertimbangkan
seluru aktifitas dalam pembelajaran sejarah.
5

c. Bagi sekolah
Penelitian ini diharapkan dapat memberikan masukan bagi pihak sekolah,
terutama dalam penerapan penilaian dalam pembelajaran sejarah untuk
meningkatkan kualitas belajar.
d. Bagi penelitian lain
Dapat dijadikan rujukan dalam rangka penelitian sejenis dimasa yang akan
datang
6

BAB II
LANDASAN TEORI
A. Konsep Pembelajaran Sejarah

Secara psikologis, belajar merupakan suatu proses perubahan yang di mana


perubahan tingkah laku sebagai hasil dari interaksinya dengan lingkungan untuk
memenuhi kebutuhan hidupnya. Perubahan-perubahan tersebut akan menjadi
nyata dalam seluruh aspek-aspek kehidupan.
Belajar yaitu sebuah kegiatan yang kompleks terdiri dari tiga komponen
penting yaitu kondisi eksternal, kondisi internal, dan hasil belajar. Hasil belajar
tersebut berupa kapabilitas. Setelah belajar, seseorang akan mempunyai
keterampilan, pengetahuan, sikap dan nilai yang didapatkan dari belajar. Dengan
demikian, belajar adalah seperangkat proses pengetahuan yang mampu mengubah
sifat stimulasi lingkungan melewati pengolahan informasi (Dimyati, 2010: 10).
Belajar merupakan proses perubahan tingkah laku dan perubahan sebuah
pemahaman yang pada awalnya seseorang tidak dibekali dengan potensi fitrah
kemudian dengan terjadinya proses belajar mengajar maka seseorang tersebut
akan berubah tingkah lakunya dan pemahamannya akan semakin bertambah (Pane
2017: 337).
Belajar adalah suatu perubahan kualitas dari kemampuan kognitif, afektif, dan
psikomotorik seseorang untuk dapat meningkatkan taraf hidup baik sebagai
pribadi dan anggota masyarakat ataupun sebagai makhluk Tuhan Yang Maha Esa
(Hanafy, 2014: 71)
Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa belajar merupakan suatu
perubahan tingkah laku seseorang untuk menjadi lebih baik yang didapatkan dari
pengalaman yang ia peroleh melalui interaksi dengan lingkungannya.
7

Pembelajaran adalah suatu kombinasi yang tersusun meliputi unsur-unsur


manusiawi, material, fasilitas, perlengkapan, dan prosedur yang saling
mempengaruhi untuk mencapai tujuan pembelajaran. Manusia yang terlibat dalam
sistem pembelajaran terdiri dari peserta didik, guru dan tenaga lainnya, misalnya
tenaga laboratorium. Meterialnya, meliputi buku-buku, papan tulis dan kapur,
fotografi, slide dan film, audio dan visual tape. Fasilitas dan perlengkapan, terdiri
dari ruang kelas, pelengkapan audio visual, juga komputer. Prosedur, meliputi
jadwal dan penyampaian informasi, praktik, belajar, ujian, dan sebagainya.
Pembelajaran lebih menggambarkan usaha pendidik untuk membuat peserta didik
melakukan proses pembelajaran (Nunuk, 2012: 136).
Pembelajaran adalah suatu usaha untuk membuat peserta didik belajar atau
suatu kegiatan untuk membelajarkan peserta didik. Selanjutnya, Sudjana
berpendapat bahwa pembelajaran adalah setiap upaya yang sistematik dan sengaja
untuk menciptakan kegiatan interaksi edukatif antara dua pihak, yaitu peserta
didik dan pendidik yang melakukan kegiatan pembelajaran (Dirman, 2014 :8).
Model pembelajaran mengacu pada pendekatan yang digunakan termasuk di
dalamnya tujuan-tujuan pembelajaran, tahap-tahap dalam kegiatan pembelajaran,
lingkungan pembelajaran dan pengelolaan kelas (Arends, 2013: 3).
Model pembelajaran adalah suatu pola atau rencana yang sudah direncanakan
sedemikian rupa dan digunakan untuk menyusun kurikulum, mengatur materi
pelajaran, dan memberi petunjuk kepada pengajar dikelasnya (Isjoni, 2016: 50).
Berdasarkan uraian tersebut, dapat disimpulkan bahwa pembelajaran adalah
seuatu yang dirancang secara disengaja, terstruktur, sistematis, dalam suatu proses
interaksi yang terjadi antara pendidik dengan peserta didik dan lingkungan yang
bertujuan untuk mencapai tujuan pembelajaran tertentu.
Pembelajaran sejarah merupakan suatu aktifitas belajar mengajar yang
dilakukan oleh pendidik dengan cara menjelaskan pada siswa tentang gambaran
kehidupan masyarakat masa lampau yang menyangkut peristiwa-peristiwa penting
dan memiliki arti khusus (Juraid, 2006: 99).
pembelajaran sejarah merupakan pembelajaran yang sangat penting mengingat
jam pelajaran yang diterima peserta didik mulai dari sekolah dasar hingga
8

perguruan tinggi. Pembelajaran sejarah menjadi penting karena merupakan salah


satu mata pelajaran yang menanamkan pengetahuan, sikap dan nilai-nilai
mengenai proses perubahan dan perkembangan masyarakat Indonesia dan dunia
dari masa lampau hingga sekarang (Leo, 2013: 55).
Pembelajaran sejarah adalah proses interaksi antara guru dan peserta didik
dalam mata pelajaran sejarah yang mempunyai sasaran umum untuk memperkuat
rasa nasionalisme dan mengajarkan prinsip-prinsip moral (Kochhar, 2008: 33).
Peristiwa masa lalu yang menjadi objek pada mata pelajaran sejarah
merupakan momen yang memiliki makna dan pelajaran yang sangat berarti dalam
kehidupan manusia. Salah satu kutipan yang paling terkenal mengenai sejarah dan
pentingnya belajar sejarah ditulis oleh filsuf Spanyol, George Santayana, yaitu
“mereka yang tidak mengenal masa lalunya, dikutuk untuk mengulanginya
(Kuntowijoyo, 2008: 14).
Pembelajaran sejarah juga merupakan cara untuk membentuk sikap sosial.
Adapun sikap sosial tersebut antara lain: saling menghormati, menghargai
perbedaan, toleransi dan kesediaan untuk hidup berdampingan dalam nuansa
multikulturalisme (Susanto, 2014: 62).
Berdasarkan uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa pembelajaran sejarah
adalah suatu ilmu pengetahuan yang mempelajari segala peristiwa atau kejadian
yang telah terjadi pada masa lampau dalam kehidupan manusia yang berpengaruh
pada masa sekarang dan masa akan datang. Dalam kehidupan manusia, peristiwa
sejarah merupakan suatu peristiwa yang abadi, unik, dan penting.

