A.
Sistem Pemerintahan dalam Islam
1. Pengertian Pemerintahan dalam Islam
Secara etimologi, pemerintahan berasal dari: Kata dasar "pemerintah"berarti melakukan
pekerjaan menyeluruh. Penambahan awalan "pe" menjadi"pemerintah" berarti badan yang
melakukan kekuasaan memerintah. Penambahan akhiran "an" menjadi "pemerintahan"
berarti perbuatan, cara, hal atau urusan dari pada badan yang memerintah tersebut. Dalam
literatur kenegaraan Islam dikenal dengan istilah Imamah, khilafah dan Imarat.
Sehubungan dengan hal ini Abdul Muin Salim mengatakan: "Pemerintahan sebagai salah
satu struktur dasar sistem politik merupakan lembaga yang menyelenggarakan mekanisme
politik atau roda pemerintahan yang dipimpin oleh seorang pejabat yang disebut "wali"
atau "amir" atau dengan istilah lainnya yang dikenal dalam perpustakaan politik dan
ketatanegaraan Islam. Menurut Hasan al-Banna bahwa Islam menganggap pemerintahan
sebagai salah satu dasar sistem sosial yang dibuat untuk kebaikan manusia. Islam tidak
menghendaki kekacauan atau anarkis dan tidak membiarkan satu masyarakat tanpa Imam
yang memiliki tugas dan kewajiban sebagai berikut: pertama, menjaga keamanan dan
melaksanakan undang-undang; kedua, menyelenggarakan pendidikan; ketiga,
mempersiapkan kekuatan; keempat, memelihara kesehatan; kelima, memelihara
kepentingan umum;
keenam, mengembangkan kekayaan dan memelihara harta benda; ketujuh, mengokohkan
akhlak; kedelapan, menyebarkan dakwah. Istilah pemerintahan dalam Islam dikenal
dengan beberapa istilah khilafah, imamah dan imarah. Kekhalifahan merupakan
pemerintahan yang dibangun di atas konsep kewarganegaraan tanpa memandang etnis,
gender atau kepercayaan dan sepenuhnya menentang perlakuan represif terhadap
kelompok religius atau etnis. Definisi di atas menunjukkan hubungan timbal balik antara
agama dan negara yakni keduanya saling memerlukan. Meskipun antara memelihara
agama dan mengatur negara kelihatannya berbeda namun keduanya tidak bisa dipisahkan.
Politik membutuhkan agama begitu sebaliknya agama membutuhkan politik, itulah
khilafah dalam Islam. Imam al-Ghazali pernah berkata agama adalah pondasi sedangkan
pemerintahan adalah tiangnya. Tiang akan runtuh jika tidak ada pondasi. Setiap sistem
pemerintahan dapat dipastikan mempunyai tujuan yang akan dicapainya. Menurut Abul
A’la al-Maududi, terdapat tiga tujuan utama pemerintahan dalam Islam. Pertama,
menegakkan keadilan dalam kehidupan manusia dan menghentikan kezaliman serta
menghancurkan kesewenang-wenangan. Dalam konteks Indonesia, pemerintahan dalam
Islam telah sesuai dengan nilai-nilai yang telah diterapkan dalam Negara Kesatuan
Republik Indonesia, hal ini terbukti dari dasar negara yang menempatkan Ketuhanan yang
Maha Esa menjadi dasar utama, dan dalam pembukaan UUD 1945 secara tegas
menyatakan kemerdekaannya karena berkat dan rahmat Tuhan yang maha kuasa dan
didorong oleh keinginan luhur Indonesia. Selain itu, peraturan peraturan pemerintah yang
telah dibuat telah memberikan kebebasan kepada penganut agama untuk melaksanakan
ibadah sesuai dengan keyakinannya.
Menurut Abdurrahman Wahid bahwa konsep negara Islam sebenarnya tidak pernah ada
tetapi yang ada adalah tawaran-tawaran Islam tentang nilai-nilai luhur untuk mengisi
setiap sendi perpolitikan, perekonomian, kebudayaan, seni, dan lain-lain dalam kehidupan
bangsa dan negara. Senada dengan pemikiran di atas, Nurcholis Majid mengungkapkan
bahwa konsep bentuk negara yang ditawarkan Islam adalah bentuk negara yang
mengayomi. Dalam artian, dasar negara dari sebuah negara haruslah disepakati dan dapat
diterima oleh semua rakyat negara tersebut. Adapun untuk konteks Indonesia yang plural,
agama tertentu tidak dijadikan dasar dalam negara.
