KATA PENGANTAR
Puji syukur dipanjatkan ke hadirat Tuhan Yang Maha Kuasa, karena hanya
dengan limpahan berkah dan rahmat dari-Nya seluruh kegiatan yang terkait dengan
proses penulisan proposal tesis ini dapat diselesaikan.
Penelitian disertasi ini diberi judul “Evaluasi Kualitas dan Kuantitas Sistem
Penyediaan air Minum PDAM Kota Gorontalo Dalam Persfektif Ontologi”, ditulis
sebagai salah satu persyaratan kelulusan mata kuliah Ilmu Filsafat di Prodi Magister
Ilmu Lingkungan di Universitas Negeri Gorontalo.
Disadari sepenuhnya bahwa dengan keterbatasan yang dimiliki, dalam proses
penyelesaian disertasi ini peneliti mendapatkan dukungan dari beberapa pihak terutama
dalam memperoleh data dan informasi yang dibutuhkan.
Akhirnya, apapun keberadaan Tugas Ilmu Filsafat ini paling tidak telah
memperkaya khazanah keilmuan bidang Ilmu Lingkungan, meskipun disadari
sepenuhnya bahwa isi tugas ini masih jauh dari harapan. Oleh karena itu kritik dan
saran masukan guna penyempurnaannya sangat dibutuhkan.
Semoga Tuhan Yang Maha Esa senantiasa memberkati segala usaha kita.
Aamiin.
Gorontalo, Maret 2018
Yoseph Setriyawan
BAB II
KAJIAN TEORI
“Evaluasi Kualitas dan Kuantitas Sistem Penyediaan air Minum
PDAM Kota Gorontalo”
(Dalam Persfektif Ontologi)
1.1 Definisi Air Bersih
Menurut Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor
492/MENKES/PER/IV/2010 tentang Persyaratan Kualitas Air Minum, air minum
adalah air yang melalui proses pengolahan atau tanpa proses pengolahan yang
memenuhi syarat kesehatan dan dapat langsung diminum. (Permenkes RI No.
492, 2010).
1.2 Persyaratan dalam Penyediaan Air Bersih
Sistem penyedian air bersih harus memenuhi beberapa persyarakat
utama. Persyaratan tersebut meliputi persyaratan kualitas, persyaratan kuantitas
dan persyaratan kontinuitas.
1.2.1 Persyaratan Kualitas Air
Berdasarkan Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor
492/MENKES/PER/IV/2010 tentang Persyaratan Kualitas Air Minum, air minum
aman bagi kesehatan apabila memenuhi persyaratan fisika, mikrobiologis,
kimiawi, dan radioaktif yang dimuat dalam parameter wajib dan parameter
tambahan. (Permenkes RI No. 492, 2010) Menurut Peraturan Pemerintah
Republik Indonesia Nomor 82 tahun 2001 mengenai Pengelolaan Kualitas Air dan
Pengendalian Pencemaran Air, klasifikasi mutu air ditetapkan menjadi 4 (empat)
kelas, yaitu:
a. Kelas satu, air yang peruntukannya dapat digunakan untuk air baku air
minum, dan atau peruntukan lain yang mempersyaratkan mutu air yang
sama dengan kegunaan tersebut.
b. Kelas dua, air yang peruntukannya dapat digunakan untuk prasarana/sarana
rekreasi air, pembudidayaan ikan air tawar, peternakan, air untuk mengairi
pertanaman, dan atau peruntukan lain yang mempersyaratkan air yang
sama dengan kegunaan tersebut.
c. Kelas tiga, air yang peruntukannya dapat digunakan untuk pembudidayaan
ikan air tawar, peternakan, air untuk mengairi pertanaman, dan atau
peruntukan lain yang mempersyaratkan air yang sama dengan kegunaan
tersebut.
d. Kelas empat, air yang peruntukannya dapat digunakan untuk mengairi
pertanaman dan atau peruntukan lain yang mempersyaratkan mutu air
yang sama dengan kegunaan tersebut.
Tabel 2.1 Kriteria Mutu Air Kelas 1
PARAMETER SATUAN KELAS1 KETERANGAN
FISIKA
Temperatur °C Deviasi 3 Deviasi Temperatur dari Keadaan alamiahnya
Residu Terlaurut mg/L 1000
Bagi Pengelola Air Minum Secara Konvensional,
Residu Tersuspensi mg/L 50
Residu Tersuspensi ≤ 5000 mg/L
KIMIA ORGANIK
Apabila Secara alamiah di Luar Rentang
pH 6-9 Tersebut, Maka ditentukan Berdasarkan
Keadaan Alamiah
BOD mg/L 2
COD mg/L 10
Do mg/L 6 Angka Batas Minimum
Total Fosfat sbg P mg/L 0,2
NO3 Sebagai N mg/L 10
Bagi Perikanan, Bebas untuk Ikan yang Peka ≤
NH3-N mg/L 0,5
0,02 mg/L Sebagai NH3
Arsen mg/L 0,05
Kobalt mg/L 0,2
Barium mg/L 1
Boron mg/L 1
Selenium mg/L 0,01
Kadmium mg/L 0,01
Khrom (VI) mg/L 0,05
Bagi Pengolahan Air Minum Secara
Tembaga mg/L 0,02
Konvensional, Cu ≤ 1 mg/L
Bagi Pengolahan Air Minum Secara
Besi mg/L 0,3
Konvensional, Fe ≤ 5 mg/L
Bagi Pengolahan Air Minum Secara
Timbal mg/L 0,03
Konvensional, Pb ≤ 0,1 mg/L
Mangan mg/L 0,1
Air Raksa mg/L 0,001
Bagi Pengolahan Air Minum Secara
Seng mg/L 0,05
Konvensional, Zn ≤ 5 mg/L
Klorida mg/L 600
Sianida mg/L 0,02
Flourida mg/L 0,5
Bagi Pengolahan Air Minum Secara
Nitrit sbg N mg/L 0,06
Konvensional, No2_N ≤ 1 mg/L
Sulfat mg/L 400
Klorin Bebas mg/L 0,03 Bagi ABAM Tidak dipersyaratkan
Belerang Sebagai mg/L 0,002 Bagi Pengolahan Air
Minum Secara Konvensional, s Sebagai H2S ≤
H2S
0,1 mg/L
Lanjutan Tabel 2.1 Kriteria Mutu Air Kelas 1
MIKROBIOLOGI
Bagi Pengolahan Air Minum Secara
Fecal Coliform Jml/100 ml 100
Konvensional, Fecal Coliform ≤ 2000 Jml/100
ml dan Total Coliform ≤ 10000/100 ml
Total Coliform Jml/100 ml 1000
RADIOAKTIVITAS
-Gros A Bq/L 0,1
-Gros B Bq/L 1
KIMIA ORGANIK
Minyak dan Lemak ug/L 1000
Detergen sbg MBAS ug/L 200
Senyawa Fenol ug/L 1
Sebagai Fenol ug/L
BHC ug/L 210
Aldrin/Dieldrin ug/L 17
Choldane ug/L 3
DDT ug/L 2
Heptaclor dan ug/L 18
Heptaclor Epoxide Lindane ug/L 56
Methoxyclor ug/L 35
Endrin ug/L 1
Toxaphan ug/L 5
Sumber : Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 82 tahun 2001
Keterangan :
mg = miligram
ug = mikrogram
ml = militer
L = liter
Bq = Bequerel
MBAS = Methylene Blue Active Substance
ABAM = Air Baku untuk Air Minum
Logam berat merupakan logam terlarut. Nilai di atas merupakan batas
maksimum, kecuali untuk pH dan DO. Bagi pH merupakan nilai rentang yang
tidak boleh kurang atau lebih dari nilai yang tercantum. Nilai DO merupakan
batas minimum. Arti (-) di atas menyatakan bahwa untuk kelas termasuk,
parameter tersebut tidak dipersyaratkan. Tanda (≤) adalah lebih kecil atau sama
dengan. Tanda (<) adalah lebih kecil.
