Performa Sepeda Motor Trail 150cc ECU
Performa Sepeda Motor Trail 150cc ECU
Disusun Oleh:
Muhammad Afiful Majid
1710502095
MOTTO
1. “Dan bahwasanya seorang manusia tiada memperoleh selain apa yang
telah diusahakannya” (An Najm:39)
2. “Siapapun bisa jadi apapun”.
PERSEMBAHAN
1. Bapak Moesiman dan Ibu Taslimah yang telah memberikan segala
dukungan, doa, fasilitas dan semangat.
2. Adik dan saudara saudara yang telah memberikan semangat dan
dukungannya.
3. Teman-teman S1 Teknik mesin 2017 C yang telah memberikan semangat
dan dukungan.
4. Teman-teman yang tidak bisa disebutkan satu persatu yang selalu memberi
motivasi, semangat dan dukungan.
v
KATA PENGANTAR
Puji syukur kehadirat Allah SWT yang selalu memberikan rahmat dan hidayah-
Nya kepada penulis sehingga dapat menyelesaikan skripsi yang berjudul
“ANALISIS PERFORMA SEPEDA MOTOR TRAIL 150 cc DENGAN
MENGGUNAKAN ELECTRONIC CONTROL UNIT (ECU) STANDAR DAN
ELECTRONIC CONTROL UNIT (ECU) STANDAR REMAPPING “ tanpa suatu
halangan apapun.
Proposal skripsi ini disusun untuk dapat menyelesaikan studi strata satu unuk
mencapai gelar sarjana teknik pada Jurusan Teknik Mesin Fakultas Teknik
Univesitass Tidar Dalam penulisan skripsi ini Penulis menyadari sepenuhnya
bahwa selesai dan tersusunnya skripsi ini bukan merupakan hasil dari segelintir
orang, karena setiap keberhasilan manusia tidak akan lepas dari bantuan orang lain.
Oleh karena itu, ijinkanlah penulis mengucapkan terima kasih yang setinggi-
tingginya kepada:
1. Dr. Ir. Sapto Nisworo, M.T., IPU. selaku Dekan fakultas teknik Universitas
Tidar
2. Trisma Jaya Saputra, ST., M.T. selaku ketua jurusan teknik mesin fakultas
teknik Universitas Tidar.
3. Catur Pramono S.T., [Link]., IPM. selaku Koordinator Program Studi
Teknik Mesin (S1) fakultas teknik Universitas Tidar.
4. Trisma Jaya Saputra, S.T., M.T selaku dosen pembimbing I yang telah
berkenan membimbing penulis dalam penyusunan proposal skripsi ini.
5. Rany Puspita Dewi, S.T., [Link]., IPM. selaku dosen pembimbing II yang
telah berkenan membimbing penulis dalam penyusunan proposal skripsi ini.
6. Dosen pengajar yang telah memberi bekal pengetahuan dan pengalaman
selama belajar di Universitas Tidar.
7. Orang tua penulis Bapak Moesiman dan Ibu Taslimah serta keluarga besar
Yang selalu mendukung untuk mengerjakan skripsi dengan baik.
vi
8. Kepada semua pihak yang telah membantu penulis baik secara langsung
maupun tidak langsung, yang tidak dapat disebutkan satu persatu.
Penulis menyadari dalam pembuatan skripsi ini masih banyak kekurangan, oleh
karena itu penulis mengharapkan kritik dan saran yang mambangun dalam
perbaikan skripsi ini. Semoga skripsi ini dapat bermanfaat dan barokah bagi
pembaca pada umumnya dan dunia otomotif pada khususnya.
M Afiful Majid
vii
DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL…………………………………….....………………………i
HALAMAN PENGESAHAN PEMBIMBING ..... Error! Bookmark not defined.
HALAMAN PERNYATAAN ............................... Error! Bookmark not defined.
HALAMAN PENGESAHAN DEWAN PENGUJI............. Error! Bookmark not
defined.
MOTO DAN PERSEMBAHAN ............................................................................ v
KATA PENGANTAR ........................................................................................... vi
DAFTAR ISI ........................................................................................................ viii
DAFTAR TABEL .................................................................................................. xi
DAFTAR NOTASI DAN SINGKATAN ............................................................. xii
ABSTRAK ........................................................................................................... xiii
BAB I PENDAHULUAN ....................................................................................... 1
1.1 Latar Belakang........................................................................................ 1
1.2 Rumusan Masalah .................................................................................. 3
1.3 Batasan Masalah ..................................................................................... 3
1.4 Tujuan Penelitian .................................................................................... 3
1.5 Manfaat Penelitian .................................................................................. 4
BAB II TINJAUAN PUSTAKA............................................................................. 5
2.1 Kajian Pustaka ........................................................................................ 5
2.2 Landasan Teori ....................................................................................... 9
BAB III METODOLOGI PENELITIAN.............................................................. 27
3.1 Waktu dan Tempat................................................................................ 27
3.2 Alat dan Bahan ..................................................................................... 27
3.3 Metode Penelitian ................................................................................. 28
3.4 Variabel Penelitian ............................................................................... 28
3.5 Teknik Pengumpulan Data ................................................................... 29
3.6 Teknik Analisis Data ............................................................................ 30
3.7 Rancangan Penelitian ........................................................................... 30
viii
3.8 Prosedur Penelitian ............................................................................... 30
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN .............................................................. 36
4.1 Hasil ....................................................................................................... 36
4.2 Pembahasan ........................................................................................... 36
BAB V KESIMPULAN DAN SARAN ................................................................ 46
5.1 Kesimpulan ............................................................................................ 46
5.2 Saran ...................................................................................................... 46
DAFTAR PUSTAKA ........................................................................................... 47
LAMPIRAN .......................................................................................................... 49
ix
DAFTAR GAMBAR
x
DAFTAR TABEL
xi
DAFTAR NOTASI DAN SINGKATAN
xii
ABSTRAK
Sistem injeksi atau yang juga dikenal dengan fuel injection merupakan
teknologi kontrol yang dapat secara cepat, akurat, proporsional dan optimal
mengatur campuran bahan bakar dan udara yang masuk ke dalam ruang bakar.
