0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
4 tayangan37 halaman

Perbedaan Tujuan Penyaringan PDAM

Diunggah oleh

Yoseph Setriyawan
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
4 tayangan37 halaman

Perbedaan Tujuan Penyaringan PDAM

Diunggah oleh

Yoseph Setriyawan
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

KATA PENGANTAR

Puji syukur dipanjatkan ke hadirat Tuhan Yang Maha Kuasa, karena hanya

dengan limpahan berkah dan rahmat dari-Nya seluruh kegiatan yang terkait dengan

proses penulisan proposal tesis ini dapat diselesaikan.

Penelitian disertasi ini diberi judul “Evaluasi Kualitas dan Kuantitas Sistem

Penyediaan air Minum PDAM Kota Gorontalo Dalam Persfektif Ontologi”, ditulis

sebagai salah satu persyaratan kelulusan mata kuliah Ilmu Filsafat di Prodi Magister

Ilmu Lingkungan di Universitas Negeri Gorontalo.

Disadari sepenuhnya bahwa dengan keterbatasan yang dimiliki, dalam proses

penyelesaian disertasi ini peneliti mendapatkan dukungan dari beberapa pihak terutama

dalam memperoleh data dan informasi yang dibutuhkan.

Akhirnya, apapun keberadaan Tugas Ilmu Filsafat ini paling tidak telah

memperkaya khazanah keilmuan bidang Ilmu Lingkungan, meskipun disadari

sepenuhnya bahwa isi tugas ini masih jauh dari harapan. Oleh karena itu kritik dan

saran masukan guna penyempurnaannya sangat dibutuhkan.

Semoga Tuhan Yang Maha Esa senantiasa memberkati segala usaha kita.

Aamiin.

Gorontalo, Maret 2018

Yoseph Setriyawan
BAB II
KAJIAN TEORI

“Evaluasi Kualitas dan Kuantitas Sistem Penyediaan air Minum


PDAM Kota Gorontalo”
(Dalam Persfektif Ontologi)

1.1 Definisi Air Bersih

Menurut Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor

492/MENKES/PER/IV/2010 tentang Persyaratan Kualitas Air Minum, air minum

adalah air yang melalui proses pengolahan atau tanpa proses pengolahan yang

memenuhi syarat kesehatan dan dapat langsung diminum. (Permenkes RI No.

492, 2010).

1.2 Persyaratan dalam Penyediaan Air Bersih

Sistem penyedian air bersih harus memenuhi beberapa persyarakat

utama. Persyaratan tersebut meliputi persyaratan kualitas, persyaratan kuantitas

dan persyaratan kontinuitas.

1.2.1 Persyaratan Kualitas Air

Berdasarkan Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor

492/MENKES/PER/IV/2010 tentang Persyaratan Kualitas Air Minum, air minum

aman bagi kesehatan apabila memenuhi persyaratan fisika, mikrobiologis,

kimiawi, dan radioaktif yang dimuat dalam parameter wajib dan parameter

tambahan. (Permenkes RI No. 492, 2010) Menurut Peraturan Pemerintah


Republik Indonesia Nomor 82 tahun 2001 mengenai Pengelolaan Kualitas Air dan

Pengendalian Pencemaran Air, klasifikasi mutu air ditetapkan menjadi 4 (empat)

kelas, yaitu:

a. Kelas satu, air yang peruntukannya dapat digunakan untuk air baku air

minum, dan atau peruntukan lain yang mempersyaratkan mutu air yang

sama dengan kegunaan tersebut.

b. Kelas dua, air yang peruntukannya dapat digunakan untuk prasarana/sarana

rekreasi air, pembudidayaan ikan air tawar, peternakan, air untuk mengairi

pertanaman, dan atau peruntukan lain yang mempersyaratkan air yang

sama dengan kegunaan tersebut.

c. Kelas tiga, air yang peruntukannya dapat digunakan untuk pembudidayaan

ikan air tawar, peternakan, air untuk mengairi pertanaman, dan atau

peruntukan lain yang mempersyaratkan air yang sama dengan kegunaan

tersebut.

d. Kelas empat, air yang peruntukannya dapat digunakan untuk mengairi

pertanaman dan atau peruntukan lain yang mempersyaratkan mutu air

yang sama dengan kegunaan tersebut.


Tabel 2.1 Kriteria Mutu Air Kelas 1
PARAMETER SATUAN KELAS1 KETERANGAN
FISIKA
Temperatur °C Deviasi 3 Deviasi Temperatur dari Keadaan alamiahnya
Residu Terlaurut mg/L 1000
Bagi Pengelola Air Minum Secara Konvensional,
Residu Tersuspensi mg/L 50
Residu Tersuspensi ≤ 5000 mg/L
KIMIA ORGANIK
Apabila Secara alamiah di Luar Rentang
pH 6-9 Tersebut, Maka ditentukan Berdasarkan
Keadaan Alamiah
BOD mg/L 2
COD mg/L 10
Do mg/L 6 Angka Batas Minimum
Total Fosfat sbg P mg/L 0,2
NO3 Sebagai N mg/L 10
Bagi Perikanan, Bebas untuk Ikan yang Peka ≤
NH3-N mg/L 0,5
0,02 mg/L Sebagai NH3
Arsen mg/L 0,05
Kobalt mg/L 0,2
Barium mg/L 1
Boron mg/L 1
Selenium mg/L 0,01
Kadmium mg/L 0,01
Khrom (VI) mg/L 0,05
Bagi Pengolahan Air Minum Secara
Tembaga mg/L 0,02
Konvensional, Cu ≤ 1 mg/L
Bagi Pengolahan Air Minum Secara
Besi mg/L 0,3
Konvensional, Fe ≤ 5 mg/L
Bagi Pengolahan Air Minum Secara
Timbal mg/L 0,03
Konvensional, Pb ≤ 0,1 mg/L
Mangan mg/L 0,1
Air Raksa mg/L 0,001
Bagi Pengolahan Air Minum Secara
Seng mg/L 0,05
Konvensional, Zn ≤ 5 mg/L
Klorida mg/L 600
Sianida mg/L 0,02
Flourida mg/L 0,5
Bagi Pengolahan Air Minum Secara
Nitrit sbg N mg/L 0,06
Konvensional, No2_N ≤ 1 mg/L
Sulfat mg/L 400
Klorin Bebas mg/L 0,03 Bagi ABAM Tidak dipersyaratkan
Belerang Sebagai mg/L 0,002 Bagi Pengolahan Air
Minum Secara Konvensional, s Sebagai H2S ≤
H2S
0,1 mg/L
Lanjutan Tabel 2.1 Kriteria Mutu Air Kelas 1
MIKROBIOLOGI

Bagi Pengolahan Air Minum Secara


Fecal Coliform Jml/100 ml 100
Konvensional, Fecal Coliform ≤ 2000 Jml/100
ml dan Total Coliform ≤ 10000/100 ml
Total Coliform Jml/100 ml 1000
RADIOAKTIVITAS
-Gros A Bq/L 0,1
-Gros B Bq/L 1
KIMIA ORGANIK
Minyak dan Lemak ug/L 1000
Detergen sbg MBAS ug/L 200
Senyawa Fenol ug/L 1
Sebagai Fenol ug/L
BHC ug/L 210
Aldrin/Dieldrin ug/L 17
Choldane ug/L 3
DDT ug/L 2
Heptaclor dan ug/L 18
Heptaclor Epoxide Lindane ug/L 56
Methoxyclor ug/L 35
Endrin ug/L 1
Toxaphan ug/L 5
Sumber : Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 82 tahun 2001

Keterangan :

mg = miligram

ug = mikrogram

ml = militer

L = liter

Bq = Bequerel

MBAS = Methylene Blue Active Substance

ABAM = Air Baku untuk Air Minum


Logam berat merupakan logam terlarut. Nilai di atas merupakan batas

maksimum, kecuali untuk pH dan DO. Bagi pH merupakan nilai rentang yang

tidak boleh kurang atau lebih dari nilai yang tercantum. Nilai DO merupakan

batas minimum. Arti (-) di atas menyatakan bahwa untuk kelas termasuk,

parameter tersebut tidak dipersyaratkan. Tanda (≤) adalah lebih kecil atau sama

dengan. Tanda (<) adalah lebih kecil.