Persyaratan kualitas menggambarkan mutu atau kualitas dari air baku
air bersih. Persyaratan ini meliputi persyaratan fisik, kimia, biologis, dan
radiologis. Syarat-syarat tersebut berdasarkan permenkes No.416/MENKES/PER/
IX/1990 tentang persyaratan kualitas air bersih adalah sebagai sebagi berikut:
1. Syarat-syarat fisik
Secara fisik air bersih harus jernih, tidak berbau dan tidak berasa. Selain
itu juga suhu air bersih sebaiknya sama dengan suhu udara atau kurang
lebih 25o C, dan apabila terjadi perbedaan maka batas yang diperbolehkan
adalah 25o ± 3oC.
a. Bau Bau air dapat memberi petunjuk akan kualitas air. Air yang
berbau tidak akan disukai oleh masyarakat.
b. Rasa Air ang bersih biasanya tidak memberi rasa/tawar. Air yang
tidak tawar dapat menunjukkan kehadiran berbagai zat yang dapat
membahayakan kesehatan.
c. Warna Air sebaiknya tidak berwarna dan untuk mencegah keracunan
dari berbagai zat kimia maupun mikroorganisme yang berwarna.
Warna dapat disebabkan adanya taannin dan asam humat yang
terdapat secara alamiah di air rawa, berwarna kuning muda
menyerupai urin,oleh karenannya orang tidak mau menggunakannya.
Selain itu, zat organik ini bila terkena khlor dapat membentuk
senyawa-senyawa khloroform yang beracun. Warna pun dapat berasal
dari buangan industri.
d. Suhu Suhu air sebaiknya sejuk atau tidak panas terutama agar tidak
terjadi perlarutan zat kimia yang ada pada saluran/pipa yang dapat
membahayakan kesehatan, menghambat reaksi-reaksi biokimia di
dalam saluran/pipa, mikro organisme patogen tidak mudah
berkembang biak dan bila diminum air dapat menghilangkan dahaga.
e. Jumlah zat padat terlarut Jumlah Zat Padat Terlarut (TDS) biasanya
terdiri atas zat oorganik, garam anorganik, dan gas terlarut. Bila TDS
bertambah maka keadaan akan naik pula.
f. Kekeruhan Kekeruhan air disebabkan oleh zat padat yang tersuspensi,
baik yang bersifat anorganik maupun yang organik. Zat organik,
biasanya berasal dari lapukan batuan dan logam, sedangkan yang
organik dapat berasal dari lapukan tanaman atau hewan. Buangan
industri dapat juga merupakan sumber kekeruhan.
2. Syarat- syarat kimia
Kandungan zat kimia dalam air bersih yang digunakan sehari-hari
hendaknya tidak melebihi kadar maksimum yang diperbolehkan seperti
tercantum dalam Peraturan Menteri Kesehatan RI Nomor
416/MENKES/PER/IX/1990. Penggunaan air yang mengandung bahan
kimia beracun dan zat-zat kimai lainnya yang melebihi ambang batas
berakibat tidak baik bagi kesehatan dan material yang digunakan manusia,
contohnya antara lain sebagai berikut :
a. Besi (Fe)
Kadar besi (Fe) yang melebihi ambang batas (1,0 mg/l) menyebabkan
berkurangnya fungsi paru-paru dan menimbulkan rasa, warna (kuning),
pengendapan pada dinding pipa, pertumbuhan bakteri besi, dan
kekeruhan.
b. pH
Air sebaiknya tidak memiliki keasaman dan tidak basa untuk mencegah
terjadinya pelarutan logam berat dan korosi jarinagn distribusi air. pH
yang dianjurkan untuk air bersih adalah 6,5 – 9.
c. Tembaga (Cu) Tembaga (Cu) sebenarnya diperlukan pada perkembangan
tubuh manusia. Tetapi untuk dosis tinggi dapat menyebabkan gejala
ginjal, hati, muntaber, pusing kepala, lemah, anemia,dan lainnya bahkan
dapat meninggal dunia.
d. Klorida Klorida adalah senyawa halogen klor (Cl), dalam jumlah yang
banyak klor (Cl) akan menimbulkan rasa asin, korosi pada pipa sistem
penyediaan air panas. Sebagai desinfektan, residu klor (Cl) dalam
penyediaan air sengaja dipelihara tetapi (Cl) ini dapat terikat pada
senyawa organik dan membentuk halogen-hidrokarbon (Cl-HC) banyak
diantarannya dikenal sebagai senyawa-senyawa karsinogenik. Kadar
maksimum klorida yang diperbolehkan dalam air bersih adalah 600
mg/l.
e. Seng (Zn) Seng (Zn) dapat menimbulkan warna air menjadi opalascent
dan bila dimasak akan timbul endapan seperti pasir. Kadar maksimum
seng (Zn) yang diperbolehkan di dalam air bersih adalah 15 mg/l.
f. Mangan (Mn) Mangan (Mn) merupakan metal kelabu-kemerahan
keracunan seringkali bersifat khronis sebagai akibat inhalasi debu dan
uap logam.
3. Syarat-syarat mikrobiologis Pada umumnya sumber-sumber air yang
terdapat di alam bumi ini mengandung bakteri. Jumlah dan jenis bakteri
bermacam–macam dan berbedabeda sesuai dengan tempat dan kondisi yang
mempengaruhinya. Oleh karena itu, air yang digunakan untuk keperluan
sehari-hari haruslah bebas dari bakteri patogen. Bakteri golongan coli tidak
merupakan bakteri golongan patogen, namun bakteri ini merupakan
indikator dari pencemaran air oleh bakteri patogen.
4. Syarat-syarat radiokativitas Apapun bentuk radioaktivitas efeknya adalah
sama dilihat dari segi parameternya, yakni dapat menimbulkan kerusakan
pada sel-sel yang terpapar. Kerusakan dapat berupa kematian, dan juga
perubahan komposisi genetik. Kematian sel dapat diganti kembali apabila
tidak seluruh sel mati. Perubahan genetis dapat menimbulkan berbagai
penyakit seperti kanker dan mutasi.
5. Syarat-syarat bakteriologis Air minum tidak boleh mengandung bakteri-
baktrei penyakit dan juga tidak boleh mengandung bakteri-bakteri penyakit
dan juga tidak boleh mengandung bakteri-bakteri coli yang telah melebihi
batas tertentu yaitu 1 coliper 100 ml air. Bakteri golongan ini berasal dari
usus besar dan tanah. Bakteri patogen yang mungkin terdapat didalam air,
misalnya :
a. Bakteri Typosium 15
b. Vibrio Colerae
c. Bakteri Dysentriae
d. Entamoeba Hystolotica
e. Bakteri Enteristis (penyakit perut)
Persyaratan air bersih secara rinci tertuang dalam Keputusan Menteri
Kesehatan Republik Indonesia Nomor 907/MENKES/SK/VII/2002 tentang
Syarat-Syarat dan Pengawasan Kualitas Air Minum. Tercantum dalam
pasal 2 mengenai ruang lingkup dan persyaratan air minum Tabel 2.2
Persyaratan Kualitas Air Minum.