B. Konsep Model Define, Design, Develop, Disseminate.


Model 4D merupakan salah satu metode penelitian dan pengembangan. Model
4D digunakan untuk mengembangkan perangkat pembelajaran. Model 4D
dikembangkan oleh S. Thiagarajan, Dorothy S. Semmel, dan Melvyn I. Semmel
pada tahun 1974. Sesuai namanya, model 4D terdiri dari 4 tahapan utama yakni
Define (Pendefinisian), Design (Perancangan), Develop (Pengembangan), dan
Disseminate (Penyebaran).
Model ini dikembangkan oleh Sivasailam Thiagarajan, Dorothy S. Semmel,
dan Melvyn I. Semmel tahun 1974. Model 4-D adalah model pengembangan yang
9

dapat digunakan untuk mengembangkan berbagai jenis media pembelajaran


(Arkadiantika, 2020: 29). Menurut Haviz (2013: 28) awalnya Thiagarajan,
Semmel, dan Semmel memodifikasi model ini menjadi empat tahap, yaitu:
analysis, design, evaluation, dan dissemination. Setelah melalui proses
pengembangan dalam pelatihan, model ini disebut model Four-D yang terdiri dari
empat tahap: define, design, develop, dan disseminate.
Menurut Thiagarajan (1974: 5) menyatakan bahwa pengembangan model 4D
adalah model pendekatan system dimana buku pedoman ini disusun dan
didasarkan pada model-model sebelumnya serta berdasarkan pengalaman
lapangan aktual dalam merancang, mengembangkan, mengevaluasi, dan
menyebarluaskan materi pelatihan guru dalam pendidikan khusus. Kami
menyebutnya model 4D yang membagi proses pengembangan intruksional ke
dalam empat tahapan yakni define, design, develop dan disseminate. Model
pengembangan 4D dapat diadaptasi menjadi 4P yakni pendefinisian, perancangan,
pengembangan, dan penyebarluasan.
Menurut Mulyatiningsih (2015: 146) menyatakan bahwa pengembangan model
4D merupakan pengembangan yang lebih ringkas tetapi didalamnya sudah
mencakup proses pengembangan yang lengkap. Dalam tahapan define memiliki
kesetaraan dengan analisis. Pada tahapan develop menyertakan kegiatan validasi,
revisi, implementasi, dan evaluasi. 4D mengakhiri kegiatan melalui kegiatan
disseminate.
Berdasarkan dari pendapat diatas bahwa pengembangan model 4D merupakan
proses pengembangan intruksional dengan tahapan sederhana dan lebih
tersetruktur secara sistematis, yang terdiri dari empat tahapan yaitu define
(pendefinisian), design (perancangan), develop (pengembangan), dan disseminate
(penyebarluasan).
10

C. Langkah-Langkah Model Pembelajaran


1. Define (Pendefinisian)
Tahap define adalah tahap dan mendefinisikan syarat-syarat pembelajaran.
Tahap define ini mencakup lima langkah pokok, yaitu analisis ujung depan (front
and analysis), analissis siswa (learner analysis), analisis tugas (task analysis),
analisis konsep (concept analysis) dan perumusan tujuan pmbelajaran (specifying
intructiol objectives).
Menurut Thiagarajan (1974: 6) tujuan pada tahap ini adalah untuk menetapkan
dan membatalkan persyaratan pengajaran. Melalui tahap analisis, kami
menentukan tujuan dan kendala untuk materi pembelajaran. 5 kegiatan yang
dilakukan pada tahap define yakni: Analisis awal-akhir (front-end Analysis) studi
tentang masalah dasar yang dihadapi pelatih guru untuk meningkatkan tingkat
kinerja guru pendidikan khusus.
Tahap difine ini dilakukan untuk menetapkan dan mendefinisikan syarat
pengembangan. Kegiatan yang dilakukan dengan tahapan: (a) Front-end analysis
guru melakukan diagnosis awal untuk meningkatkan efisiensi dan efektivitas
pembelajaran. (b) Learner analysis dipelajari karakteristik peserta didik,
misalnya: kemampuan, motivasi belajar, latar belakang pengalaman. (c) Task
analysis pendidik menganalisis tugas-tugas pokok yang harus dikuasai peserta
didik agar peserta didik dapat mencapai kompetensi minimal. (d) Concept
analysis menganalisis konsep yang akan diajarkan, menyusun langkah-langkah
yang akan dilakukan secara rasional (e) Specifying instructional objectives
menulis tujuan pembelajaran, perubahan perilaku yang diharapkan setelah belajar
dengan kata kerja operasional (Mulyatiningsih, 2015: 151).

