0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
13 tayangan28 halaman

Konflik Kiara dan Keluarga Terluka

yah begitulah
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
13 tayangan28 halaman

Konflik Kiara dan Keluarga Terluka

yah begitulah
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

Aland bard wilson

Jeslyn maisha brown


Kiara Brown (bunda)
Bram salim (ayah)
Putri tiara (ibu, istri pertama bram)
Azka aldric salim
Denaya earth salim
Stevani bard wilson

“aku mohon pergi dari kehidupan ku dan bawa anak itu, kiara” wanita yang menggenggam erat
tangan seorang gadis kecil berusia 6 tahun itu terisak pilu. Tidak menyangka mendapatkan
perlakuan sehina itu dari pria yang merupakan suaminya.

Kiara tahu ini kebodohannya yang muda percaya pada pria itu saat pria itu mengajaknya menikah
secara agama namun tidak dengan negara. Kiara mengatas namakan cinta untuk hubungan mereka
namun pria itu hanya menggunakannya sebagai alatnya.

“aku tau aku bersalah tapi aku tidak bisa meninggalkan istri dan kedua anak ku”

“tapi aku juga istri mu dan maisha jugak anak mu. Bagaimana bisa kau melakukan hal ini pada
kami”

“kau dan dia adalah kesalahan terbesarku” kiara menutup erat telinga putrinya dan merasa hancur
saat itu juga. Dia tidak menyangka dirinya dan putrinya sebuah kesalahan untuk pria yang dia cintai
sepenuh hatinya. “aku akan membayar mu berapapun asal kau pergi dari kehidupan ku selamanya.
Ku mohon”

Kiara tertegun di tempatnya menatap pria itu tidak percaya. Pria yang ia cintai menebarkan uang
kewajahnya dengan sangat menghina. Kiara menggertakan giginya menahan setiap emosi yang ada
di dadanya dan dengan sisa harga diri yang ia miliki. Kiara menatap hina pria yang menatapnya
tajam.

“aku tidak membutuhkan uang mu. Satu hal yang perlu kau tau mas. Tuhan tidak pernah tidur dan
akan ada saat dimana Tuhan membalas semua perbuatan mu” kiara mengusap kasar air matanya.
“aku akan hidup dengan putri ku. Tapi sebelum itu aku ingin kau menceraikan ku dan ku rasa itu
tid....”

“kau aku ceraikan. Di mulai hari ini kau bukanlah istri ku dan satu hal yang harus kau ingat. Ini
semua kesalahan.. KESALAHAN”

Kiara menarik lembut putrinya yang berusia 6 tahun melangkah keluar dari rumah mewah dimana ia
di hina dan di permalukan. Maisah berbalik menatap lekat wajah pria yang merupakan ayahnya
yang tak pernah menatapnya. Satu hal yang ia sadari alasan ayahnya tidak pernah menatapnya
dengan cinta adalah hal ini. Dia sebuah kesalahan untuk pria itu. Dan maisah menoleh pada dua
anak lainnya satu seorang pria yang berusia sekitar 10 tahun dan satunya lagi seorang gadis yang
tampak seusia 8 tahun menatapnya dengan hina.

Maisah kembali menatap ibunya dan mengeratkan genggamannya membuat wanita cantik itu
menoleh padanya lalu sebuah pelukan erat ia rasakan bersama derasnya air mata dan hujan malam
itu.
“je tidak membutuhkan seorang ayah selama bunda anda bersama je” kiara semakin mengeratkan
pelukannya dan rasa sakit itu semakin dalam mendapati wajah anaknya yang tampak menyedihkan
di matanya.

“bunda janji je tidak akan pernah merasakan kekurangan apapun” ucap kiara. Ia bersumpah peri
hidupnya akan merasakan kebahagiaan yang luar biasa. Ia akan menciptakan cinta yang luar biasa
besar untuk anaknya. Ia akan menjadi seorang ibu dan ayah sekaligus untuk anaknya.

Aku tersentak bangun saat mimpi itu kembali lagi 23 tahun berlalu dan kejadian itu masih menjadi
mimpi buruk untuk ku. Sama seperti mimpi itu goresan luka itu juga masih terbuka lebar seakan
enggan untuk di sembuhkan.

SREKK
Suara tirai di geser dan membuat cahaya terang menusuk mata ku dengan berlahan aku mulai
membuka mata dan menyipit kembali untuk mencoba melihat siapa orang yang membuka tirai
dengan asal. Di sana satu-satunya alasan untuk aku bertahan sejauh ini menatap ku dengan garang.
Dan sebuah ingatan melintas membuat ku meringis pelan karena melupakan hal itu dan memilih
menghabiskan malam bersama beberapa sahabat ku.

“what time did you go home last night?” sekali lagi aku meringis merasa bersalah. “answer it”.

Aku mendesah lalu membenarkan letak posisi ku sendiri dengan bersandar pada kepala ranjang ku.
Kemudian sedikit memijat lembut keningku yang terasa sangat menyakitkan dan ku yakin ini lah
dampak dari malam itu. Malam itu aku seakan lepas kendali sampai melupakan seberapa buruk aku
jika berhubungan dengan alkohol. “ sorry bun” ucapku akhirnya.

Yah dia bunda ku satu-satunya orang yang menjadi alasan ku selama ini untuk bertahan. Dan satu-
satunya orang yang akan selalu aku percaya seumur hidup ku. “kau taukan hari ini kau akan pergi”
Aku melirik sinis pada bunda merasa jengah dengan pembahasan yang paling ku hindari. “je juga
sudah bilang jika je tidak ingin kesana.” Ujar ku kesal. “je tidak pernah ingin kembali kesana dan tidak
ada alasan untuk je kesana.”

Bunda memijat keningnya dan rautnya tampak gusar. Aku tau kami akan memulai pertengkaran
hebat lagi dengan masalah yang masih sama mengenai keputusan bunda yang ingin kembali ke
Indonesia. Dan aku yang bersih keras tidak berniat untuk kembali kesana dan memang tidak ada
yang harus membuat aku harus kesana. Aku dan bunda telah menata hidup di sini dan entah alasan
apa bunda ingin kesana.

“aku juga sudah bilang jika bunda ingin kesana silahkan tapi tidak dengan ku.” Ujar ku lagi. “shit”
bisik ku memaki pada diri ku sendiri saat menemukan raut kesedihan di wajah bunda dan sekali lagi
perdebatan ini akan berakhir dengan aku yang mengalah. “baiklah tapi aku mengajukan syarat”

Bunda mengangkat wajahnya dan menatap ku lekat membuat ku membalas tatapan bunda namun
dengan sorot mata yang tidak ingin di bantah. “aku bisa kapan saja kembali kesini dan tidak ada kata
untuk merubah warganegara ku. Aku akan tetap menjadi warganegara LA” sekilas bunda termangu
dengan sorot mata kecewa tapi kali ini aku akan bertahan dengan keputusan ku.

“bunda setuju dengan kewarganegaraan tapi bunda menolak dengan kau bebas kembali kesini” aku
akan membantah namun tertahan saat bunda melanjutkan ucapannya. “kau hanya bisa kembali saat
bunda menyetujuinya”
“ta..”
“atau bunda akan memasang 15 bodyguard untuk mu” aku terperangah tak percaya hal gila yang
paling aku hindari adalah di kelilingi pria-pria kaku itu. 1 orang saja sudah membuat ku jengah apa
lagi harus 15 orang, sebaiknya bunuh saja aku.

Aku akhirnya mengalah dan setuju dengan keputusan bunda, setidaknya aku tidak perlu dikelilingi
oleh orang-orang yang selalu mengawasi ku. “tapi aku tidak ingin ada satu orang pun yang me...”

“tidak, kau akan tetap memiliki satu orang untuk menjaga mu”

Aku melongoh tak percaya. “tapi bunda”

“aku tidak ingin kejadian 13 tahun lalu kembali terjadi atau jika kau ingin bunda mati saat itu juga”

“itu sudah lama bunda dan sekarang aku sudah dewasa”

Bunda menggeleng tegas yang membuat ku mengatupkan bibirku menahan amarah yang siap kapan
saja membludak. “Leo akan mengawasi mu dalam tahap aman.”

“lalu bunda?” tanya ku. Leo adalah asisten kepercayaan bunda yang merangkap sebagai bodyguard
bunda. “aku akan terima seorang wanita saja. Sebaiknya suruh leo mencarinya dan biarkan leo tetap
bersama bunda” saran ku akhirnya. Bunda menatap ku sejenak hingga akhirnya ia mengangguk
setuju.

“kau akan berangkat sore ini” aku melotot sempurna mendengar ucapan bunda yang sangat luar
biasa mengejutkan. Dan sebuah ide melintas di benak ku lalu saat itu pula menatap awas pada ku.

“seperti biasa aku akan mengajukan dua syarat” bunda tampak memberikan tatapan antisipasi untuk
ku yang ku balas dengan senyum lebar tanda jika kali ini aku akan memenangkan perdebatan kami.

“yang pertama aku akan bekerja dan bunda tidak bisa mendebatnya” ucap ku cepat sebelum bunda
mengeluarkan argumennya.

“yang kedua?”

Aku tersenyum licik. “aku akan tinggal sendiri di apartemen”

“WHAT” aku mengangguk yakin menjelaskan dari anggukan ku jika yang ku ucapkan itu adalah
sebuah kebenaran. “tidak, bunda tidak mengizinkannya” aku melotot gerah.

“Bunda tidak bisa menolaknya”

Bunda menggeleng tegas. “tidak, kau akan tetap tinggal bersama bunda. Dan bunda akan
memberikan penawaran lain”

“apa?”

“kau bunda izinkan menyetir sendiri. Bunda akan memberi mu izin mutlak untuk menyetir tanpa
supir dan pengawal mu hanya akan mengintaimu dalam jarak aman saja”
Aku mengangguk antusias dan melupakan ide lain untuk tinggal sendiri. Hal yang selama ini ku
inginkan adalah menyetir sendiri tanpa perlu di antar jemput seperti boca berusia 5 tahun. “tapi
kenapa aku harus tetap menggunakan bodiguard di saat aku berada jauh dari negara ini?” tanya ku
penasaran.

“hanya untuk berjaga-jaga” jawab bunda yang setelah itu pergi meninggalkan ku begitu saja.

Bunda adalah pemilik hotel brown. Salah satu hotel terbesar yang mungkin kini menjadi salah satu
hotel ternama di dunia, sejak kejadian itu bunda kembali pada keluarganya yang menetap di LA.
Yang aku sadari adalah ternyata bunda bukanlah gadis sembarangan dia memutuskan hijrah ke
indonesia saat itu karena dia mengikuti ibu kandungnya yang berkebangsaan indonesia. Kami di
terima dengan hangat dan aku ingat kakek ku sangat menerima ku dengan tangan terbuka. Dan
kakek ku adalah pendiri hotel ternama yang membuat banyak pesaing mencari informasi
keluarganya. Usiaku saat itu baru 8 tahun gadis kecil yang tidak memiliki seorangpun teman dan
menjadi target buly.

Aku ingat saat itu aku meninggalkan sekolah dengan keadaan sangat marah dan berantakan.
Beberapa pria berjas mengajakku dengan alasan mereka orang suruhan kakek yang sebenarnya
adalah orang suruhan pesaing kakek. Di mulai saat itu bunda tidak pernah membiarkan ku
berkeliaran tanpa pengawal. Dan penjagaan ku mulai berkurang saat aku masuk sekolah menengah
dengan berdebat panjang yang berakhir dengan aku mengunci diri di kamar selama seminggu
menolak siapa pun masuk ke kamar ku dan menolak untuk makan. Hingga akhirnya aku masuk
rumah sakit yang membuat bunda mengalah untuk mengurangi penjagaan.