1. Jenis air minum meliputi :
a. Air yang didistribusikan melalui pipa untuk keperluan rumah tangga
b. Air yang didistribusikan melalui tangki air
c. Air kemasan
d. Air yang digunakan untuk produksi bahan makanan dan minuman
yang disajikan kepada masyarakat harus memenuhi syarat kesehatan
air minum.
2. Persyaratan kesehatan air minum sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
meliputi persyaratan bakteriologis, kimiawi, radioaktif dan fisik.
3. Persyaratan kesehatan air minum sebagaimana dimaksud pada ayat (2)
tercantum dalam Lampiran I Keputusan ini.
1.2.2 Persyaratan Kuantitas Air
Secara umum penyediaan air bersih adalah berasal dari sumber air
permukaan atau air dalam tanah. Untuk wilayah kota Gorontalo, sumber
penyediaan air bersih yang dikelola oleh PDAM berasal dari air permukaan
(Sungai Bone). Dimana kuantitas air yang berasal dari air pemukaan ini
mencukupi untuk didistribusikan. Kuantitas atau jumlah air yang mengalir dari
pusat distribusi sangatlah penting dalam merencanakan jaringan distribusi. Karena
tujuan utama dari perencanaan jaringan distribusi adalah agar kebutuhan
masyarakat akan tersedianya air bersih dapat terlayani dengan baik. Untuk itu
halhal yang dapat mengurangi jumlah air yang didistribusi anatara lain disebabkan
oleh banyaknya sambungan pipa dan panjangnya pipa sedapat mungkin
dihindarkan. Untuk membuktikan kondisi tersebut menggunakan rumus
kontinuitas :
Q1 = Q2
A1 x v1 = A2 x v2
Dimana :
Q1 = Debit didaerah 1 (m3 /detik)
Q1 = Debit didaerah 2 (m3 /detik)
A1 = Luas penampang didaerah 1 (m2 )
A2 = Luas penampang didaerah 2 (m2 )
v1 = Kecepatan rata-rata didaerah 1 (m/detik)
v2 = Kecepatan rata-rata didaerah 2 (m/detik)
1.2.3 Persyaratan Kontinuitas Air
Dalam penyediaan air bersih tidak hanya berhubungan dengan kualitas
dan kuantitas saja, tetapi dari segi kontinuitas juga harus mendukung. Dimana air
harus bisa tersedia secara terus-menerus meskipun di musim kemarau selama
umur rencana. Karena tujuan utama dari perencanaan jaringan distribusi air adalah
agar kebutuhan masyarakat akan tersedianya air bersih dapat terpenuhi secara
terus-menerus walaupun dimusim kemarau. Salah satu cara menjaga agar
kontinuitas air tetap tersedia adalah dengan membuat tempat penampungan air
(reservoir) untuk menyimpan air sebagai persediaan air pada musim kemarau.
Kontinuitas dapat diartikan bahwa air bersih harus tersedia 24 jam per hari atau
setiap saat diperlukan, kebutuhan air harus tersedia. Akan tetapi kondisi ideal
tersebut hampir tidak dapat dipenuhi pada setiap wilayah di indonesia, sehingga
untuk menentukan kontiunuitas pemakain air dapat dilakukan dengan cara
pendekatan aktivitas konsumen terhadap pemakaian air. Pemakaian air dapat
diprioritaskan, yaitu minimal selama 12 jam per hari pada jam-jam aktivitas
kehidupan. Jam aktifitas di indonesia adalah pukul 06.00 sampai dengan 18.00.
sistem jaringan perpipaan dirancang untuk membawa suatu kecepatan aliran
tertentu. Kecepatan dalam pipa tidak boleh lebih dari 0,6-1,2 m/dt. Ukuran pipa
pun harus tidak melebihi dimensi yang diperlukan dan juga tekanan dalam sistem
harus tercukupi. Dengan analisis jaringan pipa distribusi, maka dapat ditentukan
dimensi atau ukuran pipa yang diperlukan sesuai dengan tekanan minimum yang
diperbolehkan agar kualitas aliran terpenuhi.
1.3 Sistem Penyediaan Air Minum
Suatu sistem penyedian air yang mampu menyediakan air yang dapat
di minum dalam jumlah yang cukup merupakan hal yang penting bagi suatu kota
besar yang modern. Unsur-unsur yang membentuk suatu sistem penyedian air
yang modern meliputi sumber-sumber penyedian, sarana-sarana penampungan,
sarana penyaluran (ke pengolahan), sarana-saran pengolahan, sarana-saran
penyaluran (dari pengolahan), tampungan sementara, serta srana-sarana distribusi.
Dalam mengembangkan persediaan air bagi masyarakat jumlah dan mutu air
merupakan hal yang paling penting.
1.3.1 Pengolahan Air Minum
1. Pengolahan Secara Fisika
Pengolahan secara fisika yaitu tahap penyaringan dengan cara yang efisien
dan mudah untuk mennyisihkan bahan tersuspensi yang berukuran besar
biasanya dengan menggunakan sand filter dengan ukuran silica yang
disesuaikan dengan bahan-bahan tersuspensi yang akan disaring. Bahan
tersuspensi yang mudah mengendap dapat disisihkan secara mudah dengan
proses pengendapan, pada proses ini bisa dilakukan tanpa bahan kimia bila
ukurannya sudah besar dan mudah mengendap tapi dalam kondisi tertentu
dimana bahan-bahan tersuspensi sulit diendapkan maka akan digunakan
bahan kimia sebagai bahan pembantu dalam proses ini akan terjadi
pembentukan flok-flok dalam ukuran tertentu yang lebih besar sehingga
mudah diendapkan pada proses yang menggunakan bahan kimia ini masih
diperlukan pengkondisian pH untuk mendapatkan hasil yang optimal.
2. Pengolahan Secara Kimia
Pengolahan air buangan secara kimia biasanya dilakukan untuk
menghilangkan partikel-partikel yang tidak mudah mengendap (koloid),
logamlogam berat, senyawa fosfor, dan zat organic beracun dengan
membubuhkan bahan kimia tertentu yang diperlukan. Penyisihan bahan-
bahan tersebut pada prinsipnya berlangsung melalui perubahan sifat
bahan-bahan tersebut, yaitu dari tak dapat diendapkan (flokulasi-
koagulasi), baik dengan atau tanpa reaksi oksidasi-reduksi, dan juga
berlangsung sebagai hasil reaksi oksidasi. Pengendapan bahan tersuspensi
yang tak mudah larut dilakukan dengan membubuhkan elektrolit yang
mempunyai muatan yang belawanan dengan muatan koloidnya agar terjadi
netralisasi muatan koloid tersebut, sehingga akhirnya dapat diendapkan.