Sistem injeksi ini diatur oleh Electronic Control Unit (ECU). ECU berfungsi untuk
mengatur operasi pada Internal Combustion Engine (ICE). Tujuan dari penelitian
ini adalah untuk mengetahui persentase perbandingan daya torsi dan konsumsi
bahan bakar yang dihasilkan oleh sepeda motor trail 150 cc dengan menggunakan
Electronic Control Unit (ECU) standar dan Electronic Control Unit (ECU) standar
remapping.
Metode penelitian yang digunakan pada penelitian ini adalah metode
eksperimen, yaitu metode untuk mencari hubungan sebab akibat antara kedua faktor
yang sengaja ditimbulkan oleh peneliti. Pada penelitian ini perlakuan yang
dilakukan berupa pengunaan ECU standar dan ECU standar remapping pada sepeda
motor trail 150 cc. Pengujian daya, torsi dan konsumsi bahan bakar dilakukan
dengan menggunakan alat dynotest dan tangka bahan bakar.
Hasil penelitian ini menunjukkan adanya peningkatan daya dan torsi, saat
menggunakan ECU standar memperoleh daya maksimum 12,7 hp menjadi 14,2 hp
saat menggunakan ECU standar remapping, untuk torsi maksimum saat
menggunakan ECU standar mendapatkan 12,37 Nm menjadi 12,52 Nm saat
menggunakan ECU standar remapping, untuk pengujian konsumsi bahan bakar
diperoleh bahwa semakin tinggi putaran mesin maka semakin tinggi juga konsumsi
yang digunakan untuk persentase perbandingan ECU standar dengan ECU standar
remapping konsumsi pada ECU standar remapping lebih tinggi.
xiii
ABSTRACT
xiv
BAB I
PENDAHULUAN
Teknologi yang sekarang ini diterapkan dalam sepeda motor adalah dengan
menerapkan sistem injeksi pada sepeda motor, saat ini begitu marak peredaran
kendaraan khususnya sepeda motor yang mengunakan sistem pembakaran bahan
bakar injeksi (fuel injection) (Subekti, 2017). Pada sistem bahan bakar baru ini
memiliki kelebihan dibandingkan dengan sistem pengolahan bahan bakar yang
masih menggunakan sistem karburator, salah satunya adalah konsumsi bahan bakar
yang lebih irit dibandingkan dengan penggunaan karburator (Murdianto, 2016).
Sistem injeksi atau fuel injection merupakan sistem kontrol elektronik yang
dapat secara cepat, akurat, proporsional dan optimal mengatur campuran bahan
bakar dan udara yang masuk ke dalam ruang bakar. Sistem injeksi ini diatur oleh
Electronic Control Unit (ECU). ECU merupakan suatu perangkat elektronik yang
berfungsi untuk mengatur operasi pada Internal Combustion Engine (ICE). ECU
bekerja secara digital logic dengan menggunakan micro controller yang berfungsi
sebagai pengolah data dengan cara membandingkan dan mengkalkulasi data untuk
disesuaikan oleh kebutuhan mesin. Pengolahan data ini diperoleh dari bebagai
sensor-sensor yaitu Throttle Position Sensor (TPS), Intake Air Temperature Sensor
(IATS), Manifold Air Pressure (MAP), Crank Position Sensor, dan coolant
temperature sensor. Data dari sensor-sensor tersebut kemudian akan diproses oleh
micro controller untuk menjalankan actuator yaitu injector, coil, dan fuel pump
(Fahmi and Yuniarto, 2013).
Dengan adanya teknologi fuel injection ini tidak membuat para konsumen
sepeda motor untuk menaikkan performa sepeda motornya, performa sepeda motor
ini dibagi dalam tiga kinerja yaitu torsi, daya dan konsumsi bahan bakar namun
dalam peningkatan performa mesin tidak hanya memikirkan tentang proses secara
teknik namun juga dengan pertimbangan biaya yang dibutuhkan untuk membuat
performa mesin meningkat. Ada banyak cara yang bisa digunakan untuk
meningkatkan performa mesin mulai dari cara yang sederhana sampai dengan yang
1
2
sulit, tetapi cara yang paling sederhana adalah dengan meningkatkan kinerja dari
sistem pengapian dan bahan bakar. Peningkatan ini bisa dilakukukan dengan
pengaturan ulang ECU standar yaitu melalui remapping ECU atau bisa dikatakan
dengan mengatur kembali setelan pabrikan sesuai yang diinginkan pengguna
sehingga mendapatkan performa terbaik. Pengaruh remapping pada ECU dapat
berpengaruh pada performa mesin Electronic Fuel Injection (EFI) maka perbedaan
penggunaan ECU yang digunakan pada kendaraan dapat mempengaruhi performa
kendaraan tersebut (Raharjo, 2014). Remapping ECU ini bertujuan untuk mengatur
proses kinerja mesin dengan menyempurnakan kinerjanya dengan penggunaan
remapping yang tepat (Fahmi and Yuniarto, 2013). Remapping ECU ini biasanya
dilakukan pada ECU racing/programmable yang memang diciptakan untuk
kebutuhan menaikkan performa mesin sehingga banyak fitur-fitur yang bisa
diremapping. Pada penelitian ini akan menggunakan ECU standar yang akan
diremapping ulang, yang akan diremapping ulang ini adalah durasi injeksi, waktu
pengapian dan putaran mesin maksimum pada sepeda motor tersebut, remapping
ini bertujuan untuk meningkatkan performa sepeda motor.
Penelitian mengenai ECU sebagai peningkatan performa mesin sepeda motor
telah dilakukan pada sepeda motor 130 cc dengan menggunakan ECU racing BRT
yang telah dilakukan remapping ECU pada pola bahan bakar dan waktu pengapian,
Hasil penelitian mendapatkan bahwa lean combustion dan advanced ignition timing
dapat menghasilkan torsi dan daya yang optimum (Setiyo and Utoro, 2017).
Penelitian mengenai perbedaan performa mesin FI 150 cc menggunakan ECU
standar dengan ECU Juken 2 BRT juga telah dilakukan, pada penelitian ini
mendapatkan hasil bahwa peningkatan performa mesin terjadi pada mapping 2
sedengkan pada mapping 1 terjadi penurunan performa mesin (Subekti, 2017).