2. Dasar, Nilai dan Cara Pengangkatan Pemimpin dalam Islam
Dalam al-Quran terdapat sejumlah ayat yang mengandung petunjuk dan pedoman bagi
manusia dalam hidup bermasyarakat dan bernegara. Ayat-ayat tersebut mengajarkan
tentang kedudukan manusia di bumi dan tentang prinsip-prinsip yang harus diperhatikan
dalam kehidupan bermasyarakat seperti: prinsip musyawarah , ketaatan kepada pemimpin
, keadilan , persamaan dan kebebasan beragama .
Salah satu catatan penting bahwa perumusan sistem kepemimpinan pasca Nabi
Muhammad SAW telah memberi inspirasi bagi perumusan panjang dan perdebatan sistem
pemerintahan dalam Islam dengan tetap mengacu pada semangat yang mereka bangun
melalui tiga prinsip yaitu: Pertama, menekankan musyawarah dalam menyelesaikan
masalah politik dan sosial. Kedua, memberikan prioritas untuk menjadi pemimpin kepada
masyarakat dan diterima oleh masyarakat, dan Ketiga, pernyataan terbuka oleh masyarakat
tentang kesetiaan dalam mengikuti kepemimpinan mereka yang dinyatakan dalam bentuk
bai’at . Adapun nilai-nilai dalam pelaksanaan sistem bernegara dan bermasyarakat bagi
seorang pemimpin adalah sebagai berikut:
a. Kejujuran, keikhlasan serta tanggung jawab Semuanya harus dimiliki oleh seorang
kepala negara dalam melaksanakan tugas kenegaraan untuk rakyatnya dengan tidak
membedakan mereka baik dari keturunan, warna kulit dan sebagainya.
b. Keadilan yang bersifat menyeluruh kepada rakyat
c. Ketauhidan (mengesakan Allah) yang mengandung arti taat kepada Allah, rasul-Nya
dan pemimpin negara sebagai kewajiban bagi setiap orang beriman.
d. Adanya kedaulatan rakyat. Hal ini dapat dipahami dari adanya perintah Allah agar
orang yang beriman taat kepada ulil amri (pemimpin). Sebagaimana tercantum dalam
al-Qur’an surat al-Nisa ayat 58 yang artinya "Wahai orang-orang yang beriman taatlah
kamu kepada Allah,taatlah kepada rasul dan pemimpin diantara kamu"
B. Bentuk-bentuk Pemerintahan dalam Islam
Pemerintahan yang diharapkan masyarakat yaitu pemerintahan yang dalam
pelaksanaannya dan pengimplementasiannya memakai sistem pemerintahan yang
jujur, adil, dan harmonis. Pemerintahan yang baik pada hakikatnya dapat diterima
dari semua lapisan baik itu dari lapisan masyarakat maupun lapisan dari
pemerintah itu sendiri. Hubungan pemerintahan dengan negara tidak dapat
dipisahkan karena pemerintah lah yang akan melaksanakan dan mengerjakan
segala urusan-urusan yang berkaitan kenegaraan sehingga tidak dipedulikan apa
bentuk negara dalam pemerintahan Islam. Pemerintahan Islam tidak secara rinci
mengatur tentang bentuk pemerintahan. Turki menggunakan sistem Republik dan
Arab Saudi menggunakan sistem kerajaan. Karena menurut para pemikir Muslim,
seraya merujuk kepada sejumlah ayat dalam Al-Quran, mengatakan bahwa bentuk
pemerintahan bisa berbentuk kerajaan maupun republik Q.S. Al-Baqarah : 251;
Shad . Praktik yang terjadi dalam perjalanan sejarah Islam memperlihatkan dua
bentuk pemerintahan ini. Pemerintahan Islam yang berlangsung sepeninggal Nabi,
khususnya pada masa Khulafa al-Rasyidin , barangkali sepadan dengan bentuk
republik dalam konsep politik modern. Tetapi pada kurun berikutnya, sejak
pemerintahan Umayyah, Abbasiyah, sampai dengan Turki Usmani, dan
pemerintahan Islam di wilayah yang lainnya, termasuk di Indonesia, adalah
bercorak kerajaan atau monarki. Ciri utamanya adalah semasa Nabi dan Khulafa
al-Rasyidin, pergantian kekuasaan tidak bersifat keturunan dan satu sama lain tidak
memiliki hubungan kekerabatan, sementara pemerintahan selanjutnya pergantian
kekuasaannya berlangsung secara turun temurun, meskipun tidak mesti antara
bapak dan anak. Banyak individu Muslim yang menyatakan bahwa Islam itu
agama yang lengkap; ajarannya mencakup semua hal dalam bidang kehidupan,
termasuk masalah politik. Hal ini harus diakui bahwa Al-Quran telah memberikan
ajaran yang lengkap mengenai kehidupan manusia. Namun yang perlu dicatat
adalah, ajaran-ajaran tersebut bersifat umum. Dasar-dasarnya telah ada, tapi
konseptualisasi konkretnya perlu mendapat sentuhan interpretasi atau ijtihad dari
kaum Muslim. Dalam membicarakan masalah negara misalnya, mengutip Husain
Haikal, Al-Quran tidak memberikan konsep mengenai negara. Islam tidak
memberikan petunjuk langsung dan rinci bagaimana umat Islam mengurus
persoalan negara. Negara dalam Islam masih berupa petunjuk sebagai instrumen
etis. Bagaimana bentuk negaranya, sistem pemerintahannya, proses
pelaksanaannya, dan lain-lain tidak dijelaskan. Hal ini memungkinkan terus
dibukanya ijtihad politik di dalam diri umat Islam. Dalam pandangan Al-Mawardi
agar negara dapat ditegakkan, dari segi politik hal itu mempunyai enam unsur
pokok:
● pertama, agama yang dianut dan dihayati sebagai kekuatan moral.