3. Pengolahan Secara Biologis
Pengolahan air buangan secara biologis adalah salah satu cara pengolahan
yang diarahkan untuk menurunkan atau menyisihkan substrat tertentu yang
terkandung dalam air buangan dengan memanfaatkan aktivitas
mikroorganisme untuk melakukan perombakan substrat tersebut. Proses
pengolahan air buangan secara biologis dapat berlangsung dalam tiga
lingkungan utama yaitu :
a. Lingkungan aerob, yaitu lingkungan dimana oksigen terlarut (DO)
didalam air cukup banyak, sehingga oksigen bukan merupakan faktor
pembatas.
b. Lingkungan anoksis, yaitu lingkungan dimana oksigen terlarut (DO)
didalam air ada dalam konsentrasi yang rendah.
c. Lingkungan anaerob, merupakan kebalikan dari lingkungan aerob, yaitu
tidak terdapat oksigen terlarut, sehingga oksigen menjadi faktor
pembatas berlangsungnya proses metabolism aerob. Faktor-faktor yang
mempengaruhi mekanisme biologi secara anaerob diantaranya yaitu,
temperature, pH (keasaman), waktu tinggal, komposisi kimia air,
kompetisi metanogen dan bakteri pemakan sulfat serta zat toksik.
1.3.2 Filtrasi
Filtrasi adalah suatu proses dimana campuran heterogen antara fluida
dan partikel padatan dipisahkan dengan bantuan media filter, yang membuat
fluida dapat mengalir melewatinya namun partikel padatan tertahan oleh media
filter tersebut. Didalam proses filtrasi yang terpenting adalah :
a. Penahanan Partikel Secara Mekanis
Merupakan proses pemisahan partikel-partikel dalam air yang
dilakukan oleh media penyaring karena ukuran partikelnya lebih besar
dibandingkan dengan diameter porous dari media penyaring.
b. Media Pengendapan
Partikel yang berukuran halus akan dipisahkan dengan cara
pengendapan dan akan melekat pada permukaan penyaring.
c. Adsorpsi
Adsorpsi merupakan proses pengumpulan substansi terlarut (soluble)
yang ada dalam larutan oleh permukaan zat atau benda penyerap dan
terjadi suatu ikatan kimia fisik antara substansi dengan penyerapnya.
Proses filtrasi dipengaruhi oleh beberapa faktor antara lain :
1) Besar Kecilnya Flok
Flok yang terlalu besar akan menyumbat filter, sedangkan flok yang
terlalu kecil akan lolos dari filter.
2) Ketebalan Filter
Semakin tebal lapisan filter, maka luas permukaan penahan
partikelpartikel semakin besar dan jarak yang ditempuh oleh air
semakin lama atau panjang.
3) Kecepatan Filtrasi
Kecepatan filtrasi akan mempengaruhi lama operasi filter, agar lama
operasi saringan dapat diperpanjang diperlukan tekanan pada
permukaan lapisan media filter dapat menambah ketinggian air diatas
lapisan media filter.
3) Temperatur
Efisiensi penyaringan juga dipengaruhi oleh temperatur, karena akan
mempengaruhi aktivitas bakteri serta metabolism mikroorganisme
lainnya.
4) Waktu Kontak
Waktu kontak merupakan hal yang penting dalam penyaringan. Makin
tebal media saring, maka waktu kontak antara larutan kontaminan
dengan media saring makin panjang.
1.4 Sistem Pengaliran Air Minum
Pendistribusian air minum kepada konsumen dengan kuantitas,
kualitas dan tekanan yang cukup memerlukan sistem perpipaan yang baik,
reservoir, pompa dan dan peralatan yang lain. Metode dari pendistribusian air
tergantung pada kondisi topografi dari sumber air dan posisi para konsumen
berada. Menurut Howard, S.P., [Link] (1985) sistem pengaliran yang dipakai adalah
sebagai berikut:
a. Cara Gravitasi.
Cara pengaliran gravitasi digunakan apabila elevasi sumber air
mempunyai perbedaan cukup besar dengan elevasi daerah pelayanan,
sehingga tekanan yang diperlukan dapat dipertahankan. Cara ini dianggap
cukup ekonomis, karena hanya memanfaatkan beda ketinggian lokasi.
b. Cara Pemompaan.
Pada cara ini pompa digunakan untuk meningkatkan tekanan yang
diperlukan untuk mendistribusikan air dari reservoir distribusi ke
konsumen. Sistem ini digunakan jika elevasi antara sumber air atau
instalasi pengolahan dan daerah pelayanan tidak dapat memberikan
tekanan yang cukup.
c. Cara Gabungan.
Pada cara gabungan, reservoir digunakan untuk mempertahankan tekanan
yang diperlukan selama periode pemakaian tinggi dan pada kondisi
darurat,misalnya saat terjadi kebakaran, atau tidak adanya energi. Selama
periode pemakaian rendah, sisa air dipompakan dan disimpan dalam
reservoir distribusi. Karena reservoir distribusi digunakan sebagai
cadangan air selama periode pemakaian tinggi atau pemakaian puncak,
maka pompa dapat dioperasikan pada kapasitas debit rata-rata.
KAJIAN LANDASAN TEORI BERDASARKAN
PERSFEKTIF ONTOLOGI
Ontologi adalah cabang teori dari ilmu filsafat yang membicarakan hakikat
sesuatu yang ada. Ontologi juga dikatakan sebagai salah satu kajian filsafat yang
paling kuno dan berasal dari Yunani. Ontologi berasal dari bahasa Yunani
yakni ta onta artinya ‘yang berada’, atau ontos atinya ada atau segala sesuatu yang
ada (being), dan logos artinya ilmu pengetahuan atau ajaran. Dengan demikian
ontologi berarti ilmu pengetahuan atau ajaran tentang yang ada. Ontologi juga
dapat diartikan sebagai ilmu yang mempelajari hakikat sesuatu yang ada atau
hakikat dari segala sesuatu yang ada. Studi ini membahas keberadaan sesuatu
yang bersifat konkret.
Awal mula alam pikiran Yunani telah menunjukkan munculnya perenungan
di bidang ontologi. Dalam persoalan ontologi orang menghadapi permasalahan
bagaimana menerangkan hakikat dari segala yang ada. Pertama, orang akan
berhadapan dengan dua kenyataan yaitu berupa materi dan rohani. Pembicaraan
mengenai hakikat sangatlah luas, meliputi segala yang ada dan yang mungkin ada.
Hakikat ada adalah kenyataan sebenarnya bukan kenyataan sementara atau
berubah-ubah.
Menurut istilah, Ontologi adalah ilmu yang membahas tentang hakikat yang
ada, yang merupakan ultimate reality baik yang berbentuk jasmani atau konkret
maupun rohani atauabstrak (Bakhtiar , 2004).
Menurut Soetriono & Hanafie (2007) Ontologi yaitu merupakan azas dalam
menerapkan batas atau ruang lingkup wujud yang menjadi obyek penelaahan
(obyek ontologis atau obyek formal dari pengetahuan) serta penafsiran tentang
hakikat realita (metafisika) dari obyek ontologi atau obyek formal tersebut dan
dapat merupakan landasan ilmu yang menanyakan apa yang dikaji oleh
pengetahuan dan biasanya berkaitan dengan alam kenyataan dan keberadaan.