Dan mulai saat itu aku di sembunyikan. Tak ada yang tau pertumbuhan ku, bunda juga membayar
mahal untuk semua berita kelam agar di hapus hingga tak ada satu orang pun bisa menemukannya.
Aku hanya menyaksikan kepergian bunda dari kamar dan tepat setelah pintu kamar tertutup aku
kembali membaringkan tubuh ku dan mulai menelisik jauh apa yang akan terjadi saat aku kembali
kenegara dimana hal terburuk pernah terjadi padaku.

Seminggu berlalu dari perdebatan ku dengan bunda kini hari keberangkatanku pun tiba. Hingga
semalam aku masih berusaha membujuk bunda agar membatal kan kepergian ku dan bunda masih
dengan keteguhannya yang membuatku menyetujuinya
“bunda akan menyusulmu saat pekerjaan bunda selesai dan kau tenang saja bik sumi sudah
menunggu mu di bandara” aku mengangguk malas merasa enggan untuk meninggalkan negara
dimana aku tumbuh dewasa. “Bunda juga sudah memasuki obat mu dan jangan terlambat untuk
meminumnya ka...”

“karena bunda tidak ingin saat menemui mu yang bunda dapatkan adalah mayat” ujar ku cepat
memotong ucapan bunda. “aku sudah tau bun. Aku tidak akan telat minum obat dan vitamin. Aku
juga akan mengirimi kabar ku setiap harinya pada bunda dan dokter anna.” Jelas ku kembali.
“seharusnya jangan biarkan aku pergi jika bunda sekhawatir ini” aku memeluk tubuh ibu ku erat
menyalurkan perasaan ku padanya. Ia mengelus lembut bahu ku sentuhan yang selalu mampu
menenangkan ku.

Aku kembali menoleh pada bunda sebelum benar-benar meninggalkan bunda dan memasuki
boeding pas. Aku membiarkan carla menyerahkan tiket ku membiarkannya mengambil alih
semuanya. Carla adalah penjaga baru ku ia benar-benar sama seperti leo sangat kaku dan
menyebalkan.
Carla menunggu ku tepat di ambang pintu pesawat sebelah aku masuk dengan sempurna ia pun
kembali sibuk mencari lokasi duduk kami. Ia bahkan mulai memeriksa setiap sudut tempat ku yang
membuat ku memutar bola mata ku dengan jengah. Tepat saat carl meyakini tempat ku aman aku
pun mencoba melirik kesetiap sudut untuk memastikan tidak seorangpun menyaksikan itu. Dan
disana seorang pria duduk dengan pandangan anehnya menatap ku membuat ku mengernyit.
“permisi” ucap ku saat melewati dirinya untuk mendekati kursi ku yang memang berada di
sampingnya tepat bersebelahan dengan jendela. Aku selalu menyukai posisi kursi yang berdekatan
dengan jendela membuat ku dapat melihat dunia luar.

Kiara menatap lirih bandara tempat saat dia melepas kepergian putri nya. Ini pertama kalinya ia
melepaskan gadis itu sendiri namun ia memiliki alasan kuat untuk semua itu. Alasan itu yang
membuatnya berani mengambil keputusan ini meski ia tau ia akan berada dalam keterpurukan saat
gadis itu pergi seperti saat ini. Ia hanya menatap senduh dan sesekali menghapus sudut matanya
yang berair.

Setelah kejadian kelam itu ia hanya bertahan hidup untuk putrinya. Ia melakukan semuanya meski ia
harus merangkak kembali pada keluarganya yang berada di LA. Ia mengabaikan harga dirinya dan
menjilat kembali ludahnya sendiri saat memutuskan tidak akan kembali pada ayahnya dulu. Ia ingat
ayahnya menatapnya senduh saat ia kembali membawa jeslyn saat itu yang membuat ayahnya
meluluh saat melihat putri kecilnya.

“kau sudah mengatur pertemuan kami kan, leo?” tanya kiara setelah ia merasa cukup baik.

“pertemuannya tepat saat kita tiba disana 20 menit lagi. Dan saya juga sudah menghubungi lauren
untuk menyiapkan semua berkas yang sudah saya cek untuk di letakkan di meja anda”

Kiara mengangguk paham. “bagus. Kalau begitu untuk 2 jam kedepan kosongkan semua jadwal saya
dan jangan ada yang mengganggu kami. Lalu kabari saya dimanapun pesawat je berhenti dan
usahakan untuk mencari kabarnya melalui bandara”

“baik nyonya”

Kiara memejamkan matanya menenangkan debaran jantungnya yang tak beraturan. Pertemuan saat
ini teramat penting untuk kelanjutan hidup putrinya. Sebuah perubahan yang tidak akan bisa ia buat
nanti.

Entah berapa lama ia terlelap yang pasti saat ia terbangun ia telah berada di parkiran khusus
miliknya dan ia berada sendiri di sana sedangkan leo berada di luar mobilnya tampak berjaga. Ia
membenahi rambutnya yang sedikit berantakan setelah merasa cukup ia keluar dan memberikan
senyum kecil untuk leo yang di tanggapi anggukan leo.

“dia sudah tiba?” tanya kiara sambil berjalan menuju lift khusus yang akan langsung mengantarnya
tepat di depan ruangannya.

Leo melihat ponselnya lalu menoleh pada kiara yang berada di belakangnya. “dia baru saja tiba”.

“antar makan siang dan teh untuk kami. Lalu seperti ucapan ku tadi jangan ganggu aku hingga dua
jam kedepan” leo mengangguk tepat suara dentingan lift yang menunjuk kan jika mereka telah
sampai di lantai 18 dimana ruangan kiara berada. “bawa dia masuk” ujar kiara kembali sebelum
memasuki ruangannya dan leo tampak berjalan menuju arah yang berbeda.
Lantai 18 memang di buat khusus untuk ruangan para pemimpin. Dulu lokasi ini di isi dengan
ruangan kiara dan ayahnya namun sejak ayahnya meninggal ia menempati ruangan itu sendiri. Saat
ini ia menggunakan ruangan ayahnya lalu ruangan lamanya ia gunakan untuk ruang istirahat berjaga-
jaga jika putrinya datang.
Kiara mengangkat kepalanya saat pintu ruangannya terbuka di sana seorang anak muda bersama leo
berada. Kiara beranjak dari duduknya melangkah untuk mendekati pria yang kini telah berada di
dekat sofa yang sengaja di buat di ruangan nya.

Pria itu membulatkan matanya saat mengenali siapa kiara dan sedetik kemudian matanya tampak
menyenduh kilatan masalalunya kembali bermain. “duduklah” ujar kiara lembut namun tegas. Pria
itu menurut dan memilih duduk di sofa panjang itu sedangkan kiara memilih sofa bedone yang
berada di sebelah sofa pria itu.

“bagaimana kabar mu?” tanya pria itu bergetar. Kiara hanya memberikan senyuman khas miliknya,
sebuah senyuman kaku yang selalu ia tunjukkan didepan karyawannya. Ia berhenti tersenyum untuk
orang lain sejak insiden itu dan ia hanya akan menjadi dirinya sendiri saat ia berhadapan dengan
jeslyn
Kiara meletakkan sebuah berkas yang sejak tadi ia pegang keatas meja. “lihat dan baca” ujar kiara
mengabaikan pertanyaan pria itu. Pria itu meraihnya dan mulai mengamati isi berkas itu sesekali ia
mengernyit dengan raut wajah bingung.

“aku tahu kondisi hotel mu dan aku sudah membaca berkas pengajuan mu” kiara memberikan jedah
untuk mihat raut pria itu. “dan aku setuju jika kalian menyetujui syarat ku juga. Semua persyaratan
ku ada di dalam berkas itu dan ku rasa itu cukup menguntungkan untuk kita berdua. Kalian bisa
tetap memegang hotel itu dan aku juga bisa merasa aman. Bagaimana azka aldrik salim?”

Azka mengangkat wajahnya untuk melihat raut datar kiara dengan tatapan sedih. Kiara dapat
melihat itu dan dia harus menekan perasaan manusiawinya untuk keamanan putrinya kelak. Ia rela
mesti harus menjadi orang yang sangat kejam dengan memanfaatkan kelemahan orang lain.

“dan kalian juga bisa berhenti mencari keberadaan ku dan putri ku” azka menegang di tempatnya
dan itupun tak lepas dari pengamatan kiara. “aku tau kau mencari kami dan aku telah
menyembunyikan semuanya dengan rapi. Dan maaf aku juga sudah lama memantau kalian bahkan
aku juga yang mengklaim kalian agar mendapatkan pinjaman maupun penyandang dana untuk hotel
kalian” jelas kiara yang semakin membuat azka membeku di tempatnya.

“apa semua ini karena per...”

“bukan” kiara mengerti apa yang akan di katakan oleh azka hingga ia memotong perkataan azka.
“pria itu hanya masalalu kelam yang telah ku hapus meski luka itu tidak akan pernah bisa di
sembuhkan. Aku memang sengaja melakukan hal ini agar kalian tidak memiliki pilihan lain selain
mengirim proposal pada ku”

Azka tak mampu melontarkan perasaannya saat mengingat seberapa hancur kehidupan wanita di
hadapannya bersama putrinya dulu karena perbuatan ayahnya dan bisa dibilang perbuatannya juga.
Ia masih ingat bagaimana tatapan kebencian dirinya dan adik nya dulu yang langsung menuduh jika
wanita itu adalah perusak keharmonisan keluarganya. Namun kebenaran yang ia dapatkan sehari
sebelum ibunya meninggal membuatnya menjadi orang paling kejam. Wanita di hadapannya dan
putrinya adalah korban ayahnya yang kejam.
“kau tak perlu melakukan hal ini jika untuk menjaga putri mu. Karena kau tau jika dia juga adik ku,
aku akan menjaganya sama seperti denaya”

Kiara menggeleng dengan senyuman kecil. “dia akan menolak hal ini. Kalian tidak permah ada
[Link] hidupnya sejak kejadian itu. Bahkan ia telah menghapus rupa ayahnya sendiri, sejak
saat itu semua mati untuk nya”. Kiara tersenyum getir setiap mengingat je yang selalu mengatakan
jika ayahnya telah mati setiap kali orang bertanya padanya.

“aku melakukan ini karena aku sangat mengenal putri ku dari siapapun. Dia lebih memilih mati
daripada harus mengakuin kalian sebagai keluarganya” jelas kiara kembali. Namun setelah itu kiara
tersenyum hangat membuat azka mengerut bingung. “tapi dia adalah gadis yang sangat baik di balik
kekerasan hati dan kepalanya” ujar kiara tampak berpikir jauh mengingat semua kelakuan putrinya.

“aku akan menjelaskan semuanya kembali jika kau sudah menyetujui...”

“aku setuju, Nyonya” ucap azka yakin yang membuat kiara menyelediki wajahnya “aku memang
membutuhkan menyandang dana hotel. Tapi di balik semua ini aku jauh lebih ingin dekat dengan je,
mencoba memperbaiki semuanya dengan kesempatan yang kau berikan. Aku tidak akan biisa
menolaknya”

“lalu bagaimana dengan adik dan ayahmu”

“aku mencari kalian selain untuk diriku sendiri ini juga pesan mama sebelum dia meninggal. Denaya
juga ikut dalam pencarian ini” jelas azka. “dan papa, aku rasa ini adalah hukuman untuk
perbuatannya dan ku rasa anda juga tahu kondisi papa yang sakit. Dia melakukan perawatan intems
yang membuatnya tidak bisa bekerja lagi da...”