● Kedua, penguasa yang kharismatik, berwibawa dan dapat dijadikan teladan.
● Ketiga, keadilan yang menyeluruh.
● Keempat, keamanan yang merata.
Hal ini didasari oleh alasan yang bersifat aqli dan naqli. Secara naqli keharusan
mendirikan negara disebabkan karena tidak mungkin untuk melaksanakan hak dan
kewajiban seperti membela agama, menjaga keamanan dan sebagainya tanpa
adanya pemerintahan. Secara naqli, banyak ayat al-Qur’an dan hadits Rasulullah
yang menegaskan bahwa umat Islam harus menjadi negara yang berjuang
menegakkan kebenaran dan keadilan. Ha ini diantaranya dapat dilihat dalam QS.
Al-Nur ayat 55 :
ض َك َما ا ْست َْخلَفَ الَّ ِذ ْينَ ِم ْن قَ ْبلِ ِه ۖ ْم َولَيُ َم ِّكن ََّن لَهُ ْم ِد ْينَهُ ُم الَّ ِذى ِ ْت لَيَ ْست َْخلِفَنَّهُ ْم فِى ااْل َر ِ صلِ ٰح ّ ٰ َع َد هّٰللا ُ الَّ ِذ ْينَ ٰا َمنُوْ ا ِم ْن ُك ْم َو َع ِملُوا ال
ك َ َِضى لَهُ ْم َولَيُبَ ِّدلَنَّهُ ْم ِّم ۢ ْن بَ ْع ِد َخوْ فِ ِه ْم اَ ْمنً ۗا يَ ْعبُ ُدوْ نَنِ ْي اَل يُ ْش ِر ُكوْ نَ بِ ْي َش ْيـ ًۗٔا َو َم ْن َكفَ َر بَ ْع َد ٰذلٰ ارْ ت
ٰۤ ُ
َك هُ ُم ْال ٰف ِسقُوْ نَ ول ِٕى فَا
Artinya: Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan
mengerjakan amal-amal yang saleh bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan
mereka berkuasa di bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang yang sebelum
mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah
diridhai-Nya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan menukar mereka, sesudah mereka
berada dalam ketakutan menjadi aman sentosa.
Dengan demikian, khilafah dalam arti suatu sistem pemerintahan atau negara untuk
mewujudkan keadilan dan kesejahteraan masyarakat telah diimplementasikan dalam Negara
Kesatuan Republik Indonesia yang berideologi Pancasila dengan Sila pertama Ketuhanan
Yang Maha Esa. Sedangkan makna khalifah dalam arti suatu sistem yang mengharuskan
dasar atau landasan suatu negara dengan formalistik Islam sangatlah tidak mungkin.
Khilafah atau pendirian negara khilafah di Indonesia sudah ditentang oleh para ulama.
Negara Kesatuan Republik Indonesia yang berdasarkan pancasila bukanlah negara agama,
tetapi juga bukan negara sekuler.