Penelitian yang membahas tentang remapping ECU sudah ada yang melakukan
tetapi pada penelitian yang sudah dilakukan ini mereka menggunakan ECU standar
dengan ECU programmable untuk dianalisis hasil performanya. Pada penelitian ini
penulis akan menganalisis performa mesin dan konsumsi bahan bakar yang
menggunakan sepeda motor trail 150 cc dengan menggunakan ECU standar dan
ECU standar remapping sepeda motor ini dipilih karena banyaknya para offroader
3
TINJAUAN PUSTAKA
mendapatkan hasil sebagai berikut torsi meningkat sebesar 36,58 % dan daya
meningkat sebesar 33,99 % (Rahman, et al., 2018).
Pada penelitian perancangan dan unjuk kerja Engine Control Unit (ECU)
iquteche pada motor Yamaha vixion memperoleh hasil ECU dapat bekerja dengan
baik. ECU dapat digunakan untuk mengoptimalkan penggunaan bahan bakar mesin
Yamaha Vixion. Pengujian mesin Yamaha Vixion dengan menggunakan ECU
iquteche meningkatkan efisiensi sebesar 11,9%, peningkatan torsi 0,22 N.m,
peningkatan daya 0,2 hp, peningkatan bmep 18,3 kPa, dan penurunan sfc 0,025
kg/[Link] jika dibandingkan pada saat menggunakan ECU standar. Dari hasil
pengujian ini maka dapat disimpulkan bahwa dengan proses mapping yang tepat
dengan menggunakan ECU iquteche akan meningkatkan efisiensi lebih besar jika
dibandingkan menggunakan ECU standar (Fahmi and Yuniarto, 2013).
Penelitian pengaruh penggunaan injection Vixion dan ECU racing pada sepeda
motor yamaha Mio J terhadap daya motor.
1750 rpm adalah 2,74 hp, 3500 rpm adalah 6,01 hp, 5000 rpm adalah 6,48 hp
dengan torsi 0,80 kgf-m, sehingga daya mesin lebih besar menggunakan injector
Vixion pada saat putaran mesin rendah ke putaran sedang saja. Penggunaan ECU
BRT pada sepeda motor Yamaha Mio J memberikan pengaruh terhadap daya, akan
tetapi tidak begitu besar pengaruhnya.
Pada ECU BRT rata-rata daya pada 1750 rpm adalah 3,16 hp, 3500 rpm adalah
5,86 hp, 5000 rpm adalah 7,67 hp dengan torsi 1,20 kgf-m. Sedangkan rata-rata
daya standar pada 1750 rpm adalah 2,74 hp, 3500 rpm adalah 6,01 hp, 5000 rpm
adalah 6,48 hp dengan torsi 0,80 kgf-m sehingga daya mesin lebih besar
menggunakan ECU BRT pada saat putaran mesin rendah dan putaran mesin tinggi.
Penggunaan Injector Vixion dengan ECU BRT pada sepeda motor Yamaha Mio J
memberikan pengaruh yang positif terhadap daya. Pada Injector Vixion dengan
ECU BRT rata-rata daya dalam Horse Power (hp) pada 1750 rpm adalah 3,99 hp,
3500 rpm adalah 7,30 hp, 5000 rpm adalah 8,60 hp dengan torsi 2,10 kgf-m.
Sedangkan rata-rata daya standar pada rpm 1750 adalah 2,74 hp, 3500 rpm adalah
6,01 hp, 5000 rpm adalah 6,48 hp dengan torsi 0,80 kgf-m sehingga daya mesin
lebih besar menggunakan Injector Vixion dengan ECU BRT pada putaran rendah
hingga putaran mesin tinggi dengan daya 11,28 hp dan torsi 2,60 kgf-m maksimal
9000 rpm namun bila mesin dipaksa dengan rpm 9000 terus menerus akan merusak
bagian dalam mesin seperti piston, katup dan lainnya (Tristianto, 2016).
Pada penelitian pengaruh Engine Control Unit (ECU) programmable terhadap
performa sepeda motor yamaha xeon mendapatkan hasil pengujian dengan
menggunakan ECU programmable menunjukkan bahwa setiap putaran mesin,
ECU programmable sebagai control unitnya mampu mengontrol volume bahan
bakar dan waktu pengapian dengan baik serta dapat meningkatkan torsi dan daya
yang dihasilkan oleh mesin sepeda motor.
Unjuk kerja terbaik muncul pada putaran 7000, 7500 dan 7513 rpm sebesar
7,54 hp dan torsi sebesar 8,24 Nm pada putaran mesin 3650 rpm. Dibandingkan
dengan menggunakan ECU standar unjuk kerja mesin yang dihasilkan hanya
sebesar 6,67 hp pada putaran mesin 8650 rpm sedangkan untuk torsi sebesar 6,09
Nm pada putaran mesin 3345 rpm.
8
Gambar 2.115 Skema sistem aliran bahan bakar (Muzakki, 2018)Gambar 2. 116
Diagram P – V dan T – S pada siklus otto (Kurniawan 2018).Gambar 2.117
Prinsip kerja motor 4 langkah (Wiratmaja, 2010)
9
1. Intake
Diawali dengan posisi torak Titik Mati Atas (TMA) dan berakhir dengan
posisi torak di Titik Mati Bawah (TMB), dengan proses menghisap
campuran bahan bakar ke dalam ruang bakar. Untuk meningkatkan massa
campuran yang dihisap katup masuk terbuka sesaat sebelum langkah hisap
dimulai dan menutup setelah berakhirnya langkah tersebut.
2. Compression
Pada saat kedua katup tertutup di mana campuran di dalam ruang bakar
dimampatkan dan volumenya diperkecil. Menjelang akhir langkah
kompresi, pembakaran diaktifkan dan tekanan naik dengan cepat.
3. Exspansion
Langkah usaha atau langkah ekspansi, diawali posisi torak di TMA dan
berakhir di TMB ketika temperatur dan tekanan gas yang tinggi mendorong
torak ke bawah dan memaksa poros engkol untuk berputar. Ketika torak
mendekati TMB, katup buang terbuka untuk mengawali proses buang dan
tekanan ruang bakar turun mendekati tekanan buang.