“cukup” sela kiara merasa tak kuat untuk mendengarkan semua kisah pria yang telah
menghancurkan kehidupannya. “Aku tidak tertarik dengan keadaannya. Jika kau sudah menanda
tangani berkas itu kita akan lanjutkan setelah makan siang”

Kiara mendekati meja kerjanya lalu memencet tombil 1 pada telpon di ruangan itu. “leo bawa masuk
makan siang kami dan kau bisa pergi untuk makan siang. Aku akan menghubungimu jika
memerlukan bantuan” kiara menutup kembali panggilannya lalu melangkah mendekati azka yang
berada di sofa.
Leo masuk dengan dua bungkus makanan pesanan kiara setelah meletakkan kedua bungkus
makanan itu pria kaku itu kembali meninggalkan kiara dan azka. Kiara tau ada begitu banyak
pertanyan di benak azka dan anak muda itu merasa sangat sungkan untuk bertanya dengannya.

“izinkan aku menanyakan sesuatu” kiara mengangguk sambil menyiapkan makan siang mereka.
“kenapa kau ingin aku dan denaya menjaga jeslyn sedangkan kau ada?” kiara tersenyum dia sudah
menebak pertanyaan ini.

Kiara kembali meraih map lain yang sejak tadi ada di depnnya. Leo maraihnya wajahnya berubah
pias saat membaca isi map itu. “leokimia yang menggrogoti tubuh ku membuat aku harus melakukan
hal ini. Aku ingin dia tidak sendirian saat aku pergi. Aku tau ini sangat egois tapi untuk seorang ibu ini
adalah tindakan keharusan. Menjamin putrinya dalam pengawasan orang yang tepat adalah hal yang
harus di lakukan seorang ibu” Kiara menarik kuat nafas nya lalu mengeluarkannya kembali dengan
kasar. “aku harus memastikan putri ku aman. Itu sebabnya aku sudah memantau mu sejak lama
karena aku tau hanya kalian saudaranya nanti. Dan sepertinya aku tidak salah memilih mu”
“apa maksud mu dengan dia aman?”

“je pernah di culik saat usianya 10 tahun. Dia hampir mati saat itu andai polisi terlambat untuk
datang. Setelah kejadian itu dia melakukan perawatan panjang untuk kejiawaannya dan
kesehatannya” kiara memberi jedah dallam ucapannya untuk melihat reaksi azka yang bergetar.
“anak berusia 10 tahun harus melihat pembunuhan selama dia di culik oleh orang suruhan saingan
hotel kami. Kau tau sendiri bagaimana mentalnya, kami tiba di sana yang hanya menyisahkan je
sendiri dengan mayat anak seusiany bergeletakan. Sejak saat itu aku menyembunyikan semua
identitas je meski harus membayar mahal. Satu hal yang hingga saat ini tidak kami ketahui adalah hal
apa yang terjadi di dalam ruangan itu selama mereka di sekap”

“apa maksudmu?” tanya azka bingung.

“je depresi berat saat itu dan selalu memberikan tatapan kebencian. Hingga suatu malam dia
mendekati ku berbisik. “bunda aku tidak pernah ingin di lahirkan jika saja aku memiliki ayah seperti
pria yang telah membuang kita. Aku sangat membencinya”. Saat itu aku sadar ada yang mencari
masalalu ku dan mencoba mempengaruhi je. Aku dan ayah ku akhirnya memilih membuat je
melupakan semua kejadian itu. Mengubur semua ingatan milik je mengenai kejadian itu, hingga
akhirnya kasus selesai tanpa bisa memenjarakan dalang kejadian itu. Untuk ku selama je hidup aku
tidak mengharapkan apapun”

“kalau begitu kau harus sembuh”

Sekali lagi kiara tersenyum hangat. “aku sudah berusaha bahkan aku melakukan perawatan di
belanda dan hasilnya sangat kecil kemungkinan. Itu lah aku sadar jika je harus mengenal kalian”

Azka menunduk dengan pilu dan kiara tau apa yang di pikirkan azka. “dekati dia secara berlahan. Dia
memang keras kepala tapi dia bukan gadis yang menolak kasih sayang. Aku tau putri ku dengan baik
dan di balik rasa kebenciannya dia merindukan ayah dan saudaranya”.

“bagaimana caranya aku bisa dekat dengannya?”

“dia akan bekerja di hotel kalian buat dia dekat dengan mu dan denaya. Mulai dengan menjadi
temannya, dan jangan pernah beritahu dia mengenai ini termasuk penyakitku”

“kenapa. Bukankah dia harus tau?”

“aku yang akan memberitahukannya sendiri” jelas kiara tegas. “saat ini kau hanya harus fokus untuk
mendekatinya”

Azka mengangguk setuju namun matanya menunjukkan perasaan penyesalaan dan kemarahan
mendengar semua cerita kiara mengenai masalalu mereka. Apa yang terjadi oleh je adalah sebuah
kejadian yang membuatnya ingin membunuh para otak-otak dalam kejadian itu.

Ruangan itu tampak tenang selama mereka melangsungkan makan siang. Tidak kiara maupun azka
yang berniat membuka suara. Azka yang terlalu larut dalam pikirannya mengenai masa lalu kiara dan
kiara yang terlalu memikirkan je kedepannya tanpa dirinya.

Kiara meraih map yang telah di tanda tangani azka dan mulai memeriksa semua isi map itu kembali.
Ia tersenyum bahagia saat membaca bait kata di mana je akan menjadi pemegang saham 55% untuk
hotel Salim. Ia tau ia kejam namun ia akan melakukan segalanya untuk je nya., untuk putrinya yang
sudah terlalu lama menderita karena dirinya dan ayahnya. Kini meski ia akan meninggalkan gadis itu
ia akan jauh lebih tenang. Selain gadis itu tidak akan kekurangan materi ia juga akan ada dalam
perlindungan yang tepat.

Leo memasuki ruangan kiara setelah ketukan tiga kali dan matanya bertemu langsung dengan mata
kiara yang menatapnya dalam. Kiara mengerutkan keningnya saat melihat sorot penyesalan leo
namun ia mmasih memilih bungka menunggu apa yang akan pria itu katakan selanjutnya. Sama
seperti kiara, azka pun menunggu kabar apa yang akan di sampaikan oleh leo dengan raut yang
sedikit tegang.
“nona muda je” leo meneguk air liurnya dengan sangat berat saat sorot mata kiara semakin
menajam begitu ia menyebutkan nama putri wanita itu. “dia di tahan oleh keamanan inggris karena
sebuah perkelahian selama di pesawat” jelas leo yang membuat kiara seketika memijat keningnya.

“aku sudah menghubungi pihak perusahaan kita di inggris dan meminta pengacara menyelesaikan
ini” kiara mengangguk dengan penjelasan leo. “tapi nona muda je terlalu sulit untuk di hadapi
mereka”

“je tidak apa-apa kan?” tanya kiara dan leo mengangguk. “coba sambungkan aku padanya” ujar kiara
kembali yang langsung di kerjakan oleh leo. “kau lihatkan kita baru menghabiskan waktu 3 jam dan
dia sudah membuat ulah” jelas kiara pada azka yang masih tampak terperangah di tempatnya.

“dia aman bersama carla, nyonya” jawab leo tegas dan yakin.

Jeslyn prov

Aku baru sejenak menutup mata ku lalu kembali terbuka saat pria yang duduk di sebelah ku
mencolek lengan ku. Aku menoleh padanya dengan amarah yaang meluap sedangkan dia hanya
melirik ku sekilas dengan tatapan yang sama sekali tidak ku ketahui. Tapi hei..ini pertama kali aku
bertemu dengannya dan apa masalah nya dengan ku sehingga dia mencolek ku.

“apa yang barusan kau lakukan?” tanya ku sengit dan dia hanya melempar senyuman kecil yang
entah kenapa membuat ku marah. Carla tampak akan berdiri namun aku menggeleng kecil
menyuruhnya untuk tidak ikut campur. “bukan kah seharus nya kau mengatakan maaf seelah
mencolek ku?” tanya ku kembali.

Dia menunjukkan senyuman culas lalu menatap ku kembali. “aku tidak melakukannya. Kau jangan
mengarang”

Aku melotot saat ia mengatakan hal itu dengan ringannya dan tanpa berpikir panjang aku menarik
rambutnya dengan kuat menulikan telinga ku dengan rintihannya. “akhhh....dasar gadis bar-bar..
lepaskan rambut ku.. awww ini sangat menyakitkan”.

Carla mencoba melepaskan ku namun itu tidak akan berguna untuk ku. Pria di hadapan ku ini harus
tau siapa yang coba dia lawan. Para pramugari tampak mendekati ku dan membantu carla untuk
melepaskan tarikan ku pada rambut pria itu. Hingga akhirnya tarikan itu terlepas dan aku yang di
bawa menjauhi pria itu.

“dasar pria mesum aku akan melaporkan mu saat kita transit. Kau tidak akan kubiarkan lolos sialan”
umpat ku yang membuat perhatian seluruh orang di dalam pesawat menonton ku dan pria itu. Aku
juga melihat raut pucat pria itu saat umpatan ku yang terus meneriakinya. “lepaskan aku” ujar ku
kasar. “carla aku ingin buaat laporan ini saat kita transit nanti”
“aku juga akan melaporkan mu dengan tuduhan pencemaran nama baik” balasnya yang membuat
ku hanya melemparkan senyuman sinis.

“kita liat saja. Dasar pria tak bermoral, pria mesum yang suka menyentuh sembarangan. Kau tidak
akan bisa lolos dari ku. Kau lihat saja nanti, sialan”

Tepat dua jam kemudian kami tarnsit di inggris dan aku langsung menarik carla untuk mengikuti ku
menuju tempat pengaduan. Dan sialnya pria itu telah berada di sana lebih dulu dari ku.
“bagus sekali kau suda disini” ujarnya sengit membuat ku menggeram. “dia gadis yang menyerang ku
dan aku ingin dia di hukum” aku melebarkan mata ku terkejut namun aku tidak akan pernah kalah.
Apa lagi aku benar dan dia yang salah.

“aku juga akan melaporkannya. Dia melecehkan ku menyentuh dada ku, aku ingin pria mesum ini
juga di hukum” ujar ku tak kala sengit dan menata pria itu dengan tajam.

Aku tidak akan pernah mau mengalah apapun itu. Aku benar-benar akan membuat pria di depan ku
ini di hukum karena kemesumannya dan dia juga harus meminta maaf pada ku karena dirinya aky
terpaksa harus menunda keberangkatan ku dan belum lagi bunda pasti akan segera menghubungi
ku.
“aku tidak akan melepaskan mu” desisnya geram.

“aku juga tidak akan melepaskan mu” kami tidak ada yang ingin berdamai dan dapat ku lihat polisi di
hadapan ku yang memijat keningnya dengan kasar. Aku mendengar derap langkah seorang pria
berstelan lengkap menghampiri pria itu lalu mereka berdua melangkah menjauh membahas sesuatu.
Aku bisa menduka aku lah bahasan mereka saat ini sebab pria itu terus melirik ku kasar.

“telpon dari nyonya, nona je”

Aku menerima telpon itu lalu melirik carla sengit. “sudah ku bilang panggil aku je, carla” gadis
didepan ku mengangguk kaku mendengar desisan geram ku.

“ini belum ada 24 jam je dan kau sudah mendapatkan musuh”

Aku mendesah mendenggar grutuan bunda. “dia yang salah bun. Dia menyentuh dada ku, itu sudah
melecehkan ku”

“mungkin dia tidak sadar je. Kau tau sendiri siapapun bisa mengantuk dan tak sadar melakukannya”

“dia tidak mengantuk je lihat dia sadar. Je tidak akan kemanapun sebelum dia di hukum” aku
memutuskan sambungan telpon ku tang berkenan mendengarkan ocehan bunda lagi. Apapun itu
lelaki itu harus di hukum.