Persyaratan kualitas menggambarkan mutu atau kualitas dari air baku

air bersih. Persyaratan ini meliputi persyaratan fisik, kimia, biologis, dan

radiologis. Syarat-syarat tersebut berdasarkan permenkes No.416/MENKES/PER/

IX/1990 tentang persyaratan kualitas air bersih adalah sebagai sebagi berikut:

1. Syarat-syarat fisik

Secara fisik air bersih harus jernih, tidak berbau dan tidak berasa. Selain

itu juga suhu air bersih sebaiknya sama dengan suhu udara atau kurang

lebih 25o C, dan apabila terjadi perbedaan maka batas yang diperbolehkan

adalah 25o ± 3oC.

a. Bau Bau air dapat memberi petunjuk akan kualitas air. Air yang

berbau tidak akan disukai oleh masyarakat.

b. Rasa Air ang bersih biasanya tidak memberi rasa/tawar. Air yang

tidak tawar dapat menunjukkan kehadiran berbagai zat yang dapat

membahayakan kesehatan.

c. Warna Air sebaiknya tidak berwarna dan untuk mencegah keracunan

dari berbagai zat kimia maupun mikroorganisme yang berwarna.

Warna dapat disebabkan adanya taannin dan asam humat yang


terdapat secara alamiah di air rawa, berwarna kuning muda

menyerupai urin,oleh karenannya orang tidak mau menggunakannya.

Selain itu, zat organik ini bila terkena khlor dapat membentuk

senyawa-senyawa khloroform yang beracun. Warna pun dapat berasal

dari buangan industri.

d. Suhu Suhu air sebaiknya sejuk atau tidak panas terutama agar tidak

terjadi perlarutan zat kimia yang ada pada saluran/pipa yang dapat

membahayakan kesehatan, menghambat reaksi-reaksi biokimia di

dalam saluran/pipa, mikro organisme patogen tidak mudah

berkembang biak dan bila diminum air dapat menghilangkan dahaga.

e. Jumlah zat padat terlarut Jumlah Zat Padat Terlarut (TDS) biasanya

terdiri atas zat oorganik, garam anorganik, dan gas terlarut. Bila TDS

bertambah maka keadaan akan naik pula.

f. Kekeruhan Kekeruhan air disebabkan oleh zat padat yang tersuspensi,

baik yang bersifat anorganik maupun yang organik. Zat organik,

biasanya berasal dari lapukan batuan dan logam, sedangkan yang

organik dapat berasal dari lapukan tanaman atau hewan. Buangan

industri dapat juga merupakan sumber kekeruhan.

2. Syarat- syarat kimia

Kandungan zat kimia dalam air bersih yang digunakan sehari-hari

hendaknya tidak melebihi kadar maksimum yang diperbolehkan seperti

tercantum dalam Peraturan Menteri Kesehatan RI Nomor

416/MENKES/PER/IX/1990. Penggunaan air yang mengandung bahan


kimia beracun dan zat-zat kimai lainnya yang melebihi ambang batas

berakibat tidak baik bagi kesehatan dan material yang digunakan manusia,

contohnya antara lain sebagai berikut :

a. Besi (Fe)

Kadar besi (Fe) yang melebihi ambang batas (1,0 mg/l) menyebabkan

berkurangnya fungsi paru-paru dan menimbulkan rasa, warna (kuning),

pengendapan pada dinding pipa, pertumbuhan bakteri besi, dan

kekeruhan.

b. pH

Air sebaiknya tidak memiliki keasaman dan tidak basa untuk mencegah

terjadinya pelarutan logam berat dan korosi jarinagn distribusi air. pH

yang dianjurkan untuk air bersih adalah 6,5 – 9.

c. Tembaga (Cu) Tembaga (Cu) sebenarnya diperlukan pada perkembangan

tubuh manusia. Tetapi untuk dosis tinggi dapat menyebabkan gejala

ginjal, hati, muntaber, pusing kepala, lemah, anemia,dan lainnya bahkan

dapat meninggal dunia.

d. Klorida Klorida adalah senyawa halogen klor (Cl), dalam jumlah yang

banyak klor (Cl) akan menimbulkan rasa asin, korosi pada pipa sistem

penyediaan air panas. Sebagai desinfektan, residu klor (Cl) dalam

penyediaan air sengaja dipelihara tetapi (Cl) ini dapat terikat pada

senyawa organik dan membentuk halogen-hidrokarbon (Cl-HC) banyak

diantarannya dikenal sebagai senyawa-senyawa karsinogenik. Kadar


maksimum klorida yang diperbolehkan dalam air bersih adalah 600

mg/l.

e. Seng (Zn) Seng (Zn) dapat menimbulkan warna air menjadi opalascent

dan bila dimasak akan timbul endapan seperti pasir. Kadar maksimum

seng (Zn) yang diperbolehkan di dalam air bersih adalah 15 mg/l.

f. Mangan (Mn) Mangan (Mn) merupakan metal kelabu-kemerahan

keracunan seringkali bersifat khronis sebagai akibat inhalasi debu dan

uap logam.

3. Syarat-syarat mikrobiologis Pada umumnya sumber-sumber air yang

terdapat di alam bumi ini mengandung bakteri. Jumlah dan jenis bakteri

bermacam–macam dan berbedabeda sesuai dengan tempat dan kondisi yang

mempengaruhinya. Oleh karena itu, air yang digunakan untuk keperluan

sehari-hari haruslah bebas dari bakteri patogen. Bakteri golongan coli tidak

merupakan bakteri golongan patogen, namun bakteri ini merupakan

indikator dari pencemaran air oleh bakteri patogen.

4. Syarat-syarat radiokativitas Apapun bentuk radioaktivitas efeknya adalah

sama dilihat dari segi parameternya, yakni dapat menimbulkan kerusakan

pada sel-sel yang terpapar. Kerusakan dapat berupa kematian, dan juga

perubahan komposisi genetik. Kematian sel dapat diganti kembali apabila

tidak seluruh sel mati. Perubahan genetis dapat menimbulkan berbagai

penyakit seperti kanker dan mutasi.