Seorang pemimpin dan rakyatnya memiliki kewajiban untuk membangun sebuah negara
yang adil dan sejahtera. Hak dan kewajiban itu dipegang dalam sebuah janji yang disebut
dengan baiat. Sebab baiat mengandung janji setia antara rakyat dengan khalifah. Hal ini
sejalan dengan pengertian yang dikemukakan oleh Ibnu Khaldun bahwa baiat adalah
perjanjian atas dasar kesetiaan. Orang yang berbaiat harus menerima seseorang yang
terpilih menjadi kepala negara sebagai pemimpinnya untuk melaksanakan semua urusan
umat. Menurut Hasbi
Ash-Shidiqi bahwa baiat merupakan sebuah bentuk pengakuan umat untuk mematuhi dan
mentaati imam . Ini dilakukan oleh ahlul halli wal aqdi dan dilaksanakan sesudah
permusyawaratan. Dalam baiat, rakyat berjanji setia untuk menaati kepala negara selama
pemimpin negara itu tidak melakukan sesuatu yang melanggar syariat. Demikian juga
kepala negara melaksanakan hak dan kewajibannya yaitu melaksanakan undang-undang
demi mewujudkan keadilan. Sedangkan negara menjadi wadah pembentuk solidaritas
yang memberikan kenyamanan rakyat. Melalui berbagai peraturan, sehingga mendorong
semangat lahirnya nasionalisme yang pada akhirnya rakyat memiliki kewajiban moral
untuk melindungi negaranya tanpa memandang latar belakang apa pun. Adapun baiat
dalam konteks politik Islam Indonesia lebih terlihat pada saat sumpah jabatan. Baik
lembaga eksekutif, legislatif dan yudikatif saat mereka dilantik. Mereka akan disumpah
dan janji sesuai dengan agamanya masing-masing sebelum menjalankan jabatannya.
Mereka didampingi oleh rohaniawan. Sumpah dan janji inilah yang kemudian dikenal
dengan sumpah jabatan. Dalam sistem khilafah, rakyat sebagai kumpulan manusia yang
dipimpin memiliki hak dan kewajiban yang harus dilaksanakan secara adil. Kedua, hak
untuk memperoleh keadilan hukum dan pemerataan. Dalam hal ini pemerintah wajib
menegakkan keadilan dan pemerataan untuk rakyatnya. Hal ini ditegaskan oleh al-Qur’an:
Artinya: Dan apabila kamu menetapkan hukum diantara manusia agar menetapkannya
dengan adil .
Hak mendapatkan bantuan materi bagi rakyat yang lemah. Dalam hal ini pemerintah
berkewajiban untuk membantu rakyat yang lemah. Hal ini didasari oleh firman Allah swt:
Artinya: Dan pada harta-harta mereka ada hak untuk orang miskin yang meminta dan
orang miskin yang tidak mendapat bagian . Selain itu, Dalam rangka menciptakan tata
pemerintahan baik, diperlukan perangkat utama yakni aktor atau figur politik yang
memenuhi kriteria:
[Link], rendah hati, dan toleran;
2. Strong, clean, dan visioner;
3. Berani merekonsiliasi perbedaan;
4. Bersedia menerima kesalahan;
5. Mempunyai kompetensi dan log baik;
6. Memiliki kemampuan komunikasi baik, dan;
[Link] keluarga baik.
[Link] Rakyat kepada Khalifah
9. Kewajiban taat kepada khalifah.
Majlis Syura dalam Pemerintahan
Kata "majlis syura" terdiri dari dua kata yaitu kata majlis dan kata syura.
Majlis artinya tempat duduk syura artinya bermusyawarah. Dengan demikian majlis syura
secara bahasa artinya tempat bermusyawarah .Dikaitkan dengan sistem pemerintahan,
majlis syura memiliki pengertian tersendiri yaitu suatu lembaga negara yang terdiri dari
para wakil rakyat yang bertugas untuk memperjuangkan kepentingan rakyat. Majlis ini
memiliki tugas utama yaitu mengangkat dan memberhentikan khalifah. Pada masa
Rasulullah istilah majlis syura belum ada. Namun praktek melaksanakan musyawarah
telah dilakukan oleh rasul sebagai seorang pemimpin negara. Rasulullah sering memanggil
para sahabatnya untuk berunding mengambil keputusan dalam urusan negara dan
masyarakat.
Syarat-Syarat Menjadi anggota majlis syura
Tidak semua orang bisa menjadi anggota majlis syura. Mereka adalah orang-orang yang
memiliki kemampuan intelektual dan memiliki sifat mental yang terpuji. Oleh karena itu
imam al-Mawardi merumuskan beberapa syarat untuk menjadi anggota majlis syura:
a. Berlaku adil dalam segala sikap dan tindakan. Sikap ini mencerminkan bahwa
anggota majlis syura adalah mereka memiliki sifat jujur dan bertanggung jawab.
b. Berilmu pengetahuan yang luas. Yaitu memiliki kecerdasan intelektual yang tajam.