4. Exhaust
Sisa gas yang dibakar keluar dari ruang bakar ini disebabkan tekanan pada
ruang bakar yang pada hakikatnya lebih tinggi dibanding tekanan buang.
Gas kemudian didorong keluar oleh torak ketika bergerak ke arah TMA.
Ketika torak mendekati TMA, katup masukan terbuka. Sesaat setelah TMA,
katup buang menutup dan siklus dimulai kembali.
b. Siklus Otto
Pada motor Otto 4 langkah ini, gas pembakaran hanya mendorong torak pada
langkah ekspansi saja. Oleh karena itu, untuk memungkinkan gerak torak pada tiga
langkah lainnya maka sebagian energi pembakaran selama langkah ekspansi diubah
dan disimpan dalam bentuk energy kinetis roda gila (flywheel). Siklus kerja motor
Otto dapat digambarkan pada diagram indikator, yaitu diagram P-V (tekanan-
volume) dan diagram T-S (tekanan- entropi). Diagram indikator ini berguna untuk
melakukan analisis terhadap karakteristik internal motor Otto (Kurniawan 2018),
Diagram P -V dan diagram T – S dapat dilihat pada gambar 2.5 sebagai berikut:
11
memperoleh campuran udara dengan bahan bakar yang tinggi masuk ke dalam
mesin, dimana posisi batang torak tegak lurus dengan poros engkol. Torsi dapat
diperoleh dari hasil kali antara gaya dengan jarak, sehingga ditulis persamaan
sebagai berikut :
T= F.b ………………………………….(2.1)
Keterangan:
F = Gaya sentrifugal daribenda yang berputar (N)
B = Jarak benda dari poros rotasi ke titik pembebanan (mm)
Atau torsi dapat ditentukan dengan rumus sebagai berikut:
𝑃
𝑇= ……………………………. (2.2)
2 . 𝜋 . 𝑁∶60000
Keterengan :
T = torsi (Nm)
P = daya (hp)
N = putaran mesin (rpm)
1 hp = 0.7457 kW
b. Daya
Pada motor bakar daya dihasilkan dari proses pembakaran di dalam silinder
dan biasanya disebut dengan daya indikator. Daya tersebut dikenakan pada torak
yang bekerja bolak-balik di dalam silinder mesin. Jadi di dalam silinder mesin,
terjadi perubahan energi dari energi kimia bahan bakar dengan proses pembakaran
menjadi energi mekanik pada torak.
Daya motor merupakan salah satu parameter dalam menentukan performa
motor. Pengertian dari daya adalah kecepatan yang menimbulkan kerja motor
selama waktu tertentu (Jama and Wagino, 2008).
Untuk menghitung besarnya daya pada motor 4 langkah digunakan rumus:
P (kW) = 2π N T × 10ˉ3...............................................(2.3)
Keterangan:
P = daya (hp)
N = putaran mesin (rpm)
T = torsi (N.m)
1 kW = 1,341 hp
13
Keterangan :
FC = Fuel Consumtion (L/h)
𝑉𝑓 = Volume Konsumsi (L)
t = waktu (h)
2.2.3 Electronic Fuel Injection (EFI)
Sistem bahan bakar tipe injeksi adalah langkah inovasi yang terus dikembangkan
untuk diterapkan pada sepeda motor. Tipe injeksi sebenarnya sudah mulai
digunakan pada sepeda motor dalam jumlah terbatas pada tahun 1980-an, dimulai
dari sistem injeksi mekanis kemudian berkembang menjadi sistem injeksi
elektronik. Penggunaan sistem injeksi bahan bakar pada sepeda motor umum di
Indonesia sudah mulai dikembangkan. Contohnya adalah pada salah satu tipe yang
diproduksi oleh Astra Honda Motor, yaitu pada motor honda CRF 150 cc. Istilah
sistem EFI pada Honda adalah Programmed Fuel Injection (PGM-FI) atau sistem
bahan bakar yang telah terprogram. Penggantian sistem bahan bakar konvensional
ke sistem EFI bermaksud agar dapat meningkatkan unjuk kerja dan tenaga mesin
yang lebih baik, akselarasi yang lebih stabil pada tiap putaran mesin, pemakaian
bahan bakar yang ekonomis (irit), serta menghasilkan kandungan racun (emisi) gas
buang yang sedikit, dimana hal ini sesuai dengan peraturan pemerintah mengenai
standar emisi gas buang kendaraan bermotor yang harus ditekan atau ramah
lingkungan.
Tujuan EFI adalah untuk menutupi kelemahan sistem bahan bakar konvensional
dengan menggunakan karburator. Di mana pada karburator terjadi kurangnya
kekonsistenan Air Fuel Ratio (AFR) yang dihasilkan. Angka AFR yang ideal adalah
14
14,7 (stoichiometri) pada setiap tingkatan putaran mesin (rpm). Pada karburator
biasanya terjadi saat rpm rendah AFR cenderung kaya (rich) sedangkan pada rpm
tinggi malah terjadi campuran miskin (lean) atau bisa juga terjadi hal-hal
sebaliknya. Kelemahan lain pada karburator adalah proses jalanya hasil pengabutan
bahan bakar dan udara dari karburator menuju ruang bakar mengalami kesulitan,
karena harus melalui lekukan-lekukan dan sudutan yang tajam pada saluran masuk
(intake manifold).
Jumlah komponen komponen yang terdapat dalam sistem EFI bisa berbeda pada
setiap jenis sepeda mesin. Semakin lengkap komponen sistem EFI yang di gunakan,
tentu kerja sistem EFI akan lebih baik sehingga bisa menghasilkan unjuk kerja
mesin yang lebih optimal pula. Dengan semakin lengkapnya komponen-komponen
sistem EFI misalnya sensor-sensor, maka pengaturan koreksi yang di perlukan
untuk mengatur perbandingan bahan bakar dan udara yang sesuai dengan kondisi
kerja mesin akan semakin sempurna.