2. Design (Perancangan)
Tujuan dari tahap ini adalah untuk merancang benbtuk dasar bahan ajar. Fase
ini dapat dimulai setelah serangkaian tujuan perilaku untuk bahan ajar telah
ditetapkan. Seleksi media dan format untuk bahan dan pembuatan versi awal
merupakan aspek utama dari tahap desain (Thiagarajan, 1974: 7).
Analisis siswa (Learner analysis) adalah studi tentang siswa target,
Karakteristik siswa yang relevan dengan desain dan pengembangan instruksi
11

diidentifikasi. Karakteristiknya meliputi kompetensi dan latar belakang


pengalaman, sikap umum terhadap topik pengajaran; dan media, format, dan
preferensi bahasa. Analisis tugas (Task analysis) pengidentifikasian keterampilan
utama yang akan diperoleh oleh guru pelatihan dan menganalisisnya menjadi
seperangkat keahlian yang diperlukan dan memadai. Analisis ini memastikan
cakupan komprehensif dari botol dalam bahan ajar.
Analisis konsep (Concept analysis) mengidentifikasikan konsep utama yang
akan diajarkan, mengaturnya dalam hierarki, dan memecah konsep individu
menjadi atribut kritis dan tidak relevan. Analisis ini membantu mengidentifikasi
serangkaian contoh yang rasional dan tidak ada yang bisa digambarkan dalam
pengembangan protokol. Menentukan tujuan instruksional (Specifying
instructional objectives) adalah mengubah hasil tugas dan konsep analisis menjadi
tujuan yang dinyatakan secara perilaku. Seperangkat tujuan ini memberikan dasar
untuk konstruksi uji dan desain instruksional. Kemudian diintegrasikan ke dalam
bahan dalam struktur untuk digunakan oleh guru dan tujuan pembelajaran.
Menurut Mulyatiningsih (2016: 169) bahwa kegiatan pada tahap ini dilakukan
untuk menetapkan dan mendefinisikan syarat pengembangan. Kegiatan yang
dilakukan dengan tahapan: (a) Front-end analysis guru melakukan diagnosis awal
untuk meningkatkan efisiensi dan efektivitas pembelajaran. (b) Learner analysis
dipelajari karakteristik peserta didik, misalnya: kemampuan, motivasi belajar,
latar belakang pengalaman. (c) Task analysis pendidik menganalisis tugas-tugas
pokok yang harus dikuasai peserta didik agar peserta didik dapat mencapai
kompetensi minimal. (d) Concept analysis Menganalisis konsep yang akan
diajarkan, menyusun langkah-langkah yang akan dilakukan secara rasional (e)
Specifying instructional objectives Menulis tujuan pembelajaran, perubahan
perilaku yang diharapkan setelah belajar dengan kata kerja operasional.

3. Develop (Pengembangan)
Tujuan Tahap ini adalah untuk memodifikasi bahan ajar bentuk dasar,
Meskipun banyak yang telah diproduksi sejak tahap Define, hasilnya harus
dianggap sebagai versi awal dari materi instruksional yang harus dimodifikasi
sebelum dapat menjadi versi final yang efektif. Pada tahap pengembangan, umpan
12

balik diterima melalui evaluasi formatif dan materi direvisi dengan tepat
(Thiagarajan, 1974: 8).
Penilaian ahli (Expert appraisal) adalah teknik untuk mendapatkan saran untuk
peningkatan materi. Sejumlah pakar diminta untuk mengevaluasi materi dari sudut
pandang instruksional dan teknis. Atas dasar umpan balik mereka, materi
dimodifikasi untuk membuatnya lebih tepat, efektif, dapat digunakan, dan kualitas
teknis yang tinggi.
Pengujian perkembangan (Developmental testing) mencakup mencoba
materiilnya dengan peserta pelatihan yang sebenarnya untuk mencari bagian-
bagian yang perlu direvisi. Atas dasar respons, reaksi, dan komentar para peserta
pelatihan, materi tersebut diubah. Siklus pengujian, revisi, dan pengujian ulang
diulangi hingga materi bekerja secara konsisten dan efektif.
Tahapan Expert appraisal merupakan teknik untuk memvalidasi atau menilai
kelayakan rancangan produk. Saran yang diberikan digunakan untuk memperbaiki
materi dan rancangan pembelajaran yang telah disusun. Developmental testing
merupakan kegiatan uji coba rancangan produk pada sasaran subjek yang
sesungguhnya. Pada saat uji coba ini dicari data respon, reaksi atau komentar dari
sasaran pengguna model (Mulyatiningsih, 2015: 164).

4. Disseminate (Penyebarluasan)
Bahan ajar mencapai tahap produksi akhir ketika pengujian perkembangan
menghasilkan hasil yang konsisten dan penilaian ahli menghasilkan positive
comments. Bahan ini juga harus menjalani pemeriksaan profesional untuk
mendapatkan pendapat yang objektif tentang kecukupan dan relevansinya.
Menurut Thiagarajan (1974: 9) Tahap akhir dari pengemasan, difusi, dan
adopsi akhir adalah yang paling penting meskipun paling sering diabaikan.
Seorang produser dan distributor harusdipilih dan bekerja sama untuk bersama
membungkus materi dalam bentuk yang dapat diterima. Penyebar harus mencoba
untuk mengevaluasi keefektifan upaya penyebarannya. Dia harus menentukan
tindakan apa, jika ada, calon pengadopsi yang telah diambil, dan dia harus
merencanakan cara membuat pendekatan lebih lanjut kepada orang-orang yang
belum "menjual" inovasi.
13

Menurut Thiagarajan (1974: 17) menarik kesimpulan sebagai [Link]


untuk penyebaran yang efektif adalah (a) Kejelasan (Clarity) informasi harus
dinyatakan dengan jelas, dengan mengingat audiens tertentu. (b) Validitas
(Validity) Informasi tersebut harus menyajikan suatu truepicture. (c) Pervasif
(Pervasiveness) Informasi tersebut harus menjangkau semua audiens yang dituju.
(d) Dampak (Impact) Informasi harus membangkitkan respons yang diinginkan
dari audiens yang dituju. (e) Ketepatan waktu (Timeliness) Informasi harus
disebarluaskan pada waktu yang paling tepat. (f) Kepraktisan (Practicality)
Informasi harus dikirim dalam bentuk yang paling sesuai dengan ruang lingkup
proyek, mengingat keterbatasan seperti jarak dan sumber daya yang tersedia.
Dapat di simpulkan bahwa model pembelajaran 4D adalah model pembelajaran
yang efektif untuk di gunakan guru dalam membantu proses belajar pembelajaran
dan model pembelajaran ini memiliki kelebihan maupun kekurangan sesuai
bagaimana guru menggunakannya dengan baik.