Menurut Ensiklopedi Britannica Yang juga diangkat dari Konsepsi
Aristoteles Ontologi Yaitu teori atau studi tentang being atau wujud seperti
karakteristik dasar dari seluruh realitas. Ontologi sinonim dengan metafisika
yaitu, studi filosofis untuk menentukan sifat nyata yang asli (real nature) dari
suatu benda untuk menentukan arti , struktur dan prinsip benda tersebut. (Filosofi
ini didefinisikan oleh Aristoteles abad ke-4 SM)
Pengertian paling umum pada ontologi adalah bagian dari bidang filsafat
yang mencoba mencari hakikat dari sesuatu. Pengertian ini menjadi melebar dan
dikaji secara tersendiri menurut lingkup cabang-cabang keilmuan tersendiri.
Pengertian ontologi ini menjadi sangat beragam dan berubah sesuai dengan
berjalannya waktu.
Sebuah ontologi memberikan pengertian untuk penjelasan secara eksplisit
dari konsep terhadap representasi pengetahuan pada sebuah knowledge base.
Sebuah ontologi juga dapat diartikan sebuah struktur hierarki dari istilah untuk
menjelaskan sebuah domain yang dapat digunakan sebagai landasan untuk sebuah
knowledge base”. Dengan demikian, ontologi merupakan suatu teori tentang
makna dari suatu objek, property dari suatu objek, serta relasi objek tersebut yang
mungkin terjadi pada suatu domain pengetahuan. Ringkasnya, pada tinjauan
filsafat, ontologi adalah studi tentang sesuatu yang ada.
Hakekat kenyataan atau realitas memang bisa didekati ontologi dengan dua
macam sudut pandang, yaitu :
1) kuantitatif, yaitu dengan mempertanyakan apakah kenyataan itu tunggal
atau jamak ?
2) Kualitatif, yaitu dengan mempertanyakan apakah kenyataan (realitas)
tersebut memiliki kualitas tertentu, seperti misalnya air yang memiliki
bening, dan tidak berbau.
Secara sederhana ontologi bisa dirumuskan sebagai ilmu yang mempelajari
realitas atau kenyataan konkret secara kritis.
Bidang Kajian Ontologi
Ontologi pertama kali diperkenalkan oleh Rudolf Goclenius pada tahun
1636 M yang menamai teori tentang hakikat yang ada bersifat metafisis. Ontologi
mengkaji segala sesuatu yang ada yaitu ada individu, ada umum, ada terbatas, ada
tidak terbatas, ada universal dan ada yang bersifat mutlak. Adapun bidang yang
termasuk dalam ontologi yaitu kosmologi dan metafisika dengan segala sumber
yang ada yaitu Tuhan Yang Maha Esa penentu alam semesta. Studi tentang yang
ada umumnya dilakukan oleh filsafat metafisika.
Objek formal ontologi adalah hakikat seluruh kenyataan. Bagi pendekatan
kualitatif, kenyataan akan tampil menjadi aliran materialisme, idealisme,
naturalisme atau hilomorphisme.
Manfaat Kajian Ontologi
Mempelajari Ontologi akan dapat mengetahui nilai-nilai penting yang
terdalam dari yang ada. Jika dilihat dari manfaat mempelajari filsafat itu sendiri
maka filsafat akan mengajarkan tentang hakikat alam semesta. Filsafat terbagi
atas cabang-cabang yang lebih terperinci. Salah satunya adalah kajian metafisika,
menurut Kattsoff cabang filsafat metafisika adalah hal-hal yang terdapat sesudah
fisika, hal-hal yang terdapat dibalik yang tampak. Aristoteles menyebutkan
metafisika adalah ilmu pengetahuan mengenai yang adasebagai yang ada. Yang
dilawankan dengan yang ada sebagai yang digerakkan atau yang ada sebagai yang
dijumlahkan. Metafisika dapat mendefinisikan sebagai bagian pengetahuan
manusia yang berkaitan dengan pertanyaan mengenai sesuatu yang ada yang
terdalam.
Metafisika
Metafisika merupakan cabang filsafat yang membicarakan tentang hal-hal
yang sangat mendasar yang berada diluar pengalaman manusia. Metafisika
mengkaji segala sesuatu secara komprehensif. Menurut Asmoro Achmadi (2005:
14), metafisika merupakan cabang filsafat yang membicarakan sesuatu yang
bersifat ‘keluarbiasaan’ yang berada di luar pengalaman manusia. Menurut
Achmadi, metafisika mengkaji sesuatu yang berada diluar hal-hal yang biasa
berlaku pada umumnya, atau hal-hal yang tidak alami, serta hal-hal yang berada di
luar kebiasaan manusia.
Metafisika berasal dari kata meta dan fisika, yang artinya meta ; sesudah,
selain atau dibalik sedangkan fisika berarti nyata atau alam fisik. Dengan kata lain
metafisika mengandung arti hal-hal yang berada di belakang gejala-gejala yang
nyata. Dari ilmu filsafat metafisika adalah ilmu yang memikirkan hakikat dibalik
alam nyata. Metafisika membicarakan hakikat dari segala sesuatu dari alam nyata
tanpa dibatasi pada sesuatu yang dapat diserap pancaindra.
Menurut Aristoteles (Susanto, A. 2011: 93) ilmu metafisika termasuk
cabang filsafat teoritis yang membahas masalah hakikat segala sesuatu sehingga
ilmu metafisik menjadi inti filsafat. Masalah metafisik juga merupakan sesuatu
yang fundamental dari kehidupan. Oleh karena itu, setiap orang yang sadar
berhadapan dengan sesuatu yang metafisik tetap tersangkut didalamnya.
Tafsiran pertama yang diberikan oleh manusia terhadap alam ini adalah
bahwa terdapat wujud gaib dan wujud ini lebih tinggi atau lebih kuasa
dibandingkan dengan alam nyata. Animisme atau roh-roh yang bersifat gaib
terdapat pada benda seperti batu, pohon merupakan contoh kepercayaan yang
berdasarkan pemikiran supernaturalisme. Paham naturalisme adalah paham yang
menolak pendapat bahwa terdapat wujud-wujud yang bersifat supernatural.
Paham materisme merupakan paham yang berpendapat bahwa gejala-gejala alam
tidak disebabkan oleh pengaruh kekuatan gaib, melainkan oleh kekuatan yang
terdapat, dalam alam itu sendiri.
Menurut Conny Semiawan dkk. (2005: 158) memberikan pernyataan bahwa
metafisika dimasukkan ke dalam ontologi filsafat ilmu. Dengan demikian ontologi
didalam filsafat ilmu menyelidiki segala kemungkinan dari kenyataan yang
terjadi.
Berdasarkan perkembangannya Christian Wolff (1679-1757) membagi
metafisika menjadi dua yaitu :
1) Metafisika Umum
Membicarakan prinsip paling dasar atau paling dalam dari segala
sesuatu yang ada.
2) Metafisika Khusus
Terbagi atas ; kosmologi yang membicarakan alam semesta,
Psikologi adalah cabang ilmu filsafat tentang jiwa manusia dan
teologi adalah cabang ilmu yang khusus membicarakan Tuhan.
Aliran-aliran Ontologi
Ontologi atau bagian metafisika yang umum, membahas segala sesuatu
yang ada secara menyeluruh yang mengkaji persoalan seperti hubungan akal
dengan benda, hakikat perubahan, pengertian tentang kebebasan dan lainnya.