Aku berbalik saat sentuhan di pundak ku dan mendapati pria paruh baya bersama carla di sana. “ini
pengacara kiriman perusahaan”

Dia mengulur kan tangannya dan ku sambut dengan cepat. Secara berlahan aku menjelaskan
semuanya pada pria itu dan saat dia mengerti dia tersenyum lalu membawa ku mendekati polisi
yang tadi bertugas mengurus laporan ku. Sedangkan pria itu kini tampak mulai mendekat.
“selamat siang saya pengacara nona Jeslyn maisah brown.” Aku melirik polisi di hadapan ku tanpak
terkejut sama seperti pria yang ada di sebrang ku. “aku ingin menyelesaikan masalah ini mengenai
tuntutan klienku dan tuntutan pihak lawan”

“aku menarik tuntutan ku” secepat kilat aku memutar kepla untuk mihat raut pria itu. Dan aku yakin
dia serius sama seperti ku pengacaranya juga tampak terkejut dengan penuturan tiba-tiba pria itu.
Eku mengernyit curiga padanya mencoba mencari tahu sesuatu dari wajah pria itu. Sebab dia tadi
sangat berusaha keras untuk menghukum ku dan kini dia secara mendadak ingin menariknya. Apa
rencananya sebenarnya?.

“sebenarnya ini sangat mudah di selesaikan” ujar polisi itu ramah. “jika kedua belh pihak saling
berdamai semua terpecahkan” lanjutnya yang membuat ku merengut.

Jack yang merupakan pengacara ku tampak menoleh pada ku menunggu keputusan ku. “aku akan
berdamai jika dia memohon maaf pada ku. Karena dia sudah melecehkan ku da....”

“aku minta maaf. Aku rasa saat aku mengantuk tadi tanpa sadar aku menyentuh mu. Ku mohon
maaf kan aku”.

Aku mengangguk lalu menjabat tangan pria itu dengan sungkan. “kami sudah memesan tiket
keberangkatan anda. Dan 15 menit lagi anda sudah bisa menuju pesawat” aku melepaskan jabatan
tangan ku lalu menoleh pada jack yang memberitahukan mengenai penerbangan ku.

“apa kau putri dari pemilik perusahaan brown?” aku mengernyit mendengar pertanyaan pria di
hadapan ku ini. Sekali lagi aku menelisik curiga mencari tahu sesuatu di wajah pria itu yang mungkin
bisa ku jadikan alasan untuk mencurigainya.

Namun aku tidak menemukan apapun. Dia terlihat biasa saja dan tampak penasaran akhirnya aku
mengangguk hal pertama kali yang kulakukan selama ini membenarkan identitas ku pada orang
asing. Kini aku menemukan raut wajah legah dan sorot mata yang teduh dari pria itu membuat ku
semakin penasaran padanya.

“ayo kita pergi” aku kembali menoleh pada carla lalu mengangguk dan melangkah meninggalkan pria
itu. Sebelum aku benar-benar menjauh aku kembali menoleh kebelakang untuk melihat pria itu dan
ia tampak berbisik “THANK YOU” yang membuat aku semakin mengernyit bingung.

“carla cari tau siapa pria tadi”

“dia Aland bard wilson, pemilik perusahaan wilson dan pemilik keamanan nomor 1 di Amrik.. tapi
ada appa kau menanyakannya?” aku mengangguk mengerti lalu memberikan senyuman lembut
pada carla yang tampak biasa saja.

“apa dia bekerja sama dengan perusahaan bunda? Atau apa dia pernah menerima bantuan bunda?”
tanya ku kembali.

Carla [Link] keras lalu membuka tabletnya. “tidak, perusahaan tidak pernah bekerja sama
dengan mereka dan tidak pernah bertemu dengan nyonya”

“kau tau dari mana?” tanya ku malas..

“leo memberitahukan ku”


“ah.... ternyata leo si wajah kaku itu”.

Aku tiba tepat tengah malam di indonesia dan saat itu pulah luka itu kembali terbuka. Kenangan
menyakitkan itu kembali bermain di ingatan. Bagai mana bunda yang membawa ku pergi dari negara
ini dengan raut wajah yang menyedihkan. Aku benar-benar tidak bisa melupakan semua itu, tidak
sedikitpun ada yang aku lupakan kejadian waktu itu.

“nona je” aku berbalik dan menemukan wanita pruh baya yang teramat sangat banyak membantu
ku dan bunda. Dia kembali ke indonesia 3 tahun yang lalu. Satu-satunya seseorang yang selalu
membuat ku mengingat indonesia.

“ini sudah larut malam kenapa bibik datang menjemput. Seharusnya bibik suruh supir aja atau kirim
alamat lengkap rumah biar kami naik taksi saja” grutu ku pada bik sumi sambil berjalan beriringan
bersamanya. Dia tersenyum lalu mengelus lembut punggung tangan ku yang membuat ku ikut
membalas senyumnya.

“ini pertama kalinya neng datang lagi ke indonesia mana mungkin bibik tidak menjemput” ujarnya
masih dengan senyuman khasnya yang selalu tulus. “lagian nyonya bisa ngomel kalau tau bibik gak
jemput neng.” Aku memutar mata ku mengingat bunda yang sudah jelas terus-terusan menghubungi
bik sumi.

2 jam berlalu perjalanan dari bandara ke rumah. Aku tertegun sesaat melihat rumah yang sudah
sangat lama tidak ku lihat ini. Sebuah rumah yang sederhana yang memiliki halaman luas. Aku ingat
dulu alasan bunda memilih halaman luas dengan rumah yang sederhana. Agar ia bisa menanami
bunga di sana dan menajdi tempat aku bermain kelak. Aku menoleh ke kiri ki dan mendapati pondok
sederhana yang di bangun dulu. Dan semua itu bunda buat hanya untuk ku, agar aku bisa mbelajar
dengan tenang dengan suasana alam yang segar.

Sebuah usapan lembut menyadarkan ku dari lamunan masalalu ku mengenai rumah ini. Di depan ku
bik sumi tersenyum hangat sambil membimbing ku untuk mengikutinya. Ia terus membawa ku
masuk menuju kamar ku yang berada di lantai dua. Dan selama langkah ku menuju kamar aku
kembali menelisik isi rumah yang masih sama seperti dulu. Aroma terapi yang sangat di sukai bunxa
dan tatanan prabot yang masih sama. Aku ingat semua susunan isi rumah ini karena terlalu sulit
melupakan rumah ini. Aku bersyukur rumah ini tidak memiliki kenangan tentang pria itu, karena pria
itu yang lebih memilih tinggal di sebuah apartemen ketimbang rumah peninggalan ibu bunda ini.

“masih sama seperti yang dulu” ujar ku pelan.

“non jiya masi ingat?” tanya bik sumi. “gak ada yang di rubah sedikit pun. Karena ibuk gak kasih ijin
dia gak mau kehilangan kenangan masa kecip non di sini. Yang di benerin Cuma atap nya aja biar gak
bocor karena mulai lapuk” jelas bi sumi.

Aku mengangguk mengerti dan itu memang bunda sekali. Jangankan rumah di sini yang di LA aja
sama sekali tidak ada perubahan sejak kami datang ke sana. Bunda selalu membuat suasana tetap
seperti awal dia tidak suka perubahan.

“bibik udah beresin kamar non jiya. Non istirahat aja besok baru keliling rumah”

“andai bibik tidak berada disini, ku rasa tidak akan ada lagi yang bisa ku ingat dari negara ini” ujar ku
dengan pandangan lurus mengarah lantai dua. Aku menoleh pada bibik dan Kembali tersenyum.
“aku akan istirahat dan ku harap bibik juga istirahat” aku meninggalkan bibik setelah dia
mengangguk dengan sorot mata luka yang sangat jelas.

Aku terlonjak saat membuka mata dan menemukan bibik berdiri tepat di hadapan ku dengan
menjulurkan sebuah ponsel. Aku menyentuh dada ku dan menghembuskan nafas berlahan “bibi aku
bisa mati dengan cepat jika bibi seperti ini di depan ku” ujar ku sedikit menggrutu.

Wanita paruh baya itu terkekeh geli, ia kemudian berjalan mendekati ku lalu menyerahkan
ponselnya yang tampak masih terhubung dengan sosok Wanita yang merupakan ibu ku. “maaf,
sebenarnya tadi bibi baru akan mendekati mu namun bibi terlalu asik memandangi wajah non yang
semkin cantik” jelasnya, aku meraih ponsel itu yang di balas bibik dengan senyuman ibunya. “bibi
akan kebawa menyiapkan sarapan, non je silahkan berbicara dengan nyonya. Beliau sudah lama
menghubungi bibik karena ingin berbicara dengan non”

Aku mengangguk menyetujuin sambal terus memandangi pungging rentan itu meninggalkan kamar
ku. Ku Tarik sekali lagi nafas lalu melepaskannya Kembali baru mulai meletakkan ponsel tersebut di
telinga ku.

“hallo bunda. Iya, je baru bangun dan sebentar lagi akan sarapan. Bunda bisa menyuruh Carla yang
mengantarnya kan?. Ah…baiklah, lusa akan je antar. Kenapa je harus menemui wakilnya berkas itu
bisa saja je berikan pada satpam kan? Mereka tidak akan membuangnya. Ok, baiklah bunda and
please call him to wait for me not me waiting for them. Bye, love you too”

Jeslyn End

Aland memasuki ruangan nya dan menemukan Roy yang merupakan orang suruhan yang sangat ia
percayai. Ia duduk di kursinya lalu menerima sebuah map coklat yang di serahkan oleh roy, ia mulai
membaca setiap informasi yang tertulis di dalam nya.

“dia akan menetap di sini?” tanya aland mengernyit curiga. “dan masih menjadi warga negara
asing?” tanyanya Kembali. “duduk dan jelaskan” perintahnya kemudian.

“semua informasi ini saya dapatkan dari orang terpercaya dan dia akan mulai bekerja di hotel
keluarga salim”

“What?”

“Keluarga Brown pemilik saham tertinggi. Kabar yang saya dapatkan, Nyonya Brown membeli 50%
saham hotel salim dan menyelamatkan hotel itu dari kebangkrutan. Dan saat ini Azka baru akan
berangkat Kembali ke tanah air setelah menemui Nyonya Brown”

Aland mengangguk mengerti “ok, terima kasih atas informamsi ini. Kau bisa lanjtkan pekerjaan mu”

Roy baru akan meninggalkan ruangan aland dan membiarkan pria itu Kembali bermain dengan
pikirannya sendiri namun ia urung karena rasa penasarannya untuk pria itu. Ia tidak pernah meminta
siapapun mencari informasi orang lain selain klien mereka. “boleh ku tau kenapa kau ingin tau
semua informasi gadis itu?”

Aland menatap tajam roy, tatapan yang cukup mampu mematikan orang-orang yang melawannya
namun tidak berlaku untuk roy. “dia orang yang menyelamatkan stevani saat penculikan di New
York”
“WHAT?” aland menatap iba pada pria itu yang tampak Kembali murung. “aku akan terus
mengawasinya” lanjut roy serak.