D. Efektivitas Mengajar Guru


guru adalah orang yang memberikan ilmu pengetahuan kepada anak didik.
Guru dalam pandangan masyarakat adalah orang yang melaksanakan pendidikan
di tempat-tempat tertentu, tidak mesti dilembaga pendidikan formal, tetapi bisa
juga di masjid, di surau atau musholla dan di rumah. Guru memang menempati
kedudukan yang terhormat di masyarakat. kewibaanlah yang menyebabkan guru
di hormati, sehingga masyarakat tidak meragukan figur guru. Masyarakat yakin
bahwa gurulah yang dapat mendidik anak didik mereka agar menjadi orang yang
berkepribadian mulia.
Guru adalah subjek paling penting dalam keberlangsungan pendidikan. Tanpa
guru, sulit dibayangkan bagaimana pendidikan dapat berjalan. Bahkan meskipun
ada teori yang mengatakan bahwa keberadaan orang/manusia sebagai guru akan
berpotensi menghambat perkembangan peserta didik, tetapi keberadaan orang
sebagai guru tetap tidak mungkin dinafikan sama sekali dari proses pendidikan
(Dja’far, 2006: 39).
Dari uraian tersebut di atas dapat disimpulkan bahwa guru adalah semua orang
yang bertanggung jawab atas perkembangan potensi peserta didik, baik dari aspek
14

knowledge, behaviour, psikomotor dan estetika dengan cara membimbing


membina dan mengarahkan baik individual ataupun klasikal di sekolah maupun di
luar sekolah.

E. Aktivitas Belajar Siswa


Efektivitas merupakan keterkaitan antara tujuan dan hasil yang dinyatakan, dan
menunjukan derajat kesesuaian antara tujuan yang dinyatakan dengan hasil yang
dicapai.
Efektivitas adalah suatu ukuran yang menyatakan seberapa jauh target
(kuantitas, kualitas dan waktu) telah tercapai. Di mana makin besar presentase
target yang dicapai, makin tinggi efektivitasnya (Marzuki, 2015: 67).
Efektivitas belajar siswa adalah cara atau jalan yang harus dilalui untuk
mendapat pengetahuan, sikap, kecakapan, dan keterampilan (Slameto, 2010: 82).
Efektivitas belajar adalah kegiatan-kegiatan yang dilaksanakan sesuai dengan
situasi belajarnya, misalnya kegiatan-kegiatan dalam mengikuti pelajaran,
menghadapai ulangan/ujian dan sebagainya (Hamalik, 2003: 38).
Berdasarkan teori di atas maka dapat disimpulkan bahwa efektivitas belajar
siswa adalah kegiatan-kegiatan yang dilaksanakan siswa pada situasi belajar
tertentu dengan cara yang tepat untuk mendapatkan hasil dan manfaat yang
masimal.
15

F. Hasil Belajar
Hasil belajar adalah kemampuan yang diperoleh anak setelah melalui kegiatan
belajar. Karena belajar itu sendiri merupakan suatu proses dari seseorang yang
berusaha untuk memperoleh suatu bentuk perubahan perilaku yang relatif
menetap.
Hasil belajar adalah sebagai terjadinya perubahan tingkah laku pada diri
seseorang yang dapat diamati dan diukur bentuk pengetahuan, sikap dan
keterampilan. Perubahan tersebut dapat diartikan sebagai terjadinya peningkatan
dan pengembangan yang lebih baik dari sebelumnya dan yang tidak tahu menjadi
tahu (Hamalik, 2007: 30).
Hasil belajar merupakan proses untuk menentukan nilai belajar siswa melalui
kegiatan penilaian atau pengukuran hasil belajar. Berdasarkan pengertian di atas
hasil belajar dapat menerangai tujuan utamanya adalah untuk mengetahui tingkat
keberhasilan yang dicapai oleh siswa setelah mengikuti suatu kegiatan
pembelajaran, dimana tingkat keberhasilan tersebut kemudian ditandai dengan
skala nilai berupa huruf atau kata atau symbol (Dimyati, 2009: 200).
Berdasarkan pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa hasil belajar
adalah kompetensi atau kemampuan tertentu yang dicapai oleh siswa setelah
mengikuti proses belajar mengajar dan meliputi keterampilan kognitif, afektif,
maupun psikomotor.

G. Penelitian Relevan
Penelitian mengenai penerapan model pembelajaran Define, Design, Develop,
Disseminate untuk meningkatkan hasil belajar sejarah kelas XI IPS SMA Negeri 1
Kulisusu belum perna di lakukan sama sekali, namun ada beberapa penelitian
yang membahas hal serupa seperti penelitian yang dilakukan oleh Maharani
(2016: 425) menyimpulkan bahwa modul tematik “cita-citaku” layak untuk
digunakan. Hal tersebut dibuktikan dari hasil penilaian produk oleh ahli materi
dinyatakan sangat baik (4,38), hasil penilaian produk oleh ahli media dinyatakan
baik (3,83).30 Dari penelitian di atas terdapat persamaan dan perbedaan dengan
penelitian yang akan peneliti lakukan. Relevansi penelitian tersebut dengan
penelitian yang peneliti laksanakan terletak pada bahan ajar modul dan jenjang
16