Dalam pemahaman ontologi ditemukan pandangan-pandangan pokok pemikiran,
seperti :
1. Monoisme
Paham monoisme menganggap bahwa hakikat yang asal dari kenyataan itu
hanyalah satu saja sebagai sumber asal baik materi maupun ruhani. Thomas
Davidson menyebutkan monoisme adalah block universe. Paham monoisme
terbagi dua aliran yaitu :
1) Materialisme : Menganggap bahwa sumber yang asal adalah materi bukan
rohani sering juga naturalisme.
2) Idealisme dinamakan juga spritualisme. Idealisme mengandung arti
sesuatu yang hadir dalam jiwa. Aliran ini menganggap bahwa hakikat
kenyataan yang beranekaragam ini berasal dari ruh yaitu sesuatu yang
tidak berbentuk dan menempati ruang.
Menurut Rapar (2005:45), aliran materialisme menolak hal-hal yang abstrak.
Bagi materialisme ada yang sesungguhnya adalah yang keberadaannya semata-
mata bersifat materialisme, realitas yang sesungguhnya adalah alam kebendaan,
sesuatu yang riil atau nyata. Tokoh-tokoh aliran materialisme adalah Thales,
anaximenes dan anaximandris.
Sedangkan aliran idealisme tumbuh dan berkembang sejak masa Plato yang
terkenal dengan pandangannya mengenai ide. Ide bagi Plato tidak sama
dualisme ide yang dipahami orang pada saat ini. Dasar pokok pemahaman ide
dikemukakannya sebagai teori logika kemudian meluas menjadi pandangan hidup
dan menjadi dasar umum ilmu dan politik social dan bahkan agama.
2. Dualisme
Aliran dualisme adalah aliran yang mencoba memadukan dua paham yang
saling bertentangan yaitu materialisme dan idealisme. Aliran
dualisme memandang paham yang serba dua yaitu antara materi dan bentuk.
Pengertian materi dalam pandangan aliran dualisme. Materi dalam arti mutlak
adalah asas atau lapisan bawah yang paling akhir dan umum. Tiap benda yang
dapat diamati disusun dari materi.. Materi dan bentuk tidak dapat dipisahkan.
Materi tidak dapat berwujud tanpa bentuk sebaliknya bentuk tidak dapat berada
tanpa materi. Tiap benda yang dapat diamati disusun dari bentuk dan materi.
3. Pluralisme
Paham pluralisme berpandangan bahwa segenap macam bentuk merupakan
kenyataan. Pluralisme bertolak dari keseluruhan dan mengakui bahwa segenap
macam bentuk semuanya nyata.
4. Nikhilisme
Dunia ini terbuka untuk kebebasan dan kreativitas manusia. Dalam paham
ini manusia bebas berkehendak dan berkreativitas.
5. Agnotisisme
Aliran ini menganut paham bahwa manusia tidak mungkin mengetahui
hakikat sesuatu dibalik kenyataannya. Manusia tidak mungkin memiliki hakekat
batu, air, dan api. Kemampuan manusia sangat terbatas dan tidak mungkin tahu
hakikat sesuatu yang ada. Paham agnotisisme mengingkari kesanggupan manusia
untuk mengetahui hakikat benda baik materi maupun hakikat rohani.
Asumsi Ontologis Ilmu
Pendapat yang telah didukung oleh beberapa teori dan fakta yang dapat
dibuktikan secara rasional. Berkaitan dengan pengkajian konsep-konsep,
pengandaian-pengandaian. Dengan demikian filsafat ilmu erat kaitannya dengan
pengkajian analisis konseptual dan bahasa yang digunakannya dan juga dengan
perluasan serta penyusunan cara-cara yang lebih tepat untuk memperoleh
pengetahuan.
Objek telaah ontologi adalah yang ada. Studi tentang yang ada, pada dataran
studi filsafat pada umumnya di lakukan oleh filsafat metaphisika. Istilah ontologi
banyak di gunakan ketika kita membahas yang ada dalam konteks filsafat ilmu.
Ontologi membahas tentang yang ada, yang tidak terikat oleh satu perwujudan
tertentu. Ontologi membahas tentang yang ada yang universal, menampilkan
pemikiran semesta universal. Ontologi berupaya mencari inti yang termuat dalam
setiap kenyataan, atau dalam rumusan Lorens Bagus; menjelaskan yang ada yang
meliputi semua realitas dalam semua bentuknya.
Karena setiap ilmu selalu memerlukan asumsi, Asumsi diperlukan untuk
mengatasi penelaahan suatu permasalahan menjadi lebar. Semakin terfokus obyek
telaah suatu bidang kajian, semakin memerlukan asumsi yang lebih
banyak. Asumsi dapat dikatakan merupakan latar belakang intelektal suatu jalur
pemikiran. Asumsi dapat diartikan pula sebagai merupakan gagasan primitif, atau
gagasan tanpa penumpu yang diperlukan untuk menumpu gagasan lain yang akan
muncul kemudian. Asumsi diperlukan untuk menyuratkan segala hal yang tersirat.
McMullin (2002) menyatakan hal yang mendasar yang harus ada dalam ontologi
suatu ilmu pengetahuan adalah menentukan asumsi pokok (the standard
presumption) keberadaan suatu obyek sebelum melakukan penelitian.
a. Objek Formal
Objek formal ontologi adalah hakikat seluruh realitas. Bagi pendekatan
kuantitatif, realitas tampil dalam kuantitas atau jumlah, tealaahnya akan menjadi
kualitatif, realitas akan tampil menjadi aliran-aliran materialisme, idealisme,
naturalisme, atau hylomorphisme. Referensi tentang kesemuanya itu penulis kira
cukup banyak. Hanya dua yang terakhir perlu kiranya penulis lebih jelaskan. Yang
natural ontologik akan diuraikan di belakang hylomorphisme di ketengahkan
pertama oleh aristoteles dalam bukunya De Anima. Dalam tafsiran-tafsiran para
ahli selanjutnya di fahami sebagai upaya mencari alternatif bukan dualisme, tetapi
menampilkan aspek materialisme dari mental.
b. Metode dalam Ontologi
Lorens Bagus memperkenalkan tiga tingkatan abstraksi dalam ontologi, yaitu
: abstraksi fisik, abstraksi bentuk, dan abstraksi metaphisik. Abstraksi fisik
menampilkan keseluruhan sifat khas sesuatu objek; sedangkan abstraksi bentuk
mendeskripsikan sifat umum yang menjadi ciri semua sesuatu yang sejenis.
Abstraksi metaphisik mengetangahkan prinsip umum yang menjadi dasar dari
semua realitas. Abstraksi yang dijangkau oleh ontologi adalah abstraksi
metaphisik.
Sedangkan metode pembuktian dalam ontologi oleh Laurens Bagus di
bedakan menjadi dua, yaitu : pembuktian a priori dan pembuktian a posteriori.
Pembuktian apriori disusun dengan meletakkan term tengah berada lebih dahulu
dari predikat, dan pada kesimpulan term tengah menjadi sebab dari kebenaran
kesimpulan. Sedangkan pembuktian a posteriori secara ontologi, term tengah ada
sesudah realitas kesimpulan; dan term tengah menunjukkan akibat realitas yang
dinyatakan dalam kesimpulan hanya saja cara pembuktian a posterioris disusun
dengan tata silogistik.