5. Syarat-syarat bakteriologis Air minum tidak boleh mengandung bakteri-

baktrei penyakit dan juga tidak boleh mengandung bakteri-bakteri penyakit


dan juga tidak boleh mengandung bakteri-bakteri coli yang telah melebihi

batas tertentu yaitu 1 coliper 100 ml air. Bakteri golongan ini berasal dari

usus besar dan tanah. Bakteri patogen yang mungkin terdapat didalam air,

misalnya :

a. Bakteri Typosium 15

b. Vibrio Colerae

c. Bakteri Dysentriae

d. Entamoeba Hystolotica

e. Bakteri Enteristis (penyakit perut)

Persyaratan air bersih secara rinci tertuang dalam Keputusan Menteri

Kesehatan Republik Indonesia Nomor 907/MENKES/SK/VII/2002 tentang

Syarat-Syarat dan Pengawasan Kualitas Air Minum. Tercantum dalam

pasal 2 mengenai ruang lingkup dan persyaratan air minum Tabel 2.2

Persyaratan Kualitas Air Minum.

1. Jenis air minum meliputi :

a. Air yang didistribusikan melalui pipa untuk keperluan rumah tangga

b. Air yang didistribusikan melalui tangki air

c. Air kemasan

d. Air yang digunakan untuk produksi bahan makanan dan minuman

yang disajikan kepada masyarakat harus memenuhi syarat kesehatan

air minum.

2. Persyaratan kesehatan air minum sebagaimana dimaksud pada ayat (1)

meliputi persyaratan bakteriologis, kimiawi, radioaktif dan fisik.


3. Persyaratan kesehatan air minum sebagaimana dimaksud pada ayat (2)

tercantum dalam Lampiran I Keputusan ini.

1.2.2 Persyaratan Kuantitas Air

Secara umum penyediaan air bersih adalah berasal dari sumber air

permukaan atau air dalam tanah. Untuk wilayah kota Gorontalo, sumber

penyediaan air bersih yang dikelola oleh PDAM berasal dari air permukaan

(Sungai Bone). Dimana kuantitas air yang berasal dari air pemukaan ini

mencukupi untuk didistribusikan. Kuantitas atau jumlah air yang mengalir dari

pusat distribusi sangatlah penting dalam merencanakan jaringan distribusi. Karena

tujuan utama dari perencanaan jaringan distribusi adalah agar kebutuhan

masyarakat akan tersedianya air bersih dapat terlayani dengan baik. Untuk itu

halhal yang dapat mengurangi jumlah air yang didistribusi anatara lain disebabkan

oleh banyaknya sambungan pipa dan panjangnya pipa sedapat mungkin

dihindarkan. Untuk membuktikan kondisi tersebut menggunakan rumus

kontinuitas :

Q1 = Q2
A1 x v1 = A2 x v2

Dimana :

Q1 = Debit didaerah 1 (m3 /detik)

Q1 = Debit didaerah 2 (m3 /detik)

A1 = Luas penampang didaerah 1 (m2 )

A2 = Luas penampang didaerah 2 (m2 )


v1 = Kecepatan rata-rata didaerah 1 (m/detik)

v2 = Kecepatan rata-rata didaerah 2 (m/detik)

1.2.3 Persyaratan Kontinuitas Air

Dalam penyediaan air bersih tidak hanya berhubungan dengan kualitas

dan kuantitas saja, tetapi dari segi kontinuitas juga harus mendukung. Dimana air

harus bisa tersedia secara terus-menerus meskipun di musim kemarau selama

umur rencana. Karena tujuan utama dari perencanaan jaringan distribusi air adalah

agar kebutuhan masyarakat akan tersedianya air bersih dapat terpenuhi secara

terus-menerus walaupun dimusim kemarau. Salah satu cara menjaga agar

kontinuitas air tetap tersedia adalah dengan membuat tempat penampungan air

(reservoir) untuk menyimpan air sebagai persediaan air pada musim kemarau.

Kontinuitas dapat diartikan bahwa air bersih harus tersedia 24 jam per hari atau

setiap saat diperlukan, kebutuhan air harus tersedia. Akan tetapi kondisi ideal

tersebut hampir tidak dapat dipenuhi pada setiap wilayah di indonesia, sehingga

untuk menentukan kontiunuitas pemakain air dapat dilakukan dengan cara

pendekatan aktivitas konsumen terhadap pemakaian air. Pemakaian air dapat

diprioritaskan, yaitu minimal selama 12 jam per hari pada jam-jam aktivitas

kehidupan. Jam aktifitas di indonesia adalah pukul 06.00 sampai dengan 18.00.

sistem jaringan perpipaan dirancang untuk membawa suatu kecepatan aliran

tertentu. Kecepatan dalam pipa tidak boleh lebih dari 0,6-1,2 m/dt. Ukuran pipa

pun harus tidak melebihi dimensi yang diperlukan dan juga tekanan dalam sistem

harus tercukupi. Dengan analisis jaringan pipa distribusi, maka dapat ditentukan
dimensi atau ukuran pipa yang diperlukan sesuai dengan tekanan minimum yang

diperbolehkan agar kualitas aliran terpenuhi.

1.3 Sistem Penyediaan Air Minum

Suatu sistem penyedian air yang mampu menyediakan air yang dapat

di minum dalam jumlah yang cukup merupakan hal yang penting bagi suatu kota

besar yang modern. Unsur-unsur yang membentuk suatu sistem penyedian air

yang modern meliputi sumber-sumber penyedian, sarana-sarana penampungan,

sarana penyaluran (ke pengolahan), sarana-saran pengolahan, sarana-saran

penyaluran (dari pengolahan), tampungan sementara, serta srana-sarana distribusi.

Dalam mengembangkan persediaan air bagi masyarakat jumlah dan mutu air

merupakan hal yang paling penting.

1.3.1 Pengolahan Air Minum

1. Pengolahan Secara Fisika

Pengolahan secara fisika yaitu tahap penyaringan dengan cara yang efisien

dan mudah untuk mennyisihkan bahan tersuspensi yang berukuran besar

biasanya dengan menggunakan sand filter dengan ukuran silica yang

disesuaikan dengan bahan-bahan tersuspensi yang akan disaring. Bahan

tersuspensi yang mudah mengendap dapat disisihkan secara mudah dengan

proses pengendapan, pada proses ini bisa dilakukan tanpa bahan kimia bila

ukurannya sudah besar dan mudah mengendap tapi dalam kondisi tertentu

dimana bahan-bahan tersuspensi sulit diendapkan maka akan digunakan


bahan kimia sebagai bahan pembantu dalam proses ini akan terjadi

pembentukan flok-flok dalam ukuran tertentu yang lebih besar sehingga

mudah diendapkan pada proses yang menggunakan bahan kimia ini masih

diperlukan pengkondisian pH untuk mendapatkan hasil yang optimal.

2. Pengolahan Secara Kimia

Pengolahan air buangan secara kimia biasanya dilakukan untuk

menghilangkan partikel-partikel yang tidak mudah mengendap (koloid),

logamlogam berat, senyawa fosfor, dan zat organic beracun dengan

membubuhkan bahan kimia tertentu yang diperlukan. Penyisihan bahan-

bahan tersebut pada prinsipnya berlangsung melalui perubahan sifat

bahan-bahan tersebut, yaitu dari tak dapat diendapkan (flokulasi-

koagulasi), baik dengan atau tanpa reaksi oksidasi-reduksi, dan juga

berlangsung sebagai hasil reaksi oksidasi. Pengendapan bahan tersuspensi

yang tak mudah larut dilakukan dengan membubuhkan elektrolit yang

mempunyai muatan yang belawanan dengan muatan koloidnya agar terjadi

netralisasi muatan koloid tersebut, sehingga akhirnya dapat diendapkan.