kelasnya. Namun, penelitian dengan peneliti juga memiliki perbedaan. Perbedaan


tersebut terletak pada pembelajaran tematik berbasis contextual learning dengan
tema selalu berhemat energi dan tempat penelitian.
Selanjutnya penelitian yang dilakukan oleh Mandacahyanti (2016: 51) yang
berjudul “Pengembangan Modul Pembelajaran Tematik Kelas III Sekolah Dasar”,
berkesimpulan bahwa modul memiliki kategori yang cukup baik dan layak
digunakan dalam pembelajaran. Hal ini ditunjukkan dengan skor dari validator 3,0
serta skor dari pendidik kelas III SD 3,2 dan termasuk dalam kategori “cukup
baik”. Melalui penelitian di atas terdapat persamaan dan perbedaan dengan
penelitian yang akan peneliti lakukan. Persamaannya berupa bahan ajar modul,
dan perbedaannya yaitu penelitian yang akan dikembangkan pada jenjang sekolah
dasar, tempat penelitian, serta pada pembelajaran tematik berbasis contextual
learning dengan tema selalu berhemat energi.
Penelitian yang dilakukan oleh Arbi (2018: 332) dengan judul Pengembangan
Perangkat Pembelajaran Standar Pelaksanaan Pekerjaan Elektrikal Bidang
Instalasi Residensial Untuk Pendidikan dan Pelatihan Karyawan Di Industri.
Penelitian ini merupakan penelitian Research and Development (R&D) dengan
model pengembangan Four D (4D) yang dikembangkan oleh S. Thiagarajan.
Tahapan- tahapan dari penelitian ini meliputi tahapan pendefinisian (define),
perancangan (design), pengembangan (develop), dan penyebaran (disseminate).
Berdasarkan hasil penelitian menunjukkan modul dalam kategori layak dan sangat
layak, ditinjau dari segi materi dan media dengan perolehan skor masing-masing
76% dan 86% dari skor 37 maksimal 100%. Sedangkan dari segi respon siswa
terhadap modul memperolehan skor 80,13% dengan kategori sabgat layak.
Berdasarkan hasil penelitian relevan di atas menunjukkan bahwa penerapan
model pembelajaran Define, Design, Develop, Disseminate dapat meningkatkan
hasil belajar siswa, sehingga sangat strategis untuk dapat diterapkan dalam
pembelajaran sejarah di SMA melalui penelitian tindakan kelas.
17

H. Kerangka Berpikir
Pendidikan adalah salah satu kebutuhan manusia yang harus dipenuhi. Karena
dengan pendidikan manusia dapat memperoleh ilmu pengetahuan yang dapat
dilakukan dengan berbagai cara salah satunya adalah melalui model pembelajaran
4D.
Model pembelajaran berbasis masalah bercirikan penggunaan masalah dunia
nyata dimana model ini dapat digunakan untuk meneliti meningkatkan
keterampilan berpikir kritis dan kemampuan memecahkan masalah serta untuk
mendapatkan pengetahuan tentang konsep-konsep penting. Pendekatan
pembelajaran ini mengutamakan proses belajar, dimana tugas guru harus
memfokuskan diri untuk membantu siswa mencapai keterampilan mengarahkan
diri. Pada model pembelajaran ini peran guru adalah mengajukan masalah,
mengajukan pertanyaan, memberikan kemudahan suasa berdialog, dan
memberikan fasilitas penelitian, serta melakukan penelitian (Susilo, 2012: 61).
Pengembangan perangkat pembelajaran menunjang proses pembelajaran dan
penilaian. Perangkat pembelajaran yang digunakan harus valid sehingga layak
digunakan dalam proses pembelajaran. Pada penelitian ini, validasi yang
dilakukan menekankan pada validasi isi, konstruk, dan bahasa sehingga perangkat
pembelajaran yang telah sesuai dengan kriteria yang seharusnya dan susunan dari
perangkat yang dibuat telah sesuai dan memenuhi syarat-syarat penyusunan
perangkat pembelajaran. Validasi perangkat pembelajaran kinematik gerak lurus
dalam pembelajaran berbasis model pembelajaran generatif dengan pendekatan
openended problem yang dikembangkan berkategori sangat valid (Rahayu,2019:
5).
Pada tahap Define dilakukan analisis kurikulum, analisis kebutuhan peserta
didik, analisis tujuan dan pembelajaran serta analisis tugas. Selanjutnya dirancang
perangkat pembelajaran yang terdiri atas silabus, RPP, handout, LKPD, dan
penilaian. Setelah proses perancangan perangkat pembelajaran selesai dilakukan,
maka dilakukan langkah selanjutnya yaitu tahap pengembangan.

Dengan demikian kerangka berpikir penelitian ini dapat digambarkan sebagai


berikut:
18

Define (Pendefinisian)

Design (Perancangan)

Develop (Pengembangan)

Disseminate (Penyebaran)

Gambar 2.1 skema kerangka pikir


I. Hipotesis
1. Penerapan model pembelajaran Define, Design, Develop, Disseminate dapat
meningkatkan keefektifan mengajar guru dalam pembelajaran sejarah kelas XI IPS
SMA 1 Kulisusu.
2. Penerapan model pembelajaran Define, Design, Develop, Disseminate dapat
meningkatkan aktifitas belajar sejarah siswa dalam pembelajaran sejarah kelas XI
IPS SMA 1 Kulisusu.
3. Penerapan model pembelajaran Define, Design, Develop, Disseminate dapat
meningkatkan hasil belajar siswa dalam pembelajaran sejarah kelas XI IPS SMA 1
Kulisusu.
19

BAB III
METODE PENELITIAN
A. Waktu dan Tempat Penelitian
Tempat yang digunakan untuk penelitian ini adalah SMA Negeri 1 KULISUSU
yang beralamat di Kelurahan Sara’ea Kecamatan Kulisusu. Penelitian ini
dilaksakan Semester Ganjil pada bulan Oktober-Desember 2024 tahun pelajaran
2024/2025.
B. Subjek Penelitian
Subjek penelitian adalah guru sejarah dan siswa kelas X IPS SMA NEGERI 1
Kulisusu semester ganjil tahun pelajaran 2023/2024 sebanyak 39 orang. Siswi
perempuan berjumlah 20 orang dan siswa laki-laki berjumlah 19 orang.
C. Jenis Penelitian
Penelitian ini merupakan jenis penelitian yang bersifat PTK yakni suatu jenis
penelitian dimana peneliti berusaha mendeskripsikan data-data dan fakta-fakta
yang diperoleh berdasarkan bahan, informasi/temuan dari objek yang diteliti
dilapangan atau lokasi penelitian. Pendekatan yang digunakaan dalam penelitian
ini adalah sosiokultural yakni sosiokultural atau kognitif sosial menekankan
bagaiamana seorang atau pembelajar menyertakan kebudayaan kedalam
penalaran, interaksi sosial dan pemahaman diri mereka.
D. Prosedur Penelitian
Penelitian ini merupakan penelitian tindakan kelas dengan menggunakan
model pembelajaran pokadulu. Penelitian ini setiap siklus terdiri dari tiga kali
pertemuan. Sebelum melaksanakn penelitian tindakan kelas terlebih dahulu
penelitian membentuk rancangan prosedur penelitian.
20

Refleksi
awal

Perencanaan Studi pendahuluan


tidakan

Implementasi 1

Observasi 1 Refleksi 1

Perencanaan 2
Observasi 2

Refleksi 2
Implementasi 2

Observasi 3

Perencanaan 3

Refleksi 3

Implementasi 3

Gambar 3.1 Model penelitian tindakan kelas bentuk siklus (Sanjaya, 2011: 56).
21

Secara rinci prosedur PTK dijabarkan sebagai berikut.