Secara umum, konstruksi sistem EFI dapat di bagi menjadi tiga bagian utama
yaitu:
1) Sistem bahan bakar
Sistem aliran bahan bakar pada sistem EFI terdiri dari fuel tank, fuel pump, fuel
filter, fuel delivery pipe, injector, fuel pressure regulator, dan fuel return pipe.
Sistem bahan bakar pada motor bensin berfungsi untuk mengabutkan bahan bakar,
mencampur bahan bakar dan udara pada komposisi yang tepat seusai dengan
kondisi kerja mesin Bahan bakar dari tangki di tekan oleh sebuah pompa bensin
elektrik yang di control kerjanya oleh ECU dan mengalir melewati fuel filter,
menuju ke fuel delivery pipe dan di alirkan kepada masing-masing injektor. Sebuah
injektor atau lebih bekerja menyemprotkan bensin yang di kontrol oleh ECU.
Tekanan pada pipa pembagi akan tetap di jaga oleh adanya fuel pressure regulator.
Setelah campuran bahan bakar dibakar oleh bunga api, maka diperlukan waktu
tertentu bagi bunga api untuk merambat didalam ruang bakar. Maka akan terjadi
sedikit keterlambatan antara awal pembakaran dengan pencapaian tekanan
pembakaran maksimum. Oleh sebab itulah banyaknya bahan bakar yang di
15
a. Fuel suction filter berfungsi menyaring kotoran agar tidak terhisap pompa
Gambar 2. 251 Skema sistem kontrol elektronik (Muzakki, 2018)Gambar 2.252
bahan bakar.
Skema sistem aliran bahan bakar (Muzakki, 2018)
b. Fuel pump module berfungsi memompa dan mengalirkan bahan bakar dari
Gambar
tangki 2. 253
bahan Skema
bakar ke sistem kontrol
injektor. elektronik
Penyaluran (Muzakki,
bahan bakarnya2018)
harus lebih
Gambarbanyak
2. 254 dibandingkan
Skema sistem dengan
induksikebutuhan mesin.2005)Gambar 2. 255 Skema
udara (Sutiman,
sistem
c. Fuelkontrol elektronik
pressure (Muzakki,
regulator 2018)Gambar
berfungsi 2.256 Skema
mengatur tekanan bahan sistem aliran
bakar di dalam
bahan bakar (Muzakki, 2018)
sistem aliran Bahan bakar agar tetap/konstan.
d. Fuel feed hose berfungsi untuk mengalirkan bahan bakar dari tangki menuju
Gambar 2. 257 Skema sistem kontrol elektronik (Muzakki, 2018)Gambar 2.258
injektor. Skema sistem aliran bahan bakar (Muzakki, 2018)
e. Fuel injector berfungsi menyemprotkan bahan bakar ke saluran masuk
Gambar
(intake 2. 259 Skema
manifold), sistem
biasanya kontrol
sebelum elektronik
katup masuk,(Muzakki,
namun ada2018)
juga yang ke
ECU akan menghitung secara akurat berapa banyak bahan bakar yang di
butuhkan mesin yang akan di berikan oleh injector dengan memonitor sensor-
sensor yang terdapat pada mesin. ECU akan mengontrol kerja injektor berdasarkan
lebar atau lama pulsa penginjeksian atau durasi penginjeksian untuk memberikan
campuran yang sesuai dengan kondisi kerja mesin. Sistem kontrol elektronik terdiri
dari komponen-komponen yang dapat dilihat pada gambar 2.6 berikut:
a. Gambar
Input pada sistem
2. 331 Skemabahan bakar
sistem terdiri
induksi dari(Sutiman,
udara sensor suhu udara masuk
2005)Gambar (intake
2. 332
Skema sistem kontrol elektronik (Muzakki, 2018)
air temperature sensor) yang berfungsi untuk mendeteksi kepadatan udara
Gambar
melalui 2. 333masuk,
suhu udara Skemasensor
sistemtekanan
induksi udara masuk
(Sutiman, 2005)
(intake air pressure
sensor) yang
Gambar berfungsi
2. 334 untuk mendeteksi
Tabel tampilan beban mesin
proses pengaturan melalui
ulang ECUtekanan
denganudara
menggunakan
masuk, sensoraplikasi
posisiTunerproGambar 2. 335
katup gas (throttle Skemasensor)
position sistem induksi udara
yang berfungsi
(Sutiman, 2005)Gambar 2. 336 Skema sistem kontrol elektronik (Muzakki, 2018)
mendeteksi beban mesin melalui perubahan posisi derajat pembukaan katup
Gambar 2. 337posisi
gas, sensor Skema sistem
poros induksi
engkol udara (Sutiman,
(crankshaft position2005)Gambar
sensor) yang 2. 338
berfungsi
Skema sistem kontrol elektronik (Muzakki, 2018)
untuk mendeteksi kecepatan mesin dan saat timing injeksi yang tepat melaui
Gambar
putaran poros 2. 339 Skema
engkol, sensorsistem
suhu induksi udara (Sutiman,
mesin (engine temperature2005)
sensor) yang
Gambar
[Link]
340 Tabel tampilan
mendeteksi proses
suhu pengaturan
mesin ulang
melalui suhu oliECU dengan
mesin, sensor O2
menggunakan aplikasi TunerproGambar 2. 341 Skema sistem induksi udara
yang berfungsi untuk mendeteksi rasio pencampuran bahan bakar dan udara
(Sutiman, 2005)
melalui kerapatan oksigen pada gas buang.
Gambar 2. 342 Tabel tampilan proses pengaturan ulang ECU dengan
b. Proses, bagian proses pada sistem
menggunakan bahan
aplikasi bakar terdiri dari ECU yang
Tunerpro
berfungsi untuk menerima sinyal listrik dari sensor berupa sinyal input yang
Gambar 2. 343 Skema prinsip kerja ECU (Subekti, 2017)Gambar 2. 344 Tabel
tampilan proses pengaturan ulang ECU dengan menggunakan aplikasi
TunerproGambar 2. 345 Skema sistem induksi udara (Sutiman, 2005)
kemudian diolah untuk dijadikan garis perintah kepada actuator. Sensor ini
berfungsi menerima dan menghitung seluruh informasi atau data yang
diterima dari masing-masing sinyal sensor yang ada dalam mesin. Informasi
yang diperoleh dari sensor antara lain berupa informasi tentang suhu udara,
suhu oli mesin, suhu air pendingin, tekanan atau jumlah udara masuk, posisi
katup katup gas, putaran mesin, posisi poros engkol, dan informasi yang
lainnya.
c. Output, bagian output pada sistem bahan bakar terdiri dari injektor yang
berfungsi untuk menginjeksikan sejumlah bahan bakar kedalam intake
manifold berdasarkan sinyal injeksi yang diberikan oleh ECU dan Idle Speed
Control (ISC).