Bandingkan tata silogistik pembuktian a priori dengan a posteriori. Yang
apriori di berangkatkan dari term tengah di hubungkan dengan predikat dan term
tengah menjadi sebab dari kebenaran kesimpulan, sedangkan yang a posteriori di
berangkatkan dari term tengah di hubungkan dengan subjek, term tengah menjadi
akibat dari realitas dalam kesimpulan.
Ontologi menurut Anton Bakker (1992) merupakan ilmu pengetahuan yang
paling universal dan paling menyeluruh. Penyelidikannya meliputi gejala
pertanyaan dan penelitian lainnya yang lebih bersifat bagian. Ontologi berusaha
memahami keseluruhan kenyataan, segala sesuatu yang mengada segenapnya.
Ontologi adalah cabang filsafat yang membicarakan tentang yang ada. Dalam
kaitan dengan ilmu, landasan ontologis mempertanyakan tentang objek yang
ditelaah oleh ilmu. Secara ontologis ilmu membatasi lingkup penelaahan
keilmuannya hanya pada daerah yang berada dalam jangkauan pengalaman
manusia. Dalam kaitannya dengan kaidah moral atau nilai-nilai hidup, maka
dalam menetapkan objek penelaahan, kegiatan keilmuan tidak boleh melakukan
upaya yang bersifat mengubah kodrat manusia, merendahkan martabat manusia,
dan mencampuri permasalahan kehidupan.
Secara sederhana ontologi bisa dirumuskan sebagai ilmu yang mempelajari
realitas atau kenyataan konkret secara kritis. Beberapa aliran dalam bidang
ontologi, yakni realisme, naturalisme, empirisme.
Batas-batas Penjelajahan Ilmu
Dasar ontologi ilmu sebenarnya ingin berbicara pada sebuah pertanyaan
dasar yaitu,apakah yang ingin diketahui ilmu ? Atau bisa dirumuskan secara
eksplisit menjadi, apakahyang menjadi bidang telaah ilmu ? Berbeda dengan
agama atau bentuk pengetahuan yang lainnya, maka ilmu membatasi diri hanya
kepada kejadian yang bersifat empiris. Secara sederhana objek kajian ilmu ada
dalam jangkauan pengalaman manusia. Objek kajian ilmu mencakup seluruh
aspek kehidupan yang dapat diuji oleh pacaindera manusia. Dalam batas-batas
tersebut maka ilmu mempelajari objek-objek empiris seperti batu-batuan,
binatang, tumbuh-tumbuhan , hewan atau manusia itu sendiri.
Berdasarkan hal itu maka ilmu-ilmu dapat disebut sebagai suatu
pengetahuan empiris, di mana objek-objek yang berbeda di luar jangkaun manusia
tidak termasuk di dalam bidang penelaahan keilmuan tersebut.
Untuk mendapatkan pengetahuan ini, ilmu membuat beberapa asumsi mengenai
objek-objek empiris. Sebuah pengetahuan baru dianggap benar selama kita bisa
menerima asumsi yang dikemukakannya. Secara lebih terperinci ilmu mempunyai
tiga asumsi yang dasar.
Asumsi pertama, menganggap objek-objek tertentu mempunyai keserupaan
satu sama lain, umpamanya dalam hal bentuk, struktur, sifat dan sebagainya.
Asumsi kedua, ilmu menganggap bahwa suatu benda tidak mengalami perubahan
dalam jangka waktu tertentu . Kegiatan keilmuan bertujuan mempelajari tingkah
laku suatu objek dalam suatu keadaan tertentu. Asumsi ketiga, ilmu menganggap
bahwa tiap gejala bukan merupakan suatu kejadian yang bersifat kebetulan. Tiap
gejala mempunyai suatu hubungan pola-pola tertentu yang bersifat tetap dengan
urutan kejadian yang sama. Dalam penegartian ini ilmu mempunyai sifat
deterministik. Namun demikian dalam determinisme dalam pengertian ilmu
mempunyai konotasi yang bersifat peluang (probabilistik).
a. Karakteristik Filsafat Ilmu
Ilmu sebagai salah satu bidang dalam filsafat, di abad modern ini memang
mendapat tempat dan porsi terbesar, Perkembangan ilmu saat ini banyak
mendorong terjadinya perubahan-perubahan peradaban, Abad modern memang
sangat didorong oleh kemunculan rasionalitas ilmu sebagai dasar dominan
rasionalitas modern. Ilmu sebagai sebuah konsep memang mengandung
pengertian yang cukup komplek. Ilmu dalam bahasa inggris ‘science’, dari bahasa
Latin ‘scientia’ (pengetahuan). Sinonim yang paling akurat dalam bahasa Yunani
adalah ‘ episteme’. Pada prinsipnya ‘ilmu’ merupakan cabang pengetahuan yang
mempunyai ciri-ciri tertentu. Meskipun secara metodologis ilmu tidak
membedakan antara ilmu sosial dan ilmu alam , karena permasalahan-
permasalahan teknis yang bersifat khas, maka filsafat ilmu sering dibagi menjadi
‘filsafat ilmu alam’ dan filsafat ilmu sosial’.
Karakteristik ilmu yang paling kentara adalah bahwa cara kerjanya
ditentukan oleh sebuah metode. Metode berarti bahwa penyelidikan berlangsung
menurut suatu rencana tertentu. Tekanan ilmu terletak pada bagaimana sebuah
metode dibangun. Ilmu yang dalam perkembangannya memakai metode ilmiah di
dalam hukum-hukumnya mempunyai bahasa-bahasa ilmiah yang berbeda dengan
bahasa keseharian yang lain. Karakteristik yang nampak dalam bahasa ini adalah
bahwa bahasa ilmiah selalu menekankan unsur “bebas nilai”. Karakteristik yang
kedua adalah bahwa bahasa ilmu sifatnya tertutup dan memakai cara kerja sistem
sendiri. Ada banyak model dan cara kerja ilmu yagn berkembang sesuai dengan
perkembangan filsafat manusia. Jika kita lihat di sana akan ditemukan pengertian-
pengertian Rasionalisme, Empirisme, Positivisme, Rasionalitas Kritis,
Konstruktivisme. Masing-masing mempunyai metodologi yang khas tetapi masih
dalam kesatuan ciri khas kerja sebuah ilmu.
Filsafat ilmu pada prinsipnya bertugas meneliti dan menggali sebab-
musabab pertama dari gejala ilmu pengetahuan, di antaranya paham tentang
kepastian, kebenaran dan objektivitas. Cara kerja filsafat ilmu pengetahuan pada
prinsipnya adalah sebuah penelitian tentang apa yang memungkinkan ilmu-ilmu
tersebut terjadi dan berkembang.
b. Batas-batas Kerja Ilmu
Jika kita mempertanyakan apa batas kerja ilmu atau batas penjelajahan ilmu
maka bisa dijelaskan bahwa ilmu memulai penjelajahannya pada pengalaman
manusia dan berhenti di batas pengalaman manusia. Ilmu tidak mempelajari
sesuatu yang bukan dari pengalaman manusia, maka ilmu tidak bekerja di luar
batas kerjanya seperti keyakinan surga dan neraka. Pada prinsipnya ilmu sendiri
dalam kehidupan manusia sebagai alat pembantu untuk bisa membongkar
berbagai problem manusia dalam batas pengalamannya.
Ilmu membatasi lingkup penjelajahan pada batas pengalaman manusia.