3. Pengolahan Secara Biologis

Pengolahan air buangan secara biologis adalah salah satu cara pengolahan

yang diarahkan untuk menurunkan atau menyisihkan substrat tertentu yang

terkandung dalam air buangan dengan memanfaatkan aktivitas

mikroorganisme untuk melakukan perombakan substrat tersebut. Proses

pengolahan air buangan secara biologis dapat berlangsung dalam tiga

lingkungan utama yaitu :


a. Lingkungan aerob, yaitu lingkungan dimana oksigen terlarut (DO)

didalam air cukup banyak, sehingga oksigen bukan merupakan faktor

pembatas.

b. Lingkungan anoksis, yaitu lingkungan dimana oksigen terlarut (DO)

didalam air ada dalam konsentrasi yang rendah.

c. Lingkungan anaerob, merupakan kebalikan dari lingkungan aerob, yaitu

tidak terdapat oksigen terlarut, sehingga oksigen menjadi faktor

pembatas berlangsungnya proses metabolism aerob. Faktor-faktor yang

mempengaruhi mekanisme biologi secara anaerob diantaranya yaitu,

temperature, pH (keasaman), waktu tinggal, komposisi kimia air,

kompetisi metanogen dan bakteri pemakan sulfat serta zat toksik.

1.3.2 Filtrasi

Filtrasi adalah suatu proses dimana campuran heterogen antara fluida

dan partikel padatan dipisahkan dengan bantuan media filter, yang membuat

fluida dapat mengalir melewatinya namun partikel padatan tertahan oleh media

filter tersebut. Didalam proses filtrasi yang terpenting adalah :

a. Penahanan Partikel Secara Mekanis

Merupakan proses pemisahan partikel-partikel dalam air yang

dilakukan oleh media penyaring karena ukuran partikelnya lebih besar

dibandingkan dengan diameter porous dari media penyaring.

b. Media Pengendapan
Partikel yang berukuran halus akan dipisahkan dengan cara

pengendapan dan akan melekat pada permukaan penyaring.

c. Adsorpsi

Adsorpsi merupakan proses pengumpulan substansi terlarut (soluble)

yang ada dalam larutan oleh permukaan zat atau benda penyerap dan

terjadi suatu ikatan kimia fisik antara substansi dengan penyerapnya.

Proses filtrasi dipengaruhi oleh beberapa faktor antara lain :

1) Besar Kecilnya Flok

Flok yang terlalu besar akan menyumbat filter, sedangkan flok yang

terlalu kecil akan lolos dari filter.

2) Ketebalan Filter

Semakin tebal lapisan filter, maka luas permukaan penahan

partikelpartikel semakin besar dan jarak yang ditempuh oleh air

semakin lama atau panjang.

3) Kecepatan Filtrasi

Kecepatan filtrasi akan mempengaruhi lama operasi filter, agar lama

operasi saringan dapat diperpanjang diperlukan tekanan pada

permukaan lapisan media filter dapat menambah ketinggian air diatas

lapisan media filter.

3) Temperatur

Efisiensi penyaringan juga dipengaruhi oleh temperatur, karena akan

mempengaruhi aktivitas bakteri serta metabolism mikroorganisme

lainnya.
4) Waktu Kontak

Waktu kontak merupakan hal yang penting dalam penyaringan. Makin

tebal media saring, maka waktu kontak antara larutan kontaminan

dengan media saring makin panjang.

1.4 Sistem Pengaliran Air Minum

Pendistribusian air minum kepada konsumen dengan kuantitas,

kualitas dan tekanan yang cukup memerlukan sistem perpipaan yang baik,

reservoir, pompa dan dan peralatan yang lain. Metode dari pendistribusian air

tergantung pada kondisi topografi dari sumber air dan posisi para konsumen

berada. Menurut Howard, S.P., [Link] (1985) sistem pengaliran yang dipakai adalah

sebagai berikut:

a. Cara Gravitasi.

Cara pengaliran gravitasi digunakan apabila elevasi sumber air

mempunyai perbedaan cukup besar dengan elevasi daerah pelayanan,

sehingga tekanan yang diperlukan dapat dipertahankan. Cara ini dianggap

cukup ekonomis, karena hanya memanfaatkan beda ketinggian lokasi.

b. Cara Pemompaan.

Pada cara ini pompa digunakan untuk meningkatkan tekanan yang

diperlukan untuk mendistribusikan air dari reservoir distribusi ke

konsumen. Sistem ini digunakan jika elevasi antara sumber air atau

instalasi pengolahan dan daerah pelayanan tidak dapat memberikan

tekanan yang cukup.


c. Cara Gabungan.

Pada cara gabungan, reservoir digunakan untuk mempertahankan tekanan

yang diperlukan selama periode pemakaian tinggi dan pada kondisi

darurat,misalnya saat terjadi kebakaran, atau tidak adanya energi. Selama

periode pemakaian rendah, sisa air dipompakan dan disimpan dalam

reservoir distribusi. Karena reservoir distribusi digunakan sebagai

cadangan air selama periode pemakaian tinggi atau pemakaian puncak,

maka pompa dapat dioperasikan pada kapasitas debit rata-rata.


KAJIAN LANDASAN TEORI BERDASARKAN
PERSFEKTIF ONTOLOGI

Ontologi adalah cabang teori dari ilmu filsafat yang membicarakan hakikat

sesuatu yang ada. Ontologi juga dikatakan sebagai salah satu kajian filsafat yang

paling kuno dan berasal dari Yunani. Ontologi berasal dari bahasa Yunani

yakni ta onta artinya ‘yang berada’, atau ontos atinya ada atau segala sesuatu yang

ada (being), dan logos artinya ilmu pengetahuan atau ajaran. Dengan demikian

ontologi berarti ilmu pengetahuan atau ajaran tentang yang ada. Ontologi juga

dapat diartikan sebagai ilmu yang mempelajari hakikat sesuatu yang ada atau

hakikat dari segala sesuatu yang ada. Studi ini membahas keberadaan sesuatu

yang bersifat konkret.

Awal mula alam pikiran Yunani telah menunjukkan munculnya perenungan

di bidang ontologi. Dalam persoalan ontologi orang menghadapi permasalahan

bagaimana menerangkan hakikat dari segala yang ada. Pertama, orang akan

berhadapan dengan dua kenyataan yaitu berupa materi dan rohani. Pembicaraan

mengenai hakikat sangatlah luas, meliputi segala yang ada dan yang mungkin ada.

Hakikat ada adalah kenyataan sebenarnya bukan kenyataan sementara atau

berubah-ubah.

Menurut istilah, Ontologi adalah ilmu yang membahas tentang hakikat yang

ada, yang merupakan ultimate reality baik yang berbentuk jasmani atau konkret

maupun rohani atauabstrak (Bakhtiar , 2004).


Menurut Soetriono & Hanafie (2007) Ontologi yaitu merupakan azas dalam

menerapkan batas atau ruang lingkup wujud yang menjadi obyek penelaahan

(obyek ontologis atau obyek formal dari pengetahuan) serta penafsiran tentang

hakikat realita (metafisika) dari obyek ontologi atau obyek formal tersebut dan

dapat merupakan landasan ilmu yang menanyakan apa yang dikaji oleh

pengetahuan dan biasanya berkaitan dengan alam kenyataan dan keberadaan.