“aku tau tujuan mu yang ingin mengawasinya, tapi ku harap kau memiliki Batasan mu. Dia tidak
mengingat apapun kejadian itu seperti yang kau informasikan keuarganya membuat dia melupakan
semuanya karena Kesehatan gadis itu”

“tapi dia akan tetap membawa kita pada mereka yang te…”

Alan mengangkat tangannya menandakan roy harus menghentikan kata-katanya. “aku tau kau
belum bisa melupakan stevani tapi kita tidak bisa menyalahkan dia untuk perginya adik ku yang
memilih jalan buntu. Kita tidak bisa melupakan jika gadis itu lah yang menyelamatkan vani dan
mengorbankan dirinya sendiri. Andai sat itu vani tidak di selamatkan mungkin dia mati di sana”

“aku tidak akan menyakitinya, aku hanya ingin mengawasinya agar saat orang-orang itu Kembali
akulah yang akan menghab…”

“jangan lupakan jika vani adalah adik ku. Jika kau hanya kekasihnya maka aku adalah ikatan
darahnya, dan aku akan melakukan apapun untuk orang-orang yang telah membuatnya pergi seperti
itu. Tapi di akhir hidup vani ia selalu menyuruh ku untuk menemukan gadis itu dan melindunginya.
Dan saat aku sudah menemukannya maka tidak akan ku biarkan siapapun melukainya atau
menekannya”

“maaf, aku benar-benar hanya ingin mengawasinya dari jarak yang aman”

“kau bisa pergi dan lakukan pekerjaan mu, kita akan membahas hal ini lagi nanti”

“sebelum aku pergi boleh ku tau apa rencana mu?”

Aland tersenyum kecil. “aku berteman baik dengan azka dan aku akan mulai dengan mereka untuk
mendapatkan jarak yang aman mendekati gadis itu” roy mengangguk mengerti ia pun memilih
meninggalkan ruangan aland setelah memahami rencana atasan nya tersebut.

“aku akan menjaganya sesuai janji ku pada mu van” bisik aland sambil memandangi foto dirinya
Bersama dengan adik perempuannya terebut.

Jeslyn menuruni mobilnya lalu memandangi hotel yang menjadi tujuan atau lebih tepatnya tujuan
yang di perintahkan oleh ibunya. Ia menghela nafas sebelum akhirnya memutuskan untuk memasuki
hotel tersebut. Gadis itu mengernyit saat mendapati tatapan seluruh karyawan hotel utuknya.

“selamat pagi ada yang bisa saya bantu?” tanya salah seorang satpam, nadanya terdengar lembut
namun tidak dengan tatapannya yang mencemooh.

“kenalkan aku jeslyn” saut je lembut mencoba menekan rasa amarahnya. “aku memiliki janji dengan
wakil CEO, untuk menyerahkan sebuah berkas ini” lanjutnya sambal menunjukkan sebuah berkas
yang sejak tadi ia genggam.

“maaf sebelumnya, apa anda sudah membuat janji?”

Je menggeleng berlahan. “bisa pertemukan saja saya dengan receptionosnya”


“maaf sebelumnya jika anda belum membuat janji sebaiknay kembali kesini setelah membuat janji”

“lalu bagaiaman jika saya ingin mengambil kamar di sini?” ujar je mulai merasa kesal. “apa saya
harus emmesan terlebih dahulu baru bisa ke receptionis?” tanya je sedikit meninggikan suaranya.

Je meninggalkan security tersebut dan memasuki hotel dengan raut penuh kemarahan. Ia baru akan
mendekati receptionis saat salah satu petugas hotel lebih dulu mendekatinya. Sama seperti
sebelumnya tatapan tak ramah ia dapatkan dan bahkan kali ini terlihat elbih jelas.

“maaf sebelumnya apa ada yang bisa saya bantu?” tanya pria itu.

“aku ingin bertemu dnegan wakil CEO disini untuk menyerahkan berka…”

“bukan kah tadi security kami sudah mengatakan jika kau harus memiliki janji lebih dulu. Atau jika
kau tidak membuat janji setidaknya berpenampilan lah layaknya seseorang yang akan bertemu
dengan pimpinan. Kau seharusnya melihat dirimu yang tidak layak untuk bertemu dengan mereka.
Dan jika kau membutuhkan pekerjaan lakukan sesuai prosedur”

Pria itu memanggil satpam dengan lirikan sinisnya. “bawa gadis ini keluar dari sini dan jangan
biarkan dia masuk lagi, melihatnya saja sudah membuat para tamu terganggu” jeslyn mengedarkan
pandangannya melihat semua orang emnatapnya dengan cemooh.

Ia mengangkat tangannya menahan para satpam yang mencoba menariknya. Ia tersenyum sinis
pada karyawan hotel yang masih menatapnya dengan sinis. “jangan menyentuh ku dengan tangan
kotor mu, aku bisa keluar dari sini namun kalian ingat pesan ku. Kita akan segera bertemu namun
dengan keadaan yang berbeda” jeslyn meninggalkan hotel itu untuk, melangkah penuh emosi
menuju mobilnya yang ia parkir tepat di sebrang hotel.

Gadis itu menarik nafas nya lalu menghembuskannya kembali, mencoba menenangkan dirinya
snediri. Saat ia merasa cukup tenang ia mulai membuka map coklat itu, ia membacanya dengan
seksama. Dan sebuah senyum kekejian terpancar di bibirnya saat ia mengetahui isi map itu.

“hallo, Carla hubungi pihak hotel katakan aku mau bertemu detik ini juga dan tolong bawa pakaian
ku sekarang dan gunakan mobil paling mahal milik bunda, sekarang juga. Ya, aku berada tepat di
depan hotel. Ok, thank you”

Jeslyn kemudian menghubungi ibunya untuk memastian sesuatu. “hallo, bunda. Bunda hanya perlu
menjawab ku saja. Apa bunda berencana mempekerjakan ku di hotel yang ini?. Jika aku setuju apa
aku memiliki hak untuk merombak semuanya?, no questions,bunda. Kali ini bunda hanya perlu
menjawab tanpa memberikan pertanyaan. Ok, jika aku memiliki hak itu aku akan bekerja disana dan
aku akan mengirimkan rencana kerja ku kedepan. I love you”

Hotel tampak sepi dan terlihat pula seluruh karyawan yang berjejer di depan pintu masuk hotel. Dan
disana terlihat para petinggi yang ikut berdiri menanti kehadiran gadis yang menjadi utusan pemilik
saham tertinggi disana.

Je keluar dengan penampilan yang berwibawah sangat berbeda dengan beberapa saat lalu, dan
terlihat pula keterkejutan beberapa orang yang melihat je. Gadis itu berhenti di ambang pintu saat
yang lainnya membungkuk memberikan salam dan hormat.
“Langkah awal yang akan ku lakukan adalah pemberhentian kerja karyawan yang sama sekali tak
layak berada di sini. Carla tolong catat, dan untuk semua kita akan kumpul di dalam dan ku harap
seluruh karyawan berada di aula sekarang juga”

“siap, nona” je melirik sinis pada Carla yang kini tampak gugup.

Je melangkah meninggalkan tempat itu menuju lokasi yang ia maksud. Ia tak dapat melihat tatapan
penuh haru milik denaya dan azka yang sejak tadi hanya memandang gadis itu penuh rindu dan
penuh dengan penyesalan.

“je, kenalkan ini..”

“hai aku azka aldric salim” azka dengan cepat memotong ucapan Carla memperkenalkan dirinya
sendiri.

Je mengernyit “Salim?” ulang je tampak berfikir keras merasa sangat tidak asing dnegan nama
keluarga itu. Namun ia dengan cepat menepis rasa ingin tahunya tersebut saat ia merasakan sakit
kepala mencoba mengingat nama itu.

“Denaya eart salim” lanjut denaya yang sejak tadi tidak mengalihkan pandangannya dari jeslyn. “apa
aku boleh memeluk mu?” tanya dena bergetar. Azka mencoba menahan dena namun terhenti saat
melihat je mengangguk setuju.

“aku mengizinkan mu karena kau tampak sedih” ujarnya lembut, hal itu membuat dena semakin
memeluknya dengan erat.

“thank you, je” balas dena penuh syukur.

“aku akan pada intinya, kalian semua tau apa yang ku terima saat tadi aku tiba hanya menggunakan
pakaian biasa dan tampak tak memiliki uang. Seluruh karyawan menatap ku dengan cemooh dan
beberapa lalu aku masuk dengan penampilan bak pemilik hotel semua menunduk penuh rasa
hormat dan tampak memuakkan di mata ku”

Jeslyn memberi jedah pada kata-katanya untuk melihat semua orang yang berada di dalam aula.
“dengan ini aku akan melakuakn evaluasi dan menujukkan sikap seorang karyawan hotel pada tamu,
siapapun tamu itu kau harus memiliki etika. Kalian tau apa yang membuat hotel ini jatuh itu karena
cara kalian melayani tamu tak layak”

Je kemudian melirik pada Carla dan tampak Carla mengerti dengan maksut gadis itu. Semua mata
menuju pada layar yang menampilkan bagaimana buruknya jamuan di hotel dan kebersihan yang
sangat buruk.

Carla juga menyerahkan berkas-berkas pada seluruh petinggi yang berisikan daftar karyawan yang
akan di pecat saat itu juga.

“kalian bisa melihat nama-nama yang di berhentikan secara tidak hormat di bulletin hotel. Dengan
rasa penyesalan aku harus memecat kalian karena kinerja kalian yang buruk, dan aku tidak akan
memberikan toleransi pada orang-orang yang mempekerjakan karyawann dikarenakan relasi atau
saudara.”
“bukankah kau harus mengadakan rapat jika ingin melakukan hal itu?” ujar salah satu petinggi
dengan emosi.

Je menoleh menatap keji pada pria itu. “apa kau Tuan Broto? Kau terlihat sangat marah apa karena
nama mu ada di daftar tersebut?. Aku akan memberikan kalian alasan untuk pemecatan ini” jelas je
dengan tegas tak terbantahkan.

“30% karyawan masuk kesini karena relasi dan sogokan yang tinggi, di sini tertera juga gaji yang tak
layak menurut ku jika melihat pemasokan hotel. Aku juga menemukan penggelapan dana yang
membuat hotel semakin merosot dan buruk di mata masyarakat. Lalu apa menurut kalian aku harus
mengadakan rapat untuk pemecatan ini?”

Je menoleh pada seluruh petinggi yang tampak mulai gelisah. Ia kemudian tersenyum lebar dan
mengerikan. “dan aku telah mendapatkan titah dari pemilik saham tertinggi di sini untuk mengambil
keputusan sesuai fakta di lapangan. Maka untuk seluruh orang mendapatkan email sebagai surat
pemecatan ku harap tinggalkan tempat ini detik ini juga. Terima kasih”

Gadis itu menuruni podium ia melangkah lalu berhenti tepat di hadapann azka dan denaya. “ku rasa
kita bertiga harus segera rapat, ayo bawa aku keruangan mu, pak azka”

Azka mengangguk ia melangkah lebih dulu lalu di ikuti oleh denaya dan kemudian jeslyn sendiri.
Namun Langkah mereka terhenti saat ponsel jeslyn berdering.

“hallo, bunda. No. I've done research. Aku tidak melakukan keputusan bodoh dan aku sudah
menyuruh Carla mengirimkan file bunda baca lalu boleh menghubungi ku. No way, aku tidak akan
bekerja jika bunda berani mencampuri semuanya.”

“maaf kalian mendengar ini, tapi tidak akan ada yang bisa merubah keputusan ku meski itu ibu ku
sendiri” ujar je kesal.

Azka tersenyum kecil melihat ketegasan jeslyn yang terlihat sangat mirip dengan ibunya dan oh
jangan lupakan tatapan tegas itu yang terlihat sama persis seperti ayah mereka. “apa kau memiliki
pengalaman kerja di bidang ini?” tanya azka penasaran tepat saat mereka telah memasuki ruangan
pribadinya.

Je memilih duduk di salah satu sofa single, lalu memandagi ruangan itu yang cukup estetik
menurutnya. “aku memang mengambil kuliah perhotelan dan mungkin karena aku memiliki gen ibu
dan kakek ku”.