1. Tahap perencanaan
a. Menetapkan bahan atau materi pelajaran yang akan diajarkan
b. Menyusun silabus dan RPP pada setiap siklus/tindakan
c. Menyusun alat evaluasi yang diberikan oleh guru kepada siswa yang akan
memperoleh tindakan yaitu mempersiapkan LKPD dan membuat soal-soal tes.
2. Pelaksanaan tindakan
Pelaksanaan tindakan ini diperoleh melalui praktek pembelajaran yang
dilakukan berdasarkan rencana pembelajaran yang telah disusun sebelumnya.
Tindakan ini bertujuan untuk memperbaiki proses pembelajaran dengan
menerapkan model pembelajan 4-D.
3. Tahap Observasi dan Evaluasi
Pada tahap observasi, diharapakan dapat mengamati segala aktivitas yang
terjadi
selama proses pembelajaran berlangsung. Sedangkan evaluasi dilakukan untuk
menilai pemahaman siswa terhadap materi yang diajarkan dengan menerapkan
model pebelajaran 4-D.
4. Tahap Refleksi
Data yang diperoleh dari observasi dan evaluasi dianalisis, kemudian dilakukan
refleksi. Refleksi tersebut berupa diskusi antara peneliti dengan guru. Aktivitas
belajar siswa maupun hasil belajar siswa. Selanjutnya disusun pemecahan atas
masalah tersebut. Hasil dari tahap ini kemudian digunakan oleh peneliti sebagai
dasar bagi tindakan selanjutnya.
E. Teknik pengumpulan data
Metode pengumpulan data adalah cara-cara untuk mengumpulkan data dalam
suatu penelitian. Penelitian ini menggunakan beberapa metode yaitu:
1. Observasi/ Pengamatan
Observasi digunakan untuk memperoleh data tentang situasi belajar mengajar.
Observasi yang dilakukan peneliti yaitu observasi terbuka. Observasi terbuka
adalah apabila sang pengamat atau obsever melakukan pengamatan dengan
22

mengambil kertas dan pensil, kemudian mencatat segala sesuatu yang terjadi di
kelas.

2. Tes Hasil Belajar


Tes hasil belajar ialah tes yang digunakan untuk menilai hasil pemahaman yang
telah diberikan oleh guru kepada siswa-siswanya dalam jangka waktu tertentu. Tes
yang digunakan dalam penelitian ini adalah tes yang dibuat oleh peneliti yaitu
berupa tes tertulis
F. Teknik Analisis Data
Pengelolahan data pada penelitian ini dilakukan setelah terkumpulnya data,
selanjutnya dianalisis secara kualitatif, Yaitu dilakukan dengan melihat observasi
selama proses belajar mengajar dari tiap siklus.
Menentukan presentasi keberhasilan keefektivan mengajar guru, aktivitas
belajar siswa, dan hasil belajar siswa digunakan rumus sebagai berikut:
F
P= ×100
N
Keterangan :
F : frekuensi yang dicari presentasinya
N : Number of Case (Jumblah frekuensi/banyaknya individu)
P : Angka presentase (Sudijono, 2018: 43).

G. Indikator Kinerja
Sebagai indikator keberhasilan dalam penelitian ini dilihat dari dua segi, yaitu
dari segi proses dan segi hasil belajar siswa.

a. Keefektifan mengajar guru dikatakan berhasil apabila minimal 90% skenario


pembelajaran terlaksana dengan baik.
b. Aktivitas belajar siswa dikatakan berhasil apabila minimal 90% siswa telah
aktif
dalam proses pembelajaran.
c. Hasil belajar siswa dikatakan berhasil apabila minimal 80% siswa telah
mencapai kriteria ketuntasan minimal (KKM) ≥70.
23

BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Analisis Data Keefektifan Mengajar Guru


Tabel 4.1 Data Analisis Keefektifan Mengajar Guru Siklus 1
NO. AKTIVITAS PERTEMUAN 1-2
GURU Terlaksana Tidak Keterangan
Terlaksana
1 Memberi salam √

2 Membuka pelajaran √

3 Menjelaskan √

4 Memberi variasi √

5 Memberi penguatan √

6 Mengajar kelompok √
kecil
7 Memimpin diskusi √

8 Bertanya tingkat √
dasar
9 Bertanya tingkat √
lanjut
10 Memberi motivasi √

11 Menutup pelajaran √

Jumlah 9 2
(81,80%) (18,20%)
24

Menentukan persentase keefektifan mengajar guru


Rumus :
F
P= ×100%
N
P : Persentase keefektifan mengajar guru
F : Jumlah rencana ativitas guru yang terlaksana
N : Jumlah seluruh rencan aktivitas guru
Indikator Keberhasilan minimal : 90%

9
P= ×100%= 81,80%
11
Berhubung indikator keberhasilan 90% belum tercapai/ belum tuntas, sehingga
harus dilanjutkan pada siklus 2.
Tabel 4.2 Data Analisis Kefektifan Mengajar Guru Siklus 2
NO. AKTIVITAS PERTEMUAN 2
GURU Terlaksana Tidak Keterangan
Terlaksana
1 Memberi salam √

2 Membuka pelajaran √

3 Menjelaskan √

4 Memberi variasi √

5 Memberi penguatan √

6 Mengajar kelompok √
kecil
7 Memimpin diskusi √

8 Bertanya tingkat √
dasar
9 Bertanya tingkat √
lanjut
10 Memberi motivasi √

11 Menutup pelajaran √

Jumlah 10 1
(90,91%) (9,09%)
25

10
P= ×100%= 90,91%
11
Berhubung indikator keberhasilan 90% telah tercapai/ sudah tuntas, yaitu 90.91%,
sehingga tidak perlu dilanjutkan pada siklus 3.