Sehingga segala ucapan dan perbuatannya didasari oleh ilmu bukan oleh hawa nafsu.
c. Memiliki kearifan dan wawasan yang luas. Anggota majelis syura dalam
memutuskan sesuatu harus ditujukan untuk kemaslahatan ummat bukan untuk
kepentingan dirinya sendiri.
Terkait dengan kewajibannya, seseorang yang telah dipercaya menjadi majlis syura maka
ia memiliki kewajiban utama yaitu mengangkat dan memberhentikan khalifah.
Ahlul Halli wa al-Aqdi
mempunyai arti "orang-orang yang mempunyai wewenang melonggarkan dan mengikat."
Istilah ini dirumuskan oleh ulama fikih untuk sebutan bagi orang-orang yang bertindak
sebagai wakil umat untuk menyuarakan hati nurani mereka.
Dalam ilmu fiqh Ahlul halli wal aqdi diartikan orang yang dipilih sebagai wakil ummat
untuk menyuarakan hati nurani umat. Ahlul halli wal aqdi adalah orang-orang pilihan.
Mereka terdiri dari ulama, cerdik pandai dan pemimpin yang mempunyai kedudukan
dalam masyarakat. Ahlul halli wal aqdi adalah wakil rakyat yang menjadi anggota majlis
syura. Mereka dipercaya oleh rakyat dan keputusan mereka ditaati oleh rakyat. Imam
al-Mawardi menyebut sebagai ahlul ikhtiyar yaitu golongan yang berhak memilih.
Penyebutan ini sangat beralasan sebab tugas utama Ahlul hali wal-aqdi karena memilih
dan memberhentikan secara langsung seorang kepala negara .
Ahlul halli wal aqdi melaksanakan tugasnya dengan cara syuro’
sebagaimana firman Allah SWT: "dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan
itu. Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakallah kepada Allah.
Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakal kepada-Nya" . Syura’
merupakan landasan ideal bagi pemerintah dalam menyelesaikan segala bentuk persoalan
serta dalam setiap keputusan, hal ini dikarenakan syuro’ memiliki landasan yang kuat.
Kedudukan seorang pemimpin menurut konsep Ahlul halli wal ‘aqdi, dapat dirumuskan
sebagai berikut:
● Pertama, pemimpin adalah sebagai pemangku kekuasaan tertinggi, pemimpin
memiliki kewenangan untuk mengambil segala bentuk kebijakan, baik itu
menyangkut produk hukum, militer, pembangunan atau yang lainnya.
● Kedua, keberadaan pemimpin tersebut merupakan pengangkatan yang
dilakukan oleh Ahlul halli wal aqdi yang berdasarkan atas mandat dari rakyat,
maka pemimpin harus bertanggungjawab terhadap Ahlul halli wal aqdi ketika
masa jabatannya berakhir.
●
● Ketiga, kedudukan Ahlul halli wal aqdi hanya sebatas pemberi masukan, saran
dan konsultasi kepada pemimpin dalam rangka sebagai bahan pertimbangan
untuk mengambil kebijakan yang berkaitan dengan berbagai bidang atau aspek
keahlian yang dimiliki oleh Ahlul halli wal aqdi.
●
● Keempat, pengangkatan pemimpin yang dilakukan oleh Ahlul halli wal aqdi
sangat berpotensi meminimalisir kepentingan-kepentingan segelintir orang yang
menyampingkan kepentingan umat, karena komposisi Ahlul halli wal aqdi itu
sendiri merupakan orang-orang profesional yang memiliki kapabilitas di
bidangnya masing-masing dan memiliki mandat rakyat.
● Kelima, pemimpin yang melakukan penyelewengan kekuasaan , maka dalam
penanganannya dilakukan oleh Ahlul halli wal aqdi. Beberapa kelompok di
negeri ini masih bermimpi untuk menegakkan khilafah, padahal mereka tidak
tahu apa dan bagaimana sistem khilafah itu, mereka hanya faham harus
mengganti undang-undang dasar dan Pancasila dengan al-Quran dan system
islam. Sehingga mereka memahami hal itu menjadi suatu kewajiban yang harus
diperjuangkan dengan istilah ‘jihad fi sabilillah’.
Bahkan mereka berani melakukan apapun termasuk ‘bom bunuh diri’ untuk
mengintimidasi, mengancam dan meneror sehingga banyak orang yang tidak berdosa
harus mati karena kebodohan mereka.