Menurut Ensiklopedi Britannica Yang juga diangkat dari Konsepsi

Aristoteles Ontologi Yaitu teori atau studi tentang being atau wujud seperti

karakteristik dasar dari seluruh realitas. Ontologi sinonim dengan metafisika

yaitu, studi filosofis untuk menentukan sifat nyata yang asli (real nature) dari

suatu benda untuk menentukan arti , struktur dan prinsip benda tersebut. (Filosofi

ini didefinisikan oleh Aristoteles abad ke-4 SM)

Pengertian paling umum pada ontologi adalah bagian dari bidang filsafat

yang mencoba mencari hakikat dari sesuatu. Pengertian ini menjadi melebar dan

dikaji secara tersendiri menurut lingkup cabang-cabang keilmuan tersendiri.

Pengertian ontologi ini menjadi sangat beragam dan berubah sesuai dengan

berjalannya waktu.

Sebuah ontologi memberikan pengertian untuk penjelasan secara eksplisit

dari konsep terhadap representasi pengetahuan pada sebuah knowledge base.

Sebuah ontologi juga dapat diartikan sebuah struktur hierarki dari istilah untuk

menjelaskan sebuah domain yang dapat digunakan sebagai landasan untuk sebuah

knowledge base”. Dengan demikian, ontologi merupakan suatu teori tentang

makna dari suatu objek, property dari suatu objek, serta relasi objek tersebut yang
mungkin terjadi pada suatu domain pengetahuan. Ringkasnya, pada tinjauan

filsafat, ontologi adalah studi tentang sesuatu yang ada.

Hakekat kenyataan atau realitas memang bisa didekati ontologi dengan dua

macam sudut pandang, yaitu :

1) kuantitatif, yaitu dengan mempertanyakan apakah kenyataan itu tunggal

atau jamak ?

2) Kualitatif, yaitu dengan mempertanyakan apakah kenyataan (realitas)

tersebut memiliki kualitas tertentu, seperti misalnya air yang memiliki

bening, dan tidak berbau.

Secara sederhana ontologi bisa dirumuskan sebagai ilmu yang mempelajari

realitas atau kenyataan konkret secara kritis.

Bidang Kajian Ontologi

Ontologi pertama kali diperkenalkan oleh Rudolf Goclenius pada tahun

1636 M yang menamai teori tentang hakikat yang ada bersifat metafisis. Ontologi

mengkaji segala sesuatu yang ada yaitu ada individu, ada umum, ada terbatas, ada

tidak terbatas, ada universal dan ada yang bersifat mutlak. Adapun bidang yang

termasuk dalam ontologi yaitu kosmologi dan metafisika dengan segala sumber

yang ada yaitu Tuhan Yang Maha Esa penentu alam semesta. Studi tentang yang

ada umumnya dilakukan oleh filsafat metafisika.

Objek formal ontologi adalah hakikat seluruh kenyataan. Bagi pendekatan

kualitatif, kenyataan akan tampil menjadi aliran materialisme, idealisme,

naturalisme atau hilomorphisme.


Manfaat Kajian Ontologi

Mempelajari Ontologi akan dapat mengetahui nilai-nilai penting yang

terdalam dari yang ada. Jika dilihat dari manfaat mempelajari filsafat itu sendiri

maka filsafat akan mengajarkan tentang hakikat alam semesta. Filsafat terbagi

atas cabang-cabang yang lebih terperinci. Salah satunya adalah kajian metafisika,

menurut Kattsoff cabang filsafat metafisika adalah hal-hal yang terdapat sesudah

fisika, hal-hal yang terdapat dibalik yang tampak. Aristoteles menyebutkan

metafisika adalah ilmu pengetahuan mengenai yang adasebagai yang ada. Yang

dilawankan dengan yang ada sebagai yang digerakkan atau yang ada sebagai yang

dijumlahkan. Metafisika dapat mendefinisikan sebagai bagian pengetahuan

manusia yang berkaitan dengan pertanyaan mengenai sesuatu yang ada yang

terdalam.

Metafisika

Metafisika merupakan cabang filsafat yang membicarakan tentang hal-hal

yang sangat mendasar yang berada diluar pengalaman manusia. Metafisika

mengkaji segala sesuatu secara komprehensif. Menurut Asmoro Achmadi (2005:

14), metafisika merupakan cabang filsafat yang membicarakan sesuatu yang

bersifat ‘keluarbiasaan’ yang berada di luar pengalaman manusia. Menurut

Achmadi, metafisika mengkaji sesuatu yang berada diluar hal-hal yang biasa

berlaku pada umumnya, atau hal-hal yang tidak alami, serta hal-hal yang berada di

luar kebiasaan manusia.


Metafisika berasal dari kata meta dan fisika, yang artinya meta ; sesudah,

selain atau dibalik sedangkan fisika berarti nyata atau alam fisik. Dengan kata lain

metafisika mengandung arti hal-hal yang berada di belakang gejala-gejala yang

nyata. Dari ilmu filsafat metafisika adalah ilmu yang memikirkan hakikat dibalik

alam nyata. Metafisika membicarakan hakikat dari segala sesuatu dari alam nyata

tanpa dibatasi pada sesuatu yang dapat diserap pancaindra.

Menurut Aristoteles (Susanto, A. 2011: 93) ilmu metafisika termasuk

cabang filsafat teoritis yang membahas masalah hakikat segala sesuatu sehingga

ilmu metafisik menjadi inti filsafat. Masalah metafisik juga merupakan sesuatu

yang fundamental dari kehidupan. Oleh karena itu, setiap orang yang sadar

berhadapan dengan sesuatu yang metafisik tetap tersangkut didalamnya.

Tafsiran pertama yang diberikan oleh manusia terhadap alam ini adalah

bahwa terdapat wujud gaib dan wujud ini lebih tinggi atau lebih kuasa

dibandingkan dengan alam nyata. Animisme atau roh-roh yang bersifat gaib

terdapat pada benda seperti batu, pohon merupakan contoh kepercayaan yang

berdasarkan pemikiran supernaturalisme. Paham naturalisme adalah paham yang

menolak pendapat bahwa terdapat wujud-wujud yang bersifat supernatural.

Paham materisme merupakan paham yang berpendapat bahwa gejala-gejala alam

tidak disebabkan oleh pengaruh kekuatan gaib, melainkan oleh kekuatan yang

terdapat, dalam alam itu sendiri.

Menurut Conny Semiawan dkk. (2005: 158) memberikan pernyataan bahwa

metafisika dimasukkan ke dalam ontologi filsafat ilmu. Dengan demikian ontologi


didalam filsafat ilmu menyelidiki segala kemungkinan dari kenyataan yang

terjadi.

Berdasarkan perkembangannya Christian Wolff (1679-1757) membagi

metafisika menjadi dua yaitu :

1) Metafisika Umum

Membicarakan prinsip paling dasar atau paling dalam dari segala

sesuatu yang ada.

2) Metafisika Khusus

Terbagi atas ; kosmologi yang membicarakan alam semesta,

Psikologi adalah cabang ilmu filsafat tentang jiwa manusia dan

teologi adalah cabang ilmu yang khusus membicarakan Tuhan.

Aliran-aliran Ontologi

Ontologi atau bagian metafisika yang umum, membahas segala sesuatu

yang ada secara menyeluruh yang mengkaji persoalan seperti hubungan akal

dengan benda, hakikat perubahan, pengertian tentang kebebasan dan lainnya.