B. Analisis Data Aktivitas Belajar Siswa

Tabel 4.3 Data Analisis Aktivitas Belajar Siswa Siklus 1


NO. KODE MURID PERTEMUAN 1
Sangat Aktif Aktif Tidak Aktif
1 AAA √

2 AAB √

3 AAC √

4 AAD √

5 AAE √

6 AAF √

7 AAG √

8 AAH √

9 AAI √

10 AAJ √

11 AAK √

12 AAL √

13 AAM √

14 AAN √

15 AAO √

16 AAP √
26

17 AAQ √

18 AAR √

19 AAS √

20 AAT √

21 AAU √

22 AAV √

23 AAW √

24 AAX √

25 AAZ √

26 BBA √

27 BBB √

28 BBC √

29 BBD √

30 BBE √

31 BBF √

32 BBG √

33 BBH √

34 BBI √

35 BBJ √

36 BBK √

37 BBL √

38 BBM √
27

39 BBN √

5 18 16
JUMLAH
(12,82%) (46,15%) (41,03%)

Menentukan persentasi keberhasilan aktivitas belajar siswa


Rumus :
F
P= ×100%
N
P : Persentase aktivitas belajar siswa
F : Jumlah siswa yang aktif belajar
N : Jumlah seluruh siswa

Indikator Keberhasilan minimal : 85%

23
P= ×100% = 58,97%
40

Berhubung Indikator keberhasilan 85%, belum tercapai, sehingga kegiatan


pembelajaran harus dilanjutkan ke siklus 2.

Tabel 4.4 Data Analisis Aktivitas Belajar Siswa Siklus 2


NO. KODE MURID PERTEMUAN 2
Sangat Aktif Aktif Tidak Aktif
1 AAA √

2 AAB √

3 AAC √

4 AAD √

5 AAE √

6 AAF √
28

7 AAG √

8 AAH √

9 AAI √

10 AAJ √

11 AAK √

12 AAL √

13 AAM √

14 AAN √

15 AAO √

16 AAP √

17 AAQ √

18 AAR √

19 AAS √

20 AAT √

21 AAU √

22 AAV √

23 AAW √

24 AAX √

25 AAZ √

26 BBA √

27 BBB √

28 BBC √
29

29 BBD √

30 BBE √

31 BBF √

32 BBG √

33 BBH √

34 BBI √

35 BBJ √

36 BBK √

37 BBL √

38 BBM √

39 BBN √

11 23 5
JUMLAH
(28,21%) (58,97%) (12,82%)

Menentukan persentasi keberhasilan aktivitas belajar siswa


Rumus :
F
P= ×100%
N
P : Persentase aktivitas belajar siswa
F : Jumlah siswa yang aktif belajar
N : Jumlah seluruh siswa

Indikator Keberhasilan minimal : 85%

34
P= ×100% = 87,17%
40

Berhubung Indikator keberhasilan 85%, telah tercapai yaitu 87,17%, sehingga


tidak perlu dilanjutkan ke siklus 3.
30

C. Analisis Data Hasil Belajar Siswa


Tabel 4.5 Data Analisis Hasil Belajar Siswa Siklus 1
NO. KODE MURID PERTEMUAN 1
Nilai Tuntas Tidak
1 AAA 80 √

2 AAB 77 √

3 AAC 60 √

4 AAD 70 √

5 AAE 76 √

6 AAF 85 √

7 AAG 80 √

8 AAH 72 √

9 AAI 65 √

10 AAJ 85 √

11 AAK 90 √

12 AAL 70 √

13 AAM 68 √

14 AAN 84 √

15 AAO 86 √

16 AAP 80 √

17 AAQ 79 √

18 AAR 69 √

19 AAS 70 √

20 AAT 87 √
31

21 AAU 60 √

22 AAV 92 √

23 AAW 89 √

24 AAX 77 √

25 AAZ 80 √

26 BBA 80 √

27 BBB 85 √

28 BBC 87 √

29 BBD 67 √

30 BBE 87 √

31 BBF 80 √

32 BBG 78 √

33 BBH 77 √

34 BBI 69 √

35 BBJ 80 √

36 BBK 60 √

37 BBL 86 √

38 BBM 85 √

39 BBN 90 √

27 12
JUMLAH
(69,23%) (30,77%)

Cara perhitungan ketuntasan hasil belajar


32

Rumus :
F
P= ×100%
N
Diketahui :
1. Jumlah siswa : 40 siswa
2. Kkm individu : 75
3. Kkm klasikal : 85%

27
P= ×100%
40

P = 69,23%

Berhubung Indikator keberhasilan 85%, belum tercapai, sehingga kegiatan


pembelajaran harus dilanjutkan ke siklus 2.

Tabel 4.6 Data Analisis Hasil Belajar Siswa Siklus 2


NO. KODE MURID PERTEMUAN 2
Nilai Tuntas Tidak
1 AAA 80 √

2 AAB 77 √

3 AAC 80 √

4 AAD 70 √

5 AAE 76 √

6 AAF 85 √

7 AAG 80 √

8 AAH 92 √

9 AAI 65 √

10 AAJ 85 √
33

11 AAK 90 √

12 AAL 90 √

13 AAM 68 √

14 AAN 84 √

15 AAO 86 √

16 AAP 80 √

17 AAQ 79 √

18 AAR 89 √

19 AAS 80 √

20 AAT 87 √

21 AAU 80 √

22 AAV 92 √

23 AAW 89 √

24 AAX 77 √

25 AAZ 80 √

26 BBA 80 √

27 BBB 85 √

28 BBC 87 √

29 BBD 67 √

30 BBE 87 √

31 BBF 80 √

32 BBG 78 √
34

33 BBH 77 √

34 BBI 79 √

35 BBJ 80 √

36 BBK 60 √

37 BBL 86 √

38 BBM 85 √

39 BBN 90 √

34 5
JUMLAH
(87,18%) (12,82%)

Cara perhitungan ketuntasan hasil belajar

Rumus :
F
P= ×100%
N
Diketahui :
4. Jumlah siswa : 40 siswa
5. Kkm individu : 75
6. Kkm klasikal : 85%