3) Sistem induksi udara
Gambar
Komponen 2. 410 Tabel
yang tampilan
termasuk proses sistem
ke dalam pengaturan ulang
induksi ECU
udara dengan
antara lain; air
menggunakan aplikasi TunerproGambar 2. 411 Skema sistem induksi udara
cleaner, intake manifold dan throttle body sistem
(Sutiman, 2005) ini berfungsi untuk menyalurkan
sejumlah udara yang diperlukan untuk proses pembakaran. Pada awalnya, fungsi
Gambar 2. 412 Tabel tampilan proses pengaturan ulang ECU dengan
piranti elektronik yang menggunakan
ada pada sistem induksi
aplikasi udara adalah hanya untuk
Tunerpro
mengetahui jumlah atau volume udara yang masuk ke intake manifold dan
Gambar 2. 413 Skema prinsip kerja ECU (Subekti, 2017)Gambar 2. 414 Tabel
mengetahui temperatur
tampilan udara agar ulang
proses pengaturan ECU dapat
ECUmenghitung massa udaraaplikasi
dengan menggunakan yang masuk
TunerproGambar
ke dalam 2. 415 Skema saat
ruang bakar. Perkembangan sistem
ini induksi udara (Sutiman,
pengontrolan telah dapat2005)
dilakukan
khususGambar 2. 416
nya pada Tabel
putaran tampilan
re ndah untukproses pengaturan
mengontrol ulang
putaran idle ECU dengantinggi.
dan putaran
menggunakan aplikasi TunerproGambar 2. 417 Skema sistem induksi udara
Melalui program yang terintegrasi yang tersedia di dalam ECU guna meningkatkan
(Sutiman, 2005)
efisiensi volumetric (Sutiman, 2005).
Gambar 2. 418 Tabel tampilan proses pengaturan ulang ECU dengan
menggunakan aplikasi Tunerpro
Sistem aliran udara di mulai dari filter udara untuk menyaring udara dari
kotoran, air metering (berupa sensor temperatur dan air flow meter) menuju throttle
body, intake manifold dan ke ruang bakar. Dalam sistem induksi udara ini, control
unit membutuhkan data temperatur udara, volume dan densitas udara yang masuk
ke ruang bakar. Data-data tersebut diperlukan untuk mengkalkulasi terpenuhinya
campuran udara stoiciometric oleh ECU. Pada putaran idle, teknologi sistem
control mampu mengontrol putaran idle melalui actuator yang dikontrol oleh ECU
sehingga diperoleh putaran idle yang tepat guna memenuhi kebutuhan mesin.
Pengontrolan pada piranti idle untuk melengkapi kerja ECU pada saat idle,
dibutuhkan data-data dari berbagai sensor seperti camshaft position sensor, throttle
position sensor, water temperatur sensor, air conditioner switch, tegangan baterai,
vehicle speed sensor dan lain-lain. Tujuan yang diharapkan dari kontrol mesin pada
sestem induksi udara ini pada saat mesin bekerja pada putaran idle adalah:
a. Untuk menyeimbangkan torsi yang di hasilkan dengan perubahan beban
mesin, sehingga mesin tetap dapat berputar secara stabil meskipun ada beban-
beban listrik.
b. Untuk menyajikan putaran rendah yang halus dengan emisi gas buang dan
konsumsi bahan bakar rendah mengingat pemakaian kendaraan bermotor di
dalam kota digunakan pada putaran idle.
Dikarenakan katup yang besar mengakibatkan pembukaannya akan sangat
sensitif terhadap putaran mesin sehingga kecepatan idle akan susah dikontrol, maka
jumlah udara yang masuk melalui intake manifold dikontrol oleh katup bypass atau
oleh sebuah actuator menggunakan motor listrik yang di kontrol ECU yang bekerja
membuka dan menutup saluran dengan nilai yang telah di tetapkan. Dengan
menggunakan umpan balik dari rpm mesin, ECU dapat menyetel jumlah udara yang
mengalir untuk menambah atau mengurangi putaran idle. Kelemahan pada kontrol
udara ini relatif lebih lambat dalam merespon perubahan beban. Untuk mengatasi
masalah ini, sistem control udara dikombinasikan dengan kontrol sistem pengapian
agar diperoleh putaran idle yang sesuai. Kebutuhan bahan bakar pada saat putaran
idle ditentukan oleh beban dan putaran mesin. Dalam operasi kerja closed loop
19
sistem nilai atau jumlah bahan bakar ini dioptimalkan oleh lambda close loop
control.
4) Cara Kerja Sistem Injeksi
Sistem EFI di rancang agar bisa melakukan penyemprotan bahan bakar yang
jumlah dan waktunya di tentukan berdasarkan informasi dari sensor-sensor.
Pengaturandan koreksi campuran udara dan bahan bakarsangat penting di lakukan
agar mesin bisa dapat bekerja dengan optimal pada berbagai kondisi kerja nya. Oleh
karena itu, keberadaan sensor-sensor yang memberikan informasi sangat penting
untuk menentukan performa suatu mesin. Semakin lengkap sensor yang di gunakan
untuk mendeteksi kondisi mesin dari berbagai kondisi mesin berupa suhu, tekanan,
putaran, kandungan gas, getaran mesin dan sebagainya akan lebih baik. Informasi
tersebut akan bermanfaat bagi ECU untuk di olah guna memberikan perintah yang
tepat kepada injector, sistem pengapian, pompa bahan bakar, dan sebagainya.