Dalam pemahaman ontologi ditemukan pandangan-pandangan pokok pemikiran,

seperti :

1. Monoisme

Paham monoisme menganggap bahwa hakikat yang asal dari kenyataan itu

hanyalah satu saja sebagai sumber asal baik materi maupun ruhani. Thomas

Davidson menyebutkan monoisme adalah block universe. Paham monoisme

terbagi dua aliran yaitu :


1) Materialisme : Menganggap bahwa sumber yang asal adalah materi bukan

rohani sering juga naturalisme.

2) Idealisme dinamakan juga spritualisme. Idealisme mengandung arti

sesuatu yang hadir dalam jiwa. Aliran ini menganggap bahwa hakikat

kenyataan yang beranekaragam ini berasal dari ruh yaitu sesuatu yang

tidak berbentuk dan menempati ruang.

Menurut Rapar (2005:45), aliran materialisme menolak hal-hal yang abstrak.

Bagi materialisme ada yang sesungguhnya adalah yang keberadaannya semata-

mata bersifat materialisme, realitas yang sesungguhnya adalah alam kebendaan,

sesuatu yang riil atau nyata. Tokoh-tokoh aliran materialisme adalah Thales,

anaximenes dan anaximandris.

Sedangkan aliran idealisme tumbuh dan berkembang sejak masa Plato yang

terkenal dengan pandangannya mengenai ide. Ide bagi Plato tidak sama

dualisme ide yang dipahami orang pada saat ini. Dasar pokok pemahaman ide

dikemukakannya sebagai teori logika kemudian meluas menjadi pandangan hidup

dan menjadi dasar umum ilmu dan politik social dan bahkan agama.

2. Dualisme

Aliran dualisme adalah aliran yang mencoba memadukan dua paham yang

saling bertentangan yaitu materialisme dan idealisme. Aliran

dualisme memandang paham yang serba dua yaitu antara materi dan bentuk.

Pengertian materi dalam pandangan aliran dualisme. Materi dalam arti mutlak

adalah asas atau lapisan bawah yang paling akhir dan umum. Tiap benda yang

dapat diamati disusun dari materi.. Materi dan bentuk tidak dapat dipisahkan.
Materi tidak dapat berwujud tanpa bentuk sebaliknya bentuk tidak dapat berada

tanpa materi. Tiap benda yang dapat diamati disusun dari bentuk dan materi.

3. Pluralisme

Paham pluralisme berpandangan bahwa segenap macam bentuk merupakan

kenyataan. Pluralisme bertolak dari keseluruhan dan mengakui bahwa segenap

macam bentuk semuanya nyata.

4. Nikhilisme

Dunia ini terbuka untuk kebebasan dan kreativitas manusia. Dalam paham

ini manusia bebas berkehendak dan berkreativitas.

5. Agnotisisme

Aliran ini menganut paham bahwa manusia tidak mungkin mengetahui

hakikat sesuatu dibalik kenyataannya. Manusia tidak mungkin memiliki hakekat

batu, air, dan api. Kemampuan manusia sangat terbatas dan tidak mungkin tahu

hakikat sesuatu yang ada. Paham agnotisisme mengingkari kesanggupan manusia

untuk mengetahui hakikat benda baik materi maupun hakikat rohani.

Asumsi Ontologis Ilmu

Pendapat yang telah didukung oleh beberapa teori dan fakta yang dapat

dibuktikan secara rasional. Berkaitan dengan pengkajian konsep-konsep,

pengandaian-pengandaian. Dengan demikian filsafat ilmu erat kaitannya dengan

pengkajian analisis konseptual dan bahasa yang digunakannya dan juga dengan

perluasan serta penyusunan cara-cara yang lebih tepat untuk memperoleh

pengetahuan.
Objek telaah ontologi adalah yang ada. Studi tentang yang ada, pada dataran

studi filsafat pada umumnya di lakukan oleh filsafat metaphisika. Istilah ontologi

banyak di gunakan ketika kita membahas yang ada dalam konteks filsafat ilmu.

Ontologi membahas tentang yang ada, yang tidak terikat oleh satu perwujudan

tertentu. Ontologi membahas tentang yang ada yang universal, menampilkan

pemikiran semesta universal. Ontologi berupaya mencari inti yang termuat dalam

setiap kenyataan, atau dalam rumusan Lorens Bagus; menjelaskan yang ada yang

meliputi semua realitas dalam semua bentuknya.

Karena setiap ilmu selalu memerlukan asumsi, Asumsi diperlukan untuk

mengatasi penelaahan suatu permasalahan menjadi lebar. Semakin terfokus obyek

telaah suatu bidang kajian, semakin memerlukan asumsi yang lebih

banyak. Asumsi dapat dikatakan merupakan latar belakang intelektal suatu jalur

pemikiran. Asumsi dapat diartikan pula sebagai merupakan gagasan primitif, atau

gagasan tanpa penumpu yang diperlukan untuk menumpu gagasan lain yang akan

muncul kemudian. Asumsi diperlukan untuk menyuratkan segala hal yang tersirat.

McMullin (2002) menyatakan hal yang mendasar yang harus ada dalam ontologi

suatu ilmu pengetahuan adalah menentukan asumsi pokok (the standard

presumption) keberadaan suatu obyek sebelum melakukan penelitian.

a. Objek Formal

Objek formal ontologi adalah hakikat seluruh realitas. Bagi pendekatan

kuantitatif, realitas tampil dalam kuantitas atau jumlah, tealaahnya akan menjadi

kualitatif, realitas akan tampil menjadi aliran-aliran materialisme, idealisme,

naturalisme, atau hylomorphisme. Referensi tentang kesemuanya itu penulis kira


cukup banyak. Hanya dua yang terakhir perlu kiranya penulis lebih jelaskan. Yang

natural ontologik akan diuraikan di belakang hylomorphisme di ketengahkan

pertama oleh aristoteles dalam bukunya De Anima. Dalam tafsiran-tafsiran para

ahli selanjutnya di fahami sebagai upaya mencari alternatif bukan dualisme, tetapi

menampilkan aspek materialisme dari mental.

b. Metode dalam Ontologi

Lorens Bagus memperkenalkan tiga tingkatan abstraksi dalam ontologi, yaitu

: abstraksi fisik, abstraksi bentuk, dan abstraksi metaphisik. Abstraksi fisik

menampilkan keseluruhan sifat khas sesuatu objek; sedangkan abstraksi bentuk

mendeskripsikan sifat umum yang menjadi ciri semua sesuatu yang sejenis.

Abstraksi metaphisik mengetangahkan prinsip umum yang menjadi dasar dari

semua realitas. Abstraksi yang dijangkau oleh ontologi adalah abstraksi

metaphisik.

Sedangkan metode pembuktian dalam ontologi oleh Laurens Bagus di

bedakan menjadi dua, yaitu : pembuktian a priori dan pembuktian a posteriori.

Pembuktian apriori disusun dengan meletakkan term tengah berada lebih dahulu

dari predikat, dan pada kesimpulan term tengah menjadi sebab dari kebenaran

kesimpulan. Sedangkan pembuktian a posteriori secara ontologi, term tengah ada

sesudah realitas kesimpulan; dan term tengah menunjukkan akibat realitas yang

dinyatakan dalam kesimpulan hanya saja cara pembuktian a posterioris disusun

dengan tata silogistik.