34
P= ×100%
40

P = 87,18%

Berhubung Indikator keberhasilan 85%, telah tercapai yaitu 87,18% sehingga


tidak perlu dilanjutkan ke siklus 3.
35

DAFTAR PUSTAKA

Arbi, A. R., & Maryadi, T. H. T. (2018). Pengembangan perangkat pembelajaran


standar pelaksanaan pekerjaan elektrikal bidang instalasi residensial untuk
pendidikan dan latihan karyawan di industri. Jurnal pendidikan teknik
elektro, 8(5). 332-338
Arends, Richard. (2013). Belajar untuk Mengajar. Jakarta: Salemba Humanika
Arkadiantika, I. Ramansyah, W. Effindi, MA. Dellia, P. (2020). Pengembangan
Media Pembelajaran Virtual Reality Pada Materi Pengenalan Termination
Dan Splicing Fiber Optic. Jurnal Dimens Pendidik dan Pembelajaran,
8(1). 29–36.
Dewey, Jhon. (2003). Dasar-Dasar Ilmu Pendidikan. Jakarta: PT Raja Grafindo
Persada
Dimyati dan Mudjiono. (2009). Belajar dan Pembelajaran. Jakarta : Rineka Cipta
Dimyati, dkk. (2010). Belajar dan Pembelajaran. Jakarta: PT Rineka Cipta.
Dirman dan Cicih, Juarsih. (2014). Kegiatan Pembelajaran yang Mendidik,
Jakarta: Rineka Cipta.
Dja’far, Siddik. (2006). Konsep Dasar Ilmu Pendidikan Islam. Bandung: Cita
Pustaka Media.
Hafid, Anwar. (2021). Konsep Dasar Ilmu Pendidikan. Bandung: Alfabeta.
Hamalik, Oemar. (2001). Proses Belajar Mengajar. Jakarta: Bumi Aksara
Hamalik, Oemar. (2003). Metode Belajar dan Kesulitan-Kesulitan Belajar.
Surabaya: Usaha Nasional.
Hamalik, Oemar. (2007). Proses Belajar Mengajar. Jakarta: Bumi Aksara.
Hanafy, M. S. (2014). Konsep belajar dan pembelajaran. Lentera Pendidikan:
Jurnal Ilmu Tarbiyah dan Keguruan, 17(1), 66-79.
Haviz, M. 2013. Research and Development; Penelitian Di Bidang Kependidikan
Yang Inovatif, Produktif Dan Bermakna. Jurnal Ta’dib, 16 (1). 28-43
Isjoni. (2016). Cooperative Learning, Bandung: Alfabeta.
Juraid, Abdul, L. (2006). Manusia Filsafat Dan Sejarah, Palu Selatan: Bumi
Aksara.
Kochhar, S. K. (2008). Teaching of History, Pembelajaran Sejarah. Bandung:
Grasindo.
36

Kuntowijoyo. (2008). Pengantar Ilmu Sejarah. Yogyakarta: Tiara Wacana


Leo, Agung dan Sri, Wahyuni (2013). Perencanaan Pembelajaran Sejarah.
Yogyakarta: Ombak
Maharani, I. S. A. (2016). Pengembangan Modul Tematik Cita-citaku Bagi Siswa
Kelas IV Sekolah Dasar. E-Jurnal Skripsi Program Studi Teknologi
Pendidikan, 5(8), 425-439.
Majid, Abdul dan Chaerul, Rochman. (2013). Pendekatan Ilmiah Dalam
Implementasi Kurikulum 2013, Bandung: PT Remaja Rosda Karya.
Mandacahyanti, H. R. (2016). Pengembangan Modul Pembelajaran Tematik
Kelas III Sekolah Dasar. Skripsi Program Studi Sekolah Dasar.
Universitas PGRI Yogyakarta. Yogyakarta.
Marzuki, Andi.M. (2015). Manajemen Pengembangan Kurikulum, Pekanbaru: Al
Mujtahadah Press.
Mulyatiningsih, Endang. (2015). Metode Penelitian Terapan bidang Pendidikan.
Yogyakarta: UNY Press.
Nunuk, Suryani & Leo, Agung. (2012). Strategi Belajar Mengajar. Yogyakarta:
Ombak
Pane, A., & Dasopang, M. D. (2017). Belajar dan pembelajaran. Fitrah: Jurnal
Kajian Ilmu-Ilmu Keislaman, 3(2), 333-352.
Rahayu, C.,& Festiyed, F. (2019). Validitas Perangkat Pembelajaran Fisika SMA
Berbasis Model Pembelajaran Generatif dengan Pendekatan Open-Ended
Problem untuk Menstimulus Keterampilan Berpikir KritisPeserta Didik.
JPF (Jurnal Pendidikan Fisika) Universitas Islam Negeri Alauddin
Makassar, 7(1). 1-6.
Rousseau, J.J. (2003). Ilmu Pendidikan. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada
Sagala, S. (2013). Konsep dan Makna Pembelajaran: Untuk membantu
memecahkan problematika belajar dan mengajar. Bandung :Alfabeta.
Sanjaya, Wina (2011). Penelitian Tindakan Kelas. Jakarta: Kencana
Slameto. (2010). Belajar dan Faktor-Faktor Yang Mempengaruhinya, Jakarta:
Rienika Cipta.
Sudijono, Anas. (2018). Pengantar Statistik Pendidikan. Depok: PT Rajagrafindo
Persada.
Susanto, H. (2014). Seputar Pembelajaran Sejarah, Isu, Gagasan dan Strategi
Pembelajaran. Yogyakarta: Aswaja Pressindo.
37

Susilo, A. B. (2012). Pengembangan Model Pembelajaran IPA Berbasis Masalah


untuk Meningkatkan Motivasi Belajar dan Berpikir Kritis Siswa SMP.
Jurnal of Primari Education, 1(1). 57-63.
Thiagarajan, S. Semmel, D.S & Semmel, MI. (1974). Instructional Development
for Training Teachers of Exceptional Children. Indiana: Indiana University
Bloomington.
Undang-Undang No. 20 Tahun 2003. Tentang Sistem Pendidikan Nasional.
Jakarta: Sekretariat Negara RI

Anda mungkin juga menyukai