“dan bagaiaman dengan gen ayah mu?” denaya seketika mengatupkan mulutnya saat tersadar atas
pertanyaan nya. Sama seperti denaya, azka juga tampak membeku di tempatnya.

“dia Sudah lama mati” ketus je tanpa berfikir Panjang.

“ah….”

Je mengedikkan bahunya merasa biasa saja. “dia mati sudah sangat lama sekali” jelas je kembali.

“apa kau tidka memiliki saudara?” lanjut denaya mengabaikan raut azka yang memohon untuk
menghentikannya. Namun denaya tidak mempedulikannya dan hanya terus bertanya.
Jeslyn tampak terdiam sesaat sebelum menjawab denaya. “aku anak tunggal dan ku rasa memilki
saudara adalah hal buruk menurut ku” jawab jeslyn asal.

Gadis itu meraih map yang baru saja di letakkan oleh azka dengan tenang. Ia tidak melihat seberapa
sedihnya dua orang di hadapannya mendengar ucapannya baru saja. “kenapa menurut mu saudara
adalah sebuah beban?” kali ini azka yang bertanya.

Je menatap azka dan denaya datar. “bukankah kita akan membahas soal pekerjaan bukan masalah
pribadi ku?” tanya jeslyn ketus. “dan soal saudara, aku hanya tidak ingin memiliki saudara yang
memuakkan. Apa itu cukup menjawab rasa ingin tau kalian?”

Gadis itu kembali menatap berkasnya. “aku akan membawa berkas ini pulang lusa akan ku kabari”
ujar je merasa suasana hatinya memburuk. “ah.. ku harap kau melakukan pegumuman di semua
media untuk perekrutan karyawan, selanjutnya kita akan adakan rapat saat kita sudah bertemu lagi”

“apa kau memiliki acara lain?”

“Kenapa?”

“ah… aku hanya ingin mengajak kau keliling karena kabar yang ku dapat kau sudah lama tidak
kembali ke sin..”

Jeslyn kembali tersenyum sinis. “aku tidak tertarik pergi kemanapun Bersama orang lain, jikapun aku
mau, aku akan pergi Bersama Carla”

Denaya tampak sangat patah hati dengan penolakan jeslyn yang blak-blakan ia hanya mampu
membiarkan jeslyn pergi tanpa mampu menahan gadis itu.

“secara berlahan, de” ujar azka sambil menyentu Pundak denaya yang mulai bergetar.

“tapi aku ingin menghabiskan waktu lebih lama dengannya”

“kita beri dia waktu dulu, secara berlahan dia akan mulai membuka hatinya pada kita” ujar azka yang
sebenarnya merasakan apa yang adiknya itu rasakan. “dia masih menutup dirinya dna jika kita
memaksa aku takut akan membuat dia semakin menjauhi kita” denaya mengangguk setuju pada
saran azka.

Apa yang di katakana azka benar, meliat jeslyn yang tampak arogan dan menjaga Batasan untuk
siapa saja bisa membuat apa yang dikatakan azka benar terjadi. Dan ia tidak ingin hal itu terjadi, ia
akan mencoba lebih bersabar lagi agar adiknya itu bisa menerima mereka.

Clara telah berjam-jam berada di luar kamar jesly dengan raut cemas, pasalnya ini sudah 5 jam sejak
gadis itu kembali dari hotel dengan setumpuk berkas. “apa non je belum keluar?” clara tampak
terkejut sesaat sebelum dia mengangguk membenarkan.

“dia juga belum memakan apapun” ujar clara dengan raut bersalah.

Bik sumi tersenyum geli melihat raut khawatir Carla, lalu Wanita paruh baya itu kembali terkekeh
saat melihat makanan clara yang belum di sentuh. “kau juga belum makan?” clara kembali
mengangguk membenarkan. “sebaiknya kau makan dan pergi istirahat”
“tapi, je..”

“kamarnya memiliki kulkas yang berisikan makanan dan ada stok roti juga di situ. Lalu jika nona je
lapar dia akan keluar jam berapa pun itu, jika kau menunggunya kau akan sakit. Jadi sebaiknya kau
makan lalu pergi istirahat dan jika nona muda melihat kau kelaparan lalu jatuh sakit dia akan lebih
murka”

“apa je selalu seperti ini?”

Wanita baya itu tersenyum penuh haru sambil mengangguk. “dia akan benar-benar sangat focus
saat sudah berniat ingin melakukan hal apapun. Dia akan menjadi sangat serius dan tidak ada yang
bisa mengusiknya”

Carla kembali menoleh menatap dalam pintu kamar jeslyn sebelum ia meninggalkan tempat itu
mengikuti bik sumi yang sudah lebih dulu berlalu.

Jeslyn mengamati smeua berkas yang snegaja ia bawa dari hotel dan ia bisa langsung menemumkan
banyaknya kecurangan di sana. Ia memijat sejenak keningnya yang mendadak terasa menyakitkan.

“apa sebenarnya yang mereka lakukan hingga bisa kecolongan sebanyak ini” ujar jeslyn menatap
geram pada semua laporan itu.

Ia akhirnya meletakkan berkas itu dan membaringkan tubuhnya di Kasur, menatap jauh ke langit-
lagit kamarnya yang selalu mampu membuatnya merasa nyaman. Sebab saat ia merebahkan
tubuhnya ia bisa melihat lukisan alam semesta yang di Lukis ibunya saat ia masih berusia 10
[Link] hal itu cukup mampu membuatnya selalu merasa tenang dan aman.

Pagi ini je akhirnya keluar kamar setelah dua hari mengurung dirinya hanya untuk mengamati
berkas-berkas bawaannya. Ia menoleh pada Carla lalu menyerahkan sebuah berkas yang tampak
tertutup rapat dan rapi.

“kau pergi ke pengacara keluarga dan serahkan ini padanya, setelah itu katakan padanya laporan
harus segera di naikkan dan para korupsi itu harus di tahan sesegera mungkin”

Carla mengangguk paham, ia kemudian menerima map berikutnya yang tampak sedikit berbed. “ini
apa?”

“selidiki orang itu diam-diam”

“kenapa?”

“entahlah aku hanya merasa mereka berdua cukup aneh” jelas je yang memang merasa sedikit
ganjal dengan azka dan denaya. Je kemudian menyerahkan sebuah atm miliknya. “ini gunakan untuk
membeli pakaian kerja mu, aku tidak ingin di bantah, kau akan menjadi sekertaris ku bukan bodiguar
ku dan beli pakaian yang sesuai dengan jabatan mu”

Jesly meninggalkan Carla menuju meja makan lalu meraih sebuah bekal yang memang je minta di
siapi karena dia tidak akan sempat untuk sarapan.

“ini ada nasi dan lauk yang bisa kau makan di waktu senggang dan untuk menjaga stamina mu, bibi
sudah menyiapkan roti, dan minuman sehat yang jelas bukan susu”
“kau memang paling memahami ku, bik” ujar je penuh kepuasan, ia tidak pernah merasa Wanita
baya itu melakukan pekerjaan yang buruk dan malah sebaliknya.

Azka tidak bisa menyembunyikan senyum penuh kasihnya saat melihat je yang baru memasuki hotel.
Mereka memang sudah membuat janji untuk mulai menginterfiuw calon pegawai baru. Awalnya
azka mengatakan biar dia saja yang melakukannya namun jeslyn bersikeras untuk ikut terjun
langsung. Mengingat betapa buruknya cara penilaian mereka terhadap karyawan.

“ah…aku ingin mengatakan jika untuk securetee kita bisa menggunakan ajsa agen sahabat ku” jeslyn
menoleh pada azka dengan sinis yang memuat pria itu mengatupkan mulutnya degan cepat.

“bukan kah sudah ku katakan, aku tidak ingin ada yang masuk kesini karena relasi”

“tapi aku yakin kau akan menyukai cara kerja mereka, dan selama ini yang ku tau mereka agen
terbaik Sudha masuk dalam Tingkat internasional.”

“hotel mu bahkan sudah memasuki daftar falid dan kau mau berlagak menggunakan agen bes…”

“kita bisa menego masalah harga” jeslyn dan azka sama-sama berbalik saat mendengar seseorang
menyela perbincangan mereka.

“kau?” jeslyn mengernyit tak suka saat mengenali siapa pemilik agen tersebut.

“kau mengenalnya?” tanya azka lembut. Je menggeleng malas yang membuat pria itu tersenyum
kaku. “dia sahabat ku dan agen nya cukup terpercaya”

Je kembali menoleh pada azka menatapnya jengah. “kau bahkan tidak bisa menilai karyawan mu
yang lama sampai hotel ini mengalami krisis” ujar jeslyn geram.

“bisa kita mengenyampingkan masalah internal kita yang lama dan hanya membahas mengenai
pekerjaan” sela aland yang merasa je masih membencinya karena masalah yang bisa di bilang
sebuah salah paham.

“kau bisa mengintrogasi langsung untuk calon secureteenya sesuai standart mu” lanjut aland
kembali meyakinkan jeslyn.

“bawa calon securetee yang kau promosikan setelah aku melihat kuwalitasnya kita bisa membahas
hal selanjutnya” ujar je mencoba berdamai dengan kekesalannya mengingat ini adalah pekerjaan
yang harus ia sukseskan sesuai janjinya pada ibunya. “dan kau, mari kita bahas hal selanjutnya
sebelum interfiuw”

Jeslyn, azka, dan denaya mulai melihat keterampilan anggota aland yang akan menjadi keamanan di
hotel mereka. Hingga penampilan terkahir jeslyn tidak menunjukkan raut apapun, ia hanya terus
memantau dengan serius dan bersungguh-sungguh. Azka dan denaya yang sesekali melirik pada
jeslyn mengharapkan sedikit saja ketertarikan jeslyn namun semua sia-sia.

“bagaimana, apa ada yang membuat kalian ragu atau kurang?” tanya aland setelah pertunjukan
selesai.
“semua tampak bagus dan sepertinya layak untuk di rekrut, kk. Benarkan kk azka, je?” tanya denaya
yang merasa semua orang yang di usulkan oleh alan memang yang terbaik. Azka mengangguk setuju
dengan ucapan denaya namun tidak dengan jeslyn yang masih bungkam.

“hanya 1 orag yang menurut ku bagus” ujar jeslyn yang membuat denaya dan azka terperangah.
“apa menurut kalian mereka semua yang terbaik? Tanya jeslyn kembali. “dan apa hanya ini produk
terbaik yang kau punya dan dari kata-kata pak azka tadi agen mu sudah mendunia”

Aland tersenyum melihat ketelitian jeslyn. “maaf, bisa katakan Dimana letak eksalahan anggota ku?”
tanya alan menantang yang membuat jeslyn mengerutkan kening tak suka.

“orang pertama sampai ke tiga tidak memiliki focus yang bener mereka tampak tidak bersungguh-
sungguh. Lalu ke 4 sampai ketujuh mereka tidak cukup lincah untuk menangani hal-hal yang urgent.
Lalu nomor 9 dan 10 tatapan mereka sudah menunjukkan ketidak sopanan pada orang-orang yang
berlalu Lalang terutama pada Wanita yang sedikt sexi. Mereka juga tidak menunjukkan keramahan
yang merupakan poin utama pegawai hotel”

“lalu bagaiaman dengan nomor 8? Bukan kah kau melewatinya?”

Jeslyn mengangguk. “bukan kah di awal aku sudah katakan hanya 1 orang saja yang bagus meski dia
juga kurang namun dia mendekati kreteria yang ku inginkan”

“bisa katakan mengapa kau masih meragukannya?”