Bandingkan tata silogistik pembuktian a priori dengan a posteriori. Yang

apriori di berangkatkan dari term tengah di hubungkan dengan predikat dan term
tengah menjadi sebab dari kebenaran kesimpulan, sedangkan yang a posteriori di

berangkatkan dari term tengah di hubungkan dengan subjek, term tengah menjadi

akibat dari realitas dalam kesimpulan.

Ontologi menurut Anton Bakker (1992) merupakan ilmu pengetahuan yang

paling universal dan paling menyeluruh. Penyelidikannya meliputi gejala

pertanyaan dan penelitian lainnya yang lebih bersifat bagian. Ontologi berusaha

memahami keseluruhan kenyataan, segala sesuatu yang mengada segenapnya.

Ontologi adalah cabang filsafat yang membicarakan tentang yang ada. Dalam

kaitan dengan ilmu, landasan ontologis mempertanyakan tentang objek yang

ditelaah oleh ilmu. Secara ontologis ilmu membatasi lingkup penelaahan

keilmuannya hanya pada daerah yang berada dalam jangkauan pengalaman

manusia. Dalam kaitannya dengan kaidah moral atau nilai-nilai hidup, maka

dalam menetapkan objek penelaahan, kegiatan keilmuan tidak boleh melakukan

upaya yang bersifat mengubah kodrat manusia, merendahkan martabat manusia,

dan mencampuri permasalahan kehidupan.

Secara sederhana ontologi bisa dirumuskan sebagai ilmu yang mempelajari

realitas atau kenyataan konkret secara kritis. Beberapa aliran dalam bidang

ontologi, yakni realisme, naturalisme, empirisme.

Batas-batas Penjelajahan Ilmu

Dasar ontologi ilmu sebenarnya ingin berbicara pada sebuah pertanyaan

dasar yaitu,apakah yang ingin diketahui ilmu ? Atau bisa dirumuskan secara

eksplisit menjadi, apakahyang menjadi bidang telaah ilmu ? Berbeda dengan


agama atau bentuk pengetahuan yang lainnya, maka ilmu membatasi diri hanya

kepada kejadian yang bersifat empiris. Secara sederhana objek kajian ilmu ada

dalam jangkauan pengalaman manusia. Objek kajian ilmu mencakup seluruh

aspek kehidupan yang dapat diuji oleh pacaindera manusia. Dalam batas-batas

tersebut maka ilmu mempelajari objek-objek empiris seperti batu-batuan,

binatang, tumbuh-tumbuhan , hewan atau manusia itu sendiri.

Berdasarkan hal itu maka ilmu-ilmu dapat disebut sebagai suatu

pengetahuan empiris, di mana objek-objek yang berbeda di luar jangkaun manusia

tidak termasuk di dalam bidang penelaahan keilmuan tersebut.

Untuk mendapatkan pengetahuan ini, ilmu membuat beberapa asumsi mengenai

objek-objek empiris. Sebuah pengetahuan baru dianggap benar selama kita bisa

menerima asumsi yang dikemukakannya. Secara lebih terperinci ilmu mempunyai

tiga asumsi yang dasar.

Asumsi pertama, menganggap objek-objek tertentu mempunyai keserupaan

satu sama lain, umpamanya dalam hal bentuk, struktur, sifat dan sebagainya.

Asumsi kedua, ilmu menganggap bahwa suatu benda tidak mengalami perubahan

dalam jangka waktu tertentu . Kegiatan keilmuan bertujuan mempelajari tingkah

laku suatu objek dalam suatu keadaan tertentu. Asumsi ketiga, ilmu menganggap

bahwa tiap gejala bukan merupakan suatu kejadian yang bersifat kebetulan. Tiap

gejala mempunyai suatu hubungan pola-pola tertentu yang bersifat tetap dengan

urutan kejadian yang sama. Dalam penegartian ini ilmu mempunyai sifat

deterministik. Namun demikian dalam determinisme dalam pengertian ilmu

mempunyai konotasi yang bersifat peluang (probabilistik).


a. Karakteristik Filsafat Ilmu

Ilmu sebagai salah satu bidang dalam filsafat, di abad modern ini memang

mendapat tempat dan porsi terbesar, Perkembangan ilmu saat ini banyak

mendorong terjadinya perubahan-perubahan peradaban, Abad modern memang

sangat didorong oleh kemunculan rasionalitas ilmu sebagai dasar dominan

rasionalitas modern. Ilmu sebagai sebuah konsep memang mengandung

pengertian yang cukup komplek. Ilmu dalam bahasa inggris ‘science’, dari bahasa

Latin ‘scientia’ (pengetahuan). Sinonim yang paling akurat dalam bahasa Yunani

adalah ‘ episteme’. Pada prinsipnya ‘ilmu’ merupakan cabang pengetahuan yang

mempunyai ciri-ciri tertentu. Meskipun secara metodologis ilmu tidak

membedakan antara ilmu sosial dan ilmu alam , karena permasalahan-

permasalahan teknis yang bersifat khas, maka filsafat ilmu sering dibagi menjadi

‘filsafat ilmu alam’ dan filsafat ilmu sosial’.

Karakteristik ilmu yang paling kentara adalah bahwa cara kerjanya

ditentukan oleh sebuah metode. Metode berarti bahwa penyelidikan berlangsung

menurut suatu rencana tertentu. Tekanan ilmu terletak pada bagaimana sebuah

metode dibangun. Ilmu yang dalam perkembangannya memakai metode ilmiah di

dalam hukum-hukumnya mempunyai bahasa-bahasa ilmiah yang berbeda dengan

bahasa keseharian yang lain. Karakteristik yang nampak dalam bahasa ini adalah

bahwa bahasa ilmiah selalu menekankan unsur “bebas nilai”. Karakteristik yang

kedua adalah bahwa bahasa ilmu sifatnya tertutup dan memakai cara kerja sistem

sendiri. Ada banyak model dan cara kerja ilmu yagn berkembang sesuai dengan

perkembangan filsafat manusia. Jika kita lihat di sana akan ditemukan pengertian-
pengertian Rasionalisme, Empirisme, Positivisme, Rasionalitas Kritis,

Konstruktivisme. Masing-masing mempunyai metodologi yang khas tetapi masih

dalam kesatuan ciri khas kerja sebuah ilmu.

Filsafat ilmu pada prinsipnya bertugas meneliti dan menggali sebab-

musabab pertama dari gejala ilmu pengetahuan, di antaranya paham tentang

kepastian, kebenaran dan objektivitas. Cara kerja filsafat ilmu pengetahuan pada

prinsipnya adalah sebuah penelitian tentang apa yang memungkinkan ilmu-ilmu

tersebut terjadi dan berkembang.

b. Batas-batas Kerja Ilmu

Jika kita mempertanyakan apa batas kerja ilmu atau batas penjelajahan ilmu

maka bisa dijelaskan bahwa ilmu memulai penjelajahannya pada pengalaman

manusia dan berhenti di batas pengalaman manusia. Ilmu tidak mempelajari

sesuatu yang bukan dari pengalaman manusia, maka ilmu tidak bekerja di luar

batas kerjanya seperti keyakinan surga dan neraka. Pada prinsipnya ilmu sendiri

dalam kehidupan manusia sebagai alat pembantu untuk bisa membongkar

berbagai problem manusia dalam batas pengalamannya.

Ilmu membatasi lingkup penjelajahan pada batas pengalaman manusia.