Metode yang dipergunakan dalam menyusun ilmu telah teruji kebenarannya
secara empiris. Dalam perkembangannya kemudian maka muncul banyak cabang
ilmu yang diakibatkan karena proses kemajuan dan penjelajahan ilmu yang tidak
pernah berhenti. Dari sinilah kemudian lahir konsep “kemajuan” dan
“modernisme” sebagai anak kandung dari cara kerja berpikir keilmuan.
Ahli ontologi menggunakan beberapa pertanyaan mendasar tentang
keberadaan sesuatu dengan tujuan untuk memperoleh jawaban yang paling ideal.
Pertanyaan-pertanyaan utama dalam ontologi adalah:
1) Atas dasar apakah ”sesuatu” itu dikatakan sebagai ”ada”?
2) Jika ”sesuatu” itu dikatakan ”ada”, bagaimana cara mengelompokkannya?
Kedua pertanyaan tersebut telah mendorong dilakukannya upaya untuk
membagi entitas-entitas yang melekat pada ”sesuatu” menjadi kelompok atau
kategori. Karena jumlah entitas sangat banyak, maka daftar kategori yang dibuat
juga beragam. Untuk mempermudah kita menemukan kategori yang diinginkan,
kategori-kategori yang ada disusun dan dihubungkan dalam bentuk skema.
Aplikasi dari kategorisasi entitas dapat dilihat dalam ilmu perpustakaan dan IT.
Pengembangan dari dua pertanyaan mendasar dalam ontologi telah
mendorong ahli filsafat untuk berpikir lebih keras dan memacu perkembangan
ontologi dan aplikasinya dalam berbagai bidang.
Konsep Ontologi
Konsep-konsep yang berkembang dalam ontologi dapat dirangkum menjadi 5
konsep utama, yaitu:
a) Umum (universal) dan Tertentu (particular)
Umum (universal) adalah sesuatu yang pada umumnya dimiliki oleh
sesuatu, misalnya: karakteristik dan kualitas. “Umum” dapat dipisahkan atau
disederhanakan melalui cara-cara tertentu. Sebagai contoh, ada dua buah kursi
yang masing-masing berwarna hijau, maka kedua kursi ini berbagi kualitas
”berwarna hijau” atau ”menjadi hijau”. Tertentu (particular) adalah entitas nyata
yang terdapat pada ruang dan waktu. Contohnya, Socrates (guru dari Plato) adalah
tertentu (particular), seseorang tidak dapat membuat tiruan atau kloning dari
Socrates tanpa menambahkan sesuatu yang baru pada tiruannya.
b) Substansi (substance) dan Ikutan (accident)
Substansi adalah petunjuk yang dapat menggambarkan sebuah obyek, atau
properti yang melekat secara tetap pada sebuah obyek. Jika tanpa properti
tersebut, maka obyek tidak ada [Link] (accident) dalam filsafat adalah atribut
yang mungkin atau tidak mungkin dimiliki oleh sebuah obyek. Menurut
Aristoteles, ”ikutan” adalah kualitas yang dapat digambarkan dari sebuah obyek.
Misalnya: warna, tekstur, ukuran, bentuk dsb.
c) Abstrak dan Kongkrit
Abstrak adalah obyek yang ”tidak ada” dalam ruang dan waktu tertentu,
tetapi ”ada” pada sesuatu yang tertentu, contohnya: ide, permainan tenis
(permainan adalah abstrak, sedang pemain tenis adalah kongkrit). Kongkrit adalah
obyek yang ”ada” pada ruang tertentu dan mempunyai orientasi untuk waktu
tertentu. Misalnya: awan, badan manusia.
d) Esensi dan eksistensi
Esensi adalah adalah atribut atau beberapa atribut yang menjadi dasar
keberadaan sebuah obyek. Atribut tersebut merupakan penguat dari obyek, jika
atribut hilang maka obyek akan kehilangan identitas. Eksistensi (existere: tampak,
muncul. Bahasa Latin) adalah kenyataan akan adanya suatu obyek yang dapat
dirasakan oleh indera.
e) Determinisme dan indeterminisme
Determinisme adalah pandangan bahwa setiap kejadian (termasuk perilaku
manusia, pengambilan keputusan dan tindakan) adalah merupakan bagian yang
tak terpisahkan dari rangkaian kejadian-kejadian sebelumnya. Indeterminisme
merupakan perlawanan terhadap determinisme. Para penganut indeterinisme
mengatakan bahwa tidak semua kejadian merupakan rangkaian dari kejadian masa
lalu, tetapi ada faktor kesempatan (chance) dan kegigihan (necessity). Kesempatan
(chance) merupakan faktor yang dapat mendorong terjadinya perubahan,
sedangkan kegigihan (necessity) dapat membuat sesuatu itu akan berubah atau
dipertahankan sesuai asalnya.
KESIMPULAN
Dari pembahasan di atas dapat disimpulkan bahwa Ontologi adalah ilmu
yang mempelajari hakikat sesuatu yang ada atau hakikat dari segala sesuatu yang
[Link] Bidang Kajian Ontologi mengkaji segala sesuatu yang ada yaitu
ada individu, ada umum, ada terbatas, ada tidak terbatas, ada universal dan ada
yang bersifat [Link] dapat mengetahui nilai-nilai penting yang terdalam
dari yang ada. Jika dilihat dari manfaat mempelajari filsafat itu sendiri maka
filsafat akan mengajarkan tentang hakikat alam semesta. Filsafat terbagi atas
cabang-cabang yang lebih terperinci. Salah satunya adalah kajian metafisika.
Aliran-aliran ontologi itu sendiri adalah bagian metafisika umum, yang
membahas segala sesuatu yang ada secara menyeluruh yang mengkaji persoalan
seperti hubungan antara alam dan manusia, dalam hal kajian teori ini adalah
hubungan air bersih dengan manusia yang saling membutuhkan. Sehingga
menghasilkan air bersih yang telah sesuai dengan persyaratan yang ditentukan dan
dapat dimanfaatkan oleh manusia.
Sedangkan Asumsi Ontologis Ilmu adalah Pendapat yang telah didukung
oleh beberapa teori dan rumus-rumus dalam kajian teori ini dan fakta yang dapat
dibuktikan secara real yang ada hubungannya denga kajian teori ini yaitu
berhubungan dengan evaluasi kualitas dan kuantitas sistem penyediaan air minum
PDAM Kota Gorontalo..
DAFTAR PUSTAKA
Armstrong J, Reilly JJ. 2004. Child Health Information Team. Breastfeeding and
lowering therisk of childhood obesity. Lancet . 2002;359:2003-2004
Depkes RI, 2010. Permenkes RI No. 492/MENKES/PER/IV/2010. Tentang
Persyaratan Kualitas Air Minum. Depkes RI, Jakarta.
Howard S. Peavy, dkk, 2004. Environmental Engineering, Literature, McGraw-
Hill International Edition. Singapore. Hal. 104.
Hartoyo, Sri. 2017. Buku Kinerja PDAM. Kementrian Pekerjaan Umum dan
Perumahan Rakyat
Thuram, Gunter, dkk, 1995. Experience in Development of Small–Inter Scale
Water Resources in Rural Areas, Proceeding of The Internasional
Symposium on Development of Small Scale Water Resources in Rural
Areas. Bangkok. Warpani