“dia tampak sedikit lamban” Aland mengangguk paham dan benar saja ketelitian jeslyn tidak bisa di
ragukan. “kalau begitu aku akan menunjukkan yang terbaik yang menurut ku ini tidak akan
mengecewakan mu. Dan untuk anggota ku yang sebelumnya aku akan mengurus mereka agar lebih
baik”

Jesly awalnya malas namun meliat azka dan denaya yang mengangguk setuju ia pun mulai mengikuti
mereka. “baiklah, tapi aku bolehkan sambil sarapan” azka, denaya serta aland menatap jeslyn sedikit
cemas.

“permisi” Carla masuk perlahan dengan sebuah kantongan yang ia ambil dari mobil jesly. “maaf,
nona je memiliki masalah lambung yang er…”

Carla menghentikan penjeasannya tepat saat je menatapnya sinis. “aku butuh sarapan jika mau
semua pekerjaan berjalan dengan baik” ujar je tegas. “mulai tampilkan,pak aland”

Aland mulai memutar pertunjukan anggota nya yang lain dengan sesekai menoleh pada jeslyn
yangmemang tampaks edikit pucat. Jeslyn tetap focus meski ia merasa sedikit perih di perutnya, dan
dengan Gerakan berlahan ia mulai menyuapi sarapannya.

Kali ini azka dan denaya hanya memfokuskan semuanya pada jeslyn setelah mereka menyelesaikan
menyaksikan penampilan tahap 2. “kita bisa membahas kontrak untuk 11 anggota mu”

“bukankah kita hanya butuh 10?” tanya azka bingung.

“aku butuh 1 orang kepala keamanan untuk mengontrol yang lainnya. Dan Roy sebagai pilihan ku
untuk menjadi kepala keamanan. Bagaimana menurut kalian?” ujar jeslyn dan kembali bertanya
pada rekannya. “jika kalian setuju dengan ku kitab isa membahas kontrak dengan agen nya”
“jika menurut mu itu semua terbaik kami tidak akan keberatan” celetuk denaya yang membuat
jeslyn mengernyit bingung.

Azka juga ikut mengangguk dengan ucapan denaya. “baik, kita akan memasuki pada kontrak dan
gaji”

Aland menyerahkan beberapa berkas yang di terima oleh jeslynn dan azka. “aku sudah memberikan
harga yang minim dan ini bisa di katakan harga sa…”

“sorry” sela jeslyn. “aku tidak menerima harga kenalan karena aku tidak menginginkan kinerja yang
hanya bermodalkan kenalan”

“aku bisa jamin dengan kualitas tidak akan berubah, kau bisa menuntut 2 kali lipat jika anggota ku
membuat hal yang merugikan Hotel”

“apa kau tidka merasa di rugikan? Dan bukan kah semua ini harus kau rundingkan dengan anggota
mu?” tanya jeslyn merasa aneh dengan penawaran yang minim dari aland.

“aku rasa mereka tidak akan merasa di rugikan selama bekerja sama dengan kalian” jelas aland

Jeslyn mengangguk setuju yang juga di setujui oleh azka dan denaya. “aku rasa kita break sebentar”
ujar jeslyn yang merasa tubuhnya tidak sefit tadi. “kita lanjutkan sekita pukurl 2 siang”. Carla meraih
lengan jeslyn saat melihat jeslyn mencoba meraihnya.

Hal itu tak luput dari pandangan ketiga orang di sana, je mengabaikan mereka dan memilih Carla
sebagai sandarannya. Ada raut khawatir di wajah mereka namun benteng penolakan je membuat
mereka hanya mampu termangu di tempat.

“je kita bisa lanjutkan besok inter…”

Jeslyn menggeleng tegas. “harus selesai hari ini agar besok sampai minggu mereka bisa melanjutkan
Pendidikan” ujar jeslyn tegas yang tak terbantahkan. “aku hanya perlu istirahat 30 menit dan kalian
juga sebaiknya istirahat juga”

Aland bergegas menemui roy dan ia semakin mempercepat langkahnya saat melihat roy berada di
ujung Lorong. “selidiki apa yang terjaadi pada hyun ra, cari tau semua hal tentangnya tanpa
tertinggal satu halapapun” roy mengangguk.

“jangan katakan apapun pada bunda mengenai kondisi ku hari ini” ujar jeslyn tegas.

“bukankah kau baik-baik saja tadi?”

Jeslyn mengangguk membenarkan ucapan Carla, dia juga sudah memakan sarapannya tadi pagi dan
dia juga tidka meminum kopi. “bisa kau cek sisi tv?” Carla mengangguk namun ia juga tampak
sungkan meninggalkan jeslyn sendiri. “aku akan baik-baik saja setelah istirahat”

Carla pun akhirnya meninggalkan ruangan jeslyn, ia tidak akan lama dan secepatnya kembali untuk
menemani jeslyn. Carla melihat denaya yang menyemprotkan parfum sebelum memasuki ruang
meateng dan selanjutnya ia melihat perubahan wajah jeslyn tepat setelah denaya masuk. Gadis itu
berjalan cepat menuju keberadaan denaya dna ia menemukan gadis itu Bersama azka duduk di
kantin yang berada di hotel tersebut.

“permisi buk denaya” ujar Carla sopan yang membuat denaya menoleh pada Carla. “saya
mohonmaaf sebelumnya sudah menggangguk waktu istirahat anda.”

“tidak apa-apa. Tapi ada apa dan di mana jeslyn?” tanya denaya lembut

“bisa saya tau anda menggunakan parfum apa?” denaya mengernyit bingung namun saat melihat
raut cemas Carla ia langsung mengeluarkan parfum dari tasnya. Carla meraih nya lalu mencium
aroma bunga mawar yang terasa segar. Ia pun mengembalikan parfum itu setelah tau penyebab
dropnya jeslyn.

“apa terjadi sesuatu?” tanya azka kemudian.

Carla mengangguk “nona je alergi bunga mawar dan sepertinya parfum mu lah awalnya”

“ya Tuhan, maafkan aku Carla. Aku tidak tau” Carla tersenyum kecil dengan sungkan. “lalu
bagaimanan kondisi jeslyn saat ini?” lanjut denaya penuh penyesalan.

“saya rasa Nyonya besar sudah menceritakan kondisi nona je, dan sebenarnya ini bukan seperti
alergi tetapi seperti trauma fisik yang di alami nona.

“kau tau siapa kami?”

Carla mengangguk mendengar perkataan azka. “tepat saat nona memutuskan bekerja di sini, saya
langsung mencari tau soal kalian. Dan untuk kondisi je saat ini dia akan membaik setelah
beristirahat. Saya mohon undur diri menemui nona je” jelas Carla sopan.

Azka dan denaya hanya dapat terpaku mendengar kejelasan Carla, dan di sudut lain aland
mendengar semua ucapan Carla. Ia langsung mengirimkan informasi entah pada siapa dengan raut
serius, setelah itu ia mendekati azka dan denaya yang menatapnya dengan enggan.

“apa jeslyn adik yang ceritakan?” azka mengangguk lemah, ia memang telah menganggap aland
sebagai keluarga hingga tak ada satu masalah hidup nya yang tidak ia katakan apda aland. “aku akan
melindungi nya sama seperti kau ingin melindunginya”

“thank you, land”

“tapi sepertinya kk aland sudah mengenal je, apa benar?”

Aland mengangguk dan sedikit tersenyum kecil mengingat awal perkenalan mereka. “kami satu
pesawat saat kembali ke Indonesia, dan ada insiden kecil yang membuat ku tau sosok jeslyn”

“dia sangat manis kan?” ujar denaya lembut. “meski terlihat sangat pemarah” lanjut denaya pelan
seakan ntakut jelsyn mendengarnya. Aland dan azka tertawa renyah melihat raut takut denaya, yang
mereka tak sadari adalah jeslyn yang dapat melihat semua nya melalui ruangannya yang mengarah
pada kantin hotel tersebut.
Jeslyn juga melihat Carla yang menemui mereka namun pandangan senduh je lebih tertuju pada
kedekatan 3 orang di bawah sana. Ada perasaan sedih yang tiba-teba melanda hatinya dan ia hanya
mampu terpaku pada keakraban itu.

Gadis itu menjauhi jendela dan kebali pada kursi. Ia menjatuhkan bokongnya lalu menengadahkan
kepalanya pada langit-langit putih polos ruangannya itu. Tatapannya tampak kosongdan fikirannya
secara tiba-tiba mundur pada insiden masalalu saat ia meninggalkan Indonesia.

Suara pintu terbuka menyadarkan jeslyn sebelum jauh menerawang dan di sana Carla berdiri dengan
raut yang tidak sepanik tadi. “nona denaya menggunakan parfum aroma mawar asli dan ku rasa dari
situlah awal kau mulai merasa lemas”

Jeslyn tersenyum senduh. “terima kasih Carla. Kau bisa pergi istirahat dan kembali kesini pukul 2
kurang 5. Bantu aku bangun jika aku ketiduran lebih lama” Carla mengangguk paham, ia pun berjalan
meninggalkan ruangan jeslyn membiarkan gadis itu menenangkan dirinya sendiri.

Mereka melanjutkan interview setelah tertunda istirahat dan kini semua berjalan dengan rapi sesuai
dengan yang di harapkan oleh jeslyn. Pendidikan pun di mulai selama 1 minggu hingga penyelesaian
renofasi hotel pun di lakukan.

Jeslyn meminta agar keberadaa kantin hotel di sertai dengan kolam renang yang estetik, di sesuaikan
dengan kolam rengan yang berada di puncak Gedung hotel. Kini sebulan berlalu hotelpun telah
mulai di buka. Promosi secara besar dilakukan dan benar saja marketing yang jeslyn saran kan
berjalan dengan baik.

“apa bunda akan ke sini?. Bukan kah bund akatakan dalam sebulan akan menyusul ku. Je
merindukan bunda. Atau bagaimana jika je yang kesana?. Baiklah, bunda sehat-sehat disana apa
lagi cuaca disana sedang tidak teratur. Iya, bukankah dokter sudah mengabari bunda? Iya tidak
akan dilewatkan bundaaa. [Link] you too”

Je mengernyit saat melihat Carla yang memasuki ruangannya tanpa dia panggil. “kau melewatkan
makan siang mu?” tanya Carla yang paham dengan tatapan mendesak milik jeslyn. “bagaimana kalau
hari ini kita makan di luar?” dengan senyum kecil mengangguk.

“aku boleh makan apa aja kan?” tanya je sambil meraih ponselnya. Carla menagngguk mengiyakan,
ia mulai menyadari sifat manja jeslyn sejak mereka dekat. Gadis itu seperti bayi kecil yang selalu
haus akan perhatian. Dan Carla selalu menjadi sosok kakak yang selama ini jeslyn tidak pernah
dapatkan.

Mereka berjalan dengan jeslyn yang merangkul Carla dengan santai. “kalian mau kemana?” tanya
denaya yang tanpa sengaja melihat Carla dan jeslyn yang akan emmasuki mobil.

“mau makan siang, ibuk mau bergabung?” ujar Carla sopan.

“apa boleh?”

Carla menoleh pada jeslyn dan gadis itu mengangguk setuju yang membuat denaya tersenyum lebar.
Hari ini mereka memutuskan untuk tidak kembali bekerja dan menghabiskan hari untuk bersantai.
Jeslyn pun yang sosok tertutup kini tampak menikmati hari menjadi sosok dirinya sendiri. Denaya
tiada henti-hentinya memanjatkan Syukur setiap kali jeslyn memeluknya tanpa sadar.
“apa terjadi sesuatu hari ini, de?” tanya azka yang baru saja kembali dan menemukan denaya yang
masih terus tersenyum. Denaya mengangguk dengan riang. “kau tidak ingin bercerita?”