Metode yang dipergunakan dalam menyusun ilmu telah teruji kebenarannya

secara empiris. Dalam perkembangannya kemudian maka muncul banyak cabang

ilmu yang diakibatkan karena proses kemajuan dan penjelajahan ilmu yang tidak

pernah berhenti. Dari sinilah kemudian lahir konsep “kemajuan” dan

“modernisme” sebagai anak kandung dari cara kerja berpikir keilmuan.


Ahli ontologi menggunakan beberapa pertanyaan mendasar tentang

keberadaan sesuatu dengan tujuan untuk memperoleh jawaban yang paling ideal.

Pertanyaan-pertanyaan utama dalam ontologi adalah:

1) Atas dasar apakah ”sesuatu” itu dikatakan sebagai ”ada”?

2) Jika ”sesuatu” itu dikatakan ”ada”, bagaimana cara mengelompokkannya?

Kedua pertanyaan tersebut telah mendorong dilakukannya upaya untuk

membagi entitas-entitas yang melekat pada ”sesuatu” menjadi kelompok atau

kategori. Karena jumlah entitas sangat banyak, maka daftar kategori yang dibuat

juga beragam. Untuk mempermudah kita menemukan kategori yang diinginkan,

kategori-kategori yang ada disusun dan dihubungkan dalam bentuk skema.

Aplikasi dari kategorisasi entitas dapat dilihat dalam ilmu perpustakaan dan IT.

Pengembangan dari dua pertanyaan mendasar dalam ontologi telah

mendorong ahli filsafat untuk berpikir lebih keras dan memacu perkembangan

ontologi dan aplikasinya dalam berbagai bidang.

Konsep Ontologi

Konsep-konsep yang berkembang dalam ontologi dapat dirangkum menjadi 5

konsep utama, yaitu:

a) Umum (universal) dan Tertentu (particular)

Umum (universal) adalah sesuatu yang pada umumnya dimiliki oleh

sesuatu, misalnya: karakteristik dan kualitas. “Umum” dapat dipisahkan atau

disederhanakan melalui cara-cara tertentu. Sebagai contoh, ada dua buah kursi

yang masing-masing berwarna hijau, maka kedua kursi ini berbagi kualitas
”berwarna hijau” atau ”menjadi hijau”. Tertentu (particular) adalah entitas nyata

yang terdapat pada ruang dan waktu. Contohnya, Socrates (guru dari Plato) adalah

tertentu (particular), seseorang tidak dapat membuat tiruan atau kloning dari

Socrates tanpa menambahkan sesuatu yang baru pada tiruannya.

b) Substansi (substance) dan Ikutan (accident)

Substansi adalah petunjuk yang dapat menggambarkan sebuah obyek, atau

properti yang melekat secara tetap pada sebuah obyek. Jika tanpa properti

tersebut, maka obyek tidak ada [Link] (accident) dalam filsafat adalah atribut

yang mungkin atau tidak mungkin dimiliki oleh sebuah obyek. Menurut

Aristoteles, ”ikutan” adalah kualitas yang dapat digambarkan dari sebuah obyek.

Misalnya: warna, tekstur, ukuran, bentuk dsb.

c) Abstrak dan Kongkrit

Abstrak adalah obyek yang ”tidak ada” dalam ruang dan waktu tertentu,

tetapi ”ada” pada sesuatu yang tertentu, contohnya: ide, permainan tenis

(permainan adalah abstrak, sedang pemain tenis adalah kongkrit). Kongkrit adalah

obyek yang ”ada” pada ruang tertentu dan mempunyai orientasi untuk waktu

tertentu. Misalnya: awan, badan manusia.

d) Esensi dan eksistensi

Esensi adalah adalah atribut atau beberapa atribut yang menjadi dasar

keberadaan sebuah obyek. Atribut tersebut merupakan penguat dari obyek, jika

atribut hilang maka obyek akan kehilangan identitas. Eksistensi (existere: tampak,

muncul. Bahasa Latin) adalah kenyataan akan adanya suatu obyek yang dapat

dirasakan oleh indera.


e) Determinisme dan indeterminisme

Determinisme adalah pandangan bahwa setiap kejadian (termasuk perilaku

manusia, pengambilan keputusan dan tindakan) adalah merupakan bagian yang

tak terpisahkan dari rangkaian kejadian-kejadian sebelumnya. Indeterminisme

merupakan perlawanan terhadap determinisme. Para penganut indeterinisme

mengatakan bahwa tidak semua kejadian merupakan rangkaian dari kejadian masa

lalu, tetapi ada faktor kesempatan (chance) dan kegigihan (necessity). Kesempatan

(chance) merupakan faktor yang dapat mendorong terjadinya perubahan,

sedangkan kegigihan (necessity) dapat membuat sesuatu itu akan berubah atau

dipertahankan sesuai asalnya.


KESIMPULAN

Dari pembahasan di atas dapat disimpulkan bahwa Ontologi adalah ilmu

yang mempelajari hakikat sesuatu yang ada atau hakikat dari segala sesuatu yang

[Link] Bidang Kajian Ontologi mengkaji segala sesuatu yang ada yaitu

ada individu, ada umum, ada terbatas, ada tidak terbatas, ada universal dan ada

yang bersifat [Link] dapat mengetahui nilai-nilai penting yang terdalam

dari yang ada. Jika dilihat dari manfaat mempelajari filsafat itu sendiri maka

filsafat akan mengajarkan tentang hakikat alam semesta. Filsafat terbagi atas

cabang-cabang yang lebih terperinci. Salah satunya adalah kajian metafisika.

Aliran-aliran ontologi itu sendiri adalah bagian metafisika umum, yang

membahas segala sesuatu yang ada secara menyeluruh yang mengkaji persoalan

seperti hubungan antara alam dan manusia, dalam hal kajian teori ini adalah

hubungan air bersih dengan manusia yang saling membutuhkan. Sehingga

menghasilkan air bersih yang telah sesuai dengan persyaratan yang ditentukan dan

dapat dimanfaatkan oleh manusia.

Sedangkan Asumsi Ontologis Ilmu adalah Pendapat yang telah didukung

oleh beberapa teori dan rumus-rumus dalam kajian teori ini dan fakta yang dapat

dibuktikan secara real yang ada hubungannya denga kajian teori ini yaitu

berhubungan dengan evaluasi kualitas dan kuantitas sistem penyediaan air minum

PDAM Kota Gorontalo..


DAFTAR PUSTAKA

Armstrong J, Reilly JJ. 2004. Child Health Information Team. Breastfeeding and
lowering therisk of childhood obesity. Lancet . 2002;359:2003-2004

Depkes RI, 2010. Permenkes RI No. 492/MENKES/PER/IV/2010. Tentang


Persyaratan Kualitas Air Minum. Depkes RI, Jakarta.

Howard S. Peavy, dkk, 2004. Environmental Engineering, Literature, McGraw-


Hill International Edition. Singapore. Hal. 104.

Hartoyo, Sri. 2017. Buku Kinerja PDAM. Kementrian Pekerjaan Umum dan
Perumahan Rakyat

Thuram, Gunter, dkk, 1995. Experience in Development of Small–Inter Scale


Water Resources in Rural Areas, Proceeding of The Internasional
Symposium on Development of Small Scale Water Resources in Rural
Areas. Bangkok. Warpani

Anda mungkin juga menyukai