Jumlah injeksi bahanbakar dipengaruhi oleh tekanan bahan bakar, besar lubang
injektor dan lama lubang injektor terbuka. Dikarenakan tekanan bahan bakar diatur
tetap oleh preasure fuel regulator dan lubang injektor tetap, dengan demikian untuk
menentukan jumlah bahan bakar yang di injeksikan dengan cara menentukan
lamanya injektor ON yang biasa disebut dengan durasi injeksi. Semakin lama durasi
injeksi maka semakin banyak jumlah bahan bakar yang di injeksikan (Moch
Solikin, 2005)
5) Durasi Injeksi
Jumlah injeksi bahan bakar dipengaruhi oleh tekanan bahan bakar, besar
lubang injektor dan lama injektor terbuka. Tekanan bahan bakar diatur oleh
regulator tekanan, besar lubang injektor dibuat tetap, dengan demikian untuk
mementukan jumlah injeksi bahan bakar diatur dengan menentukan lama injector
“ON”. Lama injektor “ON” disebut durasi injeksi. Semakin besar durasi injeksi
semakin banyak jumlah bahan bakar yang diinjeksikan.
Durasi injeksi di kontrol oleh ECU berdasarkan input dari masukan sensor
sensor jumlah udara, temperatur udara, putaran mesin, temperatur mesin, posisi
pembukaan katup gas (TPS) dan emisi gas buang (oxygen sensor).
20
Durasi injeksi dikelompokkan menjadi 2 yaitu saat starter mesin dan setelah
starter sistem kontrol yang bekerja adalah sebagai berikut:
a. Durasi injeksi saat starter
Durasi injeksi saat starter terdiri dari durasi injeksi dasar dan koreksi durasi
saat starter, koreksi durasi saat starter meliputi koreksi temperatur udara masuk
dan koreksi tegangan baterai.
b. Durasi injeksi dasar
Durasi injeksi dasar ditentukan berdasarkan 2 faktor utama yaitu jumlah udara
yang masuk ke dalam silinder dan dari putaran mesin.
c. Koreksi temperatur udara masuk
Koreksi temperatur udara masuk merupakan penambahan lamanya durasi
injeksi, padasaat temperatur udara dingin dengan volume udara yang sama
maka akan menghasilkan masa yang lebih berat daripada temperatur udara saat
panas, oleh karena itu temperatur udara perlu di koreksi agar perbandingan
campuran udara dan bahan bakar tepat.
d. Koreksi Baterai
Koreksi baterai merupakan penambahan lama injeksi sebagai koreksi
perubahan tegangan baterai. Pada saat stater terjadi penurunan tegangan baterai
(voltage drop), sehingga injektor tidak segera membuka walaupun sudah
menerima sinyal dari ECU, kondisi tersebut akan menyebabkan terjadinya
kesalahan jumlah injeksi bahan bakar.
e. Durasi injeksi setelah stater
Durasi injeksi setelah stater terdiri dari durasi injeksi dasar, koreksi duras
injeksi dan koreksi tegangan baterai.
Koreksi durasi injeksi untuk menentukan lamanya injektor membuka yang akan
dipengaruhi oleh beberapa faktor antara lain akan di jelaskan sebagai berikut:
a) Koreksi temperatur udara masuk
Koreksi udara masuk merupakan penambahan durasi lamanya injeksi bahan
bakar berdasarkan koreksi temperatur udara masuk menggunakan input data
sensor temperature udara.
21
arus listrik, hambatan listrik). ECU diprogram untuk kondisi mesin standar sesuai
model motor.
Di dalam ECU terdapat tabel bahan bakar yang akan dikirim melalui injektor
sesuai kondisi mesin standar. Tabel pada ECU standar biasanya tidak dapat diubah,
karena tujuan utama EFI ialah pengurangan kadar emisi gas buang beracun
(Hidayat, 2012).
b. ECU remapping
ECU remapping pada dasarnya adalah ECU standar yang dimana pada data
pemetaan ECU standar yang sudah dibuat oleh pabrik dilakukan pemetaan ulang
dengan tujuan agar kinerja mesin menjadi lebih optimal dan sesuai dengan yang
diinginkan. Proses kinerja mesin dapat disempurnakan dengan penggunaan
mapping yang tepat (Fahmi and Yuniarto, 2013).
Remapping dapat dilakukan secara menyeluruh atau hanya perbagian sampai
detail setiap 250 rpm. Perubahan mapping pada ECU untuk mengkoreksi
banyaknya bahan bakar dan waktu pengapian akan menghasilkan karakter mesin
yang sesuai dengan tujuan penggunaan. Untuk menghindari kerusakan mesin akibat
katup terlambat kembali setelah membuka (floating) pada saat putaran mesin
terlalu tinggi maka ECU remapping dapat diatur dengan memberikan limit putaran
dengan menghentikan letikan bunga api atau penghentian sementara bahan bakar
yang diinjeksikan (fuel cut) (Setiyo and Utoro, 2017).
Untuk melakukan sebuah remapping ini dibutuhkan suatu aplikasi khusus yaitu
aplikasi HondaECU aplikasi ini digunakan untuk mendeteksi kode ECU, membaca
file ECU dan mentransfer file yang sudah diatur ulang. Untuk mengatur ulang file
tabel ECU standar digunakan aplikasi yang berbeda, yaitu dengan aplikasi
Tunerpro, pada aplikasi ini bisa untuk mengatur putran mesin maksimum, durasi
injeksi, waktu pengapian dan campuran bahan bakar. Pada proses remapping pada
penelitian ini yang dimapping ulang pada ECU adalah konsumsi bahan bakar,
waktu pengapian dan putaran mesin maksimal.
24
c. Gambar
Cara 2. 481 Skema prinsip kerja ECU (Subekti, 2017)Gambar 2. 482
kerja ECU
Tabel tampilan proses pengaturan ulang ECU dengan menggunakan aplikasi
Tunerpro
antara 0 volt sampai 5 volt. Selanjutnya ECU menggunakan data yang telah diolah
tadi untuk menghitung dan menentukan waktu dan lamanya injektor
menyemprotkan bahan bakar dengan mengirimkan tegangan listrik ke solenoid
injektor. Pada beberapa mesin yang sudah lebih sempurna, disamping mengontrol
injektor, ECU juga bisa mengontrol sistem pengapian (Jama and Wagino, 2008).