“aku menghabiskan hari Bersama jeslyn seharian”

“oh my god”

Denaya menyerahkan ponselnya yang menunjukkan potret ke akrabann dirinya dan jesly. “lihat dia
merangkul ku dan tersenyum tulus”

Azka menyeka sudut matanya setiap kali menggeser layer ponsel adijnya dan melihat kedua adiknya
tampak dekat. Ia kemudian mengelus sayang puncak kepala denaya dengan senyuman tulus. “kami
membuat janji akan kebali dan kau harus ikut” ujar denaya yang di saut azka dengan anggukan
antusias.

Di tempat lain jeslyn tampak duduk termenung di salah satu kaffe, dia memutuskan untuk keluar
setelah membersihkan dirinya dna berganti pakaian. Ia ingin menenangkan fikirannya yang
berkecamuk seharian ini, mencoba meneliti perasaannya yang merasa nyaman saat berada di dekat
denaya. Ia juga merasa aman setiap kai berkumpul Bersama azka dan denaya, dan ada perasaan
tenang setiap kali azka mengelus puncak kepalanya.

Atau ada perasaann bangga saat azka memberikannya ucapan selamat, meski terkadang ia merasa
apa yang ia lakukan ada yang salah. Namun pria itu tidak menunjukkan kemarahan, ia hanya
mengatakan dengan lembut karyanya bagus namun harus ada yang di perbaiki sedikit. Dan sialnya
setiap kata-kata azka seperti air sejuk yang menenangkan.

“boleh aku bergabung?” jeslyn tersentak dan entah mengapa dia terpana pada aland yang malam ini
berpenampilan santai. Aland menggerakkan tangannya keatas dan kebawah saat melihat jeslyn yang
masih terpaku.

“ah..silahkan” ujar jeslyn begitu tersadar namun gadis itu tidak bisa menghilangkan debaran
jantungnya yang menggebu.

“aku tidak melihat Carla”

Jeslyn mengedikan bahunya. “Carla butuh istirahat dan ini juga sudah bukan jam kerja” aland
mengangguk paham. “kau tinggal di dekat sini?”

“tidak” jawab aland santai. “kenapa kau berfikir seperti itu?”

“karena hampir semua pengunjung kaffe ini tinggal di dekat sini”

“bagaiaman kau tau?”

“aku sudah terlalu sering disini dan setiap kali pulang kami selalu searah”

Aland tersenyum kecil mendengar jawaban polos jeslyn, menunjukkan jika gadis itu memang tidak
lah suka keluar. “aku baru menemui klien di depan sana, dan tidak sengaja melihat mu. Jadi aku
sekalian mampir saja menemani mu yang sepertinya kesepian”

“apa aku terlihat kesepian?”


“tidak-tidak” jawab aland saat menemukan wajah serius jeslyn. “aku hanya bercanda” lanjutnya
yang membuat jeslyn sedikit salah tingkah. Lambat laun jeslyn mulai bersikap santai dan tampak
lebih terbuka saat berbincang dengan aland.

Hotel keluarga salim semakin membaik dan semakin layak bersaing kepasaran, kedekatan jeslyn dan
kedua saudaranya pun semakin menunjukkan jalan yang baik. Meski jeslyn belum mengenal siapa
mereka yang sebenarnya, setidaknya ia Sudha mulai mau bergaul dengan azka dan denaya.

Jeslyn juga memiliki hubungan yang baik dengan aland yang secara berlahan ia mengetahui arti
perasaan nya bukanlah kagum namun ada perasaann suka. Dan jeslyn dengan sejuta gengsinya
memiliki harga diri setinggi langit hanya memilih untuk memendamnya dan menyimpan untuk
dirinya sendiri. Namun Carla dapat mengetahui perasaan tersembunyi jeslyn yang terkadang
membuat Carla tersenyum kecil melihat tingkah canggung jeslyn saat Bersama aland.

Hari ini jeslyn menghabiskan hari bekerja di luar kantor, ia benar-benar hanya berpindah-pindha
Lokasi untuk membicarakan pekerjaan dengan klient mereka. Ia akhirnya memilih istirahat di sebuah
caffe yang cukup menenangkan. Carla yang melihat jeslyn kelelahan dan teringat jika gadis itu belum
memakan nasi di jam makan siang mereka pun. Memutuskan untuk memesan langsung tanpa harus
menunggu jeslyn.

Jeslyn baru akan menutup matanya saat tanpa sengaja ia melihat denaya dan aland yang baru
memasuki caffe yang sama dengannya. Namun ada yang berbeda dengan keakraban denaya dan
aland dalam pandangan jeslyn. Ia memutuskan memindahkan tempat duduknya berada di balik
tembok tepat bersebalahan dengan tempat denaya dan aland. Ia juga menyempatkan diri untuk
mengirimkan pesan pada Carla posisi dirinya saat ini.

“kau tampak Bahagia akhir-akhir ini de?” tanya aland lembut dengan senyuman ramah khas milik
pria itu.

Denaya mengangguk riang dan siapapun yang berada di sana dapat melihat dengan jelas gadis itu
memang sedang Bahagia. Dan orang-orang juga dapat melihat gadis itu tidak hanya Bahagia dalam
karir namun juga tampak sedang jatuh cinta.

“kondisi hotel semakin baik, aku dan jeslyn juga semakin akrab” ujar denaya riang, jeslynn yang
masih dapat mendengar hal itu mengernyit bingung.

Jeslyn meletakkan jarinya tepat di bibirnya saat melihat Carla mendekati mejanya, I ahanya
memberikan kode agar Carla dapat duduk dengan tenang tanpa bertanya papun.

“apa akrab dengan jeslyn sungguh semenyenangkan itu?” tanya aland kembali.

Denaya mengangguk penuh antusias. “bukankah dia sangat menggemaskan. Aku sangat bersyukur
dia mau bergaul dengan ku”

“apa lagi yang membuat mu Bahagia selain itu?”

“apa maksud mu?”

“aku tau kau tidak hanya sedang Bahagia bisa dekat dengan jeslyn, mata mu menunjukkan kau juga
sedang jatuh cinta, de”
Denaya tersenyum malu-malu berbeda dengan jeslynn yang tampak membeku. Carla berkali-kali
memberi kode agar mereka pergi namun tatapa tajam jeslyn telah menjawab penolakan gadis itu.

“apa hal itu terlihat dengan jelas?” tanya denaya malu-malu. Tidak terdengar perbincangan selama
beberapa detik hingga denaya kembali bersuara. “aku memang sedang menyukai seseorang”.

Jeslyn merasa dunianya membeku kembali seketika mungkin, ia mendorong kasar kursinya yang
cukup menarik perhatian semua orang.

“jes…”

Jeslyn melangkah dengan cepat di ikuti oleh Carla mengabaikan panggilan denaya yang juga
tersentak mendengarkan suara decitan kursi jeslyn. Gadis itu memasuki mobil yang di ikuti Carla
mengabaikan teriakan denaya yang memanggil Namanya.

“jalan Carla” perintah jeslyn tegas. Carla hanay mampu melirik denaya yang berada di belakang
Bersama aland.

“apa dia tidak mendengar ku?” tanay denaya pada aland.

“ku rasa seperti itu, tidak mungkin dia mengabaikan mu kan?” ujar aland mencoba menenangkan
denaya. “ayo sebaiknya kita selesaikan makan siang dan bergegas kembali ke hotel”

“apa meteang hari ini tidak berjalan baik?” gumam denaya kembali.

“kau bisa menanyakannya nanti saat bertemu dnegan jeslyn, de” jelas aland kembali meyakinkan
denaya.

Jeslyn memutuskann kembali ke rumah selain ia merasa moudnya hancur ia juga dapat merasakan
kondisi tubuhnya sedang tidak baik karena mengabaikan makan siangnya. “non, apa kau sakit?”
tanya bik sumi khawatir yang melihat raut pucat gadis itu.

“bik jangan katakan pada bunda” jelas jeslyn penuh permohonan. “siapkan aku sup dan air hangat
saja, setelah berberes aku akan makan” lanjutnya mencoba menenangkan Wanita paruh baya itu.

Jeslyn meneruskan langkahnya menuju kamar. “je, melupakan makann siangnya dna dia benar-
benar hanya bekerja seharian ini”jelas Carla menjelaskan kondisi jeslyn.

“ya ampun, gadis itu apa tidak menyayangi tubuhnya” bik sumi mulai beranjak ke dapur menyiapkan
sup yang di minta jeslyn. Carla yang masi berada di tempatnya hanya memandangi pintu kamar
jeslyn.

Ia tau moud gadis itu hancur karena mendengarkann percakapan singkat tadi. Namun siapa yang
bisa menangani gadis itu jika ia sudah dalam kondisi buruk seperti ini.

Seminggu berlalu jeslyn tidak bekerja, setelah hari mencekam itu jeslyn terjatuh sakit seperti prediksi
bik sumi. Carla mengirim kabar hanya mengatakan jika jeslyn tidak sehat dan melarang azka serta
denaya datang untuk menjenguk. Sebab Carla tau kehadiran mereka hanya akan membuat je
semakin memburuk. Ia bahkan menolak semua panggilan orang termasuk aland.
Jeslyn turun dari kamar dengan penampilan yang rapi namun semua orang dapat menebak jika gadis
itu masih kurang sehat dari raut pucatnya. “kau bisa istirahat lebih lama je”

“hari ini adalah Keputusan final untuk Pembangunan hotel baru, aku ahrus mengahadiri rapat”

“pak azka dan buk denaya bisa mengatasinya, tadi mereka menghubungi ku”

Jeslyn melirik Carla tidak suka. “ini proyek ku dan aku yang harus menanganinya langsung”

“tapi kau belum sehat je”

Gadis itu melirik sinis Carla.”aku yang tau sendiri kodisi tubuh ku”

“Tap..”

“kau ikut atau aku akan pergi sendiri” ujar jeslyn tegas memotong ucapan Carla.

“non boleh pergi kalau suda memakan sarapan dan obat ini” sela bik sumi tegas yang tidak akan bisa
jeslyn bantah.

Carla tersenyum simpul saat melihat jeslyn merengut kesal tidak bisa membantah Wanita apruh
baya itu. Gadis itu tidak akan bisa berkutik jika berhadapan dengan ibunya serta bik sumi.

Azka terkejut hebat saat melihat kehadiran jeslyn yang sudah sangat menyerupai mayat hidup. Ia
melirik pada Carla yang hanya di berikan gedikan bahu gadis itu yang mengartikan tidak ada yang
bisa mengalahkan keras kepala jeslyn. Pria itupun mendesah pasrah dan tampak sangat khawatir.

“apa kau baik-baik saja?” tanya azka lembut, jeslyn hanya mengangguk mengiyakan azka. “aku dan
denaya bisa mengatasi hal ini, je” lanjut azka mencoba membujuk jeslyn.

Jeslyn meririk sinis azka yang membuat pria itu meneguk air liurnya berat. “aku akan tetap ikut rapat
meski aku akan mati detik ini”

Gadis itu tidak berhenti memijat kepalanya yang terasa menyakitkan dan hal itu tidak bisa lepas dari
pandangan azka. Ia berdiri dengan tegas hingga meraik perhatian semua orang. “rapat kita tunda 3
hari”

“why” tanya jeslyn tidak terima dengan Keputusan azka.

“karena kau terlalu keras kepala untuk istirahat maka sebagai pemimpin di sini aku ingin rapat di
tunda” azka menoleh pada jeslyn yang mencoba membantahnya. “meski kau pemegang saham
terbesar aku masih seorang pemimpin yang Keputusan ku adalah finalnya”

Jeslyn menutup rapat mulutnya, ia menatap azka penuh amarah lalu ia mulai beranjak dari
duduknya meninggalkan ruang rapat. Ia berpapasan dengan denaya namun ia hanay menunjukkan
raut wajah kemarahan

Anda mungkin juga menyukai