7) Dynotest (Dynamometer)
8
7
6
9
5
2 3 4
Gambar 2. 10 Setup dynotest
Keterangan :
1. Blower
2. Stopper ban depan
3. Sepeda motor
4. Roller dynotest
5. Kabel sensor roller
6. Kabel sensor putaran mesin ke motor
7. Hardware microcontroller dynotest
8. Komputer kontrol
9. Monitor
26
METODOLOGI PENELITIAN
27
28
3.2.2 Bahan
a. Sepeda motor Trail 150 cc
Tabel 3.1 Spesifikasi sepeda motor trail 150 cc
Mesin Keterangan
Tipe mesin 4 langkah, Single Over Head Camshaft
(SOHC), satu silinder
Kapasitas mesin 149.15 cm³
Tipe transmisi 5-Speed
Sistem suplai bahan bakar PGM-FI
Diameter X langkah 57.3 x 57.8 mm
Rasio kompresi 9.5:1
Daya maksimum 9,51 kW/8.000 rpm
Torsi maksimum 12,43 Nm/6.500 rpm
Studi literatur
Pengujian daya,
torsi dan
konsusmi bahan
bakar
A A
31
A A
Analisis data
Kesimpulan
Selesai
memaksimalkan hasil putaran roda sepeda motor dan memepersiapkan toolkit yang
akan digunakan untuk membongkar pasang ECU.
3.8.3 Pengujian daya, torsi dan konsumsi bahan bakar
Pengujian daya dan torsi dilakukan dengan menggunakan:
1. Alat uji dynotest
2. Bahan bakar yang digunakan tipe Research Octane Number (RON) 90
3. Suhu ruangan 29,3ºC
4. Pengujian dilakukan pada posisi gigi 4
5. Pengambilan putaran mesin pada 3000 rpm-9000 rpm dengan range 1000 rpm.
6. ECU remapping hanya mengatur durasi injeksi, waktu pengapian dan putaran
mesin maksimum
Pada pengujian konsumsi bahan bakar dilakukan dengan menggunakan
tangki bahan bakar buatan dengan menghitung waktu yang dibutuhkan untuk
menghabiskan bensin 10 ml. Pengambilan data diambil pada putaran mesin 3000
rpm-9000 rpm dengan range 1000 rpm.
a. Tahap pengujian
1) Pengujian daya dan torsi
a) Memposisikan sepeda motor trail 150 cc yang sudah dipersiapkan
sebelumnya ke alat dynotest dan mengunci roda depan.
b) Mengikat bagian belakang dan tengah sepeda motor dengan sabuk
pengikat pada posisi kanan dan kiri sehingga sepeda motor tegak dan
tidak lepas dari alat.
c) Memasangan kabel sensor rpm ke koil.
d) Menyalakan monitor dan komputer yang tersambung dengan alat
dynotest.
e) Menghidupkan mesin selama 5 menit terlebih dahulu hal ini bertujuan
agar mesin berada pada kondisi yang paling optimal.
f) Memposisi gigi pada gigi ke 4 untuk mengambil data.
g) Menaikkan throtle dari putaran mesin bawah tengah sampai atas.
h) Mengambil data pada putaran mesin 3000 rpm-9000 rpm dengan
range 1000 rpm.
33
b. Perlakuan pengujian
Pengujian ini dilakukan dengan 2 kali perlakuan sebagai berikut:
1) Pengujian dengan menggunakan Electronic Control Unit (ECU) standar
pada putaran mesin 3000 rpm-9000 rpm dengan range 1000 rpm. Setelah
melakukan pengujian maka akan mendapatkan data hasil pengujian.
2) Remapping ECU standar, berikut langkah-langkahnya:
a) Melepas ECU standar sepeda motor yang telah diuji.
b) Menyiapkan laptop dan adaptor flashing ECU.
c) Menyambungkan ECU dengan laptop dengan menggunakan adaptor
flashing ECU.
d) Membuka aplikasi HondaECU agar ECU bisa tersambung dan
terdeteksi pada aplikasi, proses ini dilakukan untuk mendeteksi kode
ECU dan file tabel standar ECU.
e) Menyimpan file tabel standar ECU.
f) Membuka aplikasi Tunerpro yang ada pada laptop, aplikasi ini
digunakan untuk mengatur ulang file tabel ECU saja.
g) Memasukkan file tabel ECU standar yang telah disimpan ke aplikasi
Tunerpro.
h) Memulai untuk mengatur ulang file tabel ECU standar.
i) Mengatur putaran mesin maksimum dengan dinaikkan menjadi
10000 rpm yang awalnya 9000 rpm.
j) Mengatur durasi injeksi dengan menaikkan 10% pada putaran awal
mesin yaitu pada putaran 1250 rpm-4000 rpm, pada putaran tengah
mesin dinaikkan 12% yaitu pada putaran mesin 4250 rpm -7000 rpm
dan pada putaran akhir mesin dinaikkan 15% yaitu dari putaran
mesin 7250 rpm - 1000 rpm. Menaikkan durasi injeksi ini dilakukan
hanya sampai 15% saja dikarenakan spesifikasi mesin yang masih
standar pabrik, jia terlalu besar maka akan menimbulkan kerugian-
kerugian pada mesin.
35
Lampiran 1. Alat
Spesifikasi dynotest
Measurement item Speed, rpm, torque, power, AFR
Type Rextor Pro Dyno 130 hp
Made in Spain
Power supply 1500 watt
Operation Computer
Application Smart Power SP-1 Ver 3b Sport
Devices
Dimension 250×150×40 cm
Safety Belt
Weight 200 kg
Cooler Blower
Diameter roller 30×45 cm
Sensor roller Eddycurent
Tangki bahan bakar buatan
Spesifikasi stopwatch
Material Plastic
Screen LCD
Weight 100 gram
Dimension 57×60×15 mm
Strap length 60 cm
Lampiran 2. Bahan
Tabel hasil pengujian daya dan torsi dengan menggunakan ECU standar
Grafik hasil pengujian daya dan torsi menggunakan ECU standar
Tabel hasil pengujian daya dan torsi menggunkan ECU standar remapping
Grafik hasil pengujian daya dan torsi menggunakan ECU standar remapping